• July 2018
    M T W T F S S
    « Jun    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KE ROMA: BERTEMU TOKOH AGAMA (15)

KE ROMA: BERTEMU TOKOH AGAMA (15)
Acara terakhir saya ialah bertemu dengan Tokoh Islam, Ustadz Abdalla Ridlwan, orang Maroko, yang mengabdikan dirinya bagi pengembangan Islam di Italia. Kami sudah bertemu sebelumnya di Masjid Agung Roma, dan hari ini, 5/07/2018, kami bertemu kembali. Jika acara sebelumnya ialah kunjungan muhibbah ke Masjid Agung Roma, maka kali ini adalah pertemuan dengan Beliau selaku Sekretaris Majelis Agama Islam di Italia.
Jika yang pertama kami diantar oleh Pak Dubes Vatikan, Pak Agus Sriyono, maka untuk kunjungan kedua diantar oleh Bu Dubes Italia, Malta dan Cyprus, Bu Esti. Saya kembali diajak bertemu di Ruang Teater Masjid Agung Roma. Saya, Bu Dubes, Pak Abdalla dan staf Dubes Vatikan duduk di depan, sementara para tokoh agama duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan.
Karena waktu yang sangat terbatas, kira-kira 30 menit, maka acara langsung dibuka oleh Bu Dubes dan pamaparan langsung oleh Pak Abdallah. Beliau langsung mengungkapkan beberapa hal yang dianggap sangat urgen, misalnya pandangannya tentang Islam wasathiyah. Jika kemarin beliau tidak menjelaskan tentang Islam wasathiyah, dan lebih mengedepankan Islam authentic, maka kali ini beliau secara khusus membahas tentang Islam wasthiyah itu.
Baginya bahwa Islam memang megajarkan jalan tengah, mengajarkan agar menjadi umat yang wasathan. Umat yang wasathan itu ditandai dengan tidak beragama dengan cara yang keras dan radikal apalagi yang mengembangkan terorisme. Islam baginya mengajarkan perdamaian dan keselamatan. Islam sama sekali tidak mengajarkan intoleransi. Islam mengajarkan agar kita menghargai keberadaan umat lain, lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Islam tidak memaksakan agar umat lain harus menjadi Islam. La ikraha fiddin. Tidak ada paksaan dalam agama.
Muslim Italia ini terdiri dari sejumlah kaum migran dari berbagai negara. Mereka hidup di Italia dan menjadi komunitas Muslim. Meskipun mereka berasal dari berbagai negara tetapi seharusnya juga menjadi orang Italia. Pemahaman agamanya bisa berbeda-beda tetapi mereka mestilah menjadi masyarakat muslim yang bisa menyatu dengan masyarakat Italia. Makanya di masjid ini ada tiga Bendera, yaitu Bendera Islam, Bendera Italia dan Bendera Masyarakat Eropa.
Kita mestilah mengamalkan Islam di dalam kehidupan yang tidak harus sama dengan di Arab Saudi atau lainnya. Di dalam ibadah bisa terdapat kesamaan tetapi di dalam kehidupan sehari-hari boleh tidak sama. Misalnya tentang peran perempuan. Di Arab Saudi baru saja perempuan boleh menyetir mobil atau nonton bola. Dan ini menggambarkan bahwa ada perubahan di dalam kehidupan orang Arab Saudi. Di Indonesia perempuan bisa apa saja, bahkan sudah ada yang menjadi duta besar, seperti Bu Esti, ada yang menjadi kepala daerah dan sebagainya.
Bagi Pak Abdalla bahwa Islam Indonesia adalah contoh bagi dunia. Meskipun sekarang juga menghadapi orang Islam radikal tetapi Indonesia tetap merupakan negara muslim terbesar yang bisa mengatasi persoalan bangsa. Bangsa Indonesia adalah harapan dunia. Jika Indonesia tidak damai dan aman, maka juga negara lainnya. Indonesia memiliki pengaruh yang luar biasa bagi kehidupan umat Islam di dunia. Saya selalu berharap agar Indonesia selalu aman dan damai.
