• November 2018
    M T W T F S S
    « Oct    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MELACAK HISTORISITAS KEILMUAN DAKWAH

MELACAK HISTORISITAS KEILMUAN DAKWAH

PADA FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA[1]

 

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si[2]

 

 

Pengantar

Tentu banyak perubahan dalam tahun-tahun terakhir di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Di antara perubahan itu tentu terkait dengan transformasi dari IAIN ke UIN yang meniscayakan terjadinya banyak perubahan. Misalnya terkait dengan kelembagaan dan program studi. Jika di masa lalu hanya Fakultas Dakwah saja, maka sekarang dengan tambahan mandate baru, tentu sosok kelembagaan dan keilmuannya pastilah berubah.

Saya merasa tertinggal dengan perubahan ini, sebab cukup lama saya tidak berada di dalam lingkungan pendidikan di UIN Sunan Ampel, meskipun secara structural tentu masih ada kaitannya, akan tetapi tentu kaitan tidak langsung. Oleh karena itu tulisan ini hanya akan memetakan dunia “masa lalu” yang saya pahami dengan kelebihan dan kekurangannya.

Saya bersyukur bahwa dalam beberapa bulan terakhir saya terlibat kembali dengan dunia akademis, dan lebih khusus di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, yang secara langsung tentu saja bisa bergaul tidak hanya dengan mahasiswa yang saya didik, akan tetapi juga para dosen dan pimpinan Fakultas. Saya berkeyakinan bahwa perubahan menuju yang lebih baik pasti akan terjadi. Hanya menunggu “waktu” kapan hal tersebut terjadi secara nyata.

 

Perkembangan Kelembagaan

Fakultas Dakwah saya kira berkembang relative memadai di tengah arus perubahan sosial dan tantangan yang dihadapinya. Perubahan yang signifikan tentu saja ialah pasca perubahan status IAIN Sunan Ampel menjadi UIN Sunan Ampel. Perubahan itu bisa dianggap sangat signifikan, sebab ada mandate baru pasca perubahan status tersebut, yaitu untuk mengusung visi dan missi pengembangan ilmu komunikasi secara lebih eksplisit, sebab selama menjadi Fakultas Dakwah saja, ilmu komunikasi itu seperti dicangkokkan di dalamnya.

Jika harus ada ilmu komunikasi dan seluruh derivasinya, hal itu tentu merupakan kewajaran sebab ada anggapan bahwa ilmu dakwah itu sangat dekat dengan ilmu komunikasi, sebagai sesama ilmu applied science yang berfungsi untuk menyebarkan gagasan, ide, pikiran dan transfer perilaku kepada orang lain atau komunitas dan masyarakat lain agar mereka dapat sepaham dan setindakan dengan para penyebar informasi dimaksud.

Dengan memasukkan nomenklatur ilmu komuniksi pada Fakultas Dakwah, maka sahlah keberadaan ilmu komunikasi sebagai bagian yang berdiri sendiri, independent dan fungsional untuk diajarkan kepada mahasiswa dan menjadi minat studi yang jelas. Inilah yang saya sebutkan bahwa keberadaan ilmu komunikasi menjadi semakin jelas dalam struktur kelembagaan di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Dilihat dari perkembangannya, maka Fakultas Dakwah dan Komunikasi mengalami perubahan jurusan dan program studi. Fakultas dakwah berdiri pada tahun 1972 dengan prasasti yang ditandatangani oleh Rus’an mewakili Menteri Agama. Pada waktu itu hanya ada satu jurusan, yaitu jurusan ilmu dakwah. Saya ingat betul angkatan pertama pada Fakultas Dakwah ialah M. Fadly Hady dan Pak Syahudi Siraj. Keduanya menjadi dosen pada Fakultas Dakwah, di mana Pak Fadly menekuni Ilmu Komunikasi dan sempat menerbitkan diktat “ilmu komunikasi” sementara itu Pak Syahudi menekuni ilmu Bimbingan dan penyuluhan dan tentu juga menghasilkan diktat dan buku di bidang ini.

Dalam perkembangan berikutnya, maka terdapat dua jurusan yaitu jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) serta jurusan Bimbingan Penyuluhan Masyarakat (BPM). Kira-kira tahun 1980an program baru ini muncul dan kemudian berkembang lagi menjadi empat jurusan pada tahun 1990an. Yaitu menjadi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Masyarakat (BPM), Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dan Jurusan Managemen Dakwah (MD). Empat jurusan ini yang tetap eksis hingga terjadinya transformasi IAIN ke UIN. Sebagai jurusan pada Fakultas Dakwah –sebelum terdapat tambahan prodi-prodi pada ilmu komunikasi—maka yag dikembangkan hingga sekarang yang berkembang secara khusus pada Fakultas Dakwah ialah empat jurusan dimaksud.

Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam mengusung konsep-konsep ilmu komunikasi, misalnya dalam corak ilmu retorika sebagai praksis dakwah, jurnalistik sebagai praksis komunikasi, dan seperangkat keilmuan lain yang mendukung dan menjadi cabang-cabangnya. Jurusan Bimbingan Penyuluhan Masyarakat mengembangkan konsep-konsep psikhologis sebagai babon keilmuan untuk mendukung program bimbingan dan penyuluhan selain tentu saja mata kuliah bimbingan dan penyuluhan itu sendiri. Dengan demikian, perangkat lunaknya ialah psikhologi dan perangkat kerasnya ialah ilmu bimbingan dan penyuluhan. Jurusan managemen dakwah mengusung konsep relasi antara ilmu dakwah dan managemen sehingga sebagai perangkat lunaknya ialah ilmu dakwah dan perangkat

kerasnya ialah managemen. Sedangkan Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam ialah menetapkan basis keilmuannya ialah ilmu dakwah dengan perangkat tehniknya ialah pengembangan masyarakat.

Jurusan atau program studi ini yang hingga terjadinya alih status IAIN ke UIN tetap dipertahankan.  Secara konseptual, sesungguhnya ada beberapa problema kelembagaan dengan masih dinomenklaturkannya Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, sebab dengan telah berubahnya Fakultas Dakwah dan Komunikasi maka status kelembagaan jurusan juga seharusnya berubah. Bagi saya, yang tepat adalah jurusan penyiaran Islam saja dengan tetap mengedepankan dakwah melalui perangkat keras retorika. Dengan demikian, program studi penyiaran Islam diharapkan akan menghasilkan lulusan yang secara khusus menjadi ahli retorika atau dakwah bil lisan. Prototipenya ialah Prof. Dr. Moh. Ali Azis, MAg., yang memiliki kemampuan untuk berdakwah secara lesan dengan ekselen dan mampu mengemas dakwah tersebut secara modern.

Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Masyarakat, saya kira masih penting di tengah semakin semaraknya masalah-masalah kehidupan umat. Jurusan ini yang seharusnya menghasilkan penyuluh agama yang jumlahnya tentu sangat banyak. Mereka dipersiapkan dengan baik, tidak hanya dari sisi metodologi penyuluhan tetapi juga konten penyuluhan yang memadai. Jadi penguasaan ilmu agamanya tentu harus baik. Di saat jumlah guru agama sudah mengalami kejenuhan, maka yang diperlukan adalah para penyuluh agama dengan pemahaman agama yang wasathiyah.

Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam juga masih layak untuk dipertahankan. Saya berpendapat bahwa jurusan ini akan menghasilkan ahli-ahli community development yang memadai, dengan kemampuan mendesain program-program pro-rakyat untuk penguatan atau pemberdayaan ekonomi, sosial dan budaya. Keilmuan yang diusung ialah ilmu dakwah sebagai corenya dan ilmu community development sebagai instrumennya. Lalu, Jurusan Managemen Dakwah kiranya masih diperlukan untuk mengisi peluang manajer pada lembaga-lembaga dakwah, lembaga ekonomi umat, organisasi sosial dan sebagainya. jurusan ini memanggul tugas penting untuk membangun program-program, misalnya kemasjidan, kelembagaan organisasi keagamaan dan sebagainya.

 

Perkembangan SDM dan ilmu dakwah

Sebagai fakultas yang sudah berdiri semenjak tahun 1972 hingga kini atau selama 46 tahun, tentu ada pertanyaan: “apakah yang dihasilkan oleh Fakultas ini dalam praksis dakwah dan teori dakwah? Dan pertanyaan lain, ada berapa orang yang sudah mengembangkan ilmu dakwah hingga menjadi ilmu yang mandiri dan diakui oleh komunitas ilmuwan?

Pertanyaan ini penting untuk diungkapkan sebab semestinya mereka yang menguasai panggung media adalah alumni dakwah jika hal tersebut menyangkut penyiaran Islam. Kenyataannya, mungkin sangat sedikit para lulusan Fakultas Dakwah –khususnya jurusan KPI—yang menguasai dunia media, baik dalam konteks dakwah bil lisan maupun bil qalam. Itu artinya, bahwa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam belum menghasilkan SDM yang benar-benar siap untuk mengisi ruang media dengan segala variasinya.

Pengembangan ilmu dakwah dapat dilihat berdasarkan realitas sebagai berikut:

Pertama, ilmu dakwah itu sudah tersegmentasi ke dalam disiplin lain di bawahnya seperti menagemen dakwah, komunikasi dakwah, sosiologi dakwah, retorika, bimbingan penyuluhan masyarakat dan sebagainya. Akibatnya, pengembang ilmu dakwah nyaris tidak didapatkan lagi. Bayangkan berapa jumlah guru besar ilmu dakwah. Di UIN Sunan Ampel, satu-satunya guru besar itu ialah Prof. Dr. Moh. Ali Azis. Lalu Prof. Dr. Shonhaji Saleh yang mengembangkan pendekatan keilmuan antar bidang, yaitu sosiologi dakwah. Secara keseluruhan jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Generasi berikutnya tidak kita jumpai lagi. Banyak yang semula memiliki keahlian di dalam ilmu dakwah lalu justru pindah disebabkan oleh pendidikan doktornya yang tidak relevan dengan ilmu dakwah, sementara itu regulasi terkait dengan professor harus linear dengan keilmuan doktornya. Sebagai akibatnya, lalu tidak ada lagi yang mengembangkan ilmu dakwah sebagai keahlian dosen professional dalam gelar tertinggi di perguruan tinggi.

