Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SIFAT KEWIBAWAAN  DAN KETENANGAN

SIFAT KEWIBAWAAN  DAN KETENANGAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Allah menegaskan agar kita menjadi orang yang tidak sombong, tinggi hati dan merasa serba segalanya. Allah menegaskan bahwa orang yang baik itu indikatornya adalah rendah hati di dalam mengarungi kehidupannya. Berjalan di dalam ayat Alqur’an: “janganlah berjalan di muka bumi dengan kesombongan” tidak hanya berjalan dengan kaki ke suatu tempat, akan tetapi berjalan di dalam kehidupan. Janganlah kita mengarungi kehidupan dengan sombong dan tinggi hati. Sering kita dengar di atas langit ada langit. artinya, andaikan kita naik ke langit agar menjadi lebih tinggi, maka ingatlah di atasnya masih ada langit. sampai yang tertinggi di Mustawa, Sidatil Muntaha bahkan Arasy Allah SWT.

Kewibawaan tidak dibangun di atas prinsip instant, akan tetapi kewibawaan adalah proses yang bisa panjang untuk sampai kepada kondisi memiliki kewibawaan. Seseorang yang memiliki kewibawaan tidak akan melakukannya secara pencitraan. Kewibawaan yang diperoleh melalui pencitraan hanya akan menghasilkan kebohongan. Prilaku sementara yang kemudian akan kembali kepada realitas apa adanya. Kewibawaan itu datang dai pribadi yang ikhlas melakukan tindakan sesuai dengan kata hatinya.

Kewibawaan akan lahir dari hati dan bukan datang dari akal. Akal itu bersifat untung rugi. Jadi kalau melakukan sesuatu maka ini keuntungannya dan jika tidak melakukan maka ini kerugiannya. Sedangkan prilaku yang datang dari hati lalu diterjemahkan oleh anggota tubuh kita maka akan didapatkan perilaku yang alami, apa adanya, dan tidak dibuat-buat. Prilaku yang dibuat-buat akan kelihatan di wajahnya. Hal ini disebabkan oleh ktidakseimbangan antara hati dan rasio, hati dan pertimbangan akal. Kewibawaan bisa dihasilkan dari proses melakukan tindakan yang mengedepankan kata hati. Jangan hanya menggunakan pertimbangan rasio semata.

Kewibawaan yang dibuat-buat akan menghasilkan perilaku yang tidak produktif. Harus disadari bahwa prilaku imitasi atas kewibawaan itu suatu ketika akan berubah menjadi malapetaka. Hal itu terjadi di kala terjadi kemarahan. Orang yang baik dalam ucapan dan tindakannya itu akan bisa dilihat di kala sedang menghadapi masalah dari orang lain yang membulinya atau merusak nama baiknya. Ada orang yang bisa memenej dirinya di dalam kemarahannya dan ada yang tidak mampu memenejnya. Orang yang ucapan dan tindakannya mengandung kebaikan, akan dapat mengembalikan ucapan dan tindakannya sebagai bagian dari takdir Allah SWT. ada rencana Allah yang akan berlaku bagi dirinya. Jadi tidak merahi atas orang yang melakukannya. Jika perlu justru orang itu akan dinasehatinya. Di dalam buku saya, Friendly Leadership (2018), saya nyatakan jangan marah di depan banyak orang. Jika marah lakukan secara tersendiri. Di ujung akhir kemarahan itu nyatakan mohon maaf.

Tertawa adalah ekspresi rasa senang atau bahagia. Orang tertawa, apalagi tertawa lepas, dipastikan ada sesuatu, bisa cerita lelucon, bisa cerita tentang keberhasilan atau kesuksesan dan cerita yang membuat bahagia, sehingga membuat seseorang tertawa. Baik dengan suara keras atau hanya tersenyum. Yang jelas bahwa tertawa merupakan indikasi akan hati kita yang senang dan berbunga-bunga.

Alqur’an dalam Surat Al Furqan: 63 bahwa: “Adapun hamba-hamba Ar Rahman itu adalah orang-orang yang berjalan dimuka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina) mereka mengucapkan salam”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Aiisyan RA., berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW tertawa terbahak-bahak sampai terlihat langit-langit mulutnya. Beliau hanya tersenyum”. Hadits riwayat Mutafaq alaih.

Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW, kiranya dapat dijelaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama, kesombongan adalah perilaku setan. Makhluk Tuhan yang berlabel setan adalah ciptaan Allah SWT yang sangat sombong. Saat diminta untuk patuh kepada Tuhan melalui instrumen bersujud kepada Nabi Adam AS., maka setan menolaknya. Setan salah di dalam mengunterpretasikan atas kata sujud yang dikiranya sebagai bentuk penyembahan, sehingga tidak dilakukannya. Dia membangkang atas perintah Allah SWT, sehingga kemudian dikutuknya karena kesombongannya itu. Di dalam penafsiran setan, seharusnya Adam AS yang bersujud kepadanya, karena setan diciptakan dari api murni, sedangkan Adam AS diciptakan dari tanah. Asal-usul lalu menjadi faktor penyebab keengganan setan untuk tunduk kepada Nabi Adam. Kesombongan terbesar dan kekafiran terbesar di dalam peristiwa ini adalah di kala hamba Allah diperintah lalu mengingkarinya. Inilah yang bisa dinyatakan sebagai kafir hakiki. Kafir yang disadari. Sementara itu juga ada kafir yang tidak disadari. Kafir yang tidak disengaja.

Kedua, Allah SWT menghendaki agar manusia harus berada di dalam realitas rendah hati. Seseorang yang memiliki kemampuan untuk menundukkan egonya atau memenej nafsunya menuju kepada nafsul muthmainnah. Banyak orang yang lebih mengedepankan egonya. Ingin berkuasa, ingin kaya, ingin jabatan dan ingin kemewahan dan melalaikan bahwa ada proses hidup yang harus dilalui untuk berkuasa, berharta dan berkemewahan. Proses itulah yang akan menentukan apakah seseorang bisa mencapai apa yang diinginkannya atau tidak. Di dalam proses itulah ada syarat yang tidak ditinggalkan adalah perilaku apa adanya yang sesuai dengan perintah Allah SWT. di antaranya adalah ketenangan jiwa dan tawadlu’ atau rendah hati di dalam kehidupan.

Ketiga, Rasulullah SAW juga meminta kepada kita agar tidak mengekspresikan kesenangan secara berlebihan, misalnya tertawa yang berlebihan. Jika mengikuti Rasulullah, maka Beliau hanya tersenyum saja dalam menghadapi sesuatu yang menyenangkan hati. Tidak berlebihan di dalam melakukannya. Tentu saja bukan larangan yang mengandung makna dilaknat akan tetapi merupakan penghargaan atas etika. Ada etika senang dan ada etika sedih. Janganlah berlebihan dalam ekspresi kesenangan dan jangan berlebihan dalam kesusahan. Sewajarnya saja. Islam memang ajaran agama yang memberikan peluang menjaga keseimbangan, termasuk dalam senang dan susah. Sesuatu yang berlebihan itu akan menyebabkan kelalaian bersyukur kepada Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMBERI NASEHAT DAN MELAKUKANNYA SECARA SIMPEL

MEMBERI NASEHAT DAN MELAKUKANNYA SECARA SIMPEL

Prof. Dr. Nur Syam, MSI

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Memberi nasehat merupakan keharusan bagi sesama umat manusia. Nasehat tersebut bisa terkait dengan masalah kehidupan secara umum ataukah nasehat yang terkait dengan keagamaan. Manusia memiliki kecenderungan untuk memberi dan menerima nasehat. Jika ada manusia yang tidak mau menerima nasehat, maka sesungguhnya hatinya telah bebal karena menganggap bahwa dirinya yang paling benar dan  yang paling baik. Perasaan seperti ini yang bisa mengarahkan seseorang untuk tergelincir di dalam jurang kehidupan yang bermasalah dan tidak kunjung selesai.

Sesungguhnya hati manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan kebaikan. Di dalam kedalaman hati seseorang terdapat dorongan untuk melakukan kebaikan. Jiwa kebaikan sebenarnya ada pada semua manusia. Akan tetapi jiwa kebaikan tersebut terkadang tertutupi oleh faktor eksternal yang tidak mampu dikendalikan. Makanya, faktor eksternal tersebut harus dimenej sehingga seseorang bisa menyeimbangkan antara tekanan eksternal dan dorongan internal yang berkaitan dengan jiwa kebaikan.

