• October 2019
    M T W T F S S
    « Sep    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

GENERASI QUR’ANI DI ERA INDUSTRI 4.0

GENERASI QUR’ANI DI ERA INDUSTRI 4.0

Sebanyak 40 orang pimpinan cabang Tilawati dari seluruh Indonesia mengikuti program pertemuan nasional yang dilakukan oleh Pimpinan Pesantren Al Qur’an Nurul Falah Ketintang Surabaya. Hadir di dalam acara ini adalah ketua Yayasan Pesantren Al Qur’an Nurul Falah, Ustadz Umar Zaini, dan segenap pimpinan Pusat Tilawati di Surabaya, 22 September 2019. Pesantren Al Qur’an Nurul Falah Ketintang inilah yang menciptakan Metode Belajar Al Qur’an Tilawati, yang sekarang sudah menjadi trend di Indonesia.

Saya tentu sangat bersyukur bertemu dengan orang-orang hebat yang selama ini mengabdikan dirinya untuk memasyarakatkan Al Qur’an di dalam kehidupan sosial. Sebagaimana diketahui bahwa Metode Tilawati adalah metode belajar Al Qur’an yang sudah memasyarakat di Indonesia. Terbukti hampir seluruh propinsi di Indonesia terdapat cabang Tilawati, misalnya dari Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan tentu saja di Jawa. Selain saya, yang menjadi narasumbernya adalah Prof. Masdar Helmy, PhD, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sebagaimana biasanya, saya menyampaikan tiga hal yaitu: pertama, tentang tantangan umat Islam di dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi yang sangat luar biasa. Kita sedang berada di dalam suatu era yang “nggegirisi” berupa era perang media atau yang biasa disebut sebagai cyber war. Yaitu perang bukan bersifat fisik sebagaimana di masa lalu, akan tetapi perang melalui media sosial. Kita berada di dalam era yang orang bisa melakukan tindakan yang baik dan dan buruk melalui media. Ada ujaran kebencian, ada pembunuhan karakter dan ada kebohongan public yang luar biasa di media massa. Akan tetapi di media sosial juga terdapat dakwah, nasehat keagamaan dan aplikasi belajar al Qur’an dan sebagainya.

Menurut saya bahwa para pimpinan Cabang Tilawati harus memeiliki kecerdasan media atau literacy media. jangan mudah percaya terhadap berbagai ungkapan di media. Check and recheck atau saring sebelum sharing. Janganlah kita menjadi penyebar hoax yang sungguh akan sangat merugikan masyarakat kita.

Kedua, sebagai akibat dari era cyber war tersebut, maka juga orang bisa digiring untuk memahami agama sesuai dengan yang dikehendaki oleh penyebar informasinya. Ada sekelompok komunitas yang dengan kekuatan medianya dapat mempengaruhi terhadap opini public. Dan yang menyedihkan mereka menjadikan agama sebagai komoditas untuk mempengaruhi orang untuk memiliki visi yang sama dengannya. Tafsir agama yang cenderung tunggal tersebut disebar melalui media sosial dan karena tingkat literasi media yang rendah, maka banyak yang terpengaruh. Dewasa ini banyak sebaran informasi seperti meme, infografis, speed writing dan sebagainya yang terkadang mengusung isu-isu yang menyesatkan atau hoax. Para pimpinan cabang tilawati harus menjadi agen untuk menyadarkan masyarakat tentang pengaruh negative media sosial, lalu mengisinya dengan informasi yang positif.

Ketiga, tentu tidak ada keraguan untuk mendidik masyarakat Indonesia dengan Al Qur’an, sebab tidak ada yang menyangsikan tentang kebenaran al Qur’an. seperti Maurice Buchaille, Leopold von Weiss, Toshihiro Isutzu, dan lain-lain. Ada yang menjadi Muslim dan ada yang tidak. Lalu, Al Qur’an yang terjaga keasliannya, semenjak Nabi Muhammad saw sampai sekarang. Para penghafal Al Qur’an adalah para penyelamat keaslian Al Qur’an.

