• January 2018
    M T W T F S S
    « Dec    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PROF. DR. NUR SYAM: PENGHARGAAN 30 TAHUN PENGABDIAN KEPADA NEGARA

PROF. DR. NUR SYAM: PENGHARGAAN 30 TAHUN PENGABDIAN KEPADA NEGARA
Ada yang istimewa di dalam puncak peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama RI ke 72, yaitu penerimaan lencana Karya Satya, 10 tahun, 20 tahun dan 30 tahun. Meskipun pemberian atau penghargaan Lencana Karya Satya tersebut setiap tahun diberikan tetapi tetap saja menarik untuk dicermati karena hal itu menggambarkan prestasi seorang ASN.
Saya bersyukur karena saya menerima Penghargaan Lencana Karya Satya 30 Tahun Pengabdian kepada Negara. Saya tentu merasa bergembira bahwa di akhir masa jabatan saya sebagai pejabat structural ini saya memperoleh penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo.
Sebelumnya saya juga memperoleh penghargaan Lencana Karya Satya 20 tahun pada waktu saya menjabat sebagai Rektor IAIN Sunan Ampel, tahun 2010. Suatu penghargaan yang bagi saya juga bermakna sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil yang dianggap memiliki ketercukupan persyaratan untuk memperoleh penghargaan dari Pemerintah RI.
Bersama saya untuk memperoleh penghargaan Karya Satya tersebut adalah sejumlah pegawai negeri di Kemenag yang memperoleh penghargaan Karya Satya 10 dan 20 tahun. Di antara yang memperoleh penghargaan Karya Satya 20 tahun tersebut ialah Prof. Muhammadiyah Amin Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Caliadi, SH, MH., Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Prof. Dr. Nizar, MAg., Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah dan lainnya.
Penyerahan Lencana Karya Satya dilakukan oleh Menteri Agama, Bapak Lukman Hakim Saifuddin didampingi oleh Inspektur Jenderal Kemenag, Prof. Dr. HM. Nurkholis Setiawan dan Kepala Biro Umum, Syafrizal. Pemberian penghargaan dilakukan secara simbolik tentu terkait dengan waktu yang terbatas untuk pelaksanaan upacara. Saya menjadi penerima utama penghargaan ini dan disematkan penghargaannya langsung oleh Pak Menag. Saya tentu saja mengucapkan terima kasih kepada Pak Menag atas pemberian penghargaan itu. Bukan sekedar ucapan terima kasih, tetapi juga merupakan bentuk rasa tasyakkur atas nikmat yang diberikan oleh Allah atas diri saya.
Tentu saja ada kriteria yang umum maupun yang khusus untuk seseorang bisa menerima penghargaan tersebut. Ukuran utamanya ialah masa pengabdian seseorang yang sudah mencapai batas waktu yang mencukupi. Saya mendapatkan penghargaan Lencana Karya Satya XXX tahun sebab saya sudah mengabdi lebih dari 30 tahun. Tepatnya saya diangkat sebagai PNS tahun 1986, jadi sudah mengabdi selama 31 tahun, 9 bulan. Suatu waktu pengabdian yang cukup lama.
Lalu yang juga menjadi ukuran lain ialah kesetiaan kepada negara dan bangsa. Yang memperoleh penghargaan tentu saja ialah orang yang terus menerus menggelorakan semangat mempertahankan 4 (empat) pilar consensus kebangsaan. Dalam konteks ini saya telah merasa menjadi salah satu PNS yang terus menulis dan menyemangati para generasi muda agar terus mencintai Pancasila dan menjadikannya sebagai dasar dan pandangan hidup bangsa. Saya telah menulis ratusan tulisan tentang ketidaksetujuan saya dengan gerakan radikalisme, ekstrimisme,i kekerasan sosial, intoleransi dan sebagainya.
