• December 2025
    M T W T F S S
    « Nov    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

HARI SANTRI ANTARA PENGAKUAN STRUKTUR DAN BUDAYA (3)

HARI SANTRI ANTARA PENGAKUAN STRUKTUR DAN BUDAYA (3)
Yang bisa saya lakukan untuk ikut mangayubagya atau menyambut dengan gembira tentang Hari Santri Nasional tidak lebih dan tidak kurang adalah melalui tulisan. Verba valent scripta manen. Saya selalu berpikir bahwa dengan menulis, maka kegembiraan untuk menandai sebuah peristiwa penting itu akan lestari dan berjangka panjang. Itulah sebabnya, bentuk luapan kegembiraan itu saya tulis.
Semua saya kira sudah mafhum bahwa dunia pesantren itu adalah sebuah sub-kultur yang memiliki ciri khas sebagai area budaya. Namun demikian seirama dengan perubahan sosial yang terus terjadi, maka sub-kultur itupun juga mengalami perluasan makna. Budaya santri telah menjadi bagian di dalam kehidupan sosial dalam berbagai tingkatan dan variannya.
Kita tentu merasa senang dengan pengakuan akan fungsi dan peran kaum santri di tengah masyarakat Indonesia. Kita merasakan bahwa di dalam berbagai penggolongan sosial kaum santri memiliki peran yang cukup signifikan. Berkat pendidikan yang dilaluinya, maka santri bisa memasuki hampir seluruh jaringan akses kehidupan. Capaian ini tentu membanggakan dan sekaligus juga tantangan ke depan yang harus diperhitungkan.
Tantangan yang saya rasa harus menjadi perhatian bagi kaum santri adalah dengan semakin menguatnya fundamentalisme agama atau radikalisme agama bahkan ekstrimisme agama. Tantangan ini bukan sekedar wacana dan pertarungan gagasan, akan tetapi sudah menjadi kenyataan di sekeliling kita.
Kita tentu bersyukur bahwa dunia kaum santri makin meluas. Dewasa ini semakin banyak masyarakat Indonesia yang secara simbolis dan identitas menyatakan keislamannya. Dapat dilihat berdasarkan konsep “outward looking” bahwa semakin banyak kaum agamawan yang menghiasi dunia kita. Ada banyak kaum hijabers. Ada banyak symbol busana muslim yang dipertontonkan di tengah pergaulan sosial. Mereka tidak ragu lagi untuk menunjukkan identitas keislamannya di tengah publiknya.
Saya kira kita memang harus bersyukur atas kenyataan ini. Hanya saja yang tetap harus menjadi kegundahan kita adalah semakin radikal dan fundamentalnya paham keberagamaan itu. Makanya, satu hal yang saya kira menjadi tantangan terbesar dari kaum santri adalah semakin menguatnya hal tersebut.
Pesantren memang harus menunjukkan identitasnya kepada khalayak bahwa tuduhan pesantren sebagai tempat persemaian bibit radikalisme harus dilawan dengan aktivisme bahwa santri dan pesantrennya bukanlah tempat seperti itu.
Upaya mendiskreditkan pesantren dengan santrinya memang akan selalu ada dan terus menerus diupayakan. Akan tetapi mengingat sejarah panjang pesantren, maka tuduhan itu saya kira tidak akan pernah terbukti. Kita tidak bisa melakukan generalisasi secara serampangan dengan beberapa perilaku santri dengan basis pesantren yang radikal untuk menganggap bahwa pesantren sebagai sumber radikalisme.
Saya tentu mengapresiasi terhadap upaya-upaya pesantren untuk terus melakukan perlawanan terhadap ekstrimisme agama ini. Berbagai diskusi, pernyataan dan kegiatan untuk melakukan de-ekstrimisme tentulah harus disambut dengan upaya yang sungguh-sungguh. Jangan sampai kita terlena dengan mayoritas umat Islam, sehingga melupakan berbagai penetrasi tersembunyi yang dilakukan oleh kelompok radikal untuk membuat jejaring strategis di tengah moderasi Islam yang terus dilakukan.
