• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

BERUSAHA MEMPEROLEH MAKANAN DENGAN MENJAGA KEHORMATAN (59)

BERUSAHA  MEMPEROLEH  MAKANAN DENGAN MENJAGA KEHORMATAN (59)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bsimillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 59, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Anjuran Makan Dari Usaha Sendiri Dan Menjaga Kehormatan Diri Dari Meminta-Minta Dan Berharap Diberi”. Di dalam tulisan ini lalu saya ringkas menjadi: “Berusaha Memperoleh  Makanan dengan Menjaga Kehormatan”.

Semenjak 14 abad yang silam, Rasulullah SAW sudah menekankan bahwa makanan yang berasal dari usaha sendiri itu lebih utama dibandingkan makanan yang diperoleh dengan meminta-minta. Sebuah anjuran agar seseorang bekerja dengan tangannya atau dengan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan biologisnya. Kebutuhan biologis itu memang macam-macam. Yang utama adalah sandang, pangan dan  papan. Pakaian untuk menutup tubuh, pangan untuk memenuhi kebutuhan badan dan papan untuk memenuhi kebutuhan berteduh. Inilah kebutuhan dasar manusia dalam tradisi Jawa. Tiga kebutuhan ini adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Tidak boleh tidak. Tiga kebutuhan dasar ini, terutama makan diwajibkan harus dipenuhi dengan tangan sendiri atau bekerja.

Pemenuhan kebutuhan makan tentu bukan sederhana, sebab harus dipenuhi setiap hari. Sesuai dengan kadar dan standar makanan yang sehat dan mengenyangkan. Nabi Muhammad SAW membuat ibarat dengan bekerja untuk mengambil kayu yang diikat dan kemudian dijual, dan hasilnya itu dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan. Jangan bertanya tentang kualitas makanan. Nabi Muhammad SAW dan keluarganya tidak pernah kenyang makan dalam dua hari berturut-turut. Makannya, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah RA hanya terdiri dari dua benda hitam, yaitu kurma dan air.

Allah SWT memiliki kasih sayang yang tidak ada ukurannya kepada hamba-hambanya. Semuanya disediakan rejekinya. Hanya saja ada orang yang berusaha secara optimal untuk meraihnya, dan ada yang ala kadarnya. Allah SWT telah memberinya contoh yang luar biasa, yaitu Nabi Muhammad SAW, sebagai penggembala domba dan pedagang. Dua jenis pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan, kesungguhan dan kejujuran. Penggembala memerlukan ketelatenan dan kesabaran, serta perdagangan membutuhkan keuletan dan kejujuran. Syarat dalam perdagangan adalah siddiq dan amanah. Nabi Muhammad SAW bukanlah tipe manusia yang suka berpangku tangan akan tetapi pekerja keras. Hal ini seirama dengan ayat Alqur’an yang mengajarkan agar manusia mencari rejeki dengan kerja keras.

Allah SWT berfirman di dalam Surat Al Jumu’ah: 10, bahwa: “apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, dan carilah karunia Allah”. Lalu juga terdapat hadits yang dinukil untuk menjelaskan tentang judul tersebut, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zubair bin Awwam R.A., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sungguh seandainya salah seorang kalian mengambil beberapa utas tali, lalu pergi ke gunung, kemudian kembali dengan memikul seikat kayu bakar di atas pundaknya lalu menjualnya, sehingga dengan hal itu Allah mencukupkan kebutuhannya, maka hal itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberinya atau tidak”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Di hadits lain juga dijelaskan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sungguh seandainya salah seorang kalian mengumpulkan seikat kayu yang dipikul di atas punggungnya, itu lebih baik baginya dari pada meminta kepada seseorang lalu dia memberinya atau tidak memberinya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dahulu Nabi Dawud Alaihis Salam tidak makan kecuali dari hasil usahanya sendiri”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat digarisbawahi tiga hal, yaitu:

Pertama, untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup, terutama makan, Rasulullah menganjurkan manusia untuk bekerja sehingga menghasilkan makanan tersebut. Manusia sebaiknya berusaha untuk memperoleh makanan dari usahanya bukan dari pemberian orang lain. Menerima makanan tentu boleh bukan dilarang, akan tetapi pemberian tersebut harus sesuai dengan prinsip-prinsip di dalam ajaran Islam, yaitu keikhlasan dan ketiadaan maksud tertentu yang dapat merusak atas pemberian dimaksud.

