• January 2019
    M T W T F S S
    « Dec    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MERAWAT HOMOGENITAS

MERAWAT HOMOGENITAS

Bagi mereka yang tidak memiliki relasi sosial yang memadai, maka tentu tidak akan merasakan betapa kehidupan ini sungguh hanyalah terdiri dari satu warna saja. Hal ini tentu terkait dengan relasi sosial yang hanya dengan kelompoknya saja, sehingga hubungan kemasyarakatannya hanyalah terbatas pada relasi yang dibangunnya tersebut. Bisa saja relasi itu hanyalah dengan sesama agama atau lainnya.

Jika kita hidup di dunia pedesaan yang relative homogeen, maka denyut perbedaan itu nyaris tidak dijumpai. Di Indonesia, ada sangat banyak wilayah-wilayah yang sangat homogeen, baik dari sisi kesukubangsaan, keagamaan dan sosial ekonominya. Mereka bergaul dengan sesamanya tanpa ada perbedaan yang riil sebagai masyarakat plural.

Dalam beberapa hari terakhir saya berada di desa tempat kelahiran saya untuk menyambangi orang tua saya –yang tinggal satu-satunya, Ibu—dalam usia yang cukup tua. Meskipun demikian, beliau masih tampak sehat dalam takaran orang seusianya. Rasa kebahagiaan itu terpancar dari sinar matanya yang teduh, sebab anak samata wayangnya itu berada di dekatnya. Memang dalam waktu 6,5 tahun terakhir, saya termasuk jarang hadir bersamanya karena tugas-tugas saya sebagai pejabat structural di Jakarta.

Kehadiran saya di desa ini tentu mengingatkan kembali ingatan saya tentang desa ini pada tahun 1970-an, yang masih sepi belum banyak rumah-tumah berdinding beton, dan jalan-jalan desa yang becek di kala hujan dan gelap sebab belum terdapat penerangan listrik seperti sekarang. Sungguh terdapat perubahan yang sangat signifikan dalam realitas fisik desa dalam tahun-tahun terakhir.

Secara fisikal saya kira sudah sangat berubah. Pun kehidupan ekonomi yang juga sudah berubah. Di masa lalu, kebanyakan hanyalah petani dan buruh tani saja, akan tetapi sekarang sector jasa sudah menjadi bagian dari pekerjaan masyarakat. Sudah ada banyak toko dengan barang atau produk industry, dan juga pegawai BUMN dan swasta yang semakin banyak. Sector pertanian justru sudah tidak lagi bergairah sebagaimana di tahun 1970-1980-an. Terdapat perubahan orientasi kerja di kalangan masyarakat desa.

Namun yang saya kira tetap tidak berubah ialah tentang kehidupan keagamaan dalam konteks pemahaman agama sebagaimana Islam ahl sunnah wa al jamaah atau NU. Maklum mereka mengartikan Islam ala ahl sunnah wa al jamaah itu ialah NU dan bukan lainnya. Makanya semenjak dari dahulu selalu terdapat acara-acara yang dikemas sebagai tradisi Islam, seperti Dzibaan, Tahlilan, Yasinan, Muludan, Rejeban, Suroan, riyayan, dan sebagainya. Akhir-akhir ini, seirama dengan semakin kuatnya pengaruh Habib Syekh dalam bacaan shalawatan, maka juga berlangsung acara grup shalawatan. Jika bulan Rabi’ul awal, maka sebulan penuh ada acara “udukan” atau selamatan dengan nasi gurih untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Nyaris setiap malam terdapat acara-acara seperti ini.

Nyaris tidak didapatkan pandangan yang berbeda tentang pengamalan Islam seperti ini. Masyarakat hidup dalam pola paguyuban dalam peribadahan. Didapati di pedesaan Jawa, misalnya kelompok NU dan Muhammadiyah, akan tetapi nyaris juga tidak didapati acara-acara pengajian yang saling menjelekkan, atau membidh’ahkan apalagi mengkafirkan antar penggolongan beragama itu. Hanya biasanya, yang Muhammadiyah beribadah di masjidnya jika jumlahnya cukup banyak, sementara yang NU beribadah di masjidnya atau mushallanya. Meskipun di dalam desa terdapat banyak tempat ibadah –masjid atau mushalla—akan tetapi kemesraan sebagai warga bangsa dan agama itu terjadi secara alami.

