• July 2018
    M T W T F S S
    « Jun    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KE ROMA: ZIARAH KE BASILIKA SANTO PETRUS (10)

KE ROMA: ZIARAH KE BASILIKA SANTO PETRUS (10)
Basilica adalah gereja yang sangat besar. Basilica Santo Petrus Vatikan adalah Gereja Katolik terbesar di dunia. Lalu juga ada gereja yang ukurannya lebih kecil dan yang paling kecil adalah kapel. Salah satu diantaranya ialah Kapel Clementina di Katakombe yang dulu kala dijadikan sebagai tempat MIsa Harian oleh para Paus.Di dalam Basilica ini terdapat banyak capel. Salah satunya ialah capel yang dijadikan sebagai tempat Misa Harian oleh Paus. Saya sempat untuk melihat Capel ini. Di dalamnya terdapat beberapa kursi yang kiranya dijadikan tempat duduk para peserta Misa Paus.
Basilica Santo Petrus merupakan gereja yang sangat besar dan indah. Keindahannya, saya kira tidak tertandingi. Saya sangat mengagumi terhadap hasil cipta, rasa dan karsa para pendiri Basilica ini. Sebuah warisan budaya yang sangat adiluhung. Rasanya, Basilica Santo Petrus adalah tempat ibadah yang paling indah di dunia. Pantaslah kalau menjadi salah satu keajaiban dunia dan menjadi tempat wisata ziarah yang mengagumkan.
Tinggi Basilica Santo Petrus bagian tengah ialah 1515 Kaki atau 462 M. Diameter Kubah dalam 1361 kaki atau 462 M. Diameter kubah dalam 1377 kaki atau 420 M. Peletakan batu pertama pembangunan Basilika Santo Petrus dilakukan pada tanggal 18 April 1506 M. Kubah luar Basilica Santo Petrus bisa dilihat dari tempat kami, Villa Aurelia. Jika pagi hari sambil sarapan pagi, pastilah kami bisa melihat kubah Basilica Santo Petrus.
Di samping Basilica Santo Petrus ada rumah tinggal Paus. Basilica Santo Petrus merupakan rumah tinggal Paus. Lalu juga menjadi tempat pemakaman orang-orang Suci di dalam Agama Katolik. Itulah sebabnya banyak peziarah Katolik tekun berdoa di depan makam-makam itu. Tidak jauh dari Basilica itu terdapat Kapel Sistina. Kapel ini selain menampung berbagai lukisan Micheleangelo, juga sampai hari ini juga digunakan untuk memilih Paus, jika ada Paus yang wafat atau meninggalkan tugas kepausannya. Masyarakat menandai pemilihannya dengan asap hitam atau putih. Jika masih keluar asap hitam, maka pemilihan belum menghasilkan seorang Paus baru, tetapi ketika sudah keluar asap warna putih menandakan bahwa Paus baru sudah terpilih. Paus memiliki otoritas keagamaan yang sangat luar biasa. Apa yang dinyatakannya akan menjadi rujukan masyarakat dunia dan akan mendapatkan respon dari dunia internasional.
Selain itu juga terdapat beberapa perkantoran yang berhubungan langsung dengan kepentingan Paus. Kira-kira semacam Kantor Sekretariat Negara, Kantor Urusan Rumah Tangga Negara dan sebagainya. Selain itu juga terdapat Kantor Negara Vatikan yang ditempatkan di luar Vatikan, sebab memang kebutuhan untuk pemenuhan kantor di dalam Basilica sudah tidak memungkinkan.
Kubah dalam yang paling tinggi didesain oleh Micheleangelo dan selesai dalam 2 (dua) tahun, sebuah karya terakhir sebelum Beliau meninggal. Untuk menyelesaikan bangunan kubah dan asesorinya memerlukan waktu selama 2 tahun. Pahatan dan lukisan itu sangat luar biasa dengan tulisan di dalamnya memang menggambarkan betapa cita rasa tinggi bagi pendirinya. Nyaris tidak ada ruang yang tidak dihiasi dengan pahatan dan lukisan yang indah. Siapapun yang datang di sini pasti akan mengagumi keindahannya. Nyaris seluruhnya didesain oleh Michele Angelo. Sepertinya, dia dilahirkan untuk menghias Basilica yang hebat tersebut.
Negara Vatikan luasnya hanyalah 44 hektar. Dengan dikelilingi oleh tembok yang membatasi antara wilayah Kota Roma dengan Kota Suci Vatikan. Namun demikian, hampir seluruh negara di dunia memiliki duta besarnya di Vatikan. Indonesia juga memiliki Duta Besar, hanya kantornya ditempatkan di wilayah kota Roma Baru. Perkantoran pemerintahan Roma banyak yang ditempatkan di sini. Kota Roma Baru adalah yang dicita-citakan oleh Mussolini sewaktu beliau memimpin pemerintah Italia.