Ada sebuah contoh yang datang dari Nabiyullah Ibrahim AS. Sebagai seorang Nabi, maka Nabi Ibrahim pun mendapatkan ujian di dalam kehidupannya. Menurut riwayat bahwa Nabi Ibrahim AS tidak memiliki putra sampai kemudian menikahi putri dari Mesir, Hajar, yang kemudian ditempatkan di dekat Makkah. Menginjak remaja, Ismail putranya diminta oleh Allah untuk dikorbankan. Ujian kepatuhan yang sangat berat, akan tetapi jiwa Nabi Ibrahim membenarkan perintah tersebut. Jiwa kenabiannya sungguh luar biasa, akan tetapi datanglah setan sebagai penggoda, godaan eksternal ini dapat dilampauinya, sehingga ujian tersebut dapat ditunaikan.  Allah memberikan reward atas kepatuhan tersebut dengan mengganti Ismail yang dikorbankan dengan seekor domba dari Surga. Jadi Nabi Ibrahim berhasil. Jiwa kebaikan dapat mengalahkan tekanan eksternal, godaan setan.

Adakah nasehat di dalam peristiwa ini? Kita meyakini pasti ada nasehat. Nasehat itu datang dari putranya, Ismail, dan ibundanya, Hajar. Keduanya memberikan support yang hebat mendukung agar Nabi Ibrahim melaksanakan upacara keagamaan dimaksud. Andaikan keluarganya menolak, maka dunia keyakinan kita akan sedikit terusik. Nabi Ibrahim AS mengorbankan putranya tanpa persetujuan anak dan istrinya. Oleh karena itu, nasehat sungguh diperlukan oleh manusia, kapan dan di manapun.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadus Shalihin menukil ayat Alquran dan hadits Nabi SAW tentang memberikan nasehat dan pentingnya nasehat dimaksud. Allah SWT di dalam Surat An Nahl: 125 menyatakan: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mau’idhoh yang baik”.

Hadits Nabi sebagaimana diceritakan oleh Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah RA., berkata: “dahulu ibnu Mas’ud RA., biasa menasehati kami setiap hari kamis. Lalu seorang laki-laki berkata kepadanya: “wahai Abu Abdurrahman. Sungguh aku sangat menginginkan engkau menasehati kami setiap hari”. Dia pun berkata: “sesungguhnya yang mencegahku untuk melakukan hal itu adalah karena aku tidak ingin membuat kalian bosan, sehingga aku memilih untuk menyampaikan nasehat kepada kalian secara berkala, sebagaimana Nabi SAW dahulu menyampaikan kepada kami dengan cara demikian karena khawatir kami merasa bosan”. Hadits Mutafaq alaih.

Dari ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW serta penjelasan rasional sosiologis dimaksud, maka dapat dijelaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama, tidak ada manusia yang benar 100 persen dan salah 100 persen. Dipastikan ada sisi kebaikan dan kejelekan meskipun sedikit. Hanya nabi dan rasul yang memiliki wahyu dari Allah saja yang bisa benar 100 persen. Meskipun demikian juga masih terdapat Nabi yang melakukan kekhilafan, misalnya Nabi Yunus, yang meninggalkan umatnya. Akhirnya mendapatkan pelajaran ditelan ikan yang besar, di laut, tetapi mendapatkan pertolongan Allah SWT. Cerita tentang malaikat adalah cerita tentang kepatuhan mutlak kepada Allah. Akan tetapi di kala ada sedikit perasaan kehebatan atas makhluk Tuhan lainnya, manusia, maka Malaikat Harut dan Marut diturunkan ke bumi dan diberikan sifat kemanusiaan. Akhirnya keduanya melakukan kesalahan sebagaimana manusia pada umumnya, dan hingga akhir zaman menjalani hukuman atas kesalahannya.

Kedua, sesungguhnya Allah itu Maha Rahman dan Rahim. Oleh karena itu, Allah memberikan piranti untuk melakukan pertobatan. Manusia diberinya kesempatan untuk bertaubat atas segala kekeliruannya. Untuk bertobat terkadang memerlukan nasehat orang lain. Bisa juga taubat itu datang dari kesadarannya sendiri, akan tetapi bisa juga nasehat menjadi instrumennya. Di antaranya adalah nasehat melalui ahli agama dalam ceramah lesan atau tulisan. Bisa juga nasehat itu datang dari membaca artikel, bahkan dari membaca pesan di media sosial atau mendengar unggahan di media sosial. Ada banyak piranti yang dapat dijadikan sebagai wahana untuk melakukan pertaubatan. Itulah sebabnya sangat penting untuk mendengarkan nasehat, membaca nasehat dan juga merenungkan atas kelemahan manusia dibandingkan dengan kekuasaan Allah yang Maha Kuasa.