Saya kira ungkapan mengenai darurat terorisme, ungkapan semakin eksistennya kelompok radikal di Indonesia tentu bukanlah gambaran atau pepesan kosong, akan tetapi telah menjadi kenyataan empiris yang tidak bisa diabaikan. Harus ada upaya strategis untuk menanggulangi laju perkembangan radikalisme yang terus berkembang.
Santri harus menjadi agen dalam keranga de-ekstrimisme atau de-radikalisme kapan dan di manapun. Saya kira untuk menghargai Hari Santri Nasional, maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan mengupayakan agar gerakan ekstrimisme atau radikalisme tidak terus berkembang di masa yang akan datang.
Dengan demikian, peran santri ke depan dalam berbangsa dan bernegara dan sebagai warga Negara Republik Indonesia tidak ada lain kecuali menghadapi tantangan berat berupa deradikalisasi atau deekstrimisasi paham dan tindakan keagamaan sebagaimana dewasa ini.
Salah satu kado terbesar bagi Label dan Identitas Santri adalah dengan menjadikan dirinya sebagai agen pembela Nusa dan Bangsa untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang tetap berada di dalam koridor Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

HARI SANTRI ANTARA PENGAKUAN STRUKTUR DAN BUDAYA (2)

HARI SANTRI ANTARA PENGAKUAN STRUKTUR DAN BUDAYA (2)
Santri sebagai struktur sosial merupakan sebuah komunitas yang memiliki kesadaran terbaik di dalam pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Seseorang memperoleh labeling sebagai santri adalah karena ketaatannya kepada ajaran Islam. Meskipun makna santri memiliki perluasan kategori, akan tetapi tetap saja bahwa dia melekat dengan dunia pesantren secara general.
Di dalam konteks ini, maka Santri pernah dibedakan secara ketat dengan mereka yang disebut Abangan, meskipun terdapat kontradiksi kategorikal sebab penggolongannya agak bercorak kurang lebih. Sebagai penggolongan sosial, Santri merupakan penggolongan ketaatan beragama, sedangkan Abangan merupakan penggolongan sosial berbasis pada kategori penggolongan budaya.
Dewasa ini, penggolongan tersebut sudah tidak didapatkan lagi seirama dengan perubahan sosial yang terus terjadi. Andaikan Geertz datang lagi ke Pare Jawa Timur, maka Beliau tentu akan melihat betapa konsepsi penggolongan sosial yang pernah dibuatnya itu sudah tinggal sebagai konsep teoritik yang tidak lagi relevan dengan kenyataan empiris dewasa ini.
Meskipun terjadi penggolongan sosial “kurang lebih” di dalam memahami santri tersebut, akan tetapi sesungguhnya kita berhutang budi kepada Geertz dan seluruh pengkaji tentang santri dan pesantren di dalam melakukan kajian empiris tersebut, sebab merekalah yang menggemakan label santri di dalam kajian akademik yang luar biasa. Saya kira dunia santri dan pesantren dikenal di dalam literature seluruh dunia adalah berkat kajian-kajian menarik yang dilakukan para ahlinya. Demikian pula pengakuan santri sebagai sebuah struktur sosial dan budaya juga terlahir berkat kajian-kajian mereka itu.
Melalui pengakuan Hari Santri sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, maka penguatan akan label santri dalam struktur sosial masyarakat Indonesia tentu menjadi semakin kuat dan tidak tertandingi. Sesungguhnya, melalui pengakuan structural itu juga menjadi indikasi bahwa dunia pesantren dengan santrinya telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan di dalam jaringan struktur masyarakat Indonesia di dalam berbagai penggolongannya secara konprehensip.
Santri dewasa ini bukan hanya menjadi suatu struktur sosial tersendiri sebagaimana masa lalu, akan tetapi basis budaya santri telah memasuki hampir seluruh penggolongan sosial secara generic. Santri merupakan suatu kultur berbasis agama yang memasuki berbagai penggolongan sosial, seperti struktur sosial ekonomi, politik, militer dan sebagainya. Budaya santri telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari semua struktur sosial dalam berbagai variannya. Inilah yang kemudian saya sebut sebagai perluasan makna santri di dalam perubahan sosial budaya yang terus berkembang. Jika di masa lalu, Santri vis a vis Abangan, Santri vis a vis Priyayi, maka sekarang tentu sudah berubah luar biasa.
