• August 2026
    M T W T F S S
    « Jul    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEUTAMAAN ISTIKHARAH DAN MUSYAWARAH (97)

KEUTAMAAN ISTIKHARAH DAN MUSYAWARAH (97)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam kehidupan ini tentu akan terdapat pilihan-pilihan. Manusia sering dihadapkan atas pilihan-pilihan yang terkadang sulit untuk memilihnya. Apalagi di era sekarang di mana kehidupan terus berubah, dan terkadang perubahannya sangat cepat. Oleh karena itu, manusia harus melakukan upaya untuk bekerja keras di dalam memilih mana yang dianggap penting dan paling sesuai dengan kehidupannya.

Manusia hidup di dalam kehidupan sosial yang kompleks, yang terkadang akan sulit untuk memilih mana yang penting atau urgent dan mana yang hanya diperlukan saja. Ada yang urgent dan ada yang important. Yang urgent itu sangat penting sehingga diperlukan untuk memilihnya, dan ada yang important atau perlu dipilihnya.

Memilih bukan perkara mudah. Membutuhkan berbagai pertimbangan, misalnya pertimbangan akal atau rasio, pertimbangan sosial, pertimbangan ekonomi, bahkan juga politik. Dan yang tidak kalah penting adalah pertimbangan hati. Pertimbangan-pertimbangan itu bercorak sistemik atau antara satu dengan yang lain saling terkait. Pertimbangan akal  sering kali berbasis atas untung rugi. Mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan. Pertimbangan hati itulah kata kuncinya. Ada yang disebut sebagai “kata hati”. Dialah yang sering dapat memberikan pertimbangan pilihan yang tepat.

Karena kita menginginkan pilihan yang tepat berbasis pada kebanaran kata hati, maka itulah sebabnya Islam mengajarkan tentang ajaran shalat istikharah. Shalat itu diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW., agar kita bisa memilih pilihan  yang tepat. Pilihan rasional bisa saja mengarahkan seseorang pada pilihan yang salah, maka pilihan yang benar harus menggunakan pilihan hati nurani berbasis shalat istikharah.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin menukil ayat-ayat Alquran dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Di antara ayat Qur’an yang dinukil, misalnya:  Ayat Alqur’an di dalam Surat Ali Imran: 159 menyatakan: “dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…”. Kemudian  di dalam Surat Asy Syura: 38, Allah berfirman: “sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka…”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir RA., “Rasulullah SAW mengajarkan kepada kami (doa) meminta pilihan dalam setiap urusan seperti (mengerjakan)  surat Alqur’an. Beliau bersabda: “apabila  salah seorang di antara kalian bermaksud melakukan suatu perkara, hendaklah ia shalat dua rakaat yang tidak wajib, kemudian ucapkanlah: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan kepada-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku meminta kekuatan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dari karunia-Mu yang agung. Karena, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu, dan Engkaulah yang Maha tahu segala yang gaib.  Ya Allah jika engkau tahu bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusan agamaku, penghidupanku dan akhir dari urusanku atau Beliau mengatakan perkaraku yang segeranya dan yang ditundanya, maka takdirkanlah ia untukku dan mudahkanlah, kemudian berkahilah ia untukku. Dan jika engkau tahu bahwa perkara ini jelek untukku dalam urusan agamaku, penghidupanku dan akhir dari urusanku atau Beliau mengatakan perkaraku yang segeranya dan yang ditundanya, maka palingkanlah urusan itu dariku dan palingkanlah urusan itu dariku dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana saja ia berada, kemudian ridhailah aku terhadapnya. Jabir berkata: “lantas menyebutkan kebutuhannya”. Hadits riwayat Imam Bukhari.

Dari penjelasan tersebut, saya mencoba untuk menggaris bawahi dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, kita sekarang berada di  Era  Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity (VUCA). Era votality ditandai dengan terjadinya perubahan yang cepat dan nyaris tidak terduga. Zaman yang tidak menentu. Zaman yang kompleks atau serba rumit.  Banyak  perilaku yang ambigu serba ganda. Di sinilah letak pentingnya pendekatan agama di dalam kerangka untuk memilih mana tindakan yang tepat dan mana tindakan yang kurang tepat.

