Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PEMERINTAH ARAB SAUDI DAN DIGITALISASI HAJI DAN UMRAH

PEMERINTAH ARAB SAUDI DAN DIGITALISASI HAJI DAN UMRAH

Salah satu sessi di dalam International Conference 6th IISEF di Jakarta, 15 Nopember 2019, adalah tentang Haji dan Umrah. Sehari sebelumnya juga diselenggarakan acara Haji and Umrah Festival di Jakarta, tepatnya di Jakarta Convention Center (JCC) Kompleks Senayan Jakarta. Yang menjadi panelis untuk tema Haji dan Umrah adalah Anggito Abimanyu, PhD, Ketua Badan Pelaksana Keuangan Haji (BPKH). Judul yang beliau sampaikan adalah “Indonesia: Moving Toward Hajj and Umrah Digitalization”.

Ada yang sangat menarik disampaikan oleh Pak Anggito terkait dengan penyelenggaraan haji dan umrah untuk tahun 2020 adalah akan diberlakukannya system digital, yang sekaarang sedang menjadi kecenderungan baru Pemerintah Arab Saudi. Rupanya, Pemerintah Saudi Arabia tidak ingin disebut terlambat dalam penerapan teknologi informasi, ingin ditunjukkan bahwa Saudi Arabia sudah sangat modern, terbukti dengan adanya gerakan-gerakan digitalisasi system yang sudah mapan.

Tahun 2020 untuk penyelenggaraan haji akan menggunakan system informasi baru yang sangat canggih. System ini harus diikuti dan tidak bisa dihindari. Misalnya adalah penerapan system informasi di mana seorang calon jamaah haji akan bisa mengakses langsung terhadap system perhajian di Arab Saudi. Ke depan, sudah tidak lagi diterapkan system visa sebagaimana sekarang. Sudah paperless atau e-visa. Pola ini sudah diterapkan untuk umrah. Seseorang yang akan umrah bisa langsung pesan melalui penyedia jasa yang memiliki kerja sama dengan pemerintah Saudi. Ini merupakan tantangan yang luar biasa bagi Biro Travel Haji dan Umrah, yang sekarang masih menggunakan cara konvensional di dalam penyelenggaraan umrahnya.

Saudi Vision 2030 dalam bidang haji dan umrah adalah mencapai 30 juta jamaah haji dan umrah dan 5 juta wisatawan haji. Oleh karena itu, KSA akan menambah quota, memodernisasi pelayananan dan regulasi yang lebih jelas dan transparan serta effisien untuk seluruh pelayanan haji dan industry umrah. Misi haji atau operator tour harus mengajukan pelayanan haji dan umrah melalui ketersediaan finansial yang kuat dan menerapkan teknologi modern dan digitalisasi. Agency pendanaan haji harus berpeluang untuk investasi yang menguntungkan, baik untuk haji dan umrah melalui G to G atau B to B.

Pemerintah Arab Saudi memang secara total ingin mengembangkan pelayanan haji dan umrah berbasis high technology. Hal itu bisa dilihat dari perkembangan penerapan kebijakan mengenai Visa. Sebelum tahun 2013 untuk memperoleh Visa maka jamaah haji harus memperoleh Visa dari pemerintah KSA/Muassasah, lalu tahun 2014-2019 menggunakan system e-Haj. Dan pada 2020 akan menggunakan system baru yang disebut sebagai GDS (Global Distribution System), yang merupakan system reservasi terpusat di dalam pelayanan dan visa akan dapat diimplementasikan melalui Global OTA (online travel Agency), sesuai dengan Undang-Undang No 111/mim/1440.

Untuk mempersiapkan hal ini, maka pemerintah Saudi telah melakukan kerja sama dengan AGODA, salah satu Online Travel Agent (OTA) tercepat dan terbesar di dunia melalui kerja sama antara Kementerian Haji Arab Saudi yang telah menjalin MoU untuk penggunaan teknologi AGODA pada tahun 2018 yang lalu. System pelayanan satu pintu dalam penyelenggaraan Haji dan Umrah ini tentu akan berakibat terhadap perubahan pelayanan secara keseluruhan. Pada tahun 2014 ketika KSA menerapkan e-Haj, maka ada banyak hal yang kemudian berubah, termasuk dalam tata cara pemerolehan visa dan sebagainya.

Jika KSA menerapkan system baru ini, maka akan memiliki dampak langsung terhadap system pelayanan di negara asal haji, termasuk Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa jamaah haji Indonesia memperoleh pelayanan haji antara lain adalah tiket dan pelayanan bandara, pelayanan Mekah dan Madinah, air zamzam, makanan dan catering, pelayanan bus shalawat, pelayanan Armuzna, pelayanan ziarah, souvenir dan tourisme, living cost, dan visa. Oleh karena itu regulasi terkait dengan penyelenggaraan haji dan umrah harus ditinjau ulang relevansinya dengan perubahan digitalisasi haji dan umrah yang setahun lagi akan diberlakukan.

Melalui system digitalisasi haji dan umrah, maka tantangan bagi penyelenggaraan haji dan umrah di Indonesia adalah: pertama, Kementerian Agama dan juga biro travel haji dan umrah serta Kelompok Bimbingan Haji Indonesia (KBIH) harus mengikuti arus baru digitalisasi tersebut. Jadi, mestilah memasuki OTA-AGODA sebagai konsekuensi telah disetujuinya system pelayanan haji berbasis digital yang sudah ditandatangani oleh Menteri Haji Arab Saudi dengan AGODA.

Kedua, semua pendataan haji dan umrah haruslah melewati pintu system digital haji dan umrah. Khusus umrah sudah dilakukan pada akhir tahun 2019 dan haji akan diterapkan pada tahun 2020. Sebagaimana system e-haj di masa lalu, maka begitu diundangkan oleh kerajaan, maka langsung dilaksanakan. Jadi untuk system digitalisasi haji ini juga akan dilakukan secepatnya. Pemerintah Saudi berpandangan bahwa perubahan system ini akan dapat memberikan jaminan pelayanan yang lebih baik untuk jamaah haji.

