• August 2020
    M T W T F S S
    « Jul    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PERSPEKTIF SOCIAL ORDER DURKHEIM TENTANG PUASA (6)

Di dalam kajian paradigma fakta sosial, maka terdapat tiga hal mendasar yang menjadi asumsinya, yaitu adanya keteraturan sosial, perubahan sosial dan tidak ada faktor yang berdiri sendiri. Social order atau keteraturan sosial merupakan suatu keadaan di mana manusia dengan kelompok, komunitas atau masyarakatnya berada di dalam nuansa kerukunan dan keteraturan. Social order merupakan cita-cita setiap manusia di dalam kehidupan bersama dengan masyarakatnya.

Untuk membangun tata sosial berbasis keteraturan sosial, maka diperlukan berbagai aturan atau regulasi yang menjadi basis untuk membangun kehidupan bersama dan merajut kebersamaan. Melalui penerapan aturan yang ditegakkan secara bersama-sama maka manusia akan merasakan kehidupan yang tenang dan teratur. Jadi, di dalam banyak hal, keteraturan memang sesuatu yang diupayakan dan tidak sekedar didapatkan.

Manusia memiliki kepentingan dan keinginan yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah. Manusia memiliki kecenderungan untuk berkuasa, memanfaatkan sebanyak-banyaknya berbagai fasilitas dan juga keinginan untuk memenuhi hasrat kehidupannya yang berlebihan. Bahkan secara “kelakar” manusia disebut sebagai serigala atas manusia lainnya. itulah sebabnya di dunia ini ada banyak sekali peperangan yang dilakukan oleh manusia untuk memenuhi hasrat penguasaan dan merengkuh kekuasaan dimaksud. Semua dilakukan untuk memenuhi hasrat “keakuan” atau “egoisme” yang sangat kuat.

Besarnya ego sebenarnya terkait dengan besarnya rasa memiliki. Egocentrisme yang berpusat pada keakuan, aku yang besar membuat individu merasa menjadi yang “ter’ di dalam kehidupan ini. misalnya “yang terkuat”, “yang terpandai”, “yang terkuasa”, “yang terhebat” dan sebagainya. sebaliknya juga terdapat “yang termiskin, “yang termenderita”, “yang teraniaya” “yang terdholimi” dan sebagainya. semua ini menggambarkan mengenai “ego”. Ada ego yang berkuasa dan ada ego yang dikuasai. Di sinilah agama hadir untuk meredam berbagai kepentingan dan keinginan untuk saling menguasai, menerkam, dan memiliki yang berlebihan.

Makanya tugas profetik para Rasul atau utusan Tuhan adalah untuk menempatkan keseimbangan antara keinginan dan cara pencapaiannya, dan juga produk yang dihasilkannya. Jika tidak ada kesepakatan di antara individu di dalam kehidupan ini, maka dunia akan menjadi kacau. Terjadinya konflik sosial di antarnya dipicu oleh ketiadaan kesepakatan dan kesepahaman di antara warga masyarakat.

Saya kira diseluruh dunia terdapat berbagai macam cara terkait untuk membangun keteraturan sosial. Di Indonesia juga didapatkan berbagai macam cara untuk membangun keteraturan sosial itu, misalnya di Papua dikenal suatu konsep satu tungku tiga batu, di Sulawesi Utara dikenal konsep kito orang basodara, di Ambon dikenal konsep Pela Gandong, dan di Jawa dikenal beberapa konsep diantaranya adalah sambatan, Gugur gunung, dan kerja bakti. Sebelum masuknya sistem pengupahan dengan menggunakan uang maka sambatan, gugur gunung dan kerja bakti digunakan sebagai medium untuk membangun kebersamaan. Namun demikian, setelah digunakan sistem pengupahan baru tersebut maka, sambatan, gugur gunung dan kerja bakti menjadi tereduksi sedemikian rupa. Pada masa lalu jika ada orang yang membangun rumah maka dilakukan dengan menggunakan sistem sambatan. Jika orang mengerjakan sawah juga menggunakan sistem ini. jika desa memerlukan gerakan kebersihan makan dilakukan dengan sambatan, gugur gunung dan kerja bakti.