Kedua, program doctor ilmu dakwah juga nyaris tidak dijumpai di PTKN. Semua masih terhenti di program magister, sehingga belum ada wadah akademis yang menyiapkan calon doctor bidang ilmu dakwah tersebut. Kendalanya tentu adalah jumlah professor untuk program doctor ilmu dakwah belum mencukupi. Lalu kapan akan mencukupi, jika memang tidak disiapkan untuk kepentingan ini.

Ketiga, SDM dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi sudah semakin banyak yang telah menyelesaikan pendidikan doktornya, akan tetapi tentu mengambil program doctor yang relevan dengan mata kuliah yang diampunya. Hal ini tentu terkait dengan sertifikasi, keahlian, dan relevansi dengan ijazah doctor yang bersangkutan. Ke depan akan banyak professor akan tetapi tentu tidak mengembangkan ilmu dakwah dimaksud.

Keempat, perlu penegasan terhadap status ilmu dakwah, apakah menjadi ilmu yang inter-disiplin atau yang mandiri. Jika diarahkan untuk ilmu yang inter-disipliner, maka yang perlu diperkuat ialah bagaimana menghasilkan doctor yang memiliki kemampuan studi interdisipliner. Misalnya program doktornya ilmu komunikasi, akan tetapi gelar professornya diarahkan kepada ahli komunikasi dakwah. Atau doctor di bidang manajemen, akan tetapi profesornya diarahkan untuk menjadi guru besar manajemen dakwah. Ada yang doctor di bidang pemikiran Islam dan kemudian menjadi professor di bidang pemikiran dakwah. Dan sebagainya.

 

Perkembangan keilmuan dakwah

Saya ingin melihat bagaimana ilmu dakwah dikembangkan di fakultas ini dengan mengacu pada perkembangan metodologi kajian ilmu dakwah. Saya mencoba untuk memetakannya dengan membuat gambaran perkembangan periodisasi bagaimana metodologi ilmu dakwah itu dikembangkan.

Pertama, ialah pengembangan ilmu dakwah dengan pendekatan factor. Model ini mengikuti pola yang berkembang di dalam ilmu komunikasi yang secara definisi menggambarkan adanya factor-faktor komunikasi atau factor dakwah. “who says what, to whom, in what channel and with what effect”. Ini pula yang terlihat di dalam pengembangan ilmu dakwah tersebut. Komponen ilmu dakwah tersebut meliputi: subyek dakwah (da’i), obyek dakwah (mad’u), metode dakwah (kaifiyah dakwah), media dakwah (washilah dakwah) dan effek dakwah (atsar dakwah). Cara berpikir seperti ini yang kita lihat di hampir seluruh buku-buku ilmu dakwah yang diterbitkan oleh dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi pada UIN Sunan Ampel Surabaya.

Secara metodologis, maka penelitian yang digunakan ialah penelitian kuantitatif dengan berbagai variabel dan konsepnya. Makanya, di sini lalu digunakanlah teori-teori komunikasi atau teori lain yang digambarkan dalam hubungan antar konsep dan kemudian diuji secara empiris. Saya kira pendekatan dan metodologi ini dominan sebelum tahun 90-an meskipun sampai saat ini tetap dikembangkan.

Kedua, pengembangan ilmu dakwah dengan pendekatan sistem. Pengembangan ilmu dakwah ini bercorak problem solving. Melalui pendekatan sistem, maka dibayangkan bahwa ada in put, proses dan output dan outcome. Masukan tersebut terkait dengan subyek dakwah dan materi dakwah, sedangkan prosesnya ialah media dan metode dakwah dan out putnya ialah effek dakwah. Di dalam penerapan pengembangannya juga bisa menggunakan metode penelitian kuantitatif. Melalui metode kuantitatif, maka akan bisa diukur bagaimana masukan proses dan keluaran tersebut bisa diketahui secara jelas,

Ketiga, pengembangan ilmu dakwah berbasis pada pemahaman makna dakwah bagi individu, komunitas atau masyarakat. Pengembangan ilmu dakwah di sini lebih banyak mengacu pada proses dakwah. Jadi yang dikaji ialah bagaimana proses dakwah terjadi dan bagaimana para subyek yang diteliti memaknai terhadap proses, input dan output dakwah. Yang dicari bukanlah variabel yang diukur dengan rumus-rumus tertentu akan tetapi bagaimana para pelaku dakwah dan sasaran dakwah memaknai terhadap dakwah tersebut. Pola ini berkembang semenjak tahun 1990-an dan seterusnya sampai sekarang. Ada banyak penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan seperti ini.

