Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PEMIMPIN HARUS MENGANGKAT PEJABAT YANG JUJUR (83)

PEMIMPIN HARUS MENGANGKAT PEJABAT YANG JUJUR (83)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir rahim.

Dunia kepemimpinan itu tidak sebagaimana yang kita persepsikan. Kepemimpinan itu penuh dinamika. Ada tarikan kepentingan, ada tarikan kebutuhan dan ada tarikan yang mengarah kepada kebaikan dan ada yang juga mengarah kepada kejelekan. Sungguh kompleks persoalan yang menyangkut kepemimpinan. Maka kemudian terdapat simbolisasi kepemimpinan yang adil dan jujur dan ada kepemimpinan yang tidak adil dan tidak jujur.

Kompleksitas kepemimpinan itu tentu terkait dengan betapa banyaknya orang dengan berbagai kepentingan yang ingin mendekat atau menjadi bagian tidak terpisahkan dari kepemimpinan. Di antara mereka ada yang ikhlas dan ada yang culas. Ada yang berbudi pekerti baik dan ada yang berbudi pekerti jelek. Ada yang berpikir untuk kemanusiaan dan ada yang berpikir untuk diri, keluarga dan golongannya. Macam-macam.

Pemimpin harus memiliki kewibawaan dan integritas. Kewibawaan dapat digunakan untuk menyaring atas siapa yang memiliki niatan baik dan siapa yang memiliki niatan jahat. Harus benar-benar disadari di dalam tim pemimpin itu terdiri dari dua penggolongan manusia itu. Ada yang demi rakyat dan ada yang demi golongan, bahkan demi diri sendiri. Di sinilah kewibawaan seorang pemimpin akan menentukan atas siapa yang dipilih dan siapa yang ditinggalkan.

Pemimpin juga harus berbasis kejujuran. Seorang pemimpin yang jujur dan memiliki rekam jejak kejujuran akan membuat orang lain segan untuk melakukan ketidakjujuran. Di sinilah kata kunci agar pemerintahannya menjadi bersih dan berwibawa. Seorang pemimpin adalah teladan di dalam kejujuran. Jika pemimpinnya dalam semua level itu jujur, maka akan dapat diperoleh kepatuhan para bawahannya. Staf akan menghargainya. Oleh karena itu kejujuran, keadilan dan kewibawaan menjadi tiga faktor penting dalam merajut kebaikan. Jadi memilih para pejabat harus berbasis kepada perilaku kebaikannya.

Syekh Imam An Nawawi merumuskan judul pada Bab ke 82 dengan panjang, yaitu: “Anjuran Untuk Pemimpin, Hakim Dan Lainnya Yang Memegang Kekuasan Untuk Mengangkat Menteri/Pembantu Yang Saleh Dan Peringatan Untuk Mereka Dari Rekan-Rekan Yang Jahat Serta Peringatan Menerima Mereka”. Oleh karena itu, judul tersebut saya ringkas menjadi “Pemimpin Harus Mengangkat Pejabat yang jujur”.

Hadits Nabi sebagaimana diceritakan oleh Abu Said dan Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tidaklah Allah mengutus seorang Nabi dan tidak pula mengangkat seorang khalifah, melainkan baginya dua teman. Teman yang memerintahkan kepadanya kebaikan  dan juga menganjurkan itu kepadanya, dan teman yang memerintahkan kepadanya kejahatan dan juga menganjurkan itu kepadanya. Dan orang yang terjaga (ma’shum) adalah orang yang dijaga oleh Allah”. Hadits riwayat Imam Bukhari.

Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA., berkata Rasulullah bersabda: “apabila Allah menghendaki kebaikan untuk seorang pemimpin, dia menjadikan untuknya menteri yang jujur. Jika pemimpin itu lupa, sang menteri mengingatkannya. Dan  jika pemimpin itu ingat, sang menteri membantunya. Dan apabila Allah menghendaki selain itu untuk seorang pemimpin, Dia menjadikan untuknya menteri yang jahat. Jika pemimpin itu lupa, sang menteri tidak mengingatkannya. Dan jika pemimpin itu ingat, sang menteri tidak menolongnya”. Hadits riwayat Abu Dawud.

