• February 2019
    M T W T F S S
    « Jan    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KETIKA ANAK MUDA MENCARI JATI DIRI (2)

KETIKA ANAK MUDA MENCARI JATI DIRI (2)

Ada memang orang yang meragukan apakah para guru dan dosen masih fungsional di masa depan. Akan tetapi saya berkeyakinan bahwa selama masih ada institusi pendidikan, maka selama itu pula pendidik masih diperlukan. Hanya saja yang mungkin berubah ialah system pendidikan atau system pembelajarannya.

Sekarang saja perubahan system pembelajaran itu sudah berlangsung. Misalnya di kala internet sudah menjadi tempat untuk mencari jawaban atas soal-soal ujian dan lebih luas tentang pengetahuan dan pembelajaran, maka sebenarnya wajah dunia pendidikan sudahlah berubah. Makanya, para pendidik juga harus memperhatikan terhadap perubahan di sekitar pembelajarannya.

Suatu contoh kehadiran Google sebagai mesin pencari atau Google search, maka pencari jawaban atas hal yang ingin diketahuinya bukan lagi lewat orang pintar atau cerdik pandai, akan tetapi ke mesin pencari tersebut. Dan yang hebat bahwa semua menu tersedia di situ. Jika di masa lalu untuk menanyakan masalah agama, maka orang harus bertanya kepada kyai atau ulama. Sekarang sudahlah berbeda. Dengan Googling, maka secara real time jawaban akan bisa ditemukan. Demikian pula ketika hadir aplikasi Ruang Guru, maka melalui aplikasi ini akan bisa ditemukan jawaban atas soal-soal mata pelajaran, sehingga akan sangat membantu bagi para siswa. Begitulah kehebatan aplikasi di tengah kehidupan pendidikan di era sekarang.

Namun demikian, kehadiran guru atau dosen di era sekarang, tentu masih sangat dibutuhkan. Jika mesin pencari hanya menyajikan tentang jawaban apa atas pertanyaan apa, maka guru akan bisa memberikan dasar logika, emosi dan factor-faktor yang menghadirkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Itulah kelebihan guru atau dosen di dalam dunia pendidikan. Dengan demikian kehadiran pendidik masih diperlukan dalam program pendidikan.

Berbasis atas logika semacam ini, maka urgensi pendidik masih signifikan di dalam mengarahkan dan membimbing para mitra pendidikan di era sekarang dan mendatang. Dari hasil survey tentang rendahnya toleransi para guru terhadap orang di luar dirinya, terutama yang menyangkut agama dan etnis atau suku, maka sebenarnya ini merupakan lampu “kuning” bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Di tengah nuansa politik identitas yang terus digelorakan di dalam tahun politik ini, maka sikap dan tindakan pendidik tentu bisa menjadi rujukan. Apalagi jika guru tersebut bisa menempatkan dirinya di tengah para muridnya.

Masyarakat Indonesia, meskipun sudah berada di era teknologi informasi yang kuat, akan tetapi sikap patron-client itu masih mengakar dengan kuat. Para mitra pendidikan masih menganggap bahwa pendidik adalah orang yang melebihi dirinya dalam banyak hal. Ada factor usia, factor akademis, factor status dan sebagainya yang bisa saja tetap berpengaruh bagi para siswa. Oleh karena itu, pendidik masih memegang kunci penting di dalam mengarahkan sikap dan tindakan para siswanya, atau bahkan dosen terhadap para mahasiswanya.

Anak-anak muda adalah mereka yang sedang di dalam proses pencarian jati diri, baik dari sisi kebangsaan, kesukuan, etnisitas, bahkan keagamaan. Oleh karena itu, di saat seperti ini, maka mereka harus mendapatkan pendidikan yang benar. Yaitu pendidikan yang akan mengarahkannya pada pengetahuan, sikap dan tindakan yang relevan dengan bangsa, negara dan agamanya. Banyaknya anak-anak muda yang tertarik dengan situs-situs agama yang keras tentu disebabkan mereka mendapatkan pelajaran dari dunia agama melalui teknologi informasi yang seperti itu. Misalnya situs-situs yang mengunggah beragama yang bercorak intoleransi, kekerasan bahkan terorisme. Padahal situs-situs seperti ini luar biasa banyaknya dan luar biasa pula tawarannya. Bagi yang tidak diback up oleh lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan dan lingkungan sosial yang baik, maka mereka bisa terjerembab di dalam kubangan gerakan intoleransi yang keras.

