Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGHARAP KEMATIAN  (67)

MENGHARAP KEMATIAN  (67)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir Rahim

Allah SWT memberikan kehidupan dan juga menetapkan kematian melalui takdir yang sudah ditentukannya. Salah satu di antara instrument spiritual yang dihembuskan oleh Malaikat atas perintah Allah SWT pada tahap 40 hari ketiga, masa mudghah, adalah takdir atau kepastian Tuhan tentang kepastian-pasti atau takdir mubram,  seperti takdir akan kematian. Itulah sebabnya Rasulullah melarang umatnya untuk meminta kematian. Tanpa diminta, jika takdir kematian sudah datang, maka tidak dapat diajukan dan tidak dapat dimundurkan.

Syekh Imam An Nawawi menyebutkan sebagai tindakan makruh untuk memohon kematian. Umat Islam diminta tidak melakukan tindakan seperti itu. Yang diharapkan justru berdoa kepada Allah untuk memanjangkan usia tetapi dalam keadaan badan yang sehat dan penuh Cahaya Allah atau Cahaya kebaikan serta selalu berada di dalam ketetapan iman kepada Allah SWT. Yang diperbolehkan atau hukumnya mubah jika ada umat Islam yang memohon agar diwafatkan Allah karena ketakutan akan fitnah atas nama agama. Hanya saja, ukuran ketakutan itu juga tidak sedemikian mudah. Harus ada kejelasan tentang apa ukuran fitnah yang akan menimpanya. Jangan-jangan ketakutan tanpa dasar yang jelas.

Di sisi lain, Allah mengajarkan kepada manusia jangan berputus asa atas nikmat Allah. Ada banyak kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Di antaranya adalah nikmat  kehidupan. Jika kita mengingkari kenikmatan ini, maka sebenarnya kita sudah kufur atas kenikmatan yang diberikan Allah. Tidak kafir atau mengingkari keberadaan Allah, akan tetapi kufur atas nikmat Allah.

Pada Bab 66, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Makruh Mengharapkan Kematian Dengan Sebab Adanya Bahaya Yang Menimpanya, Tetapi Tidak Mengapa Jika Dilakukan Karena Takut Akan Adanya Fitnah Dalam Agama”. Di dalam artikel ini sengaja saya ringkas dengan judul “Mengharap Kematian”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diceritakan oleh Anas RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian dan janganlah berdoa untuk segera mendapatkan kematian. Maka hendaklah dia mengucapkan: ‘Ya Allah hidupkanlah selama hidup ini menjadi kebaikan untuk dan matikanlah saya jika mati adalah lebih baik untukku”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits lain menyatakan sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian. Jika ia orang yang berbuat baik, maka semoga kebaikannya itu dapat bertambah. Namun jika ia orang yang buruk, maka mudah-mudahan ia bertaubat kepada Allah”.  Sedangkan di dalam Riwayat Imam Muslim disebutkan dari Abu Hurairah RA., bahwa Rasulullah bersabda: “janganlah seseorang dari kalian mengharapkan kematian dan jangan pula berdoa agar segera mendapatkan kematian sebelum kematian itu datang padanya. Sesungguhnya jika ia telah mati, maka terputuslah amalannya dan bahwa tidaklah seorang mukmin itu bertambah umurnya melainkan akan menjadi kebaikan untuknya”. Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dari uraian di atas, kiranya dapat ditarik pemahaman atas tiga hal, yaitu:

Pertama, jika dibaca tentang hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para ahli hadits, maka tampak penjelasan tentang larangan. Tentu saja ada larangan yang bercorak haram dan ada larangan yang bercorak makruh. Yang larangan bercorak haram tentu jangan dilakukan, dan larangan yang bercorak makruh, sebaiknya ditinggalkan. Jika dilakukan tidak berdosa, tetapi jika ditinggalkan akan mendapatkan kebaikan. Bagi kaum tasawuf, jangankan yang dinyatakan larangan haram, akan tetapi larangan makruhpun dihindari. Jika ditilik dari bunyi hadits Nabi SAW ini, maka memohon atau berdoa untuk kematian bagi diri sendiri itu merupakan larangan yang sebaiknya dihindari.

