• April 2025
    M T W T F S S
    « Mar    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

DAHSYATNYA ISTIGHFAR

DAHSYATNYA ISTIGHFAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya akan membahas tentang ceramah Ustadz Alief Rifqi, Al Hafidz, pada waktu acara ceramah atau kuliah tujuh menit atau kultum yang diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Ceramah singkat tetapi memberikan makna mendalam tentang bagaimana kehebatan kalimat Astaghfirullah al adhim atau di dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan “ampunilah kami ya Allah yang Maha Agung”. Kalimat yang pendek tetapi luar biasa dahsyat khasiatnya untuk dilakukan umat Islam. Ceramah ini dilakukan pada hari Kamis, 13/03/2025, yang diikuti oleh jamaah shalat tarawih dengan tema: “Mari membaca Istighfar”.

Ada tiga hal yang disampaikan oleh Ustadz Alief, yaitu: pertama, pada bulan puasa, Allah SWT melipatgandakan amal ibadah yang kita lakukan. Oleh karena itu terdapat keyakinan bahwa para jamaah shalat tarawih sudah melakukannya. Jika biasanya kita tidak membaca Alqur’an, maka sekarang sudah melakukannya. Ada yang membaca one day one juz atau satu hari satu juz, seperti yang dilakukan di Masjid Al Ihsan. Setiap hari para jamaah membaca satu juz. Ini sesuatu yang penting dan merupakan ekspressi kesadaran bahwa bulan puasa merupakan bulan untuk melipatgandakan amal ibadah kepada Allah. Dengan amalan yang baik tersebut semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hambanya yang bertaqwa.

Kedua, di dalam kehidupan yang memang penuh dengan kesalahan dan kekhilafan bahkan dosa, maka salah satu ucapan yang penting untuk dirutinkan adalah membaca istighfar. Memohon ampun kepada Allah SWT. Tidak ada manusia yang sempurna tanpa dosa. Kecuali para Nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW. Beliau dijamin sebagai orang yang ma’shum atau manusia tanpa dosa. Kita sebagai manusia mestilah memiliki sifat lupa dan khilaf bahkan lebih dari itu yaitu berdosa kepada Allah SWT. Bisa jadi yang disengaja atau tidak disengaja. Dan salah satu cara untuk menghapusnya adalah dengan membaca istighfar. Astaghfirullah al adhim. Istighfar merupakan doa yang diharuskan dibaca oleh umat Islam. Dengan doa tersebut kita berharap bahwa Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa kita. Insyaallah dengan membaca istighfar maka Allah akan mengampuni dosa-dosa dimaksud. Yang penting membaca dengan lisan dan hati. Jangan hanya di lisan saja tetapi yang penting adalah dengan hati. Permohonan yang tulus dan sungguh-sungguh. Bisa juga memohon kepada Allah SWT melalui shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang diniatkan untuk memohon kepada Allah SWT bi washilati Nabi Muhammad SAW melalui bacaan shalawat. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad. Rasulullah merupakan satu-satunya Rasul yang diberikan otoritas oleh Allah SWT untuk menjadi pensyafaat bagi umatnya.  Rasulullah adalah syafi’an li ashhabihi.

Ketiga, ada sebuah ibrah untuk kita renungkan tentang betapa dahsyatnya bacaan istighfar. Di dalam kisah disebutkan bahwa salah seorang ulama pemuka Madzhab, Imam Malik, pergi ke suatu tempat. Sampailah Imam Malik di suatu daerah dan berhenti. Sebagai ulama yang sangat terkenal, maka tentunya berhenti di sebuah masjid. Setelah shalat tahiyatal masjid, shalat sunnah lalu shalat wajib. Shalat magrib dan shalat Isya’. Karena perjalanan jauh, maka Imam Malik berniat untuk istirahat. Belum sempat istirahat, maka Imam Malik diminta untuk keluar karena masjid akan dikunci. Maka keluarlah Imam Malik tetapi berhenti di ruang luar masjid. Oleh takmir masih diminta untuk keluar. Tidak boleh untuk menginap di masjid. Maka keluarlah Imam Malik, dan tiba-tiba ada seorang lelaki yang memintanya untuk tinggal di rumahnya. Tentu saja dengan hati yang sangat senang Imam Malik menerima tawaran tersebut. Jadilah imam Malik menginap di rumah orang itu. Dia tentu orang yang sangat baik, karena memberikan tempat bagi orang yang tidak dikenalnya.

