Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGUTAMAKAN ORANG LAIN DAN MEMBERI KEMUDAHAN (62)

MENGUTAMAKAN ORANG LAIN DAN MEMBERI KEMUDAHAN (62)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Kebanyakan orang dipastikan mengutamakan diri dan keluarganya. Jarang orang yang mengutamakan orang lain dan memberi kemudahan padanya. Sifat manusia yang mendasar adalah mencintai diri dan kurang mencintai orang lain. Sejauh-jauhnya adalah mencintai keluarganya. Diri dulu, keluarga dan baru orang lain. Begitulah kira-kira logikanya. Makanya, banyak orang yang mementingkan diri sendiri dan keluarganya dan bahkan tidak ada yang mementingkan orang lain.

Dari basis dasar pemikiran seperti ini, maka kemudian muncul konsep dan perilaku yang disebut sebagai nepotisme. Yaitu pemahaman dan sikap yang mementingkan diri dan keluarga. Terutama dalam akses kehidupan seperti ekonomi, kekuasaan, pangkat, jabatan dan peluang untuk memperoleh keuntungan.  Nepotisme  telah menjadi fenomena social yang berlaku dalam sejarah panjang kehidupan manusia. Nepotisme  sesungguhnya telah menjadi musuh umum atau common enemy pada masyarakat yang menghendaki kesetaraan di dalam kehidupan social. Tetapi tentu sangat sulit untuk memberantas nepotisme sebab telah menjadi tradisi di dalam kehidupan masyarakat di tengah kehidupan yang serba sulit.

Syekh Imam An Nawawi telah menjelaskan tentang “mengutamakan orang lain dan memberi kemudahan” berbasis pada teks Kitab Suci Alqur’an. Di dalam Surat Al Hasyr: 9, dinyatakan: “…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan”.  Kemudian juga di dalam Surat Al Insan: 8, dinyatakan: “dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”.

Kemudian di dalam hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW bersabda: “makanan untuk dua orang itu cukup untuk tiga orang dan makanan tiga orang itu cukup untuk empat orang”. Hadits Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim. Kemudian di dalam hadits lain dijelaskan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu said Al Khudri RA.,  berkata: “pada waktu kita sedang bepergian bersama Nabi SAW tiba-tiba datanglah seorang lelaki dengan menaiki kendaraannya, lalu ia menengokkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “barangsiapa yang memiliki kelebihan kendaraan, hendaklah bersedekah dengan kelebihannya itu kepada orang yang tidak mempunyai kendaraan. Dan barang siapa yang memiliki kelebihan bekal makanan, maka hendaklah bersedekah kepada orang yang tidak memiliki bekal makanan”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari penjelasan ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW serta pemahaman atas upaya mengutamakan orang lain, maka kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:

Pertama, hubungan social antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar adalah relasi persaudaraan berbasis pemahaman agama yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Orang Anshar sedemikian menghormati dan menyayangi kepada orang Muhajirin. Keduanya menjadi sahabat Nabi yang utama di dalam perjalanan perjuangan untuk menegakkan agama Allah. Keduanya saling menolong dalam kebaikan. Saling menolong dalam kesenangan dan kesusahan. Relasi social di antara keduanya itulah yang menjadikan perjuangan Islam di kala itu menjadi lebih bermakna.

Ada dua penggolongan masyarakat berdasar atas usaha untuk mengutamakan orang lain, yaitu: orang yang memiliki kepedulian kepada orang lain. Kelompok ini tidak mengutamakan diri dan keluarganya akan tetapi juga mengutamakan orang lain yang diyakini telah menjalankan kebaikan sebagaimana keyakinan agamanya. Mereka ini dipersatukan bukan oleh sanak saudara, kerabat dan kawan sebelumnya,  tetapi diikat di dalam ikatan persaudaraan sesama umat Islam. Lalu, ada orang yang tidak perduli kepada orang lain. Baginya yang utama adalah dirinya dan keluarganya. Jika ada peluang apapun, yang diutamakan adalah keluarganya. Inilah yang di dalam konsepsi Ibnu Khaldun disebut sebagai ashabiyah atau persaudaraan yang berbasis kepada kekerabatan. Yang seperti ini sebenarnya adalah persaudaraan masyarakat kuno yang berbasis pada kepentingan keluarga.

