• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MANUSIA, DZIKIR DAN TIPOLOGINYA

MANUSIA, DZIKIR DAN TIPOLOGINYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Selasa, 27/10/2026, saya berkesempatan untuk mengisi acara pengajian Selasanan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Hadir sesama jamaah ngaji bahagia yang tergabung dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) yaitu para sahabat dari Perumahan Lotus Regency dan Perumahan Sakura, Ketintang Surabaya. Jangan dibayangkan jamaahnya banyak. Sedikit tetapi orang-orang khusus. Jamaah yang ingin menemukan kebahagiaan lewat tersenyum dan tertawa minimal 17 kali.

Pada ceramah kali ini, saya menyampaikan tiga hal, yaitu:

Pertama, kita telah terbiasa untuk mengamalkan dzikir, bahkan sudah rutin, misalnya dzikir ba’da shalat maktubah, khususnya shalat Maghrib, Isya’ dan Shubuh. Yaitu membaca suhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali dan Allahu akbar 33 kali dan diikuti dengan bacaan lanjutannya, Allahu akbar akbira…. dan seterusnya. Para ahli, saya tidak menyebut namanya, bacaan lanjutan dzikir Allahu Akbar kabira wal hamdulillahi katsira… dan seterusnya itu untuk menggenapi angka 99 kali, sehingga menjadi 100 kali. Wallahu a’lam.

Dzikir itu dipahami sebagai aktivitas untuk mengingat Allah SWT dengan berbagai bacaan yang lazim digunakan. Akan tetapi tidak terstruktur oleh waktu, tanpa petunjuk para ahli atau guru yang didapatkan secara langsung. Misalnya saya mengamalkan dzikir yang waktunya terserah saya kapan saja. Itu disebut sebagai dzikir. Untuk mengingat Allah SWT, maka ada dua cara yaitu dengan membaca kalam Allah SWT atau Alqur’an dan bacaan-bacaan kalimat thayyibah. Selain itu juga ada cara lain yaitu melalui ayat atau tanda-tanda  alam, seperti bagaimana bumi diciptakan, bagaimana gunung ditinggikan, bagaimana burung diterbangkan, bagaimana matahari terbit selalu dari arah timur, bagaimana bintang bulan dan planet-planet di dalam keteraturan dan sebagainya. Tujuan dzikir adalah untuk mengingat kebesaran atau keagungan Tuhan SWT.

Selain kata dzikir ada juga kata wirid, yang jama’nya aurad. Wirid artinya dapat dipahami sebagai ikhtiar untuk mendatangi Allah SWT. Bisa juga dipahami sebagai mendekati Allah SWT. Orang yang melakukan bacaan wirid berarti sedang melakukan pendekatan atau mendatangi Allah SWT. instrumen untuk mendatangi Allah SWT adalah melalui bacaan-bacaan terstruktur yang diajarkan oleh guru dalam waktu dan hitungan tertentu. Misalnya di kalangan ahlu thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah diharuskan untuk wirid kalimat tauhid sebanyak 165 kali ba’da shalat maktubah dengan teknik yang khusus. Wirid ini diajarkan oleh para guru yang memiliki kewenangan mengajarkannya.

Saya mencoba untuk membagi dzikir itu di dalam tiga kategori, yaitu:

Pertama, dzikrul asma, bisa disebut sebagai dzikrul lisan atau dzikrul jasad. Yaitu bacaan-bacaan kalimat thayibah apa saja yang diucapkan secara lisan. Bisa saja berupa kalimat tahlil, tasbih, tahmid dan takbir atau bahkan berdzikir dengan asma-asma Allah sejumlah 99 nama. Jika hal itu dilafalkan dengan lisan, maka hal itu dapat dikategorikan sebagai dzikrul lisan atau dzikrul asma.

Banyak di antara kita yang melakukan dzikir dalam level ini. Yaitu berdzikir dengan ucapan-ucapan lesan tanpa disertai memahami maknanya. Yang penting menyebut Asma Allah. Bahkan juga bisa membaca Alqur’an, atau membaca bacaan dzikir yang sudah diajarkan di dalam Alqur’an, Alhadits dan juga para ulama. Bisa juga membaca do’a yang disunnahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Ada tradisi di kalangan orang NU, yang sering melakukan bacaan Surat Yasin atau disebut sebagai Yasinan, dan juga tahlilan yang bisa diidentifikasi sebagai bacaan atau dzikrul lisan atau dzikrul asma.