Keempat, pendekatan developmentalisme. Semenjak Fakultas Dakwah menambah jurusan baru, Pengembangan Masyarakat Islam, dan Managemen Dakwah maka di saat itu pastilah akan berkembang pendekatan baru, yang saya sebut sebagai pendekatan ilmu dakwah berbasis pada riset pengembangan atau developmental. Inti dari pengembangan ilmu dakwah ini ialah dengan penelitian terhadap perubahan-perubahan yang dihasilkan dari upaya pemberdayaan masyarakat oleh berbagai organisasi sosial kemasyarakatan. Tentu termasuk di dalamnya ialah NGO. Perubahan yang disengaja diupayakan tersebut tentu akan menghasilkan sejumlah “pengaruh” terhadap sasaran dakwah. Seirama dengan hal ini ialah penelitian partisipatif yang selama ini dijadikan sebagai medium penting di kalangan NGO. Penelitian dakwah dapat menghasilkan konsep dan aplikasi pemberdayaan berbasis pada riset pengembangan dan riset partisipatif.

Kelima, ke depan, saya kira yang perlu dilakukan ialah dengan mengembangkan relasi ilmu melalui program interdisipliner, yaitu menjadikan fenomena dakwah sebagai sasaran kajian atau subject matter dan menempatkan ilmu sosial atau humaniora sebagai pendekatan. Jika ilmu dakwah ingin berkembang lebih cepat dan juga menghasilkan ilmuwan yang bervariasi, maka pilihan seharusnya pada model pendekatan ini dibandingkan dengan model sasaran kajian ilmu. Saya kira pengembangan sosiologi dakwah, antropologi dakwah, komunikasi dakwah, psikhologi dakwah, manajemen dakwah, politik dakwah, administrasi dakwah, hukum dakwah dan sebagainya tetap perlu untuk diteruskan di tengah keinginan untuk memperkuat posisi ilmu dakwah yang interdisipliner.

 

Penutup

Fakultas Dakwah dan Komunikasi sesungguhnya memiliki masa depan. Di antara masa depan itu ialah bisa menjadi pilihan di antara program-program studi yang memiliki relevansi dengan kebutuhan di masa yang akan datang. Di antaranya ialah menyiapkan pilihan untuk menjadi ahli di bidang hard skilled keilmuan dakwah dan komunikasi. Tentu saja dibutuhkan banyak talenta di dalamnya, dan itu akan bisa dijawab melalui pengembangan hard skilled yang cukup dan soft skilled yang utuh berbasis pada pengembangan talenta masing-masing.

Dengan demikian ada dua hal yang sekiranya diperlukan ialah: pertama, diperlukan kecerdasan untuk mengembangkan ilmu dakwah dalam coraknya yang multidisipliner dengan memperbanyak ahli di dalamnya. Kedua, diperlukan kesiapan untuk mengembangkan program studi yang relevan dengan kebutuhan umat berbasis pada ilmu dakwah yang aplikatif dan multidisipliner. Ketiga, diperlukan juga memikirkan bagaimana para dosen mengembangkan kemampuan mahasiswa Fakultas ini dengan kemampuan hard skilled yang hebat dan juga soft skilled yang memadai.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

[1] Bahan diskusi pada dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya di Green SA In Surabaya, pada tanggal 15 November 2018.

[2] Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya. Pernah mengampu mata kuliah Publisistik, lalu berganti mengasuh mata kuliah Sosiologi Agama dan terakhir menjadi Guru Besar Sosiologi. Sebagai bukti kecintaan pada ilmu dakwah pernah menerbitkan dua buku di bidang ilmu dakwah, yaitu “Metodologi Penelitian Dakwah” yang terbit pada tahun 1990 oleh penerbit Ramadani Solo, dan buku “Filsafat Dakwah” yang terbit pada tahun 2003 yang diterbitkan oleh Jenggala Pustaka Utama, Kediri.

MAKNA MENGHARGAI KEPAHLAWANAN

MAKNA MENGHARGAI KEPAHLAWANAN

Ada yang terasa kurang dewasa ini ialah bagaimana kita menghargai jasa para pahlawan di masa lalu yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan bangsa. Menghargai jasa para pahlawan sebenarnya tidak rumit, yaitu dengan memperjuangkan apa yang menjadi cita-cita para pahlawan itu di era yang berbeda.

Di masa lalu, tantangan para pahlawan bangsa ialah bagaimana mengusir penjajah dari bumi Nusantara, dan bagaimana agar bangsa ini memiliki kemerdekannya. Mereka berjuang dengan kekuatan fisik dan hati agar bangsa ini terbebas dari penjajahan Belanda dan sekutunya. Dan itu terjadi di seluruh Indonesia, meskipun yang dijadikan momentum ialah tanggal 10 Nopember 1945. Jadi, pertempuran Surabaya yang melibatkan masyarakat, para kyai, ulama dan para pejuang itu adalah momentum untuk dijadikan sebagai Hari Pahlawan yang heroic.

Bagi bangsa Indonesia, kemerdekaan ini tentu tidak lepas dari upaya para pahlawan dan seluruh komponen masyarakat Indonesia yang selama itu berjuang untuk kemerdekaan bangsanya. Jika kemudian tidak semua dinyatakan dan dihargai sebagai pahlawan bukan berarti bahwa mereka tidak punya peran yang signifikan bagi perjuangan bangsa Indonesia. Jika yang diberi gelar pahlawan adalah para pemimpin di dalam suatu perjuangan, maka hal itu adalah suatu kewajaran karena merekalah yang menggerakkan perjuangan itu.