Di dalam kehidupan ekonomi, politik dan bahkan keagamaan menjadi serba rumit. Seorang pengusaha yang kemarin untung hari ini merugi. Seorang politikus yang kemarin hebat, tiba-tiba hancur terkena masalah. Seseorang yang kaya, tiba-tiba menjadi miskin karena kesalahan dalam memilih tindakan. Dunia sekarang  tidak bisa diprediksi dengan tingkat akurasi yang tinggi, disebabkan banyak variabel yang harus terlibat di dalamnya. Di masa lalu, seorang ahli bisa memprediksi dengan keakuratan tinggi berbasis tren data untuk memprediksi tentang masa depan sebuah usaha, tetapi sekarang sangat sulit.

Kedua, Islam sebagai agama yang mengedepankan dimensi kemanusiaan, maka memberikan peluang untuk menemukan sesuatu yang baik bagi dirinya. Islam memiliki ajaran kebahagiaan, yang tidak hanya kebahagiaan di dunia tetapi juga kebahagiaan di akherat. Untuk sampai kepada kebahagiaan, maka Islam membentangkan pilihan jalan yang baik atau jalan yang jelek. Terkadang pilihan itu sulit sebab terdapat ambiguitas dan kompleksitas di dalam memilihnya. Jika terdapat kesulitan, maka Islam mengajarkan untuk melakukan shalat istikharah agar mendapatkan pilihan yang terbaik.

Jika seseorang bisa melakukannya dengan benar, maka bisa dilakukan sendiri shalat istikharah tersebut, akan tetapi jika sulit melakukannya maka boleh meminta bantuan kepada orang yang melebihinya dalam melaksanakan shalat istikharah. Bahkan terkadang hasil istikharah  tidak sesuai dengan keinginan kita, maka hasil istikharah merupakan jalan terbaik yang bisa dilakukan.

Ketiga, selain itu juga perlu untuk melakukan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai urusan duniawi. Allah SWT memberikan petunjuk bahwa dalam urusan duniawi, maka manusialah yang mengetahuinya. Urusan pekerjaan, urusan perdagangan, urusan politik dan urusan agama yang terjadi di dunia, maka jalan terbaik adalah melalui musyawarah. Di dalam relasi sosial, sangat dimungkinkan terjadi “ketegangan”, “perbedaan” dan bahkan “konflik” di antara sesama manusia. Islam mengajarkan agar kita bermusyawarah atas urusan yang kita terlibat di dalamnya. Jika terjadi ketegangan dalam keadaan berdiri, maka duduklah untuk menyelesaikannya. Pasti ada solusi jika kita dapat duduk untuk menyelesaikan  ketegangan-ketegangan tersebut.

Kata kunci di dalam kehidupan adalah: “masalah, musyawarah dan berserah”. Jika ada masalah, bermusyawarahlah dan hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

WASIAT ATAU DOA ATAS PERKAWANAN DAN DOA UNTUKNYA (96)

WASIAT ATAU DOA ATAS PERKAWANAN DAN DOA UNTUKNYA (96)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir rahim.

Kita sesungguhnya telah memiliki tradisi untuk saling berdoa. Minimal kita mengucapkan salam  ketika kita akan memasuki rumah atau bertemu dengan sahabat atau orang lain. Jika kita akan memulai rapat atau pertemuan dipastikan kita akan mengucapkan salam. Bahkan ada yang salam seluruh agama dinyatakannya. Kita tidak perlu berdebat tentang kebolehan atau ketidakbolehannya, akan tetapi mari kita pahami maknanya dari sudut kemanusiaan.

Sebagai sesama umat Islam sudah tentu jika saling berdoa adalah kebaikan. Pesan di dalam doa tentu adalah pesan keselamatan, pesan untuk bertaqwa kepada Allah dan pesan agar kita selalu di dalam lindungan Allah SWT dan selalu hidup di dalam keberkahan. Memang bisa bervariasi pernyatannya, akan tetapi inilah pesan atau wasiat yang terbaik untuk sesama umat Islam.

Islam mengajarkan betapa pentingnya untuk saling mendoakan. Islam begitu konsern atas pentingnya berdoa untuk sesama umat Islam. Itulah sebabnya para ulama masa lalu membuat ungkapan yang isinya untuk mendoakan sesama umat Islam. Dimulai dengan mendoakan keluarga, sahabat, umat Islam bahkan doa itu untuk yang masih hidup atau sudah wafat.