Institusi pendidikan merupakan lingkungan kedua setelah lingkungan keluarga, makanya bagi saya tentu memiliki pengaruh yang cukup signifikan di dalam proses pencarian jati diri dimaksud.

Pendidik yang memiliki pemahaman agama yang moderat tentu merupakan solusi yang memadai di dalam mendidik mitra didiknya untuk memiliki paham keagamaan yang moderat dan sebaliknya jika gurunya intoleran maka juga akan menghasilkan anak didik yang intoleran. Maka solusinya ialah bagaimana kebijakan pemerintah tentang profesi guru dalam wawasan kebangsaan. Selain itu juga keluarga dan masyarakat yang harus terlibat di dalam pengawasan bagi para remaja.

Semua harus terlibat di dalam membantu pencarian jati diri di kalangan generasi muda agar mereka bisa menjadi pewaris negeri ini untuk tetap berada di dalam kerangka tegaknya NKRI, terjaminnya Pancasila sebagai ideology negara dan tetap langgengnya Indonesia sebagai rumah bersama seluruh rakyat dan bangsa Indonesia.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KETIKA ANAK MUDA MENCARI JATI DIRI (1)

KETIKA ANAK MUDA MENCARI JATI DIRI (1)

Sesungguhnya banyak anak muda Indonesia yang hebat. Berdasarkan realitas empiris bahwa banyak karya anak muda Indonesia yang hebat di tingkat nasional maupun internasional. Berbagai kompetisi yang dilakukan baik di tingkat olimpiade internasional maupun Olimpiade Sain Nasional (OSN), maka banyak karya yang hebat dan menonjol.

Demikian pula para siswa di lembaga pendidikan Islam juga banyak yang menuai keberhasilan. Di Kementerian Agama terdapat Kompetisi Sains Madrasah (KSM) dan kompetisi robotic yang baik dan menghasilkan produk-produk inovatif yang sangat mendasar. Bahkan juga karya-karya penelitian para siswa madrasah yang hebat di dalam berbagai bidang: ilmu sosial, sain dan teknologi serta agama dan keagamaan.

Semua realitas ini memberikan satu gambaran bahwa anak-anak muda Indonesia sesungguhnya memiliki peluang untuk bersaing atau berkompetisi di era yang akan datang. Dan melalui pembinaan atau bimbingan yang intensif akan dapat dipastikan bahwa akan semakin banyak muncul inovasi-inovasi baru yang berharga di masa mendatang.

Hanya saja yang menjadi perhatian ialah bagaimana dengan keberagamaan mereka ini. Pertanyaan ini dimunculkan sebab berdasarkan hasil survey akhir-akhir ini menggambarkan bahwa semakin banyak anak-anak muda kita yang tertarik dengan ajaran-ajaran yang menyimpang dari keinginan untuk membangun keutuhan negara, berdasar atas 4 (empat) pilar consensus kebangsaan, yaitu: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan.

Anak-anak muda kita semakin intoleran terbukti dengan survey yang dilakukan oleh Alvara Research center, bahwa pada aspek persepsi terhadap negara Islam yang perlu diperjuangkan untuk penerapan Islam secara kaffah mencapai 23,5%. Selanjutnya mahasiswa yang tidak mendukung penerapan ideologi Islam mencapai 16,8%, mahasiswa yang setuju dengan Khilafah sebagai bentuk pemerintahan yang ideal dibanding NKRI mencapai 17,8% dan mahasiswa yang setuju dengan pernyataan bahwa saya siap berjihad untuk tegaknya negara Islam/Khilafah mencapai 23,4%. Survey ini memang dilakukan terhadap para mahasiswa, akan tetapi menurut saya bisa menggambarkan tentang bagaimana kecenderungan anak-anak muda kita itu terhadap apa yang akan dilakukan mendatang.

