Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEHARAMAN SOMBONG DAN BANGGA DIRI SENDIRI (72)

KEHARAMAN SOMBONG DAN BANGGA DIRI SENDIRI (72)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir Rahim.

Sombong merupakan  sikap dan Tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam relasinya dengan orang lain. Bahkan juga terhadap relasinya dengan Tuhan dan alam. Kesombongan terhadap Tuhan misalnya dalam bentuk meyakini bahwa dirinya adalah Tuhan. Sebuah perilaku yang tidak relevan dengan eksistensi manusia sebagai makhluk. Ada beberapa contoh manusia yang meyakini dirinya sebagai Tuhan, sehingga meminta umatnya untuk menyembahnya. Misalnya adalah Fir’aun dari Mesir, Nebukadnezar dari Babilonia, Namruz dari Babilonia, dan beberapa lainnya yang merasa memiliki kekuasaan dan kekuasaan itu didapatkan dari hasil kerjanya sendiri tanpa keterlibatan Tuhan.

Tindakan sombong terhadap manusia juga sangat luar biasa. Ada banyak perilaku sombong atas sesama manusia. Di dalam hal ini, ada sangat banyak kesombongan yang dilakukan oleh manusia dalam berbagai jenisnya. Misalnya merendahkan martabat manusia, merendahkan kehormatan manusia, menganggap orang lain tidak memiliki kapasitas yang tidak sesuai dengan kenyataannya, merasa paling hebat sendiri dan serba memiliki kelebihan. Indicator orang sombong itu bisa dilihat dari apa yang diungkapkan atau dinyatakan, misalnya: cara berbicara,  cara berjalan, cara untuk memandang orang lain, suka mencibir, suka bicara dengan kekerasan, suka untuk membuli orang lain, suka merendahkan derajat orang lain.

Belum lagi kesombongan terhadap alam dengan pemikiran bahwa alam adalah obyek dan manusia sebagai subyek. Sebagai subyek, maka manusia menjadi penentu segalanya atas alam. Sebagai obyek,  maka alam dapat diperlakukan sebagai benda yang tidak ada apa-apanya untuk dirusak dan dihancurkan. Hutan digunduli untuk kepentingan ekploitasi ekonomi, Sungai dicemari dengan berbagai sampah. Laut juga dicemari dengan bahan-bahan yang tidak bisa hancur, misalnya plastic. Hewan juga diperlakukan seenak hatinya. Kesombongan manusia tersebut yang juga akan berakibat atas dirinya. Di kala terjadi banjir, longsor, dan akibat serius yang diakibatkan oleh kerusakan alam,  barulah merasa bahwa alam pun bisa menghancurkan dirinya.

Syekh Imam An Nawawi, mengutip banyak  ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Dalil naqli tersebut digunakan untuk memberikn peringatan bagi orang yang sombong di dalam kehidupannya. Di dalam Alqur’an dijelaskan sebagaimana tercantum di dalam Surat Al Qasshash: 83, bahwa “Negeri akherat itu, kamu jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. Di surat lain, Al Isra’: 37, bahwa: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong”.  Lalu di dalam Surat Lukman: 18 dinyatakan: “dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Mas’ud RA., Nabi SAW bersabda: “tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong, walaupun sebesar biji sawi”. Kemudian ada orang berkata: ‘sesungguhnya ada orang yang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya pun bagus’. Lalu Beliau bersabda: “sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Di dalam hadits lain dinyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Haristah bin Wahab RA.,  ia berkata: ‘saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kalian aku beritahu, siapakah penghuni neraka? Mereka itu adalah orang-orang yang kejam, rakus, dan bersikap sombong”. Hasits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits lain menyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hrairah RA., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “ada tiga kelompok yang pada hari kiamat tidak akan diajak bicara, tidak disucikan dan tidak dilihat Allah, dan mereka akan mendapat azab yang pedih, yaitu: orang tua yang berzina, penguasa yang bohong dan fakir miskin yang sombong”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Salamah bin Akwa RA., ia berkata, Rasulullah bersabda: “jika seseorang senantiasa membanggakan dan menyombongkan dirinya, sehingga ia akan dicatat termasuk golongan orang-orang yang kejam lagi sombong, kemudian ia akan ditimpa apa yang biasa menimpa mereka”. Hadits Riwayat Imam Tirmidzi.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat dijelaskan tentang pemahaman jangan melakukan kesombongan di dalam kehidupan. Ada tiga hal yang dapat dijelaskan, yaitu:

Pertama, manusia itu sesungguhnya tidak memiliki kekuatan yang ekstra kuat. Manusia bahkan juga tidak tahu apa yang berada dibalik tembok, jika tidak tahu sebelumnya. Manusia tidak mampu untuk mengalahkan hewan-hewan buas,  jika tanpa senjata apapun. Manusia juga sangat kecil dibandingkan dengan keluasan dan kekuatan alam. Apalagi dibandingkan dengan kekuasaan Allah SWT. Sungguh manusia itu seperti debu dalam lautan pasir bahkan lebih kecil. Dari galaksi dan tata surya yang ada di dunia ini, maka hanya ada lima persen yang diketahui manusia meskipun menggunakan alat canggih sekalipun. Setiap ada instrument tehnologi baru, maka muncul temuan baru. Begitulah dinamika alam yang tidak terselami oleh manusia.

Kedua, Islam mengajarkan agar manusia meletakkan dirinya di dalam kekuasaan Allah. Karena betapa kecilnya kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya. Semuanya terjadi karena kekuasaan Allah. Manusia tidak akan mampu melawan ketuaan, melawan sakit dan melawan kematian. Semuanya ada batas kemampuannya. Manusia yang paling kaya dalam sejarah kemanusiaan, Qarun, tidak mampu melawan tanah longsor yang menyebabkan kematian dan hilangnya harta kekayaannya. Manusia yang merasa paling berkuasa, Firaun, mati di tengah samudra karena tidak kuasa untuk melawan takdir kematiannya. Dan contoh-contoh lainnya. Oleh karena itu, bagaimana manusia harus menyombongkan diri dan menganggap dirinya yang paling hebat.

Ketiga, Islam mengajarkan agar manusia tidak menyombongkan diri karena kekuasaan, kekuatan dan kekayaannya. Semua bisa punah. Itulah sebabnya Islam mengajarkan agar manusia merasa kecil di hadapan Allah. La haula wa la quwwata illa billah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah. Makanya ketika kaya, jangan meremehkan orang yang tidak punya, kaum fakir dan miskin.  Di  kala  berkuasa, jangan  membuat kebijakan dan perlakuan yang tidak sesuai dengan kaidah kemanusiaan. Dan di kala  kuat,  jangan sampai memperolok orang yang lemah dan bahkan menyakitinya. Tidak selamanya manusia  berkuasa, tidak selamanya manusia kuat.

Jika kita memahami tentang hal tersebut, maka sesungguhnya tidak pantas  orang  menyombongkan diri di tengah kehidupan yang serba dinamis. Marilah diyakini bahwa yang memiliki segalanya adalah Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN KAUM MUKMIN (71)

MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN KAUM MUKMIN (71)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dunia ini penuh dengan kisah-kisah orang yang sombong, orang yang merasa dirinya paling hebat dan beranggapan bahwa dirinya merasa tidak ada tandingannya. Bahkan ada di antaranya yang menganggap dirinya menjadi Tuhan. Kekuasaan duniawi yang diraihnya mengarahkan pikiran dan hatinya bahwa dirinya adalah yang paling berkuasa. Ada Fir’aun dari Mesir, ada Nebukadnezar dari Babilonia baru,  ada Namrud dari Babilonia Kuno,  dan lainnya. Lalu ada orang yang merasa paling kaya, Qarun, yang hartanya kemudian ditelan bumi.

Ada yang tidak mencapai derajat merasa sebagai Tuhan, akan tetapi kesombongannya luar biasa, misalnya Abu Jahal dan  Abu Lahab yang menjadi representasi manusia sombong pada zaman Nabi Muhammad SAW. Di kala diajak untuk masuk Islam, maka mereka menentang Nabi Muhammad SAW dan bahkan akan mencelakakannya. Tipologi manusia dengan perilaku kejahatan yang luar biasa. Tidak hanya mengingkari kebenaran,  akan tetapi juga ingin melenyapkannya.

Raja Fir’aun, Raja Namrud dan Nebukadnezar adalah contoh penguasa di zaman kerajaan kuno yang karena kekuasaannya, maka merasa bukan hanya raja tetapi Tuhan. Mereka adalah orang-orang kuno yang merepresentasikan tentang keyakinan tentang kekuatan dan kekuasaan dirinya,  sehingga berkeyakinan bahwa dirinya adalah Tuhan. Mereka membuat patung dirinya besar-besar untuk disembah oleh rakyatnya. Jika menentang, maka akan dilenyapkan.

