• April 2025
    M T W T F S S
    « Mar    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

NIKMATNYA BISA BERIBADAH

NIKMATNYA BISA BERIBADAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya bersyukur karena bisa hadir kembali di Desa Sembungrejo Kecamatan Merakurak, Tuban dalam rangka untuk acara silaturahmi. Saya memang harus datang di desa ini sebab harus menjenguk Emak saya yang masih hidup. Meminta maaf dan sekaligus menyenangkan hatinya. Hanya saja saya memang agak terlambat hadir. Soalnya sederhana saja, sebab di tempat kelahiran saya sedang terdapat demam berdarah (DB) dan cukup banyak anak-anak yang terinfeksi nyamuk aides agipti tersebut.

Itulah sebabnya keberangkatan saya, anak-anak dan cucu agak sedikit mundur. Biasanya pada hari pertama hari raya atau bahkan sebelumnya, maka untuk idul fitri 1446 H atau 2025 terpaksa mundur sehari. Melakukan sterilisasi rumah dari nyamuk dengan menggunakan obat semprot nyamuk. Seluruh dalam rumah dan luarnya disemprot memakai obat nyamuk. Yang penting berusaha sebab Allah menyukai orang yang berusaha. Syukurlah semua teratasi. Hanya saja tidak bisa memperpanjang waktu di desa, biasanya sepekan, maka untuk tahun ini hanya rencananya  dua hari saja.

Meskipun demikian, saya masih menyempatkan diri untuk memberikan sedikit ceramah agama pada jamaah shalat shubuh di Mushalla Ruadlatul Jannah di depan rumah saya, di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban. Jamaah lelaki dan perempuan tidak banyak akan tetapi ada konsistensi di dalam melakukan shalat jamaah. Nyaris setiap hari mereka melakukan shalat subuh berjamaah. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:

Pertama, kita bersyukur kepada Allah karena masih hidup. Batuk-batuk sedikit tidak apa-apa. Itu tandanya masih hidup. Dengan masih hidup, maka kita dapat melakukan shalat, berdzikir, dan masih bisa bersilaturahmi dengan sesama. Masih bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga. Masih bisa meminta ampun kepada Allah atas semua dosa yang kita lakukan. Kita dapat melaksanakan puasa sebulan penuh. Tahun ini sebulan itu sama dengan 30 hari. Kadangkala sebulan itu hanya 29 hari. Kita dapat membaca Alqur’an setiap hari. Dan jangan lupa kita membaca Alqur’an tidak hanya untuk diri kita tetapi juga untuk arwah leluhur kita. Bapak, Ibu, saudara, kakek,  nenek, dan bahkan untuk umat Islam seluruhnya.

Itulah sebabnya saya sering berimajinasi bahwa para leluhur kita sangat berbahagia. Bahkan mereka selalu berharap datangnya bulan puasa. Pada bulan ini, maka kebanyakan umat Islam membaca surat Al Fatihah, membaca Surat Yasin, membaca Surat Al Waqi’ah yang juga ditujukan kepadanya. Inilah bulan kebahagiaan bagi para luluhur kita. Bulan yang penuh dengan Rahmat, ampunan dan dijauhkan dari api neraka.

Kedua, kita bersyukur karena bisa beribadah secara rutin. Bayangkan di sekeliling kita ada banyak orang yang tidak melakukan ibadah, khususnya shalat saja. Apalagi melakukan dzikir kepada Allah. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad dan membayar zakat, shadaqah, infaq dan seterusnya tidak dilakukannya. Mereka orang Islam yang pernah membaca syahadat. Paling tidak sewaktu menikah. Tetapi mereka tidak memahami apa yang dibacanya. Tidak tahu apa implikasi dari bacaan syahadatnya.

Kita sungguh bersyukur sebab sudah membaca syahadat, lalu kita mengamalkan ajaran Islam. Shalat sudah kita lakukan bahkan dengan shalat berjamaah. Shalat shubuh secara berjamaah ini luar biasa pahalanya. Apalagi kalau kita dapat melakukan  shalat malam. Bisa berdoa di sepertiga malam. Insyaallah kita akan menjadi hambanya Allah yang memperoleh rahmatnya kelak di alam mahsyar. Fi yaumil ma’ad.

