• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGHARAP RAHMAT ALLAH (51)

MENGHARAP RAHMAT ALLAH (51)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan yang sangat gamblang tentang bagaimana manusia harus berharap atas Rahmat Allah SWT. Pada bab ini, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Mengharapkan” atau “Roja” di dalam Bahasa Arab. Pada bab sebelumnya Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang Khouf atau takut. Biasanya dua bab ini disatukan di dalam ungkapan khouf dan raja’. Ketakutan dan pengharapan.

Setiap manusia tentu memiliki keinginan untuk mendapatkan kebaikan di dalam kehidupannya. Akan tetapi karena factor-faktor tertentu, terkadang harapan akan kebaikan tersebut tergerus atau terpendam oleh hasrat badani yang menggelegak. Nafsul Mutmainnah dikalahkan oleh nafsu hayawaniyah. Dan memang pertarungan di dalam kehidupan sebenarnya adalah pertarungan antara nafsu kebinatangan dan nafsu kemalaikatan. Makanya dikenal ada orang yang dekat dengan nafsu hayawan dan ada yang dekat kepada nafsu malaikat. Kal hayawan atau kal malaikat.

Allah memang memberikan nafsu-nafsu tersebut dalam kerangka untuk memberikan pelajaran kepada manusia. Para Nabi dan Rasul sesungguhnya diturunkan untuk kepentingan tersebut. Makanya, meskipun ada ajaran Nabi dan Rasul tetap saja ada manusia yang melakukan kebaikan dan ada manusia yang melakukan kejahatan. Bahkan di kala Harut dan Marut, dua malaikat, yang diturunkan ke bumi dan diberi nafsu oleh Allah, maka keduanya melakukan pelanggaran berat. Mulai dari minum khomar sampai membunuh orang.

Al Qur’an menjelaskan di dalam Surat Az Zumar: 53, bahwa: “katakanlah, Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Di dalam surat lain, As Saba’: 17, bahwa: “…dan kami tidak menjatuhkan adzab (orang yang demikian itu) melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”.  Lalu di dalam Surat Thoha: 48, dinyatakan: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling”.

Hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Dzar bahwa Nabi bersabda: “Allah SWT berfirman di dalam hadits Qudsi: “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipatnya, atau Aku tambahkan. Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan, maka balasannya adalah keburukan yang semisal itu Aku ampuni dosanya. Barang siapa yang mendekat padaku setangkal, maka Aku mendekat padanya sehasta, barang siapa yang mendekat kepadaku sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Barang siapa yang datang kepadaku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil. Barang siapa yang menemui Aku dengan membawa kesalahan hampir sepenuh bumi, asalkan ia tidak menyekutukan sesuatu dengan-Ku tentu Aku akan menemuinya dengan pengampunan sebanyak kesalahan yang dilakukan olehnya”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berkata Rasulullah SAW bahwa: “Ketika Allah menciptakan semua makhluk, maka dia menulis di dalam kitab, dan di dalam kitab itu ada di sisinya di  atas Arasy yang isinya, ‘sesungguhnya rahmatku mengalahkan murka-Ku”.  Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dengan demikian, pernyataan atau sabda Nabi Muhammad SAW memberikan Gambaran tentang bagaimana sesungguhnya Allah SWT memberikan ampunannya kepada hambanya dengan Rahmat-Nya. Allah SWT adalah Tuhan yang ampunannya jauh lebih besar dibandingkan dengan besarnya dosa yang dilakukan oleh manusia. Tetapi ada satu hal yang mendasar bahwa selama yang bersangkutan tidak menyekutukan-Nya.

Dari upaya untuk mencoba memahami atas teks Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW maka dapat digarisbawahi tiga hal, yaitu:

