• August 2020
    M T W T F S S
    « Jul    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENJADI BAHAGIA DENGAN IBADAH DAN BERBUAT BAIK

MENJADI BAHAGIA DENGAN IBADAH DAN BERBUAT BAIK
Semestinya saya menjadi khatib di Masjid Agung Gresik pada hari raya Idul Fithri 1441 Hijrah yang lalu, tetapi karena bertepatan saya harus bed rest, dan bertepatan juga belum diperkenankan untuk menyelenggarakan shalat idul Fithri karena Covid-19, maka saya diminta untuk menjadi khatib Shalat Idul Adha 1441 Hijrah. Tetapi karena pertimbangan keluarga, maka saya belum diperkenankan untuk berada di dalam ruangan yang penuh sesak dengan sejumlah orang, termasuk pada waktu pelaksanaan shalat idul adha.
Itulah sebabnya, saya diminta untuk menjadi khatib di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, yang baru pertama kali menyelenggarakan shalat hari raya. Shalat ini dilaksanakan di lapangan sebelah masjid dan jamaahnya tidak terlalu banyak dan berada di ruangan terbuka. Maka kami menyanggupi untuk melaksanakan tugas tersebut dan jadilah hari itu, Jum’at, 31/07/2020 atau tanggal 10 Dzulhijjah 1441 di Perumahan Lotus Regency dilakukan shalat id berjamaah. Memang jamaahnya hanyalah warga perumahan yang jumlahnya kira-kira 80 orang.
Shalat Id berjamaah ini diselenggarakan dalam nuansa Covid-19, sehingga penerapan protocol kesehatan juga dilaksanakan dengan ketat. Setiap jamaah ditest suhu tubuhnya, harus mencuci tangan dengan disinfectant dan menjaga jarak kurang lebih satu meter, ke depan dan ke samping serta membawa peralatan shalat dari rumah. Sungguh memang kita harus mengikuti sebuah tradisi baru di dalam menjalankan shalat berjamaah. Khutbah pun dibatasi hanya maksimal 10 menit, sebagaimana khutbah shalat jum’at yang juga menggunakan protocol kesehatan yang ketat.
Meskipun hanya dalam waktu 10 menit, akan tetapi harus saya sampaikan beberapa hal, yaitu: pertama, ungkapan rasa syukur atas kenikmatan Allah yang berupa kesehatan sehingga kita tetap bisa melaksanakan ibadah kepada Allah. Di tengah pandemic Covid-19 tentu rasa syukur itu adalah karena keluarga kita semua selalu di dalam lindungan Allah swt dan diselamatkan dari wabah corona yang menakutkan tersebut. Sebagai akibat dari wabah corona ini maka haji yang biasanya terdapat sebanyak 4,5 juta orang, maka otoritas pemerintah Saudi Arabia hanya mengizinkan 10.000 orang saja dan yang bisa mengikuti ibadah haji diutamakan warga Saudi Arabia dan mukimin yang sudah lama berada di Arab Saudi. Bahkan untuk hari ini shalat idul adha juga ditiadakan di Masjidil Haram. Suatu hal yang sangat tidak lazim akan tetapi harus terjadi karena wabah Covid-19.
Kedua, agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan, sebagaimana tercantum di Surat Al Haj ayat 77, yang berbunyi: “ya ayyuhal ladzina amanur ka’u, was judu wa’budu, waf’alul khairo la’allakum tuflihun”. Yang artinya, “wahai orang-orang yang beriman, ruku’lah dan sujudlah dan beribadahlah dan berbuat baiklah sehingga kamu sekalian akan memperoleh kebahagiaan”. Ayat ini memang ditujukan kepada orang yang beriman, yaitu orang yang percaya kepada Allah swt dan meyakini kenabian Muhammad saw., sebagaimana ucapan syahadat kita: “asyahadu ‘anla ilaha illallah, waasyhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Jika kita bersyahadat, maka kita dikenai perintah Allah untuk memperoleh kebahagiaan.
Untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut, Allah memberikan syarat-syaratnya, yaitu menjalankan ruku’ kepada Allah swt. Ruku’ adalah penyerahan diri kepada Allah dengan ucapan “Maha Suci Allah dzat yang maha agung”. Kita harus mengagungkan asma dan dzat Allah yang Maha Suci. Dan sekali-kali tidak diperkenankan untuk menyekutukannya. Kita juga harus bersujud kepada Allah, penyerahan total kepada Allah swt, sebagaimana yang diungkapkan dalan shalat kita, “inna shalati wa nusuki, wamahyaya wamamatiu lillahi rabbil ‘alamin”. Sesungguhnya shalatku, korbanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah semata”. Inilah yang kita sebut sebagai penyerahan total hidup ini hanya kepada Allah swt.
Lalu, ita diperintahkan untuk beribadah kepada Allah. Tidak ada peribadahan yang kita lakukan kecuali hanya karena Allah. Kita ini diciptakan oleh Allah semata-mata hanya untuk beribadah kepadanya. Tidak ada peribahadan kepada selain Allah. Tidak ada peribadahan kepada benda-benda, arca-arca, tempat-tempat yang dianggap suci, sebab peribadahan itu hakikatnya hanya kepada Allah semata. Jika kita beribadah dengan menghadap Ka’bah bukanlah berarti kita menyembah ka’bah itu. Sebab ka’bah hanyalah medium untuk mempersatukan umat Islam dalam ritual shalat dan lainnya. Hakikat shalat itu adalah persembahan kepada Allah azza wajalla.
Kemudian yang tidak kalah penting adalah berbuat baik kepada manusia dan alam. Di dalam ayat ini, maka yang digunakan adalah al khoir artinya adalah kebaikan umum. Makanya, kebaikan itu harus dilakukan tanpa memandang siapa orangnya, apa agamanya, apa warna kulitnya, apa etnisnya, apa penggolongan sosialnya dan sebagainya. Kebaikan harus dilakukan kepada semua manusia tanpa pandang bulu. Kebaikan yang dilakukan itu harus menggunakan kata kunci “kemanusiaan” atau basisnya adalah ukhuwah basyariyah. Sesama manusia kita harus saling tolong menolong, saling mengasihi, saling menghargai, saling menghormati dan semua perilaku kebaikan yang memiliki makna di dalam kehidupan. Janganlah kita menyakiti baik batiniyah maupun lahiriyahnya, jangan menganggap remeh sesama manusia dan semua perbuatan yang tidak menyenangkan.
Shalat kita itu bahkan luar biasa, sebab setiap kali shalat kita selalu menyatakan: “assalamu alaika ayyuhan nabiyuu warahmatullahi wabarakatuh, assalamu Alaina wa’ala ibadillahis shalihin”. Kita mengucapkan salam kepada seluruh rasul dan nabi, 25 rasul dan 124.000 nabi, dengan harapan Allah akan memberkahinya dan juga ucapan salam kepada kita semua orang-orang yang shalih”. Alangkah luar biasanya ibadah yang kita lakukan tersebut.
Ketiga, Kita sekarang sedang berada di dalam hari raya idul adha atau hari raya kurban, yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, “aku diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban, dan kurban tersebut adalah sunnah untukmu”. Mudah-mudahan semua umat Islam yang berkorban dengan hewan korban hari ini dan dua hari ke depan, akan mendapatkan pahala sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJAGA TAQWA KEPADA ALLAH

MENJAGA TAQWA KEPADA ALLAH
Tulisan ini dibuat di dalam kerangka untuk mendokumentasikan pelaksanaan shalat Jum’at yang pertama kali diselenggarakan di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, Ketintang Surabaya, 24 Juli 2020. Selama ini para warga Perumahan Lotus Regency mengikuti shalat jamaah di masjid-masjid di sekitar perumahan, dan ada masjid yang tidak mematuhi terhadap protocol kesehatan, misalnya menjaga jarak antara satu jamaah dengan lainnya.
Di saat New Normal yang justru menimbulkan kekhawatiran sebab pelonggaran aturan terkait dengan penyebaran Covid-19, maka berdasarkan pertemuan yang diselenggarakan oleh Ta’mir Masjid Al Ihsan, maka diputuskan untuk menyelenggarakan shalat Jumat berjamaah di masjid yang dibangun tahun 2019 tersebut. Di dalam penyelenggaraan shalat jumat, maka protocol kesehatan benar-benar dipatuhi, misalnya menjaga jarak antar jamaah, membersihkan tangan dengan disinfectant dan juga membawa peralatan shalat sendiri.