Sejarah memang hanya mencatat peristiwa-peristiwa besar dengan orang-orang besar. Nama seperti Pangeran Diponegoro, Kyai Mojo adalah mereka yang menjadi penggerak dalam “Perang Jawa” yang menguras pundi-pundi keuangan Pemerintah Belanda pada tahun itu. Sebuah perjuangan yang sangat heroic yang melibatkan seluruh masyarakat Jawa dalam kerangka untuk merebut kembali otoritas kepemimpinan di tangan bangsa sendiri.

Lalu jika perjuangan merebut kemerdekaan di Surabaya, yang menghasilkan nama besar, Bung Tomo, yang terkenal dengan pekikan “Allahu Akbar” dan menewaskan Jenderal Mallaby, adalah contoh juga bagaimana sejarah memang mencatat nama-nama besar. Namun sekali lagi bukanlah masyarakat Surabaya dan sekitarnya tidak memiliki andil yang sangat besar di dalam konteks ini.

Lalu, ketika nama besar Hadratusy Syekh KH. Hasyim Asy’ari yang dijadikan sebagai ikon di dalam “Resolusi Jihad” yang kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional, bukan berarti mengabaikan sejumlah nama kyai dan ulama serta masyarakat yang terlibat di dalam pembahasan resolusi jihad. Semuanya memiliki perannya dan signifikansinya masing-masing.

Para pahlawan adalah mereka yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa dari belenggu penjajahan. Nama-nama seperti Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Sultan Agung, Adipati Unus, Fatahillah, dan sebagainya adalah nama-nama yang terpateri di dalam sejarah bangsa sebagai orang yang memperjuangkan negaranya dari cengkeraman negara lain dalam bentuk peperangan dan adu senjata.

Semua ini tentu saja perlu untuk kita ingat jasa-jasanya sebagai bagian tidak terpisahkan dari sejarah perjalanan hidup bangsa Indonesia. Jika ada yang melupakannya, maka sesungguhnya mereka perlu diingatkan kembali agar “jangan melupakan sejarah”. Jasmerah, begitu kata Soekarno.

Pelajaran sejarah bangsa perlu diajarkan sedemikian kuat kepada anak didik kita, sebagai penerus kehidupan bangsa dan negara. Sejarah meskipun tidak selalu “mulus” dan terkadang juga berlepotan dengan “subyektivitas” tetapi tetap saja penting bagi anak-anak kita agar mereka tidak salah di dalam memilih haluan bagi kehidupan bangsa.

Guru-guru mata pelajaran sejarah haruslah orang yang memiliki semangat kebangsaan yang sangat tinggi, dan menguasai bahan ajar sejarah lahir dan batin. Yang “lahir” ialah materi pembelajarannya dan yang “batin” ialah semangat untuk mempertahankan negara ini. Empat pilar consensus kebangsaan haruslah diajarkan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Para guru sejarah harus mempertahankan dengan cara pembelajarannya yang menarik tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan.

Kita ingin bahwa memperingati Hari Pahlawan itu dengan semangat untuk menjadikan Indonesia ini sebagaimana yang dicita-citakan mereka semua, yaitu negara Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dan salah satu yang perlu dilakukan ialah dengan melakukan pembangunan dengan tujuan untuk memenuhi pesan kemerdekaan sebagaimana tercantum di dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu: melindungi segenap warga negara, mencerdaskan kehidupan bangsa, menyejahterakan kehidupan masyarakat dan turut serta dalam membangun perdamaian dunia.

Kita semua ingin agar para pahlawan kita tersenyum gembira di alam kuburnya masing-masing karena melihat kita bisa mencapai keinginannya dengan tetap menjaga negara ini dari rongrongan apapun, termasuk rongrongan keinginan untuk mengubah negara Indonesia menjadi negara khilafah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

TANTANGAN ARTIFICIAL INTELLIGENT SO WHAT NEXT?

TANTANGAN ARTIFICIAL INTELLIGENT SO WHAT NEXT?

Pagi kemarin dalam perjalanan ke Semarang, 10/11/2018, saya membaca Harian Kompas dan di dalamnya terdapat resume buku yang sangat menarik tentang What the Future, tulisan Tim O’Reilly, yang menggambarkan tentang bagaimana masa depan manusia di tengah semakin menguatnya tantangan big data dan artificial intelligent. Tantangan ini tidak main-main, sebab tantangan artificial intelligent itu ternyata luar biasa dahsyat bagi manusia dan pekerjaannya di masa depan. Tesla misalnya sudah merancang mobil tanpa driver untuk kepentingan transportasi Uber.

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Oxford University, menunjukkan bahwa 47 persen pekerjaan, termasuk pekerjaan kerah putih akan digantikan oleh mesin robot dengan teknologi artificial intelligent dalam 20 tahun ke depan. Studi ini diperkuat oleh Survey Mc-Kinsey Global Institute, bahwa sekitar 550 sampai 580 juta orang atau antara 60 sampai 70 persen rumah tangga di negara maju telah mengalami penurunan pendapatan dalam kurun waktu 2005-2014, sementara untuk kurun sebelumnya, 1995-2005, penurunan pendapatan sebesar 10 juta orang atau sebesar 2 persen saja.

