Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEUTAMAAN BERGAUL DAN BERBUAT BAIK (70)

KEUTAMAAN BERGAUL DAN BERBUAT BAIK (70)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Sesungguhnya manusia memiliki kebutuhan social. Yaitu kebutuhan untuk saling berkomunikasi satu dengan lainnya, kebutuhan untuk saling menolong, kebutuhan untuk saling memberi dan menerima baik untuk kepentingan diri maupun kepentingan social. Tidak ada manusia yang bisa hidup dengan dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Semuanya harus saling menolong. Orang yang memahami hal ini, sesungguhnya dia adalah orang yang sudah sadar bahwa hidup itu perlu untuk saling memahami satu dengan lainnya.

Islam mengajarkan bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah dengan bermacam-macam kehidupannya. Allah menakdirkan manusia untuk hidup dalam etnisitas yang berbeda-beda, bersuku-suku, ada lelaki dan ada perempuan, ada penggolongan social ekonomi dan  budaya yang berbeda-beda. Sunnatullah tersebut memang begitulah adanya, dengan catatan agar manusia saling mengenal, memahami dan menyadari perbedaan antara satu dengan lainnya.

Ayat ini merupakan ayat kauniyah agar manusia merenungkan akan penciptaan manusia dengan kebutuhan sosialnya. Manusia agar berpikir, kenapa ada manusia dengan berbagai ragam penciptaannya. Mengapa harus begini dan mengapa harus begitu. Orang-orang yang tergolong rasionalis dan empiris, hanya melihat dimensi materinya, tetapi orang yang tergolong metarasional atau metaempiris atau metafisik tentu akan melihat hakikatnya. Bahwa semua itu merupakan kekuasaan Allah, Dzat yang tidak terhingga.

Coba kita bayangkan, bahwa untuk menciptakan manusia, Allah mengajarkan agar ada sepasang suami isteri. Dari relasi seksualitas sepasang suami isteri, maka kemudian terjadilah nuthfah dalam waktu 40 hari, lalu menjadi ‘alaqah dalam waktu 40 hari dan kemudian menjadi mudghah dalam waktu 40 hari. Setelah itu lalu ditiupkan roh dan perangkat kehidupan, maka jadilah manusia.

Para ilmuwan pun bingung bagaimana dari sperma dan ovum, bisa menjadi manusia dengan kecanggihan fisiknya dan kehidupannya. Para ahli biologi hanya melihat perkembangan janin day to day sehingga menjadi manusia, akan tetapi ahli metafisika akan melihat hakikat penciptaan manusia yang tidak lepas dari kekuasaan Allah SWT. Para ilmuwan muslim tidak berhenti pada prosesnya tetapi mencari dibalik penciptaan tersebut.

Di sini, maka manusia harus saling menolong. Bayi lahir perlu bantuan dokter, setelah lahir lalu membutuhkan bantuan orang tuanya untuk bisa hidup, dan juga bantuan keluarga lainnya untuk bisa menjalani kehidupan, terus begitulah hingga dewasa. Dan di kala dewasa juga memerlukan orang lain. Bayangkan untuk minum air mineral saja, berapa banyak orang yang terlibat. Banyak sekali.

Pada Bab 70, Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan dengan tema yang sangat panjang. Judul tersebut adalah: “Keutamaan Bergaul Dengan Orang Banyak, Melaksanakan Shalat Jum’at Berjamaah Serta Mengunjungi Tempat-Tempat Kebaikan Dan Majelis-Majelis Dzikir, Juga Menengok Orang Sakit, Melayat Jenazah,  Membantu Yang Mempunyai Hajad, Memberikan Petunjuk Kepada Orang Yang Tidak Tahu, Dan Lain-Lain Yang Termasuk Kemaslahatan Mereka Bagi Orang Yang Mampu Melaksanakan Amar Makruf Nabi Mungkar. Demikian Pula Mencegah Diri Sendiri Dari Menganiaya Serta Sabar Atas Sesuatu Yang Menyakitkan”. Dari judul yang Panjang ini kemudian saya ringkas menjadi “Keutamaan Bergaul Dan Berbuat Baik”.

Allah menjelaskan di dalam Alqur’an, Surat Al Maidah: 2, bahwa: “… dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa”. Jika diteruskan ayat ini, maka artinya adalah: “dan janganlah bertolong menolong dalam dosa dan keburukan”.

Menilik ayat ini, maka dapat dipahami atas tiga hal, yaitu:

Pertama, sesungguhnya manusia tidak memiliki kemampuan sendiri dalam menghadapi kehidupan. Ia adalah manusia yang sangat tergantung pada lainnya. Itulah sebabnya Allah SWT menganjurkan agar manusia saling tolong menolong. Jangan individual. Jangan merasa sebagai individu yang bisa melakukan segalanya.

Coba pikirkan, ada manusia yang sangat kaya. Namanya Mark Zuckenberg dengan harta  Rp3.483 triliuan. Apakah dia bisa melakukan apa-apa dengan dirinya sendiri? Pasti tidak bisa. Kekayaannya luar biasa, akan tetapi untuk makan harus membutuhkan orang lain. Baik makan di rumah atau di restoran mewah, maka membutuhkan pelayan yang patuh dan sesuai dengan standarnya. Jadi tidak ada manusia, baik kaya maupun miskin yang bisa mandiri dengan dirinya sendiri.

Kedua, Islam itu merupakan agama yang penuh dengan cinta dan kasih sayang kepada sesama manusia. Oleh karena itu basis saling tolong menolong adalah cinta dan kasih sayang. Seandainya pertolongan yang kita dapatkan dan kita berikan tersebut berbasis kasih sayang, maka terjadi kehidupan yang harmonis dan selamat. Semua orang saling menghormat dan saling berempati satu dengan lainnya.

Itulah sebabnya Islam menganjurkan di tengah berbagai perbedaan secara fisikal, kejiwaan, kepandaian, strata sosial dan lainnya, maka Islam mengajarkan agar saling memahami. Jangan merasa benar sendiri, jangan merasa paling hebat sendiri dan jangan merasa yang paling utama sendiri. Filsafat Jawa mengajarkan sebuah pernyataan: “sapa sira sapa ingsung” atau melihat siapa kamu siapa saya. Menganggap orang lain sebagai lebih rendah dibandingkan diri saya.

Ketiga, Islam mengajarkan agar kita bergaul dengan orang banyak, melaksanakan shalat jum’at berjamaah,  mengunjungi tempat-tempat kebaikan, mendatangi majelis-majelis dzikir, menengok orang sakit, melayat jenazah,  membantu orang yang mempunyai hajad, memberikan petunjuk kepada orang yang tidak tahu, dan mampu melaksanakan amar makruf nabi mungkar.

Jika diperhatikan bahwa keutamaan tersebut ada banyak ragamnya dan semuanya ditujukan untuk kemaslahatan kemanusiaan. Jika kita dapat melaksanakan, maka kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat di dalam kehidupan. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..