• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

JAGA IMAN DAN ISLAM

JAGA IMAN DAN ISLAM

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Hari Ahad, 15/09/2026, saya diundang oleh Prof. Dr. Aminuddin Kasdi, Lc, MA untuk memberikan pembekalan kepada para mahasiswa baru program magister dan doktor UIN Sunan Kudus. Acara yang membicarakan tentang masa depan Indonesia dilihat dari perspektif peran mahasiswa. Judul yang diberikan kepada saya adalah: “Dari Kampus Untuk Bangsa: Mahasiswa dalam pengembangan wawasan kebangsaan pada Era Perubahan global”. Acara ini juga dihadiri oleh Pak Rektor, Direktur PPs., Asisten Direktur, para Ketua Prodi program magister dan para  doktor serta seluruh mahasiswa program doktor dan magister.

Memanfaatkan  waktu ke Kudus, maka saya mampir ke rumah Tuban, dan sekaligus nyekar untuk Mak Almarhumah Hj. Turmiatun, Bapak Sabar dan seluruh kerabat saya di pemakaman umum Dusun Sembungrejo yang dikenal sebagai pemakaman Mbah Baqi. Nama Mbak Baqi  dikenal sebagai waliyullah yang menyebarkan Islam di wilayah kecamatan Merakurak. Di Tuban terdapat sebanyak 193 waliyullah yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Tuban. Saya dan tim peneliti sudah mengindentifikasi sebanyak 70 waliyullah di Tuban tersebut.

Saya menyempatkan untuk memberikan ceramah pada jamaah Mushallah Raudlatul Jannah di depan rumah saya bersama para jamaah shalat Shubuh yang tidak lain adalah kawan-kawan saya di masa remaja. Saya bersyukur bahwa kawan-kawan saya masih sehat dan masih bisa mengikuti jamaah shalat Magrib, Isya’ dan Shubuh nyaris setiap hari. Jika shalat dhuhur dan ashar biasanya dilakukan di rumah. Bisa dimaklumi sebab mereka adalah para petani, yang siang hari bekerja untuk keluarganya.

Saya sampaikan tiga hal, yaitu:

Pertama, kita bersyukur bahwa hingga hari ini kita masih meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT. Dengan meyakini hal ini, maka  kita dapat menjadi umat yang beriman kepada Allah SWT. Menjadi umat yang selalu berkeyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, sebagaimana syahadat kita yang kita baca setiap melakukan shalat. Ada sebanyak 34 kali setiap shalat kita membacanya berdasarkan atas keyakinan kita kepada Allah SWT. Di dalam bacaan tasyahud kita, baik tasyahud awal maupun tasyahud akhir selalu kita baca: “asyhadu an la ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Sebuah persaksian yang selalu kita ulang-ulang dan kita perbaharui maknanya. Keyakinan tentang keberadaan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusannya yang terakhir. “la Nabiyya Ba’dahu”.

Kita sungguh bersyukur sebagaimana  selama ini kita mengimplementasikan keimanan tersebut dalam tindakan beribadah.  Kita sudah shalat, puasa, zakat dan tindakan kebaikan sesuai dengan ajaran agama. Bahkan kita bisa melakukan shalat berjamaah. Shalat berjamaah itu sunnah muakkad atau sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.  Jadi yang kita lakukan itu sudah benar.

Kedua, kita menjaga iman kepada Allah dan juga menjaga amalan yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Islam itu menekankan: “Ya ayyuhal ladzina amanu wa ‘amilus shalihat”. “Wahai orang yang beriman dan beramal kebaikan”. Jadi antara iman dan amalan kebaikan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tidak ada amal kebaikan tanpa iman dan tidak ada iman tanpa amal kebaikan. Dua-duanya harus dilakukan agar kita mendapatkan keselamatan.

Keselamatan adalah kata kunci kehidupan. Melalui iman yang benar dan amal kebaikan yang benar, maka hal itu akan menjadi lahan untuk memperoleh keselamatan. Umat Islam haruslah meyakini bahwa keselamatan itu tidak hanya untuk kehidupan duniawi tetapi juga kehidupan ukhrawi. Kita mesti selamat di dunia dan juga selamat di akhirat. Disebut sebagai saidun fid daraini.