Kita paham benar bahwa para generasi muda inilah yang akan menggantikan posisi apapun di antara generasi yang lebih tua. Mereka adalah penyambung estafeta kepemimpinan bangsa dalam level apapun. Sehingga kehadiran mereka sungguh merupakan tantangan dan solusi untuk masa depan bangsa. Jika mereka baik saat ini tentu akan baik pula di masa mendatang. Itulah sebabnya tanggung jawab generasi yang lebih tua menjadi sangat berat, yaitu untuk mewariskan sejarah masa lalu dan merenda sejarah masa depan. Jika kita berhasil maka berhasillah kita mengemban beban sejarah itu dan jika kita gagal maka hancurlah masa depan bangsa tersebut.

Saya kira generasi tahun 60-an dan 70-an, secara umum tentu berhasil mengembang tanggung jawab sejarah itu dengan tetap konsisten menjaga 4 (empat) pilar consensus kebangsaan. Dan semua ini tentu adalah hasil didikan para pendahulu yang dengan susah payah mempertahankan nasionalisme dan kebangsaan kita. Generasi 60-an dan 70-an itulah yang sekarang sesungguhnya memiliki tanggungjawab yang sangat besar untuk menjelaskan sejarah bangsa di masa lalu, yang berupa catatan emas perjalanan bangsa Indonesia kepada generasi 80-an, 90-an dan 2000-an. Jadi, di pundak ini terdapat beban sejarah yang berat yang harus diwariskan kepada generasi pelanjut untuk Indonesia di masa mendatang.

Padahal, sebagaimana catatan survey yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah menemukan guru cenderung intoleran. Penyebabnya dapat digolongkan dalam 2 (dua) hal, yaitu: (1) guru tinggal di masyarakat yang homogeen, (2) tinggal di kota besar yang majemuk tidak menjamin guru bergaul dengan orang-orang yang berbeda paham dengannya. (Paul Suparno, Kompas, 13/12/2018).

Temuan ini memberikan gambaran bahwa anak-anak muda kita yang terutama terdiri dari mereka yang lahir pada tahun 2000-an akan mengalami masalah di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada tahun-tahun mendatang. Secara singkat bisa dinyatakan bahwa jika para guru yang mengajar mereka adalah para guru yang intoleran, maka dipastikan akan menghasilkan anak didik yang juga tidak toleran. Masalah ini saya kira merupakan hal yang harus memperoleh pencermatan serius di kalangan pengambil kebijakan. Data-data yang terungkap ini harus menjadi basis bagi pengambilan kebijakan tentang dunia pendidikan nasional.

Apa yang dilakukan oleh guru itu merupakan cerminan bagi perilaku siswanya atau perilaku dosen adalah perilaku para mahasiswanya. Jika kemudian para guru atau para dosen mengajarkan kepada mitra didiknya berbasis pada tindakan intoleran, maka mitra didiknya juga akan dipastikan seperti itu, dan bahkan lebih. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Saya kira memang diperlukan rumusan kebijakan yang lebih “tegas” dari para policy maker untuk mengambil peran yang lebih jelas di dalam menangani para pendidik agar ke depan tidak lagi didapatkan para guru atau dosen yang tidak sejalan dengan tujuan bernegara dan berbangsa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

ISLAMIC HIGHER EDUCATION PROFESSOR SUMMIT 2018 (2)

ISLAMIC HIGHER EDUCATION PROFESSOR SUMMIT 2018 (2)

Pada hari kedua Islamic Higher Education Porfessor Summit 2018, menghadirkan tiga narasumber yang sangat otoritatif dalam bidangnya, yaitu Prof. Dr. Nadirsyah Hussein dari Monash University, Radar Panca Dahana, budayawan, dan Dr. Haidar Bagir, ahli tasawwuf. Acara ini dipandu oleh Prof. Dr. Arskal Salim, Direktur PTKI pada Ditjen Pendidikan Islam Kemenag.