Agama sesungguhnya memiliki banyak konsep tentang keteraturan sosial itu, misalnya konsep saling tolong menolong atau ta’awun berbasis pada kebaikan. Islam melarang kerja sama dalam bentuk ke manadaratan dan perbuatan dosa. Selain itu, juga terdapat konsep zakat, sedekah, infaq, dan hibah yang kesemuanya merupakan instrumen dalam rangka untuk membangung keteraturan sosial. Didalam konsep islam, harta tidak boleh terakumulasi pada segilintir orang. Islam mengajarkan bahwa setiap harta memiliki dimensi sosial untuk orang-orang fakir, miskin, anak-anak yatim dan orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi.

Puasa adalah medium untuk membangun kesadaran sosial sebagaimana durkheim menyatakan bahwa keteraturan sosial dibangun atas kesadaran sosial atau social consciousness yaitu upaya untuk mendapatkan kesadaran baru untuk memahami tentang kehidupan orang lain, misalnya ikut merasakan penderitaan orang-orang yang tidak beruntung baik secara ekonomi dan sosial. Memahami terhadap kesadaran sosial yang ingin diraih melalui puasa ini maka dapat dinyatakan bahwa ajaran puasa sesungguhnya merupakan basis bagi terselenggaranya kehidupan sosial yang teratur.

Wallahu al a’lam bi al shawab

PERSPEKTIF THE EXPERIENCE OF THE HOLY TENTANG PUASA (5)

Manusia memerlukan agama sebagai pedoman untuk menyelenggarakan kehidupan agar terdapat keteraturan. Oleh karena itu, seluruh agama berisi tentang aturan yang dapat dijadikan sebagai pedoman di dalam kehidupan secara individual atau dalam relasinya dengan individu lainnya. Jika orang beriman menjadikan agama sebagai regulasi di dalam membangun kehidupan bersama, maka bagi kaum yang tidak beriman maka digunakanlah regulasi yang diatur oleh negara atau kesepakatan bersama.

Agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan juga dengan alam semesta. Di dalam konsepsi Islam disebut sebagai hablum minal Allah, hablum minan nas dan hablum minal alam. Islam mengajarkan keseimbangan di dalam hubungan tersebut sehingga kehidupan menjadi lebih bermakna. Relasi dengan Allah yang baik harus diikuti dengan hubungan yang baik dengan sesama manusia, dan juga ditindaklanjuti dengan relasi yang baik dengan alam.

Di antara ahli ilmu sosial yang mengkonsepsikan relasi dengan Tuhan adalah Joachim Wach dengan konsepsinya mengenai “The Experience of the Holy”. Di dalam ilmu sosial ada lima aspek yang dapat digunakan sebagai sasaran kajiannya yaitu dimensi intelektual, dimensi ritual, dimensi konsekuensial, dimensi teologis dan dimensi pengalaman beragama. Dimensi intelektual adalah seperangkat pengetahuan tentang ajaran agama, dimensi ritual terkait dengan seperangkat pengetahuan dan pengamalan tentang ajaran agama, dimensi konsekuensial terkait dengan seperangkat konsekuensi beragama, dimensi teologis terkait degan seperangkat keyakinan tentang Tuhan dan hal-hal gaib lainnya dan dimensi pengalaman terkait dengan pengalaman individual yang dialami oleh manusia tentang agama.

Pengalaman beragama merupakan pengalaman yang bercorak individual. Artinya, bahwa masing-masing individu akan memiliki pengalaman berbeda meskipun dalam ruang dan saat yang sama dalam melakukan amalan keagamaan. Masing-masing individu memiliki kemampuan yang berbeda dalam menangkap pengalaman agama atau relasinya dengan kekuatan gaib dimaksud.

Secara ruhaniyah, maka ada orang yang bisa memasuki “ruang ketuhanan” atau terbukanya hijab antara al basyar, al nafs dan al ruh yang disebut sebagai kemampuan “fawaid” atau kemampuan menyingkap yang tersirat menjadi tersurat, yang gaib menjadi kasunyatan, atau terbukanya tabir hal-hal yang tertutup menjadi terbuka. Oleh karenanya lalu ada orang yang memiliki kemampuan untuk membaca orang lain melalui kemampuan adikodrati yang diberikan Allah kepadanya.

