Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMULIAKAN TAMU (94)

MEMULIAKAN TAMU (94)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Islam itu agama yang menjunjung tinggi persaudaraan. Tidak hanya persaudaraan sesama umat Islam atau ukhuwah Islamiyah, akan tetapi juga ukhuwah insaniyah atau persaudaraan sesama manusia atau disebut juga sebagai ukhuwah basyariyah atau persaudaraan sesama umat manusia. Inilah salah satu kekuatan Islam yang memberikan ajaran agar sesama manusia saling mengasihi dan menyayangi, sebagai konsekuensi agama yang memberi rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil alamin.

Islam sungguh agama yang memberikan peluang umatnya untuk memberikan kasih sayang secara tulus. Tidak hanya sesama umat Islam tetapi juga bagi nonmuslim. Persaudaraan insaniyah. Bahkan tidak hanya ini, akan tetapi juga menyayangi alam seluruhnya. Bahkan dinyatakan dalam hadits riwayat Imam Muslim: “man la yarham la yurham”. Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi”. Agar kita disayangi  oleh yang lain, maka persyaratannya adalah menyayangi yang lain. Begitu jelasnya pesan Islam ini. Tidak ada keraguan seharusnya untuk saling menyayangi.

Salah satu wujud dari kasih sayang tersebut adalah silaturrahmi atau menyambung tali persaudaraan. Bisa saling kunjung rumah atau bisa juga dalam wujud lain dalam menyambung tali persahabatan dimaksud. Intinya, bahwa menyambung tali silaturrahmi dengan sahabat atau orang yang dikenal atau sesama kerabat merupakan salah satu ajaran Islam yang sangat mulia. Dan sebagai konsekuensi kemuliaannya, maka yang bersangkutan dapat saling bertamu.

Syekh Imam Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin Bab 94 bercerita berbasis pada ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Allah SWT di dalam Surat Adz Dzariyat: 24, berfirman: “Adakah sudah datang padamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim  (yaitu Malaikat-Malaikat) yang dimuliakan? (ingatlah) Ketika mereka  masuk ke tempatnya  lalu  mengucapkan ‘salamun’, Ibrahim menjawab, “salamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk, lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “silahkan Anda makan”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sesuai dengan riwayat Abu Hurairah, RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung silaturahmi. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau hendaklah ia diam”. Hadits riwayat Mutafaq alaih.

Kemudian juga terdapat riwayat hadits yang diceritakan oleh Abu Syuraih Khuwailid bin Amr Al Khusa’i RA., berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya, dengan pemberian”. Mereka berkata: “Bagaimana pemberiannya itu wahai Rasulullah?”. Beliau berkata: “pemberian itu selama satu hari satu malam dan (keharusan) menjamu itu selama tiga hari. Adapun yang lebih dari itu adalah sedekah untuknya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, dapat dijelaskan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam mengajarkan agar kita menghargai tamu. Baik tamu yang dikenal atau tamu yang tidak dikenal. Islam tidak membedakan tamu itu seorang kawan atau tidak. Yang jelas jika terdapat tamu yang datang ke rumah, maka menjadi kebaikan jika kita hargai sebagaimana orang yang kita kenal atau yang  tidak kita kenal. Hal itu sebagaimana di dalam wahyu Allah tentang sejarah Nabi Ibrahim AS, yang mendapatkan tamu yang tidak dikenal. Maka, Nabi Ibrahim AS tetap menjamunya sebagaimana orang yang sangat dikenalnya. Dihormati tamu tersebut dengan hidangan terbaik yang dapat dilakukan. Nabi Ibrahim AS menjamunya dengan daging sapi muda yang gemuk dan mempersilahkan tamunya untuk memakannya sampai habis.

Kedua, Nabi Muhammad SAW bahkan secara teknis mengajarkan agar kita menjamu tamu yang menginap di rumah selama sehari semalam bahkan sampai tiga hari. Jika seandainya lebih dari tiga hari, maka kelebihan jamuan tersebut  sebagai sedekah. Hal ini memberikan pemahaman kepada kita agar kita memuliakan tamu dengan sebenarnya. Islam sungguh konsern dalam membangun persahabatan tersebut, yaitu dengan cara memuliakannya. Jika seandainya di rumah terdapat tamu yang menginap beberapa hari, maka kewajiban kita menjamunya adalah tiga hari dan selebihnya adalah sedekah yang tentu akan mendapatkan pahala sebagaimana sedekah lain yang dilakukannya.