Marilah kita Yakini bahwa yang kita lakukan itu dipastikan akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Tidak ada yang sia-sia atas amal baik yang kita lakukan. Semua amal baik sebesar biji dzarrah pun akan dicatat dalam rapor kehidupan kita. Oleh karena itu, mari kita berlomba untuk mengisi rapor kehidupan dengan amal-amal kebaikan secara sungguh-sungguh dan tidak sedikitpun keraguan di dalamnya.

Ketiga, bulan puasa merupakan bulan yang penuh Rahmat. Tidak hanya untuk yang hidup tetapi juga untuk yang sudah wafat. Bulan puasa itu juga dirindukan oleh para arwah leluhur kita. Hal ini karena pada bulan puasa itu kita meningkatkan amal ibadah, yang berupa doa, bacaan Alqur’an, bacaan tahlil, tahmid, dan shalawat yang biasanya kita tujukan kepada arwah para leluhur. Mereka merasakan manfaat lafadz-lafadz kalimat tayyibah dimaksud.

Jangan pernah ragu untuk mendoakan leluhur kita yang sudah mendahului kita. Yakinlah bahwa Allah akan menyampaikan amalan baik tersebut kepadanya. Betapa bahagianya leluhur kita yang merasakan hadirnya pahala dari anak cucunya. Sebagai anak cucunya, kita harus merasa berkewajiban untuk menjaga kebahagiaan leluhur. Dan salah satu cara yang murah adalah dengan membaca kalimat thayyibah. Bukan dilakukan selamatan besar-besaran, apalagi yang hadir tidak Ikhlas karena tidak diberikan sarung atau diberi bisyarah yang besar.

Kita anak cucunya yang berkewajiban untuk membahagiakannya. Bapak saya, embah saya, buyut saya, canggah saya dan bahkan guru-guru saya insyaallah saya bacakan kalimat thayyibah. Dan demikian pula leluhur kita semua. Mari kita berlomba, fastabiqul khairah, untuk membahagiakan leluhur kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

BERSEDEKAH DAN BERINFAQ TIDAK ADA RUGINYA

BERSEDEKAH DAN BERINFAQ TIDAK ADA RUGINYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya mendapatkan giliran untuk memberikan taushiyah Ramadhan pada saat tarawih hari akhir atau malam ke 30. Tahun ini saya memang diberi kesempatan ceramah pada tanggal akhir ramadlan, sebab saya memang baru pulang ke Tuban pada hari Raya idul fitri atau H1. Semua berangkat ke Tuban pada saat hari pertama Hari Raya fitrah. Saya berceramah di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, 29/03/2025.

Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu: pertama, kita sudah berpuasa selama 29 hari dan besuk adalah puasa kita untuk hari ke 30. Artinya lusa kita akan berhari raya idul fitri. Tanggal 1 Syawal menandai berakhirnya puasa dan kita akan Kembali dalam kehidupan sebagaimana 11 bulan sebelumnya. Tetapi yang penting bahwa kita sudah melakukan puasa dan doa yang selalu kta lantunkan adalah semoga kita mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Dan kita menjadi hamba Allah yang bertaqwa kepada-Nya. Tentu tidak berlebihan jika kita mengharap Rahmat, maghfirah dari Allah SWT dan kemudian dihindarkan dari api neraka. Sebuah kebahagiaan yang sangat luar biasa jika kita bisa mendapatkannya.

Pada sepertiga terakhir bulan Ramadlan Allah menurunkan rahmatnya berupa akan menghindarkan manusia dari api neraka atau itqun minan nar.  Hari-hari ini kita berada di ruang Allah akan memberikan rahmatnya dimaksud. Harapan kita semua semoga puasa yang kita lakukan akan menjadi instrument bagi Allah SWT untuk memberikan Rahmat, memberikan ampunan dan menjadikan kita sebagai bagian dari kelompok yang dihindarkan dari api neraka.

Kedua, kita sudah menjadi hamba Allah yang beriman, dan tidak sedikitpun pikiran dan hati kita untuk tidak beriman kepada-Nya. Seluruh jiwa, raga dan roh kita sudah mengakuinya. Dan kita juga sudah menjalankan rukun Islam. Semua sudah bersyahadat atau menyaksikan dengan jasad, jiwa dan Roh kita kepada keesaan Allah dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah dan tidak ada utusan Allah pada masa sesudahnya. La nabiyya ba’dahu.

