• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TAQWA (6)

TAQWA (6)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim. Kita semua sudah sangat mengenal tentang kata taqwa. Kata ini menjadi kata yang utama di dalam khutbah yang setiap Jum’at kita dengarkan. Sungguh kata taqwa merupakan kata kunci di dalam kehidupan beragama dan kehidupan pada umumnya. Takwa merupakan kunci untuk beribadah kepada Allah SWT. Tanpa takwa beribadah itu tidak ada artinya. Mengucapkan kata taqwa menjadi salah satu syarat sahnya khutbah Jum’at.

Kata taqwa itulah yang dibahas oleh Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitabnya Riyadhus Shalihin. Kata taqwa tersebut dapat menjadi pembeda bagi manusia untuk memahami  mana yang haq dan mana yang bathil. Mana yang benar dan mana yang salah. Allah selalu memberikan kepada manusia untuk melakukan introspeksi atas kesalahan yang dilakukannya. Allah selalu memberikan peluang agar manusia selalu berada di jalannya, jalan Islam.

Ayat Alqur’an dalam Surat Ali Imron: 3, menyatakan: “Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa”. Atau di dalam Surat At Taghabun: 6; dinyatakan: “Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu”. Atau ayat lain dalam Surat At Thalaq: 2-3, dinyatakan: “barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”.

Ayat Alqur’an, sebagaimana terjemahannya di atas memberikan gambaran bahwa manusia diharapkan bahkan diwajibkan untuk bertaqwa kepada Allah, di mana Allah akan memberikan sesuatu yang terbaik baginya. Yang terbaik tersebut bisa berupa petunjuk ke arah kebaikan, maupun rejeki yang sesuai dengan takarannya bahkan yang tidak disangkanya.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, dinyatakan sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa sesungguhnya Nabi  SAW berkata: “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu akan petunjuk, ketaqwaan, menahan diri dari apa-apa yang tidak diperkenankan, serta perasaan cukup”. Di dalam hadits lain dinyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Umamah Shadai bin Ajlan Al Bahili bahwa “saya mendengar Rasulullah berkhutbah pada Haji Wada’, Beliau bersabda: “Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah, kerjakanlah shalat lima kali sehari, puasalah pada Bulan Ramadlan, tunaikanlah zakat harta bendamu, dan taatilah pemimpin-pemimpin kalian, maka kamu semua akan masuk surga Tuhanmu”.

Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi ini, dapat dipahami bahwa bertaqwa merupakan bagian tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Bertaqwa adalah instrument di dalam beragama. Makna taqwa adalah menjaga, melindungi, atau mengekang diri dari murka Allah. Itulah yang sering diterjemahkan oleh para khatib sebagai arti taqwa adalah takut kepada Allah. Cuma saja berbeda ketakutan manusia kepada hewan buas, yang kita harus melarikan diri, akan tetapi ketaqwaan kepada Allah justru untuk mendekatinya atau semakin taqarrub kepada Allah SWT.

Lalu bagaimana cara untuk bertaqwa kepada Allah, yaitu: pertama, menjalankan perintah Allah dengan segala kemampuan yang kita miliki. Hendaknya perintah Allah sebagaimana hadits di atas ialah bersaksi bahwa hanya Allah yang patut disembah, Tuhan seluruh alam. Kemudian menjalankan shalat, mengeluarkan zakat, puasa pada bulan Ramadlan dan taatilah para pemimpin. Tentu saja adalah pemimpin yang jujur, amanah, menjadi teladan  dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Pemimpin yang tidak menganggap masyarakat hanya sebagai obyek tetapi sesama subyek yang memiliki pikiran dan perasaan.

Kedua, menjaga amal perbuatannya di dalam kebaikan. Apa yang dilakukannya dapat menyenangkan hati dan perasaan orang lain. Berkata yang sopan dan bertutur sapa yang membuat orang merasa damai. Menjaga lesan, tindakan dan perilaku yang selalu berada di dalam koridor nilai-nilai Islam yang luhur.