Berikutnya, saya diminta oleh Bu Esti untuk memberikan sambutan. Saya sampaikan rasa terima kasih saya, dan juga penghargaan atas penjelasan mengenai Islam wasathiyah sebagaimana baru saja kita dengarkan. Selain itu kita juga bekerja sama untuk membangun dialog. Dan secara lesan saya sampaikan kami mengundang Pak Abdalla untuk datang ke Indonesia dan melakukan dialog dan perjalanan di Indonesia. Nanti Pak Fery akan menjadi PIC untuk kepentingan ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA; BERTEMU TOKOH AGAMA KATOLIK (14)

KE ROMA; BERTEMU TOKOH AGAMA KATOLIK (14)
Hari terakhir saya di Vatikan ialah bertemu dengan dua tokoh agama di Vatikan dan Roma, ialah Ustadz Abdallah Ridlwan dan His Excellency Kardinal Pietro Parolin. Dua kegiatan yang sangat menarik. Pertemuan dengan His Eminent Kardinal Pietro Parolin ini nyaris batal, sebab Surat yang dilayangkan oleh Pak Dubes Vatikan, Agus Sriyono, lama tidak dijawab oleh staf Sekretariat Negara.
Hari Rabo sore, kira-kira pukul 5 (lima), Pak Dubes kontak saya, bahwa pertemuan dengan Kardinal Parolin bisa diselenggarakan. Semestinya pertemuan akan dilakukan pada jam 4 sore. Dan saya menyatakan siap dilaksanakan. Akan tetapi ternyata pesawat saya ke Jakarta pukul 19.40 waktu Italia, sehingga rasanya sudah hopeless untuk bisa berrtemu.
Tiba-tiba ada berita bahwa His Eminent Kardinal Parolin bisa menerima kami pada pukul 1.00 waktu Italia. Pak Dubes kontak saya bahwa pertemuan bisa dilakukan. Jadi, Kardinal Parolin mengurangi jam makan siang dan istirahatnya demi kami dari Indonesia. Pak Dubes sangat surprise, demikian pula kami semua.
Kami dengan sejumlah tokoh agama: Prof. A’la, Prof. Philip, Prof. Henriette, Pak Uung, Pak Wisnu, Romo Markus, Romo Leo, Romo Purnama, Pak Fery, Jemi, Ubed dan sejumlah staf kedubes hadir di dalam acara Courtesy Call ini. Saya bersama Pak Dubes, naik mobil dinas kedutaan, Mercy yang nyaman, dan tentu tidak rumit untuk melalui penjagaan yang ketat di Kantor Sekretariat Negara Vatikan ini. Gedungnya di berada di wilayah Basilika Santo Petrus di dalam kota Vatikan.
Di ruang depan kantor ini terdapat ruang bisnis, yang diperuntukkan bagi para Romo dan diplomat. Jika belanja di sini maka tidak dikenai tax. Makanya, setiap kali butuh belanja, Pak Dubes ke sini karena lebih murah. Kami bisa juga belanja dengan menggunakan privileged Pak Dubes atau para Romo di sini.
Kami memasuki ruang pertemuan dikawal oleh staf Sekretariat Negara. Sebagaimana diketahui bahwa Kardinal Parolin adalah pemangku jabatan sebagai Sekretaris Negara. Jadi beliau adalah orang kedua setelah Paus. Gedung yang tertata sangat baik meskipun didirikan pada masa yang sangat lama, pada abad ke 15. Tentu saja sudah mengalami pemugaran yang rusak akan tetapi bangunan lamanya masih kelihatan sangat kokoh.
Kami memasuki ruang pertemuan yang indah. Dihiasi dengan lukisan-lukisan dalam nuansa Kekatotikan yang indah. Di dinding dalam dan atasnya terdapat ornamen-ornamen khas Vatikan. Kami tentu saja sempat berfoto di dalamnya. Berbagai pose kami lakukan. Rasa gembira bisa bertemu dengan orang kedua di negeri Vatikan. Kardinal Parolin adalah seorang Kardinal yang sangat terkenal di Vatikan bahkan juga Italia dan dunia.
Kami menunggunya sambil berdiri, sampai kemudian pintu terbuka dan wajah yang damai datang menyalami kami. Pak Dubes yang pertama salaman, lalu saya dan seterusnya tokoh-tokoh agama. Tibalah acara yang ditunggu bertemu dan berbicara dengan His Excellency Kardinal Parolin. Pak Dubes mengantarkan pembicaraan bahwa kami yang hadir adalah tokoh-tokoh agama di Indonesia dari semua agama di Indonesia. mereka adalah representasi Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Mereka adalah narasumber di dalam acara dialog antaragama Masyarakat Indonesia di Eropa atau para diaspora Indonesia.
