• September 2026
    M T W T F S S
    « Aug    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SUNNAH MELAKUKAN KEBAIKAN DALAM JALAN YANG BERVARIASI (98)

SUNNAH MELAKUKAN KEBAIKAN DALAM JALAN YANG BERVARIASI (98)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Syekh Imam An Nawawi pada bab ke 98 menjelaskan tentang “Disunnahkannya Pergi Menuju Shalat Idul, Menjenguk Yang Sakit, Berhaji, Berperang, Mengantar Jenazah Dan Semacamnya Dari Satu Jalan Dan Pulang Dari Jalan Lain Untuk Memperbanyak Tempat-Tempat Ibadah”. Sehubungan dengan judul tersebut, maka secara sengaja saya singkat menjadi “Sunnah Melakukan Kebaikan Dalam Jalan Yang Bervariasi”.

Islam adalah agama yang mengajarkan kepada kita semua tentang makna kebaikan. Kebaikan dalam Islam tersebut banyak di antaranya yang disunnahkan adalah pergi untuk ke tempat shalat idul fitri ataupun idul adha. Dan sebagai rasa persahabatan, Islam juga mengajarkan agar menengok sahabat yang sakit. Termasuk juga mengantar jenazah ke pekuburan dan yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. semua ini termasuk dalam kategori melakukan silaturrahmi. Islam sangat menghargai orang yang suka melakukan silaturrahmi. Bahkan Rasulullah SAW menyatakan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir atau kiamat, maka hendaknya menyambung tali silaturrahmi. Hal ini menunjukkan betapa mulianya orang yang melakukan silaturrahmi.

Yang menjadi kewajiban bagi orang yang telah mampu adalah melakukan ibadah haji. Jika di dalam suatu peperangan, maka bagi yang secara fisik mampu berperang, maka hendaknya ikut berperang. Melakukan ibadah haji memang tidak dikenakan kepada semua umat Islam. Ibadah haji hanya diberlakukan kepada umat Islam yang memiliki kemampuan, baik istitha’ah iqtishadiyah maupun istitha’ah sihhatiyah. Memiliki kemampuan ekonomi dan kemampuan kesehatan. Bagi umat Islam yang lain tidak diwajibkannya. Demikian pula untuk melakukan peperangan, maka yang diharapkan adalah orang yang berkemampuan dalam berperang, sehat dan kuat fisiknya.

Nabi Muhammad SAW, juga menganjurkan agar jika di dalam perbuatan yang memerlukan perjalanan, maka sebaiknya seseorang dapat mengambil jalan yang bervariasi. Misalnya dalam shalat jamaah yang mengharuskan datang ke masjid atau tempat ibadah,  maka agar bisa mengambil jalan yang berbeda untuk pergi dan pulangnya. Itulah sunnah Nabi SAW di dalam ibadah yang memerlukan perjalanan ke tempat ibadah dimaksud.

Nabi Muhammad SAW., juga mengajarkan agar sesama manusia bisa saling menyayangi. Di antara bentuk saling menyayangi adalah dengan saling berkunjung. Jika ada sahabat kita yang sakit, maka kita diminta untuk menjenguknya. Jika ada sahabat yang wafat hendaknya mengantarkan jenazahnya. Melalui tindakan seperti itu, maka ikatan persahabatan akan menjadi sangat kuat. Persahabatan itu bagian dari cara kita memanusiakan manusia. Dengan persahabatan yang kuat, maka ukhuwah islamiyah juga akan menjadi lebih kuat.

Syekh Imam An Nawawi menukil Hadits yang diceritakan oleh Jabir RA berkata: “dahulu Nabi SAW apabila (pergi ke tempat shalat) pada hari raya, Beliau membedakan jalan (di antara pergi dan pulan). Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Selain itu juga terdapat Hadits dari Ibnu Umar RA., bahwa: “Rasulullah SAW dahulu ketika pergi (meninggalkan Madinah) mengambil jalan Asy Syajarah dan ketika masuk mengambil jalan Al Mu’arras. Dan jika Beliau memasuki Makkah Beliau masuk dari As Tsaniyatul Ula dan keluar dari As Tsaniyatul Sufla”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih.

