Kemarin, 17 April 2010, saya berkesempatan untuk menghadiri acara pertemuan Paguyuban PTAIN Jawa Timur dan NTB yang terdiri dari Rektor UIN dan IAIN, serta Ketua STAIN di STAIN Pamekasan. Tentu yang hadir tidak hanya rector dan ketua saja, tetapi juga pembantu rector dan pimpinan STAIN Pamekasan. Acara ini sudah berlangsung cukup lama dan tahun kemarin diselenggarakan di IAIN Mataram. Peguyuban ini merupakan forum PTAIN yang dahulu merupakan cabang IAIN Sunan Ampel, yaitu STAIN Malang, STAIN Ponorogo, STAIN Kediri, STAIN Pamekasan, STAIN Tulungagung, STAIN Jember dan STAIN Mataram. Meskipun sekarang sudah menjadi PTAIN yang berdiri sendiri, bahkan sudah ada yang menjadi UIN seperti UIN Malang, menjadi IAIN seperti IAIN Mataram dan masih ada yang tetap menjadi STAIN, namun tali ikatan silaturahmi itu tetap dijaga. (more..)
Daerah Priok Jakarta, memang pernah menjadi saksi kerusuhan social di era orde baru. Kita tentu masih ingat peristiwa kerusuhan social yang dipicu oleh gerakan Islam radikal, yang di era orde baru dianggap sebagai gerakan yang memang tidak boleh muncul apalagi berkembang di Indonesia. Era orde baru adalah era di mana gerakan-gerakan Islam atau lainnya yang mengusung anti pemerintah dibabat habis. Tentu masih dapat diingat adanya gerakan Komando Jihad, Gerakan Warsidi, Gerakan Priok dan sebagainya yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah waktu itu. (more..)
Andaikan Baghdad sebagai pusat paradaban Islam tidak dihancurkan oleh pasukan Mongol dibawah Hulagu Khan, maka mercu suar ilmu keislaman akan jauh lebih maju dibandingkan sekarang. Bisa jadi dikhotomi ilmu pengetahuan seperti sekarang juga tidak terlihat sangat kuat. Akan tetapi keunikannya, bahwa para penakluk kekhalifahan Islam ini justru kemudian menjadi pengikut Islam yang setia dan menjadi penyebar Islam di wilayah-wilayah Asia Tengah, Timur dan Selatan. Hanya sayangnya, memang penghargaan kepada ilmu pengetahuan tidak seperti zaman-zaman Khalifah Harun al Rasyid dari Bani Abbasiyah yang memang menggilai pengembangan ilmu pengetahuan sedemikian rupa. (more..)
Seperti yang saya tulis kemarin, bahwa sudah selayaknya masyarakat Islam memiliki rasa cinta dan rasa memiliki terhadap Islamic studies. Mengapa harus begitu? Sebab sebagai umat Islam sudah seharusnya jika di dalam dirinya terdapat rasa seperti itu. Bukankah kita ini memahami Islam dalam relasinya dengan kehidupan secara keseluruhan, karena kajian-kajian yang pernah dilakukan oleh para ilmuwan Islam di masa lalu. (more..)
Ada cerita menarik yang disampaikan oleh Pendeta Simon Filantropa dalam seminar sehari tentang “Membangun Kerukunan di tengah Keragaman”, di Aula Universitas Bhayangkara, dengan Ibu-ibu Muslimat, Senin, 29/03/2010. Beliau mengungkapkan tentang pentingnya melakukan gerakan mandi yang lebih irit, tidak memubadzirkan air. Yaitu Gerakan Mandi Sembilan Gayung. (more..)