Ketiga, pelayanan visa, misalnya sudah tidak lagi menggunakan kertas atau paperless. Begitu seseorang daftar umrah melalui system OTA-AGODA misalnya, maka akan diketahui hotel mana yang akan ditempati, kamar berapa, pelayanan makanan dan lainnya serta langsung bisa dicetak via online tentang visanya. Problem kita adalah bagaimana penyelenggara haji dan umrah di Indonesia harus segera menyesuaikan dengan perubahan di Arab Saudi ini. Sementara itu belum didapati kerja sama antara pihak penyelenggara haji dan umrah di Indonesia dengan Arab Saudi via OTA-AGODA.

Oleh karena itu, saya kira diperlukan segera untuk merespon perubahan ini agar pada saatnya system ini diberlakukan kita sudah memiliki kesiapan yang memadai. Perubahan dari system manual ke e-haj yang lalu menyebabkan problem yang cukup serius. Padahal system ini hanya untuk pelaksaan visa saja. Dan system digital baru yang akan diberlakukan ini tentu lebih rumit sebab menyangkut kesiapan teknologi digital, SDM dan juga kerja sama antar institusi.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PENGEMBANGAN EKONOMI SYARIAH DI ERA MILENIAL

PENGEMBANGAN EKONOMI SYARIAH DI ERA MILENIAL

Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) memiliki perhelatan besar yaitu 6th Indonesia Sharia Economic Festival, yang diselenggarakan tanggal 12-16 Nopember 2019. Ada banyak acara yang digelar mulai dari 1st International Dialogue 2019, International Hajj Conference, hingga 6th Indonesia Islamic Economic Forum, yang diselenggarakan hari ini, 15/11/2019 di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta. Sebagai salah seorang pengurus MES, saya tentu saja hadir untuk mengikuti salah satu sessinya.

Sebagai forum internasional, maka hadir juga beberapa utusan dari luar negeri, dan juga menghadirkan pembicara dari Malaysia. Sebagai nara sumber adalah. Anggito Abimanyu, PhD (Chairman of BPKH), Dr. Ir. Irwan P. Pontjowinoto (Expert Board of MES), Mohammad Ridzuwan Abdul Azis (President Fintech Association Malaysia), dan Moch. Muhlasin, Director Syariah Non Bank Financial Institution OJK, dengan moderator Ronald Yusuf Wijaya (Chairman of AFSI). Acara ini dibuka oleh Wakil Presiden RI. Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin.

Dari paparan nara sumber kiranya dapat dinyatakan dalam tiga hal, yaitu: pertama,

Ekonomi syariah harus menyasar kepada generasi milenial dengan berbagai ciri khasnya, misalnya adalah spend time with family, sport and outdoor activities, culinary, travelling and hang out with friend. Mereka memiliki prioritas kehidupan, yaitu: making parent happy, owning a house, becoming good parent, becoming success in entrepreneur, and became rich. Dalam hal kehidupan ekonomi, para milenial ini, 51% of the income is drained for monthly expenses, 10,7% of their income for savings, 6,8% of the income for insurance, 5,3% for installments and investment, and 5,3% for donation.

Ditinjau dari perilaku ekonominya, maka: millennial living a cashless lifestyle. They are rarely bring big amount of cash. Dari situ diketahui millennial memiliki e wallet 21,9%, dan e money 11.5%, Non cash financial product such as mobile banking and internet banking is getting less popular, millennial tend to do gadget payment/transaction, they feel that they are more consumptive when bringing cash.

Para milenial juga memasuki digital revolution. Mulai dari tujuan kuliner dan traveling, semuanya melalui system online, kemudian secara produktivitas mereka juga tidak takut memulai bisnis baru. Lalu, yang menjadi main priorities are opportunity for self development, feeling confortable in doing their work, seek to develop creativity further, and have multitasking ability when working. And have a cross border network: they are connected to each other through social media (their access to information and friends are going wider, they can voice their opinion through social media, and develop social emphaty and solidarity).

Kedua, Sekarang juga sedang terjadi perubahan luar biasa terkait dengan class menengah muslim. Misalnya Hijrah (transformasi) mereka mengadopsi nilai Islam (maqashidus Syariah), membangun komunitas baru dan menjadi kelompok modern baru. Kecenderungan untuk belajar menjadi orang Islam yang lebih baik, mengikuti gaya hidup kontemporer, dan terkoneksi dengan komunitasnya. Dalam hal fashion dan culinary, maka yang diinginkannya adalah halal food, menggunakan fashion muslim dan cosmetic, dan ingin melakukan travel di dalam fashion halal. Kemudian dari aspek ketercukupan diri, maka mereka ingin menjadi pengusaha, membangun bisnis dan keuangan halal & investasi halal, dan mereka ingin berkontribusi dalam Islam rahmatan lil alamin, menjaga dunia yang lebih baik dan terlibat di dalam kampanye untuk philantropi.

Ketiga, dewasa ini sedang terjadi revolusi digital dalam keuangan syariah. Sekarang sedang berkembang pasar untuk inovasi teknologi finansial. Dengan indicator industry akan terus berkembang dan kesenjangan   pelayanan finansial bisa bertemu. Pasar juga telah beradaptasi dari uang cetak dengan uang elektronik. Memang terdapat beberapa tantangan dalam financial literacy dan keuangan inklusi yang masih rendah, pembiayaan UKM tidak optimal, kapasitas lembaga masih rendah dan juga rendahnya akses terhadap keuangan syariah. Akses keuangan inklusi masih ditandai dengan sebanyak 54 juta orang tanpa akun bank. Oleh karena itu, diperlukan upaya optimal untuk merespon di tengah semakin menguatnya tuntutan untuk mengembangkan keuangan syariah berbasis digital, terutama menghadapi kecenderungan generasi milenial yang semakin eksis.

Dewasa ini informasi melalui media sosial semakin luas dan lebih interaktif melalui layanan internet, namun yang perlu dijaga adalah agar tidak terjadi penyalahgunaan ekonomi digital, makanya privasi data dan sekuritas harus dikembangkan. Selain itu juga akan terjadi peningkatan kredibilitas dan inovasi untuk melawan hoax. Di sisi lain juga terdapat potensi yang tinggi untuk berphilantropi   melalui visi kebersamaan dan kebersahabatan melalui zakat dan infaq. Di dalam membangujn ekonomi digital yang penting adalah mengedepankan kolaborasi tanpa harus memotong semangat berkompetisi. Selain hal tersebut, juga harus dilakukan kolaborasi yang komplementer antara industry yang sudah eksis dengan new startups selain juga dapat mengimpor model industry yang sudah ada di luar dengan mengadaptasi pada local culture.