Dari hadits tersebut, maka dapat dijelaskan dengan tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah itu Maha Rahman dan representasi rahmannya tersebut berada di dalam diri Nabi Muhammad SAW. Manusia tentu sulit untuk mengenal langsung akan kasih sayang Allah, akan tetapi dengan lebih mudah untuk memahami rahmannya Allah melalui perilaku Muhammad SAW dalam sirah Nabi Muhammad atau juga yang terdapat di dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW, maka rahman Nabi SAW tersebut sangat kentara. Dengan mudah manusia yang membaca sejarah Nabi SAW dan hadits-hadits Nabi SAW akan memahami bagaimana Rasulullah SAW adalah hamba Allah yang menerapkan kehidupan berbasis pada sikap dan prilaku rahman. Salah satu perwujudan dari rahman tersebut terdapat di dalam sikap dan prilaku saling bersilaturrahmi. Dipastikan bahwa silaturrahmi akan terwujud,  jika di antara sesama sahabat atau saudara memiliki kesamaan dalam persahabatan.

Kedua, syarat untuk saling bersahabat adalah memiliki kesamaan perasaan, pikiran dan prilaku. Sesama umat Islam yang memiliki kesamaan-kesamaan tersebut dipastikan akan saling berinteraksi dalam wujud silaturrahmi. Seirama dengan perkembangan zaman, maka silaturrahmi tidak harus diselenggarakan di dalam situasi face to face relationship, akan tetapi bisa juga melalui virtual atau disebut silaturrahmi virtual. Di masa pandemi Covid-19, maka nyaris seluruh silaturrahmi dilakukan dengan virtual. Bahkan juga ada Hari Raya Virtual.

Melalui konsep persahabatan dimaksud, maka kemudian terjadi implementasi silaturrahmi, dan juga menjenguk ketika ada di antara yang sakit. Tetapi di tengah perubahan sosial yang kompleks, maka menjenguk orang yang sakit juga dapat melalui virtual. Jika terdapat dalam satu kota, maka menjenguk secara face to face masih bisa dilakukan, akan tetapi jika tidak berada di dalam kota atau wilayah yang sama, maka dapat juga dilakukan melalui kontak virtual. Dari medan yang jauh, dapat juga melakukan upaya untuk saling mendoakan. Jangankan yang masih sesama di dalam alam dunia, yang sudah berada di alam barzakhpun bisa didoakan. Inilah salah satu kehebatan ajaran Islam dalam mengagungkan ikatan persahabatan, tidak hanya yang dikenal tetapi juga sesama umat Islam.

Ketiga, ajaran kebaikan di dalam Islam itu sangat banyak. Tetapi sebagaimana yang dipahami dari penjelasan-penjelasan di atas, misalnya adalah mendatangi shalat hari raya dengan varian jalan yang dilalui, melakukan ibadah haji bagi yang mampu, mengikuti jihad fi sabilillah jika berada di dalam darul harbi atau berada di dalam ruang harakah jihadiyah serta melakukan kebaikan dan memperbanyak tempat kebaikan.  Semua itu dilakukan sebagai pengabdian kita kepada Allah SWT. Barang siapa yang melakukan lebih banyak, maka juga akan mendapatkan pahala yang lebih banyak.

Wallahu a’lam b al shawab.

 

 

 

 

KEUTAMAAN ISTIKHARAH DAN MUSYAWARAH (97)

KEUTAMAAN ISTIKHARAH DAN MUSYAWARAH (97)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam kehidupan ini tentu akan terdapat pilihan-pilihan. Manusia sering dihadapkan atas pilihan-pilihan yang terkadang sulit untuk memilihnya. Apalagi di era sekarang di mana kehidupan terus berubah, dan terkadang perubahannya sangat cepat. Oleh karena itu, manusia harus melakukan upaya untuk bekerja keras di dalam memilih mana yang dianggap penting dan paling sesuai dengan kehidupannya.

Manusia hidup di dalam kehidupan sosial yang kompleks, yang terkadang akan sulit untuk memilih mana yang penting atau urgent dan mana yang hanya diperlukan saja. Ada yang urgent dan ada yang important. Yang urgent itu sangat penting sehingga diperlukan untuk memilihnya, dan ada yang important atau perlu dipilihnya.

Memilih bukan perkara mudah. Membutuhkan berbagai pertimbangan, misalnya pertimbangan akal atau rasio, pertimbangan sosial, pertimbangan ekonomi, bahkan juga politik. Dan yang tidak kalah penting adalah pertimbangan hati. Pertimbangan-pertimbangan itu bercorak sistemik atau antara satu dengan yang lain saling terkait. Pertimbangan akal  sering kali berbasis atas untung rugi. Mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan. Pertimbangan hati itulah kata kuncinya. Ada yang disebut sebagai “kata hati”. Dialah yang sering dapat memberikan pertimbangan pilihan yang tepat.