Kedua, keinginan untuk mendahulukan orang lain adalah sifat manusia yang sangat utama, dan secara empiris memang tidak banyak yang bisa melakukannya. Untuk bisa mendahulukan orang lain, maka yang utama menjadi pertimbangannya adalah kapasitas dan kelebihannya atas orang yang lain. Misalnya di dalam perebutan kekuasaan, jabatan dan akses atas kehidupan yang lebih luas, maka pilihannya tentu terkait dengan kapasitas yang bersangkutan. Jangan gunakan konsep dasar, yang harus didahulukan adalah yang menjadi keluarganya atau kerabatnya.

Ketiga,  Islam mengajarkan agar kita mempermudah dan bukan mempersulit. Jangan sampai kita menggunakan ungkapan: “jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah”.  Tetapi yang benar adalah: “jika bisa dipermudah kenapa dipersulit”. Dua ungkapan yang sangat berbeda di dalam realitas kehidupan. Makanya kita harus memilih yang mempermudah dan bukan yang mempersulit. Jangan “senang melihat orang susah atau susah melihat orang senang”, yang biasa disebut SMS. Doa kita adalah: “Allahumma yassir wa la tuassir atau Ya Allah permudahlah dan jangan persulit”. Jadi doa kita kepada Allah adalah agar Allah memudahkan seluruh urusan kita dan jangan sampai terjadi kebalikannya menjadi serba sulit urusan kita.

Dengan demikian, tugas kemanusiaan yang sangat penting di dalam kehidupan adalah mengutamakan orang lain sebagaimana kita mengutamakan diri dan keluarga, serta yang tidak boleh dilupakan adalah mempermudah urusan yang sebenarnya bisa dipermudah. Jika kita mempermudah urusan orang, Allah SWT akan mempermudah urusan kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

LARANGAN  PELIT DAN KIKIR (61)

LARANGAN  PELIT DAN KIKIR (61)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir Rahim

Secara tipologikal,  manusia dapat digolongkan dalam beberapa penggolongan dilihat dari relasi diri dengan harta dan kemanusiaan. Ada yang disebut dengan orang yang dermawan, yaitu orang yang banyak melakukan sedekah, infaq dan zakat. Mereka orang yang mematuhi atas perintah agama untuk menyisihkan sebagian kecil hartanya untuk kepentingan manusia dan agama. Mereka menyumbangkan hartanya untuk kepentingan dakwah, pendidikan, ekonomi, SDM, dan lainnya. Misalnya suka memberi makan kepada orang yang membutuhkan dan juga menyumbangkan hartanya untuk menolong orang-orang yang terpinggirkan, kaum fakir dan miskin.

Sementara itu ada orang yang dapat diklasifikasikan sebagai kikir atau bakhil, yaitu orang yang tidak melakukan aktivitas memberi dalam bentuk apapun. Di dalam hidupnya tidak terdapat pemahaman untuk infak, sedekah atau zakat. Tidak ada di dalam kamus hidupnya untuk menolong orang lain. Baginya, harta yang didapatkannya adalah usahanya sendiri tidak ada kaitannya dengan manusia apalagi Tuhan. Mereka adalah orang yang memuja keberhasilan atas usaha sendiri dan tidak ada intervensi yang datang dari orang lain. Itulah sebabnya mereka enggan untuk berbagi kepada orang lain yang mengalami kehidupan yang belum optimal.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang mengajarkan agar manusia saling menolong. Di dalam Islam, instrument untuk melakukan pertolongan tersebut telah dirumuskan dengan sangat jelas. Instrument tersebut adalah zakat yang dikeluarkan setahun sekali dalam kepemilikan barang yang sudah memenuhi nisabnya, atau juga zakat fitrah. Lalu terdapat infaq yang diberikan kepada lembaga keagamaan, pendidikan atau tempat ibadah dan ada sedekah yang diberikan kepada orang lain dalam berbagai bentuk dan kegunaannya.

Secara empiris, ada orang kaya yang dermawan, ada orang kaya yang pelit, ada orang yang hanya berkecukupan tetapi memiliki kesadaran untuk berbagi dan ada orang yang berkecukupan tetapi pelit. Pemberian  yang diberikannya bukan untuk pencitraan agar dianggap sebagai orang baik, akan tetapi tumbuh dari kesadaran betapa pentingnya memberi dengan keikhlasan. Kita semua berharap agar bisa meneladani orang-orang baik yang suka memberi  dan bukan pelit atau kikir.