Ketiga,  Islam sangat menekankan kepada kepenasehatan. Bahkan Rasulullah SAW bersabda yang intinya bahwa agama adalah nasehat untuk Allah, untuk rasulnya dan untuk umat manusia. Bukan dimaknai Allah membutuhkan nasehat akan tetapi agama itu isinya adalah nasehat tentang kebaikan dari Allah, kebaikan dari Rasul yang semuanya diperlukan untuk umat manusia. Kata lillahi artinya adalah nasehat agamawi sebagaimana diajarkan oleh Allah. Kata lirasulihi artinya nasehat yang sesuai dengan ajaran rasul, dan li aimmatil muslimin artinya bahwa nasehat yang sesuai dengan ajaran Allah dan rasulnya itu untuk seluruh umat Islam.

Alangkah indahnya makna sabda Nabi Muhammad SAW ini. Nasehat sesungguhnya adalah cara untuk saling mengingatkan. Watawa shaubil haq, watawa shaubis shabri. Saling tolong menolong hakikatnya bukan hanya menolong dengan harta dan kekayaan,  akan tetapi menolong di dalam kebaikan untuk selalu berada di jalan Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENDENGAR DENGAN BAIK ATAS UCAPAN YANG BAIK

MENDENGAR DENGAN BAIK ATAS UCAPAN YANG BAIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Mendengar adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Mendengar adalah aktivitas pasif yang terkadang membuat orang bosan dan enggan. Apalagi yang didengarkan itu adalah hal yang biasa saja, dan tidak merupakan hal baru yang penting untuk dipahami. Makanya, terkadang ada orang yang bicara dan orang lain  sibuk sendiri dengan apa yang dibicarakan.

Mendengar memang melibatkan organ telinga. Yang di dalam banyak hal terkadang tidak bisa mendengar sebab suasana yang riuh di sekitarnya. Makanya, di dalam hadits Nabi Muhammad SAW dinyatakan di kala Beliau akan berbicara pada jamaah, maka dimintanya untuk mendengarkannya dengan cara diam. Meskipun tidak selalu diam itu melambangkan seseorang mendengar, akan tetapi inilah ukuran minimal keterlibatan seseorang di dalam suatu aktivitas mendengarkan. Bisa saja terjadi orangnya ada di dalam suatu momen kebersamaan,  mendengarkan orang berbicara, akan tetapi pikiran dan hatinya tidak berada di tempat itu.

Menjadi pendengar itu lebih sulit dibandingkan yang berbicara. Mendengar itu membutuhkan organ telinga, dan kemudian mengirimnya ke otak dan kemudian otak akan mengirimkannya ke sensory storage atau gudang inderawi, sehingga apa yang didengarnya itu akan disimpan atau tidak. Informasi yang penting akan disimpan di memory otak dan yang tidak penting akan dibuang. Ada peristiwa yang memasuki architype atau peristiwa yang sangat berkesan dan akan disimpan sangat mendalam, sehingga tanpa diminta terkadang terukir kembali peristiwa tersebut. Tetapi juga ada yang hanya numpang lewat. Di dalam bahasa sehari-hari dinyatakan: “masuk telinga kanan keluar telinga kiri”.

Mendengar ternyata ada adabnya atau ada etikanya. Mendengar merupakan salah bagian dari relasi antar manusia, yang terkait dengan etika pergaulan. Di dalam pergaulan, maka seseorang akan dinilai baik atau tidak tergantung pada etika mendengar dan etika berbicara. Ada orang yang suka mendengar dan ada orang yang suka acuh atas pembicaraan seseorang. Bahkan ada orang yang lebih dominan di dalam bicara tetapi lemah dalam upaya untuk mendengar. Dialah sumber pembicaraan dan tidak memberikan ruang bagi orang lain untuk terlibat dalam relasi timbal balik. Orang yang seperti ini terkadang dijauhi oleh orang lain. Perhatikan kapan ada waktu berbicara dan kapan ada waktu untuk mendengar. Jaga keseimbangan.

Syekh Imam An Nawawi menukil hadits, sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah, agar mendengarkan. Hadits yang diceritakan oleh Jarir bin Abdullah, RA., berkata:  Rasulullah berpesan kepadaku ketika Haji Wada’, mintalah supaya orang-orang diam. Kemudian Beliau bersabda: “janganlah kalian  kembali kepada kekafiran sepeninggalku, lalu kalian saling bunuh di antara kalian”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Syekh Imam An Nawawi memberikan judul yang panjang di dalam Kitab Riyadhus Shalihin pada Bab 90 dengan judul “Mendengarkan Ucapan Teman Duduk Yang Tidak Haram Dan Supaya Seorang Alim Atau Pemberi Nasehat Meminta Orang Yang Hadir Di Majelisnya Untuk Mendengarkan Dengan Baik”. Dari judul yang panjang tersebut kemudian saya persingkat tanpa bertujuan mereduksi maknanya, yaitu “Mendengar Dengan Baik Atas Ucapan Yang Baik”.