Selain hal ini, Penulisan Al Qur’an adalah penyelamatan Al Qur’an. Para ahli tafsir dan para pengkaji Al Qur’an adalah penyelamat Al Qur’an. Semua dari mereka adalah orang yang bekerja karena takdir Allah semata untuk menjaga autentisitas Al Qur’an.

Dewasa ini ada kesadaran untuk mempelajari dan mengkaji Al Qur’an semakin banyak. Ada para ahli yang mengkhususkan untuk mengajar dan mendalami Al Qur’an. Ada individu yang mengkhususkan diri menghafal Al Qur’an. Dahulu kita heran para penghafal Al Qur’an di Timur Tengah dalam usia 7 atau 8 tahun. Kita dahulu heran orang bisa hafal al Qur’an dalam waktu 2 atau 3 tahun. Sekarang ada banyak anak Indonesia yang hafal al Qur’an dalam usia 7 atau 8 tahun. Sekarang ada lembaga pendidikan al Qur’an yang khusus belajar hafalan Al Qur’an dalam waktu 5 bulan

Pendidikan Al Qur’an sudah sangat memasyarakat. Banyak lembaga tahfidz yang berkembang di Indonesia. Ada Pesantren, TPQ/TPA, sekolah, madrasah, organisasi, individu dan sebagainya yang berfokus untuk mengajarkan al Qur’an. Ada masjid, mushalla, televisi dan radio serta media sosial yang mengkhususkan diri untuk mengkaji al Qur’an. Di dalam konteks ini, nuansanya mencapai derajat “memasyarakatkan al Qur’an dan “mengalQur’ankan masyarakat”. Al Qur’an menjadi program massive di tengah masyarakat.

Saya berasumsi, dengan semakin banyaknya pengkaji, penghafal dan pengamal Al Qur’an, maka suatu negara bangsa akan semakin baik dan berkualitas. Saya berpandangan bahwa arah ke depan Indonesia adalah dengan generasi Qur’ani. Bisa dibayangkan para politisinya hafal Al Qur’an, para pejabatnya hafal Al Qur’an, para staffnya paham al Qur’an, para pengusahanya mencintai al Qur’an dan masyarakatnya juga menyayangi al Qur’an. Jika seperti demikian, maka puncaknya ialah negara yang aman dan damai, penuh kesejahteraan dan kebahagiaan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MEMBAHAS SOSIOLOGI TRANSENDENTAL

MEMBAHAS SOSIOLOGI TRANSENDENTAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi (Founder Friendly Leadership Training)

Diskusi buku yang diselenggarakan di Mushalla Al Ihsan, 24/08/2019, terasa istimewa, sebab yang hadir adalah Narasumber yang kompeten untuk membahas karya ilmiah, sebagaimana pandangan kaum akademis. Saya sungguh merasa terhormat bahwa yang menghadiri bedah buku ini adalah Dr. Moh. Zein, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Keagamaan, Khazanah Keagamaan dan Pengembangan Manajemen Kelembagaan pada Balitbangdiklat Kementerian Agama, seorang akademisi yang kemudian berkarir di birokrasi Kementerian Agama. Dan yang kedua, ialah Dr. Ali Rohmat, kepala Biro Perencanaan pada Kementerian Agama, yang juga penulis buku-buku tentang Haji. Bukunya tentang Manajemen Haji saya kira sangat memadai bagi bacaan akademik di UIN atau IAIN. Dan yang ketiga adalah  Dr. Abdul Halim, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Acara bedah buku ini dipandu oleh Dr. Chabib Musthafa, murid saya yang sedang naik daun dalam kiprah akademis dan juga birokrasi kampus. Acara ini dihadiri oleh sejumlah mahasiswa dan juga warga di sekitar Mushalla al Ihsan, yang baru didirikan sekitar tiga bulan yang lalu. Hadir antara lain, Dr. Syamsul Bahri, Drs. Rijalul Faqih, MM., Chalil Umam, MPdI., Pak Rangga dan kawan-kawan dari Bank Jawa Timur Syariah, Yusral Fahmi, MSi (penyelanggara Bedah Buku dari Darul Qur’an), Rusmin, MPdI., Rahmat Lubis, MM, Pak Yudi, Pak Tomi, Pak Hardi dan lainnya.

