• September 2026
    M T W T F S S
    « Aug    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MAKRUH MAKAN DENGAN BERSANDAR (108)

MAKRUH MAKAN DENGAN BERSANDAR (108)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Setiap agama memiliki nilai atau norma yang menjadi pedoman di dalam kehidupan manusia. Semua agama dipastikan akan mengatur kebaikan perilaku dan kejelekan prilaku. Ada indikator yang terkait dengan perilaku kebaikan dan ada indikator perilaku kejelekan. Bagi yang melakukan kebaikan,  maka akan mendapatkan pahala atau reward dan yang melakukan kejelekan akan mendapat punishment atau hukuman.

Di dalam ajaran seperti ini, khususnya, dalam relasi antar manusia, betapa pentingnya menjaga kebaikan dan menjauhi kejelekan. Setiap agama mengajarkan misalnya tentang keadilan, kesetaraan, kebahagiaan dan sebagainya yang merupakan ajaran inti di dalam kehidupan khususnya di dalam relasi sosial. Katakanlah orang itu atheis, tidak percaya keberadaan Tuhan, akan tetapi di dalam relasi sosial mereka dipastikan mengenal mana yang baik dan mana yang buruk dalam kehidupannya. Manusia dikaruniai akal untuk memilah dan memilih prilaku mana yang dipilihnya. Termasuk juga dalam pemenuhan kebutuhan biologisnya, terutama dalam pemenuhan kebutuhan fisiknya. Kebutuhan makan.

Sebagai agama yang sedemikian jelas dan tegas dalam mengatur kehidupan, maka Islam memberikan pedoman yang lengkap dalam kaitannya dengan relasi antar manusia, dan juga etika terkait dengan diri, sikap dan perilaku dalam menghadapi kehidupan. Sedapat-dapatnya, sebagai umat Islam mestilah menjadikan ajaran tentang relasi diri dengan masyarakat dalam bentuk ucapan, sikap dan perilaku yang juga menggambarkan keluhuran akhlak. Makarimal akhlak.

Termasuk yang diatur oleh Islam adalah mengenai tata cara makan. Pada bab-bab sebelumnya sudah dijelaskan tentang tata cara makan, misalnya harus memulainya dengan berdoa, membaca basmalah dan jika lupa harus membaca “bismillahi awwalahu wa akhirahu”. Artinya dengan doa tersebut, Allah mengajari kepada kita supaya di dalam makan selalu mengedepankan asma Tuhan. Dengan Asma Allah yang rahman dan rahim.

Sesungguhnya, setiap bagian dari kehidupan manusia ternyata memiliki tradisinya sendiri. Di dalam setiap suku bangsa memiliki tradisi yang bisa berbeda dengan suku bangsa lainnya. Dalam banyak hal, termasuk di dalam tradisi makan.

Pada masyarakat Barat yang menggunakan tradisi sendok dan garpu dan juga kebebasan untuk makan. Bisa dengan tangan kiri atau tangan kanan, bisa sambil duduk atau berdiri. Sementara itu tradisi di Jepang, China dan Korea makan dengan sumpit sebab yang dimakan kebanyakan adalah mie sehingga lebih mudah menggunakannnya. Jika makan nasi pun juga menggunakan alat makan dimaksud. Sedangkan di dalam tradisi Jawa maka makan itu menggunakan lima jari sekaligus. Hal ini karena yang dimakan adalah jagung atau beras yang dimasak. Tenti lebih efektif menggunakan tangan. Orang Jawa yang modern sudah menggunakan garpu dan sendok, sementara orang Arab menggunakan tiga jari dalam makan apapun.

Syekh Imam An Nawawi menukil hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Juaifah Wahb bin Abdullah RA., Rasulullah bersabda: “Aku tidak makan sambil bersandar”. Al Khattabi berkata: “bersandar di sisi kasurnya adalah duduk bersandar di atas kasur yang berada di bawahnya. Ia berkata: “maksudnya adalah Beliau tidak duduk di atas kasur dan bantal (sandaran) seperti  yang dilakukan oleh orang=orang yang ingin banyak makan. Bahkan beliau duduk dengan sikap siaga bukan dengan cara yang santai, dan beliau makan dengan secukupnya. Inilah perkataan Al Khattabi. Sedangkan yang lain mengisyaratkan  bahwa bersandar di sini maksudnya adalah duduk miring di atas sisi tubuhnya.