Kedua, dzikrul sifat atau disebut juga sebagai dzikrun nafsi, yaitu dzikir yang diikuti dengan kemauan batin untuk memenuhi sifat-sifat baik yang diinginkan. Jadi di dalam batin orang yang berdzikir itu meminta kepada Allah agar nafsul mutmainnahnya semakin meningkat, dan nafsu amarahnya semakin berkurang bahkan tidak ada.  Demikian pula keinginan tentang kebaikan dapat dikabulkan oleh Allah SWT. Kebanyakan amal ibadah kita itu tergolong dalam level  beragama transaksional atau kita berdzikir agar Allah membalasnya.  Jika level ibadah kita seperti ini maka berarti kita masih pada level dzikrus sifat atau dzikrun nafs. Dzikir itu untuk memenuhi keinginan kita untuk memperoleh sesuatu dari Allah SWT. Tentu ini dasarnya, yang utama misalnya di dalam Surat Al Fatihah: iyyaka na’budu wa iyyaka nastain. Jelas dalilnya, bahwa Allah mengajarkan kepada manusia agar manusia menyembah Allah dan Allah akan memberikan pertolongan.

Ketiga, dzikrul Dzat atau dzikrur ruh atau dzikrul qalb yaitu dzikir dengan bacaan yang sesuai dengan ajaran Islam yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT tanpa ada keinginan apapun, selain untuk mengabdi dengan mendatangi dan taqarrub kepada Allah. Dzikir yang dilakukan untuk mendatangi dan berdekatan dengan Allah tanpa ada maksud apapun. Tidak meminta kepada Allah SWT apapun. Dzikir dalam diam. Sepenuhnya konsentrasi dan fokus kepada Allah. Inilah yang di dalam tradisi Jawa sebagaimana filsafat Gamelan Jawa, maka terdapat bunyi ning neng ning gung atau hening atau wening, meneng atau diam, weninge hati  dan menuju kepada  yang Maha Agung.

Dzikir ini ditandai dengan keheningan, tanpa suara, yang ada hanya suara hati dan semuanya tertuju kepada Allah Yang Maha Agung. Tanpa keinginan, tanpa kemauan, yang ada hanya relasi manusia dengan Allah semata yang meresap mendalam menuju kemenyatuan rasa dengan Allah semata. Tetapi hanya orang-orang khusus yang bisa melakukannya. Sebagai orang awam, kita sudah bahagia bisa menjalankan perintah Allah untuk berdzikir kepadanya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SUNNAH MEMAKAI GAMIS (118)

SUNNAH MEMAKAI GAMIS (118)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim

Jenis dan corak pakaian itu sangat variatif. Setiap suku bangsa memiliki ciri khas berpakaiannya. Semua tergantung dari norma sosial yang menjadi pedoman bagi semuanya. Bahkan ada pakaian nasional dan ada pakaian lokal. Ada pakaian resmi dan ada pakaian tidak resmi. Pakaian resmi digunakan dalam acara-acara kenegaraan atau acara birokrasi yang sangat formal. Sedangkan pakaian tidak formal digunakan dalam kegiatan keseharian yang berlaku pada suku-suku bangsa tertentu. Sama halnya dengan pakaian adat dan pakaian nasional. Pakaian adat biasanya digunakan dalam acara-acara adat, sedangkan pakaian nasional biasanya digunakan pada acara-acara formal seperti pakaian untuk upacara kenegaraan.

Jadi sebenarnya ada banyak pilihan dalam berpakaian. Tergantung pada siapa dan apa yang menggunakannnya. Tidak ada ketentuan yang sangat rigid tentang berpakaian, kecuali pakaian tersebut seirama dengan pandangan masyarakat dalam area tertentu. Pakaian koteka dapat digunakan oleh Suku-Suku di Papua atau Papua Barat dan dianggapnya tidak menyalahi tradisi di kala memakainya. Tentu pada waktu yang memungkinkan menggunakannya. Atau pakaian rumbi-rumbi yang kebanyakan digunakan untuk tari-tarian yang unik dan menarik. Pakaian adat Sulawesi Selatan atau Sulawesi Utara juga dapat digunakan sesuai dengan moment yang membolehkannya. Pakaian adat kebanyakan digunakan pada saat terdapat upacara suku yang dianggapnya mendasar.