Yang sungguh saya bersyukur kepada Allah adalah keistiqamahan kita semua untuk menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Tidak muluk-muluk tetapi menjalankan shalat berjamaah. Mengamalkan shalat berjamaah di waktu subuh itu tidak mudah. Sulit bahkan sulit sekali. Tetapi kita melakukannya. Bahkan dengan rutin. Oleh karena itu, mari kita jaga amalan ibadah ini sebagai konsekuensi iman kita kepada Allah SWT.

Ketiga, mendapatkan hidayah untuk beriman dan menjalankan amalan shalihan itu tidak mudah. Ada orang kaya yang beriman dan beribadah kepada Allah, akan tetapi juga ada orang kaya yang tidak melakukan ibadah kepada Allah SWT. Ada orang hanya cukup saja, seperti kita, akan tetapi beriman dan mengamalkan amalan shalihan. Ada orang miskin yang beriman kepada Allah dan beribadah kepadanya. Dan ada orang yang miskin tetapi tidak beriman dan beribadah.

Kita wajib hukumnya bersyukur kepada Allah. Tidak hanya berucap alhamdulullah dengan lesan tetapi juga dengan hati yang mendalam, bahkan dengan sedikit amalan sedekah dan kebaikan lainnya untuk umat manusia yang membutuhkannya. Dan kita harus selalu berdoa kepada Allah di dalam shalat kita, Allahumma ainni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika”. Doa untuk memohon kepada Allah agar ditolong untuk terus berberdzikir atau ingat kepada Allah dengan kalimat-kalimat thayyibah, bersyukur terus menerus kepada Allah dan bisa beribadah dengan sebaik-baiknya.

Berdoalah kita sebagai washilah untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT. Dan kita sudah melakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

ANJURAN AGAR BANYAK YANG IKUT MAKAN (110)

ANJURAN AGAR BANYAK YANG IKUT MAKAN (110)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillah al rahman al rahim

Islam merupakan agama yang memberikan pedoman secara mendalam atas persoalan yang dihadapi oleh umat Islam. Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan atau antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan alam, akan tetapi juga pedoman dalam hidup keseharian. Islam tidak hanya mengatur relasi antar manusia dalam konteks fiqih munakahat, fiqh muamalah, fiqih thaharah, fiqih shalat, fiqih zakat, fiqih haji dan fiqih tata negara, akan tetapi juga mengatur tentang tata cara makan, bahkan etika makan.

Islam itu agama yang kaffah artinya menyeluruh untuk seluruh perbuatan atau perilaku manusia. Bahkan terkesan detail atau mendalam. Memang Alqur’an hanya mengatur yang general atau mujmal, akan tetapi hadits Nabi SAW mengatur setiap perilaku manusia di dalam kehidupannya. Shalat misalnya tidak diatur secara mendalam di dalam Alqur’an, akan tetapi Hadits Nabi SAW yang menjelaskannya. Jumlah waktu shalat dan rakaat di dalam shalat dan yang mendasar tentang shalat dijelaskan di dalam hadits-hadits Nabi SAW. Yang dijelaskan secara mendalam adalah persoalan waris dan itupun juga diatur secara lebih mendalam di dalam hadits-hadits Nabi SAW. Tentang tata cara taharah juga diatur di dalam hadist-hadits Nabi SAW. Demikianlah seterusnya.

Yang unik juga Islam mengatur tentang tatacara makan dan etika makan dalam penjelasan yang mendasar. Mulai dari makanan yang halal dan haram, lalu makan yang thayyiban atau menyehatkan, tata cara makan, bagaimana memulai makan dan mengakhiri makan, keberkahan makanan, sunnah-sunnah di dalam makan, bahkan mengatur bagaimana ketercukupan makan untuk orang yang lebih banyak. Dilarang untuk menyisakan makanan, makanlah secukupnya, jangan berlebihan, bahkan menjilati bekas makan di tangan.