Meskipun di era menjelang pilpres 2019, kehidupan sosial nyaris tidak terpengaruh. Tidak ada greget untuk berbeda secara tajam dan saling menyatakan dukungan. Semua berjalan sebagaimana adanya. Jika waktu shalat Magrib, Isyak atau Shubuh, maka mereka datang ke masjid atau mushalla dan melakukan shalat secara berjamaah. Bahkan di dalam pembicaraan sebelum atau sesudah shalat juga sangat monoton, di seputar dunia pertanian atau pergadangan di desa.

Tidak ada perbincangan tentang siapa calon presiden atau wakil presiden. Saya yakin bahwa mereka pastilah mendengarkan berita di televisi atau lainnya, akan tetapi kehidupan mereka tidak terpengaruh dengan berita-berita di televisi. Hoax atau berita bohong juga didengarnya, tetapi hal itu tidak menjadi pokok pembicaraannya. Meskipun gambar-gambar atau baliho-baliho bertebaran di jalan-jalan utama antar kecamatan dan juga di desa-desa akan tetapi mereka tidak terusik untuk menilainya.

Sungguh saya merasakan denyut kehidupan masyarakat desa kita berada di dalam keteraturan sosial yang sesungguhnya. Di sinilah sebenarnya kehidupan yang harmonis dan rukun itu terjadi dengan sempurna. Dan kita merasa nyaman di dalamnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJAGA TRADISI MENUAI KEARIFAN (4)

MENJAGA TRADISI MENUAI KEARIFAN (4)

Saya tentu merasakan bahwa upaya untuk menjaga tradisi berbangsa, bernegara dan berbudaya sebagai bangsa Indonesia itu terus menerus dilakukan. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya merupakan masyarakat yang mencintai keharmonisan, kerukunan dan perdamaian. Berdasarkan atas kajian yang mendalam akan dapat diketahui bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia ialah masyarakat yang secara religious memahami agamanya dengan cara yang moderat atau wasathiyah.

Dalam beberapa hari terakhir saya berada di pedesaan, dan saya mengetahui bagaimana denyut nadi kehidupan masyarakat yang aman dan damai, jauh dari hiruk pikuk hoax dan berita palsu, berita bohong dan masalah-masalah yang membelit relasi hubungan antar agama dan sebagainya. Meskipun mereka sebenarnya memahami bahwa ada kelompok lain atau etnis dan suku lain di negeri ini, namun mereka menganggap bahwa semuanya adalah bagian dari warga masyarakat yang layak dan berhak hidup di negara ini. Jika ditanya, apa yang menjadi concern mereka di dalam kehidupan, maka akan dijawab “yang penting hasil pertaniannya baik dan laku pada saatnya”. Atau jawaban lain yang terakit dengan ekonomi subsistensi.

Perubahan yang terjadi tentu pada generasi muda. Di mana mereka telah mengalami desakan perubahan terutama di era teknologi informasi. Banyak anak-anak muda yang sudah mengakses internet dan lainnya. Selain juga pergaulan di ruang-ruang kerja dan pergaulan. Namun sejauh yang bisa diketahui bahwa mereka ternyata juga tidak tergerak untuk terlibat di dalam aktivitas yang secara umum bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Masyarakat di pedesaan jauh dari hiruk pikuk politik identitas, politik berbaju agama, politik pilpres dan sebagainya. Saya harus sampai pada kesimpulan bahwa yang ramai itu hanya pada masyarakat yang melek tehnologi informasi dan menjadikannya sebagai problem akut bangsa ini. Keramaian memang sedang berlangsung, tensi politik memang sedang meningkat, hanya saja bahwa hal ini hanya terasa pada segmen-segmen tertentu di masyarakat kita.

