Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

AMBIL MAKANAN TERDEKAT DAN  AGAR MAKAN DENGAN SANTUN (104)

AMBIL MAKANAN TERDEKAT DAN  AGAR MAKAN DENGAN SANTUN (104)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Kita semua rasanya pernah terlibat di dalam acara jamuan makan dalam jumlah terbatas atau dalam jumlah yang banyak. Kita dipastikan akan berada di dalam meja makan dengan berbagai makanan yang disediakan. Seperti biasanya, di dalam jamuan makanan tersebut tentu ada variasi makanan, baik lauk pauk maupun sayurannya. Dipastikan bahwa variasi makanan tersebut berada di dalam satu meja. Dengan variasi makanan tersebut,  maka jenis makanannya akan tersebar dalam satu meja atau beberapa meja.

Jenis makanan tersebut misalnya ada gulai,  rendang, kare,  sate,  gudeg, sop buntut, ayam goreng, ayam pop, ayam balado, ayam sambalan, ayam panggang, ayam bakar, gulai kepada ikan, dan sebagainya. Inilah  jenis makanan yang saya tahu. Makanan yang bernuansa Eropa, Amerika, Jepang atau China dan Korea saya tidak paham.  Makanan tersebut berada di dalam satu meja atau beberapa meja. Makanya, seseorang bisa hanya menghadapi makanan dalam satu atau dua jenis saja. Makanan yang lain berada di tempat yang lain. Jadi, kita bisa memilih jenis makanan yang kita sukai,  tetapi berada di tempat yang jauh dari tempat duduk kita.

Sebagaimana pengalaman yang kita rasakan , maka ada seseorang yang mengambil makanan yang jauh dari tempat duduk kita. Mana yang kita sukai dipastikan akan diambilnya. Bahkan terkadang dengan tangan yang menjulur kesana kemari. Pokoknya mana yang suka di situ diambil. Di sinilah problem yang kita hadapi. Perilaku seperti ini etis atau tidak, boleh atau tidak, atau ada cara lain yang bisa dilakukan.

Syekh Imam An Nawawi menukil hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Umar bin Abi Salamah RA., berkata: “dulu aku seorang anak yang berada dalam pengasuhan Rasulullah SAW (saat makan bersama) tanganku bergerak dan menjulur ke sisi piring. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadaku: “Wahai anak, sebutlah nama Allah SAW, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang dekat denganmu”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih.

Hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Salamah bin Akwa’ RA., bahwa ada seseorang makan di hadapan Rasulullah  SAW dengan tangan kirinya, maka Beliau bersabda: Makanlah dengan tangan kananmu,” Orang itu berkata: “aku tidak bisa’. Beliau Bersabda: “Semoga kamu tidak bisa”. Tidak ada yang menghalanginya (makan dengan tangan kanannya) melainkan rasa kesombongan”. Salamah berkata: “maka ia tidak dapat mengangkat tangannya ke mulutnya”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih.

Berdasarkan atas hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dan juga sedikit penjelasan sosiologis, maka dapat dijelaskan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam merupakan ajaran agama yang sangat komplit. Yang diatur tidak hanya ibadah kepada Tuhan semata, akan tetapi juga mengatur tentang segala sesuatu, misalnya makan dan minum. Tidak hanya kehalalannya akan tetapi juga kethayyibannya. Tidak cukup makanan dan minuman halal tetapi juga makanan yang thayyib atau bermanfaat. Makanan daging kambing, sapi, kerbau, ayam dan lainnya yang disembelih dengan halal atau secara Islami dipastikan halal. Bahan-bahan makanan tersebut juga dimasak dengan cara yan benar berdasar atas bahan-bahan lain yang halal, akan tetapi itu saja belum cukup. Di dalam makanan tersebut ada dimensi kemanfaatannya. Orang yang terkena diabet, misalnya, maka harus menahan diri dari makanan atau minuman yang banyak mengandung unsur gula, sebab akan menyebabkan tingginya gula darah. Orang yang terkena stroke juga harus menjaga makanannya, tidak sekedar halal tetapi juga thayyib. Di sinilah Islam memberikan panduan yang lengkap dan jika dipedomani tentu akan membawa kepada kebaikan atau kesehatan.

Kedua, Islam bahkan mengajarkan tentang cara makan dan penataan makanan atau table manner. Tidak menempatkan makanan dalam jamuan makan begitu saja, yang terpenting tersaji. Akan tetapi Islam sedemikian rinci untuk mengatur bagaimana cara penataan dan cara makan. Islam mengajarkan agar makan dengan cara yang benar, misalnya dengan memperhatikan bagaimana cara mengambil makanan. Tidak asal ambil, akan tetapi ada etikanya. Ada sopan santunnya. Nabi Muhammad SAW melarang kita mengambil makanan yang jauh dari tempat duduk kita dengan cara tangan kita itu menjulur kesana-kemari. Makanlah yang berada di dekat kita. Itu pesan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya. Kita bisa bayangkan jika kita melakukannya, maka akan terdapat keruwetan di dalam mengambil makanan. Misalnya di meja ada gulai otak yang tempatnya agak jauh dari tempat duduk kita, lalu tangan kita harus meraihnya dengan melampaui piring orang lain. Alangkah tidak sopannya. Maka anjuran Nabi SAW agar kita ambil makanan yang terdekat kita itu sangatlah rasional. Andaikan kita menginginkannya, maka bisa dipindahkan makanan itu ke dekat kita dan kita memngambilnya, kemudian setelah itu dikembalikan oleh kawan kita yang sesama makan. Ini merupakan salah satu cara agar kita dapat juga menikmati makanan yang disajikan tanpa dengan cara tangan kita itu berkelebatan di sana-sini.

Ketiga, Islam merupakan agama yang secara konsisten mengajarkan sopan santun di dalam makan dan minum. Kesopanan merupakan prinsip ajaran Islam dalam segala corak kehidupan. Nabi SAW mengajarkan agar makan dengan tangan kanan bukan tangan kiri. Masing-masing memiliki fungsinya. Di dalam hadits di atas disebutkan: “makanlah dengan menyebut nama Allah SWT, makan dengan tangan kananmu dan jangan mengambil makanan yang jauh darimu.

Kita sekarang sedang berada di era pasar raya makanan dan minuman. Hampir seluruh Mall di sekitar kita terdaat foodcourt yang menjajakan aneka makanan, dari makan khas Indonesia, China, Jepang, Korea dan Makanan Barat lainnya. Semua serba ada. Oleh karena itu yang penting diperhatikan adalah apakah makanan tersebut makanan yang halal atau makanan yang sudah terdapat sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal atau BPJPH. Pastikan itu, karena makanan itu akan masuk ke dalam tubuh kita, yang akan menjadi asupan jasmani kita, tempat bersemayam jiwa dan roh kita. Makanan tersebut akan digunakan untuk beribadah dan membangun relasi sosial lainnya. Maka makanan halal merupakan kewajiban bagi kita untuk memilihnya. Dan kita sudah mengetahuinya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..