Dari penjelasan sosiologis dan Sabda Nabi Muhammad SAW, kiranya dapat digarisbawahi atas tiga hal, yaitu:

Pertama, sebagai pembicara di dalam suatu majelis, maka pembicara tersebut diberikan peluang oleh ajaran Islam untuk mengingatkan agar para jamaah di majelisnya mendengarkan atas yang diungkapkannya. Misalnya seorang da’i atau dosen atau guru, tentu boleh untuk mengingatkan atas para jamaah, mahasiswa atau siswa agar menyimak pada yang disampaikannya. Tidak diperkenankan di kala seorang da’i, dosen atau guru atau pimpinan rapat berbicara lalu ada yang mengabaikannya. Hal tersebut memasuki kawasan tidak etis atau tidak sopan. Jadi ada etika berbicara dan ada etika untuk mendengar. Jangan semua menjadi pembicara. Lebih baik seseorang usul jika ada sesuatu yang dianggapnya penting untuk dibicarakan. Diam kita menunjukkan atensi kita.

Kedua, di dalam persahabatan, maka upaya untuk saling mendengarkan merupakan keutamaan. Hal tersebut dilakukan agar tidak terdapat perasaan  dilecehkan atau diremehkan. Apapun yang dibicarakan, suka atau tidak suka, maka dengarkanlah. Jika kita bosan dengan yang diceritakan, maka kita dapat  memberikan respon dengan cara yang sangat bijaksana. Tidak meledek atau melecehkannya. Tetapi mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dengan cara yang menarik. Jika kita berhadapan dengan kawan, maka tentu kita tahu bagaimana dan apa yang menjadi kesukaannya. Dari situlah kita saling membicarakan. Jadi ada yang menjadi pendengar dan ada yang jadi pembicara.

Yang paling susah sebenarnya untuk mengingatkan orang yang memiliki status sosial dan otoritas kekuasaan lebih luas. Terkadang mereka tidak mendengarkannya. Yang bisa mengingatkan adalah orang yang sejajar. Inilah problem manusia yang paling banyak. Seseorang hanya mau mendengarkan apa yang datang dari orang dekatnya. Yang lain minggir. Inilah kebanyakan kesalahan seseorang yang sedang berkuasa. Tidak ada orang lain yang lebih hebat, lebih pintar dan lebih berkuasa, sehingga banyak mengabaikan atas usulan yang baik yang diusulkan kepadanya. Sense untuk mendengarnya sangat kecil bahkan tidak ada. Hanya pikirannya sendiri yang benar. Inilah awal kesalahan yang menyesakkan.

Ketiga, Allah SWT mengingatkan agar kita mendengar dan memahami. Janganlah menjadi orang yang memiliki telinga tetapi tidak mendengar kebaikan. Memiliki mata tetapi tidak dipakai untuk melihat kebaikan. Memiliki hati tetapi tidak mendengarkan kata hatinya. Jadilah orang yang selalu menggunakan pancaindra untuk kepentingan diri dan juga kepentingan lainnya. Jika kita menjadi pemimpin, maka kata kunci mendasarnya adalah gunakan mata, telinga dan hati untuk memahami dunia di luar kita, sehingga kita akan dapat merumuskan kebijakan yang memihak kepada kepentingan mereka.

Wallahu a’lam bi al shawb.

ANJURAN MEMPERJELAS UCAPAN (89)

ANJURAN MEMPERJELAS UCAPAN (89)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril disebut sebagai kalamullah atau pernyataan Allah atau perkataan Allah. Pernyataan Allah tersebut termaktub di dalam Kitab Suci Alqur’an yang menjadi sumber dari segala sumber hukum, dan terkait dengan kehidupan manusia secara keseluruhan. Alqur’an merupakan Kitab Suci yang sangat lengkap dan kaya ajaran tentang kehidupan manusia, baik masa kini atau di dunia maupun kehidupan yang akan datang atau  alam kubur dan akherat.