Rasulullah SAW menganjurkan agar manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Terutama kebutuhan makanan. Rasulullah SAW sangat tidak menyukai orang yang mendapatkan makanan dengan cara meminta-minta. Yang paling baik bagi manusia adalah dengan melakukan pekerjaan, sebagaimana Nabi Dawud AS, Nabi Zakaria AS dan juga Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW memang pernah mendapatkan upah atas doa yang dibacakannya. Upah itu tidak digunakan untuk dirinya sendiri tetapi untuk para sahabatnya yang mengikutinya.

Kedua, Islam merupakan agama yang menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi. Islam menyuruh manusia bekerja untuk dunianya dan juga berbuat yang baik untuk akhiratnya. Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan mau hidup selamanya dan berbuat untuk akhiratnya seakan-akan mau mati esuk hari. Jadi tidak diperkenankan manusia hanya menggantungkan kehidupannya pada orang lain. Islam sangat menghargai kemandirian seseorang di dalam kehidupannya.

Islam menganjurkan seseorang bekerja yang halal sehingga menghasilkan produk yang halal. Tidak boleh seseorang hanya mementingkan hasilnya dan tidak memperhatikan prosesnya. Dari proses yang halal menghasilkan produk yang halal. Nabi Muhammad SAW mencontohkan Nabi Zakaria AS yang bekerja sebagai tukang kayu, atau mencontohkan mengambil ikatan kayu di gunung untuk dijual, sebagai metapora tentang pekerjaan-pekerjaan yang halal.

Ketiga, suatu prinsip yang sangat mendasar di dalam Islam, yaitu jangan menjadi orang yang suka meminta-minta. Penuhilah kebutuhan hidup dengan cara bekerja apa saja yang penting pekerjaan yang baik dan benar. Islam sangat peduli dengan kehidupan yang mengedepankan kebaikan dan kebenaran. Salah satu aspek penting di dalam kehidupan adalah menjaga marwah kehidupan. Orang yang meminta-minta itu “sedikit” mengabaikan kehormatan diri. Agar kehormatan diri itu ada di dalam kehidupan kita, maka upayanya adalah bekerja. Apa saja. Yang penting halal.

Memang harus diakui bahwa di era sekarang betapa susahnya orang menemukan pekerjaan, sebab pertarungan untuk mengakses pekerjaan yang terbatas. Tetapi tetaplah berusaha karena dunia ini dibangun di atas usaha manusia. Tetaplah berprinsip bahwa pasti ada peluang yang bisa diisi oleh kapasitas dan kemampuan kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMAHAMI THE POWER OF ALLAH, MANUSIA DAN SETAN

MEMAHAMI THE POWER OF ALLAH, MANUSIA DAN SETAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSI

Lama sekali saya tidak menuliskan diskusi saya dengan para jamaah Komunitas Ngaji Bahagia (KNB). Sudah lebih dari dua bulan saya tidak menuliskan hasil diskusi gayeng yang dilakukan setiap Selasa pagi ba’da Shalat Subuh. Pengajian bahagia yang ditata sedemikian rupa. Ada seriusnya dan ada ketawanya. Bahkan dipersyaratkan tertawa sebanyak 17 kali untuk menandai kebahagiaan.

Selasa, 12 Mei 2026, saya kembali terusik untuk menuliskan hasil diskusi yang diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Masih seperti biasanya, ngaji ini diwarnai dengan tanya jawab dan tidak melulu one way traffic. Bahkan tema tadi pagi sebenarnya didahului dengan pertanyaan yang dilakukan oleh Pak Mulyanta, yang menyampaikan hasil pembicaraannya dengan para jamaah lainnya. Sebuah pertanyaan yang menarik, dimanakah takdir Tuhan itu terkait dengan keberadaan Setan. Misalnya orang baik dan buruk sudah ditentukan oleh Allah, lalu kenapa harus ada setan yang berlaku untuk menggodanya. Tanpa digoda jika takdirnya jelek tentu akan menjadi jelek dan sebaliknya.

Ada tiga hal yang dapat saya jelaskan terkait dengan  pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Saya  mencoba untuk mengaitkan antara dimensi akal dan nash hadits atau Alqur’an yang memiliki relevansi dengan pertanyaan tersebut.

Pertama, Selaku narasumber, saya menyatakan ada trilogy: the power of Allah, the power of manusia dan the power of setan. Ada tiga kekuatan yang dapat mempengaruhi perilaku manusia. Pengaruh Allah dengan takdirnya, pengaruh setan dengan potensi godaannya dan pengaruh manusia itu sendiri dengan akal dan hatinya atau nafsu dan rohnya. Ketiganya memiliki perannya masing-masing di dalam kehidupan.