Islam mengajarkan atas tiga hal, yaitu orang yang percaya kepada Allah dan hari akhir, maka harus memuliakan tamu, menyambung tali silaturrami dan berkata yang baik. Mari kita perhatikan, bahwa Allah SAW memberikan kedudukan tinggi dalam menjamu tamu, menyambung tali persaudaraan dan berkata baik dengan secara simbolik mengakui keberadaan Allah dan kepastian terjadinya hari akhir.  Artinya, orang yang melakukannya memiliki derajad yang tinggi dalam keimanan atas Allah dan hari akhir.

Ketiga, sekarang kita berada di era media sosial. Era meeting virtual atau pertemuan dengan menggunakan media sosial. Orang bisa melakukan komunikasi tanpa terkendala jarak. Dunia bisa dilipat oleh media sosial. Kita bisa berkomunikasi dengan kawan kita di seluruh dunia. Di Amerika, Eropa, Australia dan juga di Afrika. Mobilitas sosial terjadi dengan sangat mudah, kapan dan di mana saja. Oleh karena itu, sesungguhnya melalui media sosial kita akan dapat melakukan silaturrahmi dengan sangat mudah. Silaturrahmi virtual. Melalui media sosial, kita dapat melakukan dua hal, yaitu menyambung tali sliaturrahmi dan berkata yang baik.

Sesungguhnya media sosial dapat menjadi kawan yang baik, selama media sosial digunakan untuk kebaikan. Tetapi media sosial juga akan menjadikan kejelekan,  jika kita tidak menggunakan untuk kebaikan. Mari kita gunakan media sosial untuk saling menyapa, menanyakan kabar atau say hello agar kita bisa memperoleh manfaatnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

SUNNAH MENDATANGI SHALAT DAN MAJELIS ILMU (93)

SUNNAH MENDATANGI SHALAT DAN MAJELIS ILMU (93)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Islam merupakan agama yang memberikan peluang seseorang untuk mendapatkan pahala lebih. Pahala tersebut disebut pahala sunnah. Yaitu suatu perbuatan yang didasarkan atas perkataan, ketetapan dan perilaku Rasulullah SAW. perbuatan tersebut juga disebut sebagai sunnah Nabi SAW. Ada sangat banyak perbuatan yang digolongkan sebagai sunnah Nabi Muhammad SAW. Jika dikaitkan dengan amalan-amalan utama di dalam Islam yang tergolong sunnah adalah menyebarkan salam, memberi makan orang yang memerlukan dan menyambung tali silaturrahmi. Sedangkan yang lain adalah shalat tepat waktu sampai memungut barang yang membahayakan di jalan. Semuanya adalah amalan shalihan yang diajarkan di dalam Islam. Islam merupakan agama yang tidak hanya mementingkan ketauhidan, akan tetapi juga mementingkan amalan shaleh. Iman yang tidak diikuti oleh amal shaleh menjadi kurang pas. Keduanya harus dilakukan secara berkeseimbangan. Tidak ada amal shaleh tanpa iman dan tidak ada iman kecuali ada juga amal shaleh.

Islam merupakan agama yang mengedepankan berjamaah. Di dalam shalat misalnya jika shalat sendirian,  maka pahalanya dihitung hanya tiga derajad,  akan tetapi jika dilakukan dengan berjamaah,  maka pahalanya menjadi 27 derajad. Inilah kekuatan berjamaah atau the power of jamaah. Sesungguhnya bukan hanya shalat yang dianjurkan secara berjamaah, akan tetapi juga aktivitas sosial juga akan menjadi utama dengan berjamaah. Bahkan ada hadits yang secara umum bermakna, bahwa kebaikan yang tidak dikoordinasikan secara berjamaah akan kalah dengan kejelekan yang dilakukan secara berjamaah. Oleh karena itu hendaknya kita mengedepankan jamaah dalam makna yang lebih luas untuk kepentingan kebaikan umat.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin menukil hadits Nabi SAW dalam menjelaskan mengenai pentingnya berjamaah dan bagaimana harus melakukannya. Hadits dari Abu Hurairah, RA berkata: Aku mendengar dari Rasulullah SAW bersabda: “apabila shalat telah ditegakkan (iqamah telah dikumandangkan), maka janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa, tapi datangilah sambil berjalan dan hendaknya dengan cara yang tenang. Maka apa yang kalian dapati (dari imam) shalatlah. Dan apa yang terlewat oleh kalian, sempurnakanlah”. Hadits Mutafaq alaih.