Pakaian nasional adalah pakaian yang menjadi standar umum untuk kegiatan perkantoran. Misalnya atasan putih dan bawahan gelap. Pakaian ini dapat digunakan untuk lelaki dan perempuan. Pada hari Senin dan Selasa menggunakan tradisi pakaian putih untuk atasan dan gelap untuk bawahan. Sementara hari Rabo dan Kamis menggunakan pakaian dinas kantor, sementara Jum’at menggunakan pakaian batik. Inilah standart pakaian kantor pemerintah mulai dari tingkat pemerintahan kecamatan sampai tingkat pemerintah pusat.

Sementara untuk perusahaan tentu menggunakan dresscode yang berbeda. Para pejabatnya menggunakan pakaian lengkap atau disebut pakaian sipil lengkap (PSL). Biasanya PSL juga digunakan pada acara-acara resmi di lembaga pemerintahan seperti pelantikan jabatan, acara di Istana Negara dan acara-acara formal yang dihadiri oleh presiden dan wakil presiden.

Sekarang ada tradisi baru, seirama dengan menguatnya pengakuan terhadap santri. Pakaian itu adalah penggunaan sarung dan baju koko. Baju koko biasanya warna putih, sedangkan sarungnya bisa berwarna-warni , baik jenis maupun mereknya. Merek yang sangat terkenal adalah  BHS. Baik yang bercorak sarung atau kain batik. Ada banyak merek yang menjadi kebanggaan orang bersarung. Yang gencar promosi di televisi adalah Wadimor dan Gajah Duduk. Merek-merek ini menjadi idola di kalangan para santri.

Semenjak diresmikan Hari Santri Nasional (HSN) oleh Presiden Joko Widodo di Masjid Istiqlal, 22/10/2017, maka gaya berpakaian santri menjadi bagian tidak terpisahkan dari tradisi berpakaian di Indonesia. Di bandara, stasiun dan terminal jumlah orang bersarung semakin banyak. Menandakan bahwa sarung sudah naik kelas. Selama ini orang bersaung itu adalah orang yang akan pergi ke masjid atau di pesantren. Sekarang sarung sudah menjadi pakaian yang membanggakan. Orang tidak merasa dianggap tradisional jika memakai sarung.

Jika kita merujuk ke gaya pakaian Rasulullah SAW, maka Nabi SAW juga pernah menggunakan pakaian berwarna-warni. Sekali waktu pernah menggunakan pakaian warna hijau. Sekali waktu menggunakan pakaian warna hijau dan juga pernah menggunakan pakaian warna hitam. Tetapi yang paling sering digunakan adalah pakaian warna putih. Bahkan Nabi SAW menjadikan sunnah berpakaian warna putih. Jika kita di Arab Saudi, maka pakaian resminya adalah warna putih, meskipun ada juga yang warna hitam. Perempuan menggunakan pakaian warna hitam. Sementara lelaki sangat jarang menggunakan warna ini. Ada beberapa jemaah haji yang menggunakan warna hijau, biasanya datang dari Afrika, sementara itu dari Turki menggunakan pakaian warna abu-abu. Indonesia banyak yang menggunakan batik dengan aneka warnanya.

Hadits dari Umi Salamah RA berkata: “pakaian yang paling disenangi Rasulullah SAW  adalah gamis”. Hadits riwayat Abu Dawud, dan At Tirmidzi. Di dalam Kitab Riyadhus Shalihin tidak banyak hadits yang dinukil oleh Syekh Imam An Nawawi. Dari uraian tersebut, kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:

Pertama, Nabi Muhammad SAW mensunahkah pakaian berwarna putih. Meskipun boleh atau mubah menggunakan pakaian berwarna lain. Yang penting memenuhi standar menutup aurat. Tidak ada kewajiban spesifik untuk menggunakan pakaian dalam style seperti apa. Islam memberikan kelonggaran dalam berpakaian asal tidak bertentangan dengan syariat Islam, seperti menutup aurat. Jadi pakaian misalnya celana, baju kasual yang menutup aurat, pakaian adat yang menutup aurat, namun  apa merek dan kualitas kain tidak menjadi masalah, asal bukan kain sutra murni.

