• August 2026
    M T W T F S S
    « Jul    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGUCAPKAN BASMALAH DI AWAL  DAN ALHAMDULILLAH DI AKHIR (100)

MENGUCAPKAN BASMALAH DI AWAL  DAN ALHAMDULILLAH DI AKHIR (100)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Setiap tindakan yang baik apapun, seharusnya menyebut nama Allah SWT. Ucapan itu adalah Bismillahir rahmanir rahim, yang artinya secara harfiyah adalah “dengan menyebut asma Allah yang rahman dan rahim”. Semua tindakan dan prilaku yang diawali dengan menyebut asma Allah SWT, maka akan menjadi amalan shalihan. Yaitu amalan yang sesuai dengan ajaran agama Islam.

Jika kita mau bekerja kantoran, akan bekerja dalam sektor negeri atau swasta, atau pekerjaan lainnya yang terkait dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan perbuatan tersebut dimulai dengan ungkapan basmalah, maka pekerjaan tersebut akan menjadi ladang ibadah. Jika kita makan, minum dan memasukkan yang halal ke dalam tubuh  dengan ucapan basmalah, maka yang kita lakukan itu hakikatnya adalah ibadah. Jika kita mengajar, ceramah umum atau agama dan mendidik individu, komunitas atau masyarakat dan memulainya dengan ucapan basmalah, maka yang kita lakukan juga ibadah.

Jika kita jihad fi sabilillah dalam keadaan perang atau damai, maka asalkan  jihad tersebut dimulai dengan basmalah, maka jihad tersebut menjadi amalan ibadah kepada Allah. Tentu jihad dalam makna yang sesuai dengan keyakinan ahlu sunnah wal jamaah, yaitu jihad dengan perang dalam negeri sedang berperang atau harakah jihadiyah, dan jihad dalam damai yaitu bersungguh-sungguh dalam melakukan perubahan sosial akseleratif yang momot nilai agama. Semuanya  termasuk dalam konteks beribadah kepada Allah SWT.

Menyebut Allah itu memiliki dua dimensi, yaitu asma dan makna. Bagi penganut tasawuf jika menyebut Allah hanya dengan menyebut namanya atau asmanya saja, maka disebut kafirun. Yang diharapkan adalah menyebut asma dan maknanya sekaligus. Jika hanya menyebut nama-nama Allah sesuai dengan 99 nama itu, maka dianggap belum menjadi mukmin hakiki. Bisa dinyatakan sebagai mukmin hakiki jika tidak hanya menyebut asma Allah tetapi juga hakikat nama tersebut bagi Allah. Man abdal asma fahuwa kafirun. Man abadal asma wal ma’na fahuwa mu’minun haqiqiyun.

Sama dengan menyebut basmalah. Maka yang diharapkan adalah menyebut makna basmalah dan bukan hanya ucapan basmalah. Menyebut nama Allah yang hanya di bibir atau pernyataan saja bisa dianggap kurang oleh ahli tasawuf. Bagi mereka menyebut nama Allah itu dengan dhahir atau ucapan dan dengan batin atau hati. Keduanya saling menyatu atau dalam satu kesatuan. Lahir dan batin, sama-sama menyebut asma Allah. Lahirnya dengan ucapan dan batinnya dengan rasa-rinasa atau dengan kedalaman perasaan. Jika menyebut asma Allah di dalam memulai segala sesuatunya, maka kahadiran yang dhahir dan bathin itu sangat penting.

Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Amr bin Abi Salamah RA., berkata: “Rasulullah SAW bersabda kepadaku: “ucapkanlah bismilah dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah dari makanan yang ada di dekatmu”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih. Hadits dari Aisyah RA: “apabila seseorang dari engkau semua makan, maka hendaklah menyebutkan nama Allah ta’ala –yakni mengucapkan bismillah. Jikalau ia lupa menyebut nama Allah ta’ala pada permulaan makannya itu, maka hendaklah mengucapkan Bismillahi awwalahu wa akhirahu, artinya Dengan nama Allah pada permulaan makan dan pada penghabisannya”. Hadits riwayat Imam Abu Dawud.

Dari hadits Nabi Muhammmad SAW dan juga sedikit penjelasan sosiologis tersebut, kiranya dapat digambarkan di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama,  kiri dan kanan, adalah lambang kejelekan dan kebaikan. Keduanya merupakan sifat yang melekat pada manusia atau atribut perilaku atau tindakan manusia. Setiap manusia memiliki sifat-sifat yang melekat, yaitu sifat kebaikan dan keburukan. Dua sisi sifat manusia yang “rasanya” azali. Setiap manusia memilikinya dan tidak akan dapat menolaknya, jika sudah menjadi takdirnya atau ketentuannya. Namun demikian, Allah maha Rahman dan Rahim, sehingga Allah menurunkan rasul dengan kitab-kitabnya untuk menjadi panduan di dalam kehidupannya. Rasul memiliki dua tugas untuk mengemban amanah Allah yaitu memberikan kabar kegembiraan atau tabsyir dan memberikan peringatan atas manusia atau tandzir. Keduanya berjalan seiring.

