• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

AJAKAN PADA KEBENARAN DAN KESESATAN (20)

AJAKAN PADA KEBENARAN DAN KESESATAN (20)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Sebagai pedoman di dalam kehidupan umat manusia, maka agama selalu menganjurkan kepada perbuatan yang baik dan melarang perbuatan yang buruk. Sisi  kehidupan manusia yang  mondar-mandir di dalam dua hal ini. Ada kalanya manusia tertarik kepada perbuatan yang baik dan ada kalanya tertarik pada perbuatan yang buruk. Tarik menarik antara kebaikan dan keburukan merupakan dinamika di dalam kehidupan manusia.

Ada manusia yang selalu berada di dalam perilaku kebaikan dan ada manusia yang berada di dalam perilaku keburukan. Para Nabi adalah jenis manusia yang selalu melakukan kebaikan sesuai dengan perintah Allah dan ada manusia yang selalu berada di dalam kejelekan karena pilihan perilakunya. Para Nabi seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam berperilaku baik. Sementara itu seperti Firaun, Nebukadnezar, Donald Trump dan Benyamin Netanyahu adalah contoh manusia yang dinyatakan berbuat kejahatan. Orang-orang yang haus darah.

Sesungguhnya agama apapun selalu diwarnai dengan perintah menjalankan  kebajikan. Agama mengajarkan tentang keadilan, kesetaraan dan ketiadaan diskriminasi. Agama mengajarkan tentang kerukunan dan kasih sayang. Agama mengajarkan agar manusia berperilaku yang tidak bertentangan dengan cinta dan perdamaian. Agama merupakan pedoman tentang bagaimana membangun relasi yang baik dengan Tuhan, Alam dan Manusia.

Tetapi manusia kemudian membuat penafsiran tersendiri atas perintah kebaikan dengan melakukan kesebalikannya. Dunia yang seharusnya penuh dengan canda dan tawa, dengan rasa senang dan bahagia, dengan  rasa estetika dan etika, lalu pecah genderang perang.  Dunia menjadi hancur berantakan, luluh lantak tak beraturan dan kiamat seakan telah datang. Demikianlah silih berganti sang pemenang menjadi pecundang dan sang pecundang menjadi pemenang.

Dalam sejarah kehidupan dijumpai misalnya Fir’aun yang merasa menjadi titisan dewa Matahari, Nebukadnezar yang menjadi representasi dewa, raja-raja Romawi yang menjadi legenda karena kekerasan di dalam kekuasaannya. Mereka mengajarkan agar manusia menyembah patung yang dibuatnya sendiri. Di dalam proses pencarian Tuhan, pesan Sang Nabi tidak diindahkan atau tidak dihiraukan. Nabi-Nabi dihina, dilecehkan bahkan dibunuh. Nabi Yahya  dipenggal kepalanya, Nabi Isa  akan dibunuh hingga diangkat ke Langit dan yang menyerupainya lalu disalib di tiang gantungan, Nabi Muhammad juga harus berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Oleh karena itu, Allah begitu menghargai atas orang yang mengajak kepada kebaikan dengan ungkapan dan perilakunya. Bukan hanya di ucapannya saja tetapi juga di dalam tindakannya. Mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas ucapan dan perilakunya. Orang yang tidak ada sedikitpun keraguan untuk menyebarkan kebenaran dan menghindari keburukan. Mereka adalah para ulama, para da’i dan para guru serta para pengambil kebijakan negara yang menyerukan kebaikan dan bukan taghut atau kebijakan yang mengajarkan kepada kejahatan.

