• December 2019
    M T W T F S S
    « Nov    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PRIORITASKAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN INKLUSI

PRIORITASKAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN INKLUSI

Saya ikut menghadiri acara pengukuhan Professor Zumratul Mukaffa, dosen Fakultas Tarbiyah dan ilmu Kependidikan UIN Sunan Ampel Surabaya. Hadir para Ketua Senat (Prof. Akhwan Mukarrom) dan anggota Senat, Rektor (Prof. Masdar Hilmy) dan segenap jajarannya, para dosen dan tenaga kependidikan pada UIN Sunan Ampel. Di antara yang juga hadir adalah Ibu Wury Ma’ruf Amin, Ibu Wakil Presiden RI, yang didampingi oleh Ibu Arumi Bakhsin, Ibu Wakil Gubernur Jawa Timur, dan juga hadir KH. Agus Ali Masyhuri, KH. Asep Saifuddin, KH, Jamaluddin, dan para undangan lainnya. Acara ini diselenggarakan di Sport Center UIN Sunan Ampe, 28 Nopember 2019.

Acara ini juga menarik sebab hadir juga sekelompok Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang menyanyi dan memainkan musik angklung diiringi oleh organ tunggal. Sungguh mengharukan dan sekaligus membanggakan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus itu menyanyikan lagu “Bunda” dan “Jangan Menyerah”. Kalau tidak salah lagu “jangan Menyerah” itu dinyanyikan oleh D’Massive dengan syair yang sangat menyentuh. “Tak ada manusia/yang terlahir sempurna/Jangan kau sesali/segala yang telah terjadi. Syukuri apa yang ada/hidup adalah anugrah/tetap jalani hidup ini/melakukan yang terbaik.” Saya lihat banyak undangan yang menitikkan air mata mendengar dan melihat mereka bermain angklung. Sungguh peristiwa yang membuat harus dikenang, bahwa mereka yang selama ini disebut sebagai disable atau anak berkebutuhah khusus ternyata bisa menghibur dengan semangatnya yang menyala-nyala.

Tema yang dibawakan oleh Prof. Dr. Zumratul Mukaffa, MAg. adalah “Membiakkan Pekerti Adiluhung Bagi Penyelenggara Madrasah Inklusi: Belajar dari MIT Arroihan Malang”. Saya kira ini adalah tema yang sangat menarik di tengah keinginan kita bahwa pendidikan juga harus menjangkau semua elemen masyarakat, tidak ada anak yang usia belajar dan tidak belajar atau sering disebut sebagai education for all. Tidak ada terkecuali semua anak Indonesia harus belajar pada usianya. Makanya pemerintah menggalakkan program wajib belajar sembilan tahun dan disusul kemudian wajib belajar 12 tahun, yang semula dinamakan dengan pendidikan universal.

Ada tiga hal yang saya kira bisa direspon dari uraian panjang Prof. Dr. Zumratul Mukaffa, MAg, dan juga diberi catatan khusus oleh Ibu Wury Ma’ruf Amin dalam pidatonya. Pertama, perdebatan pengertian pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Secara konseptual, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sering dibahasakan dengan disability atau ketidakmampuan. Penggunaan konsep disabilitas tentunya mengandung konsekuensi bahwa yang dijadikan sebagai mitra pendidikan adalah anak yang tidak berkemampuan. Lalu, juga konsep handycap atau rintangan. Di dalam konteks ini, Bu Zum –begitu saya menyebut—mengapresiasi pendapat Santrock, yang menyatakan sebagai “peserta didik yang memiliki keterbatasan”. Melalui konsep ini dunia pendidikan tidak menganggap bahwa ABK adalah individu yang tidak berkemampuan atau disability. Konsep ini lebih melihat bahwa setiap manusia memiliki potensi, dan para pendidiklah yang harus mencari potensi itu untuk dikembangkan.

Pendidikan harus mengutamakan manusia, makanya ABK juga harus dilihat sebagai manusia utuh yang memerlukan pendidikan secara khusus. Mengutip Franklin, Prof. Zum, bahwa ABK adalah anak yang tidak memiliki kemampuan belajar (Learning disability) sebagaimana anak pada umumnya dan bukan tidak mampu belajar (learning disabled child). Peserta yang tidak memiliki kemampuan belajar adalah masalah sekunder, dan selebihnya mereka harus dilihat sebagai manusia utuh dengan segala kehormatan, kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya.

Kedua, tanggung jawab pendidikan inklusi. Ada beberapa model sekolah atau madrasah inklusi, yaitu: 1) kelas regular penuh, dengan kurikulum yang sama untuk semua peserta didik, 2) kelas regular khusus dengan guru pembimbing khusus, di mana semua dikenai kirukulum berstandar nasional, hanya saja untuk ABK harus mendapatkan bimbingan secara khusus, dan 3) sekolah khusus di sekolah regular, di mana ABK diformat dalam kelas khusus dengan pelayanan khusus.

