• November 2018
    M T W T F S S
    « Oct    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

DUNIA POLITIK KITA MAKIN GADUH

DUNIA POLITIK KITA MAKIN GADUH

Tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial (medsos) memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam meningkatkan kegaduhan apa saja. Bisa agama, politik, sosial, budaya dan lainnya. Semua menjadi hiruk pikuk di kala medsos terlibat di dalamnya.

Kita tentu masih ingat dengan beberapa kasus yang melibatkan politisi dan bahkan penceramah agama yang ungkapannya kemudian menjadi bahan perbincangan, baik yang pro maupun kontra di media sosial. Di era cyber war semacam ini, maka setiap ungkapan bisa dijadikan sebagai bahan untuk mengolok-olok, mencibir, memusuhi dan bahkan memicu konflik. Dunia sekarang menjadi lebih hiruk pikuk karena semakin kuatnya media sosial sebagai sarana untuk melakukannya.

Tahun 2019 adalah tahun pilkada, pileg dan pilpres atau yang lazim oleh para ahli ilmu sosial disebut sebagai tahun politik. Konsekuensi dari tahun politik ialah semakin kuatnya “pertempuran”antar peserta pemilu baik secara organisasional maupun individual. Semua berebut panggung yang sama, sehingga konsekuensinya ialah terjadinya berbagai tindakan yang terkadang membuat kegaduhan.

Akhir-akhir ini kita sedang diramaikan dengan pertarungan di antara calon presiden. Pak Jokowi versus Pak Prabowo. Meskipun mereka berdua pernah berangkulan di dalam acara Asian Games, ketika Pencak Silat Indonesia mendominasi perolehan medali. Keduanya saling berangkulan. Pak Prabowo datang sebagai Ketua Ikatan Pencak Silat se Indonesia, sedangkan Pak Jokowi hadir sebagai Presiden Republik Indonesia. Tetapi saya yakin di dalam hati pastilah mereka menyatakan: “sampeyan adalah rival saya di dalam pilpres yang akan datang”. Tangan berangkulan, tetapi hati berdegup karena “bertarung”.

Di antara yang memicu ketegangan akhir-akhir ini ialah pernyataan Pak Jokowi yang viral tentang “politikus sontoloyo” dan yang juga menjadi viral adalah pernyataan Pak Prabowo tentang “tampang Boyolali”. Medsos selalu mengambil posisi yang mereduksi pernyataan orang, terutama tokoh yang saling berkontestasi.

Memang dengan medsos semua bisa diinformasikan dan semua bisa dishare secara menyeluruh. Hanya masalahnya ialah tidak semua yang dishare itu selalu hal-hal yang baik tetapi lebih banyak yang berisi “sampah”.

Di dalam cyber war, memang memastikan terjadinya character assassination. Yaitu pembunuhan karakter yang dilakukan secara sengaja untuk “menghajar” lawan terutama ialah lawan politik. Dan yang digunakannya ialah medsos sebab medsos sangat efektif di dalam kerangka untuk kepentingan ini. Pengaruh medsos tersebut sangat dahsyat di dalam menghasilkan opini yang bervariasi sebagai dampak langsung terhadap pesan dalam medsos.

Sebenarnya, ungkapan Pak Jokowi maupun Pak Prabowo adalah ungkapan spontan tentang berbagai serangan media sosial yang tertuju kepadanya, terutama yang dilakukan oleh Pak Jokowi. Saya berkeyakinan bahwa ungkapan ini tentu tidak berdiri sendiri akan tetapi pastilah merupakan rangkaian dari berbagai fakta atau fenomena yang menjadi latar belakangnya. Munculnya kata ini tentu sebagai akibat dari terpaan ungkapan hate speech yang ditujukan kepadanya. Saya kira siapapun jika terus menerus diserang tentu akan merasa jengkel atau masygul sehingga muncullah ungkapan “sontoloyo”. Terpaan ujaran kebencian yang terus menerus, dan kritik yang terus menerus dialamatkan kepadanya dan tidak berbasis pada realitas yang nyata tentu bisa membuat perasaan tidak enak, apalagi ungkapan ini dipastikan viral di medsos. Berbuat baik dikritik apalagi tidak berbuat tentu malah bertubi-tubi kritiknya. Pak Jokowi tentu sudah berbuat dalam kapasitas yang dimilikinya, dan saya kira banyak yang mengakuinya. Tentu tidak ada pembangunan yang masing-masing berdiri sendiri tentu merupakan kelanjutan, misalnya pembangunan jalan tol yang sekarang juga menuai keberhasilan. Demikian pula pembangunan Bandar udara, pembangunan fisik atau infrastruktur lainnya juga dirasakan banyak orang keberhasilannya. Tentu saja ada yang belum berhasil, tetapi arah menuju keberhasilan tentu sudah disiapkan.