Kedua, kata kunci penting di dalam kehidupan adalah kebaikan. Oleh karena itu kebaikan tentu menjadi ukuran apakah kita ini masih bermanfaat atau tidak. Kemanfaatan itu terdapat beberapa aspek, yaitu: kemanfaaatan untuk ilmu, untuk umat dan untuk diri sendiri. Kemanfaatan untuk ilmu itu banyak ragamnya. Tidak harus mengajar, akan tetapi juga membimbing dan memberikan penjelasan apa saja terkait dengan kebaikan, misalnya menulis tentang kebaikan. Lalu berguna bagi masyarakat dalam bentuk pengabdian untuk kebaikan. Termasuk juga kebaikan untuk diri sendiri. Jika kedua yang didepan tidak dapat dilakukan, maka sekurang-kurangnya masih ada kebaikan untuk diri sendiri. Jadi masih bisa berdoa atas kebaikan diri sendiri. oleh karena itu, selama masih bisa berdoa untuk diri sendiri, maka sebaiknya berdoa untuk kebaikan.

Ketiga,  ada ajaran di Islam yang justru menganjurkan agar kita berdoa untuk diberi panjang usia. Allahumma thawwil umurana, wa shahih ajsadana, wa nawwir qulubana, wa tsabbit imanana”. “Ya Allah panjangkan usia kami, dan sehatkan fisik kami, dan cahayai hidup kami dan tetapkan atau istiqamahkan iman kami”. Doa ini mengajarkan kepada kita bahwa berapapun usia kita, sebaiknya berdoa agar Allah memanjangkan usia kita dengan jasad yang sehat, hidup berbalut cahaya Allah dan istiqamah dalam iman. Inilah hidup yang bermakna untuk diri, keluarga, Masyarakat dan umat manusia.

Jadi memang sebaiknya kita berdoa yang positif kepada Allah dan kita yakin Allah juga akan positif memandang kita. Dan saya kira kita bisa melakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

ANJURAN MELAKUKAN ZIARAH KUBUR (66)

ANJURAN MELAKUKAN ZIARAH KUBUR (66)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir Rahim

Manusia memiliki tradisi macam-macam di dalam melakukan penguburan atas orang yang sudah mati atau wafat. Ada tradisi membakar mayat dan kemudian abunya di buang ke laut atau ke Sungai yang deras. Di India ada tradisi membakar mayat dan abunya di buang di Sungai. Ada juga tradisi menempatkan mayat dengan cara mengawetkannya di tempatkan di bangunan permanen, seperti The San Diego Memorial Park di Jakarta atau Grand Heaven di Surabaya, dan ada yang dibiarkan dan ditempatkan di bukit-bukit di Toraja atau di bawah pohon di Sasak Lombok dan sebagainya.

Islam mengajarkan agar mayat dimandikan, dishalatkan, dikafani dan dikubur di pemakaman yang memang dikhususkan untuk pemakaman. Di Arab Saudi yang terkenal adalah Makam Baqi’, lalu di Indonesia setiap desa memiliki pemakaman yang khusus untuk umat Islam. Cara merawat mayat nyaris semuanya sama, hanya pasca penguburan yang terdapat perbedaan. Misalnya di kalangan orang NU, maka kemudian di talqin atau diajari tentang pertanyaan kubur yang bisa diajarkan, sementara orang Muhammadiyah tidak melakukannya.

Tetapi yang terpenting bahwa secara historis, Nabi SAW pernah melarang berziarah kubur. Hal itu dilakukan sebab ada kekhawatiran mereka akan menyalahgunakan ziarah kubur untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Akan tetapi di kala iman mereka sudah sangat kuat dan tidak diragukan akan terjadi penyimpangan akidah, maka berziarah kubur lalu dianjurkan.

