• October 2022
    M T W T F S S
    « Sep    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

RENUNGAN WARGA ATAS KEMERDEKAAN INDONESIA (1)

RENUNGAN WARGA ATAS KEMERDEKAAN INDONESIA (1)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Renungan hari kemerdekaan biasanya dilakukan malam menjelang tanggal 17 Agustus dalam kerangka menyongsong hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agutus setiap tahun. Renungan tersebut dilakukan oleh dunia birokrasi, lembaga keagamaan, sosial dan politik, serta masyarakat di hampir semua masyarakat Indonesia. Masyarakat benar-benar menyadari bahwa hari Kemerdekaan harus disambut dengan suka cita, sebagai perwujudan rasa syukur atas nikmat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Pantaslah di seluruh  wilayah Indonesia terdapat berbagai renungan atas Hari Kemerdekaan Indonesia dengan berbagai acara dan variasi pelaksanaannya.  Demikian pula yang terjadi di RT Lotus Regency Ketintang Surabaya. Hanya saja renungan tujuh belasan tidak dilakukan pada malam menjelang peringatan tujuh belasan, tetapi sehari setelah peringatan tujuh belasan, yaitu hari Rabu Malam, yang ditempatkan di depan Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, Ketintang Surabaya.

Sebagai konsekuensi atas upacara kemerdekaan bangsa, maka acara dimulai dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Lagu wajib yang harus dinyanyikan di dalam acara-acara resmi maupun non resmi dalam acara kenegaraan atau sosial kemasyarakatan. Semua bernyanyi,  semua berdiri dengan sikap dan tindakan yang menggambarkan bahwa kita semua adalah bangsa Indonesia. Dengan menyanyikan lagu kebangsaan terasa kita adalah warga negara Indonesia, yang siap untuk mempertahankan empat consensus kebangsaan, yaitu menegakkan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan.

Saya  ditunjuk untuk memberikan renungan dan sekaligus doa dalam acara renungan Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Maka ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu: pertama,  kita sebagai warga negara Indonesia harus bersyukur atas kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan ini bukan diberikan oleh siapapun, akan tetapi diupayakan oleh bangsa Indonesia. Ada negara yang memperoleh kemerdekaan melalui pemberian para penjajah, tetapi Indonesia tidak. Kemerdekaan adalah jerih payah bangsa dengan kucuran keringat, air mata dan darah. Ada sangat banyak orang Indonesia yang menjadi syuhadak dalam perang melawan pemerintah kolonial. Ada banyak orang yang kehilangan anggota keluarganya karena menjadi syahid dalam perang melawan penjajah. Dan jika akhirnya kita menang dan merdeka, maka hal ini harus disyukuri atas takdir Tuhan yang memberikan kekuatan kepada kita dalam memenangkan perlawanan baik secara fisik maupun diplomasi.

Kedua, para pendiri bangsa dan para pahlawan bangsa sudah mewakafkan kehidupannya untuk kemerdekaan Indonesia, oleh karena itu pantaslah kalau kita merasakan bahwa lewat upayanya negeri ini menjadi merdeka, dan kita merasakan betapa besar kenikmatan tersebut. Para founding fathers negeri ini telah menitipkan negeri ini kepada kita semua, dan telah memilih yang terbaik bagi bangsa ini. Warisan yang harus ditegakkan adalah dasar negara Pancasila. Para pendiri bangsa tidak mewariskan agama sebagai dasar negara. Mereka sungguh memahami betapa bangsa Indonesia ini plural dan multicultural.  Disadari bahwa  dengan  memilih agama tertentu untuk menjadi dasar negara, maka yang merasa bukan beragama tersebut, akan merasa bukan  sebagai bagian bangsa Indonesia. Dengan memilih Pancasila yang menjadi dasar negara maka semua masyarakat Indonesia yang berbeda agama akan tetap merasa menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pilihan cerdas para pendiri bangsa ini harus diapresiasi, harus dihormati dan harus ditindaklanjuti dengan kita sebagai warga negara tidak ingin memilih dasar negara dalam bentuk yang lain, sebab dengan mengganti Pancasila maka bubarlah negara ini, dan kita belum tahu apa dampak sosial politiknya di masa depan. Oleh karena itu, marilah kita semua memantapkan pikiran dan hati kita bahwa menjadikan Pancasila sebagai dasar negara adalah pilihan yang tepat bagi bangsa Indonesia.

