Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

AMBIL MAKANAN TERDEKAT DAN  AGAR MAKAN DENGAN SANTUN (104)

AMBIL MAKANAN TERDEKAT DAN  AGAR MAKAN DENGAN SANTUN (104)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Kita semua rasanya pernah terlibat di dalam acara jamuan makan dalam jumlah terbatas atau dalam jumlah yang banyak. Kita dipastikan akan berada di dalam meja makan dengan berbagai makanan yang disediakan. Seperti biasanya, di dalam jamuan makanan tersebut tentu ada variasi makanan, baik lauk pauk maupun sayurannya. Dipastikan bahwa variasi makanan tersebut berada di dalam satu meja. Dengan variasi makanan tersebut,  maka jenis makanannya akan tersebar dalam satu meja atau beberapa meja.

Jenis makanan tersebut misalnya ada gulai,  rendang, kare,  sate,  gudeg, sop buntut, ayam goreng, ayam pop, ayam balado, ayam sambalan, ayam panggang, ayam bakar, gulai kepada ikan, dan sebagainya. Inilah  jenis makanan yang saya tahu. Makanan yang bernuansa Eropa, Amerika, Jepang atau China dan Korea saya tidak paham.  Makanan tersebut berada di dalam satu meja atau beberapa meja. Makanya, seseorang bisa hanya menghadapi makanan dalam satu atau dua jenis saja. Makanan yang lain berada di tempat yang lain. Jadi, kita bisa memilih jenis makanan yang kita sukai,  tetapi berada di tempat yang jauh dari tempat duduk kita.

Sebagaimana pengalaman yang kita rasakan , maka ada seseorang yang mengambil makanan yang jauh dari tempat duduk kita. Mana yang kita sukai dipastikan akan diambilnya. Bahkan terkadang dengan tangan yang menjulur kesana kemari. Pokoknya mana yang suka di situ diambil. Di sinilah problem yang kita hadapi. Perilaku seperti ini etis atau tidak, boleh atau tidak, atau ada cara lain yang bisa dilakukan.

Syekh Imam An Nawawi menukil hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Umar bin Abi Salamah RA., berkata: “dulu aku seorang anak yang berada dalam pengasuhan Rasulullah SAW (saat makan bersama) tanganku bergerak dan menjulur ke sisi piring. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadaku: “Wahai anak, sebutlah nama Allah SAW, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang dekat denganmu”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih.

Hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Salamah bin Akwa’ RA., bahwa ada seseorang makan di hadapan Rasulullah  SAW dengan tangan kirinya, maka Beliau bersabda: Makanlah dengan tangan kananmu,” Orang itu berkata: “aku tidak bisa’. Beliau Bersabda: “Semoga kamu tidak bisa”. Tidak ada yang menghalanginya (makan dengan tangan kanannya) melainkan rasa kesombongan”. Salamah berkata: “maka ia tidak dapat mengangkat tangannya ke mulutnya”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih.

Berdasarkan atas hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dan juga sedikit penjelasan sosiologis, maka dapat dijelaskan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam merupakan ajaran agama yang sangat komplit. Yang diatur tidak hanya ibadah kepada Tuhan semata, akan tetapi juga mengatur tentang segala sesuatu, misalnya makan dan minum. Tidak hanya kehalalannya akan tetapi juga kethayyibannya. Tidak cukup makanan dan minuman halal tetapi juga makanan yang thayyib atau bermanfaat. Makanan daging kambing, sapi, kerbau, ayam dan lainnya yang disembelih dengan halal atau secara Islami dipastikan halal. Bahan-bahan makanan tersebut juga dimasak dengan cara yan benar berdasar atas bahan-bahan lain yang halal, akan tetapi itu saja belum cukup. Di dalam makanan tersebut ada dimensi kemanfaatannya. Orang yang terkena diabet, misalnya, maka harus menahan diri dari makanan atau minuman yang banyak mengandung unsur gula, sebab akan menyebabkan tingginya gula darah. Orang yang terkena stroke juga harus menjaga makanannya, tidak sekedar halal tetapi juga thayyib. Di sinilah Islam memberikan panduan yang lengkap dan jika dipedomani tentu akan membawa kepada kebaikan atau kesehatan.