Ilmu yang rasional tentu tidak mampu untuk menjangkau terhadap dunia “gaib” seperti ini, meskipun menggunakan metodologi secanggih apapun. Mungkin yang bisa mereflesikannya adalah melalui pemahaman irfani. Melalui pendekatan irfani, maka penalaran spiritual akan bisa bermanfaat. Oleh karena itu yang bisa menjadi sasaran kajian di bidang the experience of the holy adalah mereka yang bisa mencapai maqam irfani atau mereka yang sudah memasuki area fawaid dimaksud.

Sebagaimana William James, bahwa terdapat variasi pengalaman beragama. pengalaman beragama bukan milik komunitas beragama tetapi milik individu kaum beragama. Sama-sama melakukan shalat malam akan tetapi memiliki perbedaan dalam merefleksikan pengalaman beragama. Hanya orang-orang yang memiliki tingkat ketaqaruban dengan yang Maha Gaib saja yang memiliki pengalaman beragama yang khas.

Salah satu di antara medium untuk mencapai maqam seperti itu, maka riyadhohnya adalah puasa. Meskipun diselimuti oleh dunia mitos, Sunan Kalijaga memperoleh dimensi spiritualitasnya melalui puasa yang dilakukannya. Melalui pengekangan terhadap hawa nafsu atau “nutup baba’an howo songo”, maka al basyar dan al nafs bersama ruh al aidhafi untuk bertemu dengan ruh universal, yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Biasanya yang seperti ini terkait dengan rasa atau “roso rinoso”, sehingga terkadang tidak bisa diungkap dengan bahasa yang lebih banyak menggunakan rasio untuk mengungkapkannya.

Pengalaman seperti ini juga diperoleh Syekh Abdul Jalil untuk menemukan “Aku Universal”. Di dalam pengembaraannya dengan melanglang berbagai guru spiritual termasuk yang tidak beragama Islam sampai ahli tasawuf yang luar biasa di dunia luas, akhirnya terbukalah hijab yang selama ini menghalangi kemampuannya untuk menyingkap “rahasia ilahi”. Dengan melepas kecintaannya kepada selain Allah, maka hijab pun terbuka sehingga ditemukan dunia batin yang selama ini dicarinya.

Para ‘arif saja yang bisa menyingkap terhadap hal-hal yang non-inderawi menjadi inderawi. Mereka ini merupakan individu yang dikaruniai oleh Tuhan untuk menerawang dunia menjadi transparan di matanya. Tidak ada tirai yang menghalangi penglihatannya terhadap yang terhijab. Seperti pengalaman spiritual yang pernah dialami oleh Syekh Abdul Jalil, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kudus, dan sebagainya.

Mereka ini memang memperoleh kebeningan batin untuk melihat segala sesuatu yang tidak kasat mata oleh orang lain. Memang banyak “mitos” yang menyertai kehidupan para wali ini, akan tetapi di dalam kehidupan manusia yang dipenuhi dengan aura spiritualitas tentu bukanlah hal yang aneh. Allah menegaskan, hanya para auliya yang mengetahui keauliyaannya. Atau tidak akan mengetahui “kebeningan spiritualitas” kecuali orang yang juga “bening spiritualitasnya”.

Saya meyakini bahwa para auliya itu memperoleh cahaya ilahi melalui riyadhoh yang diridloi Allah, sehingga yang keluar darinya adalah cahaya kewalian yang memang layak disematkan kepadanya. Namun dewasa ini juga banyak orang yang mampu untuk melihat yang tersirat menjadi tersurat, hanya saja kita lagi-lagi tidak tahu apakah itu bersumber dari Allah atau lainnya.

Di dalam hal seperti ini, maka biarkan Allah saja yang mengetahuinya, sebab orang ‘alim atau orang awam tentu tidak bisa menyingkap tabir atau rahasia yang menyelimutinya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PERSPEKTIF THE MYSTERIUM R. OTTO TENTANG PUASA (4)

Hakikatnya setiap manusia membutuhkan aturan untuk kehidupan. Semenjak manusia mengenal kelompok, maka pengaturan itu sudah dilakukan. Masyarakat nomadenpun memiliki aturan untuk hidup bersama. Misalnya untuk berburu adalah tugas lelaki sedangkan untuk memanfaatkan dan mendayagunakan hasil buruan adalah tugas perempuan. Semenjak itu sesungguhnya sudah dikenal ranah domestik dan ranah publik.

