Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PERASAAN TAKUT SIKSA DAN PENGHARAPAN RAHMAT (53)

PERASAAN TAKUT SIKSA DAN PENGHARAPAN RAHMAT (53)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam karya Syekh Imam An Nawawi, bab 53 diberi judul  “Menggabungkan  antara Takut dan Harap”, atau antara Khauf dan Raja’. Di dalam artikel ini secara sengaja saya beri tema yaitu: “Perasaan Takut Siksa dan Pengharapan Rahmat”. Khauf dan raja’ merupakan dua kata yang memang memiliki saling keterkaitan. Di antara keduanya merupakan suatu kesatuan yang saling memerlukan. Khouf menunjukkan atas pemahaman, sikap dan prilaku takut manusia yang berhubungan dengan Allah SWT. Khouf adalah perasaan yang mendalam untuk takut atas adzab Allah yang sangat dahsyat, yang digambarkan sebagai neraka dengan berbagai indikasinya. Allah SWT memberikan gambaran tentang neraka sebagai tempat yang berisi angin yang panas, air panas yang mendidih dan tidak ada sedikitpun hawa dingin dan tiada kemuliaan, sebagaimana dicantumkan di dalam Surat Al Waqiah: 42, yaitu: “fi samumiw wahamim, wa dzillim min yahmun, la baridiw wala karim”. Ketakutan tersebut tentu dapat dikaitkan dengan ayat tandzir atau ayat peringaan Allah seperti itu. Sementara raja’ adalah harapan bahwa Allah SWT tidak menghukumnya sebagaimana dicantumkan di dalam Alqur’an karena adanya pertaubatan yang dilakukan oleh manusia. Di dalam konteks relasi antara khauf dan raja’, maka basisnya adalah iman dan bingkainya adalah taubat. Dengan demikian, khauf dan raja’ akan terjadi atas orang yang memiliki iman dan melakukan pertaubatan kepada Allah SWT.

Sesungguhnya manusia memiliki potensi untuk bertaubat atas kekhilafan, kesalahan dan dosa. Manusia dibekali oleh Allah akan rasa takut dan kemudian diberikan hikmah untuk bertaubat kepada Allah SWT. Ibarat burung, maka khauf adalah sayang kiri dan raja’ adalah sayap kanan. Dengan dua sayap ini, maka burung bisa terbang. Sedangkan untuk terbang sendiri ada tujuan dan alat atau fisik yang memenuhi standar. Maka tujuannya adalah memperoleh ridhanya Allah, sementara itu hakikat fisiknya adalah iman dan taubat, sedangkan sayapnya adalah khauf dan raja’.

Firman Allah dalam Surat Al A’raf: 99, menyatakan: “Karena sebenarnya tidak ada yang merasa selamat dari rancangan buruk (balasan azhab) yang diatur oleh Allah itu melainkan orang-orang yang merugi. Di dalam Surat lain, Surat Al Infitar:  13-14, bahwa: “sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar di dalam surga yang penuh kenikmatan dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar dalam neraka”. Kemudian di dalam Surat Al Qari’ah: 6-9 dinyatakan: “maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada di dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan Adapun orang  yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah”.

Ada sejumlah hadits yang diungkapkan oleh Syekh Imam An Nawawi, misalnya hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “seandainya orang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorangpun yang berharap masuk nerakanya, andaikan orang kafir  mengetahui Rahmat yang ada di sisi Allah, pasti tidak akan ada seorangpun yang berputus asa dari surganya”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits lain juga menyatakan: “apabila jenazah telah diletakkan dan dipikul oleh orang banyak atau pria di pundak mereka, jika dia orang saleh, dia berkata: ‘segerakanlah aku, segerakanlah aku’. Namun jika dia bukan orang yang saleh, dia berkata: ‘duhai celakanya. kemanakah kalian akan membawanya’. Suaranya didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia. Andai manusia mendengarnya, pasti pingsan”. Hadits Riwayat Imam Bukhari. Hadist lain yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda: “surga itu lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya. Neraka juga seperti itu”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Dari uraian tentang teks Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW., maka dapat disimpulkan di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah SWT menegaskan bahwa surga dan neraka merupakan ciptaan Allah SWT yang  masuk di dalam dunia supra eskatologis. Dunia masa depan yang tidak terjadi di dunia ini, akan tetapi nanti setelah hari kiamat. Alam kubur, alam akherat, surga dan neraka adalah metaempiris pada zaman di kala manusia berada di alam empiris, dan semuanya itu termasuk metaempiris atau alam keyakinan tentang dunia lain, selain dunia ini.