Mari kita bedah satu persatu tentang kekuatan dimaksud. Allah adalah Maha Pencipta. Artinya bahwa Allahlah yang menciptakan manusia dan alam lainnya sebagai satu kesatuan sistem pemciptaan. Manusia diberinya takdir atau kepastian. Takdir itu ada yang sifatnya pasti-pasti atau takdir yang mubram. Takdir yang tidak dapat diubah karena kepastiannya seperti itu. Misalnya takdir tentang kematian. Tidak ada yang akan bisa menolak jika kematian itu sudah datang. Tidak diundur dan tidak dimajukan. Tetapi ada takdir pasti-tergantung atau takdir mu’allaq. Jadi takdir yang bisa  berubah karena factor usaha yang sungguh-sungguh dari manusia. Misalnya takdir tentang rejeki. Orang yang sesungguhynya ditakdirkan kaya akan tetapi karena kemalasan atau kesalahan dalam memenej usahanya,  maka menjadi terjerembab dalam kemiskinan.

Setiap manusia dipastikan mendapat asupan makanan, akan tetapi untuk dapat makan harus berusaha. Bahkan orang sudah ditakdirkan masuk surga akan tetapi karena pilihannya pada tindakan kejelekan, maka bisa masuk neraka dan sebaliknya. Ini yang saya sebut takdir pasti-tergantung. Jadi, di dalam takdir mu’allaq tersebut Tuhan menyediakan takdir, tetapi Tuhan juga memberikan petunjuk agar orang berbuat baik sesuai dengan petunjuk dimaksud. Manusia dengan ratio, hati dan spiritualitasnya dapat memilih mana yang terbaik bagi dirinya. Di dalam istilah ilmu teologi disebut sebagai free will dan free act. Kehendak dan tindakan bebas. Manusia bisa memilih dengan potensinya untuk memilih. Ada manusia yang selamat karena memilih yang baik dan ada yang tidak selamat karena memilih yang salah.

Kedua, the power of manusia. Manusia itu terdiri dari dari jasad, jiwa dan roh. Jasad  itu seperti kerangka computer yang sudah lengkap, kemudian agar dapat hidup maka harus dicolokkan ke Listrik agar daya Listrik bisa menghidupkannya, lalu diinstal dengan program yang bervariasi. Manusia telah sempurna dengan  fisiknya pada 40 hari ketiga dari ketemunya sperma dan ovum. Lalu malaikat atas perintah Allah meniupkan ruh sehingga jasad janin itu hidup tetapi belumlah dapat melakukan aktivitas apa-apa. Maka jasad yang sudah diisi dengan roh tersebut diinstal dengan tujuh dimensi yaitu: kodrat, iradat, hayat, ilmu, kalam, samian dan bashiran. Manusia diisi dengan takdirnya, hasratnya, kehidupannya, pengetahuan, kemampuan kalam, kemampuan mendengar dan kemampuan melihat. Jasad dan roh disiapkan dan diberinya instalasi untuk menggunakannya.

Tujuh aspek ini yang kemudian menjadi jiwa atau nafsu. Nafsu untuk berhasrat, nafsu untuk hidup, nafsu untuk mengetahui, nafsu untuk berbicara, nafsu untuk mendengar, dan nafsu untuk melihat. Nafsu tersebut kemudian ada yang berdekatan dengan dimensi fisik atau jasad atau disebut dengan kal hayawan dan ada yang berdekatan dengan roh atau disebut kal malaikat.

Begitu kasih dan sayangnya Allah kepada manusia, maka meskipun sudah ditentukan akan kepastian di dalam kehidupannya, akan tetapi tetap diberinya potensi untuk kebaikan. Premisnya Allah itu Maha Baik, pasti Allah akan memberikan kebaikan. Di sini diturunkan Nabi dan Rasul dan berbagai pedoman kehidupan agar manusia bisa selamat fid dini, wad dunya wal akhirah. Ajaran kebaikan itu direpresentasikan dengan kehadiran Nabi dan Rasul yang dipilih oleh Allah SWT.