Orang yang memberikan penginapan tersebut adalah seorang pembuat roti. Setiap hari orang itu bekerja untuk membuat roti, dari proses awal sampai akhir. Dari mengolah bahan sampai memanggang atau menggoreng roti. Ada satu hal yang diperhatikan oleh Imam Malik, yaitu setiap pekerjaan yang dilakukan itu selalu membaca istighfar. Ucapan itu diulang-ulang sampai rotinya selesai. Imam Malik bertanya: “semenjak kapan membaca istighfar itu dilantunkan”. Dijawabnya: “sudah 30 tahunan”. Imam Malik pun bertanya: “apa yang diinginkan sehingga terus membaca istighfar”. Tukang roti itu menjawab: “saya meminta ampun kepada Allah dan memohon agar keinginan saya dikabulkan”. Imam Malik lalu bertanya lagi: “apa semua keinginanmu sudah dikabulkan Allah”. Tukang roti menjawab: “semua keinginanku sudah dikabulkan oleh Allah, kecuali satu saja yaitu ingin bertemu dengan ulama besar yang bernama Imam Malik”. Imam Malik pun secara spontan berkata: “Subhanallah, rupanya berkat engkau Allah  menjalankan kakiku sampai di tempat ini dan saya harus diusir oleh ta’mir masjid tadi. Masyaallah, Allah telah mengabulkan keinginanmu. Akulah Imam Malik yang engkau inginkan bertemu”.

Tukang roti itu lalu mencium tangan Imam Malik dan kemudian Imam Malik merangkulnya. Ini sebuah ibrah yang luar biasa. Sebuah pertemuan yang penuh keharuan karena terkabulnya doa seseorang. Tukang roti itu menghormat kepada Imam Malik dengan mencium tangannya dan Imam Malik memberikan penghargaan atas hamba Allah yang suka beristighfar dengan merangkulnya. Masyaallah, subhanallah.

Keistiqamahan dalam berdoa merupakan salah satu prasyarat agar doa dikabulkan oleh Allah SWT. Marilah kita mengambil manfaat dari cerita atau kisah ini, semoga kita dapat mencontohnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJADI PRIBADI MUSLIM YANG BAIK

MENJADI PRIBADI MUSLIM YANG BAIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kali ini, saya akan mengulas tentang ceramah yang dilakukan oleh Ustadz Dr. Cholil Uman, MPd., yang memberikan ceramahnya di Masjid Ali Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Ceramah tersebut dilakukan pada 16/03/2025, bada shalat Isya’. Ceramah agama ini diselenggarakan untuk memberikan taushiyah keagamaan kepada jamaah shalat tarawih di masjid tersebut. Inti ceramah Ustadz Cholil mengenai bagaimana menjadi Pribadi Muslim yang utuh. Ada tiga hal yang diceramahkannya, yaitu:

Pertama, kita harus mengucapkan Syukur kepada Allah SWT. Sebab Allah sudah memberikan kenikmatan yang berupa kesehatan sehingga kita semua bisa melaksanakan puasa dengan sebaik-baiknya. Insyaallah jika puasa dilakukan dengan penuh keikhlasan dan perhitungan atas masa lalu, maka puasa kita menjadi puasa yang diterima oleh Allah SWT. Puasa itu perisai atau benteng untuk kita semua agar terus berprilaku baik sepanjang hayat. Jika kita akan melakukan perbuatan yang jelek, maka kita ingat bahwa saya sedang berpuasa. Inilah yang dimaksud dengan perisai atau junnah.

