• December 2018
    M T W T F S S
    « Nov    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PERLUNYA MENJAGA EKOSISTEM LINGKUNGAN (2)

PERLUNYA MENJAGA EKOSISTEM LINGKUNGAN (2)

Pada halaman depan Koran Kompas, 13/12/2018) terdapat berita yang membuat kita semua seharusnya berpikir bahwa sebagai akibat tindakan kita yang sembrono dalam membuang sampah di laut dan sampah tersebut adalah berbahan plastic, maka berakibat matinya Penyu Lekang yang di dalam perutnya terdapat sampah plastic. Berita ini tentu mengingatkan kita beberapa saat yang lalu juga ada seekor hiu yang mati karena di dalam perutnya juga terdapat benda-benda berbahan plastic.

Pertanyaannya, sedemikian permissifkah kita ini di dalam membuang sampah di laut sehingga bisa merusak terhadap ekosistem laut. Cobalah sekali waktu berjalan-jalan di pesisir untuk melihat bagaimana perilaku masyarakat pesisir terhadap sampah. Kebanyakan pembuangan sampahnya ialah di laut. Sehingga sampah bisa menggunung di pantai, yang jika air laut pasang kemudian terserat ke tengah laut dan mencemari laut. Sungguh pemandangan yang biasa saja untuk melihat kenyataan pemcemaran laut itu terjadi.

Namun sesungguhnya perilaku masyarakat seperti itu sudah merupakan tradisi secara turun temurun dan diteruskan dari generasi ke generasi. Jadi membuang sampah di pantai merupakan bagian dari perilaku keseharian yang terus berlangsung. Perilaku kolektif ini terus berlangsung seirama dengan perubahan sosial yang terjadi.

Di masa lalu, sampah yang dibuang ke laut tidak seperti sekarang. Di masa lalu sampah itu dengan mudah diurai oleh berbagai macam bakteri penghancur sampah. Akan tetapi sekarang di era barang-barang berbahan plastic, maka tidak bisa diurai oleh bakteri pengahncur sampah. Butuh waktu yang sangat panjang, bisa 4-5 tahun, benda-benda berbahan plastic tersebut baru bisa hancur. Waktu yang sangat panjang. Dan jika jumlahnya mencapai ribuan ton benda-benda plastic tersebut masuk ke laut, maka akan terjadi proses pencemaran jangka panjang yang merusak ekosistem laut.

Problemnya adalah apakah mereka mengetahui bahwa perilaku membuang sampah sembarangan tersebut sebagai suatu kesalahan tradisi sehingga dianggaplah sebagai tindakan yang wajar dan tidak berpotensi merusak lingkungan hidup. Inilah problem kita yang rasanya memang memerlukan sentuhan kebijakan yang sepadan untuk mengedukasi masyarakat pesisiran tentang prilaku membuang sampah. Bahkan yang juga penting ialah para pengusaha agar tidak membuang sampah atau limbahnya di perairan. Sebagaimana diketahui jika para pengusaha tersebut menempati lokasi pinggiran sungai, maka sungai juga yang menjadi tempat pembuangan sampahnya. Kasus di Jakarta, Semarang, Surabaya dan sebagainya kiranya menjadi alarm bahwa para pengusaha juga harus zero kesalahan dalam pembuangan limbah produknya.

Menjaga lingkungan kiranya menjadi mutlak diperlukan dewasa ini di tengah problem akut lingkungan yang terus berakibat negative bagi kehidupan manusia. Dan tidak ada yang bisa menolong terhadap penyelesaian masalah ini kecuali manusia sendiri. Manusia yang memulai dan manusia pula yang mengakhiri. Jika manusia ingin hidup di dalam alam dengan bersinergi dengannya, maka manusia harus mengubah perilakunya agar tidak lagi permissive terhadap perusakan alam baik yang disengaja atau yang tidak disengaja, baik yang legal maupun yang illegal.

Kepentingan menjaga lingkungan saya kira lebih dari apapun untuk dipikirkan mengingat bahwa masa depan anak cucu kita tergantung pada apa yang kita wariskan hari ini. negeri ini bukan warisan untuk anak cucu kita tetapi titipan mereka kepada kita untuk masa depan mereka. Jadi, keberhasilan kita untuk mengelola lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan pada apa yang akan berikan kepada mereka di kemudian hari.