Lalu saya dipersilahkan oleh Pak Dubes untuk menyerahkan hasil dialog yang sudah dideklarasikan sebagai Roma Recommendation. Saya sampaikan ucapan salam dan terima kasih yang mendalam atas diterimanya kami dan saya akan serahkan dokumen deklarasi Roma kepada beliau. Dokumen itu diterimanya dengan senyuman yang tulus.
Beliau lalu menyampaikan sambutannya dengan bahasa yang lembut. Disampaikannya bahwa masyarakat dunia mengharapkan kita semua umat beragama untuk membangun perdamaian. Kita hidup di dunia yang semakin terfragmentasi dalam banyak hal.
Sebagaimana dinyatakan oleh Paus Franciskus bahwa kita harus membangun perdamaian dunia. Kita berbeda dan itu yang terkadang membuat terjadinya konflik di antara kita. Namun demikian hal itu harus memperkaya kita untuk membangun perdamaian dan mempromote persatuan. Seperti penyelenggaraan dialog antaragama hakikatnya adalah untuk memberikan solusi dan bukan kita menjadi bagian dari problem tersebut. Terkadang agama dimanipulasikan untuk beberapa alasan, agama seharusnya menjadi alasan untuk saling bertoleransi.
Saya sungguh menaruh rasa hormat dan mensupport negara Indonesia, yang besar, negeri yang seperti mosaic, untuk membangun bersama demi kebesaran negeri anda. Kita sekarang membutuhkan spiritualitas, di tengah dunia yang semakin materialistic. Kita harus mengharap atas petunjuk Tuhan untuk menyelamatkan kehidupan manusia di dunia ini. Kita harus terus bekerja dalam menghadapi intoleransi dan fundamentalisme melalui kontribusi yang positif.
Penting juga untuk mendidik anak-anak muda untuk membangun perdamaian agar kita mendapatkan keberkatan Tuhan. Kita harus terus berdoa agar memperoleh keberkatan Tuhan itu. Kita tidak boleh pessimis. Kita orang yang percaya Tuhan, kita harus saling menghargai, saling membantu dan saling memahami satu dengan lainnya agar kehidupan kita semakin baik dan bermakna.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA; BERTEMU TOKOH AGAMA ISLAM (13)

KE ROMA; BERTEMU TOKOH AGAMA ISLAM (13)
Di antara tokoh agama Roma yang kami temui bersama para tokoh agama dari Indonesia adalah Imam Yahya Pallavicini. Beliau adalah President of Coreis, sebuah organisasi Masyarakat Muslim di Roma. Beliau orang Italia, dan Bapaknya dulu masuk Islam sehingga dia dan keluarganya juga beragama Islam. Ketika saya Tanya: “are you fans of AS. Roma?. Dia menyatakan dengan semangat: “Yes, I am fans of AS. Roma”. Beliau pernah datang ke Jakarta mengikuti acara High Level Consultation of Ulama di Bogor, yang diselenggarakan oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Dialog Antaragama dan Peradaban.
Acara ini dipandu oleh Bu Esti Andayani, Dubes RI untuk Italia, Cyprus dan Malta. Saya diberi kesempatan pertama selaku pimpinan delegasi untuk menyampaikan sambutan. Saya sampaikan terima kasih dan rasa bahagia karena bisa bertemu dengan Pak Imam Yahya. Selanjutnya saya minta Pak Fery Meldy untuk menyampaikan presentasi tentang peran Kementerian Agama, terutama Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Oleh Pak Fery dijelaskan bahwa antara PKUB dan FKUB adalah dua institusi yang saling mendukung. PKUB merupakan institusi pemerintah dan FKUB adalah institusi masyarakat. keduanya membawa peran yang sangat penting didalam membangun kerukunan umat beragama.
Selanjutnya, Bu Henriette menyatakan bahwa harmoni umat beragama di Indonesia terselenggara dengan baik, sebab kita memiliki kesamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan dasar Pancasila. Umat Kristen merasa bahwa dengan Pancasila tersebut dapat menjadi pemersatu bangsa yang sangat plural. Berikutnya, Pak Jenderal Wisnu juga menyatakan bahwa umat Hindu di Indonesia bisa bersatu dengan umat agama lain disebabkan oleh falsafah bangsa dan dasar negara, Pancasila. Kita bersyukur bahwa para pendiri bangsa menghasilkan Pancasila yang menjadi sarana untuk mempersatukan bangsa Indonesia.
