• October 2019
    M T W T F S S
    « Sep    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

HOAKS ANAK HARAM TEKNOLOGI INFORMASI

HOAKS ANAK HARAM TEKNOLOGI INFORMASI

Sesiapapun mengakui bahwa teknologi informasi menjadi instrumen paling hebat dalam menciptakan masyarakat informatif. Melalui pengembangan teknologi informasi, maka banyak perubahan revolusioner yang dapat dilakukan oleh manusia di planet bumi ini. Melalui teknologi informasi, maka dunia manusia berubah dengan sangat cepat yang disebut sebagai Revolusi Industry 4.0.

Ada dua sisi yang terlihat di dalam pengembangan teknologi informasi, yaitu: aspek positif dan aspek negative. Dari dimensi positifnya, maka diketahui teknologi informasi dapat menjadi instrument dalam kerangka menyebarkan berbagai informasi tentang kebaikan, misalnya ajaran agama, kehidupan yang baik dan benar, social order, rekonsiliasi, dan sebagainya. Bukankah kita sering menjadikan media sosial sebagai sarana untuk mendengarkan lantunan ayat al Qur’an, mendengarkan ceramah agama, mendengarkan petuah-petuah kebaikan, mendengarkan nasehat-nasehat ahli agama, tokoh masyarakat dan sebagainya.

Selain itu melalui perkembangan industry juga dihadirkan Revolusi Industry 4.0 yang sangat dahsyat yang mengubah dunia dalam sekejap. Melalui Revolusi Industry 4.0, maka ada sekian banyak perubahan yang sangat cepat. Mulai dari perubahan dalam dunia bisnis dari model konvensional ke model online, sampai munculnya smart house dan mobil pintar yang diproduksi di berbagai negara di dunia terutama negara-negara yang berteknologi maju. Di Amerika Serikat misalnya sudah dimulai mendesain mobil tanpa sopir, truck tanpa sopir dan sebagainya. Volvo dan Daimler sudah memperoleh lisensi untuk mendesain mobil pintar dengan penerapan teknologi informasi. Di jalan-jalan dalam beberapa tahun mendatang sudah didapati berseliweran mobil tanpa sopir dengan akurasi yang sangat tinggi.

Melalui aplikasi-aplikasi yang dibuat di dalam dunia perdagangan, maka terjadi pembalikan teori perdagangan yang sangat menakjubkan. Banyak ritel yang terpaksa tutup disebabkan oleh serbuan aplikasi belanja online yang terus berkembang dewasa ini, seperti: alibaba.com dan amazon.com yang menjadi pemuka dalam belanja online di tingkat dunia internasional. Di Indonesia, Go Jek yang dahulu merupakan mode transportasi dengan sepeda motor untuk jasa pengantaran orang, lalu berkembang menjadi Go Pay, Go Food, Go Massage, dan sebagainya. Dari perusahaan transportasi dengan taksi menjadi perusahaan taksi dengan aplikasi. Semua perubahan ini terjadi karena perkembangan teknologi informasi, yang kemudian saya sebut sebagai akan kandung positif teknologi informasi.

Kemudian juga terdapat anak kandung negative teknologi informasi, yang sering diidentifikasi sebagai cyber war atau perang media sosial. Di antara anak haram tersebut ialah hoaks, yang menjadi momok dewasa ini. Hoax sungguh merupakan informasi yang sangat menyesatkan, sengaja untuk mengacaukan dan sengaja untuk membenturkan antara fakta yang sebenarnya fakta rekayasa yang dimuati dengan tujuan sendiri-sendiri.

Di dalam cyber war ini, maka kebenaran bisa dikalahkan oleh kejahatan. Dunia kejahatan yang direkayasa menjadi kebaikan sungguh dapat membenturkan antara satu atau dua kelompok yang sedang tidak dalam nuansa konflik. Hoaks sebagai bagian dari cyber war memang sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat. Disinilah sebenarnya terdapat ujaran kebencian, disinformasi, hate speech, dan juga kebohongan public, dan sebagainya.