Agama yang berisi aturan untuk mengatur kehidupan manusia tersebut sesungguhnya bersumber dari “sesuatu” yang bercorak misterius yang di dalam konsepsi Rudolf Otto disebut sebagai “Yang Misterium”. Dan setiap agama dipastikan mengajarkan tentang kemisteriusan tersebut. Agama mengatur tentang siapa yang masuk surga atau kelompok ashab al yamin, yang nanti di alam mahsyar akan menerima catatan amalnya dengan tangan kanan, dan juga mengatur siapa yang akan memasuki neraka atau golongan ashab al syimal yang nanti di alam mahsyar akan menerima catatan amalnya dengan tangan kiri.

Sering menjadi pertanyaan, mengapa ada yang masuk  dalam golongan ashab al yamin dan mengapa ada yang masuk golongan ashab al syimal. Di manakah letak keadilan Tuhan atas mereka yang masuk golongan kiri tersebut. Jawabannya tentu selalu misterius. Ada yang menyatakan bahwa masuk golongan mana saja sesungguhnya adalah kembali ke dalam Tuhan. Bukankah Tuhan itu memiliki nama-nama yang terkait dengan yang kanan atau yang kiri. Misalnya Tuhan memiliki nama “al rahman” dan “al rahim”, tetapi juga memiliki nama “ al mudhil” dan “al Muntaqim”. Allah itu Maha Kasih dan Sayang, tetapi juga Maha Menyesatkan dan Maha Menyiksa. Maknanya, jika manusia memperoleh cahaya keimanan, maka akan masuk ke dalam golongan orang yang mendapatkan rahman dan rahim Tuhan dan sebaliknya jika manusia jauh dari keimanan maka memasuki sifat Tuhan Yang Menyesatkan dan Yang Menyiksa. Namun demikian, semuanya kembali kepada Allah swt.

Disebabkan oleh mysteriumnya itu, maka agama menjadi pencarian yang tidak ada hentinya sepanjang sejarah manusia. Semakin mengandung makna misteri maka semakin kuat manusia akan terus mencarinya. Apakah bisa bertemu atau tidak tentu tergantung dari sejauh mana manusia berusaha untuk menemukannya. Itulah sebabnya meskipun ada ajaran agama yang rasional, akan tetapi juga mengandung dimensi misteri yang luar biasa. Bahkan jika agama tidak mengandung dunia misterinya, maka tentu bukanlah disebut sebagai agama.

Semua agama mengandung dunia rasional dan misteri. Misalnya shalat dinyatakan mengandung dunia kesehatan, sebab dengan gerakan shalat yang benar maka akan dapat membangun diri menjadi sehat. Sama halnya dengan puasa, juga mengandung aspek kesehatan. “Shumu tashihhu”, berpuasalah agar menjadi sehat. Ajaran ini sangat rasional. Perut diistirahatkan sepanjang hari untuk memakan sisa-sisa makanan yang tidak berguna tetapi terus menempel di tubuh manusia, lalu sel-sel yang mati dan tidak dapat dikeluarkan dari tubuh juga lalu dimakan di saat siang hari di kala tidak terdapat asupan yang masuk dalam tubuh manusia. Selain itu, melalui proses dekonstruksi cara makan, hanya boleh di malam hari dan dilarangnya di siang hari maka akan terjadi proses perbaikan sel-sel dan metabolisme tubuh yang seimbang.

Namun demikian, pastilah ada dimensi rahasianya atau misterinya. Semua amal ibadah yang dilakukan oleh seseorang maka akan kembali kepadanya, tetapi secara khusus puasa adalah untuk Allah. Bagaimana misteri ini terdapat di dalam puasa, dan bagaimana puasa yang dilakukan itu akan menjadi instrumen untuk dimiliki Allah hasilnya. Inilah yang kemudian menghasilkan konsepsi puasanya orang awam, puasanya orang ‘alim dan puasanya orang taqarrub atau puasa orang ‘arif.

Menurut Prof. Nasaruddin Umar (Republika, 6/5/20), bahwa orang ‘alim itu lebih banyak menggunakan rationya, dan orang ‘arif lebih banyak menggunakan kekuatan spiritualnya. Makanya orang arif pastilah ‘alim, tetapi orang ‘alim belum tentu ‘arif.

