• June 2024
    M T W T F S S
    « May    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

HADIRKAN KEBIASAAN UNTUK BERBUAT BAIK

HADIRKAN KEBIASAAN UNTUK BERBUAT BAIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kebiasaan tentu berangkat dari proses belajar panjang. Tidak sesuatu yang tiba-tiba. Kebiasaan datang setelah melalui perjuangan. Jadi jika kita ingin membiasakan suatu tindakan yang baik, maka persyaratannya harus dilakukan secara terus menerus dengan kesungguhan dan dengan keikhlasan. Inilah kata kunci yang disampaikan oleh Ustadz Sahid Sumitro, narasumber dalam acara mengaji bahagia pada Hari Selasa, 11/06/2024, ba’da shubuh. Ustadz Sahid adalah salah satu naras umber yang terbiasa mengaji di Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Surabaya.

Sebelum membahas tentang kebiasaan berbuat baik, Ustadz Sahid terlebih dahulu membahas tentang hari raya kurban dan ibadah-ibadah yang terkait dengan hari raya dimaksud. Dijelaskan bahwa ibadah hari raya idul adha dan upacara berkorban adalah bagian dari ajaran Islam sebagaimana pernah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS. Pada waktu Nabi Ibrahim AS berpindah dari Mesir ke Mekah dengan anak semata wayangnya dan Hajar istrinya, maka Allah menguji kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah dengan cara untuk mengorbankan putra semata wayangnya tersebut.

Nabi Ibrahim mematuhi perintah Allah dengan mengorbankan Ismail tetapi sebagai wujud rahman dan rahimnya Allah SWT kepada hambanya yang  mematuhinya, maka yang dikorbankan adalah seekor domba yang diturunkan oleh Allah dari surga. Tradisi berkorban dengan domba atau yang diperbolehkan oleh Nabi Muhammad SAW, berupa unta atau lembu atau kerbau, maka tradisi itu diteruskan  hingga kini.

Kemudian dari perkawinan Nabi Ibrahim dengan Sarah, kemudian melahirkan Nabi Ishaq AS yang kemudian menurunkan Nabi Musa, Isa yang menjadi cikal bakal agama Yahudi dan Nasrani. Sedangkan dari Ismail kemudian menurunkan Nabi Muhammad sebagai Nabi yang mendakwahkan Islam kepada umat manusia. Bagi umat Islam, agama Nabi Ibrahim yang disebut agama Hanif sesungguhnya adalah agama Islam.

Di antara ibadah utama di bulan Dzulhijjah adalah menjalankan ritual haji di Mekah. Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima tetapi dengan catatan bagi yang mampu atau secara ekonomi telah tercukupi untuk pergi haji ke tanah suci. Tetapi bagi yang belum mampu maka Allah juga memberikan petunjuknya agar dapat melakukan serangkaian ibadah seperti berkurban kambing atau sapi dan juga menjalankan puasa selama 9 hari mulai tanggal 1 Dzulhijjah sampai 9 Duzlhijjah atau Puasa hari Arafah saja, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Dinyatakan bahwa siapa yang melaksanakan puasa Arafah maka akan dihapus dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Oleh karena itu, semoga kita dapat  melaksanakan puasa, sekurang-kurangnya puasa Arafah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jika kita bisa melakukannya, maka kita tentu bisa termasuk orang yang mendapatkan hidayah Allah SWT. Puasa 1-7 hari mulai tanggal 1-7 Dzulhijjah disebut puasa Dzulhijjah, puasa tanggal 8 Dzulhijjah disebut puasa Tarwiyah dan puasa tanggal 9 Dzulhijjah disebut puasa Arafah.  Tanggal 10 Dzulhijah setelah shalat Idul Adha umat dilarang untuk menjalankan puasa, karena tanggal tersebut disebut sebagai Idul Adha.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana membiasakan diri kita untuk melakukan ibadah-ibadah penting di dalam Islam. Misalnya shalat berjamaah, puasa Senin dan kamis, puasa sunnah lainnya, dan juga dzikir dan shalat malam dan sebagainya. Inilah yang sungguh menjadi problem umat Islam, termasuk kita semua yang mengaji hari ini. Berat rasanya kita akan melakukan hal-hal kebaikan yang diwajibkan dan juga disunnahkan di dalam ajaran Islam. Ada pepatah di dalam Bahasa Inggris: “every beginning is difficult”. Setiap permulaan pasti sulit.

