• April 2020
    M T W T F S S
    « Mar    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

AGAMA DI RUANG DOMESTIK (5)

Tidak hanya rakyat yang panik dalam menghadapi wabah virus corona, akan tetapi juga pemerintah. Tidak hanya Indonesia yang panik akan tetapi seluruh dunia panik menghadapi makhluk yang sangat kecil, mikroba virus corona.

Sekarang ini hanya Cina yang sudah merasa bebas dari wabah ini, karena kebijakan lock down terhadap Kota Wuhan selama virus mewabah, sehingga nyaris tidak ada kota-kota lain di Cina yang terkena wabah ini. Beijing sebagai pusat pemerintahan aman, demikian pula Shanghai sebagai pusat perdagangan juga aman. Nyaris seluruh kota-kota di Cina aman dari wabah mematikan ini.

Sebagai negara dengan Sistem Komunis tentu sangat mudah untuk memberlakukan kebijakan pusat untuk seluruh daerah. Begitu juga rakyat juga patuh terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintahnya. Sistem pemerintahan komunis efektif untuk kepentingan mendesak seperti ini. Dengan kebijakan lock down Wuhan, maka rakyat diisolasi dengan sangat ketat, dan akhirnya hanya Wuhan saja yang terkena dampak virus ini dan tidak dengan kota lain.

Sungguh fantastis Cina menyelesaikan urusan covid-19, sehingga dengan jumawa menawarkan jasa ke pemerintah Italia, mengekspor obat ke Indonesia, dan juga mengajari dunia tentang bagaimana melawan covid-19. Bahkan ada sekelompok orang yang menganalisis bahwa Cina sudah memenangkan Perang Dunia ke 3, tanpa letupan senjata. Dan secara ekonomis, Cina juga meraup keuntungan karena produk-produk perusahaannya, seperti: obat chloroquine untuk mengatasi virus corona, masker, APD, dan bahkan produk makanan yang tahan lama, khusus bagi yang diisolasi secara ketat.

Hari-hari ini kita sedang mengalami upaya untuk mencegah penyebaran virus corona, meskipun kurang tegas. Coba bayangkan untuk menentukan daerah mana yang akan dilakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), ternyata sangat birokratis, mulai dari usulan pimpinan daerah, pembentukan tim, pengkajian sampai baru penentuan keputusan. Mengapa tidak dipercayakan kepada pemda yang pasti sudah tahu kondisi daerahnya untuk kemudian ditetapkan sebagai wilayah PSBB. Surabaya yang sudah masuk zona merah, ternyata juga tidak segera ditetapkan sebagai wilayah PSBB, demikian pula daerah lain.

Lain halnya dengan urusan agama. Tanpa status wilayah PSBB, maka agama sudah jelas memasuki kawasan itu. NU melalui Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, MA., dan Muhammadiyah melalui Prof. Dr. KH. Haedar Nashir juga sudah menyampaikan hasil bahtsul masail atau keputusan tarjih untuk menentukan bahwa pada bulan Ramadlan, 1402 H. tidak ada lagi buka bersama, tarawih jamaah, takbir keliling dan pembagian makanan secara berkelompok. Himbauan yang seirama dengan keputusan MUI dan juga asosiasi-asosiasi keagamaan: KWI, DGI, WALUBI, Parisadha Hindu, dan MATAKIN tentang upaya physical and social distancing.

Yang menarik tentu adalah Surat Edaran Kementerian Agama RI, sebagaimana dijelaskan oleh Menteri Agama Fahrur Razi, tentang bagaimana beribadah di Bulan Ramadlan. Di dalam Surat Edaran, No. 6 Tahun 2020 Tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Suawal 1441 H di Tengah Pandemi Wabah Covid-19. Di antara isi dari Surat Edaran tersebut adalah: “sahur dan buka di rumah ditiadakan bukber dan sahur in the road, salah tarawih secara individu atau berjamaah di rumah, membaca al Qur’an di rumah, bukber di masjid, lembaga pemerintah dan swasta ditiadakan, peringatan Nuzulul Qur’an dan tabligh akbar ditiadakan, I’tikaf di masjid ditiadakan, takbir keliling ditiadakan, pesantren kilat ditiadakan, silaturrahim bisa dilakukan melalui media sosial”. Sedangkan untuk teknik pelaksanaan shalat Id menunggu fatwa MUI.