Kedua, pakaian berwarna putih itu sangat tepat bagi orang Arab yang udaranya panas. Warna putih dapat mengeliminasi udara kering dan panas di Timur Tengah. Nabi SAW sangat memahami tentang bagaimana fungsi pakaian dalam kaitannya dengan iklim tropis di Timur Tengah. Oleh karena itu, penggunaan warna putih sebagai pakaian tentu juga terkait dengan alam yang melingkupi kehidupan mereka.

Ketiga, Nabi SAW memberikan perhatian khusus kepada pakaian yang berbentuk gamis. Itulah sebabnya banyak pria di Saudi Arabia menggunakan pakaian gamis. Demikian pula para tokoh Islam seperti Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan juga KH. Ahmad Dahlan dan  lainnya juga menggunakan gamis. Tetapi ada juga yang penggunaan gamis tersebut pada saat shalat, terutama shalat maktubah. Silahkan bagi yang ingin berbeda dalam memakai pakaian, baik warna maupun bentuknya, yang terpenting pakaian tersebut sah digunakan karena menutup aurat. Khusus perempuan yang diperkenankan adalah terbukanya wajah dan tangan. Yang lain dianggap aurat. Namun demikian, juga ada beberapa jenis pakaian yang menggambarkan sebagai tradisi yang memang diperkenankan sejauh tidak terlalu jauh dari syariat Islam. Tetapi yang terbaik tentunya adalah pakaian yang sesuai dengan syariat Islam.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KEBOLEHAN MENGGUNAKAN PAKAIAN BERWARNA WARNI (117)

KEBOLEHAN MENGGUNAKAN PAKAIAN BERWARNA WARNI (117)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim, MA

Sesungguhnya Allah SWT itu indah dan menyukai keindahan. “Innallaha jamilun wa yuhibbul jamal”.  Keindahan itu dapat digambarkan sebagai sesuatu yang menyenangkan pandangan mata dan juga perasaan di hati. Jadi keindahan itu jika orang memandang sesuatu yag indah itu dan kemudian membuat hati kita merasakan kehadiran yang indah tersebut. Di masa lalu keindahan itu seirama dengan kesesuaian atau keserasian. Pasangan suami istri yang serasi, pakaian yang serasi, asesori rumah yang serasi, dan pemandangan atau tempat rekreasi yang serasi. Semuanya menggambarkan keindahan. Orang bisa datang ke Bromo untuk melihat sunset. Keindahan yang terpancar dari sinar matahari yang baru terbit.

Keindahan mencakup obyek mata yang masuk ke dalam hati atau perasaan dan kemudian menghasilkan efek gembira atau senang dan membuat kenyamanan. Keindahan tidak selalu menggambarkan yang terbaik, berkualitas dan general. Keindahan terkadang sangat subyektif sesuai dengan perspektif seseorang yang melihatnya. Bahkan keindahan itu juga bercorak orang-perorang atau individual. Ada yang baik menurut seorang individu tetapi tidak menurut individu lainnya.

Di dalam literatur keagamaan dikenal ada keindahan lahiriyah dan keindahan batiniah. Keindahan lahiriyah biasanya berdasar atas pandangan atau penglihatan mata atas obyek keindahan yang diterima oleh indera mata. Pakaian yang indah misalnya akan dapat diketahui dari keserasian, corak warna dan kesesuaiannya dengan bentuk tubuh, warna kulit dan asesorinya. Sedangkan keindahan batin itu biasanya dapat terlihat secara fisik berdasarkan atas tindakan yang diekspresikannya.

Keindahan batin itu terkait dengan ekspresi keberagamaan yang eksis di dalam tingkah laku keseharian. Misalnya tawadhu kepada orang yang lebih tua, menghargai persahabatan, memuliakan para ahli agama dan ahli ilmu lainnya. Tidak sombong dan tidak merasa paling hebat dan sebagainya. Yang terpenting adalah ekspresi tindakan kebaikan.