Sebelumnya acara dibuka oleh Pak Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. Beliau memberikan pengarahan tentang bagaimana meningkatkan peran para gurubesar dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Professor itu tidak hanya melakukan pendidikan dan pengajaran akan tetapi juga pengabdian masyarakat. Kita sekarang sedang berada di era disruptif dan era teknologi informasi yang sangat kuat dan massif, maka semua guru besar diharapkan semakin memperkuat perannya di tengah dunia akademik dan sosial kemasyarakatan. Kita sedang menghadapi gerakan konservatisme yang kuat dan terus berkembang, maka para guru besar harus mengusung tema-tema pengabdian masyarakat, riset dan pendidikan berbasis pada moderasi beragama.

Nara sumber pertama, Prof. Nadirsyah, mengingatkan kita semua agar jangan sampai peristiwa di Mesir yang mencoba untuk memberlakukan demokrasi langsung dan ternyata dimenangkan oleh kelompok Mursi atau Ikhwanul Muslimin itu terjadi di Indonesia. Ketika para professor dan tokoh agama di Mesir, khususnya Al Azhar University sadar bahwa kekuatan Ikhwanul Muslimin sudah sangat kuat, dan mereka turun gunung untuk mencegahnya ternyata sudah tidak mampu menahan laju gerakannya. Kekuatan Ikhwanul Muslimin sudah meluber, sehingga gelombangnya sudah tidak mampu ditahan lagi. Kemengan Mursi memaksa militer turun gunung dan menguasai lagi pemerintahan.

Lalu contoh lainnya ialah Amerika Serikat, Donlad Trumph memenangkan pemilihan presiden. Diakibatkan oleh saluran resmi informasi itu berbayar, maka masyarakat dengan terpaksa harus menerima kenyataan melubernya informasi dari team cybernya Trumph. Dengan mengusung tema nasionalisme, maka banyak rakyat yang memercayainya. Padahal, rakyat Amerika itu well inform dalam penggunaan IT. Inilah yang sesungguhnya dikhawatirkan sebab rakyat Indonesia ini masih belum well teknologi informasi. Jadi kalau sekarang perang media sosial tersebut terjadi sangat kuat tentu adalah bagian dari kenyataan tersebut. Banyak media informasi yang berbayar, seperti Kompas, Media Indonesia, Tempo dan sebagainya, sehingga untuk memperoleh informasi yan cepat akkhirnya masyarakat menggunakan saluran tidak resmi dan bisa juga berita hoax dan sebagainya.

Rasanya diperlukan regulasi atau apapun yang bisa memberikan peluang bagi para guru besar untuk menjadi penyebar informasi yang akurat dan bisa mengedukasi masyarakat tentang mana yang benar dan mana yang tidak benar. Perlu para professor menguasai media sosial untuk kepentingan menjaga informasi yang benar dan akurat.

Selanjutnya Radar Panca Dahana memberikan gambaran tentang realitas empiris bahwa kita sesungguhnya banyak melakukan penyelewengan terhadap Undang-Undang Dasar dan Pancasila. System demokrasi kita ini adalah system western atau continental, system ekonomi kita adalah system kapitalis dan bukan system ekonomi sebagai usaha bersama atas system kekeluargaan, kita sudah menyalahi sila-sila di dalam Pancasila tersebut. Semua ini terjadi sebab kebudayaan kita itu disetir oleh system budaya barat yang terjadi semenjak munculnya Bahasa yang distandarisasi oleh pemerintah kolonial tahun 1930-an. Semua harus berstandart Bahasa Indonesia sebagaimana dirumuskan oleh standart bahasa Pemerintah Hindia Belanda. Budaya masyarakat Indonesia itu semestinya ialah budaya kelautan, yang egaliter, yang terbuka bukan budaya gunung pedalaman yang hirarkhis dan bertahap-tahap. Itulah sebabnya Islam dulu diterima oleh masyarakat sebab hadir di wilayah pesisiran dan baru kemudian memasuki wilayah pedalaman. Oleh karena itu, kita harus kembali menghadirkan budaya egaliter, keterbukaan dan tanpa hirarkhi itu untuk menggapai kebersamaan dan kebangsaan.