Anas RA, berkata aku melihat Rasulullah SAW duduk di atas pantat kemudian menegakkan betisnya sambil memakan kurma”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari hadits Nabi SAW dan penjelasan sosiologis sekedarnya, maka dapat dijelaskan tiga hal mendasar, yaitu:

Pertama, makan merupakan kebutuhan fisik yang tidak bisa ditunda. Misalnya orang sama sekali tidak makan. Kebutuhan biologis makan tersebut ada kaitannya dengan kesehatan badan. Jika makanannya memenuhi standart kesehatan, maka yang bersangkutan akan sehat. Ada keseimbangan antara kebutuhan protein,  karbohidrat dan mineral. Jika terjadi ketidakseimbangan, mungkin akan ada potensi tidak sehat. Memang ada orang-orang khusus yang bisa puasa Dawud atau puasa selang-seling, atau ada juga orang yang memiliki kemampuan puasa-puasa lain misalnya puasa mutih, puasa ngrowot, dan lainnya dalam tradisi Jawa, akan tetapi yang terbaik adalah puasa sebagaimana anjuran Rasulullah SAW. Apapun puasanya, akan tetapi butuh berbuka atau makan pada waktunya.

Kedua, makan ternyata ada tata caranya. Misalnya dimakruhkan untuk makan sambil bersandar di tempat tidur atau di atas bantal. Makan di tempat tidur tentu tidak etis sebab tempat tidur bukanlah tempat makan. Tempat tidur adalah tempat untuk istirahat tidur. Bahkan dicontohkan Nabi SAW itu kalau makan dengan badan tegap sambil  duduk dan betisnya ditegakkan. Jadi bukan dengan cara bersandar pada apapun. Atau kira-kira seperti orang yang duduk bersila atau duduk dalam tasyahud. Yang dilihat oleh para sahabat adalah di kala Nabi makan sambil duduk. Sama juga halnya, jika makan di atas meja juga agar badannya ditegakkan dan kaki menjulur ke bawah dengan santai.

Ketiga,  Nabi SAW sungguh sangat mendalam ajarannya tentang cara makan itu. Jangan mendominasi pengambilan makanan, jangan mengambil makanan yang jauh dari tempatnya dan jangan makan sambil bergurau. Diupayakan makan itu dengan tata cara yang benar. Dimulai dengan basmalah dan diakhir dengan hamdalah. Baik makan dalam keadaan sendirian maupun makan secara bersama-sama, maka tata cara makan itu tetaplah sama. Ada etika makan.

Zaman boleh berubah. Realitas budaya boleh berubah dan realitas sosial boleh juga berubah akan tetapi dalam ajaran Islam yang baku, maka perubahan itu tidak boleh menyentuh substansinya. Jenis makanan bisa berubah, asalkan halalan dan thayyiban, akan tetapi tata cara makan yang substansial tidak boleh berubah. Dan kita harus melakukannya sesuai dengan etika sebagaimana diajarkan oleh Nabi SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SURAT AL KAHFI, MENGAPA PERLU DIBACA SECARA KONTINYU?

SURAT AL KAHFI, MENGAPA PERLU DIBACA SECARA KONTINYU?

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tidak selamanya postingan di media sosial itu jelek. Ada juga yang baik dan membuka pengetahuan kita tentang makna sebuah surat di dalam Alqur’an. Postingan yang saya baca dari Instagram tersebut sudah beberapa hari yang lalu dan saya juga sudah lupa siapa yang menguploadnya. Saya kira tidak sangat mendasar untuk kembali mencari dan menemukan siapa yang mengunggahnya. Tetapi saya kira postingan di Qiswah.

Saya berusaha untuk menjelaskannya untuk Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) pada waktu akan mengaji Surat Al Kahfi pada setiap hari Jum’at ba’da Shubuh.  Sebagaimana diketahui bahwa di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya selalu diselenggarakan Ngaji Surat Al Kahfi setiap hari Jumat. Sedangkan di hari lain, Selasa ba’da Shubuh diselenggarakan acara ngaji atau ceramah agama dalam berbagai perspektif, dan hari Senin, Rabo dan Kamis digunakan untuk tahsinan Alqur’an bagi para senior, untuk tidak menyebut tua, dari Jamaah shalat Shubuh. Pada Jum’at, 04/08/2026, saya membahas postingan tersebut.