Doa keselamatan itu nyaris kita baca setiap selesai shalat maktubah. Terutama shalat berjamaah. Sebagian umat Islam bahkan membaa Al Fatithah kepada Rasulullah SAW,  istri-istrinya, putra-putranya dan sahabat-sahabatnya. Lalu untuk orang tua, kakek nenek, dan ke atas sampai leluhur kita di masa lalu, dan juga doa untuk keberhasilan kita dalam banyak hal.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan pada Bab 96 tentang: “Melepas Saudara dan Memberinya Pesan Ketika Dia Pergi Untuk Perjalanan Jauh Dan Semisalnya Serta Mendoakannya Dan Meminta Doanya”. Judul ini kemudian saya ringkas menjadi “Wasiat Atau Doa Atas Perkawanan Dan Doa Untuknya”. Ada beberapa ayat Alqur’an dan hadits yang dinukil untuk menjelaskan atas tema pada Bab 96 ini. Di antaranya adalah:

Ayat Alqur’an menjelaskan di dalam Surat Al Baqarah: 132-133 bahwa: “Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. Ibrahim berkata: “Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab, ‘kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq.  (Yaitu) Tuhan yang Maha Esa, dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya”.

Hadits Rasulullah SAW yang diceritakan oleh Zaid bin Arqam RA., yang telah disebutkan sebelumnya dalam Bab Memuliakan ahlu bait Rasulullah. Rasulullah SAW pernah berdiri menyampaikan khotbah di tengah-tengah kami. Beliau memuji dan dan memuja Allah, kemudian menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau bersabda: “Amma ba’du. Ketahuilah saudara-saudara sekalian. Aku hanyalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabbku (Malaikat Maut) akan datang dan aku akan memperkenankannya. Aku tinggalkan kalian As saqalain (dua hal yang berat). Pertama, Kitabullah (Alqur’an) yang di dalamnya terkandung petunjuk dan cahaya. Maka ambillah kitab Allah dan berpegang teguhlah kepadanya. Beliau lantas menghimbau serta memotivasi kepada Kitab Allah. (Kedua) dan ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku”. Hadits riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab RA., berkata: ‘aku meminta izin kepada Nabi, SAW, untuk melaksanakan umrah’. Beliau pun memberikan izin dan bersabda: “Wahai Saudaraku, janganlah engkau melupakan kami dalam doamu. Lalu Beliau menyebut sebuah perkataan, aku tidak akan senang bila ucapan itu ditukar dengan dunia”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA., berkata: seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin melakukan perjalanan, maka berilah aku bekal’. Beliau bersabda: “semoga Allah membekalimu dengan ketaqwaan”. Orang itu berkata: ‘tambahkanlah untukku’. Beliau bersabda: “semoga Allah mengampuni dosamu”. Orang itu berkata lagi: ‘tambahkan lagi untukku’. Beliau bersabda: “Dan semoga Allah memudahkan kebaikan untukmu di manapun engkau berada”. Hadits Riwayat Tirmidzi.

Dari penjelasan sosiologis, ayat Alqur’an dan Hadits Nabi, maka dapat ditambahkan penjelasannya dalam tiga hal, sebagai berikut:

Pertama, Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah sedemikian perhatiannya untuk umatnya. Orang yang memohon doa dipastikan akan didoakannya. Doa tersebut terkait dengan kebaikan-kebaikan,  baik untuk akherat maupun untuk duniawi. Didoakan agar selalu dalam ketaqwaan kepada Allah SWT, keselamatan dan keberkahan di dalam kehidupan. Bahkan Nabi SAW di kala Umar akan melakukan umrah, di kala pamit maka Rasulullah SAW memintanya untuk tidak melupakannya di dalam doanya. Rasulullah SAW mendoakan dan umat Islam lainnya juga mendoakannya. Subhanallah, inilah indahnya Islam. Agama yang menganjurkan umatnya untuk berkasih sayang dan saling mendoakan di dalam kebaikan.