Memang ada pertanyaan, bagaimana jika jumlah jamaahnya tidak memenuhi 40 orang. Maka saya nyatakan bahwa sekarang ini kita berada di era Covid-19, sehingga mungkin bisa dinyatakan bahwa salat jumat berjamaah ini madzabnya adalah madzhab corona. Saya nyatakan lebih lanjut bahwa jika jamaahnya tidak ada 40 orang, pastilah kekurangannya akan diisi oleh malaikat Allah. Begitulah saya meyakinkan tentang penyelenggaraan shalat Jum’at berjamaah ini.
Sebagai khatib, saya sampaikan beberapa hal: pertama, saya berpesan agar kita semua terus bertaqwa kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Allah berfirman: “ittaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa waantum muslimun”. Yang artinya: “bertaqwalah kamu sekalian dengan sungguh ketaqwaannya dan janganlah kamu mati dalam keadaan tidak menyerahkan diri kepada Allah”. Makna ayat ini adalah kita diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah dengan sesungguhnya taqwa, yaitu dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Bertaqwa artinya menjalankan ajran Islam dengan mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan untuk memperoleh keridlaannya dan keberkahannya. Tujuan kita beribadah kepada Allah adalah untuk memperoleh ridla Allah. Jika Allah sudah meridlainya, maka semua hal kehidupan di dunia maupun di akhirat akan menuai keselamatan. Kita diminta oleh Allah agar terus berserah diri kepadanya. Menjadi muslim yang benar adalah dengan menyerahkan semua urusan kita kepada Allah. Tidak ada dzat yang akan menyelesaikan urusan kita kecuali Allah swt. Jadi jika kita menghadapi persoalan kehidupan, maka kepada Allahlah kita menyandarkan diri.
Kedua, hadits Nabi Muhammad saw menyatakan: “ittaqillaha haitsuma kunta waatbiis sayyiata tamhuha wa khaliqin nasa bikhuluqin hasanin”. Yang artinya: “bertaqwalah kamu kepada Allah di manapun berada, dan ikutilah perbuatan yang tidak baik dengan kebaikan karena kebaikan akan menghapusnya, dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik”. Hadits ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa kita diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah di mana saja.
Bertaqwa tidak hanya di masjid, di tempat ibadah atau tempat-tempat berkumpul dengan orang baik, tetapi bertaqwa itu harus dilakukan di tempat kerja, di rumah, di kantor, di mall, di pasar, di jalan dan sebagainya. Di manapun kita berada kita harus bertaqwa kepada Allah. Sebab di dunia terdapat CCTV milik Allah yang dijalankan oleh Malaikat untuk merekam semua amal perbuatan kita. Itulah sebabnya Allah memerintahkan kita untuk bertaqwa di mana saja. Semua berada di dalam pengawasan Allah.
Jika suatu ketika kita melakukan kesalahan, maka segeralah kita menindaklanjuti dengan perbuatan yang baik, sebab perbuatan yang baik akan bisa menghapus kejelekan tersebut. Perbuatan yang baik menjadi penawar bagi kesalahan yang kita lakukan. Selain itu kita juga diperintahkan untuk berakhlak atau berbudi pekerti yang baik kepada sesama manusia. Kita harus berbuat baik kepada Allah melalui hablum minallah dan juga harus berbuat baik kepada sesama manusia melalui hablum minan nas. Di sini ditegaskan hablum minan nas dan bukan hablum minal muslim. Artinya, kita harus berbudi pekerti yang baik kepada seluruh manusia dan bukan hanya kepada umat Islam saja.