Di dalam konsepsi Otto, bahwa Tuhan itu adalah The Mysterium Tremendum et Fascinosum atau Yang Memesona dan juga menggetarkan. Tuhan adalah Dzat yang memesona sebab Dia itu Maha Rahman dan Rahim, Yang Maha Adil, Yang Maha Indah dan sebagainya sebagaimana nama-nama yang terdapat di dalam agama. Akan tetapi juga menggetarkan sebab Dia adalah Yang Maha Menyesatkan, Yang Maha Menghukum, Yang Maha Kegelapan, Yang Maha Perkasa dan sebagainya. Dua sifat yang dilabelkan kepada-Nya itulah yang membuat manusia selalu berada di dalam keadaan mengayuh di antara keduanya. Patuh dan tunduk, takut dan khawatir karena keterpesonaan dan ketergetarannya.

Di sinilah Tuhan melalui rasul-Nya lalu memberikan petunjuk agar manusia bisa memilih apakah akan memilih Tuhan Yang Memesona atau Tuhan Yang Menggetarkan. Apakah manusia akan memilih yang memperoleh petunjuk atau yang tersesat. Namun sebagaimana diketahui bahwa baik yang memilih petunjuk ataukah yang memilih kesesatan keduanya tetap akan kembali kepada Tuhan melalui instrumen dan pintu yang Tuhan sendiri yang mengetahuinya.

Puasa merupakan suatu instrumen bagi yang memilih petunjuk. Artinya, bahwa puasa diberlakukan bagi mereka yang berada di jalan Cahaya Tuhan yang terang benderang (nur ala al nur). Itulah sebabnya Allah menyatakan bahwa puasa itu diberlakukan bagi orang yang beriman. Ya ayyuhal ladzina amanu, wahai orang-orang yang beriman agar melakukan ibadah puasa.

Lalu tujuan puasa adalah agar manusia menjadi bertaqwa. Bertaqwa di dalam konteks ini adalah kemenyatuan antara al basyar, al nafs dan al ruh dengan ruh universal (Allah swt), al basyar telah mengalami proses pensucian, al nafs juga memperoleh pencerahan sehingga ruh idhafi kembali kepada awal mula ditiupkan Allah kepada manusia sebagaimana bayi yang baru lahir dari guwa garba Sang Ibu, suci bersih tanpa noda dan dosa. Itulah sebabnya Allah menyatakan bahwa manusia yang berpuasa dengan sungguh-sungguh akan diampuni dosa-dosanya sebelumnya. Misteri seperti ini yang sesungguhnya dicari oleh para perindu puasa, atau puasanya para “arif billah”, dan tentu tidak semua manusia bisa menemukannya.

Jalan sudah dibentangkan di hadapan kita, dan kita tentunya akan bisa memilih sesuai dengan kategori kealiman atau kearifan kita, sehingga tentu harapannya adalah memperoleh Cahaya Tuhan kelak di yaum al akhirah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

PERSPEKTIF TEORI FUNGSIONAL MALINOWSKY TENTANG PUASA (3)

Agama di dalam kajian sosiologi dan antropologi memiliki fungsi bagi kehidupan manusia. Agama tidak hanya menyajikan seperangkat ritual yang harus dilakukan oleh manusia tetapi juga memiliki sejumlah fungsi bagi kehidupan masyarakat.

Menurut B. Malinowsky bahwa terdapat teori batas akal, yang secara proposisional dapat dinyatakan bahwa “jika manusia secara akal sudah tidak bisa menyelesaikan masalahnya, maka manusia akan cenderung menggunakan kekuatan adikodrati untuk menyelesaikannya”. Hanya saja di dalam pandangan Malinowsky disebutnya sebagai “magi”, yaitu sebuah upaya untuk memaksa terhadap kekuatan gaib untuk menyelesaikan masalahnya. Memang ada perbedaan antara religi dan magi. Jika religi adalah sistem ritual yang berisi permohonan kepada kekuatan gaib untuk membantu menyelesaikan masalah kehidupan, sedangkan di dalam magi kekuatan gaib dipaksa untuk memenuhi hasrat kepentingannya.

Manusia memiliki dua kecenderungan untuk melakukan salah satu di antara dua hal ini, religi atau magi dan bisa juga menggunakan kedua-duanya. Penggunan religi atau magi hakikatnya merupakan pemenuhan atas hasrat kemanusiaan dan sekaligus juga hasrat ketuhanan. Manusia memang memiliki dan terdiri atas unsur yang saling melengkapi.