Ketiga, menjaga husnudh dhan kepada Allah. Selalu berbaik sangka kepada Allah. Tidak pernah terlintas di dalam dirinya untuk berburuk sangka kepada Allah. Jika suatu ketika berdoa kepada Allah dan belum dikabulkan maka tidak menjustifikasi bahwa Allah tidak sayang kepadanya. Setiap segala sesuatu yang terjadi berbasis kepada kasih sayang Allah SWT.

Keempat, menjauhi atas tindakan yang bisa dimurkai oleh Allah SWT. Ada banyak perbuatan yang bisa dinyatakan sebagai maksiat, dan sebaiknya bahkan seharusnya sebagai umat Islam dapat menghindarinya. Jika perbuatan itu akan terjadi marilah dibaca “audzu billahi minasy syaithanir rajim”. Atau jika sudah terjadi, maka sesegerakan untuk membacakan istighfar atau shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan harapan memperoleh syafaatnya. Saya kira manusia di dunia selain para Nabi yang ma’shum dipastikan melakukan perbuatan yang salah. Bahkan Nabi Adam harus turun ke bumi untuk menjadi khalifah karena melakukan kesalahan. Tetapi membaca “Rabbana dhalamna anfusana wa inlam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khasirin”.  Yang artinya: “Wahai Tuhan kami, alangkah dhalimnya jiwa kami, dan jika tidak engkau ampuni dan  Engkau Rahmati hidup kami, maka kami akan termasuk orang yang merugi”. Allah memberikan ampunan karena kesungguhan doa yang dilantunkannya.

Kelima, menjaga keluarga agar selalu di jalan Allah. Termasuk di antara yang dapat menjaga ketaqwaan adalah dengan menjaga keluarga kita agar selalu berada di dalam Islam. Islam mengajarkan agar keluarga kita terus beriman dan beribadah kepada Allah. Di dalam Islam diajarkan sebagaimana perintah Allah: “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Melalui penjagaan kepada keluarga, maka kita akan hidup dengan tenang dan penuh dengan kegembiraan.

Wallahu a’lam bial shawab.

MURAQABAH (5)

MURAQABAH (5)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Muraqabah bisa diterjemahkan dengan pengawasan atau pengontrolan yang dilakukan Allah SWT atas hambanya. Muraqabah dalam pemahaman kaum tasawuf bahwa  manusia yang merasa selalu di dalam pengawasan Allah SWT di mana dan kapan saja. Muraqabah dapat dikaitkan dengan konsep ihsan, yaitu suatu prinsip di dalam ajaran Islam bahwa manusia beribadah kepada Allah seakan-akan Allah di hadapan kita dan jika kita tidak dapat melihatnya, maka yakinlah bahwa Allah melihat kita.

Ihsan adalah ajaran Islam yang sejajar dengan iman, dan Islam. Di dalam satu episode turunnya wahyu melalui Malaikat Jibril, maka suatu waktu datanglah Jibril dengan berubah bentuk seperti orang Arab yang tampan, dan mengajarkan kepada Nabi Muhammad tentang ma huwal iman, ma huwal Islam dan ma huwal ihsan. Muraqabah ada kaitannya dengan Ihsan sebuah proses terus menerus bahwa manusia selalu berada di dalam pengawasan Tuhan.  Dimana  saja kita memalingkan wajah maka di situ terdapat kekuasaan Allah. Wajah Allah dapat dimaknai sebagai kekuasaan.

Di dalam Alqur’an Surat Al Hadid: 4, dinyatakan: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada”. Atau di dalam Surat Ali Imron: 5, juga dinyatakan: “sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang bersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit”. Di salam surat Asy Syu’ara: 218-219 dinyatakan: “Yang melihat kamu Ketika kamu berdiri (untuk sembahyang) dan (melihat pula) perubahan Gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud”.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khatthab sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim, dinyatakan: “Wahai Muhammad, beritahukanlah padaku tentang Islam, Rasulullah SAW lalu menjawab: Islam adalah hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada illah (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah, hendaklah engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan dan melakukan haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya”. Ia berkata: “engkau benar”. Kami semua keheranan, karena ia bertanya dan juga membenarkannya. Ia berkata lagi: “kemudian beritahukanlah kepada kami tentang iman”. Rasulullah SAW menjawab: “hendaklah kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”. Ia bekata: “engkau benar”. Kemudian ia berkata: “kemudian beritahukanlah kepadaku tentang ihsan”, Rasulullah menjawab: “hendaklah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya, tetapi jika engkau tidak dapat melihatnya, ketahuilah sesungguhnya dia pasti melihatmu.” Ia lalu berkata: “kemudian beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat”. Rasulullah menjawab: “tidaklah orang yang bertanya  lebih mengetahui dari orang yang ditanya”. Lalu ia berkata: “kalau begitu beritahukanlah kepadaku  tentang tanda-tandanya”. Rasulullah menjawab: “apabila hamba sahaya telah melahirkan anak tuannya, dan apabila engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin-miskin dan sebagai penggembala kambing saling berlomba meninggikan bangunan”.