Agar pengembangan keuangan syariah akan semakin landing, maka diperlukan strategi yang terfokus, yaitu: penguatan keuangan Islam melalui pendanaan zakat, waqaf, sadaqah, baitul mal, memperkuat bank syariah dan takaful, pasar modal dan social enterprises. Lalu, memperkuat jaminan produk halal, dengan membangun koneksi eco-system dan multi sector, serftifikasi digital, end-to-end services dan data-driven to enable hyper-localization. Yang tidak kalah penting adalah memperkuat usaha kecil, mikro dan menengah melalui literasi program, memperkuat 5 pilar eco-system, meliputi kapasitas, branding, funding, teknologi dan bisnis model. Last but not least yang sangat penting untuk diupayakan adalah digital framework, yang meliputi penguatan collaborative mindset, integrated federated data, measurable approach dan eco-system approach.

Trend dunia sungguh sudah berubah. Melalui perkembangn teknologi digital yang sangat luar biasa, maka seluruh bangunan kehidupan harus ditata ulang termasuk di dalam nya adalah system dan budaya keuangan. Dan yang mendasar adalah bagaimana para pelaku ekonomi dan keuangan syariah menjadikan tantangan ini sebagai peluang untuk justru berkembang.

Wallahu a’lam bi al shawab.

EKONOMI SYARIAH, ARAH BARU EKONOMI INDONESIA

EKONOMI SYARIAH, ARAH BARU EKONOMI INDONESIA

Saya bersyukur bisa hadir dalam acara “6th IIEF dan Silaknas MES 2019, yang dibuka oleh Bapak Wakil Presiden RI, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin. Acara ini dihadiri oleh pengurus Pusat MES dan juga Pengurus Daerah MES seluruh Indonesia dan bahkan pengurus MES Luar Negeri. Hadir antara lain, Direktur BI, Perry Warjiyo, PhD, Ketua MES, Wimboh Santoso, PhD, Ketua LPS, Dr. Abdul Halim, dan para pejabat lainnya.

Menurut saya, terdapat gagasan Pak Wapres yang sangat prospektif dalam kerangka membangun masa depan ekonomi syariah di Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa Beliau adalah salah seorang yang terlibat semenjak awal dalam mendesain pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Maka, pantaslah jika beliau termasuk salah seorang yang memperoleh penghargaan atau anugerah Tokoh Ekonomi Syariah Indonesia.

Beliau yang mencanangkan gagasan “Memasyarakatkan Ekonomi Syariah dan Mensyariahkan Ekonomi Masyarakat”. Ada tiga gagasan yang sangat mendasar terkait dengan pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Pertama, seharusnya ekonomi syariah menjadi semakin cepat perkembangannya. Sebab ada beberapa factor yang menyebabkannya, yaitu:

1) Dukungan politik yang sangat tinggi dari pemerintah. Bapak Presiden, Joko Widodo, adalah ketua Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah ketua MES, Ketua Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) adalah Ketua Dewan Pertimbangan MES, Direktur BI adalah ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Menteri Keuangan adalah Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Indonesia (IAEI) dan Pak Wapres adalah Pembina Ekonomi Syariah di Indonesia. Jadi rasanya harus terdapat percepatan di dalam pengembangan ekonomi syariah. 2) Potensi keuangan dan perbankan syariah di Indonesia itu luar biasa. Di dalamnya terdapat produk halal, yang ke depan harus menjadi pilar ekonomi syariah. Jangan sampai Indonesia menjadi konsumen produk halal negara-negara lain, akan tetapi harus menjadi produsen. Jaminan halal Indonesia itu menjadi contoh di dunia. Beliau bercerita: “sebagai ketua MUI saya diundang ke Korea Selatan, dan ada sambutan welkam-welkamnya. Padahal di Indonesia saya tidak pernah diwelkam-welkam. Saya dihormati luar biasa, sampai-sampai di salah satu pusat wisatanya itu dipasang bendera Indonesia. Untuk apa semua ini, agar kita memberi stempel halal pada produknya”. Beliau melanjutkan: “hanya sayangnya kita baru menjadi tukang stempel dan belum menjadi produsen halal”.

3) Potensi umat Islam yang luar biasa besar. Sebagai negara dengan umat Islam terbesar, sudah seharusnya kita menjadi negara dengan ekonomi syariah terbesar. Dan pada tahun 2019, terdapat informasi yang menyenangkan, bahwa kita sudah memasuki peringkat 4 negara dengan indeks ekonomi syariah melalui Islamic Finance Country Index (IFCI).

4) Potensi produk-produk syariah kita juga luar biasa. Demikian pula lembaga-lembaga keuangan syariah yang terus tumbuh. Hanya saja gambarannya itu, seperti alat transportasi “busnya banyak, tetapi penumpangnya sedikit”. Jadi tugas kita adalah menambah jumlah penumpang itu ke depan.

Kedua, diperlukan mengubah konsepsi ushul fiqh yang selama ini sudah menjadi pandangan keagamaan kita, bahwa “al ajru bi qadri ta’ab” atau imbalan tergantung pada tingkat kesulitan, maka harus diubah menjadi “al ajru bi qadri maslahah wa manfaat”. Jadi ukurannya adalah produktivitas. Seberapa besar maslahah atau kebaikan dan kemanfaatan yang ditebarkannya. Dengan mengubah konsepsi ini, maka akan ada perubahan penghargaan terhadap orang yang memberikan maslahah dan manfaat terbesar. Dan hal ini menandakan perubahan terhadap cara pandang kita tentang bagaimana kita menempatkan orang yang berhasil dan produktif.

