Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ORANG KAYA YANG BERSYUKUR (64)

ORANG KAYA YANG BERSYUKUR (64)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Tentu saja ada orang kaya yang bersyukur kepada Allah dan ada orang kaya yang tidak bersyukur kepada Allah. Jika dibandingkan, mana yang lebih banyak? Maka secara asumtif lebih banyak orang kaya yang tidak bersyukur. Orang-orang materialisme atau atheisme tentu tidak bersyukur kepada Tuhan, sebab mereka tidak percaya kepada Tuhan. Padahal jumlah mereka yang kaya dengan prinsip materialism dan atheism itu jumlahnya lebih banyak.

Bahkan juga ada orang yang beragama Islam, tetapi rasa syukurnya itu tipis sekali.

Sesungguhnya secara tipologis, bahwa orang itu menjadi kaya atau tidak sangat tergantung pada usaha yang dilakukannya. Itulah yang menyebabkan bahwa kekayaannya itu tidak ada factor Tuhan di dalamnya. Mereka beranggapan bahwa kekayaannya atau hartanya itu murni dari usaha keras yang dilakukannya. Ini merupakan kesalahan berpikir tingkat awal yang dapat menjadi penyebab kerusakan moralitas yang sangat mendasar. Sebab melalui cara berpikir seperti ini, maka akan menyebabkan seseorang menjadi kikir, sebuah perilaku yang dilarang oleh Rasulullah SAW.

Salah satu di antara tanda seseorang bersyukur atas harta yang diperoleh dengan benar adalah dengan melakukan amalan shalihan dalam berharta. Yaitu mengeluarkan untuk zakat, infaq dan shadaqah. Hati yang mudah terketuk untuk menolong merupakan salah satu indikasi awal, bahwa seseorang memiliki kecerdasan social yang tinggi. Dari sini kemudian menyebar kepada otak, hati dan seluruh tubuhnya untuk bergegas menolong atas orang yang membutuhkan pertolongan. Terutama menolong orang yang kekurangan, misalnya orang yang fakir, miskin dan orang yang belum beruntung kehidupannya.

Allah berfirman di dalam Surat Al Lail: 5-7, bahwa: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. Di dalam Surat Al Lail: 17-21,  bahwa: “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu. Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya. Padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasanya. Namun, (dia memberikan itu semata) karena mencari keridlaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapatkan kepuasan”.

Alqur’an juga menjelasakan di dalam Surat Al Baqarah: 271, bahwa: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu) maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Selain itu juga terdapat hadits Nabi SAW melalui cerita Abdullah bin Mas’ud RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak diperbolehkan iri melainkan atas dua hal, yaitu seseorang yang dikaruniai oleh Allah harta kemudian ia mempergunakannya dalam kebenaran dan seseorang yang dikaruniai oleh Allah ilmu pengetahuan, kemudian ia memberikan  keputusan dengan ilmunya ini serta mengajarkannya”. Hadits Riwayat Shahihain. Lalu juga ada hadits Nabi SAW yang diceritakan oleh Abdullah bin Mas’ud RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tidak diperbolehkan iri melainkan terhadap dua perkara, yaitu: seseorang yang dikaruniai oleh Allah kepandaian dalam Alqur’an kemudian dia suka bersembahyang dengan membaca Alqur’an itu pada waktu malam dan siang, serta seseorang yang dikaruniai oleh Allah harta lalu ia menafkahkannya pada waktu malam dan siang”. Hadits Shahihain.

Dari penjelasan atas Alqur’an dan hadits Nabi SAW, maka dapat dicatat tiga hal penting, yaitu:

Pertama, Allah memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas seseorang yang diberi kelebihan harta dan diperolehnya dan harta tersebut dengan benar atau sesuai dengan syariat Allah dan kemudian dinafkahkan  untuk kebaikan. Allah menjanjikan hambanya yang seperti itu dengan pahala Allah yakni surga. Sebuah tempat yang dijanjikan kepada orang yang beriman dan beramal shaleh.

Jika umat Islam mengamalkan ajaran seperti ini, dengan mengirimkan sebagian kecil hartanya untuk sedekah, infaq dan zakat serta wakaf, dan mengirimkannya kepada Lembaga-lembaga resmi pemerintah atau Lembaga zakat berizin yang mengelola hal tersebut, dan kemudian dapat ditasarufkan untuk kesejahteraan umat, maka akan didapatkan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

Kedua, bahkan Rasulullah SAW memberikan perkecualian atas perilaku yang di dalam banyak hal dilarang, yaitu iri atas perilaku lainnya dengan membolehkannya adalah iri atas amal kebaikan yang berupa orang kaya yang menafkahkan hartanya untuk kebaikan dan orang yang  berilmu dan ilmunya digunakan untuk menyebarkan agama Allah SWT. Orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu untuk kebaikan, maka seseorang yang seperti ini patut ditiru. Termasuk juga orang yang memiliki keahlian di dalam Alqur’an dan mengamalkannya untuk umat. Sebaik-baik orang adalah yang belajar Alqur’an dan mengajarkannya.

Ketiga, kesadaran untuk berinfaq, bersedkah dan berzakat Masyarakat Indonesia belum menggembirakan. Potensi  zakat itu besar sekali, akan tetapi yang bisa direalisasi masih sangat sedikit. Hal ini menandakan bahwa kesadaran untuk melakukan zakat masih rendah. Oleh karena itu literasi zakat mesti harus ditingkatkan agar target pencapaian zakat dapat dipenuhi.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..