Hadits dari Ibnu Abbas RA., barangkat  bersama Nabi SAW pada hari Arafah. Lalu Nabi mendengar dari arah belakangnya ada suara bentakan, pukulan, dan suara halauan terhadap unta. Maka Beliau berisyarat dengan cemetinya kepada mereka sambil bersabda: “wahai manusia, hendaklah kalian bersikap tenang, karena kebaikan itu bukan dengan cara bercepat-cepat (tergesa-gesa). Hadits Mutafaq alaih.

Berdasarkan atas penjelasan Syekh Imam Nawawi dari dalil naqli tersebut, maka dapat dijelaskan lebih luas di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama,  sebagai umat Islam yang melakukan amalan shalat lima waktu, maka dianjurkan oleh Rasulullah untuk mendatangi shalat berjamaah, misalnya di masjid atau mushalla. Sunnah mendatangi shalat berjamaah tersebut tidak hanya untuk kepentingan ibadah dengan pahala yang berlipat-lipat, akan tetapi juga untuk memakmurkan masjid. Jika masjidnya ramai dengan shalat berjamaah dan kegiatan lainnya, maka akan menjadi kekuatan bahwa umat Islam mencintai atas tempat ibadahnya. Umat Islam harus menjadikan tempat ibadah sebagai pusat pembinaan umat. Bisa dalam bentuk pendidikan dan ceramah keagamaan dan bisa juga dalam bentuk kegiatan sosial bahkan ekonomi. Masjid selayaknya menjadi tempat ibadah dan kegiatan sosial budaya Islam lainnya.

Kedua, kita tentu bersyukur sebab kegiatan keagamaan dan sosial lainnya nyaris bisa didapati di masjid-masjid di Indonesia. Ada kegiatan ceramah keagamaan, baik tematik atau membahas teks kitab turats atau kitab kuning.  Ada  kegiatan tahsinan membaca Alqur’an. Ada kegiatan membaca Surat Al Waqiah dan ada juga membaca Surat Al Kahfi. Serta kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) yang dilakukan secara periodik. Selain itu juga ada acara silaturrahmi dalam paket kegiatan halal bi halal, tadarrus Alqur’an, dan kegiatan Nuzulul Qur’an, Maulid Nabi Muhammad SAW dan juga hari besar Islam lainnya.

Ketiga, secara teknis, Nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang bagaimana kita berjalan ke masjid, khususnya di kala akan melakukan shalat berjamaah. Nabi SAW meminta agar di dalam. Perjalanan menuju masjid ersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Berjalan yang pasti menuju masjid dengan kepastian, dan berkeyakinan tidak ketinggalan shalatnya. Pastikan bahwa kita akan sampai di masjid pada saat shalat masih berlangsung. Dan perintah Nabi SAW agar kita mengikuti imam dan jika ada yang kurang dari rakaat kita, hendaknya kita menyempurnakannya.  Ketenangan di dalam menghadapi segala sesuatu itu sangat penting. Usahakan agar di dalam menghadapi apapun dengan ketenangan jiwa. Jangan serba tergesa-gesa, sebab ketergesaan adalah prilaku setan. Oleh karena itu, perhitungkan waktu dengan tepat, ukur peluang berapa lama sampainya, sehingga kita dapat sampai dengan tepat. Shalat pada waktunya adakah keutamaan dalam beribadah dan datang tepat waktu juga bagian dari upaya kita untuk memenuhi ibadah.

Wallahu a’lam bis shawab.

