MENGUTAMAKAN ZUHUD DENGAN KEHIDUPAN SEDERHANA (55)
MENGUTAMAKAN ZUHUD DENGAN KEHIDUPAN SEDERHANA (55)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahma nir Rahim.
Pada Bab 55, Syekh Imam An Nawawi membahas tentang Bab “Keutamaan Zuhud Terhadap Dunia, Anjuran Hidup Sederhana Serta Keutamaan Hidup Miskin”. Di artikel ini saya mencoba untuk meringkas dengan judul “Mengutamakan Zuhud Dengan Kehidupan sederhana”. Hanya sekedar merumuskan yang lebih pendek tetapi intinya saya usahakan untuk memiliki kesamaan.
Zuhud merupakan satu konsepsi dalam ilmu tasawuf yang merupakan salah satu kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Zuhud adalah sistem kehidupan manusia yang melepaskan keterikatan hati dan perasaan kepada dunia melebihi kecintaan kepada lainnya, khususnya Allah SWT dan Rasulnya. Di dalam konteks ini tidak harus menjadi miskin atau hidup menggelandang atau tanpa memiliki sedikitpun harta, akan tetapi bisa saja memiliki harta tetapi hati dan perasaannya tidak tertaut sedemikian kuatnya kepada harta dimaksud.
Boleh saja seseorang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya akan tetapi harta tersebut pada ujungnya digunakan untuk memperjuangkan agama Allah lewat jihad fi sabilillah, misalnya digunakan secara optimal untuk membantu orang yang membutuhkan.
Salah satu teladan adalah Syekh Hasan Sadzili, pemuka tarekat Syadziliyah, seorang pedagang yang sangat kaya raya, akan tetapi harta tersebut digunakan untuk kepentingan berjuang di jalan Allah. Ditasarufkan hartanya untuk menginggikan kalimat Allah yang sangat mulia. Makanya Beliau menyatakan bahwa: “harta adalah washilah terbaik untuk sampai kepada Allah SWT”.
Sama halnya dengan orang miskin yang bersyukur kepada Allah, bukan orang fakir yang mengingkari Allah SWT. Orang fakir dan orang miskin yang meyakini Allah SWT dengan segala kepastian takdirnya merupakan orang fakir dan miskin yang dicintai Allah dan rasulnya. Akan tetapi orang fakir yang tidak seperti itu digambarkan sebagai “kadal fakru ayyakuna kufran”. Kefakiran seakan-akan membawa kepada kekafiran.
Ayat Alqur’an, dalam Surat Yunus: 24 dinyatakan: “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu). Di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan menjadi cantik, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam dan siang, lalu kami jadikan (tanamannya) seperti tanaman yang sudah disabit seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang berpikir”.
Di dalam Surat yang lain, Al Fatir: 5, Allah SWT berfirman: “Wahai manusia. Sungguh janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”. Di dalam Surat Al Ankabut: 64, Allah berfirman: “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akherat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui”.
Ada beberapa hadits yang juga diungkapkan, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah duduk di atas mimbar sedangkan kami duduk mengelilingi beliau. Beliau bersabda: “sesungguhnya di antara hal yang aku takutkan menimpa kalian semua sepeninggalku nanti ialah keindahan harta dunia serta perhiasannya yang akan dibukakan untuk kalian”. Hadits yang juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id al Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, sesungguhynya Allah ta’ala lalu melihat apa yang kamu kerjakan. Maka takutlah kepada fitnah dunia dan takutlah kepada fitnah Wanita”.