Ketiga, the power of setan. Di dalam ajaran agama, maka setan itu adalah kekuatan yang diberikan kepada makhluk Allah untuk menggoda dan menggelincirkan manusia dari kebaikan. Setan juga disebut sebagai iblis, yang memang dilaknat karena keingkarannya atas perintah Allah. Setan itu ada di dalam diri manusia, misalnya makhluk Allah yang ada di dalam diri yang disebut sebagai khannas. Sebuah bisikan yang dapat dirasakan kehadirannya melalui pikiran atau hati akan tetapi tidak diketahui dari mana dan bagaimana proses kejadiannya.

Inilah yang bisa dinyatakan sebagai setan internal, yang hidup dan hadir di dalam diri manusia. Tetapi juga ada setan eksternal, yang wujudnya bisa bermacam-macam. Setan eksternal itu bisa berupa manusia, benda atau lainnya. Ketemunya antara khannas atau setan internal dengan setan eksternal itu  dalam kehadiran setan eksternal. Jika dua kekuatan tersebut bertemu, maka di situ terjadi perbuatan yang salah atau menyimpang. Itulah sebabnya manusia diminta untuk membaca ayat kursi, surat al Ikhlas, surat al falaq dan surat an nas agar dapat meminimalisir gangguan khannas di dalam diri  manusia.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

MENERIMA TANPA MEMINTA (58)

MENERIMA TANPA MEMINTA (58)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam kehidupan, manusia sering kali terlibat di dalam keadaan saling memberi dan menerima. Memang menjadi kodrat manusia untuk senang menerima. Ada kebanggaan dan kebahagiaan kala menerima sesuatu dalam bentuk apapun. Ada perasaan senang di kala menerima hadiah, terutama dalam moment-moment khusus, misalnya hari pernikahan, ulang tahun kelahiran, ulang tahun pernikahan atau acara-acara khusus lainnya. Saya kira tidak orang kaya atau miskin,  semuanya senang untuk memperoleh sesuatu. Pemberian itu tidak harus berharga mahal, bisa juga  sesuatu yang murah. Tetapi menerimanya pasti dengan suka cita.

Secara konseptual, pemberian itu setua sejarah manusia. Pemberian merupakan bagian dari teori pertukaran yang dikembangkan oleh manusia sepanjang masa. Ada varian pemberian di dalam kehidupan manusia. Pemberian bisa dikaitkan dengan kekuasaan untuk memperoleh perlindungan, untuk memperoleh keamanan atau untuk mendapatkan priveledge tertentu dari yang berposisi di atas atau penguasa kepada yang dikuasai atau yang berposisi di bawah. Sejarah mengenal banyak bentuk pemberian dikaitkan dengan kekuasaan ini.

Negara-negara kuno di dunia juga mengenal konsep pemberian. Misalnya Kerajaan Persia, Kerajaan Mesir  dan  Kerajaan Romawi, serta Kerajaan di Nusantara, seperti Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Kediri, Kerajaan Majapahit dan sebagainya semua mengenal konsep pemberian. Di dalam di dunia kekuasaan, maka pejabat yang berada di level bawah dipastikan akan memberikan upeti kepada pejabat yang lebih tinggi secara berjenjang. Dari sini kemudian pemberian menjadi tradisi yang terus berkembang hingga sekarang.

Pemberian tentu tidak ada salahnya, selama tidak disertai dengan niat atau intensi atas pemberian tersebut. Selama tidak ada motive tujuan di dalam pemberian tersebut. Misalnya terkait dengan jabatan, kekuasaan, pekerjaan dan akses-akses lainnya. Pemberian itu harus memenuhi standar tidak ada  sesuatu dibalik pemberian dimaksud. Makanya, yang dpersyaratkan oleh ajaran Islam adalah pemberian tanpa tujuan dan berbasis pada keikhlasan semata dari pemberinya.

Pada Bab 58, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Boleh menerima pemberian tetapi bukan karena meminta-minta”. Judul tersebut saya perpendek dengan ungkapan “Menerima tanpa Meminta”. Tentu diharapkan bahwa perubahan judul itu tidak berarti mengurangi makna yang sudah dijelaskan oleh Syekh Imam A Nawawi. Hanya untuk kepentingan memudahkan bagi para pembaca tentang judul dimaksud.

Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan atas tema di atas dengan sebuah hadits sebagaimana  yang diriwayatkan oleh Samim bin Abdulah bin Umar R.A berkata: “Rasululllah SAW  pernah memberiku  suatu pemberian lalu aku berkata kepadanya, ‘berikanlah kepada orang yang lebih fakir dari padaku. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Ambillah sekiranya diberikan kepadamu sesuatu sedangkan kamu tidak mengharap-harapkannya dan tidak pula meminta-mintanya, maka ambillah dan simpanlah untukmu. Jika kamu suka makanlah dan jika tidak suka, sedekahkanlah. Tetapi sekiranya bukan selain itu, maka janganlah kamu menuruti keinginanmu itu”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Dari hadits ini, maka dapat digarisbawahi atas tiga hal, yaitu:

Pertama, menerima sesuatu bisa barang, uang atau jasa merupakan kebiasaan di dalam masyarakat. Barang, uang atau jasa tersebut tidak terkait dengan penyelesaian pekerjaan atau akses tertentu,  akan tetapi memang diberikan begitu saja. Di dalam konsep ilmu social disebut sebagai pemberian. Jika diklasifikasi, maka ada dua jenis pemberian, yaitu yang terkait dengan kepentingan kedua belah pihak dan yang tanpa kepentingan kedua belah pihak. Yang penting bahwa ada proses memberi dan menerima. Take and give. Sebagaimana hadits di atas, maka jelas bahwa tidak ada kepentingan terkait apapun kecuali ekspressi rasa cinta. Cinta Nabi SAW kepada sahabatnya. Cinta itu tidak diperuntukkan kepada orang lain, kecuali kepada sahabatnya tersebut. Inilah yang disebut sebagai pemberian berbasis keikhlasan yang didasari oleh rasa cinta, penghormatan dan kebaikan. Pemberian seperti ini, tentu bukan pemberian yang salah di dalam agama Islam.

Kedua, pemberian terkadang dapat dilacak ada kaitannya dengan tradisi yang memang berkembang. Budaya kita, terutama terkait dengan kekuasaan atau akses lainnya, selalu melibatkan pemberian. Jika kita bertamu kepada sahabat, orang yang lebih tua, atau orang yang dihormati, maka kita membawa oleh-oleh atau buah tangan. Kaum perempuan sangat menyenangi hal ini. Oleh karena itu, jika kita bertamu dengan perempuan, isteri atau saudara,  dipastikan yang diutamakan adalah oleh-oleh sebagai buah tangan dimaksud.

Pemberian seperti ini juga merupakan pemberian yang basisnya tradisi. Selama tidak ada intensi lain selain penghargaan atas tradisi,  tentu bisa dilakukan. Yang terpenting bukan berlebihan dilihat dari nilai pemberian dimaksud. Sekedarnya. Tidak mengada-ada. Jadi yang menjadi tolok ukurnya adalah intensi atau tujuan dibalik pemberian itu. Murid kepada guru, atau kepada orang yang dihormati karena ilmu, usia atau kewibawaan, maka tentu bisa dilakukan pemberian dimaksud sebagai ikatan persaudaraan dan bukan ikatan akses.

Ketiga, pemberian juga dapat dikaitkan dengan gratifikasi. Di Indonesia dikenal konsep gratifikasi atau pemberian yang memiliki intensi untuk kelancaran atau kemudahan akses dalam banyak hal, bisa jabatan, pekerjaan, kemudahan dalam akses kehidupan dan lain-lain. Jika ada intensi seperti ini, maka pemberian tersebut tidak sesuai dengan yang dimaknakan oleh Hadits Nabi Muhammad SAW. Jadi, sebenarnya tidak sulit untuk memahami apakah itu gratifikasi atau tidak. Jadi dengan melihat bagaimana intensi tersebut dimainkan.

Di Indonesia dikenal ada tradisi buwuhan, sedekahan, sambatan dan gotong royong yang terkadang juga menggunakan uang atau barang. Jika itu dimaksudkan sebagai bagian dari melaksanakan tradisi dan tidak dikaitkan dengan tujuan atau motif tertentu, maka tentu tidaklah dimaksudkan sebagai gratifikasi.

Oleh karena itu, kita harus memahami bahwa tidak semua pemberian itu sebuah kesalahan, sebab ada juga pemberian yang justru bernilai ibadah. Memiliki nilai ibadah social dan sekaligus ibadah kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

QANAAH, HIDUP SEDERHANA DAN JANGAN MEMINTA-MEMINTA (57)

QANAAH, HIDUP SEDERHANA DAN JANGAN MEMINTA-MEMINTA (57)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pada Bab 57, Syekh Imam An Nawawi, menjelaskan tentang “Qanaah, Iffah, Infaq, Hidup Sederhana,  Dan Celaan Terhadap Minta-Minta Tanpa Mendesak”. Kemudian pada Bab ini, saya mencoba untuk memendekkan judulnya menjadi “Qanaah, Hidup Sederhana Dan Jangan Meminta-Meminta”. Tujuannya adalah untuk memudahkan bagi pembaca dalam memperoleh penjelasan tentang judul ini.