Neraka yang digambarkan atau disimbolisasikan dengan tingkat panas yang berlipat-lipat di atas panas bumi, menggambarkan agar manusia memiliki dan mengedepankan perasaan takut atas siksaan Allah SWT. Melalui konsep khauf dan raja’, Allah mengajari manusia melalui Nabi Muhammad SAW agar manusia berada di dalam keseimbangan antara ketakutan dan harapan. Di tengah rasa takutnya tersebut, maka manusia diminta untuk berpengharapan agar mendapatkan pertolongan Allah.

Kedua, Allah SWT memiliki hak prerogative terkait dengan perilaku manusia, yaitu Rahmat. Sebagaimana diungkapkan oleh hadits sebagaimana diungkapkan oleh penulis kitab, bahwa orang yang berdosapun akan mendapatkan Rahmat Allah selama individu tersebut menyadari kekeliruannya dan melakukan pertobatan. Jadi, pertobatan merupakan jalan masuk atau entry point untuk meraih rahmatnya Allah SWT. Allah memiliki hak atas umatnya selama umatnya berada di dalam nuansa memasuki alam tak terhingga, sebagai pelacur yang menolong anjing dan pada waktu itu keikhlasan perempuan tersebut mencapai puncaknya atau memasuki angka tiada terbatas. Di sinilah Rahmat Allah itu turun. Jadi bukan sesuatu yang tiba-tiba tentu ada prasyaratnya untuk mendapatkan Rahmat dimaksud.

Ketiga,  kehidupan adalah sebagaimana bandul berayun. Bisa ke arah kanan dan bisa ke arah kiri. Jika bandul ke arah kanan, maka sebagai pertanda atas amalannya yang baik. Dan jika bandul ke arah kiri berarti menuju kepada amalan kejelekan. Inilah pertanda bahwa manusia akan menerima catatan dengan tangan kanan atau tangan kiri. Yang akan menerima catatan amalan dengan tangan kanan adalah orang yang mampu menyeimbangkan antara takut dan raja’ yang dibingkai dengan taubat dan bersubstansi dengan iman. Keempatnya merupakan system yang menjadi satu keesatuan dan tidak bisa dipisahkan.

Orang yang hatinya beriman, maka di dalam dirinya terdapat mekanisme untuk memohon ampunan, yang keduanya berkait kelindan dengan rasa takut dan pengharapan akan rahmatnya Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KEUTAMAAN BERHARAP RAHMAT ALLAH (52)

KEUTAMAAN BERHARAP RAHMAT ALLAH (52)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 52, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan dengan sangat gamblang tentang “Keutamaan Berharap”. Sedangkan di dalam tulisan ini saya tambahkan dengan judul “Keutamaan Berharap Rahmat Allah”. Tidak ada maksud lain kecuali menegaskan bahwa yang diharapkan oleh manusia adalah Rahmat Allah SWT.

Allah melalui Nabi Muhammad SAW memberikan wejangannya bahwa manusia sebaiknya memang berharap akan rahmatnya Allah SWT. Salah satu cara untuk mengharapkan rahmatnya Allah adalah melalui berdoa dan berbuat baik atau beramal shalih. Doa sedemikian sangat penting. Jangan pernah melupakan berdoa, sebab do’a adalah washilah agar apa yang menjadi keinginan kita dapat tercapai. Sudah sering diungkapkan oleh para ulama kita tentang trilogi: “berusaha, berdoa dan bertakwa” atau “bekerja, memohon dan pasrah”.

Doa adalah upaya untuk memahami bahwa usaha pisik saja tidak cukup. Secara empiris bisa dilihat ada seseorang yang sudah berusaha dengan menggunakan strategi yang teruji dengan sangat baik yang dipastikan tingkat kegagalannya itu nihil dan tingkat kesuksesannya itu 100 persen. Akan tetapi sering terjadi usaha yang luar bisa presisinya itu, ternyata gagal. Ada factor X.

Untuk meminimalisir factor X tersebut maka manusia disediakan ruang metafisik yaitu berdoa dan bertawakkal. Jika usaha adalah aktivitas fisik, maka doa dan tawakkal adalah memasuki alam metafisik. Sebuah area yang terkadang manusia tidak mampu memahaminya dengan akal atau rasionya. Di sinilah dunia keyakinan memainkan peranannya untuk manusia agar manusia sadar bahwa akal saja tidak cukup. Ada sebuah ungkapan bagus: “mengoptimal usaha, melangitkan doa”.

