Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MARAH ATAS MELANGGAR LARANGAN (77)

MARAH ATAS MELANGGAR LARANGAN  (77)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Hakikat agama itu terletak pada dua hal, yaitu perintah melakukan kebaikan dan melarang melakukan kejelekan. Allah itu menghendaki agar manusia melakukan kebaikan dalam dua corak, yaitu kebaikan yang dilaksanakan dengan keikhlasan dan bukan keterpaksaan, dan larangan berbuat yang mengandung unsur kejahatan. Di dalam konteks agama disebut sebagai amar ma’ruf dan nahi mungkar”.

Di dalam Islam terdapat perintah untuk berhubungan dengan Allah melalui serangkaian upacara keagamaan, seperti tercantum di dalam rukun Islam,  membaca syahadat, menjalankan shalat, membayar zakat, melakukan puasa, dan melaksanakan haji bagi  yang mampu. Dan juga banyak tindakan kebaikan yang ditujukan kepada sesama manusia atau bahkan alam. Islam mengajarkan tidak hanya berbuat kebaikan untuk Allah dalam bentuk ritual-ritual yang wajib maupun yang sunnah, akan tetapi juga berbuat baik kepada sesama manusia, misalnya melalui sedekah, infak atau zakat untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya kaum fakir dan miskin. Termasuk tampilan perilaku yang dapat menyenangkan orang lain. Bahkan juga berbuat baik terhadap alam. Tidak merusak dan memusnahkan alam. Contoh lain adalah merusak hutan atau illegal logging. Hal ini dilarang oleh Islam.

Islam juga mengajarkan bahwa terhadap orang yang melakukan pelanggaran atas perintah berbuat baik atau melakukan tindakan pelanggaran atas larangan-larangan yang sudah Allah tetapkan dengan cara yang wajar. Marah ini tidak dalam bentuk berkata kasar, memarah-marahi di depan banyak orang, akan tetapi marah di dalam konteks ini adalah dengan mengingatkannya karena perbuatan tersebut tidak layak dilakukan. Marah yang terbaik itu dilakukan secara personal dan bukan  di depan umum. Jika terpaksa dilakukan di depan umum, maka bikinlah kasusnya itu sekan-akan bukan di tempat itu. Pasti ada caranya.

Di dalam Bab 76, Syekh imam An Nawawi menjelaskan tentang “Marah Karena Larangan-larangan Allah Ta’ala dilanggar dan Membantu untuk Kemenangan Agama Allah”. Pada bab ini Syekh Imam An nawawi menjelaskan tentang bagaimana kita boleh marah jika melihat atas larangan Allah dilanggar. Selain itu juga menjelaskan tentang bagaimana kita membantu untuk kemenangan Agama Allah.

Ada beberapa ayat yang dinukil oleh Imam An Nawawi  sebagaimana tercantum di dalam Surat Al Hajj: 30, bahwa “Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa mengangungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya”. Ayat lain, dalam Surat Muhammad: 7, difirmankan: “…jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

Ada beberapa hadits yang dinukil oleh Syekh Imam An Nawawi, sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Mas’ud  Uqbah bin Amr Al Badri: “ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah SAW dan berkata: ‘saya terpaksa mundur dari jamaah salat shubuh, karena si Pulan memanjangkan bacaan shalatnya’. Saya belum pernah melihat Nabi SAW marah ketika memberi nasehat, melebihi saat itu. Beliau bersabda: “wahai sekalian manusia, sesungguhnya ada di antara kalian yang menjadikan dirinya berpaling. Siapa saja di antara kalian  yang menjadi imam, hendaklah memperpendek bacaan, karena di belakangnya ada orang tua, anak kecil dan ada orang yang mempunyai keperluan lain”. Hadits riwayat  Mutafaq alaih.

Hadits lain menyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA., berkata: “Rasulullah SAW yang datang dari bepergian sedangkan di rumah saya terpasang tabir yang terdapat gambar boneka. Setelah Rasulullah SAW melihatnya, berubahlah wajah Beliau. Sambil menurunkan tabir Nabi SAW bersabda: “wahai Aisyah, manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah siapa yang menyamai ciptaannya”. Hadits riwayat Mutafaq alaih.