Kedua, setiap orang yang beragama Islam tentu mengharapkan agar memiliki  pribadi muslim yang sempurna. Menjadi muslim yang kaffah atau menjadi pribadi muslim yang utuh. Untuk menjadi pribadi muslim utuh tersebut persyaratan utamanya adalah hendaknya berkata yang baik atau lebih baik diam. Di dalam tradisi kita ada sebuah pernyataan “diam itu emas”. Itulah sebabnya di dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa diam atau berkata baik ada kaitannya dengan iman kepada Allah dan hari akhir. Artinya bahwa diamnya seseorang dan berkata yang baik tersebut ada kaitannya dimensi keimanan. Jadi bukan hanya persoalan duniawi belaka tetapi mengandung dimensi ketuhanan. Hadits tersebut menyatakan: “barang siapa yang mempercayai Allah dan hari akhir, maka hendaknya berkata yang baik atau lebih baik diam”.

Sesuai dengan perkembangan zaman, maka yang bisa berbicara tidak lagi mulut tetapi juga tangan. Melalui media social, maka tangan kita akan bisa dijadikan alat untuk membicarakan sesuatu, bahkan juga menggunjingkan orang lain. Ada banyak masalah yang timbul dari percakapan di media social, bisa melalui WA, tiktok, Instagram, facebook dan sebagainya. Oleh karena itu jika di masa lalu ada sebuah pernyataan: “mulutmu harimaumu, maka sekarang menjadi tanganmu harimaumu”. Kita semua harus hati-hati di dalam berkata baik melalui mulut langsung atau melalui tulisan di media social.

Ketiga, muslim sempurna juga ditandai dengan kecenderungan untuk berdzikir kepada Allah. Di mana dan kapan saja melakukan dzikir. Misalnya dengan membaca istighfar, membaca hamdalah, membaca tahlil, membaca takbir dan sebagainya. Lesan dan hatinya selalu terkait dengan kekuatan dan kekuasaan Allah SWT. Tidak juga lupa untuk membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW atau membaca Alqur’an. Lesan dan hatinya dipenuhi dengan bacaan-bacaan kalimat thayyibah yang sangat penting di dalam kehidupannya.

Dzikir tidak hanya dilakukan pada waktu pagi, siang atau sore akan tetapi juga pada malam hari. Diupayakan agar sepertiga malam bisa bangun dan melakukan dzikir kepada Allah. Allah SWT sangat menyukai orang yang selalu berdzikir kepada-Nya, terutama pada sepertiga malam tersebut. Di saat orang lain sedang menikmati tidurnya, maka ada seseorang yang sudah bangun yang menyuarakan dengan batinnya tentang kekuasaan dan keagungan Allah SWT.

Seseorang yang berlabel sebagai muslim yang berkepribadian sempurna juga seseorang yang melakukan ajaran agamanya dengan penuh kesungguhan. Dilakukan ajaran Islam dengan kedamaian, ketenangan dan ketentraman. Dilakukannya pengamalan agama dengan penuh kasih sayang. Ajaran agama dipahami sebagai jalan keselamatan. Bukan jalan Islam yang mengajak dan membangun permusuhan. Disharmoni social bisa terjadi karena paham beragama kita yang cenderung membenarkan pemahaman dan prilaku beragama sendiri. Sama sekali tidak didapatkan kebenaran beragama pada orang lain.

Orang Islam yang kamil adalah orang Islam yang menyadari betapa para pemeluk agama itu menjalankan agama berdasar atas tafsiran para ulama tentang agama. Kebanyakan orang tidak memahami sendiri atas kemampuannya sendiri tentang agama yang dipeluknya. Makanya, tidak seharusnya kita berlebihan dalam membenarkan paham dan prilaku keagamaan, sejauh itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip mendasar di dalam beragama.

