JAGA IMAN DAN ISLAM
JAGA IMAN DAN ISLAM
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Hari Ahad, 15/09/2026, saya diundang oleh Prof. Dr. Aminuddin Kasdi, Lc, MA untuk memberikan pembekalan kepada para mahasiswa baru program magister dan doktor UIN Sunan Kudus. Acara yang membicarakan tentang masa depan Indonesia dilihat dari perspektif peran mahasiswa. Judul yang diberikan kepada saya adalah: “Dari Kampus Untuk Bangsa: Mahasiswa dalam pengembangan wawasan kebangsaan pada Era Perubahan global”. Acara ini juga dihadiri oleh Pak Rektor, Direktur PPs., Asisten Direktur, para Ketua Prodi program magister dan para doktor serta seluruh mahasiswa program doktor dan magister.
Memanfaatkan waktu ke Kudus, maka saya mampir ke rumah Tuban, dan sekaligus nyekar untuk Mak Almarhumah Hj. Turmiatun, Bapak Sabar dan seluruh kerabat saya di pemakaman umum Dusun Sembungrejo yang dikenal sebagai pemakaman Mbah Baqi. Nama Mbak Baqi dikenal sebagai waliyullah yang menyebarkan Islam di wilayah kecamatan Merakurak. Di Tuban terdapat sebanyak 193 waliyullah yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Tuban. Saya dan tim peneliti sudah mengindentifikasi sebanyak 70 waliyullah di Tuban tersebut.
Saya menyempatkan untuk memberikan ceramah pada jamaah Mushallah Raudlatul Jannah di depan rumah saya bersama para jamaah shalat Shubuh yang tidak lain adalah kawan-kawan saya di masa remaja. Saya bersyukur bahwa kawan-kawan saya masih sehat dan masih bisa mengikuti jamaah shalat Magrib, Isya’ dan Shubuh nyaris setiap hari. Jika shalat dhuhur dan ashar biasanya dilakukan di rumah. Bisa dimaklumi sebab mereka adalah para petani, yang siang hari bekerja untuk keluarganya.
Saya sampaikan tiga hal, yaitu:
Pertama, kita bersyukur bahwa hingga hari ini kita masih meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT. Dengan meyakini hal ini, maka kita dapat menjadi umat yang beriman kepada Allah SWT. Menjadi umat yang selalu berkeyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, sebagaimana syahadat kita yang kita baca setiap melakukan shalat. Ada sebanyak 34 kali setiap shalat kita membacanya berdasarkan atas keyakinan kita kepada Allah SWT. Di dalam bacaan tasyahud kita, baik tasyahud awal maupun tasyahud akhir selalu kita baca: “asyhadu an la ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Sebuah persaksian yang selalu kita ulang-ulang dan kita perbaharui maknanya. Keyakinan tentang keberadaan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusannya yang terakhir. “la Nabiyya Ba’dahu”.
Kita sungguh bersyukur sebagaimana selama ini kita mengimplementasikan keimanan tersebut dalam tindakan beribadah. Kita sudah shalat, puasa, zakat dan tindakan kebaikan sesuai dengan ajaran agama. Bahkan kita bisa melakukan shalat berjamaah. Shalat berjamaah itu sunnah muakkad atau sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jadi yang kita lakukan itu sudah benar.
Kedua, kita menjaga iman kepada Allah dan juga menjaga amalan yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Islam itu menekankan: “Ya ayyuhal ladzina amanu wa ‘amilus shalihat”. “Wahai orang yang beriman dan beramal kebaikan”. Jadi antara iman dan amalan kebaikan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tidak ada amal kebaikan tanpa iman dan tidak ada iman tanpa amal kebaikan. Dua-duanya harus dilakukan agar kita mendapatkan keselamatan.
Keselamatan adalah kata kunci kehidupan. Melalui iman yang benar dan amal kebaikan yang benar, maka hal itu akan menjadi lahan untuk memperoleh keselamatan. Umat Islam haruslah meyakini bahwa keselamatan itu tidak hanya untuk kehidupan duniawi tetapi juga kehidupan ukhrawi. Kita mesti selamat di dunia dan juga selamat di akhirat. Disebut sebagai saidun fid daraini.
Yang sungguh saya bersyukur kepada Allah adalah keistiqamahan kita semua untuk menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Tidak muluk-muluk tetapi menjalankan shalat berjamaah. Mengamalkan shalat berjamaah di waktu subuh itu tidak mudah. Sulit bahkan sulit sekali. Tetapi kita melakukannya. Bahkan dengan rutin. Oleh karena itu, mari kita jaga amalan ibadah ini sebagai konsekuensi iman kita kepada Allah SWT.
Ketiga, mendapatkan hidayah untuk beriman dan menjalankan amalan shalihan itu tidak mudah. Ada orang kaya yang beriman dan beribadah kepada Allah, akan tetapi juga ada orang kaya yang tidak melakukan ibadah kepada Allah SWT. Ada orang hanya cukup saja, seperti kita, akan tetapi beriman dan mengamalkan amalan shalihan. Ada orang miskin yang beriman kepada Allah dan beribadah kepadanya. Dan ada orang yang miskin tetapi tidak beriman dan beribadah.
Kita wajib hukumnya bersyukur kepada Allah. Tidak hanya berucap alhamdulullah dengan lesan tetapi juga dengan hati yang mendalam, bahkan dengan sedikit amalan sedekah dan kebaikan lainnya untuk umat manusia yang membutuhkannya. Dan kita harus selalu berdoa kepada Allah di dalam shalat kita, Allahumma ainni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika”. Doa untuk memohon kepada Allah agar ditolong untuk terus berberdzikir atau ingat kepada Allah dengan kalimat-kalimat thayyibah, bersyukur terus menerus kepada Allah dan bisa beribadah dengan sebaik-baiknya.
Berdoalah kita sebagai washilah untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT. Dan kita sudah melakukannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