Yang tidak kalah penting tentu ialah semangat bekerja dan kedisiplinan. Saya nyaris tidak pernah izin cuti selama ini. Selama 31 tahun lebih saya tidak memanfaatkan izin cuti tahunan untuk istirahat bekerja. Saya terus bersemangat bekerja untuk kepentingan kementerian yang yang telah mempercayai saya untuk bekerja di dalamnya. Tentu masih ada kriteria lainnya yang menjadi tolok ukur pemberian Lencana Karya Satya ini. Namun “ala kulli hal” saya sungguh merasakan kelegaan dan kebahagiaan terpilih sebagai penerima Lencana Karya Satya XXX tahun dengan Lencana berwarna emas yang mengagumkan.
Di dalam sambutannya, Menteri Agama, menyatakan bahwa: “Kita harus mensyukuri perjalanan panjang Kementerian Agama yang memasuki usia 72 tahun. Tentu bukan usia yang muda lagi. Kementerian Agama sudah memasuki usia yang dewasa. Usia yang matang. Usia yang harus direnungkan terkait dengan sumbangannya bagi masyarakat nusa dan bangsa.”
Lebih lanjut beliau menyatakan: “Peringatan Hari Amal Bhakti Kementerian Agama jatuh pada tanggal 3 Januari, sebab Kementerian Agama memang lahir pada tanggal 3 Januari 1946, genap 72 tahun yang lalu. Kementerian Agama merupakan Kementerian yang pertama lahir dari rahim Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kementerian yang memiliki fungsi untuk pengembangan kehidupan umat beragama. Kementerian ini menyandang kata agama, makanya harus dijadikan agama itu sebagai perekat dan pendamai bagi semuanya. Agama harus dijalankan sesuai dengan substansinya. Meskipun agama itu bermacam-macam namanya, tetapi hakikatnya atau substansinya ialah untuk membangun keharmonisan, keselamatan, keadilan dan kebersamaan. Tidak ada agama yang mengajarkan tentang konflik dan kekerasan.”
Juga dinyatakannya: “itulah sebabnya untuk HAB yang ke 72 ini sengaja dipilih slogan tebarkan kedamaian, sebab inti ajaran agama ialah kedamaian itu sendiri. Kita semua berharap untuk dapat menjadi agen-agen perdamaian. Di setiap diri ASN harus menjadi agen-agen perdamaian untuk bangsa dan negara kita.”
Kiranya, HAB ke 72 ini memiliki makna penting, tidak hanya karena saya mendapatkan Lencana Karya Satya, akan tetapi karena HAB ini memang lebih serempak dan meriah dibandingkan dengan HAB tahun sebelumnya. Kita semua menjadi saksi bahwa Kementerian Agama merupakan ladang perjuangan bagi kita semua untuk menegakkan kedamaian di Bumi Nusantara.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENGEMBANGKAN E-GOVERNMENT

MENGEMBANGKAN E-GOVERNMENT
Salah satu kado akhir tahun 2017 bagi Kementerian Agama ialah launching sejumlah aplikasi yang dilakukan oleh Biro Kepegawaian dan Biro Perencanaan Kementerian Agama. Tanggal 28 Desember 2017 menjadi saksi atas diluncurkannya e-government untuk menandai semakin banyaknya aplikasi yang dimiliki oleh Kemenag.
Di dalam acara launching ini hadir Menteri Agama RI, Bapak Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Komisi VIII DPR RI, Dr. Ali Taher Parasong, semua pejabat eselon I Kemenag dan pejabat eselon 2 Pusat., Para Kakanwil Kemenag se Indonesia, Para Rektor dan Ketua PTKN dan sejumlah pejabat lainnya, khususnya dari Biro Kepegawaian dan Perencanaan Kemenag. Ada dua hal yang dilaunching oleh Menteri Agama, ialah aplikasi pada Biro Kepegawaian, aplikasi pada Biro Perencanaan dan Buku Pohon Perencanaan pada Kemenag.
Ada sebanyak 7 (tujuh) aplikasi yang dilaunching pada hari itu ialah: Sistem Elektronik Kinerja ASN Kemenag, Aplikasi izin belajar dan tugas belajar, Aplikasi Sistem presensi terpadu, Aplikasi kenaikan gaji berkala, Aplikasi kenaikan pangkat otomatis, Aplikasi system informasi perencanaan, dan buku Pohon Perencanaan Kemenag. Ke depan, buku Pohon Perencanaan tersebut harus dijadikan aplikasi, sehingga akan dengan sangat mudah akan bisa dijadikan sebagai referensi di dalam menyusun perencanaan.
