KEUTAMAAN ISTIKHARAH DAN MUSYAWARAH (97)
KEUTAMAAN ISTIKHARAH DAN MUSYAWARAH (97)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Di dalam kehidupan ini tentu akan terdapat pilihan-pilihan. Manusia sering dihadapkan atas pilihan-pilihan yang terkadang sulit untuk memilihnya. Apalagi di era sekarang di mana kehidupan terus berubah, dan terkadang perubahannya sangat cepat. Oleh karena itu, manusia harus melakukan upaya untuk bekerja keras di dalam memilih mana yang dianggap penting dan paling sesuai dengan kehidupannya.
Manusia hidup di dalam kehidupan sosial yang kompleks, yang terkadang akan sulit untuk memilih mana yang penting atau urgent dan mana yang hanya diperlukan saja. Ada yang urgent dan ada yang important. Yang urgent itu sangat penting sehingga diperlukan untuk memilihnya, dan ada yang important atau perlu dipilihnya.
Memilih bukan perkara mudah. Membutuhkan berbagai pertimbangan, misalnya pertimbangan akal atau rasio, pertimbangan sosial, pertimbangan ekonomi, bahkan juga politik. Dan yang tidak kalah penting adalah pertimbangan hati. Pertimbangan-pertimbangan itu bercorak sistemik atau antara satu dengan yang lain saling terkait. Pertimbangan akal sering kali berbasis atas untung rugi. Mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan. Pertimbangan hati itulah kata kuncinya. Ada yang disebut sebagai “kata hati”. Dialah yang sering dapat memberikan pertimbangan pilihan yang tepat.
Karena kita menginginkan pilihan yang tepat berbasis pada kebanaran kata hati, maka itulah sebabnya Islam mengajarkan tentang ajaran shalat istikharah. Shalat itu diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW., agar kita bisa memilih pilihan yang tepat. Pilihan rasional bisa saja mengarahkan seseorang pada pilihan yang salah, maka pilihan yang benar harus menggunakan pilihan hati nurani berbasis shalat istikharah.
Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin menukil ayat-ayat Alquran dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Di antara ayat Qur’an yang dinukil, misalnya: Ayat Alqur’an di dalam Surat Ali Imran: 159 menyatakan: “dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…”. Kemudian di dalam Surat Asy Syura: 38, Allah berfirman: “sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka…”.
Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir RA., “Rasulullah SAW mengajarkan kepada kami (doa) meminta pilihan dalam setiap urusan seperti (mengerjakan) surat Alqur’an. Beliau bersabda: “apabila salah seorang di antara kalian bermaksud melakukan suatu perkara, hendaklah ia shalat dua rakaat yang tidak wajib, kemudian ucapkanlah: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan kepada-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku meminta kekuatan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dari karunia-Mu yang agung. Karena, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu, dan Engkaulah yang Maha tahu segala yang gaib. Ya Allah jika engkau tahu bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusan agamaku, penghidupanku dan akhir dari urusanku atau Beliau mengatakan perkaraku yang segeranya dan yang ditundanya, maka takdirkanlah ia untukku dan mudahkanlah, kemudian berkahilah ia untukku. Dan jika engkau tahu bahwa perkara ini jelek untukku dalam urusan agamaku, penghidupanku dan akhir dari urusanku atau Beliau mengatakan perkaraku yang segeranya dan yang ditundanya, maka palingkanlah urusan itu dariku dan palingkanlah urusan itu dariku dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana saja ia berada, kemudian ridhailah aku terhadapnya. Jabir berkata: “lantas menyebutkan kebutuhannya”. Hadits riwayat Imam Bukhari.
Dari penjelasan tersebut, saya mencoba untuk menggaris bawahi dalam tiga hal, yaitu:
Pertama, kita sekarang berada di Era Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity (VUCA). Era votality ditandai dengan terjadinya perubahan yang cepat dan nyaris tidak terduga. Zaman yang tidak menentu. Zaman yang kompleks atau serba rumit. Banyak perilaku yang ambigu serba ganda. Di sinilah letak pentingnya pendekatan agama di dalam kerangka untuk memilih mana tindakan yang tepat dan mana tindakan yang kurang tepat.
Di dalam kehidupan ekonomi, politik dan bahkan keagamaan menjadi serba rumit. Seorang pengusaha yang kemarin untung hari ini merugi. Seorang politikus yang kemarin hebat, tiba-tiba hancur terkena masalah. Seseorang yang kaya, tiba-tiba menjadi miskin karena kesalahan dalam memilih tindakan. Dunia sekarang tidak bisa diprediksi dengan tingkat akurasi yang tinggi, disebabkan banyak variabel yang harus terlibat di dalamnya. Di masa lalu, seorang ahli bisa memprediksi dengan keakuratan tinggi berbasis tren data untuk memprediksi tentang masa depan sebuah usaha, tetapi sekarang sangat sulit.
Kedua, Islam sebagai agama yang mengedepankan dimensi kemanusiaan, maka memberikan peluang untuk menemukan sesuatu yang baik bagi dirinya. Islam memiliki ajaran kebahagiaan, yang tidak hanya kebahagiaan di dunia tetapi juga kebahagiaan di akherat. Untuk sampai kepada kebahagiaan, maka Islam membentangkan pilihan jalan yang baik atau jalan yang jelek. Terkadang pilihan itu sulit sebab terdapat ambiguitas dan kompleksitas di dalam memilihnya. Jika terdapat kesulitan, maka Islam mengajarkan untuk melakukan shalat istikharah agar mendapatkan pilihan yang terbaik.
Jika seseorang bisa melakukannya dengan benar, maka bisa dilakukan sendiri shalat istikharah tersebut, akan tetapi jika sulit melakukannya maka boleh meminta bantuan kepada orang yang melebihinya dalam melaksanakan shalat istikharah. Bahkan terkadang hasil istikharah tidak sesuai dengan keinginan kita, maka hasil istikharah merupakan jalan terbaik yang bisa dilakukan.
Ketiga, selain itu juga perlu untuk melakukan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai urusan duniawi. Allah SWT memberikan petunjuk bahwa dalam urusan duniawi, maka manusialah yang mengetahuinya. Urusan pekerjaan, urusan perdagangan, urusan politik dan urusan agama yang terjadi di dunia, maka jalan terbaik adalah melalui musyawarah. Di dalam relasi sosial, sangat dimungkinkan terjadi “ketegangan”, “perbedaan” dan bahkan “konflik” di antara sesama manusia. Islam mengajarkan agar kita bermusyawarah atas urusan yang kita terlibat di dalamnya. Jika terjadi ketegangan dalam keadaan berdiri, maka duduklah untuk menyelesaikannya. Pasti ada solusi jika kita dapat duduk untuk menyelesaikan ketegangan-ketegangan tersebut.
Kata kunci di dalam kehidupan adalah: “masalah, musyawarah dan berserah”. Jika ada masalah, bermusyawarahlah dan hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bi al shawab.