Ada juga hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Anas RA., bahwa Nabi SAW melihat dahak di kiblat. Melihat hal itu Beliau tidak senang hingga wajahnya berubah, lalu Beliau berdiri dan membersihkan dengan tangannya, seraya bersabda: “apabila salah seorang di antara kalian sedang mengerjakan shalat, berarti dia sedang bermunajat dengan rabbnya. Dengan rabbnya berada di antara ia dan kiblat. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblat, melainkan ke arah kiri atau bawah kaki”. Kemudian Beliau mengambil ujung serbannya dan meludah padanya serta melipat-lipat sebagian sorban itu dengan bagian lain seraya bersabda: “atau lakukanlah seperti ini”. Hadits riwayat Shahihain.

Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW., maka dapat diperdalam dengan tiga hal, yaitu:

Pertama, marah itu diperbolehkan tetapi tidak sembarang sikap dan perilaku yang bisa dijadikan alasan untuk marah. Di antara yang diperkenankan adalah marah melihat perilaku kejahatan. Jika terdapat kemungkaran, maka orang boleh melakukan upaya untuk mengubahnya. Jika terdapat perilaku yang bertentangan dengan kebaikan, maka orang boleh marah dengan mengingatkannya. Dinyatakan dalam sebuah hadits, bahwa jika melihat kemungkaran maka hendaknya mengubahnya dengan kekuasaan, jika tidak bisa hendaknya melakukannya dengan lesan dan jika tidak bisa hendaknya melakukan dengan doa. Tentu ada tata caranya untuk “marah” yaitu agar tetap berbasis pada perilaku yang mengandung kebaikan. Bukan dengan cara yang sembarangan.

Kedua, jika Nabi SAW tidak suka atas sesuatu yang dilakukan oleh sahabatnya, maka hanya tampak di wajahnya dan bukan dalam ucapan yang menyakitkan apalagi membuat sahabatnya merasa dipersalahkannya. Jika ada sesuatu sebagaimana hadits tentang imam yang memperpanjang shalatnya sehingga ada jamaah yang keluar dari barisan jamaah, maka Nabi SAW lalu mengingatkannya. Tidak memarahinya. Nabi memberikan peringatan agar jangan melakukan hal yang serupa. Jamaah di dalam shalat itu bermacam-macam keperluannya, maka lakukan salat sesuai dan memperhatikan atas kepentingan jamaah.

Ketiga, Nabi SAW adalah teladan di dalam kebersihan. Maka jika ada sesuatu yang tidak bersih, sebagaimana ludah di tempat di dekat Ka’bah, maka Beliau membersihkannya sendiri dan memberi contoh bagaimana seharusnya perilaku yang ditampilkannya. Nabi SAW tidak menampakkan kemarahan dalam bentuk kata, hanya sekilas di wajahnya tampak ketidaksukaannya. Begitulah Nabi SAW mengajarkan tentang bagaimana seharusnya perilaku yang ditampilkan dan bagaimana seharusnya melakukannya.

Umat Islam, sebagaimana pesan Alqur’an, bahwa umat Islam harus mengagungkan ajaran Islam dengan cara melakukannya sebagaimana pesan di dalam teks Alqur’an dan teks hadits Nabi SAW. Namun demikian, umat Islam tidak diperkenankan untuk saling mengklaim kebenaran atas kelompoknya sendiri. Umat Islam harus memahami bahwa ajaran Islam itu tidak anti atas perbedaan, selama perbedaan tersebut masih tetap berada di dalam substansi  ajaran Islam yang benar.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENAHAN DIRI DARI YANG MENYAKITKAN (76)

MENAHAN DIRI DARI YANG MENYAKITKAN (76)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh seseorang adalah bagaimana menahan untuk terus berbuat baik sebab  yang dilakukan itu tidak mendapatkan respon yang memadai dari orang yang telah dilakukan kebaikan. Alih-alih memberikan respon positif, bahkan yang terasa janggal adalah menduga perbuatan itu dilakukan sebab ada motif-motif tersembunyi di dalamnya.

Memang di dalam kehidupan sosial itu selalu ada intensi atau maksud yang diinginkan oleh orang yang melakukan tindakan tersebut. Manusia dipastikan memiliki keinginan tertentu di dalam kehidupannya, terutama tindakan yang ditujukan kepada orang lain. Tetapi tidak semua intensi itu jelek, bahkan ada tujuan yang baik. Misalnya memberi pertolongan tanpa pamrih apapun. Sebuah pemberian yang dilakukan dengan ikhlas, tanpa ada keinginan yang dapat merusak niat baik dimaksud.

