• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

QANAAH, HIDUP SEDERHANA DAN JANGAN MEMINTA-MEMINTA (57)

QANAAH, HIDUP SEDERHANA DAN JANGAN MEMINTA-MEMINTA (57)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pada Bab 57, Syekh Imam An Nawawi, menjelaskan tentang “Qanaah, Iffah, Infaq, Hidup Sederhana,  Dan Celaan Terhadap Minta-Minta Tanpa Mendesak”. Kemudian pada Bab ini, saya mencoba untuk memendekkan judulnya menjadi “Qanaah, Hidup Sederhana Dan Jangan Meminta-Meminta”. Tujuannya adalah untuk memudahkan bagi pembaca dalam memperoleh penjelasan tentang judul ini.

Banyak orang yang tidak hidup dengan qanaah. Qanaah itu adalah pemahaman, sikap dan perilaku manusia yang menerima atas ketentuan Allah, memiliki kerelaan, merasakan ketercukupan dan senang mendapatkan sesuatu yang datangnya dari Allah SWT. Pemahaman, sikap dan perilaku seperti ini yang sekarang agak jarang dijumpai dalam diri manusia. Manusia selalu merasa kurang, merasa belum cukup dan merasa akan meraih semuanya. Banyak penyimpangan yang terjadi karena ketiadaan qanah di dalam diri seseorang.

Secara empiric, dapat diketahui betapa banyaknya orang yang ingin jabatan dengan membelinya, ingin kaya dengan cara melakukan fraud atau korupsi atau dengan melakukan kecurangan dan tindakan yang tidak bisa diterima dengan nalar yang sehat, apalagi nalar keagamaan. Kita terkadang merasa ngeri melihat perilaku-perilaku yang  menyalahi norma social yang berbasis pada nilai keagamaan. Inilah yang sekarang sedang dipertontonkan oleh sebagian kecil masyarakat di tengah hiruk pikuk kehidupan social. Moral hazard ada di mana-mana, dan mereka merasa tidak bersalah dengan tindakannya tersebut.

Perilaku seperti ini sungguh merugikan orang lain. Bisa dibayangkan bahwa yang mereka lakukan adalah pencurian atas hak-hak orang lain. Misalnya dengan mengkorupsi program pembangunan,  maka mereka telah merusak tujuan dan target pembangunan. Sebagaimana telah djelaskan oleh Allah SWT dan disabdakan oleh Nabi SAW, bahwa mereka adalah orang yang menghalangi orang lain untuk memperoleh manfaat atas kebaikan yang direncanakan.

Ayat Alqur’an menjelaskan di dalam Surat Hud: 6, bahwa: “Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin oleh Allah rezekinya”. Lalu di dalam Surat Al Baqarah: 273, bahwa: “(apa yang diinfakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia tidak bisa berusaha di bumi, (orang lain)  yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta-minta secara paksa kepada orang lain”. Di Surat lain, Surat Al Furqan: 67, bahwa “Dan (hamba-hamba Tuhan ang Maha pengasih) orang=orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, tetapi di antara keduanya secara wajar”. Di dalam Surat Az Zariyat: 56-57, bahwa: “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan sedikit rezeki dari mereka dan aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku”.

Hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Amr bin Ash,  bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sungguh beruntung orang yang masuk Islam  dan dianugerahi rezeki  yang cukup, serta Allah menjadikannya qanaah dengan anugerah yang Dia berikan”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Lalu juga dijelaskan hadits yang diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam meriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda: “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.  Mulailah dari orang yang wajib engkau nafkahi. Sebaik-baik sedekah adalah setelah memenuhi kebutuhan diri. Siapa yang menjaga kehormatannya, maka Allah akan menjaga kehormatannya. Siapa yang mencukupkan dirinya, maka Allah akan mencukupkannya”. Hadits Riwayat  Mutafaq alaih.

Secara sosiologis, dapat dijelaskan ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, manusia memang memiliki kebutuhan mulai dari kebutuhan biologis, kebutuhan social sampai kebutuhan integrative. Tetapi kebanyakan manusia lebih mengutamakan kebutuhan biologisnya. Makan lezat, minum nikmat, harta banyak, asesori kehidupan yang serba mewah dan sebagainya. Kebutuhan inilah yang sering memasung manusia untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai keagamaan. Padahal Allah melalui Nabi Muhammad SAW sudah memberikan pedoman agar seseorang hidup dalam qanaah dan iffah atau menjaga kehormatan diri. Yaitu menjaga martabat fisik, jiwa dan roh atau spiritualitas.  Oleh karena itu, manusia diminta oleh Nabi SAW agar bisa menjaga diri sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam: qanaah, iffah dan hidup sederhana bahkan jangan menjadi peminta-minta.