Dewasa ini kita sedang berada di era yang tidak mengenakkan. Ada banyak hoaks berseliweran, ada ujaran kebencian yang terus diproduksi oleh individu—bahkan sudah ada industry hoaks—dan disebarkan melalui media sosial. Hanya saja yang terkadang membuat kita meradang, karena ujaran kebencian itu semula hanya dianggap sebagai main-main saja, tidak serius dan sebagai bahan lelucon saja. Akan tetapi di era seperti ini, maka tidak boleh ada yang dipublish di media sosial itu dianggap sebagai lelucon. Semua dianggap serius dan jika ada orang “usil” yang melaporkannya, maka jadilah hal tersebut sebagai masalah yang sangat serius. Makanya jangan bermain-main dengan media sosial jika tidak ingin bermasalah.

Penggunaan media sosial harus dengan kesadaran penuh akan dampak yang ditimbulkannya. Jangan pernah mengunggah konten-konten negative dan mensharenya melalui media sosial. Prinsip yang penting adalah menjaga dengan kehati-hatian. Saya kira kasus pelengseran Pejabat yang terjadi di Sulawesi Selatan dan Jawa Timur akhir-akhir ini, tentu disebabkan oleh ketidakhati-hatian mereka di dalam menshare informasi yang bertentangan dengan kebijakan internal suatu institusi pemerintah.

Institusi pemerintah tentu bisa memiliki regulasi, mana yang dianggap sebagai pelanggaran dan mana yang tidak dianggap sebagai pelanggaran kedisiplinan. Di sinilah makna penting menjaga kehati-hatian dimaksud. Oleh karena itu di twitter saya tuliskan: “di tengah dunia medsos yang sedemikian meluber sebaiknya kita pertimbangkan dengan hati nurani selain check and recheck atas apapun yang akan kita share ke public. Ungkap fakta tanpa prasangka, ungkap realita tanpa praduga dan jaga diri dengan kerendahan hati”

Wallahu a’lam bi al shawab.

ALUMNI PERGURUAN TINGGI DAN TANTANGAN KEKINIAN

ALUMNI PERGURUAN TINGGI DAN TANTANGAN KEKINIAN

Pada pukul 6.30 WIB, Pak Dr. Muhid, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya menelpon saya yang intinya jika saya berkenan agar bisa hadir di Universitas Islam Darul Ulum (UNISDA) Lamongan untuk mengisi Orasi Ilmiah dalam Wisuda Sarjana pada Universitas tersebut. Undangan mendadak ini disebabkan Prof. Dr. Said Aqil Siraj yang semestinya menjadi narasumber tiba-tiba menyatakan berhalangan hadir.

Sebagai akademisi yang selama ini terlibat di dalam perguruan tinggi dan dunia birokrasi tentu saya memahami betapa pentingnya Orasi Ilmiah dalam wisuda sarjana dan pascasarjana. Makanya, saya menyatakan “insyaallah” saya bisa hadir. Hari Sabtu, 5 Oktober 2019, saya memang tidak memiliki jadwal ke luar kota. Jadilah akhirnya saya menghadiri acara wisuda sarjana di UNISDA Lamongan.

Hadir pada acara ini adalah Rektor UNISDA, Ibu Ainul Masrurah, SH, MH., Ketua Yayasan, Ibu Siti Jamilah, Ketua Senat UNISDA, Dr. Afif Hasbullah, seluruh jajaran pimpinan UNISDA, Wakil Bupati, Ibu Kartika Hidayati, Ketua DPRD, Bapak Abdul Ghafur, para Kyai, pimpinan organisasi Islam, dan seluruh jajaran civitas akademika UNISDA Lamongan.

Saya memaparkan tiga hal yang saya anggap penting dan urgen untuk diketahui oleh civitas akademika dan juga masyarakat umum tentang keadaan Indonesia kekinian. Pertama, saya sampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan, baik sarjana maupun pascasarjana yang diwisuda hari ini. Ada sebanyak 562 orang yang diwisuda. Selamat kepada orang tua, pimpinan PT dan juga seluruh dosen yang terlibat di dalam proses pendidikan di UNISDA. Saya merasa bangga sebab hari ini UNISDA menyumbang SDM unggul berupa tenaga terdidik yang tentu dibutuhkan oleh pemerintah dan masyarakat. Saya juga melihat bahwa UNISDA ini merupakan PT yang stabil dilihat dari jumlah mahasiswa dan institusi yang semakin baik yang ditandai dengan kualitas sarana prasarana pendidikannya, dan kualitas para dosennya.