Syekh Imam An Nawawi  menjelaskan mengenai anjuran untuk memperbanyak jumlah orang yang makan. Hadits yang dinukil adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., berkata Rasulullah SAW bersabda: “Makanan untuk berdua cukup untuk tiga orang, dan makanan bertiga cukup untuk empat orang”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Jabir RA berkata, Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Makan untuk satu orang, cukup untuk berdua, makanan untuk berdua cukup untuk  tiga orang, makanan untuk bertiga cukup untuk empat orang dan makanan untuk empat orang cukup untuk delapan orang”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat dipahami tiga hal yang mendasar, yaitu:

Pertama, makan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata, tetapi juga untuk memenuhi anjuran untuk memakan makanan sebagaimana terdapat di dalam hadits-hadits Nabi SAW. Pemenuhan kebutuhan fisik atau biologis tentu dipastikan untuk memenuhi kebutuhan tubuh agar menjadi sehat. Qalbun salim fi jismin salim. Begitulah statemen para ulama dalam melihat arti pentingnya makan. Tetapi juga jangan berlebihan di dalam makan. Misalnya tidak mempertahankan komposisi makanan. Islam tidak menganjurkan sesuatu yang berlebihan. Misalnya komposisi makanan berlemak atau lemak jenuh atau makan bergula yang berlebihan tentu ada konsekuensinya. Lemak jenuh yang kebanyakan akan memicu atas penyakit kolesterol atau asam urat. Gula yang berlebihan akan memicu diabet dan masih banyak lagi. Di sini Nabi SAW menganjurkan agar segera berhenti makan sebelum kenyang. Ternyata dari dimensi kesehatan sangat mendasar sabda Nabi SAW tersebut.

Kedua, Nabi SAW menganjurkan agar mencukupkan makanan untuk lebih banyak orang. Jika makanan itu cukup untuk satu orang, maka dapat dimakan oleh dua orang. Jika makanan cukup untuk dua orang agar bisa dimakan untuk tiga orang, dan jika makanan cukup untuk tiga orang agar dapat dimakan untuk empat orang, dan jika makanan cukup untuk empat orang, maka makanan tersebut dapat dimakan untuk delapan orang. Sebuah konsep yang sangat mendasar tentang ketercukupan makan. Biasanya orang hanya melihat kuantitas makanan dan kuantitas orang yang makan. Jika makanan cukup untuk dua orang harus dimakan oleh dua orang saja, dan seterusnya. Akan tetapi Nabi SAW memiliki cara pandang berbeda dengan pengalaman manusia di dalam makan. Bahkan sekarang, makanan yang tampaknya berlebih juga hanya dimakan oleh orang tertentu saja. Perintah Nabi SAW itu berselaras dengan anjuran agar jangan makan berlebihan. Secukupnya. Jangan sampai terasa kenyang atau bahkan kekenyangan.

Ketiga, jumlah populasi penduduk semakin banyak. Jumlah penduduk mengikuti deret ukur (derat geometri),  sementara itu jumlah bahan makanan mengikuti deret hitung (deret linear) atau dalil Malthusian. Artinya jumlah manusia terus bertambah dari tahun ke tahun. Sekarang populasi dunia mencapai angka 8,2 miliar. Sementara itu jumlah makanan mengikuti deret hitung. Bumi terbatas, kapasitas untuk menghasilkan makanan semakin terbatas. Penduduk yang semakin banyak tentu membutuhkan tempat tinggal, infrastruktur kehidupan, sementara bumi tetap dan tidak bertambah. Tempat tinggal yang banyak akan menyebabkan jumlah lahan pertanian dan perkebunan akan makin menyusut. Jadi akan terdapat mengurangan produk makanan yang ke depan akan luar biasa.

Di sinilah makna penting manusia mengerem nafsu makannya. Empat belas abad yang lalu Nabi SAW sudah mengingatkan akan bahaya makan berlebihan karena diprediksi bahwa jumlah populasi semakin banyak sementara itu lahan produksi makanan semakin berkurang. Andaikan dirumuskan hitungannya, maka akan terdapat efisiensi dalam kuantitas makan di tengah kehidupan yang semakin sulit.