Orang muslim yang berkepribadian juga orang Islam yang suka untuk menerbarkan kasih sayang, baik secara lesan atau tindakan. Di antaranya adalah suka berderma. Islam mengajarkan untuk berzakat, berinfaq, bersedekah dan berwakaf. Oleh karena itu instrument untuk berbuat baik ini harus ditindaklanjuti dengan pengamalannya. Kebaikan seseorang dapat diukur dari kebaikan lesannya dan kebaikan amalnya. Jika kita dapat melakukannya, maka kita adalah orang yang beruntung.

Kita semua berharap semoga puasa kita kali ini akan lebih baik dibandingkan dengan puasa sebelumnya dan kemudian dapat menjadi alat untuk mendapatkan derajat taqwa kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

BERIKAN IMAN YANG SEMPURNA

BERIKAN IMAN YANG SEMPURNA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya akan memberikan penjelasan tentang ceramah Ustadz Dr. Cholil Uman, MPd., dosen Bimbingan Konseling Islam pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya, pada jamaah Shalat Tarawih di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Ceramah dari seorang ahli Bimbingan dan Konseling Islam, yang secara rutin terlibat di masjid-masjid  di Surabaya untuk memberikan pencerahan tentang beragama yang benar. Agama yang penuh dengan rasa cinta dan persaudaraan. Ceramah tersebut dilaksanakan bada shalat Isya’, pada 10/03/2025.  Tema yang dibawakan Ustadz Dr. Cholil adalah tentang “Berikan Iman Yang Sempurna”.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ustadz Cholil bahwa ada doa yang selalu dilantunkan pada saat shalat Tarawih, yang biasanya dibaca oleh imam shalat antara shalat tarawih dan shalat witir, yang doa tersebut,  artinya ialah: “Ya Allah berikan kepada kami iman yang sempurna”. Yang kita minta kepada Allah adalah iman yang sempurna, iman yang sungguh-sungguh, iman yang tidak sedikitpun mengandung kesyirikan, iman yang benar-benar murni hanya kepada Allah SWT.

Mengapa kita berdoa memohon iman yang sempurna? Mengapa kita tidak mencukupkan dengan iman yang sekarang sudah kita miliki? Kenapa harus iman yang kita minta dan sebagainya. Ada tiga hal yang disampaikan oleh Ustadz Cholil, pertama,  iman itu keyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, atau iman kepada Allah. Iman kepada Allah merupakan kunci dari segala bentuk keimanan lainnya, yang dikenal sebagai rukun iman. Iman kepada Allah SWT menjadi satu basis bagi keimanan lainnya, dan juga amal ibadah yang disyariatkan oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW.

Ada banyak hal  yang membuat iman kita tidak murni. Iman kita terkadang terasa kurang, tetapi di sisi lain juga terkadang rasanya bertambah. Kita menjumpai orang yang beriman kepada Allah SWT, mengaku sebagai orang mukmin tetapi masih mempercayai atas hal-hal yang sesungguhnya bertentangan dengan keyakinan  yang murni kepada Allah SWT. Misalnya ada orang mukmin yang kemudian melakukan tindakan takhayul yang menyatakan bahwa ada kekuatan gaib lainnya yang bisa mempengaruhi atas prilaku manusia. Ada di antara orang beriman yang menaruh sesaji di pohon-pohon besar karena di situ diyakini ada kekuatan gaib yang mempengaruhi atas prilakunya.

Kedua, iman itu bisa diucapkan atau  iman bil kalam atau iman bil lisan adalah orang yang melafalkan iman kepada Allah, misalnya amantu billah, yang artinya saya beriman kepada Allah. Ada orang yang menyatakan secara lesan telah beriman kepada Allah misalnya dengan mengucapkan syahadat atau persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasulullah. Namun demikian ucapan tersebut tinggallah ucapan, sebab hatinya dan perilakunya belum menggambarkan sebagai orang yang sudah beriman kepada Allah. Makanya, iman tidak hanya cukup di lesan saja, akan tetapi harus diikuti dengan iman di hati atau iman bil qalbi. Jadi tashdiqu bil lisan dan didasari oleh tahdiqu bil qalbi. Dua-duanya belum lengkap jika tidak diikuti dengan iman bil ‘amal atau iman yang berbasis pada amal yang sesuai dengan iman dimaksud. Disebut sebagai tashdiqu bil amal. Iman itu dibuktikan dengan amal shaleh.