Berdasarkan buku “Atomic Habits” karya James Clear, dinyatakan ada beberapa tips dalam rangka untuk membiasakan berbuat sesuatu, khususnya perbuatan yang bermakna kebaikan. Dengan modifikasi, Ustadz Sahid memaparkan tiga hal penting untuk belajar habit atau belajar membiasakan perbuatan baik dimaksud, yaitu:

Pertama, perkuat niat untuk melakukannya. Di dalam Islam tentu kita dapati dalil yang menyatakan: “innamal ‘amalu bi niyat”, sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung niatnya. Jadi harus ada niat yang kuat, niat yang didasari oleh keinginan yang kuat. Jika niatnya hanya separoh-separoh, maka dipastikan tidak akan menjadi kebiasaan. Misalnya kita berniat olah raga setiap hari, katakanlah jalan kaki saja, maka jika kita tidak sungguh-sungguh  niatnya, maka tidak akan didapatkan upaya yang sungguh-sungguh.

Kedua, persiapkan diri secara sungguh-sungguh. Misalnya, kita ingin terbiasa untuk olah raga jalan kaki. Maka malam harinya persiapkan celana training, kaos, sepatu dan kaos kaki. Taruhlah di tempat yang ketika bangun pagi kita sudah mengetahui bahwa kita ingin olah raga. Maka pikiran dan hati kita akan  mantap untuk berolah raga. Jangan pagi hari masih harus menyiapkan pakaiannya. Siapkan malam harinya, sehingga pagi hari kita sudah ready for going sport. Jangan tunda untuk lain hari jika kita sudah berniat dengan sebenarnya. Persiapkan diri dan mental untuk melakukannya.

Ketiga, habit akan bisa terjadi melalui proses berkelanjutan atau kontinuitas. Upayakan setiap malam menyiapkan pakaian untuk olah raga,  maka pagi harinya hati dan pikiran kita akan tergerak untuk melakukannya. Terus lakukan setiap hari, maka kebiasaan itu akan hadir di dalam diri kita. Tidak ada kebiasaan atau habit tanpa upaya untuk menyiapkan pikiran dan hati kita secara sungguh-sungguh.

Demikian pula untuk ibadah. Niatkan yang kuat, persiapkan pikiran dan hati dan lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Jika kita sudah terbiasa, maka kala tidak melakukan terasa ada yang kurang. Jika sudah seperti ini, maka tindakan tersebut telah menjadi kebutuhan. Kita yang butuh ibadah, kita yang butuh dzikir, kita yang butuh untuk berbuat baik. Selamat mencoba.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

KHILAF SALAH DAN DOSA

KHILAF SALAH DAN DOSA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada satu bahasan khusus di dalam acara ngaji selasanan pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), pada 04/06/2024, yaitu pembahasan mengenai kekhilafan, kesalahan dan dosa, sebagai trilogy dalam perilaku manusia kepada Tuhan yang bermakna negative atau tidak sesuai dengan ajaran agama di dalam Islam. Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW melarang hal tersebut untuk dilakukan.

Tidak ada manusia biasa yang tidak melakukan kekhilafan dan doa. Hanya Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah saja yang tidak melakukan kekhilafan kesalahan dan dosa atau yang di dalam konsepsi agama disebut sebagai ma’shum. Di antara Nabi yang tidak memiliki kekhilafan kesalahan dan doa adalah Nabi Muhammad SAW. Para  Nabi tidak memiliki hal tersebut karena para Nabi itu dipandu oleh wahyu Allah di dalam semua tindakannya. Baik prilaku ritual individual maupun prilaku sosialnya dipandu oleh Allah.

Di dalam salah satu kesempatan, Nabi Muhammad SAW sedang Bersama dengan para sahabat-sahabat terkasihnya dan juga para pembesar Quraisy. Beliau sedang berbicara dengan para sahabatnya dan pembesar Quraisy tersebut, tiba-tiba datang seseorang yang tidak dikenalnya dengan keadaan buta matanya, maka Nabi Muhammad SAW yang sedang Bersama sahabat-sahabatnya tersebut memalingkan wajahnya seakan-akan tidak memperhatikannya, maka serta merta Nabi langsung diregur oleh Allah SWT sebagaimana tercantum di dalam Surat “Abasa, ayat 1-7, yang artinya: “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya, dan tahun engkau (Muhammad) barang kali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya, Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraiys), maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya, padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia menyucikan diri (beriman)”.