Ada banyak hal yang diceritakan oleh Romo Markus Solo, sayangnya bahwa tidak semua mampu saya ingat. Yang saya tuliskan tentu adalah hal-hal yang mendasar saja dan perlu juga saya tashihkan ke ahlinya agar tidak salah dalam menginformasikannya. Menulis Basilica dengan Makam Suci Santo Petrus adalah urusan agama, sehingga harus hati-hati.
Sebenarnya di dalam Basilica diperkenankan untuk foto. Hanya sebagian tidak boleh. Tetapi di tengah teknologi Hand Phone yang canggih seperti sekarang, maka tidak mungkin bisa melarang orang-orang yang ingin mengambil gambar di dalamnya, bahkan Jemi bisa mengambil gambar Jazad Santo Petrus dari jarak kira-kira 2 meter saja. Akhirnya harus saya minta segera kembali ke rombongan. Saya khawatir bahwa hal itu bisa menyinggung perasaan beragama. Untunglah dengan keberadaan Romo Markus yang menjadi utusan khusus Paus untuk pengembangan kerja sama dan dialog antar umat beragama, maka semua urusan selesai.
Keluar dari Basilica, maka terdapat toko-toko untuk menjual barang-barang assesori. Saya tidak menyempatkan membeli apapun di sini, kecuali membeli es krim. Hanya sayangnya es krim itu bukan es krim yang terkenal di Roma. Tempatnya agak jauh, sehingga tidak memungkinkan membelinya.
Dari acara di Basilica, lalu kita bergegas untuk acara makan siang di rumah Pak Dubes, Pak Agus Sriyono. Bu Dubes memang sudah menyiapkan makanan yang sangat lezat. Ketemu dengan nasi makanan khas Indonesia adalah kejaiban. Dengan lalapan, sambal, rendang daging, ayam kremes dan ikan masakan kuning, sungguh lezat makanan tersebut. Dan yang lebih hebat lagi karena saya diberikan makanan oleh Bu Dubes untuk dimakan di Villa. Beliau kasihan melihat saya yang tidak bisa tidur karena kurang cocok makanannya. Benar juga ketika malam saya makan nasi dan lauk pauknya, tidurpun nyenyak dan jam 04.00 Waktu Italia baru bangun. Padahal malam-malam sebelumnya selalu bangun jam 02.00 Waktu Italia.
Pak Dubes memberikan pidato terima kasihnya atas kepesertaan semua delegasi dan juga kehadiran nara sumber. Apalagi bisa menghasilkan Rekomendasi Roma. Saya juga diberikan kesempatan untuk memberikan sambutan. Saya sampaikan bahwa acara dialog ini sangat sukses, menghasilkan rekomendasi yang bagus dan harapan saya agar lalu dituliskan oleh semua peserta berbasis pada item-item pada masing-masing rekomendasi. Ada sebanyak 8 (delapan rekomendasi) yang dihasilkan oleh dialog ini. Bu Dewi Sawitri juga mengucapkan grasiae atas terselenggaranya acara ini dan diperlukan acara serupa di tempat lain, terutama menjelang pemilihan Presiden tahun 2019.
Sore harinya dilakukan wawancara dengan wartawan Italia, yang menjaga desk Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Saya, Prof. A’la, Prof. Henriette, Pak Uung dan Pak Prof. Philip didampingi oleh Pak Dubes dan Romo Leo menyelenggarakan konferensi Pers untuk kepentingan menginformasikan kegiatan dialog antaragama masyarakat Indonesia di Eropa di Roma.
Semua senang, semua heppi dan semua merasakan sesaudara dalam kebangsaan dan kemanusiaan. Kita semua berharap dapat bertemu lagi dalam acara yang sama dengan pendalaman yang lebih memadai.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA; MENGUNJUNGI MAKAM SANTO PETRUS (9)

KE ROMA; MENGUNJUNGI MAKAM SANTO PETRUS (9)
Ketika saya diajak untuk ziarah ke Makam Santo Petrus, maka saya teringat akan Karel Steenbrink, seorang Indonesianis berasal dari Belanda dan mengajar di UIN Jogyakarta. Beliau di dalam tulisannya menyatakan: “jika berada di suatu kota tertentu, maka yang pertama ditanyakan ialah apakah ada makam Suci di kota ini.” Maka beliau melakukan ziarah ke makam keramat tersebut.
Ketika saya mengunjungi Basilika Santo Petrus, Gereje Katolik terbesar di Dunia di dalam ota vatikan, saya tidak bisa menggambarkan keindahannya. Hanya kagum dan kagum saja, atas karya anak manusia di dalam mengekspressikan keberagamaannya yang luar biasa.