Hadits ini yang dijadikan dasar oleh jumhur ulama tentang rukun Islam dan rukun iman, serta bagaimana seseorang harus beribadah kepada Allah SWT. Lima rukun Islam dan enam rukun iman adalah kesepakatan Sebagian besar ulama dan disepakati bersama sebagai pilar Islam yang harus dipahamai dan dilakukan. Kaum Syi’ah memiliki rukun iman yang berbeda penyebutannya, yaitu Tauhid, Nubuwwah (Kenabian), Imamah (Kepemimpinan Ilahi), Al ‘Adl (Keadilan Tuhan)   dan Al Ma’ad (Harii Kiamat). Kita tentu tidak perlu berdebat mana yang benar. Biarkanlah masing-masing meyakini keimanan dan keislamannya. Bagi kita beriman dan berislam sebagaimana kesepakatan jumhur ulama.

Ihsan, yang kita diminta oleh Rasulullah untuk beribadah terfokus kepada Allah artinya kita dapat  menghadirkan hati kita kepada tempatnya ibadah, yaitu maqam ibrahim atau berada di Ka’baitullah atau di masjidil Haram. Tubuh kita bergerak sesuai dengan rukun dan syarat shalat, dan hati kita berada di dalam rumah Allah, maqam Ibrahim atau  masjidil haram. Ini persoalan yang berat, yaitu melakukan shalat dengan totalitas ibadah.

Muraqabah ada kaitannya dengan konsep ihsan. Di dalam literatur Islam dijelaskan bahwa ada beberapa cara untuk melakukan muraqabah atau merasa di dalam pengawasan Allah sehingga kita akan mendekat kepada-Nya, yaitu: pertama, dengan instrument mencintai Allah dan rasulnya melebihi cinta kepada lainnya. Cinta kepada Allah diajarkan oleh seorang sufi Perempuan, Rabiah al Adawiyah. Rabiah menyerahkan seluruh hidupnya untuk mencintai Allah dan mengabaikan cintanya kepada dunia.

Kedua, dengan cara memperoleh Ridha Allah SWT. Pasrah, tawakkal dan ridha atas apapun yang diberikan oleh Tuhan kepada kita semua. Jika Allah sudah ridha atas apa yang dilakukan manusia, maka Allah akan menurunkan rahman dan rahimnya kepada manusia tersebut. Di antara tokoh tasawuf yang mengajarkan tentang pentingnya ridha kepada Allah adalah Hasan al Bashri.

Ketiga, dengan jalan khauf,   yaitu takut atas adzabnya Allah, sehingga semua  amal perbuatannya hanya ditujukan untuk memperoleh balasan yang baik dari Allah SWT. Yang diharapkan adalah untuk mencapai maqam khauf atau kepada Allah SWT. Allah sudah memberikan peringatan agar manusia selalu menjalankan kebaikan dan menghindari kejelekan atau kejahatan. Tokoh yang mengajarkan tentang tasawuf khauf adalah Syekh Ibnu Athaillah Assakandari.

Keempat, dengan cara raja’ atau harapan akan rahmat Allah SWT. Di dalam kehidupan dipenuhi dengan upaya untuk memuja dan memuji Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW agar kelak mendapatkan syafaatnya. Rahman dan Rahim Allah dan syafaat Nabi Muhammad SAW. Konsep ini diperkenalkan  oleh Syekh Ibnu Athaillah Assakandari.

