Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMAAFKAN DAN BERPALING DARI PERILAKU KEBODOHAN (75)

MEMAAFKAN DAN BERPALING DARI PERILAKU KEBODOHAN (75)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada bab ke 75, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Memaafkan dan Berpaling dari orang Bodoh”, lalu saya ubah judulnya menjadi “Memaafkan dan berpaling dari perilaku kebodohan” yaitu suatu bab yang memberikan pemahaman kepada umat Islam tentang pentingnya sikap dan perilaku memaafkan dan agar kita menghindari orang yang berperilaku bodoh dalam kehidupannya. Mungkin ada sebuah pertanyaan, bagaimana kita harus menghindari orang yang bodoh, padahal sebagai sesama manusia tentu kita tidak boleh saling merendahkan dan saling menyepelekan.

Yang dimaksud dengan perilaku  bodoh adalah bodoh dalam keyakinan dan pengamalan keagamaannya. Orang yang sudah jelas mendapatkan keterangan tentang agama Islam, sudah mendapatkan penjelasan yang memadai tentang Islam,  tetapi masih tetap saja di dalam perilakunya yang tidak sesuai dengan amalan-amalan keislaman. Sebagai contoh yang disebutkan di dalam Alqur’an adalah Abu Lahab. Lalu juga ada orang yang sudah mendapatkan penjelasan tentang Islam tetapi tetap menentang adalah Abu Jahal. Jadi bodoh tidak dimaksudkan sebagai orang yang memiliki IQ rendah, akan tetapi orang yang bodoh dalam memahami ajaran agama Islam.

Manusia memiliki akal yang dengan kemampuannya itu dapat memilih mana yang benar dan mana yang salah. Yang haq itu benar dan yang bathil itu salah. Jangan karena factor kekuasaan yang diperolehnya atau akan dicapainya kemudian kita menggunakan kebodohan untuk memilih yang salah dan mengabaikan yang benar. Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW, orang tua Sayyidina Ali adalah orang yang pintar dan memiliki kekuasaan. Akan tetapi karena takut dicela oleh orang lain yang dikuasainya, maka Abu Thalib mengabaikan ajakan Nabi Muhammad SAW. Bahkan sampai wafatnya, dia enggan dan tidak mau untuk membaca kalimat tauhid dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini yang membuat Nabi Muhammad SAW sedih sebab orang yang sangat mencintai dan melindunginya itu wafat dalam keadaan belum bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan dan menguasai seluruh jagad raya.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan berdasarkan ayat Alqur’an di dalam Surat Al A’raf: 199, yang artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”. Di dalam Surat Al Hijr: 85 dinyatakan: “Maka maafkanlah (mereka)  dengan cara yang baik”. Di ayat lain, Surat Asy Syura: 43 dinyatakan: “tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, maka yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, menyatakan: “Rasulullah SAW tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, baik istri maupun pembantunya, kecuali di dalam berjihad di jalan Allah, dan Nabi SAW  sama sekali tidak pernah membalas orang yang mengganggunya, kecuali apabila apa yang telah diharamkan Allah itu dilanggar, maka Nabi SAW  semata-mata membalasnya karena Allah”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Lalu juga ada hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Mas’ud RA, berkata: “sepertinya aku melihat Rasulullah SAW saat menceritakan perihal salah seorang Nabi shalawatullah wa salamuhu alaihim yang dipukul oleh kaumnya sampai berlumuran darah, sambil mengusap darah dari wajahnya dan dia berkata: ‘Allahummaghfir li qaumi fa innahum la ya’lamun’ (Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui)”. Juga terdapat Hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “orang yang kuat itu bukan orang yang memiliki kekuatan kecepatan, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu untuk menahan dirinya sewaktu marah”. Hadits Riwayat Shahihain.

Dari uraian di atas, kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah itu maha pemaaf dan pengampun. Representasi manusia pemaaf dan pengampun adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliaulah yang dijadikan sebagai teladan dan seluruh kebaikan yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Sebagai manusia maka memerlukan contoh mana perilaku yang baik dan benar dan mana perilaku yang jelek dan salah. Semua sifat kebaikan Allah SWT itu direpresentasikan oleh kehadiran Nabi Muhammad  SAW untuk hambanya. Jika orang bertanya tentang kebaikan Allah SWT kepada hambanya, maka hal itu terwakili oleh kehadiran Nabi Muhammad SAW. Beliau orang yang tidak pernah marah kepada istri dan orang lain. Beliau memaafkan kesalahan orang lain, dan bahkan  di kala Malaikat Jibril akan menjepit orang Thaif dengan dua gunung  karena melukai Nabi Muhammad SAW,  maka Nabi SAW melarangnya sebab tugas kenabian bukan untuk menghukum tetapi menyadarkannya kepada agama Islam.