Ketiga, tantangan pengembangan ekonomi syariah masih cukup besar, di antaranya adalah masih ditemukannya kesenjangan antara literasi ekonomi dan keuangan syariah dan implementasi ekonomi dan perbankan syariah. Secara nasional potensi actual kita baru mencapai 8,6 persen untuk keuangan syariah dan perbankan syariah baru mencapai 5,6 persen. Oleh karena itu, tugas kita semua adalah bagaimana kita terus berupaya untuk mengembangkan keuangan syariah dan perbankan syariah untuk menuju Indonesia sebagai pusat syariah dunia.

Di dalam konteks ini, maka harus diupayakan agar ke depan terdapat “Arah Baru Ekonomi Indonesia, dan yang menjadi pilarnya adalah Ekonomi Syariah”. Itulah sebabnya pemerintah juga berkeinginan untuk mengubah Perpres 91/2016 tentang KNKS agar lebih luas cakupannya, yaitu tidak hanya pengembangan perbankan syariah, akan tetapi juga keuangan syariah untuk mendapatkan porsi yang lebih banyak dan lebih luas.

Potensi untuk pengembangan ekonomi syariah sungguh merupakan bagian tidak terpisahkan dari pembangunan ekonomi Indonesia. Makanya, jika ekonomi syariahnya maju, maka ekonomi Indonesia juga maju. Untuk pengembangan ekonomi syariah ini, maka harus dilakukan secara sinergis. Misalnya perusahan yang besar jangan memasuki kawasan yang bisa dikerjakan oleh perusahaan kecil dan mikro. Tetapi juga diharapkan agar yang kecil itu kemudian juga menjadi besar, biar tidak menjadi ekonomi stunting. Oleh karena itu yang diperlukan adalah kerja keras, kerja cepat dan kerja manfaat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENCERMATI PELUANG PENGEMBANGAN TEORI ILMU DAKWAH

MENCERMATI PELUANG PENGEMBANGAN TEORI ILMU DAKWAH

Prof. Dr. H. Nur Syam, MSi

Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel

 

Pengantar

Adakah teori ilmu dakwah itu? Pertanyaan ini saya kira penting untuk dikemukakan terkait dengan pengembangan ilmu dakwah sebagai ilmu agama. Saya kira ilmu dakwah memiliki “Kesamaan” dengan ilmu tarbiyah, yang juga akhirnya harus menggunakan ilmu-ilmu lain –sebagai konsekuensi antar disiplin—sehingga juga harus menggunakan teori ilmu lain untuk kepentingan pengembangan lebih lanjut.

Menurut saya, ilmu dakwah memiliki teori dalam konteks prinsip-prinsip teoretik, yang bisa dijadikan sebagai pijakan untuk mengembangkan teori dakwah sebagai ilmu yang profetik. Ilmu dakwah bukan sekedar ilmu yang nomotetik atau menjelaskan gejala-gejala alam atau sosial berbasis pada pengukuran dan komputasi, dan bukan hanya ilmu yang idiografis menggambarkan realitas sosial apa adanya tanpa justifikasi untuk melakukan perubahan kea rah yang lebih. Akan tetapi ilmu dakwah adalah ilmu yang profetik mengandung dimensi perubahan kepada kebaikan baik dalam bidang moralitas, perbaika kehidupan masyarakat dan relasi sosial kemasyarakat yang ideal berbasis pada nilai-nilai agama yang diyakini kebenarannya.

Prinsip teori yang dimiliki oleh ilmu dakwah adalah sebagaimana tergambar di dalam Surat an Nahl, ayat 125 dengan tiga kategori mendasarnya, yaitu Bil Hikmah, Mauidhah hasanah dan Mujadalah yang lebih baik. Tiga hal ini adalah grand konsep yang mendasari seluruh bangunan teori tentang ilmu dakwah tersebut. Dakwah baik menggunakan corak retorika, jurnalistik, pengembangan masyarakat maupun bimbingan tentu harus mendasarkan seluruh teorinya berdasar atas tiga prinsip teoretik ini.

Dakwah melalui jurnalisme mestilah menggunakan peace journalism, bukan jurnalisme kekerasan, atau jurnalisme provokatif, atau jurnalisme pro-populisme yang seronok atau minus etika. Semua didasarkan pada nilai-nilai agama yang diyakini kebenaranya dan memiliki cakupan umum sebagai kebenaran. Nilai agama yang berbasis pada tafsir yang penuh dengan makna kemanusiaan. Jurnalisme yang mengusung keadilan, kesetaraan, kebenaran, kesopanan, kebaikan umum, kesejahteraan dan kebahagiaan.

Dakwah melalui retorika juga memiliki cakupan yang sama ialah mengedepankan kesopnan, membangun kebersamaan, anti kekerasan, mencintai persaudaraan dan anti kebohongan, anti korupsi, anti hoax dan sebagainya. melalui retorika harus dibangun di atas tiga pilar dakwah dengan mengedepankan kebijakan, penasehatan yang berbasis pendekatan emotional, social and spiritual intelligent. Demikian pula bimbingan juga harus berbasis pada semua prinsip kebaikan. Bahkan ketika harus dilakukan perdebatan dengan penggunaan logika atau rational intelligent, maka juga harus dilakukan dengan cara-cara yang make sense dan logics. Di dalam dakwah terdapat adab al bahsyi wa al munadharah dan juga terdapat bahst al masail.

Di dalam pengembangan masyarakat atau community development juga prinsip kebersamaan, kerja sama, kerja solid, kerja keras dan kerja berbasis keridlaan Allah itu menjadi prinsip utamanya. Melalui prinsip participatory, maka semua serba dinegosiasikan dan dipahami bersama. Tidak ada perubahan yang tidak disadari kehadirannya oleh anggota masyarakat yang menjadi sasaran community development. Demikian pula dalam memanej aktivitas organisasional, program dan kegiatan juga harus didasarkan atas bagaimana semuanya merasakan hasil yang bermanfaat secara optimal dan berdasarkan atas prinsip-prinsip managerial yang benar. Perkembangan manajemen tentu bisa dicermati, karena dakwah adalah pelayanan public. Makanya Total Quality Managemen (TQM) menjadi penting. Demikian pula Friendly Management juga sangat bermakna bagi penerapan tiga konsep besar tentang prinsip teori dakwah.