Ketiga,  akhir-akhir ini kita merasakan bahwa kita sedang berada di dalam masyarakat yang kompleks dengan perangkat media sosial yang terus menggerus persatuan dan kesatuan bangsa. Ada banyak upaya yang dilakukan untuk menceraiberaikan kesatuan dan persatuan bangsa. Ada banyak ideologi yang dibawa untuk masuk ke Indonesia. Ada ideologi Komunisme, sosialisme, liberalisme, agamaisme dan sebagainya. Oleh karena itu harapan kita sebagai orang yang sudah merasakan betapa nyamannya kehidupan kita secara sosial politik dengan Pancasila sebagai dasar negara, maka sudah seharusnya jika kita mengajari generasi muda kita untuk terus belajar sejarah bangsa agar mereka memiliki bekal dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan cita rasa masyarakat Indonesia.

Kita semua tetap ingin bersatu dalam kedamaian dan damai dalam persatuan. Dan hal ini akan bisa didapatkan jika semua berada di dalam satu barisan, Pancasila sebagai Dasar Negara, UUD 1945 sebagai landasan yuridis bangsa, NKRI sebagai bentuk final negara kita dan kebinekaan sebagai prinsip dalam relasi sosial politik kita.

Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke 77 dan semoga kita bisa mencapai negara dengan realitas sosial “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

KETUHANAN YESUS: AJARAN, POLITIK DAN KEKUASAAN

KETUHANAN YESUS: AJARAN, POLITIK DAN KEKUASAAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pengajian pada hari Selasanan ba’da Shubuh, tepatnya tanggal 09 Agustus 2022, saya membahas satu buku yang penting di dalam relasi agama-agama. Pengajian ini memang agak bercorak berbeda sebab terdapat dialog intensif dalam memahami tema yang dibahas, terkait dengan keyakinan kebenaran dalam agama Nasrani, pada akhir kekuasaan Romawi.

Saya membaca buku yang sangat fenomenal terkait dengan Ketuhanan Yesus, yang ditulis oleh Richard E. Rubenstein, dengan judul “When Jesus Become God: The Struggle to Define Christianity During The Last Days of Rome”, yang diterjemahkan di dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Kala Yesus Jadi Tuhan, Pergulatan Untuk Menegakkan Kekristenan pada Masa Akhir Romawi”, diterbitkan oleh PT Serambi Ilmu Semesta, tahun 2006.

Bagi orang yang terbiasa membaca karya sastra, buku ini tentu menarik sebab merupakan buku dalam “genre” novel sejarah, atau sosiologi sejarah. Tidak hanya sejarah tetapi memaparkan secara sosiologis peristiwa sejarah yang terjadi pada masa akhir Romawi dan pergulatan iman Katolik yang terdapat di dalamnya. Dan sebagaimana sejarah agama-agama, maka di dalamnya tidak  hanya dipaparkan tentang doktrin-doktrin agama, tetapi juga pergulatan ajaran atau doktrin agama dengan kehidupan manusia dan masyarakat.

Kala kita membaca mengenai pergulatan iman Kekristenan tersebut, maka dapat dijumpai tiga factor penting yang terkait dengan Kekristenan sebagai pedoman di dalam kehidupan masyarakat. Tiga factor tersebut adalah: pertama, factor politik. Tidak bisa diingkari bahwa dalam kehidupan manusia dan masyarakat selalu berada di dalam ranah kekuasaan politik. Begitu juga masa akhir Romawi, di mana terjadi persaingan antar dua atau lebih kekuasaan yang saling mengalahkan dan memenangkan. Dua di antara kelompok yang dominan adalah Nisea dan Arian. Tentu ada kelompok lain misalnya kaum Yahudi, bangsa Hun, bangsa Visigoth dan bangsa Persia. Antar kelompok tersebut sebagaimana kekuasaan politik tentu saling bermusuhan, berperang dan bahkan juga saling menihilkan.