Dalam memangku tanggung jawab di dalam pendidikan inklusi, maka diperlukan persyaratan khusus, baik untuk kepala madrasah maupun guru-gurunya. Persyaratan untuk guru, misalnya adalah kemampuan personal, pedagogis, professional, sosial, spiritual, dan leadership. Sedangkan untuk kepala madrasah harus memiliki kemampuan mengenali kebutuhan SDM (guru, psikholog, therapist dll), serta kemampuan pedagogis pada umumnya dan pengembangan infrastruktur yang memadai. Sebagaimana namanya lembaga pendidikan inklusi, maka juga dibutuhkan penanganan dan pengelolaan secara inklusif. Kepala madrasah, guru dan bahkan tenaga kependidikan adalah individu yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi dalam memahami siapa sesungguhnya mitra didiknya.

Ketiga, Model MIT Arroihan. Di dalam program pembelajaran, ternyata ada beberapa prinsip yang kiranya bisa dijadikan model, yaitu: 1) mengembangkan pekerti adiluhung atau character building. Prinsip dasar dari pekerti adiluhung adalah konsep Al Rahman dan Al Rahim, melalui konsep ini, maka semua peserta didik adalah bagian rahman dan Rahim Tuhan, sehingga tidak terdapat diskiriminasi di dalam program pembelajaran. Hanya perlakuan khusus saja yang dibutuhkan. 2) prinsip pendidikan pekerti adiluhung adalah mengenal Allah berbasis pada ajaran tasawuf. Pekerti adiluhung juga berprinsip pada tanggung jawab dalam menghadapi kehidupan, misalnya janji harus ditepati, komitmen terhadap apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan, di sini diajarkan mengenai kejujuran. Selain itu juga mengajarkan konsistensi tentang apa tujuan dan apa yang dilakukan, makanya MIT Arroihan menyelenggarakan pendidikan tanpa memandang ABK dalam keadaan apapun dan menerima siapapun yang perlu belajar di sini. Prinsip keikhlasan yang diterapkan inilah akhirnya membawa pada kemajuan lembaga karena semua pimpinan dan guru merasa memiliki visi dan missi yang sama untuk mendidik anak-anak, termasuk ABK.

Oleh karena itu, MIT Arroihan dapat dijadikan sebagai role model di dalam pembelajaran ABK. Dan sejauh ini MIT Arroihan terus berupaya untuk menjadikan lembaga pendidikan ini sebagai yang terbaik, dengan menghasilkan ABK tetapi memiliki prestasi yang membanggakan, misalnya siswanya bisa menjadi juara dalam berbagai lomba robotic baik nasional maupun regional.

Dan yang tidak kalah penting adalah dukungan pemerintah, khususnya Kementerian Agama untuk membangun institusi pendidikan inklusi sebagai prioritas program, selain program unggulan yang sudah ada selama ini. Melalui program unggulan pendidikan inklusi, maka akan tampak betapa konsep education for all sungguh telah menjadi komitmen kita bersama.

Wallahu a’lam bi al sahwab.

 

MENJADI SARJANA YANG PROFESIONAL

MENJADI SARJANA YANG PROFESIONAL

Meskipun sarjana atau lulusan strata satu dalam KKNI berlevel 6 atau seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan pemecahan masalah dengan pendekatan monodisiplin, akan tetapi tidak berarti bahwa sarjana itu tidak memiliki kemampuan yang memadai dalam bidangnya. Itulah pesan inti yang saya sampaikan dalam acara pembekalan bagi para mahasiswa yang diyudisium oleh IAIN Kediri, 24/11/2019, di Aula IAIN Kediri. Yang diyudisium sejumlah 582 orang dari berbagai Fakultas di IAIN Kediri.

Hadir pada acara ini adalah Rektor IAIN Kediri, Dr. Nurhamid, para wakil rector, dekan dan wakil dekan, para dosen, Kabiro IAIN Kediri dan jajaran pejabat serta para mahasiswa dan mahasiswi IAIN Kediri. Saya tentu bersyukur bisa bertemu dengan para mahasiswa yang hari ini diyudisium dan juga bisa melihat kembali perkembangan IAIN Kediri pasca transformasi dari STAIN Kediri, dua tahun yang lalu. Perkembangan fisiknya tentu sangat baik berkat sentuhan anggaran SBSN yang menjadi skema Kemenag dalam kerangka memperkuat sarana dan prasarana pendidikan pada PTKIN.

