• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MUJAHADAH (11)

MUJAHADAH (11)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Mujahadah merupakan kesungguhan dalam melakukan kebaikan apapun dalam konsepsi Islam. Menurut Syekh Imam Nawawi dalam Kitab Riyadhus Shalihin, dinyatakan bahwa Mujahadah adalah bersungguh-sungguh untuk Ikhlas kepada Allah SWT di dalam melaksanakan ibadah.

Umat Islam diharapkan untuk bersungguh-sungguh di dalam amalan ibadah. Tidak boleh separoh-separoh. Harus total. Totalitas ibadah kepada Allah dengan tingkatan Ikhlas itulah yang dikonsepsikan dengan mujahadah. Di dalam konsepsi kaum tasawuf, mujahadah adalah proses untuk beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh melalui maqam muraqabah sebagaimana yang diajarkan dalam dunia tasawuf.

Ada banyak ayat Alqur’an yang berbicara tentang mujahadah, misalnya di dalam Surat Al Ankabut: 69, dinyatakan: “dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. Di dalam Surat Muhammad: 8, dinyatakan: “sebutlah Nama Rabbmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan”. Kemudian di ayat lain disebutkan, Az Zalzalah: 7, dinyatakan: “barangsiapa yang mengerjakan  kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihatnya (balasannya)”.

Hadits Nabi juga memberikan tekanan atas mujahadah tersebut, misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah telah berkata Rasulullah: “sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku nyatakan perang terhadapnya. Sesuatu yang paling Aku sukai yang dikerjakan oleh hambaku untuk mendekatkan diri adalah mengerjakan apa yang Aku wajibkan kepadanya dan tidak ada hentinya hambaku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku merupakan pendengaran yang ia mendengar dengannya. Aku merupakan penglihatan yang ia melihat dengannya, Aku merupakan tangan yang ia gunakan menyerang dan Aku merupakan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku niscaya Aku mengabulkannya dan jika memohon perlindungan kepada-Ku nisacaya Aku melindunginya”.

Di dalam hadits lain  yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,  Anas menceritakan oleh Rasulullah SAW dari Rabbnya: “Dia berfirman apabila seorang hamba mendekat pada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan apabila dia mendekat sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, apabila hamba ini mendatangi Aku dengan berjalan, maka aku mendatanginya dengan berlari kecil”. Di dalam hadits lain sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas Rasulullah bersabda: “ada dua nikmat yang kebanyakan manusia menyia-nyiakannya yaitu kesehatan dan waktu luang”. Di dalam hadits lain juga dijelaskan bahwa Aisyah berkata: “Nabi SAW selalu bangun untuk mengerjakan salat malam sampai kedua kakinya bengkak, Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah mengapa Engkau berbuat demikian sedangkan Allah telah mengampuni semua dosamu, baik yang telah lampau maupun yang akan datang”. Beliau menjawab “apakah tidak sepantasnya jika Aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur”.

Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka diketahui bahwa mujahadah  dalam konsepsi tasawuf adalah usaha sungguh-sungguh dan perjuangan batin untuk melawan hawa nafsu, gangguan setan, dan rendah hati untuk menyucikan diri atau jiwa atau disebut tazkiyatun nafs untuk mendekatkan diri kepada Allah”. Di dalam dunia tasawuf, mujahadah adalah perjuangan batin untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melawan godaan hawa nafsu yang didorong oleh gangguan  setan dengan cara melakukan dzikir atau wirid sesuai dengan petunjuk para guru yang bersambung sanadnya sampai Rasulullah SAW baik melalui Sayyidina Ali atau Sayyidina Abu Bakar.