Dua kekuatan dominan ini juga saling mengalahkan dan memenangkan. Sekali waktu Arian yang menang dan berkuasa, dan sekali waktu kelompok Nesian yang menang dan berkuasa. Pada saat mereka memenangkan pertarungan kekuasaan politik, maka di sanalah terjadi pengusiran atas kelompok yang kalah. Tidak hanya rajanya yang diusir atau melarikan diri, tetapi juga para pendeta atau pemimpin agamanya. Misalnya peristiwa di Antiokhia, di mana Melitius seorang pendeta pro Nesian mengusir pendeta Euzoius, seorang pendeta pro Arian, demikian sebaliknya.

Kedua, Faktor kepemimpinan. Sebagaimana negara yang menerapkan agama sebagai dasar negara  atau relasi antara agama dan negara bercorak integrated, maka agamalah yang menjadi dasar untuk menentukan bagaimana seharusnya negara diatur. Hukum-hukum agama yang dijadikan sebagai dasar aturan bernegara. Maka jika yang memenangkan peperangan atau pengambilalihan kekuasaan adalah kelompok Nisean, maka seluruh kepemimpinan negara mulai dari raja, Menteri, pendeta, dan birokrasi semua terdiri dari orang Nisea. Sebaliknya, jika yang mengambil alih kerajaan itu kelompok Arian, maka seluruh kepemimpinan negara diisi oleh orang Arian. Mulai dari raja, Menteri, pendeta dan kaum birokratnya juga berasal dari kelompok Arian.

Ketiga, factor tafsir agama. Ajaran agama memang berisi teks-teks yang dihasilkan dari wahyu Tuhan atau apa yang dinyatakan dan dilakukan oleh Rasul yang terlibat langsung di dalam agama tersebut pada waktu agama itu dihadirkan lalu disebarkan. Artinya bahwa semua agama dipastikan mengalami penafsiran demi penafsiran yang dilakukan oleh para ulamanya atau ahli agama. Yang bisa dan memiliki otoritas untuk penafsirkan ajaran agama adalah para ahlinya. Di era Romawi akhir, maka para ahli agama Katolik saling berebut sebagai penafsir agama. Jika yang berkuasa kelompok Arian, maka tafsir agama dipegangnya, dan jika yang berkuasa kelompok Nesian maka  tafsir agama juga dipegangnya. Jadi dalam suatu kesempatan, maka para ahli agama yang berkuasalah yang menafsirkan ajaran agamanya.  Sampai suatu ketika terjadilah Konsili Konstantinopel yang diinisiasikan oleh Theodosius pada tahun 381, dan  dikumpulkan 150 orang pemimpin Gereja Timur untuk melakukan Konsili, yang kemudian dikenal sebagai Konsili Konstantinopel. Konsili itu dilakukan oleh para ahli agama dari kelompok Nisean. Sebagaimana diketahui, bahwa para penafsir agama dalam kelompok penguasa akan selalu menganggap  kelompok lainnya adalah para pelaku bid’ah. Jadi ketika  para pemimpin dan ulama-ulamanya  berasal dari Nisea, maka kelompok Arian dianggap para pelaku bid’ah dan sebaliknya.

Dari Konsili Konstantinopel inilah kemudian dihasilkan sebuah persaksian atau pengakuan, di dalam buku ini disebut sebagai syahadat dalam Bahasa Nisean, untuk meneguhkan Yesus sebagai Tuhan. Di buku ini diungkapkan sebagai berikut:

“Putra tunggal Allah, yang diperanakkan dari Bapa, sebelum segala abad, terang dari terang, Allah benar dan Allah benar, diperanakkan dan bukan diciptakan, hommooses dengan Bapa, yang melaluinya segala sesuatu diciptakan”. (h. 462-463).

Sebagai agama Semitis, yang hadir melalui Nabi Ibrahim Alaihis Salam, maka Yahudi, Nasrani dan Islam merupakan agama yang berasal dari nenek moyang yang sama. Makanya di sana-sini juga ada persamaannya dan juga  ada perbedaannya. Perbedaan tersebut tentu berbasis pada penafsiran para ahli agamanya, yang bisa saja karena terkait dengan konteks sosial politik, kepemimpinan dan sejarah agama-agama tersebut.

Tetapi yang jelas bahwa setiap penganut agama akan menyatakan bahwa agamanya yang benar dan yang lain salah. Inilah yang disebut sebagai truth claim atau klaim kebenaran. Jika seperti ini, maka kita tidak harus heran jika ada orang yang menyatakan bahwa hanya agamanya yang benar. Proposisi yang pernah saya sampaikan bahwa: “semua agama benar bagi penganutnya”.