Di Nusantara terdapat tradisi yang unik, yaitu berziarah ke makam-makam para waliyullah. Tradisi ini dilakukan untuk berdoa kepada Allah dengan membacakan ayat-ayat suci Alqur’an, berdzikir dan membaca tahlil sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama. Tradisi ini kebanyakan dilakukan oleh orang NU, yang memiliki keyakinan bahwa para Auliya dapat menjadi washilah atas doa yang dilakukan. Sekali lagi wasilah aau perantara. Biasanya wasilah tersebut disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW dan kemudian baru kepada para Auliya yang diziarahi. Bisa terjadi perdebatan pendapat tentang hal ini. Tetapi inilah dunia keyakinan beragama yang memiliki keunikan.

Syekh Imam An Nawawi mengutip hadits sebagaimana diriwayatkan oleh ahli hadits. Hadits Rasulullah SAW sebagaimana diungkapkan oleh Buraidah RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Saya pernah melarang kalian berziarah kubur, namun sekarang berziarahlah ke kubur”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Dalam Riwayat lain disebutkan: “maka barangsiapa yang hendak berziarah ke kubur berziarahlah, sebab ziarah kubur itu dapat mengingatkan kita kepada akhirat”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, berkata: “Rasulullah SAW ketika giliran menginap di tempat Aisyah, beliau lalu keluar pada akhir malam ke makam Baqi’, kemudian mengucapkan: “keselamatan atas kalian semua hai perkampungan kaum mukminin, telah datang kepada kalian apa yang dijanjikan, besuk telah ditentukan. Sesungguhnya kita semua insyaallah menyusul kalian. Ya Allah ampunilah praa penghuni makam Baqi’ Al Gharqad. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah RA berkata: “Nabi SAW mengajarkan kepada para sahabat jika keluar hendak ke makam supaya seseorang dari mereka mengucapkan, ‘keselamatan atas kalian wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan Muslimin. Sesungguhnya kita semua insyaallah menyusul kalian. Saya mohonkan kepada Allah untuk kita dan kalian akan keselamatan”. Hadits Riwayat Imam At Tirmidzi.

Dari uraian di atas, kiranya dapat  dijelaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama, memang ada tradisi menghormat kepada leluhur. Tradisi tersebut telah dilakukan secara massif pada kalangan penganut agama di dunia. Misalnya di Cina yang memiliki tradisi penghormatan kepada leluhur. Hari raya Imlek adalah tradisi untuk upacara penghormatan kepada  para leluhurnya. Tidak perduli apa agamanya, akan tetapi di dalam perayaan Imlek semuanya terlibat.

Sesungguhnya, berziarah kubur merupakan perbuatan yang di zaman Nabi SAW pernah dilarang. Ada kekhawatiran bahwa umat Islam yang imannya belum kuat justru meminta kepada arwah yang dikuburkan. Tetapi di kala iman mereka kepada Allah sudah sangat kuat dan tidak mungkin akan terjadi kemusyrikan, maka ziarah kubur diperkenankan. Tujuannya adalah untuk mendoakan kepada arwah yang jasadnya dikuburkan di makam dimaksud.

Kedua, Islam itu sangat menghargai atas kemanusiaan. Bahkan atas orang yang sudah wafat. Tidak hanya yang masih hidup. Islam mengajarkan agar kita tetap membangun kebahagiaan atas orang yang sudah wafat. Misalnya dengan membacakan doa dan membacakan ayat-ayat Alqur’an dan dzikir-dzikir yang dianjurkan oleh Allah. Bahkan Rasulullah menyatakan yang akan mengikuti roh di alam Barzakh adalah sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan atas keluarganya.

Melalui ajaran ini, maka tentu menjadi peringatan bagi kita semua agar selalu melakukan perbuatan kebaikan atas orang lain, terutama para anggota keluarga baik yang masih hidup atau yang sudah wafat. Islam memang memberikan perhatian khusus atas relasi social yang baik di antara sesama manusia.