Sesungguhnya manusia itu memiliki kebutuhan akan mengakuan. Yaitu pengakuan yang diberikan oleh seseorang yang baginya pernah melakukan kebaikan. Apapun dan seberapapun kebaikan tersebut. Makanya di kala seseorang telah melakukan kebaikan kemudian nyaris tidak diakuinya, bahkan dituduh sebagai upaya untuk tujuan tertentu, maka akan menyakitkannya.

Memang juga tidak dapat diabaikan bahwa seseorang melakukan kebaikan itu karena ada tujuan tertentu. Di dalam peribahasa disebut “ada udang dibalik batu”. Ada maksud dan tujuan tertentu tersembunyi yang diinginkannya. Jadinya, pantas juga kalau orang yang diberi kebaikan itu lalu menimbang apa yang menjadi penyebab kebaikannya. Ada motif untuk memperoleh keuntungan dari tindakan tersebut yang bermakna duniawi.

Bahkan ada yang berpikir, di kala ada orang yang tiba-tiba berbuat baik, justru diupayakan kewaspadaan. Jangan-jangan ada maunya. Begitulah manusia dengan keanekaragaman keinginan, kebutuhan dan tujuan hidup yang memang terkadang sedemikian misterius, sebab memang manusia dengan kehidupannya, hati dan pikirannya, tidak dapat dipahami sedemikian gampang. Jadi memang diperlukan kehati-hatian.

Ayat Alqur’an yang dikutip oleh Syekh Imam An Nawawi adalah Surat Ali Imran: 134, yang menyatakan: “… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. Di dalam Surat Asy Syuara’: 43 dinyatakan: “Namun orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.

Juga terdapat beberaoa hadits, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa seseorang mengadu kepada Rasulullah SAW: ‘sesungguhnya saya mempunyai kerabat. Saya selalu menyambung hubungan dengan mereka, tetapi mereka memutuskannya. Saya selalu berbuat baik kepada mereka tetapi mereka membalasnya dengan berbuat jahat. Saya selalu menyantuni mereka tetapi mereka tidak tahu diri’. Kemudian Beliau bersabda: “seandainya kamu seperti yang kamu katakan, maka seolah-olah kamu menaburkan  abu panas kepada mereka dan kamu akan selalu mendapat pertolongan Allah ta’ala  karena perbuatan mereka, selama kamu masih tetap mengerjakan hal yang demikian”. Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dari beberapa ayat Alqur’an dan hadits yang dinukil oleh Syekh Imam An Nawawi, kiranya dapat dijelaskan di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam mengajarkan agar kita melakukan kebaikan bukan untuk tujuan duniawi semata, akan tetapi justru untuk kepentingan ukhrawi. Kepentingan ukhrawi itu jauh lebih penting. Kepentingan akhirat itu lebih baik dan abadi. Dunia itu hanya tempat singgah sementara, rata-rata manusia hidup di dunia itu kira-kira 80 tahun. Memang ada yang melebihi 100 tahun, akan tetapi jumlahnya sangatlah sedikit. Padahal kehidupan akherat itu selama-lamanya. Ada yang menyatakan kekal tetapi tidak sebagaimana kekekalan Allah SWT yang tidak terhingga. Oleh karena itu jika kita berbuat baik, maka agar diupayakan bahwa kebaikan tersebut bukan untuk dibayar dengan sanjungan atau pujian di dunia oleh manusia lainnya. Janganlah bangga disanjung orang dengan kebaikan yang bisa kita lakukan.

Kedua, sanjungan kepada kebaikan kita itu akan menjadikan kita merasa tersanjung dan lama-kelamaan akan menyebabkan adanya kesombongan yang tersembunyi. Lama kelamaan juga akan menjadi “penyakit hati”. Ada riya jahr dan ada riya sirr atau kesombongan ekspresif dan kesombongan tersembunyi. Inilah yang mesti kita sadari. Kita Harus hati-hati agar kebaikan tersebut akan memiliki makna spiritual atau makna ketuhanan.