Kedua, Islam bahkan mengajarkan tentang cara makan dan penataan makanan atau table manner. Tidak menempatkan makanan dalam jamuan makan begitu saja, yang terpenting tersaji. Akan tetapi Islam sedemikian rinci untuk mengatur bagaimana cara penataan dan cara makan. Islam mengajarkan agar makan dengan cara yang benar, misalnya dengan memperhatikan bagaimana cara mengambil makanan. Tidak asal ambil, akan tetapi ada etikanya. Ada sopan santunnya. Nabi Muhammad SAW melarang kita mengambil makanan yang jauh dari tempat duduk kita dengan cara tangan kita itu menjulur kesana-kemari. Makanlah yang berada di dekat kita. Itu pesan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya. Kita bisa bayangkan jika kita melakukannya, maka akan terdapat keruwetan di dalam mengambil makanan. Misalnya di meja ada gulai otak yang tempatnya agak jauh dari tempat duduk kita, lalu tangan kita harus meraihnya dengan melampaui piring orang lain. Alangkah tidak sopannya. Maka anjuran Nabi SAW agar kita ambil makanan yang terdekat kita itu sangatlah rasional. Andaikan kita menginginkannya, maka bisa dipindahkan makanan itu ke dekat kita dan kita memngambilnya, kemudian setelah itu dikembalikan oleh kawan kita yang sesama makan. Ini merupakan salah satu cara agar kita dapat juga menikmati makanan yang disajikan tanpa dengan cara tangan kita itu berkelebatan di sana-sini.

Ketiga, Islam merupakan agama yang secara konsisten mengajarkan sopan santun di dalam makan dan minum. Kesopanan merupakan prinsip ajaran Islam dalam segala corak kehidupan. Nabi SAW mengajarkan agar makan dengan tangan kanan bukan tangan kiri. Masing-masing memiliki fungsinya. Di dalam hadits di atas disebutkan: “makanlah dengan menyebut nama Allah SWT, makan dengan tangan kananmu dan jangan mengambil makanan yang jauh darimu.

Kita sekarang sedang berada di era pasar raya makanan dan minuman. Hampir seluruh Mall di sekitar kita terdaat foodcourt yang menjajakan aneka makanan, dari makan khas Indonesia, China, Jepang, Korea dan Makanan Barat lainnya. Semua serba ada. Oleh karena itu yang penting diperhatikan adalah apakah makanan tersebut makanan yang halal atau makanan yang sudah terdapat sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal atau BPJPH. Pastikan itu, karena makanan itu akan masuk ke dalam tubuh kita, yang akan menjadi asupan jasmani kita, tempat bersemayam jiwa dan roh kita. Makanan tersebut akan digunakan untuk beribadah dan membangun relasi sosial lainnya. Maka makanan halal merupakan kewajiban bagi kita untuk memilihnya. Dan kita sudah mengetahuinya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

JAMUAN MAKAN DAN KEHADIRAN ORANG YANG TAK DIUNDANG (103)

JAMUAN MAKAN DAN KEHADIRAN ORANG YANG TAK DIUNDANG (103)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillah al Rahman al Rahim.

Pasti banyak yang mengalami fenomena “tamu tidak diundang”. Di dalam jamuan makan atau di dalam resepsi pernikahan atau peristiwa lain yang serupa ternyata ada orang yang tidak diudang tetapi datang di dalam acara. Bukan hal yang aneh. Bisa saja terjadi. Namanya juga kehidupan yang mesti ada warna-warninya. Cuma yang problematik, jika persiapan untuk jamuan tersebut agak minimalis atau jumlahnya benar-benar dihitung sesuai dengan jumlah yang diundang. Tetapi terkadang ada keberkahan yang tidak diperkirakan.

Keberkahan itulah yang juga terkadang terjadi di dalam acara yang kita desain.

Para Nabi memiliki kisah tentang jamuan makan. Misalnya Nabi Ibrahim AS yang menjamu makanan dengan kualitas terbaik. Nabi Ibrahim AS adalah Nabi yang memberi contoh untuk menjamu tamu. Jadi, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW memberikan contoh tentang menjamu tamu, maka Nabi Ibrahim AS sudah melakukannya. Setelah Nabi Ibrahim AS menjawab tamunya dengan ucapan salam, maka Nabi Ibrahim AS tidak bertanya apakah tamu itu perlu dihidangkan makanan atau tidak, akan tetapi Nabi Ibrahim AS langsung memberikan makanan sebagai penghormatan atas tamunya. Disuguhkan oleh Nabi Ibrahim AS, seekor anak sapi yang sudah pantas untuk disembelih dan dagingnya dibakar untuk disajikan kepada tamunya. Yang disuguhkan adalah makanan yang istimewa, bukan sembarangan dan bahkan dihidangkannya sendiri. Nabi Ibrahim AS merupakan contoh seorang Nabi yang sangat menghormati atas tamunya.