Marilah kita renungkan ayat ini dengan hati Nurani bukan dengan semangat rasional, bahwa Allah itu sedemikin Rahman dan rahimnya kepada semua hambanya. Nabi Muhammad diajarkan agar jangan membedakan antar satu dengan lainnya, antara yang kaya berkecukupan dengan orang yang buta. Allah sungguh menyayangi terhadap semua hambanya. Tidak ada perbedaan karena fisik, kekuasaan, kekuatan, kekayaan dan jabatan. Di mata Allah semuanya sama saja.

Janganlah dibaca ayat-ayat ini dengan mata Rsulullah khilaf, salah dan berdosa, tetapi begitulah Allah mengajari Nabi Muhammad SAW dengan pengalaman di atas takdirnya. Kehadiran Ummi Makhtum kepada Nabi di kala Nabi sedang berdakwah kepada para pembesar Quraiys adalah semat-mata sebagai contoh kepada kita semua lewat pengalaman Nabi Muhammad yang harus berlaku “persamaan” sesama hamba Allah. Prinsip persamaan sesama manusia merupakan prinsip utama di dalam relasi social di dalam Islam.

Ayat ini bukan sebagai teguran kepada Nabi Muhammad karena melakukan kekhilafan atau kesalahan, akan tetapi semata-mata Allah memberikan pengalaman secara empiris sesuai dengan ketentuan Allah, dan contoh yang paling baik adalah melalui pengalaman Nabi Muhammad SAW. Sama halnya dengan Nabi Yunus, yang meninggalkan kaumnya lalu naik kapal dan kemudian harus dilemparkan ke laut. Lewat doa kemudian Allah menyelamatkannya dari dalam lulut ikan yang menelannya. Yang dilakukan oleh para Nabi itu bukanlah kekhilafan atau kesalahan akan tetapi Allah memberikan pengalaman untuk dijadikan contoh di dalam kehidupan.

Ada trilogy terkait dengan perilaku manusia dalam kehidupan di dunia yaitu kekhilafan, kesalahan dan dosa. Kekhilafan merupakan Tindakan yang tidak didasari oleh niat sebagai awal perbuatan tersebut. Terjadi secara spontan. Tiba-tiba terjadi. Tetapi kekhilafan dipastikan merupakan Tindakan yang bermakna negative dilihat dari perspektif agama. Tentu ada banyak kekhilafan yang kita lakukan, ada banyak kejadian yang di luar kesadaran. Perbuatan yang dilakukan dari ketidaksadaran.

Berbeda dengan kesalahan, maka Tindakan yang mengandung kesalahan tentu didahului oleh niat. Ada niat yang ingin melakukannya. Jadi yang dimaksud dengan kesalahan adalah Tindakan yang disengaja untuk melakukannya. Ada kesalahan kecil ada kesalahan besar. Tentu semuanya merupakan Tindakan yang tidak berbasis pada nilai-nilai keagamaan di dalam ajaran Islam.

Kemudian dosa adalah Tindakan yang yang merupakan akibat dari kesalahan dan juga dari kekhilafan. Kedua-duanya mengandung makna dosa. Yang dimaksud dengan dosa adalah akibat dari Tindakan yang dilakukan sebagai konsekuensi Tindakan yang tidak berbasis pada nilai-nilai keislaman. Ada dosa yang bisa diampuni oleh Allah karena permohonan ampunan yang sungguh-sungguh dan ada dosa yang potensi diampuni sulit. Dosa yang potensinya sulit untuk diampuni adalah dosa yang diakibatkan oleh Tindakan kemursyrikan atau menyekutukan Tuhan. Dosa syirik itu termasuk dosa yang Allah tidak mudah mengampuninya atau bahkan sama sekali tidak akan mengampuninya. Dosa-dosa yang lain masih sangat besar potensinya untuk diampuni dengan permohonan ampunan yang serius. Maka hendaknya manusia selalu memohon ampunan kepada Allah sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan bacaan istighfar atau membaca astaghfirullah. Ya Allah ampuni dosa kami.