Dari penjelasan sosiologis dan teks-teks Hadits sebagaimana di atas, maka dapat diperoleh tiga penjelasan sebagai berikut:

Pertama, Islam mengajarkan agar seorang pemimpin memilih orang yang baik. Dengan kebaikannya itu, maka jika seorang pemimpin melakukan tindakan yang mengarah kepada kejelekan, maka dia dapat mengingatkannya, dan dapat membelanya untuk kembali kepada kebaikan. Tetapi jika dia memilih pejabat yang salah dan memiliki rekam jejak yang salah, maka di kala pemimpinnya akan melakukan tindakan yang berdampak kejelekan maka akan dibiarkannya dan bahkan didukungnya.

Dalam banyak hal,  kita itu mengikuti siapa yang yang dekat dengan kita dan yang sayang kepada kita. Tetapi di tengah rasa sayang dan dekat itu tetap harus ada ruang untuk berpikir jernih tentang bagaimana dampak kedekatan dimaksud dengan dunia kepemimpinan yang dilakukan. Jangan sampai rasa dekat dan sayang itu membutakan kita untuk membaca realitas yang sesungguhnya terjadi. Dekat dan sayang penting akan tetapi jangan membuat kita terlena. Apapun kebijakan kepemimpinan harus menghadirkan kebaikan, kesejahteraan dan keselamatan.

Kedua, setiap pemimpin akan dikelilingi oleh dua golongan besar orang, yaitu orang yang baik dan jujur dan orang yang jahat dan tidak jujur. Keduanya saling berupaya optimal untuk mendekati seorang pemimpin. Orang yang baik akan selalu memberikan informasi kebaikan dan orang yang jahat akan menghadirkan informasi tentang  kecurigaan dan fitnah yang ditujukan kepada orang yang baik. Tugas seorang pemimpin adalah melakukan check and recheck atas berbagai masukan. Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan akan tetapi harus diupayakan untuk tabayyun. Klarifikasi menjadi sangat penting. Ada banyak pemimpin yang hancur, karena tidak mendengarkan ungkapan baik yang disampaikan oleh orang yang di dalam dirinya tidak ada lain kecuali kebaikan. Orang yang sudah tuntas kehidupannya. Orang yang sudah tidak lagi memiliki ambisi golongan apalagi ambisi diri.

Ketiga, menjadi seorang pemimpin itu harus memiliki kesadaran diri bahwa seseorang itu  ibaratnya madu, akan dikelilingi semut dengan aneka ragam semut,  akan tetapi jika semut hanya akan mengisap madunya saja. Tetapi jika itu madu kekuasaan, maka yang hadir itu orang dengan varian kebutuhan. Ada yang memiliki kebutuhan yang membela rakyat dan ada yang memiliki kebutuhan untuk diri dan golongannya. Di sinilah kearifan seorang pemimpin akan dapat memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang jelek.

Kearifan pemimpin akan sangat menentukan atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin tidak hanya menggunakan rasionya, akan tetapi juga mata batinnya. Integrasi antara rasio dan batin atau antara rasio dan hati akan menjadikannya sebagai pemimpin yang dapat memilih mana yang baik dan mana yang jelek. Jadi, manfaatkan kecerdasan rasional, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan bahkan kecerdasan spiritual untuk memimpin. Saya yakin akan berhasil.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KEUTAMAAN RASA MALU (84)

KEUTAMAAN RASA MALU (84)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Malu merupakan salah satu sifat  manusia yang asasi. Semua manusia memiliki sifat dasar ini. Malu dapat  ditimbulkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Dari faktor internal merupakan sifat yang berasal dari dalam diri manusia, yang terkait dengan perasaan yang hadir dari dalam diri manusia, misalnya malu untuk melakukan tindakan yang tidak relevan dengan etika sosial, etika religius atau etika kemanusiaan. Biasanya  etika itu  berasal dari nilai di dalam ajaran agama.  Misalnya rasa malu karena melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai ajaran agama, malu tidak menghormati orang tua, malu tidak menghormati orang yang lebih tua, malu karena melakukan kekerasan terhadap perempuan atau orang  tua dan sebagainya.

Tetapi juga ada malu yang disebabkan oleh faktor eksternal. Faktor dari luar diri manusia. Malu yang datang dari luar biasanya disebabkan oleh tindakan yang memiliki kesan negatif dari orang lain. Malu seperti ini tidak berdiri sendiri akan tetapi terkait dengan apa yang diketahui orang tentang apa yang dilakukan oleh seseorang. Tindakan yang diketahui oleh orang lain, dan tindakan tersebut bertentangan dengan nilai yang disepakati bersama.