Di dalam bidang keagamaan, saya melihat betapa semangat beragama juga sedang meningkat. Mushalla dan masjid banyak dipenuhi oleh jamaah. Shalat magrib, isya’ dan shubuh ada banyak jamaah yang datang di tempat ibadah. Lalu suara adzan dan iqamah juga saling bersautan. Kemudian gema shalawatan untuk menandai peristiwa kelahiran Nabi Muhammad saw juga terus bergema di setiap desa. Ternyata pengaruh Habib Syekh di desa-desa juga sangat tinggi. Untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad saw ternyata shalawatan ala Habib Syekh dikumandangkan.

Acara tahlilan dan yasinan yang merupakan ciri khas Islam ala Ahli Sunnah wa al Jamaah atau NU juga terus berlangsung. Di setiap desa dalam setiap bulan juga para ibu-ibu jam’iyah tahlil terus mengumandangkan tradisi ini. Hal ini menandai akan tetap lestarinya tradisi tersebut di dalam kancah kehidupan meskipun masyarakat semakin modern.

Jadi, meskipun masyarakat semakin modern ternyata aura religiositas dalam bentuk penguatan tradisi keagamaan tidaklah luntur. Berbeda dengan masyarakat modern di tempat lainnya, yang semakin modern suatu masyarakat semakin habis aura keagamaannya. Masyarakat Barat misalnya, dewasa ini sedang mengalami nuansa semakin berkurangnya minat beragama dengan indikasi semakin banyaknya tempat ibadah yang dijual atau dialihfungsikan untuk kepentingan lainnya. Namun di Indonesia, semangat beragama tersebut tetap terjaga dan ekspressi beragama juga semakin kuat. Inilah yang membedakan masyarakat Indonesia dengan masyarakat dunia lainnya terkait dengan relasi modernitas dengan religiositas.

NU dan Muhammadiyah sebagai pilar keberagamaan di Indonesia telah menunjukkan komitmennya untuk menjaga consensus kebangsaan. Melalui komitmen 2 (dua) organisasi ini dan diikuti oleh organisasi-organisasi lainnya akan menjadi basis bagi penguatan kebangsaan.

Oleh karena itu, saya tetap berkeyakinan jika umat Islam melalui pilar oganisasi yang mengusung Islam wasathiyah dan pemerintah juga memberikan support yang memadai untuk kepentingan ini, maka saya tetap berkeyakinan bahwa Indonesia akan tetap berada dalam nuansa kedamaian.

Hanya saja memang harus tetap diwaspadai sebab sebagaimana telah dan sering saya ungkapkan bahwa ideology eksternal macam apapun tidak akan pernah mati. Makanya, kewaspadaan dan penguatan jejaring untuk menjaga kebersamaan harus tetap dikembangkan.

Jadi, masih ada peluang yang tetap besar untuk menjaga Indonesia dari mara bahaya. Dan kata kuncinya ialah “menjaga tradisi agar bisa menuai kearifan” sebagai bangsa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJAGA TRADISI MENUAI KEARIFAN (3)

MENJAGA TRADISI MENUAI KEARIFAN (3)

Ada yang menggelitik di tengah perkembangan akhir-akhir ini ialah semakin kuatnya gerakan eksternal konservatisme-fundamental yang ditandai dengan semakin kuatnya keinginan untuk kembali ke salafisme dan menganggap bahwa pemahaman agama yang benar dan murni hanyalah dari kelompoknya sendiri. Seirama dengan semakin kuatnya penggunaan teknologi informasi, maka mereka juga menuai keuntungan, apalagi di era yang lalu banyak izin untuk mendirikan TV dan Radio atau media komunikasi lainnya yang berafiliasi dengan gerakan konservatisme-fundamental. Meskipun namanya berbeda-beda tetapi sesungguhnya mereka memiliki jaringan yang sangat kuat untuk menyebarkan gagasan tentang konservatisme-fundamental dimaksud.

Saya hanya ingin menyatakan bahwa ideology salafi yang ujungnya bertemu untuk mengganti Pancasila dan NKRI merupakan dagangan lama dengan kemasan baru, tetapi semuanya berasal dari keinginan mendirikan negara Islam. Sekarang ini, mereka tidak berada dan berjuang di luar, tetapi memasuki kawasan dalam, melalui berbagai system politik, pemerintahan, pendidikan dan bisnis yang diharapkan akan dapat menjadi instrument penting di dalam mencapai tujuan.