Kedua, manusia memang lebih banyak dipengaruhi oleh factor eksternal selain memang ada pertimbangan internal. Pertimbangan eksternal inilah yang mewarnai kehidupan manusia. Ada rasa tidak puas atas kehidupannya karena melihat orang lain sukses dengan jabatannya dan dengan usahanya. Dalam posisi yang sama akan tetapi berbeda prestasi dan pendapatannya. Atas hal demikian, Rasulullah SAW memberikan penjelasan agar orang menerima atau pasrah atas kepastian Tuhan. Bukankah di kala Malaikat menaruh roh di dalam dirinya sudah terdapat takdir Tuhan tentang rezekinya. Tetapi rezeki tidak sedirinya datang kecuali dengan usahanya. Jika usahanya sama tetapi keberuntungannya berbeda,  maka manusia memiliki sikap qanaah dan iffah dimaksud.

Ketiga, Rasulullah SAW  mengajarkan agar manusia jangan meminta-minta untuk kepentingan pribadinya. Bolehlah seseorang membuat misalnya proposal pengajuan bantuan kepada pihak lain, tetapi bukan untuk kepentingannya. Janganlah meminta-minta dikala sesungguhnya masih ada kemampuan kita untuk melakukan sesuatu untuk diri kita. Justru yang diminta oleh Rasulullah SAW adalah agar kita bersedekah untuk keluarga kita, orang terdekat dengan kita yang memang membutuhkan sedekah tersebut dan yang penting adalah untuk fakir dan miskin. Sampai-sampai Rasulullah menggambarkan hahwa si pemberi itu memiliki nilai tinggi di dalam agama dibandingkan yang menerima. Salah satu prinsip utama di dalam Islam adalah memberikan sesuatu sesuai dengan kemampuan kita. Jangan berlebih dan jangan kikir. Apalagi memberi berlebih untuk  pencitraan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KEUTAMAAN LAPAR, HIDUP SEDERHANA DAN KETERCUKUPAN (56)

KEUTAMAAN LAPAR, HIDUP SEDERHANA DAN KETERCUKUPAN (56)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Ada sebuah pertanyaan yang kiranya penting untuk dijawab, apakah kita sudah bersyukur atas kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada kita? Kita ini semuanya nyaris tidak pernah lapar, tidak kekurangan minuman, bahkan minuman yang nikmat untuk ukuran duniawi, kita tidak kekurangan snack atau makanan camilan yang yang dapat kita makan kapan saja. Kita sudah merasakan makanan yang enak atau kurang enak. Kita sudah meminum minuman yang sangat menyenangkan tubuh kita dan memanjakan lidah kita. Bahkan orang yang kekuranganpun masih bisa menikmati makanan sesuai dengan standarnya. Inilah renungan kita yang paling besar di dalam kehidupan ini.

Orang Indonesia, rasanya sudah berkecukupan dalam makan dan minum. Betapa melimpahnya air bersih, yang tinggal memasak saja, betapa melimpahnya makanan apapun jenisnya. Ada nasi, ada ketela, ada jagung, ada buah-buahan, ada daging, ada ikan, ada berbagai jenis makanan dan minuman yang dapat kita makan. Alam kita yang sedemikian memanjakan perut atau badan kita. Semuanya sudah diberikan Allah dengan kasih sayangnya. Ya Allah, sedemikian besar kasih sayangmu kepada masyarakat dan bangsa ini.

Kemudian bandingkan dengan kehidupan keluarga Rasulullah SAW. Keluarga Nabi Muhammad SAW yang menurut akal kita pasti tidak akan kekurangan makanan dan minuman, tetapi Rasulullah SAW dan keluarganya memilih kehidupan yang sangat sederhana, kehidupan yang serba kekurangan. Tidak pernah cukup makan dalam dua hari berturut-turut sampai akhir hayatnya. Ya Allah, sedemikianlah kehidupan Rasul-Mu dan keluarganya. “Allahumma ainni ‘ala dzikrika, wa syukrika wa husni ‘ibadatika”. “Ya Allah tolonglah aku untuk terus berdzikir, dan bersyukur dan beribadah kepadamu Ya Allah”.

Di dalam Surat Maryam: 59-60, Allah berfirman: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun”.

Di dalam Surat Al Qasas: 79-80, Allah berfirman: “maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: ‘moga-moga kiranya kita mempunyai keberuntungan yang besar’. Berkatalah orang-orang  menghendaki kehidupan dunia: ‘moga-moga kiranya kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: ‘kecelakaan yang besarlah bagimu , pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala  itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”.  Di dalam surat At Takatsur: 5, Alqur’an menjelaskan: “kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang  kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”.

