• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMELIHARA SUNNAH (16)

MEMELIHARA SUNNAH (16)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Perilaku Nabi Muhammad SAW adalah contoh. Bagi kita semua, di dalam diri Rasul adalah teladan terutama bagi orang yang menginginkan kebahagiaan fi dini, wad dunya wal akhirah. Bagi orang yang menginginkan bertemu dengan Allah SWT.

Perilaku Nabi Muhammad SAW itulah yang dikenal sebagai sunnah Nabi Muhammad SAW. Di antara yang menjadi ciri dari umat Islam adalah mengikuti Nabi Muhammad SAW dalam beribadah kepada Allah, menyayangi sesama umat manusia dan juga berperilaku baik dalam hubungannya dengan alam. Di  dalam Islam disebut sebagai hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal alam.

Di dalam Bab 16, Syekh Imam An Nawawi menuliskan tentang “Perintah Memelihara Sunnah dan Adab-adabnya”. Berdasarkan pelacakan atas ayat-ayat Alqur’an, di dalam Surat Al Hasyr:7, dinyatakan: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah”. Kemudian di dalam ayat lain, Alqur’an Surat An Najm: 3-4, dinyatakan: “dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alqur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. Pada ayat lain, Allah juga menyatakan di dalam Surat Ali Imron: 31, difirmankan: “katakanlah jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah Aku, Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Dan di dalam Surat Al Ahzab: 21, dijelaskan: “sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari kiamat”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW,  sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: “ biarkanlah, janganlah kalian mempertanyakan tentang hukum yang aku tinggalkan (selagi aku tidak menerangkan hukumnya) pada kalian, sebab orang-orang sebelum kalian celaka karena banyaknya bertanya dan perselisihan mereka dengan para Nabi. Maka jika aku mencegah kalian dari suatu hal, maka jauhilah. Dan jika aku memerintahkan kalian melakukan sesuatu yang baik, maka kerjakanlah semampu kalian”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Kemudian hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “semua umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang berpaling. Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah,  siapakah orang yang berpaling itu? Rasulullah bersabda “siapa saja yang taat kepadaku pasti masuk surga, dan siapa saja yang mendurhakaiku dia adalah orang yang berpaling”.  Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Sebuah hadits dari Abis bin Rabi’ah berkata: “saya pernah melihat Umar bin Khattab mencium batu hitam (Hajar Aswad) dan dia berkata: saya tahu bahwa engkau itu adalah batu, engkau tidak akan dapat memberikan manfaat dan tidak pula dapat membahayakan. Seandainya saya tidak melihat Rasulullah menciummu, tentu aku juga tidak akan menciummu”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Berbagai penjelasan dari Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW dapat kiranya dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Rasul tentu menjadi panutan bagi kita semua. Tidak boleh kita melakukan amalan yang bertentangan dengan ajaran Rasul. Jika Rasul melarang,  maka jangan lakukan dan jika Rasul menyuruh,  maka hendaknya dilakukan. Ini adalah kewajiban  manusia. Sebagai seorang yang telah bersyahadah atau bersaksi akan keberadaan Allah sebagai Dzat yang Maha Kuasa dan Maha Kasih Sayang, dan Rasulullah sebagai teladan manusia, maka jelaslah bagi kita untuk mengikuti ajarannya.

Ada beberapa hal yang diperlukan agar prilaku kita sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, yaitu:

Pertama, kita harus berkeyakinan bahwa apa saja yang datang dari Muhammad Rasulullah adalah datang dari Allah SWT. Nabi Muhammad SAW tidak menyatakan dan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah SWT. Semuanya datang dari Allah lewat wahyu yang diterimanya. Jadi Nabi Muhammad SAW tidak pernah lepas dari wahyu Allah. Tanpa keyakinan seperti ini, maka berarti tidak ada kepatuhan kepada Rasulullah. Patuh kepada Allah dan Rasul sebagaimana dua sisi mata uang. Sebelah sisinya ada kepatuhan kepada Allah dan di sisi lainnya ada kepatuhan kepada Rasulullah. Tidak disebut patuh tanpa kepatuhan kepada keduanya.

