• October 2022
    M T W T F S S
    « Sep    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

THE POWER OF SHALAWAT

THE POWER OF SHALAWAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam acara pengajian ba’da subuh yang diselenggarakan di Masjid al Ihsan Perumahan Lotus Regency, saya menyampaikan satu pesan khusus agar kita bisa mendawamkan bacaan shalawat, karena shalawat itu memiliki power yang luar biasa bagi umat Islam. Acara ceramah ba’da shubuh ini dilaksanakan setiap hari Selasa, dan tema ini bertepatan saya sampaikan pada hari Selasa, 13 September 2022.

Mengapa shalawat penting dan menjadi salah satu substansi di dalam ajaran Islam? Tentu tidak main-main jika kita melantunkan shalawat kepada nabi Muhammad SAW, sebab Allah dan malaikat saja menyampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam salah satu ayat Alqur’an,  Surat Al ahzab 56,  dinyatakan bahwa “sesungguhnya Allah dan Malaikatnya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.  Wahai  manusia yang beriman bershalawatlah kamu kepada Nabi Muhammad saw dan ucapkanlah salam  penghormatan kepada-Nya ”.

Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang utama. Manusia yang dikaruniai keutamaan, manusia yang dikaruniai keberkahan dan manusia yang dipenuhi dengan kerahmatan oleh Allah azza wa jalla. Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya makhluk di dunia yang memperoleh kesempatan untuk menghadap Allah SWT secara langsung dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Suatu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Islam, karena pada waktu Nabi Muhammad SAW ini menghadap Allah, maka di situlah Allah memerintahkan agar umat Islam menjalankan shalat wajib lima kali sehari. Shalat secara substansial merupakan bentuk relasi antara manusia dengan khaliknya, Allah SWT.

Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang dapat berhubungan secara tawajjuh kepada Allah SWT. Malaikat Jibril yang bisa dinyatakan sebagai humasnya Allah SWT, karena sebagai penyampai wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW ternyata tidak diberi kekuasaan untuk menghadap-Nya. Padahal dalam kehidupan di dunia, humas selalu dapat perintah langsung dari atasannya. Surat Al A’raf, 143, bercerita tentang Nabi Musa AS pernah juga diberi peluang untuk bertemu dengan Allah, sayangnya bahwa Gunung Thursina (Sinai) yang dijadikan sebagai tempat bertemu harus meletus karena tidak mampu untuk menjadi ajang pertemuan dan bahkan Nabi Musa AS juga pingsan. Tidak ada satupun kekuatan yang mampu menjadi “tempat” Allah termasuk tidak ada satupun manusia selain Nabi Muhammad yang diberi kekuatan dan kekuasaan oleh Allah yang bisa “bertemu” dengan Allah.

Shalawat adalah ajaran substansial yang bisa mempertemukan kita dengan Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT. Jika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka dipastikan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW akan menyambutnya. Jika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sekali, maka Allah SWT akan membalas dengan pahala sebanyak 10 kali. Bisa dibayangkan jika ada hamba Allah yang membaca 1000 kali dan ada yang 10.000 kali shalawat. Rasanya Allah dan Rasulullah Muhammad SAW akan sangat mencintainya. Subhanallah.

Ajaran agama itu penuh dengan harapan dan janji yang diberikan kepada manusia oleh Allah SWT. Allah SWT menjanjikan surga dan kebahagiaan maka dipastikan Allah SWT tidak akan mengingkari janji. Innallaha la yukhliful mi’ad. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janji. Agama juga penuh harapan. Agama menjanjikan kepada umatnya untuk berbuat kebaikan, amar ma’ruf nahi mungkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dipastikan bahwa orang yang mengajak tentu sudah melakukannya. Yang mengajak tentu sudah melakukan, sehingga bisa menjadi contoh atas orang yang diajaknya.

Manusia sesungguhnya diberikan peluang yang sangat besar untuk bisa mengabdikan diri kepada Allah. Hanya saja karena factor-factor duniawi sehingga terpengaruh tidak melakukan  apa yang diperintahkan Allah. Itulah sebabnya bagi orang yang melakukan perintah Allah maka dipastikan akan mendapatkan pahala dan ganjaran yang besar adalah mendapatkan ridhonya untuk memasuki surga.