Karena kita menginginkan pilihan yang tepat berbasis pada kebanaran kata hati, maka itulah sebabnya Islam mengajarkan tentang ajaran shalat istikharah. Shalat itu diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW., agar kita bisa memilih pilihan  yang tepat. Pilihan rasional bisa saja mengarahkan seseorang pada pilihan yang salah, maka pilihan yang benar harus menggunakan pilihan hati nurani berbasis shalat istikharah.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin menukil ayat-ayat Alquran dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Di antara ayat Qur’an yang dinukil, misalnya:  Ayat Alqur’an di dalam Surat Ali Imran: 159 menyatakan: “dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…”. Kemudian  di dalam Surat Asy Syura: 38, Allah berfirman: “sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka…”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir RA., “Rasulullah SAW mengajarkan kepada kami (doa) meminta pilihan dalam setiap urusan seperti (mengerjakan)  surat Alqur’an. Beliau bersabda: “apabila  salah seorang di antara kalian bermaksud melakukan suatu perkara, hendaklah ia shalat dua rakaat yang tidak wajib, kemudian ucapkanlah: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan kepada-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku meminta kekuatan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dari karunia-Mu yang agung. Karena, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu, dan Engkaulah yang Maha tahu segala yang gaib.  Ya Allah jika engkau tahu bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusan agamaku, penghidupanku dan akhir dari urusanku atau Beliau mengatakan perkaraku yang segeranya dan yang ditundanya, maka takdirkanlah ia untukku dan mudahkanlah, kemudian berkahilah ia untukku. Dan jika engkau tahu bahwa perkara ini jelek untukku dalam urusan agamaku, penghidupanku dan akhir dari urusanku atau Beliau mengatakan perkaraku yang segeranya dan yang ditundanya, maka palingkanlah urusan itu dariku dan palingkanlah urusan itu dariku dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana saja ia berada, kemudian ridhailah aku terhadapnya. Jabir berkata: “lantas menyebutkan kebutuhannya”. Hadits riwayat Imam Bukhari.

Dari penjelasan tersebut, saya mencoba untuk menggaris bawahi dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, kita sekarang berada di  Era  Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity (VUCA). Era votality ditandai dengan terjadinya perubahan yang cepat dan nyaris tidak terduga. Zaman yang tidak menentu. Zaman yang kompleks atau serba rumit.  Banyak  perilaku yang ambigu serba ganda. Di sinilah letak pentingnya pendekatan agama di dalam kerangka untuk memilih mana tindakan yang tepat dan mana tindakan yang kurang tepat.

Di dalam kehidupan ekonomi, politik dan bahkan keagamaan menjadi serba rumit. Seorang pengusaha yang kemarin untung hari ini merugi. Seorang politikus yang kemarin hebat, tiba-tiba hancur terkena masalah. Seseorang yang kaya, tiba-tiba menjadi miskin karena kesalahan dalam memilih tindakan. Dunia sekarang  tidak bisa diprediksi dengan tingkat akurasi yang tinggi, disebabkan banyak variabel yang harus terlibat di dalamnya. Di masa lalu, seorang ahli bisa memprediksi dengan keakuratan tinggi berbasis tren data untuk memprediksi tentang masa depan sebuah usaha, tetapi sekarang sangat sulit.

Kedua, Islam sebagai agama yang mengedepankan dimensi kemanusiaan, maka memberikan peluang untuk menemukan sesuatu yang baik bagi dirinya. Islam memiliki ajaran kebahagiaan, yang tidak hanya kebahagiaan di dunia tetapi juga kebahagiaan di akherat. Untuk sampai kepada kebahagiaan, maka Islam membentangkan pilihan jalan yang baik atau jalan yang jelek. Terkadang pilihan itu sulit sebab terdapat ambiguitas dan kompleksitas di dalam memilihnya. Jika terdapat kesulitan, maka Islam mengajarkan untuk melakukan shalat istikharah agar mendapatkan pilihan yang terbaik.

Jika seseorang bisa melakukannya dengan benar, maka bisa dilakukan sendiri shalat istikharah tersebut, akan tetapi jika sulit melakukannya maka boleh meminta bantuan kepada orang yang melebihinya dalam melaksanakan shalat istikharah. Bahkan terkadang hasil istikharah  tidak sesuai dengan keinginan kita, maka hasil istikharah merupakan jalan terbaik yang bisa dilakukan.