Perubahan dan perluasan makna itu tentu terkait dengan kecerdasan dunia pesantren dalam merespon terhadap perubahan sosial. Dan salah satu instrument pentingnya adalah pendidikan. Jika di masa lalu, pesantren hanya sebagai tempat mengembangkan ilmu agama, maka dengan terbukanya pesantren untuk menerima perubahan dari luar dengan mengadaptasi berbagai dinamika dan tuntutan masyarakat, maka perlahan tetapi pasti lalu para alumninya bisa mengakses berbagai peluang kehidupan dan jadilah mereka itu berada di mana-mana di dalam penggolongan sosial dimaksud.
Yang tidak kalah menarik tentu dengan perluasan pendidikan pesantren, yang semula merupakan pendidikan nonformal, kemudian menjadi pendidikan formal, tentu berakibat terhadap dinamika akses itu sendiri. Di tengah dominasi ijazah formal sebagai bagian dari proses untuk mengakses berbagai peluang kehidupan, maka dengan menyediakan pendidikan formal di dunia pesantren, maka peluang untuk terjadinya mobilitas vertical itu terjamin secara memadai.
Apalagi dengan terbukanya pendidikan seperti Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) bahkan kemudian Universitas Islam Negeri (UIN) dan berbagai Lembaga Pendidikan Tinggi Islam Swasta di berbagai pesantren dan wilayah lainnya, tentu semakin memberikan peluang untuk terjadinya dinamika mobilitas vertical tersebut. Tentu tidak terbayangkan Sarjana Ahli Agama (SAg) menjadi Menteri, menjadi Jenderal, menjadi Bupati, Gubernur, Politisi dan bahkan memasuki Badan Anggaran DPR, menjadi Pengusaha, menjadi birokrat, sebuah tempat yang di masa lalu sepertinya mustahil dimasuki oleh kaum santri.
Dunia ini merupakan proses pembelajaran. Jadi dengan program pendidikan yang diupayakan untuk mengentaskan diri dari kebodohan dan ketertinggalan, maka kala itu proses achievement tersebut sudah berhasil untuk ditanamkan. Jadi sesungguhnya terjadinya mobilitas sosial kaum santri dewasa ini, menurut saya tentu tidak terlepas dari keterbukaan dan perluasan program pendidikan agama dan keagamaan yang terus berbenah.
Dengan demikian, makna Hari Santri bagi bangsa Indonesia adalah sebuah pengakuan akan peran lebih luas dari kaum santri di dalam mengemban tugas sebagai bagian dari bangsa Indonesia di dalam pengabdiannya kepada Nusa, Bangsa dan Agama.
Wallahu a’lam bi al shawab.

HARI SANTRI ANTARA PENGAKUAN STRUKTUR DAN BUDAYA (1)

HARI SANTRI ANTARA PENGAKUAN STRUKTUR DAN BUDAYA (1)
Tanggal 22 Oktober dikenal akhir-akhir ini sebagai Hari Santri. Tahun lalu, Hari Santri dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo di Masjid Istiqlal Jakarta sebagai hari bersejarah tentang santri yang secara konstitusional memperoleh penetapan dari Presiden Republik Indonesia.
Upaya untuk menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri tentu memperoleh dukungan dari banyak kalangan, meskipun juga ada yang merasa kurang sependapat tentang Hari santri tersebut. Secara fundamental tentu sependapat, hanya saja bahwa dengan penetapan Hari Santri tersebut seakan-akan hanya akan menguntungkan sedikit organisasi kemasyarakatan, sementara organisasi kemasyarakatan lainnya belum memperoleh tempat yang memadai.
Ada sejumlah kekhawatiran bahwa dengan ditetapkannya Hari Santri akan menyebabkan ada sekelompok masyarakat lainnya yang juga menuntut untuk memperoleh Hari yang sama, misalnya kelompok Abangan. Meskipun kekhawatiran ini tidaklah tepat sebab memang sudah tidak ada lagi dikhotomi Santri-Abangan, akan tetapi tentu penting juga untuk menjadi ingatan di antara kita, bahwa di masa lalu memang pernah terjadi realitas sosial keagamaan dan politis seperti itu.