Sebagai representasi atas rahman dan rahim Tuhan, maka rasul diturunkan kepada umat manusia dengan risalah kenabian, baik yang berupa ketauhidan maupun amal peribadahan, baik untuk Tuhan atau untuk sesama manusia. Rasul tidak hidup secara fisikal selamanya, akan tetapi rasul hidup di dalam kehidupan manusia yang mendengarkan dan mengamalkan ajarannya. Untuk hal tersebut, maka Allah menurunkan orang-orang yang disebut sebagai ulama atau orang yang memahami makna kitab suci sebagai pedoman. Mereka disebut sebagai “pewaris para Nabi” atau “al ulama waratsatul anbiya”. Mereka adalah orang yang menjadi representasi para Nabi. Oleh karena itu, seharusnya para ulama adalah orang yang menjadi teladan di dalam kehidupan. Memiliki sifat-sifat yang terkait dengan sifat Nabi, yaitu shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah.

Kedua, kita bersyukur karena memiliki ulama-ulama teladan dalam berbagai cabang keilmuan. Misalnya Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan para ahli hadits yang wira’i yang dapat menjadi contoh atas ucapan dan tindakan Nabi dan penafsiran-penafsiran atas sunnah Nabi SAW, sehingga kita dapat melakukan tindakan yang bersesuaian dengan apa yang menjadi sunnah Nabi SAW. kehadiran para ahli hadits dan kemudian berlanjut dengan kehadiran para ahli fiqih seperti Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hambali dan Imam Hanafi dan seluruh jajaran ahli fiqih yang wira’i, maka amalan ibadah kita terukur sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nabi SAW sesuai dengan penafsiran para ahlinya.  Tanpa kehadiran mereka semua, maka kita tidak bisa memastikan apakah yang kita lakukan itu benar atau salah. Pengamalan beragama menjadi terukur sesuai dengan penafsiran para ahlinya.

Ketiga, kita sedang hidup di era semakin kuatnya cengkeraman budaya barat atas kehidupan. Jika di masa lalu tidak terdapat mall dengan berbagai varian produk di dalamnya, maka kita sekarang sedang hidup di dunia serba ada dan serba disajikan. Jika makanan dan minuman, maka ada yang halal dan ada yang nonhalal. Di antara budaya barat adalah makan dengan tangan kiri. Biasanya ada dua atau tiga alat makan. Sendok, garpu dan pisau, jika diperlukan. Tradisi barat itu, untuk memotong daging memakai tangan kanan dan tangan kiri untuk makan. Yang melakukan seperti itu dianggap modern. Tangan kiri menjadi instrumen untuk makan. Inilah yang banyak diadaptasi generasi milenial atas nama kemodernan atau efektivitas makan.

Tradisi seperti ini bertentangan dengan tradisi makan di dalam Islam yang memang menggunakan tata cara makan Nabi SAW. Oleh karena itu, mengajarkan tradisi menggunakan tangan kanan dan kaki kanan untuk memulai aktivitas merupakan kebutuhan di era moderen sekarang ini. Anak-anak kita harus tetap meneladani ajaran agama sebagaimana diajarkan oleh Nabi SAW. Kita berkeyakinan bahwa dengan meneladani Nabi SAW,  maka kita akan dapat menjadi bagian dari keluarga ideologis Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SUNNAH MENDAHULUKAN YANG KANAN (99)

SUNNAH MENDAHULUKAN YANG KANAN (99)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Islam melambangkan kebaikan itu dengan kanan. Kanan merupakan sebuah gambaran tentang perilaku yang berada di dalam konteks keagamaan dan juga dimensi sosial. Islam memberikan penggambaran bahwa orang yang dianggap memenuhi kriteria sebagai hamba Tuhan yang patuh dan taat kepada ajaran Islam itu dengan simbol kanan. Jadi kanan merupakan lambang manusia yang meyakini keberadaan Allah dan mengamalkan ajaran Allah sebagaimana yang diajarkan oleh semua nabi dan rasul yang diturunkan ke dunia.