Dari penjelasan di atas yang terkait dengan ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa ada tiga hal mendasar yang perlu dijelaskan, yaitu:
Pertama, Nabi Muhammad SAW memiliki perhatian yang sangat luar biasa kepada hambanya. Rasa cinta tersebut diwujudkan dalam bentuk memberikan nasehat agar manusia tidak terjerembab kepada kecintaan terhadap dunia. Harta, tahta dan Wanita. Diingatkannya bahwa kecintaan atas dunia yang berlebihan akan dapat membawanya kepada jurang kesedihan kelak di alam akherat. Diingatkan bahwa kehidupan duniawi itu sementara saja karena kehidupan yang kekal adalah di akherat. Oleh karena itu, sebaik-baik harta dunia tentu ada batasnya sesuai dengan usia manusia. Manusia jangan tertipu dengan syahwat dunia yang hanya sementara saja.
Kedua, Rasulullah SAW sedemikian besar kasih sayangnya kepada umat manusia sehingga menyatakan bahwa kehidupan di dunia itu seakan-akan sendagurau, penuh dengan tipu daya dan fitnah. Yang ditakutkan oleh Rasulullah SAW bahwa manusia bisa melakukan apa saja untuk memperoleh dunia, harta dan tahta. Kekayaan dan kekuasaan. Rasulullah sungguh memberikan perhatian yang luar biasa besarnya kepada umat manusia agar tidak terkena tipu daya dunia. Dan Syetan mengetahui betul tentang sifat manusia ini. Makanya, Syetan akan selalu menggoda manusia dengan segala kemampuannya atau tipu dayanya. Di antara tipu daya tersebut adalah membisiki hati manusia untuk terus mempertahankan kekuasaan dengan segaka cara dan juga memperoleh harta dengan segala cara, termasuk juga godaan keindahan lelaki dan perempuan.
Ketiga, Rasulullah SAW tidak menghalangi manusia untuk melakukan kerja untuk kepentingan duniawi. Bahkan Rasulullah SAW menggambarkan agar manusia mencari kehidupan dunia tetapi tidak melupakan kehidupan akherat. Manusia harus mencari keduanya secara seimbang. Bahkan yang lebih utama adalah mencintai akherat dan bukan mencintai dunia. Cintailah Allah dan rasulnya melebihi kecintaan kepada apapun di dunia agar kita selamat di dalam alam baka atau alam akherat.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahma nir Rahim.
Pada Bab 55, Syekh Imam An Nawawi membahas tentang Bab “Keutamaan Zuhud Terhadap Dunia, Anjuran Hidup Sederhana Serta Keutamaan Hidup Miskin”. Di artikel ini saya mencoba untuk meringkas dengan judul “Mengutamakan Zuhud Dengan Kehidupan sederhana”. Hanya sekedar merumuskan yang lebih pendek tetapi intinya saya usahakan untuk memiliki kesamaan.
Zuhud merupakan satu konsepsi dalam ilmu tasawuf yang merupakan salah satu kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Zuhud adalah sistem kehidupan manusia yang melepaskan keterikatan hati dan perasaan kepada dunia melebihi kecintaan kepada lainnya, khususnya Allah SWT dan Rasulnya. Di dalam konteks ini tidak harus menjadi miskin atau hidup menggelandang atau tanpa memiliki sedikitpun harta, akan tetapi bisa saja memiliki harta tetapi hati dan perasaannya tidak tertaut sedemikian kuatnya kepada harta dimaksud.
Boleh saja seseorang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya akan tetapi harta tersebut pada ujungnya digunakan untuk memperjuangkan agama Allah lewat jihad fi sabilillah, misalnya digunakan secara optimal untuk membantu orang yang membutuhkan.
Salah satu teladan adalah Syekh Hasan Sadzili, pemuka tarekat Syadziliyah, seorang pedagang yang sangat kaya raya, akan tetapi harta tersebut digunakan untuk kepentingan berjuang di jalan Allah. Ditasarufkan hartanya untuk menginggikan kalimat Allah yang sangat mulia. Makanya Beliau menyatakan bahwa: “harta adalah washilah terbaik untuk sampai kepada Allah SWT”.