Pada kesempatan melaporkan kegiatan launching kepada Menteri Agama dan para audience saya sampaikan bahwa kita semua layak berterima kasih kepada Badan Kepegawaian Negara (BKN) yang sudah menghibahkan Aplikasi Sistem Pelaporan Kinerja ASN –yang di Kemenag RI disebut sebagai SI-EKA—sehingga dengan lebih simple kita dapat menggunakannya. System yang dikembangkan oleh BKN ini tentu sudah sangat teruji dan sudah digunakan oleh banyak Kementerian/Lembaga. Dengan SI-EKA ini maka akan dapat dipastikan siapa mengerjakan apa pada setiap hari, dan siapa mendapatkan apa pada setiap bulannya. Jadi dengan system ini akan bisa menjamin bahwa setiap ASN akan bekerja sesuai dengan tupoksinya.
Dengan adanya launching 7 (tujuh) aplikasi system elektronik ini, maka akan memastikan bahwa ke depan akan terjadi percepatan di dalam pelayanan public. Tidak hanya bagi customer dari dalam tetapi juga customer dari luar (public). Dengan system KGB, maka secara otomatis akan terjadi kenaikan gaji berkala bagi ASN tanpa harus membuat permohonan dan sebagainya. Demikian pula dengan system elektronik ijin dan tugas belajar maka juga dipastikan akan terjadi percepatan dalam pelayanan.
Jika kita mengembangkan system e-government, sesungguhnya diinspirasikan oleh instruksi Menteri Agama bahwa pada tahun 2017 harus dikembangkan e-government. Dan semua ini didalam kerangka untuk menapaki suatu era baru yang sudah dicanangkan oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo, tentang Birokrasi Kelas Dunia atau World Class Bureaucracy (WCB). Kita tentu selalu ingat pernyataan Pak Jokowi bahwa “Bangsa yang hebat itu bukan yang besar mengalahkan yang kecil, bukan yang kuat mengalahkan yang lemah, akan bangsa yang cepat merespon terhadap perkembangan dan perubahan zaman. Siapa yang cepat dialah yang akan menjadi pemenangnya”.

Di dalam kesempatan ini, Ketua Komisi VIII DPR RI, Dr. Ali Taher Parasong, juga menyatakan bahwa kita bergembira dengan launching aplikasi kepegawaian dan parencanaan ini. Semua ini tentu menjadi penanda bahwa Kementerian Agama sudah memasuki suatu era baru pemerintahan berbasis elektronik. Kita semua berharap bahwa dengan penggunaan aplikasi ini akan semakin cepat pelayanan public pada Kementerian Agama. Beliau juga menyatakan: “saya ini terus mendukung terhadap Kementerian Agama. Dalam hal anggaran berapapun permintaannya akan saya turuti sesuai dengan regulasi. Pokoknya untuk Kementerian Agama, semuanya harus diberikan”.
Pada kesempatan tersebut, Pak Menag juga menyatakan apresiasinya atas peluncuran system aplikasi di Biro Kepegawaian dan pada Biro Perencanaan. Kita semua tentu berharap bahwa Kementerian Agama harus menjadi contoh karena Kementerian Agama adalah satu-satunya kementerian dan menyandang kata agama. Beliau menyatakan: “dengan menyandang kata agama, maka kita semua harus dapat mengamalkan lima nilai budaya kerja secara baik dan konsekuen”.
Beliau melanjutkan bahwa: “melalui system elektronik tersebut, maka akan dapat dipastikan pelayanan akan menjadi transparan dan akuntabel. Tidak ada lagi meja-meja yang banyak yang harus dilalui oleh public kita, tidak banyak lagi hambatan dalam aplikasi kebutuhan pelayanan public, karena semuanya sudah menggunakan pelayanan berbasis elektronik, sehingga akan terjamin transparansi dan akuntabilitasnya”.