Lalu, terdapat pernyataan atau perkataan Rasulullah SAW, perbuatan dan ketetapan yang disampaikan Rasulullah SAW, yang kemudian disebut sebagai hadits. Berisi penjelasan-penjelasan rinci dari agama Islam yang sumber utamanya adalah Alqur’an. Contohnya adalah shalat. Diwajibkan di dalam Alqur’an dan tata cara untuk mengamalkannya diberikan oleh Rasulullah SAW melalui hadits-haditsnya. Bukan sebagai pernyataan biasa dari manusia, akan tetapi merupakan penjelasan yang sejelas-jelasnya tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh umat Islam. Apa yang dinyatakan Nabi SAW dan apa yang dilakukan Nabi SAW adalah wahyu Allah. Di dalam Alqur’an dijelaskan: “wa ma yantiqu ‘anil hawa in huwa illa wahyuy yuha”. Yang artinya secara general: “dan tidaklah berbicara dengan hawa nafsunya melainkan  wahyu kepadanya”.

Ada juga pernyataan ulama, ada yang ahli hadits, ahli tafsir, ahli fiqih, ahli tauhid atau ahli ilmu kalam, ahli ilmu agama atau orang-orang yang mutafaqquh fiddin yang pernyataannya dapat melahirkan berbagai macam ilmu keislaman. Mereka menafsirkan ajaran agama, sehingga bisa bervariasi pernyataannya. Bukan benar atau salah, akan tetapi para ahli akan menafsirkan sesuai dengan apa yang diyakininya. Kebenarannya bisa bersifat dzanniyah bukan qat’iyah. Yang qat’iyah hanyalah pernyataan Allah di dalam Alqur’an dan hadits-hadits Nabi SAW yang disepakati keabsahannya.

Di dalam konteks kehidupan yang juga terdapat berbagai macam penggolongan sosial, strata sosial, dan status sosial yang berbeda-beda, maka pernyataan itu harus memenuhi standar yang jelas. Melalui kejelasan tersebut, maka orang yang menjadi lawan bicara atau yang mendengarkannya atau yang terlibat di dalam pembicaraan itu akan dapat memahami apa sesungguhnya pesan di dalam ucapan tersebut. Jika kita bicara, maka hendaknya diperhatikan siapa lawan bicara kita. Sesuaikan pembicaraan tersebut dengan kapasitas dan kemampuannya. Biqadri ‘uqulihim. Sesuai dengan akalnya. Dengan cara begitu, maka apa yang menjadi  maksud di dalam pembicaraan akan dapat disampaikan dengan jelas.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, pada Bab 89 menjelaskan tentang “Anjuran Memperjelas Ucapan Kepada Lawan Bicara Dan Mengulanginya Jika Tidak Dapat Dipahami Kecuali Dengan Cara Itu”. Karena judulnya panjang, maka saya perpendek dengan tidak mengurangi makna yang terkandung di dalamnya, yaitu: “Anjuran Memperjelas Ucapan”. Syekh Imam An Nawawi menukil hadits Nabi SAW yang terkait dengan maksud tersebut.

Diriwayatkan oleh  Anas RA., bahwa Nabi SAW., biasa bila mengucapkan kalimat, Beliau mengulanginya tiga kali supaya dapat dipahami, dan bila Beliau datang ke suatu kaum lalu mengucapkan salam, Beliau mengucapkan salam kepada mereka tiga kali”. Hadits Riwayat Imam Bukhari. Hadits dari Aisyah, RA berkata: “Perkataan Rasulullah SAW adalah perkataan yang jelas (rinci), dapat dipahami oleh setiap  orang yang mendengarkannya”. Hadits Imam Abu Dawud.

Dari penjelasan aqliyah  dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka saya jelaskan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, di dalam Islam terdapat prinsip-prinsip dalam komunikasi sosial. Ada enam prinsip yaitu: qaulan layyinan, qaulan sadidan, qaulan kariman, qaulan balighan, qaulan maisuran dan qaulan ma’rufan. Perkataan yang lemah lembut, perkataan yang benar, perkataan yang memuliakan,  perkataan yang jelas, perkataan yang mudah dipahami, dan perkataan yang sopan. Islam sangat menganjurkan agar seseorang menggunakan enam prinsip ini agar apa yang disampaikan itu bisa dipahami oleh orang lain. Janganlah berkata yang abstrak atau berkata yang sulit dipahami oleh orang lain. Berkatalah dengan apa yang menjadi kemampuan orang untuk memahaminya. Berkatalah dengan sesuatu yang benar. Jangan berbohong, jangan ngibul, jangan berkata yang tidak jujur, berkata tentang sesuatu yang tidak jelas. Berkatalah yang membuat orang senang. Orang menjadi bahagia. Berkatalah dengan pernyataan yang memuliakan manusia.