Ketiga, selain itu juga perlu untuk melakukan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai urusan duniawi. Allah SWT memberikan petunjuk bahwa dalam urusan duniawi, maka manusialah yang mengetahuinya. Urusan pekerjaan, urusan perdagangan, urusan politik dan urusan agama yang terjadi di dunia, maka jalan terbaik adalah melalui musyawarah. Di dalam relasi sosial, sangat dimungkinkan terjadi “ketegangan”, “perbedaan” dan bahkan “konflik” di antara sesama manusia. Islam mengajarkan agar kita bermusyawarah atas urusan yang kita terlibat di dalamnya. Jika terjadi ketegangan dalam keadaan berdiri, maka duduklah untuk menyelesaikannya. Pasti ada solusi jika kita dapat duduk untuk menyelesaikan  ketegangan-ketegangan tersebut.

Kata kunci di dalam kehidupan adalah: “masalah, musyawarah dan berserah”. Jika ada masalah, bermusyawarahlah dan hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

WASIAT ATAU DOA ATAS PERKAWANAN DAN DOA UNTUKNYA (96)

WASIAT ATAU DOA ATAS PERKAWANAN DAN DOA UNTUKNYA (96)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir rahim.

Kita sesungguhnya telah memiliki tradisi untuk saling berdoa. Minimal kita mengucapkan salam  ketika kita akan memasuki rumah atau bertemu dengan sahabat atau orang lain. Jika kita akan memulai rapat atau pertemuan dipastikan kita akan mengucapkan salam. Bahkan ada yang salam seluruh agama dinyatakannya. Kita tidak perlu berdebat tentang kebolehan atau ketidakbolehannya, akan tetapi mari kita pahami maknanya dari sudut kemanusiaan.

Sebagai sesama umat Islam sudah tentu jika saling berdoa adalah kebaikan. Pesan di dalam doa tentu adalah pesan keselamatan, pesan untuk bertaqwa kepada Allah dan pesan agar kita selalu di dalam lindungan Allah SWT dan selalu hidup di dalam keberkahan. Memang bisa bervariasi pernyatannya, akan tetapi inilah pesan atau wasiat yang terbaik untuk sesama umat Islam.

Islam mengajarkan betapa pentingnya untuk saling mendoakan. Islam begitu konsern atas pentingnya berdoa untuk sesama umat Islam. Itulah sebabnya para ulama masa lalu membuat ungkapan yang isinya untuk mendoakan sesama umat Islam. Dimulai dengan mendoakan keluarga, sahabat, umat Islam bahkan doa itu untuk yang masih hidup atau sudah wafat.

Doa keselamatan itu nyaris kita baca setiap selesai shalat maktubah. Terutama shalat berjamaah. Sebagian umat Islam bahkan membaa Al Fatithah kepada Rasulullah SAW,  istri-istrinya, putra-putranya dan sahabat-sahabatnya. Lalu untuk orang tua, kakek nenek, dan ke atas sampai leluhur kita di masa lalu, dan juga doa untuk keberhasilan kita dalam banyak hal.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan pada Bab 96 tentang: “Melepas Saudara dan Memberinya Pesan Ketika Dia Pergi Untuk Perjalanan Jauh Dan Semisalnya Serta Mendoakannya Dan Meminta Doanya”. Judul ini kemudian saya ringkas menjadi “Wasiat Atau Doa Atas Perkawanan Dan Doa Untuknya”. Ada beberapa ayat Alqur’an dan hadits yang dinukil untuk menjelaskan atas tema pada Bab 96 ini. Di antaranya adalah:

Ayat Alqur’an menjelaskan di dalam Surat Al Baqarah: 132-133 bahwa: “Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. Ibrahim berkata: “Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab, ‘kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq.  (Yaitu) Tuhan yang Maha Esa, dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya”.