Nabi Muhammad SAW sebagai pelanjut Agama Nabi Ibrahim yang hanif atau lurus, tentu juga sering memberikan jamuan makan. Suatu peristiwa yang menarik adalah di kala Perang Khandaq atau Perang Parit. Diceritakan bahwa umat Islam begitu semangat dalam menggali parit, sehingga melupakan makanan, akan tetapi lama kelamaan tentu badannya menjadi lemah. Rasul juga mengalami hal yang sama. Kelaparan. Makanya di perut Nabi Muhammad SAW diganjal dengan tiga batu untuk menahan lapar. Maka salah seorang sahabatnya, Jabir bin Abdullah, melihat hal tersebut. Maka Jabir meminta pamit kepada Rasulullah untuk pulang. Di rumah ternyata juga tidak tersedia makanan yang berlebih. Hanya ada anak kambing yang  kurus, dan beberapa gandum yang dapat dipakai untuk membuat roti. Tentu saja tidak cukup jika akan dipakai untuk menjamu makan seluruh umat Islam yang bekerja membuat parit. Rasulullah memerintahkan agar jangan membuka makanan itu sampai Rasulullah datang ke rumahnya. Makanan itu sedemikian berkah, sebab dapat dipakai untuk makan 1000 orang Muslim yang menggali parit. Inilah berkah Rasulullah SAW yang nyata dirasakan oleh umat Islam.

Keberkahan tentu tidak hanya dari Rasulullah SAW.,  akan tetapi bisa juga untuk umat Islam, tetapi dengan catatan keikhlasan yang tinggi. Bagi orang yang ikhlas menjamu tamu dengan kerelaan yang tinggi dan permohonan yang sangat mendalam agar makanan yang disajikan itu cukup, maka Allah akan dapat mengabulkannya. Sering kali kita dengar ungkapan yang menyatakan bahwa makanannya berkah. Cukup untuk semua tamu dan bahkan berlebih.

Syekh Imam An Nawawi dalam Kitab Riyadhus Shalihin menukil hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud al Badri berkata bahwa: “Ada seorang sahabat mengundang Nabi SAW makan yang telah dibuatnya untuk beliau yang cukup untuk lima orang. Lalu ada seorang yang ikut dengan mereka. Ketika sampai di pintu, Nabi SAW bersabda: “orang ini ingin ikut dengan kami. Jika engkau menghendaki, engkau bisa mengizinkannya. Dan jika tidak ingin, ia bisa kembali pulang. Ia berkata; “tentu, aku mengizinkannya wahai Rasulullah”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih.

Dari penjelasan Hadits Nabi SAW dan sedikit gambaran sosiologis, kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:

Pertama, Nabi Muhammad SAW adalah teladan kehidupan. Tidak hanya dari kasih sayangnya kepada umat manusia, akan tetapi juga Nabi Muhammad SAW merupakan teladan dalam makan dan minum. Misalnya Nabi SAW tidak pernah mencela makanan. Kalau suka dimakan kalau tidak suka tidak dimakan. Nabi SAW sedemikian menghargai makanan sebab makanan dan minuman adalah rezeki Allah SWT untuk manusia. Manusia memiliki ketahanan fisik, karena bisa makan dan minum yang memenuhi standart kesehatan. Bukan banyak atau sedikitnya, akan tetapi yang halalan thayyiban. Makanan dan minuman yang halal dan menyehatkan. Ada di antara kita yang sudah bisa meneladani perilaku ini dan ada juga yang belum bisa meneladaninya. Di antara orang yang sudah meneladani dalam hal ini adalah Gus Dur. Beliau termasuk orang yang tidak pernah mencela makanan.

Kedua, kita boleh menyelenggarakan jamuan makan, bagi yang diundang, maka menjadi kewajiban untuk mendatanginya. Ada yang disunnahkan mendatanginya. Yang jelas jika kita berasa di dalam waktu yang memungkinkan, maka rasanya mendatangi acara jamuan makan merupakan hal yang sangat utama. Nabi SAW pernah diundang makan pada waktu terjadi perang Khandaq, Nabi SAW juga pernah hadir dalam jamuan makan yang disediakan oleh sahabatnya. Perilaku ini meneladani atas tindakan Nabi Ibrahim AS yang selalu memberikan makan bagi para tetamunya. Semua dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk berbuat baik kepada sesama manusia.