Untuk  menjalankan ibadah secara sungguh-sungguh, baik ibadah yang khusus kepada Allah maupun ibadah secara umum kepada sesama manusia, maka  harus dilakukan secara istiqamah dan kesungguhan batin. Untuk memahami mujahadah maka perlu hal-hal sebagai berikut:

Pertama, kedekatan orang khusus atau orang yang khawas.  Ada orang yang mampu beribadah dengan tingkatan kesungguhan secara optimal. Di dalam konteks ini, misalnya adalah para waliyullah yang memiliki kelebihan dibandingkan  dengan manusia atau umat Islam pada umumnya. Mereka adalah orang yang digambarkan oleh Alqur’an orang yang mendekat atau taqarrub ilallah dengan kesungguhan, dan di dalam hal ini, maka para waliyullah itu, semakin dekat kepada Allah,  maka Allah akan semakin dekat kepadanya. Dan setiap kedekatan dipastikan akan diganjar dengan ganjaran yang tidak terhingga. Digambarkan bahwa begitu dekatnya, maka semua perilakunya adalah cerminan Allah SWT. Cahaya Allah yang gilang gemilang.

Kedua, kedekatan kaum awam atau umat Islam yang tidak memiliki kedekatan khusus kepada Allah SWT. Orang yang seperti ini adalah orang yang juga berkesungguhan mendekat kepada Allah akan tetapi tidak mampu untuk memasuki relung Cahaya Allah SWT. Mereka melakukan ibadah secara istiqamah dan sungguh-sungguh,  akan tetapi belum bisa mencapai maqam musyahadah bil batin. Perilaku ibadahnya masih berada di dalam lingkaran antara luar dan dalam,  tetapi tidak masuk ke dalam dengan menghunjamkan batinnya.

Bagi yang merasa masih seperti ini, maka Allah SWT juga menjanjikan pahala sebagaimana yang dijanjikannya. Allah tidak akan mengingkari janji. Tetap ada surga yang disediakan baginya. Dan tetap akan bisa bersama Rasulullah kelak di yaumil akhirat. Yang penting konsisten beribadah dengan melakukan rukun Islam: shalat, zakat, dan puasa. Kemudian memperbanyak sedekah sesuai dengan kemampuannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENYEGERAKAN KEBAIKAN (10)

MENYEGERAKAN KEBAIKAN (10)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Saya akan membahas mengenai satu tema di dalam karya Syekh Imam An Nawawi pada Bab yang ke 10 dengan tema yang panjang: “Bersegeralah kepada Kebaikan dan Menganjurkan Kepada Orang Menuju Kebaikan,  Segera Menghadapinya dengan Sungguh-sungguh Tanpa Keraguan” dengan tema yang lebih simple sebagaimana judul di atas. Bab ini membahas tentang bagaimana umat Islam bisa menyegerakan perilaku kebaikan agar melakukannya dengan sungguh-sungguh tanpa keraguan.

Tidak ada yang menyangkal bahwa semua ajaran agama memberikan ajaran untuk berbuat baik. Kebaikan merupakan bahasa universal di dalam agama-agama. Tidak ada agama yang mengajarkan untuk berbuat jahat, berbuat jelek, untuk mendhalimi orang lain dan mengajarkan kekerasan dan konflik social. Semua agama mengajarkan agar di dalam kehidupan itu terdapat kerukunan atau harmoni social. Dan untuk memperolehnya, maka kata kuncinya adalah perbuatan yang baik,.

Kebaikan merupakan inti ajaran Islam. Setiap perkataan beriman dilanjutkan dengan beramal kebaikan. Itulah ciri Islam, tidak berhenti kepada iman kepada Allah dan iman-iman lainnya, tetapi harus ditindaklanjuti dengan beramal shaleh atau berlaku kebaikan baik bagi dirinya, keluarga dan masyarakat pada umumnya. Orang yang bisa melakukannya akan diganjar dengan surganya Allah dan akan kekal di dalamnya. Ada banyak ayat di dalam Alqur’an yang membicarakan hal ini.