Segala sesuatu perlu pembiasaan. Mula-mula pasti berat. Pasti ada perasaan pelit atau enggan untuk memberi. Pikirannya bekerja sesuai dengan hukum materi. Yang saya dapatkan adalah untuk saya sendiri. Akan tetapi Islam mengajarkan agar orang berbagi atas sedikit atau banyak kelebihan harta yang didapatkannya. Jika orang menyadarinya, maka lama kelamaan akan menjadi kebiasaan dan jika tidak melakukan akan terdapat rasa kurang amalnya.

Syekh Imam An Nawawi menukil ayat Alqur’an sebagaimana Allah menjelaskan di dalam ayat Alqur’an Surat Al Lail: 8-11, bahwa “Dan adapun orang yang kikir dan merasa cukup (tidak perlu pertolongan Allah) serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan), dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa”. Allah SWT juga berfirman dalam Surat At Taghabun: 16, bahwa “dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Di dalam hadits yang diceritakan oleh Jabir RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “jauhilah perbuatan zalim,  karena sesungguhnya kedzaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat.  Dan jauhilah sifat kikir, karena kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir telah menumpahkan darah dari mereka sendiri dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan atas mereka. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapatlah kiranya dijelaskan di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, ajaran Islam merupakan ajaran yang very completeness. Tidak hanya ibadah kepada Allah dalam wujud hablum minallah, akan tetapi juga ajaran untuk memberi kepada yang membutuhkan atau hablum minan nas. Ajaran Islam tentang pemberian sungguh ajaran yang sangat mulia. Islam ajaran yang menekankan untuk mencintai kemanusiaan. Wujud cinta kemanusiaan itu salah satu di antaranya diwujudkan dalam ajaran pemberian. Islam sangat memberikan apresiasi atas orang yang suka memberi dengan janji Allah bahwa barang atau apapun yang diberikan itu tidak akan mengurangi atas apa yang dimiliki, bahkan Allah akan menambahkannya.

Kedua, yang lebih utama dari pemberian adalah pahala yang disediakan oleh Allah kepada umatnya yang suka memberi. Bahkan Nabi Muhammad SAW menyatakan akan menghindarkan dari neraka bagi orang yang hanya berderma sebesar satu biji kurma. Inilah janjinya Allah, dan kita semua menyadari bahwa Allah bukanlah yang suka mengingkari janji. Innallah la yukhliful mi’ad, sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janjinya. Kita semua tentu berharap diberikan oleh Allah kelapangan hati untuk memberi dan tidak menjadi orang yang bakhil atau kikir. Sesungguhnya orang yang kikir itu seperti orang yang menjadikan hartanya sebagai piranti untuk membakarnya. Kita sadar bahwa memang tidak mudah untuk melakukannya, akan tetapi sesungguhnya setiap manusia memiliki kesadaran social atau social intelligent yang akan dapat mengantarkannya untuk mencintai kemanusiaan.

Ketiga, sesungguhnya di dunia ini lebih banyak orang yang berpaham materialisme atau materi segala-galanya. Dan dalam harta sangat sedikit  yang berpikir agama segala-galanya. Itulah sebabnya banyak orang yang hanya berpikir akumulasi modal atau menjadi kaum kapitalis dari pada menjadi agamis. Seandainya lebih banyak orang yang dermawan ketimbang yang kikir, maka dunia akan menjadi lebih baik. sayangnya bahwa belum semua umat Islam menyadari akan pentingnya pemberian sebagai instrument untuk membangun kesejahteraan bersama.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MURAH HATI, DERMAWAN DAN BELANJA DI JALAN ALLAH (60)

MURAH HATI, DERMAWAN DAN BELANJA DI JALAN ALLAH (60)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Tidak mudah untuk menjadi orang yang murah hati dan dermawan. Untuk dapat berperilaku seperti ini harus memiliki kesiapan akal  dan hati yang benr-benar teruji. Bisa saja seseorang sudah memiliki pemahaman atau kesadaran untuk bermurah hati dan dermawan,  akan tetapi lingkungan tidak relevan dengan tujuan tersebut. Ada factor eksternal yang terkadang terlibat di dalam memutuskan suatu tindakan.