 

Teori dalam Ilmu Sosial

Saya menganggap bahwa untuk mempelajari ilmu pengetahuan –terutama di dalam ilmu sosial, humaniora dan agama—dapat diungkap dari empat hal, yaitu: definisinya, paradigmanya, metodologinya dan teori-teorinya. Definisi akan memberikan batasan tentang apa kajiannya baik obyek formal maupun material, luas cakupannya atau ruang lingkupnya. Paradigm untuk memahami tentang apa yang menjadi subject matter of science atau apa yang menjadi subyek kajian keilmuannya. Metodologi akan memberikan gambaran tentang bagaimana mengembangkan ilmu dimaksud ke depan, dan teori menggambarkan apa yang sudah dihasilkan dalam konsep, proposisi dan teori ilmu dimaksud dan bagaimana mengembangkan teori tersebut ke depan.

Teori ialah proposisi tentative atau hubungan antar konsep yang dapat diuji secara empiris. Jadi setiap teori merupakan relasi antar konsep. Meskipun penjelasan ini lebih mengacu kepada pengertian teori berdasarkan penelitian kuantitatif, yang mengideakan bahwa setiap teori mestilah memiliki dua konsep atau lebih, akan tetapi sesungguhnya bisa juga dijadikan sebagai rujukan di dalam konsepsi pendekatan penelitian kualitatif.

Penelitian kualitatif seringkali tidak menghasilkan teori dalam konteks sebagaimana hasil pengujian kuantitatif –dari teori ke teori—akan tetapi sebenarnya bisa menghasilkan konsepsi, tipologi atau kategori sosial yang memiliki kesamaan dengan konsep proposisi. Jika konsepsi atau tipologi biasanya dicirikan dengan propertais atau ciri khas yang melekat pada tipologi tersebut, sehingga memungkinkan untuk dikaji ulang dalam ruang atau space yang lain.

Sebagai contoh, dari penelitian kualitatif kajian Endang Turmudzi tentang Perubahan Kepemimpinan Kyai di Jawa Timur, maka digunakanlah tipologi Kyai Kampung, Kyai Panggung, Kyai Politik dan sebagainya. Prajarta Dirdjasanjoto misalnya menemukan Kyai Langgar, Kyai Pesantren dengan ciri yang melekat pada masing-masing. Nur Syam dalam penelitian Tarekat Petani dengan perspektif Fenomenologi menemukan konsep Kanoman dan Kasepuhan. Lalu di dalam penelitian lainnya, Nur Syam menemukan konsep Konsep Islam Kolaboratif yaitu Islam yang bertemu dan berdialog dengan budaya local dalam cultural space, sehingga mengkonfigurasikan Islam yang khas. Kajian ini menolak Geertz tentang Islam sinkretik atau Islam yang bercampur baur dalam satu melting pot, sehingga tidak dikenal lagi warna Islamnya. Tetapi mengembangkan gagasan Woodward tentang Islam akulturatif, yaitu Islam yang berdialog dengan budaya local sehingga menghasilkan Islam yang bercorak khas.

Sebagai contoh dalam penelitian kuantitatif, maka misalnya bisa diambil gambaran sebagaimana penelitian PM Laksono yang menemukan proposisi, bahwa pengambilan keputusan dalam suatu perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh factor internal akan tetapi juga oleh factor eksternal. Teori ini menegaskan bahwa pengambilan keputusan tidak hanya ditentukan oleh factor internal. Lalu, penelitian Amaluddin, bahwa tidak selamanya kemiskinan menyebabkan polarisasi sosial untuk menolak teori yang menyatakan bahwa kemiskinan akan selalu berpengaruh terhadap polarisasi sosial.

 

Teori-Teori Sosiologi Dakwah

Sebagai ilmu pengetahuan yang dapat dikelompokkan dalam kajian interdisipliner atau multidiscipliner, maka sesungguhnya teori dalam ilmu dakwah dapat menggunakan teori-teori ilmu lain, yang telah mapan. Teori-teori yang dikembangkan tersebut dapat dikategorikan sebagai teori sosiologi dakwah. Saya melihat ada beberapa teori yang dapat dijelaskan dengan menggunakan bagan pemikiran studi interdispliner, misalnya:

  • Fenomenologi dakwah. Teori fenomenologi dapat digunakan untuk melihat bagaimana dakwah dilakukan dengan konsep in order to motive dan because motive yang menjadi pendorongnya. Jika menggunakan konsepsi in order to motive, maka akan berkaitan dengan cara kerja Max Weber, dan jika menggunakan because motif, maka akan menggunakan cara kerja Alfred Schultz. Setiap tindakan dakwah pastilah berurusan dengan motive tujuan (motif internal) , dan bisa jadi juga ditentukan oleh motif penyebab (motif eksternal). Fenomenologi pada dasarnya memiliki dua cakupan sebagai pemikiran filosofis dan teori atau metodologi penelitian. Namun yang digunakan adalah fenomenologi sebagai untuk menyingkap apa dibalik tindakan bertujuan yang dipahami oleh penelitinya. Sedangkan di sisi lain adalah untuk menyingkap apa dibalik tindakan penyebab yang dilakukan oleh individu. Sebagai proposisi dakwah, maka dapat dinyatakan bahwa tindakan dalam berdakwah merupakan ekspressi dari pemikiran yang dimiliki oleh individu. Da’i maupun mad’u memiliki basis pemikiran dalam menentukan tindakan dakwah apa yang relevan bagi dirinya. Seorang individu menyukai dakwahnya Gus Baha’ misalnya tentu terkait dengan kesamaan pemikiran dan tindakan tentang materi apa yang disampaikan dan diterimanya. Karya tulis Mohammad As’ad tentang Tarekat dan Petani di Bluto adalah contoh tentang bagaimana para penganut tarekat menularkan pengetahuan agama kepada keluarganya berbasis pada pemikiran bahwa keluarganya harus beragama seperti dirinya.
  • Teori konstruksi sosial dakwah. Semula teori ini dikembangkan oleh Peter L Berger dan Thomas Luckmann. Teori ini kemudian dikembangkan lebih lanjut di dalam teori ilmu komunikasi dan juga sosiologi. Inti teori ini adalah dialektika eksternalisasi, obyektivasi dan internalisasi. Di dalam pandangan Berger dan Luckmann, bahwa masyarakat merupakan kenyataan obyektif dan kenyataan subyektif. Melalui eksternalisasi masyarakat menjadi kenyataan obyektif dan melalui internalisasi masyarakat menjadi kenyataan subyektif. Jika di dalam fenomenologi dikenal ada dua motif, yaitu in order to motive dan because motive, maka teori konstruksi sosial menyajikan konsepsi pragmatic motive. Yaitu motive yang terkait dengan aspek material. Jadi baik in order to motive maupun because motive sangat ditentukan oleh factor bendawi. Untuk ilmu dakwah, kiranya dapat dipertimbangkan bagaimana teori konstruksi sosial digunakan. Masyarakat sebagai penerima dakwah menjadi realitas obyektif melalui eksternalisasi dan menjadi realitas subyektif melalui internalisasi. Di dalam eksternalisasi maka individu menggunakan teks atau nilai sebagai pattern for behavior, dan melalui obyektivasi manusia dapat melakukan interaksi dengan da’i dan pesan dakwah dan melalui internalisasi akan didapati kemampuan untuk mengindentifikasi diri sebagai umat Islam yang taat. Dari aspek pragmatic motive dapat dinyatakan bahwa motive melakukan tindakan ditentukan oleh balasan yang bercorak materi.
  • Teori dramaturgi dakwah. Manusia dapat hidup dalam banyak wajah. Bahkan terkadang antara wajah depan dan apa yang ada di dalam pikiran bisa berbeda. Inilah keunikan manusia, dan inilah yang dipotret oleh teori Darmaturginya Erving Gofmann. Ada front stage and back stage. Kehidupan layaknya adalah panggung theater yang menampilkan lakon tertentu dan para pemain berperan sesuai dengan fungsinya. Teori ini dapat digunakan untuk memetakan tentang relasi antara performance keberagamaan dengan pemikiran keagamaan pada individu-individu di dalam masyarakat. Kajian ini temasuk dalam studi sasaran dakwah, untuk memetakan antara tindakan dan pemikiran keagamaannya. Juga bisa digunakan untuk mengkaji pemikiran para da’i yang berdakwah dengan berbagai media, metode dan pesan dakwah yang digunakannya.
  • Teori etnometodologi dakwah. Teori Harold Garfinkle ini juga menarik dijadikan sebagai instrument analisis untuk memahami kegiatan dakwah. Proposisi teori ini menyatakan bahwa seorang individu dapat membuat kejutan dengan melakukan tindakan yang menyimpang atau yang disebut sebagai breaching experiment. Tujuan penelitian seperti ini adalah untuk memahami apakah peristiwa yang biasa-biasa atau sehari-hari   ternyata mengandung makna unik dan menarik atau bermakna. Misalnya penelitian tentang bagaimana reaksi masyarakat ketika di dalam pelaksanaan shalat lalu menggunakan atribut yang bertentangan dengan shalat atau da’i dengan artribut yang kocak, norak atau yang tidak disukai tetapi pantas, lalu apa reaksi dari audience.
  • Teori hermeneutic atau teori penafsiran. Teori ini dikembangkan oleh Hans Georg Gadamer melalui serangkaian teori yang dirilisnya. Inti teorinya adalah bahwa teks dapat dipahami melalui penafsiran berbasis dialog antara teks dengan pembacanya. Memahami teks maknanya adalah memahami realitas: pertama, proses akal budi, understanding dan life experience. Setiap orang yang menulis tentu tidak lepas dari konteks sosial, latar kehidupan dan juga pengalaman kehidupannya. Oleh karena itu hermeneutika harus menempatkan teks di dalam situasi sosial dimaksud. Kedua, adalah memahami hal-hal yang praktis, artinya bahwa seseorang tidak hanya memahami makna teks berdasarkan akal budi semata tetapi juga kegiatan praktisnya. Lalu, untuk memahami teks juga diperlukan negotiated meaning. Ada negosiasi antara teks dengan pembacanya. Dalam studi dakwah, dapat diterapkan misalnya untuk mengkaji pesan-pesan dakwah dalam bentuk teks-teks yang disampaikan oleh da’i, baik lesan maupun tulisan. Kajian dakwah dapat menggunakan Hermeneutika untuk memahami apakah ada pemahaman yang bisa dipetik dari konteks sosial, budaya dan bahasa yang digunakan oleh da’i dan yang dipahami oleh mad’u.
  • Teori tindakan komunikatif. Teori ini dikemukakan oleh Jurgen Habermas, yang mengandaikan bahwa di setiap kehidupan sosial terdapat tiga moment penting, yaitu: relasi di dunia obyektif (ranah kebenaran yang tidak memihak), relasi dalam dunia sosial (ranah interaksi antar individu dan masyarakat berbasis pada kesepakatan/legitimasi), dan ranah subyektif (ranah pengalaman yang memungkinkan untuk diungkapkan). Di dalam penelitian dakwah, misalnya dapat digunakan untuk mengkaji tentang relasi da’i dengan mad’u melalui tiga ranah ini. Ada teks normative yang memiliki kebenaran (obyektif) diyakini kedua belah pihak, dengan teks tersebut terjadi interaksi di antara keduanya berbasis pada areanya masing-masing dan memproduk pengalaman yang bisa diceritakan. Inti dari tindakan komunikatif adalah bagaiama da’i dan mad’u dapat saling memahami apa yang dikomunikasikan.
  • Teori konflik kewenangan Ralf Dahrendorf. Inti dari teori ini adalah konflik terjadi karena perbedaan pemahaman tentang otoritas atau kewenangan. Masing-masing menganggap bahwa dirinya memiliki otoritas yang absah. Masyarakat itu memiliki sisi ganda, memiliki aspek konflik tetapi juga memiliki aspek kerjasama (konflik dan consensus). Ada lima asumsi, setiap masyarakat tunduk pada perubahan, berbagai elemen di dalam masyarakat menyumbang disintegrasi dan perubahan, ada kelompok rulling class yang memaksa untuk terjadinya social order atau consensus, kekuasaan memiliki fungsi mempertahankan social order. Dalam studi dakwah, kiranya dapat dilakukan dengan menggali apakah da’i dapat mengubah konflik menjadi consensus melalui pesan-pesan keagamaan, apakah masyarakat dengan segenap tokohnya bisa membuat disintegrasi menjadi integrasi melalui pesan-pesan dakwah, apakah inisiatif untuk berubah ditentukan oleh keinginan internal ataukah eksternal, yaitu pemahaman agama yang diyakininya, dan sebagainya.
  • Teori konflik dan integrasi Lewis Coser. Teori ini disebut sebagai teori konflik fungsional. Artinya bahwa konflik tidak semata-mata destruktif tetapi juga konstruktif. Ada sebanyak 14 proposisi teori ini, tetapi saya hanya akan membahas sedikit saja. Misalnya, konflik dapat memperkuat identitas, konflik dapat memperkuat ikatan solidaritas antar anggota, intensitas konflik terdapat pada lingkaran inti dan konflik dapat menumbuhkan medium baru untuk berinteraksi dan sebagainya. Teori ini dapat digunakan untuk meneliti fakta dakwah di masyarakat melalui serangkaian penelitian, misalnnya konflik dan integrasi melalui peran tokoh da’i, membangun kerukunan berbasis pada modal perbedaan paham keagamaan, peran organisasi sosial keagamaan dalam mengeliminasi konflik sosial melalui komunikasi dakwah efektif, dan sebagainya.
  • Teori structural fungsional dakwah. Teori structural fungsional dikemukakan oleh Robert K. Merton. Di antara proposisi pentingnya ialah mengenai fungsi manifest dan fungsi latent. Setiap struktur sosial menyediakan fungsi manifest (kelihatan mengedepan) dan yang latent (tersembunyi). Keduanya memainkan peranan penting di dalam relasi di dalam struktur sosial. Seorang dosen, secara manifest memiliki peran sebagai transformer ilmu pengetahuan, sesuai dengan sertifikasi profesionalnya, akan tetapi juga memiliki fungsi latent, berupa kehormatan, otoritas di dalam masyarakat, status sosial yang tinggi dan sebagainya. Di dalam pengkajian dakwah, misalnya dapat digunakan untuk menganalisis tentang relasi da’i dengan mad’u dalam pengamalan beragama yang berbasis pada otoritas da’i dalam strata dan struktur sosialnya atau meneliti tokoh-tokoh organisasi keagamaan dalam mempengaruhi terhadap keberagamaam anggotanya, dan sebagainya.
  • Teori social action dakwah. Teori social action dikemukakan oleh Talcott Parson untuk mengkaji secara makro atau medium tentang tindakan sosial suatu masyarakat. Meskipun namanya social action tetapi harus dibedakan dengan cara Weber memahaminya. Social action mengenal ada empat sisi yang penting, yaitu adaptation, goal attainment, interest, dan latent maintenance. Jadi di dalam relasi antar masyarakat maka terdapat penyesuaian, keinginan yang harus dicapai, kepentingan dan keuntungan, dan cara untuk merawat relasi tersebut. Di dalam konteks ini, tentu orang bisa memilih mana tindakam yang cepat, mudah dan menguntungkan. Ada sekian banyak alternative yang bisa dipilih, yang disebut sebagai sarana tindakan. Di dalam penelitian dakwah, misalnya dapat dikaji tentang bagaimana masyarakat dengan kemampuannya untuk melakukan adaptasi, mencapai tujuan yang diinginkan, merealisasikan kepentingan dan cara merawat keberagamaannya. Penelitian ini bisa dikaitkan dengan subyek dakwah, sasaran dakwah maupun organisasi dakwah dalam perannya di tengah kehidupan atau relasi antar masyarakat.