Hadits Rasulullah SAW yang diceritakan oleh Zaid bin Arqam RA., yang telah disebutkan sebelumnya dalam Bab Memuliakan ahlu bait Rasulullah. Rasulullah SAW pernah berdiri menyampaikan khotbah di tengah-tengah kami. Beliau memuji dan dan memuja Allah, kemudian menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau bersabda: “Amma ba’du. Ketahuilah saudara-saudara sekalian. Aku hanyalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabbku (Malaikat Maut) akan datang dan aku akan memperkenankannya. Aku tinggalkan kalian As saqalain (dua hal yang berat). Pertama, Kitabullah (Alqur’an) yang di dalamnya terkandung petunjuk dan cahaya. Maka ambillah kitab Allah dan berpegang teguhlah kepadanya. Beliau lantas menghimbau serta memotivasi kepada Kitab Allah. (Kedua) dan ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku”. Hadits riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab RA., berkata: ‘aku meminta izin kepada Nabi, SAW, untuk melaksanakan umrah’. Beliau pun memberikan izin dan bersabda: “Wahai Saudaraku, janganlah engkau melupakan kami dalam doamu. Lalu Beliau menyebut sebuah perkataan, aku tidak akan senang bila ucapan itu ditukar dengan dunia”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA., berkata: seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin melakukan perjalanan, maka berilah aku bekal’. Beliau bersabda: “semoga Allah membekalimu dengan ketaqwaan”. Orang itu berkata: ‘tambahkanlah untukku’. Beliau bersabda: “semoga Allah mengampuni dosamu”. Orang itu berkata lagi: ‘tambahkan lagi untukku’. Beliau bersabda: “Dan semoga Allah memudahkan kebaikan untukmu di manapun engkau berada”. Hadits Riwayat Tirmidzi.

Dari penjelasan sosiologis, ayat Alqur’an dan Hadits Nabi, maka dapat ditambahkan penjelasannya dalam tiga hal, sebagai berikut:

Pertama, Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah sedemikian perhatiannya untuk umatnya. Orang yang memohon doa dipastikan akan didoakannya. Doa tersebut terkait dengan kebaikan-kebaikan,  baik untuk akherat maupun untuk duniawi. Didoakan agar selalu dalam ketaqwaan kepada Allah SWT, keselamatan dan keberkahan di dalam kehidupan. Bahkan Nabi SAW di kala Umar akan melakukan umrah, di kala pamit maka Rasulullah SAW memintanya untuk tidak melupakannya di dalam doanya. Rasulullah SAW mendoakan dan umat Islam lainnya juga mendoakannya. Subhanallah, inilah indahnya Islam. Agama yang menganjurkan umatnya untuk berkasih sayang dan saling mendoakan di dalam kebaikan.

Kedua,  salah satu keutamaan Rasulullah adalah  kasih sayang dan kecintaannya kepada umat Islam. Nabi SAW  tidak membedakan antara sahabat dekat, jauh dan umatnya hingga sekarang. Sayyidina Umar sahabat dekatnya, dan orang Islam lain tidak dibedakan di dalam mendoakannya, yaitu doa untuk terus bertaqwa, doa untuk ampunan atas kesalahan dan Allah memudahkan jalan ke arah kebaikan. Ungkapan “kita” lebih baik dari “aku”.  Doa-doa di dalam Alqur’an lebih banyak yang mengucapkan “kita” dibanding “aku”. Doa yang dimulai dengan kata “Rabbana” lebih banyak dan lebih utama. Islam sangat menghargai “kekitaan” dari pada “keakuan”.

Ketiga, kita sedang hidup di era media sosial. Era dimana perjumpaan tidak hanya lewat luring atau luar jaringan akan tetapi lewat daring atau dalam jaringan. Kita tidak ketemu dengan face to face relationship atau tetapi melalui media relationship. Jadi sesungguhnya kita bisa berdoa kapan saja dan di mana saja. Media sosial akan dapat menjadi instrumen bagi kita untuk saling mendoakan dan bukan saling membully. Oleh karena itu, marilah kita gunakan media sosial untuk kebaikan. Media sosial untuk berwasiat tentang kebenaran dan berwasiat untuk kesabaran.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MEMBERI KABAR KEGEMBIRAAN DAN UCAPAN SELAMAT ATAS  KEBAIKAN (95)

MEMBERI KABAR KEGEMBIRAAN DAN UCAPAN SELAMAT ATAS  KEBAIKAN (95)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillah al rahman al rahim

Di dalam Islam dikenal dua hal penting, yaitu basyiran dan nadziran. basyiran atau kabar kegembiraan dan nasdziran adalah kabar peringatan tentang kesulitan dan kesengsaraan. Alqur’an di dalamnya banyak hal yang terkait dengan keduanya. Ada kabar kegembiraan, yaitu pahala bagi orang yang beriman dan beramal shaleh dan kabar kesedihan, yaitu siksa bagi orang yang tidak mengindahkan ajaran Allah. Surga atau tempat yang dijanjikan kepada manusia yang penuh dengan perbuatan kebaikan dan neraka bagi mereka yang melakukan perbuatan kejelekan.