Begitulah di dunia ini, banyak orang yang merasakan dirinya paling segalanya. Padahal sesungguhnya jika yang bersangkutan sedikit saja menggunakan pikiran dan kesadaran dirinya akan betapa kecilnya manusia itu dibandingkan dengan alam dan segala atribusinya di dunia ini. Seandainya kita berada di bibir jurang yang dalam dan memandang ke bawah, betapa kita merasa kecil. Karena di kala kaki kita terpeleset, maka dipastikan akan hancur tubuh kita. Jika kita menyeberang di atas jembatan kaca di Grand Canyon di Amerika, dan kita memandang ke bawah, maka hati kita akan ciut sebab betapa dalamnya dan betapa kecilnya diri kita itu. Itulah sebabnya manusia harus merasa bukan siapa-siapa di bawah kekuasaan Allah yang Maha Perkasa, sehingga harus merasa rendah diri atas kekuasaan-Nya. Dan juga rendah diri di hadapan orang mukmin.

Syekh Imam An Nawawi, menukil banyak ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW tentang manusia harus merendahkan diri (tawadlu’) di hadapan orang mukmin. Sebuah petuah tentang bagaimana manusia jangan merasa paling segalanya. Harus rendah diri di hadapan manusia lainnya yang mukmin.

Di dalam Surat Al Hijr: 88, Allah SWT berfirman: “…dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yag beriman”. Di dalam Surat Lain, Al Maidah: 54,  bahwa Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir”.

Hadits Nabi Muhammad SAW  sebagaimana diceritakan oleh Iyadh bin Himar, RA.,  bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya Allah telah memberikan wahyu kepadaku, hendaklah kalian bersikap tawadhu’ (merendahkan diri) sehingga tidak ada seseorang yang membanggakan dirinya atas orang lain dan tidak ada seseorang yang menganiaya orang lain”. Hadits riwayat Imam Muslim.

Rasulullah juga bersabda sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah, RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tidak berkurang harta karena sedekah dan pasti Allah akan menambah kemuliaan seorang hamba yang suka memaafkan. Dan tidaklah seseorang itu bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah mengangkat derajad orang itu”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Di dalam hadits lain, sebagaimana diceritakan oleh Al Aswad RA., dia berkata: “saya bertanya kepada Aisyah RA., tentang kebiasaan yang dilakukan Nabi SAW ketika di rumahnya, lalu Aisyah menjawab: “Beliau senantiasa melayani keluarganya, yaitu membantu pekerjaan keluarganya. Kemudia apabila datang waktu shalat, Beliau keluar untuk mengerjakan shalat”. Hadits Riwayat  Imam Bukhari.

Dari penjabaran tentang merendahkan diri di hadapan kaum mukmin, maka dapat digambarkan tiga hal, yaitu:

Pertama, Rasulullah, SAW.,  mengajarkan agar manusia tidak menyombongkan diri di hadapan manusia yang beriman kepada Allah. Apalagi sombong di hadapan Allah. Jangan pernah merasa bahwa dirinya dapat berpengaruh atas orang lainnya. Orang yang memiliki sikap seperti ini, maka akan menyatakan orang lain sebagai rendah dan kecil. Hanya dirinya yang hebat dan besar. Tipe representatif atas orang seperti ini, adalah Donald Trump, Presiden Amerika, yang merasa dirinya sebagai penentu policy dunia. Dia merasa bahwa dunia berada di tangannya, sehingga bisa melakukan tindakan-tindakan di luar nalar manusia yang waras. Bersama Netanyahu, PM Israel, melakukan pengeboman atas institusi pendidikan yang di dalamnya terdapat anak-anak perempuan yang sedang belajar, sehingga semuanya wafat karena tindakan mereka ini. Kesombongan seperti ini yang dilarang oleh Islam. Apapun agamanya, manusia harus saling menghormati dan menyayangi sehingga akan tercipta perdamaian dunia.

Kedua, Islam menganjurkan agar manusia saling bertawadlu’ atau saling merendahkan diri. Bukan minder atau perasaan rendah diri, akan tetapi merasa perlu untuk merendahkan sifat dan perilakunya di hadapan umat Islam lainnya. Setiap orang  memiliki kekurangan dan kelebihan. Tidak ada manusia yang memiliki kelebihan saja tanpa kekurangan. Kecuali para Nabi yang hidupnya dipandu oleh wahyu, maka selain itu dipastikan terdapat kelebihan dan kekurangan. Soekarno, Presiden Pertama RI, adalah manusia hebat, akan tetapi membutuhkan Moh. Hatta, sebagai Wakil Presiden. Soekarno mampu menjadi public orator yang hebat, akan tetapi membutuhkan Moh. Hatta, sebagai policy maker.