Pertama, di dalam sejarah agama-agama, Allah SWT telah menggambarkan tentang beberapa umat di masa lalu yang dikenai adzab Allah. Yang mula pertama adalah umat Nabi Nuh AS, yang diadzab Allah SWT dengan banjir besar yang mengenai seluruh dunia, dan menenggelamkan seluruh orang kafir dan orang yang berperilaku keburukan. Hanya orang yang patuh kepada perintah Allah SWT melalui Nabi Nuh AS dan mengarungi banjir bersama Nabi Nuh AS di dalam kapalnya, maka mereka selamat. Sepertinya Tuhan mereset kehidupan dan hanya menyisakan orang-orang  yang baik. Semua yang jelek dihapuskan. Lalu adzab kepada umat atau kaum Ad pada zaman Nabi Hud. Mereka ditimpa angin puting beliung yang sangat panas, dan hanya yang patuh kepada Allah yang selamat bersama Nabi Hud. Lalu ada kaum Tsamud, umat Nabi Luth, yang juga ditimpakan kepadanya adzab Tuhan sehingga yang ingkar kepada Allah menjadi punah. Jadi, Allah tidak menghabiskan semua umat tetapi memberikan peluang untuk yang berbuat baik untuk melanjutkan estafeta kehidupan.

Kedua,  Allah SWT itu Maha Rahman dan Rahim. Rahman itu dikaitkan dengan kasih sayang Allah SWT yang diberikan kepada semua makhluk di dunia, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Semua mendapatkan rahmannya Allah SWT. Tetapi Rahim itu hal yang khusus, artinya diberikan lebih khusus kepada umat Islam atau orang yang tidak menyekutukan Tuhan. Di dalam kehidupan umat manusia, maka Rahmat Allah SWT  itu akan diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang tidak menyekutukan Tuhan atau orang yang beriman kepada-Nya. Tetapi juga orang yang beramal shalih. Kabar gembira dari Allah SWT sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Muhammad SAW memberikan indikasi bahwa Allah SWT itu sedemikian besarnya Rahmat Allah kepada manusia, asal tidak berlaku syirik. Bahkan Allah itu selalu lebih besar kasih sayangnya. Jika ada orang yang kesalahannya sangat besarpun Allah SWT masih memberikan peluang untuk mengampuni dosanya, selama yang bersangkutan memohon ampunan dengan sungguh-sungguh dari Allah.

Ketiga, Ada beberapa cerita menarik, bagaimana Rahmat Allah itu datang kepada seorang hamba. Misalnya cerita tentang seorang pelacur yang dijanjikan masuk surga hanya karena menolong anjing yang kehausan. Pelacur itu dengan terompahnya mengambil air di sumur dan meminumkannya ke anjing itu dan dijanjikan akan masuk surga. Penjelasan matematisnya adalah di kala menolong anjing tersebut hati pelacur itu dalam nuansa keikhlasan yang tidak terhingga atau secara matematis angka 0, sehingga bisa bertemu dengan dzat Allah yang tidak terhingga, angka 0. Ketemunya dua ketidakterhinggaan tersebut, maka memberikan peluang Rahmat Allah datang kepadanya.

Imam Ghazali bermimpi tentang yang menyebabkan masuk surga, ternyata bukan ibadah-ibadahnya, meskipun ini sangat penting, akan tetapi adalah keikhlasannya di kala membiarkan seekor lalat meminum tinta yang dipakai menulis kitabnya. Di sinilah rahmat Allah berlaku dalam trilogy relasi: menolong (binatang atau manusia), keikhlasan dan rahmat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

TAKUT SIKSA ALLAH (50)

TAKUT SIKSA ALLAH (50)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitabnya “Ryadhus Shalihin” pada bab 50 menjelaskan tentang “Takut”. Dan kemudian saya tambahkan sebagai penegasan yaitu “Takut  Siksa Allah”. Bab ini merupakan sebuah penjelasan yang sangat komprehensif berbasis Teks Alqur’an maupun Hadits Nabi Muhammad SAW. Takut sebagaimana yang biasa diungkapkan oleh Khatib pada setiap hari Jum’at merupakan takut yang berbeda dengan takut kepada lainnya. Para khatib menjelaskan tentang taqwa itu identic dengan takut di dalam bahasa Indonesia. Hanya saja takut kepada Allah itu tidak berarti melarikan diri dari-Nya, akan tetapi justru mendekat kepada-Nya dengan cara menjauhi larangannya dan melakukan amalan-amalan yang diwajibkan dan disunnahkannya.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar manusia merasa dan mengamalkan kepatuhan kepada Allah SWT. Kepatuhan yang didasari oleh penghambaan kepada-Nya. Bukan kepatuhan yang hanya di lesan atau di luar, akan tetapi kepatuhan yang berbasis pada kesadaran batin untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah SWT menekankan agar manusia beriman kepada Allah dan menjalankan amalan shalihan. Tidak cukup dengan iman tetapi juga menjalankan amalan yang baik terhadap Allah dan terhadap sesama manusia bahkan berbuat baik kepada alam sebagai ciptaan Allah.