Allah melalui Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan agar seseorang bertaqwa kepada Allah di mana saja, dan jika melakukan kekhilafan dan kesalahan agar segera emnindaklnjutinya dengan perbuatan baik. Nabi Muhammad SAW menyatakan: “wa atbi’is sayyiatal hasanata tamhuha”. “Dan ikuti perbuatan yang jelek dengan perbuatan yang baik dan perbuatan yang baik tersebut akan menghapus kejelekan”.

Para jamaah Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), insyaallah tidak termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan, sehingga kalaupun ada di antara kita yang berdosa sebagai akibat kekhilafan dan kesalahan, maka peluang untuk diampuni oleh Allah itu sangat besar.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BERDOA SEBAGAI ANJURAN TUHAN

BERDOA SEBAGAI ANJURAN TUHAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Selasa, 04/05/2024, saya memberikan ceramah agama pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB). Sebagaimana biasa maka di dalam pengajian ini harus tertawa lepas 17 kali. Dan saya rasa pagi itu sungguh terpenuhi. Bagi penceramah yang sangat serius tentu tidak bisa mengikuti irama di dalam KNB, sebab genre pengajian ini adalah mengaji dan tertawa. Ngaji sehat. Bukankah jika di dalam suatu forum kemudian bisa tertawa sebanyak 17 kali, maka orang itu dipastikan bahagia. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh aspek ekonomi semata tetapi juga nuansa batin atau hati yang riang gembira. Jika ingin bahagia jadilah anggota KNB. Promosilah.

Pada pagi hari tersebut, maka saya menyampaikan materi tentang “Tuhanpun meminta kita untuk berdoa”. Tema ini diilhami oleh Ustadz Syahwal, alhafidz, yang setiap menjadi imam shalat shubuh berjamaah selalu berdoa di dalam doa qunut dengan tambahan doa: “wa qul rabbighfir warham wa anta khairur rahimin” yang artinya kurang lebih: “dan katakanlah, Wahai Tuhanku ampunilah kami, rahmatilah kami,  Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat”.

Doa ini yang saya kupas, sebab dengan doa tersebut Allah SWT memberikan peluang bagi kita untuk selalu berdoa kepadanya. Bahkan saya nyatakan: “janganlah lelah untuk berdoa, kapan dan di mana saja. Berdoa merupakan salah satu cara kita untuk memasrahkan diri atas usaha yang kita lakukan. Ada trilogy: berusaha, berdoa dan bertawakkal”. Trilogy ini harus sungguh dipegangi sebab semua yang kita lakukan itu ada takdirnya, ada kepastiannya, dan kita tahu kepastian itu dapat kita peroleh atau tidak setelah semuanya terjadi. Doa adalah harapan. Dan jika kita memiliki harapan,  maka akan membuat kita juga sungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajiban.

Nabi Nuh A.S saja berdoa kepada Allah sebagaimana diceritakan di dalam Surat Nuh ayat terakhir. Diceritakan di situ doa Nabi Nuh A.S sebagai berikut: “rabbighfirli wa liwalidayya wa liman dakhala baitiyal mukminan, minal mukminina wal mukminati”. Yang artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah aku, dan siapapun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang beriman laki-laki dan perempuan.” Tegaslah sudah bahwa doa merupakan  pengamalan para Nabi dan Rasulullah. Ada banyak doa di dalam surat-surat  Alqur’an yang di dalamnya terdapat doa-doa Nabiyullah, misalnya doa Nabi Yunus, Doa Nabi Ibrahim, doa Nabi Yusuf, doa Ashabul Kahfi   dan sebagainya.

Hal ini menggambarkan bahwa doa memegang peranan  penting di dalam Islam. Nabi Muhammad SAW juga banyak mengajarkan agar kita berdoa kepada Allah SWT. Misalnya Nabi mengajarkan agar orang tua kita diampuni Allah dan mendapatkan kebahagiaan di alam kuburnya, maka salah satu yang dibaca adalah: “subhanallah al ‘adhim wa bihamdihi”. Berdasarkan pandangan para ahli dinyatakan bahwa membaca teks tersebut sebanyak 300 kali dalam waktu pagi antara subuh dan terbitnya matahari, maka dosa-dosa orang tua kita yang hidup maupun yang sudah meninggal akan diampuni oleh Allah. Alangkah indahnya.

