• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGINGAT KEMATIAN  (65)

MENGINGAT KEMATIAN  (65)

Prof. Dr. Nur Syam, MSI

Bismillahir rahmanir Rahim

Salah satu misteri kehidupan adalah kematian. Manusia  terlahir di dunia dan kemudian mati. Lahir, hidup dan mati. Ini merupakan rutinitas di dalam kehidupan manusia. Tidak ada satupun manusia yang tidak mengalami kematian, kecuali beberapa Nabi yang kemudian diangkat oleh Allah ke langit, misalnya Nabi Isa AS. Dia tidak mati di tiang Salib sebagaimana keyakinan orang Nasrani, yang beranggapan bahwa Isa AS., mati di tiang Salib dan kemudian dibangkitkan. Ajaran Islam menyatakan bahwa Nabi Isa AS bukan mati di tiang Salib tetapi diangkat Allah ke haribaannya. Ini sebuah eksepsi. Tetapi pada umumnya ada kelahiran, ada kehidupan dan ada kematian.

Mati merupakan takdir Tuhan yang azali atau takdir dengan tingkat presisi yang pasti dan tepat waktu. Salah satu takdir Tuhan yang pasti atau takdir mubram adalah kematian. Di dalam Alqur’an dinyatakan bahwa jika takdir kematian itu datang, maka tidak dapat diundur dan ditunda. Pasti akan mati dimanapun dan kapanpun. Allah memberikan tujuh aspek di dalam masa 40 hari terakhir atau saat mudghah dengan takdir, hasrat, hidup, ilmu, mendengar, melihat dan berbicara. Ketujuhnya itu dihembuskan oleh malaikat atas perintah Allah bersamaan atau beriringan dengan hembusan roh atas jasad atau mudghah yang sudah sempurna sebagai manusia.

Manusia harus menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan manusia itu ada batas akhirnya. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar manusia mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Ada dua saja yang diinginkan oleh ajaran Islam, yaitu beriman dan beramal shaleh. Ada orang yang beriman tetapi tidak beramal shaleh. Dan ada orang yang beramal shaleh tetapi tidak beriman. Inilah realitas kehidupan. Tentu yang benar adalah orang yang beriman kepada Allah dan seluruh atribut keimanan serta  kemudian mengamalkan amalan-amalan shalihan. Jika keduanya bisa dilakukan, maka itulah yang disebut sebagai orang yang bahagia di dunia dan akherat.

Syekh Imam An Nawawi mengutip ayat Alqur’an dan hadits-hadits Nabi SAW. Artikel ini menukil beberapa ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW yang sangat relevan dengan maksud tema kajian. Allah berfirman di dalam Surat Ali Imran: 185, bahwa: “Tiap-tiap orang yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari nerakan dan dimasukkan di dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan dan memperdayakan”.  Di dalam surat Al Lukman: 34, bahwa: “dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati”. Ayat Alqur’an juga menyatakan di dalam Surat An Nahl: 61, bahwa “…maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya walapun sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya”.

Hadits Nabi SAW  sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW menepuk bahuku lalu bersabda: “jadilah engkau di dunia itu seperti orang asing atau sebagai orang yang menyeberang jalan”. Ibnu Umar berkata: jika engkau berada di sore hari, maka janganlah engkau menunggu waktu pagi dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah engkau menunggu waktu sore. Ambillah kesempatan sewaktu engkau sehat untuk sakitmu dan sewaktu engkau masih hidup untuk matimu”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “bersegeralah kalian untuk melakukan amalan-amalan yang baik sebelum datangnya  tujuh perkara, apakah kalian tidak menantikan kecuali datangnya kefakiran yang melalaikan atau kekayaan yang menyebabkan kecurangan, atau sakit yang merusakkan tubuh atau tua yang menyebabkan kurangnya akal pikiran, atau kematian yang cepat, ataupun Dajjal, maka dia adalah seburuk-buruknya makhluk gaib yang dinantikan, atau datangnya hari kiamat, padahal kiamat itu adalah bencana terbesar serta yang terpahit deritanya”. Hadits Riwayat Imam Tirmizi. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah oleh kalian mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan, yaitu kematian” Hadits Riwayat Imam Attabarani.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat dipahami  dengan tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam sebagai agama  terakhir yang diturunkan kepada umat manusia merupakan agama yang lengkap. Agama yang mengajarkan agar manusia berpikir tentang kematian dan tidak hanya berpikir tentang keduniawian. Dengan berpikir tentang adanya kepastian dengan takdir yang pasti terjadi, maka akan dapat membawa pikiran dan kesadaran manusia untuk tidak merasa sebagai manusia yang paling hebat. Yang paling pintar, yang paling kaya, yang paling berhasil. Pikirannya  serba yang paling.