Ketiga, di dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi SAW pernah mendatangi undangan jamuan makan yang diikuti oleh orang yang tidak diundang. Nabi SAW menanyakan kepada shahibul hajad apakah orang yang datang bersama Rasulullah SAW itu diperkenankan atau tidak. Jika tidak diperkenankan karena keterbatasan hidangan, maka orang itu bisa diminta pulang. Jika diperkenankan maka orang itu akan ikut makan bersamanya. Sahabat Nabi SAW memperkenankan untuk makan bersama. Dan yang pasti di dalam acara jamuan makan tersebut akan terdapat keberkahan. Kita tentu bisa mencontohnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

JAMUAN MAKAN DI SAAT PUASA (102)

JAMUAN MAKAN DI SAAT PUASA (102)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu kebiasaan di dalam persahabatan dan kekerabatan adalah saling mengundang untuk makan. Jamuan makan. Bisa jamuan makan malam atau jamuan makan siang. Acara seperti ini telah mentradisi di dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan. Biasanya jamuan makan dilakukan di  rumah, rumah makan, hotel atau tempat rekreasi. Jamuan makan dilakukan untuk mempererat persahabatan.

Di dalam kehidupan sosial, terdapat relasi sosial persahabatan yang sangat kental. Closed friend. Kawan dekat. Di dalam relasi sosial dimaksud, maka antar individu akan terikat dengan kuat untuk saling bersama. Biasanya untuk curhat atau mengutarakan hal-hal yang dirasakannya. Bahkan di antara mereka tidak terdapat jarak sosial. Mereka bisa saling mencurahkan pikiran atau gagasan dan perasaannya. Seperti biasanya, jika mereka saling mencurahkan perasaannya, maka akan menjadi ringan. Dipastikan seseorang merasakan tidak menanggung sendiri masalah yang dihadapinya.

Pada masyarakat yang tingkat solidaritasnya sangat kuat, maka akan terjadi ikatan sosial yang kuat, sehingga tidak terjadi fenomena bunuh diri, sebagaimana pada masyarakat yang ikatan solidaritasnya organis. Pada masyarakat dengan solidaritas sosial mekanis, maka penderitaan seseorang dapat diselesaikan dalam persahabatan. Di Jepang, sebaliknya banyak terjadi bunuh diri karena tingkat solidaritasnya yang bercorak organis. Masyarakat Indonesia itu sebaliknya, ikatan solidaritasnya lebih bercorak mekanis, maka masalah sosial dapat diselesaikan dengan kekeluargaan atau persahabatan.

Ada berbagai cara untuk mengekspresikan persahabatan. Pada zaman dulu, sebelum merebak media sosial, maka ekspresi persahabatan tentu saling bertemu atau ada face to face relationship. Saling berkunjung ke rumah atau bertemu di tempat yang sudah disepakati tempatnya. Tetapi dewasa ini, seseorang bisa mengekspresikan persahabatannya melalui media sosial. Seseorang bahkan setiap hari bisa melampiaskan persahabatannya melalui  WhatsApp, Instagram, Facebook, Tiktok, dan sebagainya. Semua bisa dilakukan asalkan sudah memasuki aplikasi-aplikasi media sosial.

Memang secara virtual kita bisa saling bertemu dengan menatap wajah. Tidak hanya dua orang tetapi bisa lebih banyak. Bisa tiga atau empat orang. Semua bisa saling bermuwajahah tetapi dalam jarak yang berjauhan. Fenomena ini sangat mengedepan pada saat terjadi Pandemi Covid-19. Namun demikian, begitu pandemi ini dinyatakan berakhir, maka kembalilah nuansa keramaian dalam jamuan makan. Terutama pada saat bulan Ramadlan, di mana banyak Rumah Makan, Hotel, dan sebagainya yang penuh sesak dengan pengunjung.

Yang menjadi problem adalah jamuan makan pada saat puasa. Terutama jika jamuan makan tersebut dilakukan di siang hari. Jika undangan untuk jamuan makan itu menjelang berbuka tentu tidak menjadi problem, sebab tentu akan menunggu datangnya waktu berbuka. Tentu ada juga di antara undangan yang tidak berpuasa, misalnya nonmuslim atau perempuan yang sedang berhalangan. Atas realitas empiris seperti ini, maka Rasulullah memberikan panduan sebagaimana hadits yang disabdakannya.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Bab 102 pada Kitab Riyadhus Shalihin mengangkat tema tentang “Bab Apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Menghadiri Jamuan Makan Saat Sedang Puasa Ketika Belum Berbuka”. Di dalam tulisan ini, saya ringkas menjadi: “Jamuan Makan di Saat Puasa”.