Menurut Agus Sunyoto (Suluk Abdul Jalil Perjalanan Ruhani Syek Siti Jenar), manusia sesungguhnya terdiri dari tiga unsur, yaitu: al basyar atau bahan baku manusia yang terbuat dari intisari tanah yang diciptakan Tuhan dengan kekuasaannya untuk menjadi manusia. Jadi al basyar terkait dengan sesuatu yang bercorak bendawi atau materi. Materi itulah yang kemudian mewujud menjadi fisik manusia seperti kita sekarang.

Unsur lainnya adalah al nafs atau kekuatan yang dapat menggerakkan al basyar atau fisik manusia sehingga manusia bisa bergerak dengan kekuatannya. Seringkali al Nafs itu disamakan dengan istilah jiwa. Makanya, ilmu jiwa diterjemahkan dengan istilah al ilm al nafs. Manusia bisa berpikir, bersikap dan bertindak karena al basyar digerakkan oleh al nafs ini. Tanpa al nafs, maka al basyar hanyalah seonggok tulang dan daging yang tidak bisa bergerak apapun.

Di dalam konteks Islam lalu disebut sebagai nafsu, yang terdiri dari nafsu amarah, nafsu lawwamah, dan nafsu mutmainnah. Sesungguhnya al nafs itu bersifat netral atau moderat. Namun demikian terkadang tekanannya lebih kepada yang bercorak bendawi atau hayawaniyah. Dua nafsu, yaitu nafsu amarah dan nafsu lawwamah adalah nafsu yang berkecenderungan kepada al basyar atau pemenuhan kepada yang bersifat bendawi atau materi.

Lalu unsur ruh atau ruhaniyah adalah sesuatu yang ditiupkan oleh Allah kepada manusia sehingga memiliki kecenderungan kepada dimensi ketuhanan juga. Di dalam literatur kaum sufi disebut sebagai ruh idhafi atau ruh yang ditiupkan Allah kepada manusia agar manusia memiliki kecenderungan untuk memenuhi perjanjiannya di alam ruh, “Alastu birabbikum, Qalu bala syahidna”. Yang artinya kurang lebih “apakah engkau bersaksi bahwa Aku Tuhanmu, Ya saya menyaksikannya”. Jika nafsu amarah dan lawwamah cenderung ke alam bendawi, maka nafs al mutmainnah cenderung ke unsur ruhaniyah.

Salah satu kesalahan kita selama ini hanya membagi manusia dengan dua unsur saja yaitu unsur jasmani dan ruhani. Bahkan kesalahan itu semakin kebablasan karena menyamakan ruhani itu dengan jiwa. Jasmani itu berbentuk ragawi dan ruhani itu berbentuk jiwa, atau jiwa dan raga, jasmani dan ruhani. Padahal sebenarnya terdapat al nafs yang sesungguhnya adalah jiwa dan ada ruh yang merupakan pancaran Tuhan. Jiwa dan pancaran Tuhan adalah dua hal yang berbeda. Al nafs adalah mediator atau perantara antara jasmani atau al Basyar dengan ruhani atau pancaran Tuhan.

Agama atau secara antropologis sering dinyatakan sebagai religi, sesungguhnya berfungsi untuk mengarahkan ketiga unsur di dalam diri manusia tersebut kepada jalan untuk mencapai relasi yang optimal dengan Allah. Maka sebenarnya setiap agama memiliki seperangkat aturan dalam mengatur kehidupan umat manusia. Di dalam memenuhi kebutuhan fisikal-jasmaniyah, maka manusia diajarkan agar memenuhi dengan cara halal, baik sumber, proses dan produknya. Makanan yang kita makan harus bersumber dan diproses dengan cara yang halal sehingga produknya halal. Melalui makanan yang halal, maka manusia dengan al nafs-nya akan cenderung bergerak menuju kepada Ruh Idhafi yang bersifat ketuhanan dan bukan menuju ke al Basyar, yang bendawi.