Saya menyampaikan tiga hal terkait dengan pembekalan pada para mahasiswa yang diyudisium. Pertama, saya mengapresiasi dengan sangat mendalam atas penyelesaian studi, baik untuk program sarjana maupun pasca sarjana. Saya menyatakan bahwa “saudara-saudara yang diyudisium hari ini adalah orang-orang hebat, dan pasti dilahirkan dari orang-orang hebat”. Jika orang tua kita tidak hebat pasti kita tidak akan bisa meraih titel sarjana atau pasca sarjana. Apapun fakultas anda dipastikan bahwa anda dan orang tua anda adalah orang-orang yang terpilih untuk menghadirkan orang-orang hebat”. Ada sebuah pernyataan orang tua (Bapak) saya, yang selalu saya kenang sebelum Beliau meninggal. Pada suatu sore ba’da maghrib, Beliau menyatakan dalam bahasa Jawa, kira-kira dalam bahasa Indonesia bisa dinyatakan: “aku ingin menyekolahkan kamu tinggi sekali, tetapi rasanya sudah tidak kuat”. Pagi hari jam 05.00 WIB,   pagi tanggal 1 Ramadlan, beliau dipanggil kembali oleh Allah”. Kata-kata ini yang memicu saya untuk terus dan terus sekolah melawan terhadap keinginan masyarakat agar saya berhenti sekolah”. Jadi, saya yakin bahwa orang tua anda adalah orang-orang yang hebat dengan cita-cita yang sangat baik untuk pendidikan anak-anaknya.

Ucapan selamat juga pantas saya sampaikan kepada jajaran Rektorat, Dekanat, dan para tenaga kependidikan yang sudah melayani dan memberikan ilmunya kepada anda semua. Tanpa kehadiran dosen dan tenaga akademik, maka mustahil anda bisa duduk dalam barisan para sarjana yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan para pemuda lainnya. Ketulusan para dosen akan menentukan bagaimana kehidupan anda di masa yang akan datang. Pada dosen adalah orang yang membuka jendela rumah ilmu pengetahuan. Dan anda yang melanglang dunia ilmu di rumah ilmu pengetahuan tersebut. Kita adalah “the Seeker”, “the Explorer” yang bisa membuka pintu demi pintu pengetahuan yang sudah dibuka oleh para dosen.

Kedua, para alumni pendidikan tinggi memiliki tantangan yang sangat besar di era perkembangan teknologi informasi. Tantangan tersebut berupa semakin menguatnya artificial intelligent (AI) atau kecerdasan buatan seperti robot yang multifungsi. Robot rumah tangga akan bisa melayani kebutuhan dalam pelayanan kerumahtanggaan, mobil tanpa supir yang dibuat oleh Volvo dan juga truck tanpa sopir yang diinsiatifkan oleh Daimler akan mengubah peta tenaga kerja. Lalu juga munculnya aplikasi-aplikasi di bidang pendidikan juga akan mengubah peta dunia pendidikan menjadi “berkurangnya” peran guru atau dosen dan sebagainya.

Kita sedang berada di era milenial dengan ciri khasnya yang unik. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh IDN Research Center tentang “Indonesia Milenial Report 2019” dinyatakan bahwa 47,7 persen generasi milenal memperoleh pekerjaan lewat media sosial. Dan mereka bekerja reratanya 2-3 tahun saja. Mereka suka melakukan perpindahan, dengan alasan mencari pekerjaan yang bebas berinovasi, nyaman dalam waktu dan disupport oleh team. Hal ini tentu dikaitkan dengan generasi milenial yang memang menguasai TI sangat baik, dalam belajar mereka mencari pengalaman, tukang explorer, suka yang hal-hal yang bersifat instant, tetapi memiliki kemampuan kolaborasi atau kerja sama team yang sangat baik.

Lalu, tantangan pekerjaan di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang memastikan tidak ada proteksi dan pembatasan masuknya tenaga kerja asing yang professional. Jika kita teriak tentang masuknya tenaga kerja Cina ke Indonesia tentu disebabkan yang masuk bukan tenaga kerja professional dimaksud. Ke depan, tenaga professional akan semakin banyak bekerja di Indonesia. Negara seperti Filipina telah mengirim paramedic ke Arab Saudi karena mereka memiliki kemampuan bahasa Inggris dan professional dalam bekerja. Ini adalah contoh yang baik bagi tenaga kerja Indonesia.

Selain itu juga tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang sekarang memasuki era baru, berupa kecenderungan generasi milenial yaitu kecenderungan untuk memasuki ajaran agama yang radikal. Hasil survey IDN Research Center 2019 menggambarkan bahwa sebanyak 19,5 persen generasi milenial mendukung adanya khilafa, sementara 81,5 persen mendukung NKRI. Ini adalah early warning bagi para generasi senior bahwa ada perkembangan baru di kalangan anak-anak muda kita di Indonesia. Kewaspadaan sangat diperlukan dalam kerangka membentengi terhadap keberlangsungan NKRI dengan Pancasila sebagai Dasar Negara dan UUD 1945 sebagai landasan yuridisnya.