Alqur’an menjelaskan sebagaimana di dalam Surat An Nahl: 125 dinyatakan: “serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik”. Atau di dalam Surat Al Maidah: 2, dinyatakan: “dan tolong menolonglah kamu  dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa”. Lalu di dalam Surat Ali Imran: 104, dinyatakan: “dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ‘Uqbah bin Amr al Anshari bahwa Rasulullah bersabda: siapa saja yang menunjukkan (mengajak) kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan itu”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Kemudian hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “siapa saja yang mengajak kepada kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia  mendapat dosa seperti dosa yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun”. Ada juga sebuah hadits, seperti yang diriwayatkan oleh Anas bahwa Rasulullah berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya ingin ikut berperang tetapi tidak mempunyai bekal. Rasulullah bersabda:  datanglah kepada si Fulan karena ia sudah mempersiapkan tetapi ia sakit. Kemudian pemuda itu datang kepada Fulan dan berkata, Rasulullah mengucapkan salam untukmu. Kemudian melanjutkan perkatannya: berikanlah perbekalan perangmu untukku. Kemudian si Fulan itu berkata:   wahai istriku, berikanlah perbekalan yang sudah aku siapkan dan jangan kamu simpan sedikitpun. Demi Allah, jangan kamu simpan sedikitpun bekal yang sudah aku persiapkan, karena hal itu pasti akan membawa berkah bagi dirimu”.

Dari Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW ini, maka ada beberapa hal yang dapat digambarkan.

Pertama,  terbayang bagi kita betapa banyaknya pahala yang mengalir kepada para penyebar Islam di berbagai wilayah belahan dunia. Jika saya berziarah ke makam para waliyullah, maka saya terbayang bagaimana cahaya di alam kubur karena kehadiran para peziarah yang selalu membacakan ayat Alqur’an, wirid atau dzikir yang memuja-muji Tuhan seru sekalian alam. Mereka adalah orang yang mengabdikan hidupnya untuk kejayaan Islam dan hasilnya dapat dilihat dan dirasakan sekarang. Subhanallah.

Kedua, terbayang juga di benak kita betapa banyaknya siksaan yang dirasakan oleh orang-orang yang selalu mengajak kepada kejahatan atau keburukan. Para raja thaghut, pemimpin harus darah dan kehidupannya bersimbah dengan kekerasan dan kekejaman, maka mereka akan merasakan dosanya sendiri dan dosa orang yang terperosok ke dalam jalan kejelekan sebagaimana yang dianjurkannya. Mereka yang seperti ini tentu alam kuburnya menjadi gelap pekat dan penuh dengan kejadian yang menyedihkan.

Ketiga,  kita pantas bersyukur sebab tidak menjadi orang dalam kategori penyesat orang lain. Kita meskipun hanya sedikit tentu sudah beramal kebaikan dan mengajak orang untuk berbuat baik dengan cara yang bisa kita lakukan. Kita yakin bahwa Allah akan memberikan pertolongan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SUNNAH BAIK DAN BURUK (19)

SUNNAH BAIK DAN BURUK (19)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Salah satu keutamaan para ulama adalah menjadi pewaris Para Nabi. Melalui ulama maka Islam bisa sampai kepada kita sekarang ini. Mereka adalah yang memahami ajaran Islam melalui Alqur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Secara berantai mereka menganjurkan agar umat menjalankan  agama Allah SWT. Dimulai dari sahabat, tabiin dan tabiit tabiin hingga sekarang. Tanpa kehadiran para ulama,  maka ajaran Islam yang indah tidak akan sampai kepada kita.

Kita sungguh bersyukur kepada Allah SWT karena memiliki para alim ulama yang hebat yang warisan ilmunya masih dapat kita  baca hingga sekarang. Mereka adalah orang-orang yang polymath atau memiliki ilmu pengetahuan yang bervariasi. Demikian kuat ilmu agamanya dan ilmu lainnya. Kita memiliki Imam Ghazali, Ibnu Sina, Al Kindi, Al Khawarzmi, Al Biruni, Ibn Jabir  yang sangat memahami ilmu pengetahuan, misalnya ilmu kedokteran, filsafat, matematika, astronomi, dan lain-lain dan kedalaman ilmu agamanya seperti ilmu fiqih, ilmu tasawuf, ilmu bahasa, ilmu Alqur’an dan lain-lain. Dari merekalah masyarakat dunia  belajar tentang banyak hal. Itulah makna kehadiran ulama di dalam Islam yang dapat menjadi pelita dalam pengembangan pemahaman umat manusia hingga dewasa ini.