Di dunia ini tentu ada orang yang “gila” hormat, “gila” pujian, “gila” pengakuan. Serba aku. Semua yang berhasil diakui sebagai produknya. Padahal sesungguhnya tidak ada keberhasilan atau kesuksesan yang datang dari orang perorang. Yang ada adalah keberhasilan karena kebersamaan. Succeding together. Jadi ada working together dan kemudian succeding together. Filsafat togetherness.  Para waliyullah adalah orang yang menyembunyikan diri. Kewaliannya tidak ditampakkan. Makanya, la ya’riful waliy illal waliy.  Tidak mengetahu siapa yang wali kecuali para wali. Jika kita berada di ruang begini, terkadang merasakan ketakutan, jangan-jangan kita termasuk orang yang suka menampakkan kebaikan dan keberhasilan

Ketiga, Allah sangat menyukai orang yang dapat menahan amarah dan suka berbuat kebaikan. Oleh karena itu, janganlah kita menjadi orang yang sedikit-sedikit marah. Jika ada orang yang bekerja dengan standar kurang lalu marah. Mari kita pahami, bahwa tidak semua orang dapat bekerja seperti kita. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Tidak semua orang secerdas kita, tidak semua orang sehebat kita. Maka marilah kita pahami bahwa tugas kemanusiaan kita adalah memahami agar kita tidak salah di dalam menilai orang lain. Jika kita bisa memahami orang lain, maka akan meluncur sikap dan perilaku untuk memaafkan yang kurang dan memuji yang berhasil dengan catatan tidak berlebihan agar tidak menimbulkan kesombongan baru.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMAAFKAN DAN BERPALING DARI PERILAKU KEBODOHAN (75)

MEMAAFKAN DAN BERPALING DARI PERILAKU KEBODOHAN (75)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada bab ke 75, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Memaafkan dan Berpaling dari orang Bodoh”, lalu saya ubah judulnya menjadi “Memaafkan dan berpaling dari perilaku kebodohan” yaitu suatu bab yang memberikan pemahaman kepada umat Islam tentang pentingnya sikap dan perilaku memaafkan dan agar kita menghindari orang yang berperilaku bodoh dalam kehidupannya. Mungkin ada sebuah pertanyaan, bagaimana kita harus menghindari orang yang bodoh, padahal sebagai sesama manusia tentu kita tidak boleh saling merendahkan dan saling menyepelekan.

Yang dimaksud dengan perilaku  bodoh adalah bodoh dalam keyakinan dan pengamalan keagamaannya. Orang yang sudah jelas mendapatkan keterangan tentang agama Islam, sudah mendapatkan penjelasan yang memadai tentang Islam,  tetapi masih tetap saja di dalam perilakunya yang tidak sesuai dengan amalan-amalan keislaman. Sebagai contoh yang disebutkan di dalam Alqur’an adalah Abu Lahab. Lalu juga ada orang yang sudah mendapatkan penjelasan tentang Islam tetapi tetap menentang adalah Abu Jahal. Jadi bodoh tidak dimaksudkan sebagai orang yang memiliki IQ rendah, akan tetapi orang yang bodoh dalam memahami ajaran agama Islam.

Manusia memiliki akal yang dengan kemampuannya itu dapat memilih mana yang benar dan mana yang salah. Yang haq itu benar dan yang bathil itu salah. Jangan karena factor kekuasaan yang diperolehnya atau akan dicapainya kemudian kita menggunakan kebodohan untuk memilih yang salah dan mengabaikan yang benar. Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW, orang tua Sayyidina Ali adalah orang yang pintar dan memiliki kekuasaan. Akan tetapi karena takut dicela oleh orang lain yang dikuasainya, maka Abu Thalib mengabaikan ajakan Nabi Muhammad SAW. Bahkan sampai wafatnya, dia enggan dan tidak mau untuk membaca kalimat tauhid dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini yang membuat Nabi Muhammad SAW sedih sebab orang yang sangat mencintai dan melindunginya itu wafat dalam keadaan belum bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan dan menguasai seluruh jagad raya.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan berdasarkan ayat Alqur’an di dalam Surat Al A’raf: 199, yang artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”. Di dalam Surat Al Hijr: 85 dinyatakan: “Maka maafkanlah (mereka)  dengan cara yang baik”. Di ayat lain, Surat Asy Syura: 43 dinyatakan: “tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, maka yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, menyatakan: “Rasulullah SAW tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, baik istri maupun pembantunya, kecuali di dalam berjihad di jalan Allah, dan Nabi SAW  sama sekali tidak pernah membalas orang yang mengganggunya, kecuali apabila apa yang telah diharamkan Allah itu dilanggar, maka Nabi SAW  semata-mata membalasnya karena Allah”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Lalu juga ada hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Mas’ud RA, berkata: “sepertinya aku melihat Rasulullah SAW saat menceritakan perihal salah seorang Nabi shalawatullah wa salamuhu alaihim yang dipukul oleh kaumnya sampai berlumuran darah, sambil mengusap darah dari wajahnya dan dia berkata: ‘Allahummaghfir li qaumi fa innahum la ya’lamun’ (Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui)”. Juga terdapat Hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “orang yang kuat itu bukan orang yang memiliki kekuatan kecepatan, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu untuk menahan dirinya sewaktu marah”. Hadits Riwayat Shahihain.