Ketiga, apa yang bisa dilakukan?. Saya menyatakan bahwa kita harus memasuki dunia global dengan kepala tegak. Caranya ialah dengan menguasai piranti dunia global, yaitu kemampuan bahasa yang baik, dan kemampuan TI yang memadai. Jangan berpikir bahwa “saya bukan alumni TI”, tetapi yang penting adalah bagaimana kita bisa berkolaborasi untuk mengembangkan pekerjaan berbasis TI. Mas Nadim Makarim tidak bekerja sendiri dengan Go Jek, lalu berkembang menjadi Go Pay, Go Food, Go Send, Go Massage dan sebagainya. Semua dikerjakan oleh team. Jack Ma, raja pebisnis on line, Alibaba.com juga guru bahasa Inggris yang karena kecerdasannya bisa bekerja sama dengan para ahli TI untuk mengembangkan bisnis yang sekarang bahkan sudah mengalahkan Amazon.com.

Kuasai Bahasa dunia (Arab, Inggris dan lainnya) dengan baik, kuatkan kolaborasi dan kerja sama antar bidang serta kuasai teknologi informasi dengan baik, maka kita akan bisa bersaing dengan orang lain. Jadilah guru yang menguasai aplikasi teknologi pembelajaran, kuasai aplikasi pembelajaran tafsir dan hadits, atau ilmu al Qur’an, Kuasai hukum Islam dengan baik melalui kemampuan TI yang memadai, maka kita akan bisa bersaing dengan para competitor. Jika saya dan generasi “colonial” untuk menyebut generasi “baby boomer” cukup dengan kemampuan dasar saja tentang TI, maka anda sebagai generasi milenial harus memahami aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan untuk bekerja.

Jadilah orang professional, yaitu orang yang tidak ketinggalan dengan zamannya. Jangan menjadi generasi masa lalu di era generasi milenial. Jadilah generasi milenial dengan pemikiran dan aksi milenial. Saya berkeyakinan bahwa sebagai orang hebat kita pasti akan bisa melampaui tantangan demi tantangan dengan kepala tegak dan dada membusung.

Kita sudah memiliki value, believing, berpikir independent, kerja sama tim yang baik dan juga kepedulian pada orang lain. Modalitas ini saya kira perlu dijadikan sebagai kekuatan dalam meraih masa depan yang jauh lebih baik. Man jadda wa jadda.

Wallahu a’lam bi al shawab.

COASTAL PARADISE: SOCIO, CULTURAL AND ECOLOGICAL PERSPECTIVE

COASTAL PARADISE: SOCIO, CULTURAL AND ECOLOGICAL PERSPECTIVE

Saya diminta oleh Ibu Dr. Eni Purwati, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya untuk menemani Prof. Kunifumi Tagawa, PhD, Director/Associate Professor pada Graduate School of Integrated Science for Life Marine Biological Laboratory, Hiroshima University Japan. Dan yang juga menjadi narasumber lainnya adalah Rumaidi, PhD, Dosen pada Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki, Malang dan juga alumni Hiroshima University.

Sebagai narasumber saya menyampaikan beberapa hal, terkait dengan bagaimana relasi antara manusia, kehidupan kelautan dan berbagai aspek sosial, budaya, ekonomi, politik dan budayanya. Pertama, saya sampaikan tentang Ecosystem science. Bidang ini merupakan bidang integrasi ilmu, yang menjelaskan mengenai saling relasi antara satu discipline dengan discipline lainnya. Di antara yang dapat diintegrasikan adalah mengenai ecology, marine and coastal science, biogeochemistry, eco-physiology, meteorology, botany, climatology, zoology, hydrology, microbial ecology, conservation biology, biogeography, dan sebagainya. bahkan tidak hanya interdisipliner tetapi multidisipliner. Ada banyak discipline yang harus dikaji untuk sampai kepada ecosystem science.

Alam dan masyarakat memiliki relasi timbal balik. Alam adalah sumber daya yang dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai users. Untuk memahami relasi antara nature and society, maka diperlukan pengetahuan, praksis, institusi dan teknologi. Pengetahuan tentang alam sebagai sumber daya diperlukan agar pemanfaatannya sesuai dengan kehendak bersama, juga diperlukan institusi yang bisa mengelola sumberdaya alam secara baik, dan juga teknologi yang sesuai dengan kapasitas dan kegunaannya untuk kesejahteraan masyarakat. Alam dan kesejahteraan sosial juga saling bernegosiasi, misalnya climate and ocean yang bersahabat, habitat yang terjaga, human activities yang bermanfaat untuk kehidupan ekonomi dan masyarakat. Di antara factor-faktor ini tentu saling berkorelasi secara sistemik, sehingga tidak saling menegasikan. Di antara yang menjadi penyeimbangnya adalah pemerintah dengan regulasi serta segala program dan aktivitasnya.