Saya bersama seluruh peserta dialog antaragama Masyarakat Indonesia di Eropa, dan didampingi oleh staf keduataan RI di Vatikan, dan Romo Leo, Romo Purnama serta Romo Markus yang sudah menunggu di Lapangan Santo Petrus depen basilica itu. Kami naik bus pariwisata yang nyaman dan menyusuri jalan-jalan di Roma. Kira-kira 30 menit dari Villa Aurelia ke Gereja ini. Maklum karena sudah hari kerja, maka jalanan agak padat, meskipun bukan macet. Jangan bayangkan dengan kemacetan di Jakarta yang sering kita rasakan.
Setelah sampai di tempat parkir bus, maka kami datang di Basilika Santo Petrus dengan jalan kaki, melalui tangga yang di sekelilingnya dilukis dengan tulisan dan gambar-gambar yang indah. Lalu kami harus menaiki lift yang cukup tinggi. Sampailah akhirnya kami di lapangan Santo Petrus yang di dalamnya terdapat dua patung. Satu patung di selebelah kanan ialah Patung Santo Petrus, dengan tangan kanan memegang kunci dan tangan kiri memegang kitab suci. Di sebelahnya terdapat Patung Santo Paulus dengan tangan kanan memegang pedang dan tangan kirinya memegang kitab suci. Menurut Romo Markus, bahwa kunci yang dipegang oleh Rasul Petrus adalah gambaran bahwa beliaulah yang dipercaya oleh Yesus Kristus untuk memegang kunci Kerajaan Surga dan kitab suci sebagai jalan untuk mencapainya. Selain itu, Petrus sendiri juga menulis banyak Surat di Kitab Suci Perjanjian Baru. Sedangkan Paulus yang ditangan kanannya memegang pedang adalah symbol mengenai perilakunya yang pernah mengejar-ngejar pemeluk Kristen Perdana, bahkan membunuhnya. Pada suatu ketika beliau bertemu dengan Yesus Kristus dalam perjalanan ke Damaskus, dan kemudian bertobat. Namanya yang semula Saulus, lalu diubah menjadi Paulus. Perubahan nama itu untuk menggambarkan keinginan beliau untuk mengubur masa lalu.
Di tengah lapangan ini terdapat tugu yang dianggap sebagai tugu tempat dimana Petrus disalib. Ketika kita berada di lapangan itu maka kita bisa melihat ratusan patung di atas, untuk menggambarkan sejumlah rasul-rasul dan para penginjil yang banyak jumlahnya. Bangunan Gereja dari depan itu berbentu setengah lingkaran dan dihias dengan ornament yang indah.
Kita memasuki Gereja Santo Petrus Roma dengan diantar oleh Romo Markus. Kami memasuki gerbang Gereja Santo Petrus yang dijaga oleh tentara Swiss, selain juga oleh tentara Italia. Pengamanan gereja sangat ketat. Semua alat yang mengandung logam harus dilepaskan. Jadi ingat di bandara. Semuanya dilakukan untuk mengintisipasi keamanan.
Dari pintu gerbang itu kami menuju ke dalam gereja. Kami menerima alat earphone untuk mendengarkan penjelasan dari Romo Markus. Kami berkumpul di ruang luar gereja yang berbatasan dengan lapangan. Mula-mula dikenalkan tentang 5 (lima) pintu yang menjadi pintu di gereja Santo Petrus di Roma. Pintu sebelah kiri adalah pintu kematian, menggambarkan tentang orang yang berada di dalam kebajikan lalu harus keluar ke alam dunia yang penuh penderitaan. Pintu kedua ialah pintu kebaikan dan keburukan. Untuk menggambarkan bahwa di dalam kehidupan ini terdapat dua sisi yang terus terjadi yaitu kebaikan dan keburukan.Lalu di tengahnya ialah pintu Santo Petrus yang digunakan oleh Paus yang akan melakukan misa. Lalu sebelahnya ialah pintu sakramen, yang digunakan oleh umat untuk memasuki ruang dalam Basilica Santo Petrus. Di sinilah saya dan semua peserta dialog melewatinya. Pintu yang paling kanan atau pintu kelima ialah pintu Qudus atau pintu suci. Mula-mula pintu ini hanya dibuka 100 tahun sekali. Akan tetapi Paus punya kewenangan untuk mengaturnya. Lalu dibuka 50 tahun sekali. Karena dianggap masih terlalu lama, maka akhirnya dibuka 25 tahun sekali dan yang terakhir bisa dibuka saat Paus memang menganggapnya penting. Pada tahun 2015, dilakukan Missa Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Dosa, dipimpin oleh Paus Fransiscus yang diikuti oleh 50 ribu peserta termasuk Presiden dan Perdana Menteri Italia, Sergio Mattarella dan Mateo Rezzi serta Raja Abert II dan Ratu Paula dari Belgia. Pada saat ini Pintu Suci itu dibuka oleh Paus Fransiscus.