Dari uraian di atas, kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah itu maha pemaaf dan pengampun. Representasi manusia pemaaf dan pengampun adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliaulah yang dijadikan sebagai teladan dan seluruh kebaikan yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Sebagai manusia maka memerlukan contoh mana perilaku yang baik dan benar dan mana perilaku yang jelek dan salah. Semua sifat kebaikan Allah SWT itu direpresentasikan oleh kehadiran Nabi Muhammad  SAW untuk hambanya. Jika orang bertanya tentang kebaikan Allah SWT kepada hambanya, maka hal itu terwakili oleh kehadiran Nabi Muhammad SAW. Beliau orang yang tidak pernah marah kepada istri dan orang lain. Beliau memaafkan kesalahan orang lain, dan bahkan  di kala Malaikat Jibril akan menjepit orang Thaif dengan dua gunung  karena melukai Nabi Muhammad SAW,  maka Nabi SAW melarangnya sebab tugas kenabian bukan untuk menghukum tetapi menyadarkannya kepada agama Islam.

Kedua, di dunia ini ada dua penggolongan atas manusia yang menerima kehadiran Nabi Muhammad SAW dengan ajaran Islamnya. Ada sebagian yang pintar atau cerdas dengan menerima ajaran Islam dan ada yang bodoh karena tidak menerima ajaran Islam. Orang yang pintar itu adalah as sabiqunal awwalun atau 40 orang pertama yang beriman kepada Allah dan kerasulan Muhammad SAW.   Di antaranya adalah Sayyidina Abu Bakar as Shiddiq. Abu Bakar RA adalah orang yang tidak ada sedikitpun keraguan untuk menerima kebenaran yang datangnya dari Nabi Muhammad SAW. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang tidak masuk akal bagi sebagian orang langsung dibenarkannya tanpa keraguan. Sedangkan orang yang bodoh adalah mereka yang menentang Nabi Muhammad SAW sampai ajalnya. Abu Jahal dan Abu Lahab adalah representasi orang yang bodoh dalam menerima kebenaran Tuhan. Hingga hari ini masih sangat banyak orang yang pintar tetapi bodoh karena tidak mengimani Allah SWT dan mengakui Kenabian Muhammad SAW.

Ketiga, sabar dan maaf adalah dua kata yang sedemikian indah. Orang yang hebat dan kuat adalah orang yang mampu menahan nafsu amarahnya. Janganlah sedikit-sedikit marah dan janganlah apa saja yang kurang dijadikan sebagai sebab kemarahan. Nabi Muhammad SAW tidak pernah marah karena kekurangan yang dilakukan oleh pembantunya. Bukan bertanya kenapa tidak begini dan begitu dalam urusan keduniawian. Akan tetapi Nabi Muhammad SAW sangat tegas dalam menegakkan kalimat Allah dalam kebaikan.

Oleh karena itu ada trilogy penting, yaitu “Sabar, Pemaaf dan Kebaikan”. Secara proposisional dapat saya nyatakan bahwa “ perilaku kebaikan itu sangat tergantung kepada kesabaran dan kepemaafan. Jika umat Islam bisa melakukannya, maka harmoni kehidupan pasti akan menjelang.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

SABAR, MURAH HATI DAN LEMAH LEMBUT (74)

SABAR, MURAH HATI DAN LEMAH LEMBUT (74)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab ini, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Sabar, Murah Hati dan Lemah Lembut”, sebagai sikap dan perilaku umat Islam yang mesti ditampilkannya. Seseorang akan dinilai baik oleh orang lain tentu dari sikap dan tindakannya di dalam menghadapi kehidupan dengan kebaikan. Di  sisi lain, seseorang dianggap buruk perilakunya jika tampilan sikap dan tindakannya menggambarkan tentang keburukan.