Umat Islam Indonesia tentu tidak bisa melupakan peran ilmu-ilmu agama melalui kehadiran Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam An Nasai, Imam At Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Maliki. Melalui pengajaran ilmu fiqih dan ushul fiqih, maka pengamalan beragama kita menjadi standart. Pengamalan beragama kita menjadi sesuai dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Demikianlah Allah mendesain atas ajaran agama untuk kita semua.

Di Nusantara juga terdapat para waliyullah dan para ulama yang menyebarkan Islam di seluruh pelosok Nusantara. terdapat Syekh Jumadil Kubra, Syekh Ibrahim Asmaraqandi, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Muryo, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati sampai Syekh Hasyim Asyari, Kiai Ahmad Dahlan, Imam Surkati, dan seterusnya.  Ada kyai pesantren dan ada kyai langgar. Semuanya berkontribusi dalam pengembangan Islam di Indonesia.

Allah banyak menjelaskan di dalam Alqur’an seperti Surat Al Furqan: 74, “Dan orang yang berkata,  Ya Rabb Kami anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. Dan ayat lain, Surat Al Anbiya: 73, “Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami”.

Kemudian terdapat hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dinyatakan: “…kemudian beliau bersabda: barang siapa yang memulai membuat sunnah dalam Islam berupa amalan yang baik, maka dia memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan itu (sepeninggalnya) tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka yang mencontohnya itu. Dan barangsiapa yang membuat dalam Islam berupa amalan buruk, maka dia memperoleh dosanya bagi diri sendiri dan doa orang yang mengerjakannya itu sesudahnya (sepeninggalnya) tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya”.

Berdasarkan atas ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW ini, maka ada beberapa catatan yang bisa dijadikan sebagai pengetahuan dalam beragama, yaitu:

Pertama,  Islam memang didesaian untuk menyebar ke seluruh dunia. Islam yang semula berkembang di Arab, lalu menyebar ke Persia,  Hadramaut, Malabar, Gujarat ke Nusantara dan menjadi agama mayoritas di Indonesia. Allah mengutus pada da’i dan guru-guru untuk mengajar Islam di Nusantara. Peran mereka di dalam islamisasi Nusantara tentu sangat besar. Mereka semua adalah peletak dasar Islam dan yang menjadi peletak dasar sunnah kebaikan di Indonesia. Islam yang rahmatan lil alamin.

Kedua, apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan kemudian ditafsirkan dan dipahami oleh para ulama dalam kebaikan disebut sebagai sunnah kebaikan. Nabi Muhammad SAW merupakan teladan kebaikan. Itulah yang kemudian dibawa oleh para da’i dan guru ke berbagai wilayah di Indonesia. Ajaran Islam yang berporos pada kalimat tauhid atau pengakuan keesaan Allah dan pengakuan Muhammad SAW sebagai rasulnya: “la ilaha illallah. Muhammadur Rasulullah”. Dari kalimat syahadat tersebut kemudian disebarkan kepada umat manusia ke seluruh dunia. Kebaikan tersebut menjadi sunnatan hasanatan atau contoh kebaikan. Jika seseorang melakukan contoh kebaikan, maka apa yang dilakukan tersebut akan diganjar untuk dirinya dan juga orang yang mengikutinya sesudahnya. Orang yang seperti ini adalah contoh kebaikan untuk kehidupan masyarakat di dunia.

Ketiga, selain sunnah hasanah juga terdapat sunnah sayyi’ah atau contoh yang keburukan. Sebaliknya,  sunnah hasanah  yang berisi kebaikan-kebaikan,  dan  sunnah sayyi’ah atau contoh keburukan adalah contoh yang tidak seharusnya disebarkan oleh seseorang. Dunia memang berisi dua sisi yaitu dimensi kebaikan dan dimensi keburukan. Jika kebaikan akan mendapatkan pahala untuk diri pelakunya dan juga pahala yang diterima oleh pelaku awalnya dan orang-orang yang melakukannya. Sedangkan contoh keburukan juga akan mendapatkan siksaan dari pelakunya dan orang yang melakukannya dan siksa bagi pelaku awalnya. Jadi, kebaikan akan berakibat kebaikan berlipat-lipat dan keburukan juga akan berlipat-lipat keburukan yang diterimanya.