Kedua, di dunia ini ada dua penggolongan atas manusia yang menerima kehadiran Nabi Muhammad SAW dengan ajaran Islamnya. Ada sebagian yang pintar atau cerdas dengan menerima ajaran Islam dan ada yang bodoh karena tidak menerima ajaran Islam. Orang yang pintar itu adalah as sabiqunal awwalun atau 40 orang pertama yang beriman kepada Allah dan kerasulan Muhammad SAW.   Di antaranya adalah Sayyidina Abu Bakar as Shiddiq. Abu Bakar RA adalah orang yang tidak ada sedikitpun keraguan untuk menerima kebenaran yang datangnya dari Nabi Muhammad SAW. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang tidak masuk akal bagi sebagian orang langsung dibenarkannya tanpa keraguan. Sedangkan orang yang bodoh adalah mereka yang menentang Nabi Muhammad SAW sampai ajalnya. Abu Jahal dan Abu Lahab adalah representasi orang yang bodoh dalam menerima kebenaran Tuhan. Hingga hari ini masih sangat banyak orang yang pintar tetapi bodoh karena tidak mengimani Allah SWT dan mengakui Kenabian Muhammad SAW.

Ketiga, sabar dan maaf adalah dua kata yang sedemikian indah. Orang yang hebat dan kuat adalah orang yang mampu menahan nafsu amarahnya. Janganlah sedikit-sedikit marah dan janganlah apa saja yang kurang dijadikan sebagai sebab kemarahan. Nabi Muhammad SAW tidak pernah marah karena kekurangan yang dilakukan oleh pembantunya. Bukan bertanya kenapa tidak begini dan begitu dalam urusan keduniawian. Akan tetapi Nabi Muhammad SAW sangat tegas dalam menegakkan kalimat Allah dalam kebaikan.

Oleh karena itu ada trilogy penting, yaitu “Sabar, Pemaaf dan Kebaikan”. Secara proposisional dapat saya nyatakan bahwa “ perilaku kebaikan itu sangat tergantung kepada kesabaran dan kepemaafan. Jika umat Islam bisa melakukannya, maka harmoni kehidupan pasti akan menjelang.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

SABAR, MURAH HATI DAN LEMAH LEMBUT (74)

SABAR, MURAH HATI DAN LEMAH LEMBUT (74)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab ini, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Sabar, Murah Hati dan Lemah Lembut”, sebagai sikap dan perilaku umat Islam yang mesti ditampilkannya. Seseorang akan dinilai baik oleh orang lain tentu dari sikap dan tindakannya di dalam menghadapi kehidupan dengan kebaikan. Di  sisi lain, seseorang dianggap buruk perilakunya jika tampilan sikap dan tindakannya menggambarkan tentang keburukan.

Problem social dewasa ini sungguh luar biasa. Ada banyak masalah yang dihadapi oleh manusia di dalam kehidupannya. Relasi social yang tidak seimbang, relasi psikhologis yang tertekan, relasi social politik yang saling menihilkan dan bahkan juga kekuasaan yang meminggirkan atas orang lain. Belum lagi perubahan social yang cepat atau disebut sebagai volatility, sesuatu yang tidak jelas atau uncertenty, atau serba komplek atau complexity dan juga sesuatu yang ambivalen, sulit dipilih karena irisannya yang tipis dan tampak susah dibedakan. Semua ini menumbuhkan berbagai respon social yang tidak nyaman.

Sesungguhnya kita hidup di era di mana batas antara yang kebaikan dan keburukan itu sangat tipis. Ada perbuatan yang kita sangka baik ternyata mengandung dimensi keburukan. Perbuatan yang di luar tampak baik tetapi ternyata membawa di dalamnya keburukan. Itulah yang disebut sebagai ambivalen. Perbuatan yang dilakukan salah ditinggalkan juga bermasalah.