Semenjak Nabi Adam AS, maka perintah Allah SWT adalah menjalankan kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Jadilah seperti Habil dan jangan menjadi Qabil. Habil yang patuh pada Allah dan Qabil yang membangkang pada Allah. Sebuah realitas simbolik-empiris untuk menggambarkan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan berbuat baik dan berbuat jahat, yaitu melakukan amalan sebagaimana perintah Allah dan menjauhi perbuatan mungkar. Hingga Nabi Muhammad SAW, maka perintah itu sangat jelas, hanya saja terkadang manusia mengingkari perintah kebaikan dan jatuh pada tindakan melawan kebaikan. Di sinilah makna takut akan siksaan Tuhan, Allah Rabbul ‘alamin.

Di dalam Alqur’an Surat Al Baqarah: 40, dijelasakan: “…dan hanya kepadakulah  kamu harus takut (tunduk). Kemudian di ayat lain Surat Al Buruj: 12, dijelaskan: “Sesungguhnya adzab Rabbmu berar-benar keras”.

Alqur’an menyatakan di dalam Surat Al Haj: 2, dinyatakan bahwa: “hai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu, sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya”.

Ada beberapa hadits yang dinukil, antara lain adalah hadits yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud bahwa: “Rasulullah SAW bersabda sesungguhnya masing-nasing kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari berupa air mani, kemudian merupakan gumpalan darah dalam 40 hari kemudian segumpal daging selama 40 hari. Lalu diutuslah malaikat dan ia meniupkan roh kepada dirinya serta diperintah pula mencatat empat kalimat, yaitu mencatat tentang rezeki, ajal, amal perbuatan dan  tentang celaka dan bahagianya” Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Juga terdapat hadits yang diceritakan oleh Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah bersabda: “di antara para ahli neraka itu ada yang dijilat oleh api neraka sampai kepada kedua tumitnya. Di antara mereka ada yang dijilat api neraka sampai kedua lututnya. Ada yang sampai ke ikat pinggangnya dan ada pula yang sampai tulang lehernya”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Berdasarkan atas ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka kiranya dapat dipahami tiga hal yang sangat mendasar, yaitu:

Pertama,  Allah SWT menjelaskan bahwa ada Jannah atau surga dan ada neraka atau Nar. Surga itu peristiwa atau fenomena metaempirik yang diyakini bahwa akan terdapat realitasnya di masa depan. Neraka juga fenomena metaempirik yang diyakini bahwa akan terdapat realitasnya di masa depan. Surga adalah tempat kebahagiaan bagi orang yang beriman dan beramal saleh, sedangkan neraka adalah tempat kesengsaraan bagi orang yang ingkar akan kebenaran Allah dan melakukan kejahatan pada waktu hidupnya di dunia.

Di dalam tradisi Islam Jawa, bahwa kehidupan di dunia adalah berada di dalam alam ngelakoni janji atau alam dunia untuk melaksanakan janji kepada Allah. Di kala berada di dalam roh, maka semua manusia berjanji meyakini keberadaan Tuhan dan akan melakukan perintah Tuhan. Makanya kala di dunia, manusia harus melakukan kebaikan sebagai manifestasi akan pelaksanaan janji kepada Allah tersebut. Ada empat alam, yaitu alam roh, alam dunia, alam barzah dan alam akherat.

Kedua, ketakutan akan siksa Allah itu bukan atas fenomena duniawi yang empiris, akan tetapi ketakutan akan fenomena ukhrawi yang metaempiris. Implikasi dari keimanan kepada Allah akan dikaitkan dengan berbagai fenomena yang menyertainya. Makanya, di dalam teks suci digambarkan bahwa manusia agar takut kepada Allah sebab siksaan atas pengingkaran kepada-Nya dapat digambarkan secara metaempiric yang berupa panas yang sangat membara, bisa jadi melebihi 4000 derajat. Di dalam lapisan bumi terdapat panas api dengan 4000 derajat. Secara empiris, geologis, hal tersebut sangat nyata. Neraka itu suatu fenomena metaempiris yang harus diyakini akan terjadi di dalam rangkaian kehidupan manusia di masa depan.