Ketiga, kita tentu harus bersyukur kepada Allah karena bisa menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad SAW. Dan dengan bersyukur kepada Allah atas ajaran-ajaran kebaikannya tersebut, maka yang kita harapkan adalah keridlaan Allah dan berlanjut dengan Rahmat Allah SWT. Tidak ada kebahagiaan yang melebihi hal ini. Jika kita berhasil mendapatkannya karena kecintaan kita kepada kemanusiaan, maka inilah yang dapat disebut sebagai the endless bliss.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENGINGAT KEMATIAN  (65)

MENGINGAT KEMATIAN  (65)

Prof. Dr. Nur Syam, MSI

Bismillahir rahmanir Rahim

Salah satu misteri kehidupan adalah kematian. Manusia  terlahir di dunia dan kemudian mati. Lahir, hidup dan mati. Ini merupakan rutinitas di dalam kehidupan manusia. Tidak ada satupun manusia yang tidak mengalami kematian, kecuali beberapa Nabi yang kemudian diangkat oleh Allah ke langit, misalnya Nabi Isa AS. Dia tidak mati di tiang Salib sebagaimana keyakinan orang Nasrani, yang beranggapan bahwa Isa AS., mati di tiang Salib dan kemudian dibangkitkan. Ajaran Islam menyatakan bahwa Nabi Isa AS bukan mati di tiang Salib tetapi diangkat Allah ke haribaannya. Ini sebuah eksepsi. Tetapi pada umumnya ada kelahiran, ada kehidupan dan ada kematian.

Mati merupakan takdir Tuhan yang azali atau takdir dengan tingkat presisi yang pasti dan tepat waktu. Salah satu takdir Tuhan yang pasti atau takdir mubram adalah kematian. Di dalam Alqur’an dinyatakan bahwa jika takdir kematian itu datang, maka tidak dapat diundur dan ditunda. Pasti akan mati dimanapun dan kapanpun. Allah memberikan tujuh aspek di dalam masa 40 hari terakhir atau saat mudghah dengan takdir, hasrat, hidup, ilmu, mendengar, melihat dan berbicara. Ketujuhnya itu dihembuskan oleh malaikat atas perintah Allah bersamaan atau beriringan dengan hembusan roh atas jasad atau mudghah yang sudah sempurna sebagai manusia.

Manusia harus menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan manusia itu ada batas akhirnya. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar manusia mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Ada dua saja yang diinginkan oleh ajaran Islam, yaitu beriman dan beramal shaleh. Ada orang yang beriman tetapi tidak beramal shaleh. Dan ada orang yang beramal shaleh tetapi tidak beriman. Inilah realitas kehidupan. Tentu yang benar adalah orang yang beriman kepada Allah dan seluruh atribut keimanan serta  kemudian mengamalkan amalan-amalan shalihan. Jika keduanya bisa dilakukan, maka itulah yang disebut sebagai orang yang bahagia di dunia dan akherat.

Syekh Imam An Nawawi mengutip ayat Alqur’an dan hadits-hadits Nabi SAW. Artikel ini menukil beberapa ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW yang sangat relevan dengan maksud tema kajian. Allah berfirman di dalam Surat Ali Imran: 185, bahwa: “Tiap-tiap orang yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari nerakan dan dimasukkan di dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan dan memperdayakan”.  Di dalam surat Al Lukman: 34, bahwa: “dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati”. Ayat Alqur’an juga menyatakan di dalam Surat An Nahl: 61, bahwa “…maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya walapun sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya”.