Malu memiliki keterkaitan dengan akhlak. Tidak hanya etika. Akhlak merupakan satu kesatuan dinamis antara akhlak kepada Allah yang dikonsepsikan sebagai hablum minallah, akhlak kepada sesama manusia atau hablum minan nas, dan akhlak kepada alam atau hablum minal alam. Manusia di dalam dirinya atau secara internal memiliki ketiganya. Akan tetapi karena faktor eksternal terkadang satu atau bahkan ketiga di antaranya lalu menjadi kabur dan bahkan hilang di dalam diri seseorang. Faktor pergaulan, misalnya dapat menjadi penyebab menyusut atau hilangnya akhlak tersebut. Juga karena faktor kebutuhan atau kepentingan yang juga menyebabkan hilangnya ketiga akhlak itu. Orang yang melakukan illegal logging adalah seseorang yang kehilangan akhlaknya dalam berhubungan dengan alam. Orang yang melakukan korupsi juga kehilangan akhlaknya kepada Allah dan kepada sesama manusia.

Orang dipastikan memiliki rasa malu. Rasa malu kepada Allah, kepada Rasulullah, kepada para ulama dan juga kepada manusia lainnya. Rasa malu karena tidak menjalankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, malu kepada Rasulullah karena tidak menjalankan sunnah-sunnahnya, malu kepada para ulama karena tidak mematuhi arahannya, dan malu kepada manusia karena tidak mengasihinya. Ajaran malu sesungguhnya menjadi faktor yang sangat mendasar dalam relasi hablum minallah, hablum  minan nas dan hablum minal alam.

Syekh Imam An Nawawi di dalam kitabnya Riyadhus Shalihin menjelaskan tentang rasa malu berdasarkan atas hadits-hadits sebagaimana diriwayatkan oleh ahli hadits. Hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA., bahwa: “Rasulullah SAW berjalan melewati seorang lelaki dari kalangan Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena sifat malunya. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Biarkanlah ia, karena sesungguhnya malu itu sebagian dari iman”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih”. Hadits lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Imran bin Husain RA, berkata Rasulullah SAW bersabda: “Malu itu hanya akan mendatangkan kebaikan”. Hadits Mutafaq alaih. Hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Iman itu memiliki tujuh puluh atau enam puluh cabang. Maka cabang yang paling utama adalah ucapan la ilaha illallah (tidak ada illah yang berhak disembah kecuali Allah),  sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan yang mengganggu di jalan, dan malu itu adalah salah satu cabang iman”. Hadits Mutafaq alaih.

Dari penjelasan hadits dan penjelasan sosiologis di atas, maka dapat digarisbawahi atas tiga hal, yaitu:

Pertama, rasa malu merupakan rasa paling asasi di dalam kehidupan manusia. Rasa malu itulah yang membedakan antara manusia dengan hewan. Jika hewan tidak memiliki rasa malu sehingga yang dilakukan tidaklah berdasar atas perasaan mendasar tersebut. Hewan bisa telanjang bulat, bisa melakukan apa saja tanpa pertimbangan apapun. Bisa melakukan kekerasan apapun. Tetapi manusia karena dikaruniai rasa malu, maka akan mempertimbangkan segala sesuatunya untuk melakukan tindakan yang tidak patut bagi kemanusiaan.

Manusia yang memiliki rasa malu tidak akan telanjang bulat di depan umum, tidak akan melakukan relasi sosial yang menyimpang, khususnya lelaki dan perempuan, tidak melakukan kekerasan di muka umum dan sebagainya. Rasa malu yang sesungguhnya bisa menghindarkan manusia dari tindakan yang tidak patut bagi kemanusiaan. Akan tetapi terkadang manusia lebih mengedepankan rasa kebinatangannya dibanding rasa kemanusiaannya. Misalnya di Barat terdapat tempat nudis. Di pantai ada orang yang berpakaian serba minimal, di mana saja ada orang yang mempertontonkan ketidaksenonohan, dan sebagainya.

Kedua, Islam mengajarkan tentang rasa malu, dan dinyatakan bahwa malu adalah sebagian dari iman. Jika seseorang memiliki rasa malu, maka dia telah menggenggam sebagian iman kepada Allah. Hal ini menunjukkan betapa besarnya makna rasa malu itu bagi manusia. Jika memiliki rasa malu, maka dia bisa kal malaikat, dan sebaliknya jika tidak memiliki rasa malu, maka menjadi kal hayawan.