Jika kita membaca SE Menteri Agama ini, betapa tegasnya upaya untuk mendomestikkan agama di era covid-19. Agama benar-benar dirumahkan. Agama yang selama ini dilakukan dengan gegap gempita dan hingar bingar melalui masjid, dan lainnya harus dilakukan dengan sunyi di rumah masing-masing. Para pelaku agama rasanya harus mematuhi terhadap SE Menag ini. Meskipun SE itu tidak memiliki kekuatan memaksa, namun memang penting untuk disadari bagaimana melakukan tindakan di bulan Ramadlan. Agama benar-benar harus berada di “Ruang Domestik”.

Tentu setiap peristiwa ada untung ruginya. Di saat seperti ini dipastikan media sosial, seperti TV, WA, Radio, dan lainnya akan menuai keuntungan. Rating TV tentang acara dakwah melalui TV akan meningkat, siaran radio juga akan kembali laku, dan media sosial juga akan menuai harinya. Siapa yang untung tentu adalah perusahaan dan pemilik modalnya.

Lalu siapa yang “buntung” di dalam hal ini, tentu adalah para pendakwah, imam masjid, imam mushalla, pendakwah kultum tarawih, pendakwah bukber, dan pengusaha Kelas Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM), yang selama ini meraup keuntungan dari kehadiran bulan Ramadlan. Jika selama ini umat Islam bergembira menyambut Ramadlan, maka tahun ini rasanya “hambar”. Ada banyak segmen masyarakat yang merasakan betapa “ujian” kehidupan sekarang ini luar biasa.

Tanpa keinginan untuk menyatakan bahwa virus ini dibuat atau sesuatu yang accidence, tetapi kita rasanya harus mengikuti pemikiran kaum tasawuf, bahwa setiap kejadian selalu saja sepengetahuan Tuhan, dan upayanya adalah ikhtiar dan pasrah kepada Yang Maha Hidup, Yang Maha Rahman dan Rahim dan Yang Maha Perkasa atas segala kejadian di alam makro dan mikro kosmos.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

AGAMA DI RUANG DOMESTIK (4)

Sebagai penggemar Bang Haji Rhoma Irama, tentu saja saya langsung mendapatkan kiriman dari Dr. Saifuddin, UIN Raden Fatah Palembang, tentang lagu “Virus Corona”. Perlu saya sampaikan bahwa Dr. Saifuddin adalah doktor yang meneliti tentang lagu-lagu Bang Haji dan Bang Haji juga hadir untuk memberi testimoni tentang lagu-lagunya pada saat ujian terbuka Mas Dr. Saifuddin.

Saya menulis mengenai musik Bang Haji ini sudah beberapa kali. Saya menulis tentang lagu “virus Corona” ini di saat saya sedang memperkuat tesis saya bahwa ada yang disebut sebagai Agama Domestik. Agama yang “dipaksa” oleh struktur sosial untuk memasuki ruang-ruang terbatas.

Kekaguman saya pada Bang Haji disebabkan karena Beliau selalu membuat syair lagunya itu berdasar atas konteks sosial psikhologis dan religius yang sedang dihadapi oleh manusia. Betapa banyak syair-syair lagunya yang menggambarkan nuansa sosial-religius, dan inilah yang menyebabkan lagunya itu seakan abadi, jika dibandingkan dengan lagu-lagu dari penyanyi lainnya. Yang lain hanya seumur jagung, tetapi lagunya Bang Haji menjadi abadi.

Sebelum saya melakukan analisis tentu ada baiknya jika saya angkat lebih dulu tentang syair lagu “Virus Corona”. “Kengerian yang mencekam, Melanda segenap alam, Kala makhluk itu datang, Menyerang dan mematikan”. “Dia tak terlihat mata, Tak bisa diraba, Namun sangat mengerikan seluruh manusia”, “Hampir di segenap negeri, Isolasi bersembunyi, Ketakutan tak terperi”. “Hanyalah padamu Tuhan, Kami mohon perlindungan”, “Dari ancaman bahaya, Virus yang makin mewabah, Berilah inayah untuk menghentikan”, “Mata dunia terbuka, Betapa lemah manusia, Walaupun sudah digdaya, Ternyata rapuh padanya”, “Hanyalah dengan mikroba, bernama corona, Sungguh telah menghancurkan , Sendi kehidupan”. “Ikhtiar dan juga doa, Mari kita upayakan, Agar dunia terbebas, Darinya…virus corona”.