Lalu Pak Prabowo, memang beliau belum pernah tampil sebagai pimpinan tertinggi negeri ini. Beliau sedang berupaya untuk mencapainya. Pantaslah jika beliau mencoba dengan sekuat tenaga untuk meraihnya. Ungkapannya tentang “orang Boyolali” saya rasa bukan dimaksudkan untuk menghina atau merendahkan orang Boyolali. Yang dimaksudkan mungkin ialah agar orang Boyolali bisa bekerja lebih keras agar bisa menginap di hotel atau di mana saja. Saya yakin bukan dimaksudkan sebagai ungkapan “menghina” atau “melecehkan”.

Tetapi inilah dunia medsos. Yang baik bisa jadi salah apalagi yang salah. Dan saya yakin sebagai orang yang memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam berorasi, maka baik Pak Jokowi maupun Pak Prabowo pasti sudah memikirkan dengan matang apa yang dibicarakan. Saya menjadi ingat ketika Pak Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama) datang dalam acara Tasrif Award, dan di antara yang menerima ialah “Kaum Gay”, maka lalu dijadikanlah sebagai anggel bahwa Pak Lukman setuju dengan gay. Bahkan ketika ada perkawinan sejenis di Bali, maka lalu dibuatlah satu informasi setelah acara itu selesai dan di dalamnya Pak Menteri memberikan keterangan kepada para watawan, seakan-akan Pak Lukman menyetujui acara itu.

Begitulah Hoak di era Cyber War, dan kita memang harus hati-hati menerima atau menyebarkan disinformasi tersebut di tengah komunitas medsos.

Wallahu a’lam bi al shawab.

INDONESIA NEGERI PEMBERI SEDEKAH TERBAIK

INDONESIA NEGERI PEMBERI SEDEKAH TERBAIK

Tentu merupakan kebanggaan bahwa Indonesia dinyatakan sebagai negeri dengan tingkat pemberi sedekah atau charity dengan ranking nomor 1 mengalahkan beberapa negara besar seperti Australia, Amerika Serikat, Norwegia, bahkan beberapa negara di Timur Tengah. Berdasarkan report yang dibuat oleh Charities Aid Foundation (CAF), posisi Indonesia sangat membanggakan.

Yang membuat gembira tentu ialah bagaimana Indonesia bisa menjadi nomor satu dalam hal indeks pemberian atau The CAF World Giving Index. Di antara 20 negara yang menjadi top twenty dalam hal Giving Index ialah dengan urutan: Indonesia, Australia, New Zealand, USA, Singapore, Kenya, Myanmar, Bahrain, Netherland, UAE, Norway, Haiti, Canada, Nigeria, Iceland, Malta, Liberia dan Sierra Leon.

Indonesia menempati posisi pertama dalam The CAF Giving Index dengan score 59, Helping a Stranger dengan score 46, Donating money dengan score 78 dan Volunteering time dengan score 53. Berdasarkan laporan Charities Aid Foundation (CAF) 2017 tersebut Indonesia menempati ranking pertama karena dibanding Australia, maka donating money kita sebesar 78 sementera Australia hanya 71, dan Volunteering time kita berscore 53 sementara Aurtralia sebesar 40. Kita hanya kalah dibandingkan dengan Australia dalam hal helping a stranger, yaitu Indonesia sebesar 46, sementara Australia sebesar 65. Oleh karena itu yang ke depan perlu untuk diperkuat ialah bagaimana agar kita lebih care terhadap orang asing yang ada di Indonesia. Di posisi ini kita kalah dengan Australia, yang ternyata tingkat caritasnya terhadap orang asing jauh lebih tinggi.