Oleh karena itu, manusia harus saling menerima kelebihan dan kekurangannya agar kehidupan yang seimbang akan dapat dilakukan. Jika orang hanya melihat kemampuan dia sendiri yang hebat dan yang lain tidak, maka akibatnya akan terjadi ketidakseimbangan. Dia akan dikucilkan oleh khalayak karena ketidakmampuannya untuk mengenal dirinya. Jadi kiranya yang diperlukan adalah mengenal siapa dirinya di dalam kehidupan, sehingga akan menempatkan dirinya dalam dinamika masyarakat yang bervariasi kapasitas dan kemampuannya.

Ketiga, jika Allah dan Rasulnya menganjurkan kita untuk merendahkan diri di hadapan orang beriman, dipastikan ada hakikat mendasar di dalam pesan ini. Dan di antara pesan pentingnya adalah janganlah manusia merasa hebat sendiri dan tidak ada orang lain yang melampauinya. Di atas langit ada langit, artinya ketika seseorang diberikan kelebihan oleh Allah, maka sesungguhnya ada orang lain yang diberikan kelebihan  dibandingkan dengan dirinya. Jika seseorang bisa memahami hal ini, maka tidak ada manusia yang akan berani menyatakan bahwa dirinya yang paling hebat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KEUTAMAAN BERGAUL DAN BERBUAT BAIK (70)

KEUTAMAAN BERGAUL DAN BERBUAT BAIK (70)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Sesungguhnya manusia memiliki kebutuhan social. Yaitu kebutuhan untuk saling berkomunikasi satu dengan lainnya, kebutuhan untuk saling menolong, kebutuhan untuk saling memberi dan menerima baik untuk kepentingan diri maupun kepentingan social. Tidak ada manusia yang bisa hidup dengan dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Semuanya harus saling menolong. Orang yang memahami hal ini, sesungguhnya dia adalah orang yang sudah sadar bahwa hidup itu perlu untuk saling memahami satu dengan lainnya.

Islam mengajarkan bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah dengan bermacam-macam kehidupannya. Allah menakdirkan manusia untuk hidup dalam etnisitas yang berbeda-beda, bersuku-suku, ada lelaki dan ada perempuan, ada penggolongan social ekonomi dan  budaya yang berbeda-beda. Sunnatullah tersebut memang begitulah adanya, dengan catatan agar manusia saling mengenal, memahami dan menyadari perbedaan antara satu dengan lainnya.

Ayat ini merupakan ayat kauniyah agar manusia merenungkan akan penciptaan manusia dengan kebutuhan sosialnya. Manusia agar berpikir, kenapa ada manusia dengan berbagai ragam penciptaannya. Mengapa harus begini dan mengapa harus begitu. Orang-orang yang tergolong rasionalis dan empiris, hanya melihat dimensi materinya, tetapi orang yang tergolong metarasional atau metaempiris atau metafisik tentu akan melihat hakikatnya. Bahwa semua itu merupakan kekuasaan Allah, Dzat yang tidak terhingga.

Coba kita bayangkan, bahwa untuk menciptakan manusia, Allah mengajarkan agar ada sepasang suami isteri. Dari relasi seksualitas sepasang suami isteri, maka kemudian terjadilah nuthfah dalam waktu 40 hari, lalu menjadi ‘alaqah dalam waktu 40 hari dan kemudian menjadi mudghah dalam waktu 40 hari. Setelah itu lalu ditiupkan roh dan perangkat kehidupan, maka jadilah manusia.

Para ilmuwan pun bingung bagaimana dari sperma dan ovum, bisa menjadi manusia dengan kecanggihan fisiknya dan kehidupannya. Para ahli biologi hanya melihat perkembangan janin day to day sehingga menjadi manusia, akan tetapi ahli metafisika akan melihat hakikat penciptaan manusia yang tidak lepas dari kekuasaan Allah SWT. Para ilmuwan muslim tidak berhenti pada prosesnya tetapi mencari dibalik penciptaan tersebut.

Di sini, maka manusia harus saling menolong. Bayi lahir perlu bantuan dokter, setelah lahir lalu membutuhkan bantuan orang tuanya untuk bisa hidup, dan juga bantuan keluarga lainnya untuk bisa menjalani kehidupan, terus begitulah hingga dewasa. Dan di kala dewasa juga memerlukan orang lain. Bayangkan untuk minum air mineral saja, berapa banyak orang yang terlibat. Banyak sekali.