Membaca shalawat adalah bagian dari kehendak Allah, sehingga orang yang membaca shalawat juga dipastikan akan memperoleh ganjaran dari Allah. Tetapi jangan lupa bahwa kita harus menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantaranya atau washilahnya. Allah mengetahui tentang siapa kita, apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan dan kita lakukan, tetapi kita tidak mengetahui Allah karena Allah merupakan dzat yang rahasis atau sir. Itulah sebabnya kita seharusnya berwashilah kepada Nabi Muhammad SAW. Muhammad SAW memang washilah kita kepada Allah. Maka ketika kita berdoa, berdzikir, dan lainnya yang terkait dengan ritual keagamaan, maka keutamaannya adalah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantaranya.

Marilah kita ingat bahwa di antara Nabi dan Rasul yang diberi otoritas untuk memberi syafaat kepada manusia di hari mahsyar adalah Nabi Muhammad SAW. Maka berbahagialah orang yang bisa menjadikannya sebagai washilah kita untuk bertemu dengan Allah fi yaumil akhirah. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENJAGA BACAAN SHALAWAT

MENJAGA BACAAN SHALAWAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam acara pengajian ba’da subuh yang diselenggarakan di Masjid al Ihsan Perumahan Lotus Regency, saya menyampaikan satu pesan khusus agar kita bisa mendawamkan bacaan shalawat, karena shalawat itu memiliki power yang luar biasa bagi umat Islam. Acara ceramah ba’da shubuh ini dilaksanakan setiap hari Selasa, dan tema ini bertepatan saya sampaikan pada hari Selasa, 13 September 2022.

Mengapa shalawat penting dan menjadi salah satu substansi di dalam ajaran Islam? Tentu tidak main-main jika kita melantunkan shalawat kepada nabi Muhammad SAW, sebab Allah dan malaikat saja menyampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam salah satu ayat Alqur’an dinyatakan bahwa “sesungguhnya Allah dan Malaikatnya menyampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.  Wahai  manusia yang beriman bersahalawatlah kepada Nabi Muhammad saw dan agar mendapatkan keselamatan dan menyelamatkan”.

Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang utama. Manusia yang dikaruniai keutamaan, manusia yang dikaruniai keberkahan dan manusia yang dipenuhi dengan kerahmatan oleh Allah azza wa jalla. Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya makhluk di dunia yang memperoleh kesempatan untuk menghadap Allah SWT secara langsung dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Suatu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Islam, karena pada waktu Nabi Muhammad SAW ini menghadap Allah, maka di situlah Allah memerintahkan agar umat Islam menjalankan shalat wajib lima kali sehari. Shalat secara substansial merupakan bentuk relasi antara manusia dengan khaliknya, Allah SWT.

Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang dapat berhubungan secara tawajjuh kepada Allah SWT. Malaikat Jibril yang bisa dinyatakan sebagai humasnya Allah SWT, karena sebagai penyampai wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW ternyata tidak diberi kekuasaan untuk menghadap-Nya. Padahal dalam kehidupan di dunia, humas selalu dapat perintah langsung dari atasannya. Nabi Musa AS pernah juga diberi peluang untuk bertemu dengan Allah, sayangnya bahwa Gunung Thursina yang dijadikan sebagai tempat bertemu harus meletus karena tidak mampu untuk menjadi ajang pertemuan dan bahkan Nabi Musa AS juga pingsan. Tidak ada satupun kekuatan yang mampu menjadi “tempat” Allah termasuk tidak ada satupun manusia selain Nabi Muhammad yang diberi kekuatan dan kekuasaan oleh Allah yang bisa “bertemu” dengan Allah.

Shalawat adalah ajaran substansial yang bisa mempertemukan kita dengan Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT. Jika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka dipastikan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW akan menyambutnya. Jika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sekali, maka Allah SWT akan membalas dengan pahala sebanyak 10 kali. Bisa dibayangkan jika ada hamba Allah yang membaca 1000 kali dan ada yang 10.000 kali shalawat. Rasanya Allah dan Rasulullah Muhammad SAW akan sangat mencintainya. Subhanallah.