Kedua, sesungguhnya di dalam setiap suku, etnis dan penggolongan sosial terdapat kearifan lokal yang mengajarkan agar kita berbuat baik, khususnya di dalam pembicaraan. Misalnya di dalam tradisi Jawa terdapat ungkapan “ajining diri saka lati”. Artinya, seseorang bisa dianggap baik perilakunya itu diindikasikan dari apa yang dibicarakan atau bagaimana cara bicaranya. Orang Jawa itu halus bicaranya, artinya di dalam menyampaikan sesuatu itu dengan cara yang halus. Jika ada orang Jawa yang berkata dengan  keras dan membuat orang lain merasa dihinakan, maka muncul pernyataan “ora Jawani”, atau belum menjadi orang Jawa. Orang Batak yang gaya bicaranya keras juga berlaku prinsip tidak melukai hati lawan bicaranya. Jika ada Orang Batak berkata dengan logat yang keras, maka orang akan tahu bahwa “dia memang Orang Batak”.  Jadi bukan dalam konteks bicaranya itu lembut atau keras, akan tetapi makna yang dikandung di dalam pembicaraannya.

Ketiga, kita hidup di era media sosial yang powerfull. Di sini sesungguhnya orang akan dinilai dari “ajining diri saka lati”. Ungkapan di media sosial akan dapat menggambarkan tentang harga diri seseorang. Meskipun tidak saling terhubung secara langsung atau face to face relationship, akan tetapi pernyataan di media sosial itu jauh lebih besar pengaruhnya. Di sini tidak hanya orang per orang, akan tetapi sejumlah orang. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati agar apa yang dibicarakan di dalam media sosial akan bermanfaat. Jangan saling mengumpat, jangan menyalahkan orang apalagi pengamalan beragama, jangan menghina dan jangan merendahkan orang dan sebagainya. Pergunakan kearifan lokal sebagai tolok ukur pernyataan diri.

Marilah kita jadikan media sosial itu sebagai literasi kebaikan dengan pernyataan yang berprinsip kebaikan. Tidak ada kebaikan yang didapatkan dari ucapan yang dilakukan dengan tidak mengindahkan kebaikan itu sendiri. Tujuan yang baik, pasti disampaikan dengan cara dan pesan yang baik.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SUNNAH BERBICARA BAIK DAN WAJAH MENYENANGKAN (88)

SUNNAH BERBICARA BAIK DAN WAJAH MENYENANGKAN (88)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir rahim.

Mulutmu harimaumu. Artinya, mulut itu sangat menentukan di dalam relasi sosial. Mulut adalah organ penting di dalam kehidupan. Selamat orang karena mulut, dan celaka orang karena mulut. Makanya mulut itu menentukan terhadap kehidupan seseorang. Jika ingin selamat,  maka harus berkata yang baik dan jika tidak ingin selamat maka silahkan berkata yang tidak baik.

Islam itu menganjurkan di dalam relasi sosial, seseorang menggunakan kata-kata yang baik. Ada beberapa prinsip yang harus digunakan yaitu qaulan layyinan atau berkata dengan penuh kelembutan, berkata dengan qaulan kariman atau berkata dengan penuh penghormatan, lalu qaulan sadidan berkata yang jelas, berkata dengan qaulan maysuran atau berkata dengan penuh kemudahan dan kebaikan, dan qaulan balighan  atau berkata tegas, apa adanya. Prinsip ini yang seharusnya menjadi pedoman di dalam membangun relasi sosial yang baik dengan sesama manusia.

Islam sangat menganjurkan agar seseorang menjaga perkataannya. Di dalam filsafat Jawa dinyatakan “ajining diri saka pribadi, ajining raga saka busana,  lan ajining pribadi saka lati”.  Jika kita ingin dihargai, maka kita harus menjaga diri kita agar berkepribadian yang baik. Jika kita ingin dihargai,  maka cara kita berpakaian harus baik, dan jika kita ingin dimuliakan maka kita harus menjaga mulut. Pribadi, lesan dan pakaian dapat menjadi ukuran kemuliaan seseorang.