Kami masuk ke dalam melalui pintu paling kanan. Pintu ini yang dijadikan sebagai pintu masuk bagi semua peziarah. Satu hal yang juga ingin saya sampaikan, bahwa keindahan ruang depan gereja ini luar biasa. Jika kita mendongakkan kepala ke atas, maka akan kelihatan ornament gereja yang luar biasa indah. Sentuhan tangan perupa Micheleangelo memang sungguh luar biasa. Nyaris tidak bisa disamai oleh pelukis dan perupa lainnya.
Masuk ke dalam kita disuguhi dengan Patung-patung penting. Misalnya Patung Putih Pieta, Bunda Maria memangku Yesus yang sudah wafat, patung putih ini pernah sedikit mengalami kerusakan sehingga sekarang dilindungi dengan kaca putih anti peluru. Patung karya Micheleangelo ini pernah dipamerkan di Amerika Serikat, awal tahun 60-an, tetapi dengan secepatnya dikembalikan atas perintah Paus Yohannes XXIII. Ada juga patung Petrus dari perunggu terletak di sebelah kanan kita. Patung itu dianggap sebagai lambang kesucian, sehingga jika seorang peziarah menyentuh kakinya, maka akan mendapatkan berkah darinya. Saya dan peziarah lain juga melakukannya, tentu dengan niat dan keyakinannya sendiri-sendiri.
Ada juga patung Christina Alexandra, seorang putri raja Swedia yang memperoleh hak untuk dimakamkan di dalam Basilika Santo Petrus karena kegigihannya mempertahankan pilihannya terhadap agama Katolik. Juga terdapat patung-patung para Rasul dan Paus yang pernah bertahta di Vatikan. Setelah melewati lorong panjang yang di sekitarnya terdapat makam-makan para Paus, misalnya makam Paus I, yang hanya berkuasa selama 33 hari, juga terdapat makam-makam Paus lainnya. Ada juga makam Penginjil awam dari Filipina yang diberikan privileged untuk dimakamkan di sini. Lorong ini sangat panjang dengan lukisan di kiri dan kanannya.
Yang sangat menarik tentu makam Santo Yohannes XXII, Sang Paus yang pernah menyelenggarakan Konsili Vatikan II itu. Beliau dikatakan sebagai Paus pembaharu di daam Gereje Katolik termasuk sikap dan pikirannya yang baru dan lebih terbuka terhadap umat agama lain. Makam beliau memang dibiarkan terbuka. Orang bisa melihatnya. Menurut Romo Markus, yang kelihatan itu bukan jasad yang sebenarnya. Sebagian tubuhnya sudah rusak sehingga dibuatlah ptung lilin yang didalamnya terdapat tulang belulang Beliau. Sebab ketika terjadi penggalian atas makamnya, maka kondisinya tinggal sedikit.
Mengenai jasad Santo Petrus yang terletak di bawah altar utama Basilika ini, sebenarnya sudah dilakukan uji DNA untuk mengetahui jasad siapa sebenarnya. Diputuskan untuk melakukan penggalian terhadap jasad Santo Petrus. Setelah dilakukan penggalian, maka ditemukan kumpulan jasad dari mereka yang dibunuh pada waktu itu. Santo Petrus semula dipenjara, lalu melarikan diri. Di tengah jalan beliau bertemu dengan Yesus dalam spiritual dan dinasehati agar kembali ke penjara. Pada saatnya disalib, maka Beliau meminta jangan disalib seperti gurunya, Yesus Kristus. Jika Yesus disalib dalam keadaan berdiri, maka beliau meminta agar disalib dengan kepala dibawah. Dari jasad-jasad yang banyak itu lalu dilakukan tes, dan ternyata ada sebuah jasad yang bukan orang Italia, melainkan orang dari sekitar Palestina. Berdasarkan atas bukti tersebut, maka diyakini bahwa jasad itu ialah jasadnya Santo Petrus. Hal ini didukung pula dengan tulisan Petrus di dinding kuburan massal itu.
Jasad Santo Petrus tersebut dilindungi, dikunjungi dan dihormati untuk menandai terhadap peran Orang Suci Petrus di dalam perjuangan menegakkan kekristenan, khususnya Kristen Katolik. Di setiap makam yang berada di pinggir lorong menuju makam Santo Petrus dibuat patung lilinnya. Hal itu untuk menandai bahwa di situlah makam para Santo dan Paus dikuburkan.
Hal yang sungguh saya kagumi dengan kekaguman yang luar biasa adalah bagaimana ornament-ornamen Basilika itu dibuat. Jika kita mendongakkan muka kita ke atas, di menara bagian dalam, yang berbentuk lingkaran, maka betapa indahnya lukisan dan patung-patung yang menghiasinya. Tidak ada kata lain, kecuali ungkapan kagum dan terpesona.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA; MERUMUSKAN DEKLARASI ROMA (8)

KE ROMA; MERUMUSKAN DEKLARASI ROMA (8)
Salah satu di antara hasil yang dianggap penting oleh para peserta Dialog Antar Agama Masyarakat Indonesia di Eropa ialah merumuskan Deklarasi Roma. Rumusan ini telah dibacakan di dalam forum pertemuan ini dan disambut dengan suka cita oleh semu peserta dialog. Pak Dubes RI untuk Takhta Suci Vatican, Pak Agus Sriyanto, menyambut sangat gembira atas dihadirkannya Deklarasi Roma tentang Kerukunan antaragama ini.