Bisa saja seorang istri memiliki kepekaan social yang baik, akan tetapi terkadang suami atau keluarga lainnya belum memahaminya. Sebaliknya, seorang suami telah memiliki kesadaran tersebut, akan tetapi istri dan keluarga lainnya belum memahaminya. Makanya, menjadi orang yang murah hati dan dermawan itu tidak mudah. Tetapi bukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan. Untuk menjadi seseorang yang murah hati dan dermawan harus diusahakan. Rasanya bukan sesuatu yang given. Butuh pemahaman yang benar tentang ajaran Islam dan bagaimana manusia harus berlaku di dalam kehidupannya, dan kemudian dilanjutkan dengan usaha yang nyata untuk kepentingan tersebut.

Untuk melakukan kemurahan hati tidak harus kaya. Jangan berpikir bahwa yang bisa bermurah hati hanya orang kaya. Orang bisa bermurah hati dengan tindakan, yang sederhana saja misalnya membuat orang lain tersenyum dan tertawa. Bukankah, menyenangkan hati orang adalah sedekah. Bahkan untuk menjadi dermawan juga jangan menunggu kaya harta. Kekayaan hati yang memancar di dalam sikap dan tindakan sudah merupakan kedermawanan. Orang yang suka menolong merupakan salah satu tanda kedermawanan. Orang lain bisa mengambil manfaat atas kebaikan yang bisa dihasilkan itu sudah kedermawanan.

Saya sampai pada postulat kehidupan: “jangan pernah menghitung-hitung kebaikan yang dapat kita berikan kepada orang lain, biar Allah tidak menghitung-hitung kebaikan untuk kita”. Jika kita bisa berbuat baik, maka itulah kedermawanan yang hakiki melebihi kedermawanan harta yang tidak sepenuhnya Ikhlas. Kedermawanan hakiki itu lahir dari kebeningan hati di dalam melakukan relasi social yang baik pada sesama manusia.

Yang tidak kalah penting adalah membelanjakan harta kita untuk kebaikan. Kita tentu bersyukur diberikan oleh Allah ketercukupan harta. Paling tidak sudah melebihi standar memiliki sandang, pangan dan papan. Sudah lebih dari cukup. Maka yang penting kemudian adalah bagaimana kita membelanjakan sebagian kecil harta tersebut untuk kepentingan kemanusiaan. Sudahkah kita memberikan sedikit harta kita untuk kaum yang membutuhkan, atau untuk menyumbang mushalla atau masjid atau Lembaga Pendidikan. Itulah kebaikan-kebaikan yang dapat dilakukan di dalam kehidupan kita.

Allah berfirman di dalam Surat As Saba’: 39, bahwa: “Dan apa saja yang engkau nafkahkan, maka Allah akan menggantinya”. Di dalam Surat Al Baqarah: 273, Allah berfirman: “ Dan barang-barang baik, yang berupa apapun yang semua  engkau nafkahkan,  maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”.

Kemudian hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Mas’ud RA, bahwa Nabi SAW bersabda: “tidak dibenarkan dengki (iri hati) kecuali pada dua keadaan, pertama kepada orang yang dikaruniakan kekayaan oleh Allah lalu membelanjakan kepada perkara yang benar, kedua kepada seseorang yang diberi hikmah (ilmu) oleh Allah, hingga dia menggunakan ilmu tersebut untuk mengajarkannya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits yang diceritakan oleh ‘Adi bin Hatim RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jagalah dirimu  semua dari api neraka, walaupun hanya bersedekah dengan sebiji kurma”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat digaris bawahi dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Rasulullah SAW menganjurkan agar umat Islam menjadi umat  yang bermurah hati, dermawan dan membelanjakan harta untuk kebaikan. Perintah ini menegaskan tentang pentingnya berperilaku baik kepada sesama manusia. Kita harus memiliki etika, pedoman dalam berhubungan dengan manusia, agar diri kita memperoleh kebaikan atas apa yang kita lakukan. Di dalam tradisi Jawa dikenal konsep “ngunduh wohing pakarti” atau dalam Bahasa Indonesia dinyatakan memperoleh akibat dari perbuatannya. Jika kita berbuat baik kepada orang lain, maka kita akan memperoleh kebaikan dari orang lain, jika kita melakukan kejelekan kepada orang lain, maka kita juga akan memperoleh kejelekan dari apa yang kita lakukan. Orang yang melakukan kedermawanan juga akan memperoleh kebaikan dari orang lainnya, tetapi yang  jauh lebih penting adalah memperoleh kebaikan dari Allah SWT. Orang yang bermurah hati dan juga orang yang membelanjakan hartanya untuk kebaikan juga akan memperoleh balasan yang setimpal.