Apa yang dinyatakan oleh Nabi SAW ternyata tidak hanya konsep yang utopis, akan tetapi merupakan konsep aplikatif yang sangat relevan dengan zaman. Ajaran Islam memang shahih fi kulli zaman wa makan. Ajaran yang benar sepanjang masa, dan benar dalam segala tempat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

SUNNAH DALAM MAKAN (109)

SUNNAH DALAM MAKAN (109)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pada bab ke 109, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang sunnah di dalam memakan makanan. Di dalam bab ini dijelaskan dengan judul yang sangat panjang yaitu: “Anjuran  makan dengan tiga jari, anjuran menjilati jari, larangan membasuh jari sebelum menjilatinya anjuran menjilati bejana, mengambil suapan yang terjatuh dan memakannya, serta bolehnya membersihkan jari setelah dijilat dengan lengan, kaki atau selain keduanya”. Oleh karena itu, saya ringkas dengan tema: “Sunnah Dalam Makan”.

Makan kelihatannya merupakan hal biasa saja. Setiap hari kita lakukan makan untuk memenuhi kebutuhan fisik atau raga kita. Tidak ada yang istimewa. Karena prilaku keseharian, maka tidaklah menjadi hal yang istimewa. Berjalan apa adanya sesuai tuntutan kebutuhan fisik kita. Tetapi ternyata ada pantangan makan. Ada makanan yang halal dan makanan yang haram. Ada makanan yang membuat sehat dan membuat sakit. Ada persyaratan halalan thayyiban. Tidak cukup halal tetapi juga yang menyehatkan.

Ada tradisi yang terkait dengan agama-agama. Misalnya Islam mengharuskan puasa selama satu bulan pada bulan ramadlan. Bagi para Bante dalam agama Buddha, maka makan sehari hanya sekali sebelum jam 12 siang. Jika lebih dari jam itu, maka harus menunggu hari berikutnya. Di dalam agama Kristen, Katolik, Hindu dan Konghucu juga memiliki pantangan-pantangan makanan, yang dalam istilah yang lazim disebut sebagai puasa.

Agama memang memiliki seperangkat ajaran terkait dengan makan. Islam sangat rinci dalam mengatur tentang bagaimana makan itu dan apa yang boleh dimakan. Islam memberikan pedoman makan makanan yang sunnah, yang mubah dan yang dilarang. Ini menunjukkan betapa pentingnya urusan makan. Bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik semata tetapi ada pahalanya dan ada dosanya.

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, RA., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “apabila salah seorang di antara kamu makan makanan, maka janganlah ia mengusap jarinya sampai ia menjilatinya atau meminta orang lain menjilatkannya”. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Kaab bin Malik RA., ia berkata: “Aku melihat Rasulullah SAW makan dengan tiga jari dan apabila Beliau selesai, Beliau menjilatinya’. Hadits riwayat Muslim.

Hadits yang diriwayatkan Jabir RA., bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk menjilati jari-jari dan bejana dan Beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui pada makanan kalian bagian mana yang terdapat keberkahannya”. Hadits Riwayat Muslim.

Jabir RA., bahwa Rasulullah bersabda: “apabila suapan salah seorang dari kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membersihkan kotoran yang menempel padanya, lalu memakannya. Janganlah ia membiarkannya untuk setan. Dan janganlah ia mengusap tangannya  dengan kain sebelum menjilati jari-jarinya, karena ia tidak mengetahui pada bagian mana dari makanannya terdapat keberkahan”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari sedikit penjelasan di atas dan hadits Nabi Muhammad SAW., maka dapat dipahami tentang tiga hal, yaitu:

Pertama, Nabi Muhammad SAW mengajarkan tentang makna makanan. Makanan adalah rezeki dari Allah SWT., sehingga tidak boleh disia-siakan. Tidak boleh ada sebutir nasipun yang ditinggalkan di piring atau tidak boleh ada makanan yang jatuh dan tidak dipungut kembali dengan dibersihkan dan kemudian dimakan. Hal ini menandakan bahwa makanan merupakan rezeki yang sangat besar maknanya bagi manusia.

Nabi SAW., memberikan pedoman kepada kita untuk makan di antaranya adalah jangan mengusap bekas makanan di tangan kita hingga sisa makanan tersebut kita bersihkan dengan mulut kita. Selain itu juga memungut makanan yang terjatuh agar bisa dimakan kembali. Bukan tindakan jorok karena menjilati makanan dimaksud tetapi sebuah proses untuk menjalankan pesan Nabi SAW. Mungkin tidak semua orang bisa melakukannya. Jika makan di rumah bersama keluarga mungkin kita bisa melakukannya, akan tetapi di dalam tradisi masyarakat modern yang seperti sekarang, bisa jadi hal tersebut dianggap sebagai keanehan.