Demikianlah, di dalam proses pemantapan iman Kekristenan  pada akhir pemerintahan Romawi di sekitar tahun 380-an, maka terdapat proses yang harus dilalui dan di sinilah peran kekuasaan politik, kepemimpinan dan tafsir agama memainkan sejumlah penetapan atas ajaran agama.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SURGA YANG DIRINDUKAN SEMUA AGAMA

SURGA YANG DIRINDUKAN SEMUA AGAMA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada sebuah pertanyaan menarik dalam pengajian hari Selasanan di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency  Ketintang Surabaya. Pengajian dilaksanakan pada 2 Agustus 2022 ba’da Shubuh. Pertanyaan tersebut adala: “apakah ada keselamatan lain, selain keselamatan yang diberikan oleh Allah SWT melalui ajaran Islam”. Pertanyaan ini tentu mengharuskan kita untuk menelaah dalil teologis untuk menjawabnya, selain juga membandingkan beberapa pemahaman tentang dalil keselamatan di surga atau ketidakselamatan di neraka.

Semua agama memang memiliki doktrin keselamatan. Semua dalil keselamatan tersebut diklaim berasal dari ajaran agama atau teks suci agama-agama. Islam menjanjikan bagi orang yang taat dalam beragama akan memperoleh balasan surganya Allah SWT.  Dalil di dalam Alqur’an (Surat Al Fajr: 27-30),  menyatakan: “ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyah, fadhulii fi ‘ibadi wadhuli jannati”. Yang artinya kurang lebih: “wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi-Nya  dan masuklah ke dalam surgaku”. Jadi jelas secara teologis bahwa orang yang bisa masuk surga adalah orang yang jiwanya tenang. Ayat ini memberikan gambaran bahwa hanya orang yang hatinya tenang atau jiwa muthmainnah saja yang bisa masuk surga.

Di dalam suatu peristiwa, Nabi Muhammad SAW sangat sedih, karena pamandanya, Abu Thalib,  wafat. Padahal pamandanya merupakan  pembesar Qurays yang sangat disegani, dan Beliau wafat pada tahun bersamaan dengan wafatnya Sayyidah Khadijah al Bathul, sehingga tahun tersebut disebut sebagai “amul huzni” atau tahun kesedihan. Nabi Muhammad SAW sungguh-sungguh sudah meminta kepada Pamandanya, Abu Thalib, agar bersyahadat: “bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah”, tetapi hingga menghembuskan nafas terakhirnya, Abu Thalib, tidak melakukannya. Rupanya, sebagai pemegang kekuasaan atas Bani Qurays, maka Abu Thalib ingin mempertahankan keyakinan umatnya. Di tengah kesedihan, karena pamandanya tidak mengikuti keinginannya, maka Allah SWT menyatakan dalam Alqur’an (surat AlQashash (56):  “innaka la tahdi man ahbabta, walakinnallaha yahdi man yasa”. Yang artinya kurang lebih: “sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, akan tetapi Allah  memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya”.

Pemahaman atas ayat ini menggambarkan bahwa untuk memperoleh petunjuk Allah, maka itu adalah haknya Allah. Dari gambaran ini diketahui bahwa jalan keselamatan di akhirat adalah adanya pengakuan tentang keesaan Allah dan pengutusan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Tanpa pintu masuk ini, maka tiada jalan keselamatan. Dengan kata lain, bahwa selain umat Islam yang telah mengucapkan syahadat (kesaksian) dengan ucapan, hati dan pikiran, maka yang bersangkutan tidak memiliki hak keselamatan di dalam pandangan Allah SWT.

Dalil teologis berbeda dengan dalil rasional. Secara rasional, sebagaimana pertanyaan Ahmad Wahib dalam bukunya “Catatan Harian Ahmad Wahib”, dinyatakan secara sarkastis: “apakah Tuhan tega memasukkan para Romo yang sangat baik ini ke dalam neraka”. Dalam pengalamannya dengan para Romo di Yogyakarta, bahwa perilakunya sungguh mengedepankan humanisme atau rasa kemanusiaan yang sangat tinggi. Jika berbicara sangat santun dan tidak pernah menyakiti hati orang, maka secara logis Tuhan tidak akan memasukkanya di dalam neraka atau memperoleh siksaan.