Itulah sebabnya anak shaleh merupakan asset yang sangat berharga. Orang tua sungguh merindukan hadirnya anak yang saleh di dalam kehidupannya. Anak shaleh itu melebihi kekayaan, jabatan dan kekuasaan. Jika kekayaan, jabatan dan kekuasaan itu akan ditinggalkan kala seseorang wafat, akan tetapi anak saleh yang dapat mendoakan orang tuanya itu tidak akan terputus. Berbahagialah orang tua jika memiliki anak yang saleh yang dapat mendoakannya.

Berdasarkan pengalaman spiritual, yang tentu saja tidak bisa diverifikasi, bahwa roh di alam kubur itu berada di alam kegelapan. Kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmatnya Allah. Maka orang yang sudah wafat itu mengharapkan agar ada yang menolongnya. Bahkan mereka berkeinginan untuk dikembalikan ke dunia untuk dihidupkan kembali. Akan tetapi tentu tidak bisa untuk hal tersebut. Di sinilah peran doa dan bacaan apapun dari kalimat thayyibah itu yang akan memberikan cahaya bagi kehidupan roh di alam kubur. Pada saat seorang anak, cucu, keluarganya membaca doa dan bacaan-bacaan kalimat thayyibah, maka mereka sangat bergembira. Bersuka cita.

Kita yang hadir pada pengajian ini dipastikan akan senang jika orang tua atau kerabatnya menjadi berbahagia karena kita bisa menolongnya lewat upaya-upaya religious. Kita juga pantas bersyukur karena Allah memberikan peluang bagi kita untuk secara konsisten beriman kepada Allah SWT. Makanya kita dapat  mendoakan kepada keluarga kita yang sudah wafat. Untuk mengamalkan bacaan, misalnya subhanallah al adizim wa bihamdihi tentu tidak dapat kita lakukan setiap hari tetapi mungkin satu pekan sekali. Bagi yang Aparat Sipil Negara (ASN), maka hari Ahad saya kira bisa menjadi waktu untuk melakukannya. Sepekan sekali sudah untung dibandingkan tidak sama sekali.

Yang penting akhirnya adalah mari kita terus berdoa. Ada kalanya doa tersebut  dikabulkan seketika, ada kalanya ditunda waktunya dan ada kalanya dikabulkan justru di alam akherat. Mari terus berdoa karena doa tersebut harapan. Jangan lelah berharap dan jangan lelah berusaha kemudian bertawakkal kepada Allah. Trilogy kehidupan ini sangat penting sebab ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MANUSIA DICIPTA  DENGAN KESEMPURNAAN

MANUSIA DICIPTA  DENGAN KESEMPURNAAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Yang memberikan ceramah pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency pada Hari Selasa, 28/05/2024 adalah Ustadz Dr. Cholil Umam, seorang penceramah yang tidak diragukan kapasitasnya. Ustadz Cholil merupakan seorang dosen pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel Surabaya. Ceramah kali ini merupakan penafsiran atas Surat Asy Syams, ayat 7-9. Pak Cholil mengawali pembicaraannya bahwa ayat yang dibaca oleh Imam Shalat Rawatib Masjid Al Ihsan, Alief Rifqi (Al Hafidz) ini tentang bagaimana Allah bersumpah dengan banyak hal, seperti alam dan juga manusia.

Ayat yang dijelaskan oleh Ustadz Cholil tersebut jika diterjemahkan adalah sebagai berikut: “Demi Jiwa dan penyempurnaan (penciptaan) nya. Maka dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” Jika kita renungkan betapa mendalamnya makna ayat ini. Allah bersumpah dengan jiwa manusia yang diciptakannya. Wawu di dalam ayat ini menunjukkan sebagai wawu qasam atau wawu yang berarti sumpah. Sama dengan Allah bersumpah dengan matahari, Allah bersumpah dengan waktu, Allah bersumpah dengan bulan, Allah bersumpah dengan waktu fajar dan sebagainya.

