• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PEMIMPIN YANG ADIL (79)

PEMIMPIN YANG ADIL (79)

Prof. Dr. Nur Syam, MSI

Keadilan adalah general concept yang hidup sepanjang sejarah manusia. Ia hidup dalam kehidupan manusia yang penuh dinamika dan perubahan. Keadilan bukan sekedar konsep yang tertanam di dalam mindset manusia,  tetapi konsep yang hidup dalam sepanjang sejarah kemanusiaan. Keadilan itu mudah diucapkan tetapi tidak mudah diimplementasikan. Mudah dipidatokan tetapi sulit untuk dilaksanakan.

Keadilan juga menjadi kajian para filosof semenjak Plato, Aristoteles dan para generasi sesudahnya, misalnya John Rawl. Konsep keadilan sudah dibahas dalam berbagai bidang ilmu, mulai dari filsafat, sosial, keagamaan, bahkan politik dan hukum. Kata yang menjadi rujukan hukum adalah yang disebut sebagai adil. Makanya di dalam kajian hukum lalu ada yang disebut keadilan restoratif, keadilan proporsional dan bahkan negosiatif. Masing-masing melihat keadilan yang berbasis pada bagaimana pihak yang mencari keadilan dapat menggunakan berbagai cara dan metode untuk menentukannya. Rasa adil dan tidak adil adalah dua konsep yang bersumber pada suatu fenomena yang bermasalah dan kemudian dicari solusinya lewat berbagai cara dan metode yang tepat. Jika menggunakan metode dan cara yang berbeda, bisa menghasilkan rasa keadilan yang berbeda.

Agama juga mengajarkan tentang keadilan. Pasti. Sebagai pola bagi tindakan, tentu agama mengajarkan mana konsep keadilan yang bisa dilakukan dan menghasilkan kebaikan, dan mana konsep keadilan yang dilakukan dan tidak menghasilkan kebaikan. Tentu kebaikan bersama, bukan keadilan sepihak. Keadilan bukan hanya milik penguasa atau pemimpin tetapi juga yang dipimpin. Itulah sebabnya Allah menganjurkan agar antara yang memimpin dan yang dipimpin harus merasakan keadilan yang sama. Bukan hanya adil yang di atas, tetapi tidak adil yang di bawah. Bukan tumpul di atas, tetapi tajam ke bawah.

Alqur’an surat An Nahl: 90 menyatakan: “sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebaijikan”.  Surat Al Hujurat 9 menyatakan: “…dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diriyatkan oleh  Abu Hurairah RA,  bahwa Rasulullah  SAW bersabda: “tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naunan-Nya. Yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang hatinya tertaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpsah atas-Nya, seseorang yang diajak berzina oleh perempuan mulia  nan cantik,  lalu dia mengatakan aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan dengan tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu mengucur air matanya”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin al Ash RA.,  bahwa Rasulullah bersabda: sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil kelak  berada disisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya, yaitu orang yang berlaku adil dalam keputusan,  keluarga serta apa yang mereka pimpin”.

Dari uraian di atas, baik dari ayat Alqur’an maupun hadits dan penjelasan aqliyah-sosiologis, maka dapat ditajamkan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah sangat menghargai atas orang yang berbuat adil, khususnya para pemimpin. Keadilan yang berbasis pada realitas empiris, bukan sekedar keinginan dari pribadi pemimpin. Di kala merumuskan kebijakan, maka kebijakan tersebut sangat sesuai dengan keinginan rakyat. Bukan ambisi pribadi, akan tetapi keinginan mendasar bagi rakyat. Jangan sedikit-dikit menyatakan memenuhi aspirasi rakyat. Padahal rakyat tindak menginginkannya. Ada keadilan dalam area permukaan, ada keadilan dalam area dalam, ada keadilan dalam area keduanya. Jika keadilan itu pada area permukaan, maka sering kali menipu. Jika yang diinginkan adalah keadilan dalam area permukaan, maka seorang pemimpin lalu membuat pencitraan tentang “kebaikan” yang dilakukan. Maka keadilan yang harus dibangun juga  keadilan yang bernuansa batiniah atau terasa secara lahiriyah dan batiniah. Di dalam sejarah Islam, maka dikenal ada seorang Khalifah yang memenuhi standar keadilan adalah Khalifah Umar bin Abdul Azis (682-720 M). Beliau adalah teladan di dalam kepemimpinan.