Manusia yang memiliki rasa keberagamaan, tentu akan dapat memahami bahwa dunia fisikal yang dapat dipahami dengan rasio itu sangat terbatas. Terikat dengan ruang dan waktu. Itulah sebabnya manusia harus menyadari kekuatan rasionya dalam menghadapi fenomena alam non fisikal yang ternyata memiliki dimensi yang sangat luas dan mendalam. Tetapi Allah sudah menyediakan kemampuan untuk kepentingan tersebut melalui kemampuan di luar penalaran, melalui dimensi batiniah yang bersentuhan dengan dunia metafisik yang secara apriori dinyatakan sebagai kebenaran. Doa dan tawakkal adalah medium untuk memasuki alam metafisik atau metaempiris. Serahkan usaha kita kepada Allah dengan sepenuh keyakinan.

Ayat Alqur’an yang dijadikan sebagai penjelasan atas tema ini adalah sebagaimana tercantum di dalam Surat Al Ghafir: 44-45, bahwa: “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hambanya. Maka Allah akan memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka”.

Kemudian  dipertegas dengan beberapa hadits, di antaranya adalah hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, sebagaimana Allah SWT berfirman: “Aku sesuai persangkaan hambaku kepada-Ku dan Aku selalu bersama hamba-hamba-Ku selama ia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah benar-benar  lebih gembira pada taubat seseorang hamba daripada salah seorang  di antara kalian yang menemukan bendanya yang hilang di padang yang luas. Barang siapa yang mendekat pada-Ku  sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya satu hasta, dan barangsiapa yang mendekat pada-Ku sehasta, maka aku mendekat kepadanya sedepa,  jikalau hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan berjalan, maka aku mendatanginya dengan bergegas-gegas”.  Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda pada tiga hari sebelum wafatnya, “janganlah seseorang dari kalian meninggal dunia, melainkan ia harus berbaik sangka kepada Allah SWT”. Hadit Riwayat Imam Muslim.

Dari penjelasan ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, maka kiranya dapat dipahami tentang bagaimana Allah SWT mengutamakan orang yang selalu berharap kebaikan dan Rahmat Allah SWT. Ada tiga hal yang dapat digarisbawahi, yaitu:

Pertama, Allah SWT sedemikian mengutamakan orang yang selalu melakukan amalan yang baik berbasis pada keimanannya. Allah itu Dzat yang Maha Baik, pastilah akan sangat menyukai kebaikan. Tidaklah mungkin Allah itu baik lalu menyukai ketidakbaikan. Akal apapun tidak akan menerimanya. Meskipun di dunia itu bisa terjadi kebaikan dibalas dengan kejelekan. Ari susu dibalas air tuba. Tetapi itu hanya hukum manusia. Tidak berlaku bagi Yang Maha Baik, Maha Adil dan Maha Bijaksana lalu berbuat seenaknya atau yang bertentangan sifat-sifat kebaikan yang melekat kepada-Nya.

Bagi Allah SWT kebaikan adalah segalanya. Dari sisi teks,  semua menggambarkan yang demikan. Dari penggunaan akal budi, maka juga akan membenarkan atas hal tersebut. Artinya bahwa Allah SWT akan membalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas kejelekan dengan kejelekan yang sama. Bahkan Allah SWT memberikan peluang bagi yang melakukan kejelekan untuk menyadari kesalahannya dan bertaubat kepadanya. Berdasarkan kebenaran metafisik, maka ini merupakan hukum yang berbasis pada keseimbangan.

Kedua, doa adalah harapan. Makanya kita harus selalu berdoa sebagai manifestasi atas keinginan yang kita mohonkan. Doa adalah washilah kita dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Doa dapat dilantunkan langsung kepada Allah dan bisa juga dilantunkan didasari atas washilah kepada Nabi Muhammad SAW. Washilah terbaik di dalam kerangka memohon kepada Allah SWT adalah melalui Nabi Muhammad SAW. Allah itu Dzat yang Maha Gaib, dan manusia adalah sebongkah materi, sehingga untuk menyambungkan antara yang fisikal dengan yang nonfisikal bukanlah perkara gampang. Maka ada medium yang baik. Nabi Muhammad SAW adalah manusia terpilih yang diberi kewenangan oleh Allah untuk menjadi perantara kebaikan manusia dengan Tuhan. Melalui manusia yang menjadi reresentasi sifat kasih sayang, dan seluruh sifat kebaikan Allah SWT, maka peluang doa untuk dikabulkan oleh Allah itu lebih besar.