Kedua, semua amal kebaikan pasti dicatat oleh perekam otomatis di dalam kehidupan. Bumi yang kita pijak adalah perekam otomatis atas perbuatan yang kita lakukan. Allah melalui Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa setiap langkah kita kepada kebaikan, misalnya datang shalat berjamah atau lainnya, dipastikan akan terekam melalui langkah kaki kita. Maka sesungguhnya bumi yang kita pijak dapat menjadi pencatat otomatis di dalam kehidupan kita. Setiap kebaikan yang kita lakukan dapat ditulis melalui otoritas yang diberikan Allah kepada dua malaikat, Rakib dan Atid, yang sesungguhnya bersemayam di dalam kehidupan yang  terkait dengan bumi yang kita pijak. Rasulullah memberikan petunjuk agar kita bersedekah sebagai instrument kebaikan yang akan dapat diambil kembali manfaatnya. Dan juga kemurahan hati, kedermawanan dan pembelanjaan harta untuk kebaikan.

Ketiga, Allah itu Maha Rahman dan Rahim. Kasih sayang dan cinta itu direpresentasikan oleh Nabi Muhammad SAW dan kemudian dilakukan oleh orang yang menyadari akan pentingnya kebaikan tersebut. Di dunia ini ada banyak contoh orang yang dapat merepresentasikan kebaikan dan juga contoh orang yang melakukan keburukan. Dengan gambaran seperti itu, maka kita dapat menjadikannya sebagai ibrah atas kehidupan. Bagi umat manusia, khususnya umat Islam, maka Netanyahu dan Donald Trump adalah contoh keburukan, sedangkan Ali Khamanei adalah contoh kebaikan. Ini bukan persoalan politik, akan tetapi persoalan kemanusiaan dalam kaitannya dengan keyakinan tentang kebaikan dan keburukan. Orang yang menyengsarakan orang lain adalah contoh keburukan, dan orang yang memudahkan orang lain adalah contoh kebaikan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

BERUSAHA MEMPEROLEH MAKANAN DENGAN MENJAGA KEHORMATAN (59)

BERUSAHA  MEMPEROLEH  MAKANAN DENGAN MENJAGA KEHORMATAN (59)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bsimillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 59, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Anjuran Makan Dari Usaha Sendiri Dan Menjaga Kehormatan Diri Dari Meminta-Minta Dan Berharap Diberi”. Di dalam tulisan ini lalu saya ringkas menjadi: “Berusaha Memperoleh  Makanan dengan Menjaga Kehormatan”.

Semenjak 14 abad yang silam, Rasulullah SAW sudah menekankan bahwa makanan yang berasal dari usaha sendiri itu lebih utama dibandingkan makanan yang diperoleh dengan meminta-minta. Sebuah anjuran agar seseorang bekerja dengan tangannya atau dengan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan biologisnya. Kebutuhan biologis itu memang macam-macam. Yang utama adalah sandang, pangan dan  papan. Pakaian untuk menutup tubuh, pangan untuk memenuhi kebutuhan badan dan papan untuk memenuhi kebutuhan berteduh. Inilah kebutuhan dasar manusia dalam tradisi Jawa. Tiga kebutuhan ini adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Tidak boleh tidak. Tiga kebutuhan dasar ini, terutama makan diwajibkan harus dipenuhi dengan tangan sendiri atau bekerja.

Pemenuhan kebutuhan makan tentu bukan sederhana, sebab harus dipenuhi setiap hari. Sesuai dengan kadar dan standar makanan yang sehat dan mengenyangkan. Nabi Muhammad SAW membuat ibarat dengan bekerja untuk mengambil kayu yang diikat dan kemudian dijual, dan hasilnya itu dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan. Jangan bertanya tentang kualitas makanan. Nabi Muhammad SAW dan keluarganya tidak pernah kenyang makan dalam dua hari berturut-turut. Makannya, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah RA hanya terdiri dari dua benda hitam, yaitu kurma dan air.