Gerakan mereka sesungguhnya sudah sangat massive dan yang lebih hebat lagi keanggoatannya yang tertutup dari inti keanggotaan, tetapi terbuka dari sisi performance dan mereka terdiri dari anak-anak muda, dalam kisaran usia 20-45 tahun dan terdiri dari kaum terdidik. Mereka merupakan kaum muda potensial dengan kedalaman dieologi yang tidak diragukan. Mereka merupakan agen-agen bagi penyemaian ideologi salafi, yang ujungnya ialah melakukan gerakan mendirikan Negara Islam dengan nama dan bentuk yang masih disimpan. Mereka tidak lagi menyuarakan gerakan khilafah, tetapi dengan nama lain atau bahkan tidak menyebutnya.

Sebagaimana tulisan saya sebelumnya, gerakan berbasis eksternal seperti ini dipastikan akan memicu pro-kontra dan juga perlawanan dan bahkan konflik. Bangsa ini sebenarnya tidak menyukai pertarungan atau konflik, akan tetapi sering kali harus melakukannya karena desakan ideology eksternal yang memaksanya untuk melakukan perlawanan dan mempertahankan diri. Melalui kerja sama yang seimbang antara masyarakat dan pemerintah, tekanan dan keinginan untuk melakukan makar atau sejenisnya tersebut dapat dilenyapkan.

Namun demikian, keinginan atau ideologi itu tidak akan pernah mati. Dia akan terus hidup dan dikembangkan dengan cara-cara tersembunyi atau terbuka. Makanya, saya termasuk masih yakin bahwa ideology Komunisme itu masih eksis di Indonesia, demikian pula ideology untuk mendirikan Negara Islam dan sebagainya. Jadi jangan pernah berpikir “the end of ideology” sebab setiap ideology akan melahirkan anak-anak baru, baik yang sama seperti semula atau berbeda tetapi secara mendasar tetap sama. Kemasan boleh berbeda, akan tetapi substansi tetap sama. Atau dengan kata lain “the old wine in the new bottle”.

Berbasis pada pemikiran ini, maka saya tetap pada prinsip bahwa siapa yang menciptakan lagu akan abadi dari sisi teksnya, akan tetapi penyanyinya bisa dengan suara dan langgam yang berbeda. Ideology itu teksnya, tetapi tafsir atas teks atau symbol atau lambang atas teks bisa berbeda-beda. Jadi prinsip dasarnya ialah mendirikan khilafah atau negara Islam, tetapi nama dan simbolnya bisa berbeda-beda.

Di sinilah arti pentingnya kita memahami bahwa upaya untuk mengubah 4 (empat) consensus kebangsaan atau Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan itu akan terus eksis dan berkembang. Jadi tidak ada kata untuk menyatakan bahwa gerakan tersebut sudah punah. HTI misalnya memang sudah dibekukan oleh pemerintah Indonesia, akan tetapi jangan pernah berpikir bahwa organisasi ini akan punah. Agen-agen intelektualnya dan aktivisnya masih bisa melakukan apa saja dengan cara sembunyi atau keluar bersamaan dengan kegiatan yang memiliki nuansa yang memungkinkan. Banyaknya bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid dalam acara Reuni 212 yang lalu adalah sekedar contoh bahwa mereka masih eksis di tengah masyarakat Indonesia.

Para intelektual, kyai, ulama dan tokoh agama Islam wasathiyah, harus tetap menjaga agar Pancasila dan NKRI tetap teguh di bumi Nusantara. Sekali ada keinginan akan mengubah hal ini, maka pastilah terjadi pertarungan bahkan konflik yang dapat memicu disintegrasi bangsa. Masyarakat Indonesia saya kira akan tetap menjaga kesatuan dan persatuan bangsa di tengah gempuran ideology eksternal yang memasuki kawasan Indonesia sekarang dan masa mendatang.