Kelima, dengan cara mengembangkan ilmu pengetahuan, yaitu berupaya untuk memperoleh kebaikan Allah dengan cara berbakti kepada dunia ilmu pengetahuan, yang dapat menerangi hati manusia. Ilmu adalah cahaya yang dapat memberikan kebaikan kepada manusia. Ada banyak ilmuwan yang menggunakan pendekatan ilmu untuk mencintai dan meyakini keberadaan Allah SWT, seperti Ibnu Sina, Al Biruni, Al Jabiri, Al Khawarizmi dan sebagainya.

kita tentu bersyukur dapat menjadi bagian dari umat Islam yang sekurang-kurangnya sudah meyakini akan kebenaran Iman, kesahihan Islam dan juga telah berupaya untuk masuk ke ihsan. mari kiya yakini bahwa yang kita lakukan ini berada di dalam jalur yang benar sesuai dengan penduan ajaran Islam yang tidak diragukan kebenarannya.

wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

 

KEJUJURAN (4)

KEJUJURAN (4)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim. Pada bagian empat, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang kejujuran berdasarkan atas kajian yang mendalam atas teks Alqur’an dan Hadits-Hadits Nabi Muhammad SAW. Sebuah kajian yang sangat mendasar dalam rangka untuk memahami bahwa kejujuran merupakan ajaran Islam yang sangat mendasar sebab terkait dengan relasi antar manusia, alam dan juga Tuhan yang Maha Esa.

Kejujuran merupakan ajaran inti di dalam Islam. Tanpa kejujuran, maka tatanan duniawi akan rusak. Tanpa kejujuran, maka tatanan masyarakat akan rusak, dan tanpa kejujuran maka tata kelola di dalam Masyarakat akan mengarah kepada kebinasaan, pemerintahan dan negara akan menjadi berantakan. Dari kejujuran akan mendapatkan pengakuan, dari kejujuran akan memperoleh kepercayaan dan dari kejujuran akan menghasilkan keberuntungan.

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai al Amin atau orang yang terpercaya karena kejujuran yang dimilikinya. Di kala Nabi Muhammad SAW dipercaya oleh Sayyidah Khadijah untuk berdagang ke negeri-negeri yang jauh, Negeri Syam, maka modalnya adalah kejujuran. Dari kejujuran menghasilkan keterpercayaan. Dengan kejujuran itulah akhirnya akan menimbulkan keyakinan public bahwa Muhammad adalah seorang yang jujur dan bisa menjadi modal dasar sebagai utusan Allah atau Nabi. Modal social kejujuran itulah yang meyakinkan Khadijah yang kemudian isteri tercintanya di dalam mengarungi medan dakwah yang dibebankan oleh Allah kepadanya.

Salah seorang Sahabat Nabi Muhammad SAW yang memperoleh sebutan ash-shiddiq adalah Sayyidina Abu Bakar. Abu Bakar adalah orang yang sangat mempercayai Nabi Muhammad SAW. Apa yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW,  maka Abu Bakarlah orang pertama yang mempercayainya. Tidak ada keraguan sedikitpun atas apapun yang datang dari Nabi Muhammad SAW. Di kala banyak orang yang menertawakan perjalanan Isra’ dan Mi’raj, maka Abu Bakar yang mempercayainya. Itulah sebabnya, di kala Nabi akan berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib, maka Abu Bakarlah yang menemaninya, sementara Sayyidina Ali menggantikan Nabi Muhammad di temoat tidurnya. Jika Abu Bakar mendapatkan julukan Ash-shiddiq, orang yang jujur, maka Sayyidina Ali mendapatkan julukan karramahullahu wajhah, orang yang wajahnya sangat mulia.

Ada banyak ayat Alqur’an dan hadits Nabi yang dijadikan sebagai basis di dalam membahas bab kejujuran. Akan tetapi hanya akan saya ambil dua  saja yang sangat mendasar untuk membahas mengenai kejujuran. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Riwayat Ibnu Mas’ud. Rasulullah menyatakan: “sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Sesungguhnya seseorang itu akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya berdusta itu membawa kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu membawa ke neraka. Sesungguhnya seseorang akan selalu berdusta sehingga ditulislah di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”

Demikian pula sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi sebagaimana diriyatkan oleh Abu Muhammad al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasululah menyatakan: “tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan kebimbangan”.