Problem social dewasa ini sungguh luar biasa. Ada banyak masalah yang dihadapi oleh manusia di dalam kehidupannya. Relasi social yang tidak seimbang, relasi psikhologis yang tertekan, relasi social politik yang saling menihilkan dan bahkan juga kekuasaan yang meminggirkan atas orang lain. Belum lagi perubahan social yang cepat atau disebut sebagai volatility, sesuatu yang tidak jelas atau uncertenty, atau serba komplek atau complexity dan juga sesuatu yang ambivalen, sulit dipilih karena irisannya yang tipis dan tampak susah dibedakan. Semua ini menumbuhkan berbagai respon social yang tidak nyaman.

Sesungguhnya kita hidup di era di mana batas antara yang kebaikan dan keburukan itu sangat tipis. Ada perbuatan yang kita sangka baik ternyata mengandung dimensi keburukan. Perbuatan yang di luar tampak baik tetapi ternyata membawa di dalamnya keburukan. Itulah yang disebut sebagai ambivalen. Perbuatan yang dilakukan salah ditinggalkan juga bermasalah.

Di dalam kehidupan social ekonomi kerumitan itu semakin nyata. Terbatasnya akses ekonomi membuat orang lupa diri. Semuanya akan dilakukan yang terpenting mendapatkan akses ekonomi. Di tengah sulitnya mencari peluang pekerjaan, maka orang bisa saja membayar agar dapat akses pekerjaan. Di tengah sulitnya mendapatkan uang, orang akan berbuat apa saja untuk memperolehnya. Jadilah mereka berlaku permissiveness.

Belum lagi dimensi politik. Orang juga bisa menghalalkan cara agar akses politik terbuka untuknya. Tidak salah jika kemudian muncul tindakan permissive. Salah satu di antaranya adalah dengan melakukan tindakan money politics. Semua yang ingin memiliki akses di bidang politik maka harus melakukan tindakan serba boleh seperti ini. Akibatnya, jika akses sudah terbuka maka yang dilakukannya adalah upaya untuk mengembalikan modal politik yang sudah dikeluarkannya. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman tentang bagaimana bersikap dan berbuat sabar di dalam menghadapi semua ini.

Syekh Imam An Nawawi RA, menukil Kitab Suci Alqur’anul karim di dalam Surat Ali Imran: 134, yang artinya: “dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Di dalam Surat Al A’raf: 199, Allah berfirman: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”.  Di  dalam Surat yang lain, Asy Syu’ara: 43, dinyatakan: “tetapi barang siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia”.

Hadits Nabi SAW yang dinukil adalah hadits yang diriwayatkan oleh A’isyah RA., dia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan”. (Hadits Riwayat Shahihain). Kemudian pada hadits yang lain juga diriwayatkan oleh A’isyah RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu lembut dan senang dengan kelembutan. Dia akan memberikan kepada orang yang lembut apa yang tidak diberikannya kepada orang lain kepada orang yang kasar, dan juga apa yang tidak diberikan kepada selainnya”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Lalu hadits yang diriwayatkan oleh Anas RA., bahwa Nabi SAW bersabda: “permudahlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan menakut-nakuti”. Hadits Riwayat Shahihain.

Islam mengajarkan agar seseorang berbuat sabar, saling mengasihi, dan berbuat yang lemah lembut. Dari kajian di atas dapat ditegaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama, kesabaran, murah hati dan lemah lembut bukan hanya bakat tetapi pengalaman kehidupan. Kesabaran tidak datang dengan sendirinya, akan tetapi melalui pelatihan dan eksperimen berkali-kali. Orang juga tidak bisa sabar dalam semua urusan. Terkadang parsial. Yang ini sabar dan yang itu tidak sabar. Begitulah. Bahkan orang juga tidak bisa sabar dalam semua urusan relasi social. Ada yang selalu mengganjal hatinya untuk sabar menghadapi sesuatu yang membuatnya susah. Orang terkadang bisa memaafkan tetapi tidak bisa melupakan. Inilah dinamika kemanusiaan yang kita hadapi dewasa ini.