Jika dibaca dengan hati nurani, maka Allah itu sungguh telah menciptakan manusia sebagai makhluknya yang paling sempurna. Manusia diberikan akal untuk berpikir dan hati untuk merasakan  kebesaran Tuhan atau merasakan kehadiran Tuhan di dalam kehidupan manusia. Tuhan hadir tentu tidak dengan fisik yang bisa dibayangkan. Laisa kamitslihi syaiun. Allah itu sungguh berbeda, dzat, sifat dan af’alnya.

Tuhan itu hadir di dalam dunia ini dengan ayat atau tanda yang disebut sebagai ayat kauniyah atau ayat-ayat yang dapat dipikirkan. Keberadaan fisik manusia yang sempurna, yang terdiri dari system saraf dan sel yang rumit dan fungsional antara satu dengan lainnya. Ada keteraturan di dalam tubuh manusia. Tumbuh-tumbuhan juga hidup dengan teratur,  alam dan tata suryanya yang juga sangat teratur. Masing-masing beredar sesuai dengan garis edarnya, tidak bertabrakan antara satu bintang dengan bintang lainnya. Masing-masing berjalan sesuai dengan ketentuan Allah.

Manusia  memiliki ratio atau akal untuk berpikir dan manusia memiliki hati untuk merasakan, maka Allah memberikan pilihan pada manusia untuk berbuat baik atau jelek. Allah sudah menurunkan Nabi dan rasul serta kitab suci yang dapat dijadikan pedoman, seharusnya manusia bisa memilih mana yang terbaik bagi dirinya. Di dalam Kitab Suci Al Qur’an terdapat kabar gembira atau tabsyir dan peringatan bagi yang lalai atau tandzir. Rasulullah sudah memberikan pedoman yang berupa sunnah-sunnahnya dan larangannya. Maka barang siapa yang mempedomani atas mana yang wajib, mana yang sunnah, mana yang makruh dan mana yang larangan, maka kala manusia tidak memilih yang terbaik berdasarkan atas ajaran agamanya, maka dia lalai atau ingkar dalam menjalankan ajaran agamanya.

Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan: “aku telah meninggalkan dua hal yang kamu tidak akan sesat yaitu Kitab Suci Al Qur’an dan Sunnah Rasul”. Jadi Allah sudah memberikan pedoman untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu maka manusia harus memaksimalkan potensi di dalam dirinya untuk berbuat kebaikan. Akal dan hati harus selaras untuk mengambil yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar.

Alqur’an itu merupakan kitab suci yang berisi ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah. Ada banyak pernyataan di dalam teks Alqur’an yang selaras dengan temuan-temuan para ahli ilmu pengetahuan dewasa ini. Makanya Allah menyatakan “apakah kamu tidak berpikir, apakah kamu tidak ingat, dan sebagainya. Allah mengingatkan agar manusia berpikir atas kebenaran ayat-ayat Alqur’an melalui penyelidikan atau penelitian tentang ayat-ayat kauniyah di dalam Alqur’an. Allah juga mengingatkan agar kita membaca Alqur’an sebab dengan membaca Aqur’an, maka hal tersebut merupakan bagian dari dzikir kepada Allah SWT.

Allah tidak hanya menyuruh berpikir dan merasakan kebenaran ajaran Islam, akan tetapi Allah juga meminta kepada kita untuk menyucikan diri atau menyucikan jiwa. Ada dua cara untuk menyucikan jiwa yaitu dengan beriman kepada Allah dan melakukan amalan-amalan shaleh. Kita yakin bahwa Allah itu ada, Allah itu maha kasih sayang, Allah itu maha kuasa dan sempurna dan sebagainya. Kita yakini dengan sebenar-benarnya. Jangan ragu-ragu. Semua kembalikan kepada Allah yang memiliki segalanya. Kita ini tidak punya apa-apa. Kekayaan, harta, pangkat, jabatan  dan kekuasaan, semua milik Allah. Jika sudah diambil maka selesai semuanya.