Ketiga, gambaran di dalam teks suci bahwa kepatuhan hanya kepada Allah SWT. Tidak kepada lainnya. Implementasi kepatuhan kepada Allah adalah dengan mengamalkan ajaran agama sebagai diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tidak ada dualisme kepatuhan, sebab antara perintah Allah dan perintah Nabi Muhammad SAW adalah satu kesatuan. Patuh kepada Allah hakikatnya adalah patuh kepada Nabi Muhammad SAW. Semua ajaran Nabi Muhammad SAW adalah representasi dari perintah Allah SWT. Allah SWT yang sirrur asror atau kegaiban dari kegaiban tidak langsung bisa dipahami oleh manusia, maka Allah mengutus manusia yang memiliki kesamaan fisikal dan hasrat. Fisik dan hasrat  yang berbasis wahyu Allah SWT sehingga tidak  terdapat sedikitpun kesalahan di dalam ajarannya.

Di dalam konteks ajaran Islam dikenal istilah khouf dan raja’ atau rasa dan batin yang takut kepada Allah tetapi berbarengan dengan keinginan yang sangat mendalam untuk bermesraan dengan Allah. Oleh karena itu jangan hanya takut kepada Allah SWT dengan melakukan ajaran Islam, akan tetapi juga berpengharapan agar mendapatkan ridhanya Allah. Dua konsep ini saya kira sangat penting di dalam kehidupan kita. Jangan lupa berusaha dan berdoa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MELAKUKAN HUKUMAN BERBASIS DHAHIRIYAH (49)

MELAKUKAN HUKUMAN BERBASIS DHAHIRIYAH (49)

Prof. Dr. Nur Syam,MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Bada Bab 49, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Menjalankan Hukum-Hukum Terhadap Manusia Menurut Lahirnya, Sedangkan Keadaan Hati Mereka Diserahkan Kepada Allah Ta’ala”. Dari judul yang Panjang tersebut saya coba pahami dan akhirnya saya buat rumusan judul yang lebih pendek “Melakukan Hukuman Berbasis Dhahiriyah”. Saya tentu berharap bahwa pemendekan judul itu tidak mengurangi makna yang tersurat dan tersirat. Saya berusaha untuk mendapatkan pemahaman yang mendekati judul aslinya.

Manusia memang tidak memiliki kekuatan yang melebihi batas kekuatannya. Bahkan manusia hanya memiliki kemampuan yang sangat terbatas. Manusia tidak tahu apa dibalik dinding tanpa memiliki pengalaman sebelumnya. Manusia itu buta dan karena adanya sinar atau cahaya yang diterima oleh matanya saja sehingga bisa melihatnya. Cobalah di dalam kegelapan yang pekat, maka manusia tidak akan tahu apa yang ada di sekitarnya. Hanya karena  ada sinar terang di sekelilingnya, maka manusia bisa mengenali benda-benda di dekatnya.

Manusia memang bisa membuat teknologi pengindraan jarak jauh atau teleskop. Akan tetapi obyek yang dilihatnya pastilah benda-benda yang terkena sinar atau cahaya atau memantulkan cahaya. Jika benda itu gelap dan tanpa cahaya maka mata manusia juga tidak akan dapat mengamatinya. Inilah yang sesungguhnya terjadi bahwa manusia merupakan makhluk yang sangat terbatas kemampuannya dan tanpa kekuatan yang diberikan Allah SWT kepada manusia.  Maka  sesungguhnya manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Oleh karena itu,  manusia juga hanya tahu yang dhahir dan tidak tahu yang batin. Maka, di dalam menentukan aturan atau hukum juga pastilah sangat bercorak dhahiriyah saja.