Hari Santri memang ditetapkan di dalam momentum besar panggung sejarah umat Islam Indonesia. Yaitu peristiwa Pencetusan Gerakan Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Hadratusy Syekh KH. Hasyim Asy’ari. Resolusi Jihad menandai gerakan baru para santri dalam proses pembelaan terhadap Nusa dan Bangsa dari penjajahan asing.
Saya melihat ada beberapa fase tentang gerakan kaum Santri di dalam kontribusinya terhadap proses menuju Keindonesiaan. Pertama, fase pesantren sebagai tempat pendidikan agama dan keagamaan. Semenjak semula memang ideology pesantren adalah gerakan keagamaan. Pesantren, kyai dan santri merupakan sekelompok orang yang paling sadar tentang agamanya. Tidak hanya agama untuk dirinya sendiri, akan tetapi juga untuk diajarkan. Jadilah pesantren dengan kyai dan santrinya merupakan sekumpulan umat Islam yang mengkaji tentang ilmu keislaman melalui metode yang khas.
Di era ini, maka system dan metodologi pembelajaran khas pesantren memperoleh pematangannya. Metode Wetonan, Sorogan dan Bandongan menjadi metode yang sangat masyhur di dalam proses pembelajaran di pesantren di Nusantara. Era ini menjadi penting sebagai pematangan umat Islam sehingga mereka memiliki kematangan atau kedewasaan beragama. Tanpa era ini, mungkin kita tidak akan melihat perkembangan pesantren yang sedemikian massiv di era berikutnya. Bayangkan misalnya berapa banyak alumni Pesantren Tebuireng, Pesantren Denanyar, Pesantren Rejoso, Pesantren Nurul Jadid, Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Pesantren Darun Najah, Pesantren Babakan Ciwaringin, Pesantren Mranggen, Pesantren Kajen dan sebagainya yang kemudian menjadi cikal bakal bagi pengembangan pesantren pada era sesudahnya.
Kedua, era pesantren dan kebangsaan. Masa ini ditandai dengan keberadaan pesantren sebagai pusat-pusat perlawanan terhadap penjajahan Belanda dan Jepang. Militansi pesantren yang dibangun di era pertama menghasilkan semangat berjuang yang sangat tinggi. Di era ini muncullah Resolusi Jihad yang merupakan akumulasi dari keinginan pesantren untuk terlibat di dalam mempertahankan kemerdekaan bangsanya. Perjuangan Kyai dalam Perang Rakyat Petani di Banten, Perang Diponegoro, Perang Aceh, Perang Sabil di beberapa tempat di Nusantara menandai keterlibatan para santri di dalam perjuangan bangsa. Di dalam Perang Diponegoro ternyata banyak kyai yang terlibat di dalamnya dan tentu juga para santri. Di dalam pembangkangan Petani Banten, bahkan beberapa mursyid Tarekat terlibat di dalamnya.
Pesantren menjadi pusat untuk melawan para penjajah. Ucapan Allahu Akbar untuk menandai perlawanan sebagaimana diungkapkan oleh Bung Tomo di seputar Perang Surabaya, menandai tentang bagaimana para santri itu terlibat di dalam perlawanan terhadap kaum penjajah yang akan kembali menguasai Indonesia. Penetapan tanggal 10 Nopember sebagai hari pahlawan, tentu dapat dikaitkan dengan peran santri di dalam perlawanan teradap kaum penjajah. Dengan ungkapan takbir yang menggema di seantero wilayah perlawanan dan menandai serangan demi serangan terhadap para penjajah tentu menjadi bukti historis yang kuat tentang peran kaum sarungan di dalam proses kemerdekaan bangsa.
Ketiga, era pesantren dengan perluasan peran kebangsaan. Era perlawanan terhadap kaum penjajah yang kemudian diakhiri dengan kemenangan bangsa Indonesia, maka memberikan peran pesantren dalam ruang yang lebih luas. Yaitu peran politik pesantren. Meskipun sangat banyak pesantren yang tidak terlibat di dalam politik, tetapi era pesantren politik saya kira bisa menjadi momentum penting untuk dicatat. Sebagaimana biasanya, bahwa peran politik pesantren itu bervariasi sesuai dengan pilihan politik kyainya. Ada pesantren yang berafiliasi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan ada pesantren yang berafiliasi kepada Golongan Karya (GOLKAR). Era ini juga ditandai dengan negaranisasi berbagai organisasi sosial kemasyarakatan, keagamaan dan bahkan pesantren. Ada proses korporatisme Negara yang dilakukan untuk mendukung pemerintah di dalam menyelenggarakan program-program pembangunan.