Kedua, system social dan ecology tersebut saling terkait. Keduanya memiliki korelasi timbal balik. Suatu ketika konsep system sosial mempengaruhi terhadap ecologi dan sebaliknya. Social system, terdiri dari demografi, teknologi, ekonomi dan budaya masyarakat yang dapat berpengaruh terhadap marine ecosystem, baik yang bercorak spatial dan temporal, termasuk perubahan ekosistem pantai dan perairan dunia. Lalu, ecosystem juga berkorelasi dengan perubahan persepsi, pengaturan dan management marine system. Perubahan ekosistem dan social system tersebut berlangsung dengan sangat sistemik. Ikan berkorelasi dengan produk makanan, artinya bahwa ketersediaan makanan bagi manusia sangat tergantung dengan ketersediaan ikan, dan penangkapan ikan juga berpengaruh terhadap pelestarian ikan langka, dan juga konservasi burung. Burung-burung pemakan ikan sangat tergantung pada ketersediaan ikan. Sementara itu, pemerintah juga memiliki peran besar, antara lain terhadap kehidupan kaum nelayan, penerapan teknologi, dan kebijakan yang lebih luas, misalnya PBB. Sementara itu teknologi sangat berpengaruh terhadap penangkapan ikan, dan juga pelestarian dolphin dan sebagainya. Kelangkaan dolphin, misalnya akan bisa menjadi bahan informasi untuk institusi konvervasi dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap pemerintah dan public. Jadi, secara sistemik betapa terdapat saling keterkaitan antar subsistem di dalam ekosistem dan social system dimaksud. Di dalam penyusunan kebijakan mestilah mempertimbangkan keterkaitan sistemik ini, agar program atau kebijakan yang dirumuskan menjadi relevan dengan tujuan untuk perbaikan kehidupan manusia berbasis pada kebaikan ekosistemnya.

Ketiga, human activities dan pelayanan ecosystem. Relasi antara human activities dengan ecosystem services merupakan relasi yang saling terkait. Di dalam human activities dan ecosystem services terdapat dua aspek yang penting, yaitu social system dan ecosystem. Pada aspek social system, maka di dalamnya terdapat relasi-relasi yang saling berhubungan, misalnya tingkat pengetahuan, penerapan teknologi, organisasi sosial, kependudukan dan nilai-nilai yang menjadi pattern for behavior. Jadi, dapat dinyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan tentang teknologi dalam suatu wilayah kependudukan tentu dapat mempengaruhi keterlibatan dalam organisasi sosial yang berbasis nilai. Di andaikan bahwa semakin banyak organisasi sosial yang bergerak di dalam konvervasi peraitan laut yang berbasis teknologi terapan, maka akan semakin banyak pengetahuan masyarakat tentang upaya konservasi perairan laut.

Dari sisi system ekologi, maka dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang sangat complex terkait dengan tumbuhan, udara, air, minyak, binatang mikroorganisme dan manusia yang membentuk struktur. System ekologi ini memiliki keterkaitan yang saling mempengaruhi, sehingga jika terdapat satu subsistem yang “rusak” maka akan berpengaruh terhadap subsistem lainnya. Misalnya, kerusakan kualitas air, maka akan berpengaruh pada keseluruhan sub system lainnya. Dalam kerangka mewujudkan keinginan untuk mengembangkan life marine yang seimbang dan berkelanjutan, maka dibutuhkan interaksi positif dari subsistem pembangunan, artinya semua aspek dalam pembangunan haruslah memperoleh sentuhan yang tepat dan memadai, meskipun tidak harus selalu sama dalam jenis kegiatan dan programnya. Selayaknya diupayakan pembangunan komunitas, pelestarian dan pengembangan sumber daya alam, pengembangan budaya, peningkatan ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan, penyusunan kebijakan dan penguatan spiritualitas. Aspek spiritualitas mestilah dijadikan sebagai basis di dalam pembangunan subsistem pembangunan lainnya. Dimensi spiritualitas mesti menjadi pola bagi tindakan bagi semua pengembangan ekosistem maupun system sosial di dalam suatu negara.

Tentu ada beberapa capaian yang sudah dihasilkan dalam bidang pembangunan ekonomi, politik, ecologi dan budaya. Dalam pembangunan tersebut yang terasa masih memerlukan sentuhan lebih memadai adalah dari aspek ekologi, sebab hanya aspek place and space saja yang cukup memadai, akan tetapi untuk material and energy, water and air, flora and fauna, habitat and food, construction and settlement serta emission and waste, masih perlu sentuhan lebih fundamental. Sementara itu untuk pembangunan ekonomi, dengan indicator production and resourcing, exchange and transfer, accounting and regulation, consumption and user, labor and welfare, technology and infrastructure, wealth and distributions sudah lumayan memadai., hanya indicator terakhir yang masih belum optimal.