Kedua, Tantangan bagi PT. Perubahan sosial yang cepat tentu membawa dampak yang sangat signifikan bagi PT, baik secara kelembagaan maupun SDM. Tantangan tersebut ialah: (1) Kekerasan sosial yang difasilitasi oleh factor politik. Kasus kekerasan di Wamena, yang melibatkan penduduk setempat (asli) dengan kaum pendatang (dari Jawa, Sumbar, Sulsel, dan lain-lain) dalam bentuk pembunuhan dan pengusiran serta pembakaran asset pemerintah maupun individu pendatang adalah contoh betapa masih terdapat keinginan secara politik untuk menjadikan Papua sebagai negara merdeka. Melalui Organisasi Papua Merdeka (OPM) mereka melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan HAM. Keinginan politik untuk memisahkan diri dari NKRI merupakan bentuk tindakan kaum separatis yang melakukan pembangkangan politik.

(2) Kekerasan sosial yang dilakukan oleh kaum ekstrimis dengan menggunakan agenda-agenda agama. Misalnya kata jihad yang diartikan sebagai “perang terbuka” atau “perang offensive”. Jadi jihad diartikan sebagai perang dan untuk memerangi orang atau sekelompok orang yang berbeda dengannya. Mereka ingin agar Indonesia ini tidak lagi menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, dan NKRI sebagai bentuk negara. Mereka ingin menjadikan khilafah sebagai bentuk negara ini.

Jika gerakan semacam ini dibiarkan, maka akan dapat menyebabkan disintegrasi bangsa, bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa dan merobohkan negara yang sudah mapan semacam ini.

(3) Semakin menguatnya penggunaan teknologi informasi. Teknologi informasi bisa bermakna positif dan juga negative. Yang positif ialah teknologi informasi digunakan sebagai sarana perdagangan, pendidikan, pelatihan dan juga pengembangan pengetahuan yang positif. Sedangkan yang negative ialah teknologi informasi yang digunakan sebagai medium untuk menyebarkan berita bohong, pembunuhan karakter, ujaran kebencian dan sebagainya. Inilah yang disebut sebagai cyber war atau proxy war, di mana perang tidak lagi menggunakan senjata mekanik atau bahan kimia, akan tetapi melalui media sosial.

Dewasa ini media sosial menjadi alat yang paling efektif untuk menggerakkan berbagai macam tindakan, seperti unjuk rasa mahasiswa di seputar Revisi UU KPK dan Revisi UU KUHP. Melalui tagar-tagar yang dibuatnya dengan konten yang ambisius, maka banyak di antara mahasiswa dan bahkan pelajar untuk mengikuti unjuk rasa ini. Makanya, media sosial bisa digunakan untuk kepentingan penggalangan dukungan dan melakukan tindakan sesuai dengan yang diinginkan oleh pelakunya.

Ketiga, Generasi muda sebagai bagian dari bangsa Indonesia harus optimis. (1) Negara kita telah masuk dalam 20 besar negara dengan pertumbuhan ekonomi yang baik. Kita masuk G20, dan berdasarkan survey yang dilakukan oleh McKensey kita akan masuk menjadi peringkat ke 7 tahun 2030. Dan pada tahun tersebut diperkirakan akan terdapat 100 juta lebih penduduk Indonesia yang masuk dalam kelompok Kelas Menengah Baru. Jadi masih sangat besar peluang Indonesia menjadi negara maju dalam bidang perekonomian.

(2) Kita juga memiliki kekuatan dalam kehidupan beragama yang moderat. Masyarakat kita termasuk golongan masyarakat beragama yang menjunjung tinggi terhadap kehidupan beragama yang santun, toleran, saling menghormati dan menghargai. Hal ini merupakan potensi yang luar biasa dan dapat dijadikan sebagai modal sosial untuk bisa hidup dalam negara dengan tingkat pluralitas dan multikulturalitas yang sangat tinggi. Oleh karena itu, yang terpenting ialah bagaimana merawat dan menjaga harmoni bangsa dengan semakin meminimalisir unsur-unsur yang akan memecah belah.