Kedua, jika Allah menyuruh kita berbuat adil, maka sesungguhnya adil itu memiliki makna yang mendalam di dalam kehidupan manusia. Orang yang berlaku dzalim pasti jauh dari kata keadilan. Kata keadilan hanya berlaku pada orang yang lemah lembut, mengedepankan rasa kemanusiaan, tidak melakukan pendzaliman pada orang lain dan menempatkan orang sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya bukan atas kolusi dan nepotisme. Seorang pemimpin diminta jujur dengan apa yang diucapkan dan dilakukan. Tidak boleh berbeda kata dan tindakan. Jangan sampai membohongi masyarakat atau disebut kebohongan publik. Harus diupayakan adanya public trust, yang muncul dari tindakan yang jujur dan amanah.

Ketiga, orang yang adil adalah orang yang didambakan oleh Allah, yang dinyatakan akan berada di sisinya. Janji Allah adalah kepastian. Jika Allah sudah berjanji, maka dipastikan akan dipenuhi. Allah adalah Tuhan yang tidak akan mengingkari janjinya. Makanya, jika Allah akan memberikan pahala dan rahmat bagi orang yang berlaku adil, maka itulah kepastian Tuhan. Hanya sayangnya kita tidak selalu memperhatikan atas perintah Tuhan ini, sehingga di kala menjadi pemimpin terkadang lupa akan nasehat Allah tersebut. Bahkan sering merasa yang paling hebat, yang paling dibutuhkan, yang paling pintar. Makanya kemudian memperlakukan staf atau bawahannya secara semena-mena. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari sikap dan tindakan seperti ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PEMIMPIN HARUS BERSIKAP LEMBUT, JUJUR DAN LARANGAN MENIPU (78)

PEMIMPIN HARUS BERSIKAP LEMBUT, JUJUR DAN LARANGAN MENIPU (78)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kepemimpinan merupakan keniscayaan di dalam dunia sosial yang memang memerlukan sosok yang menjadi panutan di dalam memenej kehidupan sosial yang penuh dengan benturan berbagai kepentingan. Ada kepentingan individual, komunal dan masyarakat, bahkan kepemimpinan negara dan bangsa. Bahkan di dalam setiap kegiatan yang melibatkan lebih dari dua orang, maka haruslah dipilih satu di antaranya untuk menjadi pemimpin.

Fungsi kepemimpinan adalah untuk mengatur agar roda kehidupan dapat berjalan sesuai dengan cita-cita bersama. Semua memiliki peran yang harus diperankannya di dalam kehidupan dimaksud. Masing-masing dapat melakukan aktivitas yang dianggap penting, akan tetapi semuanya harus dilakukan untuk kepentingan bersama. Bukanlah masing-masing mengusung keinginannya sendiri. Ada visi dan misi yang dapat diusung bersama untuk dicapai secara bersama-sama.

Islam tentu menghendaki kepemimpinan yang dapat mengekspresikan kepemimpinannya sebagai teladan yang diberikan oleh rasulullah SAW. Ada fondasi mendasar yang harus digunakan agar kepemimpinannya sesuai dengan harkat dan martabat kepemimpinan. Empat syarat yang sudah lazim dipahami oleh umat Islam adalah: siddiq, amanah, tabligh dan fatanah. Seorang pemimpin harus shiddiq atau jujur. Pemimpin yang mengedepankan transparansi dan akuntabilitas. Apa yang dilakukannya tidak menyimpang dari kesepakatan yang sudah masyhur. Lalu amanah atau terpercaya. Dipastikan bahwa basis dari keterpercayaan adalah kejujuran. Tanpa kejujuran tidak akan ada keterpercayaan. Jujur dan terpercaya seperti satu koin mata uang. Keduanya menjadi basis bagi keberlangsungan kepemimpinan.

Kemudian seorang pemimpin juga harus cerdas, baik kecerdasan rasional, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual. Keempatnya harus melazimi kehidupan seorang pemimpin. Tanpa empat kecerdasan ini, maka seorang pemimpin akan mengalami disorientasi masa depan. Cerdas akalnya tetapi tidak memiliki empati atas orang lain, tidak memiliki rasa kemanusiaan dan tidak memiliki kecerdasan ketuhanan, maka kepemimpinannya dipastikan akan gagal. Keempatnya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan agar kepemimpinannya menjadi absah.