Allah SWT memiliki kasih sayang yang tidak ada ukurannya kepada hamba-hambanya. Semuanya disediakan rejekinya. Hanya saja ada orang yang berusaha secara optimal untuk meraihnya, dan ada yang ala kadarnya. Allah SWT telah memberinya contoh yang luar biasa, yaitu Nabi Muhammad SAW, sebagai penggembala domba dan pedagang. Dua jenis pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan, kesungguhan dan kejujuran. Penggembala memerlukan ketelatenan dan kesabaran, serta perdagangan membutuhkan keuletan dan kejujuran. Syarat dalam perdagangan adalah siddiq dan amanah. Nabi Muhammad SAW bukanlah tipe manusia yang suka berpangku tangan akan tetapi pekerja keras. Hal ini seirama dengan ayat Alqur’an yang mengajarkan agar manusia mencari rejeki dengan kerja keras.

Allah SWT berfirman di dalam Surat Al Jumu’ah: 10, bahwa: “apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, dan carilah karunia Allah”. Lalu juga terdapat hadits yang dinukil untuk menjelaskan tentang judul tersebut, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zubair bin Awwam R.A., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sungguh seandainya salah seorang kalian mengambil beberapa utas tali, lalu pergi ke gunung, kemudian kembali dengan memikul seikat kayu bakar di atas pundaknya lalu menjualnya, sehingga dengan hal itu Allah mencukupkan kebutuhannya, maka hal itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberinya atau tidak”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Di hadits lain juga dijelaskan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sungguh seandainya salah seorang kalian mengumpulkan seikat kayu yang dipikul di atas punggungnya, itu lebih baik baginya dari pada meminta kepada seseorang lalu dia memberinya atau tidak memberinya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dahulu Nabi Dawud Alaihis Salam tidak makan kecuali dari hasil usahanya sendiri”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Dari penjelasan di atas, kiranya dapat digarisbawahi tiga hal, yaitu:

Pertama, untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup, terutama makan, Rasulullah menganjurkan manusia untuk bekerja sehingga menghasilkan makanan tersebut. Manusia sebaiknya berusaha untuk memperoleh makanan dari usahanya bukan dari pemberian orang lain. Menerima makanan tentu boleh bukan dilarang, akan tetapi pemberian tersebut harus sesuai dengan prinsip-prinsip di dalam ajaran Islam, yaitu keikhlasan dan ketiadaan maksud tertentu yang dapat merusak atas pemberian dimaksud.

Rasulullah SAW menganjurkan agar manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Terutama kebutuhan makanan. Rasulullah SAW sangat tidak menyukai orang yang mendapatkan makanan dengan cara meminta-minta. Yang paling baik bagi manusia adalah dengan melakukan pekerjaan, sebagaimana Nabi Dawud AS, Nabi Zakaria AS dan juga Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW memang pernah mendapatkan upah atas doa yang dibacakannya. Upah itu tidak digunakan untuk dirinya sendiri tetapi untuk para sahabatnya yang mengikutinya.

Kedua, Islam merupakan agama yang menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi. Islam menyuruh manusia bekerja untuk dunianya dan juga berbuat yang baik untuk akhiratnya. Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan mau hidup selamanya dan berbuat untuk akhiratnya seakan-akan mau mati esuk hari. Jadi tidak diperkenankan manusia hanya menggantungkan kehidupannya pada orang lain. Islam sangat menghargai kemandirian seseorang di dalam kehidupannya.

Islam menganjurkan seseorang bekerja yang halal sehingga menghasilkan produk yang halal. Tidak boleh seseorang hanya mementingkan hasilnya dan tidak memperhatikan prosesnya. Dari proses yang halal menghasilkan produk yang halal. Nabi Muhammad SAW mencontohkan Nabi Zakaria AS yang bekerja sebagai tukang kayu, atau mencontohkan mengambil ikatan kayu di gunung untuk dijual, sebagai metapora tentang pekerjaan-pekerjaan yang halal.