Tugas para alumni PT dan kita semua adalah menjadi agen bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara yang didasari oleh sikap dan tindakan yang mengedepankan kebersamaan untuk mencapai kerukunan dan harmoni. Dalam menghadapi hoaks maka sikap kita ialah jangan percaya begitu saja terhadap berita yang datang kepada kita. Check and recheck, saring sebelum sharing, agar setiap informasi dari media sosial dipastikan kebenarannya. Sudah saatnya kita semua menjadi agen literasi media sosial. Anak kandung negative teknologi informasi ini harus diredam dengan kesadaran sepenuhnya dari agen Islam wasathiyah, agar benih-benih radikalisme atau ekstrimisme tidak terus tumbuh. Demikian pula kecenderungan untuk melakukan kekerasan berbasis pada politik dan keagamaan juga harus dapat diredam sedemikian rupa. Dan ini sangat tergantung pada kesiapan kita semua.

Wallahu a’lam bi alshawab.

MENJADI PEMBIMBING MANASIK HAJI PROFESIONAL

MENJADI PEMBIMBING MANASIK HAJI PROFESIONAL

Secara mendadak saya dihubungi oleh Pak Cholil agar bisa memberikan materi dalam Program Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji, kerjasama antara Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) dan Direktorat Jenderal Pelayanan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama RI. Ternyata Pak Cholil meneruskan pembicaraan Pak Dr. Agus Santoso agar kiranya saya dapat terlibat di dalam program dimaksud.

Pak Agus juga WA saya terkait dengan hal ini. Sebagai balasan kepada Pak Agus saya sampaikan bahwa saya siap untuk terlibat dengan catatan saya akan menyampaikan dimensi managemen yang sedikit banyak saya kuasai. Saya tidak akan bercerita tentang conten ibadah haji. Maka, jadilah saya memberikan materi tersebut di Asrama Haji Sukolilo, 3/10/2019.

Secara umum, saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, standarisasi dan sertifikasi.

Standar ialah suatu usaha melalui program atau kegiatan dalam rangka menetapkan kepastian atau ketentuan yang dapat dijadikan sebagai pedoman bersama. Jadi, ada beberapa hal yang pasti, yaitu: dipastikan ada usaha atau kegiatannya, dipastikan ada aturan atau kepastian ukurannya atau parameternya, dipastikan ada yang dinyatakan standar dan tidak standar. Standarisasi ialah upaya untuk melakukan bersama-sama dalam mencapai standar dimaksud.

Sedangkan sertifikasi adalah hal yang lain. Sertifikasi ialah program atau kegiatan yang dilakukan dalam rangka untuk menetapkan seseorang atau individu yang memiliki kualifikasi dalam bidang tertentu dan dilakukan oleh institusi yang berkompeten. Di dalam sertifikasi juga harus ada kepastian. Dipastikan ada program atau kegiatan, dipastikan ada standarisasi keahliannya, dipastikan ada keputusan atau penetapan ahli atau tidak ahli. Program sertifikasi disebut juga sebagai sertifikasi profesi.

Sedangkan manasik haji ialah program atau kegiatan untuk memberikan peragaan tentang tatacara melakukan ibadah haji. Untuk beribadah yang baik, maka dipastikan niat, tujuan dan maknanya benar, dipastikan bahwa tatacaranya benar, dipastikan prosesnya benar, dipastikan tempatnya benar, dipastikan waktunya benar, dipastikan doa ibadahnya benar. Serta dipastikan rukun, wajib dan sunnahnya benar.

Kedua, Bekal pengalaman berhaji. Saya berpendapat bahwa pelatihan manasik haji bukan memberikan pengetahuan tentang berhaji, sebab manasik haji merupakan program atau kegiatan pelatihan yang berbasis pada pengalaman berhaji. Manasik haji memberikan bekal pengalaman yang pernah dilakukan oleh pembimbing tentang bagaimana melaksanakan ibadah haji. Para pembimbing harus memahami tentang sekian banyak problem yang dimiliki oleh calon Jemaah haji (calhaj).

Ada beberapa problema yang mendasar terkait dengan jamaah haji. Kebanyakan jamaah haji merupakan individu dengan tingkat literasi keislaman yang belum optimal. Kebanyakan jamaah haji kita berasal dari masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah. Kebanyakan jamaah haji kita orang pedesaan dengan tingkat literasi kewilayahan yang rendah. Kebanyakan jamaah haji kita itu tidak memiliki pengalaman menggunakan transportasi udara. Kebanyakan jamaah haji kita berasal dari daerah yang bervariasi. Banyak calhaj yang berusia tua, kira-kira 30 persen. Oleh karena itu, diperlukan penjelasan secara   mendalam tentang ibadah haji, baik yang bercorak fisikal maupun non fisikal.