Kita sudah melakukan shalat apalagi pada bulan Ramadlan, maka kita tidak hanya melakukan shalat yang wajib dan rawatib, akan tetapi juga Ibadah-ibadah sunnah lainnya. Seperti I’tikaf, berdzikir, bersedekah dan sebagainya. Bulan ini rasanya amal ibadah kita semakin berkualitas dan berkuantitas. Makin baik dan makin banyak. Kesadaran untuk beribadah tersebut dipicu oleh harapan bahwa ibadah di bulan puasa akan ditingkatkan pahalanya berlipat-lipat. 700 sampai 1000 kali pahalanya. Shalat sudah dilakukan, puasa sudah dilakukan, maka gilirannya adalah mengamalkan zakat. islam merupakan agama yang sedemikian kental dengan ajaran zakat, infaq dan sedekah serta wakaf.

Zakat sudah jelas, sebab ada zakat fitrah, yang harus ditunaikan maksimal sebelum shalat idul fitri. jadi hari-hari ini tentu harus mengeluarkan zakat, terutama zakat fitrah. Jika ASN, maka zakat professional sudah dipotong pada setiap bulan. Sudah  ada ijin dari pimpinan. Pimpinan birokrasi sudah meniginstruksikan agar semua pegawai memberikan zakatnya. Ada zakat mal, ada zakat perdagangan dan ada zakat fitrah. Semua ini dapat dijadikan sebagai instrument ketaatan kepada Allah. Artinya jika sudah berzakat berarti sudah patuh pada Allah SWT tentang pengamalan zakat dimaksud. Untuk zakat fitrah harus diberikan sebelum pelaksanaan shalat idul fitri. Jika tidak maka pahala amal puasa akan menggantung di antara langit dan bumi.

Antara infaq dan sedekat memang ada bedanya. Infaq berarti pemberian Sebagian harta untuk hal-hal yang bersifat umum, misalnya untuk masjid, Lembaga Pendidikan, sarana keagamaan dan bahkan juga untuk Pembangunan lainnya. Misalnya jika kita urunan untuk RT, jangan anggap atau diniatkan sebagai iuran bulanan tetapi niatkan sebagai infaq untuk kepentingan Masyarakat melalui RT. Di masjid-masjid ada kotak disebut sebagai kotak amal infaq. Infaq ke masjid.

Sedekah merupakan pemberian Sebagian harta untuk kepentingan khusus, kepentingan kemanusiaan.  Jadi kalau sedekat untuk manusia misalnya untuk pengembangan SDM, contohnya untuk faqir, miskin, pelajar, mahasiswa atau untuk Pendidikan bagi kaum dhuafa’. Sedangkan wakaf adalah pemberian Sebagian harta baik harta bergerak atau harta tidak bergerak. Di masa lalu wakaf hanya dikaitkan dengan tidak bergerak akan tetapi sekarang ada wakaf uang. Jika kita  tidak memiliki wakaf dalam bentuk harta tidak bergerak, maka kita dapat berwakaf uang dimaksud.

Ketiga, kita sungguh bersyukur karena sumbangan umat Islam terhadap ranking yang diberikan oleh World Giving Index (WGI) sangat kentara. WGI menggunakan tiga indicator untuk menentukan sebuah negara dengan pilantropi terbaik, yaitu sumbangan dalam uang dan hal-hal lainnya, pemberian bantuan untuk orang asing dan bantuan kemanusiaan. Indonesia sudah menjadi negara dengan pilantropi terbaik enam kali berturut-turut. Dari sini kelihatan bahwa zakat, infaq, sedekah dan wakaf dapat menjadi instrument terbaik bagi perolehan terbaik dalam pilantropi dunia.

Yakinilah bahwa sedekah, Infaq, zakat itu sangat bermanfaat bagi diri, masyarakat dan umat Islam. Allah akan memberikan balasan yang setimpal di dunia dan akherat. Banyak orang yang memiliki pengalaman bagaimana Allah membalas amal ibadah tersebut di dunia. Jangan juga dianggap bahwa zakat mesti pemberian  harus uang atau barang, sebab memberi senyuman kepada orang lain, mengambil paku atau kayu di tengah jalan yang mengganggu perjalanan orang juga sudah ibadah. Dan Allah menjamin, shadaqah dapat menghindarkan diri dari bala’.