Ajaran agama itu penuh dengan harapan dan janji yang diberikan kepada manusia oleh Allah SWT. Allah SWT menjanjikan surga dan kebahagiaan maka dipastikan Allah SWT tidak akan mengingkari janji. Innallaha la yukhliful mi’ad. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janji. Agama juga penuh harapan. Agama menjanjikan kepada umatnya untuk berbuat kebaikan, amar ma’ruf nahi mungkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dipastikan bahwa orang yang mengajak tentu sudah melakukannya. Yang mengajak tentu sudah melakukan, sehingga bisa menjadi contoh atas orang yang diajaknya.

Manusia sesungguhnya diberikan peluang yang sangat besar untuk bisa mengabdikan diri kepada Allah. Hanya saja karena factor-factor duniawi sehingga terpengaruh tidak melakukan  apa yang diperintahkan Allah. Itulah sebabnya bagi orang yang melakukan perintah Allah maka dipastikan akan mendapatkan pahala dan ganjaran yang besar adalah mendapatkan ridhonya untuk memasuki surga.

Membaca shalawat adalah bagian dari kehendak Allah, sehingga orang yang membaca shalawat juga dipastikan akan memperoleh ganjaran dari Allah. Tetapi jangan lupa bahwa kita harus menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantaranya atau washilahnya. Allah mengetahui tentang siapa kita, apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan dan kita lakukan, tetapi kita tidak mengetahui Allah karena Allah merupakan dzat yang rahasis atau sir. Itulah sebabnya kita seharusnya berwashilah kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam do’a kita pada waktu selesai mendengarkan adzan, maka kita disunnahkan berdoa, yang berbunyi: “Allahumma rabba hadzihi  da’watit tammah, wash-shalatil qaimah, atii Muhammadanil washilata wal fadhilah…”. “… datangkan Muhammad sebagai perantara dan keutamaan…”. Muhammad SAW memang washilah kita kepada Allah. Maka Ketika kita berdoa, berdzikir, dan lainnya yang terkait dengan ritual keagamaan, maka keutamaannya adalah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantaranya.

Marilah kita ingat bahwa di antara Nabi dan Rasul yang diberi otoritas untuk memberi syafaat kepada manusia di hari mahsyar adalah Nabi Muhammad SAW. Maka berbahagialah orang yang bisa menjadikannya sebagai washilah kita untuk bertemu dengan Allah fi yaumil akhirah. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MEMBUDAYAKAN NGAJI ALQUR’AN BA’DA SHUBUH

MEMBUDAYAKAN NGAJI ALQUR’AN BA’DA SHUBUH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu yang membuat saya bahagia adalah kegiatan  mentradisikan ngaji ba’da shalat shubuh yang dilakukan di masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency. Ngaji Alqur’an,  khususnya shalat Al Waqi’ah tersebut sudah berjalan selama kurang lebih dua tahun, dan meskipun kita sedang berada di era Pandemi Covid-19 di masa lalu, kegiatan ini sama sekali tidak terpengaruh. Setiap pagi kita melantunkan bacaan Alqur’an dimaksud yang dipimpin oleh imam shalat, Ust. Zamzami al Hafidz dan Ust Firdaus Al Hafidz. Siapa yang menjadi imam pada shalat subuh, maka dialah yang akan memimpin bacaan Surat Al Waqi’ah.

Sekian bulan yang lalu juga dilakukan acara ngaji tafsir Surat Al Waqi’ah yang diasuh oleh Ust. Khobir salah seorang crew nursyamcentre.com yang aktif menulis tentang ilmu tafsir. Ust. Khobir adalah dosen pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Ustadz Khobir juga seorang khafidz yang sekaligus mendalami ilmu tafsir. Di dalam buku yang diedit oleh Dr. Chabib Musthafa dan Mevy Nurhalizah, “Menggelorakan Moderasi Beragama Untuk Indonesia hebat” tercantum tulisan-tulisan Ust. Khobir yang menjadi basis bagi pemahaman atas Islam wasathiyah.