Di dalam konteks seperti inilah posisi kita sekarang dalam menghadapi tantangan kerusakan lingkungan yang semakin parah. Hutan di berbagai negara sudah semakin mengecil jumlahnya disebabkan oleh desakan manusia dengan kebutuhan tempat tinggal dan kebutuhan ekonomi. Jumlah penduduk yang semakin besar tentu juga akan berimbas pada pemenuhan kebutuhan tempat tinggal dan makanan.

Jadi, semua tenaga dan pikiran harus dikerahkan untuk mengembalikan pengelolaan lingkungan yang makin baik. Pemerintah harus menetapkan regulasinya, LSM harus melakukan pendampingan terhadap masyarakat tentang tata kelola lingkungan, kaum agamawan harus mensosialisasikan tata kelola lingkungan dan masyarakat harus berubah perilakunya agar semakin aware terhadap lingkungan yang baik dan bersahabat. Semua harus bersinergi untuk kepentingan ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PERLUNYA MENJAGA EKOSISTEM LINGKUNGAN (1)

PERLUNYA MENJAGA EKOSISTEM LINGKUNGAN (1)

Terlepas dari anomali iklim yang terjadi akhir-akhir ini karena pemanasan global, tetapi yang jelas bahwa bencana semakin banyak terjadi, terutama banjir, tanah longsor dan topan atau angin ribut yang menyebabkan terjadinya kerusakan di banyak tempat. Sungguh manusia menuai banyak tantangan dan gangguan terkait dengan alam yang menjadi tempat bermukim manusia semuanya.

Pemanasan global tentu berakibat terhadap meningginya air laut dan menyebabkan rob di banyak tempat. Semarang, misalnya menjadi langganan rob karena meningkatnya permukaan air laut yang disebabkan oleh pamanasan global dewasa ini. Mencairnya gletzer di wilayah antartika tentu menyebabkan air laut pasang dan berefek terhadap permukaan laut. Pemanasan global yang dipicu oleh industry dan menipisnya ozon serta anomali iklim yang terus melanda terhadap lingkungan alam tentu menjadi gangguan secara serius terhadap kehidupan manusia.

Terjadinya banjir di beberapa wilayah di Indonesia tentu juga merupakan rangkaian masalah yang ditimbulkan oleh rendahnya perilaku masyarakat dalam menjaga ekosistem alam. Perusakan hutan yang dilakukan oleh manusia baik sengaja atau tidak sengaja tentu memiliki sejumlah perngaruh yang signifikan terhadap semakin rentannya alam dalam menyangga kehidupan.

Terdapat kegiatan deforestasi yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat. Tindakan deforestasi itu bisa dilakukan secara sengaja karena untuk kepentingan ekonomi, misalnya penebangan hutan atau illegal logging dan bisa juga karena ketidakmengertian masyarakat tentang dampak penggundulan hutan yang bisa berakibat terhadap tanah longsor, banjir bandang dan juga kerusakan ekosistem lingkungan.

Hutan sesungguhnya menjadi tumpuan manusia untuk kehidupan. Hutan yang lebat dan luas akan memiliki kemampuan untuk cadangan karbon dan menyerap emisi karbon sehingga ekosistem lingkungan akan terjaga. Jika hutan rusak karena perilaku manusia maka dipastikan bahwa akan terjadi pula kerusakan lingkungan, dan terjadinya banjir dan tanah longsor di beberapa wilayah di Indonesia adalah contoh kongkrit tentang kerusakan ekosistem lingkungan tersebut.

Di konteks ini, Prof. Emil Salim (Harian Kompas, 13/12/2018) menyatakan bahwa pembangunan yang berorientasi pada sector ekonomi bisa menjadi penyebab deforestasi yang berkembang dewasa ini. pembangunan yang berorientasi ekonomi termasuk yang menjadi penyebab menyusutnya hutan tropis di Indonesia. sedangkan kebakaran hutan juga berakibat terhadap meningkatnya emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Oleh karena itu, perencanaan pembangunan jangan sampai berpengaruh terhadap eskploitasi hutan.