 

Penutup

Yang saya bahas ini adalah teori-teori sosial klasik yang memiliki cakupan luas, sehingga sangat memungkinkan untuk diterapkan dalam penelitian dan pengkajian dakwah. Tentu sudah terdapat sekian banyak perkembangan baru di dalam teori-teori ilmu sosial yang tentu saja merupakan derivasi dari grand theory yang sudah ada. Dan tugas berikutnya ialah merumuskan relasi antara teori-teori baru dalam ilmu sosial untuk kepentingan mengembangkan teori dakwah.

Tugas akademisi, terutama para dosen adalah menemukan dan mengembangkan teori sebagaimana telah dicontohkan oleh Ibn Khaldun, Al Biruni, Al Ghazali, Ibn Rusyd, al Mawardi, ibn Taymiyah, Ali Syariati, dan sebagainya. Perlu kerja keras, memang.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PENDIDIKAN TINGGI BAGI GENERASI MILENIAL DI ERA DISRUPTIF

PENDIDIKAN TINGGI BAGI GENERASI MILENIAL DI ERA DISRUPTIF

Ketika Prof. Clayton Christensen dari School of Business Harvard University menyatakan bahwa dalam jangka 10-15 tahun banyak perguruan tinggi di Amerika Serikat yang akan kolaps, mungkin kita bertanya, apakah benar pernyataan ini, dan apakah sejauh itu pengaruh teknologi informasi terhadap dunia pendidikan tinggi? Dan kemudian pertanyaan bisa dilanjutkan, bagaimana dengan PT di Indonesia?

Inilah yang saya kira akan menjadi tantangan para pengelola pendidikan tinggi, tenaga pendidik dan kependidikan di PT, bahwa ke depan harus terdapat sejumlah inovasi terutama dalam menjawab tuntutan dunia milenial yang di dalamnya terdapat era disruptif. Dan salah satu pemicunya adalah semakin menguatnya era teknologi tinggi dan semakin kuatnya artificial intelligent, yang kehadirannya tidak bisa dihindari di manapun di belahan dunia ini.

Namun demikian, saya merasa senang bahwa respon pendidikan tinggi di era milenial sungguh sangat luar biasa. Terbukti betapa banyaknya tulisan dari berbagai ahli tentang bagaimana merespon tantangan era milenial dengan era disruptifnya tersebut. Di beberapa negara seperti Singapura, Afrika Selatan, Korea Selatan, Jepang, bahkan Malaysia dan lainnya sudah melakukan perubahan-perubahan yang terkait dengan bagaimana menghadapi era teknologi informasi.