Oleh karena itu janganlah ragu untuk melakukannya. Yakinilah bahwa Allah akan memberikan balasan atas apa yang kita lakukan. Jangan ragu-ragu untuk berzakat, bersedekah, berinfaq dan berwakaf. Pahala pasti akan kita terima. Hanya terkadang kita  ragu-ragu, sehingga menghambat atas perolehan pahala yang seharusnya diterima.

Wallahu ‘lam bi al shawab.

 

KEAJAIBAN DALAM KEHIDUPAN, ADAKAH?

KEAJAIBAN DALAM KEHIDUPAN, ADAKAH?

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya akan mengulas ceramah Ustadz Sahid Sumitro, MM, MSI., trainer pengembangan SDM, yang sudah memiliki jam terbang  sangat tinggi. Sering Ustadz Sahid memberikan pelatihan dalam birokrasi pemerintahan dan juga perusahaan, serta Lembaga-lembaga non Pemerintah. Kali ini yang dibicarakan adalah mengenai keajaiban di dalam kehidupan manusia, dan ternyata keajaiban tersebut nyata adanya. Ceramah ini diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Lotus Regency Ketintang Surabaya, 28/03/2025.

Ceramahnya dimulai dengan sebuah pertanyaan, “kita sudah berpuasa selama 27 hari, lalu apakah ada perubahan di dalam kehidupan kita. Jika tidak,  maka berarti kehidupan kita itu biasa-biasa saja. Tidak ada yang luar biasa”. Sebuah pertanyaan yang tampaknya biasa saja, akan tetapi jika dirasakan sesungguhnya luar biasa. Memang sudah nyaris sebulan kita berpuasa, dan jika tidak ada perubahan sebagaimana tujuan berpuasa, maka berarti puasa kita itu tidak mencapai target yang luar biasa.

Ada tiga hal yang disampaikan oleh Pak Sahid, yaitu: pertama,  tentang keajaiban di dalam Alqur’an sudah banyak yang menyampaikannya, misalnya tentang Sarah Istri Nabi Ibrahim AS, yang usianya sudah tua dan kemudian hamil. Sesuatu yang tidak biasa. Sarah heran kala disampaikan berita akan kehamilannya, sebab usianya sudah bukan lagi wanita subur, akan tetapi sudah tidak memungkinkan untuk hamil. Namun ternyata hamil dan melahirkan anak lelaki yang  kelak akan menjadi seorang Nabi yang dinamai Nabi Ishaq. Nabi Ishaq kelak akan melahirkan Nabi-Nabi terkenal seperti Nabi Musa, Nabi Isa yang kemudian melahirkan agama-agama Semitis.

Kemudian juga kejaiban tentang tujuh pemuda yang di dalam Alqur’an dikenal sebagai Ashabul Kahfi. Mereka ditidurkan Allah di dalam Goa selama 350 tahun, dan kemudian dihidupkan kembali. Kala bangun mereka menyatakan bahwa baru saja tertidur. Alangkah terkejutnya bahwa uang yang dimilikinya sudah tidak dikenal lagi karena sudah menjadi mata uang masa lalu. Dan masih banyak lagi, misalnya Dawud yang mengalahkan Jalut, raksasa tinggi besar, hanya dengan ketapel. Nabi Dawud AS memperoleh kejaiban dari Allah untuk mengalahkan Jalut, raja yang dhalim. Dan masih banyak lagi.

Kedua, ada seorang pakar dalam kajian studi keajaiban atau miracles di dalam kehidupan. Temuan yang dibagikan di dalam berbagai pelatihan tersebut mengungkapkan kenapa banyak orang yang tidak bahagia. Orang yang kesepian di tengah keramaian. Orang yang jiwanya kering kerontang di dalam dunia ramai kehidupan. Orang yang kecewa di dalam kehidupan padahal kekayaannya luar biasa dan seterusnya. Di dalam teorinya disampaikan bahwa kehidupan manusia itu dipisahkan dengan garis demarkasi yang tegas, yaitu bagian atas dan bagian bawah. Semakin ke atas posisi kehidupannya, jiwanya, maka semakin bahagia dan semakin ke bawah kehidupannya, jiwanya,  akan semakin sengsara.