Sesungguhnya manusia sangat menyukai terhadap kabar kegembiraan dan tidak suka atas kabar yang menyedihkan. Di dalam diri manusia terdapat dua dimensi yang tidak bisa dihindarkan yaitu senang dan susah, gembira dan sedih, dan keduanya bisa terjadi silih berganti tergantung pada apa yang diketahuinya, dipahaminya dan dialaminya. Adakalanya senang dan ada kalanya susah. Tidak selamanya senang dan juga tidak selamanya susah.

Syekh Imam Nawawi pada bab 95, menukil ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW. Di dalam surat Az Zumar 17-18, Allah SWT berfirman: “sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya”. Allah juga berfirman di dalam Surat At Taubah: 21, bahwa: “Tuhan mereka memberikan  mereka kabar gembira berupa rahmat, keridlaan, dan surga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya”. Juga pada Surat Fusshilat: 30, “dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.

Di dalam hadits Nabi SAW dijelaskan Abu Ibrahim (disebut juga Abu Muhammad, disebut juga Abu Muawiyah), Abdullah bin Abu Aufa, bahwa Rasulullah SAW memberi kabar gembira kepada Khadijah RA berupa sebuah rumah di dalam surga dari permata, tidak ada suara gaduh dan kelelahan di dalamnya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Di dalam hadits lain dinyatakan Ibnu Syumaiyah berkata, kami hadir di sisi Amr bin Ash RA., menjelang wafatnya. Dia menangis sangat lama dan membalikkan mukanya ke dinding. Putranya berkata, “wahai ayah. Bukankah Rasulullah telah memberimu kabar gembira begini. Bukankah Rasulullah telah memberi kabar gembira begini”? Kemudian dia membalikkan muka dan berkata: “sungguh, sebaik-baik yang kita persiapkan adalah syahadat lailaha illallah dan Muhammad Rasulullah. Aku telah melewati tiga fase. Aku masih ingat betul, tidak ada seorangpun yang lebih benci kepada Rasulullah SAW daripada diriku dan tidak ada yang lebih aku inginkan saat itu kecuali memiliki suatu kesempatan lalu membunuh beliau. Seandainya aku  mati di atas keadaan itu, pastilah aku termasuk penghuni neraka”. “Kemudian ketika Allah memberikan hidayah Islam ke dalam hatiku, aku datang menemui Nabi SAW dan berkata: ulurkanlah tangan kananmu, sungguh aku akan berbaiat kepadamu. Kemudian beliau mengulurkan tangannya, tetapi aku menahan tanganku”. Beliau berkata: “ada apa denganmu wahai Amr”? Aku menjawab:  “aku ingin membuat syarat”. Beliau bertanya: “membuat syarat apa”. Aku menjawab: “agar aku diampuni”. Beliau bersabda: “tidakkah engkau tahu bahwa Islam menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya”? Bahwa:  “hijrah menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya. Dan haji menggugurkan dosa sebelumnya”. “Saat itu tidak seorangpun yang lebih aku cintai melebihi cintaku kepada Rasulullah SAW dan tidak ada pula orang yang lebih terhormat di mataku dari beliau”.  “Aku tidak mampu menatap beliau karena memuliakan Beliau. Andaikan aku diminta menggambarkan  kepribadian beliau aku tidak akan mampu, karena aku tidak pernah menatap lekat Beliau. Seandainya aku mati, janganlah aku diiringi perempuan yang meratap dan api. Bila engkau menguburku, maka tuangkanlah tanah kepadaku sedikit demi sedikit. Kemudian berdirilah di sekitar kuburku seukuran waktu untuk menyembelih unta dan membagikan dagingnya, agar aku merasa nyaman dengan keberadaan kalian dan aku melihat jawaban apa yang aku berikan kepada utusan-utusan Tuhanku”. Hadits Riwayat Muslim.

Dari penjelasan hadits tersebut dapat dikaji atas tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam menganjurkan agar kita memberikan kabar kegembiraan kepada seseorang dan bukan kabar yang menyusahkan. Andaikan kabar itu membuat sedih tentu harus diiformasikan agar informasi tersebut tidak membuat seseorang menjadi semakin down. Memberikan  kabar yang memberi manfaat jauh lebih utama dibandingkan kabar yang membuat seseorang merasa tidak nyaman.