Di dalam Alqur’an misalnya terdapat ayat yang membahas agar kita secepatnya mengamalkan amalan kebaikan, sebagaimana tertera di dalam Surat Al Baqarah: 148, yang menyatakan “Maka berlomba-lombalah  (dalam membuat) kebaikan”. Di dalam surat lain Ali Imran: 133, dinyatakan: “dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi  yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa”.

Mengenai menyegerakan melakukan kebaikan, hadits Nabi Muhammad SAW menceritakan: “Abu Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah  SAW bersabda: bersegeralah kalian untuk mengerjakan  amal-amal shaleh, karena akan terjadi bencana yang menyerupai sepotong malam yang gelap gulita, yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman tetapi pada waktu sore dalam keadaan kafir. Atau pada waktu sore dia dalam keadaan beriman tetapi pada waktu paginya dia berada di dalam keadaan kafir. Dia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia”.

Islam memberikan arahan agar kita segera melakukan kebaikan, terutama jika kita selesai melakukan kesalahan, kekhilafan atau dosa. Di dalam sebuah hadits, yang biasa dibacakan oleh khatib shalat Jum’at yang menyatakan: “bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu sekalian berada. Dan ikuti kejelekan dengan kebaikan maka kebaikan itu akan menghapus kesalahan dan berakhlaklah kepada sesama manusia dengan akhlak yang baik”. Hadits ini menjelaskan agar manusia segera melakukan kebaikan pasca melakukan kesalahan dan membangun relasi social yang baik kepada sesama manusia.

Berdasarkan atas substansi Alqur’an dan hadits ini, maka kiranya dapat dipahami beberapa hal, yaitu:

Pertama, menyegerakan berbuat baik adalah perbuatan individual. Artinya, bahwa harus ada dorongan dari dalam diri manusia atau motif internal untuk melakukan perbuatan baik. Jangan menunda berbuat baik. Karena sesungguhnya manusia tidak tahu akan kepastian Tuhan tentang kita, misalnya usia kita kapan berakhir atau kebertahanan kita di dalam menghadapi gelombang kehidupan. Misalnya godaan untuk tetap beragama Islam sampai akhir hayat kita. Doa kita adalah “wa tsabbit Imanana”. Yang artinya “Kekalkan iman kami”.

Kedua, Allah meminta kepada kita agar segera atau mempercepat bertaubat kepada Allah SWT. Bertaubat dengan ucapan memohon ampun atau istighfar, astaghfirullah, atau juga dengan segera melakukan kebaikan yang dapat menghapus kesalahan, kekhilafan atau dosa. Kita harus berlomba-lomba beramal kebaikan. Jangan ditunda pada kesempatan lain. Salah satu kekuatan dalam menghadapi kehidupan duniawi yang kompleks adalah dengan berlomba-lomba  untuk melakukan kebaikan. Siapa yang banyak melakukan kebaikan, maka dialah yang beruntung di hadapan Allah SWT.

Ketiga, perbuatan baik itu didasari oleh ketaqwaan kepada Allah. Sebaik-baik umat yang beragama Islam adalah umat yang paling baik ketaqwaannya. Allah tidak akan menilai seseorang dari kebaikan kulitnya, kecantikan wajahnya, kegantengan tubuhnya, keelokan fisiknya akan tetapi kebaikan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Iman, taqwa dan amal shalih adalah trilogy umat terbaik. Dengan iman kita meyakini akan kekuasaan Allah, dengan ketaqwaan akan mengarahkan kita untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan yang jelek dan dengan amal shaleh akan mengantarkan kita kepada keridlaan Allah. Marilah kita menjadi umat Islam yang dapat meneladani kehidupan Rasulullah yang penuh dengan keteladanan iman, taqwa dan amal shaleh.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MERENUNGKAN CIPTAAN ALLAH (9)

MERENUNGKAN CIPTAAN ALLAH (9)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada bab ini, Syekh An Nawawi menjelaskan tentang tema yang penting, yang berjudul “Merenungkan tentang Keagungan Makhluk-Makhluk Allah dan Rusaknya Dunia dan Huru-Hara Akhirat dan Semua Perkaranya, Kelalaian Diri dan Mendidiknya serta Mengajaknya untuk Bersikap Istiqamah”. Karena panjangnya judul ini, maka saya buat judul yang lebih sederhana sebagaimana tercantum di atas.

