• August 2026
    M T W T F S S
    « Jul    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SUNNAH MELAKUKAN KEBAIKAN DALAM JALAN YANG BERVARIASI (98)

SUNNAH MELAKUKAN KEBAIKAN DALAM JALAN YANG BERVARIASI (98)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Syekh Imam An Nawawi pada bab ke 98 menjelaskan tentang “Disunnahkannya Pergi Menuju Shalat Idul, Menjenguk Yang Sakit, Berhaji, Berperang, Mengantar Jenazah Dan Semacamnya Dari Satu Jalan Dan Pulang Dari Jalan Lain Untuk Memperbanyak Tempat-Tempat Ibadah”. Sehubungan dengan judul tersebut, maka secara sengaja saya singkat menjadi “Sunnah Melakukan Kebaikan Dalam Jalan Yang Bervariasi”.

Islam adalah agama yang mengajarkan kepada kita semua tentang makna kebaikan. Kebaikan dalam Islam tersebut banyak di antaranya yang disunnahkan adalah pergi untuk ke tempat shalat idul fitri ataupun idul adha. Dan sebagai rasa persahabatan, Islam juga mengajarkan agar menengok sahabat yang sakit. Termasuk juga mengantar jenazah ke pekuburan dan yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. semua ini termasuk dalam kategori melakukan silaturrahmi. Islam sangat menghargai orang yang suka melakukan silaturrahmi. Bahkan Rasulullah SAW menyatakan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir atau kiamat, maka hendaknya menyambung tali silaturrahmi. Hal ini menunjukkan betapa mulianya orang yang melakukan silaturrahmi.

Yang menjadi kewajiban bagi orang yang telah mampu adalah melakukan ibadah haji. Jika di dalam suatu peperangan, maka bagi yang secara fisik mampu berperang, maka hendaknya ikut berperang. Melakukan ibadah haji memang tidak dikenakan kepada semua umat Islam. Ibadah haji hanya diberlakukan kepada umat Islam yang memiliki kemampuan, baik istitha’ah iqtishadiyah maupun istitha’ah sihhatiyah. Memiliki kemampuan ekonomi dan kemampuan kesehatan. Bagi umat Islam yang lain tidak diwajibkannya. Demikian pula untuk melakukan peperangan, maka yang diharapkan adalah orang yang berkemampuan dalam berperang, sehat dan kuat fisiknya.

Nabi Muhammad SAW, juga menganjurkan agar jika di dalam perbuatan yang memerlukan perjalanan, maka sebaiknya seseorang dapat mengambil jalan yang bervariasi. Misalnya dalam shalat jamaah yang mengharuskan datang ke masjid atau tempat ibadah,  maka agar bisa mengambil jalan yang berbeda untuk pergi dan pulangnya. Itulah sunnah Nabi SAW di dalam ibadah yang memerlukan perjalanan ke tempat ibadah dimaksud.

Nabi Muhammad SAW., juga mengajarkan agar sesama manusia bisa saling menyayangi. Di antara bentuk saling menyayangi adalah dengan saling berkunjung. Jika ada sahabat kita yang sakit, maka kita diminta untuk menjenguknya. Jika ada sahabat yang wafat hendaknya mengantarkan jenazahnya. Melalui tindakan seperti itu, maka ikatan persahabatan akan menjadi sangat kuat. Persahabatan itu bagian dari cara kita memanusiakan manusia. Dengan persahabatan yang kuat, maka ukhuwah islamiyah juga akan menjadi lebih kuat.

Syekh Imam An Nawawi menukil Hadits yang diceritakan oleh Jabir RA berkata: “dahulu Nabi SAW apabila (pergi ke tempat shalat) pada hari raya, Beliau membedakan jalan (di antara pergi dan pulan). Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Selain itu juga terdapat Hadits dari Ibnu Umar RA., bahwa: “Rasulullah SAW dahulu ketika pergi (meninggalkan Madinah) mengambil jalan Asy Syajarah dan ketika masuk mengambil jalan Al Mu’arras. Dan jika Beliau memasuki Makkah Beliau masuk dari As Tsaniyatul Ula dan keluar dari As Tsaniyatul Sufla”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih.

Dari hadits tersebut, maka dapat dijelaskan dengan tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah itu Maha Rahman dan representasi rahmannya tersebut berada di dalam diri Nabi Muhammad SAW. Manusia tentu sulit untuk mengenal langsung akan kasih sayang Allah, akan tetapi dengan lebih mudah untuk memahami rahmannya Allah melalui perilaku Muhammad SAW dalam sirah Nabi Muhammad atau juga yang terdapat di dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW, maka rahman Nabi SAW tersebut sangat kentara. Dengan mudah manusia yang membaca sejarah Nabi SAW dan hadits-hadits Nabi SAW akan memahami bagaimana Rasulullah SAW adalah hamba Allah yang menerapkan kehidupan berbasis pada sikap dan prilaku rahman. Salah satu perwujudan dari rahman tersebut terdapat di dalam sikap dan prilaku saling bersilaturrahmi. Dipastikan bahwa silaturrahmi akan terwujud,  jika di antara sesama sahabat atau saudara memiliki kesamaan dalam persahabatan.

Kedua, syarat untuk saling bersahabat adalah memiliki kesamaan perasaan, pikiran dan prilaku. Sesama umat Islam yang memiliki kesamaan-kesamaan tersebut dipastikan akan saling berinteraksi dalam wujud silaturrahmi. Seirama dengan perkembangan zaman, maka silaturrahmi tidak harus diselenggarakan di dalam situasi face to face relationship, akan tetapi bisa juga melalui virtual atau disebut silaturrahmi virtual. Di masa pandemi Covid-19, maka nyaris seluruh silaturrahmi dilakukan dengan virtual. Bahkan juga ada Hari Raya Virtual.

Melalui konsep persahabatan dimaksud, maka kemudian terjadi implementasi silaturrahmi, dan juga menjenguk ketika ada di antara yang sakit. Tetapi di tengah perubahan sosial yang kompleks, maka menjenguk orang yang sakit juga dapat melalui virtual. Jika terdapat dalam satu kota, maka menjenguk secara face to face masih bisa dilakukan, akan tetapi jika tidak berada di dalam kota atau wilayah yang sama, maka dapat juga dilakukan melalui kontak virtual. Dari medan yang jauh, dapat juga melakukan upaya untuk saling mendoakan. Jangankan yang masih sesama di dalam alam dunia, yang sudah berada di alam barzakhpun bisa didoakan. Inilah salah satu kehebatan ajaran Islam dalam mengagungkan ikatan persahabatan, tidak hanya yang dikenal tetapi juga sesama umat Islam.

Ketiga, ajaran kebaikan di dalam Islam itu sangat banyak. Tetapi sebagaimana yang dipahami dari penjelasan-penjelasan di atas, misalnya adalah mendatangi shalat hari raya dengan varian jalan yang dilalui, melakukan ibadah haji bagi yang mampu, mengikuti jihad fi sabilillah jika berada di dalam darul harbi atau berada di dalam ruang harakah jihadiyah serta melakukan kebaikan dan memperbanyak tempat kebaikan.  Semua itu dilakukan sebagai pengabdian kita kepada Allah SWT. Barang siapa yang melakukan lebih banyak, maka juga akan mendapatkan pahala yang lebih banyak.

Wallahu a’lam b al shawab.

 

 

 

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..