Betapa indahnya syair lagu Bang Haji ini. Saya berkeyakinan bahwa untuk menciptakan lagu ini tentu menggunakan pendekatan spiritual, tidak hanya berbasis pada kenyataan empiris yang diketahuinya. Jika kita cermati, maka ada beberapa catatan tentang lagu virus corona ini. Pertama, bahwa virus corona benar-benar menjadi momok dunia, tidak ada negara yang terbebas dari virus ini. Meskipun tidak tampak, namun memiliki daya pengaruh yang besar terhadap seluruh dunia. Kekuatan virus corona ini ternyata juga luar biasa. Betapa negara-negara yang selama ini mengagungkan rasionalitas dan kekuatan fisik dan pikiran ternyata tidak mampu berbuat banyak. Di sana-sini kemudian yang dilakukan adalah kebijakan lock down sebuah wilayah, di mana manusia mengasingkan diri di dalam rumahnya sendiri-sendiri dengan kengerian yang tidak terhingga. Pengaruh psikhologis virus ini sungguh sangat dahsyat.

Kedua, manusia ternyata tidak memiliki kekuatan apapun di dalam berhadapan dengan makhluk nongaib tetapi tidak kasat mata. Mikroba ini tidak tampak kecuali dengan teknologi kedokteran, akan tetapi memiliki daya ledak mematikan. Lebih dahsyat dibandingkan dengan bom yang dijatuhkan Amerika ke Nagasaki dan Hiroshima tahun 1945, atau senjata kimia yang digunakan Amerika di dalam perang Irak. Yang seperti ini masih bisa dilokalisasikan, sehingga tidak memiliki dampak mendunia. Coba bayangkan, virus corona itu dari Wuhan di Cina tetapi sekarang telah meracuni seluruh dunia. Tidak ada negara yang terbebas dari mikroba ini.

Ketiga, akhirnya manusia harus mengakui kelemahannya dan keterbatasannya. Dan yang tidak terbatas dan Maha Kuasa adalah Allah swt. Manusia yang telah mendeklarasikan kehebatannya dengan teknologi yang dikuasainya ternyata harus mengakui ada kehebatan lain, yang bisa mengalahkannya. Di saat seperti ini, seperti kata Bronislaw Malinowsky, lalu manusia teringat akan kekuatan “gaib”, di dalam konsepsi Malinowsky disebut sebagai “magi”, tetapi di dalam agama Samawi, khususnya Agama Islam, yang Maha Kuasa dan Perkasa itu adalah Allah swt. Di saat seperti ini, maka sebagaimana syair Bang Haji, “Hanyalah padamu Tuhan, Kami mohon perlindungan”, “Dari ancaman bahaya, Virus yang makin mewabah, Berilah inayah untuk menghentikan”.

Agama menjadi sangat fungsional di saat terdapat musibah. Agama, ternyata menjadi ujung akhir dari proses permohonan atas ketidakberdayaan manusia menghadapi tekanan eksternal di luar dirinya, terutama di kalangan kaum rasionalis. Namun bagi kaum agamawan, bahwa agama itu fungsional di hilir dan hulu kehidupan. Agama diyakini mendasari setiap proses kehidupan manusia. Kaum spiritualis justru tidak hanya sekedar itu, bahwa semua kejadian hakikatnya adalah takdir Tuhan dan manusia harus pasrah menghadapinya. Tuhan bagi kaum spiritualis menyertai setiap kejadian di dunia ini.

Kenyataan empiris virus corona yang mendesak manusia ke dalam isolasi diri, dan berdoa atau beribadah  di dalam isolasi diri itulah yang saya konsepsikan sebagai agama domestik, sebab agama sebagaimana yang diamalkan oleh pemeluknya tersekat di dalam bilik sempit, rumah-rumah, atau tempat ibadah terbatas, dan belum lagi diperkenankan untuk kembali ke ranah publik.

Walllahu a’lam bi al shawab.