Berikutnya adalah paparan Imam Yahya. Masih muda dan bersemangat serta kemampuan bahasa Inggrisnya juga sangat baik. Beliau sampaikan bahwa di Italia ini umat Islam kira-kira 2 juta orang. Dari jumlah tersebut, maka kebanyakan ialah kaum migran dari Afrika, Timur tengah dan Asia lainnya. Ada yang dari Afghanistan, Maroko, Tunisia, Suriah, Iraq dan sebagainya. Mereka inilah yang sekarang menjadi bagian dari umat Islam di Italia.
Saya senang bisa mengunjungi Indonesia dalam acara di Bogor. Indonesia adalah negeri yang besar dengan jumlah penduduk Muslim terbesar. Indonesia dikenal sebagai negara yang penuh kedamaian dan harmoni antar umat beragamanya. Saya tahu bahwa sekarang Indonesia juga sedang menghadapi gerakan radikalisme sebagaimana negara-negara lain di dunia. Tetapi Indonesia selama ini bisa mengatasi radikalisme itu dengan baik. Saya berharap negara lain juga bisa melakukan hal yang sama.
Di Italia, umat Islam itu membentuk kelompoknya sendiri-sendiri. Misalnya kelompok Islam Maroko, kelompok Islam Afghanistan, Kelompok Islam Suriah dan sebagainya. Meskipun begitu mereka tetap merupakan satu kesatuan umat Islam di Italia. Organisasi Coreis itulah yang menjadi tempat bagi semua pemeluk agama Islam di Italia untuk bersatu. Kita juga bersyukur karena memiliki Masjid Agung Roma, yang merupakan hasil donasi umat Islam di berbagau negara dan kerja sama antar pemeluk agama di Italia. Masjid ini dapat menjadi tempat untuk pengajaran Islam.
Saya menanyakan kepada Beliau tentang 3 (tiga) symbol bendera di Masjid Agung Roma, yaitu bendera lambang Islam atau Musulmane, bendera Italia sebagai lambang orang Italiano dan juga bendera Uni Eropa sebagai bagian dari Europano. Saya sedikit-sedikit belajar bahasa Italia. Dinyatakannya, bahwa kita sedang membangun proses untuk saling memahami tentang hal ini. Umat Islam di Italia harus belajar menjadi warga Italia, dan bahkan juga warga masyarakat Eropa. Kita terus berupaya agar warga muslim tidak eksklusif, mereka harus menjadi bagian tidak terpisahkan dari masyarakat Italia pada umumnya. Meskipun mereka berasal dari berbagai bangsa sebelumnya, tetapi ke depan harus menjadi bangsa Italia.
Lalu saya juga tanyakan: “Many Muslim of Italia base on the migrant, who come from many state di Middle East and other which the interpretation of religion are very different. How do you manage about this? Beliau menyatakan inilah problem saya yang sangat mendasar. Saya terus berupaya agar mereka itu menjadi umat Islam yang inklusif. Jangan merasakan masih menjadi bagian dari negara asalnya. Mereka harus menyatu dengan masyarakat Italia. Saya terus berupaya dengan para tokoh Islam dan umat agama lainnya, terutama umat Katolik untuk berdialog dalam rangka membangun harmoni antar umat beragama. Di Italia ini, ada banyak umat beragama, yang minoritas ialah Islam, Kristen Protestant, Hindu, Buddha, Yahudi, Baha’i dan sebagainya. Untungnya Italia memiliki satu pasal di dalam Undang-Undang Negara Italia, yang menjamin warga Italia bebas menjalankan agamanya.
Kemudian saya tanyakan: “what does the government of Italia support of the development of Islam in Italia? Lalu dinyatakan bahwa negara tidak memberikan supportnya untuk mengembangkan agama di sini. Semua tidak disupport untuk membangun kehidupan agamanya. Sebagai negara secular, maka agama ialah urusan individu dan bukan urusan negara. Negara memang mensupport terhadap harmoni antar umat beragama melalui dialog-dialog antar umat beragama. Namun dalam urusan pengembangan masing-masing agama diserahkan kepada umat agama tersebut. Maka upaya yang kita lakukan ialah dengan melakukan dakwah secara terus menerus.