Beliau juga menyampaikan bahwa: “kita akan memasuki tahun politik 2018 dan 2019, maka saya meminta agar semua aparat sipil negara pada Kemenag dapat lebih arif menyikapi tahun politik yang biasanya memang terjadi eskalasi konflik dan benturan kepentingan.” Juga beliau tegaskan: “Di sinilah letak kenapa kita menggunakan jargon “Tebarkan Kedamaian” sebab kita memang harus terus menerus untuk menebarkan kedamaian sebagaimana pesan semua agama bagi manusia.”
Sungguh kita merasakan bahwa inovasi-inovasi terus kita galakkan dalam kerangka untuk memasuki masa depan World Class Bureaucracy yang sebentar lagi akan menjadi keniscayaan bagi kita semua.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMBANGUN CYBER ARMY PADA LEMBAGA PEMERINTAH

MEMBANGUN CYBER ARMY PADA LEMBAGA PEMERINTAH
Malam hari setelah diskusi dengan tema “Personal dan Institutinal Branding,” maka dilanjutkan dengan acara diskusi tentang “Upaya Membangun Cyber Army pada Kementerian Agama”. Hadir di dalam diskusi tersebut ialah Wakil Rektor Bidang Administrasi, Dr. Zumrotul Mukaffa, Dr. Chabib Mustafa, Dr. Liliek Hamidah, Retno Indriyati, Kasubag Data dan Informasi, dan sejumlah dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.
Sebagai nara sumber ialah: saya (Prof. Dr. Nur Syam, MSi, Sekjen Kemenag), Dr. Mastuki (Kepala Biro Humas, Data dan Informasi), Hadi Rahman (staf Khusus Menteri Agama), Dr. Ali Rahmat (Kepala Biro Perencanaan Kemenag), dan sesuai dengan rencana maka esok harinya akan didatangkan nara sumber dari TNI Angkatan Udara yang selama ini dianggap sebagai instansi pemerintah yang berhasil mengembangkan cyber army.
Di dalam forum ini, maka saya sampaikan beberapa hal penting, yaitu: Pertama, memberitakan informasi positif tentang program, kegiatan dan hasil-hasilnya yang bisa dirasakan oleh khalayak. Tujuan dari program ini ialah membangun opini positif tentang Kemenag. Bisa saja dalam bentuk infografis, speed writing, karikatur, film pendek, dan sebagainya. Info ini diambil dari quick wins Kemenag yang bernilai positif. Program ini saya kira tidak sulit sebab memang sudah tersedia bahan-bahannya dan hanya diperlukan sentuhan grafisnya saja. Program ini bisa merupakan agenda setting yang memang disediakan untuk mengarahkan pembaca atau pemirsa agar memahami secara positif terhadap upaya Kemenag dalam pelayanan public yang lebih memuaskan.
Kedua, merespon terhadap isu-isu sensitive yang diarahkan kepada Kemenag. Jika dilihat dari system kerjanya, maka tim cyber army tentu bertugas untuk menetralisir atau memberikan respon yang mengarah kepada opini yang positif. Isu-isu negative tersebut dibalik dengan pemberitaan yang lebih posisitf sehingga akan memunculkan opini kesebalikan dari isu-isu negative yang terpublish di media sosial. Di dalam konteks ini, maka tim harus selalu siap meneropong seluruh berita di media sosial, dan kemudian memberikan respon yang seimbang. Isu yang kedua ini tentu lebih rumit dibanding yang pertama tadi. Di sini tentu dibutuhkan suatu tim yang sangat kuat untuk mendeteksi dan memetakan terhadap seluruh pemberitaan terutama yang negative terhadap Kemenag. Namun demikian dengan bantuan teknologi seperti media track atau media ivenstigasi, maka tidak ada lagi kesulitan untuk mendeteksi content media yang negative dimaksud.
Ketiga, membangun tim yang solid. Saya yakin bahwa di lembaga pendidikan Islam, seperti UIN Sunan Ampel ada beberapa orang yang memiliki talenta bagus di dalam pengembangan media sosial. Selain itu di beberapa PTKIN juga terdapat fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, sehingga dipastikan ada sejumlah ahli komunikasi yang andal untuk menjadi anggota tim cyber army kemenag.