Sedangkan kiri adalah simbol yang digunakan untuk menggambarkan orang yang tidak mematuhi ajaran agama atau orang yang tidak meyakini keberadaan Allah SWT dan tidak beramal kebaikan sebagaimana diajarkan oleh para nabi dan rasul Allah. Kiri merupakan lambang ketidakpatuhan dan ketidakberimanan kepada Allah.

Di dalam teks Alqur’an dijelaskan bahwa orang yang menerima catatan amalnya dari arah kanan, maka dia dilambangkan sebagai orang yang akan memperoleh kebahagiaan di akherat atau akan memasuki surga. Dan yang menerima catatan amalnya dari sisi kiri maka sebagai pertanda akan memasuki kesengsaraan atau akan memasuki neraka.

Namun demikian dapat menjadi pertanyaan, kiri itu fakta kejelekan  secara empiris atau kiri itu hanyalah lambang, sebagaimana kanan juga fakta kebaikan secara empiris atau hanya lambang saja. Kiri  atau kanan adalah simbol. Simbol kejelekan dan simbol kebaikan. Tetapi di sisi lain, kanan atau kiri juga menjadi kenyataan empiris di dalam perilaku sehari-hari, misalnya penggunaan tangan kanan atau kiri di dalam perilaku keseharian. Jadi, kanan atau kiri dapat menjadi fakta empiris dan fakta simbolis.

Di dalam dunia pewayangan, maka Bala tengen atau golongan  kanan merupakan para kesatria kebaikan, pujangga, dewa dan semua yang terkait dengan kebaikan, kesopanan, keberanian, pembela negara dan prilaku kebenaran, sedangkan bala kiwo atau golongan  kiri adalah bala tentara raksasa, kesatrian yang berjuang untuk kejelekan dan semua atribusi atas kejelekan atau keburukan dan seluruh prilaku kejahatan. Wayang  adalah perlambang dan begitulah manusia mengekspresikan lambang-lambang tersebut.

Ada seorang penulis Muslim, Hassan Hanafi, yang menulis tentang “Kiri Islam”, jika yang kanan itu stagnan di dalam prilaku yang disebut “kebaikan”, maka yang kiri itu malambangkan pemerdekaan, kebebasan dan kemauan untuk melakukan perubahan.  Baginya, kiri tidaklah mesti harus diterjemahkan sebagai ruang “kejelekan”. Tetapi ruang “peluang” untuk berubah. Akan tetapi, sebagaimana yang dapat dipahami dari hadits-hadits Nabi SAW, bahwa untuk melakukan tindakan yang penting dan utama maka seharusnya dimulai dengan kanan.

Alqur’an Surat Al Haqqah: 19, menjelaskan: “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata:  “ambillah, bacalah kitabku (ini). Lalu juga di dalam Surat Al Waqi’ah: 8-9: “Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu”.

Hadits yang diriwayatkan oleh “Aisyah RA, berkata: “Rasulullah SAW sangat menyenangi mendahulukan yang kanan dalam setiap urusannya. Dalam bersuci, menyisir rambut dan mengenakan sandal”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih. Hadits diriwayatkan oleh “Aisyah RA berkata: “tangan kanan Rasulullah SAW untuk bersuci dan makan beliau dan tangan kirinya untuk ke kamar mandi dan hal-hal yang kotor”. Hadits Riwayat Imam Abu Daud. Hadits dari Hafshah RA, bahwa:  “Rasulullah SAW menjadikan tangan kanannya untuk makan, minum dan mengenakan pakaiannya. Dan menjadikan tangan kirinya untuk mnelakukan selain itu semua”. Hadits Riwayat Imam Abu Daud dan Imam At Tirmidzi.

Dari penjelasan Alqur’an dan Hadits dan juga sedikit analisis sosiologis di atas, kiranya dapat dijelaskan lebih lanjut dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, berdasarkan ayat Alqur’an, dapat dipahami bahwa kata kiri merupakan lambang perbuatan jelek yang berakibat pada kesengsaraan. Yaitu orang yang nanti di akherat akan masuk ke neraka. Untuk menjadi golongan  kiri, maka yang bersangkutan adalah orang musyrik, orang kafir atau munafik dan yang berperilaku kejahatan. Di dalam teks dinyatakan sebagai orang yang nanti di akherat akan menjadi Ashabus Syimal, yaitu orang yang akan mendapatkan siksaan angin yang panas dan air yang mendidih, dalam naungan awan yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan, padahal sebelumnya merasakan kehidupan dalam kemewahan dan terus mengerjakan dosa besar. (QS: Al Waqiah: 41-46).