SIFAT KEWIBAWAAN  DAN KETENANGAN

SIFAT KEWIBAWAAN  DAN KETENANGAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Allah menegaskan agar kita menjadi orang yang tidak sombong, tinggi hati dan merasa serba segalanya. Allah menegaskan bahwa orang yang baik itu indikatornya adalah rendah hati di dalam mengarungi kehidupannya. Berjalan di dalam ayat Alqur’an: “janganlah berjalan di muka bumi dengan kesombongan” tidak hanya berjalan dengan kaki ke suatu tempat, akan tetapi berjalan di dalam kehidupan. Janganlah kita mengarungi kehidupan dengan sombong dan tinggi hati. Sering kita dengar di atas langit ada langit. artinya, andaikan kita naik ke langit agar menjadi lebih tinggi, maka ingatlah di atasnya masih ada langit. sampai yang tertinggi di Mustawa, Sidatil Muntaha bahkan Arasy Allah SWT.

Kewibawaan tidak dibangun di atas prinsip instant, akan tetapi kewibawaan adalah proses yang bisa panjang untuk sampai kepada kondisi memiliki kewibawaan. Seseorang yang memiliki kewibawaan tidak akan melakukannya secara pencitraan. Kewibawaan yang diperoleh melalui pencitraan hanya akan menghasilkan kebohongan. Prilaku sementara yang kemudian akan kembali kepada realitas apa adanya. Kewibawaan itu datang dai pribadi yang ikhlas melakukan tindakan sesuai dengan kata hatinya.

Kewibawaan akan lahir dari hati dan bukan datang dari akal. Akal itu bersifat untung rugi. Jadi kalau melakukan sesuatu maka ini keuntungannya dan jika tidak melakukan maka ini kerugiannya. Sedangkan prilaku yang datang dari hati lalu diterjemahkan oleh anggota tubuh kita maka akan didapatkan perilaku yang alami, apa adanya, dan tidak dibuat-buat. Prilaku yang dibuat-buat akan kelihatan di wajahnya. Hal ini disebabkan oleh ktidakseimbangan antara hati dan rasio, hati dan pertimbangan akal. Kewibawaan bisa dihasilkan dari proses melakukan tindakan yang mengedepankan kata hati. Jangan hanya menggunakan pertimbangan rasio semata.

Kewibawaan yang dibuat-buat akan menghasilkan perilaku yang tidak produktif. Harus disadari bahwa prilaku imitasi atas kewibawaan itu suatu ketika akan berubah menjadi malapetaka. Hal itu terjadi di kala terjadi kemarahan. Orang yang baik dalam ucapan dan tindakannya itu akan bisa dilihat di kala sedang menghadapi masalah dari orang lain yang membulinya atau merusak nama baiknya. Ada orang yang bisa memenej dirinya di dalam kemarahannya dan ada yang tidak mampu memenejnya. Orang yang ucapan dan tindakannya mengandung kebaikan, akan dapat mengembalikan ucapan dan tindakannya sebagai bagian dari takdir Allah SWT. ada rencana Allah yang akan berlaku bagi dirinya. Jadi tidak merahi atas orang yang melakukannya. Jika perlu justru orang itu akan dinasehatinya. Di dalam buku saya, Friendly Leadership (2018), saya nyatakan jangan marah di depan banyak orang. Jika marah lakukan secara tersendiri. Di ujung akhir kemarahan itu nyatakan mohon maaf.

Tertawa adalah ekspresi rasa senang atau bahagia. Orang tertawa, apalagi tertawa lepas, dipastikan ada sesuatu, bisa cerita lelucon, bisa cerita tentang keberhasilan atau kesuksesan dan cerita yang membuat bahagia, sehingga membuat seseorang tertawa. Baik dengan suara keras atau hanya tersenyum. Yang jelas bahwa tertawa merupakan indikasi akan hati kita yang senang dan berbunga-bunga.

Alqur’an dalam Surat Al Furqan: 63 bahwa: “Adapun hamba-hamba Ar Rahman itu adalah orang-orang yang berjalan dimuka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina) mereka mengucapkan salam”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Aiisyan RA., berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW tertawa terbahak-bahak sampai terlihat langit-langit mulutnya. Beliau hanya tersenyum”. Hadits riwayat Mutafaq alaih.

Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW, kiranya dapat dijelaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama, kesombongan adalah perilaku setan. Makhluk Tuhan yang berlabel setan adalah ciptaan Allah SWT yang sangat sombong. Saat diminta untuk patuh kepada Tuhan melalui instrumen bersujud kepada Nabi Adam AS., maka setan menolaknya. Setan salah di dalam mengunterpretasikan atas kata sujud yang dikiranya sebagai bentuk penyembahan, sehingga tidak dilakukannya. Dia membangkang atas perintah Allah SWT, sehingga kemudian dikutuknya karena kesombongannya itu. Di dalam penafsiran setan, seharusnya Adam AS yang bersujud kepadanya, karena setan diciptakan dari api murni, sedangkan Adam AS diciptakan dari tanah. Asal-usul lalu menjadi faktor penyebab keengganan setan untuk tunduk kepada Nabi Adam. Kesombongan terbesar dan kekafiran terbesar di dalam peristiwa ini adalah di kala hamba Allah diperintah lalu mengingkarinya. Inilah yang bisa dinyatakan sebagai kafir hakiki. Kafir yang disadari. Sementara itu juga ada kafir yang tidak disadari. Kafir yang tidak disengaja.

Kedua, Allah SWT menghendaki agar manusia harus berada di dalam realitas rendah hati. Seseorang yang memiliki kemampuan untuk menundukkan egonya atau memenej nafsunya menuju kepada nafsul muthmainnah. Banyak orang yang lebih mengedepankan egonya. Ingin berkuasa, ingin kaya, ingin jabatan dan ingin kemewahan dan melalaikan bahwa ada proses hidup yang harus dilalui untuk berkuasa, berharta dan berkemewahan. Proses itulah yang akan menentukan apakah seseorang bisa mencapai apa yang diinginkannya atau tidak. Di dalam proses itulah ada syarat yang tidak ditinggalkan adalah perilaku apa adanya yang sesuai dengan perintah Allah SWT. di antaranya adalah ketenangan jiwa dan tawadlu’ atau rendah hati di dalam kehidupan.

Ketiga, Rasulullah SAW juga meminta kepada kita agar tidak mengekspresikan kesenangan secara berlebihan, misalnya tertawa yang berlebihan. Jika mengikuti Rasulullah, maka Beliau hanya tersenyum saja dalam menghadapi sesuatu yang menyenangkan hati. Tidak berlebihan di dalam melakukannya. Tentu saja bukan larangan yang mengandung makna dilaknat akan tetapi merupakan penghargaan atas etika. Ada etika senang dan ada etika sedih. Janganlah berlebihan dalam ekspresi kesenangan dan jangan berlebihan dalam kesusahan. Sewajarnya saja. Islam memang ajaran agama yang memberikan peluang menjaga keseimbangan, termasuk dalam senang dan susah. Sesuatu yang berlebihan itu akan menyebabkan kelalaian bersyukur kepada Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMBERI NASEHAT DAN MELAKUKANNYA SECARA SIMPEL

MEMBERI NASEHAT DAN MELAKUKANNYA SECARA SIMPEL

Prof. Dr. Nur Syam, MSI

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Memberi nasehat merupakan keharusan bagi sesama umat manusia. Nasehat tersebut bisa terkait dengan masalah kehidupan secara umum ataukah nasehat yang terkait dengan keagamaan. Manusia memiliki kecenderungan untuk memberi dan menerima nasehat. Jika ada manusia yang tidak mau menerima nasehat, maka sesungguhnya hatinya telah bebal karena menganggap bahwa dirinya yang paling benar dan  yang paling baik. Perasaan seperti ini yang bisa mengarahkan seseorang untuk tergelincir di dalam jurang kehidupan yang bermasalah dan tidak kunjung selesai.

Sesungguhnya hati manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan kebaikan. Di dalam kedalaman hati seseorang terdapat dorongan untuk melakukan kebaikan. Jiwa kebaikan sebenarnya ada pada semua manusia. Akan tetapi jiwa kebaikan tersebut terkadang tertutupi oleh faktor eksternal yang tidak mampu dikendalikan. Makanya, faktor eksternal tersebut harus dimenej sehingga seseorang bisa menyeimbangkan antara tekanan eksternal dan dorongan internal yang berkaitan dengan jiwa kebaikan.