Syekh Imam An Nawawi menukil sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut: Dari Abi Hurairah RA., berkata Rasulullah SAW bersabda: “apabila salah seorang di antara kalian diundang makan, maka hendaklah ia datang. Jika ia sedang puasa, maka hendaklah ia mendoakan (yang mengundang). Dan jika ia tidak puasa, maka hendaklah ia makan”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Berdasarkan atas hadits dan penjelasan sosiologis di atas, maka dapatlah dipahami dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, mendatangi undangan kerabat atau sahabat adalah sunnah atau dianjurkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana bunyi teks di atas. Bahkan ada yang menyatakan kewajiban untuk menghadirinya. Menghadiri undangan merupakan penghormatan atas yang empunya hajad. Seseorang diundang di dalam acara tertentu oleh shahibul hajad tentu karena pertimbangan kedekatan dalam persaudaraan atau persahabatan. Jadi menghadiri undangan adalah tindakan apresiatif atas persahabatan yang telah dilakukan. Tentu saja, jika undangan tersebut dapat dipenuhi karena memang tidak terdapat kegiatan yang lebih penting yang juga harus dilakukannya.

Kedua,  yang menjadi problem adalah undangan yang bersamaan waktunya dengan penyelenggaraan puasa, baik puasa wajib atau puasa sunnah. Jika puasa wajib, misalnya puasa ramadlan, maka orang yang diundang dapat melakukan hal-hal yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, misalnya dapat tetap puasa dan terus berdoa untuk yang memiliki hajad. Tetapi jika puasa sunnah, maka pelakunya dapat memilih di antara dua hal, yaitu meneruskan puasanya atau membatalkan puasanya. Keduanya dapat menjadi pilihan terbaik di tengah kehadiran seseorang dalam acara jamuan makan atau selainnya.

Ketiga,  Islam mengajarkan menyambung tali silaturrahmi adalah kegiatan yang sangat baik. Bahkan termasuk tiga amalan utama di dalam Islam. Yakni menyebarkan salam, memberi makan orang yang berkebutuhan dan menyambung tali silaturrahmi. Menghadiri undangan jamuan makan merupakan keistimewaan dalam kehidupan, sebab merupakan ekspresi di dalam menyambung tali silaturrahmi. Jadi, akan menjadi sangat mulia jika kita dapat melakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JANGAN MENCELA MAKANAN (101)

JANGAN MENCELA MAKANAN (101)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Makanan dan minuman adalah asupan untuk fisik. Artinya, bahwa makanan sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk menjaga kekuatan tubuh yang memang membutuhkan asupan makanan, baik karbohidrat maupun protein dan mineral. Secara fisikal, manusia memiliki kebutuhan biologis yang perlu dipenuhi dengan makanan dan minuman.

Pemenuhan kebutuhan makanan dan minuman akan dapat menjadi persyaratan agar tubuh menjadi sehat. Tubuh butuh energi untuk kekuatan fisik, dan kekuatan fisik akan menjadi syarat bagi kesehatan jiwa. Jiwa yang sehat terletak pada badan yang sehat. Jiwa yang berkait dengan hati atau qalbun akan menjadi sehat jika badan atau fisiknya sehat.

Kebutuhan gizi atau nutrisi manusia cukup banyak. Sebanyak 2000 kalori untuk perempuan dan 2500 kalori untuk lelaki. Dari sebanyak itu, maka kebutuhan gizi makro meliputi karbohidrat, protein, dan lemak. Sedangkan untuk gizi mikro meliputi vitamin dan mineral. Sebagaimana porsinya, maka kebutuhan sayur dan buah sebaiknya 50 persen, sedangkan untuk karbohidrat dan protein sebaiknya 50 persen. Untuk mineral kebutuhannya adalah delapan gelas atau dua  liter air.

Seseorang yang bisa memenuhi takaran makanan dan minuman ini, maka secara fisikal dinyatakan sehat. Tentu saja sehat fisik, sebab ada juga kesehatan jiwa atau kesehatan mental, yang terkait dengan bagaimana seseorang bisa memenej kesehatan jiwanya. Orang yang secara fisikal sehat belum tentu secara kejiwaan sehat. Dan sebaliknya. Makanya, Islam mengajarkan agar terdapat keseimbangan antara kesehatan fisik dan kejiwaan. Keduanya harus memenuhi kriteria sehat.

Islam mengajarkan agar seseorang menjadi sehat karena makanannya dan minumannya dalam keseimbangan. Sebagaimana Nabi SAW melakukannya, maka Nabi SAW sangat perhatian atas makanan dan minuman. Apa yang masuk di dalam tubuhnya, berupa makanan dan minuman adalah apa yang disukainya. Dan yang tidak kalah penting adalah kehalalannya. Bahkan juga thayyiban atau menyehatkan. Islam mengajarkan makanan dan minuman yang halalan thayyiban.