Kedua, kanan merupakan lambang orang yang melakukan kebaikan. Mereka orang yang beriman dan mengamalkan amalan-amalan shaleh. Mereka kelak akan menjadi penghuni surga. Di teks disebutkan dengan ungkapan Ashabul Yamin atau golongan kanan. Yaitu mereka yang mendapatkan keberuntungan karena mereka telah melakukan amalan-amalan kebaikan. Di dalam teks Alqur’an dinyatakan: “mereka berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang-pisang yang buahnya bersusun-susun, naungan yang terbentang luas, air yang terus menerus mengalir dan buah-buahan yang banyak yang tidak berhenti berbuah, tempat tidur yang empuk, ada banyak bidadari yang terdiri dari kaum perempuan yang masih perawan yang penuh cinta dan kasih sayang”. (QS Al Waqiah: 28-37).

Ketiga,  Nabi Muhammad SAW adalah teladan kehidupan, sebab Beliau adalah representasi dari sifat-sifat kebaikan Tuhan. Di dalam hadits Nabi SAW dijelaskan tentang bagaimana Nabi SAW itu melakukan kegiatan-kegiatan, misalnya makan, minum, memakai pakaian dan berjalan untuk kebaikan selalu  dilakukan oleh Beliau dengan tangan kanan atau kaki kanan. Hal ini menunjukkan bahwa kanan itu utama.

Oleh karena itu, marilah kita pahami bahwa kanan bukan hanya fakta simbolik tetapi juga hal-hal yang berupa fakta  empiris. Memulai sesuatu tindakan dengan yang kanan secara empiris adalah prilaku Nabi SAW, sehingga umat Islam juga harus melakukan tindakan sesuai dengan tindakan Rasulullah SAW. Dan yang kiri juga memiliki makna simbolik dan juga perilaku empiris yang nyata. Nabi SAW menggunakan secara fungsional atas bagian anggota badan yang kiri untuk kepentingan yang memang sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. Dan kita tentu harus melakukan amalan-amalan yang sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SUNNAH MELAKUKAN KEBAIKAN DALAM JALAN YANG BERVARIASI (98)

SUNNAH MELAKUKAN KEBAIKAN DALAM JALAN YANG BERVARIASI (98)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Syekh Imam An Nawawi pada bab ke 98 menjelaskan tentang “Disunnahkannya Pergi Menuju Shalat Idul, Menjenguk Yang Sakit, Berhaji, Berperang, Mengantar Jenazah Dan Semacamnya Dari Satu Jalan Dan Pulang Dari Jalan Lain Untuk Memperbanyak Tempat-Tempat Ibadah”. Sehubungan dengan judul tersebut, maka secara sengaja saya singkat menjadi “Sunnah Melakukan Kebaikan Dalam Jalan Yang Bervariasi”.

Islam adalah agama yang mengajarkan kepada kita semua tentang makna kebaikan. Kebaikan dalam Islam tersebut banyak di antaranya yang disunnahkan adalah pergi untuk ke tempat shalat idul fitri ataupun idul adha. Dan sebagai rasa persahabatan, Islam juga mengajarkan agar menengok sahabat yang sakit. Termasuk juga mengantar jenazah ke pekuburan dan yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. semua ini termasuk dalam kategori melakukan silaturrahmi. Islam sangat menghargai orang yang suka melakukan silaturrahmi. Bahkan Rasulullah SAW menyatakan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir atau kiamat, maka hendaknya menyambung tali silaturrahmi. Hal ini menunjukkan betapa mulianya orang yang melakukan silaturrahmi.

Yang menjadi kewajiban bagi orang yang telah mampu adalah melakukan ibadah haji. Jika di dalam suatu peperangan, maka bagi yang secara fisik mampu berperang, maka hendaknya ikut berperang. Melakukan ibadah haji memang tidak dikenakan kepada semua umat Islam. Ibadah haji hanya diberlakukan kepada umat Islam yang memiliki kemampuan, baik istitha’ah iqtishadiyah maupun istitha’ah sihhatiyah. Memiliki kemampuan ekonomi dan kemampuan kesehatan. Bagi umat Islam yang lain tidak diwajibkannya. Demikian pula untuk melakukan peperangan, maka yang diharapkan adalah orang yang berkemampuan dalam berperang, sehat dan kuat fisiknya.

Nabi Muhammad SAW, juga menganjurkan agar jika di dalam perbuatan yang memerlukan perjalanan, maka sebaiknya seseorang dapat mengambil jalan yang bervariasi. Misalnya dalam shalat jamaah yang mengharuskan datang ke masjid atau tempat ibadah,  maka agar bisa mengambil jalan yang berbeda untuk pergi dan pulangnya. Itulah sunnah Nabi SAW di dalam ibadah yang memerlukan perjalanan ke tempat ibadah dimaksud.

