KEUTAMAAN PUASA BAGI UMAT ISLAM: AMPUNAN ALLAH
KEUTAMAAN PUASA BAGI UMAT ISLAM: AMPUNAN ALLAH
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Puasa yang dilakukan oleh umat Islam di dunia merupakan ibadah Istimewa dan memiliki implikasi di dalam kehidupan yang juga Istimewa. Sering kita menyebutnya sebagai keutamaan ibadah puasa. Semua ibadah yang berupa ritual kepada Allah memiliki keutamaan. Shalat, zakat dan haji juga memiliki keutamaan. Umat Islam mestilah meyakini akan keutamaan-keutamaan ibadah dimaksud.
Ibadah puasa memiliki keutamaan yang sangat luar biasa. Meskipun hanya dilakukan satu bulan pada Bulan Ramadlan, dan hanya satu tahun sekali, akan tetapi ibadah puasa memiliki pahala yang sangat banyak. Misalnya pada bulan puasa, Allah menurunkan malam lailatul qadar, yang pahalanya sama dengan 1000 bulan atau kira-kira sama dengan ibadah selama 82 tahun bagi yang mendapatkannya. Tentu tidak mudah mendapatkannya kecuali orang pilihan yang sudah memperoleh keridlaan Allah SWT.
Bulan puasa dilakukan pada Bulan Ramadlan, yang usianya bisa 29 hari atau 30 hari. Perhitungan dalam system lunar tersebut 29,5 hari. Jadi terkadang ditarik ke depan menjadi 29 hari atau ditarik ke belakang menjadi 30 hari. Jadi berpuasa bisa dilakukan 29 hari atau 30 hari tergantung dari system penentuan tanggal 1 Ramadlan dan tanggal 1 Syawal. Semua sudah memahami hal-hal seperti ini.
Dalam waktu satu bulan tersebut, ada keutamaan puasa yang dikaitkan dengan 10 hari pertama, 10 hari di tengah dan 10 hari di akhir. Masing-masing Allah akan menurunkan keutamaannya. Awwaluhu Rahmah, wa ausatuhu maghfirah wa akhiruhu itqun minan nar. Sepertiga awal Allah memberikan keutamaan bagi para perindu puasa untuk mendapatkan rahmatnya Allah. Rahmat merupakan kata kunci bagi manusia agar selamat di alam akherat. Kunci seseorang akan masuk surga atau tidak ditentukan oleh adanya rahmat Allah. Orang yang ibadahnya baik tentu memiliki peluang yang besar untuk mendapatkan rahmatnya Allah. Dan orang yang tidak beribadah kepada Allah tentu juga sedikit peluangnya untuk mendapatkan rahmatnya Allah. Tetapi Allah itu Maha Sempurna, sehingga Allah juga bisa memberikan kesempurnaannya untuk hambanya. Allah itu dzat yang tak terhingga atau secara matematis dilambangkan dengan angka 0, sehingga Allah yang maha tidak terhingga akan dapat memberikan Rahmat kepada siapa saja yang dapat diberikannya. Rahmat Allah akan menyertainya. Umat rasanya perlu untuk mengupayakan agar Rahmat Allah didapatkannya.
Fase kedua atau masa pertengahannya adalah maghfirah atau masa ampunan Allah. Seseorang yang berusaha secara optimal tentu berluang mendapatkan ampunan Allah. Orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh tentu akan memperoleh ampunan Allah. Betapa bahagianya seseorang yang mendapatkan ampunan Allah itu. Betapa banyaknya dosa, kekhilafan dan kesalahan yang dilakukan oleh hambanya Allah. Manusia adalah tempatnya kekhilafan dan kesalahan bahkan juga dosa, maka dengan ampunan Allah tentu akan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan surganya Allah SWT.
Bukankah semua manusia mengharapkan surganya Allah. Apapun agamanya, maka ujung akhirnya adalah ingin masuk surga. Semua umat Islam juga berkeinginan masuk surga. Tidak lain dan tidak bukan. Surga akan didapatkan jika ada pengampunan dimaksud. Ada dua konsep tentang pengampunan, yaitu maghfirah dan ‘afwun. Maghfirah itu diampuni tetapi catatan kesalahannya masih ada, sedangkan ‘afwun itu diampuni sekaligus dihapus catatannya. Alangkah bahagianya orang yang mendapatkan derajat ‘afwun dimaksud.
Fase berikutnya adalah fase 10 hari terakhir yang disebut sebagai itqun minan nari atau dijauhkan dari siksa api neraka. Ini merupakan konsekuensi logis, bahwa seseorang yang sudah memperoleh Rahmat Allah dan ampunan Allah, maka akan mendapatkan kenikmatan yaitu dijauhkan dari api neraka. Betapa bahagianya orang yang bisa dijauhkan dari api neraka tersebut. Akan tetapi tentu ada persyaratannya, bahwa hal itu akan diberikan kepada umat Islam yang melakukan puasa dengan tingkatan imanan wahtisaban atau puasa dengan penuh keimanan dan introspeksi diri. Melakukan muhasabah aka napa yang sudah dilakukan, dan kemudian beribadah dengan sungguh-sungguh. Betapa indahnya hidup seseorang yang mendapatkan Cahaya puasa dengan tingkatan itqun minan nar.
Puasa seharian, ibadah dengan sungguh-sungguh, melakukan ritual wajib dan sunnah, memperbanyak amal kebaikan, melakukan I’tikaf di masjid dan berupaya untuk memberikan ibadah terbaiknya untuk Allah, maka dialah yang akan berpeluang lebih besar untuk mendapatkan kasih sayang Allah, Rahmah, maghfirah dan itqun minan nar.
Tidaklah salah doa yang kita lantunkan setiap malam: “nas’aluka ridhaka wal Jannah wa na’udzubika min sakhatika wan nar, Allahumma innaka ‘afwun karim tuhibbul afwa wa’fuanna ya karim”. Yang artinya: “Ya Allah kami memohon Ridha-Mu dan surga-Mu dan jauhkan kami dari siksa api neraka, ya Allah sesungguhnya Engkau pemberi ampunan yang agung, Engkau menyukai ampunan dan ampunilah kami wahai Dzat yang mulia”.
Wallahu a’lam bi al shawab.