Ada sebuah contoh yang datang dari Nabiyullah Ibrahim AS. Sebagai seorang Nabi, maka Nabi Ibrahim pun mendapatkan ujian di dalam kehidupannya. Menurut riwayat bahwa Nabi Ibrahim AS tidak memiliki putra sampai kemudian menikahi putri dari Mesir, Hajar, yang kemudian ditempatkan di dekat Makkah. Menginjak remaja, Ismail putranya diminta oleh Allah untuk dikorbankan. Ujian kepatuhan yang sangat berat, akan tetapi jiwa Nabi Ibrahim membenarkan perintah tersebut. Jiwa kenabiannya sungguh luar biasa, akan tetapi datanglah setan sebagai penggoda, godaan eksternal ini dapat dilampauinya, sehingga ujian tersebut dapat ditunaikan.  Allah memberikan reward atas kepatuhan tersebut dengan mengganti Ismail yang dikorbankan dengan seekor domba dari Surga. Jadi Nabi Ibrahim berhasil. Jiwa kebaikan dapat mengalahkan tekanan eksternal, godaan setan.

Adakah nasehat di dalam peristiwa ini? Kita meyakini pasti ada nasehat. Nasehat itu datang dari putranya, Ismail, dan ibundanya, Hajar. Keduanya memberikan support yang hebat mendukung agar Nabi Ibrahim melaksanakan upacara keagamaan dimaksud. Andaikan keluarganya menolak, maka dunia keyakinan kita akan sedikit terusik. Nabi Ibrahim AS mengorbankan putranya tanpa persetujuan anak dan istrinya. Oleh karena itu, nasehat sungguh diperlukan oleh manusia, kapan dan di manapun.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadus Shalihin menukil ayat Alquran dan hadits Nabi SAW tentang memberikan nasehat dan pentingnya nasehat dimaksud. Allah SWT di dalam Surat An Nahl: 125 menyatakan: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mau’idhoh yang baik”.

Hadits Nabi sebagaimana diceritakan oleh Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah RA., berkata: “dahulu ibnu Mas’ud RA., biasa menasehati kami setiap hari kamis. Lalu seorang laki-laki berkata kepadanya: “wahai Abu Abdurrahman. Sungguh aku sangat menginginkan engkau menasehati kami setiap hari”. Dia pun berkata: “sesungguhnya yang mencegahku untuk melakukan hal itu adalah karena aku tidak ingin membuat kalian bosan, sehingga aku memilih untuk menyampaikan nasehat kepada kalian secara berkala, sebagaimana Nabi SAW dahulu menyampaikan kepada kami dengan cara demikian karena khawatir kami merasa bosan”. Hadits Mutafaq alaih.

Dari ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW serta penjelasan rasional sosiologis dimaksud, maka dapat dijelaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama, tidak ada manusia yang benar 100 persen dan salah 100 persen. Dipastikan ada sisi kebaikan dan kejelekan meskipun sedikit. Hanya nabi dan rasul yang memiliki wahyu dari Allah saja yang bisa benar 100 persen. Meskipun demikian juga masih terdapat Nabi yang melakukan kekhilafan, misalnya Nabi Yunus, yang meninggalkan umatnya. Akhirnya mendapatkan pelajaran ditelan ikan yang besar, di laut, tetapi mendapatkan pertolongan Allah SWT. Cerita tentang malaikat adalah cerita tentang kepatuhan mutlak kepada Allah. Akan tetapi di kala ada sedikit perasaan kehebatan atas makhluk Tuhan lainnya, manusia, maka Malaikat Harut dan Marut diturunkan ke bumi dan diberikan sifat kemanusiaan. Akhirnya keduanya melakukan kesalahan sebagaimana manusia pada umumnya, dan hingga akhir zaman menjalani hukuman atas kesalahannya.

Kedua, sesungguhnya Allah itu Maha Rahman dan Rahim. Oleh karena itu, Allah memberikan piranti untuk melakukan pertobatan. Manusia diberinya kesempatan untuk bertaubat atas segala kekeliruannya. Untuk bertobat terkadang memerlukan nasehat orang lain. Bisa juga taubat itu datang dari kesadarannya sendiri, akan tetapi bisa juga nasehat menjadi instrumennya. Di antaranya adalah nasehat melalui ahli agama dalam ceramah lesan atau tulisan. Bisa juga nasehat itu datang dari membaca artikel, bahkan dari membaca pesan di media sosial atau mendengar unggahan di media sosial. Ada banyak piranti yang dapat dijadikan sebagai wahana untuk melakukan pertaubatan. Itulah sebabnya sangat penting untuk mendengarkan nasehat, membaca nasehat dan juga merenungkan atas kelemahan manusia dibandingkan dengan kekuasaan Allah yang Maha Kuasa.