Di dalam pembicaraan kita dengan Pak Mastuki bahwa di Kemenag pusat juga ada sejumlah personal yang memiliki talenta dalam bermedia sosial. Jika mereka ini kemudian bisa dirangkai dalam satu kesatuan untuk membangun cyber army pasti dapat dikembangkan kerja tim yang baik. Sepengetahuan saya bahwa ada beberapa orang di UIN Sunan Ampel yang di masa lalu menggilai media sosial ini. saya tidak tahu apakah mereka masih seperti yang dulu yang aktif di dalam mengotak atik media sosial.
Tentu saja diskusi ini sangat menarik, sebab ada beberapa masukan yang diberikan oleh narasumber utama maupun nara sumber floor. Hadi Rahman, misalnya menyatakan bahwa yang perlu dibangun ialah visi dan misi di dalam membangun cyber army ini. Harus ada visi dan misi yang jelas apa yang akan dirumuskan dan dbangun itu. Jangan sampai hanya karena tekanan eksternal, lalu kita membuat tim cyber army. Mestinya harus ada visi dan misi yang jelas sehingga akan bisa dihasilkan produk tim cyber army yang lebih bermanfaat bagi kementerian. Selain itu juga harus ada keberpihakan pimpinan. Jangan sampai pemimpin lembaga tidak care terhadap keinginan untuk membangun imaje yang lebih positif dimaksud.
Dr. Chabib Mustafa menyatakan bahwa sekarang memang era cyber war. Dia menyatakan bahwa di dalam acara temu internasional tarekat di Pekalongan, maka di situ terdapat satu tim yang luar biasa untuk membangun opini tentang tarekat, sehingga pemberitaan tarekat melalui media sosial itu luar biasa. Dalam kasus Universitas Al Azhar, maka didapati satu tim cyber yang hebat, sehingga informasi tentang Islam, fatwa para ulama Azhar dan juga counter opini terhadap dunia Islam itu sangat dikuasai. Hasilnya adalah informasi tentang Islam dari Al Azhar itu bisa mempengaruhi terhadap dunia internasional.
Dr. Lilik Hamidah juga menyatakan bahwa kesadaran tentang pentingnya cyber army itu sudah ada dan sudah dilakukan pembicaraan yang mendasar. Hanya saja memang masih berhenti di wacana dan belum diimplementasikan di dalam perencanaan dan aksi yang memadai. Oleh karena itu sudah saatnya kita membuat rencana aksi yang lebih kongkrit untuk tujuan membangun imaje Kemenag tersebut, baik melalui perguruan tinggi maupun jajaran lainnya.
Dari diskusi ini tentu ada hal yang sebagaimana yang dinyatakan Pak Mastuki ialah bagaimana membangun SDM yang kuat untuk mewujudkan tiga hal, yaitu mendorong terwujudnya image Kemenag yang makin baik karena semua berita keberhasilan program terupload, lalu bagaimana menghadapi issu yang terus berkembang terkait dengan Kemenag, dan bagaimana mendorong semua aparat sipil negera Kemenag untuk terus terlibat di dalam program building image bagi Kemenag.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PERSONAL DAN INSTITUTIONAL BRANDING MELALUI BLOG (3)

PERSONAL DAN INSTITUTIONAL BRANDING MELALUI BLOG (3)
Diskusi di UIN Sunan Ampel dengan tema “Personal dan Institutional Branding”, 22/12/17, yang dipandu oleh Pak Mastuki ini tentu menarik dilihat dari nara sumber yang sangat memadai. Prof. Moh. Ali Aziz adalah guru besar di bidang Ilmu Dakwah yang memiliki kualitas akademis dan pengabdian masyarakat yang sangat baik. Beliau telah menciptakan model terapi shalat bahagia yang tidak hanya sudah ditrainingkan di Indonesia tetapi juga di luar negeri.