Salah satu di antara ekspresi kebaikan dan keindahan adalah pakaian. Pakaian dapat menjadi ukuran atas seseorang itu menghargai ajaran agama atau tidak. Jadi yang dijadikan ukuran adalah ajaran agama. Tetapi juga ada ukuran tradisi yang berkembang di kalangan masyarakat. Islam misalnya menetapkan ukuran kepantasan pakaian adalah menutup aurat, baik lelaki maupun perempuan. Khusus untuk perempuan adalah ketertutupan secara fisikal selain jari-jari dan muka. Meskipun juga ada yang menutup muka dengan burqa. Perempuan di negara-negara Islam yang berpaham fundamentalis, kebanyakan menerapkan gaya berpakaian seperti itu. Akan tetapi di negara-negara Barat berpakaian dengan sangat minimal, bahkan menampakkan auratnya secara vulgar bukanlah suatu halangan.

Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak cucu Adam. Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi  aurat kamu dan untuk perhiasan bagi kamu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik”. (QS: Al A’raf; 26). Allah ta’ala juga berfirman, “Dan dia menjadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, menjadikan pakaian bagimu yang memeliharamu dari panas, dan juga pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. (QS: An Hal: 81).

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, RA., “bahwa Rasulullah SAW bersabda: “pakailah pakaian kalian yang berwarna putih, sesungguhnya ia adalah sebaik-baik pakaian kalian, dan kafanilah  yang meninggal di antara kalian dengannya”. Hadits Riwayat  Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits lain menyatakan dari Al Barra RA., Rasulullah SAW  adalah orang yang tingginya sedang. Aku pernah melihat beliau menggunakan setelan hullah berwarna merah, belum pernah sama sekali aku melihat yang lebih bagus dari itu”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih. Hadits dari Abu Rimsah RA., berkata: “aku melihat Rasulullah SAW memakai sepasang pakaian  berwarna hijau”. Hadits Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits dari Jabir RA., meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW masuk ke Mekkah pada tahun pembebasan kota Mekkah dengan mengenakan serba hitam”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari penjelasan Alqur’an, hadits dan sosiologis di atas, maka dapat dapat digambarkan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, bahwa berpakaian merupakan bagian dari ajaran Islam yang mendasar. Berpakaian menjadi basis bagi seseorang dapat dinyatakan beragama dengan benar atau beragama tanpa kesadaran mengamalkannya. Bagi yang beragama seadanya, maka berpakaian tidak menjadi problem utama. Artinya bisa seenaknya. Bisa secara lengkap dan ada juga yang seadanya. Yang secara lengkap artinya sesuai dengan syariat berpakaian, sedangkan yang tidak sesuai syariat, maka gaya berpakaiannya hanya menutup bagian-bagian mendasar saja.

Islam menganggap bahwa baik lelaki maupun perempuan memiliki aurat atau batasan-batasan yang diperbolehkan dan dilarang.

Kedua, berpakaian tentu ada kaitannya dengan keindahan. Pakaian yang indah ditandai dengan pilihan warna yang baik dan serasi dengan tubuh dan kepentingan. Nabi Muhammad SAW membolehkan berpakaian dalam berbagai warna. Kanjeng Nabi SAW pernah berpakaian dalam warna-warna yang bervariasi. Pernah berpakaian dalam warna merah, hitam dan hijau. Akan tetapi pakaian berwarna putih itu lebih disukai. Pakaian warna putih itu pakaian yang sangat dianjurkan atau disunnahkan. Nabi SAW paling sering menggunakan pakaian putih tersebut. Sedangkan pakaian warna lainnya itu hanya sekali waktu atau kebolehan atau mubah. Sedangkan pakaian putih adalah sunnah atau mendapatkan pahala di kala memakainya.

Ketiga, pakaian memang ada kaitannya dengan budaya lokal. Artinya masing-masing daerah memiliki budaya berpakaiannya sendiri baik corak warna, bentuk dan pola pakaian serta jenis kain yang relevan dengan budayanya. Ada misalnya batik untuk masyarakat Indonesia,  akan tetapi memiliki ciri khasnya masing-masing. Ada bentuk pakaian sesuai dengan adat dan tradisinya masing-masing. Semuanya menggambarkan keanekaragaman pakaian sesuai dengan kebudayaannya. Namun demikian, yang terpenting bahwa pakaian tersebut harus sesuai dengan syariat Islam.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENGGUNAKAN SEMUA BEJANA UNTUK MINUM KECUALI BEJANA EMAS (116)

MENGGUNAKAN SEMUA BEJANA UNTUK MINUM KECUALI BEJANA EMAS (116)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Tentang minuman, Islam mengajarkan agar seseorang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Untuk urusan minum, Nabi Muhammad SAW memberikan pedoman agar  minum air dalam berbagai wadah, misalnya  baik yang terbuat dari gelas atau piring kayu, porselin, kaca, plastik, stainlees, aluminium, dan lain-lain. Namun demikian bagi kaum konglomerat,  di kerajaan atau negara-negara kaya atau hotel-hotel mewah dan rumah makan premium bisa juga bejana terbuat dari emas atau perak.