Secara garis besar, bahwa makna membaca Surat Al Kahfi ada banyak. Akan tetapi saya hanya akan memberikan sedikit gambaran mengenai tiga hal. Yaitu:

Pertama, di dalam Surat Al Kahfi diceritakan tentang tujuh pemuda, yang disebut sebagai Ashabul  Kahfi. Para pemuda yang hidup pada masa kerajaan otoriter, dengan rajanya yang sangat dhalim, bernama Raja Decius atau disebut sebagai Dekyanus, 249-251 M di Efesus. Seorang yang raja yang sangat berkuasa dan karena kekuasaannya itu lalu merasa menjadi Tuhan, yang wajib disembah oleh rakyatnya. Patungnya dibuat besar dan megah, dan rakyat diwajibkan menyembahnya. Siapa yang menolak akan dipancung. Hiduplah tujuh pemuda yang dikaruniai kehidupan yang makmur dengan usaha-usaha pertanian dan perkebunan. Makanya mereka menjadi pemuda yang sukses kehidupannya. Dia pemuda yang beriman kepada Allah dan juga menjalankan amalan agama yang dicontohkan oleh para ulamanya. Akhirnya kedengaran di telinga raja tentang penolakannya untuk menyembah berhala Rajanya. Begitu mendengar bahwa dia akan disiksa karena keyakinannya itu, maka mereka melarikan diri agar selamat. Di sini Allah mengajarkan sebuah doa yang sangat penting, yang masih dijadikan doa oleh umat Islam. Yaitu: “rabbana atina min ladunka rahmatan wa ahyyi’lana min amrina rasyada”. Ya Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari Sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami  dalam urusan kami”. (Surat A Kahfi: 10).

Sedemikian kuat iman tujuh pemuda ini, sehingga mengharuskan diri mereka untuk meninggalkan kekayaan dan kemakmuran di dalam hidupnya. Tetapi Allah SWT mengetahui apa yang dilakukannya, sehingga menidurkannya selama 309 tahun. Anjingnya sudah mati. Ketika bangun diketahui zaman sudah berubah. Mata uang yang dibawanya sudah tidak lagi laku di pasaran. Dan ternyata pemuda tersebut berada zaman yang berbeda. Goa tempat Ashabul Kahfi ditidurkan Allah sudah ditemukan dan banyak ditemukan naskah-naskah kuno. Baru sebagian kecil yang ditemukan dan dipahami dan sebagian besar lainnya belum ditemukan. Berdasarkan kajian studi agama-agama, maka peristiwa Al Kahfi adalah peristiwa sejarah sebab banyak kitab yang menjelaskannya. Seperti Kitab Taurat, Injil dan Alqur’an, dan bahkan juga shahifah yang ditemukan juga menjelaskan hal yang sama. tentang nama memang terjadi debatable. Ada yang menamakannya Iskandar Zulqarnain atau Alexander The Great, ada yang menyatakan sebagai Dzulqarnain, atau ada juga yang menyatakan Koresy Agung atau Cyrus the Great.

Kedua, adalah peristiwa Ya’juz dan Ma’juz yang berperang melawan Raja Iskandar Zulqarnain, yang hidup sezaman dengan Nabi Ibrahim AS.  Seorang raja yang sangat arif dan bijaksana di dalam melayani dan melindungi warga negaranya. Zulqarnain hidup pada tahun 336-323 SM. Bukti perpustakaannya masih ada hingga sekarang di Kota Iskandariyah Mesir. Perpustakaan yang sangat bagus dengan koleksi buku yang sangat lengkap. Saya pernah hadir di perpustakaan ini, pada tahun 2010. Di depan perpustakaan ditulis nama Alexandre The Great, bertarikh 356-328 SM.  Sudah saya saya tulis di nursyam.uinsa.ac.id. dengan judul: “Antara Alexandria, Kairo dan Melbourne”, dan juga baca  dalam Nur Syam, “Perjalanan Etnografis Lima benua” (LKIS, 2014).

Iskandar Zulqarnain adalah salah seorang raja yang memagari keberingasan Ya’juz dan Ma’juz. Mereka ini makhluk Tuhan yang sangat bengis dan merusak alam. Jika mereka datang ke suatu tempat, maka hancurlah manusia, binatang dan alam di sekitarnya. Penderitaan umatnya tersebut mengetuk hatinya untuk membuatkan dinding yang dapat mengurung kaum Ya’juz dan Ma’juz. Berdasarkan kajian eskatologis, maka Ya’juz dan Ma’juz terkurung hingga hari ini dan hanya akan keluar di kala mendekati kiamat. Di dalam studi agama-agama, komunitas Ya’juz Ma’juz atau di dalam Bahasa orang Barat disebut dengan Gog Magog adalah peristiwa sejarah sebab banyak naskah atau kitab suci yang menjelaskannya. Di antaranya adalah Kitab Injil dan Alqur’an. Jadi Gog Magog adalah fenomena sejarah di masa lalu yang diakui kebenarannya.