Begitulah, yang sesungguhnya akan terjadi. Orang yang menyebarkan kebaikan akan memperoleh kebaikan dan orang yang menyebarkan kejelekan akan mendapatkan kejelekan. Kita sekarang berada di era media social, maka sudah selayaknya jika kita berhati-hati untuk menyebarkan berita atau informasi apapun. Jangan sembarangan, karena Rasulullah SAW sudah memperingatkan semenjak 1447 tahun yang lalu. Masihkah kita tidak berhati-hati.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUJI UNTUK BADAN

PUJI UNTUK BADAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada saat sebelum shalat tarawih, 15/03/2026,  di Langgar Raudlatul Jannah di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Merakurak Tuban saya menyempatkan diri untuk memberikan sedikit taushiyah.  Ceramah tersebut terkait dengan  amalan yang, saya kira sangat penting, yaitu tentang bagaimana kita bersyukur atas kenikmatan Tuhan atas badan kita atau jasad kita, melalui bacaan wirid yang bisa dilakukan kapan saja. Tetapi akan menjadi semakin utama jika dibaca di pagi hari antara ba’da shalat shubuh sampai berakhirnya shalat dhuha.

Saya sampaikan tiga hal, yaitu:

Pertama, manusia terbagi dalam tiga unsur, yaitu roh, nafsu dan jasad. Sementara orang melihat hanya dua unsur, yaitu badan dan roh. Badan atau jasad adalah unsur badan yang berasal dari tanah, akumulasi bahan-bahan yang berasal dari tanah. Dari  tumbuh-tumbuhan, dari Binatang, dari buahan-buahan, beras atau jagung dan lain-lain, yang kemudian menjadi sperma, lalu bertemu dengan ovum dan jadilah manusia sebagaimana yang bisa dilihat. Jasad ini yang nanti akan kembali ke tanah menjadi unsur tanah kembali.

Sedangkan roh adalah unsur yang berasal dari Allah SWT, yang ditiupkan Allah di kala janin masih berusia empat  bulan 10 hari, menjadi unsur yang menghidupkan dan kemudian memiliki kemauan atau  diberi nafsu yang akan mengarahkan kehidupannya apakah akan menjadi baik atau buruk. Untuk menjadi baik,  Allah sudah memberinya petunjuk sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW, baik dari Alqur’an dan sunnah-sunnahnya.

Rasulullah sudah mengajarkan bahwa fisik atau jasad itu memerlukan asupan, tidak hanya makan dan minum akan tetapi juga asupan dzikir atau wirid. Asupan makan dan minum sudah bisa  kita lakukan dengan makan secara teratur, bisa tiga kali makan atau dua kali makan, yang penting memenuhi standart makan. Perut kenyang. Nasi atau karbohidrat bertemu dengan ikan atau protein dan menjadi tenaga yang menguatkan hidup manusia. Ada satu lagi yang perlu mendapatkan asupan yang berasal dari dzikir bukan untuk kepentingan Allah tetapi untuk kepentingan badan atau jasad kita. Jadi, badan atau fisik itu membutuhkan asupan materi dan juga asupan spiritual. Asupan atau gizi materi berupa makanan dan minuman, dan asupan atau gizi spiritual yang berupa dzikir atau wirid.