 

AGAMA DI RUANG DOMESTIK (3)

Saya termasuk orang yang menyukai tulisan Pak Dahlan Iskan. Bahkan saya juga membaca seluruh bukunya, terutama pada saat saya menjadi promotor untuk penganugerahan Doktor Honoris Causa (DR.Hc) yang diberikan oleh UIN Walisongo Semarang, tahun 2017 yang lalu. Saya juga terus mengikuti tulisan-tulisan beliau sewaktu masih di Jawa Pos, dan sekarang melalui WAG yang sering dishare oleh para penggemarnya.

Saya tertarik dengan tulisan Pak Dahlan Iskan, yang berjudul “Masjid Jarang” dan “Pilihan Sulit”, yang saya baca di WAG kemarin. Tulisan yang sangat menarik, selain ditulis oleh seorang jurnalis tulen juga karena penyajiannya yang mudah dicerna oleh semua kalangan, tidak harus mereka yang well educated. Sebagai wartawan yang kemudian menjadi CEO koran terbesar di Indonesia, Jawa Pos, maka tulisannya enak dicerna dan perlu dibaca.

Ada tiga hal yang ingin saya soroti terkait dengan tulisan beliau itu dalam kaitannya dengan gagasan saya mengenai agama domestik. Pertama, tentang virus corona yang melintas batas sampai seluruh ujung dunia, menembus batas-batas budaya dan agama. Tidak hanya aspek ekonomi dan sosial yang terdampak sedemikian hebat, akan tetapi juga tradisi-tradisi agama, yang selama ini relatif terjaga dari pengaruh apapun. Kedua, virus corona ternyata tidak mengenal wilayah persebaran berbasis etnis, agama, dan kewilayahan. India, yang mayoritas Hindu, Italia yang mayoritas Katolik, Timur Tengah yang mayoritas Islam, Iran mayorits Islam, Inggris yang mayoritas Kristen, Amerika yang mayoritas Kristen, Afrika yang mayoritas Kristen dan Indonesia yang mayoritas Islam. Semuanya terkena virus corona dengan berbagai dinamika persebarannya. Ketiga, bagaimana virus corona mengubah tatanan agama dengan segala dogma-dogma yang selama ini demikian kuat. Digambarkan bagaimana masjid dan mushalla harus menutup diri, bagaimana tempat-tempat ibadah menutup dari jemaahnya dan bagaimana perilaku takmir masjid yang terpaksa menyelenggarakan shalat jamaah Jum’at dengan protokoler ketat, seperti di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya.

Seruan untuk tidak menyelenggarakan shalat jamaah sedemikian perkasa disampaikan oleh para pejabat maupun para ulama, bahkan MUI juga membuat fatwa khusus tentang “pelarangan menyelenggarakan shalat Jumat dan shalat rawatib berjamaah”. Semua ini dilakukan dalam paket menghalau persebaran covid-19 yang sedemikian powerfull. Mikroba yang diidentifikasi sebagai coronavirus itu telah meluluhlantakkan aturan-aturan agama yang selama ini dibungkus dengan hukum fiqih, harus takluk di hadapan yang “berkuasa” saat ini, coronavirus.

Negara-negara yang selama ini digdaya, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa kalang kabut menghadapi mikroba ini. Betapa porak porandanya Italia, negeri dongeng dan fashion, Amerika Serikat “the super power” yang sangat digaya dengan senjata kimianya, seakan tidak bisa lagi jemawa. Mana ada negara yang masih bisa menepuk dada dalam menghadapi pandemi ini. Sungguh hebat mikroba yang berlabel coronavirus.

Masjid di seluruh Nusa Tenggara Barat (NTB), yang terkenal dengan sebutan Provinsi Sejuta Masjid, juga menghentikan kegiatan shalat jamaah dan acara-acara yang biasanya menghiasi masjid-masjid tersebut. Hampir di seluruh Indonesia, masjid menutup diri dari jamaah. Masjid biasanya menjadi tempat untuk “bercengkerama” dengan Tuhan melalui wirid dan dzikir. Masjid yang selama ini menjadi tempat mengungsi jika terjadi bencana, seperti Masjid Jami’ Baiturahman di Aceh semasa terjadi Tsunami, sekarang harus menghentikan aktivitas “pahala”nya. Coronavirus mengajarkan bahwa di rumah masing-masing juga banyak pahala yang bisa diraih.