Habiskah manusia dengan keadaan ini, ternyata tidak. Manusia dengan kemampuan akalnya ternyata mampu melakukan penyesuaian dan kemudian mengisinya dengan hal-hal baru. Sungguh manusia memang diciptakan Tuhan untuk mampu memberikan jawaban atas setiap tantangan yang dihadapinya. Dengan kemampuan multi intelligent, maka manusia bisa memaksimalkan intelleigensinya di dalam melakukan tindakan rational yang cocok atau sesuai dengan tantangan yang dihadapinya.

Contoh yang sangat kasat mata ialah di kala muncul perusahaan transportasi tanpa mobil disebabkan penggunaan aplikasi, maka rasanya akan matilah perusahaan taksi yang selama ini menggunakan konsep konvensional dalam perusahaan taksi. Ternyata juga tidak, sebab perusahaan taksi konvensional lalu menyesuaikan dan kemudian membuat inovasi baru. Di kala system pembelian on line semarak dengan aplikasinya, maka yang terjadi ialah dugaan gulung tikarnya mall atau pusat perbelanjaan, akan tetapi mall juga melakukan inovasi untuk mengembangkan jenis usahanya.

Seorang fotografer, Brandon Stanton, yang pekerjaannya terdisrupsi oleh teknologi telepon pintar, akhirnya juga menemukan tempat di mana dia harus mengembangkan usahanya, yaitu dengan memberikan ungkapan atau note terkait dengan foto-fotonya yang diproduknya. Dan itu yang akhirnya mengantarkan dia tetap eksis dalam usaha bisnisnya.

Jadi, sesungguhnya manusia akan mampu menjawab era revolusi industry 4.0, yang ditengarai dengan semakin menguatnya big data dan artifisial intelelligent. Jika robot hanya mampu mengerjakan pekerjaan sebagaimana yang diprogramkan, maka manusia memiliki kecerdasan sebagaimana program yang diberikan Tuhan kepadanya.

Manusia memiliki kecerdasan rasional yang dengannya manusia bisa melakukan inovasi dan pembaharuan. Berbagai inovasi yang terjadi di dalam dunia bisnis, misalnya dengan aplikasi teknologi, tentu disebabkan oleh kemampuan ini. Perusahaan start up yang berkembang cepat dewasa ini tentu disebabkan oleh kemampuan rasional yang hebat tersebut.

Manusia juga memiliki kemampuan kerja sama yang difasilitasi oleh kecerdasan sosial dan emosional. Siapa yang menduga bahwa Jack Ma, yang guru Bahasa Inggris, kemudian dengan kemampuan kerjasamanya itu mampu mendirikan perusahaan raksasa di Tiongkok dan dunia, Alibaba.com. Dengan kemampuan kerja samanya itu, maka Alibaba.com dapat menyamai Amazon.com yang sudah terlebih dahulu eksis di perusahaan digital.

Kemampuan kerja sama inilah yang rasanya akan sangat sulit untuk dilakukan oleh robot yang dikreasikan untuk bekerja mandiri dan independent. Kerja sama bukan hanya difasilitasi oleh kecerdasan rational, akan tetapi oleh perasaan dan hati. Makanya, manusia dapat melakukan yang terbaik di dalam kehidupannya berbasis pada kerja sama yang dilakukan.

Dan kerja sama yang indah tentu juga difasilitasi oleh kecerdasan spiritual, yaitu kecerdasan yang dipandu oleh semangat keberagamaan yang datangnya dari Tuhan. Dengan berpedoman pada nilai-nilai yang diunduh dari agama, maka manusia akan dapat memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Manusia yang baik, saya yakin akan menggunakan ajaran agamanya untuk memandu tindakannya.

Jadi, tidak perlu ada kecemasan berlebihan menghadapi disrupsi di era artifisial intelligent, sebab kita berkeyakinan bahwa kita akan bisa menghadapinya dengan berbagai kemampuan yang melekat di dalam diri kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PERPOLITIKAN KITA MAKIN GADUH

PERPOLITIKAN KITA MAKIN GADUH

Di media sosial beredar pemberitaan dari para calon presiden Republik Indonesia, Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Tentu terkait dengan apa yang diungkapkan oleh mereka berdua di dalam kampanye presiden RI untuk pilpres tahun 2019. Rasanya, tensi dunia perpolitikan kita mulai meningkat dalam bulan November ini. Maklum pilpres memang sudah semakin dekat, tinggal beberapa bulan lagi.

Semula banyak yang berkemauan dan berkeinginan agar pilpres kita kali ini akan dilakukan dengan lebih sejuk dan smart. Semua berkehendak agar kita lebih arif untuk menyikapi hajat politik lima tahunan. Bukankah ritual liminal seperti ini akan terus terjadi sehingga mesti harus dianggap sebagai peristiwa biasa saja, tanpa kegaduhan yang berarti.