Kebanggaan ini tentu saja patut kita miliki sebab di dalam berbagai peringkat dunia yang menggambarkan posisi Indonesia di dalam percaturan global masih tercecer di posisi tengah atau medium rank. Misalnya di dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) kita berada pada peringkat 113, sedangkan di dalam peringkat kompetisi global posisi kita juga berada di dalam kisaran 40-an. Beberapa tahun yang lalu kita pernah berada di dalam kisaran 30-an. Untuk Human Resource Development (HRD) bukan berarti tidak ada peningkatan sebab secara nasional HRD kita meningkat, namun di dalam skala global ternyata negara lain juga berkembang dengan pesat.

Sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar, maka sesungguhnya masyarakat Indonesia memiliki paham agama yang cukup memadai. Pemahaman tentang prinsip dasar Islam seperti rukun Islam dan Iman, saya kira sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Salah satu rukun Islam ialah zakat atau mengeluarkan zakat, baik zakat fithrah, zakat mal maupun zakat perdagangan, yang secara potensial sangatlah besar. Belum ada kesepakatan angka tetapi tidak kurang dari 217 Trilyun yang diperkirakan menjadi potensi zakat di Indonesia. Secara riil bahwa yang bisa diraih oleh Badan Amil Zakat, kira-kira sebesar 5,7 Trilyun. Angka yang masih jauh dibandingkan dengan potensi yang dimilikinya. Selain itu juga ada wakaf, dan hibah yang sangat terkenal di dalam agama Islam. Agama lain juga memiliki skema seperti zakat, misalnya Dana Punia, Dana Kolekte dan sebagainya.

Saya berasumsi bahwa melalui pemahaman tentang “pemberian” berbasis agama ini, maka kekuatan sedekah itu menjadi sangat luar biasa. Misalnya di dalam Islam, zakat merupakan prinsip yang tidak bisa diganggu gugat. Siapapun yang berikrar sebagai muslim, maka menjadi kewajibannya untuk mengeluarkan zakat dimaksud.

Perkembangan zakat secara nasional tentu sangat menggembirakan. Melalui program zakat on line maka pertumbuhan zakat menjadi meningkat. Belum lagi misalnya tentang wakaf yang juga sudah bergerak menggunakan system wakaf uang yang juga mendongkrak pendapatan perwakafan menjadi lebih signifikan.

Di dalam konteks lain, misalnya jumlah masjid atau tempat ibadah lain yang sedemikian kuat ternyata juga menggunakan dana masyarakat. Kebanyakan masjid dibangun berdasarkan swadaya masyarakat melalui berbagai macam cara untuk pembangunannya. Semua ini menggambarkan bahwa dana masyarakat atau donating money sangat kuat di Indonesia.

Jika CAF Giving Index menempatkan Indonesia sebagai negara dengan donating money lebih besar dibandingkan dengan negara-negata lain, saya kira bukan sesuatu yang berlebihan. Termasuk juga di dalam konteks volunteering time. Indonesia tentu memiliki kelebihan dibandingkan dengan negara lain di dalam hal ini, misalnya banyaknya kegiatan-kegiatan kebersamaan yang dilakukan selama ini. Kita telah memiliki konsep misalnya “gotong royong” atau konsep “menolong”, “sambatan” dan sebagainya yang mengindikasikan bagaimana volunteering time itu telah menjadi pattern of behavior. Kita sesungguhnya telah menerapkan sikap dan tindakan untuk memenuhi kebutuhan sosial lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain. Jika di tempat lain individualitas lebih kuat, maka di sini sikap dan tindakan bermakna sosial itu jauh lebih tinggi.

Itulah sebabnya, donating money dan volunteering time telah menjadi pattern of behavior bagi masyarakat di Nusantara. Saya kira catatan saya ini menjadi hipotesis yang bisa diuji kebenarannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KONTRIBUSI ISLAM PESISIRAN DALAM PEMBENTUKAN TRADISI ISLAM

KONTRIBUSI ISLAM PESISIRAN DALAM PEMBENTUKAN download full text

MENGEMBANGKAN AGENDA RISET HARMONI AGAMA

MENGEMBANGKAN AGENDA RISET HARMONI AGAMA Download Full text

MEREKONSTRUKSI KURIKULUM FAKULTAS DAKWAH

MEREKONSTRUKSI KURIKULUM FAKULTAS DAKWAH Download Full text