Menurut pengakuannya, bahwa terapi shalat ini sudah disampaikan kepada orang-orang atheis di Amerika Serikat dan dinyatakan sebagai model gerakan atau terapi yang bisa menyehatkan. Melalui gerakan ruku’ dan sujud yang lama dan dengan tekanan pada saraf dan sendi-sendi tertentu, maka gerakan shalat ini akan dapat memberikan efek sehat pada saraf dan otot yang terkena gerakan shalat tersebut.
Sebagai pembahas pada kesempatan ini, Prof. Ali menyatakan, bahwa “para dosen dan mahasiswa harus mengembangkan budaya menulis. Jangan pernah berhenti untuk berkreasi melalui tulisan. Percayalah bahwa tulisan kita itu akan dibaca orang. Saya tidak mengira bahwa tulisan-tulisan saya itu dibaca oleh jutaan orang. Tulisan dalam bentuk apapun apa dibaca oleh masyarakat pembaca. Di era teknologi informasi dan media sosial ini, maka tulisan dalam bentuk apapun akan dibaca oleh khalayak.”
Lebih lanjut beliau menegaskan: “Saya terus bersyukur, karena bahan khutbah saya itu dihargai puluhan juta rupiah oleh orang yang bersimpati dengan gerakan dakwah dan pengembangan pendidikan. Bahkan tulisan saya, ada yang dihargai sampai ratusan juta rupiah. Semua ini memberikan gambaran bahwa jika kita rajin menulis dan secara konsisten terus dilakukan bukan tidak mungkin tulisan itu akan dihargai orang. Makanya, saya akan terus menulis.” Beliau memberikan tip tentang cara untuk menemukan judul yang menarik, misalnya dengan membaca buku atau artikel yang relevan dan kemudian merumuskan judul tulisan yang menarik minat.
Sebagai penanggap berikutnya, Mas Hadi Rahman memberikan penjelasan mengenai arah baru dalam bermedia sosial. Menurutnya, “Kita sekarang ini berada di era digital. Era media sosial di mana semakin banyak orang yang akan menggunakan media sosial untuk berinteraksi dan menemukan jati dirinya. Ada beberapa kategori tentang pemanfaat media sosial. Ada generasi yang lahir tahun 50-an, yang merupakan generasi yang paling lengkap pengalamannya. Generasi ini yang paling komplit pengalamannya. Menggunakan mesin ketik untuk menulis, lalu beralih ke computer generasi awal, program Windows dan seperangkat teknologinya, lalu ke generasi ipad dan android. Jadi generasi ini adalah yang paling menikmati perjalanan teknologi informasi yang paling lengkap. Prof. Nur Syam dan Prof. Ali Aziz adalah termasuk generasi yang komplit pengalamannya itu.
Kemudian ada generasi berikutnya yang tidak mengalami perjalanan panjang teknologi informasi, sebab mereka sudah berada di era sekarang atau disebut sebagai generasi now. Di sinilah banyak tantangan yang dihadapi oleh mereka yang menggunakan media sosial sebagai wahana interaksi dan indentifikasi diri tersebut. Pada generasi ini sesungguhnya pertarungan media atau cyber war itu terjadi. Makanya, terhadap generasi ini maka diperlukan seperangkat pengetahuan yang memadai agar kemudian tidak jatuh ke dalam kubangan masalah dengan orang lain atau kelompok lain sebagai akibat penggunaan teknologi informasi. Mereka perlu disadarkan akan bahaya pemanfaatan media sosial yang justru tidak mendidik, misalnya hoax, dan sebagainya.”
Lebih lanjut Beliau sampaikan: “Saya termasuk orang yang mengapresiasi terhadap blog Pak Sekjen. Tidak hanya dari konsistensinya tetapi juga varian isi atau contentnya. Beberapa saat yang lalu saya membawa rombongan para rektor ke Finlandia dalam rangka kerja sama dan membangun jejaring dengan beberapa perguruan tinggi di sana. Para rektor tentu berkampanye tentang kehebatan perguruan tingginya, akan tetapi ketika ditanya apa yang sudah dilakukan oleh para rektor dan para dosennya di tengah teknologi informasi, maka semua pada bungkam tidak bisa menjawab. Dan saya akhirnya diselamatkan oleh Blognya Pak Sekjen.