Manusia juga diajarkan untuk melakukan ritual, maka seluruh hal yang terkait dengan ritual itu juga harus berada di dalam kesucian, suci badan (al basyar) dan suci tempat untuk menuju kepada kesucian al nafs dan ujungnya adalah kesucian al ruh. Unsur badan harus dilakukan dengan berwudlu sebagai medium untuk mensucikan badan, dan unsur tempat ibadah juga harus di dalam kesucian. Jika keduanya berada di dalam kesucian, maka al nafs akan cenderung untuk menuju kepada Ruh Ketuhanan dimaksud.

Puasa yang kita lakukan merupakan upaya untuk membangun relasi antara al Basyar, al Nafs dan Al Ruh demi untuk memperoleh ridla Tuhan. Makanya, puasa merupakan instrumen untuk membangun relasi baik dengan Tuhan, manusia dan juga alam semesta. Itulah makna bahwa ibadah lainnya itu semua berfungsi untuk kemanusiaan kita, sedangkan puasa adalah untuk Allah. Artinya, bahwa puasa memiliki fungsi untuk mengoptimalkan peran al Ruh agar berseirama dengan kemauan Tuhan untuk kita.

Jadi puasa sebenarnya bisa berfungsi untuk mengembalikan manusia ke jalan suci, dengan cara khusus, untuk tujuan khusus pula. Sebagaimana shalat yang sesungguhnya adalah doa, maka puasa sesungguhnya juga doa yang secara fisikal (al basyar) dan jiwa (al nafs) disatukan dengan Ruh (pancaran Tuhan), sehingga dapat membentuk atau memproduk manusia dengan perilaku yang baik dan bermanfaat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PERSPEKTIF “YANG SACRAL” DURKHEIM TENTANG PUASA (2)

Puasa kiranya dapat dikaji dari perspektif konsepsi Emile Durkheim, karena puasa adalah ritual suci untuk menuju kesucian. Bulan Ramadlan dikenal di dalam konsepsi Islam sebagai bulan suci, untuk menggambarkan peristiwa keutamaan yang terdapat di dalamnya. Secara faktual, bahwa puasa menjadi bulan idaman dan kesempatan bagi umat Islam untuk mendapatkan sejumlah keutamaan, antara lain; adalah rahmah, berkah, dan maghfirah Allah.

Di dalam konsepsi Emile Durkheim, dikenal istilah “Yang Sacral” atau “Yang Suci” untuk menggambarkan tentang lawan dari konsep “Yang Profan” atau “Yang Duniawi” atau “Yang Bersifat Materi”. Yang Suci itu digambarkan sebagai sesuatu yang lain yang berbeda dengan yang bersifat atau bercorak materi, dan terdapat di dalam dunia keyakinan individu atau komunitas dan masyarakat, yang memiliki efek kepatuhan atau ketaatan. Jika yang bercorak duniawi tersebut dapat diobservasi rupa dan bentuknya, maka yang suci tersebut hanya bisa dilihat dari performance para pelakunya untuk mematuhi terhadap yang diyakininya tersebut.

Yang Sakral tersebut memiliki dimensi belief, ritual dan performance. Sisi keyakinannya berada di dalam pemikiran dan sesuatu dibalik pemikirannya, sedangkan dimensi ritual terdapat di dalam perilaku yang tampak dan dapat diobservasi sebagai akibat keyakinan dimaksud. Sedangkan performancenya dapat dilihat dari tampilan-tampilan eksternal, misalnya gaya berpakaian, gesture, dan bahan-bahan ritual yang digunakannya.

Manusia semenjak semula memang memiliki kecenderungan untuk mempercayai terhadap keberadaan Tuhan. Jika mengacu pada konsepsi kebutuhan, maka manusia tidak hanya berkebutuhan fisik-biologis, pengakuan dan penghargaan, keamanan dan kenyamanan, akan tetapi juga kebutuhan berketuhanan. Makanya di setiap masyarakat, bagaimana pun primitifnya, maka Tuhan selalu dihadirkan di dalam kehidupannya.

Agama bahkan menjadi bahan kajian yang tidak ada habisnya-habisnya. Banyak sekali riset semenjak lama dan sudah menjadi khasanah serta perdebatan di kalangan ahli-ahli ilmu sosial dan budaya. Hal ini menunjukkan bahwa agama memiliki keunikan sebagai fakta dan fenomena kehidupan manusia. Sebagaimana puasa yang juga menjadi tradisi lama di dalam agama-agama.