Sebagai narasumber, saya menyampaikan tiga hal, yaitu: Pertama, tentang posisi buku ini. Terus terang buku ini bukanlah buku akademik yang ketat dan berbasis pada pengalaman penelitian yang rumit dan mendalam. Buku ini merupakan refleksi tentang “Ramadlan” yang saya tulis dan dibantu oleh beberapa kawan untuk menulisnya. Ada tulisan yang merupakan refleksi, dan ada tulisan yang berisi content ceramah dan tulisan yang menggambarkan tentang hal itu dari sisi empiris.

Pada tahun 2016 yang lalu, saya bernadzar bahwa selama bulan puasa saya akan menulis setiap hari, dan Alhamdulillah nadzar tersebut terpenuhi dan kemudian dalam rentang waktu 2014-2019, saya menulis tentang “Hari Raya” di Indonesia yang unik dan menarik. Tidak hanya bagi akademisi atau penulis ilmiah popular, tetapi juga para penulis luar negeri yang suka mencermati “keberagamaan” di Indonesia. Tulisan-tulisan inilah yang kemudian saya bukukan, sehingga isinya merupakan refleksi tentang puasa dari sisi theologis, sosiologis dan budaya.

Jadi, jangan dibayangkan bahwa buku ini adalah buku akademis yang sophisticated, yang rumit dan jelimet, akan tetapi lebih merupakan buku refleksi yang berisi tentang kesan, pengalaman dan dunia empiris tentang puasa yang sehari-hari dilakukan oleh umat Islam dan juga tradisi-tradisi di sekelilingnya. Mungkin akan lebih tepat disebut sebagai “Sosiologi Reflektif”, namun saya lebih suka menggunakan istilah “Sosiologi Transendental”, sebab yang dikaji ialah persoalan theologis yang hidup di dalam diri manusia. Puasa adalah ajaran theologis yang hidup dalam ruang kemanusiaan, dan kemudian menghasilkan pengalaman sosiologis kemanusiaan maupun tradisi hari raya.

Kedua, mengapa puasa itu menarik dikaji. Ada tiga alasan, yaitu: alasan teologis, sosiologis dan budaya. Puasa memang merupakan ibadah yang khas dan juga menghasilkan perilaku yang khas. Puasa menjadi sarana yang sangat efektif untuk beribadah dalam “penebusan” atau “pengampunan” atas kekhilafan, kesalahan dan dosa. Ada dua jenis dosa bagi manusia, yaitu dosa karena lalai menjalankan ibadah kepada Allah dan dosa kepada sesama manusia. Dua-duanya bisa diselesaikan pada bulan ramadlan dan syawal.

Bulan puasa adalah Bulan diturunkannya Al Qur’an. Bulan Dilipatgandakan pahala bagi umat Islam yang melakukan kebaikan. Bulan penuh kerahmatan. Bulan penuh keberkahan. Bulan penuh ampunan. Bulan di mana-mana orang berlomba-lomba untuk beribadah. Bulan banyak lantunan ayat-ayat al Quran, banyak ceramah, kajian dan pendalaman ajaran agama. Banyak orang berdzikir, I’tikaf dan taqarrub ila Allah. Banyak orang melakukan muhasabah. Banyak orang melakukan amal perbuatan yang bertujuan “menyenangkan” Allah. Banyak shadaqah dan infaq yang dilakukan oleh umat Islam. Banyak doa berkumandang dari rumah, mushalla, masjid dan bahkan perkantoran. Banyak yang ingin tidak hanya memperoleh ampunan Allah tetapi juga kemaafan Allah kepada hambanya. Tidak hanya masjid yang ramai tetapi juga makam auliya, mall dan tempat perbelanjaan. Semuanya dilakukan untuk memperoleh ridha Allah dan kecintaan Allah. Ada malam lailat al qadar. Puasa memiliki sejumlah makna di dalam kehidupan umat.