Kedua, di dalam makanan ada keberkahan. Yaitu semakin bertambahnya kebaikan-kebaikan yang bisa diterima. Jika makanan kita itu sesuai dengan sunnah Nabi SAW, maka terdapat keberkahan dalam makanan yang kita makan. Bisa saja rezeki kita akan ditambah oleh Allah SWT. Orang menjadi tidak akan kekurangan makan. Dipastikan Allah SWT akan memberikan rezeki yang cukup. Bukan rezeki yang banyak. Ketercukupan rezeki itulah yang dirasakan sangat penting.

Nabi SAW mengajarkan agar mulai makan dengan basmalah. Artinya di kala makan maka makanan itu berada di dalam Asma Allah. Dan sebaiknya ditambah dengan doa keberkahan makan. Tidak hanya doa tetapi juga mengikuti tata cara makan Nabi SAW. dan mengakhiri makan dengan bacaan hamdalah. Bersyukur atas nikmat Allah SWT karena bisa makan.

Begitulah indahnya Islam, sehingga makan saja diatur oleh Nabi Muhammad SAW. Kita harus makan dengan tangan kanan dan bukan tangan kiri. Tangan kanan adalah simbol kebaikan, sehingga kita harus menggunakan tangan kanan. Kiri adalah simbol kejelekan, maka kita diminta untuk tidak makan dengan tangan kiri. Dan banyak lagi pedoman dan etika dalam makan makanan.

Ketiga, mungkin ada di antara kita yang belum bisa meneladani atas prilaku Nabi SAW dalam makan. Ada yang kurang dan tidak ada yang menyamai dengan cara makan Nabi SAW apalagi melebihinya. Tetapi yang penting kita harus berusaha sekuatnya untuk melakukannya. Kita upayakan untuk bisa meneladaninya, dan jika belum mampu maka beristighfar sesuai dengan kekhususan perkara yang belum sesuai.

Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW sangat memahami atas prilaku umatnya, sehingga jika ada yang kurang, maka jalan keluarnya adalah memohon ampunan kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JAGA ISLAM AHLU SUNNAH WAL JAMAAH


JAGA ISLAM AHLU SUNNAH WAL JAMAAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana biasanya,  jika saya pulang ke Tuban, di Dusun Semampir, Desa  Sembungrejo, Kecamatan Merakurak,  Tuban, dipastikan dapat memberikan taushiyah Subuh di Mushalla depan rumah saya, Mushalla Raudlatul Jannah, Taman Surga, yang selama ini menjadi tempat jamaah shalat shubuh. 14/09/2026. Meskipun jumlahnya tidak banyak,  sebagaimana masjid-masjid besar di perkotaan, akan tetapi mereka adalah jamaah tetap yang nyaris pada waktu shubuh menjalankan shalat secara berjamaah.

Mereka adalah kawan-kawan saya di masa lalu. Teman sepermainan. Ada yang lebih tua dan ada yang lebih muda. Bapak-bapak dan ibu-ibu. Saya bersyukur masih bisa bertemu dengan sahabat-sahabat saya itu dan yang menggembirakan bahwa mereka masih sehat dan dapat menjalankan shalat berjamaah. Biasanya tiga waktu untuk shalat jamaah: shalat magrib, isya’ dan subuh. Maklum jika siang mereka bekerja sebagai petani.

Saya menyampaikan tiga hal mendasar, yaitu:

Pertama, ungkapan rasa syukur bahwa kita semua masih dalam kesehatan yang baik dalam ukuran sehatnya orang tua. Tetapi dengan masih bisa shalat berjamaah di mushallah ini tentu menggambarkan bahwa kita masih diberi kesehatan fisik  yang baik. Semoga kita akan dapat konsisten dalam melakukan shalat berjamaah. Tidak ada nikmat yang lebih besar dibandingkan dengan nikmat Iman dan Islam, yaitu percaya kepada Tuhan dan menjalankan ajarannya. Menjalankan shalat adalah amalan agama yang utama. Afdhalul a’mal as shalatu ‘ala waqtiha.  Sebaik-baik amal adalan menjalankan  shalat pada waktunya.