Peringatan Prof. Emil Salim tentu layak untuk dijadikan sebagai pedoman di dalam perencanaan pembangunan, sebab melalui pengalaman dan ilmu lingkungan hidup yang beliau miliki tentu bisa menjadi guru yang baik dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Saya kira tidak ada maknanya merencanakan sustainable development jika pembangunan berbasis ekonomi tetap menjadikan hutan sebagai bagian untuk dieksploitasi. Pembengunan berkelanjutan harus dilakukan dengan memperhatikan sector hutan yang harus tetap lestari di tengah pemanasan global yang terus terjadi. Jadi, pemerintah hatus benar-benar focus untuk membendung deforestasi untuk kepentingan bangsa di masa mendatang.

Selain pemerintah, masyarakat juga harus terlibat di dalam menjaga ekosistem lingkungan ini. sebaik apapun upaya pemerintah, tetapi masyarakat dan dunia usaha tidak meresponnya dengan wajar dan beritikad baik, maka juga tidak ada artinya. Masyarakat melalui tokoh-tokohnya dan juga kaum agamawan perlu untuk turun gunung dalam kerangka menghentikan gerakan deforestasi itu.

Kaum agamawan yang menurut saya tetap memiliki kemampuan untuk menjadi rujukan masyarakat dan juga menjadi penyebar agama yang gigih agar gerakan deforestasi bisa dihentikan.

Di dalam konteks ini, dakwah atau penyebaran agama mestilah memasukkan unsur pembahasan tentang perlunya menjaga lingkungan. Terutama pada masyarakat pinggiran hutan yang selama ini menjadikan hutan sebagai tempat untuk aktivitas kehidupan. Saya kira dakwah atau penyebaran agama harus bermuatan menjaga ekosistem lingkungan berbasia pada norma-norma agama yang selama ini sangat pro terhadap penjagaan ekosistem lingkungan.

Dan yang lebih dahsyat ialah upaya pemerintah dan dunia usaha agar tidak lagi menjadikan hutan sebagai obyek ekonomi. Pemerintah dengan kekuasaannya tentu bisa merumuskan kebijakan yang pro pembangunan nir eksploitasi hutan dan sementara itu para pengusaha juga menyadari bahwa illegal logging atau usaha lainnya dalam mengekspoitasi hutan akan sangat berbahaya bagi kehidupan manusia.

Sinergi antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dirasakan sebagai kebutuhan mendesak agar kerusakan lingkungan tidak akan terus terjadi. Saya khawatir bahwa kiamat itu sebenarnya disebabkan oleh perilaku kita yang semena-mena terhadap lingkungan kita yang seharusnya dijaga dengan baik.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

KONSERVATIF-FUNDAMENTALISME AGAMA PADA ERA DEMOKRATISASI (2)

KONSERVATIF-FUNDAMENTALISME AGAMA PADA ERA DEMOKRATISASI (2)

Di dalam tulisan ini, saya akan secara khusus menyoroti tentang kelompok konservatif-fundementalisme dari aspek aksi damai yang dilakukan oleh eksponen alumni 212 yang dilakukan beberapa saat yang lalu. Hiruk pikuk kehidupan beragama menjadi semakin menampakkan variasinya di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara akhir-akhir ini.

Aksi damai yang dilakukan oleh alumni 212 di Monas itu memang luar biasa dilihat dari jumlah peserta yang sangat banyak. Kita belum pernah melihat suatu unjuk rasa dengan jumlah yang sangat besar dan dalam keadaan tertib. Mereka berpakaian yang sama –kebanyakan pakaian muslim dan muslimah—dan melakukan aksi yang simpatik. Misalnya memungut barang-barang bekas yang digunakan selama unjuk rasa berlangsung dan juga dengan tertib datang dan pulang balik ke tempatnya masing-masing. Mereka datang dari seantero Indonesia dengan biaya sendiri dan berpartisipasi karena panggilan untuk menyukseskan unjuk rasa.

Inilah suatu drama kolosal dari pentas para penganut konsevatif-fundementalisme agama di Indonesia yang sangat menonjol. Di dalamnya terdapat berbagai elemen organisasi, yang secara sengaja hadir sebagai pengamat atau partisipan, yang beridelogi atau tidak atau bahkan ada yang sengaja datang atau sekedar meramaikan saja. Semua dating bersamaan di sini dengan tujuan untuk meramaikan gerakan alumni 212.

Moment seperti ini tentu juga tidak steril dari nuansa politik, misalnya dengan hadirnya Gubernur DKI, Anies Baswedan yang secara lingkungan sosial berada di dalam kategori ini –meskipun dalam wilayah politik—dan juga Prabowo Subiyanto, calon presiden dari koalisi Gerindra dan sebagainya.