Ketiga, digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa Allah SWT itu sedemikian gembira melihat hambanya yang berbaik sangka kepada-Nya. Allah itu sedemikian senang jika melihat hambanya yang bertaubat kepada-Nya. Selain Nabi Muhammad SAW dan Nabi atau Rasul pilihan,  yang tidak melakukan dosa, maka manusia itu tempatnya kekhilafan dan kesalahan, maka sudah sangat pantas jika kita memohon ampunan kepada Allah. Jika kita rela  dengan memohon ampunan Allah, maka Allah gembira atas kesadaran dan perilaku kita untuk memohon ampunan. Allah SWT sangat dekat bahkan digambarkan jika kita berjalan mendekat kepada Allah, maka Allah akan lari untuk mendekati kita. Ungkapan simbolik Nabi Muhammad SAW yang memiliki makna luar biasa. Jadi, tidak  ada salahnya jika kita mendekat kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENGHARAP RAHMAT ALLAH (51)

MENGHARAP RAHMAT ALLAH (51)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan yang sangat gamblang tentang bagaimana manusia harus berharap atas Rahmat Allah SWT. Pada bab ini, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Mengharapkan” atau “Roja” di dalam Bahasa Arab. Pada bab sebelumnya Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang Khouf atau takut. Biasanya dua bab ini disatukan di dalam ungkapan khouf dan raja’. Ketakutan dan pengharapan.

Setiap manusia tentu memiliki keinginan untuk mendapatkan kebaikan di dalam kehidupannya. Akan tetapi karena factor-faktor tertentu, terkadang harapan akan kebaikan tersebut tergerus atau terpendam oleh hasrat badani yang menggelegak. Nafsul Mutmainnah dikalahkan oleh nafsu hayawaniyah. Dan memang pertarungan di dalam kehidupan sebenarnya adalah pertarungan antara nafsu kebinatangan dan nafsu kemalaikatan. Makanya dikenal ada orang yang dekat dengan nafsu hayawan dan ada yang dekat kepada nafsu malaikat. Kal hayawan atau kal malaikat.

Allah memang memberikan nafsu-nafsu tersebut dalam kerangka untuk memberikan pelajaran kepada manusia. Para Nabi dan Rasul sesungguhnya diturunkan untuk kepentingan tersebut. Makanya, meskipun ada ajaran Nabi dan Rasul tetap saja ada manusia yang melakukan kebaikan dan ada manusia yang melakukan kejahatan. Bahkan di kala Harut dan Marut, dua malaikat, yang diturunkan ke bumi dan diberi nafsu oleh Allah, maka keduanya melakukan pelanggaran berat. Mulai dari minum khomar sampai membunuh orang.

Al Qur’an menjelaskan di dalam Surat Az Zumar: 53, bahwa: “katakanlah, Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Di dalam surat lain, As Saba’: 17, bahwa: “…dan kami tidak menjatuhkan adzab (orang yang demikian itu) melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”.  Lalu di dalam Surat Thoha: 48, dinyatakan: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling”.

Hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Dzar bahwa Nabi bersabda: “Allah SWT berfirman di dalam hadits Qudsi: “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipatnya, atau Aku tambahkan. Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan, maka balasannya adalah keburukan yang semisal itu Aku ampuni dosanya. Barang siapa yang mendekat padaku setangkal, maka Aku mendekat padanya sehasta, barang siapa yang mendekat kepadaku sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Barang siapa yang datang kepadaku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil. Barang siapa yang menemui Aku dengan membawa kesalahan hampir sepenuh bumi, asalkan ia tidak menyekutukan sesuatu dengan-Ku tentu Aku akan menemuinya dengan pengampunan sebanyak kesalahan yang dilakukan olehnya”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berkata Rasulullah SAW bahwa: “Ketika Allah menciptakan semua makhluk, maka dia menulis di dalam kitab, dan di dalam kitab itu ada di sisinya di  atas Arasy yang isinya, ‘sesungguhnya rahmatku mengalahkan murka-Ku”.  Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dengan demikian, pernyataan atau sabda Nabi Muhammad SAW memberikan Gambaran tentang bagaimana sesungguhnya Allah SWT memberikan ampunannya kepada hambanya dengan Rahmat-Nya. Allah SWT adalah Tuhan yang ampunannya jauh lebih besar dibandingkan dengan besarnya dosa yang dilakukan oleh manusia. Tetapi ada satu hal yang mendasar bahwa selama yang bersangkutan tidak menyekutukan-Nya.