Secara sosiologis, Puasa merupakan ajaran yang paling tua dalam sejarah agama-agama. Puasa sebagai bentuk dekonstruksi fisik. Pembalikan waktu makan bisa berakibat kesehatan, pendidikan dan kepekaan sosial. Puasa memiliki makna agar umat Islam memiliki kepedulian, kepekaan, solidaritas dan empati terhadap orang lain. Puasa dapat menjadi instrumen untuk mengasah kepekaan rational intelligent. Puasa dapat menjadi instrumen untuk mengasah emotional intelligent. Puasa dapat menjadi instrumen untuk mengasah social intelligent. Puasa dapat menjadi instrumen untuk mengasah spiritual intelligent

Secara kebudayaan, puasa dan hari raya menjadi arena untuk pualng kampong (Pulkam). Mudik, silaturrahim, kunjungan rumah dan sebagainya. Untuk pulkam, mudik, dan lain-lain itu diperlukan waktu, biaya dan tenaga ekstra sebab menempuh perjalanan panjang. Pulkam atau mudik menjadi ukuran seseorang dalam kehidupan bersama kolega, kerabat dan masyarakat lokal. Pulkam dan mudik adalah budaya khas Nusantara yang tidak dijumpai di negara-negara lain. Mulai dari rakyat jelata, birokrat, pejabat bahkan presiden juga merindukan tradisi ini.

Tradisi mudik, pulkam dan silaturrahim telah menginstitusional di dalam kehidupan masyarakat Indonesia.Yang menikmati tradisi ini bukan hanya umat Islam tetapi juga umat beragama lain. Tradisi silaturrahim telah menjadi budaya Indonesia. Tradisi ini akan terus berlangsung di tengah perubahan sosial apapun.

Ketiga, puasa merupakan bulan syiar agama, di mana seluruh media televise, radio, media sosial, masjid, mushalla, dan lembaga pemerintah atau institusi sosial keagamaan menyelenggarakan acara-acara keagamaan yang sangat dinamis. Oleh karena itu, kita bisa memastikan bahwa bulan puasa merupakan bulan yang di dalamnya banyak terjadi peristiwa keagamaan, peristiwa sosial bernuansa agama dan bahkan juga tradisi berbalut agama.

Walllahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENGEMBANGKAN ISLAMIC STUDIES MULTIDISIPLINER

MENGEMBANGKAN ISLAMIC STUDIES MULTIDISIPLINER

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si (Founder Friendly Leadership Training)

Saya diminta oleh Direktur Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Noorhaedi, untuk membimbing dan sekaligus menguji promovendus, Irfan Tamwifi untuk ujian terbuka program dokror Islamic studies. Selaku penguji adalah Prof. Dr. Noorhaedi, Prof. Dr. Iskandar, Prof. Dr. Machasin, Prof. Dr. Siswanto Masruri, Prof. Dr. Dudung Abdurahman, Dr. Lathiful Khuluq, dan Dr. Moch. Nur Ichwan. Ujian diselenggarakan di Ruang Ujian terbuka PPS UIN Sunan Kalijaga, 13/09/2019. Hadir juga dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Ampel, Dr. Maliki Abi Tholhah dan Dr. Syamsul Maarif.

Di dalam memberikan pidato, sebagai promotor, saya menyampaikan tiga hal, yaitu: pertama ialah ucapan selamat kepada doktor baru, Dr. Irfan Tamwifi, yang pada hari ini menyelesaikan ujian terbuka di hadapan para penguji. Selamat kepada keluarganya juga, yang dengan telaten mensupport untuk keberhasilan Dr. Irfan Tamwifi di dalam menyelesaikan program pendidikannya. Saya tahu bahwa untuk mencapai program doctor ini, ternyata tidak mudah. Cukup panjang waktu penyelesaiannya. Saya teringat bahwa Dr. Irfan Tamwifi ini menempuh ujian tertutup sampai 3 kali. Bukan tidak lulus tetapi oleh promotor terdahulu diminta untuk mengganti judul dengan judul baru dan itu artinya harus menulis ulang karya akademisnya. Sampai akhirnya harus mengganti promotor. Semula saya adalah co-promotor dan akhirnya saya diminta untuk menjadi promotor dan dibantu oleh Prof. Noorhaedi untuk membantu menyelesaikan disertasi ini. Cukup panjang waktunya jika dihitung dari No. Induk Mahasiswanya, yang diawali dengan angka 99. Jadi artinya Dr. Irfan Tamwifi ini sudah menjadi mahasiswa program doktor semenjak tahun 1999. Tetapi hari ini semua selesai dan semua merasa berbahagia.