Di dalam kehidupan social ekonomi kerumitan itu semakin nyata. Terbatasnya akses ekonomi membuat orang lupa diri. Semuanya akan dilakukan yang terpenting mendapatkan akses ekonomi. Di tengah sulitnya mencari peluang pekerjaan, maka orang bisa saja membayar agar dapat akses pekerjaan. Di tengah sulitnya mendapatkan uang, orang akan berbuat apa saja untuk memperolehnya. Jadilah mereka berlaku permissiveness.

Belum lagi dimensi politik. Orang juga bisa menghalalkan cara agar akses politik terbuka untuknya. Tidak salah jika kemudian muncul tindakan permissive. Salah satu di antaranya adalah dengan melakukan tindakan money politics. Semua yang ingin memiliki akses di bidang politik maka harus melakukan tindakan serba boleh seperti ini. Akibatnya, jika akses sudah terbuka maka yang dilakukannya adalah upaya untuk mengembalikan modal politik yang sudah dikeluarkannya. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman tentang bagaimana bersikap dan berbuat sabar di dalam menghadapi semua ini.

Syekh Imam An Nawawi RA, menukil Kitab Suci Alqur’anul karim di dalam Surat Ali Imran: 134, yang artinya: “dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Di dalam Surat Al A’raf: 199, Allah berfirman: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”.  Di  dalam Surat yang lain, Asy Syu’ara: 43, dinyatakan: “tetapi barang siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia”.

Hadits Nabi SAW yang dinukil adalah hadits yang diriwayatkan oleh A’isyah RA., dia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan”. (Hadits Riwayat Shahihain). Kemudian pada hadits yang lain juga diriwayatkan oleh A’isyah RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu lembut dan senang dengan kelembutan. Dia akan memberikan kepada orang yang lembut apa yang tidak diberikannya kepada orang lain kepada orang yang kasar, dan juga apa yang tidak diberikan kepada selainnya”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Lalu hadits yang diriwayatkan oleh Anas RA., bahwa Nabi SAW bersabda: “permudahlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan menakut-nakuti”. Hadits Riwayat Shahihain.

Islam mengajarkan agar seseorang berbuat sabar, saling mengasihi, dan berbuat yang lemah lembut. Dari kajian di atas dapat ditegaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama, kesabaran, murah hati dan lemah lembut bukan hanya bakat tetapi pengalaman kehidupan. Kesabaran tidak datang dengan sendirinya, akan tetapi melalui pelatihan dan eksperimen berkali-kali. Orang juga tidak bisa sabar dalam semua urusan. Terkadang parsial. Yang ini sabar dan yang itu tidak sabar. Begitulah. Bahkan orang juga tidak bisa sabar dalam semua urusan relasi social. Ada yang selalu mengganjal hatinya untuk sabar menghadapi sesuatu yang membuatnya susah. Orang terkadang bisa memaafkan tetapi tidak bisa melupakan. Inilah dinamika kemanusiaan yang kita hadapi dewasa ini.

Inilah arti penting latihan kesabaran. Bukan sesuatu yang sim salabim. Harus terus menerus dipupuk dan dilatih agar kesabaran itu menjadi bagian di dalam kehidupan. Yang penting jangan setengah-setengah. Upayakan kita dapat  bersabar di dalam menghadapi situasi apapun.

Kedua, murah hati adalah sikap dan perilaku yang sangat terpuji. Seseorang yang memiliki sikap dan perilaku murah hati, tidak hanya dicintai oleh manusia akan tetapi juga disayangi oleh Allah, para Nabi dan para Malaikat. Murah hati ditandai dengan hati yang terbuka atas kebaikan dan kesalahan orang lain. Suka memaafkan atas kesalahan orang lain bagi yang berkenginan untuk dimaafkan. Ada orang yang berbuat kejelekan atas orang lain akan tetapi tidak merasa melakukannya. Orang seperti ini tentu tidak akan memiliki kemauan untuk meminta maaf. Inilah lawan dari murah hati yaitu tinggi hati. Selain itu juga ditandai dengan suka menyayangi atas orang lain, dan bahkan makhluk lainnya. Jika kita menyayangi yang di bumi, maka akan disayangi oleh yang di langit. Allah, rasul dan malaikat akan menyayanginya.