Banyak orang yang tidak hidup dengan qanaah. Qanaah itu adalah pemahaman, sikap dan perilaku manusia yang menerima atas ketentuan Allah, memiliki kerelaan, merasakan ketercukupan dan senang mendapatkan sesuatu yang datangnya dari Allah SWT. Pemahaman, sikap dan perilaku seperti ini yang sekarang agak jarang dijumpai dalam diri manusia. Manusia selalu merasa kurang, merasa belum cukup dan merasa akan meraih semuanya. Banyak penyimpangan yang terjadi karena ketiadaan qanah di dalam diri seseorang.

Secara empiric, dapat diketahui betapa banyaknya orang yang ingin jabatan dengan membelinya, ingin kaya dengan cara melakukan fraud atau korupsi atau dengan melakukan kecurangan dan tindakan yang tidak bisa diterima dengan nalar yang sehat, apalagi nalar keagamaan. Kita terkadang merasa ngeri melihat perilaku-perilaku yang  menyalahi norma social yang berbasis pada nilai keagamaan. Inilah yang sekarang sedang dipertontonkan oleh sebagian kecil masyarakat di tengah hiruk pikuk kehidupan social. Moral hazard ada di mana-mana, dan mereka merasa tidak bersalah dengan tindakannya tersebut.

Perilaku seperti ini sungguh merugikan orang lain. Bisa dibayangkan bahwa yang mereka lakukan adalah pencurian atas hak-hak orang lain. Misalnya dengan mengkorupsi program pembangunan,  maka mereka telah merusak tujuan dan target pembangunan. Sebagaimana telah djelaskan oleh Allah SWT dan disabdakan oleh Nabi SAW, bahwa mereka adalah orang yang menghalangi orang lain untuk memperoleh manfaat atas kebaikan yang direncanakan.

Ayat Alqur’an menjelaskan di dalam Surat Hud: 6, bahwa: “Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin oleh Allah rezekinya”. Lalu di dalam Surat Al Baqarah: 273, bahwa: “(apa yang diinfakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia tidak bisa berusaha di bumi, (orang lain)  yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta-minta secara paksa kepada orang lain”. Di Surat lain, Surat Al Furqan: 67, bahwa “Dan (hamba-hamba Tuhan ang Maha pengasih) orang=orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, tetapi di antara keduanya secara wajar”. Di dalam Surat Az Zariyat: 56-57, bahwa: “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan sedikit rezeki dari mereka dan aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku”.

Hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Amr bin Ash,  bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sungguh beruntung orang yang masuk Islam  dan dianugerahi rezeki  yang cukup, serta Allah menjadikannya qanaah dengan anugerah yang Dia berikan”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Lalu juga dijelaskan hadits yang diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam meriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda: “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.  Mulailah dari orang yang wajib engkau nafkahi. Sebaik-baik sedekah adalah setelah memenuhi kebutuhan diri. Siapa yang menjaga kehormatannya, maka Allah akan menjaga kehormatannya. Siapa yang mencukupkan dirinya, maka Allah akan mencukupkannya”. Hadits Riwayat  Mutafaq alaih.

Secara sosiologis, dapat dijelaskan ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, manusia memang memiliki kebutuhan mulai dari kebutuhan biologis, kebutuhan social sampai kebutuhan integrative. Tetapi kebanyakan manusia lebih mengutamakan kebutuhan biologisnya. Makan lezat, minum nikmat, harta banyak, asesori kehidupan yang serba mewah dan sebagainya. Kebutuhan inilah yang sering memasung manusia untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai keagamaan. Padahal Allah melalui Nabi Muhammad SAW sudah memberikan pedoman agar seseorang hidup dalam qanaah dan iffah atau menjaga kehormatan diri. Yaitu menjaga martabat fisik, jiwa dan roh atau spiritualitas.  Oleh karena itu, manusia diminta oleh Nabi SAW agar bisa menjaga diri sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam: qanaah, iffah dan hidup sederhana bahkan jangan menjadi peminta-minta.