Inilah arti penting latihan kesabaran. Bukan sesuatu yang sim salabim. Harus terus menerus dipupuk dan dilatih agar kesabaran itu menjadi bagian di dalam kehidupan. Yang penting jangan setengah-setengah. Upayakan kita dapat  bersabar di dalam menghadapi situasi apapun.

Kedua, murah hati adalah sikap dan perilaku yang sangat terpuji. Seseorang yang memiliki sikap dan perilaku murah hati, tidak hanya dicintai oleh manusia akan tetapi juga disayangi oleh Allah, para Nabi dan para Malaikat. Murah hati ditandai dengan hati yang terbuka atas kebaikan dan kesalahan orang lain. Suka memaafkan atas kesalahan orang lain bagi yang berkenginan untuk dimaafkan. Ada orang yang berbuat kejelekan atas orang lain akan tetapi tidak merasa melakukannya. Orang seperti ini tentu tidak akan memiliki kemauan untuk meminta maaf. Inilah lawan dari murah hati yaitu tinggi hati. Selain itu juga ditandai dengan suka menyayangi atas orang lain, dan bahkan makhluk lainnya. Jika kita menyayangi yang di bumi, maka akan disayangi oleh yang di langit. Allah, rasul dan malaikat akan menyayanginya.

Ketiga, orang yang disayangi Allah adalah orang yang lemah lembut. Biasanya dalam sikap dan perkataan. Yang dikembangkan adalah sikap dan ucapan yang memuliakan manusia, yang ucapannya lembut sehingga membuat orang lain menyukainya dan ucapan yang membahagiakan orang lain. Islam telah mengajarkan prinsip-prinsip untuk bertutur kata yang baik dan penuh dengan kasih sayang. Bukan perkataan yang penuh caci maki, yang menyusahkan orang lain dan membuat kesulitan bagi orang lain.

Islam sungguh merupakan agama yang memberikan panduan yang komplit di dalam relasi social dan relasi kemanusiaan. Jika kita dapat melakukannya, maka harmoni social akan menjadi kenyataan yang jelas.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BERBUDI PEKERTI YANG BAIK (73)

BERBUDI PEKERTI YANG BAIK (73)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pernah pemerintah Indonesia, 2009-2014, memiliki tujuan Pendidikan adalah untuk mencetak anak Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Tujuan Pendidikan bagi anak Indonesia adalah menghasilkan manusia yang cerdas, terutama cerdas otaknya atau cerdas pikirannya, dan memiliki kemampuan untuk berkompetisi di era perubahan social yang semakin mengedepan.

Coba kita cermati dua frasa “cerdas dan kompetitif”. Dua konsep ini tentu sangat luar biasa. Manusia yang memenuhi kriteria hebat. Cerdas otaknya dan kompetitif dalam dunia global. Cerdas  dan kompetitif itu penting dan bahkan urgen. Pemimpin negara dan masyarakat mana yang tidak terkesima membaca hal ini.  Karena dua kata ini yang dapat menaklukkan dunia materi yang memang membutuhkan keduanya.

Akan tetapi ada satu hal yang dilupakan di dalam penetapan rumusan tujuan pendidikan, yaitu mencetak manusia berakhlak mulia. Padahal inilah sebenarnya kata kuci penting untuk mencetak manusia Indonesia. Cerdas, kompetitif dan berakhlak mulia. Orang cerdas dan kompetitif tetapi tidak berakhlak mulia bisa membahayakan di masa depan. Ada banyak orang cerdas dan kompetitif, akan tetapi bermasalah dalam kehidupannya, sebab tidak didasari oleh budi pekerti yang baik. Kiranya dapat digambarkan bahwa ada banyak korupsi yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia disebabkan oleh rendahnya akhlak masyarakat. Bisa jadi mereka memahami agama tetapi tidak mewujud di dalam perilakunya.