Pada Bab 70, Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan dengan tema yang sangat panjang. Judul tersebut adalah: “Keutamaan Bergaul Dengan Orang Banyak, Melaksanakan Shalat Jum’at Berjamaah Serta Mengunjungi Tempat-Tempat Kebaikan Dan Majelis-Majelis Dzikir, Juga Menengok Orang Sakit, Melayat Jenazah,  Membantu Yang Mempunyai Hajad, Memberikan Petunjuk Kepada Orang Yang Tidak Tahu, Dan Lain-Lain Yang Termasuk Kemaslahatan Mereka Bagi Orang Yang Mampu Melaksanakan Amar Makruf Nabi Mungkar. Demikian Pula Mencegah Diri Sendiri Dari Menganiaya Serta Sabar Atas Sesuatu Yang Menyakitkan”. Dari judul yang Panjang ini kemudian saya ringkas menjadi “Keutamaan Bergaul Dan Berbuat Baik”.

Allah menjelaskan di dalam Alqur’an, Surat Al Maidah: 2, bahwa: “… dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa”. Jika diteruskan ayat ini, maka artinya adalah: “dan janganlah bertolong menolong dalam dosa dan keburukan”.

Menilik ayat ini, maka dapat dipahami atas tiga hal, yaitu:

Pertama, sesungguhnya manusia tidak memiliki kemampuan sendiri dalam menghadapi kehidupan. Ia adalah manusia yang sangat tergantung pada lainnya. Itulah sebabnya Allah SWT menganjurkan agar manusia saling tolong menolong. Jangan individual. Jangan merasa sebagai individu yang bisa melakukan segalanya.

Coba pikirkan, ada manusia yang sangat kaya. Namanya Mark Zuckenberg dengan harta  Rp3.483 triliuan. Apakah dia bisa melakukan apa-apa dengan dirinya sendiri? Pasti tidak bisa. Kekayaannya luar biasa, akan tetapi untuk makan harus membutuhkan orang lain. Baik makan di rumah atau di restoran mewah, maka membutuhkan pelayan yang patuh dan sesuai dengan standarnya. Jadi tidak ada manusia, baik kaya maupun miskin yang bisa mandiri dengan dirinya sendiri.

Kedua, Islam itu merupakan agama yang penuh dengan cinta dan kasih sayang kepada sesama manusia. Oleh karena itu basis saling tolong menolong adalah cinta dan kasih sayang. Seandainya pertolongan yang kita dapatkan dan kita berikan tersebut berbasis kasih sayang, maka terjadi kehidupan yang harmonis dan selamat. Semua orang saling menghormat dan saling berempati satu dengan lainnya.

Itulah sebabnya Islam menganjurkan di tengah berbagai perbedaan secara fisikal, kejiwaan, kepandaian, strata sosial dan lainnya, maka Islam mengajarkan agar saling memahami. Jangan merasa benar sendiri, jangan merasa paling hebat sendiri dan jangan merasa yang paling utama sendiri. Filsafat Jawa mengajarkan sebuah pernyataan: “sapa sira sapa ingsung” atau melihat siapa kamu siapa saya. Menganggap orang lain sebagai lebih rendah dibandingkan diri saya.

Ketiga, Islam mengajarkan agar kita bergaul dengan orang banyak, melaksanakan shalat jum’at berjamaah,  mengunjungi tempat-tempat kebaikan, mendatangi majelis-majelis dzikir, menengok orang sakit, melayat jenazah,  membantu orang yang mempunyai hajad, memberikan petunjuk kepada orang yang tidak tahu, dan mampu melaksanakan amar makruf nabi mungkar.

Jika diperhatikan bahwa keutamaan tersebut ada banyak ragamnya dan semuanya ditujukan untuk kemaslahatan kemanusiaan. Jika kita dapat melaksanakan, maka kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat di dalam kehidupan. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

SUNNAH MENYENDIRI DI TENGAH KERUSAKAN UMAT (69)

SUNNAH MENYENDIRI DI TENGAH KERUSAKAN UMAT (69)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim

Sekarang ini disebut sebagai akhir zaman. Akhir zaman itu diindikatori dengan banyaknya kerusakan umat manusia dalam berbagai aspek kehidupannya. Kerusakan moral itu nyaris di semua bidang kehidupan. Bidang politik misalnya terdapat banyak perilaku politik seperti  abuse of power, penihilan lawan politik, dan kekerasan politik yang nyata.

Di seluruh dunia nyaris terdapat perilaku politik tanpa etika. Para pemimpin bangsa menggunakan kekuasaan untuk ambisi politiknya tanpa memperhituangkan dampak negatif yang terdapat di dalamnya. Contohnya Donald Trump yang menggunakan kekuasaannya untuk melakukan tindakan genosida. Demikian pula Netanyahu dalam perilaku yang sama. Banyak pemimpin dunia yang lebih mementingkan kepentingan diri dan kelompoknya.  Mereka melakukan tindakan politik yang bertentangan dengan realitas social yang diharapkan oleh masyarakatnya.