Kedua, saya merasa berbangga sebab Dr. Irfan Tamwifi ini telah terlibat di dalam mengembangkan program integrasi ilmu. Sebagaimana diketahui bahwa jika orang bicara tentang pengembangan ilmu, maka rujukannya ialah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebelum yang lain-lain mengembangkannya, maka UIN Sunan Kalijagalah yang pertama mengembangkan program integrasi ilmu sebagai distingsi bagi pengembangan keilmuan di Universitas Islam Negeri. Dengan konsepsi integrasi dan interkoneksi, maka UIN Sunan Kalijaga menjadi barometer bagi pengembangan distingsi tersebut. Ilmu agama bisa berdialog bahkan bisa berintegrasi dengan sains dan teknologi.

Dr. Irfan Tamwifi di dalam studinya ini menulis tentang “Nahdlatul Ulama:   Gerakan Tradisi dan Modernitas” yang menggunakan pendekatan “antropologi sejarah Keislaman.” Dr. Irfan Tamwifi tidak hanya mengembangkan studi keislaman dengan pendekatan lintas bidang, tetapi multidisiplin, yaitu: “antropologi, sejarah dan keislaman”. Antropologi sebagaimana diketahui adalah rumpun ilmu sosial, sejarah adalah rumpun humaniora dan institusi keislaman adalah rumpun ilmu agama. Jadi saya kira ini adalah bagian dari upaya untuk mengembangkan lebih lanjut tentang integrasi ilmu dimaksud. Jika di dalam ruang seminar, symposium dan sebagainya pembicraan tentang integrasi ilmu ini agak “menurun” akhir-akhir ini, akan tetapi kajian terhadap integrasi ilmu justru berada di dalam kajian di disertasi atau jurnal-jurnal ilmiah. Suatu hal yang saya kira harus diapresiasi sedemikian rupa.

Dr. irfan Tanwifi di dalam studinya ini banyak melalukan kritik terhadap NU secara institusional. Misalnya dinyatakan bahwa secara structural NU memang telah mengalami perubahan, misalnya dengan mengadaptasi orang-orang NU professional dan tidak hanya bertumpu pada NU genealogis atau dzurriyah Nyai-Kyai besar. Namun demikian, di dalam relasi kuasa budaya, NU masih tetap menggunakan genealogi kekyaian sebagai basis kekuasaannya. Tradisi NU untuk terus menerus mempertahankan kekuasaan budayanya di tengah gerakan-gerakan sosial yang terus berkembang.

Di sisi lain Dr. Irfan Tamwifi juga mengangkat konsep “kamuflase kebudayaan”, yaitu kesenjangan antara elit NU dengan masyarakat, di mana elitnya sudah berbicara dalam level dunia internasional, sementara itu warga NU masih bergulat dengan tradisi-tradisinya seperti tahlilan, yasinan, dzibaan dan sebagainya. Misalnya elit NU sudah membicarakan tentang ekonomi kerakyatan dan sebagainya, akan tetapi warga NU dan elit lokal NU tidak tergerak untuk mengikutinya.

Secara tipologis, NU juga bisa dipilah dalam tiga kategori, yaitu: konservatif-pragmatis, yang ditandai dengan upaya untuk mempertahankan tradisi-tradisi keagamaan dalam relasinya dengan gerakan modernis lainnya. Neo-tradisionalis, masuknya NU dalam dunia politik, baik NU sebagai partai politik, PPP dan kembali ke khittah menandai satu era baru bahwa NU bermain secara lebih luas tetapi tetap mempertahankan tradisinya sebagai institusi pengusung Islam tradisional. Lalu, Post-Tradisionalis ditandai dengan kemajuan-kemajuan NU dalam meraih pengembangan baik dari sisi SDM, Institusi pendidikan maupun pengembangan institusi ekonomi dan kesehatan. Tetapi di dalam konteks keagamaan tetap saja mempertahankan tradisi agama yang bercorak tradisional. Jadi NU sebenarnya sudah modern dalam konteks organisasi karena sudah menerapkan kepemimpinan legal formal, namun tetap memelihara tradisi budaya kyai, meskipun juga akhirnya NU bisa melahirkan elit-elit baru yang tidak memiliki basis genealogi kekyaian yang sangat kental.