Kedua,  salah satu keutamaan Rasulullah adalah  kasih sayang dan kecintaannya kepada umat Islam. Nabi SAW  tidak membedakan antara sahabat dekat, jauh dan umatnya hingga sekarang. Sayyidina Umar sahabat dekatnya, dan orang Islam lain tidak dibedakan di dalam mendoakannya, yaitu doa untuk terus bertaqwa, doa untuk ampunan atas kesalahan dan Allah memudahkan jalan ke arah kebaikan. Ungkapan “kita” lebih baik dari “aku”.  Doa-doa di dalam Alqur’an lebih banyak yang mengucapkan “kita” dibanding “aku”. Doa yang dimulai dengan kata “Rabbana” lebih banyak dan lebih utama. Islam sangat menghargai “kekitaan” dari pada “keakuan”.

Ketiga, kita sedang hidup di era media sosial. Era dimana perjumpaan tidak hanya lewat luring atau luar jaringan akan tetapi lewat daring atau dalam jaringan. Kita tidak ketemu dengan face to face relationship atau tetapi melalui media relationship. Jadi sesungguhnya kita bisa berdoa kapan saja dan di mana saja. Media sosial akan dapat menjadi instrumen bagi kita untuk saling mendoakan dan bukan saling membully. Oleh karena itu, marilah kita gunakan media sosial untuk kebaikan. Media sosial untuk berwasiat tentang kebenaran dan berwasiat untuk kesabaran.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MEMBERI KABAR KEGEMBIRAAN DAN UCAPAN SELAMAT ATAS  KEBAIKAN (95)

MEMBERI KABAR KEGEMBIRAAN DAN UCAPAN SELAMAT ATAS  KEBAIKAN (95)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillah al rahman al rahim

Di dalam Islam dikenal dua hal penting, yaitu basyiran dan nadziran. basyiran atau kabar kegembiraan dan nasdziran adalah kabar peringatan tentang kesulitan dan kesengsaraan. Alqur’an di dalamnya banyak hal yang terkait dengan keduanya. Ada kabar kegembiraan, yaitu pahala bagi orang yang beriman dan beramal shaleh dan kabar kesedihan, yaitu siksa bagi orang yang tidak mengindahkan ajaran Allah. Surga atau tempat yang dijanjikan kepada manusia yang penuh dengan perbuatan kebaikan dan neraka bagi mereka yang melakukan perbuatan kejelekan.

Sesungguhnya manusia sangat menyukai terhadap kabar kegembiraan dan tidak suka atas kabar yang menyedihkan. Di dalam diri manusia terdapat dua dimensi yang tidak bisa dihindarkan yaitu senang dan susah, gembira dan sedih, dan keduanya bisa terjadi silih berganti tergantung pada apa yang diketahuinya, dipahaminya dan dialaminya. Adakalanya senang dan ada kalanya susah. Tidak selamanya senang dan juga tidak selamanya susah.

Syekh Imam Nawawi pada bab 95, menukil ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW. Di dalam surat Az Zumar 17-18, Allah SWT berfirman: “sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya”. Allah juga berfirman di dalam Surat At Taubah: 21, bahwa: “Tuhan mereka memberikan  mereka kabar gembira berupa rahmat, keridlaan, dan surga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya”. Juga pada Surat Fusshilat: 30, “dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.