Kemudian hadits Nabi Muhammad SAW, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh A’isyah R.A, berkata, bahwa “keluarga Muhammad SAW tidak pernah kenyang makan roti dari tepung gandum selama dua hari berturut, sampai Beliau wafat”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits lain sebagaimana diriwayatkan oleh Urwah dari A’isyah R.A, bahwa sesungguhnya Aisyah R.A., pernah berkata: “Demi Allah, hai anak saudaraku, sesungghnya kita melihat ke bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit yang berarti dalam dua bulan lamanya, sedang di rumah-rumah keluarga Rasulullah SAW  tidak pernah ada nyala api”. Saya, Urwah, berkata: “hai bibi, maka apakah yang dapat menghidupkan anda sekalian?. Aisyah RA menjawab: “dua benda hitam, yaitu kurma dan air belaka”. Hanya saja Rasulullah SAW mempunyai beberapa tetangga dari kaum Anshar, mereka itu mempunyai beberapa ekor unta manihah (perahan) lalu mereka kirimkanlah air susunya itu kepada Rasulullah SAW,  kemudian memberikan minuman itu kepada kita”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Ada banyak sekali ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW yang dijelaskan oleh Syekh Imam An Nawawi, akan tetapi ayat Alqur’an dan hdits yang saya tulis di dalam artikel ini cukup memberikan gambaran tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW. Sebuah keluarga yang sangat sederhana, tetapi merasa berkecukupan. Nabi Muhammad SAW adalah teladan bagi manusia seluruh dunia tentang kesederhanaan, ketercukupan dan ketersyukuran kepada Allah SWT. Ada tiga hal yang dapat dipahami, yaitu:

Pertama, manusia sesungguhnya sudah memiliki teladan kehidupan yang luar biasa di dalam kehidupan. Teladan itu adalah Nabi Agung Muhammad SAW. Teladan di dalam sifat dan pribadinya yang penuh kasih sayang. Sebuah kasih sayang yang menjadi representasi Rahman dan Rahim Allah SWT kepada umat manusia. Rasulullah SAW menjadi contoh dalam kesederhanaan di hadapan manusia. Kesederhanaan bukan dibuat-buat atau pencitraan akan tetapi memang demikianlah realitasnya. Bukankah seandainya Rasulullah berdoa kepada Allah SWT agar dapat memperoleh ketercukupan lebih dalam kehidupan, dipastikan Allah SWT akan mengabulkannya. Tetapi hal itu tidak dilakukannya, bahkan Rasulullah SAW menikmati kehidupan seperti itu. Karena hal itu adalah tugasnya.

Kedua, di dalam kehidupan ini, manusia lebih besar kecenderungannya untuk memenuhi hasrat kebutuhan fisiknya. Makan enak, minum nikmat, tidur cukup, berpakaian indah, menikmati kendaraan yang nyaman dan sebagainya. Serba fisik, serba badan. Contoh sedemikian digambarkan dengan Qarun, kapitalis pertama di dunia, dan orang-orang yang menginginkan kelezatan di dalam kehidupan. Kaum hedonis. Di sekeliling kita sesungguhnya dihuni oleh orang-orang seperti ini. Pantaslah kalau kemudian kita terpengaruh oleh factor eksternal tersebut. Kita selalu menjadikan orang  kaya, kaum the have, sebagai idola di dalam kehidupan. Orang yang sukses adalah orang yang kaya dan banyak hartanya. Bukan orang yang cukup dan banyak ilmunya.

Ketiga, fungsi teks Kitab Suci, Alqur’an dan hadits, adalah pemberi peringatan kepada manusia agar berperilaku yang pantas. Tidak berlebihan. Coba jika dipikir, orang yang paling kaya yang rumahnya sangat mewah dengan asesori dari emas dan berlian, sebenarnya seberapa banyak ruang yang dibutuhkan untuk istirahat. Untuk tidur. Tentu hanya satu kamar. Dan itupun sebenarnya hanya beberapa jam saja disinggahi. Orang seperti Donald Trump, yang super kaya, kapitalis zaman sekarang, apa sesungguhnya yang dibutuhkannya. Orang seperti Qarun, orang super kaya, kapitalis zaman baheula, sesungguhnya apa yang dibutuhkan di dalam hidupnya. Dan hidup juga terbatas tahunnya.

Oleh karena itu, teladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya adalah teladan dalam kehidupan yang empiris, tetapi berbasis pada dunia metaempiris atau supraempiris. Dan teladan itu untuk memberikan contoh kepada manusia tentang bagaimana hidup sesungguhnya yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

MENGUTAMAKAN ZUHUD DENGAN  KEHIDUPAN SEDERHANA (55)

MENGUTAMAKAN ZUHUD DENGAN  KEHIDUPAN SEDERHANA (55)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahma nir Rahim.

Pada Bab 55, Syekh Imam An Nawawi membahas tentang Bab “Keutamaan Zuhud Terhadap Dunia, Anjuran Hidup Sederhana Serta Keutamaan Hidup Miskin”. Di artikel ini saya mencoba untuk meringkas dengan judul “Mengutamakan Zuhud Dengan  Kehidupan sederhana”. Hanya sekedar merumuskan yang lebih pendek tetapi intinya saya usahakan untuk memiliki kesamaan.