Ketiga, Dr. Irfan Tamwifi harus terus menulis dan meneliti, sebab hakikat dosen itu adalah dunia penulisan. Oleh karena itu jangan jadikan doktor sebagai akhir karir pendidikan, tetapi justru menjadi awal karir kebangkitan. Tetaplah menulis agar kita terus ada. Karena menulis kita ada. Dalam bahasa Latin disebutkan “Verba Volant Scripta Manen”, jika dibicarakan akan hilang, jika ditulis akan abadi.

Jadi, semua doctor harus meneliti dan menulis, harus terus eksis di dalam dunia karya akademik maupun nonakademik agar dunia terus mengenal kita sebagai akademisi yang produktif.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

APARAT SIPIL NEGARA HARUS MENCINTAI NEGERI SENDIRI

APARAT SIPIL NEGARA HARUS MENCINTAI NEGERI SENDIRI

Saya diberi kesempatan oleh Pak Dr. Moh. Toha, Kabadiklat Balitbang Kemenag RI dalam acara Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) pagi para Calon Aparat Sipil Negara atau Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kemenag RI, tahun 2019 di Hotel Grand Park Pabean Cantikan Surabaya. Selasa, 09/09/2019. Acara in diikuti oleh seluruh CPNS lintas institusi di Kemenag. Ada yang dari UIN dan IAIN, ada yang dari badiklat, Kantor Kemenag Provinsi dan juga Kabupaten se Jawa Timur. Acara ini dipandu oleh Pak Muhsinun dan juga Pak Dr. Abdul Main, Widya Iswara Badiklat, yang rupanya popular di kalangan para CPNS. Ahli memberikan motivasi dan menyanyi, katanya.

Saya diberikan kesempatan untuk memberikan materi mengenai “Moderasi Agama” yang saya kira merupakan materi penting bagi para ASN Kementerian Agama di Indonesia. Mengapa Moderasi agama penting untuk disampaikan kepada calon aparat negara. Hal ini merupakan pertanyaan penting, sebab mereka merupakan pelanjut dari ASN yang sekarang yang sedang menjalankan tugas dan fungsi untuk kepentingan negara dan masyarakat.

Kita sebagai ASN adalah garda depan pengawal terhadap Pancasila dan NKRI, sebagai falsafat dan bentuk negara yang sudah disepakati oleh para founding fathers negeri ini. Tidak boleh ada keraguan tentang penetapan Pancasila sebagai dasar negara dan juga NKRI sebagai bentuk negeri ini. Kita semua harus meyakini bahwa pilihan tersebut merupakan pilihan yang tepat dan harus menjadi landasan kita semua di dalam pengabdian kepada negara dan bangsa.

Negeri ini mempercayakan pengelolaannya untuk kepentingan rakyat kepada para aparatnya. Para aparat negara (state apparatus) yang akan menentukan bagaimana bentuk pelayanan yang sesungguhnya kepada masyarakat. Negeri ini baik jika aparatnya baik dan negeri ini akan hancur jika aparatnya jelek. Baik buruknya sebuah negeri akan sangat tergantung kepada baik buruknya aparat negaranya. Makanya, bagi para pemuda yang akan menjadi aparat negara tentu harus mempertimbangkan pilihannya, apakah kita akan menjadi aparat negara yang baik atau aparat negara yang jelek. Pilihan itu ada di tangan kita semua.