Ketiga, peristiwa pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Khidhir. Keduanya adalah Nabiyullah memiliki hubungan sangat dekat dengan Allah SWT. Nabi Musa sering berbicara langsung dengan Allah SWT dan demikian pula Nabi Khidhir. Tetapi mereka memiliki perbedaan dalam mengimplementasikan kedekatan tersebut. Nabi Musa AS adalah seorang nabi dengan penguasaan ilmu syariat yang sangat kuat, sedangkan Nabi Khidhir AS dengan penguasaan ilmu ma’rifat yang tiada banding. Keduanya bertemu, dan Nabi Musa akhirnya berguru kepada Nabi Khidhir. Sebagai ahli ma’rifat, maka perilaku Nabi Khidhir sering tidak dipahami oleh Nabi Musa. Keduanya akhirnya tetap berbeda pandangan dalam taqarrub ilallah.

Pertarungan antara syariat dan ma’rifat tentu tetap berlangsung hingga masa kenabian Muhammad SAW dan bahkan seterusnya. Di kalangan ahlu Ma’rifat adalah mereka yang mempelajari filsafat dan ilmu ma’rifat sehingga menghasilkan tokoh misalnya Al Hallaj yang akhirnya dibunuh karena dianggap menyalahgunakan ajaran Islam. Dzikir ahlu syariah adalah la ilaha illallah, kemudian meningkat menjadi Allahu. Sampai di titik ini, lalu ahli ma’rifat melanjutkannya dengan hu dan terakhir sampai ke ana. Di sinilah problemnya, sehingga orang ahlu ma’rifat lalu disingkirkan dari percaturan penyebaran Islam. Di Jawa misalnya Kanjeng Syekh Lemah Abang atau Kanjeng Syekh Abdul Jalil yang harus juga disingkirkan. Dianggapnya bahwa dia mengajarkan ilmu ma’rifat yang tidak boleh sembarang diajarkan kepada orang awam. Syekh Lemah Abang dibunuh dan ajarannya diberangus oleh wali songo atas perintah raja.

Pertarungan di antara ahlu syariah dan ahlu tasawuf diselesaikan oleh Imam Ghazali yang memberikan penekanan atas keduanya. Ajaran ma’rifat tidak sah tanpa syariah dan ajaran syariah kurang sempurna tanpa ilmu tasawuf. Kehadiran Imam Ghazali dengan Ihya Ulumuddin adalah menandai bagaimana kedua ilmu  tersebut dipraktekkan di dalam Islam.

Wallahu a’lam bi al shawab.

DOA DAN AMALAN  ORANG MAKAN TETAPI TIDAK KENYANG (106)

DOA DAN AMALAN  ORANG MAKAN TETAPI TIDAK KENYANG (106)

Prof. Dr. Nur Syam, MSI

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Makan tetapi tidak kenyang. Ada dua penyebab yaitu memang bersengaja makan tetapi tidak ingin kenyang. Nabi Muhammad SAW pernah menjelaskan agar kalau makan jangan kekenyangan. Berhentilah jika perut terasa sudah penuh. Lalu, memang bahan makanannya memang kurang, sehingga menjadi kurang atau bahkan tidak kenyang. Penyebab pertama bisa jadi karena sedang diet, sehingga mengurangi porsi makanan, atau sengaja memilih makanan yang diperbolehkan bagi orang yang diet. Misalnya No karbohidrat dan hanya protein. Ada sebuah pola diet yang mengharuskan makan protein saja, misalnya telur, daging dan ikan. Segala yang berkabohidrat dilarang. Semua yang diproduksi oleh bumi dianggap tidak tepat bagi diet model ini.

Bagi yang memang kurang kenyang atau tidak kenyang, bisa jadi memang orang yang kapasitas makannya banyak, sehingga di kala makan bareng-bareng akan terasa kurang makanannya. Bagi yang seperti ini, maka makan banyak memang telah menjadi tradisi yang selama ini dilakukannya. Karena kebiasaan tersebut, maka dia akan merasa kurang di dalam makan yang melibatkan banyak orang. Ada seseorang diundang oleh sahabat, tetangga atau pimpinan kemudian memang bersengaja untuk mengosongkan perutnya agar bisa makan dalam jumlah banyak. Akan  tetapi ada juga orang yang sebelum datang ke jamuan makan justru sudah makan apa adanya dulu, sehingga ketika di ruang jamuan makan sudah bisa mengukur seberapa makanan yang akan dimasukkan di dalam perutnya. Saya lebih memilih pola yang kedua. Jadi jika berada di ruang jamuan makan, maka tidak mengharuskan makan sebanyak-banyaknya.

Bagi saya ada etika makan di dalam jamuan makan, yaitu agar tidak makan dengan sekenyang-kenyangnya. Ukurlah batas etika yang berlaku di dalam jamuan makan bersama.