Sebagai akhir pertemuan, Saya menambahkan bahwa Indonesia memiliki konsep 3 (tiga) kerukunan umat beragama: yaitu: kerukunan interen umat beragama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah. Kita memiliki program moderasi agama yang diharapkan akan dapat menjadi salah satu pola preventif agar radikalisme tidak semakin berkembang, Dan juga memiliki program pendidikan untuk menangkal terhadap gerakan radikalisme. Semuanya kita lakukan dalam rangka untuk membangun Islam yang wasathiyah atau Islam yang rahmatan lil alamin.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA: PERTEMUAN DENGAN TOKOH AGAMA (12)

KE ROMA: PERTEMUAN DENGAN TOKOH AGAMA (12)
Saya dan beberapa tokoh agama dari Indonesia diajak oleh Pak Dubes Vatikan untuk menghadiri acara pertemuan dengan tokoh-tokoh agama di Italia. Hari Selasa, 02/07/2018, saya menghadiri acara pertemuan di Kantor Pusat Dialog Antaragama di Vatikan. Tempat ini adalah kantornya Romo Markus Solo.
Kami diterima oleh Romo Markus Solo di lantai 2 (dua) dan begitu masuk ruang dalam, maka di depan pintu terdapat lukisan besar yang sangat baik. Lukisan yang menggambarkan dialog antar umat beragama. Didapatkan lukisan Paus John, Raja Abdullah, Dalai Lama, Mahatma Gandhi, tokoh agama Hindu, Buddha dan juga Muslim. Lukisan yang sangat inspiratif ini dibuat oleh Alexander Puthul. Tentang nama Puthul, maka lalu menjadi bahan untuk pembicaraan. Saya nyatakan bahwa ada banyak bahasa Jawa yang dijadikan sebagai bahasa Italia, misalnya putul, loro, ceria dan sebagainya. Tentu kita semua menjadi tertawa.
Kami bertemu di ruang rapat kantor dan agenda kali ini ialah bertemu dengan Mgr. Abu Kholid al Jordani. Beliau adalah Secretary of Commission of World Interreligius Dialog. Pak Dubes, Pak Agus Sriyono, memberikan kata pengantar di dalam pertemuan ini, dan menjelaskan bahwa yang datang di sini adalah para pemuka agama dari berbagai agama di Indonesia. Ada yang dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Mereka melakukan dialog dengan masyarakat Indonesia di Eropa atau para diaspora. Saya lalu diminta untuk memberikan beberapa penjelasan. Lalu, saya meminta Pak Fery Meldy untuk memberikan penjelasan tentang Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Pak Fery menjelaskan tentang peranan PKUB dan juga FKUB dalam membangun relasi antar umat beragama. Dinyatakannya bahwa FKUB memiliki peran penting sebagai tempat untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi bersama.
Bu Henriette, menjelaskan tentang Pancasila sebagai dasar negara yang memberikan peluang bagi semua penganut agama untuk menjalankan kehidupan berdasarkan atas keberagamaannya masing-masing. Pancasila telah menjadi pengikat yang sangat kuat bagi pemeluk agama. Sementara, Pak Jenderal menjelaskan tentang prinsip ajaran Hindu yang mengedepankan kasih sayang dan kehidupan bersama yang baik. Indonesia telah mengalami masa yang panjang untuk hidup bersama dan hak itu didasari oleh kebinekaan. Pak Uung Sendana menyatakan bahwa Khonghucu merupakan agama yang paling minoritas, akan tetapi tetap memperoleh pelayanan yang optimal dari negara. Di Indonesia tidak ada perbedaan antara mayoritas dan minoritas. Semua diakuni sebagai penganut agama yang perlu mendapatkan pelayanan pemerintah. Bahkan kaum penghayat juga memperoleh pelayanan dari pemerintah. Prof. A’la juga menjelaskan bagaimana Islam di Indonesia sesungguhnya ialah Islam yang moderat. Islam yang sangat menolak terhadap intoleransi, kekerasan dan terorisme. Jika kemudian terdapat orang Islam yang melakukan kekerasan itu bukanlah mainstream Islam di Indonesia. Umat Islam dan umat beragama bersama-sama menolak terhadap gerakan Islam keras ini.