Zuhud merupakan satu konsepsi dalam ilmu tasawuf yang merupakan salah satu kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Zuhud adalah sistem kehidupan manusia yang melepaskan keterikatan hati dan perasaan kepada dunia melebihi kecintaan kepada lainnya, khususnya Allah SWT dan Rasulnya. Di dalam konteks ini tidak harus menjadi miskin atau hidup menggelandang atau tanpa memiliki sedikitpun harta, akan tetapi bisa saja memiliki harta tetapi hati dan perasaannya tidak tertaut sedemikian kuatnya kepada harta dimaksud.

Boleh saja seseorang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya akan tetapi harta tersebut pada ujungnya digunakan untuk memperjuangkan agama Allah lewat jihad fi sabilillah, misalnya  digunakan secara optimal untuk membantu orang yang membutuhkan.

Salah satu teladan adalah Syekh Hasan Sadzili, pemuka tarekat Syadziliyah, seorang pedagang yang sangat kaya raya, akan tetapi harta tersebut digunakan untuk kepentingan berjuang di jalan Allah. Ditasarufkan hartanya untuk menginggikan kalimat Allah yang sangat mulia. Makanya Beliau menyatakan bahwa: “harta adalah washilah terbaik untuk sampai kepada Allah SWT”.

Sama halnya dengan orang miskin yang bersyukur kepada Allah, bukan orang fakir yang mengingkari Allah SWT. Orang fakir dan orang miskin yang meyakini Allah SWT dengan segala kepastian takdirnya merupakan orang fakir dan miskin yang dicintai Allah dan rasulnya. Akan tetapi orang fakir yang tidak seperti itu digambarkan sebagai “kadal fakru ayyakuna kufran”. Kefakiran seakan-akan membawa kepada kekafiran.

Ayat Alqur’an, dalam Surat Yunus: 24 dinyatakan: “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu).  Di  antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan menjadi cantik, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam dan siang, lalu kami jadikan (tanamannya) seperti tanaman yang sudah disabit seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang berpikir”.

Di dalam Surat yang lain, Al Fatir: 5,  Allah SWT berfirman: “Wahai manusia. Sungguh janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”. Di dalam Surat Al Ankabut: 64, Allah berfirman: “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan  sesungguhnya negeri akherat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui”.

Ada beberapa hadits yang juga diungkapkan, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah duduk di atas mimbar sedangkan kami duduk mengelilingi beliau. Beliau bersabda: “sesungguhnya di antara hal yang aku takutkan menimpa kalian semua sepeninggalku nanti ialah keindahan harta dunia serta perhiasannya yang akan dibukakan untuk kalian”. Hadits yang juga  diriwayatkan oleh Abu Sa’id al Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, sesungguhynya Allah ta’ala lalu melihat apa yang kamu kerjakan. Maka takutlah kepada fitnah dunia dan takutlah kepada fitnah Wanita”.

Dari penjelasan di atas  yang terkait dengan ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa ada tiga hal mendasar yang perlu dijelaskan, yaitu:

Pertama, Nabi Muhammad SAW memiliki perhatian yang sangat luar biasa kepada hambanya. Rasa cinta tersebut diwujudkan dalam bentuk memberikan nasehat agar manusia tidak terjerembab kepada kecintaan terhadap dunia. Harta, tahta dan Wanita. Diingatkannya bahwa kecintaan atas dunia yang berlebihan akan dapat membawanya kepada jurang kesedihan kelak di alam akherat. Diingatkan bahwa kehidupan duniawi itu sementara saja karena kehidupan yang kekal adalah di akherat. Oleh karena itu, sebaik-baik harta dunia tentu ada batasnya sesuai dengan usia manusia. Manusia jangan tertipu dengan syahwat dunia yang hanya sementara saja.

Kedua, Rasulullah SAW sedemikian besar kasih sayangnya kepada umat manusia sehingga menyatakan bahwa kehidupan di dunia itu seakan-akan sendagurau, penuh dengan tipu daya dan fitnah. Yang ditakutkan oleh Rasulullah SAW bahwa  manusia bisa melakukan apa saja untuk memperoleh dunia, harta dan tahta. Kekayaan dan kekuasaan. Rasulullah sungguh memberikan perhatian yang luar biasa besarnya kepada umat manusia agar tidak terkena tipu daya dunia. Dan Syetan mengetahui betul tentang sifat manusia ini. Makanya, Syetan akan selalu menggoda manusia dengan segala kemampuannya atau tipu dayanya. Di antara tipu daya tersebut adalah membisiki hati manusia untuk terus mempertahankan kekuasaan dengan segaka cara dan juga memperoleh harta dengan segala cara, termasuk juga godaan keindahan lelaki dan perempuan.