Di era ini, pesantren terbelah ke dalam tiga pemilahan besar, yaitu pesantren politik yang mendukung Golkar, Pesantren politik yang mendukung PPP dan pesantren non-afiliatif politik. Meskipun akhirnya, fase ini runtuh juga dan kemudian pesantren kembali ke habitatnya sebagai lembaga pendidikan, akan tetapi fase ini merupakan realitas historis keterlibatan pesantren dengan dinamika zamannya.
Keempat, perluasan pesantren dalam kiprah pembangunan. Pasca era politik pesantren, maka terjadi perubahan orientasi pesantren yang semula hanya menjadi lembaga pendidikan agama atau tempat belajar kitab kuning, maka kemudian seirama dengan perubahan dan dinamika sosial yang terjadi, maka pesantren kemudian mengubah pandangan ideologisnya tidak hanya menjadi lembaga pendidikan agama, akan tetapi juga pendidikan berbasis pada keahlian multi disiplin. Maka, pesantren mendirikan pendidikan SMP atau SMA dan bahkan Sekolah Kejuruan. Inilah era baru pendidikan pesantren yang sebelumnya tidak terbayangkan, bahwa pesantren mengajarkan pendidikan berbasis umum. Di hampir kebanyakan pesantren, maka berdirilah lembaga pendidikan berbasis keahlian multi disiplin sebagai bagian dari tuntutan masyarakat akan kebutuhan yang terus berkembang.
Dan yang kemudian juga dilahirkan oleh pesantren adalah hadirnya lembaga ekonomi pesantren yang berkembang pesat. Ada banyak pesantren yang menjadi pusat pengembangan ekonomi umat. Perkembangan ini menandai betapa pesantren merupakan lembaga yang lentur terhadap tuntutan perubahan dan berkemampuan untuk menjawab perubahan zaman. Era akhir-akhir ini, banyak pesantren yang beramal usaha di bidang ekonomi di dalam kerangka membangun Gerakan Ekonomi Syariah.
Jadi pesantren dan santrinya memang telah memberikan sumbangan yang signifikan bagi bangsa ini, sesuai dengan tuntutan zaman yang berada di sekitarnya. Pesantren memang bisa menjadi institusi keagamaan yang multi fungsi sebagaimana tuntutan zamannya.
Selamat Hari Santri. Masyarakat terus menanti sumbangsih yang signifikan bagi perubahan menuju kebaikan dan kesejahteraan. Jangan pernah lelah untuk berubah di dalam kearifan yang menjadi ciri khasnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

SIKAP CINTA TANAH AIR BAGI ALUMNI PERGURUAN TINGGI BUDHA

SIKAP CINTA TANAH AIR BAGI ALUMNI PERGURUAN TINGGI BUDHA
Suatu kebahagiaan bisa menghadiri acara Wisuda Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Budha Nalanda di Jakarta Timur. Acara ini bertepatan dengan Dies Natalis ke XXXVII Perguruan Tinggi ini dan sekaligus Wisuda XX Program Strata I dan Wisuda III Program Strata II. Acara ini diselenggarakan di Ruang Pertemuan Sekolah Tinggi Agama Budha Nalanda.
Saya merasa senang sebab di dalam acara ini dipagelarkan tradisi-tradisi Keindonesiaan, misalnya tarian ciri khas Masyarakat Lampung dan juga Tarian Khas Masyarakat Jawa. Bahkan untuk mengiringi prosesi wisuda juga dengan menggunakan alunan music atau Gending Jawa yang saya tentu sangat mengenalnya. Bahkan saya juga sangat mengenal tentang cerita Gatotkaca, yang dimainkan dengan cukup baik oleh mahasiswa STAB Nalanda pagi itu.