Ketiganya itulah yang dimohonkan kepada Allah melalui doa yang dilantunkan pada saat kita melakukan shalat tarawih. Sebagaimana diketahui bahwa doa tersebut memang khusus dibaca pada waktu shalat tarawih. Jarang dibaca pada saat shalat rawatib pada umumnya. Jadi setahun sekali kita memohon kepada Allah agar diberikan iman yang sempurna atau iman  kamilan. Indicator iman yang kamilan adalah kala kita melafalkan iman dengan lesan yang didasari oleh iman  dengan hati dan dilanjutkan dengan iman yang diamalkan dalam amalan shaleh.

Ketiga,  iman yang benar. Di dalam doa lain di dalam shalat tarawih juga kita memohon kepada Allah agar diberikan iman yang benar atau imanan shadiqan. Doa tersebut artinya: “Ya Allah berikan kepada kami iman yang benar”. Doa ini dibaca ba’da shalat tarawih dan witir. Doa yang menggambarkan harapan para mukminin untuk  selalu berada dan menjadi bagian dari orang-orang yang beriman yang benar.

Untuk menjadi orang yang beriman dengan benar, maka ada beberapa persyaratan, yaitu: melatih diri agar selalu menjaga lesannya. Ucapkan kata yang memberikan gambaran akan keimanan kita, misalnya jika ada sesuatu yang kurang baik, maka ucapkan masyaallah, jika ada sesuatu yang baik ucapkan subhanallah. Jika ada sesuatu yang jatuh ucapkan inna lillah dan sebagainya.

Kemudian melatih agar sikap kita selalu bersesuaian dengan ajaran Islam dan iman kita kepada Allah SWT. Kita harus selalu bersikap baik kepada Allah dan Rasulullah serta umat manusia lainnya. Kita selalu bermuka menyenangkan, dan upayakan jangan cemberut di kala bertemu siapa saja. Senyum harus menghiasi wajah kita. Lalu melatih berprilaku baik. Segala sesuatu itu dasarnya adalah kebiasaan.

Oleh karena itu lakukan hal-hal yang baik setiap hari agar kemudian menjadi  kebiasaan. Orang yang terbiasa shalat jamaah, maka ada rasa yang kurang di kala shalat sendirian. Orang yang terbiasa bersedekah juga ada rasa yang kurang jika tidak bersedekah. Demikian seterusnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

TAAWUN SEBAGAI PRINSIP RELASI SOSIAL

TAAWUN SEBAGAI PRINSIP RELASI SOSIAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam bulan Ramadlan ini, saya memang diberikan kesempatan beberapa kali untuk memberikan ceramah agama di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Saya memberikan ceramah bada shalat Isya tersebut pada hari Senin, 10/03/2025. Sebagaimana biasa, maka ceramah tersebut saya bagi menjadi tiga bagian. Adapun tema di dalam ceramah tersebut adalah “Taawun Sebagai Prinsip Relasi Sosial”. Inti ceramah tersebut adalah:

Pertama,  ungkapan rasa Syukur karena Allah memberikan kekuatan fisik kepada kita semua untuk menjalankan ajaran Islam, yang berupa puasa. Puasa merupakan ibadah fisik, artinya ibadah yang bisa dilakukan oleh orang yang sehat secara fisikal. Selain itu juga orang yang sehat secara mental. Hanya orang yang sehat fisik dan sehat mental saja yang bisa melakukan ibadah puasa.