Ada hadits yang sangat mendasar sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda: “setiap pagi ruas tulang kalian terdapat sedekah. Setiap ucapan tasbih (subhanallah) adalah sedekah. Setiap ucapan Tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah. Setiap ucapan tahlil (la ilaha illallah) adalah sedekah, setiap ucapan takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah, mencegah perkara mungkar adalah sedekah. Dan dua rakaat yang dikerjakan dalam shalat dhuha telah mencakup segalanya”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Bacaan kalimat ini adalah sedekah untuk tubuh atau badan atau jasad. Ada di dalam tubuh kita yang perlu disedekahi. Perlu untuk diberikan asupan atau gizi spiritual. Ada kebutuhan yang sesungguhnya sangat mendasar di dalam kehidupan ini. Kebanyakan orang yang hanya berpikir bahwa tubuh atau jasad hanya perlu makan dan minum, padahal Islam mengajarkan bahwa kebutuhan jasad bukan hanya makan dan minum akan tetapi juga asupan spiritual. Di dalam tubuh, ada daging, tulang, saraf dan sejumlah piranti kehidupan seperti otak, hati, paru-paru, usus, jantung, empedu dan jutaan saraf, yang di otak 100 juta neuron (sel saraf),  di dalam tubuh kita yang membutuhkan asupan atau gizi spiritual.

Betapa rumitnya tubuh kita itu. Sebuah misteri di dalam ciptaan Allah SWT atas diri manusia. Dan kita hanya menggunakannya. Tangan untuk segala sesuatu yang terkait dengan pekerjaan tangan, kaki untuk segala sesuatu yang terkait dengan fungsi kaki, jantung yang setiap detik, menit, jam, hari, bulan, tahun  dan seterusnya memompa darah ke otak, lalu otak meneruskan ke seluruh sel tubuh, dan dengan mekanisme seperti itu, manusia menjadi hidup, memiliki nafsu, memiliki keinginan, memiliki tujuan hidup dan sebagainya. Maha Suci Allah SWT yang telah mendesain manusia dengan kecanggihannya.

Pantaskah jika kita tidak bersyukur kepada Allah SWT. Kita disindir oleh Allah SWT sebagaimana di dalam Surat Al Waqiah, “fabiayyi alai rabbikuma tukaddziban” yang artinya “nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan”. Ya Allah selama ini kami kurang bersyukur kepada-Mu. Ampunilah atas kekhilafan kami ini.

Pada bulan puasa ini, marilah kita menyadari betapa besarnya nikmat Allah SWT kepada kita. Mari kita berikan hak tubuh atau badan kita, dan mari kita berikan hak bagi kaum fakir dan miskin. Dan hak itu adalah dengan membaca kalimat tasbih, Tahmid, tahlil dan takbir serta mengeluarkan zakat, infaq dan sedekah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

 

 

BIDH’AH (18)

BIDH’AH (18)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 18, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan mengenai “Bab Larangan Terhadap Berbagai kebidh’ahan dan Perkara Yang Diada-adakan”. Di dalam tulisan ini  sengaja saya padatkan dalam judul “Bidh’ah”. Bisa saja di dalam tulisan ini akan terdapat sedikit pemberian makna yang bisa saja sama atau mungkin berbeda dengan terjemahan atas Kitab Riyadhus Shalihin”. Saya berharap jika ada perbedaan,  maka hal tersebut adalah pemikiran saya, yang bisa saja tidak selaras dengan tulisan di buku terjemahan ini.

Konsep bidh’ah telah memantik diskusi semenjak munculnya berbagai aliran di dalam Islam, terutama terkait dengan upaya untuk memurnikan Islam dalam tafsirannya. Saya tetap pada prinsip bahwa di dalam agama apapun, termasuk Islam, maka terdapat penafsiran dari para ulamanya yang bisa saja berbeda dalam menganalisis dan memahami atas suatu teks sesuai dengan konteks sejarah dan social yang melingkupi penafsiran tersebut.

Apakah sebuah penafsiran itu mutlak benarnya bagi penafsir dan pengikutnya? Kiranya hanya Allah SWT saja yang mengetahuinya. Bisa juga seandainya Kanjeng Nabi Muhammad SAW masih hidup juga bisa membenarkan atau meluruskan. Ada banyak cerita tentang doa yang dikemukakan dalam waktu shalat yang dilantunkan oleh para sahabatnya, dan ketika ditanyakan kepada Nabi Muhammad SAW, lalu Nabi Muhammad SAW membenarkannya. Oleh karena itu jangan terlalu risau, jika ada penafsiran lain tentang ajaran agama. Yang penting jangan mengurangi yang diwajibkan sebagai substansi ajaran agama.