Islam sangat konsern dengan ajaran rasa malu, karena inilah yang hakikatnya membedakan antara manusia dengan hewan. Saya yakin dari dari hati seseorang  yang paling mendalam, semua manusia memiliki rasa malu. Hanya karena faktor-faktor tertentu saja sehingga melakukan tindakan yang tanpa rasa malu tersebut.

Ketiga, rasa malu dipastikan akan mendatangkan kebaikan dan tanpa rasa malu akan mendatangkan kejelekan. Orang yang tidak memiliki rasa malu dipastikan akan menjadi pergunjingan. Filsafat hidup orang Indonesia berbeda dengan orang Barat. Orang barat apa saja bisa dilakukan asal tidak mengganggu secara fisik pada orang lain. Hal ini sesuai dengan filsafat materialisme yang hanya melihat manusia dengan jasadnya saja. Tetapi orang Indonesia melihat manusia dengan jasad, jiwa dan rohnya. Makanya, melakukan apa saja yang tidak sesuai dengan prinsip ajaran agama maka hal itu akan dianggap dapat mengganggu orang lain.

Beriman kepada Allah  memiliki banyak cabang, yang utama adalah berdzikir dengan la ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan benda di jalan yang dapat mencelakakan orang lain. Malu merupakan cabang iman. Jika kita beriman kepada Allah, maka jangan lupa kita suka untuk berdzikir dan juga menyelamatkan manusia lainnya. Dan di antara tanda iman kita itu baik adalah dengan mengedepankan rasa malu untuk tidak mengamalkan apa yang diminta oleh Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

LARANGAN MEMILIH PEJABAT YANG MENGINGINKANNYA (82)

LARANGAN MEMILIH PEJABAT YANG MENGINGINKANNYA (82)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim

Kepemimpinan merupakan sebuah keniscayaan di dalam kehidupan sosial. Di dalam sebuah kehidupan yang di dalam terdapat banyak manusia, maka dipastikan memerlukan kepemimpinan. Tugas seorang pemimpin adalah untuk membangun jaringan relasi sosial yang baik, selain untuk memberikan layanan dasar bagi kehidupan sosial. Di dalam konteks ini, kehadiran pemimpin merupakan kebutuhan yang dipastikan untuk memenuhi hajad hidup manusia dalam kehidupan bersama.

Seorang pemimpin bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, dan komunitas akan tetapi juga untuk masyarakat secara luas. Kepemimpinan harus membawa dampak bagi kehidupan masyarakat, baik dari aspek kebutuhan primer atau kebutuhan dasar manusia, misalnya sandang, pangan dan papan, akan tetapi juga kebutuhan sosial, seperti ekspresi masyarakat untuk beraksentuasi diri bisa terpenuhi. Pemimpin harus menjamin terlaksananya jaminan keamanan, kebersamaan, dan kehidupan bersama. Pemimpin harus menghadirkan keadilan, kesamaan dan kesejahteraan bersama. Jadi, seorang pemimpin itu ibaratnya adalah seseorang yang memerankan kehidupannya untuk memenuhi kebutuhan orang lain atau masyarakat. Jadi, salah satu syarat penting bagi seorang pemimpin adalah keikhlasan untuk berbuat bagi orang lain. Ibaratnya, seorang pemimpin itu dapat berlaku bukan sebagaimana lilin yang bisa mengorbankan dirinya untuk orang lain, tetapi pemimpin adalah orang yang berkorban untuk orang lain tetapi dirinya masih eksis. Lilin bisa memberi penerangan,  akan tetapi dirinya meleleh atau hancur.

Akan tetapi ada yang menarik di dalam ajaran Islam, bahwa untuk menjadi pemimpin itu tidak boleh dengan meminta-minta. Sebaiknya menjadi pemimpin itu adalah pilihan orang banyak karena kelayakannya. Ada profesionalitas, kapasitas dan kebajikan yang dilakukannya. Di dalam kepemimpinan  terdapat karakter yang layak bagi kemanusiaan. Hadits Nabi SAW memberikan pedoman janganlah meminta-minta kekuasaan.

Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan tentang kepemimpinan dalam tema yang panjang, yaitu: “Larangan Memberikan Kepemimpinan, Jabatan Hakim, Dan Kekuasaan Lainnya Kepada Orang Yang Memintanya Atau Sangat Menginginkannya Sampai Ia Menawarkan Diri Untuk Kekuasaan Tersebut”. Untuk memudahkannya, maka judul tersebut saya ringkas menjadi “Larangan Memilih Pejabat yang Sangat Menginginkannya”.

Berdasarkan Hadits Nabi SAW., sebagaimana diceritakan oleh Abu Musa Al Asy’ari RA., berkata: “Aku pernah masuk menemui Nabi bersama dengan dua orang keluarga pamanku. Maka salah seorang dari mereka berdua berkata: ‘wahai Rasulullah angkatlah kami untuk mengurusi sebagian yang telah Allah kuasakan kepadamu”. Dan satu lagi berkata seperti itu juga. Maka beliau bersabda: “sesungguhnya Kami, demi Allah tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada seorangpun yang memintanya, atau seorangpun yang sangat menginginkannya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari hadits Nabi SAW dan penjelasan sosiologis kepemimpinan tersebut, dapat dijelaskan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, menjadi pemimpin itu bukan hanya persoalan kepatutan,  akan tetapi juga tanggungjawab kepada  diri sendiri, organisasi atau institusi, masyarakat bahkan tanggungjawab kepada Tuhan. Ada dimensi pertanggungjawaban yang hirarkhis di dalamnya. Itulah sebabnya, untuk menjadi pemimpin tidak boleh berdasarkan atas permintaan. Kepemimpinan bukan persoalan ambisi, akan tetapi persoalan umat. Menjadi seorang pemimpin harus berbasis pada kepentingan umat dan pilihan umat. Jadi jangan berkeinginan menjadi pemimpin dengan cara meminta-minta. Sebab menjadi pemimpin bukan ditentukan oleh keinginan pribadi akan tetapi lebih banyak ditentukan oleh apa yang sesungguhnya diinginkan oleh masyarakatnya,

Kedua, Nabi Muhammad SAW pernah menolak orang yang meminta jabatan. Orang yang sangat ingin menjadi pengelola suatu hal. Orang yang sangat mengharapkan jabatan tertentu. Nabi SAW secara tegas  melakukan penolakan atas permintaan tersebut. Padahal yang meminta itu adalah keluarga seorang sahabat Nabi SAW. Jadi Nabi SAW tidak mengabulkan atas permintaan menjadi pejabat meskipun orang tersebut dibawa oleh sahabatnya sendiri. Hal ini memberikan realitas empiris bahwa kolusi atau menjadi pejabat melalui perkawanan atau persahabatan itu ditolak oleh Rasulullah SAW. Jika dikaji, bahwa Sahabat Abu Musa Al Asyari itu sangat dekat hubungannya dengan Rasulullah SAW. Akan tetapi ternyata “dukungan” oleh Sahabat Nabi SAW itu tidak memuluskan jalan bagi keluarganya untuk diterima oleh Rasulullah.

Ketiga,  dewasa ini banyak orang yang mengajukan diri menjadi pemimpin. Sepertinya, menjadi pemimpin itu harus direbut. Inilah paradoks di dalam kaitan antara menjadi pemimpin dan ajaran Islam. Sesungguhnya ajaran Islam itu melarang atas keinginan menjadi pemimpin untuk diri seseorang, sementara itu banyak yang meminta menjadi pemimpin. Jadi terdapat kesenjangan antara ajaran Islam dengan perilaku untuk menjadi pemimpin. Inilah paradoks zaman moderen.

Tetapi jangan khawatir, bahwa masih ada orang yang bisa menjadi pemimpin karena kapasitas dan kemampuannya dan juga keterpilihannya dari faktor rasionalitas masyarakat. Bagi saya, janganlah menjadi pemimpin atau pejabat dalam level apa saja dengan cara membeli jabatan itu. Jika hal ini dilakukan, maka dikhawatirkan bahwa akan terdapat masalah yang tidak mudah diselesaikan. Di dalam telaah saya, ada banyak pejabat dalam berbagai levelnya yang menggunakan cara tidak maslahat dan akhirnya menemukan masalah yang menjeratnya.

Wallahu a’lam bi shawab.