Sudah jamak diketahui bahwa ibadah puasa merupakan ibadah yang mengandung dimensi kesehatan. Dengan melakukan puasa, maka pada siang hari banyak lemak jenuh yang dikonsumsi oleh pencernaan, sehingga lemak jenuh tersebut tidak menjadi kolesterol atau asam urat. Makanya kita akan menjadi sehat karena puasa tersebut.

Kedua, terdapat suatu prinsip agung yang diajarkan oleh ajaran Islam. Prinsip tersebut sebagaimana digambarkan di dalam Alqur’an Surat Al Maidah ayat 2, yang artinya adalah: “Bertolong menolonglah di dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah bertolong menolong dalam dosa dan kejelekan”. Inilah prinsip utama di dalam upaya membangun relasi social di antara sesama manusia, baik sebagai individu, anggota keluarga maupun anggota masyarakat.

Sesungguhnya puasa dapat menjadi medium untuk membangun amal kebaikan berbasis pada prinsip taawun. Setiap sore kita menyediakan nasi atau kue dan minuman untuk ta’jil. Jumlahnya memang tidak banyak, sekitar 25-30 kotak makanan. Tetapi itu dilakukan oleh semua anggota masyarakat di sekitar masjid. Maka, kita bisa bersedekah kepada orang yang memerlukan ta’jil. Ada mahasiswa, ada tukang ojek, ada orang yang berjamaah shalat magrib dan semuanya dapat mengambil manfaat dari sedekah yang kita lakukan. Sementara itu, mereka yang memanfaatkan sedekah juga memberikan sejumlah pahala kepada kita. Mereka menjadi medium agar kita mendapatkan pahala dari Allah SWT. Di sini ada upaya timbal balik antara pemberi shadaqah dan penerima manfaat shadaqah.

Sebagaimana dijelaskan oleh Ustadzah Luluk, bahwa pernah suatu ketika sahabat Nabi Muhammad SAW tidak memiliki barang yang bisa disedekahkan, maka Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa sedekah dengan seuntai kurma atau sesendok minuman itu sudah merupakan shadaqah. Oleh karena itu kita bersyukur bisa bersedekah dengan lumayan mewah, yaitu sekotak nasi dan minuman manis yang sangat menyejukkan. Ini yang harus disyukuri oleh kita semua, bahwa Allah SWT sudah memberikan rejeki yang cukup untuk kita semua.

Kita memang diminta oleh Allah SWT untuk bertolong menolong dalam kebaikan. Saling memberikan kebaikan. Kita memberikan kebaikan dan orang lain menerima kebaikan, sementara itu orang lain memberikan kebaikan dan kita menerima kebaikan. Satu contoh kecil saja, kita mengikuti Komunitas Ngaji Bahagia, dan kita saling tersenyum gembira. Maka saling tersenyum dalam kegembiraan adalah sebuah sedekah atau sebuah kebaikan. Bukankah menyenangkan  orang lain adalah sedekah. Dan bahkan hal ini kita lakukan setiap hari di Masjid kita ini.

Ketiga, yang dilarang oleh Allah SWT adalah saling tolong menolong dalam dosa dan kejelekan. Misalnya kita tahu ini bulan puasa, tetapi ada di antara kita yang tidak berpuasa, lalu mengajak ke café untuk minum kopi. Ini tentu ajakan yang tidak dikehendaki oleh ajaran Islam. Yang seperti ini termasuk bagian dari kemungkaran. Janganlah kita lakukan. Jika ada ajakan seperti itu tentu harus ditolak dengan cara sehalus-halusnya. Perlakukan dia dengan sikap yang tidak menyakiti hatinya. Bayangkan bahwa dia sebagai orang yang tidak tahu.

Islam mengajarkan kepada kita semua untuk berprilaku yang baik, berprilaku yang memberikan kenyamanan kepada orang lain, dan tidak boleh menyakiti orang lain. Jadi meskipun ada yang mengajak kepada kemungkaran tetapi harus tetap dibalas dengan kebaikan.