Allah Ta’ala berfirman di dalam Surat At Taubah: 5, bahwa: “Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan”. Kemudian terdapat beberapa hadits yang menjelaskan tentang pemberian hukuman berbasis dhahir atas orang lain. Dinyatakan di dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diceritakan oleh Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Saya diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah, serta mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Maka jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah ta’ala”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Ada hadits lain, sebagaimana diceritakan oleh Abu Mas’ud al Miqdad bin Al Aswad berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, bagaimana pendapat anda seandainya saya bertemu dengan seorang kafir dan kami berperang, kemudian ia memotong salah satu tangan saya, lalu ia bersembunyi dariku dengan berlindung di belakang pohon serta berkata: ‘sekarang saya masuk Islam karena Allah, maka bolehkah saya membunuhnya setelah ia mengucapkan perkataan itu wahai Rasulullah’. Beliau menjawab: ‘janganlah kamu membunuhnya, aku menjawab: ‘wahai Rasulullah, tetapi ia telah memotong tanganku. Beliau bersabda lagi: “jangan kamu bunuh ia, karena seandainya kamu membunuhnya maka ia menduduki kedudukanmu sebelum kamu membunuhnya dan kamu menduduki kedudukannya sebelum ia mengucapkan perkataan yang diucapkannya itu. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari uraian di atas dan teks Alqur’an atau hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat kiranya digarisbawahi tiga hal, yaitu:

Pertama, manusia memang diciptakan oleh Allah SWT sebagai  sebaik-baik ciptaannya. Bahkan manusia juga dikaruniai kelebihan inteligensi melebihi ciptaan Allah SWT lainnya. Manusia memiliki akal, jiwa dan roh. Binatang hanya memiliki roh dan jiwa instingtif tetapi tidak dibekali dengan akal yang lengkap. Binatang tidak memiliki akal ketuhanan, akal social, akal emosional dan akal rasional. Sedangkan manusia memiliki semuanya. Akan tetapi tetap saja manusia tidak mampu menjangkau yang di dalam yang bersifat batiniah. Manusia tetap terikat dengan ciri dunia fisiknya atau inderawinya. Dan hanya orang-orang khusus yang dapat menjangkau  di luar inderawinya atau fisiknya.

Kedua, karena keterbatasan tersebut, maka di dalam memutuskan suatu perkara yang berbasis hukuman, maka manusia juga terbatas dengan kebenaran inderawinya. Suatu hukuman dinyatakan benar sejauh bisa dinalar berbasis pada kebenaran inderawinya. Bukti-bukti fisik atau materi yang menjadi ukuran kebenarannya. Sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW, bahwa di dalam perang maka di kala musuh sudah mengucapkan kalimat tauhid atau menyatakan keislamannya, maka tidak boleh untuk membunuhnya. Jadi orang mukmin yang berperang terhadap kaum kafir dan di kala kaum kafir tersebut nyaris terbunuh dan kemudian menyatakan lafal tauhid, maka tidak diteruskan untuk menghukumnya, bahkan di kala musuh itu sudah mencederai orang Islam. Secara dhahir orang kafir tersebut telah menyatakan Islam, sehingga berlaku hukum Islam.

Ketiga, manusia tidak boleh untuk menghukumi atas keyakinan batiniahnya. Jika secara dhahir memenuhi syarat untuk tidak dihukum, maka jangan dihukum. Orang yang sudah bersyahadat, maka harus dihukumi dengan cara sebagai orang Islam. Jadi yang urusan batin biarkan Allah SWT saja yang mengetahuinya, sedangkan urusan manusia adalah dimensi luarnya atau dhahiriyahnya. Terutama dalam ungkapan yang dinyatakannya. Di sinilah makna pemberian hukuman bagi orang kafir itu sampai sejauh yang bersangkutan tetap dalam kekafirannya sehingga dapat dihukum sesuai dengan kekafirannya tersebut. Jika yang bersangkutan sudah menyatakan keislamannya, maka yang bersangkutan dapat dihukum sesuai dengan hukum bagi orang Islam.