LARANGAN MEMINTA UNTUK MENJADI PEMIMPIN (81)

LARANGAN MEMINTA UNTUK MENJADI PEMIMPIN (81)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Untuk menjadi pemimpin bukan hanya persoalan capaian atau achievement akan tetapi juga ada faktor takdir atau ketentuan Tuhan. Saya meyakini ini. Secara teoretik, maka ada beberapa teori yang menjelaskan tentang kepemimpinan, yaitu teori hereditas atau kepemimpinan berbasis keturunan. Lebih bercorak adanya faktor keluarga  yang menjadi penyebab atas hadirnya seorang pemimpin. Seseorang memang memiliki basis kekerabatan  untuk memimpin. Ada juga  teori keturunan atau genealogi. Seseorang dapat menjadi pemimpin karena memiliki garis keturunan. Ada faktor gen di atasnya yang dapat menjadi pemimpin. Bukan bakat akan tetapi keturunan atau gen. Ada faktor lingkungan yang menyebabkannya. Ada proses pelatihan, pendidikan dan upaya yang dilakukan secara sadar oleh lingkungannya untuk menjadi pemimpin. Ada juga yang mixed antara bakat, keturunan dan pendidikan.

Dari manapun datangnya kepemimpinan tersebut, akan tetapi yang mendasar bahwa untuk menjadi pemimpin tidak bisa dengan cara meminta atau bahkan dengan cara memaksa untuk menjadi pemimpin. Sejarah Jawa penuh dengan intrik, kekerasan dan peperangan untuk melahirkan kepemimpinan. Sejarah Kerajaan Tumapel yang kemudian berubah menjadi Kerajaan Kadiri. Tunggul Ametung dibunuh oleh Kebo Ijo atas prakarsa Ken Arok. Istri Tunggul Ametung, Ken Dedes,  kemudian dinikahi oleh Ken Arok dan melahirkan Tohjaya. Sementara itu Ken Dedes dalam perkawinannya dengan Tunggul Ametung melahirkan Anusapati. Mereka saling membunuh dalam keturunan berikutnya. Kepemimpinan yang lahir dari kekerasan demi kekerasan.

Tetapi sejarah seperti ini bukan hanya terjadi pada masyarakat Jawa, akan tetapi juga pada masa pasca Islam. Pada masa Khulafur Rasyidin juga terdapat pembunuhan atas khalifah Umar, Usman dan Ali. Yang lebih tragis adalah perubahan dari Khulafaur Rasyidin ke Kerajaan Muawiyah dan berlanjut ke Kerajaan Abasiyah. Perang silih berganti. Sejarah tidak semulus kulit Bidadari, akan tetapi banyak bercak darah yang tercecer. Demikianlah kepemimpinan penuh dengan intrik, kasak-kusuk, kekerasan dan perang untuk memeroleh kepemimpinan dan kekuasaan.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Riyadhus Shalihin,  Bab 91, menukil ayat Alqur’an dan hadits untuk menjelaskan tentang kepemimpinan. Alqur’an di dalam surat Al Qashsah: 83, menyatakan: “Negeri akhirat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyumbangkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Said Abdurahman bin Samurah berkata Rasulullah SAW bersabda kepadaku: “Wahai Abdurahman bin Samurah, jangalah engkau meminta kekuasaan, karena sesungguhnya  jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong dalam menjalankannya. Namun jika kamu diberi kekuasaan karena memintanya engkau akan dibebani dalam menjalankan kekuasaan tersebut. Dan apabila engkau bersumpah dengan suatu sumpah, lalu engkau melihat ada perkara yang lebih baik dari sumpah itu, maka lakukanlah yang lebih baik tersebut dan bayarlah kifarat sumpahmu”.

Abu Dzar berkata: Rasulullah SAW bersabda: “wahai Abu Dzar sesungguhnya aku melihatmu  adalah orang yang lemah dan aku sangat senang memberikanmu apa yang aku senangi untuk diriku sendiri, janganlah engkau menjadi pemimpin  atas dua orang dan jagan pula engkau mengurusi harta anak yatim”. Ada juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., bahwa Rasulullah bersabda: “sesungguhnya kalian akan sangat menginginkan kepemimpinan, sedangkan kepemimpinan tersebut akan menjadi penyesalan pada hari kiamat”.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:

Pertama, kepemimpinan itu bukan sekedar upaya atau ikhtiar yang harus dilakukan oleh seseorang agar memperolehnya. Akan tetapi ada dimensi takdir atau qudrat Tuhan. Di kala manusia ditiup ruh oleh Malaikat atas perintah Tuhan, maka setelah itu diberikan takdir dan kehendak, ilmu, kehidupan, pendengaran, penglihatan dan kemampuan berpikir dan berkata. Tujuh aspek ini sudah ditentukan Tuhan termasuk dimensi kepemimpinan. Tuhan memberikan bakat, keturunan, faktor eksternal dan internal dan waktu untuk menjadi pemimpin. Jadi kepemimpinan bukan sekadar usaha tetapi juga ada faktor ketentuan Tuhan. Jadi takdir diberikan akan tetapi juga ada faktor usaha yang dilakukannya. Seseorang boleh menjemput takdir dengan berbagai usaha.