Sementara itu, Pak Haidar Bagir, menjelaskan tentang kenyataan bahwa kita memang diciptakan Tuhan itu untuk berbeda, bergolongan, berbangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Kebenaran itu ibarat kaca yang diturunkan Tuhan ke dunia sehingga pecah berkepng-keping dan kepingannya itulah yang kita anggap sebagai kebenaran.

Ada kepingan yang jatuh di Jawa, Sumatera, India, Arab dan sebagainya. Akan tetapi pecahan-pecahan kaca itu adalah memiliki ruh Tuhan, sebab memang berasal dari Tuhan. Kepingan itu yang kemudian dianggap sebagai kebenaran oleh masing-masing, padahal maksud Tuhan ialah agar kepingan-kepingan itu disatukan sebagai kebenaran Tuhan. Saling mengambil dan memberikan kebenaran sesuai dengan kepingan yang berbeda tersebut. Di dalam tasawuf, tidak ada kebenaran yang satu, sebab semua yang berasal dari Tuhan pastilah mengandung kebenaran. Apapun tafsirannya tentang Tuhan maka di situ dipastikan ada kebenaran.

Jadi jangan menyatakan bahwa kepingannya saja yang benar dan menyalahkan kepingan lainnya. Di sinilah kemudian muncul klaim kebenaran yang mengkafirkan, membid’ahkan dan sebagainya. Orang mau menjadi Salafi, Wahabi tidak apa-apa, asal tidak mengusung konsep takfiri. Sebab di saat mengusung ide ini, maka di sinilah munculnya banyak masalah.

Dan jangan lupa bahwa masjid-masjid perumahan di Jakarta ini sudah dikuasai oleh mereka ini. Ada contoh yang menarik. Sebelum seseorang masuk ke dalam jamaah seperti ini, maka hubungan dengan tetangga sangat baik, tetapi begitu masuk ke dalam jamaah itu, maka hubungan bertetangga menjadi jelek, bahkan para tetangga menjadi tidak menyukainya. Hal ini disebabkan anggota jamaah itu hanya memandang dia yang paling benar dan yang lain salah. Dia yang paling Islami dan yang lain kafir.

Makanya, di sinilah diperlukan tasawuf sebagai pemahaman agama, sebab tasawuf mengajarkan agama yang moderat. Jadi seharusnya pendidikan tasawuf itu diberlakukan di UIN atau IAIN meskipun ada kesulitan-kesulitan. Sekarang direduksi menjadi terapi psikhologi, yang kurang relevan.

Dengan demikian, para guru besar harus dapat masuk ke dalam relung kehidupan masyarakat agar bisa menjaga terhadap beragama yang moderat ini, sebab hanya dengan cara seperti itu, maka eksistensi berbangsa dan bernegara itu bisa dipertahankan.

Wallahu a’lam bia ls shawab.

 

ISLAMIC HIGHER EDUCATION PROFESSOR SUMMIT 2018 (1)

ISLAMIC HIGHER EDUCATION PROFESSOR SUMMIT 2018 (1)

Islamic Higher Education Professor (IHEP) Summit 2018 yang ke 2 dilaksanakan di Bandung. Acara ini diselenggarakan melalui kerja sama dengan UIN Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung dan dilaksanakan di Hotel Holiday Inn Bandung.

Hadir kira-kira 100 orang professor dari seluruh PTKIN di Indonesia. Para professor yang hadir adalah yang berkontribusi dengan karya tulis sebagaimana persyaratan IHEP Summit 2018. Tidak semua professor hadir di tempat ini. Seharusnya sebanyak 518 professor yang terlibat di dalam acara ini, akan tetapi memang tidak semua professor berkesempatan menulis atau karena tugas lain yang tidak kalah pentingnya.