Nabi Muhammad SAW., juga mengajarkan agar sesama manusia bisa saling menyayangi. Di antara bentuk saling menyayangi adalah dengan saling berkunjung. Jika ada sahabat kita yang sakit, maka kita diminta untuk menjenguknya. Jika ada sahabat yang wafat hendaknya mengantarkan jenazahnya. Melalui tindakan seperti itu, maka ikatan persahabatan akan menjadi sangat kuat. Persahabatan itu bagian dari cara kita memanusiakan manusia. Dengan persahabatan yang kuat, maka ukhuwah islamiyah juga akan menjadi lebih kuat.

Syekh Imam An Nawawi menukil Hadits yang diceritakan oleh Jabir RA berkata: “dahulu Nabi SAW apabila (pergi ke tempat shalat) pada hari raya, Beliau membedakan jalan (di antara pergi dan pulan). Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Selain itu juga terdapat Hadits dari Ibnu Umar RA., bahwa: “Rasulullah SAW dahulu ketika pergi (meninggalkan Madinah) mengambil jalan Asy Syajarah dan ketika masuk mengambil jalan Al Mu’arras. Dan jika Beliau memasuki Makkah Beliau masuk dari As Tsaniyatul Ula dan keluar dari As Tsaniyatul Sufla”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih.

Dari hadits tersebut, maka dapat dijelaskan dengan tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah itu Maha Rahman dan representasi rahmannya tersebut berada di dalam diri Nabi Muhammad SAW. Manusia tentu sulit untuk mengenal langsung akan kasih sayang Allah, akan tetapi dengan lebih mudah untuk memahami rahmannya Allah melalui perilaku Muhammad SAW dalam sirah Nabi Muhammad atau juga yang terdapat di dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW, maka rahman Nabi SAW tersebut sangat kentara. Dengan mudah manusia yang membaca sejarah Nabi SAW dan hadits-hadits Nabi SAW akan memahami bagaimana Rasulullah SAW adalah hamba Allah yang menerapkan kehidupan berbasis pada sikap dan prilaku rahman. Salah satu perwujudan dari rahman tersebut terdapat di dalam sikap dan prilaku saling bersilaturrahmi. Dipastikan bahwa silaturrahmi akan terwujud,  jika di antara sesama sahabat atau saudara memiliki kesamaan dalam persahabatan.

Kedua, syarat untuk saling bersahabat adalah memiliki kesamaan perasaan, pikiran dan prilaku. Sesama umat Islam yang memiliki kesamaan-kesamaan tersebut dipastikan akan saling berinteraksi dalam wujud silaturrahmi. Seirama dengan perkembangan zaman, maka silaturrahmi tidak harus diselenggarakan di dalam situasi face to face relationship, akan tetapi bisa juga melalui virtual atau disebut silaturrahmi virtual. Di masa pandemi Covid-19, maka nyaris seluruh silaturrahmi dilakukan dengan virtual. Bahkan juga ada Hari Raya Virtual.

Melalui konsep persahabatan dimaksud, maka kemudian terjadi implementasi silaturrahmi, dan juga menjenguk ketika ada di antara yang sakit. Tetapi di tengah perubahan sosial yang kompleks, maka menjenguk orang yang sakit juga dapat melalui virtual. Jika terdapat dalam satu kota, maka menjenguk secara face to face masih bisa dilakukan, akan tetapi jika tidak berada di dalam kota atau wilayah yang sama, maka dapat juga dilakukan melalui kontak virtual. Dari medan yang jauh, dapat juga melakukan upaya untuk saling mendoakan. Jangankan yang masih sesama di dalam alam dunia, yang sudah berada di alam barzakhpun bisa didoakan. Inilah salah satu kehebatan ajaran Islam dalam mengagungkan ikatan persahabatan, tidak hanya yang dikenal tetapi juga sesama umat Islam.

Ketiga, ajaran kebaikan di dalam Islam itu sangat banyak. Tetapi sebagaimana yang dipahami dari penjelasan-penjelasan di atas, misalnya adalah mendatangi shalat hari raya dengan varian jalan yang dilalui, melakukan ibadah haji bagi yang mampu, mengikuti jihad fi sabilillah jika berada di dalam darul harbi atau berada di dalam ruang harakah jihadiyah serta melakukan kebaikan dan memperbanyak tempat kebaikan.  Semua itu dilakukan sebagai pengabdian kita kepada Allah SWT. Barang siapa yang melakukan lebih banyak, maka juga akan mendapatkan pahala yang lebih banyak.

Wallahu a’lam b al shawab.