Ketiga, orang yang disayangi Allah adalah orang yang lemah lembut. Biasanya dalam sikap dan perkataan. Yang dikembangkan adalah sikap dan ucapan yang memuliakan manusia, yang ucapannya lembut sehingga membuat orang lain menyukainya dan ucapan yang membahagiakan orang lain. Islam telah mengajarkan prinsip-prinsip untuk bertutur kata yang baik dan penuh dengan kasih sayang. Bukan perkataan yang penuh caci maki, yang menyusahkan orang lain dan membuat kesulitan bagi orang lain.

Islam sungguh merupakan agama yang memberikan panduan yang komplit di dalam relasi social dan relasi kemanusiaan. Jika kita dapat melakukannya, maka harmoni social akan menjadi kenyataan yang jelas.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BERBUDI PEKERTI YANG BAIK (73)

BERBUDI PEKERTI YANG BAIK (73)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pernah pemerintah Indonesia, 2009-2014, memiliki tujuan Pendidikan adalah untuk mencetak anak Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Tujuan Pendidikan bagi anak Indonesia adalah menghasilkan manusia yang cerdas, terutama cerdas otaknya atau cerdas pikirannya, dan memiliki kemampuan untuk berkompetisi di era perubahan social yang semakin mengedepan.

Coba kita cermati dua frasa “cerdas dan kompetitif”. Dua konsep ini tentu sangat luar biasa. Manusia yang memenuhi kriteria hebat. Cerdas otaknya dan kompetitif dalam dunia global. Cerdas  dan kompetitif itu penting dan bahkan urgen. Pemimpin negara dan masyarakat mana yang tidak terkesima membaca hal ini.  Karena dua kata ini yang dapat menaklukkan dunia materi yang memang membutuhkan keduanya.

Akan tetapi ada satu hal yang dilupakan di dalam penetapan rumusan tujuan pendidikan, yaitu mencetak manusia berakhlak mulia. Padahal inilah sebenarnya kata kuci penting untuk mencetak manusia Indonesia. Cerdas, kompetitif dan berakhlak mulia. Orang cerdas dan kompetitif tetapi tidak berakhlak mulia bisa membahayakan di masa depan. Ada banyak orang cerdas dan kompetitif, akan tetapi bermasalah dalam kehidupannya, sebab tidak didasari oleh budi pekerti yang baik. Kiranya dapat digambarkan bahwa ada banyak korupsi yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia disebabkan oleh rendahnya akhlak masyarakat. Bisa jadi mereka memahami agama tetapi tidak mewujud di dalam perilakunya.

Berdasarkan penjelasan Syekh Imam An Nawawi, maka dapat dipahami bahwa umat Islam harus berbudi yang baik berbasis pada ajaran Islam. Ada beberapa ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW yang dijadikan sebagai dasar atas penjelasannya, yaitu sebagaimana di dalam

Alqur’an  Surat Al Qalam: 4 dinyatakan bahwa: “dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi luhur”. Di dalam Surat lain, Ali Imran: 134,  bahwa: “dan orang-oang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Anas RA., berkata:  “Rasulullah SAW itu adalah orang yang paling baik budi pekertinya”. Hadits Riwayat Shahihain. Sahabat Anas RA., juga menyatakan: “saya belum pernah memegang sutra baik tebal maupun tipis yang lebih halus dari tangannya Rasulullah SAW. Dan saya belum pernah mencium bau seharum  bau Rasulullah. Saya pernah menjadi pelayan Rasulullah SAW selama 10 tahun, Beliau tidak pernah mengatakan “husy’ kepada saya atau menegur dengan ucapan, ‘kenapa kamu berbuat seperti ini? Terhadap yang saya kerjakan, beliau juga tidak pernah menegur dengan ucapan ‘kenapa kamu tidak berbuat demikian terhadap apa yang tidak saya kerjakan”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Al Ash, dikatakan: “Rasulullah itu bukan orang yang suka berkata keji dan bukan pula orang yang jahat. Bahkan beliau bersabda: “sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik budi pekertinya”. Hadits Riwayat mutafaq alaih. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Darda’ RA., Nabi SAW bersabda: “tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada baiknya budi pekerti. Dan sesungguhnya Allah itu membenci orang yang keji serta suka berkata kotor”. Hadits  Riwayat Imam At Tirmidzi.