Manusia yang seperti ini akan dapat disebut  sebagai makhluk yang melecehkan Tuhan yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, dengan mengingat bahwa kematian itu selalu mengintip kehidupannya, maka manusia akan menjadi rendah hati, merasa tidak memiliki sesuatu yang lebih, merasa hanya sebutir debu yang tidak memiliki kapastitas lebih. Manusia yang menghormati yang tua dan memanusiakan yang muda. Yang menyayangi di bumi, sehingga kasih sayang di atas akan dapat diraihnya.

Kedua, sehebat-hebatnya manusia pasti ada kelemahannya. Sekuat-kuatnya manusia juga tidak akan dapat melawan takdir kematiannya. Tubuhnya tergeletak di bumi, rohnya melesat menuju alam lain, dan jiwanya lepas menuju mengikuti rohnya jika jiwanya baik, nafsul muthmainnah, tetapi jika jiwanya jelek atau nafsu amarah maka akan mengikuti jasadnya. Menjadi tidak berdaya. Melalui mengingat mati atau dzikrul maut, maka kita diajari agar di dalam hidup yang sangat terbatas tahunnya tersebut dimanfaatkan untuk hablum minallah yang seimbang dengan hablum nas dan bahkan juga hablum minal alam. Janganlah kita hanya beribadah untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga beribadah untuk kemanusiaan dan bahkan untuk alam. Manusia tidak hanya bertadabbur alam, akan tetapi juga bertadabbur insan.

Ketiga, jika kita baca ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW sebagaimana terurai di atas, maka manusia harus berpikir, berkesadaran dan bertindak kebaikan sebagai bekal untuk menyongsong kehidupan di alam barzah atau alam akhirat. Jika ini yang dipahami, maka manusia akan dapat menyelesaikan tugas kemanusiaannya secara seimbang dan bermakna. Marilah kita benar-benar  menyadari bahwa manusia itu bukan siapa-siapa. Manusia adalah makhluk yang lemah, bahkan tidak berdaya. Dan keberdayannya itu hanya karena kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

ORANG KAYA YANG BERSYUKUR (64)

ORANG KAYA YANG BERSYUKUR (64)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Tentu saja ada orang kaya yang bersyukur kepada Allah dan ada orang kaya yang tidak bersyukur kepada Allah. Jika dibandingkan, mana yang lebih banyak? Maka secara asumtif lebih banyak orang kaya yang tidak bersyukur. Orang-orang materialisme atau atheisme tentu tidak bersyukur kepada Tuhan, sebab mereka tidak percaya kepada Tuhan. Padahal jumlah mereka yang kaya dengan prinsip materialism dan atheism itu jumlahnya lebih banyak.

Bahkan juga ada orang yang beragama Islam, tetapi rasa syukurnya itu tipis sekali.

Sesungguhnya secara tipologis, bahwa orang itu menjadi kaya atau tidak sangat tergantung pada usaha yang dilakukannya. Itulah yang menyebabkan bahwa kekayaannya itu tidak ada factor Tuhan di dalamnya. Mereka beranggapan bahwa kekayaannya atau hartanya itu murni dari usaha keras yang dilakukannya. Ini merupakan kesalahan berpikir tingkat awal yang dapat menjadi penyebab kerusakan moralitas yang sangat mendasar. Sebab melalui cara berpikir seperti ini, maka akan menyebabkan seseorang menjadi kikir, sebuah perilaku yang dilarang oleh Rasulullah SAW.