Dalam aspek social dan ekonomi,  maka di mana-mana terdapat peminggiran kaum yang lemah dan pemihakan terhadap kaum beruntung. Dalam social ekonomi dapat dilihat adanya ketimpangan yang sangat luar biasa. Satu persen orang kaya menguasai atas 99 persen masyarakat lainnya. Dan yang seperti ini nyaris di semua negara. Dunia ini diatur oleh hanya sebanyak satu persen orang kaya. Merekalah yang mengatur apa dan bagaimana dunia masa depan. Hampir di semua negara terdapat 10 orang kaya yang menguasai perekonomian negara. Oleh karena itu di mana-mana masih terdapat kemiskinan structural yang terdapat di negara-negara di dunia. Pemimpin negara berkolaborasi dengan orang kaya untuk mengarahkan dan mengatur masa depan negara.

Inilah yang disebut sebagai fitnah dunia. Banyak sekali terdapat kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Ada banyak kebijakan yang hanya memihak kepada yang kaya dan meminggirkan yang miskin. Fitnah yang besar adalah ketika agama dijadikan sebagai basis untuk mendukung politik penguasa. Agama ditafsirkan untuk mendukung kebijakan pimpinan negara yang tidak selaras dengan kepentingan umat. Agama hanya sebagai cover atau pembungkus kebijakan. Padahal sesungguhnya agama harus menjadi substansi yang menjadi pedoman di dalam berbagai kehidupan masyarakat. Disinilah, maka melakukan tindakan uzlah merupakan hal yang sangat baik.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Menyendiri Ketika Rusaknya Moral Manusia Dan Zaman Atau Takut Fitnah Agama Dan Jatuh Pada Perkara Haram, Syubhat, Atau Sebagainya”. Di dalam artikel ini saya ringkas judulnya menjadi “Sunnah Menyendiri di Tengah Kerusakan Umat”.

Alqur’an menjelaskan sebagaimana dinyatakan di dalam Surat Adz Dzariyat: 50 bahwa, Allah berfirman: “maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu”.

Kemudian terdapat hadits sebagaimana diceritakan Sa’ad bin Abi Waqash RA. Ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda; “sesungguhnya Allah mencintai orang bertaqwa yang kaya (jiwanya) yang tersembunyi (mengasingkan diri beribadah kepada Allah)”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Juga hadits yang diceritakan oleh Abu Sa’id Al Khudri, RA. Ia berkata: “seorang lelaki berkata: “siapakah manusia yang paling utama wahai Rasulullah? Ia bersabda: “seorang mukmin yang berjihad fi sabilillah dengan jiwa dan hartanya. Ia berkata: “kemudian siapa? Ia bersabda: “seorang lelaki yang mengasingkan diri di sebuah bukit, ia beribadah  kepada Rabbnya (dalam Riwayat lain, ia bertaqwa kepada Allah) dan membiarkan manusia terbebas dari gangguannya:. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits dari Abu Hurairah RA menyatakan bahwa Rasulullah bersabda: “sebaik-baik hidup manusia adalah seorang lelaki yang memegang tali kudanya (untuk jihad fi sabilillah),  segera menunggangi kudanya setiap kali  ia mendengar ada panggilan perang atau jihad, ia segera menuju tempat tersebut, menginginkan perang atau kematian di temat yang duduganya atau seseorang yang menggembalakan kambingnya di kaki bukit, atau di dasar lembah, ia mendirikan shalat, membayar zakat, beribadah kepada Rabbnya hingga ajal menjemputnya, ia tidak berhubungan dengan manusia kecuali dalam hal kebajikan”. Hadits Riwayat imam Muslim.

Dari penjelasan tersebut, maka dapat digaris bawahi tiga hal, yaitu:

Pertama,  dunia ini tidak berada di dalam keadaan baik-baik saja. Bayang-bayang kekerasan, perang dan tindakan perusakan terus terjadi. Informasinya sedemikian menakutkan. Perang menggunakan rudal dengan presisi yang nyaris sempurna dengan daya rusak yang luar biasa. Perang rudal terjadi di beberapa negara yang terlibat konflik dan hal ini sangat membahayakan manusia. Semuanya  dilakukan dalam makna saling menghancurkan dan saling memenangkan peperangan. Inilah zaman yang tidak menentu, zaman dengan penguasaan teknologi persenjataan yang sangat presisi dalam daya rusaknya.