Nabi Muhammad SAW diturunkan Allah agar manusia memahami perintah Allah. Jika Allah menyatakan manusia perlu bersabar, bersyukur dan bertawakkal maka ada contoh manusia yang hidup bersama yang melakukannya. Jika tidak ada Nabi Muhammad SAW, maka perintah Allah itu akan mengawang di langit dan tidak turun ke bumi. Nabi Muhammad SAW adalah teladan atas keteladanan Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Jika Allah Maha Rahman dan Rahim, maka contohnya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah.

Kedua, mencintai Allah dan rasulnya secara total. Kecintaan kepada  keduanya diwujudkan dalam melakukan semua yang diwajibkan dan disunnahkan untuk dilakukan dan juga menjauhi atas larangannya. Di dalam sebuah Riwayat di kala Nabi Muhammad berhijrah dari Mekkah ke Madinah, dan Nabi dikelilingi oleh kamunitas Anshar, lalu Kanjeng Nabi Muhammad SAW berkhutbah bahwa agar manusia menyebarkan keselamatan, memberikan makanan, menyambung persahabatan dan bershalat malam. Pidato pertama ini memberikan kesan yang sangat mendalam pada Abdullah bih Salam yang masih beragama Yahudi, sebab selama ini terdapat kesan bahwa Nabi Muhammad SAW itu manusia yang berwajah sangar, jahat dan berlaku kedhaliman. Tetapi begitu mendengar pidato Nabi Muhammad SAW, dan melihat wajah Nabi Muhammad yang bercahaya, maka beliau berikrar masuk Islam. Subhanallah.

Ketiga, rasanya kita ini sudah berada di dalam jalan yang benar, yaitu jalan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk dilalui. Kita sudah berikrar untuk mencintai Allah dan Rasulnya, dan melakukan amal ibadah sesuai dengan kemampuan kita, mengasihi manusia sesuai dengan perintah Rasulullah dan juga menjaga alam sebagaimana ajaran Rasulullah, maka pantaslah kita menjadi hamba Rasulullah Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJAGA KELANGSUNGAN AMAL (15)

MENJAGA KELANGSUNGAN AMAL (15)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab ke 15, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Memelihara Kelangsungan Amal”. Bab yang sangat penting untuk kita cermati terkait bagaimana kita seharusnya menjaga amal kebaikan di dalam kehidupan kita. Amal kebaikan harus kita jaga jangan sampai hilang atau berkurang di dalam kehidupan kita semua.

Mari beramal kebaikan itu sebuah ungkapan yang mudah, tetapi sulit untuk dilakukan, bahkan oleh yang menyeru untuk beramal kebaikan. Gampang diucapkan sulit dilakukan. Amal merupakan konsep di dalam Islam yang dapat dikaitkan dengan Allah SWT dan untuk sesama manusia. Amal kepada Allah adalah ibadah yang dilakukan sesuai sebagai  amalan kewajiban atau disunnahkan, misalnya melakukan bersyahadat, shalat, haji dan amalan-amalan dzikir atau wirid yang dilakukan untuk menemukan ridhanya Allah SWT.

Akan tetapi juga terdapat amalan yang khusus dilakukan untuk sesama manusia, misalnya amalan pilantropi seperti zakat, sadaqah, wakaf dan amalan-amalan lain yang serupa. Seseorang yang mengeluarkan zakat, sesungguhnya tidak hanya melakukan perintah Allah untuk mendapatkan pahala amal ibadahnya, akan tetapi juga untuk memberikan donasi untuk kemanusiaan. Allah sangat menyukai orang yang bisa menyeimbangkan antara amalan untuk Allah dan amalan untuk manusia. Islam sangat apresiatif atas amalan manusia yang seimbang.

Akan tetapi pada hakikatnya, semua amalan, baik untuk manusia atau untuk Allah adalah memiliki hakikat untuk Allah. Semua amalan manusia hakikatnya adalah untuk Allah. Jika kita menolong manusia, hakikatnya adalah pertolongan untuk Allah. Hakikat apa yang kita lakukan adalah hakikat untuk Allah. Lillah billah. Semua untuk Allah dan semua bersama Allah.