Tentu tidak usah dibicarakan kenapa surat Al Waqi’ah yang dibaca dan bukan gonta-ganti surat di dalam Alqur’an. Tentu ada alasannya di antaranya adalah adanya semacam keyakinan berbasis pernyataan Nabi Muhammad SAW bahwa membaca Surat Al Waqi’ah bisa membuat rezeki pembacanya lebih lancar dan mudah didapatkan. Meskipun pernyataan ini dianggap oleh beberapa ahli hadits sebagai pernyataan yang dhaif atau hadits dhaif, akan tetapi tetap ada sejumlah keyakinan bahwa membaca Surat Al Waqi’ah yang merupakan salah satu surat di dalam Alqur’an pastilah merupakan kebaikan. Jika pun rezekinya tidak sebagaimana yang diharapkan tetapi dipastikan akan mendapatkan pahala karena membaca Alqur’an. Jadi, saya kita tidak perlu diperdebatkan tentang bacaan Alqur’an ini. Kita membaca surat Al Waqi’ah dan yang lain silahkan membaca surat yang lain.

Bahkan berkat membaca surat Al Waqi’ah tiap pagi itu akhirnya juga ada di antara jamaah masjid yang bisa hafal surat Al Waqi’ah. Tentu betapa bahagianya karena dengan mentradisikan membaca surat Al Waqi’ah secara berjamaah setiap hari maka tanpa disadari akhirnya kita hafal surat dimaksud. Membaca secara istiqamah atas surat dalam Alqur’an ternyata bisa membantu kita untuk bisa hafal atas surat Alqur’an dimaksud. Tanpa kegiatan membaca Surat Alwaqiah secara berjamaah setiap pagi nyaris tidak mungkin kita hafal. Apalagi pada usia yang tidak lagi bisa disebut muda.

Kita sungguh bersyukur bahwa pada usia yang tidak lagi muda kita bisa mendawamkan ngaji bareng. Kala kita sedang dalam puncak karir dan sangat sibuk, terkadang membaca Alqur’an adalah kelangkaan. Kita semua sibuk dengan urusan duniawi. Kita terus mengejar kepentingan duniawi. Kita terus bekerja dan bekerja seakan-akan kita akan terus hidup selamanya, sehingga urusan mati besuk nyaris tidak terpikirkan. Kita bisa beraktivitas dari satu daerah ke daerah lain, dari satu acara ke acara lain. Nyaris hidup ini dijejali dengan aktivitas dan aktivitas lainnya.

Untunglah di saat yang tepat kita memiliki kegiatan yang bisa menyeimbangkan antara yang duniawi dan yang ukhrawi. Bekerja yes, ngaji juga yes. Inilah hukum keseimbangan. Jadi jangan hanya mengedepankan bekerja dan jangan hanya mengedepankan yang lainnya. Antara ngaji dan bekerja adalah dua entitas yang berbeda tetapi bisa bertemu dalam kehidupan manusia. Rasanya berbahagialah dengan kemampuan untuk menyatukan dua aktivitas di dalam kehidupan dimaksud.

Dan yang juga penting bahwa dengan ngaji berjamaah tersebut juga tanpa didesain akhirnya bisa memperbaiki bacaan Alquran. Dengan terus menerus dibaca dalam tartil yang jelas, dalam makharijul khuruf yang baik dan dalam tajwid yang baik, maka secara tidak langsung juga terjadi proses pentradisian membaca Alqur’an yang benar. Sekarang jika saya dengarkan para jamaah membaca surat Al Waqi’ah maka dapat dipastikan bahwa bacaannya semakin baik dan semakin benar.

Kiranya tradisi membaca Alqur’an pada waktu ba’da shubuh harus dikembangkan agar menjadi tradisi. Kita semua meyakini bahwa membaca Alqur’an yang benar, maka dipastikan akan mendapatkan pahala. Dan yang paling menggembirakan bahwa Alqur’an diberi otoritas oleh Allah SWT untuk menjadi penyelamat yang di dalam tradisi Islam disebut sebagai syafaat. Alqur’an itu “syafi’an li ashhabihi”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

TAHLILAN ALA KAMPUNG

TAHLILAN ALA KAMPUNG

Prof. Dr.  Nur Syam, MSi

Sungguh di antara kita bisa saja kurang percaya, bahwa tradisi tahlil di pedesaan itu masih sedemikian kuat. Tradisi Islam Nusantara ini masih terus berlangsung hingga sekarang dengan tradisi yang sambung menyambung terus tidak tergerus oleh badai pemahaman agama yang baru, yang di dalam realitasnya mengusung anti Tahlilan, anti Yasinan,  dan anti dzibaan dan sebagainya.

