KEBAHAGIAAN BUKAN SEMATA-MATA KARENA HARTA
KEBAHAGIAAN BUKAN SEMATA-MATA KARENA HARTA
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Great Power Index (GPI) 2024 menempatkan Indonesia sebagai negara nomor dua dalam kebahagiaan dengan indeks sebesar 1,58 hanya berada di bawah Britania Raya dengan indeks 1,65. Sementara itu, Lembaga survey yang terpercaya, Badan Pusat Statistik (BPS), 2021, telah merilis tentang indeks kebahagiaan, dengan indicator dimensi kepuasan hidup, dimensi perasaan dan makna hidup.
Jika tiga dimensi indeks ini nilainya bagus, maka potensinya akan menjadi bahagia, akan tetapi jika kurang, maka tidak masuk dalam kategori bahagia. Begitu kelihatan bahwa ukuran kebahagiaan adalah ukuran prilaku yang lebih dominan. Selalu ada alasan bahwa sebagai sebuah survey, maka yang bisa dicek adalah indicator yang tangible dan bukan non tangible. Sedangkan spiritualitas adalah indicator yang tak terukur. Makanya, spiritualitas tidak dikaji dalam mengukur kebahagiaan.
Berdasarkan atas ukuran prilaku tersebut, maka indeks kebahagiaan orang Indonesia berada dalam tingkat bahagia, dengan perolehan angka sebesar 71,49 dengan dimensi kepuasan hidup sebesar 75,16, indeks dimensi perasaan sebesar 65,61 dan dimensi indeks makna hidup sebesar 73,12. Angka ini meningkat dibandingkan survey BPS tahun 2017 sebesar 0,8. (BPS, Provinsi Jambi 05/09/2022). Jadi orang Indonesia sudah bahagia. Lumayanlah. Dengan angka ini maka memberikan justifikasi secara statistic bahwa orang Indonesia sudah memasuki lingkaran kebahagiaan. Apakah ini hasil pembangunan atau bukan, akan tetapi yang jelas perjalanan bangsa Indonesia sudah on the track dalam mengurus kebahagiaan.
Di dalam Islam kebahagiaan itu lebih berdimensi batin atau hati. Bukan hanya ketercukupan lahiriyah atau kepuasan jasmaniyah. Bukan hanya ketercukupan kebutuhan biologis dan social akan tetapi juga keterpenuhan kebutuhan spiritual. Kebahagiaan merupakan urusan hati dan bukan urusan fisik. Ada orang yang secara fisik sudah melebihi tataran ketercukupan atau kekayaan, akan tetapi hatinya tidak pernah tenang. Hatinya tidak ada kedamaian.
Ada bukti orang-orang Barat yang kekayaannya sudah melebihi batas kewajaran, akan tetapi justru bunuh diri. Ada penyanyi-penyanyi terkenal dengan kekayaan dan kemewahan, dengan ketenaran dan kemegahan, akan tetapi mati dengan bunuh diri atau kelebihan dosis obat ketenangan. Meminum obat tenang tentu adalah orang yang tidak tenang. Orang yang gelisah. Orang yang tertekan dan sebagainya. Ketakutan akan ketenarannya memudar, ketakutan bahwa kemewahannya akan berakhir, ketakutan dan pengaruhnya akan hilang dan sebagainya. Mana yang lebih hebat mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon dan istrinya, yang di kala tuanya lalu menghibahkan semua hartanya kecuali untuk pemenuhan kebutuhannya yang minimal saja atau para pesohor yang dikaruniai kekayaan dan ketenaran yang luar biasa. Jawabannya tentu Richard Nixon lebih baik. Orang seperti Richard Nixon sudah selesai dengan kehidupannya, dan dia sadar bahwa harta tidak akan dibawanya serta kala wafat.
Bagi orang beragama, kebahagiaan itu urusan batiniah atau urusan spiritualitas. Bukan semata-mata urusan duniawiyah. Itulah sebabnya doa yang selalu kita bacakan nyaris setiap hari adalah “Ya Allah berikan kepada Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat, dan jauhkan kami dari api neraka”. Kebaikan di dunia adalah terpenuhinya kebutuhan biologis dan social, dan kebaikan di akherat adalah terpenuhinya instrument untuk bekal hidup di akherat, hablum minallah dan hablum minan nas. Harta dan kekayaan hanyalah instrument untuk kebahagiaan atau tujuan antara, yang bisa menjadi salah satu pengungkit kebahagiaan, tetapi the ultimate kebahagiaan atau endless bliss adalah kebahagiaan kelak di akherat. Sa’idun fid dunya wa sa’idun fil akhirah.
Itulah sebabnya kita bersyukur, bahwa kita memiliki ajaran Islam yang mengajarkan tentang philantropi atau bersedekah, berinfaq, dan berzakat. Ketiganya adalah instrument untuk menggapai kebahagiaan. Orang yang bisa memberi sesuatu kepada orang lain adalah orang yang tentu sudah menyadari bahwa kehidupan harus dihias dengan kebaikan kepada Allah dan juga kebaikan bagi sesama manusia. Berkat philantropi kita, umat islam, berdasarkan atas teks suci, maka Indonesia selalu menjadi negara terbaik dalam World Giving Index (WGI), sudah enam kali berturut-turut. Digambarkan bahwa dari 10 orang Indonesia, maka delapan di antaranya suka memberikan philantropinya.
Sebuah cerita menggambarkan Sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdurrahman bin Auf, orang kaya di Mekkah. Dalam satu kesempatan Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa Abdurrahman bin Auf nanti di kala akan masuk surga maka jalannya dengan merangkak atau Bahasa Jawa ngesot, maka betapa sedihnya Abdurahman bin Auf sehingga selalu berdoa agar menjadi orang miskin, maka oleh Nabi Muhammad SAW lalu dianjurkan agar banyak bersedekah, berinfaq dan berzakat. Jadi pilantropi adalah salah satu instrument untuk mendapatkan kebahagiaan di akherat. Padahal, Abdurrahman Bin Auf adalah salah satu dari assabiqunal awwalun yang dipastikan akan masuk surga.
Ada tipe ideal perempuan yang hebat yang memiliki kekayaan 2/3 tanah di Mekkah, tetapi kala wafat tidak memiliki kain yang bagus untuk kain kafannya, maka Allah SWT memberikannya kain kafan. Sayyidatina Khadijah adalah salah satu contohnya. Kekayaannya yang melimpah digunakannya untuk berdakwah bersama Nabi Muhammad SAW, dan Sayyidatina Khadijah sangat senang melakukannya. Inilah kebahagiaan yang abadi, yang kelak akan didapatkannya di akherat. Jadi harta hanya instrument saja dan bukan tujuan kebahagiaan.
Secara ekspresif, kala Sayyidatina Khadijah akan wafat Nabi Muhammad SAW menangis lalu menanyakannya, “Wahai istriku, apakah engkau menyesal hidup bersamaku hingga hartamu habis untuk berdakwah”, maka Sayyidatina Khadijah menyatakan bahwa “saya mengikhlaskan harta milikku dan aku sangat bahagia karena bisa berjuang bersama Rasulullah”.
Wallahu a’lam bi al shawab.