Dari upaya untuk mencoba memahami atas teks Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW maka dapat digarisbawahi tiga hal, yaitu:

Pertama, di dalam sejarah agama-agama, Allah SWT telah menggambarkan tentang beberapa umat di masa lalu yang dikenai adzab Allah. Yang mula pertama adalah umat Nabi Nuh AS, yang diadzab Allah SWT dengan banjir besar yang mengenai seluruh dunia, dan menenggelamkan seluruh orang kafir dan orang yang berperilaku keburukan. Hanya orang yang patuh kepada perintah Allah SWT melalui Nabi Nuh AS dan mengarungi banjir bersama Nabi Nuh AS di dalam kapalnya, maka mereka selamat. Sepertinya Tuhan mereset kehidupan dan hanya menyisakan orang-orang  yang baik. Semua yang jelek dihapuskan. Lalu adzab kepada umat atau kaum Ad pada zaman Nabi Hud. Mereka ditimpa angin puting beliung yang sangat panas, dan hanya yang patuh kepada Allah yang selamat bersama Nabi Hud. Lalu ada kaum Tsamud, umat Nabi Luth, yang juga ditimpakan kepadanya adzab Tuhan sehingga yang ingkar kepada Allah menjadi punah. Jadi, Allah tidak menghabiskan semua umat tetapi memberikan peluang untuk yang berbuat baik untuk melanjutkan estafeta kehidupan.

Kedua,  Allah SWT itu Maha Rahman dan Rahim. Rahman itu dikaitkan dengan kasih sayang Allah SWT yang diberikan kepada semua makhluk di dunia, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Semua mendapatkan rahmannya Allah SWT. Tetapi Rahim itu hal yang khusus, artinya diberikan lebih khusus kepada umat Islam atau orang yang tidak menyekutukan Tuhan. Di dalam kehidupan umat manusia, maka Rahmat Allah SWT  itu akan diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang tidak menyekutukan Tuhan atau orang yang beriman kepada-Nya. Tetapi juga orang yang beramal shalih. Kabar gembira dari Allah SWT sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Muhammad SAW memberikan indikasi bahwa Allah SWT itu sedemikian besarnya Rahmat Allah kepada manusia, asal tidak berlaku syirik. Bahkan Allah itu selalu lebih besar kasih sayangnya. Jika ada orang yang kesalahannya sangat besarpun Allah SWT masih memberikan peluang untuk mengampuni dosanya, selama yang bersangkutan memohon ampunan dengan sungguh-sungguh dari Allah.

Ketiga, Ada beberapa cerita menarik, bagaimana Rahmat Allah itu datang kepada seorang hamba. Misalnya cerita tentang seorang pelacur yang dijanjikan masuk surga hanya karena menolong anjing yang kehausan. Pelacur itu dengan terompahnya mengambil air di sumur dan meminumkannya ke anjing itu dan dijanjikan akan masuk surga. Penjelasan matematisnya adalah di kala menolong anjing tersebut hati pelacur itu dalam nuansa keikhlasan yang tidak terhingga atau secara matematis angka 0, sehingga bisa bertemu dengan dzat Allah yang tidak terhingga, angka 0. Ketemunya dua ketidakterhinggaan tersebut, maka memberikan peluang Rahmat Allah datang kepadanya.

Imam Ghazali bermimpi tentang yang menyebabkan masuk surga, ternyata bukan ibadah-ibadahnya, meskipun ini sangat penting, akan tetapi adalah keikhlasannya di kala membiarkan seekor lalat meminum tinta yang dipakai menulis kitabnya. Di sinilah rahmat Allah berlaku dalam trilogy relasi: menolong (binatang atau manusia), keikhlasan dan rahmat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

TAKUT SIKSA ALLAH (50)