Saya kira memang ada banyak kepentingan yang saling bertali temali dengan gerakan alumni 212 ini. ada yang pragmatis, ada juga yang ideologis. Semuanya menyatu dalam perhelatan akbar dalam unjuk rasa tersebut. Jika Prabowo hadir tentu terkait denan dukungan politik yang akan dimainkannya pada tahun 2019, demikian pula Anies juga untuk merawat konstituennya yang kebanyakan juga berasal dari kelompok ini, sedangkan ada juga yang ideologis misalnya ialah mereka yang menegakkan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid artinya yang ingin mendirikan khilafah Islamiyah dan penerapan Islam secara kaffah.

Dengan sangat mudah untuk menengarai keterlibatan HTI di dalam acara ini. Aksi alumni 212 benar-benar menjadi panggung gerakan HTI dan eskponen lainnya yang memiliki keinginan untuk melakukan perubahan baik dari sisi politik maupun pemahaman keagamaan. Dari sisi politik ialah keinginan untuk ganti presiden dan dari apsek pemahaman keagamaan ialah keinginan untuk menerapkan ajaran Islam yang puris dan konservatif bahkan radikalistis atau penerapan syariah secara kaffah dan pendirian khilafah Islamiyah. Meskipun tidak didapati adanya pidato-pidato yang heroic dengan gerakan-gerakan khilafah sebagaimana aksi 212 tahun lalu, akan tetapi melihat fenomena semaraknya bendara HTI dan juga outward appearance lainnya, maka dipastikan bahwa gerakan konservatif-fundamentalis memperoleh momentum di saat ini. Gerakan aksi 212 merupakan representasi dari semakin menguatnya performance Islam konservatif fundamentalisme di Indonesia.

Sungguh bagi kaum penggerak Islam wasthiyah, tantangan ini bukanlah sesuatu yang ringan-ringan saja. Rasanya tidak bisa lagi berpikir bahwa mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut Islam wasathiyah, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan. Sudah saatnya diperlukan kontra gerakan ini dengan pola dan model yang bervariasi. Mereka itu terdiri dari anak-anak muda yang idealis dan terpelajar, sehingga gerakan mereka tentu lebih canggih dan memasyarakat, misalnya penggunaan media sosial dan sebagainya.

Saya menjadi teringat yang disampaikan oleh Haidar Bagir pada waktu ada pertemuan dalam Islamic Higher Education Professor (IHEP) Summit (7-8/12/2018) di Bandung bahwa jejaring masjid di perumahan-perumahan sudah dikuasai oleh kelompok ini. Hal senada pernah juga diungkapkan oleh pimpinan Wanita Islam pada waktu ada acara di Bandung yang juga menyatakan hal yang sama. Jadi saya kira sudah bukan lagi berita hoax tentang penguasaan jejaring masjid-masjid oleh kelompok konservatif-fundamentalis ini.

Para penganut Islam wasathiyah yang kebanyakan generasi X dan berada di pedesaan tentu tidak banyak memahami tentang tantangan ini. Makanya, generasi muda NU, Muhammadiyah dan organisasi Islam lainnya yang berwajah wasthiyah harus “cancut taliwondo” atau berjuang keras agar penetrasi gerakan ini tidak semakin “menggila”. Kita sudah diambang “pertentangan dan rivalitas” untuk memperebutkan sumber daya manusia dan sumber daya instrument keagamaan. Jadi semua komponen penganut Islam wasathiyah pun harus bergerak secara seiring dan sejalan.

Dan saya kira masih ada peluang untuk melakukannya dengan sekuat tenaga. Jangan sampai terlambat sebagaimana terjadi di Mesir yang berakibat fatal bagi keberlangsungan bangsa dan negara.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

KONSERVATIF-FUNDAMENTALISME DI ERA DEMOKRATISASI (1)

KONSERVATIF-FUNDAMENTALISME DI ERA DEMOKRATISASI (1)

Salah satu di antara yang selalu saya ingat di saat membicarakan tentang demokratisasi ialah hipotesis yang menyatakan bahwa era demokratisasi yang mengusung kebebasan dan HAM selalu berefek terhadap semakin menguatnya berbagai kelompok berbasis apapun. Salah satu di antaranya ialah kelompok keagamaan.