Dan yang tidak bisa diindahkan adalah pemimpin yang mengembangkan keterbukaan dan bertanggung jawab. Tidak menyembunyikan tindakannya. Pemimpin yang menggunakan prinsip musyawarah tanpa dominasi dan memiliki visi ke depan yang bersesuaian dengan kepentingan bersama. Di sinilah letaknya kepemimpinan yang adil, lemah lembut dan menjalankan roda kepemimpinan secara terbuka dan bertanggungjawab.

Alqur’an menyatakan di dalam Surat Asy Syu’ara: 215: “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu”. Di dalam ayat lain dinyatakan dalam Surat An Nahl: 90 dinyatakan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat dan dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA., dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap dari kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin bagi seluruh keluarganya, dan akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya. Pekerja adalah pemimpin dalam mengelola harta majikannya dan akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya. Maka setiap kamu semua adalah pemimpin yang akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya itu”.  Hadits Riwayat Shahihain.

Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA., beliau berkata: ‘Aku pernah pendengar Rasulullah SAW berdoa di rumahku ini’. “Ya Allah barang siapa yang memimpin urusan umatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah baginya. Dan barang siapa yang memimpin urusan umatku lalu  dia berlaku lembut terhadap mereka, maka berlaku lembutlah terhadapnya”. Hadits dari A’idz bin Amr RA., bahwa: ‘beliau pernah menemui Ubaidillah bin Ziyad lalu berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW  bersabda: “sesungguhnya seburuk-buruk pemimpin adalah pemimpin yang kejam” maka janganlah kamu tergolong daripada mereka”.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat ditegaskan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, kepemimpinan merupakan sesuatu yang dinamis, sebagaimana dinamika perubahan sosial yang terus terjadi. Corak kepemimpinan juga mengalami perubahan seirama dengan corak perubahan sosialnya. Di masa lalu cocok dengan kepemimpinan yang otoriter sebab masyarakatnya memang memerlukan kepemimpinan yang kuat dan memiliki arah jelas sementara itu masyarakat cenderung pasif. Kemudian seirama dengan perubahan sosial yang cepat, maka corak kepemimpinan juga harus berubah. Kepemimpinan yang tegas dan berbasis pada kepentingan masyarakat yang bertumpu pada prinsip musyawarah menjadi mengedepan. Tetapi di era supermoderen, maka cotak kepemimpinan juga harus berorientasi pada prinsip mendengarkan suara umat berbasis pada jalan utama yang harus dipilih. Kritik menjadi sangat mudah dilakukan, akan tetapi berjalan di atas kepentingan bersama merupakan prinsip yang tidak boleh diindahkan.

Kedua, ada dua kata kunci di dalam kepemimpinan sebagai basis moralitasnya, yaitu pemimpin yang adil dan mengedepankan pada kebaikan. Adil bukan berarti sama rasa sama rasa, akan tetapi keadilan itu proporsional dan negosiatif. Seseorang memperoleh keadilan sesuai dengan takaran yang harus diterimanya dan bahkan sesuai dengan negosiasi yang dilakukannya. Prinsipnya adalah adil sesuai dengan regulasi yang disahkan atas kebaikan dan bukan untuk yang lain. Muara keadilan adalah terpenuhinya kesejahteraan dan kebahagiaan yang dapat dirasakan secara komunal. Produk keadilan adalah terpenuhinya rasa menerima atas hak yang seharusnya didapatkannya.

Ketiga, Rasululllah SAW menegaskan bahwa seorang pemimpin yang adil, lemah lembut, jujur dan tidak melakukan kedhaliman adalah prinsip utama. Jika seorang pemimpin dapat melakukannya, maka pemimpin yang seperti itu akan mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT. Karena setiap kita adalah pemimpin, maka kita akan mempertanggungjawabkan atas kepemimpinan yang kita perankan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MARAH ATAS MELANGGAR LARANGAN (77)

MARAH ATAS MELANGGAR LARANGAN  (77)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Hakikat agama itu terletak pada dua hal, yaitu perintah melakukan kebaikan dan melarang melakukan kejelekan. Allah itu menghendaki agar manusia melakukan kebaikan dalam dua corak, yaitu kebaikan yang dilaksanakan dengan keikhlasan dan bukan keterpaksaan, dan larangan berbuat yang mengandung unsur kejahatan. Di dalam konteks agama disebut sebagai amar ma’ruf dan nahi mungkar”.