Bunyi Deklarasi Roma tersebut ialah sebagai berikut:
Kami, empat puluh delapan peserta dialog antaragama masyarakat Indonesia di Eropa yang berada di 23 negara di Eropa dalam suasana penuh persaudaraan dengan tekad untuk terus memajukan kebersamaan dan kerukunan bangsa Indonesia menyatakan:
1. Kemajemukan agama, suku, dan bahasa adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa bagi masyarakat Indonesia dan keniscayaan yang harus dipelihara, dijaga dan dikembangkan bersama.
2. Indonesia dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun atas dasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah rumah bersama dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika yang harus dirawat bersama.
3. Tenggang rasa dalam kemajemukan masyarakat Indonesia menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama, karena kerukunan hidup umat beragama di Indonesia menjadi rujukan dan contoh bagi dunia internasional.
4. Kesungguhan hati dan keterbukaan sikap dalam sikap kebersamaan, gotong royong, saling pengertian, penghargaan, dan persaudaraan dari pemerintah dan semua anak bangsa hendaknya dirawat dan dipelihara secara berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari.
5. Masyarakat Indonesia agar tidak menggunakan agama dan simbol keagamaan demi kekuasaan politik.
6. Semua umat beragama agar mampu menampilkan wajahnya yang ramah dan terbuka dalam semangat persaudaraan dalam keimanan, kemanusiaan dan keindonesiaan.
7. Seluruh anak bangsa Indonesia, kendati berbeda agama, akan tetapi terikat dalam persaudaraan sebangsa dan setanah air, karena semua berasal dari satu Rahim Ibu Pertiwi Indonesia.
8. Semua masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh dunia perlu meningkatkan dialog antaragama dan bekerjasama yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pernyataan dirumuskan di Roma dalam dialog antaragama masyarakat Indonesia di Eropa.
Roma, 1 Juli 2018.
Saya kira ada beberapa catatan yang penting untuk dikemukakan di dalam dialog antaragama pada masyarakat Indonesia di Eropa ini. Pertama, tentu kita semua mengapresiasi terhadap penyelenggaraan dialog antaragama ini, sebab dihadiri oleh peserta dari 23 negara di Eropa dan hal ini merupakan program prakarsa yang sangat baik. Disiapkan secara memadai dan dilakukan dengan penuh kebersamaan. Meskipun kita mendialogkan agama dan keagamaan, akan tetapi nuansa “humor” dan “keseriusan” itu sangat mengedepan. Saya mengagumi terhadap prosesi persidangan yang penuh dengan rasa persaudaraan. Berbeda tetapi mesra.
Kedua, program ini saya kira akan bisa dilakukan di beberapa belahan dunia lainnya, misalnya di Amerika, Australia, Afrika dan di tempat lain. Dengan mengusung semangat kerukunan dan keharmonisan, maka pesan itu akan dapat disampaikan kepada masyarakat Indonesia yang sedang menjalani kehidupan di luar negeri atau kaum diaspora.
Ketiga, dialog antar agama jangan hanya berada di dalam tataran dialog butik atau boutique dialogs, yaitu dialog yang hanya menampilkan wajah depannya saja seperti pajangan produk di dalam butik. Perlu diupayakan agar dialog itu bisa menyentuh wilayah masalah mendasar yang dirasakan bersama. Dari wilayah teologi dan ritual sudah selesai. “Yang sama jangan dibedakan dan yang beda jangan disamakan”, akan tetapi di dalam wilayah yang memiliki cakupan kebersamaan lainnya perlu mendapatkan perhatian. Makanya, dirasakan perlu ada Focus Group Discussion (FGD) untuk memetakan masalah bersama dan menyelesaikan bersama. Jangan seperti slogannya Indonesia Lawak Klub (ILK): “menyelesaikan masalah tanpa solusi”.
Keempat, tujuan dialog antaragama ialah membangun kesepahaman, kebersamaan dan kerjasama di antara umat beragama. Oleh karena itu diperlukan tidak hanya co-eksistensi akan tetapi juga pro-eksistensi. Tidak hanya sekedar mengakui ada yang berbeda dalam agama, tetapi juga bekerja sama antar umat beragama. Perkuat “kita” dan bukan “aku”.