Islam sebagai ajaran, sesungguhnya sangat menghargai perbuatan baik yang berangkat dari akhlak yang baik tersebut. Islam melarang kita untuk berbuat curang, berbuat yang menyakitkan dan berbuat yang tidak adil kepada sesama umat manusia. Diajarkan oleh Islam agar kita menjaga hubungan baik dengan manusia, sehingga manusia yang lain juga akan berbuat yang baik kepada kita. Bahkan kita juga harus berbuat yang baik kepada alam di lingkungan kita. Jangan sampai kita merusak alam ini, sebab alam sebagai makhluk Allah juga harus diperlakukan dengan baik. Jika kita bisa menjaga seluruh relasi social dan relasi dengan alam dengan cara yang baik, maka Allah dipastikan akan juga menyayangi kita semua.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MOH. SYARIFUDDIN: CUM LAUDE DENGAN MENELITI TIONGHOA MUSLIM

MOH. SYARIFUDDIN: CUM LAUDE DENGAN MENELITI TIONGHOA MUSLIM
Kebahagiaan Mohammad Syarifuddin tentu membuncah, setelah Ketua Sidang Ujian Terbuka pada Program Doktor UIN Sunan Ampel, Prof. Dr. Aswadi mengumumkan bahwa ujian dengan promovendus, Mohammad Syarifuddin lulus dengan predikat pujian atau cum laude. Hari Kamis, 22 Juli 2020, Mohammad Syarifuddin memang berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Social Capital dalam Bisnis Pengusaha Tionghoa Muslim di Kota Kediri”.
Dengan komposisi penguji: Prof. Dr. Aswadi sebagai ketua tim penguji, Prof. Dr. Nur Syam, dan Dr. Sirajul Arifin, sebagai promotor dan penguji, Prof. Dr. Moh. Dja’far, sebagai penguji utama (eksternal), Dr. Mohammad Ahsan, Dr. Ali Arifin, dan Dr. Iskandar Ritonga, sekretaris tim penguji, Mohammad Syarifuddin dengan sangat lancar dan meyakinkan dapat menjawab seluruh pertanyaan penguji. Dan akhirnya para penguji bersepakat untuk memberinya peringkat kelulusan dengan cum laude atau Mumtaz.
Di dalam ujian ini, Prof. Nur Syam menyatakan bahwa disertasi Sdr Promovendus, memiliki beberapa kelebihan, yaitu dari sasaran kajian yang berbeda dengan penulisan disertasi lainnya sebab yang diteliti adalah para pengusaha Tionghoa, yang tentu memiliki tradisi dan budaya yang berbeda, meskipun mereka adalah orang Islam. Secara metodologis, tentu sangat berbeda meneliti orang yang memiliki kesamaan etnis –misalnya sesama Jawa—dengan orang Tionghoa, yang berbeda dalam etnisnya. Dan Sdr. Mohammad Syarifuddin bisa memperoleh data yang lengkap dengan ketepatan waktu yang memadai.
Lalu kajian teoretik dan implikasi teoretik yang sangat baik, sebab terdapat diskusi antara temuan penelitian dengan teori-teori yang dijadikan sebagai pemantik kepekaan atas data yang didapatkan di lapangan. Penelitian disertasi tentu harus memiliki diskusi implikasi teoretik yang baik, sebab di sanalah sesungguhnya kekuatan disertasi untuk menemukan konsep atau teori baru yang merupakan hasil akhir dari penelitian disertasi.
Menurut Syarifuddin, bahwa focus kajiannya berupa modal social, dengan pokok bahasan, yaitu guanxie yaitu manifestasi dari ajaran Konfusius tentang etika hubungan horizontal, di mana orang Tionghoa harus selalu membangun relasi social, terutama dengan sesama Tionghoa. Guanxie merupakan strategi bisnis yang berbasis pada prinsip humanis, sosiologis, kebajikan dan kebijaksanaan. Prinsip yang paling mendasar adalah saling tolong menolong atau solidaritas yang tinggi. Di sisi lain, sebagai orang Muslim, mereka memanifestasikan prinsip ukhuwah atau ashabiyah. Oleh karena itu, orang Tionghoa Muslim bisa memadukan antara prinsip Konfusius dan prinsip Islam yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menjaga relasi bisnisnya.
Lebih lanjut dinyatakan: “Prinsip ukhuwah merupakan dasar relasi social yang lebih luas, yang mengandung makna persaudaraan sesama komunitas Muslim dan sesama umat manusia”. Prinsip ukhuwah ini senada dengan konsep ashabiyah sebagaimana yang dipahami oleh Muslim Tionghoa. Di dalam konsep local disebut “seduluran”. Dengan demikian jika digabungkan antara makna social capital dalam bisnis Tionghoa Muslim, maka dapat dinyatakan terdapat suatu konsep baru, yaitu: “Ukhuwah Iqtishadiyah” adalah strategi bisnis dengan menggunakan pendekatan sosiologis dengan basis trust sebagai pondasinya, network sebagai insfrastuktur, dan reciprocity sebagai operasionalnya. Semuanya didasarkan atas pemahamannya pada ajaran Islam dan filsafat konfusius.