Hadits Nabi SAW  sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW menepuk bahuku lalu bersabda: “jadilah engkau di dunia itu seperti orang asing atau sebagai orang yang menyeberang jalan”. Ibnu Umar berkata: jika engkau berada di sore hari, maka janganlah engkau menunggu waktu pagi dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah engkau menunggu waktu sore. Ambillah kesempatan sewaktu engkau sehat untuk sakitmu dan sewaktu engkau masih hidup untuk matimu”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “bersegeralah kalian untuk melakukan amalan-amalan yang baik sebelum datangnya  tujuh perkara, apakah kalian tidak menantikan kecuali datangnya kefakiran yang melalaikan atau kekayaan yang menyebabkan kecurangan, atau sakit yang merusakkan tubuh atau tua yang menyebabkan kurangnya akal pikiran, atau kematian yang cepat, ataupun Dajjal, maka dia adalah seburuk-buruknya makhluk gaib yang dinantikan, atau datangnya hari kiamat, padahal kiamat itu adalah bencana terbesar serta yang terpahit deritanya”. Hadits Riwayat Imam Tirmizi. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah oleh kalian mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan, yaitu kematian” Hadits Riwayat Imam Attabarani.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat dipahami  dengan tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam sebagai agama  terakhir yang diturunkan kepada umat manusia merupakan agama yang lengkap. Agama yang mengajarkan agar manusia berpikir tentang kematian dan tidak hanya berpikir tentang keduniawian. Dengan berpikir tentang adanya kepastian dengan takdir yang pasti terjadi, maka akan dapat membawa pikiran dan kesadaran manusia untuk tidak merasa sebagai manusia yang paling hebat. Yang paling pintar, yang paling kaya, yang paling berhasil. Pikirannya  serba yang paling.

Manusia yang seperti ini akan dapat disebut  sebagai makhluk yang melecehkan Tuhan yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, dengan mengingat bahwa kematian itu selalu mengintip kehidupannya, maka manusia akan menjadi rendah hati, merasa tidak memiliki sesuatu yang lebih, merasa hanya sebutir debu yang tidak memiliki kapastitas lebih. Manusia yang menghormati yang tua dan memanusiakan yang muda. Yang menyayangi di bumi, sehingga kasih sayang di atas akan dapat diraihnya.

Kedua, sehebat-hebatnya manusia pasti ada kelemahannya. Sekuat-kuatnya manusia juga tidak akan dapat melawan takdir kematiannya. Tubuhnya tergeletak di bumi, rohnya melesat menuju alam lain, dan jiwanya lepas menuju mengikuti rohnya jika jiwanya baik, nafsul muthmainnah, tetapi jika jiwanya jelek atau nafsu amarah maka akan mengikuti jasadnya. Menjadi tidak berdaya. Melalui mengingat mati atau dzikrul maut, maka kita diajari agar di dalam hidup yang sangat terbatas tahunnya tersebut dimanfaatkan untuk hablum minallah yang seimbang dengan hablum nas dan bahkan juga hablum minal alam. Janganlah kita hanya beribadah untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga beribadah untuk kemanusiaan dan bahkan untuk alam. Manusia tidak hanya bertadabbur alam, akan tetapi juga bertadabbur insan.

Ketiga, jika kita baca ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW sebagaimana terurai di atas, maka manusia harus berpikir, berkesadaran dan bertindak kebaikan sebagai bekal untuk menyongsong kehidupan di alam barzah atau alam akhirat. Jika ini yang dipahami, maka manusia akan dapat menyelesaikan tugas kemanusiaannya secara seimbang dan bermakna. Marilah kita benar-benar  menyadari bahwa manusia itu bukan siapa-siapa. Manusia adalah makhluk yang lemah, bahkan tidak berdaya. Dan keberdayannya itu hanya karena kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

ORANG KAYA YANG BERSYUKUR (64)

ORANG KAYA YANG BERSYUKUR (64)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Tentu saja ada orang kaya yang bersyukur kepada Allah dan ada orang kaya yang tidak bersyukur kepada Allah. Jika dibandingkan, mana yang lebih banyak? Maka secara asumtif lebih banyak orang kaya yang tidak bersyukur. Orang-orang materialisme atau atheisme tentu tidak bersyukur kepada Tuhan, sebab mereka tidak percaya kepada Tuhan. Padahal jumlah mereka yang kaya dengan prinsip materialism dan atheism itu jumlahnya lebih banyak.