Di dalam Islam terdapat perintah untuk berhubungan dengan Allah melalui serangkaian upacara keagamaan, seperti tercantum di dalam rukun Islam,  membaca syahadat, menjalankan shalat, membayar zakat, melakukan puasa, dan melaksanakan haji bagi  yang mampu. Dan juga banyak tindakan kebaikan yang ditujukan kepada sesama manusia atau bahkan alam. Islam mengajarkan tidak hanya berbuat kebaikan untuk Allah dalam bentuk ritual-ritual yang wajib maupun yang sunnah, akan tetapi juga berbuat baik kepada sesama manusia, misalnya melalui sedekah, infak atau zakat untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya kaum fakir dan miskin. Termasuk tampilan perilaku yang dapat menyenangkan orang lain. Bahkan juga berbuat baik terhadap alam. Tidak merusak dan memusnahkan alam. Contoh lain adalah merusak hutan atau illegal logging. Hal ini dilarang oleh Islam.

Islam juga mengajarkan bahwa terhadap orang yang melakukan pelanggaran atas perintah berbuat baik atau melakukan tindakan pelanggaran atas larangan-larangan yang sudah Allah tetapkan dengan cara yang wajar. Marah ini tidak dalam bentuk berkata kasar, memarah-marahi di depan banyak orang, akan tetapi marah di dalam konteks ini adalah dengan mengingatkannya karena perbuatan tersebut tidak layak dilakukan. Marah yang terbaik itu dilakukan secara personal dan bukan  di depan umum. Jika terpaksa dilakukan di depan umum, maka bikinlah kasusnya itu sekan-akan bukan di tempat itu. Pasti ada caranya.

Di dalam Bab 76, Syekh imam An Nawawi menjelaskan tentang “Marah Karena Larangan-larangan Allah Ta’ala dilanggar dan Membantu untuk Kemenangan Agama Allah”. Pada bab ini Syekh Imam An nawawi menjelaskan tentang bagaimana kita boleh marah jika melihat atas larangan Allah dilanggar. Selain itu juga menjelaskan tentang bagaimana kita membantu untuk kemenangan Agama Allah.

Ada beberapa ayat yang dinukil oleh Imam An Nawawi  sebagaimana tercantum di dalam Surat Al Hajj: 30, bahwa “Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa mengangungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabb-nya”. Ayat lain, dalam Surat Muhammad: 7, difirmankan: “…jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

Ada beberapa hadits yang dinukil oleh Syekh Imam An Nawawi, sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Mas’ud  Uqbah bin Amr Al Badri: “ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah SAW dan berkata: ‘saya terpaksa mundur dari jamaah salat shubuh, karena si Pulan memanjangkan bacaan shalatnya’. Saya belum pernah melihat Nabi SAW marah ketika memberi nasehat, melebihi saat itu. Beliau bersabda: “wahai sekalian manusia, sesungguhnya ada di antara kalian yang menjadikan dirinya berpaling. Siapa saja di antara kalian  yang menjadi imam, hendaklah memperpendek bacaan, karena di belakangnya ada orang tua, anak kecil dan ada orang yang mempunyai keperluan lain”. Hadits riwayat  Mutafaq alaih.

Hadits lain menyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA., berkata: “Rasulullah SAW yang datang dari bepergian sedangkan di rumah saya terpasang tabir yang terdapat gambar boneka. Setelah Rasulullah SAW melihatnya, berubahlah wajah Beliau. Sambil menurunkan tabir Nabi SAW bersabda: “wahai Aisyah, manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah siapa yang menyamai ciptaannya”. Hadits riwayat Mutafaq alaih.