Salah satu di antara tanda seseorang bersyukur atas harta yang diperoleh dengan benar adalah dengan melakukan amalan shalihan dalam berharta. Yaitu mengeluarkan untuk zakat, infaq dan shadaqah. Hati yang mudah terketuk untuk menolong merupakan salah satu indikasi awal, bahwa seseorang memiliki kecerdasan social yang tinggi. Dari sini kemudian menyebar kepada otak, hati dan seluruh tubuhnya untuk bergegas menolong atas orang yang membutuhkan pertolongan. Terutama menolong orang yang kekurangan, misalnya orang yang fakir, miskin dan orang yang belum beruntung kehidupannya.

Allah berfirman di dalam Surat Al Lail: 5-7, bahwa: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. Di dalam Surat Al Lail: 17-21,  bahwa: “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu. Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya. Padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasanya. Namun, (dia memberikan itu semata) karena mencari keridlaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapatkan kepuasan”.

Alqur’an juga menjelasakan di dalam Surat Al Baqarah: 271, bahwa: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu) maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Selain itu juga terdapat hadits Nabi SAW melalui cerita Abdullah bin Mas’ud RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak diperbolehkan iri melainkan atas dua hal, yaitu seseorang yang dikaruniai oleh Allah harta kemudian ia mempergunakannya dalam kebenaran dan seseorang yang dikaruniai oleh Allah ilmu pengetahuan, kemudian ia memberikan  keputusan dengan ilmunya ini serta mengajarkannya”. Hadits Riwayat Shahihain. Lalu juga ada hadits Nabi SAW yang diceritakan oleh Abdullah bin Mas’ud RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tidak diperbolehkan iri melainkan terhadap dua perkara, yaitu: seseorang yang dikaruniai oleh Allah kepandaian dalam Alqur’an kemudian dia suka bersembahyang dengan membaca Alqur’an itu pada waktu malam dan siang, serta seseorang yang dikaruniai oleh Allah harta lalu ia menafkahkannya pada waktu malam dan siang”. Hadits Shahihain.

Dari penjelasan atas Alqur’an dan hadits Nabi SAW, maka dapat dicatat tiga hal penting, yaitu:

Pertama, Allah memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas seseorang yang diberi kelebihan harta dan diperolehnya dan harta tersebut dengan benar atau sesuai dengan syariat Allah dan kemudian dinafkahkan  untuk kebaikan. Allah menjanjikan hambanya yang seperti itu dengan pahala Allah yakni surga. Sebuah tempat yang dijanjikan kepada orang yang beriman dan beramal shaleh.

Jika umat Islam mengamalkan ajaran seperti ini, dengan mengirimkan sebagian kecil hartanya untuk sedekah, infaq dan zakat serta wakaf, dan mengirimkannya kepada Lembaga-lembaga resmi pemerintah atau Lembaga zakat berizin yang mengelola hal tersebut, dan kemudian dapat ditasarufkan untuk kesejahteraan umat, maka akan didapatkan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

Kedua, bahkan Rasulullah SAW memberikan perkecualian atas perilaku yang di dalam banyak hal dilarang, yaitu iri atas perilaku lainnya dengan membolehkannya adalah iri atas amal kebaikan yang berupa orang kaya yang menafkahkan hartanya untuk kebaikan dan orang yang  berilmu dan ilmunya digunakan untuk menyebarkan agama Allah SWT. Orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu untuk kebaikan, maka seseorang yang seperti ini patut ditiru. Termasuk juga orang yang memiliki keahlian di dalam Alqur’an dan mengamalkannya untuk umat. Sebaik-baik orang adalah yang belajar Alqur’an dan mengajarkannya.