Sebagaimana dijelaskan di dalam Surat As Saba’: 46, Allah berfirman: “…sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepada suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan Ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad)”. Di dalam Surat Ali Imran: 190-191, Allah berfirman: “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi  (seraya berkata) , Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Di dalam Surat Al Ghasiyah: 17-21, Allah berfirman: “maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan, dan langit bagaimana ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana Dia tegakkan. Dan bumi bagaimana Dia hamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”. Ada juga sebuah hadits, yang menyatakan: “orang yang cerdik ialah orang yang selalu memperhitungkan  (muhasabah) keadaan dirinya”.

Islam adalah agama akal. Artinya Islam begitu menghargai akal manusia yang diciptakan Allah untuknya. Bukan akal yang statis tetapi akal yang dinamis. Akal statis adalah akal yang sama sekali tidak dipergunakan berpikir, sedangkan akal dinamis adalah akal yang selalu digunakan untuk berpikir tentang ciptaan Allah SWT. Islam menganjurkan agar kita berpikir tentang ciptaan Allah dan tidak berpikir tentang Dzat Allah. Manusia diberikan kesempurnaan akal atau inteligensi, yaitu rasional intelligent atau akal murni yang bisa berpikir tentang untung rugi, benar salah dan menentukan pilihan mana yang dipilih di atas beberapa pilihan yang diketahuinya. Berbeda dengan binatang yang hanya dilengkapi dengan insting saja. Insting atau naluri adalah perilaku bawaan sejak lahir yang tidak dipelajari, terjadi secara otomatis dan diturunkan secara genetik yang berguna untuk mempertahankan kehidupan. Manusia dan binatang memiliki kemampuan tersebut.

Manusia juga diberi emotional intelligent atau kecerdasan rasa. Manusia memiliki perasaan yang berbasis hari nurani yang memiliki kepekaan atas kenyataan keilahian dan kemanusiaan bahkan kepekaan kealaman. Kenyataan keilahian bisa hadir dalam diri manusia yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, manusia juga memiliki kecerdasan atas perasaan kemanusiaan dan juga atas alam seluruhnya. Manusia juga diberikan kecerdasan sosial yang dapat mengantarkan pada akal sehat atas rasa kemanusiaan. Ada simpati dan empati. Ada rasa sayang dan setia, ada rasa cinta dan kebahagiaan. Dan yang tidak kalah penting, manusia diberikan kecerdasan spiritual, yaitu kecerdasan berbasis cita rasa ketuhanan. Manusia bisa berdekatan dengan Tuhan melalui terbukanya hijab yang menyelimuti relasi antara keduanya.

Melalui Alqur’an dan hadits, manusia dapat mendekati Allah dengan berbagai cara, yaitu:

Pertama,  mendekati Allah dengan kemampuan ilmu pengetahuan. Allah melebihkan derajad orang-orang yang beriman. Orang yang menggunakan akal pikirannya untuk meneliti tentang eksistensi Tuhan. Orang yang pada tataran pikiran membenarkan tentang keyakinan bahwa ada Dzat Maha Agung yang merancang, mendesain, menciptakan dan memelihara alam yang sedemikian kompleks. Tidak mungkin alam yang teratur itu terjadi dengan sendirinya. Dipastikan ada Akal Agung yang menciptakannya. Asyhadu anla ilaha illallah. Tuhan yang menciptakan dan memelihara seluruh tata surya dengan kehidupannya. Di dalam teks suci dinyatakan agar manusia menggunakan akalnya untuk merenung dan berpikir tentang ciptaan Allah atau disebut berpikir tentang ayat-ayat kauniyah.