Ada juga hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Anas RA., bahwa Nabi SAW melihat dahak di kiblat. Melihat hal itu Beliau tidak senang hingga wajahnya berubah, lalu Beliau berdiri dan membersihkan dengan tangannya, seraya bersabda: “apabila salah seorang di antara kalian sedang mengerjakan shalat, berarti dia sedang bermunajat dengan rabbnya. Dengan rabbnya berada di antara ia dan kiblat. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblat, melainkan ke arah kiri atau bawah kaki”. Kemudian Beliau mengambil ujung serbannya dan meludah padanya serta melipat-lipat sebagian sorban itu dengan bagian lain seraya bersabda: “atau lakukanlah seperti ini”. Hadits riwayat Shahihain.

Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW., maka dapat diperdalam dengan tiga hal, yaitu:

Pertama, marah itu diperbolehkan tetapi tidak sembarang sikap dan perilaku yang bisa dijadikan alasan untuk marah. Di antara yang diperkenankan adalah marah melihat perilaku kejahatan. Jika terdapat kemungkaran, maka orang boleh melakukan upaya untuk mengubahnya. Jika terdapat perilaku yang bertentangan dengan kebaikan, maka orang boleh marah dengan mengingatkannya. Dinyatakan dalam sebuah hadits, bahwa jika melihat kemungkaran maka hendaknya mengubahnya dengan kekuasaan, jika tidak bisa hendaknya melakukannya dengan lesan dan jika tidak bisa hendaknya melakukan dengan doa. Tentu ada tata caranya untuk “marah” yaitu agar tetap berbasis pada perilaku yang mengandung kebaikan. Bukan dengan cara yang sembarangan.

Kedua, jika Nabi SAW tidak suka atas sesuatu yang dilakukan oleh sahabatnya, maka hanya tampak di wajahnya dan bukan dalam ucapan yang menyakitkan apalagi membuat sahabatnya merasa dipersalahkannya. Jika ada sesuatu sebagaimana hadits tentang imam yang memperpanjang shalatnya sehingga ada jamaah yang keluar dari barisan jamaah, maka Nabi SAW lalu mengingatkannya. Tidak memarahinya. Nabi memberikan peringatan agar jangan melakukan hal yang serupa. Jamaah di dalam shalat itu bermacam-macam keperluannya, maka lakukan salat sesuai dan memperhatikan atas kepentingan jamaah.

Ketiga, Nabi SAW adalah teladan di dalam kebersihan. Maka jika ada sesuatu yang tidak bersih, sebagaimana ludah di tempat di dekat Ka’bah, maka Beliau membersihkannya sendiri dan memberi contoh bagaimana seharusnya perilaku yang ditampilkannya. Nabi SAW tidak menampakkan kemarahan dalam bentuk kata, hanya sekilas di wajahnya tampak ketidaksukaannya. Begitulah Nabi SAW mengajarkan tentang bagaimana seharusnya perilaku yang ditampilkan dan bagaimana seharusnya melakukannya.

Umat Islam, sebagaimana pesan Alqur’an, bahwa umat Islam harus mengagungkan ajaran Islam dengan cara melakukannya sebagaimana pesan di dalam teks Alqur’an dan teks hadits Nabi SAW. Namun demikian, umat Islam tidak diperkenankan untuk saling mengklaim kebenaran atas kelompoknya sendiri. Umat Islam harus memahami bahwa ajaran Islam itu tidak anti atas perbedaan, selama perbedaan tersebut masih tetap berada di dalam substansi  ajaran Islam yang benar.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENAHAN DIRI DARI YANG MENYAKITKAN (76)

MENAHAN DIRI DARI YANG MENYAKITKAN (76)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh seseorang adalah bagaimana menahan untuk terus berbuat baik sebab  yang dilakukan itu tidak mendapatkan respon yang memadai dari orang yang telah dilakukan kebaikan. Alih-alih memberikan respon positif, bahkan yang terasa janggal adalah menduga perbuatan itu dilakukan sebab ada motif-motif tersembunyi di dalamnya.

Memang di dalam kehidupan sosial itu selalu ada intensi atau maksud yang diinginkan oleh orang yang melakukan tindakan tersebut. Manusia dipastikan memiliki keinginan tertentu di dalam kehidupannya, terutama tindakan yang ditujukan kepada orang lain. Tetapi tidak semua intensi itu jelek, bahkan ada tujuan yang baik. Misalnya memberi pertolongan tanpa pamrih apapun. Sebuah pemberian yang dilakukan dengan ikhlas, tanpa ada keinginan yang dapat merusak niat baik dimaksud.