Ada banyak kemungkaran di dunia ini. Misalnya ghibah atau meggunjing orang lain. Ini yang sering tidak kita sadari. Tanpa sengaja kala berkumpul lalu kita membicarakan aib orang lain. Bahkan juga menyatakan kejelekan orang lain. Sering ini kita lakukan. Oleh karena itu agar di bulan puasa ini benar-benar kita jaga jangan sampai melakukan hal seperti itu. Dan yang juga penting jangan juga dilakukan di bulan yang lain.

Di dalam relasi social terkadang ada banyak hal yang dibicarakan. Ada saja yang bisa membuat kita membicarakan orang lain. Di sinilah diperlukan kehati-hatian ekstra, sebab sering kali hal seperti ini tidak kita sadari. Semula kita berbicara hal-hal yang normal akan tetapi lama kelamaan jatuh pada pembicaraan yang mengandung ghibah. Mudah  sekali hal ini kita lakukan.

Puasa merupakan sebuah instrument yang diciptakan oleh Allah agar seseorang dapat melakukan relasi social berbasis taqwa dan kebaikan. Al birr itu artinya kebaikan yang mengandung dimensi spiritual atau dimensi religiositas atau dimensi keagamaan. Dengan demikian, di dalam kebaikan atau birr dipastikan ada nilai ketuhanannya.

Semoga saja kita bisa memanfaatkan puasa sebagai medium untuk melatih diri kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan menjauhi tolong menolong dalam dosa dan kejelekan. Kita harus yakin bahwa kita bisa melakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

KALA TUHAN BERSUMPAH DENGAN MASA

KALA TUHAN BERSUMPAH DENGAN MASA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya akan menjelaskan mengenai ceramah yang disampaikan oleh Ustadz Khobirul Amru, Magister Agama, Al Hafidz, pada jamaah Shalat Tarawih di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency  Ketintang Surabaya, pada Ahad, 09/03/2025. Sebuah ceramah dari seorang ahli tafsir sehingga penjelasannya sangat komprehensif dan mencerahkan. Saya yakin jamaah puas atas penjelasannya yang ringkas tetapi mencerahkan. Tema yang dibahas adalah mengenai tafsir atas Surat Al Ashr, yang membahas tentang sumpah Allah SWT yang menggunakan masa atau waktu sebagai sumpahnya. Ada tiga penjelasan terkait dengan tafsir atas ayat ini, yaitu:

Pertama,  surat al Ashr dapat diterjemahkan sebagai berikut: “Demi masa,  sungguh manusia berada di dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. Artinya bahwa Allah secara khusus menjadikan masa atau waktu sebagai sumpahnya. Pada ayat yang lain Allah bersumpah dengan demi fajar, demi malam, demi matahari, demi waktu dhuha, dan sebagainya. Tetapi khusus di dalam ayat ini Allah menjadikan masa atau waktu sebagai sarana bersumpah.

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ada dua pandangan, yaitu masa atau waktu  secara  umum dan tidak menunjuk waktu yang khusus. Artinya, seluruh waktu baik siang maupun malam. Waktu itu begitu penting. Waktu itu tidak berulang. Waktu itu terus berjalan. Waktu tidak pernah berhenti. Yang sudah berlalu pasti berlalu. Tidak bisa diulang lagi. Ada juga ahli tafsir yang menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah waktu ashar. Waktu matahari dalam waktu cepat akan tenggelam. Kehidupan di dunia tersebut seperti waktu ashar yang sebentar saja akan tenggelam. Oleh karena itu dengan Allah menjadikannya sebagai sumpah tentu menunjukkan betapa pentingnya waktu yang akan segera tenggelam. Manusia harus menjadikannya sebagai pengingat bahwa umur manusia itu terbatas, dan jika sudah senja tentu akan kemana lagi setelahnya. Hanya kematian.