Ketiga, kesadaran untuk berinfaq, bersedkah dan berzakat Masyarakat Indonesia belum menggembirakan. Potensi  zakat itu besar sekali, akan tetapi yang bisa direalisasi masih sangat sedikit. Hal ini menandakan bahwa kesadaran untuk melakukan zakat masih rendah. Oleh karena itu literasi zakat mesti harus ditingkatkan agar target pencapaian zakat dapat dipenuhi.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

BERLOMBA UNTUK AKHERAT MELALUI  KEBERKAHAN (63)

BERLOMBA UNTUK AKHERAT MELALUI  KEBERKAHAN (63)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Kebanyakan manusia bukanlah berlomba-lomba untuk kepentingan akhirat. Untuk apa melakukan sesuatu yang ke depan tidak jelas. Akhirat itu urusan dunia yang akan datang, yang bisa ada dan bisa tidak. Akhirat itu dunia khayalan yang tidak jelas juntrungannya. Bagi orang yang berpaham materialisme, maka yang layak dipercaya itu yang nyata saja, yang riil saja atau yang empiris saja. Hal-hal yang tidak nyata tidak perlu dipercayai. Tidak perlu diyakini. Begitulah dunia manusia yang berpandangan positivisme. Dunia yang serba material inilah yang kemudian menghasilkam atheism atau pandangan bahwa Tuhan itu tidak ada.

Bagi orang yang beriman dengan sepenuh keyakinan maka keberadaan Tuhan adalah kemutlakan. Tuhan itu ada secara mutlak. Tidak bisa dibantah. Tuhan itu keberadaannya bersifat metaempiris-teologis. Artinya tidak hanya berbicara tentang apa yang ada dibalik yang empiris atau yang fisik, akan tetapi ada yang berada di balik yang metapisik,  yang  metaempiris, bahkan sebagai inti keberadaan, yang mencipta dan mengatur seluruh kehidupan planet dan tata surya ini.

Inilah yang menghasilkan theisme, atau keyakinan bahwa ada yang menciptakan, memiliki dan mengatur seluruh jagad raya yang belum seluruhnya kita ketahui. Meskipun sudah menemukan alat-alat canggih untuk mengamati tata surya, akan tetapi pengetahuan manusia hanya kira-kira lima persen saja atas seluruh jagad raya. Hipotesis tentang Akal Agung yang menciptakan jagad raya sudah diyakini oleh para ilmuwan, sebab tidak ada yang teratur yang terjadi dengan sendirinya, pasti ada yang mengaturnya. Itulah Tuhan yang diyakini keberadaannya.

Itulah sebabnya manusia diharapkan agar dapat memahami tentang Allah SWT dengan segala atribut yang melekat pada-Nya. Di antaranya adalah dengan melaksanakan ajaran-ajaran kebaikan sebagaimana diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dan akhirnya sampai kepada kita semua. Manusia diminta untuk berlomba-lomba di dalam kebaikan. Fastabiqul Khairat, berlomba-loma dalam kebaikan. Semua itu dilakukan agar mendapatkan berkah Allah, yaitu kebaikan yang selama lama semakin banyak dan semakin banyak, sehingga tidak hanya bemanfaat bagi dirinya, tetapi juga untuk keluarganya dan masyarakat.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang berlomba-lomba mencari kebaikan, dengan ayat Alqur’an yang memberikan penjelasan di dalam Surat Al Muthafifin: 26 bahwa: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diungkapkan oleh Sahal bin Sa’ad RA bahwa Rasulullah SAW diberi minuman lalu Beliau meminumnya, sedangkan di sebelah kanannya ada seorang anak dan di sebelah kirinya ada orang-orang tua. Lalu Beliau bersabda kepada anak itu, “apakah kamu mengizinkan kalau saya memberikan  minuman ini kepada orang-orang tua itu dahulu”. Anak itu menjawab: “tidak, demi Allah wahai Rasulullah, saya tidak akan memberikan bagianku darimu kepada orang lain”. Kemudian Rasulullah SAW meletakkan minuman itu di tangannya”.  Hadits  Mutafaq alaih.