Para jamaah haji perlu mengenal titik-titik rawan dalam penyelenggaraan ibadah haji. Diperlukan memahami problem utama haji, baik dari sisi teknologikal, fisikal maupun spiritual. Selain itu juga diperlukan untuk mengajarkan tentang pentingnya kelompok, regu dan kebersamaan.

Ketiga, Manajemen Manasik Haji. Dalam kerangka memperkuat pemahaman para jamaah haji, agar tujuan haji mabrur dapat ditunaikan, maka tata kelola bimbingan manasik haji yang baik tentu diperlukan untuk penyiapan jamaah haji. Pelatihan harus menggambarkan bahwa tata kelola yang baik dalam penyelenggaraan manasik haji akan menentukan terhadap keberhasilan haji secara umum maupun khusus. Dan juga untuk menjelaskan bahwa melalui tata kelola yang baik akan dapat memberikan jaminan tentang kepuasan pelanggan.

Kita sekarang telah memasuki dunia manajemen baru. Di antara ragam manajemen, maka manajeman pelayanan termasuk bagian dari manajemen kinerja atau performance management. Tujuan manajemen kinerja ialah memastikan bahwa semua proses, prosedur, content dan produk sesuai antara perencanaan dan produknya (target dan capaian). Tujuan pelayanan ialah memastikan bahwa pelanggan kita puas (customer satisfaction). Bahkan Jika mungkin sampai loyalitas pelanggan (customer loyalty).

Sebagai manajemen modern, manajemen pelayanan tentu mengandaikan bahwa calhaj kita adalah orang yang bisa dilatih sesuai dengan pedoman manasik yang sudah baku. Ada prinsip bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menyerap pengetahuan dan pengalaman yang ditransfer oleh petugas, meskipun dalam kapasitas penerimaan yang berbeda-beda. Di sinilah kearifan para petugas untuk menterjemahkan pengetahuan dan pengalaman agar dapat dipindahkan kepada para calhaj.

Di dalam manajemen performa, maka ada beberapa prinsip, yaitu: (1) menentukan sasaran program. Jadi, Tentukan siapa sasaran yang akan dilatih untuk manasik haji. Kenali dengan baik siapa mereka. Kenali dengan baik kemampuan mereka dalam ilmu keislaman, khususnya ibadah haji. Kenali dengan memadai tentang latar keagamaannya. Kenali dengan memadai tentang latar kehidupan sosialnya. (2) Indikator Sasaran: Berapa persen yang memiliki kemampuan cukup memadai tentang agamanya. Berapa persen yang dapat membaca dan menulis dengan baik. Berapa persen yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan berapa yang tidak. Berapa yang bisa berbahasa selain bahasa daerah dan Bahasa Indonesia. Berapa persen yang berlatarbelakang organisasi keagamaan. Berapa persen yang sudah saling mengenal di antara mereka. Berapa persen calhaj yang diinginkan untuk dapat memahami dan mengaplikasikan tata cara memakai ihram dan dam. Berapa persen calhaj yang diinginkan untuk memahami tata cara thawaf. Berapa persen calhaj yang diinginkan untuk memahami tata cara sa’i dan tahallul. Berapa persen calhaj yang diinginkan untuk memahami tata cara wukuf di Arafah. Berapa persen calhaj yang diinginkan untuk memahami tata cara mabid di Muzdalifah. Berapa persen yang diinginkan calhaj tentang tatacara melempar jamarat. Berapa persen clhaj yang diinginkan untuk memahami nafar awal dan tsani. Berapa persen yang diinginkan dari calhaj untuk memahami tentang shalat arbain. Berapa persen yang diinginkan dari calhaj untuk memahami tentang ziarah di Tanah Suci. Berapa persen yang diinginkan dari calhaj untuk memahami etika haji dan ziarah. (4) Capaian kinerja: Berapa persen capaian calhaj memiliki pemahaman dan mengaplikasikan tata cara memakai ihram dan dam. Berapa persen capaian calhaj yang memahami tata cara thawaf. Berapa persen capaian calhaj yang memahami tata cara sa’I dan tahallul. Berapa persen capaian calhaj yang memahami tata cara wukuf di Arafah. Berapa persen capaian calhaj yang memahami tata cara mabid di Muzdalifah