Saya berkesempatan untuk diundang dan saya menghadirkan tulisan yang berjudul “Merumuskan Kebijakan Pendidikan Islam berbasis Kebangsaan pada Era Revolusi Industri 4.0”. Tema ini saya kira sangat penting di era sekarang sebab kita memang sudah berada di dalam era ini yang ditandai dengan semakin menguatnya penggunaan teknologi informasi dan juga artificial intelligent (AI). Jangan sampai kita sama sekali tidak terpikirkan dengan kebaharuan mendasar dari kehidupan yang berubah dengan cepat ini.

Saya tentu mengapresiasi terhadap acara IHEP Summit di akhir tahun ini, sebagai perwujudan bagi Ditjen Pendidikan Islam Kemenag untuk mendengarkan apa sesungguhnya yang menjadi “rerasanan” atau “gerundelan” para professor di dalam kehidupan akademik yang juga sedang mengalami perubahan yang cepat. Ada tiga hal yang ingin saya ungkapkan di dalam tulisan ini, yaitu:

Pertama, forum IHEP Summit adalah forum yang sangat bergengsi sebab yang hadir adalah para professor yang selama ini menjadi ikon pendidikan tinggi. Saya kira forum ini menjadi forum tertinggi dalam dunia akademik, sebab kehadiran para professor dalam berbagai bidang keilmuan yang terdapat di PTKIN akan dapat menjadi penanda bagi kegairahan akademik di institusi pendidikan tinggi.

Gairah untuk pertemuan juga sangat tinggi terbukti dengan semangat untuk menyampaikan gagasan dan pemikiran dari para professor. Bahkan acara yang seharusnya selesai jam 22.00 WIB terpaksa harus molor sampai jam 22.30 WIB karena semangat para professor untuk mengaktualisasikan gagasannya. Rasanya forum seperti ini bisa menjadi factor sublimasi bagi gagasan para professor yang selama ini mungkin “tersendat”.

Kedua, saya juga mengapresiasi apa yang direncanakan dan apa yang sudah dilakukan oleh Ditjen Pendidikan Islam. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Kamaruddin Amin, bahwa geliat penguatan kualitas pendidikan Islam sudahlah dilakukan. Dalam kerangka penguatan kelembagaan, maka transformasi kelembagaan pendidikan tinggi Islam tentu hal yang sangat mendasar. Transformasi ini juga diikuti dengan penguatan infrastruktur kelembagaannya. Dengan skema IsDB dan juga SBSN, maka infrastruktur kelembagaan menjadi semakin berkualitas. Hal ini juga diikuti dengan penguatan SDM melalui program 5.000 doktor, Program Magister Langsung Doktor (PMLD), program penelitian kolaboratif, program penelitian mandiri, penguatan jurnal internasional, berbagai forum penguatan institusi, SDM dan juga lainnya.

Yang dirasakan lambat pengembangannya ialah mengenai jumlah guru besar. Selama 7 (tujuh) tahun terakhir, kiranya ada penambahan sebanyak 12 orang professor. Hal ini tentu harus menjadi perhatian kita semua. PTKIN harus mencetak banyak professor untuk kepentingan akreditasi. Apalagi kita sedang bergerak untuk menggapai Akreditasi Internasional Perguruan Tinggi (AIPT) padahal selama ini hanya ada sebanyak 3 (tiga) PTKIN yang terakreditasi A, yaitu UIN Jakarta, UIN Jogyakarta, UIN Malang. Padahal apa yang kurang dari UIN Surabaya, UIN Makasar, UIN Bandung, UIN Riau dan sebagainya. Makanya yang dibutuhkan ialah pendampaingan agar yang sudah B gemuk akan bisa bergerak menjadi A di tahun 2019.