Kementerian Agama mengusung “Moderasi Beragama” sebagai ujung akhir dari seluruh missi dan programnya. Apapun intitusinya, selama institusi tersebut berada di bawah koordinasi Kemenag, maka harus menjadikan Moderasi Beragama sebagai tujuan dan target akhirnya. Di Kemenag, ada sejumlah Direktorat Jenderal Bimbingan Agama-agama, terdapat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Sekretariat Jenderal, Badan dan sebagainya, maka seluruh missi dan programnya tentu harus bermuara pada Moderasi Beragama. Ibaratnya, jika hilirnya adalah program-program Kemenag berdasarkan atas seluruh institusinya, maka muaranya ialah moderasi beragama. Institusi bimbingan agama-agama, pendidikan agama, penelitian dan juga pelayanan umrah dan haji harus bermuara pada Moderasi Beragama.

Sebagai ASN kita sedang menghadapi banyak tantangan, di antaranya ialah gerakan radikalisme, ekstrimisme dan terorisme, yang bisa merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Beragama secara radikal dalam konteks positif atau beragama secara kaffah tentu baik dan wajib, misalnya menjadi pemeluk Islam yang taat pada ajaran agamanya. Akan tetapi ketaatan pada agama itu harus ditempatkan di dalam kerangka sebagai warga negara Indonesia bukan sebagai warga negara asing. Misalnya dengan keinginan untuk mendirikan negara selain NKRI yang berdasar atas Pancasila. Maka, jadilah Orang Islam yang berada dan menjadi warga negara Republik Indonesia.

Sebagai ASN jangan terpengaruh dengan issu-issu yang tidak jelas, misalnya dengan keinginan mendirikan negara khilafah dan jargon-jargon politik lainnya. Kita sudah memantapkan diri bahwa Pancasila dan NKRI adalah pilihan final bagi bangsa ini. sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh KH. Sahal mahfudz, bahwa Pancasila dan NKRI itu pilihan final bagi bangsa ini, sehingga tidak perlu ada pilihan-pilihan lainnya. Menjadi orang Islam yang baik, dan menjalankan agamanya dengan benar sekaligus juga sudah menjadi warga negara yang baik, selama tidak berpikir dan bertindak untuk mengambil ideology lain bagi bangsa ini. Umat Islam yang baik adalah umat Islam yang menjalankan agamanya dengan baik dan sekaligus juga meniadi warga negara yang baik.

Kita tidak boleh terprovokasi dengan gerakan radikalisme yang mengandung kekerasan, intoleran, saling mengkafirkan dan menganggap tafsir agamanya sendiri yang benar. Kita harus berpaham bahwa selain kita ada orang lain, dan juga ada pemahaman agama yang berbeda dengan kita. Jangan mengkapling surga untuk dirinya sendiri. Seperti kata Imam Samudra, bahwa untuk masuk surga itu harus pernah berperang sebanyak Nabi Muhammad saw melakukan peperangan, kurang lebih 80 kali. Jadi jihad menuru kaum garis keras itu adalah “perang offensive” perang terbuka sebagaimana Nabi Muhammad saw dahulu melakukan peperangan. Ini yang berbeda dengan para Jumhur Ulama (mayoritas ulama) yang menyatakan bahwa jihad itu adalah berupa berusaha secara sungguh-sungguh. Termasuk menjadi ASN yang baik dan serius merupakan bentuk dari jihad fi sabilillah. Menegakkan keadilan, kesetaraan, kerukunan, kesejahteraan dan pelayanan yang baik merupakan bentuk jihad fi sabilillah tersebut.

Kita sedang menghadapi perang melalui media sosial yang disebut Proxy War atau Cyber War. Perang di zaman sekarang itu tidak sebagaimana perang di masa lalu, perang fisik dan persenjataan akan tetapi perang sekarang itu adalah perang melalui media sosial. Di Cyber War itu yang terjadi ialah hate speech, character assassination, hoax, dan lainnya. Inilah perang sesungguhnya di era sekarang ini. Oleh karena itu, saya berharap agar para ASN berhati-hati. Jika kita menerima informasi agar di- check and recheck atau saring dahulu apakah informasi tersebut benar atau salah, berita bohong atau fakta sebenarnya. Makanya berlaku satu rumus, saring sebelum sharing atau check and recheck before sharing. Jangan pernah terjebak untuk menyebarkan berita hoax yang nanti akan merugikan kita sendiri.