Dan yang tidak kalah penting adalah amal shaleh. Ada contoh bagaimana Allah itu akan memudahkan kita dalam melakukan sesuatu karena kita menyenangkan atau memudahkan orang lain. Saya punya cerita kata Ustadz Cholil: “saya mengantarkan seseorang untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kapasitasnya. Saya datang ke kyai di Sidoarjo. Saya dengan kawan ini diterima kyai dengan baik, dan pada ujung pembicaraan saya sampaikan maksud saya. Kyai lalu mengontak seseorang yang memilki tugas and fungsi sesuai dengan yang saya mohon. Tidak dijawab mungkin karena sibuk. Kala saya sudah berdiri, tiba-tiba Hand Phone kyai berdering. Rupanya yang mengontak adalah orang yang tadi dikontak. Saya sudah berdiri untuk pamit sehingga dapat  mendengarkan pembicaraan antara kyai dan orang dimaksud. Jadi saya mendengar sendiri kesiapan untuk memutuskannya pekan depan. Pak Cholil melanjutkan: “kemudahan ini saya peroleh karena sebelumnya saya bersedekah kepada orang di jalanan”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PAGUYUBAN RONGGOLAWE UNTUK KEINDONESIAAN

PAGUYUBAN RONGGOLAWE UNTUK KEINDONESIAAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Paguyuban Keluarga Ronggolawe Tuban di Surabaya dan Sekitarnya (PKRTS) merupakan wadah perkumpulan Orang Tuban yang berada di luar kota Tuban. Mereka berada di Surabaya, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Pasuruan, Bangkalan dan sekitarnya. Jumlahnya cukup banyak dan kebanyakan memang orang yang lahir di Tuban dan kemudian mengayuh kehidupan di kota-kota lain. Usianya berkisar antara 30-80 tahun.

Meskipun begitu, mereka masih dikaruniai usia yang panjang dan sehat. Kebanyakan adalah mantan pejabat yang pernah mengalami dinamika dalam kehidupan birokrasi yang pernah dilakukannya. Di antara mereka juga ada yang pengusaha, dan telah malang melintang di dalam usahanya. Bahkan secara etnis juga bervariasi. Tetapi semuanya hidup dalam guyub rukun dan tepo seliro.

Hari Ahad, 02/06/2024, di Rumah Makan Viaduct by Gubeng Jalan Nias No.110 Surabaya,  Binaan Pemkot Surabaya dilakukan acara serah terima dan pengukuhan pengurus PKRTS masa bakti 2024-2028. Sebuah acara ceremonial yang dikemas  secara informal. Meskipun pengukuhan pengurus organisasi tetapi tidak dilakukan secara formal sebagaimana pengukuhan pengurus organisasi atau birokrasi. Namanya paguyuban maka yang penting adalah guyub. Dalam Bahasa ahli sosiologi disebut sebagai gemeinschaft atau masyarakat paguyuban yang sering diperlawankan dengan gesselschaft atau masyarakat patembayan. Nama paguyuban tersebut banyak digunakan untuk perkumpulan atau organisasi yang berbasis kedaerahan.

Sebagai pengukuhan resmi bercorak informal, maka saya yang diminta oleh Pak Endro Siswantoro untuk melakukan pengukuhan, saya nyatakan: Dengan mengucap Bismillahirrahmanir Rahim, Bapak, Ibu dan Saudara-Saudara saya lantik sebagai pengurus Paguyuban Ronggolawe Tuban di Surabaya dan Sekitarnya. Semoga Allah,  Tuhan yang Maha Kuasa memberikan keberkahan bagi kita semua untuk pengembangan paguyuban Ronggolawe. Yang penting apapun yang kita lakukan adalah untuk nyambang nyambung dan seduluran. Semuanya untuk keindonesian kita.

Di antara yang hadir di dalam pengukuhan pengurus adalah Prof. Soewarno, Pak Endro Siswantoro, Pak Subiyantoro, Pak M. Kendry, Pak Agung Subagyo, Pak Suharto, Pak Ahmad Nasich, Pak Arief, Pak Sigit Erstanto, Ibu Laksita Rini, Ibu Nanik Sukristana, Ibu Septa Rinawati, Pak Irawan dan Ibu Hj. Erna K. Acara yang  diselenggarakan jam 16.00 WIB sampai magrib ini tentu sangat menarik untuk diperbincangkan terutama dalam kaitannya dengan apa yang bisa dilakukan, bukan apa yang harus dilakukan. Kita ingat bahwa ini paguyuban sebagai organisasi kebersamaan.