Mari kita coba pahami atas dua hadits yang ditulis oleh Imam An Nawawi ini. Kejujuran adalah persoalan hati. Artinya, bahwa kejujuran atau kebohongan itu terkait dengan hati. Qalbun merupakan unsur kehidupan yang sangat penting di dalam kehidupan manusia. Tidak perlu diperdebatkan apakah hati itu di jantung atau di hati. Tetapi yang jelas bahwa manusia memiliki hati. Di dalam dunia tasawuf dikenal ada hati nurani dan hati sanubari. Hati Nurani adalah tempat bersemayamnya berbagai dorongan kebaikan, ada dimensi ketuhanan dan kemanusiaan, sedangkan pada hati sanubari adalah dimensi atau peluang terjadinya dorongan kejelekan.

Ada yang membagi hati dalam tiga jenis, yaitu qalbun salim atau hati yang penuh dengan kebaikan. Di dalamnya terdapat dorongan untuk selalu melakukan perbuatan yang diridlai oleh Allah SWT. Di dalamnya terdapat keinginan kuat untuk menghasilkan perbuatan yang berbasis pada nafsul mutmainnah. Kemudian terdapat hati yang sakit atau qalbun maridh ialah hati yang dipenuhi dengan kecenderungan berbuat jelek yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam yang baik. bersemayam di dalamnya nafsu lawwamah. Dan lainnya adalah hati yang mati atau qalbun mayyitun yaitu hati yang sudah tidak lagi bisa mendengar, melihat dan merasakan kebaikan. Hati yang dipenuhi dengan kejelekan dan kejahatan. Tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. Basisnya adalah nafsu amarah.

Secara psikhologis, kebaikan akan membawa kepada ketenangan batin, sedangkan kejahatan akan membawa kepada kesusahan atau ketidaktenangan batin. Orang yang melakukan tindakan tidak jujur atau berbohong dipastikan akan menyebabkan yang bersangkutan akan selalu di dalam bayang-bayang ketakutan atau kesusahan, akan tetapi orang yang melakukan kejujuran dipastikan akan mendapatkan ketenangan batin atau kebahagiaan.

Kita hidup di era di mana kejujuran adalah barang langka. Ada banyak perilaku menyimpang misalnya tindakan korupsi. Orang yang melakukannya dipastikan akan merasakan betapa hidupnya berada di dalam bayang-bayang ketakutan. Hatinya akan merasakan betapa tersiksa dan terus menerus merasakan tekanan-tekanan yang tidak dapat dihindarinya. Baik di dalam kesendirian atau bersama-sama yang lainnya, maka akan merasakan bahwa jiwanya tidak tenang, penuh dengan teriakan-teriakan yang membuatnya berada di dalam kesusahan.

Itulah sebabnya Allah mengajarkan kepada kita doa yang sangat Istimewa, yaitu: “Allahumma arinal haqqa haqqa war zuqnat tiba’ah wa arinal bathila bathila war zuqnaj tinabah”. Yang artinya: “Ya Allah tunjukkan kepada kami yang benar itu benar dan berikan peluang kami untuk mengikutinya, dan tunjukkan kepada kami yang salah itu salah dan berikan peluang kepada kami untuk menjauhinya”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

SABAR (3)

SABAR (3)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim. Pada Bagian 3, Imam An Nawawi menjelaskan tentang sabar sebagai bagian penting di dalam ajaran Islam. Sabar memiliki posisi strategis di dalam Islam, yang dapat menjadi pedoman dalam perilaku social atau hubungan antar umat manusia, baik sebagai sesama umat Islam ataupun sesama umat manusia. Di dalam ajaran kesabaran, Islam sering mengkaitkannya dengan nasehat tentang kebenaran dan nasehat tentang kesabaran.

Di dalam Surat Ali Imron: 3 dinyatakan: “Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu”. Di dalam Surat Az Zumar: 10, dinyatakan: “sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. Ada banyak ayat Alqur’an yang menjadi background betapa besarnya pahala bagi mereka yang bersabar. Akan tetapi dua ayat ini cukuplah memberikan informasi baik bagi umat Islam bahwa kesabaran itu merupakan kunci untuk mendapatkan pahala yang besar berupa kehidupan yang berkecukupan baik di dunia maupun di akherat.