Ketiga, suatu prinsip yang sangat mendasar di dalam Islam, yaitu jangan menjadi orang yang suka meminta-minta. Penuhilah kebutuhan hidup dengan cara bekerja apa saja yang penting pekerjaan yang baik dan benar. Islam sangat peduli dengan kehidupan yang mengedepankan kebaikan dan kebenaran. Salah satu aspek penting di dalam kehidupan adalah menjaga marwah kehidupan. Orang yang meminta-minta itu “sedikit” mengabaikan kehormatan diri. Agar kehormatan diri itu ada di dalam kehidupan kita, maka upayanya adalah bekerja. Apa saja. Yang penting halal.

Memang harus diakui bahwa di era sekarang betapa susahnya orang menemukan pekerjaan, sebab pertarungan untuk mengakses pekerjaan yang terbatas. Tetapi tetaplah berusaha karena dunia ini dibangun di atas usaha manusia. Tetaplah berprinsip bahwa pasti ada peluang yang bisa diisi oleh kapasitas dan kemampuan kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMAHAMI THE POWER OF ALLAH, MANUSIA DAN SETAN

MEMAHAMI THE POWER OF ALLAH, MANUSIA DAN SETAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSI

Lama sekali saya tidak menuliskan diskusi saya dengan para jamaah Komunitas Ngaji Bahagia (KNB). Sudah lebih dari dua bulan saya tidak menuliskan hasil diskusi gayeng yang dilakukan setiap Selasa pagi ba’da Shalat Subuh. Pengajian bahagia yang ditata sedemikian rupa. Ada seriusnya dan ada ketawanya. Bahkan dipersyaratkan tertawa sebanyak 17 kali untuk menandai kebahagiaan.

Selasa, 12 Mei 2026, saya kembali terusik untuk menuliskan hasil diskusi yang diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Masih seperti biasanya, ngaji ini diwarnai dengan tanya jawab dan tidak melulu one way traffic. Bahkan tema tadi pagi sebenarnya didahului dengan pertanyaan yang dilakukan oleh Pak Mulyanta, yang menyampaikan hasil pembicaraannya dengan para jamaah lainnya. Sebuah pertanyaan yang menarik, dimanakah takdir Tuhan itu terkait dengan keberadaan Setan. Misalnya orang baik dan buruk sudah ditentukan oleh Allah, lalu kenapa harus ada setan yang berlaku untuk menggodanya. Tanpa digoda jika takdirnya jelek tentu akan menjadi jelek dan sebaliknya.

Ada tiga hal yang dapat saya jelaskan terkait dengan  pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Saya  mencoba untuk mengaitkan antara dimensi akal dan nash hadits atau Alqur’an yang memiliki relevansi dengan pertanyaan tersebut.

Pertama, Selaku narasumber, saya menyatakan ada trilogy: the power of Allah, the power of manusia dan the power of setan. Ada tiga kekuatan yang dapat mempengaruhi perilaku manusia. Pengaruh Allah dengan takdirnya, pengaruh setan dengan potensi godaannya dan pengaruh manusia itu sendiri dengan akal dan hatinya atau nafsu dan rohnya. Ketiganya memiliki perannya masing-masing di dalam kehidupan.

Mari kita bedah satu persatu tentang kekuatan dimaksud. Allah adalah Maha Pencipta. Artinya bahwa Allahlah yang menciptakan manusia dan alam lainnya sebagai satu kesatuan sistem pemciptaan. Manusia diberinya takdir atau kepastian. Takdir itu ada yang sifatnya pasti-pasti atau takdir yang mubram. Takdir yang tidak dapat diubah karena kepastiannya seperti itu. Misalnya takdir tentang kematian. Tidak ada yang akan bisa menolak jika kematian itu sudah datang. Tidak diundur dan tidak dimajukan. Tetapi ada takdir pasti-tergantung atau takdir mu’allaq. Jadi takdir yang bisa  berubah karena factor usaha yang sungguh-sungguh dari manusia. Misalnya takdir tentang rejeki. Orang yang sesungguhynya ditakdirkan kaya akan tetapi karena kemalasan atau kesalahan dalam memenej usahanya,  maka menjadi terjerembab dalam kemiskinan.