Ada makanan yang halal tetapi kurang thayyiban. Misalnya, daging kambing, daging sapi, es kopyor dengan gula, es krim manis, dan sebagainya yang secara hakiki merupakan makanan yang halal,  tetapi kurang thayyiban bagi orang yang secara kesehatan tidak tepat memakannya. Di dalam bahasa sehari-hari disebut: “enak di mulut tidak enak di perut”. Atau “tidak enak di mulut, tetapi enak di perut”.  Pernyataan  ini terkait dengan ada makanan dan minuman yang halal tetapi tidak cocok untuk kesehatan.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan pada bab ke 101 tentang larangan mencela makanan dan memuji makanan yang sesuai dengan selera kita. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan. Jika Beliau menyukainya, Beliau memakannya. Dan jika Beliau tidak menyukainya, maka meninggalkannya”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘Alaih.

Hadits yang diriwayatkan  Jabir RA., bahwa Nabi SAW meminta lauk pauk kepada keluarganya. Maka mereka menjawab: ‘kami hanya memiliki cuka’. Maka Beliaupun memintanya, lalu memakannya sambil bersabda: “sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka”. Hadits Riwayat Muslim.

Dari penjelasan sosiologis dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW., maka dapat dipahami atas tiga hal, yaitu:

Pertama, Nabi Muhammad SAW adalah manusia teladan, artinya jika kita ingin menjadi manusia yang baik, maka contohnya adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah teladan bagi manusia di seluruh dunia. Alqur’an menjelaskan tentang gambaran Nabi Muhammad SAW sebagai teladan, yaitu sebagai manusia yang dapat menjadi percontohan bagi kehidupan yang utuh. Jika ingin mendapatkan teladan dalam sikap dan prilaku dalam relasi manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam, maka contohnya adalah Nabi Muhammad SAW. Benarlah Alqur’an yang menjelaskan bahwa pada diri Rasul terdapat teladan yang baik.

Allah selalu menurunkan rasul dan nabi-nabi agar manusia mendapatkan contoh yang baik di dalam kehidupan. Semua rasul dan nabi adalah teladan bagi manusia. Rasul dan nabi adalah role model kehidupan. Di dalam kehidupanya terdapat pattern for behaviour, yang dapat ditedani oleh manusia. Jika orang mampu meneladani separuh saja kehidupannya, maka tentu dapat menjadi orang yang bahagia fiddini wad dunya wal akhirah. Apalagi bisa meneladani sepertiga kehidupannya, maka akan luar biasa. Kita bisa mendapatkan orang yang luar biasa ilmunya, seperti Imam Ghazali, Dzinnun Al Mishri, Rabiah Al Adawiyah, dan sejumlah ahli tasawuf yang sungguh luar biasa. Mereka adalah teladan kehidupan pasca Rasulullah SAW.

Kedua, Islam itu agama yang menjelaskan secara mendalam tentang prilaku relasi diri dengan benda-benda dan juga relasi dengan manusia dan relasi Tuhan dan alam. Bahkan Islam mengajarkan bagaimana seharusnya kita bersikap dan berperilaku atas makanan yang ada di sekitar kita, rumah kita atau di rumah makan lainnya. Islam sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW menyatakan janganlah kita mencela makanan. Makanan itu rezekinya Allah SWT. Jika kita mencela makanan sama halnya dengan mencela rezeki yang diberikan Allah kepada kita. Jika kita suka makanlah dan jika tidak suka hindarilah. Begitulah ajaran Nabi Muhammad SAW. Manusia memang terkadang kurang bersyukur kepada Allah, dan salah satunya adalah dengan mencela makanan,  baik yang sudah dimakan atau belum dimakan. Terkadang menyatakan tidak enak, tidak selera, tidak menggairahkan dan sebagainya. Oleh karena itu, lebih baik kita diam dari pada harus mencela makanan yang ada di dekat kita.

Ketiga, dewasa ini, seirama dengan kemajuan zaman, maka jumlah dan variasi makanan itu sangatlah banyak. Ada makanan yang berasal dari Eropa, dan Asia. Yang dari Asia misalnya makanan yang berasal dari Jepang, Korea Selatan dan China. Yang dari Amerika juga banyak. Bagi orang tua yang termasuk generasi baby boomer atau generasi X mungkin saja menjadi makanan yang asing. Tetapi bagi generasi Z tentu bisa menjadi makanan favorit. Kalau kita pergi ke mall dan masuk di kawasn foodcourt, maka betapa banyaknya jenis makanan yang disediakan. Sebagai orang Islam, maka yang penting adalah apakah makanan tersebut halal. Adakah simbol kehalalannya yang dikeluarkan oleh Badan Jaminan Produk Halal dan apakah rasanya sesuai dengan lidah kita.