Ketiga, Rasulullah SAW tidak menghalangi manusia untuk melakukan kerja untuk kepentingan duniawi. Bahkan Rasulullah SAW menggambarkan agar manusia mencari kehidupan dunia tetapi tidak melupakan kehidupan akherat. Manusia harus mencari keduanya secara seimbang. Bahkan yang lebih utama adalah mencintai akherat dan bukan mencintai dunia. Cintailah Allah dan rasulnya melebihi kecintaan kepada apapun di dunia agar kita selamat di dalam alam baka atau alam akherat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahma nir Rahim.

Pada Bab 55, Syekh Imam An Nawawi membahas tentang Bab “Keutamaan Zuhud Terhadap Dunia, Anjuran Hidup Sederhana Serta Keutamaan Hidup Miskin”. Di artikel ini saya mencoba untuk meringkas dengan judul “Mengutamakan Zuhud Dengan  Kehidupan sederhana”. Hanya sekedar merumuskan yang lebih pendek tetapi intinya saya usahakan untuk memiliki kesamaan.

Zuhud merupakan satu konsepsi dalam ilmu tasawuf yang merupakan salah satu kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Zuhud adalah sistem kehidupan manusia yang melepaskan keterikatan hati dan perasaan kepada dunia melebihi kecintaan kepada lainnya, khususnya Allah SWT dan Rasulnya. Di dalam konteks ini tidak harus menjadi miskin atau hidup menggelandang atau tanpa memiliki sedikitpun harta, akan tetapi bisa saja memiliki harta tetapi hati dan perasaannya tidak tertaut sedemikian kuatnya kepada harta dimaksud.

Boleh saja seseorang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya akan tetapi harta tersebut pada ujungnya digunakan untuk memperjuangkan agama Allah lewat jihad fi sabilillah, misalnya  digunakan secara optimal untuk membantu orang yang membutuhkan.

Salah satu teladan adalah Syekh Hasan Sadzili, pemuka tarekat Syadziliyah, seorang pedagang yang sangat kaya raya, akan tetapi harta tersebut digunakan untuk kepentingan berjuang di jalan Allah. Ditasarufkan hartanya untuk menginggikan kalimat Allah yang sangat mulia. Makanya Beliau menyatakan bahwa: “harta adalah washilah terbaik untuk sampai kepada Allah SWT”.

Sama halnya dengan orang miskin yang bersyukur kepada Allah, bukan orang fakir yang mengingkari Allah SWT. Orang fakir dan orang miskin yang meyakini Allah SWT dengan segala kepastian takdirnya merupakan orang fakir dan miskin yang dicintai Allah dan rasulnya. Akan tetapi orang fakir yang tidak seperti itu digambarkan sebagai “kadal fakru ayyakuna kufran”. Kefakiran seakan-akan membawa kepada kekafiran.

Ayat Alqur’an, dalam Surat Yunus: 24 dinyatakan: “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu).  Di  antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan menjadi cantik, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam dan siang, lalu kami jadikan (tanamannya) seperti tanaman yang sudah disabit seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang berpikir”.

Di dalam Surat yang lain, Al Fatir: 5,  Allah SWT berfirman: “Wahai manusia. Sungguh janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”. Di dalam Surat Al Ankabut: 64, Allah berfirman: “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan  sesungguhnya negeri akherat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui”.

Ada beberapa hadits yang juga diungkapkan, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah duduk di atas mimbar sedangkan kami duduk mengelilingi beliau. Beliau bersabda: “sesungguhnya di antara hal yang aku takutkan menimpa kalian semua sepeninggalku nanti ialah keindahan harta dunia serta perhiasannya yang akan dibukakan untuk kalian”. Hadits yang juga  diriwayatkan oleh Abu Sa’id al Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, sesungguhynya Allah ta’ala lalu melihat apa yang kamu kerjakan. Maka takutlah kepada fitnah dunia dan takutlah kepada fitnah Wanita”.

Dari penjelasan di atas  yang terkait dengan ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa ada tiga hal mendasar yang perlu dijelaskan, yaitu:

Pertama, Nabi Muhammad SAW memiliki perhatian yang sangat luar biasa kepada hambanya. Rasa cinta tersebut diwujudkan dalam bentuk memberikan nasehat agar manusia tidak terjerembab kepada kecintaan terhadap dunia. Harta, tahta dan Wanita. Diingatkannya bahwa kecintaan atas dunia yang berlebihan akan dapat membawanya kepada jurang kesedihan kelak di alam akherat. Diingatkan bahwa kehidupan duniawi itu sementara saja karena kehidupan yang kekal adalah di akherat. Oleh karena itu, sebaik-baik harta dunia tentu ada batasnya sesuai dengan usia manusia. Manusia jangan tertipu dengan syahwat dunia yang hanya sementara saja.