Pada gilirannya, Pak Abu Khalid al Jordani, memberikan penjelasan mengenai peran dialog antaragama. Pemerintah Vatikan telah mengupayakan secara aktif dalam rangka untuk melakukan dialog antaragama. Sebagaimana pesan para Paus, bahwa kita semua harus saling mendengarkan, saling memahami satu sama lain. Jika kita muslim, maka harus menjadi muslim yang baik, jika kita Kristiani juga harus menjadi Kristiani yang baik, kalau menjadi Budhisme atau Hinduisme, maka juga harus menjadi yang baik. Meskipun misalnya terdapat Islam Iran, Islam Lybia dan sebagainya, tetapi sesungguhnya harus terdapat dialog internagama. Kita seharusnya menjaga intern dan antar umat beragama dalam satu kesatuan yang baik. Sesuai dengan anjuran Paus John dalam Konsili di Vatikan, maka kita harus membangun relasi yang baik antara satu dengan lainnya. Kita harus membentuk World Harmony, atau World Peace, dan World Justice base on the mutual understanding between the ummah of religion.
Di kesempatan akhir saya sampaikan tentang pendidikan. Bagi kita pendidikan merupakan instrument yang sangat mendasar untuk mengerem pemahaman agama yang keras. Makanya, di Indonesia kita memiliki 3 (tiga) Kementerian yang mengurusi pendidikan. Kementerian Agama yang mengurus pendidikan agama dan keagamaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengurus pendidikan umum pada tingkat dasar dan menengah dan Kementerian riset, teknologi dan pendidikan tinggi yang mengurus pendidikan tinggi umum. Di antara kita sudah ada pemahaman bersama untuk mengekang terhadap berkembangnya radikalisme. Sudah ada visi dan missi yang sama untuk menghambat laju radikalisme di lembaga pendidikan.
Upaya yang kita lakukan ialah dengan membangun kurikulum Islam wasthiyah atau religious harmony, pengajaran civic education. Dan untuk melawan radikalisme, kita telah memiliki langkah yang sama melalui tindakan preventif. Selain itu juga dengan membangun dialog antar dan intern umat beragama, agar semuanya memahami bahwa radilakisme adalah lawan kita semua.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE ROMA: MENGUNJUNGI MASJID AGUNG ROMA (11)

KE ROMA: MENGUNJUNGI MASJID AGUNG ROMA (11)
Saya merasakan betapa sarana beragama itu sangat penting. Umat beragama membutuhkan sarana dan prasarana untuk melakukan upacara keagamaan, khususnya ibadah yang memang diwajibkan atau disunnahkan oleh agama. Itu pula yang dirasakan di kala umat Islam di Roma kemudian membuat masjid yang sangat besar di Roma, yang disebut sebagai Masjid Agung Roma, beralamat di Vialle Della Moschea, 85,00199 Roma, Italia.
Saya mendatangi masjid ini dengan seluruh peserta dialog antaragama masyarakat Indonesia di Eropa. Kami di antar oleh Pak Dubes Vatikan, Pak Agus Sriyanto, dan juga Romo Purnama dan Romo Leo Mali. Kami diterima oleh Abdalla Ridlwan, yang menjadi takmir masjid dan sekaligus juga sekretaris organisasi komunitas muslim di Italia. Saya mendapatkan penjelasan tentang pendirian masjid ini dan juga situasi keagamaan di Italia. Saya dan yang beragama Islam menyempatkan diri untuk shalat jama’ taqdim, shalat dhuhur dan ashar di masjid ini. Prof. A’la yang menjadi imamnya. Sebab beliau yang memakai kopyah.
Kami diterima di ruang tengah atau aula masjid sambil duduk. Diceritakan bahwa masjid ini diprakarsai oleh 6 (enam) orang. Mereka mengumpulkan donasi dan kemudian dengan dukungan pemerintah, maka mereka mendapatkan lahan di pinggiran Roma seluas 3 hektar. Di sinilah masjid tersebut didirikan dengan donasi dari seluruh dunia internasional. Hebatnya, yang memberikan donasi bukan hanya umat Islam tetapi juga orang Kristen dan Katolik. Sekarang jumlah yang terlibat di dalam pembangunan dan pengembangan peran masjid sebanyak 60 orang Islam di Roma. Masjid ini dapat menampung 30.000 jamaah, tetapi dibagi dalam 4 (empat) kali jamaah. Jika shalat jumat masjid ini penuh dengan jamaah shalat Jumat.