Yang terpenting, jika makanan tersebut enak dan bisa memenuhi selera,  maka kita bersyukur dengan mengucap alhamdulillah. Jika tidak memenuhi standart lidah dan perut kita,  maka kewajiban kita adalah memakannya tanpa mencelanya, dan sambil mengingat bahwa makanan tersebut tidak cocok, sehingga kita tidak perlu kembali lagi untuk memakannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENGUCAPKAN BASMALAH DI AWAL  DAN ALHAMDULILLAH DI AKHIR (100)

MENGUCAPKAN BASMALAH DI AWAL  DAN ALHAMDULILLAH DI AKHIR (100)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Setiap tindakan yang baik apapun, seharusnya menyebut nama Allah SWT. Ucapan itu adalah Bismillahir rahmanir rahim, yang artinya secara harfiyah adalah “dengan menyebut asma Allah yang rahman dan rahim”. Semua tindakan dan prilaku yang diawali dengan menyebut asma Allah SWT, maka akan menjadi amalan shalihan. Yaitu amalan yang sesuai dengan ajaran agama Islam.

Jika kita mau bekerja kantoran, akan bekerja dalam sektor negeri atau swasta, atau pekerjaan lainnya yang terkait dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan perbuatan tersebut dimulai dengan ungkapan basmalah, maka pekerjaan tersebut akan menjadi ladang ibadah. Jika kita makan, minum dan memasukkan yang halal ke dalam tubuh  dengan ucapan basmalah, maka yang kita lakukan itu hakikatnya adalah ibadah. Jika kita mengajar, ceramah umum atau agama dan mendidik individu, komunitas atau masyarakat dan memulainya dengan ucapan basmalah, maka yang kita lakukan juga ibadah.

Jika kita jihad fi sabilillah dalam keadaan perang atau damai, maka asalkan  jihad tersebut dimulai dengan basmalah, maka jihad tersebut menjadi amalan ibadah kepada Allah. Tentu jihad dalam makna yang sesuai dengan keyakinan ahlu sunnah wal jamaah, yaitu jihad dengan perang dalam negeri sedang berperang atau harakah jihadiyah, dan jihad dalam damai yaitu bersungguh-sungguh dalam melakukan perubahan sosial akseleratif yang momot nilai agama. Semuanya  termasuk dalam konteks beribadah kepada Allah SWT.

Menyebut Allah itu memiliki dua dimensi, yaitu asma dan makna. Bagi penganut tasawuf jika menyebut Allah hanya dengan menyebut namanya atau asmanya saja, maka disebut kafirun. Yang diharapkan adalah menyebut asma dan maknanya sekaligus. Jika hanya menyebut nama-nama Allah sesuai dengan 99 nama itu, maka dianggap belum menjadi mukmin hakiki. Bisa dinyatakan sebagai mukmin hakiki jika tidak hanya menyebut asma Allah tetapi juga hakikat nama tersebut bagi Allah. Man abdal asma fahuwa kafirun. Man abadal asma wal ma’na fahuwa mu’minun haqiqiyun.

Sama dengan menyebut basmalah. Maka yang diharapkan adalah menyebut makna basmalah dan bukan hanya ucapan basmalah. Menyebut nama Allah yang hanya di bibir atau pernyataan saja bisa dianggap kurang oleh ahli tasawuf. Bagi mereka menyebut nama Allah itu dengan dhahir atau ucapan dan dengan batin atau hati. Keduanya saling menyatu atau dalam satu kesatuan. Lahir dan batin, sama-sama menyebut asma Allah. Lahirnya dengan ucapan dan batinnya dengan rasa-rinasa atau dengan kedalaman perasaan. Jika menyebut asma Allah di dalam memulai segala sesuatunya, maka kahadiran yang dhahir dan bathin itu sangat penting.

Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Amr bin Abi Salamah RA., berkata: “Rasulullah SAW bersabda kepadaku: “ucapkanlah bismilah dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah dari makanan yang ada di dekatmu”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih. Hadits dari Aisyah RA: “apabila seseorang dari engkau semua makan, maka hendaklah menyebutkan nama Allah ta’ala –yakni mengucapkan bismillah. Jikalau ia lupa menyebut nama Allah ta’ala pada permulaan makannya itu, maka hendaklah mengucapkan Bismillahi awwalahu wa akhirahu, artinya Dengan nama Allah pada permulaan makan dan pada penghabisannya”. Hadits riwayat Imam Abu Dawud.