Di dalam Alqur’an terdapat ajaran tentang menjaga amal tersebut, di antaranya di dalam Surat Al Hadid: 57 yang dinyatakan: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya dan kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras”. Kemudian juga terdapat ayat 27 dalam Surat Al hadid, bahwa: “kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul kami dan kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam. Dan kami berikan kepadanya Injil dan kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka (tetapi) mereka sendirilah yang mengada-adakannya untuk mencari keridlaan Allah. Lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya”.

Lalu juga terdapat hadits yang menceritakan tentang pentingnya menjaga dan memelihara kebaikan tersebut. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah yang dinyatakannya: “perbuatan baik yang paling disukai Allah adalah perbuatan yang terus menerus dikerjakan”. Hadits lain menyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda: “semua umatku akan masuk surga kecuali orang-orang yang berpaling. Ada yang bertanya: sipakah orang yang berpaling itu? Rasulullah bersabda siapa yang taat kepadaku pasti masuk surga. Dan siapa saja yang mendurhakaiku dia adalah orang-orang yang berpaling”. Ada juga hadits Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash yang menyatakan: “Rasulullah pernah bersabda kepadaku: “ hai Abdullah, janganlah kamu seperti Fulan, tadinya dia suka bangun untuk shalat malam, kemudian dia meninggalkan shalat malamnya”. Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Haidts lain yang diceritakan oleh Aisyah menyatakan: “Apabila Rasulullah tidak mengerjakan shalat malam, baik karena sakit atau lainnya, maka Beliau mengerjakannya pada waktu siangnya sebanyak dua belas rakaat”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari gambaran di  dalam Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh ahlinya, maka didapatkan penjelasan tentang keutamaan untuk memelihara amal kebaikan, khususnya amalan kebaikan kepada Allah dan Rasulnya dan kepada umat manusia seluruhnya. Ada beberapa hikmah yang dapat diambil sebagai pelajaran, yaitu:

Pertama, agar kita menjaga dan memelihara keyakinan kita kepada Allah dan rasulnya untuk  dapat memelihara amal kebaikan. Selalu memohon kepada Allah agar amal ibadah kita itu dalam konsistensi dan berkelanjutan. Sungguh sangat berat untuk menjaga kontinuitas di dalam kebaikan. Tidak mudah untuk memelihara amal kebaikan, sebab ada banyak sekali godaan yang bisa datang dari mana saja. Bisa godaan dari dalam yang berupa Hasrat atau nafsu yang terus mendera kehidupan manusia.

Kedua, Ada motif di dalam kehidupan kita untuk memenuhi hasrat jiwa yang dapat mengarahkan kepada kejelekan. Bisa juga dari factor eksternal. Ada yang mengajak dan mengarahkan untuk melakukan kejelekan dan melupakan atas kebaikan. Ada saja yang mempengaruhi sikap dan tindakan  seseorang semestinya memiliki petunjuk di dalam dirinya untuk melakukan kebaikan.

Rasulullah sudah memberi contoh, misalnya agar manusia menjaga amal ibadahnya. Agar memelihara shalat malamnya, menjaga amalan  menyebarkan keselamatan dan menjaga agar mengedepankan cinta dan kasih sayang kepada sesama umat manusia. Akan tetapi cobaan dan gangguan bisa datang dari mana saja.

Di  dalam Alqur’an  dijelaskan tentang kasus Malaikat Harut dan Marut. Sebagai catatan, nama Malaikat ini berasal dari Bahasa Sansekerta. Didalam dunia pewayangan disebut Sang Hyang Maruto atau Dewa Angin. Sebelumnya  dua Malaikat ini patuh kepada Allah dengan segala konsekuensinya. Dia mencela manusia karena tindakan kesalahannya. Maka Allah memberikan nafsu kepada dua Malaikat ini dan diturunkan di bumi, maka keduanya melakukan kesalahan yang sama dengan yang dilakukan oleh manusia. Setelah sadar kemudian memohon ampunan kepada Allah dan diterimalah ampunannya.