Jika ada masjid yang tetap menggelar shalat Jum’at juga harus menggunakan protokoler yang sedemikian ketat sesuai dengan persyaratan Kementerian Kesehatan, jaga physical distancing, bersihkan badan dan pakaian dengan semprotan disinfectant dan menyelenggarakan shalat sesingkat-singkatnya yang penting syarat dan rukunnya terpenuhi. Tidak sedikitpun membolehkan jamaah menggerombol baik kala memasuki masjid ataupun meninggalkan masjid. Benar-benar harus menggunakan kedisiplinan sebagai tolok ukurnya.

Tulisan Pak Dahlan semakin memperkuat konsep yang saya kemukakan tentang “Agama Domestik”. Yaitu agama yang berada di ruang-ruang terbatas, rumah atau tempat yang diizinkan dengan persyaratan yang sesuai dengan standart yang ketat. Agama memang bisa saja berada di ruang privat, ruang publik dan juga ruang domestik.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

AGAMA DI RUANG DOMESTIK (2)

Saya teringat Clifford Geertz ketika menemukan konsep Agama Jawa dengan Abangan yang berpusat di desa, Birokrat yang berada di perkotaan dan Santri yang berpusat di Pasar. Konsep desa dan kota merupakan konsep yang sesungguhnya telah ditemukan oleh Robert Redfield ketika melihat ada tradisi besar (great tradition) dan tradisi kecil (little tradition). Tradisi besar berpusat di kota dan tradisi kecil berada di desa. Perkotaan sebagai pusat birokrasi atau pemerintahan dan desa sebagai pusat kaum petani.

Kehebatan Geertz adalah ketika beliau melihat pasar sebagai satu entitas yang belum diangkat oleh Redfield dalam bukunya “Peasant Culture and Society”. Buku ini mengeksplorasi relasi desa kota di era tersebut. Kepiawaian Geertz ketika dilihatnya di dalam entitas pasar ternyata terdapat kaum santri dengan budaya yang berbeda dengan dua entitas lainnya, petani dan birokrat.

Saya tentu sama sekali tidak bermaksud “menyamakan” konsep agama domestik ini dengan proses penemuan entitas pasar dengan santrinya, sebab Geertz membutuhkan waktu dua tahun di Pare untuk menghasilkan temuan luar biasa tersebut, namun sekurang-kurangnya kita coba untuk melihat fenomena melalui metode light description, bahwa ada fenomena unik dan menarik untuk dikaji yaitu fenomena agama di ruang domestik.

Pada Jum’at (27/03/2020), saya mengamati secara selintas tentang kesiapan pelaksanaan shalat Jum’at sepanjang jalan dari perumahan Lotus Regency ke Kantor PT High Desert Indonesia (HDI) di Jalan Ngagel Madya, Gubeng Surabaya. Ketepatan saya harus pergi untuk membeli madu (clover honey). Meskipun saya sebenarnya bisa juga  memesan clover honey melalui  Gojek, akan tetapi memang secara sengaja saya ingin melihat suasana hari Jum’at pada jam 11.00 wib. Dimulai dari masjid di RS Mata Masyarakat Ketintang sampai lokasi HDI, hanya ada satu masjid saja yang menyelenggarakan shalat jamaah, yaitu masjid di Pasar Wonokromo. Bahkan Masjid Baitus Salam membuat pengumuman resmi untuk menghentikan seluruh aktivitas berjamaah di masjid selama berjangkitnya virus corona. Saya kira banyak masjid yang melakukan pemberitahuan secara resmi seperti ini.

Sesungguhnya masyarakat sangat keberatan terkait dengan penghentian sementara untuk shalat berjamaah. Bagi mereka, justru di saat genting seperti ini harus banyak doa yang dilantunkan secara berjamaah, sebagaimana biasa jika ada problem bangsa lalu sebagian umat Islam menyelenggarakan istighasah, doa bersama dan sebagainya. Namun sekarang situasinya sungguh berbeda. Pemerintah secara tegas melarang agar perkumpulan dan sejenisnya dihentikan sementara, sebab penularan covid-19 sangat massive.