Secara hakiki, bahwa pembimbing bukan hanya sekedar trainer. Mereka para manasiker (sebutan yang saya berikan kepada pembimbing manasik) adalah pendidik, pelatih dan pemimpin. Sebagai pendidik maka harus menggunakan pendidikan base on pendidikan orang dewasa atau andragogi dengan prinsip memiliki konsep diri, memiliki akumulasi pengalaman, kesiapan belajar, keinginan memanfaatkan hasil belajar, memiliki kemampuan belajar.

Sebagai pemimpin, maka manasiker harus menerapkan friendly leadership (kepemimpinan ramah atau kepemimpinan persahabatan). Tidak memandang orang lain berada di bawah kita. Tidak menanggap diri sebagai atasan atau yang paling hebat dalam segala hal. Menganggap orang lain adalah mitra kerja atau mitra belajar atau mitra ibadah. Dapat melakukan kerja sama atau kolaborasi. Dan ciri utamanya ialah kepemimpinan yang membawa kebahagiaan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMBAHAS PARADIGMA ILMU DAKWAH

MEMBAHAS PARADIGMA ILMU DAKWAH

Saya tentu sangat bersyukur diundang menjadi narasumber utama di dalam International Conference of Da’wah and Communication (ICONDAC), yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) pada 24-25 September 2019 di Amphitheatre Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Hadir sebagai nara sumber ialah: Prof. Reevani Bustami, MA, PhD., dari University Sains Malaysia (USM), Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, (Director of Center for Southeast Asian Social Studies-UGM Yogyakarta), Prof. Nadirsyah Hossein (Monash University, Australia), Syekh Dr. Muhammad Husayn Farg Sayyid Ahmad (Al Azhar University) dan Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, MAg (UIN Sunan Ampel Surabaya).

Saya menyampaikan beberapa hal terutama dalam kaitannya dengan posisi ilmu Dakwah dan Komunikasi, terutama dilihat dari paradigm dan pengembangannya ke depan.

Pertama, saya sampaikan pertanyaan dasar, “Is the science of da’wah already in the “established” area as it develops other sciences in the cluster of religion study? This is the question that I think is necessary to obtain certain answers from lecturers who should be directly or indirectly involved in the development of da’wah study.

This paper takes effort to examine the scientific development of da’wah and its scientific application from the content analysis perspective which is often used as a perspective to view works or documents in the scientific field. On this context, indeed is an analysis of the work among observers and lecturers of the Faculty of Da’wah and Science Communication which during that time had gained an understanding of the da’wah science and various variants of its derivatives.

Kedua, posisi dan paradigm ilmu dakwah. Mengenai posisi ilmu dan beberapa paradigm di dalam kajian ilmu dakwah dapat dinyatakan sebagai berikut: I stated that the science of da’wah is the science of religion, as is the existence of tarbiyah, sharia, ushululuddin, commentary, hadith science and so on. Of this view, it is Abdullah, who states that the science of da’wah is religious knowledge. I think this view must be confirmed, because it really is unlikely that the da’wah science becomes the part of social science.

If we look at the works produced by the da’wah scientist, presumably it can be mapped based on the da’wah scientific paradigm, namely: paradigm factor, system, developmentalism, interpretative and participatory. Based on the above mapping paradigm, it can be seen that in the meantime, most experts in da’wah science still exist and develop the da’wah paradigm factor.

This is certainly due to the fact that the discussion around the science of da’wah is inside this paradigm. In Faculty of Da’wah and Communication of UIN Sunan Ampel, it can be known that the paradigm factor is ingrained, especially around the 1980s until the 1990s even now especially in Communication and Study programs of Islamic Broadcasting (KPI). These studies are related to the relationship between da’wah factors.

In addition to this, there are also a number of study areas that are interdisciplinary and cross-disciplinary, which have not yet gotten the optimal touch based on the scientific studies posted. For example, the interpretation of da’wah, da’wah hadith, sociology of da’wah, anthropology of da’wah, da’wah politics and so on. The interpretation of da’wah and da’wah hadith is an interdisciplinary study, because it is the field of religious science, whereas the sociology of da’wah, anthropology of da’wah, da’wah political studies, da’wah law studies, and so on is interdisciplinary study or fields that are in between has also not been received adequate touch.