Saya sampaikan bahwa blog Pak Sekjen ini adalah contoh keterlibatan para dosen di PTKIN pada era teknologi informasi. Ditanyakan oleh pimpinan di sana, apakah Prof. Dr. Nur Syam adalah profesor di PTKIN, maka saya sampaikan bahwa: “Prof. Dr. Nur Syam adalah Professor Sosiologi pada UIN Sunan Ampel Surabaya dan juga beberapa Universitas Islam Negeri lainnya.” Lebih lanjut Mas Hadi menyatakan: “selamatlah wajah PTKIN berkat blognya Pak Sekjen”.
Selain Prof. Ali dan Mas Hadi juga ada narasumber lainnya, yaitu Pak Dr. Fathurrahman, dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Beliau menyatakan bahwa: “di dalam dunia tulis menulis ada beberapa nama yang dapat dicatat. Pada waktu saya akan menulis biografi Pak Imam Suprayoga, saya nyatakan bahwa ada tiga Imam yang harus ditulis biografinya. Ada Imam Syafii, ada Imam Ghazali dan Imam Suprayogo. Dan sekarang saya tambahkan Prof. Nur Syam.”
Seungguhnya menulis adalah kebiasaan. Siapa yang konsisten menulis, maka secara otomatis akan terbentuk kemampuan menulis. Kosa kata akan secara langsung bertambah, kecepatan untuk merangkai kalimat juga akan terbentuk dan yang tidak kalah penting bahwa kita akan bisa menerjemahkan pikiran kita ke dalam tulisan yang akan lebih abadi.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PERSONAL DAN INSTITUTIONAL BRANDING MELALUI BLOG (2)

PERSONAL DAN INSTITUTIONAL BRANDING MELALUI BLOG (2)
Acara tasyakuran (22/12/2017) tentang pemeringkatan blog saya itu ternyata memang serius. Hal itu dibuktikan dengan nara sumber yang menjadi pembahasnya ternyata orang yang selama ini terlibat dengan dunia media sosial. Hadir bersama saya adalah Prof. Dr. H. Mohammad Ali Aziz, MAg., professor Ilmu Dakwah pada UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau adalah penulis buku laris, “60 Menit Terapi Shalat Bahagia” dan Trainer Terapi Shalat Bahagia yang sudah keliling dunia untuk memberikan pelatihan tersebut. Juga hadir Mas Hadi Rahman, Staf khusus Pak Menteri Agama, anak muda yang selama ini terlibat di dalam media sosial dan menjadi pemasok informasi media sosial bagi Kemenag., Pak Dr. Fathurrahman, dosen UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, dosen yang aktif di media sosial dan memiliki followers yang sangat memadai, dan juga Dr. Mohammad Arif, MSi, dosen ilmu Komunikasi pada Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya. Dan dipandu oleh Dr. Mastuki, Kepala Biro Humas, Data dan Informasi Kemenag.
Ada tiga hal yang saya sampaikan pada kesempatan penting ini, yaitu: pertama, acara ini diusung dalam kerangka mensyukuri komitmen untuk terus menulis di dalam blog yang telah mencapai tulisan sebanyak 1656 buah. Tulisan ini diupload dalam waktu kurang lebih 7 (tujuh) tahun, semenjak tahun 2009 sampai sekarang. Seandainya saya tidak absen dalam setahun, maka kiranya sudah terdapat 2000 tulisan. Sayang bahwa saya pernah berhenti menulis. Biarlah ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk terus berkomitmen menulis itu.