Saya menghadiri acara tahlilan yang diselenggarakan oleh keluarga saya di Dusun Jetak, Desa Kutogirang,  Ngoro,  Mojokerto pada Selasa, 23/08/2022, ba’da shalat Isya’. Acara ini dilakukan terkait dengan wafatnya Hj. Sriyani atau Mak Ni, begitu kami memanggilnya. Saya datang agak terlambat, sebab ba’da magrib baru berangkat dari Surabaya. Untunglah tidak macet, sehingga dalam waktu yang tepat kami masih bisa mengikuti acara tahlilan.

Realitas tahlilan itu di luar pemikiran saya. Ternyata jumlah jamaah tahlil ini luar biasa banyak. Kurang lebih 200 orang. Factor keluarga yang wafat tentu menjadi penentu atas sedikit banyaknya para anggota jamaah tahlil yang hadir. Putra Mak Ni yang pertama, Pak Tamun (alm)  pernah menjabat kepala desa di Kutogirang. Putra Pak Tamun yang pertama, Cak Mukhtar,  adalah seorang guru SDN dan mantan kepala sekolah di Kecamatan Ngoro. Selain itu ikatan kekerabatan di dusun Jetak dengan almarhumah juga sangat banyak. Jadi ada beberapa factor yang menentukan terhadap kehadiran dalam acara keluarga, seperti acara tahlilan dan yasinan.

Yasinan adalah pembacaan Alqur’an surat Yasin secara bersama dalam waktu bersamaan. Sedangkan tahlilan adalah bacaan kalimat Allah berulang kali secara bersamaan dan dalam waktu yang bersamaan pula. Di dalam tradisi ini, maka bacaan Surat Yasin dan bacaan tahlil itu ditujukan kepada khususnya Orang yang meninggal. Biasanya dilakukan selama tujuh hari berturut-turut, lalu setiap malam Jum’at atau Kamis malam, 40 hari, 100 hari dan sependak atau setahun. Tradisi ini merupakan ritual khas Islam Indonesia dan juga beberapa negara lain, misalnya Malaysia dan Thailand (khususnya Thailand Selatan). Tradisi ini sudah berjalan dalam kurun waktu sangat lama. Tidak diketahui kapan tepat waktunya, akan tetapi bisa dilacak dari proses Islamisasi awal di Indonesia. Tradisi ini bisa dibangsakan dengan para waliyullah atau para penyebar Islam di tanah Nusantara.

Masyarakat meyakini bahwa hadiah Surat Alfatihah, Surat Yasin dan bacaan Tahlil tersebut akan sampai kepada yang ditujunya. Agar sampai kepada yang dituju (roh si mayat), maka diberlakukan pembacaan washilah kepada Junjungan Nabi Muhammad SAW. Juga kepada beberapa waliyullah, misalnya Syekh Abdul Qadir Jailani Qaddasallahu sirrahu, dan wali lainnya seperti Kanjeng Sunan Ampel, dan keluarga ahli kubur lainnya. Dengan mendasarkan diri pada washilah kepada Nabi Muhammad SAW dan para waliyullah, maka diyakini bahwa bacaan Alqur’an, tahlil dan doa tersebut akan sampai kepada yang bersangkutan.

Memang tradisi ini tidak didapati pada masyarakat Arab terutama masa sekarang yang menggunakan paham keagamaan Islam madzhab Wahabi yang menganggap bahwa segala sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW itu tidak sah atau mengada-ada atau di dalam pandangan mereka disebut sebagai bidh’ah. Bagi mereka ini, bahwa hukum Islam dalam melakukan ritual hanya dua saja, boleh (wajib dan sunnah) dan tidak boleh (haram). Sementara itu, acara membaca Surat Yasin secara bersama-sama itu tidak terdapat di dalam tradisi kaum Wahabi. Demikian pula membaca tahlil secara bersama-sama juga tidak didapati di dalam tradisi mereka.

Tetapi bagi masyarakat Jawa atau Islam Nusantara, maka yang tidak dilakukan pada zaman Nabi Muhammad SAW atau secara spesifik tidak dilakukan di Arab Saudi bukan harus dihukumi tidak boleh. Di sini terdapat hukum mubah, makruh, sunnah dan wajib. Makanya, membaca tahlil dan membaca yasin itu  sunnah hukumnya, sedangkan membaca bersama adalah cara atau metode yang hukumnya tentu mubah atau kebolehan dan bukan makruh (tidak melakukan lebih baik) atau haram (dilarang).