Sejumlah polisi juga menertibkan kafe-kafe yang masih terdapat kerumunan. Café Bonsar, di ekat rumah saya, akhirnya diminta polisi agar cafe tersebut tidak membuka untuk “cangkruan” sebagaimana yang selama ini terjadi. Biasanya Cafe Bonsar yang melayani penjualan kopi tersebut sangat ramai dengan pembeli. Seperti biasa para penikmat kopi bisa duduk berjam-jam di kafe, sekedar untuk minum kopi dan memanfaatkan wifi untuk internetan atau main game. Sekarang suasananya sungguh berbeda.

Sepanjang saya melewati jalanan di Surabaya, bisa dilihat kafe-kafe yang sepi pembeli. Starbuck dan Excelso yang biasanya ramai pembeli pun mengalami suasana berbeda. Kafe berkelas internasional ini juga sepi pembeli sebagaimana kafe-kafe lokal yang juga mengalami penurunan drastis karena covid-19. Meskipun tidak lockdown, tetapi masyarakat terutama yang well educated, sudah mengisolasi diri. Mereka dan keluarganya sudah melakukan “lock down” sendiri. Mereka menyadari betul bahwa virus ini sungguh berbahaya dan memiliki penularan yang eksplosif.

Saya berkeyakinan, meskipun peribadahan dilakukan di rumah bersama keluarga, tetapi lantunan doa kepada Tuhan semakin banyak didendangkan. Pak RT saya, Pak Yudi, meminta saya untuk memberikan doa secara khusus untuk menangkal serangan virus corona. Melalui WA Group Ta’mir Masjid Al Ihsan, maka saya sampaikan doa yang pernah dibaca Rasulullah, yaitu: “Allahumma inna na’udzubika minar rihil ahmari, wa damil aswad wa dail akbar”, yang artinya “Ya Allah sungguh kami berlindung kepada-MU dari angin merah (wabah, dan ion merah lainnya), darah hitam (stroke, kanker, dan sebagainya), dan penyakit yang lebih berat”.

Semula doa ini akan dibaca bersama-sama ba’da magrib akan tetapi suasana yang tidak memungkinkan untuk berdoa secara berjamaah maka doa bisa dilakukan sendiri di rumah masing-masing.

Di era seperti ini, maka konsep agama domestik tersebut perlu untuk dimunculkan dan bisa menjadi peluang untuk dilakukan penelitian agar konsep ini memperoleh pembenaran ilmiah, sebagaimana Geertz di masa lalu melakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

AGAMA DI RUANG DOMESTIK (1)

Konsep baru yang saya tawarkan untuk kajian lebih lanjut adalah agama domestik untuk melengkapi konsep agama publik dan agama privat. Jika agama privat adalah agama yang menyejarah di dalam diri individu, urusan orang perorang, atau urusan privasi seseorang, maka agama publik adalah kesebalikannya, yaitu agama yang berada di ruang publik dengan seluruh hingar bingarnya. Agama berkait kelindan dengan keputusan-keputusan hukum, politik, dan agama hidup menyejarah di dalam kehidupan masyarakat.

Masyarakat Indonesia memang sangat berbeda dengan masyarakat Barat yang pernah mengalami sejarah kelam hubungan antara agama, masyarakat dan negara. Dominasi gereja yang sangat kuat di negara-negara Eropa kemudian melahirkan konsepsi agama privat, yang terus berkembang hingga sekarang. Kekuasaan kaum gerajawi yang sedemikian gigantic and powerfull kemudian melahirkan keinginan yang kuat agar civil society bisa melakukan kontrol terhadap negara dan sekaligus membatasi kekuasaan gereja. Timbullah konsep sekularisasi, yang hingga sekarang tetap menjadi konsep “sakral” di negara-negara barat, yang secara praktis membatasi kewenangan agamawan hanyalah pada masalah individual saja, agama menjadi urusan privat. Agama menjadi urusan masing-masing individu dan bukan urusan kebersamaan dalam bernegara.

Di dalam konsep sekularisasi, negara tidak membatasi orang untuk pergi ke tempat ibadah, orang boleh kapan saja beribadah secara bersama-sama sesuai dengan waktu yang disediakan, para pendakwah juga boleh menyebarkan agama kepada masyarakat, dan sebagainya, namun akses agama untuk kepentingan politik kenegaraan harus dibatasi bahkan dihilangkan.