Arsitek masjid ini adalah orang Kristen, dan merupakan arsitektur campuran antara Masjid di Turki atau Masjid Biru dan arsitek Masjid di Maroko. Ada banyak tiang dan bentuk tiang atasnya menyerupai tangan yang sedang berdoa. Ada lima jari dan hal itu juga menggambarkan mengenai five pillar of Islam atau lima rukun Islam. Kubah masjid menyerupai kubah Masjid Biru di Turki dan ornament imaman menyerupai ornament masjid di Maroko. Warna biru mendominasi warna ornament di depan imaman masjid. Kemudian juga didapati mimbar masjid yang cukup besar dan mimbar kecil di sebelah imam.
Masjid ini juga memiliki home theater. Ruang teater tersebut di ruang bawah dan peralatan teknologinya cukup memadai. Kira-kira menampung 200 orang. Kami juga diterima di ruang teater ini. Di dalamnya terdapat 3 (tiga) bendera, yaitu Bendera Asosiasi Umat Islam, Bendera Italia dan Bendera Uni Eropa. Dijelaskan bahwa Bendera Asosiasi itu menggambarkan bahwa kita adalah umat Islam, bendera Italia menggambarkan kita sebagai bagian dari negara Italia dan bendera Uni Eropa menggambarkan bahwa kita adalah bagian dari Uni Eropa. Sebuah sikap yang jelas tentang bagaimana mereka sebagai umat Islam merasa menjadi bagian dari pemerintah Italia dan bahkan juga bagian dari Uni Eropa yang lebih besar.
Saya menanyakan satu hal penting. Ketika saya masuk ke dalam ruangan ini, saya melihat ada acara ceramah tentang “Deradikalisasi” lalu apakah memang radikalisme menjadi problem dan bagaimana mengembangkan Islam wasathiyah atau Islam moderat?. Dia menyatakan bahwa radikalisme memang merupakan problem di semua negara di Eropa. Dan yang tidak kita senangi adalah dikaitkan dengan Islam. Pada hal Islam itu mengajarkan perdamaian. Jika ada gerakan terorisme, maka yang menjadi tertuduh adalah Islam dan umat Islam. Provokasi kaum Islamphobia selalu mengaitkannya dengan banyaknya gerakan terorisme yang melanda beberapa negara.
Islam bagi dia sudah wasathiyah, Islam yang moderat. Jadi tidak diperlukan istilah-istilah Islam wasathiyah atau apapun. Baginya Islam yang dikembangkan adalah Islam otentik. Saya kira memang perlu diskusi mengenai pandangan dia mengenai Islam otentik itu. Sayangnya waktu sangat terbatas dan kami harus meninjau perpustakaan masjid di Roma ini. Kami berjalan menyusuri ruang luar aula masjid dan memasuki perpustakaan. Saya lihat beberapa kitab standart yang selama ini juga diajarkan di Indonesia, dan menjadi rujukan ulama-ulama di Indonesia.
Gilirannya kemudian dipamerkan beberapa Mushaf Al Qur’an. Dinyatakannya ada Kitab Al Qur’an yang dihibahkan oleh Presiden Saddam Hussein, beberapa bulan sebelum pecah perang Iraq, lalu Al Qur’an mushaf Utsmani yang dihadiahkan oleh pemerintah Arab Saudi, bahkan juga Al Qur’an yang dihadiahkan oleh pemerintah Malaysia. Ketika ditanyakan: “mana yang hadiah pemerintah Indonesia?. Dijawabnya, “yang akan datang”.
Sekeluar dari perpustakaan Masjid Agung Roma, maka tentang hadiah Al Qur’an itu menjadi tema pembicaraan kita semua. Pak Dubes Vatikan, menyarankan agar dibicarakan dengan Duta Besar Italia, Bu Esti, untuk pemberian hadiah Al Qur’an ini. Dan oleh Bu Dewi Sawitri disarankan agar Kementerian Agama menginisiasi hadiah Al Qur’an kepada Masjid Agung Roma, dan saya menyanggupinya.
Wallahu a’lam bi al shawab.