Islam mengajarkan kepada kita untuk memberikan informasi yang memberikan jalan kepada kebaikan dan kemudahan. Alqur’an menjelaskan: “inna ma’al ‘usri yusra” sesungguhnya setiap ada kesulitan maka ada kemudahan. Di ayat lain, Allah menyatakan: “la yukallifullahu nafsan illa wus’aha”, yang artinya Allah tidak akan membebami seseorang kecuali atas kemampuannya”. Artinya, bahwa Allah akan memberikan kegembiraan pada umat-Nya bahwa Allah itu akan memberikan ujian tanpa melampaui kemampuannnya untuk menganggungnya.

Kedua, Allah dan rasulnya memberikan berita tentang ha-hal yang menggembirakan selama hambanya itu selalu berada di dalam jalan kebanaran. Tetapi Allah dan rasulnya juga memberikan peringatan yang tegas jika ada hambanya yang mengingkari ajaran-Nya. Oleh karena Islam mengajarkan keseimbangan tidak hanya kebahagiaan yang ditawarkan, akan tetapi juga kesengsaraan yang ditawarkan. Pedoman sudah diberikan dan kita dapat memilih mana yang baik dan benar serta mana yang jelek dan salah. Gambaran tentang Amru bin Ash, sebagaimana diceritakan di dalam hadits Nabi SAW tersebut sungguh dapat menjadi pedoman bagi umat manusia, selama manusia mencintai rasul SAW dan patuh atas ajaran-ajarannya, maka dipastikan bahwa Allah akan menggembirakannya.

Ketiga, kita hidup di era zaman yang serba terbuka. Tidak ada sesuatu yang disembunyikan. Semua bisa diunggah, baik yang positif maupun negatif. Islam mengajarkan agar kita memberikan informasi atas hal-hal yang baik dan bukan hal-hal yang jelek. Kita dapat menginformasikan yang bermanfaat dan menjauhi yang tidak bermanfaat. Makanya, hendaklah kita memberikan informasi yang menyenangkan tentang ajaran Islam dan bukan yang membuat orang menjadi benci dan marah.

Islam itu agama yang penuh senyum, dan bahkan senyuman itu sedekah. Jika kita sering membuat orang tersenyum, maka berarti ibadah sedekah itu banyak. Seseorang tidak akan tersenyum jika informasi atau percakapan tersebut menyengsarakan. Makanya, jika kita bersama komunitas dan lainnya, upayakan agar bisa  tersenyum gembira. Hepi.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMULIAKAN TAMU (94)

MEMULIAKAN TAMU (94)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Islam itu agama yang menjunjung tinggi persaudaraan. Tidak hanya persaudaraan sesama umat Islam atau ukhuwah Islamiyah, akan tetapi juga ukhuwah insaniyah atau persaudaraan sesama manusia atau disebut juga sebagai ukhuwah basyariyah atau persaudaraan sesama umat manusia. Inilah salah satu kekuatan Islam yang memberikan ajaran agar sesama manusia saling mengasihi dan menyayangi, sebagai konsekuensi agama yang memberi rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil alamin.

Islam sungguh agama yang memberikan peluang umatnya untuk memberikan kasih sayang secara tulus. Tidak hanya sesama umat Islam tetapi juga bagi nonmuslim. Persaudaraan insaniyah. Bahkan tidak hanya ini, akan tetapi juga menyayangi alam seluruhnya. Bahkan dinyatakan dalam hadits riwayat Imam Muslim: “man la yarham la yurham”. Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi”. Agar kita disayangi  oleh yang lain, maka persyaratannya adalah menyayangi yang lain. Begitu jelasnya pesan Islam ini. Tidak ada keraguan seharusnya untuk saling menyayangi.

Salah satu wujud dari kasih sayang tersebut adalah silaturrahmi atau menyambung tali persaudaraan. Bisa saling kunjung rumah atau bisa juga dalam wujud lain dalam menyambung tali persahabatan dimaksud. Intinya, bahwa menyambung tali silaturrahmi dengan sahabat atau orang yang dikenal atau sesama kerabat merupakan salah satu ajaran Islam yang sangat mulia. Dan sebagai konsekuensi kemuliaannya, maka yang bersangkutan dapat saling bertamu.