Ajaran Islam ini juga memberikan kepastian tentang bagaimana kita berlaku atas orang yang berada di dalam peperangan yang berlaku hukum jihad dalam konteks perang, akan tetapi di dalam keadaan damai, maka jihad dapat digunakan untuk kepentingan membangun perdamaian, sebagaimana inti atau substansi ajaran Islam yaitu untuk menciptakan keselamatan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENYAKITI ORANG SHALEH DAN KAUM DHUAFA’ (48)

MENYAKITI ORANG SHALEH DAN KAUM DHUAFA’ (48)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam tradisi Islam, para ulama atau orang yang shaleh harus diakrabi atau dijadikan partner dalam menjalani kehidupan. Orang Islam harus berkumpul atau mengakrabkan diri dengan orang yang shaleh. Agar kesalehannya dapat menjadi teladan bagi kita semua di dalam menjalankan kehidupan di dunia. Di dalam tradisi Islam Jawa disebutkan: “wong kang Shaleh kumpulana”. Di dalam Islam ada lima hal yang diperlukan, yaitu agar kita mendirikan shalat malam, agar kita dzikir yang lama, agar kita berpuasa, membaca Qur’an dan memahami maknanya serta agar kita akrab dengan orang shaleh.

Islam melarang dengan keras untuk kita sebagai umat Islam menyakiti orang-orang yang shaleh, orang yang miskin dan orang yang lemah. Orang yang lemah secara fisik, orang yang sakit, orang yang lemah secara ekonomi dan orang yang lemah  psikhologis. Meraka adalah orang yang tidak atau belum beruntung di dalam kehidupannya. Janganlah orang yang tidak beruntung di dalam kehidupannya lalu kita sakiti.

Islam sangat menghargai atas orang yang saleh, yaitu orang yang beriman kepada Allah dan mengamalkan ajaran agama dengan benar. Orang saleh itu hidupnya diisi dengan dua aspek tersebut. Di dalam dirinya terdapat keimanan yang sempurna dan di dalam dirinya juga terdapat prilaku beramal shaleh. Orang saleh ini dijamin Allah untuk memasuki surganya karena keridlaan Allah.

Siapa saja yang menyakiti orang seperti ini, dan orangnya menerima atas kesakitan yang dideritanya, maka Allah akan menjamin orang tersebut ke dalam rahmatnya. Bilal bin Rabbah, muadzin Rasulullah atau Masithah juru suri putri Fir’aun, adalah contoh orang beriman dengan keteguhan hati yang sangat luar biasa. Maka Allah memberikan kerahmatan atas kehidupannya di surga.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, pada bab 48 menjelaskan mengenai: “Peringatan Dari Menyakiti Orang Shaleh, Orang Miskin Dan Orang Lemah”. Di dalam artikel ini saya ubah judulnya menjadi: “Menyakiti Orang Saleh dan Kaum Dhu’afa”. Inti mendalamnya tetap bahwa Islam melarang untuk umat Islam menyakiti orang saleh, orang miskin dan orang lemah.

Di dalam pembahasannya, dinukil Teks Alqur’an, Surat Al Ahzab: 58, yang artinya adalah: “Dan barang siapa yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat dan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. Di dalam Surat Ad Dhuha: 9-10 dinyatakan: “Karena itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardiknya”.

Hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah bahwa “Barang siapa memusuhi kekasihku, maka kami memberitahukan padanya bahwa ia kuperangi”. Kemudian juga hadits yang diceritakan oleh Jundub bin Abdullah, bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat subuh, berarti ia berada di dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, jangan sekali-kali sampai Allah meminta jaminannya kembali itu sedikitpun, karena siapa saja yang jaminannya diminta kembali oleh  Allah, maka Allah akan mendapatkannya, kemudian akan mencampakkan dirinya ke  dalam api neraka”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari nukilan atas ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW tersebut, maka dapat digarisbawahi atas tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam dengan keras melarang atas prilaku jahat atas orang yang saleh, orang miskin dan orang lemah. Ajaran ini untuk menunjukkan kepada manusia bahwa Islam sedemikian tinggi mengangkat derajad dan martabat manusia. Manusia ditempatkan sebagai sebaik-baik ciptaan, sehingga tidak boleh ada tindakan jahat yang melampaui rasa kemanusiaan. Jangan menghardik, melakukan kekerasan dan melakukan tindakan culas kepada orang yang saleh, kaum yang belum beruntung secara ekonomi dan orang dha’if lainnya. Islam sungguh agama teladan dalam penghargaan atas sesama umat manusia. Jangankan kepada manusia, kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan saja Islam melarang berbuat jahat. Hewan yang disembelih harus menggunakan etika penyembelihan. Makanya agar dagingnya menjadi halalan  thayiban, maka proses penyembelihan harus halal. Tidak boleh ditawar. Di Indonesia terdapat praktik Juru Sembelih Halal atau Juleha. Kita tidak boleh merusak tumbuh-tumbuhan dengan cara seenaknya. Begitulah Islam memberikan etika dalam kehidupan secara umum maupun khusus.