Tetapi jangan lupa bahwa Allah juga akan menguji manusia dengan ujian di dalam batas kewajaran yang manusia bisa mengatasinya. Allah tidak akan memberikan beban yang melebihi kemampuan manusia untuk menanggungnya. Allah juga berjanji akan membersamai orang yang melakukan shalat dan berperilaku kesabaran. Sabar dan sholat adalah instrument untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan akherat. Di dalam Alqur’an, Surat Al Baqarah: 153, dinyatakan: “Sesungguhnya Allah bersama-sama orang yang sabar”.

Tentang kesabaran, Hadits Nabi Muhammad SAW menyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Dari Abi Malik al Harits bin ‘Ashim al Asy’ari, Rasulullah bersabda: bersuci adalah sebagian dari iman dan bacaan alhamdulillah itu memenuhi timbangan, bacaan subhanallah dan alhamdulillah itu keduanya memenuhi apa-apa yang ada di antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah sebagai bukti, sabar merupakan cahaya, Alqur’an merupakan hujjah (pembela) untukmu atau hujjah (pemberat) bagimu. Setiap yang berangkat menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya dan ada yang menghancurkan dirinya”.

Sabar di dalam banyak hal dikaitkan dengan cobaan, mushibah dan ujian yang diberikan oleh Allah SWT. Padahal sesungguhnya sabar itu tidak harus dikaitkan dengan tiga hal tersebut. Sabar merupakan suatu tindakan yang terkait dengan diri sendiri dan dalam relasinya dengan manusia lain dan kehidupan manusia secara umum. Sabar adalah kondisi psikhologis di dalam menerima kehidupan. Suka-duka, senang-susah, galau-tenteram, enak-tidak enak dan semua hal yang terkait dengan situasi psikhologis pada suatu saat tertentu.

Manusia tidak mampu mendesain bagaimana situasi psikhologis tersebut, sebab kejadian itu terkadang terjadi dengan tanpa perencanaan. Datang tiba-tiba atau mendadak. Adakalanya yang didesaian justru tidak berhasil dan yang tanpa desain justru memperoleh keberhasilan. Semuanya itu adalah bagian dari kehidupan manusia yang nyata adanya.  Ada sebuah pepatah di dalam Bahasa Inggris, yang menggambarkan bahwa Tuhan yang menentukan tetapi manusia harus merencanakannya. “Man proposes God disposes”. Ujung akhir ada kepastian Tuhan yang tidak diberitahukan sebelumnya.

Jika ditipologikan, saya kira ada beberapa hal terkait dengan mushibah atau kejadian. Pertama, mushibah tidak harus dimaknai sebagai peristiwa negative akan tetapi juga positif. Atau peristiwa yang tidak menyenangkan atau menyesakkan. Mushibah merupakan ungkapan generic yang merupakan kejadian yang menimpa makhluk Tuhan. Bisa manusia, bisa Jin dan makhluk hidup lainnya. Jadi mushibah merupakan istilah generic bukan hanya istilah yang khusus. Tidak hanya mushibah atau kejadian yang menyedihkan tetapi juga yang menyenangkan.

Kedua, setiap segala sesuatu ada kepastian Tuhan. Tidak ada kejadian apapun yang tidak berada di dalam catatan Tuhan. Ada dimensi kataballahu lana. Setiap mushibah ada catatannya untuk kita. Kapan kita tertawa, kapan kita menangis, kapan kita bahagia kapan kita sengsara itu semua ada catatannya di dalam kehidupan kita. Namun demikian, tugas manusia adalah berupaya untuk menemukan takdir kebaikannya. Orang yang berusaha dan jatuh bangun, belum tentu selamanya begitu. Jatuh bangun lima kali mungkin yang keenam berhasil. Maka Islam mangajarkan jangan putus asa. Terus berusaha sampai ada kepastian takdir yang mencatat kebahagiaannya.