Di dalam bagian atas berisi hal-hal yang positif dan yang bagian bawah berisi hal-hal yang negative. Yang bagian atas dan bernuansa positif tersebut adalah jiwa yang berisi ketenangan, kedamaian, penuh harapan, tidak ada ketakutan, tidak ada tekanan, tidak ada rasa menderita, senang, penuh kegembiraan, penuh persahabatan, penuh kecintaan dan semua yang serba baik atau positif.

Di dalam bagian bawah, ada jiwa yang serba negative. Ada ketidaktenangan, ketiadaan kedamaian, tidak ada harapan, putus asa, ketakutan bahkan berlebihan, selalu merasa di dalam tekanan, terus menderita, tidak ada kesenangan, penuh penderitaan, penuh kesulitan, tidak ada persahabatan, tidak ada rasa cinta, semuanya serba kesulitan dan negative. Hidup yang berada di dalam ketidaknyamanan atau insecure.

Maka orang perlu mengubah suasana kehidupan dari negative menjadi positif. Orang harus menata kehidupannya agar berada di level atas dan bukan level bawah. Usahakan agar hidup berada di dalam zona nyaman. Perasaan atau jiwa kita harus berubah berada di dalam sisi positif. Jangan simpan perasaan dan jiwa yang negative di dalam hidup. Hilangkan ketakutan dan Ganti dengan keberanian. Ganti perasaan insecure ke dalam perasaan yang nyaman. Ganti jiwa yang gelisah ke dalam jiwa yang tenang. Kembalikan semuanya kepada “kepasrahan” atau surrender. Kita kembali kepada keyakinan bahwa semua sudah ada ketentuannya. Jangan melawan ketentuan Tuhan. Tawakkal kepada Tuhan adalah kunci pertama untuk memadamkan jiwa yang berisi hal-hal negative.

Ketiga,  selain tawakkal maka kata kunci berikutnya adalah syukur. Bangun tidur Syukur, mau tidur Syukur. Bangun tidur bersyukur karena kita masih hidup, sehingga masih bisa melakukan banyak hal yang positif di dalam kehidupan. Betapa banyak keajaiban yang telah diberikan Allah kepada kita semua.  Kita tidak bisa menghitungnya. Melalui syukur, maka kehidupan akan menjadi lebih nyaman, karena semuanya disandarkan kepada yang membuat hidup, yaitu Allah SWT.

Kebanyakan doa kita terasa tidak dikabulkan oleh Allah karena kita berada di dalam zona kehidupan tanpa tawakkal dan tanpa kesyukuran. Hidup kita penuh dengan jiwa atau hati yang tidak nyaman, tidak tenang, berasa di dalam ketakutan, berasa di dalam kehidupan yang penuh dengan kemarahan, dan putus asa. Inilah yang menyebabkan doa kita tertahan di antara langit dan bumi. Kala doa dilantunkan sebenarnya sudah naik ke atas,  tetapi tertahan karena jiwa dan hati kita yang tidak berpikir positif, sehingga turun lagi ke bawah.

Oleh itu jika kita ingin doa kita diijabah oleh Allah, maka satu syaratnya agar berpikir positif dan buang jauh-jauh pikiran, perasaan dan hati yang negative. Apakah kita bisa? Pasti bisa. If  you think you can,  you really can.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KEUTAMAAN PUASA BAGI UMAT ISLAM: AMPUNAN ALLAH

KEUTAMAAN PUASA BAGI UMAT ISLAM: AMPUNAN ALLAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Puasa yang dilakukan oleh umat Islam di dunia merupakan ibadah Istimewa dan memiliki implikasi di dalam kehidupan yang juga Istimewa. Sering kita menyebutnya sebagai keutamaan ibadah puasa. Semua ibadah yang berupa ritual kepada Allah memiliki keutamaan. Shalat, zakat dan haji juga memiliki keutamaan. Umat Islam mestilah meyakini akan keutamaan-keutamaan ibadah dimaksud.