Masyarakat Indonesia sungguh beruntung sebab semenjak dahulu, mulai kerajaan Sriwijaya, maka agama Buddha telah menjadi bagian negara, bahkan Universitas Nalanda di pusat kerajaan menjadi rujukan program pembelajaran di banyak negara yang menganut agama Buddha. Pada saat kerajaan Majapahit, maka pendidikan berbasis Hindu-Buddha juga menjadi pusat bagi program pendidikan di banyak negara dengan kesamaan agama. Para pendeta dari agama Buddha maupun Hindu memperoleh hak-hak istimewa di dalam kerajaan. Bahkan mereka bisa menjadi penasehat-penasehat raja dan memiliki hak-hak yang jelas.

Demikian pula pada zaman kerajaan Islam di Indonesia. Kerajaan Demak memberikan tanah-tanah perdikan kepada para Walisongo untuk mendirikan pesantren. Makanya semenjak dahulu dikenal pesantren Ampel, Pesantren Giri, Pesantren Bangkuning, pesantren Abuhurairah di Jombang, pesantren Drajat, Pesantren Bonang, dan sebagainya. Para kyai atau ulama juga   memiliki hak-hak istimewa di dalam kerajaan. Bahkan para putera raja juga sekolah di pesantren, misalnya Raden Ronggowarsito yang belajar di Pesantren Tegalsari Ponorogo pada masa diasuh oleh Kyai Kasan Besari.

Masyarakat Indonesia juga beruntung sebab meskipun terjadi perubahan negara, dari sistem kerajaan ke sistem republik, namun tidak terjadi “peminggiran” agama. Bahkan di seluruh dunia, hanya Indonesia yang memiliki Kementerian Agama, yang dibentuk pemerintah tanggal 3 Januari 1946, atau genap 7 (tujuh) bulan setelah kemerdekaan. Bahkan dinyatakan oleh Presiden Soekarno, bahwa Kementerian Agama adalah institusi negara yang diperuntukkan bagi umat beragama, khususnya umat Islam, karena perjuangannya untuk memerdekakan bangsa Indonesia. Dari sinilah sebenarnya negara Indonesia memiliki keunikan sebab melalui keberadaan Kementerian Agama menjadi bukti kuat betapa negara Indonesia tidak pernah meminggirkan atau menihilkan peran agama dan masyarakat beragama di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Di era Orde Baru kita juga bisa mencatat produk undang-undang, misalnya UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan di Indonesia, selain juga difungsikannya Pengadilan Tinggi Agama (PTA) dan lainnya untuk terlibat di dalam menyelesaikan kasus perceraian dan perdata. Di era reformasi bahkan lebih dahsyat lagi sebab ada banyak regulasi yang ditetapkan berbasis pada ajaran agama. Peraturan-peraturan daerah yang mengdaptasikan hukum Islam, dan juga Undang-Undang yang mengadaptasi hukum Islam, dan sebagainya. Semuanya menandakan bahwa agama di Indonesia memiliki peran dan fungsi penting di dalam kehidupan bernegara.

Namun demikian, akhir-akhir ini agama terdorong ke ruang yang lebih terbatas. Saya menyebutnya sebagai agama domestik. Ruang rumahan. Melalui pernyataan Pak Jokowi “Beribadahlah di rumah” tentu memiliki dampak yang sangat besar bagi umat beragama. Pernyataan ini harus diungkapkan sebab menjadi salah satu cara untuk menjaga physical and social distancing, dan untuk melokasi perkembangan virus corona atau covid-19. Jadi bukan pernyataan “melarang” orang beribadah di masjid atau tempat ibadah. Pernyataan Pak Jokowi ini tentu saja setelah memperoleh pengabsahan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) di saat merebaknya virus yang sangat berbahaya ini.

Rumah akhirnya menjadi pilihan utama dalam beribadah dalam konteks luas. Meskipun semenjak lama rumah telah menjadi tempat ibadah, bahkan di Madura setiap rumah ada langgar atau mushallanya, akan tetapi keterlibatan negara dalam proses ini tentu bisa menandai akan agama domestik tersebut. Jadi, agama domestik memang sangat kasuistis dan lokal, namun setidak-tidaknya kita bisa memberikan tambahan konsepsi tentang lokus agama yang selama ini hanya dua, yaitu lokus publik dan lokus privat dengan menambahkannya lokus domestik.

Wallahu a’lam bi al shawab.