Bahkan juga ada orang yang beragama Islam, tetapi rasa syukurnya itu tipis sekali.

Sesungguhnya secara tipologis, bahwa orang itu menjadi kaya atau tidak sangat tergantung pada usaha yang dilakukannya. Itulah yang menyebabkan bahwa kekayaannya itu tidak ada factor Tuhan di dalamnya. Mereka beranggapan bahwa kekayaannya atau hartanya itu murni dari usaha keras yang dilakukannya. Ini merupakan kesalahan berpikir tingkat awal yang dapat menjadi penyebab kerusakan moralitas yang sangat mendasar. Sebab melalui cara berpikir seperti ini, maka akan menyebabkan seseorang menjadi kikir, sebuah perilaku yang dilarang oleh Rasulullah SAW.

Salah satu di antara tanda seseorang bersyukur atas harta yang diperoleh dengan benar adalah dengan melakukan amalan shalihan dalam berharta. Yaitu mengeluarkan untuk zakat, infaq dan shadaqah. Hati yang mudah terketuk untuk menolong merupakan salah satu indikasi awal, bahwa seseorang memiliki kecerdasan social yang tinggi. Dari sini kemudian menyebar kepada otak, hati dan seluruh tubuhnya untuk bergegas menolong atas orang yang membutuhkan pertolongan. Terutama menolong orang yang kekurangan, misalnya orang yang fakir, miskin dan orang yang belum beruntung kehidupannya.

Allah berfirman di dalam Surat Al Lail: 5-7, bahwa: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. Di dalam Surat Al Lail: 17-21,  bahwa: “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka itu. Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya. Padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasanya. Namun, (dia memberikan itu semata) karena mencari keridlaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapatkan kepuasan”.

Alqur’an juga menjelasakan di dalam Surat Al Baqarah: 271, bahwa: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu) maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Selain itu juga terdapat hadits Nabi SAW melalui cerita Abdullah bin Mas’ud RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak diperbolehkan iri melainkan atas dua hal, yaitu seseorang yang dikaruniai oleh Allah harta kemudian ia mempergunakannya dalam kebenaran dan seseorang yang dikaruniai oleh Allah ilmu pengetahuan, kemudian ia memberikan  keputusan dengan ilmunya ini serta mengajarkannya”. Hadits Riwayat Shahihain. Lalu juga ada hadits Nabi SAW yang diceritakan oleh Abdullah bin Mas’ud RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tidak diperbolehkan iri melainkan terhadap dua perkara, yaitu: seseorang yang dikaruniai oleh Allah kepandaian dalam Alqur’an kemudian dia suka bersembahyang dengan membaca Alqur’an itu pada waktu malam dan siang, serta seseorang yang dikaruniai oleh Allah harta lalu ia menafkahkannya pada waktu malam dan siang”. Hadits Shahihain.

Dari penjelasan atas Alqur’an dan hadits Nabi SAW, maka dapat dicatat tiga hal penting, yaitu:

Pertama, Allah memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas seseorang yang diberi kelebihan harta dan diperolehnya dan harta tersebut dengan benar atau sesuai dengan syariat Allah dan kemudian dinafkahkan  untuk kebaikan. Allah menjanjikan hambanya yang seperti itu dengan pahala Allah yakni surga. Sebuah tempat yang dijanjikan kepada orang yang beriman dan beramal shaleh.

Jika umat Islam mengamalkan ajaran seperti ini, dengan mengirimkan sebagian kecil hartanya untuk sedekah, infaq dan zakat serta wakaf, dan mengirimkannya kepada Lembaga-lembaga resmi pemerintah atau Lembaga zakat berizin yang mengelola hal tersebut, dan kemudian dapat ditasarufkan untuk kesejahteraan umat, maka akan didapatkan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

Kedua, bahkan Rasulullah SAW memberikan perkecualian atas perilaku yang di dalam banyak hal dilarang, yaitu iri atas perilaku lainnya dengan membolehkannya adalah iri atas amal kebaikan yang berupa orang kaya yang menafkahkan hartanya untuk kebaikan dan orang yang  berilmu dan ilmunya digunakan untuk menyebarkan agama Allah SWT. Orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu untuk kebaikan, maka seseorang yang seperti ini patut ditiru. Termasuk juga orang yang memiliki keahlian di dalam Alqur’an dan mengamalkannya untuk umat. Sebaik-baik orang adalah yang belajar Alqur’an dan mengajarkannya.