Kita semua insyaallah sudah menjadi orang yang bersyukur kepada Allah atas nikmat dan rahman rahimnya yang dibuktikan dengan telah menjalankan amalan ibadah yang sangat penting, yaitu menjalankan rukun Islam. Terutama kita telah melakukan shalat sebagaimana kapasitas yang kita miliki. Setiap datang waktu shalat dipastikan kita melakukan amalan shalat tersebut.

Kedua, sebagai umat manusia tentu kita gembira karena kita bisa menjadi bagian dari umat Islam. Umat Nabi Muhammad SAW. Umat yang menjadi pengemban Islam rahmatan lil alamin. Agama yang penuh kerahmatan. Kita ini adalah penganut Islam ahlu sunnah wal jamaah. Islam mayoritas di Indonesia. Yang termasuk Islam ahli sunnah wal jamaah adalah NU dan  Muhammdiyah, lalu Jam’iyatul Washliyah, Nahdlatul Wathan, PERTI dan beberapa lainnya. Mereka adalah umat Islam yang mengusung tema Islam rahmah.

Selain itu juga ada yang menyebut atau melabel kelompoknya dengan sebutan ahlu sunnah atau Islam ahli sunnah. Mereka tidak mau disebut sebagai kaum Salafi atau kaum Wahabi. Sebagai kaum ahlu sunnah maka mereka beranggapan bahwa hanya kelompoknya saja yang ahlu sunnah dan yang lain dinyatakan bukan. Orang NU, misalnya dianggap sebagai ahlu bidh’ah. Kelompok yang selama ini melangsungkan pelestarian atas tradisi yang tidak didapatkan sumber hukumnya, baik di Alqur’an maupun hadits-hadits Nabi Muhammad SAW.

Tradisi yang diamalkan oleh orang NU itu banyak sekali, misalnya melakukan wirid berjamaah di masjid atau mushalla ba’da shalat berjamaah. Orang NU juga melakukan bacaan Surat  Yasin bersama-sama yang dilakukan untuk kepentingan orang yang masih hidup atau sudah mati. Jika untuk orang yang sudah mati disebut sebagai fida’an. Yaitu kirim doa atau bacaan kalimat thayyibah yang dilakukan bersama-sama, baik di rumah-rumah atau masjid ba’da shalat. Misalnya Si Fulan minta bantuan kepada jamaah masjid semua untuk membacakan fatihah kepada ahli kuburnya. Perbuatan ini dianggap sebagai bidh’ah yang ditafsirkannya tidak ada dalilnya di dalam Islam. Orang NU juga membaca kitab Barjanzi untuk memuji kepada Nabi Muhammad SAW dengan membaca sejarah hidupnya sebagaimana yang diyakininya. Amalan begini juga bidh’ah karena dianggap Nabi Muhammad SAW tidak pernah melakukannya. Orang NU juga melakukan peringatan Maulid Nabi SAW yang juga dianggap bidh’ah sebab Nabi Muhammad tidak melakukannya. Apalagi upacara kematian dengan menghadirkan umat Islam untuk membacakan Surat Al-fatihah, Surat Yasin dan tahlil. Hal ini tidak pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW sehingga juga dianggap bidh’ah. Yang melakukannya dipastikan akan masuk neraka. “kullu bidh’atin dhalalah, wa kullu dhalalh fin nar”.  “Setiap yang bidh’ah itu dhalalah dan setiap yang dhalalah itu di neraka”. Inilah tafsir mereka atas ajaran agama Islam dan yang penting bahwa yang tidak sesuai dengan tafsir ajaran agamanya dianggapnya sesat.

Ketiga, berdasarkan perbincangan di ceramah ini, ada jamaah yang menyatakan bahwa di Tuban sudah sangat banyak, di Kecamatan Merakurak juga banyak, dan di desa-desa juga sudah banyak yang menjadi pengikut Islam seperti itu. Mereka itu terpengaruh oleh para pendatang, yang mengamalkan Islam dengan menyalahkan umat Islam lain. Bahkan ada yang sangat keras pandangannya tentang amalan yang dianggapnya bidh’ah. Mereka ingin memberantasnya dengan kekuatannya.

