• August 2026
    M T W T F S S
    « Jul    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

WASIAT ATAU DOA ATAS PERKAWANAN DAN DOA UNTUKNYA (96)

WASIAT ATAU DOA ATAS PERKAWANAN DAN DOA UNTUKNYA (96)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir rahim.

Kita sesungguhnya telah memiliki tradisi untuk saling berdoa. Minimal kita mengucapkan salam  ketika kita akan memasuki rumah atau bertemu dengan sahabat atau orang lain. Jika kita akan memulai rapat atau pertemuan dipastikan kita akan mengucapkan salam. Bahkan ada yang salam seluruh agama dinyatakannya. Kita tidak perlu berdebat tentang kebolehan atau ketidakbolehannya, akan tetapi mari kita pahami maknanya dari sudut kemanusiaan.

Sebagai sesama umat Islam sudah tentu jika saling berdoa adalah kebaikan. Pesan di dalam doa tentu adalah pesan keselamatan, pesan untuk bertaqwa kepada Allah dan pesan agar kita selalu di dalam lindungan Allah SWT dan selalu hidup di dalam keberkahan. Memang bisa bervariasi pernyatannya, akan tetapi inilah pesan atau wasiat yang terbaik untuk sesama umat Islam.

Islam mengajarkan betapa pentingnya untuk saling mendoakan. Islam begitu konsern atas pentingnya berdoa untuk sesama umat Islam. Itulah sebabnya para ulama masa lalu membuat ungkapan yang isinya untuk mendoakan sesama umat Islam. Dimulai dengan mendoakan keluarga, sahabat, umat Islam bahkan doa itu untuk yang masih hidup atau sudah wafat.

Doa keselamatan itu nyaris kita baca setiap selesai shalat maktubah. Terutama shalat berjamaah. Sebagian umat Islam bahkan membaa Al Fatithah kepada Rasulullah SAW,  istri-istrinya, putra-putranya dan sahabat-sahabatnya. Lalu untuk orang tua, kakek nenek, dan ke atas sampai leluhur kita di masa lalu, dan juga doa untuk keberhasilan kita dalam banyak hal.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan pada Bab 96 tentang: “Melepas Saudara dan Memberinya Pesan Ketika Dia Pergi Untuk Perjalanan Jauh Dan Semisalnya Serta Mendoakannya Dan Meminta Doanya”. Judul ini kemudian saya ringkas menjadi “Wasiat Atau Doa Atas Perkawanan Dan Doa Untuknya”. Ada beberapa ayat Alqur’an dan hadits yang dinukil untuk menjelaskan atas tema pada Bab 96 ini. Di antaranya adalah:

Ayat Alqur’an menjelaskan di dalam Surat Al Baqarah: 132-133 bahwa: “Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. Ibrahim berkata: “Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab, ‘kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq.  (Yaitu) Tuhan yang Maha Esa, dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya”.

Hadits Rasulullah SAW yang diceritakan oleh Zaid bin Arqam RA., yang telah disebutkan sebelumnya dalam Bab Memuliakan ahlu bait Rasulullah. Rasulullah SAW pernah berdiri menyampaikan khotbah di tengah-tengah kami. Beliau memuji dan dan memuja Allah, kemudian menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau bersabda: “Amma ba’du. Ketahuilah saudara-saudara sekalian. Aku hanyalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabbku (Malaikat Maut) akan datang dan aku akan memperkenankannya. Aku tinggalkan kalian As saqalain (dua hal yang berat). Pertama, Kitabullah (Alqur’an) yang di dalamnya terkandung petunjuk dan cahaya. Maka ambillah kitab Allah dan berpegang teguhlah kepadanya. Beliau lantas menghimbau serta memotivasi kepada Kitab Allah. (Kedua) dan ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku”. Hadits riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab RA., berkata: ‘aku meminta izin kepada Nabi, SAW, untuk melaksanakan umrah’. Beliau pun memberikan izin dan bersabda: “Wahai Saudaraku, janganlah engkau melupakan kami dalam doamu. Lalu Beliau menyebut sebuah perkataan, aku tidak akan senang bila ucapan itu ditukar dengan dunia”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA., berkata: seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin melakukan perjalanan, maka berilah aku bekal’. Beliau bersabda: “semoga Allah membekalimu dengan ketaqwaan”. Orang itu berkata: ‘tambahkanlah untukku’. Beliau bersabda: “semoga Allah mengampuni dosamu”. Orang itu berkata lagi: ‘tambahkan lagi untukku’. Beliau bersabda: “Dan semoga Allah memudahkan kebaikan untukmu di manapun engkau berada”. Hadits Riwayat Tirmidzi.

Dari penjelasan sosiologis, ayat Alqur’an dan Hadits Nabi, maka dapat ditambahkan penjelasannya dalam tiga hal, sebagai berikut:

Pertama, Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah sedemikian perhatiannya untuk umatnya. Orang yang memohon doa dipastikan akan didoakannya. Doa tersebut terkait dengan kebaikan-kebaikan,  baik untuk akherat maupun untuk duniawi. Didoakan agar selalu dalam ketaqwaan kepada Allah SWT, keselamatan dan keberkahan di dalam kehidupan. Bahkan Nabi SAW di kala Umar akan melakukan umrah, di kala pamit maka Rasulullah SAW memintanya untuk tidak melupakannya di dalam doanya. Rasulullah SAW mendoakan dan umat Islam lainnya juga mendoakannya. Subhanallah, inilah indahnya Islam. Agama yang menganjurkan umatnya untuk berkasih sayang dan saling mendoakan di dalam kebaikan.

Kedua,  salah satu keutamaan Rasulullah adalah  kasih sayang dan kecintaannya kepada umat Islam. Nabi SAW  tidak membedakan antara sahabat dekat, jauh dan umatnya hingga sekarang. Sayyidina Umar sahabat dekatnya, dan orang Islam lain tidak dibedakan di dalam mendoakannya, yaitu doa untuk terus bertaqwa, doa untuk ampunan atas kesalahan dan Allah memudahkan jalan ke arah kebaikan. Ungkapan “kita” lebih baik dari “aku”.  Doa-doa di dalam Alqur’an lebih banyak yang mengucapkan “kita” dibanding “aku”. Doa yang dimulai dengan kata “Rabbana” lebih banyak dan lebih utama. Islam sangat menghargai “kekitaan” dari pada “keakuan”.

Ketiga, kita sedang hidup di era media sosial. Era dimana perjumpaan tidak hanya lewat luring atau luar jaringan akan tetapi lewat daring atau dalam jaringan. Kita tidak ketemu dengan face to face relationship atau tetapi melalui media relationship. Jadi sesungguhnya kita bisa berdoa kapan saja dan di mana saja. Media sosial akan dapat menjadi instrumen bagi kita untuk saling mendoakan dan bukan saling membully. Oleh karena itu, marilah kita gunakan media sosial untuk kebaikan. Media sosial untuk berwasiat tentang kebenaran dan berwasiat untuk kesabaran.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..