Penggunaan wadah minuman yang terbuat dari emas, tentu dimaksudkan untuk menunjukkan betapa kekayaan dan kehebatan kerajaan, restoran  atau hotel dan konglomerat tersebut di mata orang lain.  Ada dimensi kebanggaan dan harga diri yang masuk di dalamnya. Pada zaman kerajaan Majapahit, khususnya zaman raja Hayam Wuruk, maka banyak peralatan makan dan minum yang dibuang begitu saja di kolam-kolam untuk membuang wadah bekas makanan. Banyak  ditemukan pecahan-pecahan piring, gelas dan peralatan makan lainnya yang terbuat dari porselin. Hal ini menggambarkan tentang betapa barang-barang berharga yang sudah selesai digunakan itu dibuang saja. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan betapa barang-barang bekas itu sudah tidak digunakan lagi sebab barang-barang bersih lainnya menumpuk jumlahnya.

Pada zaman relasi Kerajaan-kerajaan China dengan kerajaan-kerajaan Nusantara, maka salah satu hadiah mewah adalah berbagai peralatan rumah tangga, khususnya piring dan gelas-gelas yang terbuat dari porselin. Hingga hari ini, peralatan rumah tangga dari China yang berupa perhiasan, piring, gelas dan hiasan-hiasan rumah dari China tergolong yang terbaik. Demikian juga dari Timur Tengah, misalnya Persia. Coba perhatikan di beberapa makam auliya, misalnya Sunan Bonang, maka di pintu gerbang untuk masuk ke lokasi makam didapati piring-piring porselin yang indah dengan hiasan-hiasan kaligrafi yang menarik. Dan itu semua buatan China pada masa lalu. Jadi, urusan wadah makanan dan minuman saja bisa mengikuti perkembangan teknologi pada zamannya.

Nabi Muhammad SAW, sungguh manusia yang memiliki kemampuan untuk mencandra masa depan dengan kemampuan prospektif. Jadi di kala Nabi SAW bersabda dengan berbagai hal, termasuk wadah makanan dan minuman, karena Beliau memahami bahwa semakin maju sebuah masyarakat akan semakin banyak menciptakan kreasi di dalam kehidupan, termasuk dalam makan dan minum. Nabi SAW mengingatkan bahwa wadah makanpun perlu diatur dalam pedoman kehidupan.

Hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Anas, RA., “waktu shalat sudah tiba, maka orang yang rumahnya dekat segera pergi ke rumahnya, dan tersisalah sekelompok orang. Kemudian Rasulullah SAW dibawakan sebuah bak dari batu, dan bak itu berukuran kecil sehingga tidak cukup untuk Beliau membentangkan telapak tangannya. Dan akhirnya semua orang itu bisa berwudlu. Orang-orang bertanya “berapa jumlah kalian saat itu? Anas Bin Malik menjawab: “delapan puluh orang lebih”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim lainnya disebutkan bahwa Nabi SAW meminta satu wadah berisi air. Lantas beliau meletakkan jari-jarinya  di dalam bejana tersebut. Anas berkata: “maka aku mulai melihat air memancar dari sela-sela jemari beliau. Aku menaksir jumlah orang yang berwudlu antara tujuh puluh sampai delapan puluh orang lebih”.

Hadits lain diriwayatkan Abdullah bin Zaid RA., “Rasulullah SAW datang , kemudian kami mengeluarkan air untuk beliau menggunakan bejana dari kuningan dan Beliau berwudlu”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Hadits yang diriwayatkan oleh Huzaifah RA., berkata: “Sesungguhnya Nabi SAW melarang kami sutra dan dibaj (pakaian sutra)  serta minum menggunakan bejana emas dan perak. Beliau bersabda: “semua itu untuk  mereka (orang kafir) di dunia, dan untuk kalian di akherat kelak”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih. Hadits dari Umu Salamah RA., meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “orang yang minum menggunakan bejana perak pada hakikatnya sedang menuangkan api neraka Jahanam ke dalam perutnya”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih. Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan: “siapa yang menggunakan wadah emas dan perak, maka hakikatnya dia sedang menuangkan api neraka Jahanam di dalam perutnya”.