Dari penjelasan  Syekh Imam An Nawawi dan penjelasan saya tentang pentingnya berbudi baik, maka ada tiga catatan yang penting, yaitu:

Pertama,  Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam akhlak. Perbuatan Beliau merupakan contoh bagi manusia dalam berhubungan dengan Allah, berhubungan dengan sesama manusia, dan berhubungan dengan alam. Bagaimana Nabi SAW beribadah kepada Allah, bahkan jika shalat sampai kakinya bengkak, bagaimana Rasulullah memberikan kasih sayang kepada keluarganya, sahabatnya, dan umat Islam. Banyak sekali cerita bagaimana sifat Rahman dan Rahim Allah itu diperankan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan juga kepada alam, bagaimana Nabi SAW memberikan kasih dan sayangnya. Di kala perang, maka yang diminta kepada pasukannya adalah jangan merusak tempat ibadah, jangan merusak kebun kurma, jangan merusak lingkungan, jangan merusak peternakan, jangan menyakiti kaum perempuan, orang tua dan anak-anak. Sebuah contoh bagaimana Nabi Muhammad SAW merupakan teladan dalam budi pekerti yang luhur.

Kedua, manusia selayaknya mencontoh apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Jangan kurang banyak dan jangan berlebih. Misalnya Nabi SAW pernah meminta kepada Salman al Farisi untuk tetap mengurus keluarganya dan jangan hanya berurusan dengan Allah. Masing-masing punya hak dan jangan tinggalkan salah satunya. Harus berimbang. Nabi SAW juga tidak pernah berkata yang menyakitkan orang lain. Tidak pernah berkata “husy” bahkan kepada orang yang membantunya,  juga Nabi tidak pernah menyalahkan atau merasa tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh orang yang membantunya. Begitu sayangnya kepada cucu-cucunya, Hasan dan Husein, maka Nabi SAW membiarkannya untuk bermain di antara kedua kaki pada saat shalat. Demikianlah Nabi Muhammad SAW menyeimbangkan kehidupan batiniah, kehidupan lahiriyah dan kehidupan social kemasyarakatan dalam keseimbangan yang luar biasa.

Ketiga, manusia sekarang sedang dihinggapi oleh penyakit yang berwujud ingin berkuasa, ingin kaya dan ingin memiliki segalanya, dan terkadang dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan akhlak social di dalam Islam. Manusia yang seperti ini, saya kira sudah saatnya untuk melakukan evaluasi diri di tengah kehidupannya, untuk menilik kembali atas prilakunya yang belum sesuai dengan ajaran Islam.

Marilah kita kembali kepada budi pekerti yang baik, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hanya dengan cara seperti ini, maka keseimbangan kehidupan di tengah masyarakat, negara dan bangsa akan terwujud.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KEHARAMAN SOMBONG DAN BANGGA DIRI SENDIRI (72)

KEHARAMAN SOMBONG DAN BANGGA DIRI SENDIRI (72)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir Rahim.

Sombong merupakan  sikap dan Tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam relasinya dengan orang lain. Bahkan juga terhadap relasinya dengan Tuhan dan alam. Kesombongan terhadap Tuhan misalnya dalam bentuk meyakini bahwa dirinya adalah Tuhan. Sebuah perilaku yang tidak relevan dengan eksistensi manusia sebagai makhluk. Ada beberapa contoh manusia yang meyakini dirinya sebagai Tuhan, sehingga meminta umatnya untuk menyembahnya. Misalnya adalah Fir’aun dari Mesir, Nebukadnezar dari Babilonia, Namruz dari Babilonia, dan beberapa lainnya yang merasa memiliki kekuasaan dan kekuasaan itu didapatkan dari hasil kerjanya sendiri tanpa keterlibatan Tuhan.

Tindakan sombong terhadap manusia juga sangat luar biasa. Ada banyak perilaku sombong atas sesama manusia. Di dalam hal ini, ada sangat banyak kesombongan yang dilakukan oleh manusia dalam berbagai jenisnya. Misalnya merendahkan martabat manusia, merendahkan kehormatan manusia, menganggap orang lain tidak memiliki kapasitas yang tidak sesuai dengan kenyataannya, merasa paling hebat sendiri dan serba memiliki kelebihan. Indicator orang sombong itu bisa dilihat dari apa yang diungkapkan atau dinyatakan, misalnya: cara berbicara,  cara berjalan, cara untuk memandang orang lain, suka mencibir, suka bicara dengan kekerasan, suka untuk membuli orang lain, suka merendahkan derajat orang lain.