Kedua, manusia memang lebih banyak dipengaruhi oleh factor eksternal selain memang ada pertimbangan internal. Pertimbangan eksternal inilah yang mewarnai kehidupan manusia. Ada rasa tidak puas atas kehidupannya karena melihat orang lain sukses dengan jabatannya dan dengan usahanya. Dalam posisi yang sama akan tetapi berbeda prestasi dan pendapatannya. Atas hal demikian, Rasulullah SAW memberikan penjelasan agar orang menerima atau pasrah atas kepastian Tuhan. Bukankah di kala Malaikat menaruh roh di dalam dirinya sudah terdapat takdir Tuhan tentang rezekinya. Tetapi rezeki tidak sedirinya datang kecuali dengan usahanya. Jika usahanya sama tetapi keberuntungannya berbeda,  maka manusia memiliki sikap qanaah dan iffah dimaksud.

Ketiga, Rasulullah SAW  mengajarkan agar manusia jangan meminta-minta untuk kepentingan pribadinya. Bolehlah seseorang membuat misalnya proposal pengajuan bantuan kepada pihak lain, tetapi bukan untuk kepentingannya. Janganlah meminta-minta dikala sesungguhnya masih ada kemampuan kita untuk melakukan sesuatu untuk diri kita. Justru yang diminta oleh Rasulullah SAW adalah agar kita bersedekah untuk keluarga kita, orang terdekat dengan kita yang memang membutuhkan sedekah tersebut dan yang penting adalah untuk fakir dan miskin. Sampai-sampai Rasulullah menggambarkan hahwa si pemberi itu memiliki nilai tinggi di dalam agama dibandingkan yang menerima. Salah satu prinsip utama di dalam Islam adalah memberikan sesuatu sesuai dengan kemampuan kita. Jangan berlebih dan jangan kikir. Apalagi memberi berlebih untuk  pencitraan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KEUTAMAAN LAPAR, HIDUP SEDERHANA DAN KETERCUKUPAN (56)

KEUTAMAAN LAPAR, HIDUP SEDERHANA DAN KETERCUKUPAN (56)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Ada sebuah pertanyaan yang kiranya penting untuk dijawab, apakah kita sudah bersyukur atas kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada kita? Kita ini semuanya nyaris tidak pernah lapar, tidak kekurangan minuman, bahkan minuman yang nikmat untuk ukuran duniawi, kita tidak kekurangan snack atau makanan camilan yang yang dapat kita makan kapan saja. Kita sudah merasakan makanan yang enak atau kurang enak. Kita sudah meminum minuman yang sangat menyenangkan tubuh kita dan memanjakan lidah kita. Bahkan orang yang kekuranganpun masih bisa menikmati makanan sesuai dengan standarnya. Inilah renungan kita yang paling besar di dalam kehidupan ini.

Orang Indonesia, rasanya sudah berkecukupan dalam makan dan minum. Betapa melimpahnya air bersih, yang tinggal memasak saja, betapa melimpahnya makanan apapun jenisnya. Ada nasi, ada ketela, ada jagung, ada buah-buahan, ada daging, ada ikan, ada berbagai jenis makanan dan minuman yang dapat kita makan. Alam kita yang sedemikian memanjakan perut atau badan kita. Semuanya sudah diberikan Allah dengan kasih sayangnya. Ya Allah, sedemikian besar kasih sayangmu kepada masyarakat dan bangsa ini.

Kemudian bandingkan dengan kehidupan keluarga Rasulullah SAW. Keluarga Nabi Muhammad SAW yang menurut akal kita pasti tidak akan kekurangan makanan dan minuman, tetapi Rasulullah SAW dan keluarganya memilih kehidupan yang sangat sederhana, kehidupan yang serba kekurangan. Tidak pernah cukup makan dalam dua hari berturut-turut sampai akhir hayatnya. Ya Allah, sedemikianlah kehidupan Rasul-Mu dan keluarganya. “Allahumma ainni ‘ala dzikrika, wa syukrika wa husni ‘ibadatika”. “Ya Allah tolonglah aku untuk terus berdzikir, dan bersyukur dan beribadah kepadamu Ya Allah”.

Di dalam Surat Maryam: 59-60, Allah berfirman: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun”.

Di dalam Surat Al Qasas: 79-80, Allah berfirman: “maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: ‘moga-moga kiranya kita mempunyai keberuntungan yang besar’. Berkatalah orang-orang  menghendaki kehidupan dunia: ‘moga-moga kiranya kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: ‘kecelakaan yang besarlah bagimu , pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala  itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”.  Di dalam surat At Takatsur: 5, Alqur’an menjelaskan: “kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang  kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”.