Kelima, tujuan final dari kerukunan umat beragama ialah untuk menjamin keberlangsungan consensus bangsa, yaitu: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan kebhinekaan. Makanya diperlukan upaya terus menerus untuk merevitalisasi consensus kebangsaan tersebut di dalam kehidupan nyata, yang sehari-hari, agar ke depan masyarakat Indonesia yang adil dalam kemakmuran dan makmur di dalam keadilan akan dapat diraih secara memadai.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA; MENDISKUSIKAN MODERASI AGAMA (7)

KE ROMA; MENDISKUSIKAN MODERASI AGAMA (7)
Sessi berikutnya ialah pemaparan tiga narasumber, yaitu: Prof. Philip Widjaja, (Buddha), Brigjen Wahyu Tenaya (Hindu) dan Romo Sunarko (Katolik). Acara ini dimulai pada pukul 13.30 Waktu Italia. Acara ini dipandu oleh Romo Leo Mali. Beliau ini adalah seorang Romo yang jenaka di dalam membawakan acara dialog.
Pak Philip adalah akademisi yang aktif di dalam banyak kegiatan di dalam agama Buddha. Bagi Pak Philip, bahwa konflik bernuansa agama selalu terjadi. Konflik intern agama terkadang jauh lebih keras, dibandingkan dengan konflik antar umat beragama. Meskipun tidak mesti seperti itu. Konflik bisa disebabkan oleh kepentingan kelompok tertentu dan terkadang juga ada kelompok yang memelihara konflik dan sebaliknya.
Ada sebanyak 6 (enam) hal untuk mengeliminasi konflik beragama, yaitu: jangan ada ekspansi, ekspansi dapat digunakan sebagai penarik konflik antara kelompok yang berbeda. Ekspansi dimaksudkan untuk menambah jumlah umat dibandingkan dengan pengembangan kualitas umat. Lalu jaga pernyataan kita. Jangan ungkapkan hal-hal sensitive sehingga melukai orang lain. Jangan membuat hoax dan jangan gunakan kata-kata yang bisa merusak komunitas.
Kemudian, kita harus mengenal satu dengan lainnya. Konflik terjadi disebabkan karena ketidakmengertian tentang alasan mengapa sekelompok komunitas melakukannya. Untuk memahami yang lain, maka ita harus memulai lainnya, dan menghormati dan toleran atas dasar pemahaman satu atas lainnya.
Selanjutnya, jangan sentuh area sensitif, seperti teologi dan ritual. Teologi berbicara tentang Tuhan dan ritual tentang tata cara beragama. Jangan saling menyalahkan. Terus yang penting juga terkait dengan pelayanan sosial dan saling membantu kepada yang lain. Untuk Indonesia, misalnya saling membantu terhadap sekelompok orang yang memang membutuhkan bantuan seperti orang jompo, kaum disable dan sebagainya.
Beragama Buddha berarti berkesadaran. Harus disadari bahwa kehidupan itu berwarna-warni dan tidak satu warna. Ada beberapa prinsip yang penting ialah tidak perlu menambah jumlah pengikut. Kebenaran tidak hanya ada di dalam ajaran agama Buddha. Dan yang paling penting ialah membuat semua makhluk berbahagia.
Narasumber lainnya ialah Brigjen Wisnu Tenaya. Di dalam sessi ini, Pak Wisnu mengungkapkan harapannya bahwa kita semua harus beragama dengan mengembangkan kerukunan dan keharmonisan. Ada banyak tantangan yang terjadi, misalnya adanya sikap dan tindakan yang tidak mengindahkan nilai-nilai agama. Manusia banyak yang melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma-norma agama. Kita mestilah membangun keseimbangan kehidupan. Makanya manusia harus memiliki keimanan di tengah perubahan dan kekuasan, harta dan lainnya. Manusia banyak yang menggunakan cara-cara yang tidak relevan dengan tujuan beragama. Kita harus mengajak manusia untuk melakukan kebaikan, rasa sayang, rasa asih dan asuh sehingga kemudian kita akan menghasilkan kebaikan-kebaikan. Jika kita bisa melakukan seperti ini, maka anak cucu kita akan berada di dalam darma yang baik.
Di Indonesia kita sudah memiliki Pancasila yang tentu harus dijaga keberadaannya. Sila-sila di dalam Pancasila menggambarkan tentang bagaimana kita sebagai masyarakat Indonesia harus mengamalkan agama kita, memperkuat kemanusiaan kita, membangun kesatuan dan persatuan bangsa, mengembangkan demokrasi sesuai dengan bangsa dan masyarakat Indonesia dan membangun keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Pembicara ketiga ialah Mgr. Andrianus Sunarko dari Katolik. Beliau memaparkan tentang Dialog Agama: Berlandaskan Pancasila Menuju Indonesia Adil dan Makmur. Di dalam setiap tahun ada pertemuan dari sebanyak 36 keuskupan, yang biasanya disebut sebagai keprihatinan dan penyelesaian masalah di kalangan Katolik.
Ada yang menarik dari hasil pertemuan umat beragama yang dilakukan oleh Utusan Khusus Presiden bidang Kerukunan Umat Beragama dan Peradaban, yaitu; pemeluk agama harus berkeyakinan bahwa pemeluk agama adalah saudara sebangsa.