Kedua, Allah memastikan jaminan kepada orang yang melakukan shalat dan melakukan kebaikan kepada sesama manusia, khususnya orang saleh, orang miskin dan orang lemah. Jika kita melakukan kejahatan atas tiga kelompok orang ini, maka peluang Allah menarik jaminan rahmat-Nya sangat besar, bahkan Allah memberikan ketegasan atas orang yang berbuat kejahatan tersebut. Mereka, orang saleh, orang miskin dan orang lemah,  adalah orang yang bisa menjadi kekasih Allah. Orang yang beriman dan beramal shaleh adalah bagian dari kekasih Allah, dan sesiapapun yang menyakitinya adalah melawan Allah SWT.

Ketiga, upayakan agar kita tidak melakukan kejahatan kepada mereka. Yakinilah bahwa melakukan kebaikan kepada siapa saja merupakan instrument agar kita memperoleh kebaikan. Kebaikan akan berbalas kebaikan dan kejahatan akan berbalas kejahatan. Di dalam filsafat Jawa: “ngunduh wohing pakarti”. Kita akan menuai atas apa yang kita lakukan. Kalau kita menyayangi manusia, maka Allah dan rasulnya akan menyayangi kita. Dan sebaliknya jika kita menyakiti manusia, maka Allah dan rasulnya akan menyusahkan kita. Rahmat Allah sebagai kunci surga berada di tangan kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

TANDA KECINTAAN ALLAH KEPADA HAMBANYA (47)

TANDA KECINTAAN ALLAH KEPADA HAMBANYA (47)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pad bab 47, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Tanda-Tanda Kecintaan Allah Kepada Seorang Hamba Dan Anjuran Untuk Berakhlak Demikian Serta Berusaha Mewujudkannya”.  Di dalam artikel ini saya ringkas judulnya menjadi “Tanda Kecintaan Allah Kepada Hambanya”.

Kita itu hidup di dunia simbolik. Artinya bahwa ada tanda-tanda yang diberikan oleh Dzat yang Maha Kuasa untuk kita bisa memahami apa sesungguhnya yang disimbolkan dari kekuasaan Allah tersebut. Ada dunia fisik yang kasat mata, yang dapat diketahui dan secara rasional dapat dipahami dan ada dunia metaempiric atau metafisik yang tidak semua orang bisa memahami dan mengetahui. Pengetahuan dan pemahaman seperti itu hanya diberikan oleh Allah kepada hambanya yang dianggap khusus. Oleh karena itu terkadang kita harus bertanya kepada orang khusus yang memang dikaruniai kemampuan khusus oleh Allah SWT.

Ada orang awam yang hanya dapat membaca hal-hal yang empiris atau yang fisikal dan ada orang yang dapat membaca yang metaempiris atau metafisika. Tetapi tentunya setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi metafisikawan, akan tetapi terkadang potensi tersebut tidak mampu diaktualkan. Makanya, ada orang yang bisa memasuki kemampuan khas atau ahli khawas karena kemampuannya untuk bisa menembusnya. Mimpi atau tanda-tanda alam terkadang menyiratkan sesuatu yang akan menjadi actual. Tetapi terkadang kita tidak memahami karena kemampuan kita yang terbatas. Jadi, terkadang untuk membaca yang metafisika kita memerlukan orang lain yang memiliki kapasitas untuk membacanya.