Setiap manusia dipastikan mendapat asupan makanan, akan tetapi untuk dapat makan harus berusaha. Bahkan orang sudah ditakdirkan masuk surga akan tetapi karena pilihannya pada tindakan kejelekan, maka bisa masuk neraka dan sebaliknya. Ini yang saya sebut takdir pasti-tergantung. Jadi, di dalam takdir mu’allaq tersebut Tuhan menyediakan takdir, tetapi Tuhan juga memberikan petunjuk agar orang berbuat baik sesuai dengan petunjuk dimaksud. Manusia dengan ratio, hati dan spiritualitasnya dapat memilih mana yang terbaik bagi dirinya. Di dalam istilah ilmu teologi disebut sebagai free will dan free act. Kehendak dan tindakan bebas. Manusia bisa memilih dengan potensinya untuk memilih. Ada manusia yang selamat karena memilih yang baik dan ada yang tidak selamat karena memilih yang salah.

Kedua, the power of manusia. Manusia itu terdiri dari dari jasad, jiwa dan roh. Jasad  itu seperti kerangka computer yang sudah lengkap, kemudian agar dapat hidup maka harus dicolokkan ke Listrik agar daya Listrik bisa menghidupkannya, lalu diinstal dengan program yang bervariasi. Manusia telah sempurna dengan  fisiknya pada 40 hari ketiga dari ketemunya sperma dan ovum. Lalu malaikat atas perintah Allah meniupkan ruh sehingga jasad janin itu hidup tetapi belumlah dapat melakukan aktivitas apa-apa. Maka jasad yang sudah diisi dengan roh tersebut diinstal dengan tujuh dimensi yaitu: kodrat, iradat, hayat, ilmu, kalam, samian dan bashiran. Manusia diisi dengan takdirnya, hasratnya, kehidupannya, pengetahuan, kemampuan kalam, kemampuan mendengar dan kemampuan melihat. Jasad dan roh disiapkan dan diberinya instalasi untuk menggunakannya.

Tujuh aspek ini yang kemudian menjadi jiwa atau nafsu. Nafsu untuk berhasrat, nafsu untuk hidup, nafsu untuk mengetahui, nafsu untuk berbicara, nafsu untuk mendengar, dan nafsu untuk melihat. Nafsu tersebut kemudian ada yang berdekatan dengan dimensi fisik atau jasad atau disebut dengan kal hayawan dan ada yang berdekatan dengan roh atau disebut kal malaikat.

Begitu kasih dan sayangnya Allah kepada manusia, maka meskipun sudah ditentukan akan kepastian di dalam kehidupannya, akan tetapi tetap diberinya potensi untuk kebaikan. Premisnya Allah itu Maha Baik, pasti Allah akan memberikan kebaikan. Di sini diturunkan Nabi dan Rasul dan berbagai pedoman kehidupan agar manusia bisa selamat fid dini, wad dunya wal akhirah. Ajaran kebaikan itu direpresentasikan dengan kehadiran Nabi dan Rasul yang dipilih oleh Allah SWT.

Ketiga, the power of setan. Di dalam ajaran agama, maka setan itu adalah kekuatan yang diberikan kepada makhluk Allah untuk menggoda dan menggelincirkan manusia dari kebaikan. Setan juga disebut sebagai iblis, yang memang dilaknat karena keingkarannya atas perintah Allah. Setan itu ada di dalam diri manusia, misalnya makhluk Allah yang ada di dalam diri yang disebut sebagai khannas. Sebuah bisikan yang dapat dirasakan kehadirannya melalui pikiran atau hati akan tetapi tidak diketahui dari mana dan bagaimana proses kejadiannya.

Inilah yang bisa dinyatakan sebagai setan internal, yang hidup dan hadir di dalam diri manusia. Tetapi juga ada setan eksternal, yang wujudnya bisa bermacam-macam. Setan eksternal itu bisa berupa manusia, benda atau lainnya. Ketemunya antara khannas atau setan internal dengan setan eksternal itu  dalam kehadiran setan eksternal. Jika dua kekuatan tersebut bertemu, maka di situ terjadi perbuatan yang salah atau menyimpang. Itulah sebabnya manusia diminta untuk membaca ayat kursi, surat al Ikhlas, surat al falaq dan surat an nas agar dapat meminimalisir gangguan khannas di dalam diri  manusia.

Wallahu a’lam bi al shawab.