Sama halnya dengan orang miskin yang bersyukur kepada Allah, bukan orang fakir yang mengingkari Allah SWT. Orang fakir dan orang miskin yang meyakini Allah SWT dengan segala kepastian takdirnya merupakan orang fakir dan miskin yang dicintai Allah dan rasulnya. Akan tetapi orang fakir yang tidak seperti itu digambarkan sebagai “kadal fakru ayyakuna kufran”. Kefakiran seakan-akan membawa kepada kekafiran.
Ayat Alqur’an, dalam Surat Yunus: 24 dinyatakan: “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu). Di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan menjadi cantik, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam dan siang, lalu kami jadikan (tanamannya) seperti tanaman yang sudah disabit seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang berpikir”.
Di dalam Surat yang lain, Al Fatir: 5, Allah SWT berfirman: “Wahai manusia. Sungguh janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”. Di dalam Surat Al Ankabut: 64, Allah berfirman: “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akherat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui”.
Ada beberapa hadits yang juga diungkapkan, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah duduk di atas mimbar sedangkan kami duduk mengelilingi beliau. Beliau bersabda: “sesungguhnya di antara hal yang aku takutkan menimpa kalian semua sepeninggalku nanti ialah keindahan harta dunia serta perhiasannya yang akan dibukakan untuk kalian”. Hadits yang juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id al Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, sesungguhynya Allah ta’ala lalu melihat apa yang kamu kerjakan. Maka takutlah kepada fitnah dunia dan takutlah kepada fitnah Wanita”.
Dari penjelasan di atas yang terkait dengan ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa ada tiga hal mendasar yang perlu dijelaskan, yaitu:
Pertama, Nabi Muhammad SAW memiliki perhatian yang sangat luar biasa kepada hambanya. Rasa cinta tersebut diwujudkan dalam bentuk memberikan nasehat agar manusia tidak terjerembab kepada kecintaan terhadap dunia. Harta, tahta dan Wanita. Diingatkannya bahwa kecintaan atas dunia yang berlebihan akan dapat membawanya kepada jurang kesedihan kelak di alam akherat. Diingatkan bahwa kehidupan duniawi itu sementara saja karena kehidupan yang kekal adalah di akherat. Oleh karena itu, sebaik-baik harta dunia tentu ada batasnya sesuai dengan usia manusia. Manusia jangan tertipu dengan syahwat dunia yang hanya sementara saja.
Kedua, Rasulullah SAW sedemikian besar kasih sayangnya kepada umat manusia sehingga menyatakan bahwa kehidupan di dunia itu seakan-akan sendagurau, penuh dengan tipu daya dan fitnah. Yang ditakutkan oleh Rasulullah SAW bahwa manusia bisa melakukan apa saja untuk memperoleh dunia, harta dan tahta. Kekayaan dan kekuasaan. Rasulullah sungguh memberikan perhatian yang luar biasa besarnya kepada umat manusia agar tidak terkena tipu daya dunia. Dan Syetan mengetahui betul tentang sifat manusia ini. Makanya, Syetan akan selalu menggoda manusia dengan segala kemampuannya atau tipu dayanya. Di antara tipu daya tersebut adalah membisiki hati manusia untuk terus mempertahankan kekuasaan dengan segaka cara dan juga memperoleh harta dengan segala cara, termasuk juga godaan keindahan lelaki dan perempuan.
Ketiga, Rasulullah SAW tidak menghalangi manusia untuk melakukan kerja untuk kepentingan duniawi. Bahkan Rasulullah SAW menggambarkan agar manusia mencari kehidupan dunia tetapi tidak melupakan kehidupan akherat. Manusia harus mencari keduanya secara seimbang. Bahkan yang lebih utama adalah mencintai akherat dan bukan mencintai dunia. Cintailah Allah dan rasulnya melebihi kecintaan kepada apapun di dunia agar kita selamat di dalam alam baka atau alam akherat.
Wallahu a’lam bi al shawab.