Juga hadits yang diterangkan oleh Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda. “Pada suatu ketika, Nabi Ayyub RA mandi dengan telanjang, lalu jatuhlah padanya seekor belalang dari emas. Beliau lalu mengibas-ibaskan bajunya. Kemudian Rabbnya azza awa jalla memanggilnya “Wahai Ayyub, bukanlah aku membuatmu tidak membutuhkan terhadap apa yang engkau lihat itu”.  Ayyub AS menjawab: “benar demi keagungan-Mu, saya sama sekali tidak dapat merasa kaya pada keberkahan-Mu”.  Hadits  Riwayat Imam Bukhari.

Berdasarkan penjelasan di atas, kiranya dapat ditegaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah SWT memberikan perintahnya agar manusia selalu berupaya menjadi yang terbaik dengan berlomba-lomba untuk mencari kebaikan. Sebagaimana diajarkan di dalam Islam, bahwa kebaikan adalah instrument untuk kepentingan mendapatkan kehidupan di akherat yang terbaik. Di dalam Alqur’an disebut sebagai ahlul yamin atau golongan kanan, yang dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan kebahagiaan hakiki.

Kita diminta oleh Allah SWT untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Melakukan kebaikan secara terus menerus dan semakin baik, semakin baik. Jika kita dapat melakukannya, maka itulah yang juga disebutkan sebagai “sebaik-baik manusia adalah yang paling bertakwa kepada Allah”. Di sini berarti ada kompetisi untuk melakukan kebaikan. Siapa yang paling baik itulah yang beruntung.

Kedua, Nabi dan Rasul Allah adalah teladan. Nabi Ayyub AS sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW diberikan anugerah oleh Allah SWT yang berupa benda, belalang emas, akan tetapi Nabi Ayyub AS tidak bergembira dan tidak menerimanya, bahkan di buangnya. Hal ini menandakan bahwa Nabi Ayyub AS menyadari bahwa pemberian itu tidak akan membahagiakannya, bahkan mungkin menyengsarakannya. Bukannya menolak rejekinya Allah, akan tetapi khawatir bahwa yang diberikan itu adalah ujian atas kenabiannya dan ibadahnya. Penolakan itu bukan sebagai mengingkari kenikmatan Allah SWT tetapi menyadari bahwa di tengah zuhud atas dunia, maka pemberian itu adalah cobaan Allah SWT.

Ketiga, di sisi lain, Rasulullah SAW adalah seorang yang sangat menghargai atas umatnya. Di dalam contoh seorang anak yang ditanya tentang kesediaannya untuk berbagi dengan orang tua-tua lainnya, maka anak tersebut mempertahankan haknya karena air itu sudah diminum oleh Rasul. Tentu mengandung keberkahan. Makanya dia pertahankan pemberian Rasul tersebut. Orang tua itu menerima karena itu adalah pemberian Rasulullah SAW. Hikmahnya adalah berikan sesuatu kepada yang berhak dan jangan mempertanyakan bagaimana hak tersebut harus ditunaikan.

Dengan demikian, terdapat trilogi penting yaitu: kebaikan, keberkahan dan pahala Allah SWT. Kebaikan yang semata-mata untuk Allah SWT akan menghasilkan keberkahan dan kemudian akan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Sungguh orang yang bisa melakukan itulah orang yang disebut sebagai bagian dari ashabul yamin atau orang yang memiliki peluang besar untuk masuk surga.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENGUTAMAKAN ORANG LAIN DAN MEMBERI KEMUDAHAN (62)

MENGUTAMAKAN ORANG LAIN DAN MEMBERI KEMUDAHAN (62)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Kebanyakan orang dipastikan mengutamakan diri dan keluarganya. Jarang orang yang mengutamakan orang lain dan memberi kemudahan padanya. Sifat manusia yang mendasar adalah mencintai diri dan kurang mencintai orang lain. Sejauh-jauhnya adalah mencintai keluarganya. Diri dulu, keluarga dan baru orang lain. Begitulah kira-kira logikanya. Makanya, banyak orang yang mementingkan diri sendiri dan keluarganya dan bahkan tidak ada yang mementingkan orang lain.