Di dalam hadits Nabi SAW dijelaskan Abu Ibrahim (disebut juga Abu Muhammad, disebut juga Abu Muawiyah), Abdullah bin Abu Aufa, bahwa Rasulullah SAW memberi kabar gembira kepada Khadijah RA berupa sebuah rumah di dalam surga dari permata, tidak ada suara gaduh dan kelelahan di dalamnya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Di dalam hadits lain dinyatakan Ibnu Syumaiyah berkata, kami hadir di sisi Amr bin Ash RA., menjelang wafatnya. Dia menangis sangat lama dan membalikkan mukanya ke dinding. Putranya berkata, “wahai ayah. Bukankah Rasulullah telah memberimu kabar gembira begini. Bukankah Rasulullah telah memberi kabar gembira begini”? Kemudian dia membalikkan muka dan berkata: “sungguh, sebaik-baik yang kita persiapkan adalah syahadat lailaha illallah dan Muhammad Rasulullah. Aku telah melewati tiga fase. Aku masih ingat betul, tidak ada seorangpun yang lebih benci kepada Rasulullah SAW daripada diriku dan tidak ada yang lebih aku inginkan saat itu kecuali memiliki suatu kesempatan lalu membunuh beliau. Seandainya aku  mati di atas keadaan itu, pastilah aku termasuk penghuni neraka”. “Kemudian ketika Allah memberikan hidayah Islam ke dalam hatiku, aku datang menemui Nabi SAW dan berkata: ulurkanlah tangan kananmu, sungguh aku akan berbaiat kepadamu. Kemudian beliau mengulurkan tangannya, tetapi aku menahan tanganku”. Beliau berkata: “ada apa denganmu wahai Amr”? Aku menjawab:  “aku ingin membuat syarat”. Beliau bertanya: “membuat syarat apa”. Aku menjawab: “agar aku diampuni”. Beliau bersabda: “tidakkah engkau tahu bahwa Islam menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya”? Bahwa:  “hijrah menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya. Dan haji menggugurkan dosa sebelumnya”. “Saat itu tidak seorangpun yang lebih aku cintai melebihi cintaku kepada Rasulullah SAW dan tidak ada pula orang yang lebih terhormat di mataku dari beliau”.  “Aku tidak mampu menatap beliau karena memuliakan Beliau. Andaikan aku diminta menggambarkan  kepribadian beliau aku tidak akan mampu, karena aku tidak pernah menatap lekat Beliau. Seandainya aku mati, janganlah aku diiringi perempuan yang meratap dan api. Bila engkau menguburku, maka tuangkanlah tanah kepadaku sedikit demi sedikit. Kemudian berdirilah di sekitar kuburku seukuran waktu untuk menyembelih unta dan membagikan dagingnya, agar aku merasa nyaman dengan keberadaan kalian dan aku melihat jawaban apa yang aku berikan kepada utusan-utusan Tuhanku”. Hadits Riwayat Muslim.

Dari penjelasan hadits tersebut dapat dikaji atas tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam menganjurkan agar kita memberikan kabar kegembiraan kepada seseorang dan bukan kabar yang menyusahkan. Andaikan kabar itu membuat sedih tentu harus diiformasikan agar informasi tersebut tidak membuat seseorang menjadi semakin down. Memberikan  kabar yang memberi manfaat jauh lebih utama dibandingkan kabar yang membuat seseorang merasa tidak nyaman.

Islam mengajarkan kepada kita untuk memberikan informasi yang memberikan jalan kepada kebaikan dan kemudahan. Alqur’an menjelaskan: “inna ma’al ‘usri yusra” sesungguhnya setiap ada kesulitan maka ada kemudahan. Di ayat lain, Allah menyatakan: “la yukallifullahu nafsan illa wus’aha”, yang artinya Allah tidak akan membebami seseorang kecuali atas kemampuannya”. Artinya, bahwa Allah akan memberikan kegembiraan pada umat-Nya bahwa Allah itu akan memberikan ujian tanpa melampaui kemampuannnya untuk menganggungnya.

Kedua, Allah dan rasulnya memberikan berita tentang ha-hal yang menggembirakan selama hambanya itu selalu berada di dalam jalan kebanaran. Tetapi Allah dan rasulnya juga memberikan peringatan yang tegas jika ada hambanya yang mengingkari ajaran-Nya. Oleh karena Islam mengajarkan keseimbangan tidak hanya kebahagiaan yang ditawarkan, akan tetapi juga kesengsaraan yang ditawarkan. Pedoman sudah diberikan dan kita dapat memilih mana yang baik dan benar serta mana yang jelek dan salah. Gambaran tentang Amru bin Ash, sebagaimana diceritakan di dalam hadits Nabi SAW tersebut sungguh dapat menjadi pedoman bagi umat manusia, selama manusia mencintai rasul SAW dan patuh atas ajaran-ajarannya, maka dipastikan bahwa Allah akan menggembirakannya.

Ketiga, kita hidup di era zaman yang serba terbuka. Tidak ada sesuatu yang disembunyikan. Semua bisa diunggah, baik yang positif maupun negatif. Islam mengajarkan agar kita memberikan informasi atas hal-hal yang baik dan bukan hal-hal yang jelek. Kita dapat menginformasikan yang bermanfaat dan menjauhi yang tidak bermanfaat. Makanya, hendaklah kita memberikan informasi yang menyenangkan tentang ajaran Islam dan bukan yang membuat orang menjadi benci dan marah.