Kedua,  kepemimpinan itu persoalan tanggungjawab bukan sekedar persoalan kekuasaan. Bahkan jika diprosentasekan, maka tanggungjawab itu menempati yang tertinggi sebesar 80 persen, dan kekuasaan dengan segala pernak-perniknya itu hanya 20 persen saja. Tanggungjawab  atas jalannya roda organisasi atau institusi, tanggungjawab mengembangkan SDM, tanggungjawab mengembangkan kelembagaan, tanggungjawab keuangan melalui transparansi dan akuntabilitas, dan semua hal yang terkait dengan tanggungjawab institusional. Kekuasaan bahkan menjadi bagian dari tanggungjawab itu sendiri. Ada tanggungjawab untuk diri sendiri, ada tanggungjawab untuk masyarakat atau organisasi dan ada tanggungjawab untuk Tuhan.

Ketiga,  Islam menganjurkan agar jangan meminta untuk menjadi pemimpin. Islam sangat menghargai prestasi, menghargai derajat orang yang berilmu, orang yang profesional dan orang yang menunjukkan itikad baik dan perilaku yang baik. Oleh karena itu, jika semua persyaratan untuk menjadi pemimpin itu sudah dipahami dan dilakukan, maka orang dipastikan akan mengapresiasinya atau menghargainya. Dan salah satu penghargaan adalah untuk dijadikan sebagai pemimpin.

Jabatan itu amanah, oleh karena itu jangan dimintanya. Di dalamnya ada tanggungjawab besar yang kelak akan dipertanggungjawabkannya di alam akherat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

TAAT  KEPADA PEMIMPIN DALAM KEBAIKAN BUKAN KEJELEKAN (80)

TAAT  KEPADA PEMIMPIN DALAM KEBAIKAN BUKAN KEJELEKAN (80)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam dunia Islam, ungkapan menaati pemimpin sudah menjadi kelaziman. Setelah menaati Allah dan Rasulnya, maka lainnya adalah menaati pemimpin. Hal ini sudah umum diketahui oleh masyarakat,  khususnya mereka yang memahami  pembicaraan tentang ulil amri atau pemimpin. Makanya, kebanyakan ulama atau jumhur ulama menyepakati bahwa ketaatan kepada pemimpin merupakan ajaran Islam.

Tetapi Islam tidak mengajarkan ketaatan yang membabi buta. Artinya bahwa taat yang tidak terbatas. Bukan apapun yang dilakukan oleh pemimpin mesti kita patuhi. Jika seorang pemimpin mengajak kepada jalan yang salah atau disebut sebagai jalan thaghut atau jalan yang menuju kepada kemaksiatan dan kejelekan, maka mestilah harus dipikirkan bagaimana ketaatan tersebut dipikirkan dan dilakukan. Jadi bukanlah ketaatan tanpa reserve atau ketaatan yang memandang semua tindakan pemimpin adalah benar.

Sebuah komunitas, masyarakat dan negara bangsa tentu harus memiliki pemimpin. Kehadiran pemimpin tersebut untuk menjaga kemaslahatan umat. Artinya, bahwa tujuan menjadi pemimpin tersebut adalah untuk membawa masyarakat kepada kesejahteraan yang lebih realistis. Seorang pemimpin tidak hanya untuk kelompoknya, untuk golongannya saja akan tetapi untuk seluruh masyarakat yang dipimpinnya. Itulah sebabnya di kala seseorang menjadi pemimpin,  maka stop diri sebagai bagian kelompoknya, sebab yang harus dilakukannya adalah untuk menjadi bagian dari masyarakat secara umum.