Menjelang berakhirnya masa kepemimpinan Presiden Soeharto, maka yang kemudian menyeruak ke permukaan ialah berbagai gerakan keagamaan konservatif yang mengusung Islam kaffah dan pengamalan Islam yang cenderung lebih puris. Dimotori oleh beberapa tokoh yang tergabung di dalam masjid Salman ITB, Masjid Syuhada di Jogyakarta dan masjid perguruan tinggi lainnya, maka terjadilah pemahaman agama yang lebih puris dan mengusung konsepsi Islam kaffah tersebut.

Mereka inilah yang kemudian menyebarkan panji-panji Islam dalam coraknya yang universalisme Islam dan menjadi cikal bakal bagi pemahaman agama yang tumbuh di perguruan-perguruan tinggi, khususnya universitas yang di dalamnya terdapat program studi sains dan teknologi. Semula memang berkembang di situ tetapi lambat laun lalu berkembang di program studi lainnya, ilmu sosial dan bahkan juga program studi agama. Rentang waktunya cukup panjang, berawal dari tahun 90-an hingga sekarang. Penanaman benih universalisme atau konservatisme agama itu sudah tumbuh berkembang dalam rentang waktu 30-an tahun.

Bersamaan dengan hal tersebut juga hadirnya gerakan Hizbut Tahrir Indonesia, sebuah perluasan wilayah atau peralihan wilayah dari Libanon ke Indonesia dan ternyata juga tumbuh dengan subur. Hal ini juga seirama dengan munculnya gerakan KAMMI dan Tarbiyah yang menguasai kampus-kampus Perguruan Tinggi di Indonesia. Meskipun memiliki nama-nama yang bervariasi akan tetapi secara substansial memiliki kesamaan ialah menegakkan pemahaman agama berbasis pada salafisme di Indonesia.

Di dalam perkembangan berikutnya, maka ada yang tetap berkhidmah untuk mengembangkan gerakan Salafi Wahabi dan ada yang Salafi Takfiri dan ada yang juga bergerak di ranah politik. Misalnya Gerakan Tarbiyah yang kemudian menjelma menjadi Partai Keadilan, dan kemudian HTI tetap memperjuangkan berdirinya Khilafah Islamiyah meskipun berada di luar system negara. Sedangkan Gerakan Tarbiyah memilih mengambil peran di dalam negara melalui system partai politik.

Berkat kelihaiannya di dalam memperjuangkan ide-ide khilafah, maka banyak anak muda institusi pendidikan tinggi yang tertarik. Anak-anak muda yang semakin cenderung beragama dapat menemukan sosok HTI dengan ideology khilafahnya untuk menjadi tempat berlabuh. Dukungan mahasiswa terutama di PTU cukup besar, sehingga HTI bisa berkiprah misalnya menyelenggarakan Konferensi Khilafah di Gelora Bung Karno tahun 2007 dan kemudian juga pertemuan akbar di Bandung yang dihadiri oleh seluruh komponen anggota HTI dari seluruh PTU di Indonesia, 2017.

Pemerintah sudah melakukan tindakan yang tepat dengan membubarkan HTI sebagai organisasi sosial keagamaan, sebab dinyatakan telah bertentangan dengan negara dalam hal dasar ideology negara. Dengan menyatakan akan mendirikan Khilafah Islamiyah, maka secara otomatis menolak terhadap Pancasila sebagai ideology negara yang sesungguhnya sudah menjadi consensus bangsa semenjak Indonesia merdeka.

Benarkah HTI telah mati sesudah dibubarkan oleh pemerintah? Rasanya tidak, sebab secara factual HTI memiliki kader-kader militant yang tidak akan mati dengan pembubaran secara formal oleh pemerintah. Mereka akan tetap eksis dengan segala kekuatan dan kedigdayaannya. Memang secara kasat mata tidaklah kelihatan, akan tetapi mereka justru leluasa untuk mempertahankan dan menyebarkan ajaran khilafahnya, kapan dan di manapun.

Eksistensi HTI masih sangat kentara dengan beberapa kasus misalnya pembakaran bendera HTI, warna hitam dengan tulisan kalimat tauhid, yang memicu pro-kontra beberapa saat yang lalu. Di kala bendera itu dibakar oleh Banser, maka sontak terdapat pembelaan yang sangat gigih dari beberapa eksponen yang dapat dinyatakan sebagai kelompok simpatisan bendera tersebut. Dalihnya adalah membakar kalimat tauhid dan bukan membakar bendera HTI.