Kedua, orang yang mendekati Allah dengan mata batinnya. Allah itu ghaibul ghuyub atau sirrul asrar. Tuhan itu kegaiban dari yang paling gaib, dan rahasia dari yang paling rahasia. Makanya untuk bisa masuk ke dalamnya harus menggunakan pendekatan yang khas, yang disebut sebagai kasyaf atau tersingkapnya hijab antara kegaiban Tuhan dengan spiritualitas manusia. Tuhan telah membekali manusia dengan spiritual intelligent yang sangat unik, dan  memberikan instrumen untuk menguasainya. Instrumen tersebut adalah dzikir atau wirid yang metodenya sudah diberikan oleh Rasulullah SAW dan ditafsirkan melalui otoritas para ulama yang hebat.

Ketiga, orang yang mendekati Allah dengan kemampuan yang terbatas. Orang awam tetapi selalu menjaga keimanannya dan ibadahnya. Orang yang di dalam keimanannya sangat sederhana tetapi meyakini dengan sepenuh hati tentang siapa Tuhannya. Sebagaimana seorang penggembala yang akan dibeli satu dombanya dan tidak usah bercerita kepada pemiliknya. Dirayu untuk  memberikannya tetapi tetap pada keyakinannya. Di kala dinyatakan bahwa pemiliknya tidak tahu, maka si penggembala menyatakan fa ainallah. Lalu di mana Allah. Pemiliknya tidak tahu tetapi Allah mengetahuinya. Bagaimana dengan kita?

Wallahu a’lam bi al shawab.

ISTIQAMAH (8)

ISTIQAMAH (8)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Istiqamah merupakan istilah yang sudah sangat kita kenal. Istiqamah biasanya dikaitkan dengan ibadah kepada Allah SWT. Istiqamah merupakan suatu konsep yang mengacu kepada keberlanjutan dan kepatuhan tiada henti kepada Allah tanpa jeda dengan menjalankan secara rutin untuk beribadah kepada-Nya. Orang yang dinyatakan sebagai istiqamah adalah orang yang beribadah kepada Allah tanpa jeda, terus menerus, continue. konsisten dan rutin.

Istiqamah sesungguhnya memiliki makna yang lebih luas. Dapat diartikan sebagai keteguhan di dalam keyakinan atau mengesakan Allah tanpa batas, membela keyakinannya tanpa batas, dan mematuhi akan perintahnya tanpa batas. Tidak ada dinding sekat yang bisa mengurangi keyakinannya tersebut. Semua diberikannya kepada Allah SWT. Selain itu juga istiqamah di dalam menjalankan ajaran Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Tidak berkurang sedikitpun untuk beribadah di mana saja dan kapan saja. Juga terus menerus atau rutin berbuat baik, sebagai manifestasi keyakinannya kepada Allah SWT. Diyakini bahwa Allah Maha Baik dan akan memberikan balasan atas amal kebaikannya.

Ada banyak contoh, misalnya keteguhan iman Masyitah pada zaman Fir’aun. Dia diancam dan dimasukkan ke dalam bak berisi air mendidih dan tidak goyang sedikitpun keimanannya. Atau Aisyah istri Fir’aun yang memiliki keteguhan hati tidak mau menuruti perintah Fir’aun bahkan di kala akan disetubuhinya. Allah menyelamatkan Aisyah dengan mengirim Jin yang dapat menyerupai Aisyah sehingga Aisyah selamat dari hubungan seks yang tidak akan dilakukannya di dalam menjaga imannya. Sahabat Bilal yang disiksa oleh orang-orang Quraisy agar murtad dan tidak dilakukannya. Bilal akhirnya menjadi muadzin Rasulullah yang luar biasa. Subhanallah.

Allah SWT di dalam Surat Hud: 112,  menyatakan: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu”. Di dalam Surat lain, Al Ahqaf: 13-14, dinyatakan: “sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula)  berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang mereka lakukan”.