Kedua, Rasulullah SAW sedemikian besar kasih sayangnya kepada umat manusia sehingga menyatakan bahwa kehidupan di dunia itu seakan-akan sendagurau, penuh dengan tipu daya dan fitnah. Yang ditakutkan oleh Rasulullah SAW bahwa  manusia bisa melakukan apa saja untuk memperoleh dunia, harta dan tahta. Kekayaan dan kekuasaan. Rasulullah sungguh memberikan perhatian yang luar biasa besarnya kepada umat manusia agar tidak terkena tipu daya dunia. Dan Syetan mengetahui betul tentang sifat manusia ini. Makanya, Syetan akan selalu menggoda manusia dengan segala kemampuannya atau tipu dayanya. Di antara tipu daya tersebut adalah membisiki hati manusia untuk terus mempertahankan kekuasaan dengan segaka cara dan juga memperoleh harta dengan segala cara, termasuk juga godaan keindahan lelaki dan perempuan.

Ketiga, Rasulullah SAW tidak menghalangi manusia untuk melakukan kerja untuk kepentingan duniawi. Bahkan Rasulullah SAW menggambarkan agar manusia mencari kehidupan dunia tetapi tidak melupakan kehidupan akherat. Manusia harus mencari keduanya secara seimbang. Bahkan yang lebih utama adalah mencintai akherat dan bukan mencintai dunia. Cintailah Allah dan rasulnya melebihi kecintaan kepada apapun di dunia agar kita selamat di dalam alam baka atau alam akherat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

ANTARA KEUTAMAAN TAKUT DAN RINDU (54)

ANTARA KEUTAMAAN TAKUT DAN RINDU (54)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Keutamaan takut dan Rindu”. Suatu bab yang memberikan inspirasi bagi umat Islam untuk memiliki perasaan yang mendalam tentang siksa Allah yang maha dahsyat dan keutamaan rindu kepada Allah agar siksa tidak terjadi. Takut tetapi rindu merupakan dua kosa kata yang sesungguhnya agak kontradiktif secara empiris, akan tetapi menjadi masuk akal atau rasionable di kala disandingkan dalam perspektif agama.

Secara empiris, takut itu dapat menyebabkan orang lari dari subyek yang ditakuti. Akan tetapi di dalam hal yang bercorak metaempiris, maka yang terjadi justru sebaliknya, yaitu orang takut tetapi justru mendekat. Yang ditakuti adalah siksa Allah SWT dan kemudian menimbulkan sikap untuk mendekat agar siksa tersebut tidak dikenakan kepadanya.

Allah SWT memiliki sifat adil. Artinya tidak akan mengenakan hukuman kepada orang yang tidak pantas untuk dihukum. Allah SWT sesuai dengan janjinya juga tidak akan memberikan pahala kepada orang yang tidak pantas pahala tersebut untuk dirinya. Allah dipastikan akan berbuat seadil-adilnya. Allah akan memberikan catatan kebaikan meskipun sebesar biji zarrah dan Allah juga akan mencatat atas kejelekan seseorang meskipun sebiji zarrah. Berimbang. Sama halnya dengan Allah tidak akan mengurangi atau menambahkan atas ganjaran atas prilaku hambanya.

Namun demikian, Allah memiliki sifat yang Rahman dan Rahim, sebagai sifat dasar yang melazimi semua sifat-sifatnya. Islam memberikan perhatian yang luar biasa besar atas Rahman dan Rahim Allah. Bahkan orang yang dosanya sebesar bumipun akan diampuninya jika yang bersangkutan memohon ampunan kepada Allah. Oleh sebab itu, orang dimintakan untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. Fastabiqul Khairat.

Di dalam penjelasannya, Syekh Imam An Nawawi menggunakan beberapa hadits. Di antaranya, Hadits yang diriwayatkan oleh Anas, bercerita: “sesungguhnya  Rasulullah SAW pernah memberikan khutbah yang belum pernah aku dengar sebelumnya sama sekali, yakni beliau bersabda: ‘seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis’. Maka sahabat Beliau menutup wajah mereka sambil terisak-isak”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits lain sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah, bahwa  Rasululllah bersabda: “tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah sehingga air susu masuk kembali ke dalam payudara. Dan debu bekas perjuangan di jalan Allah itu tidak akan pernah dapat berkumpul dengan asap neraka jahanam”. Hadits Riwayat Imam Tirmidzi.

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Rabb kita tabarakallahu wa ta’ala turun ke langit, Dia berfirman: “siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri, siapa yang meminta ampunan kepada-Ku,  maka akan Aku ampuni. Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dari penjelasan atas Teks Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat dijelaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama,  Allah SWT itu ditakuti bukan karena Allah SWT suka menakut-nakuti hambanya, akan tetapi Allah SWT memberikan peringatan kepada manusia untuk berbuat baik. Alam disusun dengan keteraturan, sehingga semua patuh kepada perintah Allah SWT untuk berjalan dan beredar sesuai dengan garis edarnya. Tidak ada yang menyimpang dari garis edarnya. Jika terjadi seperti itu, maka dunia akan kiamat. Sebuah pemikiran empiris-eskatologis, bahwa alam akan berakhir atau kiamat. Entropi atau ketidakteraturan itu juga semata-mata karena perintah Allah SWT. Allah akan merefresh atas tata surya yang diciptakannya untuk menjadi baru, atau disebut sebagai alam akherat.