Dari basis dasar pemikiran seperti ini, maka kemudian muncul konsep dan perilaku yang disebut sebagai nepotisme. Yaitu pemahaman dan sikap yang mementingkan diri dan keluarga. Terutama dalam akses kehidupan seperti ekonomi, kekuasaan, pangkat, jabatan dan peluang untuk memperoleh keuntungan.  Nepotisme  telah menjadi fenomena social yang berlaku dalam sejarah panjang kehidupan manusia. Nepotisme  sesungguhnya telah menjadi musuh umum atau common enemy pada masyarakat yang menghendaki kesetaraan di dalam kehidupan social. Tetapi tentu sangat sulit untuk memberantas nepotisme sebab telah menjadi tradisi di dalam kehidupan masyarakat di tengah kehidupan yang serba sulit.

Syekh Imam An Nawawi telah menjelaskan tentang “mengutamakan orang lain dan memberi kemudahan” berbasis pada teks Kitab Suci Alqur’an. Di dalam Surat Al Hasyr: 9, dinyatakan: “…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan”.  Kemudian juga di dalam Surat Al Insan: 8, dinyatakan: “dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”.

Kemudian di dalam hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW bersabda: “makanan untuk dua orang itu cukup untuk tiga orang dan makanan tiga orang itu cukup untuk empat orang”. Hadits Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim. Kemudian di dalam hadits lain dijelaskan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu said Al Khudri RA.,  berkata: “pada waktu kita sedang bepergian bersama Nabi SAW tiba-tiba datanglah seorang lelaki dengan menaiki kendaraannya, lalu ia menengokkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “barangsiapa yang memiliki kelebihan kendaraan, hendaklah bersedekah dengan kelebihannya itu kepada orang yang tidak mempunyai kendaraan. Dan barang siapa yang memiliki kelebihan bekal makanan, maka hendaklah bersedekah kepada orang yang tidak memiliki bekal makanan”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari penjelasan ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW serta pemahaman atas upaya mengutamakan orang lain, maka kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:

Pertama, hubungan social antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar adalah relasi persaudaraan berbasis pemahaman agama yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Orang Anshar sedemikian menghormati dan menyayangi kepada orang Muhajirin. Keduanya menjadi sahabat Nabi yang utama di dalam perjalanan perjuangan untuk menegakkan agama Allah. Keduanya saling menolong dalam kebaikan. Saling menolong dalam kesenangan dan kesusahan. Relasi social di antara keduanya itulah yang menjadikan perjuangan Islam di kala itu menjadi lebih bermakna.

Ada dua penggolongan masyarakat berdasar atas usaha untuk mengutamakan orang lain, yaitu: orang yang memiliki kepedulian kepada orang lain. Kelompok ini tidak mengutamakan diri dan keluarganya akan tetapi juga mengutamakan orang lain yang diyakini telah menjalankan kebaikan sebagaimana keyakinan agamanya. Mereka ini dipersatukan bukan oleh sanak saudara, kerabat dan kawan sebelumnya,  tetapi diikat di dalam ikatan persaudaraan sesama umat Islam. Lalu, ada orang yang tidak perduli kepada orang lain. Baginya yang utama adalah dirinya dan keluarganya. Jika ada peluang apapun, yang diutamakan adalah keluarganya. Inilah yang di dalam konsepsi Ibnu Khaldun disebut sebagai ashabiyah atau persaudaraan yang berbasis kepada kekerabatan. Yang seperti ini sebenarnya adalah persaudaraan masyarakat kuno yang berbasis pada kepentingan keluarga.