Di dalam Surat Ali Imran: 31 Allah berfirman: “Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Di dalam Surat Al Maidah: 54 Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah  akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintainya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yag bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad d jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Jika Allah ta’ala mencintai seorang hamba, maka Jibril memberitahukan bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu Si Fulan itu. Jibril lalu mencintainya, kemudian dia mengundang seluruh penghuni langit dan memberitahukan bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu semua si Fulan itu. Para penghuni langitpun lalu mencintainya. Setelah itu, kecintaan kepadanya diteruskan di kalangan penguhuni bumi”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits lain menyatakan sebagaimana diceritakan oleh Aisyah bahwa Rasulullah mengutus seseorang untuk mengimami shalat pada suatu pasukan. Dalam shalatnya ia selalu menutup bacaannya dengan ucapan ‘qul huwallahu ahad’.  Ketika mereka pulang mereka menceritakan hal yang demikian itu kepada Rasulullah SAW. Beliaupun bersabda: ‘tanyakan kepadanya, mengapa ia berbuat demikian?. Merekapun menanyakannya dan orang itu menjawab: ‘karena surat itu  adalah sifat Dzat yang maha pemurah, maka saya senang membacanya. Setelah disampaikan kepada Rasulullah SAW,  Beliau bersabda: ‘beritahukan kepadanya bahwa Allah Ta’ala mencintainya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari pembahasan ini, maka dapat digaris bawahi tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah sesungguhnya sangat mencintai hambanya, yaitu orang yang beriman dengan kesungguhan. Lahir dan batin. Tidak hanya diucapkan akan tetapi juga membenarkannya secara batiniah. Allah tidak perlu dibuktikan secara dzat-Nya, akan dapat dibuktikan melalui ciptaannya. Justru dengan mengetahui, memahami dan menghayati ciptaan Allah yang sangat sempurna tersebut, keimanan akan menjadi meningkat. Factor hidayah menjadi sangat mendasar. Ada orang yang memahami dan mengetahui tentang keteraturan alam dan seluruh isinya dengan pengetahuan yang sangat mendasar, tetapi tidak menjadikannya beriman kepada Allah SWT.

Allah itu sirrul asrar, rahasia di atas rahasia. Jadi potensi untuk memahaminya juga sangat tergantung kepada kesadaran tingkat tinggi untuk memahaminya. Allah sesungguhnya menyediakan roh bagi setiap manusia untuk bisa menjadi washilah atau perantara antara fisik, nafsu dan roh yang berada di dalam tubuh manusia untuk bisa merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Tetapi karena roh manusia itu terbelenggu dengan jiwa dan jasadnya sehingga  belum sanggup untuk menggapai kedekatan tersebut. Saya tidak berani menyatakan kemenyatuan dengan Allah. Ada orang yang bisa memasuki alam kasyaf atau terbukanya alam malakut dan kemudian masuk ke dalam alam lahut, sehingga garis roh manusia dengan Tuhan itu bisa menjadi sangat dekat. Bisa lebih dekat dengan urat nadi.

Kedua, secara fisikal Allah SWT sudah memberikan tanda-tanda orang yang akan dicintai oleh Allah, yaitu orang yang bersikap lemah lembut kepada orang lain, orang yang sangat menghargai terhadap manusia lain terutama sesama umat Islam, orang yang mencintai orang sebagai bagian dari ukhuwah kemanusiaan, orang yang tegas terhadap orang kafir dalam konteks toleransi ketauhidan meskipun bisa memiliki toleransi sosiologis, orang yang berjihad di jalan  Allah, artinya orang hidupnya tidak sia-sia tetapi digunakan berjuang untuk meninggikan kalimat tauhid dengan berbagai caranya serta orang yang mengedepankan kesabaran, kesyukuran dan ketawakkalan kepada Allah meskipun dicela dan dipersalahkan atas keimanan kepada Allah SWT.

Ketiga, kasih sayang kita kepada Allah akan berdampak atas kasih sayang para malaikat dan para penghuni langit dan kemudian berimbas pada cinta kasih kepada kemanusiaan. Ada trilogy yang menarik bahwa cinta dan kasih sayang kepada Allah, cinta para malaikat dan penghuni langit serta  cinta dan kasih sayang kemanusiaan. Cinta dan kasih sayang sistemik. Cinta kepada Allah, Malaikat dan kemanusiaan. Allah SWT akan menunjukkan bahwa orang yang mencintai manusia dengan segala kemampuannya merupakan tanda bahwa Allah dan para malaikat itu menyayanginya. Jika kita membenci kepada manusia lainnya, hakikatnya Allah menunjukkan kepada kita bahwa Allah dan penghuni langit tidak mencintai kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.