Jadi kita harus merawat tradisi yang telah mendarah daging itu dengan sekuat-kuatnya agar bangsa ini menjadi tetap lestari dalam kedamaian dan keselamatan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJAGA TRADISI MENUAI KEARIFAN (2)

MENJAGA TRADISI MENUAI KEARIFAN (2)

Akhir-akhir ini ada upaya untuk mengubah konsepsi “khilafah” dengan konsep baru “NKRI Bersyariah”. Meskipun secara konsepsional sangat berbeda, tetapi upaya ini dilakukan untuk mengakomodasi gagasan yang berseliweran di seputar bagaimana bentuk negara Indonesia di masa depan.

Gagasan NKRI Bersyariah adalah pikiran yang dilabelkan sebagai pemikiran Habib Rizieq dan kawan-kawan dan secara getol disuarakan oleh kawan saya, Dr. Egy Sudjana. NKRI Bersyariah dianggap oleh kelompok ini sebagai solusi atas keinginan untuk mendirikan khilafah sebagaimana diancangkan oleh HTI dan kawan-kawannya, dan yang mempertahankan NKRI sebagai bentuk negara. Jadi, dengan NKRI Bersyariah dianggaplah bahwa problem Khilafah versus Kebangsaan akan bisa diselesaikan. Jika NKRI adalah bentuk negara kesatuan yang berbasis pada system republic atau jumhuriyyah, maka system ini akan dipertahankan sebagaimana yang terjadi di Mesir. Artinya system pemerintahan republic hakikatnya adalah system yang islami. Sedangkan konsep bersyariah adalah system hukum atau negara yang menggunakan Islam sebagai dasarnya. Jika menggunakan kerangka ini, maka NKRI Bersyariat sesungguhnya adalah negara Islam juga. Hanya namanya saja yang diubah yaitu dari khilafah Islamiyah menjadi NKRI Bersyariah. Konsep ini akan banyak mempengaruhi terhadap sejumlah tokoh agama, sebab mungkin masih menggunakan konsep NKRI. Dianggapnya bahwa NKRI itu memang sudah final dan bersyariah adalah tuntunan bagi orang yang beragama Islam. Menerapkan syariah adalah bagian dari kewajiban umat Islam. Atau menerapkan syariah secara kaffah merupakan kewajiban bagi umat Islam.

Melalui dalih seperti ini, maka akan terdapat banyak tokoh agama yang akan mendukungnya. Meskipun dukungan tersebut hanya untuk dirinya saja. Tetapi satu hal mendasar bahwa tokoh agama apalagi yang kharismatis tentu akan memiliki banyak pengikut, sehingga di kala pikiran tokoh agamanya menyetujui gagasan NKRI Bersyariah, maka akan menjadi kekuatan yang cukup dahsyat. Inilah yang harus dipahami oleh para pengagum dan pendukung Islam wasathiyah, yang tidak akan mundur dari gelanggang untuk mempertahankan 4 (empat) pilar consensus kebangsaan.

Hakikat NKRI Bersyariah adalah penghalusan terhadap bentuk Negara Islam, yang diperjuangkan oleh sejumlah eksponen semenjak dahulu dan memperoleh momentumnya sekarang ini. Dan mengenai coraknya seperti apa, tentu sangat tergantung kepada apa kehendak dari para pemrakarsa tentang hal ini. Hanya saja yang berada di belakangnya ialah mereka-mereka yang bisa diidentifikasi sebagai pendukung model-model kehidupan Islam kaffah, yang secara politis mendukung digantinya Pancasila dengan ideology lain.

Saya menjadi teringat di kala pembahasan tentang Piagam Jakarta dengan salah satu silanya, menyatakan “Ketuhanan dengan Kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya” maka terdapat resistensi dari Indonesia Timur, sebab 7 (tujuh) kata itu dianggap sebagai sesuatu yang diskriminatif, sebab yang diwajibkan hanya umat Islam saja, sementara itu terdapat umat lain, misalnya Krsiten, Katolik, Hindu, Buddha dan sebagainya yang juga eksis di dalam merencanakan berdirinya negara Indonesia.

Usulan keberatan ini yang memicu perdebatan yang lama dan akhirnya dengan keikhlasan dari para tokoh yang beragama Islam, maka 7 (tujuh) kata “dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya” akhirnya diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dengan pencoretan terhadap 7 (tujuh) kata ini, maka awal perpecahan tersebut dapat dihindarkan, sehingga orang Bali, NTB, NTT, Ambon, Minahasa, dan sebagainya dapat menerimanya dan persatuan dan kesatuan Indonesia dapat dipertahankan.