Manusia sungguh sangat berbeda dengan yang dinyatakan sebagai Tuhan yang Suci. Yang “Suci” itu tidak dapat dilihat dengan penginderaan, karena bersifat non-observable. Tuhan yang Suci itu jauh di luar diri manusia tetapi lebih dekat dengan urat nadi manusia. Yang di dalam konsepsi teologis-filsafati disebut sebagai “Yang Trancendent” atau “Yang Imanent”. Hubungan manusia dengan Tuhan itu sangat dekat, karena manusia merupakan unsur Tuhan yang ditiupkan kepadanya. Kala pertemuan sperma dengan ovum terjadi dalam kurun waktu tiga bulan, maka Tuhan meniupkan ruh-Nya, Ruh Tuhan yang menggerakkan manusia di dalam kehidupan. Makanya di dalam diri manusia sebenarnya terdapat Ruh Ketuhanan, karena itu Ruh Tuhan akan kembali kepada-Nya, sedangkan jasad fisiknya akan menjadi tanah kembali, sampai suatu saat akan dibangkitkan kembali dalam wujud semula. Di dalam konsepsi teologis, manusia akan dibangkitkan dari tidur panjangnya secara fisikal, nanti pada saat Yaum al Makhsyar, sebuah padang luas yang tandus, dan di sanalah manusia akan mendapatkan perhitungan akan amal kebaikan dan amal keburukannya.

Itulah sebabnya dunia ruh itu “abadi”. Ruh itu ada semenjak di alam ruh, alam perjanjian manusia dengan Tuhan, lalu diturunkan ke dunia sebagai alam untuk melaksanakan janjinya, lalu ke alam kubur, alam untuk mengetahui hasil perbuatannya dan terakhir akan masuk ke alam akhirat, alam pembalasan atas perilaku atau tindakannya di dunia. Ruh itu hanya berpindah dari suatu fase ke fase lainnya.

Manusia dengan demikian terdiri dari jasad fisikal, yang membutuhkan kebutuhan hidup yang berupa materi, lalu ruh memerlukan juga kebutuhan ruhaniyahnya dan ruh itu merupakan pancaran Tuhan. Itulah sebabnya manusia selalu berusaha menciptakan instrumen untuk menemukan cara agar bisa berhubungan dengan Tuhan, Yang Maha Suci. Dan juga unsur nafsu atau jiwa yang menjadi mediator antara fisik-jasad manusia dengan ruh Tuhan atau ruh pancaran Tuhan di dalam diri manusia.

Instrumen untuk menghubungkan yang fisikal dengan nafsu atau jiwa dan ruh Tuhan, Yang Suci, itu adalah agama. Jadi sesungguhnya agama adalah medium untuk mempertemukan manusia dengan jasad (yang material) dan jiwa (Yang non-material) dengan Tuhan, Yang Suci, dalam ritual-ritual keagamaan, sebagaimana dapat dilihat di dalam semua agama. Itulah sebabnya manusia melakukan ritual dalam kerangka untuk menghubungkan dirinya dengan Tuhan.

Untuk itulah manusia dipersyaratkan bersuci sebelum melakukan hubungan dengan Tuhan. Yang Suci hanya bisa bertemu dengan Yang Suci. Konsepsi berwudlu sebelum melakukan ritual shalat adalah contoh bagaimana manusia yang bersifat material-fisikal harus melakukan upacara kesucian dulu sebelum bertemu dengan Tuhannya, yang Suci tersebut. Yang Suci (Tuhan) hanya bisa bertemu dengan yang suci melalui ritual pensucian (manusia). Hal ini pula yang mendasari mengapa orang dalam membaca kalam ilahi (al Qur’an) juga sebaiknya berada di dalam kesucian, sebab al Qur’an adalah kalam suci Tuhan, sehingga agar memiliki relasi dengan Tuhan sebagai Pencipta Kalam, maka kesucian menjadi instrumen pentingnya.

Puasa adalah instrumen untuk menjadi suci. Maka orang yang melakukan puasa pada akhirnya akan bisa mereguk kesucian. Manusia akan kembali kepada kefitrian. Makanya tujuan puasa adalah “la’allakum tattaqun”, yang makna terminologisnya adalah menjadi kembali suci sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.

Wallahu a’lam bi al shawab.