 

 

 

 

KEUTAMAAN ISTIKHARAH DAN MUSYAWARAH (97)

KEUTAMAAN ISTIKHARAH DAN MUSYAWARAH (97)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam kehidupan ini tentu akan terdapat pilihan-pilihan. Manusia sering dihadapkan atas pilihan-pilihan yang terkadang sulit untuk memilihnya. Apalagi di era sekarang di mana kehidupan terus berubah, dan terkadang perubahannya sangat cepat. Oleh karena itu, manusia harus melakukan upaya untuk bekerja keras di dalam memilih mana yang dianggap penting dan paling sesuai dengan kehidupannya.

Manusia hidup di dalam kehidupan sosial yang kompleks, yang terkadang akan sulit untuk memilih mana yang penting atau urgent dan mana yang hanya diperlukan saja. Ada yang urgent dan ada yang important. Yang urgent itu sangat penting sehingga diperlukan untuk memilihnya, dan ada yang important atau perlu dipilihnya.

Memilih bukan perkara mudah. Membutuhkan berbagai pertimbangan, misalnya pertimbangan akal atau rasio, pertimbangan sosial, pertimbangan ekonomi, bahkan juga politik. Dan yang tidak kalah penting adalah pertimbangan hati. Pertimbangan-pertimbangan itu bercorak sistemik atau antara satu dengan yang lain saling terkait. Pertimbangan akal  sering kali berbasis atas untung rugi. Mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan. Pertimbangan hati itulah kata kuncinya. Ada yang disebut sebagai “kata hati”. Dialah yang sering dapat memberikan pertimbangan pilihan yang tepat.

Karena kita menginginkan pilihan yang tepat berbasis pada kebanaran kata hati, maka itulah sebabnya Islam mengajarkan tentang ajaran shalat istikharah. Shalat itu diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW., agar kita bisa memilih pilihan  yang tepat. Pilihan rasional bisa saja mengarahkan seseorang pada pilihan yang salah, maka pilihan yang benar harus menggunakan pilihan hati nurani berbasis shalat istikharah.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin menukil ayat-ayat Alquran dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Di antara ayat Qur’an yang dinukil, misalnya:  Ayat Alqur’an di dalam Surat Ali Imran: 159 menyatakan: “dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…”. Kemudian  di dalam Surat Asy Syura: 38, Allah berfirman: “sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka…”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir RA., “Rasulullah SAW mengajarkan kepada kami (doa) meminta pilihan dalam setiap urusan seperti (mengerjakan)  surat Alqur’an. Beliau bersabda: “apabila  salah seorang di antara kalian bermaksud melakukan suatu perkara, hendaklah ia shalat dua rakaat yang tidak wajib, kemudian ucapkanlah: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan kepada-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku meminta kekuatan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku meminta kepada-Mu dari karunia-Mu yang agung. Karena, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu, dan Engkaulah yang Maha tahu segala yang gaib.  Ya Allah jika engkau tahu bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusan agamaku, penghidupanku dan akhir dari urusanku atau Beliau mengatakan perkaraku yang segeranya dan yang ditundanya, maka takdirkanlah ia untukku dan mudahkanlah, kemudian berkahilah ia untukku. Dan jika engkau tahu bahwa perkara ini jelek untukku dalam urusan agamaku, penghidupanku dan akhir dari urusanku atau Beliau mengatakan perkaraku yang segeranya dan yang ditundanya, maka palingkanlah urusan itu dariku dan palingkanlah urusan itu dariku dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana saja ia berada, kemudian ridhailah aku terhadapnya. Jabir berkata: “lantas menyebutkan kebutuhannya”. Hadits riwayat Imam Bukhari.

Dari penjelasan tersebut, saya mencoba untuk menggaris bawahi dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, kita sekarang berada di  Era  Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity (VUCA). Era votality ditandai dengan terjadinya perubahan yang cepat dan nyaris tidak terduga. Zaman yang tidak menentu. Zaman yang kompleks atau serba rumit.  Banyak  perilaku yang ambigu serba ganda. Di sinilah letak pentingnya pendekatan agama di dalam kerangka untuk memilih mana tindakan yang tepat dan mana tindakan yang kurang tepat.

Di dalam kehidupan ekonomi, politik dan bahkan keagamaan menjadi serba rumit. Seorang pengusaha yang kemarin untung hari ini merugi. Seorang politikus yang kemarin hebat, tiba-tiba hancur terkena masalah. Seseorang yang kaya, tiba-tiba menjadi miskin karena kesalahan dalam memilih tindakan. Dunia sekarang  tidak bisa diprediksi dengan tingkat akurasi yang tinggi, disebabkan banyak variabel yang harus terlibat di dalamnya. Di masa lalu, seorang ahli bisa memprediksi dengan keakuratan tinggi berbasis tren data untuk memprediksi tentang masa depan sebuah usaha, tetapi sekarang sangat sulit.