Ketiga, kesadaran untuk berinfaq, bersedkah dan berzakat Masyarakat Indonesia belum menggembirakan. Potensi  zakat itu besar sekali, akan tetapi yang bisa direalisasi masih sangat sedikit. Hal ini menandakan bahwa kesadaran untuk melakukan zakat masih rendah. Oleh karena itu literasi zakat mesti harus ditingkatkan agar target pencapaian zakat dapat dipenuhi.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

BERLOMBA UNTUK AKHERAT MELALUI  KEBERKAHAN (63)

BERLOMBA UNTUK AKHERAT MELALUI  KEBERKAHAN (63)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Kebanyakan manusia bukanlah berlomba-lomba untuk kepentingan akhirat. Untuk apa melakukan sesuatu yang ke depan tidak jelas. Akhirat itu urusan dunia yang akan datang, yang bisa ada dan bisa tidak. Akhirat itu dunia khayalan yang tidak jelas juntrungannya. Bagi orang yang berpaham materialisme, maka yang layak dipercaya itu yang nyata saja, yang riil saja atau yang empiris saja. Hal-hal yang tidak nyata tidak perlu dipercayai. Tidak perlu diyakini. Begitulah dunia manusia yang berpandangan positivisme. Dunia yang serba material inilah yang kemudian menghasilkam atheism atau pandangan bahwa Tuhan itu tidak ada.

Bagi orang yang beriman dengan sepenuh keyakinan maka keberadaan Tuhan adalah kemutlakan. Tuhan itu ada secara mutlak. Tidak bisa dibantah. Tuhan itu keberadaannya bersifat metaempiris-teologis. Artinya tidak hanya berbicara tentang apa yang ada dibalik yang empiris atau yang fisik, akan tetapi ada yang berada di balik yang metapisik,  yang  metaempiris, bahkan sebagai inti keberadaan, yang mencipta dan mengatur seluruh kehidupan planet dan tata surya ini.

Inilah yang menghasilkan theisme, atau keyakinan bahwa ada yang menciptakan, memiliki dan mengatur seluruh jagad raya yang belum seluruhnya kita ketahui. Meskipun sudah menemukan alat-alat canggih untuk mengamati tata surya, akan tetapi pengetahuan manusia hanya kira-kira lima persen saja atas seluruh jagad raya. Hipotesis tentang Akal Agung yang menciptakan jagad raya sudah diyakini oleh para ilmuwan, sebab tidak ada yang teratur yang terjadi dengan sendirinya, pasti ada yang mengaturnya. Itulah Tuhan yang diyakini keberadaannya.

Itulah sebabnya manusia diharapkan agar dapat memahami tentang Allah SWT dengan segala atribut yang melekat pada-Nya. Di antaranya adalah dengan melaksanakan ajaran-ajaran kebaikan sebagaimana diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dan akhirnya sampai kepada kita semua. Manusia diminta untuk berlomba-lomba di dalam kebaikan. Fastabiqul Khairat, berlomba-loma dalam kebaikan. Semua itu dilakukan agar mendapatkan berkah Allah, yaitu kebaikan yang selama lama semakin banyak dan semakin banyak, sehingga tidak hanya bemanfaat bagi dirinya, tetapi juga untuk keluarganya dan masyarakat.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang berlomba-lomba mencari kebaikan, dengan ayat Alqur’an yang memberikan penjelasan di dalam Surat Al Muthafifin: 26 bahwa: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diungkapkan oleh Sahal bin Sa’ad RA bahwa Rasulullah SAW diberi minuman lalu Beliau meminumnya, sedangkan di sebelah kanannya ada seorang anak dan di sebelah kirinya ada orang-orang tua. Lalu Beliau bersabda kepada anak itu, “apakah kamu mengizinkan kalau saya memberikan  minuman ini kepada orang-orang tua itu dahulu”. Anak itu menjawab: “tidak, demi Allah wahai Rasulullah, saya tidak akan memberikan bagianku darimu kepada orang lain”. Kemudian Rasulullah SAW meletakkan minuman itu di tangannya”.  Hadits  Mutafaq alaih.