Ketika ditanya oleh Prof. Mohammad Dja’far tentang mana yang lebih dominan di dalam mengimplementasikan ajaran Islam dan filsafat Konfusius, maka dijawab bahwa tidak didapatkan angka pasti tetapi kiranya fifty-fifty. Orang Tionghoa bisa dengan bijak menerapkan keduanya di dalam konteks yang sama baiknya. Misalnya ajaran Konfusius digunakan untuk membangun relasi sosialnya dengan sesama orang Tionghoa dengan tidak membedakan apa agamanya, dan ajaran Islam digunakan untuk membangun relasi dengan kyai, pesantren, dan umat Islam pada umumnya. Keduanya berjalan dengan sama baiknya. Orang-orang Tionghoa Muslim ini terbiasa untuk memberikan sedekah, infaq dan pemberian lain, baik bagi pesantren dengan Kyai, dan juga kepada masyarakat umum. Semua dilakukan dengan kesadaran untuk membangun usaha bisnisnya agar bisa diterima oleh semua pihak.
Memang ada varian motif mereka menjadi muslim, misalnya karena menikah dengan salah seorang putri Kyai, ada yang karena menikah dengan keturunan waliyullah di Kediri dan juga ada yang karena ingin mencalonkan sebagai bupati dan sebagainya, namun semua itu tentu karena factor internal bahwa mereka ingin menjadi umat Islam. Menurut mereka, bahwa menjadi Islam itu lebih berat dari pada menjadi umat Konghucu, sebab di dalam Islam itu yang berat adalah shalat lima waktu, berbeda dengan umat Konghucu yang sangat sederhana peribadahannya.
Strategi yang digunakan oleh orang Tinghoa muslim adalah yang disebut sebagai ukhuwah iqtishadiyah yang humanis dan sosiologis, yang berbeda dengan prinsip kapitalisme yang mengedepankan individualisme dan pasar bersaing bebas. Dengan demikian temuan baru di dalam penelitian ini adalah modal social berbasis ukhuwah iqtishadiyah.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PENDIDIKAN ISLAM WASATHIYAH DI ERA DISRUPTIF

PENDIDIKAN ISLAM WASATHIYAH DI ERA DISRUPTIF
Perkembangan dunia Pendidikan yang dikelola oleh kaum Islam wasathiyah memang cukup menggembirakan. Jika kita merujuk pada dua organisasi besar yang tergolong sebagai Islam wasathiyah, Muhammadiyah dan NU, maka bisa diketahui bagaimana perkembangan institusi Pendidikan yang dikelola oleh keduanya.
Sebagaimana diketahui, bahwa Muhammadiyah semenjak awal memang mengembangkan pendidikan umum, seperti TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, sehingga secara structural berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sebagai kementerian yang mengurus institusi pendidikan umum. Sementara itu, NU lebih banyak bermain di pesantren dan madrasah, sehingga secara structural berada di bawah Kementerian Agama (Kemenag).
Indonesia memang negeri yang unik. Dari sisi penanggungjawab dan penyelenggara institusi pendidikan maka terdapat sebanyak 18 Kementerian/Lembaga yang mengurus Lembaga pendidikan, meskipun yang besar adalah Kemendikbud dan Kemenag. Seluruh lembaga pendidikan dari TK sampai PTU, semuanya berafiliasi ke Kemendikbud, sementara itu semua lembaga pendidikan mulai dari RA, MI, MTs., MA dan PTK semua berada di bawah koordinasi Kemenag. Sesuai dengan Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka dinyatakan bahwa lembaga pendidikan yang berada di bawah koordinasi Kemenag adalah lembaga pendidikan umum berciri khas agama.