Ibadah puasa memiliki keutamaan yang sangat luar biasa. Meskipun hanya dilakukan satu bulan pada Bulan Ramadlan, dan hanya satu tahun sekali, akan tetapi ibadah puasa memiliki pahala yang sangat banyak. Misalnya pada bulan puasa, Allah menurunkan malam lailatul qadar, yang pahalanya sama dengan 1000 bulan atau kira-kira sama dengan ibadah selama 82 tahun bagi yang mendapatkannya. Tentu tidak mudah mendapatkannya kecuali orang pilihan yang sudah memperoleh keridlaan Allah SWT.

Bulan puasa dilakukan pada Bulan Ramadlan, yang usianya bisa 29 hari atau 30 hari. Perhitungan dalam system lunar tersebut 29,5 hari. Jadi terkadang ditarik ke depan menjadi 29 hari atau ditarik ke belakang menjadi  30 hari. Jadi berpuasa bisa dilakukan 29 hari atau 30 hari tergantung dari system penentuan tanggal 1 Ramadlan dan tanggal 1 Syawal. Semua sudah memahami hal-hal seperti ini.

Dalam waktu satu bulan tersebut, ada keutamaan puasa yang dikaitkan dengan 10 hari pertama, 10 hari di tengah dan 10 hari di akhir. Masing-masing Allah akan menurunkan keutamaannya. Awwaluhu Rahmah, wa ausatuhu maghfirah wa akhiruhu itqun minan nar. Sepertiga awal Allah memberikan keutamaan bagi para perindu puasa untuk mendapatkan rahmatnya Allah. Rahmat merupakan kata kunci bagi manusia agar selamat di alam akherat. Kunci seseorang akan masuk surga atau tidak ditentukan oleh adanya rahmat Allah. Orang yang ibadahnya baik tentu memiliki peluang yang besar untuk mendapatkan rahmatnya Allah. Dan orang yang tidak beribadah kepada Allah tentu juga sedikit peluangnya untuk mendapatkan rahmatnya Allah. Tetapi Allah itu Maha Sempurna, sehingga Allah juga bisa memberikan kesempurnaannya untuk hambanya. Allah itu dzat yang tak terhingga atau secara matematis dilambangkan dengan angka 0, sehingga Allah yang maha tidak terhingga akan dapat memberikan Rahmat kepada siapa saja yang dapat diberikannya. Rahmat Allah akan menyertainya. Umat rasanya perlu untuk mengupayakan agar Rahmat Allah didapatkannya.

Fase kedua atau masa pertengahannya adalah maghfirah atau masa ampunan Allah. Seseorang yang berusaha secara optimal tentu berluang mendapatkan ampunan Allah. Orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh tentu akan memperoleh ampunan Allah. Betapa bahagianya seseorang yang mendapatkan ampunan Allah itu. Betapa banyaknya dosa, kekhilafan dan kesalahan yang dilakukan oleh hambanya Allah. Manusia adalah tempatnya kekhilafan dan kesalahan bahkan juga dosa, maka dengan ampunan Allah tentu akan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan surganya Allah SWT.

Bukankah semua manusia mengharapkan surganya Allah. Apapun agamanya, maka ujung akhirnya adalah ingin masuk surga. Semua umat Islam juga berkeinginan masuk surga. Tidak lain dan tidak bukan. Surga akan didapatkan jika ada pengampunan dimaksud. Ada dua konsep tentang pengampunan, yaitu maghfirah dan ‘afwun. Maghfirah itu diampuni tetapi catatan kesalahannya masih ada, sedangkan ‘afwun itu diampuni sekaligus dihapus catatannya. Alangkah bahagianya orang yang mendapatkan derajat ‘afwun dimaksud.

Fase berikutnya adalah fase 10 hari terakhir yang disebut sebagai itqun minan nari atau dijauhkan dari siksa api neraka. Ini merupakan konsekuensi logis, bahwa seseorang yang sudah memperoleh Rahmat Allah dan ampunan Allah, maka akan mendapatkan kenikmatan yaitu dijauhkan dari api neraka. Betapa bahagianya orang yang bisa dijauhkan dari api neraka tersebut. Akan tetapi tentu ada persyaratannya, bahwa hal itu akan diberikan kepada umat Islam yang melakukan puasa dengan tingkatan imanan wahtisaban atau puasa dengan penuh keimanan dan introspeksi diri. Melakukan muhasabah aka napa yang sudah dilakukan, dan kemudian beribadah dengan sungguh-sungguh. Betapa indahnya hidup seseorang yang mendapatkan Cahaya puasa dengan tingkatan itqun minan nar.