Acara ini juga lengkap dengan Orasi Ilmiah yang disampaikan oleh Dr. dr. Eka Wahyu Kasih, MM, MH, Ketua Sekolah Tinggi Ekonomi Kasih Bangsa, alumnus Lemhanas, yang menjelaskan tentang “Arti Penting Sumpah Pemuda bagi Kelangsungan Bangsa dan Negara Republik Indonesia.” Sebagai alumnus Lemhanas, maka Pak Eka dapat menjelaskan dengan rinci mengenai makna Sumpah Pemuda tersebut, baik dari sisi ideologi kebangsaan, ekonomi dan juga sejarah.
Acara ini dihadiri oleh banyak kalangan, Ketua STAB Nalanda, Louw Acep, Tan Tjoe Liang (Ketua Umum Badan Koordinasi Pendidikan Budhis Indonesia), Surya Widya (Dewan Pembina), Bante Sukhemo Mahathera, Tjan Sie Tek (Dewan Pertimbangan), para orang tua atau wali wisudawan dan wisudawati, dan segenap dosen dan pejabat STAB Nalanda lainnya.
Di dalam kesempatan ini, saya sampaikan tiga hal penting sebagai bagian tidak terpisahkan dari makna penting pendidikan bagi bangsa Indonesia. Pertama, saya menyampaikan apresiasi kepada segenap jajaran pimpinan STAB Nalanda, pimpinan Yayasan, donator dan juga kepada segenap civitas akademika yang telah mendarmabhaktikan segenap pikiran, tenaga dan dananya untuk kepentingan membangun perguruan tinggi ini. Juga selamat kepada segenap orangtua dan wali wisudawan dan wisudawati serta para wisudawan dan wisudawati yang hari ini memperoleh anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Tentu merupakan kebahagiaan, bahwa para wisudawan dan wisudawati menjadi sarjana dan bahkan menjadi master dalam bidangnya. Tidak mudah menjadi sarjana Dharma Usada dan Dharma Acariya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat digunakan untuk mengembangkan kehidupan untuk mencapai kebahagiaan. Bukankah kebahagiaan menjadi inti dari ajaran agama Budha.
Kedua, saya sampaikan bahwa pendidikan merupakan instrument untuk menghilangkan kebodohan dan ketertinggalan. Di dalam pikiran kita semua, bahwa pendidikan akan menjadikan kita memiliki kecerdasan, tidak hanya kecerdasan intelektual akan tetapi juga kecerdasan spiritual. Melalui pendidikan maka kita akan dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi, pendidikan akan dapat mengantarkan kita untuk memperoleh karma baik, sebab pendidikan akan mengantarkan kita untuk memasuki alam kebaikan, sebagaimana yang diajarkan Sang Bodhi Satwa. Melalui pendidikan maka seseorang akan memperoleh cahaya, pencerahan dan karma baik atau kebahagiaan. Makanya, pendidikan bisa menjadi instrument bagi kita semua untuk memilih dan memilah apa makna kehidupan kita di dunia ini dan karma apa yang akan kita peroleh kelak di kemudian hari.
Pendidikan juga bisa menjadi instrument terbaik bagi pengembangan SDM. Melalui pendidikan maka kompetisi bangsa itu akan bisa diwujudkan. Saya berharap, meskipun Global Competitiveness Index (GCI) kita mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir (peringkat 34 tahun 2014, peringkat 37 tahun 2015 dan peringkat 41 tahun 2016), akan tetapi kita harus tetap yakin bahwa pendidikan merupakan instrument terbaik untuk pengembangan SDM dan kompetisi bangsa. Kita sedang hidup di era kompetisi yang makin hebat dan kuat. Kita telah memasuki era globalisasi dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), sehingga kompetisi bangsa harus terus ditingkatkan. Dan salah satu instrument pentingnya adalah melalui pendidikan dimaksud.
Ketiga, hari ini kita akan memperoleh pencerahan yang sangat baik dari Dr. Eka Wahyu Kasih. Makalahnya berjumlah 126 halaman. Jika dikuliahkan bisa satu semester. Beliau akan menjelaskan tentang Makna Sumpah Pemuda bagi Bangsa Indonesia dari perspektif historis, ideologi dan ekonomi. Suatu gambaran yang sangat komprehensif bagi kebangsaan kita.
