Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MARI KITA BACA ALQUR’AN

MARI KITA BACA ALQUR’AN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kali ini,  saya ingin  memberikan ulasan atas ceramah agama dalam Kuliah Tujuh Menit atau kultum yang diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Ceramah ini dilakukan oleh Al Ustadz Husnur Rofiq, Drs, SH, MH, pada Hari Rabo, 19/03/2025 bada Shalat Isya berjamaah. Ceramah ini mengupas tentang turunnya Alqur’an sebagai pedoman atau kitab suci yang merupakan rukun iman. Tema yang dibawakan oleh Ustadz Rofiq adalah  “Pentingnya Membaca Alqur’an”.

Di antara yang sangat mendasar di dalam turunnya Alqur’an adalah dilakukan secara bertahap sesuai dengan kepentingan.  Wahyu  Allah tersebut turun kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Alqur’an memang diturunkan secara berangsur-angsur setelah turunnya ayat pertama di Gua Hira pada waktu Nabi Muhammad SAW bermunajat di Gua Hira tersebut. Ayat pertama, sebanyak lima ayat,  yaitu: Iqra’ bismi rabbikal ladzi kholaq, kholaqol insana min ’alaq. Iqra’ warabbuka akramul  ladzi ‘allama bil qalam. ‘allamal insana ma lam ya’lam”.

Ustadz Rofiq menjelaskan tiga hal, yaitu: pertama, alqur’an diturunkan oleh Allah dari Lauh Mahfudz ke Baitul Izzah dan kemudian melalui Malaikat Jibril  diterima oleh Nabi Muhammad SAW baik melalui mimpi atau secara  langsung. Ayat-ayat tersebut ada yang turun di Mekkah atau disebut sebagai ayat Makkiyah dan ada yang turun di Madinah atau disebut sebagai ayat Madaniyah.

Mengenai permulaan turunnya Alqur’an disepakati oleh para ulama yaitu pada bulan Ramadlan. Tentang tanggalnya debatable. Ada perbedaan di kalangan para ahli atau ulama. Sementara di Indonesia mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa permulaan turunnya Alqur’an pada tanggal 17 Ramadlan. Kita tentu tidak perlu berdebat tentang kapan datangnya Alqur’an, yang penting kita meyakini bahwa Alqur’an adalah Kitab Suci yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril dan kemudian menjadi pedoman bagi umat manusia untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan menghindari keburukan-keburukan.

Alqur’an merupakan kitab suci yang sangat lengkap, mulai dari aspek keyakinan, ritual atau ibadah dan akhlak. Jika ada hal-hal yang umum atau mujmal, maka hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskannya. Oleh karena itu,  Alqur’an dan hadits merupakan dua sumber ajaran Islam yang menjadi dasar di dalam agama Islam. Sesungguhnya untuk menjadi Islam yang sempurna sumber hukumnya sudah jelas, yaitu mengamalkan apa yang diajarkan oleh Allah SWT melalui Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW.

Bulan puasa ini menjadi sangat penting. Allah akan menurunkan pahala berlipat-lipat. Makanya pada bulan ramadlan banyak orang yang berupaya untuk melakukan ibadah lebih dibandingkan bulan-bulan lainnya. Banyak orang yang membaca Alquran. Membaca satu huruf di dalam Alqur’an akan dinilai 10 kali lipat bahkan 700 kali lipat. Membaca alif lam mim, bukan dihitung satu huruf akan tetapi tiga huruf. Bayangkan jika membaca satu juz dari Alqur’an, maka pahalanya tidak terhitung. Di masjid-masjid banyak acara tadarrusan dalam kerangka untuk mendapatkan pahala berlipat karena membaca Alqur’an. Hal ini terjadi pada bulan puasa dan sayangnya tidak terjadi di bulan-bulan lainnya.

Kedua, di dalam realitasnya, kita belum menjadi sahabatnya Alqur’an. Di rumah kita saja, berapa orang dari anggota rumah tangga yang membaca Alqur’an. Ternyata masih sangat sedikit. Masih banyak dari anggota keluarga yang belum memiliki kesadaran membaca Alqur’an. Harapan kita tentu saja, setelah pada bulan Ramadlan kita bisa one day one juz, semoga pada bulan-bulan berikutnya kita dapat beristiqamah di dalam membaca kitab suci Alqur’an.

Di dalam membaca Alqur’an juga penting untuk diperhatikan tajwidnya, makharijul hurufnya, dan tartilnya. Diupayakan agar dapat membaca Alqur’an dengan tenang, membaca dengan hati-hati atau jangan tergesa-gesa. Agar bisa diresapi maknanya bagi yang bisa memahaminya, atau dibaca dengan baik meskipun tidak paham artinya. Jangan khawatir bahwa kita tidak paham Alqur’an lalu apa yang kita baca tidak diterima oleh Allah SWT. Jangankan membacanya, orang yang mendengarkan atau menyimak bacaan Alqur’an itu mendapatkan pahala juga di sisi Allah SWT.

Ketiga, Alqur’an memang berbahasa Arab dan bukan dalam Bahasa Indonesia. itu dimaksudkan agar umat Islam belajar tentang Bahasa Alqur’an. Tetapi jangan khawatir karena kita tidak bisa berbahasa Arab atau berbahasa Alqur’an sebab sekarang sudah dengan mudah didapatkan Alqur’an yang menggunakan terjemahnya di dalam Bahasa Indonesia. Bahkan  juga didapatkan Alqur’an berbahasa daerah. Ada Alqur’an dalam terjemah Bahasa Osing, Bahasa Jawa, Bahasa Mandar, Bahasa Makasar dan sebagainya.

Berkat kemajuan zaman, maka kita dapat  membaca Alqur’an dalam aplikasi Alqur’an dan sekaligus terjemahnya di dalam Bahasa Indonesia, kata perkata, sehingga dengan mudah kita dapat  membaca Alqur’an dan memahami artinya. Di hand phone kita ada Alqur’an.

Kita semua berharap semoga dengan kehadiran Bulan Ramadlan ini akan semakin meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT, sehingga kelak kita akan dapat menjadi hambanya Allah yang muflihun atau orang yang beruntung.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..