Manusia itu selalu berada di dalam benturan kepentingan. Antara kepentingan diri, kelompok dan masyarakat. Di kala menjadi pemimpin,  maka yang diperlukan adalah menjadi pemimpin bagi semuanya. Jangan hanya mementingkan diri, keluarga dan kelompoknya saja tetapi pikirkan seluruh rakyatnya. Jangan ada kolusi dan nepotisme. Ini merupakan awal bencana bagi seorang pemimpin. Jadilah pemimpin untuk rakyat, bukan hanya pemimpin untuk golongannya.

Di dalam Bab ke 80, Syekh Imam An Nawawi menukil ayat Alqur’an di dalam Surat An Nisa’: 59 yang menyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, taatlah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu”.

Juga menukil Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Nabi SAW bersabda: “Wajib bagi seorang muslim untuk mendengarkan dan manaati setiap perkara yang ia sukai dan  ia benci. Kecuali, ia diperintahkan untuk maksiat. Apabila ia diperintahkan untuk maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengarkan dan menaati”. Hadits diriwayatkan Bukhari dan Imam Muslim.

Di dalam riwayat lain juga dijelaskan oleh Ibnu Umar RA., bahwa “apabila kami berbaiat kepada Rasulullah untuk mendengarkan dan taat, Beliau bersabda kepada kami: “pada perkara yang kalian mampu”. Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Ada juga Hadits yang diceritakan oleh Ibnu Umar RA., berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan, ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Dan barang siapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diceritakan oleh Anas RA., Rasulullah SAW bersabda: “dengarkan dan taatilah oleh kalian, walaupun orang yang dipercayakan untuk memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya Habsyi (negro), yang kepalanya seperti kismis”. Hadits riwayat Imam Bukhari.

Dari uraian atas pemikiran sosiologis, Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat digaris bawahi atas tiga hal, yaitu:

Pertama, seorang pemimpin menempati hirarkhi sangat tinggi di hadapan Allah dan Rasulnya. Ketaatan  terhadap pemimpin berada di dalam point ke tiga dalam jajaran kepatuhan manusia. Ini mengindikasikan bahwa seorang pemimpin memiliki jenjang kemuliaan setelah Rasulullah SAW. Jika seorang pemimpin dapat mengimplementasikan nilai sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi SAW: shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah, maka derajatnya akan sangat tinggi. Tetapi jika jarak antara nilai kepemimpinan sebagaimana  dicontohkan Nabi SAW, maka akan berat  juga pertanggungjawabannya di masa yaumul ba’ats. Mesti harus dipahami bahwa seorang pemimpin pada level apapun akan ditanya tanggungjawabnya. Oleh karena diperlukan kearifan di kala menjadi pemimpin.

Kedua, Islam tidak mengajarkan ketaatan kepada pemimpin itu ketaatan mutlak. Ada garis demarkasi yang membatasinya. Tidak semua yang datang dari pemimpin itu benar. Jika ada yang salah dan mengajak kepada kemungkaran, maka tidak boleh diikuti. Ketaatan itu berbasis pada analisis atas tujuan dan kemanfaatan atas kebijakan dan implementasinya. Jika kebijakan itu baik dan diimplementasikan dengan baik, maka patut didukung. Akan tetapi jika kebijakannya baik tetapi implementasinya jelek, maka harus dilakukan upaya untuk tidak mengikutinya. Ketaatan kepada seorang pemimpin itu harus ditempatkan pada aspek kemanfaatan dan kemaslahatan untuk umat, yaitu kemanfaatan yang berupa  kesejahteraan yang lebih baik untuk semuanya.

Ketiga, menjadi seorang pemimpin itu harus bertelinga lebar dan tebal. Artinya dengan telinga lebar itu maka suara selirih apapun dapat didengar. Suara yang sangat keras juga pasti didengar. Jeritan rakyat harus didengar dan kebahagiaan rakyat juga didengar. Rakyat yang protes dan yang memuji juga harus didengar, lalu kemudian dapat melakukan analisis yang kuat agar dapat menempatkan keseimbangan antara suara keras, lirih, sedih dan gembira dari rakyatnya. Pemimpin juga harus bertelinga tebal. Telinga tebal bukan berarti bebal, tetapi seseorang yang tidak mudah marah, yang menerima kritik dengan pikiran terbuka dan dapat mengambil pelajaran dari apa yang didengarnya. Janganlah sedikit-sedikit marah. Jika ada yang tidak setuju lalu dimatikan pikirannya. Sekecil dan sebesar apapun kritik harus didengarkan untuk kebaikan dan kemaslahatan.

Wallahu a’lam bi al shawab.