Di dalam forum ini saya sampaikan bahwa kita harus bersyukur menjadi bangsa Indonesia yang memiliki ideologi Pancasila sebagai dasar Negara. Kita memiliki empat consensus kebangsaan yang sangat urgen untuk diamalkan. Kita memiliki Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan. Tidak banyak Negara yang memiliki sedemikian lengkap panduan berbangsa dan bernegara itu.
Makanya, saya ingin agar saudara-saudara yang diwisuda hari ini dapat menjadi agen-agen untuk terus menerus memompakan semangat kesatuan dan persatuan bangsa. Jangan sampai kita terjebak pada pengaruh isme-isme yang terus membombardir kehidupan kita. Materialism, kapitalisme, trans-nasionalisme dan sebagainya yang bisa merusak terhadap persatuan dan kesatuan bangsa. Harapan para generasi tua terhadap para wisudawan dan wisudawati adalah agar saudara menjadi bagian tidak terpisahkan dari upaya untuk terus menerus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, hari ini dan seterusnya.
Dengan demikian, tugas kita ke depan adalah bagaimana agar kaki kita tidak pernah bergeser dari makna Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa, yaitu Indonesia. Dengan menjadi warga Indonesia, berarti kita menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari Bangsa Indonesia yang kita cintai ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PENGHARGAAN UNTUK MITRA STRATEGIS PENYELENGGARAAN HAJI

PENGHARGAAN UNTUK MITRA STRATEGIS PENYELENGGARAAN HAJI
Berbeda dengan tahun lalu, maka tahun ini banyak diwarnai dengan upaya membangun sinergi dengan mitra strategis terutama di Arab Saudi untuk kesuksesan jamaah haji Indonesia.
Di dalam kerangka membangun soft diplomacy ini, maka PPIH menyelenggarakan sebuah acara yang sangat menarik, yaitu “Ceremony of Appreciation to The Partners Serving of Guests of Allah 1437 H/2016 M Award, yang diselenggarakan di Kantor Misi Haji Jeddah. Acara ini merupakan pertama kali diselenggarakan oleh PPIH Arab Saudi dalam kerangka memberikan apresiasi terhadap mitra pemerintah di dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Acara ini dihadiri oleh Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh Republik Indonesia, Agus Maftuh Abegebriel, Duta Besar Urusan Haji Asia, Dr. Mohammad Thoyyib, Konsul Jenderal RI di Jeddah, Sekjen Kemenag, Para Pejabat Eselon II Kemenag, Ketua PPIH Arab Saudi, Ketua Daker Makkah dan Madinah, segenap jajaran Daker dan para pemenang Award.
Pihak Indonesia diwakili oleh Dubes RI untuk Arab Saudi dan pihak Arab Saudi diwakili oleh Direktur Jenderal Urusan Luar Negeri di Mekkah, serta pimpinan Muassasah Asia Tenggara. Di dalam sambutannya, Pak Maftuh menyampaikan bahwa antara Arab Saudi dan Indonesia adalah dua Negara dengan prinsip yang sama yaitu membangun umat Islam Sunni. Sebagaimana diketahui bahwa Raja Salman ahli Saud adalah pimpinan tertinggi Saudi Arabia yang terus menggelorakan semangat Islam sunni di seluruh dunia. Sebagai khadimul Haramain, maka Raja Salman telah memberikan teladan bagaimana Islam Sunni tersebut harus dijadikan sebagai pegangan untuk meraih kejayaan di dunia sekarang ini.
Pak Dubes yang pandai mengambil hati pimpinan Arab Saudi ini juga menyatakan bahwa Arab Saudi merupakan negeri kedua sesudah tanah air Indonesia. Semenjak pendidikan madrasah para siswa sudah diajarkan tentang Arab Saudi dan segenap pemimpinnya. Bahkan bangsa Indonesia juga merupakan bangsa yang sangat mencintai Rasulullah Muhammad saw. Sejarah kehidupannya dipahami dan ajaran agamanya dilakukan sesuai dengan yang dilakukan di Arab Saudi. Untuk meyakinkan pemerintah Saudi, bahkan Pak Dubes juga membacakan syair di dalam Lagu Kebangsaan Arab Saudi. Makanya, kala Beliau berpidato beberapa kali memperoleh tepuk tangan dari audience acara ini.