Ketiga,  Islam sangat menekankan kepada kepenasehatan. Bahkan Rasulullah SAW bersabda yang intinya bahwa agama adalah nasehat untuk Allah, untuk rasulnya dan untuk umat manusia. Bukan dimaknai Allah membutuhkan nasehat akan tetapi agama itu isinya adalah nasehat tentang kebaikan dari Allah, kebaikan dari Rasul yang semuanya diperlukan untuk umat manusia. Kata lillahi artinya adalah nasehat agamawi sebagaimana diajarkan oleh Allah. Kata lirasulihi artinya nasehat yang sesuai dengan ajaran rasul, dan li aimmatil muslimin artinya bahwa nasehat yang sesuai dengan ajaran Allah dan rasulnya itu untuk seluruh umat Islam.

Alangkah indahnya makna sabda Nabi Muhammad SAW ini. Nasehat sesungguhnya adalah cara untuk saling mengingatkan. Watawa shaubil haq, watawa shaubis shabri. Saling tolong menolong hakikatnya bukan hanya menolong dengan harta dan kekayaan,  akan tetapi menolong di dalam kebaikan untuk selalu berada di jalan Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENDENGAR DENGAN BAIK ATAS UCAPAN YANG BAIK

MENDENGAR DENGAN BAIK ATAS UCAPAN YANG BAIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Mendengar adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Mendengar adalah aktivitas pasif yang terkadang membuat orang bosan dan enggan. Apalagi yang didengarkan itu adalah hal yang biasa saja, dan tidak merupakan hal baru yang penting untuk dipahami. Makanya, terkadang ada orang yang bicara dan orang lain  sibuk sendiri dengan apa yang dibicarakan.

Mendengar memang melibatkan organ telinga. Yang di dalam banyak hal terkadang tidak bisa mendengar sebab suasana yang riuh di sekitarnya. Makanya, di dalam hadits Nabi Muhammad SAW dinyatakan di kala Beliau akan berbicara pada jamaah, maka dimintanya untuk mendengarkannya dengan cara diam. Meskipun tidak selalu diam itu melambangkan seseorang mendengar, akan tetapi inilah ukuran minimal keterlibatan seseorang di dalam suatu aktivitas mendengarkan. Bisa saja terjadi orangnya ada di dalam suatu momen kebersamaan,  mendengarkan orang berbicara, akan tetapi pikiran dan hatinya tidak berada di tempat itu.

Menjadi pendengar itu lebih sulit dibandingkan yang berbicara. Mendengar itu membutuhkan organ telinga, dan kemudian mengirimnya ke otak dan kemudian otak akan mengirimkannya ke sensory storage atau gudang inderawi, sehingga apa yang didengarnya itu akan disimpan atau tidak. Informasi yang penting akan disimpan di memory otak dan yang tidak penting akan dibuang. Ada peristiwa yang memasuki architype atau peristiwa yang sangat berkesan dan akan disimpan sangat mendalam, sehingga tanpa diminta terkadang terukir kembali peristiwa tersebut. Tetapi juga ada yang hanya numpang lewat. Di dalam bahasa sehari-hari dinyatakan: “masuk telinga kanan keluar telinga kiri”.

Mendengar ternyata ada adabnya atau ada etikanya. Mendengar merupakan salah bagian dari relasi antar manusia, yang terkait dengan etika pergaulan. Di dalam pergaulan, maka seseorang akan dinilai baik atau tidak tergantung pada etika mendengar dan etika berbicara. Ada orang yang suka mendengar dan ada orang yang suka acuh atas pembicaraan seseorang. Bahkan ada orang yang lebih dominan di dalam bicara tetapi lemah dalam upaya untuk mendengar. Dialah sumber pembicaraan dan tidak memberikan ruang bagi orang lain untuk terlibat dalam relasi timbal balik. Orang yang seperti ini terkadang dijauhi oleh orang lain. Perhatikan kapan ada waktu berbicara dan kapan ada waktu untuk mendengar. Jaga keseimbangan.