Secara rasional, pernyataan ini sepertinya mengandung kebenaran karena terkait dengan “keadilan” Tuhan. Bahwa Tuhan menjadi tidak adil jika orang baik lalu justru dihukum. Penjelasan ini dipengaruhi oleh teologi Mu’tazilah yang memberikan “kebebasan” akal untuk bisa menjadi “pembenar” atas ayat-ayat Tuhan. Sama halnya dengan pemikiran bahwa orang  Islam yang berdosa besar, maka yang bersangkutan akan ditempatkan di Manzilah baina manzilatain, sebagai satu tempat di antara dua tempat, bukan surga dan bukan neraka. Dengan kata lain, bahwa pemikiran humanisme berpengaruh atas pemikiran peluang masuk surga bagi mereka yang non muslim.  Secara proposisional, bahwa peluang masuk surga bisa ditentukan oleh seberapa kebaikan seseorang apapun agamanya.  Dalil rasional sangat bertentangan dengan dalil teologis yang mensyaratkan bahwa untuk masuk surga harus orang Islam. Keyakinan seperti ini yang dijadikan sebagai dasar pemahaman di dalam aliran ahlu sunnah wal jamaah.

Mungkin juga ada dalil “persahabatan”. Dalil ini yang digunakan oleh penganut paham equity pluralism atau pluralisme negative atau pluralisme yang berpandangan bahwa semua agama sama. Semua agama benar. Padahal di dalam keyakinan agama sesuai dengan masing-masing keyakinan akan kebenaran kitab sucinya, maka mestinya “semua agama itu benar bagi penganutnya”. Dalam dalil “persahabatan” maka semua pemeluk agama berpeluang  masuk surga sesuai dengan apa yang dilakukannya. Pandangan ini tentu berlawanan dengan doktrin keselamatan masing-masing agama. Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha dan Konghucu tentu memiliki doktrinnya sendiri bahwa hanya agamanya yang benar dan hanya pemeluk agamanya yang akan memasuki Jannah, nirwana  atau surga.  Dalil inilah yang selama ini menjadi pegangan dasar umat beragama.

Jadi mengenai masuk surga, sebaiknya kita tetap harus meyakini sebagaimana ajaran agama dengan tetap berpikir bahwa masuk surga atau neraka adalah hak prerogative Tuhan. Manusia  tentu tidak tahu bagaimana akhirnya, kecuali nanti  akan merasakannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

RELAKSASI SPIRITUAL MELALUI ZIARAH MAKAM SUNAN AMPEL

RELAKSASI SPIRITUAL MELALUI ZIARAH MAKAM SUNAN AMPEL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Manusia memang memiliki kebutuhan khusus yang tidak dimiliki oleh binatang apapun di dunia, yaitu kebutuhan spiritual. Melalui pemenuhan kebutuhan spiritual, maka manusia bisa bercengkerama dengan yang diyakini sebagai Tuhan, Yang Sacral, Yang Maha Tahu dan Yang Maha Kuasa. Tuhan memang memiliki kekuatan dan pengetahuan atau omnipotent dan omniscience. Suatu kekuatan dan pengetahuan yang tidak dimiliki makhluknya termasuk manusia, apalagi binatang lainnya.

Kebutuhan khusus  yang mengantarkan manusia untuk melakukan ritual-ritual dengan berbagai varian. Bahkan untuk mengorbankan dirinya sendiri. Keinginan untuk mati syahid di era modern  ternyata  bisa mengantarkan manusia untuk menjadi martir atau menjadi pengantin bom bunuh diri. Jihad  dimaknai sebagai membela ajaran agama yang diyakini sebagai satu-satunya kebenaran, sehingga membuat nyalinya berlipat-lipat untuk mati dalam ritual bunuh diri. Orang juga rela untuk mengorbankan perempuan dalam persembahan bagi Dewa Sungai Nil di masa sebelum Islam datang ke Mesir. Orang juga rela untuk menerjang dentuman senjata karena membela agamanya. Semua  menggambarkan bahwa kematian, pengorbanan dan pemujaan yang dipedomani oleh agama bisa menjadi ritual dalam hasrat reilgius .