Lalu, apakah kita akan mengeksperimenkan hal ini lagi dengan mengusung NKRI Bersyariah. Saya kira kita harus hati-hati di dalam urusan mendasar berbangsa dan bernegara. Indonesia yang terdiri dari masyarakat yang bertebaran di seuruh persada Nusantara, hendaknya tidak dijadikan sebagai arena percobaan atau uji eksperimentasi.

Sungguh sangat mahal harganya jika hal ini dilakukan, sebab pastilah Bali, NTT, Maluku, Papua, Papua Barat, dan seterusnya akan memisahkan diri. Sebagaimana dahulu, Bali dan daerah lain juga akan memisahkan dari masyarakat Indonesia dengan kawasan anggotanya.

Agar tidak menimbulkan polarisasi bagi bangsa ini karena upaya-upaya inkonstitusional seperti mendirikan khilafah atau konsep lain, maka dipastikan akan menyebabkan disintegrasi bangsa. Oleh karena itu, apapun namanya, NKRI adalah NKRI dan tidak diperlukan tambahan-tambahan yang bisa mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJAGA TRADISI MENUAI KEARIFAN (1)

MENJAGA TRADISI MENUAI KEARIFAN (1)

Masyarakat Indonesia secara sosiologis dan antropologis dikenal sebagai masyarakat yang sangat rukun dan harmonis. Jika kemudian ada gesekan dipastikan bahwa hal tersebut dipicu oleh factor eksternal dan bukan factor internal.

Di dalam sejarah kehidupan sosial, maka masyarakat Indonesia sesungguhnya memiliki tingkat pemahaman tentang kerukunan dan harmoni yang sangat baik. Semenjak dahulu masyarakat ini dikenal sebagai masyarakat yang religious, mengedepankan kerukunan dan keharmonisan yang didasari oleh watak dasar bangsa ini yang mengedepankan penjagaan terhadap tradisi kebersamaan.

Jika terdapat konflik, sebenarnya dipicu oleh factor kekuasaan atau politik. Misalnya pertarungan antar kerajaan di berbagai wilayah di Nusantara. Tetapi kadarnya tentu sangat local sesuai dengan wilayah di mana peperangan tersebut berlangsung. Misalnya peperangan di zaman kerajaan Singasari, Majapahit, dan sebagainya.

Namun peperangan yang menguras harta dan tenaga ialah di kala kaum penjajah Belanda datang ke Nusantara. Meskipun peperangan tersebut berlangsung secara local, misalnya Perang Banten, Perang Padri, Perang Jawa, dan sebagainya namun demikian terjadi di seluruh Nusantara. Jadi yang memicu terhadap hadirnya konflik ialah keinginan para penjajah untuk melakukan kooptasi politik dan penguasaan ekonomi. Perang tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat lama meskipun durasi peperangannya sangat bervariatif. Konon katanya nyaris 350 tahun Belanda menjajah Nusantara. Namun yang sesungguhnya terjadi bukanlah selama itu. Jadi bukan Belanda menjajah Nusantara dalam waktu selama 350 tahun, sebab selama itu pula sesungguhnya terjadi perlawanan secara terus menerus dari masyarakat Pribumi kepada para penjajah dan bahkan juga perlawanan Kaum Cina dan Arab terhadap kaum Belanda.

Lalu, yang tidak kalah menarik ialah pasca kemerdekaan, di mana terdapat munculnya ideology baru, komunisme yang juga berpotensi dan rawan terhadap pertempuran atau konflik sosial. Sebagaimana diketahui bahwa ideology baru ini memiliki sifat sangat penetrative dan agresif, sehingga tentu membawa dampak sosial berupa penolakan dari sejumlah elemen masyarakat, khususnya masyarakat beragama. Munculnya ideology komunis yang beraviliasi ke Cina terutama Partai Komunis Cina (PKC) tentu dapat menyebabkan penolakan yang sangat kuat dari organisasi-organisasi Islam pada waktu itu. Organisasi keagamaan yang berbasis agama tentu sangat bertolak belakang dengan komunisme yang prinsip utamanya ialah atheis atau anti Tuhan.