Sesungguhnya manusia itu memiliki kebutuhan akan mengakuan. Yaitu pengakuan yang diberikan oleh seseorang yang baginya pernah melakukan kebaikan. Apapun dan seberapapun kebaikan tersebut. Makanya di kala seseorang telah melakukan kebaikan kemudian nyaris tidak diakuinya, bahkan dituduh sebagai upaya untuk tujuan tertentu, maka akan menyakitkannya.

Memang juga tidak dapat diabaikan bahwa seseorang melakukan kebaikan itu karena ada tujuan tertentu. Di dalam peribahasa disebut “ada udang dibalik batu”. Ada maksud dan tujuan tertentu tersembunyi yang diinginkannya. Jadinya, pantas juga kalau orang yang diberi kebaikan itu lalu menimbang apa yang menjadi penyebab kebaikannya. Ada motif untuk memperoleh keuntungan dari tindakan tersebut yang bermakna duniawi.

Bahkan ada yang berpikir, di kala ada orang yang tiba-tiba berbuat baik, justru diupayakan kewaspadaan. Jangan-jangan ada maunya. Begitulah manusia dengan keanekaragaman keinginan, kebutuhan dan tujuan hidup yang memang terkadang sedemikian misterius, sebab memang manusia dengan kehidupannya, hati dan pikirannya, tidak dapat dipahami sedemikian gampang. Jadi memang diperlukan kehati-hatian.

Ayat Alqur’an yang dikutip oleh Syekh Imam An Nawawi adalah Surat Ali Imran: 134, yang menyatakan: “… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. Di dalam Surat Asy Syuara’: 43 dinyatakan: “Namun orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.

Juga terdapat beberaoa hadits, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa seseorang mengadu kepada Rasulullah SAW: ‘sesungguhnya saya mempunyai kerabat. Saya selalu menyambung hubungan dengan mereka, tetapi mereka memutuskannya. Saya selalu berbuat baik kepada mereka tetapi mereka membalasnya dengan berbuat jahat. Saya selalu menyantuni mereka tetapi mereka tidak tahu diri’. Kemudian Beliau bersabda: “seandainya kamu seperti yang kamu katakan, maka seolah-olah kamu menaburkan  abu panas kepada mereka dan kamu akan selalu mendapat pertolongan Allah ta’ala  karena perbuatan mereka, selama kamu masih tetap mengerjakan hal yang demikian”. Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dari beberapa ayat Alqur’an dan hadits yang dinukil oleh Syekh Imam An Nawawi, kiranya dapat dijelaskan di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam mengajarkan agar kita melakukan kebaikan bukan untuk tujuan duniawi semata, akan tetapi justru untuk kepentingan ukhrawi. Kepentingan ukhrawi itu jauh lebih penting. Kepentingan akhirat itu lebih baik dan abadi. Dunia itu hanya tempat singgah sementara, rata-rata manusia hidup di dunia itu kira-kira 80 tahun. Memang ada yang melebihi 100 tahun, akan tetapi jumlahnya sangatlah sedikit. Padahal kehidupan akherat itu selama-lamanya. Ada yang menyatakan kekal tetapi tidak sebagaimana kekekalan Allah SWT yang tidak terhingga. Oleh karena itu jika kita berbuat baik, maka agar diupayakan bahwa kebaikan tersebut bukan untuk dibayar dengan sanjungan atau pujian di dunia oleh manusia lainnya. Janganlah bangga disanjung orang dengan kebaikan yang bisa kita lakukan.

Kedua, sanjungan kepada kebaikan kita itu akan menjadikan kita merasa tersanjung dan lama-kelamaan akan menyebabkan adanya kesombongan yang tersembunyi. Lama kelamaan juga akan menjadi “penyakit hati”. Ada riya jahr dan ada riya sirr atau kesombongan ekspresif dan kesombongan tersembunyi. Inilah yang mesti kita sadari. Kita Harus hati-hati agar kebaikan tersebut akan memiliki makna spiritual atau makna ketuhanan.