Dari hadits Nabi Muhammmad SAW dan juga sedikit penjelasan sosiologis tersebut, kiranya dapat digambarkan di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama,  kiri dan kanan, adalah lambang kejelekan dan kebaikan. Keduanya merupakan sifat yang melekat pada manusia atau atribut perilaku atau tindakan manusia. Setiap manusia memiliki sifat-sifat yang melekat, yaitu sifat kebaikan dan keburukan. Dua sisi sifat manusia yang “rasanya” azali. Setiap manusia memilikinya dan tidak akan dapat menolaknya, jika sudah menjadi takdirnya atau ketentuannya. Namun demikian, Allah maha Rahman dan Rahim, sehingga Allah menurunkan rasul dengan kitab-kitabnya untuk menjadi panduan di dalam kehidupannya. Rasul memiliki dua tugas untuk mengemban amanah Allah yaitu memberikan kabar kegembiraan atau tabsyir dan memberikan peringatan atas manusia atau tandzir. Keduanya berjalan seiring.

Sebagai representasi atas rahman dan rahim Tuhan, maka rasul diturunkan kepada umat manusia dengan risalah kenabian, baik yang berupa ketauhidan maupun amal peribadahan, baik untuk Tuhan atau untuk sesama manusia. Rasul tidak hidup secara fisikal selamanya, akan tetapi rasul hidup di dalam kehidupan manusia yang mendengarkan dan mengamalkan ajarannya. Untuk hal tersebut, maka Allah menurunkan orang-orang yang disebut sebagai ulama atau orang yang memahami makna kitab suci sebagai pedoman. Mereka disebut sebagai “pewaris para Nabi” atau “al ulama waratsatul anbiya”. Mereka adalah orang yang menjadi representasi para Nabi. Oleh karena itu, seharusnya para ulama adalah orang yang menjadi teladan di dalam kehidupan. Memiliki sifat-sifat yang terkait dengan sifat Nabi, yaitu shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah.

Kedua, kita bersyukur karena memiliki ulama-ulama teladan dalam berbagai cabang keilmuan. Misalnya Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan para ahli hadits yang wira’i yang dapat menjadi contoh atas ucapan dan tindakan Nabi dan penafsiran-penafsiran atas sunnah Nabi SAW, sehingga kita dapat melakukan tindakan yang bersesuaian dengan apa yang menjadi sunnah Nabi SAW. kehadiran para ahli hadits dan kemudian berlanjut dengan kehadiran para ahli fiqih seperti Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hambali dan Imam Hanafi dan seluruh jajaran ahli fiqih yang wira’i, maka amalan ibadah kita terukur sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nabi SAW sesuai dengan penafsiran para ahlinya.  Tanpa kehadiran mereka semua, maka kita tidak bisa memastikan apakah yang kita lakukan itu benar atau salah. Pengamalan beragama menjadi terukur sesuai dengan penafsiran para ahlinya.

Ketiga, kita sedang hidup di era semakin kuatnya cengkeraman budaya barat atas kehidupan. Jika di masa lalu tidak terdapat mall dengan berbagai varian produk di dalamnya, maka kita sekarang sedang hidup di dunia serba ada dan serba disajikan. Jika makanan dan minuman, maka ada yang halal dan ada yang nonhalal. Di antara budaya barat adalah makan dengan tangan kiri. Biasanya ada dua atau tiga alat makan. Sendok, garpu dan pisau, jika diperlukan. Tradisi barat itu, untuk memotong daging memakai tangan kanan dan tangan kiri untuk makan. Yang melakukan seperti itu dianggap modern. Tangan kiri menjadi instrumen untuk makan. Inilah yang banyak diadaptasi generasi milenial atas nama kemodernan atau efektivitas makan.

Tradisi seperti ini bertentangan dengan tradisi makan di dalam Islam yang memang menggunakan tata cara makan Nabi SAW. Oleh karena itu, mengajarkan tradisi menggunakan tangan kanan dan kaki kanan untuk memulai aktivitas merupakan kebutuhan di era moderen sekarang ini. Anak-anak kita harus tetap meneladani ajaran agama sebagaimana diajarkan oleh Nabi SAW. Kita berkeyakinan bahwa dengan meneladani Nabi SAW,  maka kita akan dapat menjadi bagian dari keluarga ideologis Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.