Ketiga, ada beberapa catatan penting untuk pengembangan ilmu dakwah ke depan, di antaranya ialah: Lecturer Resources at the Faculty of Da’wah and Communication are sufficient. Today, there are many lecturers at the Faculty of Da’wah and Communication who hold doctoral degree with various studies. Their presence is certainly very meaningful for the development of da’wah science indeed really needs rapid development.

Therefore, there are a few notes to notice:

  1. Most studies of da’wah are within the da’wah factor paradigm, so that other paradigms such as the paradigm system, paradigm developmentalism and interpretive paradigm have not yet obtained an adequate proportion of studies.
  2. A consortium of experts in the field of da’wah is needed in collaboration with other sciences, to discuss and develop mono-disciplinary, interdisciplinary and cross-disciplinary and even multi-disciplinary studies.
  3. Efforts are needed to write and develop studies in interdisciplinary or cross-disciplinary studies and even multidisciplinary in the science of da’wah. I consider that most studies of da’wah interdisciplinary, and cross disciplinary are also immature. If it already exists (da’wah psychology, da’wah sociology and da’wah management) it is still an introductory study and has not been developed yet in a deeper direction. Moreover, interdisciplinary and cross-disciplinary studies (da’wah anthropology, da’wah political studies, da’wah law studies, etc.) have not yet been developed optimally.

I think that accelerating steps are needed to achieve the development of da’wah science that is responsive to the times and is also relevant to the desire to develop a multidisciplinary of da’wah science. The task of the lecturers of the Da’wah and Communication Faculty is not only to teach but also to conduct research and then publish it in the form of books and journals in various confessions.

Wallahu a’lam bi al shawab

 

 

 

MEDIA SOSIAL DAN DAKWAH

MEDIA SOSIAL DAN DAKWAH

Selama ini banyak yang menyatakan bahwa media sosial (medsos) itu memiliki kemadharatan yang lebih banyak dibanding kemanfaatannya. Pandangan ini tentu saja tidak salah mengingat –terutama di era pilkada atau pilpres—maka media sosial dijadikan sebagai sarana yang ampuh di dalam menggiring opini masyarakat tentang apa yang diinginkannya.

Media sosial sering dikaitkan dengan hoax, informasi bohong, pembunuhan karakter, ujaran kebencian dan sebagainya. namun sesungguhnya medsos memiliki kapasitas yang luar biasa untuk dijadikan sebagai sarana untuk mengembangkan kebaragamaan masyarakat. Misalnya ketenaran Ustadz Abdus Shomad (UAS) adalah didorong oleh penggunaan media sosial sebagai sarana untuk mendakwahkan Islam sesuai dengan paham keagamaannya. Selain beliau memang memiliki kapasitas sebagai da’i disebabkan beliau adalah alumni Timur Tengah, beliau juga memiliki keberanian dalam berbeda dengan pandangan ulama atau tokoh agama lainnya, terutama yang terkait dengan relasi antar umat beragama.

UAS memang didukung oleh team teknologi yang baik. Suatu team yang terdiri dari anak-anak muda untuk menyebarkan konten ceramah UAS dengan cara memilah mana yag disebarkan relatif utuh melalui editing secukupnya dan ada yang dipilah menjadi meme, infografis, dan sebagainya. Begitu hebatnya team media sosial itu, misalnya pernah di media sosial diunggah foto yang menyamakan wajah UAS dengan Panglima Sudirman.

Beberapa hari yang lalu, Senin, 23/09/2019, saya dan beberapa kawan (Dr. Chabib Musthofa, Yusrol Fahmi, M.Si, Ning Izmi, Alin, Zamzami, Ilham, Yero, Rizal dan Mukhlis mendiskusikan tentang bagaimana kita memasuki media sosial untuk membangun konten Islam wasathiyah. Di dalam diskusi itu, salah satunya bagaimana kita harus juga terlibat di dalam hiruk pikuk medsos dengan tujuan untuk mengembangkan konten Islam yang ramah dan juga mencerahkan. Targetnya tentu tidak semuluk-muluk misalnya untuk menyaingi informasi dari pelaku medsos lainnya, akan tetapi tentu untuk memberuikan gambaran bahwa ada alternatif lain untuk melihat Islam dengan pemahaman dan pengamalan yang lebih mengedepankan pada dimensi moderatisme.