Kita masih bersyukur bahwa para generasi milenial kita ini –berdasarkan survey—masih menginginkan Pancasila sebagai dasar negara, sebanyak 88 persen dan sebanyak 12 persen yang manyatakan ingin menggantinya. Artinya, secara umum generasi milenial kita masih setia kepada negerinya sendiri, yaitu dengan memilih Pancasila sebagai dasar negara. Tetapi tentu perlu diwaspadai sebab angka 12 persen itu tentu cukup besar dan jika tidak dimanej dengan benar akan bisa bertambah dan merugikan kita semua.

Disinilah arti penting keberadaan ASN itu menjadi agen negara yang bertindak jelas untuk berjuang memantapkan Pancasila sebagai ideology negara. Oleh karena itu, jika hari ini ada di antara kita yang masih-ragu untuk memantapkan hati hidup dengan Pancasila sebagai falsafat bangsa dan NKRI sebagai bentuk final negeri ini, maka mari kita renungkan apakah kita layak menjadi ASN yang seharusnya menjadi agen negara dalam menjalankan amanah negara, sesuai dengan Pembukaan UUD 1945. Kami berharap kita semua sudah yakin, dan keyakinan itu adalah bentuk syukur kita karena kita terpilih menjadi ASN di Negeri Tercinta Republik Indonesia.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

SILABUS PERSPEKTIF ILMU DAKWAH

SILABUS PERSPEKTIF ILMU DAKWAH

PROGRAM PASCA SARJANA ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UIN SUNAN AMPEL SURABAYA

 

Tujuan:

  1. Memberikan penjelasan dan pemahaman tentang berbagai perspektif ilmu dakwah dalam kerangka pengembangan keilmuan dakwah.
  2. Memberikan penjelasan dan pemahaman tentang program pengembangan keilmuan dakwah dalam kerangka untuk semakin memperkokoh posisi keilmuan daawah, terutama di masa yang akan datang.
  3. Memberikan penjelasan dan pemahaman tentang teori, metodologi dan program penguatan keilmuan dakwah.

 

Deskripsi mata kuliah.

  1. menyepakati tentang program pembelajaran melalui kontrak pembelajaran antara dosen dan mahasiswa. Di antara isi kontrak kerja tersebut ialah tentang penulian makalah, artikel untuk jurnal, terindeks internasional ataupun jurnal terindeks sinta Kemenristendikti, Jakarta.
  2. Menjelaskan dan memberikan pemahaman tentang pengertian paradigm, perspektif dan madzab-madzab dalam ilmu pengetahuan.
  3. Berbagai paradigm dalam ilmu sosial (fakta sosial, definisi sosial dan perilaku sosial) dan Antropologi (evolusionisme, fungsionalisme, interpretative dan kognitivisme)
  4. Berbagai paradigm di dalam ilmu komunikasi (paradigm mekanistik, interaksi simbolik, interpretif dan wacana)
  5. Paradigma dalam psikhologi (nativisme, berhaviorisme dan konvergensi)
  6. Review terkait dengan perkuliahan sebelumnya.
  7. Paradigm ilmu dakwah, obyek kajian dan metodologinya (paradigm factorial, paradigm system, paradigm developmentalisme, paradigm interpertif) dan obyek kajiannya serta metodologi yang melazimi berbagai paradigm tersebut (kuantitatif, kualitatif, dan action research)
  8. Pengembangan ilmu dakwah dikaitkan dengan KKNI, yang meliputi monodisipliner (program strata 1), interdisipliner (antar bidang) dan cross discipliner (lintas bidang) untuk (strata 2) dan multidisipliner (strata 3).
  9. Pengembangan ilmu dakwah interdisipliner dan crossdisipliner (sosiologi dakwah, komunikasi dakwah dan psikhologi dakwah)
  10. Diskusi dan pendalaman sesuai kertas kerja mahasiswa
  11. Diskusi dan pendalaman sesuai dengan kertas kerja mahasiswa
  12. Diskusi dan pendalaman sesuai dengan kertas kerja mahasiswa
  13. Review dan pendalaman
  14. Review dan pendalaman