Kedua, keinginan untuk mendahulukan orang lain adalah sifat manusia yang sangat utama, dan secara empiris memang tidak banyak yang bisa melakukannya. Untuk bisa mendahulukan orang lain, maka yang utama menjadi pertimbangannya adalah kapasitas dan kelebihannya atas orang yang lain. Misalnya di dalam perebutan kekuasaan, jabatan dan akses atas kehidupan yang lebih luas, maka pilihannya tentu terkait dengan kapasitas yang bersangkutan. Jangan gunakan konsep dasar, yang harus didahulukan adalah yang menjadi keluarganya atau kerabatnya.

Ketiga,  Islam mengajarkan agar kita mempermudah dan bukan mempersulit. Jangan sampai kita menggunakan ungkapan: “jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah”.  Tetapi yang benar adalah: “jika bisa dipermudah kenapa dipersulit”. Dua ungkapan yang sangat berbeda di dalam realitas kehidupan. Makanya kita harus memilih yang mempermudah dan bukan yang mempersulit. Jangan “senang melihat orang susah atau susah melihat orang senang”, yang biasa disebut SMS. Doa kita adalah: “Allahumma yassir wa la tuassir atau Ya Allah permudahlah dan jangan persulit”. Jadi doa kita kepada Allah adalah agar Allah memudahkan seluruh urusan kita dan jangan sampai terjadi kebalikannya menjadi serba sulit urusan kita.

Dengan demikian, tugas kemanusiaan yang sangat penting di dalam kehidupan adalah mengutamakan orang lain sebagaimana kita mengutamakan diri dan keluarga, serta yang tidak boleh dilupakan adalah mempermudah urusan yang sebenarnya bisa dipermudah. Jika kita mempermudah urusan orang, Allah SWT akan mempermudah urusan kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

LARANGAN  PELIT DAN KIKIR (61)

LARANGAN  PELIT DAN KIKIR (61)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir Rahim

Secara tipologikal,  manusia dapat digolongkan dalam beberapa penggolongan dilihat dari relasi diri dengan harta dan kemanusiaan. Ada yang disebut dengan orang yang dermawan, yaitu orang yang banyak melakukan sedekah, infaq dan zakat. Mereka orang yang mematuhi atas perintah agama untuk menyisihkan sebagian kecil hartanya untuk kepentingan manusia dan agama. Mereka menyumbangkan hartanya untuk kepentingan dakwah, pendidikan, ekonomi, SDM, dan lainnya. Misalnya suka memberi makan kepada orang yang membutuhkan dan juga menyumbangkan hartanya untuk menolong orang-orang yang terpinggirkan, kaum fakir dan miskin.

Sementara itu ada orang yang dapat diklasifikasikan sebagai kikir atau bakhil, yaitu orang yang tidak melakukan aktivitas memberi dalam bentuk apapun. Di dalam hidupnya tidak terdapat pemahaman untuk infak, sedekah atau zakat. Tidak ada di dalam kamus hidupnya untuk menolong orang lain. Baginya, harta yang didapatkannya adalah usahanya sendiri tidak ada kaitannya dengan manusia apalagi Tuhan. Mereka adalah orang yang memuja keberhasilan atas usaha sendiri dan tidak ada intervensi yang datang dari orang lain. Itulah sebabnya mereka enggan untuk berbagi kepada orang lain yang mengalami kehidupan yang belum optimal.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang mengajarkan agar manusia saling menolong. Di dalam Islam, instrument untuk melakukan pertolongan tersebut telah dirumuskan dengan sangat jelas. Instrument tersebut adalah zakat yang dikeluarkan setahun sekali dalam kepemilikan barang yang sudah memenuhi nisabnya, atau juga zakat fitrah. Lalu terdapat infaq yang diberikan kepada lembaga keagamaan, pendidikan atau tempat ibadah dan ada sedekah yang diberikan kepada orang lain dalam berbagai bentuk dan kegunaannya.