Ketiga, ada kaitan antara memelihara kebaikan dengan doa yang seharusnya kita lantunkan kepada Allah. Doa tersebut sebagaimana yang diajarkan di dalam Islam, yaitu: “Allahumma arinal haqqa haqqa war zuqnat tiba’ah, wa arinal bathila bathila war zuqnaj ijtinabah” yang artinya “Ya Allah tunjukkan kepada kami yang benar itu benar dan berikan kepada kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkan kepada kami yang bathil itu bathil dan berikan kekuatan kepada kami untuk menjauhinya”.

Jangan merasa sombong bahwa kita sudah menjadi orang baik,  lalu merasa pasti menjadi orang baik. Tetapi sebaiknya kita merasa di dalam di dalam diri terdapat kelemahan disebabkan kekuatan nafsu.  Kita  harus selalu memohon kepada Allah agar dijaga amal kebaikan tersebut. Sesungguhnya Allah itu Maha Rahman dan Rahim, dan sebagaimana yang disabdakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW bahwa selama kita selalu berada di dalam ketaatan kepada Allah dan Rasulnya,  maka dipastikan akan masuk surga, dan jika kita tidak patuh, maka terdapat peluang akan masuk neraka.

Hendaknya kita istiqamah untuk beramal kebaikan di mana dan kapan saja. Jangan pernah lengah untuk melakukannya. Di mana-mana banyak godaan dan semoga Allah selalu menjaga kehidupan kita untuk selalu melakukan kebaikan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

KESEDERHAAN DALAM BERIBADAH (14)

KESEDERHAAN DALAM BERIBADAH (14)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam Bab 14, Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan yang sangat mendalam tentang “Bab Berlaku Sederhana Dalam beribadah” dan kemudian saya rumuskan dalam judul Kesederhanaan dalam Beribadah”. Bab ini merupakan penjelasan tentang kesederhanaan itu tidak hanya di dalam perilaku social yang berhubungan dengan sesama manusia, diri sendiri, keluarga dan masyarakat, akan tetapi juga sederhana di dalam beribadah kepada Allah. Janganlah berlebih-lebihan. Kita harus menyeimbangkan diri di dalam beribadah kepada Allah SWT.

Di dalam Alqur’an dinyatakan pada  Surat Thoha: 1-2, diberitakan bahwa “Thoha. Kami tidak menurunkan Alqur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah”. Di dalam Surat Al Baqarah: 185, Allah menjelaskan: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Aisyah bahwa Nabi SAW  memasuki rumahnya dan di sisi Aisyah itu ada seorang perempuan. Beliau bertanya, “Siapakah dia”. Aisyah menjawab “ini adalah Si Fulanah yang terkenal shalatnya. “Beliau bersabda: “jangan demikian, hendaknya engkau beramal sesuai dengan kemampuanmu. Demi Allah, Allah itu tidak bosan untuk menerima amalmu hingga kamu sendiri yang akan merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah adalah yang dikerjakan terus menerus”. Lalu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa Allah bersabda: “binasalah orang-orang yang keterlaluan. Beliau mengulanginya sampai tiga kali”. Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Di dalam hadits lain dinyatakan: Ibnu Abbas berkata: “Tatkala Nabi Muhammad SAW berkhutbah, tiba-tiba ada seorang laki-laki lalu Beliau menanyakannya.” Para Sahabat menjawab: “dia adalah Abu Israil, ia bernazar akan berdiri pada waktu panas, tidak akan duduk, dan tidak akan berteduh serta tidak akan berbicara dan akan berpuasa.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “perintahkan dia supaya berbicara, berteduh, duduk dan perintahkanlah dia supaya menyempurnakan puasanya”. Hadits Riwayat Bukhari.