Persyarikatan Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam mengelola pendidikan, dan tentu agak berbeda dengan NU yang tradisi awalnya adalah pesantren. Pengembangan institusi pendidikan umum di NU tentu datang belakangan. Itulah sebabnya di saat institusi pendidikan umum di Muhammadiyah sudah cukup mapan, maka institusi pendidikan di NU masih dalam proses menuju perbaikan kualitas. Berbeda dengan institusi pesantren yang di kalangan NU tentu sudah mapan sebab sudah berjalan ratusan tahun. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.
Muhammadiyah memang tidak pernah secara politis menjadi partai politik, sehingga pengembangan pendidikannya jauh lebih cepat, sedangkan NU yang menjadi partai politik tentu mengalami kendala terkait dengan pengembangan lembaga pendidikan. Itulah sebabnya lembaga pendidikan di NU dikelola lebih mandiri oleh lembaga-lembaga pesantren dan tidak secara organisatoris. Meskipun demikian tentu perkembangan institusi pendidikan tersebut perlu diapresiasi sebagai kesadaran masyarakat Islam wasathiyah dalam proses pencerdasan kehidupan bangsa. Jika tidak ada organisasi yang mengembangkan Islam wasathiyah ini, maka tidak bisa diprediksi bagaimana Islam Indonesia di masa depan.
Institusi pendidikan di Indonesia tentu beruntung sebab memiliki sistem perundang-undangan yang memberikan perhatian dan kesetaraan antara pendidikan umum dan pendidikan umum berciri khas keagamaan. Bisa dilihat kesetaraan keilmuan agama dan non agama, kesetaraan institusi pendidikan dan juga kesetaraan tenaga pendidik dan tenaga kependikan dan kesetaraan evaluasi Pendidikan. Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Undang-Undang No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi memberikan peluang untuk mengembangkan pendidikan dan kesetaraan pendidikan dimaksud.
Meskipun regulasi mengenai pendidikan di Indonesia sudah tidak lagi membedakan status institusi pendidikan dalam jalur dan jenjang, namun kenyataannya tentu masih terdapat pengelolaan pendidikan yang berbeda dalam kualitas. Secara managerial, misalnya Institusi pendidikan di bawah koordinasi Persyarikatan Muhammadiyah tentu lebih memadai sebab dikoordinasi secara nasional dan regional, sehingga kualitasnya tentu lebih setara, selain juga pembinaan yang lebih elegan, sedangkan lembaga pendidikan di bawah NU tentu sangat bervariasi kualitasnya, sebab dikelola secara mandiri. Peran LP Ma’arif merupakan peran koordinatif saja dan bukan factor penentu.
Tantangan utama lembaga pendidikan yang mengusung Islam wasathiyah adalah masih lemahnya infrastruktur modern terutama dalam menghadapi era disruptif. Penggunaan teknologi informasi yang sekarang telah menjadi actual di tengah program pembelajaran baru tentu banyak lembaga pendidikan yang masih kedodoran. Jangankan perangkat IT, teknologi informasi yang paling sederhana saja masih belum sepenuhnya terpenuhi. Misalnya WF sebagai perangkat teknologi informasi yang belum merata pada semua lembaga pendidikan berbasis Islam wasathiyah. Konsentrasi institusi pendidikan masih berupa pemenuhan sarana prasarana, seperti ruang kelas, laboratorium, ruang guru, ruang praktikum dan sebagainya, dengan program pembelajaran off line. Di era sekarang yang mendadak harus berubah 100 persen menggunakan sistem pembelajaran on line, maka betapa susah sejumlah institusi pendidikan untuk memenuhinya.
Jika mengacu pada hasil survey bahwa masih ada sebanyak 40 persen lembaga pendidikan (sekolah) yang belum siap untuk memasuki era pembelajaran on line, maka saya kira di madrasah tentu prosentasenya jauh lebih besar, mengingat bahwa kebanyakan madrasah berada di wilayah pedesaan dan daerah-daerah yang belum terjangkau dengan perangkat teknologi informasi modern. Jadi, lembaga pendidikan ini masih benar-benar berada di ruang “kosong” yang belum tersentuh dengan modernisasi informasi.