Ketiga,  hakikat kesabaran di dalam Islam adalah untuk menjadi instrument agar manusia menerima kepastian Tuhannya. Tetapi jangan lupa ada trilogy di dalam kehidupan kita, yaitu: ikhtiar, doa dan tawakkal. Bukan tawakkal dulu baru berusaha dan berdoa. Mulailah dari ikhtiar atau usaha, baru berdoa dan hasilnya pasrah kepada kepastian Allah SWT. Semua orang yang berhasil di dalam usahanya yang sukses adalah karena usahanya yang optimal. Bukan asal bekerja. Mereka gunakan akalnya untuk menemukan peluang berusaha, bekerja sama untuk menyukseskan usaha berbasis peluang yang didapatkannya, lalu ada keberhasilan. Menguasai tidak hanya manajemen perencanaan untuk menemukan peluang yang tepat tetapi juga memahami manajemen resiko yang dapat meminimalisisasi kerugian. Jika sudah dilakukan semua, lalu berdoa dan bertawakkal kepada Tuhan.

Kesabaran itu melazimi seluruh proses dimaksud. Berusaha dengan sabar, berdoa dengan sabar dan akhirnya bertawakkal dengan penuh kesabaran. Ada kalanya kita menemukan kesuksesan dan adakalanya menemui kegagalan. Keduanya harus diupayakan berlaku sabar. Makanya Rasulullah menyatakan bahwa shalat dan sabar adalah cahaya. Kesabaran dan shalat itu menyinari seluruh amal perbuatan manusia. Jika wudhu adalah sebagian iman, ucapan alhamdulillah atau bersyukur menjadi pemberat timbangan kebaikan, bacaan subhanallah dan alhamdulillah dapat menjadi pengisi kehidupan manusia, maka sinar terangnya  adalah shalat dan sabar.

Jika digambarkan maka inti dalamnya adalah shalat dan sabar, maka lingkaran luarnya yang dapat disinari oleh keduanya adalah bersuci, bersedakah, mengucapkan subhanallah dan alhamdulillah serta bacaan Alqur’an.  Semuanya adalah bangunan sistemik yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.

Prototipe orang yang sabar adalah Nabi Muhammad SAW. Pada waktu berdakwah di Taif, maka Nabi Muhammad SAW diusir, dilempri kotoran dan bahkan dilempari batu, tetapi di kala ditawari oleh Malaikat Jibril untuk menghancurkannya, maka Nabi Muhammad SAW justru mendoakannya agar memperoleh petunjuk Allah SWT

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

TAUBAT (2)

TAUBAT (2)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim. Pada Bagian dua, Syekh Imam Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin membahas tentang taubat sebagai salah satu ajaran Islam yang sangat penting. Manusia dikenal sebagai makhluk yang di dalam dirinya terdapat unsur salah dan lupa. Khatha’ wan nisyan. Ini merupakan desain Tuhan atas manusia, sehingga Allah memberikan peluang untuk melakukan pertaubatan atau permohonan ampunan kepada Allah SWT.

Sesungguhnya manusia memiliki kemampuan untuk memohon ampunan khususnya kepada Allah. Manusia diberi peluang untuk memohon ampunan atas kesalahan, kekhilafan dan dosa yang dilakukan manusia di dalam kehidupan.

Di dalam pembahasan tentang taubat, dinyatakan ada tiga hal yang menjadi syarat taubat, yaitu hendaklah meninggalkan kemaksiatan yang dilakukan, menyesal atas apa yang dilakukannya dan berniat tidak akan kembali melakukan perbuatan maksiat itu untuk selamanya. Agar ketiganya dapat dilakukan sehingga  taubatnya diterima oleh Allah. Di dalam Alquran, Surat An Nur, 31., dinyatakan: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. Menurut ayat ini bahwa keberuntungan, terutama di akherat, sangat tergantung kepada permohonan ampun kepada Allah SWT. Taubat yang diterima Allah adalah taubatan nasuha atau pertaubatan yang sangat serius karena Allah.