Jika kita rasakan betapa relevansinya filsafat Jawa ini dengan nilai-nilai di dalam ajaran Islam. Islam begitu memperhatikan dimensi penampilan diri seseorang. Islam sangat menghargai nilai kebersihan, baik kebersihan badan, pakaian dan lingkungan. Islam sangat menghargai prilaku baik yang ditampilkan oleh seseorang. Kemuliaan orang dapat diukur dari kepribadiannya. Demikian pula Islam sangat menghargai atas perkataan dan pernyataan yang baik yang penuh dengan rasa kemanusiaan.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, menukil beberapa ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Di dalam Surat Al Hijr: 88, Allah berfirman: “…dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. Kemudian di Surat yang lain, Ali Imran: 159, bahwa: “…sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…”.

Hadits Nabi Muhammad SAW, menjelaskan sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Adi bin Hatim RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan sebelah kurma. Barang siapa yang tidak mendapatkannya, maka dengan kalimat yang baik”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Lalu juga terdapat hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda: “kalimat yang baik itu sedekah”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Juga terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar RA, berkata Rasulullah bersabda kepadaku: “janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, walau hanya bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri”. Hadits riwayat Imam Muslim.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat digambarkan atas tiga hal, yaitu:

Pertama, kita sedang hidup di era yang tidak baik-baik saja. Era media sosial yang serba boleh atau permissiveness. Di era ini, media sosial adalah panglima. Media sosial bisa menjadi kekuatan keempat, setelah kekuatan politik, kekuatan persenjataan dan kekuatan pemerintah. Bahkan dengan kekuatannya, media sosial dapat memengaruhi atas kekuatan politik dan pemerintahan. Media sosial itu begitu digdaya, powerfull. Melalui algoritma, maka media sosial dapat memengaruhi keputusan politik.

Apa saja bisa diunggah di media sosial. Ada yang positif dan ada yang negatif. Di media sosial itu semua serba ada. Ada konten kreatif keagamaan, ada konten kreatif hiburan, ada konten kreatif pembelajaran, ada konten kreatif yang menyeru untuk melakukan tindakan yang buruk dan ada juga yang baik. Misalnya di Youtube atau instagram, maka ada banyak konten yang tidak lacak, yang seronok atau tayangan vulgar pornografi dan sebagainya. Di sinilah sesungguhnya orang harus dapat memilah pesan-pesan yang baik, sehingga akan berpengaruh atas kebaikan. Islam sangat menganjurkan agar kita memelihara kebaikan dan membuang jauh kemaksiatan.

Kedua, ada banyak kebaikan yang dapat dilakukan oleh umat Islam, mulai dari tersenyum untuk membahagiakan orang lain, membuang benda di jalan yang dapat mencelakakan orang sampai bersedekah. Sedemikian banyak kebaikan yang  akan dapat mengantarkannya pada keridlaan Allah SWT. Selama di dalam melakukannya  untuk keridlaan Allah, maka dipastikan bahwa Allah akan memberikan keridlaannya. Sebagai umat Islam kita meyakini bahwa selalu ada kepastian dibalik ketidakpastian, dan ada ketidakpastian dibalik kepastian. Yang pasti bahwa Allah akan membalas setiap kebaikan yang bisa dilakukan oleh hambanya. Bersedekah tidak harus dengan materi,  akan tetapi seseorang bisa bersedekah dengan senyuman. Idkhalus surur shadaqah. Menyenangkan orang adalah sedekah.

Ketiga, umat Islam harus bisa menjaga relasi sosial yang baik. Dan sebagaimana sabda Rasulullah SAW, maka jika kita tidak mampu untuk berbicara baik dalam relasi sosial karena ada sebab-sebab tertentu, maka Rasulullah SAW menganjurkan agar seseorang diam. Jika diperkirakan bahwa seseorang tidak bisa menjaga lesannya dari berkata yang baik, maka yang lebih utama adalah diam.. Rasulullah menegaskan agar umat Islam berkata yang baik atau lebih baik diam. Fal yaqul khairan au liyasmuth. Maka hendaknya berkata yang baik atau lebih baik diam. Diam adalah emas.

Dewasa ini, orang tidak hanya berbicara dengan lesannya, akan tetapi juga berbicara dengan coretan kata-katanya. Di sinilah terkadang terjadi paradoks. Lesannya berkata baik tetapi tulisannya menggambarkan ketidakbaikan. Oleh karena itu marilah kita jaga agar ada kesesuaian antara apa yang kita ucapkan dan apa yang kita ungkapkan dalam tulisan. Jangan sampai label kemuliaan diri dari mulut berubah menjadi ketidakmuliaan karena tulisan kita di media sosial.

Wallahu a’lam bi al shawab.