Tetapi yang terpenting secara sosiologis, bahwa acara tahlilan atau yasinan adalah kegiatan sosial kemasyarakatan yang bernuansa keagamaan. Bisa dibayangkan sebanyak 200 orang membaca Surat Yasin dan Tahlil,  maka di sini terdapat keguyuban di antara warga masyarakat. Melalui kegiatan ini maka dapat diketahui tingkat keharmonisan dan kerukunan warga masyarakat sekitar orang yang berkesedihan karena ada kerabatnya yang meninggal.

Acara ini dipimpin oleh Mbah Modin, biasanya Kaur Kesra desa, yang merupakan tokoh agama di desanya. Pemimpin upacara ritual ini adalah Mbah Modin Sukadi, yang juga biasa menjadi khatib dalam shalat Jum’at di Masjid Desa Kutogirang. Pak Sukadi menyatakan bahwa dia hanya lulusan madrasah dan tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Hanya mondok dan memperdalam ilmu agama. Bacaan Qur’annya bagus, membaca tahlil fasih dan berdoa dengan khusyu’. Sebagian peserta tahlilan juga hafal surat Yasin dan bacaan tahlil.

Dia juga menyatakan bahwa tradisi ini merupakan warisan para leluhur yang mesti dipertahankan. Tradisi pedesaan yang sangat baik untuk membawa masyarakat desa agar rukun dan harmonis. Pak Sukadi juga tahu bahwa tradisi ini adalah tradisi NU yang menyejarah. Jadi meskipun sekarang sedang dihujat oleh kelompok Islam lain, tetapi masyarakat akan tetap memertahankan tradisi ini sampai kapanpun.

Oleh karena itu jika selama ini ada semacam ketakutan mengenai serangan kelompok Islam lain tentang tradisi NU ini, tetapi dengan mengamati atas terselenggaranya acara tahlilan di perkampungan, maka kita masih yakin bahwa  tradisi NU ini tidak akan tergoyahkan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

RENUNGAN WARGA TENTANG KEMERDEKAAN INDONESIA (2)

RENUNGAN WARGA TENTANG KEMERDEKAAN INDONESIA (2)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kemerdekaan bangsa bukan hanya milik segelintir orang tetapi milik bersama, seluruh masyarakat Indonesia. Kemerdekaan merupakan usaha bersama dari seluruh rakyat Indonesia yang memang sangat menderita di dalam sistem penjajahan Belanda maupun Jepang. Belanda menjajah Indonesia dalam kurun waktu yang sangat lama kira-kira 3,5 abad meskipun tidak semua wilayah Indonesia dijajah oleh Belanda, sedangkan Jepang menjajah Indonesia dalam waktu 3,5 tahun saja.

Itulah sebabnya dalam rangka memeringati kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus seluruh masyarakat Indonesia melakukan serangkaian kegiatan mulai dari acara tradisional, misalnya lomba balap karung, lomba memasukkan paku dalam botol, lomba memakai gapyak bareng-bareng, lomba membawa kelereng di atas sendok menggunakan mulut sampai lomba memanjat pinang atau jambeyan dan bahkan juga lomba baca Alqur’an, serta lomba volley dan basket. Itu pula yang dilakukan oleh warga RT Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, 17 Agustus 2022.

Pada malam hari, Rabo malam,  lalu diadakan renungan dan doa bersama seluruh warga RT Perumahan Lotus Regency. Hadir pada acara ini, Ketua RW, Ketua RT, Ketua Ta’mir masjid dan warga Perumahan Lotus Regency dan juga jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Saya ditunjuk untuk memberikan renungan dan juga memimpin doa bersama. Berikut ini adalah doa yang saya baca di dalam acara dimaksud:

Ya Allah Ya Tuhan kami, kami bersyukur atas kenikmatan yang Engkau berikan kepada kami. Kenikmatan kesehatan, kenikmatan kesejahteraan, dan kenikmatan kemerdekaan. Kami sangat bersyukur atas kenikmatan yang Engkau berikan ini. Tanpa kemerdekaan, maka bangsa ini akan tetap berada di dalam kehinaan dan tanpa kehormatan. Bahkan tanpa kesejahteraan dan kebahagiaan.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, Wahai Dzat Yang Maha Kasih dan Sayang. Kasihilah dan sayangilah bangsa Indonesia dengan kasih sayang yang menyelimuti kehidupan kami, janganlah cabut kasih sayang itu dari dada kami. Berikan kasih sayang-MU yang menyelimuti seluruh alam semesta. Melalui kasih sayang itu maka bangsa ini dapat merajut kerukunan, keharmonisan dan keselamatan. Melalui kasih sayang-Mu maka bangsa ini dapat bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan.