Terdapat beberapa hadits yang diungkapkan oleh Imam Nawawi dalam kaitannya dengan taubat, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi menyatakan: “Demi Allah, sesungguhnya saya beristighfar  (memohon ampunan)  kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh  kali”. Di dalam hadits lain dinyatakan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim bahwa Nabi menyatakan: “Wahai sekalian manusia, bertaubatkan kalian kepada Allah dan mohonkanlah ampunan kepada-Nya karena sesungguhnya saya ini bertaubat dalam sehari seratus kali”. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah dinyatakan” “sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya waktu malam untuk menerima taubatnya orang-orang yang berbuat kesalahan di waktu siang dan juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubatnya orang-orang yang berbuat kesalahan di waktu malam, sampai matahari terbit dari arah barat”. Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Abdurahman Abdullah bin Umar bin Katthab bahwa Nabi menyatakan: “sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai di kerongkongannya (sekarat)”.

Dari berbagai ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW tersebut dapat dinyatakan sebagai gambaran, yaitu: pertama, manusia diberi peluang oleh Allah SWT untuk bertaubat atau memohon ampunan kepada Allah SWT. Diberikan peluang sebesar-besarnya. Tentu ada manusia yang dapat memanfaatkan peluang tersebut secara optimal dan ada yang tidak optimal. Allah itu sedemikian besar perhatiannya kepada umatnya. Di kala umatnya lalai, salah atau khilaf, dan melakukan perbuatan dosa, maka Allah membuka kekuasaannya untuk menerima taubat hambanya. Dosa apapun, kecuali menyekutukan Tuhan, akan diterima taubatnya kepada Allah dengan catatan dilakukan secara sungguh-sungguh atau taubatan nasuha.

Kedua, taubat dapat dilakukan kapan saja, bisa di waktu malam bisa juga di waktu siang dan di mana saja. Taubat bisa dilakukan sepanjang masa. Artinya selama belum sampai kepada saat sekarat, maka Allah akan menerima taubatnya. Sebagaimana taubat yang dilakukan oleh Fir’aun yang menjelang ajalnya saat akan tenggelam di laut, maka taubat Fir’aun tidak diterima Allah. Ada sebuah cerita yang menyatakan bahwa taubat Fir’aun digagalkan oleh Malaikat Jibril atas perintah Allah. Taubat yang terlambat di saat menjelang kematiannya. Sebagaimana dinyatakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bahwa Allah akan menerima taubat seorang hamba terkecuali sudah saat sekarat. Peluang yang diberikan Allah sangat besar, dan manusia diingatkan oleh Rasulullah agar bertaubat jangan kurang dari 70 atau 100 kali. Rasulullah sebagai manusia yang ma’shum melakukannya sebanyak itu. Dan seharusnya manusia yang penuh dengan kesalahan, kehilafan dan dosa dapat melakukannya lebih banyak. Taubat itu akan terus diberikan oleh Allah sepanjang masa sampai matahari terbit dari arah barat, atau menjelang kiamat.

Ketiga, ada beberapa hal terkait dengan bacaan taubat, yaitu istighfar atau membaca dengan hati dan lesannya ucapan: “astaghfirullahal adhim”, artinya: “ya Allah ampunilah dosa kami wahai Dzat yang Maha Agung”. Atau juga membaca shalawat yang diniatkan untuk memohon ampunan kepada Allah dengan berwashilah kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana bisa dipahami bahwa shalawat merupakan bacaan yang sangat mulia. Bahkan Allah dan Malaikatnya juga bershalawat kepada Nabi Muhammad. Diniatkan bahwa membaca shalawat merupakan amal yang sangat mulia dan dapat menjadi perantara kita untuk memperolah syafaat Nabi untuk umat yang membacanya.

Ada juga doa yang dapat dibacakan, kapan saja, misalnya: “Allahumma inni as

Alukal ‘afwa wal ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah”.  Artinya: “ Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu maaf atau ampunan dan keselamatan di dalam agama,  dunia dan di akhirat”. Inilah doa terbaik untuk memohon ampunan dan kemaafan dari Allah SWT. Ada yang disebut ampunan, bahwa dosa itu diampuni oleh Allah tetapi catatannya masih ada, tetapi dengan maaf atau afwun, maka doa diampuni dan catatan dihapus. Subhanallah.

Kecuali Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang dijamin tidak berdosa, maka manusia lainnya dipastikan memiliki dosa, maka manusia harus memanfaatkan ampunan Allah dengan optimal agar kelak mendapatkan kebaikan fi dini wad dunya wal akhirah.

Wallahu a’lam bi al shawab.