Sementara itu dalam bidang budaya, dengan indicator engagement and identity, recreation and creativity, memory and projection, believe and meaning, gender and generations, enquiry and learning, health and wellbeing rasanya sudah cukup memadai, sekurang-kurangnya tidak ada yang berwarna merah atau kritis, jelek, highly unsatisfactory atau satisfactory minus. Dari dimensi politik juga lumayan memadai, dari berbagai indicator misalnya organization and governance, law and justice, communications and movement, security and accord, dialogue and reconciliation, ethnics and accountability, kiranya dapat dinyatakan bahwa dua aspek terakhir saja yang memang belum optimal.

Dari kasus upaya melakukan perubahan yang terstruktur, saya akan mengambil contoh Kabupaten Tuban. Ada beberapa hal yang saya kira bisa dilihat perubahan dalam kebijakan pemerintah, misalnya dari aspek budaya terus dikembangkan upacara ritual sosial seperti Upacara Petik Laut, yang merupakan upacara bersyukur dan sekaligus juga memaknai kehadiran laut sebagai berkah Tuhan YME, Demikian juga festival laut untuk menandai kegembiraan dan suka cita akan kehadiran laut yang menjadi sumber ekonomi masyarakat pesisir, kemudian konvervasi pantai dengan hutan mangrove, menjaga ecologi laut, pembangunan economy dengan pemberdayaan kaum nelayan, mengembangkan potensi komunitas dengan organisasi sosial, dan menghidupkan folklore yang berkaitan dengan lautan, dan sebagainya.

Upaya ini memang belum optimal, akan tetapi kesadaran pemerintah dan perlunya support masyarakat menjadi kunci keberhasilan untuk masa depan laut dan ekosistemnya. Jadi, ada banyak potensi dan peluang yang bisa dilakukan dalam kerangka membangun kehidupan ekosistem yang lebih bermakna di masa depan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

GENERASI MILENIAL DALAM JERAT RADIKALISME NEGATIF

GENERASI MILENIAL DALAM JERAT RADIKALISME NEGATIF

Meskipun banyak orang menyatakan bahwa generasi milenial kita bisa diharapkan untuk menjadi pilar bagi keberlangsungan NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai landasan yuridisnya, akan tetapi saya kira tetap harus ada keprihatinan –di kalangan generasi yang lebih senior—terutama dalam menghadapi sebagian generasi milenial yang berkeinginan berbeda dengan generasi sebelumnya, terutama terkait dengan ideology negara.

Kekhawatiran atau keprihatinan ini tentu bukan tanpa dasar. Keprihatinan atau kekhawatiran tersebut berangkat dari keinginan generasi yang lebih senior agar para penerus generasi di Indonesia tetap berada di dalam satu barisan untuk menegakkan empat consensus kebangsaan, yaitu: Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan kebinekaan.

Era milenial adalah era disrupsi. Suatu era yang penuh dengan ketidakpastian, perubahan demi perubahan yang sedemikian cepat, dan semakin menguatnya tantangan kehidupan ekonomi dan sosial yang juga berubah dengan cepat. Melalui kehadiran artificial intelligence (AI), maka banyak pekerjaan manusia yang digantikan oleh robot-robot dengan segala kekuatan dan kelebihannya. Manusia menjadi terdesak dengan teknologi ciptaannya sendiri.

Di era seperti ini, para milenial harus tetap berada di dalam koridor kebangsaan dan keindonesiaan. Mereka harus tetap menjadi bagian dari warga negara Indonesia yang setia dengan ideology Pancasila dan NKRI. Sementara itu, mereka hidup dengan tantangan yang tidak sedikit terkait dengan semakin maraknya inovasi-inovasi yang terkadang justru menyulitkan kehidupannya. Itulah sebabnya, generasi sebelumnya selalu menyatakan bahwa: “tidak ada yang lebih utama bagi warga negara Indonesia kecuali harus mempertahankan ideology Pancasila dan NKRI sebagai bentuk final negeri ini”.

Namun demikian, kegundahan itu terus muncul. Salah satunya tentu hasil bacaan atas perilaku generasi milenial, sebagaimana dilaporkan oleh IDN Research Institute, dengan Tema: “Indonesia Milenial Report 2019”, yang menyatakan bahwa 81,5 persen milenial mensupport Indonesia sebagai Republik, 19,5 persen millennial menyatakan bahwa Indonesia akan lebih baik dengan system khilafah. Dan juga perempuan yang siap menjadi teroris. Data ini dapat dibandingkan dengan hasil survey yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Universitas Negeri Jember, bahwa sebanyak 22 persen mahasiswanya terpapar virus radikalisme.

Hasil survey ini tentu mengkhawatirkan, sebab 19,5 persen merupakan angka yang lumayan besar. Jika dibandingkan dengan hasil survey lain, misalnya Survey CSIS (2017) tentang keinginan mengganti Pancasila dengan ideologi lain, maka disimpulkan bahwa: Gambaran setuju dari usia 17-29 tahun (generasi milenial) sebanyak 9,5% dan usia 30 tahun ke atas (generasi non milenial) 11,8%. Gambaran tidak setuju untuk usia 17-29 tahun (generasi milenial) 90,5% dan usia 30 tahun ke atas (generasi non mileneal ) 85,4%. Dukungan terhadap Pancasila sangat kuat di kalangan milenial dan non-milenial (Dari sisi presentase, dukungan terhadap Pancasila lebih besar di pemilih milenial). Gagasan untuk mengganti Pancasila mendapat banyak penolakan.