Secara empiris, ada orang kaya yang dermawan, ada orang kaya yang pelit, ada orang yang hanya berkecukupan tetapi memiliki kesadaran untuk berbagi dan ada orang yang berkecukupan tetapi pelit. Pemberian  yang diberikannya bukan untuk pencitraan agar dianggap sebagai orang baik, akan tetapi tumbuh dari kesadaran betapa pentingnya memberi dengan keikhlasan. Kita semua berharap agar bisa meneladani orang-orang baik yang suka memberi  dan bukan pelit atau kikir.

Segala sesuatu perlu pembiasaan. Mula-mula pasti berat. Pasti ada perasaan pelit atau enggan untuk memberi. Pikirannya bekerja sesuai dengan hukum materi. Yang saya dapatkan adalah untuk saya sendiri. Akan tetapi Islam mengajarkan agar orang berbagi atas sedikit atau banyak kelebihan harta yang didapatkannya. Jika orang menyadarinya, maka lama kelamaan akan menjadi kebiasaan dan jika tidak melakukan akan terdapat rasa kurang amalnya.

Syekh Imam An Nawawi menukil ayat Alqur’an sebagaimana Allah menjelaskan di dalam ayat Alqur’an Surat Al Lail: 8-11, bahwa “Dan adapun orang yang kikir dan merasa cukup (tidak perlu pertolongan Allah) serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan), dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa”. Allah SWT juga berfirman dalam Surat At Taghabun: 16, bahwa “dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Di dalam hadits yang diceritakan oleh Jabir RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “jauhilah perbuatan zalim,  karena sesungguhnya kedzaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat.  Dan jauhilah sifat kikir, karena kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir telah menumpahkan darah dari mereka sendiri dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan atas mereka. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapatlah kiranya dijelaskan di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, ajaran Islam merupakan ajaran yang very completeness. Tidak hanya ibadah kepada Allah dalam wujud hablum minallah, akan tetapi juga ajaran untuk memberi kepada yang membutuhkan atau hablum minan nas. Ajaran Islam tentang pemberian sungguh ajaran yang sangat mulia. Islam ajaran yang menekankan untuk mencintai kemanusiaan. Wujud cinta kemanusiaan itu salah satu di antaranya diwujudkan dalam ajaran pemberian. Islam sangat memberikan apresiasi atas orang yang suka memberi dengan janji Allah bahwa barang atau apapun yang diberikan itu tidak akan mengurangi atas apa yang dimiliki, bahkan Allah akan menambahkannya.

Kedua, yang lebih utama dari pemberian adalah pahala yang disediakan oleh Allah kepada umatnya yang suka memberi. Bahkan Nabi Muhammad SAW menyatakan akan menghindarkan dari neraka bagi orang yang hanya berderma sebesar satu biji kurma. Inilah janjinya Allah, dan kita semua menyadari bahwa Allah bukanlah yang suka mengingkari janji. Innallah la yukhliful mi’ad, sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janjinya. Kita semua tentu berharap diberikan oleh Allah kelapangan hati untuk memberi dan tidak menjadi orang yang bakhil atau kikir. Sesungguhnya orang yang kikir itu seperti orang yang menjadikan hartanya sebagai piranti untuk membakarnya. Kita sadar bahwa memang tidak mudah untuk melakukannya, akan tetapi sesungguhnya setiap manusia memiliki kesadaran social atau social intelligent yang akan dapat mengantarkannya untuk mencintai kemanusiaan.

Ketiga, sesungguhnya di dunia ini lebih banyak orang yang berpaham materialisme atau materi segala-galanya. Dan dalam harta sangat sedikit  yang berpikir agama segala-galanya. Itulah sebabnya banyak orang yang hanya berpikir akumulasi modal atau menjadi kaum kapitalis dari pada menjadi agamis. Seandainya lebih banyak orang yang dermawan ketimbang yang kikir, maka dunia akan menjadi lebih baik. sayangnya bahwa belum semua umat Islam menyadari akan pentingnya pemberian sebagai instrument untuk membangun kesejahteraan bersama.

Wallahu a’lam bi al shawab.