Kedua, semua manusia berpotensi untuk merugi.  Tidak ada manusia yang tidak dalam kerugian. Tetapi Allah memberikan jaminan ada empat kelompok manusia yang tidak berada di dalam kerugian. Yaitu orang yang beriman. Orang yang meyakini keberadan Allah merupakan orang pertama yang tidak merugi di dalam kehidupan. Iman adalah kata kunci. Dengan iman kepada Allah, maka manusia akan terhindar dari kerugian di dalam kehidupan di dunia dan kehidupan di akherat. Ada banyak orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan tidak beriman atas kenabian Nabi Muhammad SAW. Mereka adalah orang yang merugi. Orang yang tidak mendapatkan cahaya keilahian berdasarkan atas ajaran Islam. Kebenaran sudah disampaikan, penjelasan sudah dicukupkan akan tetapi ada sebagian orang yang tidak mempercayainya. Inilah orang yang sungguh merugi. Orang yang tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Lalu orang yang beramal shalih. Tidak ada amal shalih jika tidak didasari oleh iman. Makanya iman itu menjadi basis bagi segala amal kebaikan yang dilakukan oleh manusia. Ada banyak orang yang melakukan pilantropi tetapi basisnya bukan dari agama. Hal itu dilakukan hanya berdasar atas kemanusiaan belaka. Yang seperti ini bukanlah amal shalih yang dianjurkan oleh ajaran Islam. Amalan  seperti ini hanyalah memenuhi kepentingan yang profan dan tidak memenuhi kepentingan yang sacral. Hanya memenuhi kepentingan duniawi dan tidak memenuhi kepentingan ukhrawi.

Terkadang kita tidak sadar bahwa mengambil paku di tengah jalan atau mengambil duri di tengah jalan merupakan amal shaleh. Dengan menjadikan orang yang lewat di jalan itu selamat, maka hal tersebut sudah merupakan amal ibadah yang sangat bernilai harganya. Islam mengajarkan agar kita semua saling bertolong menolong dalam kebaikan. Dan jangan bertolong menolong dalam kejahatan. Itulah sebabnya ajaran Islam itu penuh dengan kebaikan, kebaikan yang umum maupun yang khusus.

Ketiga, orang yang berwasiat tentang kebenaran dan berwasiat tentang kesabaran.  Untuk berwasiat tentang kebenaran tentu tidak mudah. Sebab orang yang mengajarkan tentang kebenaran tentunya adalah orang yang sudah berbuat tentang kebenaran. Jadi haruslah orang yang melakukan kebenaran dulu yang bisa berwasiat tentang kebenaran. Kebenaran yang dimaksudkan di dalam konteks ini adalah kebenaran agama. Kebenaran tentang ajaran iman dan Islam. Menyampaikan kabar tentang kebenaran Allah sebagai Dzat yang menciptakan alam dan seisinya dan seluruh tata surya di dalam kehidupan. Juga meyakini tentang malaikat Allah, Rasulullah, kebenaran kitab-kitab Allah, percaya tentang hari akhir dan takdir baik dan buruk. Lalu juga menjalankan ajaran Islam yang tersimpul di dalam rukun islam. Harus bersyahadat, melakukan shalat, membayar zakat, melakukan puasa dan haji bagi yang mampu.

Dan yang tidak kalah penting juga berwasiat tentang kesabaran. Kata kunci berikutnya agar tidak merugi di dalam kehidupan adalah dengan kesabaran. Hidup ini banyak masalahnya, dan yang akan memenangkannya di dalam pertarungan adalah mereka yang bisa mengerem hawa nafsu kemarahan dan menggantikannya dengan kesabaran. Ada kalanya kita mendapatkan kesenangan dan ada kalanya kita mendapatkan kesusahan, maka untuk menyikapi keduanya adalah dengan kesabaran.

Dengan demikian, di dalam kehidupan terdapat potensi kerugian, dan hanya emat hal untuk mengganti kerugian dengan keberuntungan yaitu orang yang beriman kepada Allah, orang yang melakukan amal shaleh, orang yang suka berwasiat tentang kebenaran dan berwasiat tentang kesabaran.

Wallahu a’lam bi al shawab.