TAKUT SIKSA ALLAH (50)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitabnya “Ryadhus Shalihin” pada bab 50 menjelaskan tentang “Takut”. Dan kemudian saya tambahkan sebagai penegasan yaitu “Takut  Siksa Allah”. Bab ini merupakan sebuah penjelasan yang sangat komprehensif berbasis Teks Alqur’an maupun Hadits Nabi Muhammad SAW. Takut sebagaimana yang biasa diungkapkan oleh Khatib pada setiap hari Jum’at merupakan takut yang berbeda dengan takut kepada lainnya. Para khatib menjelaskan tentang taqwa itu identic dengan takut di dalam bahasa Indonesia. Hanya saja takut kepada Allah itu tidak berarti melarikan diri dari-Nya, akan tetapi justru mendekat kepada-Nya dengan cara menjauhi larangannya dan melakukan amalan-amalan yang diwajibkan dan disunnahkannya.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar manusia merasa dan mengamalkan kepatuhan kepada Allah SWT. Kepatuhan yang didasari oleh penghambaan kepada-Nya. Bukan kepatuhan yang hanya di lesan atau di luar, akan tetapi kepatuhan yang berbasis pada kesadaran batin untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah SWT menekankan agar manusia beriman kepada Allah dan menjalankan amalan shalihan. Tidak cukup dengan iman tetapi juga menjalankan amalan yang baik terhadap Allah dan terhadap sesama manusia bahkan berbuat baik kepada alam sebagai ciptaan Allah.

Semenjak Nabi Adam AS, maka perintah Allah SWT adalah menjalankan kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Jadilah seperti Habil dan jangan menjadi Qabil. Habil yang patuh pada Allah dan Qabil yang membangkang pada Allah. Sebuah realitas simbolik-empiris untuk menggambarkan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan berbuat baik dan berbuat jahat, yaitu melakukan amalan sebagaimana perintah Allah dan menjauhi perbuatan mungkar. Hingga Nabi Muhammad SAW, maka perintah itu sangat jelas, hanya saja terkadang manusia mengingkari perintah kebaikan dan jatuh pada tindakan melawan kebaikan. Di sinilah makna takut akan siksaan Tuhan, Allah Rabbul ‘alamin.

Di dalam Alqur’an Surat Al Baqarah: 40, dijelasakan: “…dan hanya kepadakulah  kamu harus takut (tunduk). Kemudian di ayat lain Surat Al Buruj: 12, dijelaskan: “Sesungguhnya adzab Rabbmu berar-benar keras”.

Alqur’an menyatakan di dalam Surat Al Haj: 2, dinyatakan bahwa: “hai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu, sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya”.

Ada beberapa hadits yang dinukil, antara lain adalah hadits yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud bahwa: “Rasulullah SAW bersabda sesungguhnya masing-nasing kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari berupa air mani, kemudian merupakan gumpalan darah dalam 40 hari kemudian segumpal daging selama 40 hari. Lalu diutuslah malaikat dan ia meniupkan roh kepada dirinya serta diperintah pula mencatat empat kalimat, yaitu mencatat tentang rezeki, ajal, amal perbuatan dan  tentang celaka dan bahagianya” Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Juga terdapat hadits yang diceritakan oleh Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah bersabda: “di antara para ahli neraka itu ada yang dijilat oleh api neraka sampai kepada kedua tumitnya. Di antara mereka ada yang dijilat api neraka sampai kedua lututnya. Ada yang sampai ke ikat pinggangnya dan ada pula yang sampai tulang lehernya”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Berdasarkan atas ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka kiranya dapat dipahami tiga hal yang sangat mendasar, yaitu:

Pertama,  Allah SWT menjelaskan bahwa ada Jannah atau surga dan ada neraka atau Nar. Surga itu peristiwa atau fenomena metaempirik yang diyakini bahwa akan terdapat realitasnya di masa depan. Neraka juga fenomena metaempirik yang diyakini bahwa akan terdapat realitasnya di masa depan. Surga adalah tempat kebahagiaan bagi orang yang beriman dan beramal saleh, sedangkan neraka adalah tempat kesengsaraan bagi orang yang ingkar akan kebenaran Allah dan melakukan kejahatan pada waktu hidupnya di dunia.

Di dalam tradisi Islam Jawa, bahwa kehidupan di dunia adalah berada di dalam alam ngelakoni janji atau alam dunia untuk melaksanakan janji kepada Allah. Di kala berada di dalam roh, maka semua manusia berjanji meyakini keberadaan Tuhan dan akan melakukan perintah Tuhan. Makanya kala di dunia, manusia harus melakukan kebaikan sebagai manifestasi akan pelaksanaan janji kepada Allah tersebut. Ada empat alam, yaitu alam roh, alam dunia, alam barzah dan alam akherat.