Sesungguhnya Allah telah memberikan peringatan kepada manusia untuk beramal kebaikan. Dilarangnya manusia untuk melakukan kejahatan. Maka barang siapa yang melakukan kebaikan tentu dipastikan akan diberi ganjaran atau reward, dan siapa yang melakukan kejahatan juga akan diberikan punishment atau siksa. Manusia sudah diberikan petunjuk melalui Nabi dan Rasul beserta Kitab Suci yang seharusnya diyakini kebenarannya. Jika manusia meyakini kebenarannya, maka manusia telah memiliki kemampuan untuk menyaring mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang berada di Jalan-Nya dan mana yang di luar jalan-Nya.

Kedua, Allah SWT itu begitu menyayangi hambanya. Jika kita meminta apa saja maka Allah SWT akan mengabulkannya. Allah SWT meminta kita untuk berprasangka baik terhadap Allah SWT. Jangan berprasangka buruk terhadap Allah SWT. Tentu saja, ada doa yang segera dikabulkan, sebagaimana doa Nabi Muhammad SAW pada waktu Perang Badar. Doa itu langsung dikabulkan, akan tetapi juga ada doa yang ditunda sampai waktu tertentu. Tetapi sebenarnya ada persyaratan doa yang fundamental, yaitu: trilogy Sabar, Syukur dan Yakin. Jika kita berdoa maka agar kita selalu sabar. Terhadap apa saja kesabarannya. Kita bersyukur karena nikmat Allah dan yakin bahwa Allah itu baik, sehingga dipastikan mendengar doa manusia.

Ketiga, Rahmat Allah SWT itu dapat turun ke langit dan terus ke bumi bahkan setiap sepertiga malam. Artinya Rahmat yang berupa Cahaya Suci dari Alam Lahut akan dapat memasuki Alam Nasut akan tetapi melalui gelombang supra-elektromagnetik dan menjadi elektromagnetik. Di antara instrumennya adalah melalui Nabi Muhammad SAW. Gelombang supra-elektromagnetik tidak akan berubah menjadi gelombang elektromagnetik tanpa perantara, dan perantaranya adalah Rasulullah Muhammad SAW. Makanya, kita harus menjadikan di antaranya adalah shalawat agar perubahan gelombang tersebut akan lebih cepat. Subhanallah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PERASAAN TAKUT SIKSA DAN PENGHARAPAN RAHMAT (53)

PERASAAN TAKUT SIKSA DAN PENGHARAPAN RAHMAT (53)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam karya Syekh Imam An Nawawi, bab 53 diberi judul  “Menggabungkan  antara Takut dan Harap”, atau antara Khauf dan Raja’. Di dalam artikel ini secara sengaja saya beri tema yaitu: “Perasaan Takut Siksa dan Pengharapan Rahmat”. Khauf dan raja’ merupakan dua kata yang memang memiliki saling keterkaitan. Di antara keduanya merupakan suatu kesatuan yang saling memerlukan. Khouf menunjukkan atas pemahaman, sikap dan prilaku takut manusia yang berhubungan dengan Allah SWT. Khouf adalah perasaan yang mendalam untuk takut atas adzab Allah yang sangat dahsyat, yang digambarkan sebagai neraka dengan berbagai indikasinya. Allah SWT memberikan gambaran tentang neraka sebagai tempat yang berisi angin yang panas, air panas yang mendidih dan tidak ada sedikitpun hawa dingin dan tiada kemuliaan, sebagaimana dicantumkan di dalam Surat Al Waqiah: 42, yaitu: “fi samumiw wahamim, wa dzillim min yahmun, la baridiw wala karim”. Ketakutan tersebut tentu dapat dikaitkan dengan ayat tandzir atau ayat peringaan Allah seperti itu. Sementara raja’ adalah harapan bahwa Allah SWT tidak menghukumnya sebagaimana dicantumkan di dalam Alqur’an karena adanya pertaubatan yang dilakukan oleh manusia. Di dalam konteks relasi antara khauf dan raja’, maka basisnya adalah iman dan bingkainya adalah taubat. Dengan demikian, khauf dan raja’ akan terjadi atas orang yang memiliki iman dan melakukan pertaubatan kepada Allah SWT.

