Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ANJURAN MELAKUKAN ZIARAH KUBUR (66)

ANJURAN MELAKUKAN ZIARAH KUBUR (66)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir Rahim

Manusia memiliki tradisi macam-macam di dalam melakukan penguburan atas orang yang sudah mati atau wafat. Ada tradisi membakar mayat dan kemudian abunya di buang ke laut atau ke Sungai yang deras. Di India ada tradisi membakar mayat dan abunya di buang di Sungai. Ada juga tradisi menempatkan mayat dengan cara mengawetkannya di tempatkan di bangunan permanen, seperti The San Diego Memorial Park di Jakarta atau Grand Heaven di Surabaya, dan ada yang dibiarkan dan ditempatkan di bukit-bukit di Toraja atau di bawah pohon di Sasak Lombok dan sebagainya.

Islam mengajarkan agar mayat dimandikan, dishalatkan, dikafani dan dikubur di pemakaman yang memang dikhususkan untuk pemakaman. Di Arab Saudi yang terkenal adalah Makam Baqi’, lalu di Indonesia setiap desa memiliki pemakaman yang khusus untuk umat Islam. Cara merawat mayat nyaris semuanya sama, hanya pasca penguburan yang terdapat perbedaan. Misalnya di kalangan orang NU, maka kemudian di talqin atau diajari tentang pertanyaan kubur yang bisa diajarkan, sementara orang Muhammadiyah tidak melakukannya.

Tetapi yang terpenting bahwa secara historis, Nabi SAW pernah melarang berziarah kubur. Hal itu dilakukan sebab ada kekhawatiran mereka akan menyalahgunakan ziarah kubur untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Akan tetapi di kala iman mereka sudah sangat kuat dan tidak diragukan akan terjadi penyimpangan akidah, maka berziarah kubur lalu dianjurkan.

Di Nusantara terdapat tradisi yang unik, yaitu berziarah ke makam-makam para waliyullah. Tradisi ini dilakukan untuk berdoa kepada Allah dengan membacakan ayat-ayat suci Alqur’an, berdzikir dan membaca tahlil sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama. Tradisi ini kebanyakan dilakukan oleh orang NU, yang memiliki keyakinan bahwa para Auliya dapat menjadi washilah atas doa yang dilakukan. Sekali lagi wasilah aau perantara. Biasanya wasilah tersebut disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW dan kemudian baru kepada para Auliya yang diziarahi. Bisa terjadi perdebatan pendapat tentang hal ini. Tetapi inilah dunia keyakinan beragama yang memiliki keunikan.

Syekh Imam An Nawawi mengutip hadits sebagaimana diriwayatkan oleh ahli hadits. Hadits Rasulullah SAW sebagaimana diungkapkan oleh Buraidah RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Saya pernah melarang kalian berziarah kubur, namun sekarang berziarahlah ke kubur”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Dalam Riwayat lain disebutkan: “maka barangsiapa yang hendak berziarah ke kubur berziarahlah, sebab ziarah kubur itu dapat mengingatkan kita kepada akhirat”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, berkata: “Rasulullah SAW ketika giliran menginap di tempat Aisyah, beliau lalu keluar pada akhir malam ke makam Baqi’, kemudian mengucapkan: “keselamatan atas kalian semua hai perkampungan kaum mukminin, telah datang kepada kalian apa yang dijanjikan, besuk telah ditentukan. Sesungguhnya kita semua insyaallah menyusul kalian. Ya Allah ampunilah praa penghuni makam Baqi’ Al Gharqad. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah RA berkata: “Nabi SAW mengajarkan kepada para sahabat jika keluar hendak ke makam supaya seseorang dari mereka mengucapkan, ‘keselamatan atas kalian wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan Muslimin. Sesungguhnya kita semua insyaallah menyusul kalian. Saya mohonkan kepada Allah untuk kita dan kalian akan keselamatan”. Hadits Riwayat Imam At Tirmidzi.

Dari uraian di atas, kiranya dapat  dijelaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama, memang ada tradisi menghormat kepada leluhur. Tradisi tersebut telah dilakukan secara massif pada kalangan penganut agama di dunia. Misalnya di Cina yang memiliki tradisi penghormatan kepada leluhur. Hari raya Imlek adalah tradisi untuk upacara penghormatan kepada  para leluhurnya. Tidak perduli apa agamanya, akan tetapi di dalam perayaan Imlek semuanya terlibat.

Sesungguhnya, berziarah kubur merupakan perbuatan yang di zaman Nabi SAW pernah dilarang. Ada kekhawatiran bahwa umat Islam yang imannya belum kuat justru meminta kepada arwah yang dikuburkan. Tetapi di kala iman mereka kepada Allah sudah sangat kuat dan tidak mungkin akan terjadi kemusyrikan, maka ziarah kubur diperkenankan. Tujuannya adalah untuk mendoakan kepada arwah yang jasadnya dikuburkan di makam dimaksud.

Kedua, Islam itu sangat menghargai atas kemanusiaan. Bahkan atas orang yang sudah wafat. Tidak hanya yang masih hidup. Islam mengajarkan agar kita tetap membangun kebahagiaan atas orang yang sudah wafat. Misalnya dengan membacakan doa dan membacakan ayat-ayat Alqur’an dan dzikir-dzikir yang dianjurkan oleh Allah. Bahkan Rasulullah menyatakan yang akan mengikuti roh di alam Barzakh adalah sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan atas keluarganya.

Melalui ajaran ini, maka tentu menjadi peringatan bagi kita semua agar selalu melakukan perbuatan kebaikan atas orang lain, terutama para anggota keluarga baik yang masih hidup atau yang sudah wafat. Islam memang memberikan perhatian khusus atas relasi social yang baik di antara sesama manusia.

Ketiga, kita tentu harus bersyukur kepada Allah karena bisa menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad SAW. Dan dengan bersyukur kepada Allah atas ajaran-ajaran kebaikannya tersebut, maka yang kita harapkan adalah keridlaan Allah dan berlanjut dengan Rahmat Allah SWT. Tidak ada kebahagiaan yang melebihi hal ini. Jika kita berhasil mendapatkannya karena kecintaan kita kepada kemanusiaan, maka inilah yang dapat disebut sebagai the endless bliss.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..