Kedua, ketakutan akan siksa Allah itu bukan atas fenomena duniawi yang empiris, akan tetapi ketakutan akan fenomena ukhrawi yang metaempiris. Implikasi dari keimanan kepada Allah akan dikaitkan dengan berbagai fenomena yang menyertainya. Makanya, di dalam teks suci digambarkan bahwa manusia agar takut kepada Allah sebab siksaan atas pengingkaran kepada-Nya dapat digambarkan secara metaempiric yang berupa panas yang sangat membara, bisa jadi melebihi 4000 derajat. Di dalam lapisan bumi terdapat panas api dengan 4000 derajat. Secara empiris, geologis, hal tersebut sangat nyata. Neraka itu suatu fenomena metaempiris yang harus diyakini akan terjadi di dalam rangkaian kehidupan manusia di masa depan.

Ketiga, gambaran di dalam teks suci bahwa kepatuhan hanya kepada Allah SWT. Tidak kepada lainnya. Implementasi kepatuhan kepada Allah adalah dengan mengamalkan ajaran agama sebagai diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tidak ada dualisme kepatuhan, sebab antara perintah Allah dan perintah Nabi Muhammad SAW adalah satu kesatuan. Patuh kepada Allah hakikatnya adalah patuh kepada Nabi Muhammad SAW. Semua ajaran Nabi Muhammad SAW adalah representasi dari perintah Allah SWT. Allah SWT yang sirrur asror atau kegaiban dari kegaiban tidak langsung bisa dipahami oleh manusia, maka Allah mengutus manusia yang memiliki kesamaan fisikal dan hasrat. Fisik dan hasrat  yang berbasis wahyu Allah SWT sehingga tidak  terdapat sedikitpun kesalahan di dalam ajarannya.

Di dalam konteks ajaran Islam dikenal istilah khouf dan raja’ atau rasa dan batin yang takut kepada Allah tetapi berbarengan dengan keinginan yang sangat mendalam untuk bermesraan dengan Allah. Oleh karena itu jangan hanya takut kepada Allah SWT dengan melakukan ajaran Islam, akan tetapi juga berpengharapan agar mendapatkan ridhanya Allah. Dua konsep ini saya kira sangat penting di dalam kehidupan kita. Jangan lupa berusaha dan berdoa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MELAKUKAN HUKUMAN BERBASIS DHAHIRIYAH (49)

MELAKUKAN HUKUMAN BERBASIS DHAHIRIYAH (49)

Prof. Dr. Nur Syam,MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Bada Bab 49, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Menjalankan Hukum-Hukum Terhadap Manusia Menurut Lahirnya, Sedangkan Keadaan Hati Mereka Diserahkan Kepada Allah Ta’ala”. Dari judul yang Panjang tersebut saya coba pahami dan akhirnya saya buat rumusan judul yang lebih pendek “Melakukan Hukuman Berbasis Dhahiriyah”. Saya tentu berharap bahwa pemendekan judul itu tidak mengurangi makna yang tersurat dan tersirat. Saya berusaha untuk mendapatkan pemahaman yang mendekati judul aslinya.

Manusia memang tidak memiliki kekuatan yang melebihi batas kekuatannya. Bahkan manusia hanya memiliki kemampuan yang sangat terbatas. Manusia tidak tahu apa dibalik dinding tanpa memiliki pengalaman sebelumnya. Manusia itu buta dan karena adanya sinar atau cahaya yang diterima oleh matanya saja sehingga bisa melihatnya. Cobalah di dalam kegelapan yang pekat, maka manusia tidak akan tahu apa yang ada di sekitarnya. Hanya karena  ada sinar terang di sekelilingnya, maka manusia bisa mengenali benda-benda di dekatnya.

Manusia memang bisa membuat teknologi pengindraan jarak jauh atau teleskop. Akan tetapi obyek yang dilihatnya pastilah benda-benda yang terkena sinar atau cahaya atau memantulkan cahaya. Jika benda itu gelap dan tanpa cahaya maka mata manusia juga tidak akan dapat mengamatinya. Inilah yang sesungguhnya terjadi bahwa manusia merupakan makhluk yang sangat terbatas kemampuannya dan tanpa kekuatan yang diberikan Allah SWT kepada manusia.  Maka  sesungguhnya manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Oleh karena itu,  manusia juga hanya tahu yang dhahir dan tidak tahu yang batin. Maka, di dalam menentukan aturan atau hukum juga pastilah sangat bercorak dhahiriyah saja.

