NIKMATNYA BISA BERIBADAH
NIKMATNYA BISA BERIBADAH
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Saya bersyukur karena bisa hadir kembali di Desa Sembungrejo Kecamatan Merakurak, Tuban dalam rangka untuk acara silaturahmi. Saya memang harus datang di desa ini sebab harus menjenguk Emak saya yang masih hidup. Meminta maaf dan sekaligus menyenangkan hatinya. Hanya saja saya memang agak terlambat hadir. Soalnya sederhana saja, sebab di tempat kelahiran saya sedang terdapat demam berdarah (DB) dan cukup banyak anak-anak yang terinfeksi nyamuk aides agipti tersebut.
Itulah sebabnya keberangkatan saya, anak-anak dan cucu agak sedikit mundur. Biasanya pada hari pertama hari raya atau bahkan sebelumnya, maka untuk idul fitri 1446 H atau 2025 terpaksa mundur sehari. Melakukan sterilisasi rumah dari nyamuk dengan menggunakan obat semprot nyamuk. Seluruh dalam rumah dan luarnya disemprot memakai obat nyamuk. Yang penting berusaha sebab Allah menyukai orang yang berusaha. Syukurlah semua teratasi. Hanya saja tidak bisa memperpanjang waktu di desa, biasanya sepekan, maka untuk tahun ini hanya rencananya dua hari saja.
Meskipun demikian, saya masih menyempatkan diri untuk memberikan sedikit ceramah agama pada jamaah shalat shubuh di Mushalla Ruadlatul Jannah di depan rumah saya, di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban. Jamaah lelaki dan perempuan tidak banyak akan tetapi ada konsistensi di dalam melakukan shalat jamaah. Nyaris setiap hari mereka melakukan shalat subuh berjamaah. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:
Pertama, kita bersyukur kepada Allah karena masih hidup. Batuk-batuk sedikit tidak apa-apa. Itu tandanya masih hidup. Dengan masih hidup, maka kita dapat melakukan shalat, berdzikir, dan masih bisa bersilaturahmi dengan sesama. Masih bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga. Masih bisa meminta ampun kepada Allah atas semua dosa yang kita lakukan. Kita dapat melaksanakan puasa sebulan penuh. Tahun ini sebulan itu sama dengan 30 hari. Kadangkala sebulan itu hanya 29 hari. Kita dapat membaca Alqur’an setiap hari. Dan jangan lupa kita membaca Alqur’an tidak hanya untuk diri kita tetapi juga untuk arwah leluhur kita. Bapak, Ibu, saudara, kakek, nenek, dan bahkan untuk umat Islam seluruhnya.
Itulah sebabnya saya sering berimajinasi bahwa para leluhur kita sangat berbahagia. Bahkan mereka selalu berharap datangnya bulan puasa. Pada bulan ini, maka kebanyakan umat Islam membaca surat Al Fatihah, membaca Surat Yasin, membaca Surat Al Waqi’ah yang juga ditujukan kepadanya. Inilah bulan kebahagiaan bagi para luluhur kita. Bulan yang penuh dengan Rahmat, ampunan dan dijauhkan dari api neraka.
Kedua, kita bersyukur karena bisa beribadah secara rutin. Bayangkan di sekeliling kita ada banyak orang yang tidak melakukan ibadah, khususnya shalat saja. Apalagi melakukan dzikir kepada Allah. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad dan membayar zakat, shadaqah, infaq dan seterusnya tidak dilakukannya. Mereka orang Islam yang pernah membaca syahadat. Paling tidak sewaktu menikah. Tetapi mereka tidak memahami apa yang dibacanya. Tidak tahu apa implikasi dari bacaan syahadatnya.
Kita sungguh bersyukur sebab sudah membaca syahadat, lalu kita mengamalkan ajaran Islam. Shalat sudah kita lakukan bahkan dengan shalat berjamaah. Shalat shubuh secara berjamaah ini luar biasa pahalanya. Apalagi kalau kita dapat melakukan shalat malam. Bisa berdoa di sepertiga malam. Insyaallah kita akan menjadi hambanya Allah yang memperoleh rahmatnya kelak di alam mahsyar. Fi yaumil ma’ad.
Marilah kita Yakini bahwa yang kita lakukan itu dipastikan akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Tidak ada yang sia-sia atas amal baik yang kita lakukan. Semua amal baik sebesar biji dzarrah pun akan dicatat dalam rapor kehidupan kita. Oleh karena itu, mari kita berlomba untuk mengisi rapor kehidupan dengan amal-amal kebaikan secara sungguh-sungguh dan tidak sedikitpun keraguan di dalamnya.
Ketiga, bulan puasa merupakan bulan yang penuh Rahmat. Tidak hanya untuk yang hidup tetapi juga untuk yang sudah wafat. Bulan puasa itu juga dirindukan oleh para arwah leluhur kita. Hal ini karena pada bulan puasa itu kita meningkatkan amal ibadah, yang berupa doa, bacaan Alqur’an, bacaan tahlil, tahmid, dan shalawat yang biasanya kita tujukan kepada arwah para leluhur. Mereka merasakan manfaat lafadz-lafadz kalimat tayyibah dimaksud.
Jangan pernah ragu untuk mendoakan leluhur kita yang sudah mendahului kita. Yakinlah bahwa Allah akan menyampaikan amalan baik tersebut kepadanya. Betapa bahagianya leluhur kita yang merasakan hadirnya pahala dari anak cucunya. Sebagai anak cucunya, kita harus merasa berkewajiban untuk menjaga kebahagiaan leluhur. Dan salah satu cara yang murah adalah dengan membaca kalimat thayyibah. Bukan dilakukan selamatan besar-besaran, apalagi yang hadir tidak Ikhlas karena tidak diberikan sarung atau diberi bisyarah yang besar.
Kita anak cucunya yang berkewajiban untuk membahagiakannya. Bapak saya, embah saya, buyut saya, canggah saya dan bahkan guru-guru saya insyaallah saya bacakan kalimat thayyibah. Dan demikian pula leluhur kita semua. Mari kita berlomba, fastabiqul khairah, untuk membahagiakan leluhur kita.
Wallahu a’lam bi al shawab.