Dua ayat ini memberikan kabar gembira kepada umat Islam, bahwa pahala tertinggi bagi orang yang istiqamah adalah dapat memperoleh surganya Allah. Mereka akan kekal di dalam surga tersebut dengan berbagai fasilitas yang menyenangkan. Catatannya bahwa manusia tersebut harus melakukan kebaikan secara terus menerus, continue dan rutin. Rutinitas atas amalan kebaikan yang akan menjadikannya terpelihara dari perbuatan jelek yang menyesatkan.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Amir, ada yang menyatakan dari Abu Amrah Sufyan bin Abdullah, dia berkata: “Saya bertanya Wahai Rasulullah:   katakanlah kepadaku suatu ucapan dalam ajaran Islam yang saya tidak dapat menanyakannya tentangnya selain Engkau, Beliau menjawab: katakanlah saya beriman kepada Allah kemudian berlaku istiqamahlah”. Hadits  diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Pada hadits lain, sesuai dengan Riwayat Abu Hurairah, Dikatakan: berkata Rasulullah: “dekatkan dan tepatilah oleh kalian. Dan ketahuilah, tidak ada seorangpun di antara kalian yang selamat karena amal perbuatannya. Para sahabat bertanya: tidak juga Engkau Wahai Rasulullah? Beliau menjawab: tidak juga saya, melainkan jika Allah meliputiku dengan Rahmat dan karunianya”.

Istiqamah secara istilah adalah sikap teguh pendirian, konsisten dan selalu dalam menjalankan kepatuhan atau ketaatan kepada Allah SWT dalam keyakinan atau ketauhidan atau akidah, peribadahan atau penyembahan dan ritual kepada Allah serta berakhlak sesuai dengan nilai-nilai di dalam Islam. Dengan demikian istiqamah merupakan perilaku yang secara konsisten dilakukan oleh seorang hamba baik dari sisi teologis, ritual dan akhlak. Selain itu juga berupaya untuk dapat menjauhi larangan-larangan Allah SWT secara konsisten.

Bagaimana caranya kita membangun istiqamah, yaitu:

Pertama,  menjaga imannya kepada Allah SWT. Tidak pernah ragu akan keyakinannya tersebut. Tidak mempertanyakan tentang kekuasaan Allah sebagai pencipta dan pemelihara. Kita diperbolehkan untuk merenungkan dan memikirkan ciptaan Allah tetapi tidak boleh menanyakan tentang dzat Allah. Maka ungkapan yang benar adalah saya beriman kepada Allah dan akan konsisten dengannya. Kita harus meyakini bahwa Allah SWT mengetahui yang lahir dan batin, meskipun itu di dalam kejauhan batin kita.

Kedua, menjaga ibadah kepada Allah melalui sunnah Rasulullah SWT. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah apa yang kita lakukan. Ada sesuatu yang konsisten tidak berubah dan ada yang bisa berubah tetapi tidak bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Ada substansi ajaran Rasul dan ada yang assesori yang sesungguhnya tidak bertentangan dengan ajaran Rasul. Misalnya substansi haji adalah muqim di Arafah,  tetapi cara untuk sampai di situ ditentukan oleh factor kezamanannya. Jangan menambah shalat wajib, jangan menambah syahadat, jangan menambah hari di dalam ibadah ramadlan, harus sebulan. Adapun cara untuk memahami kapan hilal sudah eksis atau belum adalah kawasan tafsir para ulama.

Ketiga, menjaga akhlak agar selalu berada di dalam kaidah-kaidah di dalam Islam. Misalnya dalam relasi social, maka gunakan qaulan layyinan atau tutur kata yang lembut, gunakan qaulan kariman atau pernyataan yang menyenangkan, dan sebagainya. Jangan menyakiti orang lain, karena suatu ketika kita akan disakiti. Di dalam konsepsi Jawa disebut ngunduh wohing pakarti atau memanen atas apa yang dilakukan.