Tetapi juga terdapat ritual-ritual untuk kesejahteraan,  kebahagiaan atau ketenangan jiwa.  Shalat, dzikir, puasa, haji dan sebagainya merupakan cara manusia “bercengkerama” dengan Tuhannya melalui upayanya untuk mendekati Tuhan atau taqarrub ilallah. Pasca melakukan ritual kemudian seseorang merasa ada kebahagiaan yang menyelimuti dirinya. Tuhan memang memberikan cara bagi manusia untuk memenuhi gelegak keinginan spiritual melalui ajaran agamanya. Misalnya orang memasuki ajaran-ajaran tasawuf untuk masuk ke dalam kedalaman beragama. Tasawuf diyakini sebagai corak beragama yang esoteris, beragama yang mengedepankan “rasa” bukan “pikiran”.

Di antara yang bisa menjadi sarana untuk memenuhi gelegak spiritualitas adalah berziarah atau mengunjungi makam para auliya. Meskipun beberapa ahli menyatakan bahwa semakin secular dan modern sebuah masyarakat, maka akan kehilangan relasinya dengan dimensi ketuhanannya, akan tetapi hipotesis ini tak sepenuhnya benar. Pada masyarakat yang semakin modern maka juga semakin banyak yang tetap menjalankan agama yang diyakini kebenarannya. Misalnya fenomena tasawuf perkotaan atau urban sufism, atau kecenderungan masyarakat untuk mengunjungi makam-makam auliya. Misalnya kunjungan ke Makam Kanjeng Sunan Ampel, Makam Syekh Ibrahim Asmaraqandi, Makam Sunan Bonang, Makam Sunan Kalijaga, Makam Sunan Kudus, Makam Sunan Muria, Makam Sunan Drajad dan sebagainya. Tidak hanya masyarakat pedesaan yang melakukannya tetapi juga masyarakat perkotaan. Ada tema-tema kunjungan, misalnya kunjungan Wali Songo, Wali Tujuh, Wali Lima, Wali Jawa Timur dan sebagainya. Bahkan ada juga kaum akademisi yang terlibat di dalam acara-acara ziarah. Mereka rela untuk berhari-hari berziarah dari satu makam wali ke makam wali lainnya.

Pada Selasa malam, 02/08/2022, ba’da shalat Magrib, kami secara sengaja berziarah ke makam Kanjeng Eyang Sunan Ampel. Beberapa orang crew nursyamcentre.com menyertai kunjungan ke makam Eyang Sunan Ampel tersebut. Ada Gus Khobir, Gus Miftah, Gus Chabib, Gus  Yusrol, dan Gus Iyan. Di dalam hal ilmu keagamaan, maka yang menjadi imamnya adalah Gus Khobir karena dia adalah hafidz Alqur’an. Meskipun saya yang paling senior usianya, akan tetapi dalam kealiman keagamaan tentu Gus Khobir yang terbaik. Saya tentu tidak bisa menggambarkan perasan dan batin keagamaan pada masing-masing peziarah, biarlah hal tersebut menjadi kekayaan batinnya, tetapi yang jelas bahwa pengalaman keberagamaan tentu bercorak sangat individual, sehingga tidak bisa dialami dalam kesamaan dengan lainnya. Pengalaman beragama sangat bercorak individual. Saya kira sudah dijelaskan dengan sangat memadai oleh para ahli psikhologi, misalnya William James dalam karyanya “The Varieties of Religious Experience”.

Saya juga memahami mengapa makam para wali itu dikunjungi oleh kaum santri. Pengunjung makam tersebut terdiri dari lelaki dan perempuan, bahkan cenderung satu keluarga. Tidak jarang dijumpai anak-anak yang terlibat di dalam upacara ziarah. Di antara tujuan atau in order to motive dalam kunjungan makam wali adalah untuk mengaitkan gelegak spiritualnya atau keinginan untuk merajut kehidupan spiritualnya dengan para wali yang diyakini merupakan orang yang menjadi pilihan Allah untuk menyebarkan ajaran agamanya di masa lalu. Para wali adalah penyebar Islam  dan diyakini memiliki kharisma dan kekuatan spiritual yang sangat tinggi.