Sesungguhnya manusia sedang menuju dalam kehancurannya sendiri. Melalui penggunaan persenjataan berbasis AI dengan tingkat presisi yang nyaris sempurna, maka akan sangat membahayakan manusia. Yang dilakukan oleh Israel dan Amerika dalam peperangan melawan Iran merupakan contoh, bagaimana negara seperti US ingin menguasai seluruh dunia melalui penaklukan yang didasari oleh perang rudal berbasis AI. Dunia sudah tidak lagi menyajikan keteraturan dan keharmonisan,  akan tetapi dipicu untuk melakukan peperangan karena terpaksa melakukannya. Iran adalah contoh negara yang dipaksa untuk berperang.

Kedua, di dalam konflik dunia, agama juga dilibatkan di dalamnya. Misalnya Israel yang mengklaim untuk kepentingan agama Yahudi. Lalu Iran yang harus berperang melawan US dan Israel juga harus menggunakan sentiment keagamaan untuk melawan kedholiman dua negara dimaksud. Dalam konteks ini, maka Islam menganggap bahwa jihad dalam makna perang menjadi relevan. Harakah jihadiyah. Tetapi di negara damai, maka jihad dapat diartikan lebih netral dan bukan satu-satunya berarti perang. Jihad dapat dimaknai sebagai upaya serius dan berkesinambungan dalam kerangka membangun kehidupan manusia yang lebih baik.

Ketiga, di tengah semakin besarnya fitnah atas kehidupan manusia di dalam berbagai aspeknya, seperti social, ekonomi, politik, budaya dan agama, maka Islam memberikan pahala kepada orang yang berusaha menghindari perilaku jahat dengan cara menyendiri secara terhormat. Inilah yang disebut sebagai uzlah. Di masa lalu, uzlah diartikan sebagai menyendiri dari public untuk dzikir kepada Allah. Di masa sekarang, uzlah merupakan upaya untuk menyendiri dalam keramaian. Sebuah prilaku yang berbeda dengan kebanyakan orang. Jika terdapat banyak kesalahan yang dilakukan di ruang public, maka kita harus menyendiri dalam prilaku  untuk kepentingan menjaga marwah agama. Jika dunia dalam fitnah, banyak yang menyuruh berbuat yang munkar, dan melakukan tindakan menabrak yang syubhat dan prilaku permissiveness, maka layaklah kita melakukan uzlah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BERHATI-HATI DALAM MASALAH SYUBHAT (68)

BERHATI-HATI DALAM MASALAH SYUBHAT (68)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir Rahim.

Jika dipikir, bahwa memang terdapat sesuatu, bisa barang atau lainnya, yang jelas asal usulnya dan ada yang tidak jelas asal usulnya. Ada yang diketahui sumber dari mana didapatkannya dan ada yang tidak diketahui dari mana sumbernya. Tidak hanya barang atau benda lainnya, bahkan juga ilmu. Ada ilmu yang diketahui dari mana sumbernya dan dari mana asal-usulnya. Harus diketahui genealoginya berasal dari mana. Harus jelas dari siapa ke siapa, dan diketahui pula yang bersangkutan memiliki kejujuran dalam mengungkapkannya.

Dalam ilmu hadits, maka sanad menjadi sangat penting. Yang dinyatakannya mestilah harus benar dan jujur, sebab hadits akan dapat menjadi sumber hukum setelah Alqur’an. Bayangkan jika hadits tersebut tidak jelas asal-usulnya, siapa yang meriwayatkannya dan kejelasan matan atau konten haditsnya, maka bisa menjadi masalah yang besar. Bahkan di dalam Islam, ilmu  itu juga harus bersanad kepada guru-guru yang diketahui kewira’inya, kebaikan akhlaknya dan bagaimana silsilahnya.

Harta juga harus jelas asal-usulnya. Dari mana uangnya atau barangnya diperoleh. Jelas apa tidak. Sesuai dengan standar perolehan harta dimaksud sesuai dengan syariat agama atau tidak. Jika jual beli harus jelas kehalalan barangnya. Harus jelas proses mendapatkannya dan harus jelas proses menjualnya. Tidak sembarangan diterima dan dimanfaatkan. Harta yang diperoleh dari korupsi, misalnya pastilah tidak jelas dan bahkan menyalahi proses dan prosedur untuk mendapatkannya. Itulah sebabnya tindakan koruptif dilarang oleh Islam, sebab tidak memenuhi standar kebenaran di dalam proses mendapatkannya. Bahkan tindakan koruptif juga membuat masalah bagi Masyarakat.