Belum lagi kesombongan terhadap alam dengan pemikiran bahwa alam adalah obyek dan manusia sebagai subyek. Sebagai subyek, maka manusia menjadi penentu segalanya atas alam. Sebagai obyek,  maka alam dapat diperlakukan sebagai benda yang tidak ada apa-apanya untuk dirusak dan dihancurkan. Hutan digunduli untuk kepentingan ekploitasi ekonomi, Sungai dicemari dengan berbagai sampah. Laut juga dicemari dengan bahan-bahan yang tidak bisa hancur, misalnya plastic. Hewan juga diperlakukan seenak hatinya. Kesombongan manusia tersebut yang juga akan berakibat atas dirinya. Di kala terjadi banjir, longsor, dan akibat serius yang diakibatkan oleh kerusakan alam,  barulah merasa bahwa alam pun bisa menghancurkan dirinya.

Syekh Imam An Nawawi, mengutip banyak  ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Dalil naqli tersebut digunakan untuk memberikn peringatan bagi orang yang sombong di dalam kehidupannya. Di dalam Alqur’an dijelaskan sebagaimana tercantum di dalam Surat Al Qasshash: 83, bahwa “Negeri akherat itu, kamu jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. Di surat lain, Al Isra’: 37, bahwa: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong”.  Lalu di dalam Surat Lukman: 18 dinyatakan: “dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Mas’ud RA., Nabi SAW bersabda: “tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong, walaupun sebesar biji sawi”. Kemudian ada orang berkata: ‘sesungguhnya ada orang yang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya pun bagus’. Lalu Beliau bersabda: “sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Di dalam hadits lain dinyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Haristah bin Wahab RA.,  ia berkata: ‘saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kalian aku beritahu, siapakah penghuni neraka? Mereka itu adalah orang-orang yang kejam, rakus, dan bersikap sombong”. Hasits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits lain menyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hrairah RA., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “ada tiga kelompok yang pada hari kiamat tidak akan diajak bicara, tidak disucikan dan tidak dilihat Allah, dan mereka akan mendapat azab yang pedih, yaitu: orang tua yang berzina, penguasa yang bohong dan fakir miskin yang sombong”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Salamah bin Akwa RA., ia berkata, Rasulullah bersabda: “jika seseorang senantiasa membanggakan dan menyombongkan dirinya, sehingga ia akan dicatat termasuk golongan orang-orang yang kejam lagi sombong, kemudian ia akan ditimpa apa yang biasa menimpa mereka”. Hadits Riwayat Imam Tirmidzi.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat dijelaskan tentang pemahaman jangan melakukan kesombongan di dalam kehidupan. Ada tiga hal yang dapat dijelaskan, yaitu:

Pertama, manusia itu sesungguhnya tidak memiliki kekuatan yang ekstra kuat. Manusia bahkan juga tidak tahu apa yang berada dibalik tembok, jika tidak tahu sebelumnya. Manusia tidak mampu untuk mengalahkan hewan-hewan buas,  jika tanpa senjata apapun. Manusia juga sangat kecil dibandingkan dengan keluasan dan kekuatan alam. Apalagi dibandingkan dengan kekuasaan Allah SWT. Sungguh manusia itu seperti debu dalam lautan pasir bahkan lebih kecil. Dari galaksi dan tata surya yang ada di dunia ini, maka hanya ada lima persen yang diketahui manusia meskipun menggunakan alat canggih sekalipun. Setiap ada instrument tehnologi baru, maka muncul temuan baru. Begitulah dinamika alam yang tidak terselami oleh manusia.

Kedua, Islam mengajarkan agar manusia meletakkan dirinya di dalam kekuasaan Allah. Karena betapa kecilnya kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya. Semuanya terjadi karena kekuasaan Allah. Manusia tidak akan mampu melawan ketuaan, melawan sakit dan melawan kematian. Semuanya ada batas kemampuannya. Manusia yang paling kaya dalam sejarah kemanusiaan, Qarun, tidak mampu melawan tanah longsor yang menyebabkan kematian dan hilangnya harta kekayaannya. Manusia yang merasa paling berkuasa, Firaun, mati di tengah samudra karena tidak kuasa untuk melawan takdir kematiannya. Dan contoh-contoh lainnya. Oleh karena itu, bagaimana manusia harus menyombongkan diri dan menganggap dirinya yang paling hebat.