Etika makan itu tidak hanya dengan tangan kanan dan membaca basmalah, tetapi juga kuantitas makan yang dapat dilakukan. Terkadang rasanya malu, jika ada orang yang makan di dalam jamuan makan yang nyaris piringnya tertutup oleh bahan makanan. Akan tetapi juga kuantitas makan dan memakan makanan yang terdekat dengan tempat duduk. Semua ini adalah ajaran Nabi Muhammad SAW dan sudah dicontohkan oleh-Nya.

Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama di dalam kehidupan. Jika Nabi SAW memerintahkan agar makan dengan cara tertentu hendaklah bisa dilakukan. Mungkin yang perlu dipahami adalah makan dengan tiga jari. Bagi Nabi SAW itu makan dengan tiga jari, sebab yang dimakan adalah kurma atau roti dari gandum. Dipastikan bisa dilakukan. Akan tetapi bagi orang Indonesia yang makan beras yang memerlukan sendok dan garpu atau lima jari sekaligus tentu bisa menjadi perkecualian. Perbedaan antara teks di dalam hadits Nabi SAW dengan konteks masyarakat tentu bisa dipahami. Tetapi andaikan melakukan seperti teks Hadits juga tentu lebih utama.

Syekh Imam An Nawawi menukil hadits yang diriwayatkan oleh Wahsyiy bin Harb RA bahwa  sahabat-sahabat Rasulullah SAW berkata, “Wahai Rasulullah, kami makan tetapi tidak merasa kenyang”. Beliau bersabda: “Mungkin kalian berpisah-pisah ketika makan”. Mereka menjawab, “ya”. Beliau bersabda: “berkumpullah pada makanan kalian dan sebutlah nama Allah, pasti Allah akan memberkahi kalian pada makanan tersebut”. Hadits Riwayat Abu Daud.

Dari penjelasan sosiologis dan hadits Nabi Muhammad SAW tersebut, maka dipahami di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam sebagai agama rahmatan lil alamin memastikan ada konsep berkah yang bisa menjadi kenyataan. Di dalam peristiwa Perang Khandak, di kala umat Islam menggali parit, maka Nabi SAW memastikan bahwa makanan yang disediakan hanya untuk empat atau lima orang, ternyata cukup untuk jamaah umat Islam yang menggali parit pada jumlahnya yang mencapai ratusan orang. Bahkan ada riwayat yang menyatakan 1000 orang. Subhanallah. Ini memberikan bukti bahwa ada keberkahan di dalam makanan. Ada tentu yang menyatakan: “wajar Nabi SAW yang memiliki mu’jizat”, lalu bagaimana dengan manusia biasa dan bukan Nabi”. Jawabannya berkah itu ada pada semua orang yang mencontoh prilaku Nabi SAW dalam aktivitas makan.

Kedua, Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud memberikan gambaran bahwa makan bersama dalam kelompok yang sama dan bukan terpisah-pisah dan dilakukan dengan membaca Basmalah, maka potensi untuk kenyang bersama menjadi sangat mungkin. Artinya bahwa ketercukupan makanan tersebut bisa terjadi karena keberkahan makanan atas izin Allah SWT. Doa yang bisa dibaca adalah “Allahumma bariklana fi ma razaqtana”. Yang artinya: “Ya Allah berkahi apa yang Engkau Rejekikan kepada kami”. Sebagaimana doa yang sering saya baca: “Allahumma bariklana fi rizkina, Allahumma bariklana fi ‘ilmina, Allahumma bariklana fi umrina dan Allahumma bariklana di hayatina”. Yang artinya: “Ya Allah berkahi rejeki kami, berkahi ilmu kami, berkahi umur kami dan berkahi hidup kami”.

Ketiga, Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar makan secara bersama dan berkumpul bersama di dalam acara jamuan makan. Dengan kebersamaan dalam makan, dan doa bersama di dalam makan, maka memungkinkan peluang turunnya berkah. Ketercukupan makan. Kita harus yakin bahwa berkah atau berlipat gandanya kebaikan, dipastikan ada. Kita harus meyakininya. Upayakan jangan ada keraguan di dalam batin. Pastikan hati kita khusnud dhan bahwa Allah SWT sebagai Dzat yang Maha Rahman dan Rahim akan menolong kita.