Kasus pembakaran bendera itu menjadi head line di media sosial, dan menimbulkan kegaduhan yang luar biasa. Banser memang selama ini dianggap sebagai kelompok “NKRI Harga Mati” dan pembela yang gigih terhadap “Pluralitas dan Multikulturalitas” dan tentu saja adalah pembelaan yang kuat terhadap “Pancasila sebagai Ideologi Negara”. Pantaslah jika ada kelompok yang melakukan pencederaan terhadapnya, maka Banser akan bertindak di luar pikiran kelompok lainnya.

Sebenarnya, melalui kasus ini, HTI sudah memperoleh keuntungan yang besar, sebab mereka bisa menghitung kekuatannya dalam blantika politik di Indonesia. Secara formal dan substansial, mereka memperoleh keuntungan sebab bisa mengetahui siapa saja dibalik keberadaannya. Dan tujuan untuk unjuk gigi dalam pemasangan bendera tersebut, sungguh menuai keberhasilan. Saya merasa bahwa di dalam peluang kasus itu, HTI selalu bisa memperoleh image yang “positif” dari para pendukungnya yang lintas partai dan lintas organisasi sosial keislaman.

Pengusung gerakan konservatif-fundamentalisme beragama sekarang tentu semakin kuat dengan keberadaan kelompok 212. Fenomena ini tentu tidak terlepas dari berbagai aktivitas yang dilakukan baik melalui media sosial yang mereka memang luar biasa dan juga dukungan para actor di media sosial dan juga aktor-aktor politik yang sedang mencari panggung untuk kepentingan 2019.

Akibatnya, kehidupan beragama di Indonesia akan semakin “galau” sebab ada dua kelompok yang saling “berhadapan” secara diametral, yaitu kelompok konservatif yang didukung oleh satu kelompok fundamental dan juga didukung oleh actor dan agen politik yang saling bertautan untuk menghadapi tahun 2019 dan kelompok pendukung kelompok moderat, yang didukung oleh sejumlah tokoh dan organisasi Islam dan didukung oleh kelompok nasionalis dan tokoh-tokoh politik yang juga bertali temali dengan tahun 2019.

Sesungguhnya, keberadaan kelompok konservatif-fundamentalisme beragama bukanlah fenomena baru di dalam kehidupan beragama di Indonesia, akan tetapi merupakan fenomena yang sudah memiliki jaringan yang sangat lama. Sekarang fenomena ini menjadi semakin menguat seirama dengan semakin intensifnya gerakan-gerakan konservatif-fundamentalisme yang didukung oleh penggunaan media sosial dan keterlibatan berbagai aktor dan organisasi yang terkait dengan tahun 2019.

Dan rasanya, gerakan ini akan semakin bertaji di masa depan jika organisasi mainstream yang selama ini mempertahankan Islam wasathiyah tidak terus berjalan seiring dan bersama-sama.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

KETIKA ANAK MUDA MENCARI JATI DIRI (2)

KETIKA ANAK MUDA MENCARI JATI DIRI (2)

Ada memang orang yang meragukan apakah para guru dan dosen masih fungsional di masa depan. Akan tetapi saya berkeyakinan bahwa selama masih ada institusi pendidikan, maka selama itu pula pendidik masih diperlukan. Hanya saja yang mungkin berubah ialah system pendidikan atau system pembelajarannya.

Sekarang saja perubahan system pembelajaran itu sudah berlangsung. Misalnya di kala internet sudah menjadi tempat untuk mencari jawaban atas soal-soal ujian dan lebih luas tentang pengetahuan dan pembelajaran, maka sebenarnya wajah dunia pendidikan sudahlah berubah. Makanya, para pendidik juga harus memperhatikan terhadap perubahan di sekitar pembelajarannya.