Dilihat dari pengunjung tulisan, maka mereka datang dari Indonesia, Amerika Serikat, Malaysia, Taiwan, Singapura, Norwegia, Cina, Belgia, Jepang, Belanda, Jerman, Saudi Arabia, dan lain-lain. Ada sebanyak 36 negara yang mengakses tulisan ini. Yang menarik setelah pembaca Indonesia, maka yang menduduki peringkat kedua terbanyak ialah Amerika Serikat. Kemudian dari peringkat bagi saya juga cukup membanggakan sebab dari sejumlah 3000 blogger di Indonesia dan 120 juta blogger di dunia, ternyata blog saya itu berada dalam peringkat 44.572. Tentu merupakan kebanggan khusus bahwa tulisan-tulisan saya itu mendapatkan pemeringkatan yang lumayan baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kedua, semenjak semula niat untuk menulis di blog setiap hari itu adalah untuk menyemangati para dosen di UIN Sunan Ampel, Surabaya. Di setiap saya bertemu dengan para dosen muda itu selalu saya tanyakan: “apa masih menulis, sudah berapa banyak tulisannya” terkadang saya tambahkan “saya yang menjabat saja masih bisa menulis, seharusnya sampeyan lebih produktif” atau pertanyaan yang saya tujukan kepada para kandidat doctor, selalu saya tanyakan: “Kapan selesai doktornya”. Pertanyaan ini memang secara sengaja saya sampaikan agar bisa mensupport para dosen agar segera menyelesaikan studinya.
Dewasa ini ada semakin banyak doctor, baik dari dalam maupun luar negeri. Para doctor ini tentu sangat teruji di dalam menulis makalah atau sejenisnya. Sesungguhnya mereka telah memiliki seperangkat keterampilan untuk menulis. Dan dengan menyimak terhadap blog saya ini, maka mereka akan memperoleh lesson learn tentang aktivisme menulis tersebut.
Ketiga, ada beberap tip agar bisa menulis secara konsisten, yaitu: 1) tulislah yang kita pahami dan kita kuasai. Jika kita menulis yang kita pahami, maka kita akan bisa menulis dengan cepat dan akurat. Kita akan bisa memberikan penjelasan secara lebih rinci dan kita juga tidak akan terjebak pada penulisan yang bersifat subyektif dan kurang tepat. Saya memang tidak menulis dengan standart akademik yang tinggi. Saya hanya menuliskan pengalaman dan pengetahuan saya secara independen. Bahkan saya juga tidak menggunakan footnote yang ketat. Saya menulis dengan kekuatan pikiran saja. Nyaris tidak dijumpai catatan kaki untuk menggambarkan kita ittiba’ dengan penulis lain.
Saya kira menulis dengan tanpa referensi, bukanlah lalu tidak ada harganya, atau pengakuannya akademiknya sedikit. Melalui tulisan tanpa referensi juga tidak berarti terdapat kadar akademik yang rendah. Jadi, dengan tulisan kita akan memberikan peringatan, mengajak diskusi sebagai forum untuk tabayyun dan sebagainya. Selain itu juga memberikan informasi tentang komentar atau ulasan yang didasarkan atas kekuatan pikiran kita yang independen.
2) menulislah dengan focus yang jelas. Setiap tulisan tentu memiliki pesan yang akan disampaikan kepada pembacanya. Makanya setiap pembaca harus memperoleh kesan tentang apa yang dibacanya itu. Di dalam konteks ini, maka seorang penulis yang baik ialah jika dia menulis dengan focus yang jelas, memiliki pandangan yang mendalam dan juga memiliki ketajaman analisis. Ketiganya tentu akan bisa dilakukan dengan pelatihan dan pengalaman menulis yang cukup. Semakin banyak menulis akan semakin variatif kosa kata, dan juga makin “renyah” pembahasannya.
3) jangan menulis yang diperkirakan akan membawa kegaduhan. Seorang penulis yang baik juga predictor yang baik. Maka memprediksi terhadap dampak tulisan akan menjadi sangat penting untuk dipahami. Jangan sampai kita menulis lalu justru akan mematikan diri kita sendiri. Dewasa ini memang ada perubahan paradigm. Jika di masa lalu orang menulis dibahas dengan tulisan, akan tetapi sekarang tulisan dibalas dengan demo dan caci maki.
Sebagai seorang akademisi dan praktisi birokrasi saya kita kita memiliki sejumlah pengetahuan yang dapat kita tuangkan ke dalam tulisan. Jangan sampai pikiran-pikiran kita yang cemerlang itu hanya menguap bersama angin akan tetapi harus tetap lestari dengan tulisan.
Wallahu a’lam bi al shawab.