Orang yang datang berziarah ke Makam Kanjeng Eyang Sunan Ampel adalah mereka yang merasakan betapa pentingnya peran para auliya itu dalam sejarah pengembangan Islam di Nusantara. Sunan Ampel adalah seorang wali yang lahir di Champa dan kemudian menjadi penyebar Islam di Nusantara. Tidak hanya di Surabaya tetapi di seluruh Jawa, dan wilayah Indonesia bagian Timur. Masyarakat Islam sangat berhutang budi atas peran Sunan Ampel dalam menjadikan masyarakat Nusantara menjadi masyarakat Islam. Masyarakat Nusantara yang semula menjadi pemeluk ajaran Hindu dan Buddha serta keyakinan lokal lainnya lalu menjadi pemeluk Islam setelah mendapatkan cahaya dakwah para wali.

Bisa  dibayangkan betapa susahnya untuk menjadikan masyarakat Nusantara sebagai masyarakat Islam. Mereka telah memeluk agama yang diyakini benar dengan kekuasaan raja dan para pemuka agama yang tangguh, tetapi akhirnya bisa diubah keyakinannya tersebut untuk menjadi beragama Islam. Jika para wali itu bukan orang yang memiliki kharisma dan kekuatan spiritual maka dipastikan tidak akan bisa menjadikan masyarakat Hindu dan Buddha  menjadi masyarakat Islam.

Mempelajari atas peran social religious para wali itu, maka masyarakat Indonesia kemudian berziarah ke makamnya bukan untuk meminta pertolongan, akan tetapi menjadikannya sebagai washilah kepada Allah SWT. Diyakini bahwa sebagai orang yang terpilih pasti orang yang terdekat dengan Allah. Maka dengan kedekatannya kepada Allah,  maka para wali dapat dijadikan sebagai perantara agar doa lebih mudah terkabul. Tentu juga harus diyakini bahwa doa kita bisa saja terkabul tanpa perantara wali, tetapi juga dapat diyakini bahwa dengan berwashilah kepada wali maka doa itu akan lebih cepat terkabul. Dunia  keyakinan tentu  tidak bisa diverfikasi dengan pendekatan rasional semata.

Saya dan kawan-kawan tentu membaca surat Yasin, tahlil dan doa. Doa kita juga sebagaimana doa yang kita baca dalam keseharian. Tetapi yang membedakan adalah “rasa” yang lebih mendalam, karena kita berdoa dalam maqam yang diyakini sebagai tempat yang mengandung aura spiritual. Dan tentu cara ini ditempuh untuk melampiaskan kepenatan pikiran dan perasaan yang dijejali dengan urusan duniawi dan sekali waktu kita refreshing dengan menziarahi makam suci karena memang disucikan oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

SHALAT IDUL ADHA 1434 HIJRIYAH: BISA SABTU BISA AHAD

SHALAT IDUL ADHA 1434 HIJRIYAH: BISA SABTU BISA AHAD

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Seharusnya saya ke Tuban, karena beberapa bulan yang lalu saya diminta khutbah di Masjid Fajrul Iman Desa Sembungrejo, Merakurak. Masjid di desa saya atau tempat kelahiran saya. Saya diminta untuk menjadi khotib  shalat Idul Adha. Tetapi akhirnya tidak jadi. Saya tetap di Surabaya, dan kali ini memang harus menjadi jamaah di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Yang menjadi khotib adalah Drs. Suherman, pensiunan PNS UIN Sunan Ampel, dengan Imam Shalat Ahmad Firdaus, Al Hafidz.

Sebagaimana biasa, sebelum shalat Idul Adha dimulai,  maka dilantunkan takbir: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah  wallahu akbar. Allahu Akbar wa lillahil hamdu”. Yang artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allahu Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allahu Maha Besar dan segala puji bagi Allah”.  Tanpa terasa, kala Moh. Zamzami, Al Hafidz memimpin bacaan takbir, maka meleleh air mata. Air mata bening yang meleleh di pipi. Pandangan terasa mengawang menuju ke Baitullah, ke Masjid al Haram, terbayang orang melakukan thawaf, syai dan melakukan serangkaian doa di maqam-maqam mustajabah. “Ya Allah ada kerinduan untuk melihat dan berdekatan dengan Rumah-MU, dengan Ka’bah-MU, berdoa kepada-MU di tempat yang paling Engkau ridlai. Ya Allah aku rindu untuk mengusapkan tanganku di rumah-MU”.