Di dalam   Alqur’an ada banyak ayat yang terkait dengan persoalan autentisitas Alqur’an dan Al Hadits.  Di antara ayat Alqur’an tersebut adalah di dalam Surat An Nisa’: 38 dinyatakan: “…kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alqur’an) dan Rasul (sunnahnya). Pada ayat lain Surat Al An’am: 153 dinyatakan: “dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Ayat lain, Surat Ali Imran: 31 bahwa: “Katakanlah kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.  Niscaya  Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, Rasulullah menyatakan: “Barangsiapa yang mengada-ada  tentang sesuatu dalam urusan (agama) kami yang tidak kami perintahkan, maka hal itu ditolak” hadist ini diriwayatkan  oleh Aisyah, dan dinyatakan sebagai hadits Shahih oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Di dalam Riwayat Imam Muslim dinyatakan: “barangsiapa yang mengamalkan sesuatu yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu ditolak”.

Berdasarkan atas pernyataan di dalam Alqur’an dan Al Hadits ini, maka umat Islam diminta untuk melakukan amalan yang bertujuan untuk mencintai Allah dan Rasulnya. Cinta kepada Allah dan Rasulnya itu merupakan cinta yang sistemik, artinya tidak boleh dipisahkan satu persatu. Mencintai Allah tentu mencintai Rasul. Tidak boleh  hanya mencintai Allah saja tanpa mencintai rasul atau mencintai Rasul saja tanpa mencintai Allah. Dan sebagai konsekuensinya, maka apa yang diperintahkan oleh Allah adalah apa yang diperintahkan Rasulullah. Tidak ada di dalam ajaran Islam yang menduakan perintah agama. Hanya ada satu perintah yang sama antara perintah Allah dan perintah Rasulullah.

Dari pemahaman mengenai hal tersebut, maka menarik membahas tentang bidh’ah yang dinyatakan sebagai menambah-nambah perkara ibadah. Ada tiga hal yang ingin saya bahas, yaitu: pertama, semua perintah Allah yang diteruskan oleh Nabi Muhammad SAW untuk umat manusia adalah perintah substansial. Mempercayai semua rukun iman adalah substansi ajaran Islam. Demikian pula menjalankan ajaran Islam adalah substansi. Tidak boleh dikurangi dan tidak boleh ditambah. Meskipun perintah tentang shalat, seperti aqimush shalat wa atusz zakat wa shauma ramadlan,  akan tetapi penjelasan rincinya ada di dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Jumlah shalat wajib adalah lima kali dengan bilangan rakaat dan gerakan yang jelas adalah substansi. Akan tetapi bagaimana dan apa doa yang dibaca, kecuali yang diwajibkan menjadi syarat dan rukun  shalat, adalah hasil penafsiran atas hadits Nabi. Tentang bacaan, doa dan gerak tertentu, adalah tafsir atas ajaran tentang shalat, sebab ada yang meriwayatkan bacaan ini dan itu. Bisa berbeda. Yang substansial adalah jumlah shalat sehari semalam dan berapa jumlah rakaatnya. Jadi perintah shalat, kapan dan bagaimana shalat dilakukan adalah substansi, akan tetapi tentang bacaan doanya bisa sesuai dengan hadits dan penafsiran tentang hadits sebagaimana diajarkan oleh para ulama. Mana yang lebih benar: jawabannya wallahu a’lam bi al shawab.