Demikianlah Islam sebagai ajaran untuk manusia memberikan kemudahan dan tidak memberikan kesulitan. Islam memerintahkan yassir wa la tu’assir. Permudah dan jangan persulit. Oleh karena itu dalam hal ibadahpun Allah SWT memberikan kemudahan. Rasulullah memiliki konsern yang luar biasa atas kemudahan di dalam beribadah. Islam merupakan ajaran yang sedemikian memberikan keseimbangan di dalam peribadahan. Kita masih ingat cerita tentang Salman al Farisi, seorang sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari Persia,  ahli srategi perang di dalam Islam. Beliau ingin mengabdikan diri dalam beragama dengan cara beribadah secara konsisten bahkan untuk hidup di masjid. Maka oleh Nabi SAW diminta untuk tetap memperhatikan keluarganya, rumahnya, pekerjaannya dan kehidupan duniawinya.

Di dalam Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW meminta kepada hambanya untuk menyeimbangkan diri di dalam beribadah. Jangan sampai karena nadzar yang sudah dilakukan kemudian menyulitkannya. Nadzar yang tidak sesuai dengan ajaran agama agar dipermudah agar tidak terdapat keberatan di dalam melakukan nadzarnya. Islam begitu memberikan kemudahan agar jangan bernadzar yang tidak Islami. Yang dibolehkan untuk bernadzar itu hanyalah Nabi Zakaria yang berkeinginan untuk memiliki anak lelaki. Maka Allah membolehkan untuk tidak berbicara selama tiga hari. Yang lain-lain, saya kira tidak kita jumpai.

Tentu saja segala sesuatu ada perkecualian. Sebagaimana tadi dijelaskan di dalam hadits bahwa jangan melakukan perbuatan dalam ibadah yang menyulitkan, sebagaimana dalam cerita Aisyah. Rasulullah memberikan jalan keluar agar beribadah sesuai dengan kemampuannya. Bagaimana dengan para waliyullah yang di dalam dunia mistisisme itu memiliki kelebihan dalam beribadah. Kanjeng Sunan Kalijaga bisa melakukan puasa di dalam air, di dalam tradisi Islam Jawa disebut sebagai topo mbatang, atau meditasi dengan merendam tubuhnya di dalam air, maka itulah yang disebut eksepsional. Tiga tahun lamanya topo mbatang itu dilakukan. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana shalatnya, puasanya dan sebagainya. Itulah urusan mereka yang memiliki keahlian khusus. Dan hanya Allah yang tahu tentang hal ini. Nabi Muhammad SAW jika qiyamul lail sampai kakinya bengkak. Inilah yang disebut sebagai perkecualian.

Bahkan tidak hanya para waliyullah yang diberi eksepsinalitas itu. Juga  para kyai yang diberi kekuatan Allah untuk melakukan ibadah yang melebihi kapasitas orang awam. Ada seorang kyai yang berjalan kaki dari Banyuwangi ke Serang atau Ujung Kulon. Sambil menghafal Alqur’an. Dan dari riyadhah itu kemudian mengantarkannya untuk menjadi kyai dengan kemampuan khusus dan mengembangkan Lembaga Pendidikan Islam yang sangat baik. memiliki pesantren sampai universitas. (nursyamcentre.com 27/07/25)

Sebagai Tuhan, Allah tentu memiliki pengetahuan dan kekuasaan yang tidak terhingga. Oleh karena itu, Allah dipastikan memiliki kekuatan superekstra untuk memilih dan memilah mana orang yang bisa melakukan sesuatu yang melebihi kapasitas orang awam dan mana yang biasa saja. Tetapi jangan lupa bahwa ada dimensi riyadhah yang bisa dilakukan oleh umat Islam untuk mencapai derajad lebih tinggi dalam beribadah.