Sesungguhnya manusia memiliki potensi untuk bertaubat atas kekhilafan, kesalahan dan dosa. Manusia dibekali oleh Allah akan rasa takut dan kemudian diberikan hikmah untuk bertaubat kepada Allah SWT. Ibarat burung, maka khauf adalah sayang kiri dan raja’ adalah sayap kanan. Dengan dua sayap ini, maka burung bisa terbang. Sedangkan untuk terbang sendiri ada tujuan dan alat atau fisik yang memenuhi standar. Maka tujuannya adalah memperoleh ridhanya Allah, sementara itu hakikat fisiknya adalah iman dan taubat, sedangkan sayapnya adalah khauf dan raja’.

Firman Allah dalam Surat Al A’raf: 99, menyatakan: “Karena sebenarnya tidak ada yang merasa selamat dari rancangan buruk (balasan azhab) yang diatur oleh Allah itu melainkan orang-orang yang merugi. Di dalam Surat lain, Surat Al Infitar:  13-14, bahwa: “sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar di dalam surga yang penuh kenikmatan dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar dalam neraka”. Kemudian di dalam Surat Al Qari’ah: 6-9 dinyatakan: “maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada di dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan Adapun orang  yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah”.

Ada sejumlah hadits yang diungkapkan oleh Syekh Imam An Nawawi, misalnya hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “seandainya orang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorangpun yang berharap masuk nerakanya, andaikan orang kafir  mengetahui Rahmat yang ada di sisi Allah, pasti tidak akan ada seorangpun yang berputus asa dari surganya”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits lain juga menyatakan: “apabila jenazah telah diletakkan dan dipikul oleh orang banyak atau pria di pundak mereka, jika dia orang saleh, dia berkata: ‘segerakanlah aku, segerakanlah aku’. Namun jika dia bukan orang yang saleh, dia berkata: ‘duhai celakanya. kemanakah kalian akan membawanya’. Suaranya didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia. Andai manusia mendengarnya, pasti pingsan”. Hadits Riwayat Imam Bukhari. Hadist lain yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda: “surga itu lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya. Neraka juga seperti itu”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Dari uraian tentang teks Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW., maka dapat disimpulkan di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah SWT menegaskan bahwa surga dan neraka merupakan ciptaan Allah SWT yang  masuk di dalam dunia supra eskatologis. Dunia masa depan yang tidak terjadi di dunia ini, akan tetapi nanti setelah hari kiamat. Alam kubur, alam akherat, surga dan neraka adalah metaempiris pada zaman di kala manusia berada di alam empiris, dan semuanya itu termasuk metaempiris atau alam keyakinan tentang dunia lain, selain dunia ini.

Neraka yang digambarkan atau disimbolisasikan dengan tingkat panas yang berlipat-lipat di atas panas bumi, menggambarkan agar manusia memiliki dan mengedepankan perasaan takut atas siksaan Allah SWT. Melalui konsep khauf dan raja’, Allah mengajari manusia melalui Nabi Muhammad SAW agar manusia berada di dalam keseimbangan antara ketakutan dan harapan. Di tengah rasa takutnya tersebut, maka manusia diminta untuk berpengharapan agar mendapatkan pertolongan Allah.

Kedua, Allah SWT memiliki hak prerogative terkait dengan perilaku manusia, yaitu Rahmat. Sebagaimana diungkapkan oleh hadits sebagaimana diungkapkan oleh penulis kitab, bahwa orang yang berdosapun akan mendapatkan Rahmat Allah selama individu tersebut menyadari kekeliruannya dan melakukan pertobatan. Jadi, pertobatan merupakan jalan masuk atau entry point untuk meraih rahmatnya Allah SWT. Allah memiliki hak atas umatnya selama umatnya berada di dalam nuansa memasuki alam tak terhingga, sebagai pelacur yang menolong anjing dan pada waktu itu keikhlasan perempuan tersebut mencapai puncaknya atau memasuki angka tiada terbatas. Di sinilah Rahmat Allah itu turun. Jadi bukan sesuatu yang tiba-tiba tentu ada prasyaratnya untuk mendapatkan Rahmat dimaksud.

Ketiga,  kehidupan adalah sebagaimana bandul berayun. Bisa ke arah kanan dan bisa ke arah kiri. Jika bandul ke arah kanan, maka sebagai pertanda atas amalannya yang baik. Dan jika bandul ke arah kiri berarti menuju kepada amalan kejelekan. Inilah pertanda bahwa manusia akan menerima catatan dengan tangan kanan atau tangan kiri. Yang akan menerima catatan amalan dengan tangan kanan adalah orang yang mampu menyeimbangkan antara takut dan raja’ yang dibingkai dengan taubat dan bersubstansi dengan iman. Keempatnya merupakan system yang menjadi satu keesatuan dan tidak bisa dipisahkan.

Orang yang hatinya beriman, maka di dalam dirinya terdapat mekanisme untuk memohon ampunan, yang keduanya berkait kelindan dengan rasa takut dan pengharapan akan rahmatnya Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.