Juga hadits yang diterangkan oleh Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda. “Pada suatu ketika, Nabi Ayyub RA mandi dengan telanjang, lalu jatuhlah padanya seekor belalang dari emas. Beliau lalu mengibas-ibaskan bajunya. Kemudian Rabbnya azza awa jalla memanggilnya “Wahai Ayyub, bukanlah aku membuatmu tidak membutuhkan terhadap apa yang engkau lihat itu”.  Ayyub AS menjawab: “benar demi keagungan-Mu, saya sama sekali tidak dapat merasa kaya pada keberkahan-Mu”.  Hadits  Riwayat Imam Bukhari.

Berdasarkan penjelasan di atas, kiranya dapat ditegaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah SWT memberikan perintahnya agar manusia selalu berupaya menjadi yang terbaik dengan berlomba-lomba untuk mencari kebaikan. Sebagaimana diajarkan di dalam Islam, bahwa kebaikan adalah instrument untuk kepentingan mendapatkan kehidupan di akherat yang terbaik. Di dalam Alqur’an disebut sebagai ahlul yamin atau golongan kanan, yang dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan kebahagiaan hakiki.

Kita diminta oleh Allah SWT untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Melakukan kebaikan secara terus menerus dan semakin baik, semakin baik. Jika kita dapat melakukannya, maka itulah yang juga disebutkan sebagai “sebaik-baik manusia adalah yang paling bertakwa kepada Allah”. Di sini berarti ada kompetisi untuk melakukan kebaikan. Siapa yang paling baik itulah yang beruntung.

Kedua, Nabi dan Rasul Allah adalah teladan. Nabi Ayyub AS sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW diberikan anugerah oleh Allah SWT yang berupa benda, belalang emas, akan tetapi Nabi Ayyub AS tidak bergembira dan tidak menerimanya, bahkan di buangnya. Hal ini menandakan bahwa Nabi Ayyub AS menyadari bahwa pemberian itu tidak akan membahagiakannya, bahkan mungkin menyengsarakannya. Bukannya menolak rejekinya Allah, akan tetapi khawatir bahwa yang diberikan itu adalah ujian atas kenabiannya dan ibadahnya. Penolakan itu bukan sebagai mengingkari kenikmatan Allah SWT tetapi menyadari bahwa di tengah zuhud atas dunia, maka pemberian itu adalah cobaan Allah SWT.

Ketiga, di sisi lain, Rasulullah SAW adalah seorang yang sangat menghargai atas umatnya. Di dalam contoh seorang anak yang ditanya tentang kesediaannya untuk berbagi dengan orang tua-tua lainnya, maka anak tersebut mempertahankan haknya karena air itu sudah diminum oleh Rasul. Tentu mengandung keberkahan. Makanya dia pertahankan pemberian Rasul tersebut. Orang tua itu menerima karena itu adalah pemberian Rasulullah SAW. Hikmahnya adalah berikan sesuatu kepada yang berhak dan jangan mempertanyakan bagaimana hak tersebut harus ditunaikan.

Dengan demikian, terdapat trilogi penting yaitu: kebaikan, keberkahan dan pahala Allah SWT. Kebaikan yang semata-mata untuk Allah SWT akan menghasilkan keberkahan dan kemudian akan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Sungguh orang yang bisa melakukan itulah orang yang disebut sebagai bagian dari ashabul yamin atau orang yang memiliki peluang besar untuk masuk surga.

Wallahu a’lam bi al shawab.