Mereka itu ada yang membuat mushalla baru atau masjid baru terutama di perumahan-perumahan baru atau jika sangat diperlukan akan menguasai masjid-masjid yang selama ini menjadi pusat agama Islam kelompok NU. Jadi, mereka tidak akan berhenti sampai usahanya untuk memurnikan Islam dari kotoran bidh’ah yang dianggapnya sesa itu melakukan pertobatan. Mereka beranggapan bahwa pengalaman agama yang benar hanya yang ditafsirkan oleh kelompoknya. Tidak ada tafsir lain kecuali miliknya. Dan bahkan surga juga hanya miliknya sendiri.

Itulah sebabnya, mushalla ini harus kita pertahankan agar tetap menjadi mushallah yang di dalamnya mengajarkan dan mengamalkan Islam atas tafsiran para ulama yang kita yakini tidak salah. Oleh karena itu, jika kita mendengar pengajian secara langsung atau mendengarkan ceramah agama di media sosial, jika ada unsur menyalahkan pengamalan Islam yang dianggapnya bidh’ah dan sebagainya jangan didengarkan. Kita cukupkan pengamalan beragama sebagaimana  para ulama NU yang selama ini menjadi panutan kita.

Mari kita jaga Islam ahlu sunnah wal jamaah yang telah mendarah daging di dalam kehidupan kita semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MAKRUH MAKAN DENGAN BERSANDAR (108)

MAKRUH MAKAN DENGAN BERSANDAR (108)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Setiap agama memiliki nilai atau norma yang menjadi pedoman di dalam kehidupan manusia. Semua agama dipastikan akan mengatur kebaikan perilaku dan kejelekan prilaku. Ada indikator yang terkait dengan perilaku kebaikan dan ada indikator perilaku kejelekan. Bagi yang melakukan kebaikan,  maka akan mendapatkan pahala atau reward dan yang melakukan kejelekan akan mendapat punishment atau hukuman.

Di dalam ajaran seperti ini, khususnya, dalam relasi antar manusia, betapa pentingnya menjaga kebaikan dan menjauhi kejelekan. Setiap agama mengajarkan misalnya tentang keadilan, kesetaraan, kebahagiaan dan sebagainya yang merupakan ajaran inti di dalam kehidupan khususnya di dalam relasi sosial. Katakanlah orang itu atheis, tidak percaya keberadaan Tuhan, akan tetapi di dalam relasi sosial mereka dipastikan mengenal mana yang baik dan mana yang buruk dalam kehidupannya. Manusia dikaruniai akal untuk memilah dan memilih prilaku mana yang dipilihnya. Termasuk juga dalam pemenuhan kebutuhan biologisnya, terutama dalam pemenuhan kebutuhan fisiknya. Kebutuhan makan.

Sebagai agama yang sedemikian jelas dan tegas dalam mengatur kehidupan, maka Islam memberikan pedoman yang lengkap dalam kaitannya dengan relasi antar manusia, dan juga etika terkait dengan diri, sikap dan perilaku dalam menghadapi kehidupan. Sedapat-dapatnya, sebagai umat Islam mestilah menjadikan ajaran tentang relasi diri dengan masyarakat dalam bentuk ucapan, sikap dan perilaku yang juga menggambarkan keluhuran akhlak. Makarimal akhlak.

Termasuk yang diatur oleh Islam adalah mengenai tata cara makan. Pada bab-bab sebelumnya sudah dijelaskan tentang tata cara makan, misalnya harus memulainya dengan berdoa, membaca basmalah dan jika lupa harus membaca “bismillahi awwalahu wa akhirahu”. Artinya dengan doa tersebut, Allah mengajari kepada kita supaya di dalam makan selalu mengedepankan asma Tuhan. Dengan Asma Allah yang rahman dan rahim.

Sesungguhnya, setiap bagian dari kehidupan manusia ternyata memiliki tradisinya sendiri. Di dalam setiap suku bangsa memiliki tradisi yang bisa berbeda dengan suku bangsa lainnya. Dalam banyak hal, termasuk di dalam tradisi makan.