Dari uraian di atas, kiranya dapat dijelaskan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam memberikan peluang bagi umatnya untuk menggunakan wadah atau bejana untuk minuman dari apa saja. Artinya Islam tidak membatasi untuk penggunaan bejana di dalam minum. Hanya saja yang dilarang adalah bejana yang terbuat dari perak dan emas. Keduanya dilarang Nabi SAW untuk digunakan sebagai wadah air minum. Bisa saja ada masalah kesehatan yang dapat dideteksi dari wadah makanan dan minuman dari perak dan emas, dan bukan hanya larangan keagamaan. Emas dan perak tidak baik dijadikan sebagai tempat minuman atau makanan, sebab keduanya memang mengandung senyawa yang bisa membuat tubuh tidak dalam kondisi baik. Jadi bukan hanya larangan teologis, akan tetapi juga larangan kesehatan.

Kedua, Islam sungguh tidak menyukai atas kesombongan dalam level apapun. Tidak hanya kesombongan dalam berpakaian, rumah, jabatan dan kehidupan keseharian. Misalnya dalam makan dan minum. Menggunakan emas dan perak sebagai wadah makanan atau minuman sungguh dapat mewakili kesombongan dalam melakukan tindakan sosial. Selain itu, Islam sangat tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Menggunakan bejana yang terbuat dari perak dan emas merupakan tindakan berlebihan. Islam menyukai kesederhanaan, ketawadluan, dan tidak berlebihan dalam segala hal kehidupan. Oleh karena itu Nabi SAW melarang munculnya kesombongan yang hanya berasal dari masalah kecil, makan dan minum.

Ketiga, Nabi Muhammad SAW melarang keras penggunaan bejana emas dan perak dengan menyatakan bahwa  minuman atau makanan yang diwadahi dengan dua benda tersebut akan menjerumuskan dalam api neraka. Dengan menggunakan bejana dari perak dan emas itu sama halnya dengan memasukkan api neraka Jahanam di dalam perut kita. Oleh karena itu, sungguh kita bisa merasa bersyukur sebab kita tidak termasuk orang yang berlebihan dalam makan dan minum serta tidak pernah menggunakan emas dan perak sebagai tempat makan dan minum.

Jadi, kita dalam hal makan dan minum sudah mengikuti sunnah Rasul Muhammad SAW meskipun mungkin belum secara kaffah. Tetapi yang penting adalah bagaimana kita berusaha untuk melakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MELAYANI UNTUK MINUM DAN MINUMLAH YANG TERAKHIR (115)

MELAYANI UNTUK MINUM DAN MINUMLAH YANG TERAKHIR (115)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim

Orang yang mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang menjadi pelayan umat. Menjadi pelayan dalam kebaikan dan kemaslahatan. Kebanyakan orang lebih suka dilayani dibanding melayani. Apalagi jika yang bersangkutan merasakan sebagai yang lebih tinggi status sosialnya. Baik status sebagai pejabat atau orang kaya atau orang yang memiliki kelebihan atas lainnya. Kelebihan yang dimiliki oleh seseorang itulah yang terkadang membuat dirinya merasa lebih utama dibandingkan yang lain.

Di dalam penelitian yang dilakukan oleh Thomas Murray tentang “The Social Strata in West Jawa”, maka strata sosial di masa lalu, tahun 1980-an, adalah ulama, kyai, ajengan kemudian guru dan orang yang melayani umat dalam kebaikan. Kala itu, strata sosial tinggi tidak identik dengan kekayaan atau kepemilikan harta. Di dalam bahasa Jawa bukan yang disebut sebagai Wong Gede atau orang yang memiliki kekayaan lebih dibanding yang lain. Lawannya adalah Wong Cilik atau orang yang tidak memiliki kekayaan berlebihan bahkan terkadang hanya cukup untuk makan.