Sungguh Islam telah memberikan pedoman di dalam kehidupan sampai hal-hal yang terkecil. Urusan makan dan minum. Ini merupakan bukti kecintaan Rasulullah kepada umatnya, agar setiap tindakan yang dilakukan umatnya mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

LARANGAN MENGAMBIL MAKANAN BERLEBIH DALAM MAKAN BERSAMA (105)

LARANGAN MENGAMBIL MAKANAN BERLEBIH DALAM MAKAN BERSAMA (105)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Salah satu sifat manusia adalah tamak atau loba. Suatu sikap yang ingin memiliki dalam jumlah yang  banyak dalam aneka ragam kebutuhan. Kepemilikan ini merupakan watak dasar manusia yang memang didominasi oleh kebutuhan biologis. Manusia ingin segala sesuatunya terpenuhi. Sandang, pangan dan papan yang berlebihan. Jenis pakaian yang serba tercukupi. Ada berbagai jenis, misalnya jas, pakaian putih atau warna polos lainnya, batik, pakaian tradisional, dan pakaian yang serba bagus. Jenis kainnya juga menggambarkan pakaian yang bermerek. Celana juga bervariasi jenis dan jumlahnya. Ada jeans dengan aneka ragamnya, celana panjang dan pendek dengan berbagai mereknya, bahkan juga pakaian casual. Ada juga orang yang sehari-hari, siang dan malam selalu berpakaian casual. Suka-sukalah.

Lalu makanan juga serba lezat. Sehari bisa tiga jenis makanan. Bukan hanya makan di rumah tetapi makan di restoran yang mahal. Bahkan pagi hari makan di Surabaya, siang makan di Jakarta, dan malam hari makan di Singapura.  Ada orang yang sudah mencicipi berbagai macam makanan di dunia ini. Bahkan di China seseorang bisa memakan makanan ekstrim, misalnya makanan yang terdiri dari kalajengking, ular dan binatang reptil lainnya. Manusia memang ingin sesuatu yang lebih dibandingkan dengan yang lain. Manusia juga menyukai sensasi.

Papan atau rumah. Ada rumah yang lahannya kelewat batas. Tentu saking luasnya. Di lahan rumah tersebut bisa terdapat vila-vila yang dapat dihuni oleh sanak keluarganya, jika datang. Manusia ingin memiliki rumah yang luas, indah dan menyenangkan. Jika kita melewati perumahan di Jalan Indramayu, Menteng, Jakarta Pusat maka kita dapat melihat rumah-rumah yang luas. Terkadang tidak hanya satu rumah,  tetapi bisa tiga empat rumah. Pajaknya saja pada tahun 2018 yang lalu mencapai lima puluh juta. Dan anehnya, rumah-rumah tersebut tidak  dihuninya, sebab yang punya rumah justru hidup di apartemen, sementara itu yang menghuni rumahnya adalah satpam. Begitulah manusia. Rumah bagaimanapun  indah dan besarnya, ternyata yang kita butuhkan hanya satu kamar saja. Jadi, yang lain-lain hanya asesori saja.

Islam mengajarkan sesuatu secara mendalam. Alqur’an mengajarkan ajaran Islam yang mendasar atau disebut secara mujmal atau garis besarnya. Lalu hadits mengajarkan ajaran Islam yang mendalam. Shalat diwajibkan di dalam Alqur’an dan tata cara Shalat secara mendalam diungkapkan oleh hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Dalam perintah makan, Alqur’an memberikan gambaran yang umum saja, dan hadits Nabi SAW yang menjelaskan secara mendasar.

Nabi SAW mengajarkan kepada kita agar jangan melakukan sesuatu  berlebihan, termasuk di dalam makan dan minum. Jika kita berada di dalam makan secara bersamaan atau prasmanan, maka janganlah kita menguasai makanan tersebut. Pertimbangkan kawan lainnya. Hadits Nabi SAW di sini menjelaskan perihal tersebut.

Hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Jabalah bin Suhaim berkata: “kami terkena tahun paceklik.  Bersama Ibnu Az Zubair, kemudian kami diberi rezeki kurma. Saat itu Abdullah bin Umar RA., melewati kami yang sedang makan, kemudian ia berkata: “janganlah kamu mengumpulkannya (makan dua atau lebih sekaligus), karena Nabi SAW melarang mengumpulkan makanan (di mulut). Kemudian ia berkata: “kecuali orang tersebut meminta izin kepada saudaranya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari penjelasan sosiologis dan hadits Nabi SAW, maka dapat dijelaskan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, makan itu mengandung dua dimensi, yaitu dimensi fisik dan dimensi batin atau dimensi pemenuhan biologis dan pemenuhan kebutuhan spiritual. Dimensi fisik, bahwa tubuh kita itu membutuhkan asupan gizi untuk kekuatan dan kesehatan tubuh. Tubuh yang sehat itu disebabkan oleh makanan dan minuman yang sehat. Standarnya adalah separoh berisi karbohidrat dan protein dan separohnya lagi buah-buahan dan sayuran. Sementara itu mineral sebanyak dua liter atau delapan gelas.