Tahun 2019-2024 adalah tahun Pendidikan berkualitas. Oleh karena itu, semestinya semua lembaga pendidikan harus sudah mengubah mindset pengelolanya untuk mengejar kualitas. Lembaga pendidikan di Kemendikbud, terutama di perkotaan, tentu sudah lebih maju. Apalagi institusi Pendidikan di bawah Kemendikbud kebanyakan (80 persen) adalah sekolah negeri, sehingga kualitasnya relative merata. Hal ini berbeda dengan Lembaga Pendidikan di bawah Kemenag yang 80 persen berstatus swasta, sehingga varian kualitasnya sangat berbeda.
Tantangan ini yang saya kira mesti direspon oleh pemerintah dengan mengedepankan anggaran yang lebih memperhatikan terhadap pemenuhan upaya untuk mengejar kualitas, terutama Lembaga Pendidikan madrasah. Tugas para pengambil keputusan tentu harus menyelaraskan antara RPJMN 2019-2024 dengan program dan anggaran yang relevan dengannya. Tanpa ini saya kira RPJMN hanya akan menjadi macan kertas dan tidak eksis di tengan kehidupan Lembaga Pendidikan di Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

POLITISASI SEBAGAI MAGI BARU DI AREA MEDSOS

Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Terdapat pertanyaan menggelitik tentang politisasi Covid-19 di dalam Zoominar yang diselenggarakan atas kerja sama antara UIN Sunan Ampel dengan ISNU Jawa Timur, 13/07/2020. Hadir pada acara ini, Prof. Masdar Hilmy, Rektor UIN Sunan Ampel, Ketua ISNU Jawa Timur, Prof. M. Mas’ud Said, Moderator, Dekan FDK, Dr. Abdul Halim, Dr. Joni Wahyuhadi, dan peserta Zoomonar, kurang lebih 140 orang.
Sebagai narasumber, di dalam kesempatan ini saya sampaikan tiga hal penting. Yaitu: Pertama, bahwa kita sekarang berada di era New Normal, yang memang harus dilalui. Tidak ada pilihan lain, sebab kehidupan social dan ekonomi harus berjalan, urat nadi perdagangan dan relasi social juga harus terus berjalan, sehingga pilihan untuk new normal merupakan keharusan social ekonomi yang tidak bisa ditawar. Secara teoretik, bahwa kehidupan normal itu banyak diharapkan, misalnya para pedagang kecil, para pekerja harian, para pengusaha dan juga hal-hal yang mengikuti kegiatan ekonomi, kemudian secara social maka relasi social juga tentu harus berjalan sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk social.
Hanya saja secara empiric kita masih menghadapi kendala, bahwa masyarakat mengabaikan protocol kesehatan, yaitu memakai masker, suka mencuci tangan, menjaga jarak fisik, dan berkehidupan sehat. Kita masih secara kasat mata melihat tentang kerumunan di pasar, di mall, di tempat kerja, di terminal, di stasiun, dan restaurant atau café dan lain-lain, sehingga new normal yang seharusnya menjadi area untuk semakin steril dari wabah Covid-19 justru menimbulkan cluster-cluster baru. Di Jawa Timur dan khususnya Surabaya justru menjadi episentrum penyebaran Covid-19.
Kedua, kita menghadapi sikap dan perilaku masyarakat yang semakin permisif, dan juga paradoks. Semakin permisif sebab tidak mengindahkan protokol kesehatan, menjadi paradoks karena terdapat sikap dan tindakan yang makin egois, mementingkan diri sendiri, dan melakukan kekerasan simbolik. Secara empiric, misalnya ada keluarga yang terpapar Covid-19 lalu dikucilkan karena dianggap sebagai sebagai pendosa social. Bukannya ditolong, bahkan tetangga dan kerabat dekat yang masih berkomunikasi secara sehat, pun dikucilkan. Misalnya jika belanja, maka orang-orang kemudian pada pergi dan datang lagi di kala orang yang dicurigai tersebut pulang. Muncul sikap prejudice atau su’udzon yang berlebihan.