Pada masyarakat Barat yang menggunakan tradisi sendok dan garpu dan juga kebebasan untuk makan. Bisa dengan tangan kiri atau tangan kanan, bisa sambil duduk atau berdiri. Sementara itu tradisi di Jepang, China dan Korea makan dengan sumpit sebab yang dimakan kebanyakan adalah mie sehingga lebih mudah menggunakannnya. Jika makan nasi pun juga menggunakan alat makan dimaksud. Sedangkan di dalam tradisi Jawa maka makan itu menggunakan lima jari sekaligus. Hal ini karena yang dimakan adalah jagung atau beras yang dimasak. Tenti lebih efektif menggunakan tangan. Orang Jawa yang modern sudah menggunakan garpu dan sendok, sementara orang Arab menggunakan tiga jari dalam makan apapun.

Syekh Imam An Nawawi menukil hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Juaifah Wahb bin Abdullah RA., Rasulullah bersabda: “Aku tidak makan sambil bersandar”. Al Khattabi berkata: “bersandar di sisi kasurnya adalah duduk bersandar di atas kasur yang berada di bawahnya. Ia berkata: “maksudnya adalah Beliau tidak duduk di atas kasur dan bantal (sandaran) seperti  yang dilakukan oleh orang=orang yang ingin banyak makan. Bahkan beliau duduk dengan sikap siaga bukan dengan cara yang santai, dan beliau makan dengan secukupnya. Inilah perkataan Al Khattabi. Sedangkan yang lain mengisyaratkan  bahwa bersandar di sini maksudnya adalah duduk miring di atas sisi tubuhnya.

Anas RA, berkata aku melihat Rasulullah SAW duduk di atas pantat kemudian menegakkan betisnya sambil memakan kurma”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari hadits Nabi SAW dan penjelasan sosiologis sekedarnya, maka dapat dijelaskan tiga hal mendasar, yaitu:

Pertama, makan merupakan kebutuhan fisik yang tidak bisa ditunda. Misalnya orang sama sekali tidak makan. Kebutuhan biologis makan tersebut ada kaitannya dengan kesehatan badan. Jika makanannya memenuhi standart kesehatan, maka yang bersangkutan akan sehat. Ada keseimbangan antara kebutuhan protein,  karbohidrat dan mineral. Jika terjadi ketidakseimbangan, mungkin akan ada potensi tidak sehat. Memang ada orang-orang khusus yang bisa puasa Dawud atau puasa selang-seling, atau ada juga orang yang memiliki kemampuan puasa-puasa lain misalnya puasa mutih, puasa ngrowot, dan lainnya dalam tradisi Jawa, akan tetapi yang terbaik adalah puasa sebagaimana anjuran Rasulullah SAW. Apapun puasanya, akan tetapi butuh berbuka atau makan pada waktunya.

Kedua, makan ternyata ada tata caranya. Misalnya dimakruhkan untuk makan sambil bersandar di tempat tidur atau di atas bantal. Makan di tempat tidur tentu tidak etis sebab tempat tidur bukanlah tempat makan. Tempat tidur adalah tempat untuk istirahat tidur. Bahkan dicontohkan Nabi SAW itu kalau makan dengan badan tegap sambil  duduk dan betisnya ditegakkan. Jadi bukan dengan cara bersandar pada apapun. Atau kira-kira seperti orang yang duduk bersila atau duduk dalam tasyahud. Yang dilihat oleh para sahabat adalah di kala Nabi makan sambil duduk. Sama juga halnya, jika makan di atas meja juga agar badannya ditegakkan dan kaki menjulur ke bawah dengan santai.

Ketiga,  Nabi SAW sungguh sangat mendalam ajarannya tentang cara makan itu. Jangan mendominasi pengambilan makanan, jangan mengambil makanan yang jauh dari tempatnya dan jangan makan sambil bergurau. Diupayakan makan itu dengan tata cara yang benar. Dimulai dengan basmalah dan diakhir dengan hamdalah. Baik makan dalam keadaan sendirian maupun makan secara bersama-sama, maka tata cara makan itu tetaplah sama. Ada etika makan.

Zaman boleh berubah. Realitas budaya boleh berubah dan realitas sosial boleh juga berubah akan tetapi dalam ajaran Islam yang baku, maka perubahan itu tidak boleh menyentuh substansinya. Jenis makanan bisa berubah, asalkan halalan dan thayyiban, akan tetapi tata cara makan yang substansial tidak boleh berubah. Dan kita harus melakukannya sesuai dengan etika sebagaimana diajarkan oleh Nabi SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.