Di masa lalu, saya sering menyalahkan kenapa orang berkali-kali pergi haji atau melakukan umrah. Khususnya umrah yang terkadang hampir setiap tahun. Dahulu saya bisa melakukan umrah setiap tahun, kala masih menjadi pejabat di Jakarta  karena harus menjemput jamaah haji kloter terakhir. Kerinduan untuk melakukan thawaf, sa’i dan beribadah di Masjidil Haram, berdoa dengan tengadah tangan ke hadirat-Nya. Rasa rindu ibadah di Makkah Al Mukarramah terpenuhi. Demikian pula ziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW juga bisa dilakukan. Berjejal-jejal untuk melafadzkan salam di dekat Makam Nabi Muhammad SAW juga terpuaskan. Gelegak kerinduan itu terbayar pada saatnya.

Sekarang tentu berbeda. Sebagai guru besar tentu tidak bisa melakukan hal yang seperti itu. Maka pantaslah jika di musim haji seperti ini teringat kembali rekaman peristiwa di masa lalu tersebut. Tetapi ada pelajaran yang saya kira pantas untuk dinyatakan, bahwa jika ada orang yang sering melakukan umrah, maka hal tersebut sekali lagi merupakan upaya untuk menyelesaikan rasa rindu yang bertalu-talu untuk merasa dan menghayati kebesaran Tuhan di dekat rumah-Nya yang agung. Ka’baitullah dan Masjid Al Haram.

Masyarakat Islam di Indonesia memang unik. Di semua negara kecuali Indonesia yang menentukan kapan hari raya idul Adha dan kapan memulai puasa dan shalat Idul Fithri adalah kewenangan pemerintah. Negara-negara di Asia Tenggara, seperti yang tergabung di dalam forum Menteri Agama Brunei Darus Salam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) telah bersepakat menggunakan konsep Imkanur ru’yah (peluang melihat hilal), dengan ketentuan jika tinggi hilal dua derajat, maka dipastikan bahwa mengawali puasa dan mengakhiri puasa dilakukan esok harinya, demikian pula untuk tanggal satu Dzulhijjah. Makanya tidak terdapat perbedaan penafsiran atas tanggal ritual tersebut.

Di Indonesia, bisa saja berbeda sebab organisasi keagamaan bisa memberikan penentuan kapan hari raya idul adha dan idul fitri termasuk tentunya mengawali puasa. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam besar di Indonesia berdasarkan metodologi Hisab dengan konsekuensi wujudul hilal, maka memiliki konsekuensi kapan ritual keagamaan tersebut dilaksanakan. Akhirnya, seperti hari raya Idul Adha tahun 1434 Hijriyah ini, maka Muhammadiyah menentukannya pada hari Sabtu 9 Juli 2022 dan pemerintah yang di dalamnya terdapat NU, MUI dan organisasi sosial keagamaan lainnya menentukan hari Ahad, sebab tidak ada satupun peru’yat di seluruh Indonesia yang melihat hilal, karena hilalnya masih sangat rendah. Berdasarkan perhitungan Lembaga Falakiyah PBNU tinggi hilal pada akhir bulan Dzulqa’dah    adalah 1,27 derajat. Sedangkan Muhammadiyah menyatakan ketinggian hilal 1,58 derajat. Bagi Muhammadiyah hilal sudah wujud.

Perbedaan ini sangat mendasar, sehingga tidak mungkin dikompromikan. Berapapun ketinggian hilal selama sudah di atas 0 derajat, maka Muhammadiyah menyatakan bahwa hilal sudah wujud, sehingga awal dan akhir bulan Ramadlan sudah dipastikan termasuk tanggal satu bulan berikutnya. Dan jika ini bulan Dzulhijjah, maka rentetan upacara keagamaan juga mengikutinya. Berbeda dengan NU yang mengunakan metode  ru’yatul hilal, maka selama belum mencapai dua  derajat, maka bulan belum berakhir dan awal bulan juga belum bisa ditetapkan, dan berimplikasi pada ritual keagamaan pada bulan tersebut.

Termasuk tentang pelaksanaan shalat id tahun 2022. Ada yang hari Sabtu dan ada yang hari Ahad. Tetapi yang penting tetap dalam kedamaian dan tidak saling mencemooh.

Wallahu a’lam bi al shawab.