Ya Allah Ya Karim, muliakanlah bangsa kami, bangsa Indonesia. Muliakanlah bangsa ini sebagaimana Engkau telah menjadikan bangsa-bangsa mulia di masa lalu. Janganlah Engkau cabut kemuliaan itu dalam kehidupan bangsa kami. Muliakanlah bangsa ini dengan semakin menguatnya akhlakul karimah dan semakin menjauhi akhlak yang madzmumah. Ya Allah hanya Engkau yang bisa memberikan kemuliaan kepada bangsa kami  melalui  karunia kemerdekaan yang Engkau berikan.

Ya Allah, Ya Qawi. Wahai Dzat yang Maha kuat. Kuatkanlah ikatan solidaritas dan harmoni bangsa kami. Tunjukkan kepada kami bahwa kekuatan bangsa Indonesia terletak pada adanya rasa ikatan solidaritas dan harmoni. Jauhkan kami dari keinginan untuk memecah belah bangsa kami. Kuatkan dan eratkan rasa kebangsaan kami, agar kami akan terus dapat bekerja untuk membela bangsa ini dan juga bekerja untuk kesejahteraan kami. Ya Allah Engkau Dzat yang Maha Kuat, dan kuatkan hati kami untuk bersama-sama dalam membangun bangsa kami.

Ya Allah, Ya  Lathif, Ya Allah lemah lembutkan hati kami, berikan kepada kami sikap dan perbuatan yang terus menjunjung tinggi kesopanan dalam tutur kata, sikap dan perbuatan. Ya Allah jangan Engkau berikan kepada kami, rasa permusuhan yang disebabkan oleh rasa iri, dengki, dan kemarahan. Sebagai bangsa yang merdeka, Ya Allah, kami ingin agar persatuan dan kesatuan bangsa ini terus terjaga dengan saling asah asih dan asuh, saling menghargai dan menghormati, dan jangan timpakan kepada kami hati yang sombong, merasa benar sendiri, saling membenci  dan saling mencaci. Ya Allah jadikan bangsa ini memiliki marwah dan harga diri dengan kelembutan tutur kata, sikap dan perbuatan.

Ya Allah, Ya Ghaffar, ampunilah kami, orang tua kami, tetangga kami, warga seluruh RT dan RW kami, ampunilah bangsa Indonesia, ampunilah para pemimpin bangsa kami. Tunjukkan kepada kami jalan terbaik dan jauhkan kami dari jalan yang jelek. Sadarkanlah kami semua agar terus beristighfar memohon ampun kepada-Mu Ya Allah. Kami menyadari bahwa kami adalah orang yang berada di dalam kekurangan, kesalahan dan kekhilafan. Oleh karena itu berikan ampunan-Mu ya Allah karena Engkau adalah Dzat yang memberikan ampunan.

Ya Allah,  Ya Mujibas Sailin, Wahai Allah Dzat yang mengabulkan doa. Kabulkanlah doa dan permohonan kami. Doa yang dilantunkan dengan kesungguhan dan permohonan yang mulia, serta dengan keikhlasan. Kami semua berharap bahwa kami akan terus menjaga pilar kebangsaan yang telah diwariskan oleh leluhur kami, para pendiri bangsa ini. Kuatkan mental kami  agar terus menjaga Pancasila sebagai Dasar Negara, UUD 1945, NKRI dan kebinekaan. Kami ini terdiri sangat beragam suku bangsa, bahasa dan budaya. Pertautkan hati kami agar bisa menjaga negara ini sesuai dengan petunjuk-Mu dan ajaran agama-Mu. Ya Allah kabulkan doa dan permohonan kami.

Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar, wa adkhilnal jannata ma’al abrar ya Aziz ya Ghaffar Ya Rabbal alamin.  Walhamdu lillahi rabbil alamin. Alfatihah….

Wallahu a’lam bi al shawab.