Kelambatan pencapaian gelar professor tentu terkendala dengan jurnal internasional, misalnya Scopus. Makanya, kita juga melakukan pendampingan untuk percepatan guru besar dengan penguatan tulisan di jurnal internasional. Jumlah terbitan di Kemenag harus ditingkatkan dan yang sudah berpotensi meningkat indeksnya harus didorong secara lebih kuat. Kita sudah memiliki 130 jurnal lebih dan ini berpotensi untuk ditingkatkan peringkatnya di SINTA Kemenristek Dikti untuk menuju menjadi jurnal internasional.

Ketiga, pendidikan Islam memiliki cakupan yang sangat luas, mulai dari Raudlatul Athfal sampai Pendidikan Tinggi Islam. Kita memiliki pesantren, madrasah, dan pendidikan tinggi. Kita memiliki pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal. Kita memiliki Ma’had Ali dengan segala varian keilmuan yang dikembangkannya, kita memiliki program Muadalah, dan juga penyiapan santri berprestasi. Kita memiliki guru-guru agama di sekolah-sekolah umum dan kita sedang menggarap daerah pinggiran atau program Guru Kawasan Perbatasan, kita punya program robotic di madrasah dengan prestasi internasional, ada program Beasiswa Santri Berprestasi dan sebagainya. Jika kita buka website Ditjen Pendidikan Islam, maka kita akan mengetahui betapa banyak program inovasi yang sudah dilakukan. Semua ini dibuat dalam kerangka untuk memperkuat pendidikan Islam di masa depan.

Dan para professor diharapkan akan dapat mengisinya dengan semangat yang tinggi sebab di pundak para guru besar asa dan harapan tersebut diletakkan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENGGAGAS PRAKTIKUM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

MENGGAGAS PRAKTIKUM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

Dalam 2 (dua) hari, saya terlibat di dalam acara Focused Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel Surabaya, 4-5/12/2018. Acara ini merupakan kelanjutan dari acara di Tretes tentang workshop kurikulum FDK UIN Sunan Ampel Surabaya.

Acara ini menghadirkan, KH. Jaziri, yang ahli di dalam menegemen masjid dan juga Tarmidzi Tohor, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag. Seluruh pejabat di Fakultas Dakwah dan Komunikasi hadir di acara ini. Dr. Abd. Halim, Dekan, Dr. Muhammad Arif, Wadek I, Dr. Luluk Firkriyah, Wadek II, Dr. Agus Santoso, wadek III, dan segenap ketua dan sekretaris jurusan. Juga hadir Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, MAg dan Prof. Dr. Aswadi, MAg.

Acara yang perlu diapresiasi terutama di dalam kaitannya dengan upaya untuk mengembangkan model dan pola praktikum yang lebih baik di masa depan. Harus disadari bahwa tantangan kita semakin besar dan kita semua tentu harus proaktif untuk menjawabnya sebagai bagian dari tanggung jawab kita kepada stakeholder yang selama ini menjadi mitra di dalam program pendidikan.

Drs. Tarmidzi Tohor, MAg menyatakan bahwa kita sekarang sangat kekurangan tenaga Penyuluh Agama Islam (PAI). Kita hanya memiliki 50.000 tenaga PAI dengan komposisi 5000 PNS dan 45.000 honorer. Padahal kita ini memiliki jumlah umat Islam sebesar 211 juta orang. Hal ini belum lagi bicara sebaran PAI yang tidak merata di seluruh Indonesia. PAI sebenarnya memiliki tugas garda depan, sebab yang bersangkutan tidak hanya menjadi penyuluh agama, tetapi juga penyiar agama, pendidik agama dan bahkan Pembina kehidupan masyarakat secara umum.

Makanya, diperlukan sertifikat bagi mereka ini agar kualitas mereka menjadi semakin baik. Untuk itu maka kerja sama antara Fakultas Dakwah dan Komunikasi dengan Ditjen Bimas Islam menjadi sangat urgen. Beliau menyatakan: “agar ke depan dirumuskan MoU antara Ditjen Bimas Islam dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk membicarakan dengan serius tentang program sertifikasi PAI tersebut”.