Makan juga ada dimensi kebatinannya atau spiritualitasnya. Hal itu dilihat dari tata cara makan yang harus melibatkan dimensi religius, yaitu memulai dengan bacan basmalah dan mengakhiri dengan hamdalah. Jika di dalam makan itu dimulai dengan basmalah atau dengan menyebut Asma Allah, maka berarti ada sebanyak 99 nama yang kita sebut dan diringkas dengan membaca nama Allah saja. Bismillahir Rahmanir Rahim. Jadi dengan membaca basmalah dalam memulai makan, maka di situ terdapat perlunya dimensi spiritualitas.

Kedua, Islam mengajarkan agar dalam makan bersama, kita dilarang untuk mendominasi dalam makan. Islam bahkan mengajarkan larangan untuk mengambil dua kurma sekaligus, lalu dimakan. Islam mengajarkan makan dengan makanan satu-satu dan bukan banyak sekaligus. Janganlah mengambil dua kurma atau lebih lalu dikunyah di dalam mulut. Meskipun “hanya” makan, akan tetapi Islam benar-benar mengajarkan tentang kebersamaan dan kebaikan. Jangan ada di antara kita yang mendominasi di dalam memakan makanan yang ada di depan kita. Perhatikan orang lain, sebagai bagian dari kepedulian kita atas orang lain.

Ketiga, kita itu hidup di era modern yang banyak dipengaruhi oleh tradisi barat. Di dalam tradisi makan dikenal ada tradisi standing party, yang tradisi makannya dengan berdiri. Tradisi ini tidak sesuai dengan Islam, sebab Islam mengajarkan agar makan atau minum dengan duduk. Lalu juga tradisi  makan dengan tangan kiri. Semua ini merupakan tradisi yang menghinggapi mindset orang modern. Dan sebagai umat Islam, tentu tradisi Islam dalam makan merupakan kewajiban kita untuk melakukannya. Jangan sampai karena atas nama modernitas lalu kita melupakan atau menghilangkan tradisi Islam yang sesuai dengan tindakan Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

AMBIL MAKANAN TERDEKAT DAN  AGAR MAKAN DENGAN SANTUN (104)

AMBIL MAKANAN TERDEKAT DAN  AGAR MAKAN DENGAN SANTUN (104)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Kita semua rasanya pernah terlibat di dalam acara jamuan makan dalam jumlah terbatas atau dalam jumlah yang banyak. Kita dipastikan akan berada di dalam meja makan dengan berbagai makanan yang disediakan. Seperti biasanya, di dalam jamuan makanan tersebut tentu ada variasi makanan, baik lauk pauk maupun sayurannya. Dipastikan bahwa variasi makanan tersebut berada di dalam satu meja. Dengan variasi makanan tersebut,  maka jenis makanannya akan tersebar dalam satu meja atau beberapa meja.

Jenis makanan tersebut misalnya ada gulai,  rendang, kare,  sate,  gudeg, sop buntut, ayam goreng, ayam pop, ayam balado, ayam sambalan, ayam panggang, ayam bakar, gulai kepada ikan, dan sebagainya. Inilah  jenis makanan yang saya tahu. Makanan yang bernuansa Eropa, Amerika, Jepang atau China dan Korea saya tidak paham.  Makanan tersebut berada di dalam satu meja atau beberapa meja. Makanya, seseorang bisa hanya menghadapi makanan dalam satu atau dua jenis saja. Makanan yang lain berada di tempat yang lain. Jadi, kita bisa memilih jenis makanan yang kita sukai,  tetapi berada di tempat yang jauh dari tempat duduk kita.

Sebagaimana pengalaman yang kita rasakan , maka ada seseorang yang mengambil makanan yang jauh dari tempat duduk kita. Mana yang kita sukai dipastikan akan diambilnya. Bahkan terkadang dengan tangan yang menjulur kesana kemari. Pokoknya mana yang suka di situ diambil. Di sinilah problem yang kita hadapi. Perilaku seperti ini etis atau tidak, boleh atau tidak, atau ada cara lain yang bisa dilakukan.

Syekh Imam An Nawawi menukil hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Umar bin Abi Salamah RA., berkata: “dulu aku seorang anak yang berada dalam pengasuhan Rasulullah SAW (saat makan bersama) tanganku bergerak dan menjulur ke sisi piring. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadaku: “Wahai anak, sebutlah nama Allah SAW, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang dekat denganmu”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih.

Hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Salamah bin Akwa’ RA., bahwa ada seseorang makan di hadapan Rasulullah  SAW dengan tangan kirinya, maka Beliau bersabda: Makanlah dengan tangan kananmu,” Orang itu berkata: “aku tidak bisa’. Beliau Bersabda: “Semoga kamu tidak bisa”. Tidak ada yang menghalanginya (makan dengan tangan kanannya) melainkan rasa kesombongan”. Salamah berkata: “maka ia tidak dapat mengangkat tangannya ke mulutnya”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih.

Berdasarkan atas hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dan juga sedikit penjelasan sosiologis, maka dapat dijelaskan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam merupakan ajaran agama yang sangat komplit. Yang diatur tidak hanya ibadah kepada Tuhan semata, akan tetapi juga mengatur tentang segala sesuatu, misalnya makan dan minum. Tidak hanya kehalalannya akan tetapi juga kethayyibannya. Tidak cukup makanan dan minuman halal tetapi juga makanan yang thayyib atau bermanfaat. Makanan daging kambing, sapi, kerbau, ayam dan lainnya yang disembelih dengan halal atau secara Islami dipastikan halal. Bahan-bahan makanan tersebut juga dimasak dengan cara yan benar berdasar atas bahan-bahan lain yang halal, akan tetapi itu saja belum cukup. Di dalam makanan tersebut ada dimensi kemanfaatannya. Orang yang terkena diabet, misalnya, maka harus menahan diri dari makanan atau minuman yang banyak mengandung unsur gula, sebab akan menyebabkan tingginya gula darah. Orang yang terkena stroke juga harus menjaga makanannya, tidak sekedar halal tetapi juga thayyib. Di sinilah Islam memberikan panduan yang lengkap dan jika dipedomani tentu akan membawa kepada kebaikan atau kesehatan.

Kedua, Islam bahkan mengajarkan tentang cara makan dan penataan makanan atau table manner. Tidak menempatkan makanan dalam jamuan makan begitu saja, yang terpenting tersaji. Akan tetapi Islam sedemikian rinci untuk mengatur bagaimana cara penataan dan cara makan. Islam mengajarkan agar makan dengan cara yang benar, misalnya dengan memperhatikan bagaimana cara mengambil makanan. Tidak asal ambil, akan tetapi ada etikanya. Ada sopan santunnya. Nabi Muhammad SAW melarang kita mengambil makanan yang jauh dari tempat duduk kita dengan cara tangan kita itu menjulur kesana-kemari. Makanlah yang berada di dekat kita. Itu pesan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya. Kita bisa bayangkan jika kita melakukannya, maka akan terdapat keruwetan di dalam mengambil makanan. Misalnya di meja ada gulai otak yang tempatnya agak jauh dari tempat duduk kita, lalu tangan kita harus meraihnya dengan melampaui piring orang lain. Alangkah tidak sopannya. Maka anjuran Nabi SAW agar kita ambil makanan yang terdekat kita itu sangatlah rasional. Andaikan kita menginginkannya, maka bisa dipindahkan makanan itu ke dekat kita dan kita memngambilnya, kemudian setelah itu dikembalikan oleh kawan kita yang sesama makan. Ini merupakan salah satu cara agar kita dapat juga menikmati makanan yang disajikan tanpa dengan cara tangan kita itu berkelebatan di sana-sini.

Ketiga, Islam merupakan agama yang secara konsisten mengajarkan sopan santun di dalam makan dan minum. Kesopanan merupakan prinsip ajaran Islam dalam segala corak kehidupan. Nabi SAW mengajarkan agar makan dengan tangan kanan bukan tangan kiri. Masing-masing memiliki fungsinya. Di dalam hadits di atas disebutkan: “makanlah dengan menyebut nama Allah SWT, makan dengan tangan kananmu dan jangan mengambil makanan yang jauh darimu.

Kita sekarang sedang berada di era pasar raya makanan dan minuman. Hampir seluruh Mall di sekitar kita terdaat foodcourt yang menjajakan aneka makanan, dari makan khas Indonesia, China, Jepang, Korea dan Makanan Barat lainnya. Semua serba ada. Oleh karena itu yang penting diperhatikan adalah apakah makanan tersebut makanan yang halal atau makanan yang sudah terdapat sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal atau BPJPH. Pastikan itu, karena makanan itu akan masuk ke dalam tubuh kita, yang akan menjadi asupan jasmani kita, tempat bersemayam jiwa dan roh kita. Makanan tersebut akan digunakan untuk beribadah dan membangun relasi sosial lainnya. Maka makanan halal merupakan kewajiban bagi kita untuk memilihnya. Dan kita sudah mengetahuinya.

Wallahu a’lam bi al shawab.