Kedua, Ada banyak yang diperdebatkan oleh umat Islam melalui tokoh-tokohnya, misalnya bersalaman ba’da shalat, membaca kalimat tauhid, membaca surat Alfatihah, dan doa bersama, dianggapnya bahwa Nabi tidak mengajarkannya. Dan amalan seperti ini dinyatakan sebagai bidh’ah atau mengada-ada di dalam ibadah, maka tidak hanya tertolak ibadahnya akan tetapi bahkan diancam akan masuk neraka. Bagi yang mengamalkan hal tersebut, maka ada penjelasan bahwa membaca kalimat tauhid, membaca Alfatihah, bersalaman semuanya merupakan perintah Nabi yang bersifat substansial. Tentang bagaimana melakukannya, kapan dilakukan, dan dilakukan sendiri atau berjamaah adalah instrument. Nabi meminta kita mengamalkannya, tentang instrumennya dapat dipahami oleh pelakunya. Haji itu Arafah dalam waktu dan tempat yang jelas. Tetapi jika di dalam haji lalu ada tambahan misalnya Mina Jadid, yang tidak diajarkan Nabi Muhammad SAW dalam musim haji adalah instrument. Mukim di Mina untuk melempar jumrah adalah substansi haji tetapi tempat mukimnya itu instrument. Ada alasan  ubudiyah yang digunakan berbasis pada kemaslahatan pelaku haji.

Ketiga, ajaran Islam itu berlaku sepanjang waktu dan tempat, thula zaman wa makan. Ajaran yang substansial sama sekali tidak berubah. Sedangkan yang instrumental tentu boleh berubah asalkan tidak bertentangan dengan substansinya. Misalnya qiyamul lail, shalat malam, yang pada waktu puasa dinamakan shalat tarawih. Nabi tidak melakukan secara berjamaah, dilakukannya sendirian dengan jumlah yang di masjid sebanyak delapan kali. Di dalam beribadah, Nabi tidak ada yang minimal. Nabi itu maksimalis dalam beribadah. Kakinya sampai bengkak. Sayyidina Umar bin Khattab, lalu secara kontekstual melakukan shalat tarawih berjamaah dengan jumlah 20 rakaat, bahkan khalifah Umar bin Abdul Azis menjadikannya sebanyak 36 rakaat.  Prinsipnya atau substansinya adalah shalat malam tetapi instrumennya bisa dengan berjamaah dan bahkan jumlah rakaatnya ditambah. Jika umat Islam  berpedoman kepada yang substansi saja, maka tarawih itu delapan rakaat dan dilakukan sendirian bukan berjamaah. Titik.

Jadi memang ada yang menyatakan bahwa menghias ajaran Islam dengan khazanah keutamaan  bukanlah bagian dari kesesatan akan tetapi ekspresi beragama yang memang bercorak instrumental. Yang penting bahwa substansi ajaran jangan ditinggalkan. Harus dilakukan sebagaimana perintah Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

HUKUM BERBUAT KEBAIKAN  (17)

HUKUM BERBUAT KEBAIKAN  (17)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam Bab 17, Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan berbasis pada Alqur’an dan Hadits tentang “Bab Kewajiban Mengikuti Hukum Allah Dan Apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Diajak Untuk Itu, Serta Memerintah Berbuat Kebaikan Dan Melarang Berbuat Keburukan”. Karena panjangnya judul bab ini, maka saya ringkas menjadi judul yang baru “Hukum Berbuat Kebaikan”. Sebagaimana diketahui bahwa Islam memang mewajibkan bagi umatnya untuk melakukan kebenaran dan kebaikan dan melarang kejahatan dan keburukan berbasis pada hukum Allah.  Bagi yang melakukannya,  maka dinyatakan sebagai orang muslim dan yang tidak melakukannya disebut sebagai orang kafir.

Tidak ada satu agamapun yang menyuruh umatnya untuk melakukan kejahatan. Semua agama mengajarkan agar manusia melakukan amal kebaikan. Amal yang mengandung makna kemaslahatan untuk kepentingan kemanusiaan. Sesungguhnya Islam juga mengajarkan agar manusia saling berwasiat untuk kebaikan dan kebenaran dan melarang perbuatan yang buruk dan keji.

Ada banyak ayat Alqur’an yang membahas tentang hal ini, misalnya sebagaimana tercantum di dalam Surat An Nisa’: 65 yang menyatakan: “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.