Kita adalah orang awam. Yang beragama dengan tingkatan ibadah yang biasa saja. Tetapi saya kira yang terpenting adalah konsisten atau mudawamahnya. Semoga kita tetap bisa melakukan amalan ibadah yang tidak harus dengan jumlah terbanyak tetapi sekali-kali saja. Lebih baik ibadah yang tidak banyak tetapi istiqamah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BANYAK JALAN KEBAIKAN (13)

BANYAK JALAN KEBAIKAN (13)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pintu kebaikan itu terbuka lebar dan sangat banyak variasinya. Bukan hanya banyak tetapi sangat banyak. Di dalam slogan sering dinyatakan “banyak jalan menuju Roma” atau “banyak jalan menuju surga”. Allah memang memberikan jalan seluas-luasnya, selebar-lebarnya, sebanyak-banyaknya kepada umat Islam untuk mencari dan menemukan jalan kebaikan, melaluinya dan sampai pada tujuan akhirnya. Di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, Karya Syekh Imam An Nawawi disebutkan “Bab Penjelasan Banyaknya Jalan Kebaikan”.

Jalan untuk menuju kepada Tuhan itu banyak sekali, yang kemudian dikenal sebagai jalan kebaikan. Ada yang mencarinya melalui jalan ibadah mahdlah atau ibadah yang ditujukan kepada Allah SWT, seperti shalat, Haji, Puasa dan amalan dzikir yang istiqamah atau konsisten. Ada yang melalui jalan zakat, infaq, sedekah, wakaf dan ibadah ghairu mahdlah. Ibadah yang manfaatnya untuk kemanusiaan. Mendekati Tuhan bisa melalui jalan yang ramai, banyak dilihat orang, sehingga amalan ibadah itu diketahui sebagai jalan  jahriyah. Ibadah yang bisa dilakukan secara bersama-sama dalam banyak variannya, dan ada jalan sunyi, sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi di dalam mendekati Tuhan atau jalan sirriyah.  Keduanya jika dilakukan dengan mujahadah atau sungguh-sungguh,  maka akan menemukan jalan yang lurus, jalan yang benar, yang akan mengantarkannya sampai kepada Allah SWT.

Ada banyak ayat Alqur’an yang menyatakan jalan menuju Tuhan tersebut. Di antara ayat tersebut adalah Surat Al Baqarah: 215, yang artinya: “dan apa saja kebaikan yang kamu perbuat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”. Di ayat lain, Surat Al Baqarah: 19, artinya: “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya”. Di dalam Surat Al Zalzalah: 7, dinyatakan: “barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya”.

Hadits Nabi Muhammad SAW yang terkait dengan hal ini juga banyak, di antaranya adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzarr Junduh bin Junaidah,  Rasulullah bersabda: “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “beriman kepada Allah dan berjihad di jalannya”. Saya bertanya lagi, “memerdekakan hamba sahaya  yang bagaimana yang lebih utama”? Beliau menjawab: “sangat disayang pemiliknya dan yang paling mahal harganya”. Saya bertanya lagi: “seandainya saya tidak mampu mengerjakan demikian, maka apakah yang dapat saya lakukan”? Beliau bersabda: “kamu membantu orang yang  bekerja atau kamu menyibukkan diri agar hidupmu tidak sia-sia”. Saya bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya tidak mampu melakukan sebagian pekerjaan itu”? Beliau menjawab: “janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk sedekah untuk dirimu”.  (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Ada lagi hadits yang sangat mendasar sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda: “setiap pagi ruas tulang kalian terdapat sedekah. Setiap ucapan tasbih (subhanallah) adalah sedekah. Setiap ucapan Tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah. Setiap ucapan tahlil (la ilaha illallah) adalah sedekah, setiap ucapan takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah, mencegah perkara mungkar adalah sedekah. Dan dua rakaat yang dikerjakan dalam shalat dhuha telah mencakup segalanya”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Hadits yang panjang tetapi sarat makna. Dengan ayat Qur’an dan hadits ini,  maka kita menjadi sadar bahwa begitu banyaknya jalan menuju kebaikan. Di dalam memahami teks-teks ini, maka ada beberapa hal, yaitu:

Pertama, Allah SWT memberikan banyak jalan kepada kita untuk melakukan kebaikan, sebagai jalan menuju Allah. Kita bisa memilih mana yang bisa dilakukan. Tetapi dilakukan secara konsisten dan penuh kesungguhan. Bil istiqamah wal mujahadah. Harap dipahami bahwa amalan yang disukai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara mudawamah atau istiqamah. Bukan amalan sekali banyak, tetapi Allah suka amalan sedikit tetapi konsisten. Amalan kebaikan itu lalu terus ditingkatkan. Thabaqan an thabaq. Setahap demi setahap dan akhirnya menjadi banyak. Bahkan dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa membuang benda di jalan yang bisa membahayakan orang lain itu merupakan sedekah. Tersenyum dan membuat orang lain tertawa adalah sedekah. Seorang pelacur yang menolong anjing kehausan dan kelaparan, lalu Allah mengganjar dengan surga. Di saat itu, ada keikhlasan yang tidak terhingga dari pelacur itu, sehingga Allah SWT dengan sifat ketidakterhinggaannya dapat bertemu dan memaafkan semua kesalahannya.

Kedua, ada amalan ibadah yang biasa kita lakukan sebagaimana dicontohkan oleh para ulama, sebuah bacaan: “subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar”. Ternyata bacaan ini adalah bacaan yang berdimensi sedekah. Jadi ada sedekah bacaan lesan dan hati dan ada sedekah bil fi’li atau perbuatan. Biasanya kita berpikirnya yang menguntungkan. “saya sudah bersedekah sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW, maka tidak perlu sedekah bil fi’li”. Inilah pemikiran yang keliru, sebab Nabi Muhammad SAW tidak hanya melakukan amal ibadah dengan pikiran, lesan dan hati tetapi juga amalan shalihan, amalan yang nyata dalam bentuk benda, uang atau jasa.

Ketiga,  betapa banyak hal yang dapat kita lakukan. Ada banyak menu, ada banyak merek ibadah yang dapat dilakukan. Kita tinggal memilih mana yang terbaik kita lakukan dan kemudian dikerjakan dengan Ikhlas. Ikhlas, Sabar dan Syukur adalah trilogy dalam perilaku kita di dalam beragama. Jika kita dapat melakukannya, maka insyaallah kita akan menjadi orang yang bahagia fiddini, wad fiddunya wal fil akhiarah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENINGKATKAN IBADAH DI USIA SENJA (12)

MENINGKATKAN IBADAH DI USIA SENJA (12)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 12, Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitabnya “Riyadhus Shalihin” menjelaskan tentang “Anjuran Untuk Meningkatkan Amal Kebaikan pada Akhir Usia”. Tulisan ini mendedahkan suatu hal yang sangat mendasar tentang apa sebaiknya yang dilakukan oleh manusia khususnya umat Islam di kala usia semakin merambat tua. Kala kehidupan sudah semakin bau tanah.

Di dalam Alqur’an diceritakan tentang pentingnya menjaga usia agar selalu berada di dalam ibadah kepada Allah SWT. Hal ini yang kiranya perlu disadari sebab tidak ada satupun manusia yang tahu kapan takdirnya untuk meninggalkan semua yang ada di dunia. Urusan usia manusia kapan lahir dan kapan wafat adalah urusan Allah. Kita tahu bahwa ada empat hal yang menjadi takdir Allah terkait dengan manusia, yaitu:  lahir, mati, jodoh, dan rezeki. Karena kita tidak tahu berapa lama usia, maka konsekuensinya bahwa semakin tua harus semakin banyak beribadah.

Ada  ayat Alqur’an terkait dengan hal di atas, yaitu sebagaimana dijelaskan di dalam Surat Fathir: 27, “Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir dan (apakah tidak)  datang kepada kamu pemberi peringatan”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW dijelaskan sebagaimana  diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Allah telah memberi kesempatan kepada seseorang yang dipanjangkan usianya sampai berumur enam puluh tahun”. Di dalam Riwayat Imam Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah senantiasa memperbanyak bacaan “subhanalalahi wabihamdihi astaghfirullaha wa atubu ilaika”. (Mahasuci Allah dan dengan memujinya, saya memohon ampun kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya). Aisyah berkata: “saya bertanya Wahai Rasulullah, saya melihat engkau selalu memperbanyak bacaan  “subhanallahi wabihamdihi astaghfirullah wa atubu ilaihi”.  Rasulullah menjawab: “Rabbku telah memberitahukan kepadaku bahwa kalau aku melihat tanda tentang umatku, maka aku memperbanyak bacaan “subhanallahi wabihamdihi astahgfirullah wa atubu ilaih”.