Di dalam penyelenggaraan negara, ternyata Komunisme memiliki tempat yang sangat strategis, sebab di dalam system pemilu pada tahun 1955 ternyata PKI bisa menjadi pemenang ke empat. Sungguh sesuatu yang tidak diprediksi bahwa PKI sudah mengakar kuat di masyarakat kala itu. PKI memang ideology yang bisa mengakar kuat dalam masyarakat terutama bagi orang-orang yang kurang beruntung. Dengan jargon anti kapitalisme, maka mereka bisa mempengaruhi terhadap “wong cilik” yang tidak beruntung.

Beruntunglah bahwa organisasi-organisasi Islam melakukan perlawanan yang sangat keras terhadap komunisme itu. NU misalnya melakukan gerakan perlawanan yang sangat mendasar dan bergandeng tangan dengan kekuatan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) untuk menghancurkan terhadap kekuatan PKI di semua lini kehidupan. Sementara itu organisasi Islam lainnya, seperti Muhammadiyah, Persis, Jam’iyatul Washliyah, Perti, Nahdlatul Wathon dan berbagai lasykar kebangsaan juga melakukan hal yang sama dengan kadar yang berbeda-beda. Semua berada di dalam satu komando menyelamatkan bangsa Indonesia. Tokoh-tokoh PKI pun satu-persatu bisa dilumpuhkan melalui kekuatan bersama antara masyarakat dengan pemerintah.

NU yang melakukan perlawanan paling heroic dalam seputar pemberontakan G30 S/PKI semula dianggap sebagai organisasi yang avonturir, akomodatif, dan permissive, akan tetapi di saat yang tepat justru menjadi garda terdepan dalam membentengi terhadap Pancasila, NKRI dan UUD 1945 serta kebinekaan dari rongrongan Komunisme. Penerimaan NASAKOM atau Nasionalisme, Agama dan Komunisme oleh sementara pihak dianggap sebagai sikap politik yang lembek dan mementingkan kelompok, akan tetapi ternyata dengan sikap ini justru umat Islam secara politik diuntungkan sebab NU bisa masuk ke dalam jantung pemerintahan yang kala itu sudah dikuasai oleh PKI. Melalui masuknya NU di dalam system pemerintahan, maka NU bisa menjadi penyeimbang di dalam berbagai pengambilan keputusan penting demi kelangsungan negeri ini. Jadi ada kalanya memang harus terlibat dalam pemerintahan sebagai check and balance dan di kali lain harus melawan dengan kekuatan penuh. Strategi politik NU seperti ini yang rasanya sekarang banyak dianut sebagai model perpolitikan nasional oleh partai politik di Indonesia. Bukan dari aspek perlawanannya, akan tetapi dari strategi “terlibat” di dalam pemerintahan.

Tampak bahwa factor eksternallah yang memicu terhadap konflik yang sangat keras antara masyarakat Indonesia dengan ideology yang tidak merupakan ideology asli bangsa ini. Apapun namanya, Pancasila adalah ideology bangsa yang lahir dari Rahim bangsa Indonesia. Pancasila lahir dari kandungan Ibu Pertiwi sehingga memiliki relevansi yang sangat kuat bagi bangsa ini.

Bagi anak bangsa, menjaga tradisi mempertahankan ideology kebangsaan merupakan kewajiban ijtimaiyah atau kewajiban kemasyarakatan. Sebagai bagian dari bangsa ini, maka mempertahankan ideology kebangsaan merupakan kewajiban sosial yang tidak bisa dihindarkan. Selama kita berada di bumi Indonesia, hidup dengan tanah dan air Indonesia, dan kita berada di dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, maka kewajiban kita ialah mempertahankan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan.

Saya sependapat dengan para ulama yang menyatakan bahwa Pancasila bagi bangsa Indonesia sudah final dan tidak lagi diperlukan eksperimentasi untuk mengganti dengan ideology lain, yang justru potensial untuk membawa perpecahan, apapun namanya termasuk NKRI Bersyariah.

Wallahu a’lam bi al shawab.