Islam itu agama yang penuh senyum, dan bahkan senyuman itu sedekah. Jika kita sering membuat orang tersenyum, maka berarti ibadah sedekah itu banyak. Seseorang tidak akan tersenyum jika informasi atau percakapan tersebut menyengsarakan. Makanya, jika kita bersama komunitas dan lainnya, upayakan agar bisa  tersenyum gembira. Hepi.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMULIAKAN TAMU (94)

MEMULIAKAN TAMU (94)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Islam itu agama yang menjunjung tinggi persaudaraan. Tidak hanya persaudaraan sesama umat Islam atau ukhuwah Islamiyah, akan tetapi juga ukhuwah insaniyah atau persaudaraan sesama manusia atau disebut juga sebagai ukhuwah basyariyah atau persaudaraan sesama umat manusia. Inilah salah satu kekuatan Islam yang memberikan ajaran agar sesama manusia saling mengasihi dan menyayangi, sebagai konsekuensi agama yang memberi rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil alamin.

Islam sungguh agama yang memberikan peluang umatnya untuk memberikan kasih sayang secara tulus. Tidak hanya sesama umat Islam tetapi juga bagi nonmuslim. Persaudaraan insaniyah. Bahkan tidak hanya ini, akan tetapi juga menyayangi alam seluruhnya. Bahkan dinyatakan dalam hadits riwayat Imam Muslim: “man la yarham la yurham”. Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi”. Agar kita disayangi  oleh yang lain, maka persyaratannya adalah menyayangi yang lain. Begitu jelasnya pesan Islam ini. Tidak ada keraguan seharusnya untuk saling menyayangi.

Salah satu wujud dari kasih sayang tersebut adalah silaturrahmi atau menyambung tali persaudaraan. Bisa saling kunjung rumah atau bisa juga dalam wujud lain dalam menyambung tali persahabatan dimaksud. Intinya, bahwa menyambung tali silaturrahmi dengan sahabat atau orang yang dikenal atau sesama kerabat merupakan salah satu ajaran Islam yang sangat mulia. Dan sebagai konsekuensi kemuliaannya, maka yang bersangkutan dapat saling bertamu.

Syekh Imam Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin Bab 94 bercerita berbasis pada ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Allah SWT di dalam Surat Adz Dzariyat: 24, berfirman: “Adakah sudah datang padamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim  (yaitu Malaikat-Malaikat) yang dimuliakan? (ingatlah) Ketika mereka  masuk ke tempatnya  lalu  mengucapkan ‘salamun’, Ibrahim menjawab, “salamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk, lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “silahkan Anda makan”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sesuai dengan riwayat Abu Hurairah, RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung silaturahmi. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau hendaklah ia diam”. Hadits riwayat Mutafaq alaih.

Kemudian juga terdapat riwayat hadits yang diceritakan oleh Abu Syuraih Khuwailid bin Amr Al Khusa’i RA., berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya, dengan pemberian”. Mereka berkata: “Bagaimana pemberiannya itu wahai Rasulullah?”. Beliau berkata: “pemberian itu selama satu hari satu malam dan (keharusan) menjamu itu selama tiga hari. Adapun yang lebih dari itu adalah sedekah untuknya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, dapat dijelaskan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam mengajarkan agar kita menghargai tamu. Baik tamu yang dikenal atau tamu yang tidak dikenal. Islam tidak membedakan tamu itu seorang kawan atau tidak. Yang jelas jika terdapat tamu yang datang ke rumah, maka menjadi kebaikan jika kita hargai sebagaimana orang yang kita kenal atau yang  tidak kita kenal. Hal itu sebagaimana di dalam wahyu Allah tentang sejarah Nabi Ibrahim AS, yang mendapatkan tamu yang tidak dikenal. Maka, Nabi Ibrahim AS tetap menjamunya sebagaimana orang yang sangat dikenalnya. Dihormati tamu tersebut dengan hidangan terbaik yang dapat dilakukan. Nabi Ibrahim AS menjamunya dengan daging sapi muda yang gemuk dan mempersilahkan tamunya untuk memakannya sampai habis.