Makanya, di antara Nota Pastoral, bahwa gereja adalah bagian dari negara Kesatuan Republik Indonesia. gereja berpandangan bahwa sejarah bangsa harus terus diupayakan secara optimal, lalu menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama bagi seluruh anak bangsa.
Selain itu juga ada beberapa masalah yang kita hadapi, yaitu: pemahaman Pancasila yang masih rendah dan belum dipahaminya Pancasila sebagai dasar dan falsafah bangsa, munculnya radikalisme yang menginginkan perubahan dasar negara, perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat akan tetapi merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Lalu suhu politik yang dipastikan meningkat pada tahun 2019.
Di antara penyebabnya ialah kesadaran sejarah yang rendah sehingga masa lalu tentang Pancasila mengalami disinformatif, kemudian peralihan dari orde baru ke orde reformasi tentu membawa dampak apa saja yang dihasilkan ole horde baru dianggap salah, dan semakin menguatnya gerakan radikalisme yang juga dipicu oleh tumbuhnya teknologi informasi. Lalu factor lainnya ialah krisis keteladanan. Dan juga kemiskinan dan ketidakadilan.
Usaha-usaha pemerintah tentu perlu diapresiasi misalnya terbentuknya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), munculnya regulasi-regulasi yang memihak kepada rakyat, pembangunan jalan tol dan infrastruktur lainnya untuk kepentingan rakyat dan juga BBM satu harga dan sebagainya.
Di dalam konteks ini diharapkan gereja akan memainkan peranan penting untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik dan adil. Termasuk juga pembinaan pendidikan. Yang juga penting ialah meningkatkan kerja sama antar agama dan komunitas agama lain. Dan juga meningkatkan kegiatan kekeluargaan dan kemanusiaan. Juga menyerukan penggunaan media sosial sebagai sarana untuk memperkokoh kebersamaan dan persaudaraan antar anak bangsa dan menyebarkan hidup penuh kasih.
Di dalam konteks ini, maka revitalisasi Pancasila menjadi sangat mendasar. Pancasila harus dijalankan dan bukan hanya didiskusikan. Kita berharap bahwa dengan revitalisasi Pancasila maka ke depan akan dapat dihasilkan pemahaman dan pengamalan Pancasila yang lebih berkeadilan dan berkeadaban.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA; MENDIALOGKAN MODERASI AGAMA (6)

KE ROMA; MENDIALOGKAN MODERASI AGAMA (6)
Ada sesuatu yang menarik di meja narasumber yang berbunyi “Centro Congressi Villa Aurelia”. Artinya ialah Pusat Kongres Villa Aurelia. Untuk arti pernyataan ini, maka saya harus tanyakan kepada Pak Markus Solo. Acara kita untuk Dialog Antar Agama Masyarakat Indonesia di Eropa tepat dimulai pada pukul 09.00 Waktu Italia. Acara ini dibuka oleh Pak Dubes, Agus Sriyono. Hari ini ada tiga sessi, yang masing diisi oleh Prof. Dr. Abdul A’la, Pak Uung Senjaya, Pak Prof. Dr. Philip Widjaja, Brigjen Wisnu Bawa Tenaya, Mgr. Sunarko, Bu Henriette dan pada sessi malam akan dilakukan diskusi antara nara sumber dengan seluruh peserta.
Selanjutnya acara diskusi dipimpin oleh Romo Purnama. Sebagai pembicara pertama ialah Prof. A’la. Beliau adalah akademisi UIN Sunan Ampel dan mantan Rektor UIN Surabaya. Di dalam sambutannya, Prof. A’la menyatakan bahwa di aras kita semua bahwa sudah tidak ada masalah. Semua kita memahami relasi antar Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Namun demikian, di aras masyarakat masih ada tantangan. Sebenarnya semua agama mengajarkan kasih sayang, namun demikian ternyata masih ada masalah, misalnya bom bunuh diri di Surabaya, di Jakarta dan sebagainya.
Di masa lalu, orang mengucapkan salam kepada orang non-muslim atau mengucapkan selamat Natal tidak masalah akan tetapi sekarang bisa menjadi masalah. Mungkin karena media sosial. Masalah tersebut tidak hanya antar agama tetapi juga antar etnis dan intern umat beragama. Kasus misalnya Syiah di Sampang, relasi Dayak dan Madura dan sebagainya.
Agama sebenarnya juga momot nilai-nilai budaya. Misalnya cara berpakaian, cara menggunakan lambang-lambang keagamaan dan sebagainya. hendaknya agama dijadikan pedoman atau etika di dalam kehidupan, termasuk kehidupan politik. Jangan melakukan politisasi agama, tetapi jadikan sebagai etika berpolitik. Meskipun kemudian banyak yang menyatakan bahwa pemikiran ini dianggap telah keluar dari frame islam minded. Islam adalah pedoman yang menyelimuti seluruh kehidupan. Jadi pemikiran menjadikan agama hanya sebagai etika politik dianggap sebagai kesalahan.