Di dalam konteks ini, maka Syekh Imam An Nawawi menyatakan agar berhati-hati di dalam masalah yang mengandung Syubhat. Di dalam Bab 67, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Kehati-hatian dan Meninggalkan Hal Yang Syubhat”. Di dalam tulisan ini, maka saya tampilkan judulnya adalah “Berhati-hati Dalam Masalah Syubhat”. Perubahan judul ini saya kira hanya untuk memberikan tekanan tentang pentingnya kehati-hatian dalam masalah syubhat.

Alqur’an menegaskan bahwa di dalam Surat An Nur: 15 Allah berfirman: “Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia di sisi Allah adalah besar”. Atau di dalam Surat  Al Fajr: 14, Allah berfirman: “Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi”.

Hadits Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh An Nu’man bin Basyir berkata: “saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan sesungguhnya yang haram itu juga jelas dan di antara keduanya ada perkara yang syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barang siapa yang menjaga dirinya dari perubahan-perbuatan syubhat, berarti ia telah membersihkan agama serta kehormatannya. Dan barang siapa yang jatuh ke dalam perkara syubhat, berarti dia berada di dalam keharaman, sebagaimana seorang penggembala yang menggembala di sekitar tempat yang terlarang. Hampir saja ternaknya itu makan dari tempat larangan tadi”.

Ingatlah bahwa setiap raja itu mempunyai larangan-larangan. Ingatlah bahwa larangan-larangan Allah adalah apapun yang diharamkan oleh-Nya. Dan ingatlah di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila baik, maka baiklah seluruh badan. Namun bila rusak, maka rusak pula seluruh badan. Ingatlah bahwa dia itu adalah hati”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Di dalam hadits lain, sebagaimana diceritakan oleh Anas RA., bahwa Nabi SAW menemukan sebutir buah kurma di jalan, lalu Beliau bersabda: “seandainya saya tidak khawatir kalau kurma-kurma ini termasuk kurma zakat, pastilah saya memakannya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Kemudian hadits yang diceritakan oleh Hasan bin Ali RA., “Saya hafal Sabda dari Rasulullah SAW: “tinggalkan apa yang meragukanmu dan beralihlah kepada hal yang tidak meragukanmu”. Hadits Imam Al Tirmizi.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat digaris bawahi atas tiga hal, yaitu:

Pertama, umat Islam harus menjaga diri dari sesuatu yang bercorak syubhat atau samar. Sesuatu yang tidak jelas keberadaannya. Barang itu dari sumber yang benar atau salah. Kita tidak tahu tentang barang tersebut. Kita benar-benar buta atas asal-usulnya. Jika demikian halnya, maka sebaiknya kita berhati-hati dalam memanfaatkannya. Jangan lalu berpikir barang tersebut untuk kita. Umat Islam harus mencontoh apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW di kala menemukan buah kurma, maka tidak dimanfaatkannya, sebab ada kekhawatiran atas benda tersebut dari masa asalnya dan apa fungsinya. Di dalam contoh ini dikaitkan dengan benda zakat.

Kedua, umat Islam diminta menghindari keraguan. Jangan ada keraguan di dalam memanfaatkan apa saja. Bisa barang atau uang atau bahkan jasa. Harus meyakinkan diri bahwa yang dipilihnya adalah yang tidak sedikitpun mengandung keraguan. Akal sering kali berpikir untung rugi, maka hendaknya ditanyakan kepada hati nuraninya. Hati adalah sumber pernyataan yang benar atas bimbingan Allah. Tetapi terkadang hati juga bisa memberi komentar yang salah. Hal ini tergantung dari peran akal. Jika peran akalnya dominan, maka aspek untung rugi yang dominan dan jika hati yang dominan maka kebenaran yang akan hadir.

Ketiga, di dunia ini banyak hal yang berada di dalam kawasan syubhat. Yang benar itu jelas dan yang salah juga jelas. Yang benar berbasis pada kebenaran ajaran agama dan yang salah berbasis pada hasrat manusia yang tidak terkendali untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Fungsi agama adalah untuk menjadi pedoman bagi akal dan hati untuk selalu memilih yang benar dan menghindari yang salah.

Misalnya dalam memilih makanan, minuman dan  barang gunaan, maka agar dipertimbangkan mana yang halal dan thayyiban dan mana yang tidak. Lihatlah sertifikasinya. Yang seperti ini tentu tidak sulit, akan tetapi jika terkait dengan korupsi, penyalahgunaan wewenang dan upaya meminggirkan orang  tentu akan lebih rumit. Termasuk di dalamnya juga terkait dengan konten media social, tentu harus dipilih dengan hati nurani, mana yang benar dan mana yang salah.

Wallahu a’lam bi al shawab.