Puasa seharian, ibadah dengan sungguh-sungguh, melakukan ritual wajib dan sunnah, memperbanyak amal kebaikan, melakukan I’tikaf di masjid dan berupaya untuk memberikan ibadah terbaiknya untuk Allah, maka dialah yang akan berpeluang lebih besar untuk mendapatkan kasih sayang Allah, Rahmah, maghfirah dan itqun minan nar.

Tidaklah salah doa yang kita lantunkan setiap malam: “nas’aluka ridhaka wal Jannah wa na’udzubika min sakhatika wan nar, Allahumma innaka ‘afwun karim tuhibbul afwa wa’fuanna ya karim”. Yang artinya: “Ya Allah kami memohon Ridha-Mu dan surga-Mu dan jauhkan kami dari siksa api neraka, ya Allah sesungguhnya Engkau pemberi ampunan yang agung, Engkau menyukai ampunan dan ampunilah kami wahai Dzat yang mulia”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

KEBAHAGIAAN BUKAN SEMATA-MATA KARENA HARTA

KEBAHAGIAAN BUKAN SEMATA-MATA KARENA HARTA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Great Power Index (GPI) 2024 menempatkan Indonesia sebagai negara nomor dua dalam kebahagiaan dengan indeks sebesar 1,58 hanya berada di bawah Britania Raya dengan indeks 1,65. Sementara itu, Lembaga survey yang terpercaya, Badan Pusat Statistik (BPS), 2021, telah merilis tentang indeks kebahagiaan, dengan indicator dimensi kepuasan hidup, dimensi perasaan dan makna hidup.

Jika tiga dimensi  indeks ini nilainya bagus, maka potensinya akan menjadi bahagia, akan tetapi jika kurang, maka tidak masuk dalam kategori bahagia. Begitu kelihatan bahwa ukuran kebahagiaan adalah ukuran prilaku  yang lebih dominan. Selalu ada alasan bahwa sebagai sebuah survey,  maka yang bisa dicek adalah indicator yang tangible dan bukan non tangible. Sedangkan spiritualitas adalah indicator yang tak terukur. Makanya, spiritualitas tidak dikaji dalam mengukur kebahagiaan.

Berdasarkan atas ukuran prilaku  tersebut, maka indeks kebahagiaan orang Indonesia berada dalam tingkat  bahagia, dengan perolehan angka sebesar 71,49 dengan dimensi  kepuasan hidup sebesar 75,16, indeks dimensi  perasaan sebesar 65,61 dan dimensi indeks makna hidup sebesar 73,12. Angka ini meningkat dibandingkan survey BPS tahun 2017 sebesar 0,8. (BPS, Provinsi Jambi 05/09/2022). Jadi orang Indonesia sudah bahagia. Lumayanlah. Dengan angka ini maka memberikan justifikasi secara statistic bahwa orang Indonesia sudah memasuki lingkaran kebahagiaan. Apakah ini hasil pembangunan atau bukan, akan tetapi yang jelas perjalanan bangsa Indonesia sudah on the track dalam mengurus kebahagiaan.

Di dalam Islam kebahagiaan itu lebih berdimensi batin atau hati. Bukan hanya ketercukupan lahiriyah atau kepuasan jasmaniyah. Bukan hanya ketercukupan kebutuhan biologis dan social akan tetapi juga keterpenuhan kebutuhan spiritual. Kebahagiaan merupakan urusan hati dan bukan urusan fisik. Ada orang yang secara fisik sudah melebihi tataran ketercukupan atau kekayaan,  akan tetapi hatinya tidak pernah tenang. Hatinya tidak ada kedamaian.