Selain itu beliau juga menyampaikan konsep diplomacy yang disebutnya sebagai Aranesia Axis, atau sumbu Arab Saudi dan Indonesia, yang ke depan akan menjadi model membangun diplomacy yang baik dalam kesepahaman. Makanya, Dubes RI di Arab Saudi dan Dubes Arab Saudi di Indonesia memiliki tugas bersama untuk membangun kebersamaan dalam membangun kedua Negara secara bersama-sama.
Pada giliran Dubes Urusan Haji, Mohammad Thoyyib lalu memuji bahwa belum pernah ada Dubes Indonesia yang hafal lagu kebangsaan Arab Saudi seperti Pak Abu Jibril. Dubes ini juga menyatakan bahwa hubungan Indonesia dan Arab Saudi sudah terjalin sangat lama. Indonesia sebagai Negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam adalah Negara yang paling banyak mengirimkan jamaah hajinya. Jamaah haji Indonesia dikenal sebagai jamaah haji yang sopan, dan berperilaku sangat baik.
Dalam kunjungan ke Indonesia, diketahui bahwa setiap hari Kamis dilakukan kegiatan membaca Al Qur’an di berbagai tempat dan ketika beliau bertemu dengan Ustadz Yusuf Mansur juga diketahui bahwa di Indonesia sedang digalakkan program tahfidz Al Qur’an, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Beliau sangat mengapresiasi terhadap perkembangan Islam Indonesia yang bersama-sama dengan Saudi Arabia untuk menegakkan Islam Sunni yang dicintai oleh kedua bangsa ini.
Acara ini menjadi sangat menarik sebab diberikan penghargaan kepada semua mitra strategis yang memberikan sumbangan signifikan bagi terselenggaranya ibadah haji bagi masyarakat Indonesia. Pak Dubes, saya dan Pak Herry yang diminta untuk menyerahkan hadiah atau penghargaan kepada para pemenang. Award ini diberikan berdasarkan atas penilaian yang dilakukan oleh tim PPIH Arab Saudi. Ada sebanyak tiga kategori: yaitu Instansi Pemerintah, Penyedia Layanan dan Individu. Penerima penghargaan Instansi Pemerintah, yaitu: Muasasah Asia Tenggara, Maktab Wukala, Muassasah Adilla, Kepolisian Masjidil Harom, Kepolisian Masjid Nabawi, Pertahanan Sipil, Naqobah Ammah lissayyarat, GACA, Satuan Pengaman Bandara Madinah, Satuan Pengaman Bandara Jeddah, Wakil Menteri Haji dan Umrah Bidang Haji, Wakil Menteri Haji dan Umrah bidang Transportasi, Wakil Menteri Haji dan Umrah bidang Umrah dan IT, Direktur Penanggung Jawab Program e-Hajj, Deputy Menteri Haji Cabang Madinah, Deputi Menteri Haji Cabang Jeddah, Maktab Indonesia Muassasah Adilla.
Untuk kategori Layanan, yaitu: Muassasah Ragaib, Andalus, Muassasah Armina, Maktab 15, Hotel Dar Hadi, Maktab 60 Sektor 1, Maktab 66 Sektor 2, Maktab 55 Sektor 3, Maktab 47 Sektor 4, Maktab 16 Sektor 7, Maktab 31 Sektor 8, Maktab 35 Sektor 9 dan Muassasah Al Zahra al Mutamayyizah li Annaqi. Sedangkan penerima penghargaan individu, yaitu: Muhammad Amin bin Hasan Indragiri, Walid bin Muhammad Rasyidi, Shofi bin Abdurrahman Azhari, Yusuf bin Abdul Hamid Jaha, Usman bin Hasan Idris dan Dr. Bandar bin Fadil Assulamaini.
Penghargaan ini memang diberikan kepada mereka yang dianggap memiliki kontribusi besar di dalam keberhasilan penyelenggaraan haji tahun 2016. Melalui penghargaan yang ditandatangani oleh Menteri Agama ini, sesungguhnya untuk menegaskan bahwa kerjasama yang dibangun oleh Pemerintah Indonesia dengan para pemangku kepentingan di Arab Saudi berjalan dengan sangat baik dan berhasil guna.
Wallahu a’lam bi al shawab.