PEMIMPIN HARUS BERSIKAP LEMBUT, JUJUR DAN LARANGAN MENIPU (78)
PEMIMPIN HARUS BERSIKAP LEMBUT, JUJUR DAN LARANGAN MENIPU (78)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Kepemimpinan merupakan keniscayaan di dalam dunia sosial yang memang memerlukan sosok yang menjadi panutan di dalam memenej kehidupan sosial yang penuh dengan benturan berbagai kepentingan. Ada kepentingan individual, komunal dan masyarakat, bahkan kepemimpinan negara dan bangsa. Bahkan di dalam setiap kegiatan yang melibatkan lebih dari dua orang, maka haruslah dipilih satu di antaranya untuk menjadi pemimpin.
Fungsi kepemimpinan adalah untuk mengatur agar roda kehidupan dapat berjalan sesuai dengan cita-cita bersama. Semua memiliki peran yang harus diperankannya di dalam kehidupan dimaksud. Masing-masing dapat melakukan aktivitas yang dianggap penting, akan tetapi semuanya harus dilakukan untuk kepentingan bersama. Bukanlah masing-masing mengusung keinginannya sendiri. Ada visi dan misi yang dapat diusung bersama untuk dicapai secara bersama-sama.
Islam tentu menghendaki kepemimpinan yang dapat mengekspresikan kepemimpinannya sebagai teladan yang diberikan oleh rasulullah SAW. Ada fondasi mendasar yang harus digunakan agar kepemimpinannya sesuai dengan harkat dan martabat kepemimpinan. Empat syarat yang sudah lazim dipahami oleh umat Islam adalah: siddiq, amanah, tabligh dan fatanah. Seorang pemimpin harus shiddiq atau jujur. Pemimpin yang mengedepankan transparansi dan akuntabilitas. Apa yang dilakukannya tidak menyimpang dari kesepakatan yang sudah masyhur. Lalu amanah atau terpercaya. Dipastikan bahwa basis dari keterpercayaan adalah kejujuran. Tanpa kejujuran tidak akan ada keterpercayaan. Jujur dan terpercaya seperti satu koin mata uang. Keduanya menjadi basis bagi keberlangsungan kepemimpinan.
Kemudian seorang pemimpin juga harus cerdas, baik kecerdasan rasional, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual. Keempatnya harus melazimi kehidupan seorang pemimpin. Tanpa empat kecerdasan ini, maka seorang pemimpin akan mengalami disorientasi masa depan. Cerdas akalnya tetapi tidak memiliki empati atas orang lain, tidak memiliki rasa kemanusiaan dan tidak memiliki kecerdasan ketuhanan, maka kepemimpinannya dipastikan akan gagal. Keempatnya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan agar kepemimpinannya menjadi absah.
Dan yang tidak bisa diindahkan adalah pemimpin yang mengembangkan keterbukaan dan bertanggung jawab. Tidak menyembunyikan tindakannya. Pemimpin yang menggunakan prinsip musyawarah tanpa dominasi dan memiliki visi ke depan yang bersesuaian dengan kepentingan bersama. Di sinilah letaknya kepemimpinan yang adil, lemah lembut dan menjalankan roda kepemimpinan secara terbuka dan bertanggungjawab.
Alqur’an menyatakan di dalam Surat Asy Syu’ara: 215: “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu”. Di dalam ayat lain dinyatakan dalam Surat An Nahl: 90 dinyatakan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat dan dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.
Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA., dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap dari kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin bagi seluruh keluarganya, dan akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya. Pekerja adalah pemimpin dalam mengelola harta majikannya dan akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya. Maka setiap kamu semua adalah pemimpin yang akan dipertanggungjawabkan atas kepemimpinannya itu”. Hadits Riwayat Shahihain.
Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA., beliau berkata: ‘Aku pernah pendengar Rasulullah SAW berdoa di rumahku ini’. “Ya Allah barang siapa yang memimpin urusan umatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah baginya. Dan barang siapa yang memimpin urusan umatku lalu dia berlaku lembut terhadap mereka, maka berlaku lembutlah terhadapnya”. Hadits dari A’idz bin Amr RA., bahwa: ‘beliau pernah menemui Ubaidillah bin Ziyad lalu berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya seburuk-buruk pemimpin adalah pemimpin yang kejam” maka janganlah kamu tergolong daripada mereka”.
Dari penjelasan di atas, kiranya dapat ditegaskan dalam tiga hal, yaitu:
Pertama, kepemimpinan merupakan sesuatu yang dinamis, sebagaimana dinamika perubahan sosial yang terus terjadi. Corak kepemimpinan juga mengalami perubahan seirama dengan corak perubahan sosialnya. Di masa lalu cocok dengan kepemimpinan yang otoriter sebab masyarakatnya memang memerlukan kepemimpinan yang kuat dan memiliki arah jelas sementara itu masyarakat cenderung pasif. Kemudian seirama dengan perubahan sosial yang cepat, maka corak kepemimpinan juga harus berubah. Kepemimpinan yang tegas dan berbasis pada kepentingan masyarakat yang bertumpu pada prinsip musyawarah menjadi mengedepan. Tetapi di era supermoderen, maka cotak kepemimpinan juga harus berorientasi pada prinsip mendengarkan suara umat berbasis pada jalan utama yang harus dipilih. Kritik menjadi sangat mudah dilakukan, akan tetapi berjalan di atas kepentingan bersama merupakan prinsip yang tidak boleh diindahkan.
Kedua, ada dua kata kunci di dalam kepemimpinan sebagai basis moralitasnya, yaitu pemimpin yang adil dan mengedepankan pada kebaikan. Adil bukan berarti sama rasa sama rasa, akan tetapi keadilan itu proporsional dan negosiatif. Seseorang memperoleh keadilan sesuai dengan takaran yang harus diterimanya dan bahkan sesuai dengan negosiasi yang dilakukannya. Prinsipnya adalah adil sesuai dengan regulasi yang disahkan atas kebaikan dan bukan untuk yang lain. Muara keadilan adalah terpenuhinya kesejahteraan dan kebahagiaan yang dapat dirasakan secara komunal. Produk keadilan adalah terpenuhinya rasa menerima atas hak yang seharusnya didapatkannya.
Ketiga, Rasululllah SAW menegaskan bahwa seorang pemimpin yang adil, lemah lembut, jujur dan tidak melakukan kedhaliman adalah prinsip utama. Jika seorang pemimpin dapat melakukannya, maka pemimpin yang seperti itu akan mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT. Karena setiap kita adalah pemimpin, maka kita akan mempertanggungjawabkan atas kepemimpinan yang kita perankan.
Wallahu a’lam bi al shawab.