Sikap dan tindakan ini bisa saja sebagai respon atas pemberitaan di media yang gencar menyatakan dimensi bahaya Covid-19, tetapi dipahami hanya separoh saja, tidak tuntas. Akibatnya yang terjadi adalah kesalahpahaman massif, dan produksi pengetahuan yang bias. Di sinilah arti penting terhadap program sosialisasi secara efektif, literasi yang tepat dan pendampingan yang berkelanjutan dalam kerangka untuk mendidik masyarakat agar ketakutan atau psychological trauma atau psychological paranoid tersebut tidak semakin besar dan akan berakibat rendahnya kesatuan dan persatuan di tengah kehidupan social. Diperlukan sejumlah agen yang memiliki kesadaran untuk bekerja sama secara kolaboratif dalam menghadapi penyebaran Coivd-19 dewasa ini. Untuk menanggulang Covid-19 tidak hanya bisa dilakukan oleh pemerintah, akan tetapi juga organisasi social, keagamaan, politik, ekonomi, kepemudaan serta masyarakat seluruhnya dan sebagainya.
Ketiga, paradoks lain yang juga terjadi adalah munculnya “Kata Politisasi”. Saya gunakan huruf besar pada awal kata, sesungguhnya untuk menandai tentang betapa kita sering kali terjebak dengan suatu istilah yang disebabkan oleh praduga, dislike, dan hal-hal lain yang berada di selingkungnya. Saya menjadi teringat dengan Malinowsky, yang memiliki proposisi bahwa “di kala akal manusia sudah tidak lagi bisa menyelesaikan masalah kehidupan, maka lalu menggunakan magis untuk menyelesaikannya”. Dewasa ini, terutama dunia media social sering mengungkap teks “Politisasi”. Sebuah ungkapan yang sangat lazim digunakan untuk menjadi penanda atas “ketidakpuasan, rasa geregetan, kejengkelan, gerutuan, kemarahan, dan sebagainya, dengan tambahan penjelasan, seperti “pencitraan, unjuk muka, menutupi kegagalan, mencari simpati, dan sebagainya”. Jadi semua hal yang dilakukan oleh oleh orang lain, yang berbeda pandangan, pemikiran, sikap dan tindakan, dan merupakan kelompok lain atau Sang Liyan, maka bisa dilabel dengan ungkapan politisasi. Biasanya teks ini disebarkan di media, baik media cetak, audio, audio visual dan media social lainnya. Kata politisasi telah menjadi magi baru di dunia modern.
Saya beranggapan bahwa dalam menghadapi Covid-19 ini ungkapan politisasi itu jauh dari fakta empiris, sebab siapa saja seharusnya memahami bahwa harus dilakukan upaya untuk menghentikan penyebarannya dan memberikan solidaritas social yang berupa bantuan atau philantropi baik dari pemerintah, pengusaha dan organisasi social kemasyarakatan, keagamaan dan sebagainya.
Alangkah anehnya, ketika pemerintah meminta agar peribadahan di tempat ibadah dihentikan, sementara pasar masih dibuka, lalu muncul pemikiran bahwa hal ini adalah politisasi yang dilakukan oleh kelompok tertentu. Penutupan masjid atau lainnya dilakukan bukan untuk menghentikan orang beribadah tetapi menjaga agar tidak terjadi kerumunan dan kemudian berpotensi penularan virus ini. Sebagai penyakit kerumunan maka di mana terdapat kerumunan di situ akan terdapat penularan. Inilah yang kemudian saya konsepsikan sebagai “domestifikasi ibadah”. Agama yang selama ini berada di ruang public, lalu harus berada di ruang domestic. Saya melihat ada dalil teologis dan sosiologisnya yang kuat untuk memberlakukan kebijakan ini. Arab Saudi yang membuat kebijakan hanya membuka pelayanan haji untuk 10.000 orang tentu juga bukan politisasi. Tindakan ini diperlukan semata-mata untuk menjaga kesehatan dan keselamatan jamaah haji. Bayangkan jika haji seperti biasa, sebanyak 4,5 juta orang berdesakan dalam satu moment, tentu berakibat fatal bagi jamaah haji itu sendiri.
Oleh karena itu yang diperlukan di era New Normal adalah kedisiplinan diri untuk hidup dengan pola baru di tengah masyarakat. Dengan pola hidup baru yang mengedepankan aspek kesehatan, maka berarti kita telah berpartisipasi menjaga keselamatan dan kesehatan sesama warga negara. Ada kalanya, politik menjadi panglima sebagaimana di era Orde lama. Ada kalanya ekonomi sebagai panglima di era Orde Baru, dan sekarang kesehatan menjadi panglima di era Orde Reformasi.
Wallahu a’lam bi al shawab.