Saya juga menyampaikan beberapa gagasan terkait dengan pengembangan praktikum prodi-prodi di FDK. Saya sampaikan tiga hal, yaitu: Pertama, bahwa kita sedang menghadapi tantangan yang luar biasa ialah tantangan mengajar dan mengembangkan SDM di era Revolusi Industri 4.0 atau era disruptif suatu era ketidakmenentuan. Kita harus memiliki 4 (empat) C dan 1 (satu) S yaitu: Competency, Communications, Collaborations, Creatifity dan Spiritualism. Hanya orang yang memiliki hal ini yang mampu berkompetisi di era yang akan datang. Jika kita ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri, maka kita harus menguasai kemampuan atau kapasitas ini. Tantangan internal kita ialah rendahnya penguasaan teknologi informasi (TI), sementara itu kita hidup di era IT yang sangat tinggi atau high level serta kurangnya kapasitas keilmuan dan praksis untuk menjadi orang dengan kemampuan hard skills dan soft skills yang baik sesuai dengan bidang keilmuan.

Kedua, FDK harus menjadi institusi yang memanggul tugas memberikan sertifikasi baik internal maupun eksternal. Secara internal kita harus memberikan sertifikat kepada para alumni kita dalam banyak hal sebagai tuntutan memenuhi soft skills. Di antara sertifikat tersebut ialah sertifikat Community Development untuk jurusan PMI, sertifikat penyuluh agama Islam untuk jurusan BKI, sertifikat Manajemen untuk jujuran manajemen dakwah, sertifikat muballig untuk jurusan KPI, sertifikat jurnalistik untuk jurusan Komunikasi. Selain sertifikat yang sudah ada selama ini, misalnya sertifikat bahasa asing (Arab dan Inggris), sertifikat komputer dasar dan lain-lain yang masuk dalam Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Semua ini dibutuhkan untuk mencapai 4 (empat) C dan 1 (satu) S dimaksud.

Jika competency dipenuhi melalui Hard Skills atau kelulusan seluruh mata kuliah atau Standart Kompetensi Lulusan (SKL), lalu untuk memenuhi Communications dan Collaborations lewat soft skills atau sertifikat-sertifikat soft skills, sedangkan untuk creativity bisa dipenuhi dari berbagai macam upaya memberikan peluang untuk berpikir independent atau berpikir kritis positif. Dan untuk pemenuhan standart spiritualitas maka ilmu agama menjadi andalannya.

Ketiga, standarisasi sertifikasi menjadi penting. Menurut saya, ada tiga aspek yang perlu dipenuhi ialah kemampuan ilmu agama yang cukup. Standart ini sangat mendasar, sebab untuk menjadi penyuluh, penyiar, pendamping dan sebagainya di dalam masyarakat Islam maka penguasaan teks-teks keislaman harus standart. Jadi perlu didiskusikan seberapa banyak sks yang diperlukan. Kemudian penguasaan keilmuan, metodologi dan teknik bidang yang dikaji. Ada yang akan bergerak dari knowledge menjadi science dan ada yang dari know how menjadi skills. Untuk kepentingan ini juga harus dipertimbangkan berapa sks yang diperlukan. Selanjutnya, penguatan soft skills untuk memenuhi kemampuan komunikasi dan kolaborasi.

Jadi, perubahan kurikulum menjadi mendasar sebab dari sini muara untuk membangun kapasitas mahasiswa itu akan dilakukan, dan kemudian juga merancang praktikum baik praktikum mata kuliah terintegrasi maupun mata kuliah praktikum terpisah yang juga harus dirancang. Kita harus sadar betul bahwa ilmu dakwah dan komunikasi itu merupakan ilmu yang applied science maka membangun praktikum yang andal tentu sangat penting.

Saya kira diperlukan gerakan untuk memetakan secara mendalam apa masalah kita terkait dengan program perkuliahan di FDK ini dan kemudian memecahkan masalahnya satu persatu untuk mencerahkan seluruh civitas akademika FDK. Dan ini merupakan tugas kolaboratif kita semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.