Keempat, menjaga hablum minallah atau hubungan yang mesra dengan Allah SWT. Tuhan itu kekasih yang tidak ada bandingannya. Maka manusia harus berlaku sebagai seorang kekasih yang patuh dan setia atas apa yang dimintanya dan memenuhi semua tuntutannya. Kemudian menjaga relasi atau hablum minan nas. Hubungan manusia yang dikehendaki oleh Islam adalah hubungan yang selaras, serasi dan seimbang. Di dalam konsepsi Jawa dinyatakan “aja sapa sira sapa ingsung” atau menganggap diri paling hebat, paling bermanfaat, paling benar dan sebagainya. Dan tidak kalah penting juga menjaga alam atau hablum minal alam atau berbuat baik kepada sesama ciptaan Allah, jangan hanya memanfaatkan alam tetapi juga memberikan kehidupan yang layak bagi alam.

Kelima, menjaga marwah dan martabat sebagai orang beragama. Orang beragama akan dilihat oleh orang lain atas apa yang menjadi performance-nya. Apa yang dilakukan dan apa yang disuguhkan dalam relasi social. Jangan sampai ada tindakan kita yang merugikan orang lain. Harus diupayakan agar tindakan kita menggembirakan orang lain. Sudahkah kita seperti ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

YAKIN DAN TAWAKKAL (7)

YAKIN DAN TAWAKKAL (7)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim. Di dalam Islam keyakinan akan adanya Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara alam secara keseluruhan, Tuhan sebagai Ilah dan Rabb, merupakan pangkal dari kepemelukan atas agama. Tanpa adanya keyakinan akan ketuhanan, maka dipastikan tidak ada yang disebut sebagai agama. Manusia harus menyaksikan dengan seluruh pikiran dan hatinya bahwa Allah itu eksis di dalam kehidupan alam seluruhnya. Selain itu agama juga berkaitan dengan keyakinan tentang kerasulan Muhammad SAW. Syahadat adalah pokok utama dalam Islam.

Menurut Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, maka iman ada kaitannya dengan tawakkal. Bahkan dinyatakan bahwa Iman adalah pangkal ketaqwaan. Takwa adalah buah dari iman. Yakin dan tawakkal adalah dua kata yang saling terkait. Iman hadir untuk menjadi basis bagi ketawakalan dan tawakkal hadir untuk semakin memperkuat iman. Tidak ada tawakal tanpa iman. Bahkan iman itulah yang menggerakkan seluruh amal ibadah manusia kepada Allah SWT.

Di dalam Alqur’an banyak dijelaskan tentang iman dan tawakal. Di dalam Surat Al Furqan: 58, dinyatakan: “Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati”. Kemudian di surat lain, Ibrahim: 11, dinyatakan: “Dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin bertawakal”. Lalu di dalam Surat Ali Imran: 159, dinyatakan: “…kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. Serta ayat lain, Surat At Thalaq: 3, dijelaskan: “dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah akan mencukupkan (keperluannya)”.

Ayat-ayat  Alqur’an tersebut memberikan gambaran nyata tentang betapa manusia harus tawakal atau berserah diri kepada Allah. Tidak  ada yang patut untuk menjadi tempat berserah diri kecuali Allah SWT. Orang yang beriman adalah orang yang dipastikan akan mempercayai apa yang ditakdirkan Tuhan, apa yang sebaiknya dilakukan oleh Tuhan kepada dirinya. Ada barang sesuatu yang menurut kita baik, terkadang tidak baik menurut Allah SWT. Dan kita baru tahu jika sesuatu telah terjadi. Bisa saja kita menyesal karena terlambat naik pesawat, tetapi kita baru tahu kalau terjadi sesuatu dengan pesawat tersebut. Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Begitulah adanya.