Untuk merespon hal di atas, kemarin terdapat tiga tulisan di Jawa Pos (11/11/2019) tentang bagaimana PT di Indonesia menghadapi era milenial. Yaitu tulisan Bagong Suyanto dan Suko Widodo dengan tema “PT di Era dan Generasi Milenial” dan tulisan Prof. Muhammad Nasich, Rektor Universitas Airlangga, yang lebih optimis dalam menyikapi terhadap perubahan di era milenial dengan topik “Optimisme dan Pendidikan Milenial di Era Disrupsi”. Di banyak kesempatan, saya juga selalu menyampaikan bahwa tantangan generasi milenial dengan dunia pendidikan tingginya sungguh merupakan tantangan yang tidak sederhana.

Ada beberapa tantangan yang nyata: pertama, ke depan akan semakin banyak lembaga pendidikan yang harus lebih terfokus pada penerapan teknologi informasi di dalam program pembelajaran. Kolapsnya 50 persen PT di Amerika Serikat disebabkan oleh keterlambatan mereka menerapkan program berbasis IT di dalam pembelajannya. Jadi, siapa yang tidak siap dengan distance learning, maka akan menuai kata: the death of university.

Kedua, Tantangan berikutnya adalah semakin menguatnya penggunaan daring system di dalam proses pembelajaran, sehingga ke depan tidak diperlukan ruang-ruang besar untuk perkuliahan tutorial. Yang diperlukan adalah ruang-ruang yang berisi infrastruktur lengkap dalam program pembelajaran yang berbasis IT. Jadi bisa dibayangkan ke depan bahwa gedung-gedung yang megah dan besar sebenarnya tidak terlalu siginfikan kegunaannya sebab ruang yang relevan dengan program distance learning saja yang diperlukan.

Ketiga, semakin menguatnya aplikasi dalam program pembelajaran. Tidak bisa dipungkiri bahwa ke depan akan semakin menguat penerapan aplikasi dalam program pembelajaran. Di kalangan siswa SMA/SMK/MA sudah terdapat sekian banyak aplikasi yang digunakan di dalam kerangka memberikan kemudahan untuk belajar, misalnya Ruangguru, Edmodo dan sebagainya. Edmodo biasa digunakan di dalam pembelajaran di dalam kelas. Sedangkan ruangguru bisa dilakukan sendiri dengan penggunaan aplikasi tersebut. Bahkan ada sebanyak 15 aplikasi baru yang sudah dilaunching di media sosial. Dewasa ini kita sudah berada di pasar raya aplikasi dan kita bisa memilih mana yang relavan dengan yang dibutuhkan. Inilah era yang disebut sebagai “The Death of Expertise”. Guru dan dosen harus berbagai peran dengan teknologi informasi karena kehadiran aplikasi pembelajaran.

Keempat, Tidak hanya program pembelajaran tetapi juga bagaimana intervensi TI untuk analisis data dalam penulisan karya ilmiah dan juga problem solving. Saya diberitahukan oleh Dr. Lilik Hamidah tentang ditemukannya aplikasi Drone Emprit yang diciptakan oleh Dosen ITB, Ismail Fahmi, PhD. Melalui aplikasi ini, maka seorang pengkaji atau peneliti akan bisa memahami struktur jaringan dalam komunikasi melalui media sosial atau media komunikasi lainnya. Jika ada hoaks, misalnya akan bisa diketahui dari mana mula-mula penyebarnya dan bagaimana persebarannya bahkan struktur persebarannya. Sungguh merupakan aplikasi yang sangat penting di tengah keinginan untuk membangun komunikasi beradab yang sesungguhnya diperlukan di era sekarang dan mendatang, dan juga untuk kepentingan penelitian yang lebih mendasar dengan cakupan yang bermakna.

Oleh karena itu, seharusnya institusi pendidikan tinggi haruslah melakukan beberapa upaya dalam kerangka menyiapkan generasi milenial yang lebih kaya wawasan dan penuh optimisme, yaitu:

  • supaya institusi pendidikan tinggi menyiapkan instrument untuk menyongsong era baru pendidikan berbasis TI. Sudah saatnya dilakukan perencanaan berbasis kebutuhan TI di masa depan. Lima sampai 10 tahun ke depan sudah tidak perlu lagi membangun fisik ruang kelas dan bangunan megah untuk kantor dan sarana prasarana perkuliahan. Akan tetapi yang urgent adalah menyusun perencanaan untuk mengembangkan basis infrastruktur high level untuk information technology.
  • Kemudian dipersiapkan SDM andal yang mampu menggawanginya. Siapkan rekruitmen yang memadai untuk menyongsong era baru ini dengan SDM IT yang berkelas dengan kemampuan programing, pendataan, dan analisis IT yang kuat untuk mempersiapkan kelas dan SDM dosen untuk kepentingan distance learning.
  • Mulai harus diadakan sekurang-kurangnya adalah media track untuk mengetahui arus atau alur berita dan trendnya, sehingga para pimpinan dan dosen memahami trend-trend pemberitaan melalui berbagai media. bagaimana trend berita agama, politik, sosial, budaya, keamanan bahkan gossip. Dengan cara ini maka akan dengan mudah untuk melihat trend berita yang haruis direspon dan mana yang dipinggirkan saja.
  • Jika bisa seharusnya menuju ke media intelligent untuk memahami lebih jauh trend dan struktur pemberitaan di media, baik media sosial maupun media pada umumnya. Sungguh sudah saatnya institusi pendidikan tinggi memiliki infrastrukur seperti ini, sebab hanya dari dunia kampus orang akan mendengarkan tentang kebaikan dan kebenaran sebagaimana kampus seharusnya memang berisi hal-hal luar biasa ini.
  • Untuk hal ini semua, maka kata kuncinya ialah pemihakan. Harus ada yang berani mengambil eksekusi mana yang didahulukan dan mana yang ditangguhkan. Tanpa keberanian ini rasanya semua hanya akan berjalan wajar saja dan easy going.

Wallahu a’lam bi alshawab.