Namun kenyataannya, dunia media sosial kita memang luar biasa. Pengaruhnya menyentuh terhadap kehidupan kebanyakan masyarakat Indonesia. Tidak hanya urusan politik saja akan tetapi juga keterlibatan agama, ekonomi dan juga etnis. Himbauan agar tidak menggunakan agama dalam politik praktis hanyalah seruan belaka tanpa makna. Teriakan tinggal teriakan, himbauan tinggalah himbauan. Para pendukung calon sudah ngebet banget agar calonnya yang terpilih sehingga macam apapun cara akan dilakukannya termasuk juga dengan character assassination, hate speech atau lainnya.

Di akhir pekan ini, dunia medsos diramaikan dengan “politik genderuwo” yang diungkapkan oleh Pak Jokowi dan “hafalan Pancasila” oleh Pak Prabowo. Politik genderuwo dimaksudkan sebagai pemberintaan politik yang menakut-nakuti, membuat rasa tidak nyaman dan munculnya perasaan takut. Maklum di dalam tradisi Jawa, makhluk yang disebut genderuwo ialah sejenis makhluk halus yang pekerjaannya ialah menakut-nakuti manusia dengan wujudnya yang menakutkan. Maka, orang akan menjadi takut dan tidak berani lagi ke tempat itu.

Gambaran seperti ini yang dianggap oleh Pak Jokowi sebagai personifikasi genderuwo bagi perpolitikan nasional yang melakukan tindakan bukan mendidik untuk cerdas di dalam perilaku memilih akan tetapi justru sebaliknya untuk membuat masyarakat takut melakukan perilaku politik. Jadi, Pak Jokowi mencoba untuk membuat klasifikasi siapa politikus yang dianggap politikus genderuwo atau sebaliknya. Tentu saja beliau tidak menyebut siapa yang dimaksudkannya, akan tetapi secara tersirat tentu ungkapan ini ditujukan kepada lawan politiknya.

Lalu tentang Pak Prabowo, saya yakin bahwa semangatnya yang menyala-nyala sehingga membuat beliau kehilangan control ketika harus menyebutkan tentang urutan Pancasila. Kala menyebut sila satu sampai tiga, tampak lancar saja, akan tetapi ketika menyebut sila keempat, maka kelihatan kedodoran. Di sinilah kemudian terjadi viral bahwa beliau dianggap tidak hafal Pancasila. Sungguh merupakan penggambaran yang kurang arif dalam melihat sosok seseorang.

Pak Jokowi tentu berpengalaman banyak dibulli dalam berbagai kasus seperti ini. Dan karena pembullian yang berlebihan tersebut maka beliau mengungkapkan “kegerahannya” bahwa yang terjadi sekarang ialah “politikus sontoloyo dan politik genderuwo”. Dua ungkapan yang saya kira memang “realistis” di dalam kenyataan perpolitikan nasional yang makin carut marut.

Medsos memang sangat ampuh untuk menggiring opini public. Di era yang disebut “everyone wants to be a journalist” ini, maka setiap orang rasanya berhak untuk menyebarkan informasi, baik yang positif maupun negative. Jika nuansanya posisif tentu menguntungkan, misalnya medsos yang berisi nasehat keagamaan dalam konteks wasathiyah, akan tetapi jika nasehatnya adalah untuk “mengkafirkan orang lain, menganggap keberagamaan golongan tertentu salah dan tertolak”, maka bisa dibayangkan bahwa yang terjadi ialah munculnya antipati dan kebencian. Semua ini tentu tidak menguntungkan terhadap pengembangan kehidupan beragama yang arif dan meneduhkan.

Di medsos memang terus akan bergema informasi dari berbagai sumber, baik yang disetting atau tidak. Agar diingat bahwa di dalam media komunikasi ada yang disebut sebagai “agenda setting” bahwa semua message yang dipublish itu hakikatnya sudah diagendakan untuk menjadi opini public. Nah jika tujuan agenda setting ialah untuk melakukan character assassination, maka akan rusaklah masyarakat medsos kita.

Dan yang sering menjadi korbannya adalah orang yang sedang berkontestasi. Makanya, biasanya di sekelling calon apapun selalu ada tim kecil yang akan memblow up apa yang akan dijadikan sebagai tema pembicaraan. Oleh karena itu, agar kegaduhan tidak semakin kuat, kiranya memang semua harus arif. Terutama ialah tim sukses yang selalu mengintip kesalahan demi kesalahan lawan politiknya.

Jadikan pilpres sebagai arena kontestasi positif bagi kita dan proyek pembelajaran yang baik bagi anak bangsa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENGUPAYAKAN RELIGIOUS HARMONY MELALUI PT KEAGAMAAN

MENGUPAYAKAN RELIGIOUS HARMONY MELALUI PT KEAGAMAAN

Saya diundang oleh Bante Dittisampano, PhD., untuk menjadi key note speaker dalam acara The 2nd International Conference 2018 dengan tema “Innovation in Religious Education and Buddhism” di Sekolah Tinggi Agama Buddha Smaratungga di Jawa Tengah, yang diselenggarakan di Hotel Le Beringin Salatiga, 10/11/2018. Saya membawakan makalah dengan tema “A Religious Study to Build Harmony: The Case of Higher Education under Ministry of Religious Affairs”. Akhir-akhir ini saya banyak bicara tentang religious harmony di dalam berbagai forum baik di tingkat nasional maupun regional. Hadir dalam conference ini adalah nara sumber dari Thailand, Vietnam, Singapura, Australia dan Indonesia.