Syekh Imam An Nawawi menukil hadits, sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah, agar mendengarkan. Hadits yang diceritakan oleh Jarir bin Abdullah, RA., berkata:  Rasulullah berpesan kepadaku ketika Haji Wada’, mintalah supaya orang-orang diam. Kemudian Beliau bersabda: “janganlah kalian  kembali kepada kekafiran sepeninggalku, lalu kalian saling bunuh di antara kalian”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Syekh Imam An Nawawi memberikan judul yang panjang di dalam Kitab Riyadhus Shalihin pada Bab 90 dengan judul “Mendengarkan Ucapan Teman Duduk Yang Tidak Haram Dan Supaya Seorang Alim Atau Pemberi Nasehat Meminta Orang Yang Hadir Di Majelisnya Untuk Mendengarkan Dengan Baik”. Dari judul yang panjang tersebut kemudian saya persingkat tanpa bertujuan mereduksi maknanya, yaitu “Mendengar Dengan Baik Atas Ucapan Yang Baik”.

Dari penjelasan sosiologis dan Sabda Nabi Muhammad SAW, kiranya dapat digarisbawahi atas tiga hal, yaitu:

Pertama, sebagai pembicara di dalam suatu majelis, maka pembicara tersebut diberikan peluang oleh ajaran Islam untuk mengingatkan agar para jamaah di majelisnya mendengarkan atas yang diungkapkannya. Misalnya seorang da’i atau dosen atau guru, tentu boleh untuk mengingatkan atas para jamaah, mahasiswa atau siswa agar menyimak pada yang disampaikannya. Tidak diperkenankan di kala seorang da’i, dosen atau guru atau pimpinan rapat berbicara lalu ada yang mengabaikannya. Hal tersebut memasuki kawasan tidak etis atau tidak sopan. Jadi ada etika berbicara dan ada etika untuk mendengar. Jangan semua menjadi pembicara. Lebih baik seseorang usul jika ada sesuatu yang dianggapnya penting untuk dibicarakan. Diam kita menunjukkan atensi kita.

Kedua, di dalam persahabatan, maka upaya untuk saling mendengarkan merupakan keutamaan. Hal tersebut dilakukan agar tidak terdapat perasaan  dilecehkan atau diremehkan. Apapun yang dibicarakan, suka atau tidak suka, maka dengarkanlah. Jika kita bosan dengan yang diceritakan, maka kita dapat  memberikan respon dengan cara yang sangat bijaksana. Tidak meledek atau melecehkannya. Tetapi mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dengan cara yang menarik. Jika kita berhadapan dengan kawan, maka tentu kita tahu bagaimana dan apa yang menjadi kesukaannya. Dari situlah kita saling membicarakan. Jadi ada yang menjadi pendengar dan ada yang jadi pembicara.

Yang paling susah sebenarnya untuk mengingatkan orang yang memiliki status sosial dan otoritas kekuasaan lebih luas. Terkadang mereka tidak mendengarkannya. Yang bisa mengingatkan adalah orang yang sejajar. Inilah problem manusia yang paling banyak. Seseorang hanya mau mendengarkan apa yang datang dari orang dekatnya. Yang lain minggir. Inilah kebanyakan kesalahan seseorang yang sedang berkuasa. Tidak ada orang lain yang lebih hebat, lebih pintar dan lebih berkuasa, sehingga banyak mengabaikan atas usulan yang baik yang diusulkan kepadanya. Sense untuk mendengarnya sangat kecil bahkan tidak ada. Hanya pikirannya sendiri yang benar. Inilah awal kesalahan yang menyesakkan.

Ketiga, Allah SWT mengingatkan agar kita mendengar dan memahami. Janganlah menjadi orang yang memiliki telinga tetapi tidak mendengar kebaikan. Memiliki mata tetapi tidak dipakai untuk melihat kebaikan. Memiliki hati tetapi tidak mendengarkan kata hatinya. Jadilah orang yang selalu menggunakan pancaindra untuk kepentingan diri dan juga kepentingan lainnya. Jika kita menjadi pemimpin, maka kata kunci mendasarnya adalah gunakan mata, telinga dan hati untuk memahami dunia di luar kita, sehingga kita akan dapat merumuskan kebijakan yang memihak kepada kepentingan mereka.

Wallahu a’lam bi al shawb.