Di dalam sambutan yang disampaikan oleh Pak Subiyantoro, Ketua PKRTS 2021-2024, menyatakan bahwa di Indonesia itu diperlukan orang yang pinter, bener, kober dan uber. Orang yang pintar sangat dibutuhkan tetapi orang yang pintar dan benar justru sangat penting. Tidak hanya pintar dan benar tetapi juga orang yang punya waktu untuk mengabdi dan mau bekerja. Dinyatakannya: “saya mewakili pengurus PKRTS 2018-2024, menyatakan dari kedalaman hati agar kami dimaafkan jika pada kepengurusan yang lalu belum sesuai dengan harapan. Yang penting program-program dasar paguyuban sudah dilakukan”.

Sementara itu Pak Suharto, ketua Paguyuban 2024-2028 juga menyampaikan ucapan terima kasihnya atas kepercayaan keluarga paguyuban Ronggolawe yang memercainya untuk menjadi pimpinan paguyuban. Dinyatakannya: “saya harus banyak belajar dari para senior untuk memimpin paguyuban ini. Saya merasa senang karena pimpinan paguyuban ini merupakan gabungan senior dan Yunior. Saya berharap bimbingan dari para senior untuk menyukseskan paguyuban keluarga Ronggolawe”.

Acara diakhiri dengan doa yang dibacakan oleh Ustadz Dr. Nasich Hidayatullah. Dosen UIN Sunan Ampel dan Imam Masjid Al Akbar Surabaya. Selain itu,  saya juga diberikan kesempatan untuk memberikan taushiyah. Maklum jabatannya adalah  Penasehat. Jadi memberi nasehat saja. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu: pertama, saya ucapkan selamat kepada semua pengurus baru, Pak Suharto dkk, yang sudah siap sedia menjadi pengurus PKRTS, semoga kepengurusan ini selalu berada di dalam bimbingan Tuhan yang Maha Kuasa, Allah SWT. Semoga sukses. Sementara itu juga saya ucapkan terima kasih kepada pengurus sebelumnya, Pak Soebiyantoro dan kawan-kawan  serta Pak Irawan dan kawan-kawan, yang juga sudah mengabdi kepada paguyuban kita bersama ini.

Kedua,  visi organisasi kita adalah nyambang nyambung seduluran. Ini merupakan visi yang sangat bagus sebagai pondasi untuk kita berorganisasi dimaksud. Nyambang artinya kita dapat  bertemu offline atau temu darat. Dan ini bisa dilakukan meskipun tidak  mudah. Janjian waktu dan tempat dulu,  baru selesai. Beberapa hari yang lalu kita dapat silaturrahmi melalui temu darat di Hotel Inna Simpang untuk halal bihalal. Ini bagian dari nyambang. Lalu nyambung atau silaturrahmi. Untuk offline memang sulit sebab kita memiliki kesibukan masing-masing. Tetapi dengan perkembangan teknologi informasi, maka kita bisa melakukannya dengan zoom. Maka, mari kita lakukan meeting dengan on line agar tali silaturahmi kita akan bisa terjaga.

Ketiga,  karena program bisa dilakukan tidak harus dengan temu muka, maka bisa lewat zoom. Kita  dapat mengembangkan model-model program melalui program zoom. Secara kelakar saya sampaikan bahwa Pak Irawan dapat membuat program bagaimana menyuntik sapi dengan benar, atau Prof. Soewarno bisa memberikan bimbingan tentang bagaimana beternak yang benar. Pak Agung bisa memberikan pelatihan pemberdayaan masyarakat dan sebagainya. Pak Nasich bisa melakukan tahsinan Alqur’an yang dilakukan secara daring. Kita bisa melakukan pertemuan tiga bulanan. Urunan.

Menjadi pengurus organisasi nirlaba seperti Paguyuban Keluarga Ronggolawe tentu tidak banyak orang yang berminat menjadi ketua dan anggota pengurusnya. Berbeda dengan organisasi yang berbasis profesi atau yang menguntungkan. Oleh karena itu yang mau menjadi pengurus ini berarti orang pilihan dan semoga apa yang dilakukan dicatat sebagai amal kebaikan untuk keluarga Ronggolawe dan juga untuk nusa dan bangsa.

Wallahu a’lam bi al shawab.