Kedua, Islam sebagai agama yang mengedepankan dimensi kemanusiaan, maka memberikan peluang untuk menemukan sesuatu yang baik bagi dirinya. Islam memiliki ajaran kebahagiaan, yang tidak hanya kebahagiaan di dunia tetapi juga kebahagiaan di akherat. Untuk sampai kepada kebahagiaan, maka Islam membentangkan pilihan jalan yang baik atau jalan yang jelek. Terkadang pilihan itu sulit sebab terdapat ambiguitas dan kompleksitas di dalam memilihnya. Jika terdapat kesulitan, maka Islam mengajarkan untuk melakukan shalat istikharah agar mendapatkan pilihan yang terbaik.

Jika seseorang bisa melakukannya dengan benar, maka bisa dilakukan sendiri shalat istikharah tersebut, akan tetapi jika sulit melakukannya maka boleh meminta bantuan kepada orang yang melebihinya dalam melaksanakan shalat istikharah. Bahkan terkadang hasil istikharah  tidak sesuai dengan keinginan kita, maka hasil istikharah merupakan jalan terbaik yang bisa dilakukan.

Ketiga, selain itu juga perlu untuk melakukan musyawarah dalam menyelesaikan berbagai urusan duniawi. Allah SWT memberikan petunjuk bahwa dalam urusan duniawi, maka manusialah yang mengetahuinya. Urusan pekerjaan, urusan perdagangan, urusan politik dan urusan agama yang terjadi di dunia, maka jalan terbaik adalah melalui musyawarah. Di dalam relasi sosial, sangat dimungkinkan terjadi “ketegangan”, “perbedaan” dan bahkan “konflik” di antara sesama manusia. Islam mengajarkan agar kita bermusyawarah atas urusan yang kita terlibat di dalamnya. Jika terjadi ketegangan dalam keadaan berdiri, maka duduklah untuk menyelesaikannya. Pasti ada solusi jika kita dapat duduk untuk menyelesaikan  ketegangan-ketegangan tersebut.

Kata kunci di dalam kehidupan adalah: “masalah, musyawarah dan berserah”. Jika ada masalah, bermusyawarahlah dan hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

WASIAT ATAU DOA ATAS PERKAWANAN DAN DOA UNTUKNYA (96)

WASIAT ATAU DOA ATAS PERKAWANAN DAN DOA UNTUKNYA (96)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir rahim.

Kita sesungguhnya telah memiliki tradisi untuk saling berdoa. Minimal kita mengucapkan salam  ketika kita akan memasuki rumah atau bertemu dengan sahabat atau orang lain. Jika kita akan memulai rapat atau pertemuan dipastikan kita akan mengucapkan salam. Bahkan ada yang salam seluruh agama dinyatakannya. Kita tidak perlu berdebat tentang kebolehan atau ketidakbolehannya, akan tetapi mari kita pahami maknanya dari sudut kemanusiaan.

Sebagai sesama umat Islam sudah tentu jika saling berdoa adalah kebaikan. Pesan di dalam doa tentu adalah pesan keselamatan, pesan untuk bertaqwa kepada Allah dan pesan agar kita selalu di dalam lindungan Allah SWT dan selalu hidup di dalam keberkahan. Memang bisa bervariasi pernyatannya, akan tetapi inilah pesan atau wasiat yang terbaik untuk sesama umat Islam.

Islam mengajarkan betapa pentingnya untuk saling mendoakan. Islam begitu konsern atas pentingnya berdoa untuk sesama umat Islam. Itulah sebabnya para ulama masa lalu membuat ungkapan yang isinya untuk mendoakan sesama umat Islam. Dimulai dengan mendoakan keluarga, sahabat, umat Islam bahkan doa itu untuk yang masih hidup atau sudah wafat.

Doa keselamatan itu nyaris kita baca setiap selesai shalat maktubah. Terutama shalat berjamaah. Sebagian umat Islam bahkan membaa Al Fatithah kepada Rasulullah SAW,  istri-istrinya, putra-putranya dan sahabat-sahabatnya. Lalu untuk orang tua, kakek nenek, dan ke atas sampai leluhur kita di masa lalu, dan juga doa untuk keberhasilan kita dalam banyak hal.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan pada Bab 96 tentang: “Melepas Saudara dan Memberinya Pesan Ketika Dia Pergi Untuk Perjalanan Jauh Dan Semisalnya Serta Mendoakannya Dan Meminta Doanya”. Judul ini kemudian saya ringkas menjadi “Wasiat Atau Doa Atas Perkawanan Dan Doa Untuknya”. Ada beberapa ayat Alqur’an dan hadits yang dinukil untuk menjelaskan atas tema pada Bab 96 ini. Di antaranya adalah:

Ayat Alqur’an menjelaskan di dalam Surat Al Baqarah: 132-133 bahwa: “Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. Ibrahim berkata: “Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab, ‘kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq.  (Yaitu) Tuhan yang Maha Esa, dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya”.