Allah Ta’ala berfirman di dalam Surat At Taubah: 5, bahwa: “Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan”. Kemudian terdapat beberapa hadits yang menjelaskan tentang pemberian hukuman berbasis dhahir atas orang lain. Dinyatakan di dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diceritakan oleh Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Saya diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah, serta mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Maka jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah ta’ala”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Ada hadits lain, sebagaimana diceritakan oleh Abu Mas’ud al Miqdad bin Al Aswad berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, bagaimana pendapat anda seandainya saya bertemu dengan seorang kafir dan kami berperang, kemudian ia memotong salah satu tangan saya, lalu ia bersembunyi dariku dengan berlindung di belakang pohon serta berkata: ‘sekarang saya masuk Islam karena Allah, maka bolehkah saya membunuhnya setelah ia mengucapkan perkataan itu wahai Rasulullah’. Beliau menjawab: ‘janganlah kamu membunuhnya, aku menjawab: ‘wahai Rasulullah, tetapi ia telah memotong tanganku. Beliau bersabda lagi: “jangan kamu bunuh ia, karena seandainya kamu membunuhnya maka ia menduduki kedudukanmu sebelum kamu membunuhnya dan kamu menduduki kedudukannya sebelum ia mengucapkan perkataan yang diucapkannya itu. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari uraian di atas dan teks Alqur’an atau hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat kiranya digarisbawahi tiga hal, yaitu:

Pertama, manusia memang diciptakan oleh Allah SWT sebagai  sebaik-baik ciptaannya. Bahkan manusia juga dikaruniai kelebihan inteligensi melebihi ciptaan Allah SWT lainnya. Manusia memiliki akal, jiwa dan roh. Binatang hanya memiliki roh dan jiwa instingtif tetapi tidak dibekali dengan akal yang lengkap. Binatang tidak memiliki akal ketuhanan, akal social, akal emosional dan akal rasional. Sedangkan manusia memiliki semuanya. Akan tetapi tetap saja manusia tidak mampu menjangkau yang di dalam yang bersifat batiniah. Manusia tetap terikat dengan ciri dunia fisiknya atau inderawinya. Dan hanya orang-orang khusus yang dapat menjangkau  di luar inderawinya atau fisiknya.

Kedua, karena keterbatasan tersebut, maka di dalam memutuskan suatu perkara yang berbasis hukuman, maka manusia juga terbatas dengan kebenaran inderawinya. Suatu hukuman dinyatakan benar sejauh bisa dinalar berbasis pada kebenaran inderawinya. Bukti-bukti fisik atau materi yang menjadi ukuran kebenarannya. Sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW, bahwa di dalam perang maka di kala musuh sudah mengucapkan kalimat tauhid atau menyatakan keislamannya, maka tidak boleh untuk membunuhnya. Jadi orang mukmin yang berperang terhadap kaum kafir dan di kala kaum kafir tersebut nyaris terbunuh dan kemudian menyatakan lafal tauhid, maka tidak diteruskan untuk menghukumnya, bahkan di kala musuh itu sudah mencederai orang Islam. Secara dhahir orang kafir tersebut telah menyatakan Islam, sehingga berlaku hukum Islam.

Ketiga, manusia tidak boleh untuk menghukumi atas keyakinan batiniahnya. Jika secara dhahir memenuhi syarat untuk tidak dihukum, maka jangan dihukum. Orang yang sudah bersyahadat, maka harus dihukumi dengan cara sebagai orang Islam. Jadi yang urusan batin biarkan Allah SWT saja yang mengetahuinya, sedangkan urusan manusia adalah dimensi luarnya atau dhahiriyahnya. Terutama dalam ungkapan yang dinyatakannya. Di sinilah makna pemberian hukuman bagi orang kafir itu sampai sejauh yang bersangkutan tetap dalam kekafirannya sehingga dapat dihukum sesuai dengan kekafirannya tersebut. Jika yang bersangkutan sudah menyatakan keislamannya, maka yang bersangkutan dapat dihukum sesuai dengan hukum bagi orang Islam.

Ajaran Islam ini juga memberikan kepastian tentang bagaimana kita berlaku atas orang yang berada di dalam peperangan yang berlaku hukum jihad dalam konteks perang, akan tetapi di dalam keadaan damai, maka jihad dapat digunakan untuk kepentingan membangun perdamaian, sebagaimana inti atau substansi ajaran Islam yaitu untuk menciptakan keselamatan.

Wallahu a’lam bi al shawab.