Saya sampaikan ada tiga hal penting untuk dibahas di dalam forum kecil ini, yaitu: Pertama, bagaimana kita bisa menjadi team yang kuat untuk menyebarkan pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Konsepsi Islam rahmatan lil ‘alamin itu sudah sangat jelas, akan tetapi jangan sampai hilang di tengah kerumunan medsos yang menyebarkan kontra hal ini. Dewasa ini begitu banyak konten agama yang dijadikan sebagai sarana untuk memperkuat kelompok, paham dan juga keyakinan akan kebenarannya sendiri dalam menafsirkan agamanya. Kedua, kita harus bergerak untuk membuat konten-konten informasi keagamaan dalam berbagai variannya, sehingga ada alternatif lain bagi para penggemar medsos untuk memahami bahwa ada tafsir lain tentang agama dan juga diyakini bahwa tafsir adalah sesuatu yang bisa sangat variatif karena berisi “pemikiran” manusia tentang agamanya. Ketiga, kita sedang berhadapan dengan generasi milenial yang di dalam banyak hal berpikir sangat instan dan tidak suka pada hal-hal yang rumit, sehingga untuk memahami sesuatu cukup dengan membaca “sekejap” dan kemudian dianggap sebagai kebenaran. Mereka tidak memandang apakah yang berbicara itu tokoh agama atau bukan, yang penting pesan tersebut bisa memenuhi keinginannya dan dengan mudah bisa diperolehnya. Cara berpikir instan ini yang saya kira harus menjadi perhatian kita semua, terutama orang-orang yang sadar betapa medsos sesungguhnya bisa dijadikan sebagai sarana untuk dakwah Islam.

Menanggapi hal ini, Dr. Chabib Musthofa memberikan paparannya, bahwa dewasa ini memang media sosial sudah sedemikian rumitnya dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat. Coba jika dilihat lalu lintas informasi di media sosial, maka dapat menggambarkan tentang bagaimana tingkat kompleksitas dan lalu lalang informasi yang menyebar tanpa bisa dihentikan oleh siapapun. Makanya, harus segera dimulai untuk mengembangkan konten-konten sebagaimana disampaikan oleh Pak Professor tadi. Kita harus bergerak dan jangan hanya menjadikan hal ini sebagai wacana saja. Coba dilihat di media sosial sudah banyak konteks mengaji ilmu sosial, mengaji filsafat, mengaji Islam rahmah, tetapi juga terdapat konten-konten yang menyesatkan dan membuat perpecahan. Lalu lalang berita di medsos sudah dalam tahapan “mengkhawatirkan”. Makanya, harus diupayakan untuk membuat konten-konten informasi keislaman, melalui meme, infografis, speedwriting, dan bahkan vlog-vlog yang isinya tentang Islam ramah dimaksud. Bukannya, Pak Prof. Nur Syam sudah memilki “Nur Syam Center”, yang saya kira bisa dijadikan sebagai salah satu medium bersama untuk mengembangkan informasi damai dimaksud.

Ning Izmi juga menyampaikan bahwa NU juga sudah melakukan pelatihan tentang literasi digital dan menjadikan media sebagai sarana untuk menyebarkan islam yang rahmatan lil ’alamin. Yang kita akan lakukan kiranya memiliki kesamaan visi dengan organisasi-organisasi wasathiyah yang telah ada di Indonesia. senada dengan ini Yusrol juga menyampaikan bahwa sebenarnya Prof. Nur Syam sudah memiliki banyak ceramah atau wawancara yang intinya terkait dengan bagaimana membangun umat Islam yang moderat dan sudah dikategorikan, jadi tinggal kita yang harus bekerja untuk kepentingan tersebut.

Kita berkesepakatan bahwa kita harus menjadikan medsos sebagai sarana untuk pesan kebaikan. Meskipun kita tidak bisa mengimbangi derasnya arus di dalam media sosial tersebut, tetapi yang saya lakukan itu penting bahwa kita harus berbuat. Kelemahan kita adalah pada membangun tim yang kuat dan solid. Makanya, saya setuju dengan pandangan Dr. Chabib bahwa kita sudah saatnya bergerak.

 

Wallahu a’lam bi al shawab.