Di dunia ini tentu ada orang yang “gila” hormat, “gila” pujian, “gila” pengakuan. Serba aku. Semua yang berhasil diakui sebagai produknya. Padahal sesungguhnya tidak ada keberhasilan atau kesuksesan yang datang dari orang perorang. Yang ada adalah keberhasilan karena kebersamaan. Succeding together. Jadi ada working together dan kemudian succeding together. Filsafat togetherness.  Para waliyullah adalah orang yang menyembunyikan diri. Kewaliannya tidak ditampakkan. Makanya, la ya’riful waliy illal waliy.  Tidak mengetahu siapa yang wali kecuali para wali. Jika kita berada di ruang begini, terkadang merasakan ketakutan, jangan-jangan kita termasuk orang yang suka menampakkan kebaikan dan keberhasilan

Ketiga, Allah sangat menyukai orang yang dapat menahan amarah dan suka berbuat kebaikan. Oleh karena itu, janganlah kita menjadi orang yang sedikit-sedikit marah. Jika ada orang yang bekerja dengan standar kurang lalu marah. Mari kita pahami, bahwa tidak semua orang dapat bekerja seperti kita. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Tidak semua orang secerdas kita, tidak semua orang sehebat kita. Maka marilah kita pahami bahwa tugas kemanusiaan kita adalah memahami agar kita tidak salah di dalam menilai orang lain. Jika kita bisa memahami orang lain, maka akan meluncur sikap dan perilaku untuk memaafkan yang kurang dan memuji yang berhasil dengan catatan tidak berlebihan agar tidak menimbulkan kesombongan baru.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMAAFKAN DAN BERPALING DARI PERILAKU KEBODOHAN (75)

MEMAAFKAN DAN BERPALING DARI PERILAKU KEBODOHAN (75)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada bab ke 75, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Memaafkan dan Berpaling dari orang Bodoh”, lalu saya ubah judulnya menjadi “Memaafkan dan berpaling dari perilaku kebodohan” yaitu suatu bab yang memberikan pemahaman kepada umat Islam tentang pentingnya sikap dan perilaku memaafkan dan agar kita menghindari orang yang berperilaku bodoh dalam kehidupannya. Mungkin ada sebuah pertanyaan, bagaimana kita harus menghindari orang yang bodoh, padahal sebagai sesama manusia tentu kita tidak boleh saling merendahkan dan saling menyepelekan.

Yang dimaksud dengan perilaku  bodoh adalah bodoh dalam keyakinan dan pengamalan keagamaannya. Orang yang sudah jelas mendapatkan keterangan tentang agama Islam, sudah mendapatkan penjelasan yang memadai tentang Islam,  tetapi masih tetap saja di dalam perilakunya yang tidak sesuai dengan amalan-amalan keislaman. Sebagai contoh yang disebutkan di dalam Alqur’an adalah Abu Lahab. Lalu juga ada orang yang sudah mendapatkan penjelasan tentang Islam tetapi tetap menentang adalah Abu Jahal. Jadi bodoh tidak dimaksudkan sebagai orang yang memiliki IQ rendah, akan tetapi orang yang bodoh dalam memahami ajaran agama Islam.

Manusia memiliki akal yang dengan kemampuannya itu dapat memilih mana yang benar dan mana yang salah. Yang haq itu benar dan yang bathil itu salah. Jangan karena factor kekuasaan yang diperolehnya atau akan dicapainya kemudian kita menggunakan kebodohan untuk memilih yang salah dan mengabaikan yang benar. Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW, orang tua Sayyidina Ali adalah orang yang pintar dan memiliki kekuasaan. Akan tetapi karena takut dicela oleh orang lain yang dikuasainya, maka Abu Thalib mengabaikan ajakan Nabi Muhammad SAW. Bahkan sampai wafatnya, dia enggan dan tidak mau untuk membaca kalimat tauhid dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini yang membuat Nabi Muhammad SAW sedih sebab orang yang sangat mencintai dan melindunginya itu wafat dalam keadaan belum bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan dan menguasai seluruh jagad raya.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan berdasarkan ayat Alqur’an di dalam Surat Al A’raf: 199, yang artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”. Di dalam Surat Al Hijr: 85 dinyatakan: “Maka maafkanlah (mereka)  dengan cara yang baik”. Di ayat lain, Surat Asy Syura: 43 dinyatakan: “tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, maka yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, menyatakan: “Rasulullah SAW tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, baik istri maupun pembantunya, kecuali di dalam berjihad di jalan Allah, dan Nabi SAW  sama sekali tidak pernah membalas orang yang mengganggunya, kecuali apabila apa yang telah diharamkan Allah itu dilanggar, maka Nabi SAW  semata-mata membalasnya karena Allah”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Lalu juga ada hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Mas’ud RA, berkata: “sepertinya aku melihat Rasulullah SAW saat menceritakan perihal salah seorang Nabi shalawatullah wa salamuhu alaihim yang dipukul oleh kaumnya sampai berlumuran darah, sambil mengusap darah dari wajahnya dan dia berkata: ‘Allahummaghfir li qaumi fa innahum la ya’lamun’ (Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui)”. Juga terdapat Hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “orang yang kuat itu bukan orang yang memiliki kekuatan kecepatan, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu untuk menahan dirinya sewaktu marah”. Hadits Riwayat Shahihain.