Prediksi tahun 2020, Generasi milenial berjumlah 83 juta atau 34 persen dari total populasi Indonesia sebesar 271 jiwa, generasi X sebanyak 53 juta atau 20 persen, dan generasi baby boomers sebanyak 35 juta atau13 persen. Jika yang terpapar virus radikalisme sebanyak 19,5 persen berarti sebanyak 16,85 juta. Tentu bukan angka eksak tentang jumlah itu, tetapi gambaran bahwa terdapat jumlah yang cukup besar dari generasi milenial yang terpapar radikalisme itu sangat mengkhawatirkan. Sebab selama ini kisaran generasi milenial yang cenderung intoleran dan berkeinginan mengganti Pancasila dengan ideology lain adalah 9-11 persen.

Data inilah yang saya kira patut untuk menjadi pencermatan dan sekaligus juga sebagai wake up call, bahwa kaum radikal negative itu telah semakin banyak jumlahnya. Dari tahun ke tahun kuantitas mereka semakin membesar. Artinya, bahwa mereka yang terkena virus radikalisme semakin membesar dan semakin menguat. Dan hal ini juga sekaligus memberikan makna bahwa upaya kaum radikalis negative cukup berhasil dalam mempengaruhi terhadap anak-anak muda generasi milenial.

Dan sementara itu, pemerintah juga selalu diserang jika menjadikan radikalisme negatif sebagai sasaran program, misalnya BNPT dengan deradikalisasi dan Kementeraian Agama dengan Moderasi Beragama. Pemerintah selalu dianggap mengada-ada dan membesar-besarkan radikalisme sebagai common enemy. Ada kegamangan di kalangan masyarakat kita untuk menjadikan mereka yang terpapar radikalisme sebagai sasaran pembinaan. Bahkan juga ada di kalangan aparat negara yang menyangsikan tentang keberadaan radikalisme negative ini.

Masih ada anggapan bahwa teks radikalisme yang dinyatakan oleh pemerintah sebagai pengalihan issue, pencitraan, dan bahkan rekayasa. Oleh karena itu, bisa jadi bahwa pemerintah pun akhirnya juga gamang untuk melakukan perlawanan terhadap radikalisme negative tersebut. Anehnya, di sana-sini ternyata terdapat bom bunuh diri, dan gerakan ekstrimisme lainnya.

Oleh karena itu, tetap diperlukan upaya untuk menjadikan radikalisme negative sebagai “lawan” yang harus diperhitungkan dalam kerangka untuk mempertahankan NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai basis yuridis negeri ini. Saya kira urusan radikalisme negative bukan hanya urusan pemerintah saja tetapi juga masyarakat pada umumnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

WAKAF UANG DAN ERA BARU PERWAKAFAN DI INDONESIA

WAKAF UANG DAN ERA BARU PERWAKAFAN DI INDONESIA

Di masa lalu, wakaf itu hanya dikenal dengan dua hal saja, yaitu wakaf tanah dan wakaf barang atau aset. Dua ini saja yang menjadi bagian dari penyelenggaraan wakaf di Indonesia. Kalau tidak wakaf tanah, tentu wakaf barang, misalnya bangunan, atau barang bergerak lain yang sesuai dengan tujuan wakaf.

Namun demikian, dewasa ini wakaf telah memiliki jenis dan bentuk yang sangat variatif. Selain wakaf tanah dan barang atau asset juga dikenal adanya wakaf uang. Yaitu wakaf dalam bentuk uang yang nanti jika sudah terkumpul dalam jumlah yang memadai akan bisa didayagunakan untuk kepentingan umum umat Islam. Bisa saja untuk pendidikan, dakwah dan kegiatan sosial lainnya.

Kita sungguh merasakan bahwa denyut nadi gerakan wakaf sudah mulai terdapat di tengah masyarakat. Ada banyak gerakan wakaf yang sudah diusung oleh masyarakat dalam kerjasamanya dengan Badan Wakaf Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah. Salah satu di antara yang berkembang lumayan pesat adalah wakaf uang.

Wakaf uang ialah wakaf yang dilakukan seseorang atau kelompok orang dan lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai, termasuk dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga. Wakaf uang memang dapat dijadikan alternative bagi orang yang ingin wakaf tetapi tidak dapat melakukannya dengan menggunakan asset atau property lainnya. Makanya, wakaf uang menjadi trend baru di kalangan masyarakat muslim di Indonesia.