Atau ayat lain, yaitu: “sesungguhnya orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasulnya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan kami mendengar dan kami patuh. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Surat Annur: 51.

Di dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa para sahabat berkeberatan atas muatan hadits yang menyatakan agar umat Islam yaitu pada Surat Al Baqarah: 284. Keberatannya terkait dengan menyembunyikan dan melahirkan perbuatan dan Allah akan memberikan perhitungan atas perbuatan itu.  Mereka  menanyakannya kepada Rasulullah, bahwa mereka mampu melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa dan sedekah. Akan tetapi mereka merasa tidak mampu untuk melakukan hal-hal yang di luar kemampuannya, seperti menyembunyikan hukum Allah. Ayat tersebut adalah “kepunyaan Allah lah segala apa yang di langit dan di bumi.  Dan  jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu”. Rasulullah mengingatkan kepada umatnya jangan sampai seperti umat sebelumnya yang mengetahui tentang hukum Allah tetapi melanggarnya. Oleh karena itu lalu Allah menurunkan ayat: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari Kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapatkan siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”.

Dari penjelasan ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW dapat dipahami beberapa hal, yaitu: pertama,  di dalam kehidupan beragama dan kehidupan social, maka seorang muslim harus melakukan amal ibadahnya sesuai dengan kepastian hukum dari Allah SWT. Di dalam Islam dikenal ada af’alul khamsa atau lima perkara di dalam tindakan, yaitu halal, haram, sunnah, makruh dan mubah. Oleh karena itu, jangan tinggalkan yang wajib dan harus ditinggalkan yang haram. Jangan dicampur antara yang halal dan haram. Yang sunnah akan bernilai pahala yang besar agar dilakukan, yang makruh bisa ditinggalkan agar bernilai kebaikan dan yang mubah boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan, sama-sama tidak berdosa atau berpahala.

Seharusnya umat Islam itu menjalankan atau menentukan keadilan juga berbasis pada hukum agama. Karena Alqur’an itu mujmal atau umum, maka harus dilihat di dalam hadits, dan karena ada hal-hal yang diperlukan penjelasan lebih lanjut, maka boleh menggunakan ijtihad. Ada hasil ijtihad  dari jumhur ulama atau kebanyakan ulama, maka dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan putusan hukum tentang suatu perkara. Di dalam menentukan hukum agama atau social lainnya, maka ada tiga dimensi penting yaitu: Alqur’an, Al Hadist dan ijtihad para ulama yang memiliki otoritas.

Kedua, Allah itu tidak akan pernah membebani umatnya dengan beban yang berlebihan. Misalnya haji sebagai rukun iman, maka ditambahi dengan pernyataan bagi yang mampu melakukan. Jadi meskipun kewajiban akan tetapi selalu mempertimbangkan kemampuan umat Islam dalam menjalankan amal ibadahnya. Di dalam ayat yang memberikan pernyataan bahwa Allah akan memberikan punishment tentang perilakunya yang dirasakan berlebihan, maka Allah lalu memberikan kepastian bahwa Allah akan mempertimbangkan kapasitas kemanusiaannya.

Allah SWT itu Maha Rahman dan Rahim, maka dengan sifat dasar Allah SWT ini, maka tidak boleh ada ketakutan bagi umat Islam untuk melakukan amalan ajaran Islam selama tidak bertentangan dengan perintah Allah di dalam Alqur’an atau perintah Nabi Muhammad SAW melalui haditsnya dan ijtihad para ulama yang benar-benar untuk kemaslahatan umat Islam. Oleh karena itu, kita harus mengikuti hukum Allah melalui Kitab Suci Alqur’an atau mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW dan juga mendengarkan hasil ijtihad para ulama yang shaleh.

Jika kita berpegangan dengan basis kebenaran dan kebaikan yang bersumber dari ketiganya, maka keselamatan kehidupan  di dunia dan akherat akan terjadi. Marilah kita pedomani ajaran Islam yang memberikan kemudahan bagi kita semua,

Wallahu a’lam bi al shawab.