Ketiga, Islam mengajarkan agar manusia tidak menyombongkan diri karena kekuasaan, kekuatan dan kekayaannya. Semua bisa punah. Itulah sebabnya Islam mengajarkan agar manusia merasa kecil di hadapan Allah. La haula wa la quwwata illa billah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah. Makanya ketika kaya, jangan meremehkan orang yang tidak punya, kaum fakir dan miskin.  Di  kala  berkuasa, jangan  membuat kebijakan dan perlakuan yang tidak sesuai dengan kaidah kemanusiaan. Dan di kala  kuat,  jangan sampai memperolok orang yang lemah dan bahkan menyakitinya. Tidak selamanya manusia  berkuasa, tidak selamanya manusia kuat.

Jika kita memahami tentang hal tersebut, maka sesungguhnya tidak pantas  orang  menyombongkan diri di tengah kehidupan yang serba dinamis. Marilah diyakini bahwa yang memiliki segalanya adalah Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN KAUM MUKMIN (71)

MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN KAUM MUKMIN (71)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dunia ini penuh dengan kisah-kisah orang yang sombong, orang yang merasa dirinya paling hebat dan beranggapan bahwa dirinya merasa tidak ada tandingannya. Bahkan ada di antaranya yang menganggap dirinya menjadi Tuhan. Kekuasaan duniawi yang diraihnya mengarahkan pikiran dan hatinya bahwa dirinya adalah yang paling berkuasa. Ada Fir’aun dari Mesir, ada Nebukadnezar dari Babilonia baru,  ada Namrud dari Babilonia Kuno,  dan lainnya. Lalu ada orang yang merasa paling kaya, Qarun, yang hartanya kemudian ditelan bumi.

Ada yang tidak mencapai derajat merasa sebagai Tuhan, akan tetapi kesombongannya luar biasa, misalnya Abu Jahal dan  Abu Lahab yang menjadi representasi manusia sombong pada zaman Nabi Muhammad SAW. Di kala diajak untuk masuk Islam, maka mereka menentang Nabi Muhammad SAW dan bahkan akan mencelakakannya. Tipologi manusia dengan perilaku kejahatan yang luar biasa. Tidak hanya mengingkari kebenaran,  akan tetapi juga ingin melenyapkannya.

Raja Fir’aun, Raja Namrud dan Nebukadnezar adalah contoh penguasa di zaman kerajaan kuno yang karena kekuasaannya, maka merasa bukan hanya raja tetapi Tuhan. Mereka adalah orang-orang kuno yang merepresentasikan tentang keyakinan tentang kekuatan dan kekuasaan dirinya,  sehingga berkeyakinan bahwa dirinya adalah Tuhan. Mereka membuat patung dirinya besar-besar untuk disembah oleh rakyatnya. Jika menentang, maka akan dilenyapkan.

Begitulah di dunia ini, banyak orang yang merasakan dirinya paling segalanya. Padahal sesungguhnya jika yang bersangkutan sedikit saja menggunakan pikiran dan kesadaran dirinya akan betapa kecilnya manusia itu dibandingkan dengan alam dan segala atribusinya di dunia ini. Seandainya kita berada di bibir jurang yang dalam dan memandang ke bawah, betapa kita merasa kecil. Karena di kala kaki kita terpeleset, maka dipastikan akan hancur tubuh kita. Jika kita menyeberang di atas jembatan kaca di Grand Canyon di Amerika, dan kita memandang ke bawah, maka hati kita akan ciut sebab betapa dalamnya dan betapa kecilnya diri kita itu. Itulah sebabnya manusia harus merasa bukan siapa-siapa di bawah kekuasaan Allah yang Maha Perkasa, sehingga harus merasa rendah diri atas kekuasaan-Nya. Dan juga rendah diri di hadapan orang mukmin.

Syekh Imam An Nawawi, menukil banyak ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW tentang manusia harus merendahkan diri (tawadlu’) di hadapan orang mukmin. Sebuah petuah tentang bagaimana manusia jangan merasa paling segalanya. Harus rendah diri di hadapan manusia lainnya yang mukmin.

Di dalam Surat Al Hijr: 88, Allah SWT berfirman: “…dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yag beriman”. Di dalam Surat Lain, Al Maidah: 54,  bahwa Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir”.

Hadits Nabi Muhammad SAW  sebagaimana diceritakan oleh Iyadh bin Himar, RA.,  bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya Allah telah memberikan wahyu kepadaku, hendaklah kalian bersikap tawadhu’ (merendahkan diri) sehingga tidak ada seseorang yang membanggakan dirinya atas orang lain dan tidak ada seseorang yang menganiaya orang lain”. Hadits riwayat Imam Muslim.