Suatu contoh kehadiran Google sebagai mesin pencari atau Google search, maka pencari jawaban atas hal yang ingin diketahuinya bukan lagi lewat orang pintar atau cerdik pandai, akan tetapi ke mesin pencari tersebut. Dan yang hebat bahwa semua menu tersedia di situ. Jika di masa lalu untuk menanyakan masalah agama, maka orang harus bertanya kepada kyai atau ulama. Sekarang sudahlah berbeda. Dengan Googling, maka secara real time jawaban akan bisa ditemukan. Demikian pula ketika hadir aplikasi Ruang Guru, maka melalui aplikasi ini akan bisa ditemukan jawaban atas soal-soal mata pelajaran, sehingga akan sangat membantu bagi para siswa. Begitulah kehebatan aplikasi di tengah kehidupan pendidikan di era sekarang.

Namun demikian, kehadiran guru atau dosen di era sekarang, tentu masih sangat dibutuhkan. Jika mesin pencari hanya menyajikan tentang jawaban apa atas pertanyaan apa, maka guru akan bisa memberikan dasar logika, emosi dan factor-faktor yang menghadirkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Itulah kelebihan guru atau dosen di dalam dunia pendidikan. Dengan demikian kehadiran pendidik masih diperlukan dalam program pendidikan.

Berbasis atas logika semacam ini, maka urgensi pendidik masih signifikan di dalam mengarahkan dan membimbing para mitra pendidikan di era sekarang dan mendatang. Dari hasil survey tentang rendahnya toleransi para guru terhadap orang di luar dirinya, terutama yang menyangkut agama dan etnis atau suku, maka sebenarnya ini merupakan lampu “kuning” bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Di tengah nuansa politik identitas yang terus digelorakan di dalam tahun politik ini, maka sikap dan tindakan pendidik tentu bisa menjadi rujukan. Apalagi jika guru tersebut bisa menempatkan dirinya di tengah para muridnya.

Masyarakat Indonesia, meskipun sudah berada di era teknologi informasi yang kuat, akan tetapi sikap patron-client itu masih mengakar dengan kuat. Para mitra pendidikan masih menganggap bahwa pendidik adalah orang yang melebihi dirinya dalam banyak hal. Ada factor usia, factor akademis, factor status dan sebagainya yang bisa saja tetap berpengaruh bagi para siswa. Oleh karena itu, pendidik masih memegang kunci penting di dalam mengarahkan sikap dan tindakan para siswanya, atau bahkan dosen terhadap para mahasiswanya.

Anak-anak muda adalah mereka yang sedang di dalam proses pencarian jati diri, baik dari sisi kebangsaan, kesukuan, etnisitas, bahkan keagamaan. Oleh karena itu, di saat seperti ini, maka mereka harus mendapatkan pendidikan yang benar. Yaitu pendidikan yang akan mengarahkannya pada pengetahuan, sikap dan tindakan yang relevan dengan bangsa, negara dan agamanya. Banyaknya anak-anak muda yang tertarik dengan situs-situs agama yang keras tentu disebabkan mereka mendapatkan pelajaran dari dunia agama melalui teknologi informasi yang seperti itu. Misalnya situs-situs yang mengunggah beragama yang bercorak intoleransi, kekerasan bahkan terorisme. Padahal situs-situs seperti ini luar biasa banyaknya dan luar biasa pula tawarannya. Bagi yang tidak diback up oleh lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan dan lingkungan sosial yang baik, maka mereka bisa terjerembab di dalam kubangan gerakan intoleransi yang keras.

Institusi pendidikan merupakan lingkungan kedua setelah lingkungan keluarga, makanya bagi saya tentu memiliki pengaruh yang cukup signifikan di dalam proses pencarian jati diri dimaksud.

Pendidik yang memiliki pemahaman agama yang moderat tentu merupakan solusi yang memadai di dalam mendidik mitra didiknya untuk memiliki paham keagamaan yang moderat dan sebaliknya jika gurunya intoleran maka juga akan menghasilkan anak didik yang intoleran. Maka solusinya ialah bagaimana kebijakan pemerintah tentang profesi guru dalam wawasan kebangsaan. Selain itu juga keluarga dan masyarakat yang harus terlibat di dalam pengawasan bagi para remaja.

Semua harus terlibat di dalam membantu pencarian jati diri di kalangan generasi muda agar mereka bisa menjadi pewaris negeri ini untuk tetap berada di dalam kerangka tegaknya NKRI, terjaminnya Pancasila sebagai ideology negara dan tetap langgengnya Indonesia sebagai rumah bersama seluruh rakyat dan bangsa Indonesia.

Wallahu a’lam bi al shawab.