Kedua, Nabi Muhammad SAW bahkan secara teknis mengajarkan agar kita menjamu tamu yang menginap di rumah selama sehari semalam bahkan sampai tiga hari. Jika seandainya lebih dari tiga hari, maka kelebihan jamuan tersebut  sebagai sedekah. Hal ini memberikan pemahaman kepada kita agar kita memuliakan tamu dengan sebenarnya. Islam sungguh konsern dalam membangun persahabatan tersebut, yaitu dengan cara memuliakannya. Jika seandainya di rumah terdapat tamu yang menginap beberapa hari, maka kewajiban kita menjamunya adalah tiga hari dan selebihnya adalah sedekah yang tentu akan mendapatkan pahala sebagaimana sedekah lain yang dilakukannya.

Islam mengajarkan atas tiga hal, yaitu orang yang percaya kepada Allah dan hari akhir, maka harus memuliakan tamu, menyambung tali silaturrami dan berkata yang baik. Mari kita perhatikan, bahwa Allah SAW memberikan kedudukan tinggi dalam menjamu tamu, menyambung tali persaudaraan dan berkata baik dengan secara simbolik mengakui keberadaan Allah dan kepastian terjadinya hari akhir.  Artinya, orang yang melakukannya memiliki derajad yang tinggi dalam keimanan atas Allah dan hari akhir.

Ketiga, sekarang kita berada di era media sosial. Era meeting virtual atau pertemuan dengan menggunakan media sosial. Orang bisa melakukan komunikasi tanpa terkendala jarak. Dunia bisa dilipat oleh media sosial. Kita bisa berkomunikasi dengan kawan kita di seluruh dunia. Di Amerika, Eropa, Australia dan juga di Afrika. Mobilitas sosial terjadi dengan sangat mudah, kapan dan di mana saja. Oleh karena itu, sesungguhnya melalui media sosial kita akan dapat melakukan silaturrahmi dengan sangat mudah. Silaturrahmi virtual. Melalui media sosial, kita dapat melakukan dua hal, yaitu menyambung tali sliaturrahmi dan berkata yang baik.

Sesungguhnya media sosial dapat menjadi kawan yang baik, selama media sosial digunakan untuk kebaikan. Tetapi media sosial juga akan menjadikan kejelekan,  jika kita tidak menggunakan untuk kebaikan. Mari kita gunakan media sosial untuk saling menyapa, menanyakan kabar atau say hello agar kita bisa memperoleh manfaatnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

SUNNAH MENDATANGI SHALAT DAN MAJELIS ILMU (93)

SUNNAH MENDATANGI SHALAT DAN MAJELIS ILMU (93)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Islam merupakan agama yang memberikan peluang seseorang untuk mendapatkan pahala lebih. Pahala tersebut disebut pahala sunnah. Yaitu suatu perbuatan yang didasarkan atas perkataan, ketetapan dan perilaku Rasulullah SAW. perbuatan tersebut juga disebut sebagai sunnah Nabi SAW. Ada sangat banyak perbuatan yang digolongkan sebagai sunnah Nabi Muhammad SAW. Jika dikaitkan dengan amalan-amalan utama di dalam Islam yang tergolong sunnah adalah menyebarkan salam, memberi makan orang yang memerlukan dan menyambung tali silaturrahmi. Sedangkan yang lain adalah shalat tepat waktu sampai memungut barang yang membahayakan di jalan. Semuanya adalah amalan shalihan yang diajarkan di dalam Islam. Islam merupakan agama yang tidak hanya mementingkan ketauhidan, akan tetapi juga mementingkan amalan shaleh. Iman yang tidak diikuti oleh amal shaleh menjadi kurang pas. Keduanya harus dilakukan secara berkeseimbangan. Tidak ada amal shaleh tanpa iman dan tidak ada iman kecuali ada juga amal shaleh.