Memang tidak mudah untuk menjadi pelayan. Ada faktor yang menyebabkan tingkat kesulitannya. Bisa jadi faktor harga diri, perasaan minder dan bahkan juga merasa lebih utama dari yang lain. Apalagi jika seorang pejabat, maka kebiasaannya dilayani, sehingga kala harus melayani tentu bukan hal yang mudah dilakukan. Seorang pejabat itu memiliki sejumlah hak-hak istimewa  yang luar biasa. Ada hak untuk naik pesawat, misalnya kelas bisnis, makan di restoran  mewah, tidur di hotel berkelas atau bintang V dan sebagainya. Semua disediakan karena faktor jabatan.

Di dalam konteks ini biasanya menyebabkan orang akan terkena power syndrome atau sindrom pasca berkuasa. Ada banyak orang yang masih merasa berkuasa meskipun hakikatnya sudah tidak lagi memiliki kekuasaan. Bersyukurlah jika di antara kita ada yang pernah berkuasa tetapi tidak terkena sindrom ini. Pasca kuasa hendaklah merasa menjadi bagian dari umat, sehingga tidak merasakan penderitaan.

Islam mengajarkan agar yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda: “bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua”. Di antara indikator menghormati yang lebih tua adalah dengan melayani orang yang lebih tua itu. Misalnya mengambilkan makanan atau minuman, menata sandal atau mengangkat barang yang dibawanya.

Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadus Shalihin pada Bab ke 115 menjelaskan tentang “Anjuran Agar Orang Yang Melayani Minum Orang Lain Adalah Yang Paling Terakhir Minum”. Di dalam tulisan ini, saya rumuskan judul “Melayani Minuman dan Minumlah Yang Terakhir”. Dari Abu Qatadah RA dari Nabi SAW, Beliau bersabda: “orang yang memberi minum suatu kaum adalah orang yang terakhir di antara mereka (untuk minum)”. Maksudnya yang terakhir dari mereka dalam minum”. Hadits Riwayat At Tirmidzi.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat digambarkan penjelasannya dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, untuk melayani, terutama pelayanan minuman, tentu memerlukan keterbukaan hati dan pikiran. Diperlukan keikhlasan yang sangat tinggi. Apalagi jika yang akan memberikan pelayanan adalah orang yang memiliki status sosial yang tinggi. Pasti malu untuk memberikan pelayanan minuman tersebut. Ada jarak sosial yang menghalangi tindakan tersebut. Hati  bisa menerima, akan tetapi akal bisa saja menolaknya. Pikiran rasional terkadang tidak memberikan peluang untuk melakukan pelayanan minuman kepada orang lain. Hati menyatakan oke, akan tetapi rasio enggan. Akhirnya tindakan akan lebih menuruti perintah pikiran dan bukan hati.

Kedua, memberikan pelayanan merupakan pelatihan mental untuk berbuat baik kepada orang lain. Sebuah perbuatan akan menjadi tabiat jika dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan. Bisa saja orang hanya melakukan sekali saja. Maka yang seperti itu bukan tabiat. Yang diharapkan bahwa kesukaan untuk memberikan pelayanan kebaikan, termasuk melayani minum dapat menjadi tabiat. Bukan tindakan kepura-puraan. Berbuat baik di depan banyak orang agar dianggap orang baik. Hanya pencitraan.

Perilaku yang hanya sekali atau dua kali tidaklah  dianggap sebagai perilaku sosial yang teratur. Perilaku teratur itu jika dilakukan secara berulang-ulang. Kapan dan di mana saja. Ada orang atau tidak ada orang. Bukan tindakan keterpaksaan yang dilakukan secara sporadik. Tindakan yang ajeg dipastikan  berasal dari kedalaman makna,  dari hati nurani dan disetujui oleh akal, sehingga menjadi tindakan nyata.

Ketiga, di antara makna penting dari melayani orang lain terlebih dahulu dan barulah yang bersangkutan minum adalah tindakan mendahulukan orang lain, mementingkan orang lain dan bukan mementingkan dan mendahulukan diri sendiri. Ada ajaran moral yang tercantum di dalam ajaran Nabi Muhammad SAW. Bukan aku dulu,  baru mereka.  Jadi mereka dulu dan baru aku.  Melalui ajaran ini, Nabi SAW mengajarkan agar kita tidak bersikap ananiyah atau keakuan atau egoisme. Diajarkan kepada kita untuk memberikan peluang kepada orang lain untuk memperoleh kebaikan dan kesenangan dan setelah itu kita dipastikan akan juga menikmatinya.

Wallahu a’lam bi al shawab.