Oleh karena itu, kita harus meneguhkan komitmen untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan bangsa melalui berbagai dialog berkesetaraan. Dan yang penting ialah menyelenggarakan dialog untuk masyarakat akar bawah, dengan mengedepankan keindonesiaan. Jadi harus menjadikan Islam itu Islam Indonesia, Katolik Indonesia, Kristen Indonesia, Buddha Indonesia, Hindu Indonesia, Khonghucu dan kita harus menjadi agen-agen kerukunan umat beragama.
Pembicara berikutnya ialah Ibu Henriette, Pendeta Kristen Toraja dan sekarang menjabat sebagai ketua PGI. Beliau menyatakan bahwa semua di antara kita lahir dari Rahim yang sama. Rahim Ibu Pertiwi. Oleh karena itu, kita harus menjadikan kemajemukan sebagai rahmat Tuhan. Hal ini adalah anugerah Allah kepada kita semua. Untuk ini harus ada sikap tenggang rasa atau toleransi. Jangan lakukan pemutlakan keyakinan sebab dengan cara ini kita sudah melakukan reduksi terhadap rahmat Tuhan tersebut. Sehingga kita harus terus merawat tenggang rasa itu sebagai kewajiban kita semua.
Menurutnya, bahwa ajaran Kristen yang berdasar atas Kitab Injil, maka persaudaran merupakan hal yang sangat mendasar. Di dalam menjalin hubungan kerja sama tersebut semestinya jangan menggunakan label-label yang tidak relevan dengan semangat kemanusiaan. Untuk kepentingan itu, maka yang perlu dibangun ialah semangat persatuan di tengah kemajemukan. Pancasila harus menjadi rumah bersama untuk semua umat beragama di Indonesia.
Untuk kepentingan ini, maka dialog harus digunakan untuk merespon tantangan bersama, yaitu prejudice (pranggapan negative), eksklusivisme (fanatisme, rdikalisme dan intolerance) serta ketidaktahuan atau cultural and religius illiteracy). Ada sebuah pengalaman ketika Bu Henriette diminta untuk memberikan khutbah dalam acara Paskah yang dihadiri oleh banyak orang, tidak hanya Kristen tetapi juga ada masyarakat Muslim. Maka ketika ada adzan terdengar, maka saya berhenti sebentar dan kemudian saya sampaikan bahwa adzan adalah panggilan untuk kita beribadah meskipun dalam agama yang berbeda. Ada kritik menarik dari Bu Henriette, tentang pendidikan di sekolah yang dianggapnya memecah belah agama. Pendidikan agama harus menjadi pendidikan etika beragama. Jangan digunakan untuk membuat kotak-kotak agama tersebut. Buatlah pendidikan agama berbasis pada kemajemukan. Perlu ada gerakan 1821, yaitu jam 18 sampai jam 21 dilarang untuk memegang gadget.
Pembicara berikutnya ialah Pak Uung Senjaya. Ketua Matakin. Beliau menyatakan bahwa agama Khonghucu itu pernah mengalami masa peminggiran. Dan kita bersyukur bahwa di era Gus Dur sebagai Presiden Hak agama Khonghucu dipulihkan. Ada banyak tokoh agama yang mendukung pemulihan hak ini. di dalam agama Khonghucu, semuanya berasal dari Yin Yang. Di dalam Yin ada unsur Yang dan di dalam Yang ada unsur Yin. Manusia sesungguhnya memiliki beinh-benih kebaikan yang berupa cinta kasih, dan kebijaksanaan dan nafasu yang berpa gembira, marah dan sedih. Manusia itu hidup dengan jasmani dan rohani.
Tugas masyarakat Khonghucu ialah membawa jalan tengah atau cung he. Manusia harus memilih jalan suci. Manusia itu sederajat dan setara. Makanya umat Khonghucu tidak memandang manusia lainnya dengan pandangan yang tidak sederajat. Kesejahteraan hanya akan dapat diperoleh melalui jalan tengah dan bukan ekstrim.
Masyarakat Indonesia harus terus mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara karena Pancasila adalah pilihan founding parents yang tepat bagi Indonesia. Jika kemudian ada orang yang memilih selain Pancasila sebagai dasar negara, maka tamatlah Indonesia. Makanya umat Khonghucu sangat mendukung PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945). Modalitas Empat Konsensus Nasional inilah yang harus diperjuangkan secara terus menerus.
Mendengarkan terhadap paparan para nara sumber ini, maka ada satu kata kunci yang penting ialah bagaimana masyarakat Indonesia harus mempertahankan dan mengembangkan kehidupan berdasarkan agama yaitu beragama yang moderat atau di dalam program disebut sebagai Gerakan Moderasi Agama. Boleh juga disingkat GEMA (Gerakan Moderasi Agama).
Wallahu a’lam bi al shawab.