Kemudian hadits Nabi Muhammad SAW, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh A’isyah R.A, berkata, bahwa “keluarga Muhammad SAW tidak pernah kenyang makan roti dari tepung gandum selama dua hari berturut, sampai Beliau wafat”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits lain sebagaimana diriwayatkan oleh Urwah dari A’isyah R.A, bahwa sesungguhnya Aisyah R.A., pernah berkata: “Demi Allah, hai anak saudaraku, sesungghnya kita melihat ke bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit yang berarti dalam dua bulan lamanya, sedang di rumah-rumah keluarga Rasulullah SAW  tidak pernah ada nyala api”. Saya, Urwah, berkata: “hai bibi, maka apakah yang dapat menghidupkan anda sekalian?. Aisyah RA menjawab: “dua benda hitam, yaitu kurma dan air belaka”. Hanya saja Rasulullah SAW mempunyai beberapa tetangga dari kaum Anshar, mereka itu mempunyai beberapa ekor unta manihah (perahan) lalu mereka kirimkanlah air susunya itu kepada Rasulullah SAW,  kemudian memberikan minuman itu kepada kita”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Ada banyak sekali ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW yang dijelaskan oleh Syekh Imam An Nawawi, akan tetapi ayat Alqur’an dan hdits yang saya tulis di dalam artikel ini cukup memberikan gambaran tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW. Sebuah keluarga yang sangat sederhana, tetapi merasa berkecukupan. Nabi Muhammad SAW adalah teladan bagi manusia seluruh dunia tentang kesederhanaan, ketercukupan dan ketersyukuran kepada Allah SWT. Ada tiga hal yang dapat dipahami, yaitu:

Pertama, manusia sesungguhnya sudah memiliki teladan kehidupan yang luar biasa di dalam kehidupan. Teladan itu adalah Nabi Agung Muhammad SAW. Teladan di dalam sifat dan pribadinya yang penuh kasih sayang. Sebuah kasih sayang yang menjadi representasi Rahman dan Rahim Allah SWT kepada umat manusia. Rasulullah SAW menjadi contoh dalam kesederhanaan di hadapan manusia. Kesederhanaan bukan dibuat-buat atau pencitraan akan tetapi memang demikianlah realitasnya. Bukankah seandainya Rasulullah berdoa kepada Allah SWT agar dapat memperoleh ketercukupan lebih dalam kehidupan, dipastikan Allah SWT akan mengabulkannya. Tetapi hal itu tidak dilakukannya, bahkan Rasulullah SAW menikmati kehidupan seperti itu. Karena hal itu adalah tugasnya.

Kedua, di dalam kehidupan ini, manusia lebih besar kecenderungannya untuk memenuhi hasrat kebutuhan fisiknya. Makan enak, minum nikmat, tidur cukup, berpakaian indah, menikmati kendaraan yang nyaman dan sebagainya. Serba fisik, serba badan. Contoh sedemikian digambarkan dengan Qarun, kapitalis pertama di dunia, dan orang-orang yang menginginkan kelezatan di dalam kehidupan. Kaum hedonis. Di sekeliling kita sesungguhnya dihuni oleh orang-orang seperti ini. Pantaslah kalau kemudian kita terpengaruh oleh factor eksternal tersebut. Kita selalu menjadikan orang  kaya, kaum the have, sebagai idola di dalam kehidupan. Orang yang sukses adalah orang yang kaya dan banyak hartanya. Bukan orang yang cukup dan banyak ilmunya.

Ketiga, fungsi teks Kitab Suci, Alqur’an dan hadits, adalah pemberi peringatan kepada manusia agar berperilaku yang pantas. Tidak berlebihan. Coba jika dipikir, orang yang paling kaya yang rumahnya sangat mewah dengan asesori dari emas dan berlian, sebenarnya seberapa banyak ruang yang dibutuhkan untuk istirahat. Untuk tidur. Tentu hanya satu kamar. Dan itupun sebenarnya hanya beberapa jam saja disinggahi. Orang seperti Donald Trump, yang super kaya, kapitalis zaman sekarang, apa sesungguhnya yang dibutuhkannya. Orang seperti Qarun, orang super kaya, kapitalis zaman baheula, sesungguhnya apa yang dibutuhkan di dalam hidupnya. Dan hidup juga terbatas tahunnya.

Oleh karena itu, teladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya adalah teladan dalam kehidupan yang empiris, tetapi berbasis pada dunia metaempiris atau supraempiris. Dan teladan itu untuk memberikan contoh kepada manusia tentang bagaimana hidup sesungguhnya yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.