Rasulullah juga bersabda sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah, RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tidak berkurang harta karena sedekah dan pasti Allah akan menambah kemuliaan seorang hamba yang suka memaafkan. Dan tidaklah seseorang itu bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah mengangkat derajad orang itu”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Di dalam hadits lain, sebagaimana diceritakan oleh Al Aswad RA., dia berkata: “saya bertanya kepada Aisyah RA., tentang kebiasaan yang dilakukan Nabi SAW ketika di rumahnya, lalu Aisyah menjawab: “Beliau senantiasa melayani keluarganya, yaitu membantu pekerjaan keluarganya. Kemudia apabila datang waktu shalat, Beliau keluar untuk mengerjakan shalat”. Hadits Riwayat  Imam Bukhari.

Dari penjabaran tentang merendahkan diri di hadapan kaum mukmin, maka dapat digambarkan tiga hal, yaitu:

Pertama, Rasulullah, SAW.,  mengajarkan agar manusia tidak menyombongkan diri di hadapan manusia yang beriman kepada Allah. Apalagi sombong di hadapan Allah. Jangan pernah merasa bahwa dirinya dapat berpengaruh atas orang lainnya. Orang yang memiliki sikap seperti ini, maka akan menyatakan orang lain sebagai rendah dan kecil. Hanya dirinya yang hebat dan besar. Tipe representatif atas orang seperti ini, adalah Donald Trump, Presiden Amerika, yang merasa dirinya sebagai penentu policy dunia. Dia merasa bahwa dunia berada di tangannya, sehingga bisa melakukan tindakan-tindakan di luar nalar manusia yang waras. Bersama Netanyahu, PM Israel, melakukan pengeboman atas institusi pendidikan yang di dalamnya terdapat anak-anak perempuan yang sedang belajar, sehingga semuanya wafat karena tindakan mereka ini. Kesombongan seperti ini yang dilarang oleh Islam. Apapun agamanya, manusia harus saling menghormati dan menyayangi sehingga akan tercipta perdamaian dunia.

Kedua, Islam menganjurkan agar manusia saling bertawadlu’ atau saling merendahkan diri. Bukan minder atau perasaan rendah diri, akan tetapi merasa perlu untuk merendahkan sifat dan perilakunya di hadapan umat Islam lainnya. Setiap orang  memiliki kekurangan dan kelebihan. Tidak ada manusia yang memiliki kelebihan saja tanpa kekurangan. Kecuali para Nabi yang hidupnya dipandu oleh wahyu, maka selain itu dipastikan terdapat kelebihan dan kekurangan. Soekarno, Presiden Pertama RI, adalah manusia hebat, akan tetapi membutuhkan Moh. Hatta, sebagai Wakil Presiden. Soekarno mampu menjadi public orator yang hebat, akan tetapi membutuhkan Moh. Hatta, sebagai policy maker.

Oleh karena itu, manusia harus saling menerima kelebihan dan kekurangannya agar kehidupan yang seimbang akan dapat dilakukan. Jika orang hanya melihat kemampuan dia sendiri yang hebat dan yang lain tidak, maka akibatnya akan terjadi ketidakseimbangan. Dia akan dikucilkan oleh khalayak karena ketidakmampuannya untuk mengenal dirinya. Jadi kiranya yang diperlukan adalah mengenal siapa dirinya di dalam kehidupan, sehingga akan menempatkan dirinya dalam dinamika masyarakat yang bervariasi kapasitas dan kemampuannya.

Ketiga, jika Allah dan Rasulnya menganjurkan kita untuk merendahkan diri di hadapan orang beriman, dipastikan ada hakikat mendasar di dalam pesan ini. Dan di antara pesan pentingnya adalah janganlah manusia merasa hebat sendiri dan tidak ada orang lain yang melampauinya. Di atas langit ada langit, artinya ketika seseorang diberikan kelebihan oleh Allah, maka sesungguhnya ada orang lain yang diberikan kelebihan  dibandingkan dengan dirinya. Jika seseorang bisa memahami hal ini, maka tidak ada manusia yang akan berani menyatakan bahwa dirinya yang paling hebat.

Wallahu a’lam bi al shawab.