Berdasarkan penjelasan Syekh Imam An Nawawi, maka dapat dipahami bahwa umat Islam harus berbudi yang baik berbasis pada ajaran Islam. Ada beberapa ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW yang dijadikan sebagai dasar atas penjelasannya, yaitu sebagaimana di dalam

Alqur’an  Surat Al Qalam: 4 dinyatakan bahwa: “dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi luhur”. Di dalam Surat lain, Ali Imran: 134,  bahwa: “dan orang-oang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Anas RA., berkata:  “Rasulullah SAW itu adalah orang yang paling baik budi pekertinya”. Hadits Riwayat Shahihain. Sahabat Anas RA., juga menyatakan: “saya belum pernah memegang sutra baik tebal maupun tipis yang lebih halus dari tangannya Rasulullah SAW. Dan saya belum pernah mencium bau seharum  bau Rasulullah. Saya pernah menjadi pelayan Rasulullah SAW selama 10 tahun, Beliau tidak pernah mengatakan “husy’ kepada saya atau menegur dengan ucapan, ‘kenapa kamu berbuat seperti ini? Terhadap yang saya kerjakan, beliau juga tidak pernah menegur dengan ucapan ‘kenapa kamu tidak berbuat demikian terhadap apa yang tidak saya kerjakan”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Al Ash, dikatakan: “Rasulullah itu bukan orang yang suka berkata keji dan bukan pula orang yang jahat. Bahkan beliau bersabda: “sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik budi pekertinya”. Hadits Riwayat mutafaq alaih. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Darda’ RA., Nabi SAW bersabda: “tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada baiknya budi pekerti. Dan sesungguhnya Allah itu membenci orang yang keji serta suka berkata kotor”. Hadits  Riwayat Imam At Tirmidzi.

Dari penjelasan  Syekh Imam An Nawawi dan penjelasan saya tentang pentingnya berbudi baik, maka ada tiga catatan yang penting, yaitu:

Pertama,  Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam akhlak. Perbuatan Beliau merupakan contoh bagi manusia dalam berhubungan dengan Allah, berhubungan dengan sesama manusia, dan berhubungan dengan alam. Bagaimana Nabi SAW beribadah kepada Allah, bahkan jika shalat sampai kakinya bengkak, bagaimana Rasulullah memberikan kasih sayang kepada keluarganya, sahabatnya, dan umat Islam. Banyak sekali cerita bagaimana sifat Rahman dan Rahim Allah itu diperankan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan juga kepada alam, bagaimana Nabi SAW memberikan kasih dan sayangnya. Di kala perang, maka yang diminta kepada pasukannya adalah jangan merusak tempat ibadah, jangan merusak kebun kurma, jangan merusak lingkungan, jangan merusak peternakan, jangan menyakiti kaum perempuan, orang tua dan anak-anak. Sebuah contoh bagaimana Nabi Muhammad SAW merupakan teladan dalam budi pekerti yang luhur.

Kedua, manusia selayaknya mencontoh apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Jangan kurang banyak dan jangan berlebih. Misalnya Nabi SAW pernah meminta kepada Salman al Farisi untuk tetap mengurus keluarganya dan jangan hanya berurusan dengan Allah. Masing-masing punya hak dan jangan tinggalkan salah satunya. Harus berimbang. Nabi SAW juga tidak pernah berkata yang menyakitkan orang lain. Tidak pernah berkata “husy” bahkan kepada orang yang membantunya,  juga Nabi tidak pernah menyalahkan atau merasa tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh orang yang membantunya. Begitu sayangnya kepada cucu-cucunya, Hasan dan Husein, maka Nabi SAW membiarkannya untuk bermain di antara kedua kaki pada saat shalat. Demikianlah Nabi Muhammad SAW menyeimbangkan kehidupan batiniah, kehidupan lahiriyah dan kehidupan social kemasyarakatan dalam keseimbangan yang luar biasa.

Ketiga, manusia sekarang sedang dihinggapi oleh penyakit yang berwujud ingin berkuasa, ingin kaya dan ingin memiliki segalanya, dan terkadang dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan akhlak social di dalam Islam. Manusia yang seperti ini, saya kira sudah saatnya untuk melakukan evaluasi diri di tengah kehidupannya, untuk menilik kembali atas prilakunya yang belum sesuai dengan ajaran Islam.

Marilah kita kembali kepada budi pekerti yang baik, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hanya dengan cara seperti ini, maka keseimbangan kehidupan di tengah masyarakat, negara dan bangsa akan terwujud.

Wallahu a’lam bi al shawab.