Islam merupakan agama yang mengedepankan berjamaah. Di dalam shalat misalnya jika shalat sendirian,  maka pahalanya dihitung hanya tiga derajad,  akan tetapi jika dilakukan dengan berjamaah,  maka pahalanya menjadi 27 derajad. Inilah kekuatan berjamaah atau the power of jamaah. Sesungguhnya bukan hanya shalat yang dianjurkan secara berjamaah, akan tetapi juga aktivitas sosial juga akan menjadi utama dengan berjamaah. Bahkan ada hadits yang secara umum bermakna, bahwa kebaikan yang tidak dikoordinasikan secara berjamaah akan kalah dengan kejelekan yang dilakukan secara berjamaah. Oleh karena itu hendaknya kita mengedepankan jamaah dalam makna yang lebih luas untuk kepentingan kebaikan umat.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin menukil hadits Nabi SAW dalam menjelaskan mengenai pentingnya berjamaah dan bagaimana harus melakukannya. Hadits dari Abu Hurairah, RA berkata: Aku mendengar dari Rasulullah SAW bersabda: “apabila shalat telah ditegakkan (iqamah telah dikumandangkan), maka janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa, tapi datangilah sambil berjalan dan hendaknya dengan cara yang tenang. Maka apa yang kalian dapati (dari imam) shalatlah. Dan apa yang terlewat oleh kalian, sempurnakanlah”. Hadits Mutafaq alaih.

Hadits dari Ibnu Abbas RA., barangkat  bersama Nabi SAW pada hari Arafah. Lalu Nabi mendengar dari arah belakangnya ada suara bentakan, pukulan, dan suara halauan terhadap unta. Maka Beliau berisyarat dengan cemetinya kepada mereka sambil bersabda: “wahai manusia, hendaklah kalian bersikap tenang, karena kebaikan itu bukan dengan cara bercepat-cepat (tergesa-gesa). Hadits Mutafaq alaih.

Berdasarkan atas penjelasan Syekh Imam Nawawi dari dalil naqli tersebut, maka dapat dijelaskan lebih luas di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama,  sebagai umat Islam yang melakukan amalan shalat lima waktu, maka dianjurkan oleh Rasulullah untuk mendatangi shalat berjamaah, misalnya di masjid atau mushalla. Sunnah mendatangi shalat berjamaah tersebut tidak hanya untuk kepentingan ibadah dengan pahala yang berlipat-lipat, akan tetapi juga untuk memakmurkan masjid. Jika masjidnya ramai dengan shalat berjamaah dan kegiatan lainnya, maka akan menjadi kekuatan bahwa umat Islam mencintai atas tempat ibadahnya. Umat Islam harus menjadikan tempat ibadah sebagai pusat pembinaan umat. Bisa dalam bentuk pendidikan dan ceramah keagamaan dan bisa juga dalam bentuk kegiatan sosial bahkan ekonomi. Masjid selayaknya menjadi tempat ibadah dan kegiatan sosial budaya Islam lainnya.

Kedua, kita tentu bersyukur sebab kegiatan keagamaan dan sosial lainnya nyaris bisa didapati di masjid-masjid di Indonesia. Ada kegiatan ceramah keagamaan, baik tematik atau membahas teks kitab turats atau kitab kuning.  Ada  kegiatan tahsinan membaca Alqur’an. Ada kegiatan membaca Surat Al Waqiah dan ada juga membaca Surat Al Kahfi. Serta kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) yang dilakukan secara periodik. Selain itu juga ada acara silaturrahmi dalam paket kegiatan halal bi halal, tadarrus Alqur’an, dan kegiatan Nuzulul Qur’an, Maulid Nabi Muhammad SAW dan juga hari besar Islam lainnya.

Ketiga, secara teknis, Nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang bagaimana kita berjalan ke masjid, khususnya di kala akan melakukan shalat berjamaah. Nabi SAW meminta agar di dalam. Perjalanan menuju masjid ersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Berjalan yang pasti menuju masjid dengan kepastian, dan berkeyakinan tidak ketinggalan shalatnya. Pastikan bahwa kita akan sampai di masjid pada saat shalat masih berlangsung. Dan perintah Nabi SAW agar kita mengikuti imam dan jika ada yang kurang dari rakaat kita, hendaknya kita menyempurnakannya.  Ketenangan di dalam menghadapi segala sesuatu itu sangat penting. Usahakan agar di dalam menghadapi apapun dengan ketenangan jiwa. Jangan serba tergesa-gesa, sebab ketergesaan adalah prilaku setan. Oleh karena itu, perhitungkan waktu dengan tepat, ukur peluang berapa lama sampainya, sehingga kita dapat sampai dengan tepat. Shalat pada waktunya adakah keutamaan dalam beribadah dan datang tepat waktu juga bagian dari upaya kita untuk memenuhi ibadah.

Wallahu a’lam bis shawab.