Hadits Rasulullah SAW yang diceritakan oleh Zaid bin Arqam RA., yang telah disebutkan sebelumnya dalam Bab Memuliakan ahlu bait Rasulullah. Rasulullah SAW pernah berdiri menyampaikan khotbah di tengah-tengah kami. Beliau memuji dan dan memuja Allah, kemudian menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau bersabda: “Amma ba’du. Ketahuilah saudara-saudara sekalian. Aku hanyalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabbku (Malaikat Maut) akan datang dan aku akan memperkenankannya. Aku tinggalkan kalian As saqalain (dua hal yang berat). Pertama, Kitabullah (Alqur’an) yang di dalamnya terkandung petunjuk dan cahaya. Maka ambillah kitab Allah dan berpegang teguhlah kepadanya. Beliau lantas menghimbau serta memotivasi kepada Kitab Allah. (Kedua) dan ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku”. Hadits riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab RA., berkata: ‘aku meminta izin kepada Nabi, SAW, untuk melaksanakan umrah’. Beliau pun memberikan izin dan bersabda: “Wahai Saudaraku, janganlah engkau melupakan kami dalam doamu. Lalu Beliau menyebut sebuah perkataan, aku tidak akan senang bila ucapan itu ditukar dengan dunia”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA., berkata: seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin melakukan perjalanan, maka berilah aku bekal’. Beliau bersabda: “semoga Allah membekalimu dengan ketaqwaan”. Orang itu berkata: ‘tambahkanlah untukku’. Beliau bersabda: “semoga Allah mengampuni dosamu”. Orang itu berkata lagi: ‘tambahkan lagi untukku’. Beliau bersabda: “Dan semoga Allah memudahkan kebaikan untukmu di manapun engkau berada”. Hadits Riwayat Tirmidzi.

Dari penjelasan sosiologis, ayat Alqur’an dan Hadits Nabi, maka dapat ditambahkan penjelasannya dalam tiga hal, sebagai berikut:

Pertama, Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah sedemikian perhatiannya untuk umatnya. Orang yang memohon doa dipastikan akan didoakannya. Doa tersebut terkait dengan kebaikan-kebaikan,  baik untuk akherat maupun untuk duniawi. Didoakan agar selalu dalam ketaqwaan kepada Allah SWT, keselamatan dan keberkahan di dalam kehidupan. Bahkan Nabi SAW di kala Umar akan melakukan umrah, di kala pamit maka Rasulullah SAW memintanya untuk tidak melupakannya di dalam doanya. Rasulullah SAW mendoakan dan umat Islam lainnya juga mendoakannya. Subhanallah, inilah indahnya Islam. Agama yang menganjurkan umatnya untuk berkasih sayang dan saling mendoakan di dalam kebaikan.

Kedua,  salah satu keutamaan Rasulullah adalah  kasih sayang dan kecintaannya kepada umat Islam. Nabi SAW  tidak membedakan antara sahabat dekat, jauh dan umatnya hingga sekarang. Sayyidina Umar sahabat dekatnya, dan orang Islam lain tidak dibedakan di dalam mendoakannya, yaitu doa untuk terus bertaqwa, doa untuk ampunan atas kesalahan dan Allah memudahkan jalan ke arah kebaikan. Ungkapan “kita” lebih baik dari “aku”.  Doa-doa di dalam Alqur’an lebih banyak yang mengucapkan “kita” dibanding “aku”. Doa yang dimulai dengan kata “Rabbana” lebih banyak dan lebih utama. Islam sangat menghargai “kekitaan” dari pada “keakuan”.

Ketiga, kita sedang hidup di era media sosial. Era dimana perjumpaan tidak hanya lewat luring atau luar jaringan akan tetapi lewat daring atau dalam jaringan. Kita tidak ketemu dengan face to face relationship atau tetapi melalui media relationship. Jadi sesungguhnya kita bisa berdoa kapan saja dan di mana saja. Media sosial akan dapat menjadi instrumen bagi kita untuk saling mendoakan dan bukan saling membully. Oleh karena itu, marilah kita gunakan media sosial untuk kebaikan. Media sosial untuk berwasiat tentang kebenaran dan berwasiat untuk kesabaran.

Wallahu a’lam bi al shawab.