Ada bukti orang-orang Barat yang kekayaannya sudah melebihi batas kewajaran, akan tetapi justru bunuh diri. Ada penyanyi-penyanyi terkenal dengan kekayaan dan kemewahan, dengan ketenaran dan kemegahan, akan tetapi mati dengan bunuh diri atau kelebihan dosis obat ketenangan. Meminum obat tenang tentu adalah orang yang tidak tenang. Orang yang gelisah. Orang yang tertekan dan sebagainya. Ketakutan akan ketenarannya memudar, ketakutan bahwa kemewahannya akan berakhir, ketakutan dan pengaruhnya akan hilang dan sebagainya. Mana yang lebih hebat mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon dan istrinya, yang di kala tuanya lalu menghibahkan semua hartanya kecuali untuk pemenuhan kebutuhannya yang minimal saja atau para pesohor yang dikaruniai kekayaan dan ketenaran yang luar biasa. Jawabannya tentu Richard Nixon lebih baik. Orang seperti Richard Nixon sudah selesai dengan kehidupannya, dan dia sadar bahwa harta tidak akan dibawanya serta kala wafat.

Bagi orang beragama, kebahagiaan itu urusan batiniah atau urusan spiritualitas. Bukan semata-mata urusan duniawiyah. Itulah sebabnya doa yang selalu kita bacakan nyaris setiap hari adalah “Ya Allah berikan kepada Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat, dan jauhkan kami dari api neraka”. Kebaikan di dunia adalah terpenuhinya kebutuhan biologis dan social, dan kebaikan di akherat adalah terpenuhinya instrument untuk bekal hidup di akherat, hablum minallah dan hablum minan nas. Harta dan kekayaan hanyalah instrument untuk kebahagiaan atau tujuan antara, yang bisa menjadi salah satu pengungkit kebahagiaan, tetapi the ultimate kebahagiaan atau endless bliss adalah kebahagiaan kelak di akherat. Sa’idun fid dunya wa sa’idun fil akhirah.

Itulah sebabnya kita bersyukur, bahwa kita memiliki ajaran Islam yang mengajarkan tentang philantropi atau bersedekah, berinfaq, dan berzakat. Ketiganya adalah instrument untuk menggapai kebahagiaan. Orang yang bisa memberi sesuatu kepada orang lain adalah orang yang tentu sudah menyadari bahwa kehidupan harus dihias dengan kebaikan kepada Allah dan juga kebaikan bagi sesama manusia. Berkat philantropi kita, umat islam, berdasarkan atas teks suci, maka Indonesia selalu menjadi negara terbaik dalam World Giving Index (WGI), sudah enam kali berturut-turut. Digambarkan bahwa dari 10 orang Indonesia, maka delapan di antaranya suka memberikan philantropinya.

Sebuah cerita menggambarkan Sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdurrahman bin Auf, orang kaya di Mekkah. Dalam satu kesempatan Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa Abdurrahman bin Auf nanti di kala akan masuk surga maka jalannya dengan merangkak atau Bahasa Jawa ngesot, maka betapa sedihnya Abdurahman bin Auf sehingga selalu berdoa agar menjadi orang miskin, maka oleh Nabi Muhammad SAW lalu dianjurkan agar banyak bersedekah, berinfaq dan berzakat. Jadi pilantropi adalah salah satu instrument untuk mendapatkan kebahagiaan di akherat. Padahal, Abdurrahman Bin Auf adalah salah satu dari assabiqunal awwalun yang dipastikan akan masuk surga.

Ada tipe ideal perempuan yang hebat yang memiliki kekayaan 2/3 tanah di Mekkah, tetapi kala wafat tidak memiliki kain yang bagus untuk kain kafannya, maka Allah SWT memberikannya kain kafan. Sayyidatina Khadijah adalah salah satu contohnya. Kekayaannya yang melimpah digunakannya untuk berdakwah bersama Nabi Muhammad SAW, dan Sayyidatina Khadijah sangat senang melakukannya. Inilah kebahagiaan yang abadi, yang kelak akan didapatkannya di akherat. Jadi harta hanya instrument saja dan bukan tujuan kebahagiaan.

Secara ekspresif,  kala Sayyidatina Khadijah akan wafat Nabi Muhammad SAW menangis lalu menanyakannya, “Wahai istriku, apakah engkau  menyesal hidup bersamaku hingga hartamu  habis untuk berdakwah”, maka Sayyidatina Khadijah menyatakan bahwa “saya mengikhlaskan harta milikku  dan  aku sangat bahagia   karena bisa berjuang bersama Rasulullah”.

Wallahu a’lam bi al shawab.