Syekh Imam Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin Bab 94 bercerita berbasis pada ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Allah SWT di dalam Surat Adz Dzariyat: 24, berfirman: “Adakah sudah datang padamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim  (yaitu Malaikat-Malaikat) yang dimuliakan? (ingatlah) Ketika mereka  masuk ke tempatnya  lalu  mengucapkan ‘salamun’, Ibrahim menjawab, “salamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk, lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “silahkan Anda makan”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sesuai dengan riwayat Abu Hurairah, RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung silaturahmi. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau hendaklah ia diam”. Hadits riwayat Mutafaq alaih.

Kemudian juga terdapat riwayat hadits yang diceritakan oleh Abu Syuraih Khuwailid bin Amr Al Khusa’i RA., berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya, dengan pemberian”. Mereka berkata: “Bagaimana pemberiannya itu wahai Rasulullah?”. Beliau berkata: “pemberian itu selama satu hari satu malam dan (keharusan) menjamu itu selama tiga hari. Adapun yang lebih dari itu adalah sedekah untuknya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, dapat dijelaskan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam mengajarkan agar kita menghargai tamu. Baik tamu yang dikenal atau tamu yang tidak dikenal. Islam tidak membedakan tamu itu seorang kawan atau tidak. Yang jelas jika terdapat tamu yang datang ke rumah, maka menjadi kebaikan jika kita hargai sebagaimana orang yang kita kenal atau yang  tidak kita kenal. Hal itu sebagaimana di dalam wahyu Allah tentang sejarah Nabi Ibrahim AS, yang mendapatkan tamu yang tidak dikenal. Maka, Nabi Ibrahim AS tetap menjamunya sebagaimana orang yang sangat dikenalnya. Dihormati tamu tersebut dengan hidangan terbaik yang dapat dilakukan. Nabi Ibrahim AS menjamunya dengan daging sapi muda yang gemuk dan mempersilahkan tamunya untuk memakannya sampai habis.

Kedua, Nabi Muhammad SAW bahkan secara teknis mengajarkan agar kita menjamu tamu yang menginap di rumah selama sehari semalam bahkan sampai tiga hari. Jika seandainya lebih dari tiga hari, maka kelebihan jamuan tersebut  sebagai sedekah. Hal ini memberikan pemahaman kepada kita agar kita memuliakan tamu dengan sebenarnya. Islam sungguh konsern dalam membangun persahabatan tersebut, yaitu dengan cara memuliakannya. Jika seandainya di rumah terdapat tamu yang menginap beberapa hari, maka kewajiban kita menjamunya adalah tiga hari dan selebihnya adalah sedekah yang tentu akan mendapatkan pahala sebagaimana sedekah lain yang dilakukannya.

Islam mengajarkan atas tiga hal, yaitu orang yang percaya kepada Allah dan hari akhir, maka harus memuliakan tamu, menyambung tali silaturrami dan berkata yang baik. Mari kita perhatikan, bahwa Allah SAW memberikan kedudukan tinggi dalam menjamu tamu, menyambung tali persaudaraan dan berkata baik dengan secara simbolik mengakui keberadaan Allah dan kepastian terjadinya hari akhir.  Artinya, orang yang melakukannya memiliki derajad yang tinggi dalam keimanan atas Allah dan hari akhir.

Ketiga, sekarang kita berada di era media sosial. Era meeting virtual atau pertemuan dengan menggunakan media sosial. Orang bisa melakukan komunikasi tanpa terkendala jarak. Dunia bisa dilipat oleh media sosial. Kita bisa berkomunikasi dengan kawan kita di seluruh dunia. Di Amerika, Eropa, Australia dan juga di Afrika. Mobilitas sosial terjadi dengan sangat mudah, kapan dan di mana saja. Oleh karena itu, sesungguhnya melalui media sosial kita akan dapat melakukan silaturrahmi dengan sangat mudah. Silaturrahmi virtual. Melalui media sosial, kita dapat melakukan dua hal, yaitu menyambung tali sliaturrahmi dan berkata yang baik.

Sesungguhnya media sosial dapat menjadi kawan yang baik, selama media sosial digunakan untuk kebaikan. Tetapi media sosial juga akan menjadikan kejelekan,  jika kita tidak menggunakan untuk kebaikan. Mari kita gunakan media sosial untuk saling menyapa, menanyakan kabar atau say hello agar kita bisa memperoleh manfaatnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.