Di antara banyak hadits yang dituliskan oleh Syekh Imam An Nawawi, saya akan membahas dua hadits saja yang mendasar dalam kaitannya dengan keyakinan dan ketawakalan kepada Allah SWT. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam At Tirmidzi, sebagaimana diceritakan oleh Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “andaikan kalian bertawakal  kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana dia memberikan rezeki kepada burung. Keluar pada pagi hari dengan perut kosong dan kembali sore hari dengan perut kenyang”.

Hadits lain juga menjelaskan sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin Ummu Salamah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dan Imam Abu Dawud, dinyatakan: “Nabi SAW apabila keluar dari rumahnya, Beliau berdoa dengan menyebut nama Allah, saya bertawakal kepada Allah. Ya Allah sesungguhnya saya memohon perlindungan kepada-Mu jangan sampai aku menyesatkan atau yang disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menganiaya atau dianiaya, berbuat bodoh atau diperlakukan bodoh”.

Dari ayat-ayat Alqur’an dan hadits- hadits ini, ada beberapa pelajaran yang dapat dipahami, yaitu:

Pertama, manusia harus selalu memohon pertolongan kepada Allah SWT. Allah adalah  penolong terbaik untuk  kehidupan manusia. Diceritakan di dalam hadits lain, bahwa Rasulullah sedang beristirahat di bawah pohon dengan pedang ditaruh di dahannya. Lalu datanglah seorang Badui yang menjadi musuhnya. Maka orang itu dengan pedang terhunus menyatakan  siapa yang akan menolongmu, maka Rasulullah SWT menyatakan Allah SWT yang akan menolongnya sampai tiga kali Rasul menyatakannya. Maka orang itu ternyata tidak berbuat apa-apa.

Kedua, kepasrahan  tiada taranya. Kepasrahan total. Full tawakkal. Jika manusia pasrah kepada Allah pasti akan ada pertolongan. Allah tidak akan membiarkan hambanya berada di dalam kesulitan yang tidak mampu diatasinya. Allah menyatakan: “hasbunallahu wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir”. Di dalam ayat lain dinyatakan: “huwa maulana wa ‘alallahi fal yatawakkalil mu’minun”. Ini merupakan doa kepasrahan kepada Allah SWT. Doa yang layak untuk dibacakan oleh umat Islam.

Ketiga, tawakal tidak berarti diam. Tetapi tawakal itu dinamis. Penuh usaha. Sebagaimana burung pagi perutnya kosong lalu berkelana mencari rezekinya Allah SWT yang bertebaran di alam dan dengan usaha tersebut maka sore hari burung itu penuh perutnya. Perhatikan bagaimana burung merawat anaknya. Burung itu terbang jauh untuk menemukan makanan yang cocok untuk anaknya, dan jika sudah didapatkannya maka burung itu kembali ke sarangnya untuk memberi makan anaknya. Demikianlah seterusnya.

Keempat, tawakal itu berusaha dan berdoa. Allah dipastikan akan memberikan rezeki kepada makhluknya, tanpa ada kata tidak. Semuanya dipastikan ada rezekinya. Ada cadangan makanannya. Dikisahkan ada seorang yang tidak bisa bergerak ke mana-mana karena tangan dan kakinya tiada. Maka Allah itu memberi makanan melalui makhluk lain yang diberikan kepadanya. Ada instrument yang digunakan oleh Allah untuk hambanya. Bagi yang berkecukupan fisiknya, maka harus menggunakan tangan dan kakinya, otak dan hatinya, untuk menemukan makanan yang menjadi rezekinya. Allah SWT tidak menurunkan emas dan perak ke bumi tetapi perak dan emas itu harus diupayakan keberadaannya.

Kelima, Rasulullah yang utusan Allah dan ma’shum atau nirdosa saja selalu berdoa kepada Allah agar dirinya tidak menyesatkan, tidak mendurhakai dan tidak membodohi atau menggelincirkan manusia ke dalam kesesatan. Rasulullah memohon kepada Allah SWT agar bisa melakukan perbuatan yang terbaik untuk umatnya. Bagaimana dengan kita?

Wallahu a’lam bi al shawab.