Tema ini tentu tetap menarik di tengah keinginan untuk hidup bersama berbasis pada kerukunan dan harmoni agama yang memang menjadi prasyarat di dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, damai dan juga sejahtera. Melalui kehidupan yang rukun dan damai, maka kita akan bisa melihat Indonesia yang semakin baik di masa depan.

Di dalam acara ini saya sampaikan beberapa hal. Pertama, ialah bagaimana membangun harmoni dan kerukunan beragama. Sungguh satu di antara keinginan kita sebagai bangsa ialah untuk hidup di dalam kebersamaan yang didasari oleh keharmonisan dan kerukunan beragama. Sayang sekali jika Indonesia yang multikultural dan plural ini dirusak oleh bangsanya sendiri karena keinginan untuk mengembangkan ajaran dan ideologi yang tidak relevan bagi bangsa Indonesia. Sungguh kita semua tidak ingin melihat Indonesia porak poranda karena sikap dan tindakan sebagian kecil orang Indonesia yang tidak menghargai terhadap upaya memperoleh kemerdekaan dan membangun kemerdekaan. Kita semua pasti ingin agar Indonesia berada di dalam kehidupan yang rukun dan damai. Jika orang luar negeri saja menghargai dan mengapresiasi terhadap Indonesia karena kemampuan memanej perbedaan dan menjadikannya sebagai contoh yang baik dalam kehidupan yang plural dan multicultural, maka jangan sampai kita sendiri justru tidak menghargainya.

Kedua, salah satu di antara yang bisa dijadikan sebagai insfrastruktur penting di dalam membangun kehidupan yang harmony ialah pendidikan tinggi. Di Kemenag terdapat sebanyak 72 PTKN dan 700 perguruan tinggi swasta. Semuanya merupakan perguruan tinggi keagamaan, yang mengusung semangat dan pemahaman dan pengamalan beragama yang sangat baik. Dari sejumlah 144 satuan kredit semester (sks) maka sekurang-kurangnya terdapat sebanyak 30 persen sks-nya merupakan mata kuliah untuk memperdalam pemahaman keberagamaan. Di sana terdapat mata kuliah antara lain: “pengantar studi agama, pengantar tafsir, pengantar hadits, tafsir al Qur’an, Hadits, Akhlak dan tasawuf, filsafat agama dan lainnya”. Semua PTKN di bawah Kemenag, memiliki kesamaan dalam program perkuliahan religious studies. Semua ini didesain dengan keinginan untuk memperkuat basis keberagamaan yang wasathiyah atau yang moderat.

Kerukunan beragama hanya akan terwujud jika kita memahami agama dalam coraknya yang bukan ekstrim atau radikal. Jika di suatu negara atau bangsa ada sejumlah orang yang selalu berpikir ingin mengimpor ideologi lain, maka dipastikan negara itu akan mengalami kesulitan. Itulah sebabnya di perguruan tinggi dipastikan harus diajarkan pemahaman agama yang wasthiyah ini. Hanya dengan cara berpikir moderat saja kehidupan berbangsa dan bernegara akan berada di dalam suasana yang aman dan tenteram.

Akhir-akhir ini masih terdapat tindakan orang yang melakukan pengeboman bunuh diri dan melibatkan keluarganya. Anak dan istrinya, seperti kasus bom bunuh diri di Surabaya. Inilah contoh kongkrit bahwa elemen garis keras itu masih bercokol dan eksis di negeri ini. Makanya, pendidikan agama diharapkan akan dapat menjadi salah satu solusi bagi pengembangan kehidupan beragama yang rukun dan harmonis.

Ketiga, yang dikembangkan oleh pendidikan tinggi agama ialah pengembangan pendidikan karakter. Kita berharap agar dengan pendidikan karakter tersebut, maka akan lahir generasi masa depan Indonesia yang benar-benar hebat dalam kerangka menyambung estafeta kepemimpinan bangsa. Hanya dengan pendidikan karakter saja generasi muda Indonesia akan dapat menghadapi bonus demografi yang datang. Makanya, semua dosen dan mahasiswa harus menyadari betapa pentingnya pendidikan karakter untuk Indonesia masa depan.

Upaya yang dilakukan oleh Kementerian Agama ialah dengan membangun gerakan moderasi agama. Gerakan moderasi agama adalah suatu upaya untuk menyebarkan ajaran agama dalam kontennya yang ramah, penuh kasih sayang dan berupaya membangun kesejahteraan. Upaya ini dilakukan dengan memberikan penerangan agama, pendidikan agama dan juga khutbah dan dakwah yang menyejukkan bagi kehidupan bersama.

Kementerian Agama sudah memiliki infrastruktur Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) dan masyarakat jugas sudah punya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan dengan insfrastruktur ini kita bisa berharap banyak untuk membangun harmoni beragama. Dan yang tidak kalah penting ialah bagaimana perguruan tinggi mendesiminasi dan menstranfer harmoni beragama tersebut dalam paham dan praksis bagi mahasiswanya. Dan saya yakin kita semua bisa.

Wallahu a’lam bi al shawab.