Dari uraian di atas, kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah itu maha pemaaf dan pengampun. Representasi manusia pemaaf dan pengampun adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliaulah yang dijadikan sebagai teladan dan seluruh kebaikan yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Sebagai manusia maka memerlukan contoh mana perilaku yang baik dan benar dan mana perilaku yang jelek dan salah. Semua sifat kebaikan Allah SWT itu direpresentasikan oleh kehadiran Nabi Muhammad  SAW untuk hambanya. Jika orang bertanya tentang kebaikan Allah SWT kepada hambanya, maka hal itu terwakili oleh kehadiran Nabi Muhammad SAW. Beliau orang yang tidak pernah marah kepada istri dan orang lain. Beliau memaafkan kesalahan orang lain, dan bahkan  di kala Malaikat Jibril akan menjepit orang Thaif dengan dua gunung  karena melukai Nabi Muhammad SAW,  maka Nabi SAW melarangnya sebab tugas kenabian bukan untuk menghukum tetapi menyadarkannya kepada agama Islam.

Kedua, di dunia ini ada dua penggolongan atas manusia yang menerima kehadiran Nabi Muhammad SAW dengan ajaran Islamnya. Ada sebagian yang pintar atau cerdas dengan menerima ajaran Islam dan ada yang bodoh karena tidak menerima ajaran Islam. Orang yang pintar itu adalah as sabiqunal awwalun atau 40 orang pertama yang beriman kepada Allah dan kerasulan Muhammad SAW.   Di antaranya adalah Sayyidina Abu Bakar as Shiddiq. Abu Bakar RA adalah orang yang tidak ada sedikitpun keraguan untuk menerima kebenaran yang datangnya dari Nabi Muhammad SAW. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang tidak masuk akal bagi sebagian orang langsung dibenarkannya tanpa keraguan. Sedangkan orang yang bodoh adalah mereka yang menentang Nabi Muhammad SAW sampai ajalnya. Abu Jahal dan Abu Lahab adalah representasi orang yang bodoh dalam menerima kebenaran Tuhan. Hingga hari ini masih sangat banyak orang yang pintar tetapi bodoh karena tidak mengimani Allah SWT dan mengakui Kenabian Muhammad SAW.

Ketiga, sabar dan maaf adalah dua kata yang sedemikian indah. Orang yang hebat dan kuat adalah orang yang mampu menahan nafsu amarahnya. Janganlah sedikit-sedikit marah dan janganlah apa saja yang kurang dijadikan sebagai sebab kemarahan. Nabi Muhammad SAW tidak pernah marah karena kekurangan yang dilakukan oleh pembantunya. Bukan bertanya kenapa tidak begini dan begitu dalam urusan keduniawian. Akan tetapi Nabi Muhammad SAW sangat tegas dalam menegakkan kalimat Allah dalam kebaikan.

Oleh karena itu ada trilogy penting, yaitu “Sabar, Pemaaf dan Kebaikan”. Secara proposisional dapat saya nyatakan bahwa “ perilaku kebaikan itu sangat tergantung kepada kesabaran dan kepemaafan. Jika umat Islam bisa melakukannya, maka harmoni kehidupan pasti akan menjelang.

Wallahu a’lam bi al shawab.