Dari uraian tentang ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat dipahami bahwa usia adalah karunia Allah. Ada yang berusia pendek dan ada yang panjang. Keduanya menjadi ketentuan Tuhan dan tidak ada manusia yang mengetahuinya. Hanya Allah dan Rasulullah yang tahu kapan sebenarnya ajal akan tiba. Rasulullah dan Nabi-Nabi lain tentu diberi pengetahuan yang sangat memadai tentang urusan ruh dan kegaiban lainnya.

Di dalam tradisi Jawa, Allah memberikan tanda-tanda tentang kematian bagi seseorang. Tentu saja ada yang bisa memahami bahasa simboliknya dan ada yang tidak. Berdasarkan pengalaman tentang seseorang yang sudah mendekati wafatnya, maka akan muncul berbagai mimpi yang memberikan pengetahuan tentang kapan wafat. Misalnya bertemu dengan leluhurnya yang sudah wafat dalam puluhan tahun. Bahkan diungkapkan kepada keluarganya tentang mimpi-mimpinya itu.

Simbol-simbol seperti ini diyakini di dalam tradisi Jawa, bahwa kematian itu diketahui akan datang. Tentu tidak tahu kapan datangnya karena itu haknya Allah. Bahkan ada mimpi yang memberitahukan kepada keluarga, misalnya gigi tanggal, atas atau bawah, maka dapat dipahami bahwa akan ada keluarganya yang meninggal dunia. Tentu tidak semua orang bisa mendapatkan mimpi seperti ini. Jadi Allah kadangkala memberitahukan kepada manusia tentang keadaan keluarga yang akan wafat.

Dari hadits ini dapat dipahami beberapa hal, yaitu: pertama, wafat atau mati adalah ketentuan Tuhan yang hanya Allah yang mengetahuinya. Kala Nabi Muhammad SAW ditanya tentang Roh, maka Nabi juga menyatakan bahwa roh adalah urusan Allah dan kita hanya diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit. Manusia yang mengetahui tanda-tanda akan datangnya kematian tentu saja ada berbasis pada riyadhah yang telah dilakukan, akan tetapi jumlahnya sangat sedikit.

Kedua, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa manusia bisa berusia 60 tahun itu sudah dipanjangkan usianya oleh Allah SWT. Jadi, usia 60 tahun ke atas adalah bonus bagi seseorang. Manusia yang bisa berusia lebih dari 60 tahun berarti sudah diberi peluang untuk banyak melakukan pertaubatan. Di antara salah satu ajaran Nabi Muhammad SAW adalah dengan membaca dzikir sebagaimana ucapan Nabi Muhammad SAW, yaitu: bacaan “subhanallahi wabihamdihi astahgfirullah  wa atubu ilaih”. Di usia semakin tua, maka kita harus semakin banyak memuji Allah dan bersyukur atas nikmatnya Allah,  lalu semakin banyak memohon ampunan kepada-Nya. Jadi semakin tambah usia seharusnya semakin menunjukkan kepatuhan, ketaqwaan dan beribadah kepada Allah.

Ketiga, hendaknya manusia berpikir tentang bonus usia itu. Melalui tambahan usia di atas 60, maka sesungguhnya Allah memberikan peluang untuk kita  bertaubat kepada Allah SWT. Sebaiknya manusia tidak menyia-nyiakan peluang ini, sehingga akan dapat memperoleh kenikmatan dari Allah SWT. Kenikmatan itu yang berupa peluang untuk beribadah lebih banyak dibandingkan manusia lainnya.

Nabi Muhammad SAW berusia 63 tahun. Kita yang sudah lebih dari 63 tahun berarti masih diberi peluang untuk semakin banyak beribadah kepada Allah SWT. Mari kita jadikan sisa hidup ini dengan semakin banyak berbuat baik.  Untuk  Allah, manusia dan alam sekeliling kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.