Secara potensial, wakaf uang di Indonesia sungguh luar biasa. Secara keseluruhan potensi wakaf uang di Indonesia sebesar 180 trilyun rupiah. Namun dalam perjalanan selama tahun 2011-2018 baru terakumulasi sebesar 255 Milyar. Hal ini merupakan indikasi masih rendahnya potensi wakaf uang yang bisa diaktualkan. Oleh karena itu tentu diperlukan upaya lebih keras untuk meminimalkan kesenjangan antara potensi wakaf uang secara konseptual dan realisasi wakaf uang secara empiris.

Di Indonesia sudah banyak Lembaga Keuangan Syariah (LKS-PWU) yang memiliki izin untuk menerima wakaf uang dimaksud. Mereka adalah lembaga-lembaga keuangan yang sudah absah untuk menjadi lembaga penghimpunan dan penerimaan wakaf uang, dan kemudian nazir akan mengelola hasil wakaf uang tersebut untuk kepentingan umat Islam, misalnya mendirikan Rumah Sakit, Lembaga Pendidikan, Lembaga Keuangan local dan sebagainya.

Memang harus diakui bahwa literasi wakaf di Indonesia masih rendah. Masyarakat masih beranggapan bahwa wakaf itu dengan tanah atau asset/bangunan, sehingga jumlah wakif sangat terbatas. Jika tidak memiliki tanah atau asset yang bisa diwakafkan, maka yang bersangkutan merasa tidak terbebani dengan keinginan wakaf ini.

Ada beberapa tantangan yang kiranya patut untuk dicermati, yaitu: pertama, Saya kira gerakan literasi wakaf menjadi urgen di tengah keinginan untuk membesarkan kuantitas dan kualitas wakaf. Melalui wakaf alternative atau wakaf uang, maka siapapun bisa menjadi wakif dengan kemampuan dana untuk diwakafkan. Melalui wakaf uang, maka siapapun bisa menjadi wakif dengan cara mengeluarkan “sedikit” uang untuk diwakafkan bagi pembangunan masyarakat –khususnya masyarakat Islam –dengan berbagai program yang telah dikembangkan bersama. Untuk program literasi wakaf BWI sudah menggerakkan media sosial, duta wakaf, sosialisasi ke berbagai lembaga pemerintah maupun swasta dan sebagainya.

Kedua, saya kira diperlukan upaya untuk menjemput wakaf terutama pada para stakeholder, misalnya lembaga birokrasi, lembaga pendidikan, lembaga sosial keagamaan, atau lembaga sosial kemasyarakatan. Kita sudah memiliki program “Wakaf Go to Campus”, dan saya kira juga diperlukan “Wakaf Go to Bureaucracy”, “Wakaf Go to Organization”, “Wakaf Go to Business”, “Wakaf Go to State Apparatus” dan sebagainya.

Selain program wakaf uang, yang saya kira sudah cukup dipahami oleh public, maka yang juga sedang diupayakan secara serius adalah Wakaf Link Syukuk. Melalui variasi model-model wakaf, maka sesungguhnya merupakan upaya untuk mendiversifikasi pola wakaf dan sekaligus juga untuk menarik public agar melakukan wakaf. Wakaf memang harus menjadi gerakan, sehingga akan lebih banyak pengaruhnya kepada public tentang apa dan bagaimana wakaf tersebut dapat memberikan sumbangan yang signifikan bagi kehidupan masyarakat.

Di Mesir, dana wakaf bisa digunakan untuk talangan alternative bagi pendanaan program pemerintah yang tidak cukup anggarannya, atau bahkan bisa dijadikan untuk menutup deficit anggaran pemerintah. Dana wakaf Universitas Al Azhar pernah dipinjam oleh pemerintah untuk kepentingan pembangunan. Di Arab Saudi, dana wakaf juga bisa digunakan untuk membangun hotel, Rumah Sakit, atau fasilitas public lainnya, yang menguntungkan sehingga dana yang dihasilkannya akan bisa didayagunakan untuk kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, dana wakaf adalah keuangan public. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk terus menerus membangun trust, agar kepercayaan public kepada para nazir akan terjaga. Wakaf uang dapat menjadi fitnah yang luar biasa jika pengelolaannya tidak memenuhi standart yang tepat. Oleh karena itu diperlukan setiap lembaga keuangan yang bergerak di bidang wakaf uang untuk memiliki “penyelia” atau “auditor” dana wakaf. Tugasnya antara lain adalah memastikan bahwa dana wakaf yang terkumpul dipastikan didayagunakan sesuai dengan program dan kegiatan yang dikategorikan sebagai pemanfaatan dana wakaf.

Saya kira semua pengelola dana wakaf harus menjaga dana public atau dana amanah ini secara benar agar ke depan kepercayaan terhadap para pengelola zakat akan semakin membaik dan berpotensi untuk semakin banyak menarik jumlah wakif –khususnya wakaf uang—yang ke depan akan sangat prospektif.

Wallahu a’lam bi al shawab.