LARANGAN MENGAMBIL DUA KURMA ATAU LAINNYA DALAM MAKAN BERSAMA (105)
LARANGAN MENGAMBIL DUA KURMA ATAU LAINNYA DALAM MAKAN BERSAMA (105)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Salah satu sifat manusia adalah tamak atau loba. Suatu sikap yang ingin memiliki dalam jumlah yang banyak dalam aneka ragam kebutuhan. Kepemilikan ini merupakan watak dasar manusia yang memang didominasi oleh kebutuhan biologis. Manusia ingin segala sesuatunya terpenuhi. Sandang, pangan dan papan yang berlebihan. Jenis pakaian yang serba tercukupi. Ada berbagai jenis, misalnya jas, pakaian putih atau warna polos lainnya, batik, pakaian tradisional, dan pakaian yang serba bagus. Jenis kainnya juga menggambarkan pakaian yang bermerek. Celana juga bervariasi jenis dan jumlahnya. Ada jeans dengan aneka ragamnya, celana panjang dan pendek dengan berbagai mereknya, bahkan juga pakaian casual. Ada juga orang yang sehari-hari, siang dan malam selalu berpakaian casual. Suka-sukalah.
Lalu makanan juga serba lezat. Sehari bisa tiga jenis makanan. Bukan hanya makan di rumah tetapi makan di restoran yang mahal. Bahkan pagi hari makan di Surabaya, siang makan di Jakarta, dan malam hari makan di Singapura. Ada orang yang sudah mencicipi berbagai macam makanan di dunia ini. Bahkan di China seseorang bisa memakan makanan ekstrim, misalnya makanan yang terdiri dari kalajengking, ular dan binatang reptil lainnya. Manusia memang ingin sesuatu yang lebih dibandingkan dengan yang lain. Manusia juga menyukai sensasi.
Papan atau rumah. Ada rumah yang lahannya kelewat batas. Tentu saking luasnya. Di lahan rumah tersebut bisa terdapat vila-vila yang dapat dihuni oleh sanak keluarganya, jika datang. Manusia ingin memiliki rumah yang luas, indah dan menyenangkan. Jika kita melewati perumahan di Jalan Indramayu, Menteng, Jakarta Pusat maka kita dapat melihat rumah-rumah yang luas. Terkadang tidak hanya satu rumah, tetapi bisa tiga empat rumah. Pajaknya saja pada tahun 2018 yang lalu mencapai lima puluh juta. Dan anehnya, rumah-rumah tersebut tidak dihuninya, sebab yang punya rumah justru hidup di apartemen, sementara itu yang menghuni rumahnya adalah satpam. Begitulah manusia. Rumah bagaimanapun indah dan besarnya, ternyata yang kita butuhkan hanya satu kamar saja. Jadi, yang lain-lain hanya asesori saja.
Islam mengajarkan sesuatu secara mendalam. Alqur’an mengajarkan ajaran Islam yang mendasar atau disebut secara mujmal atau garis besarnya. Lalu hadits mengajarkan ajaran Islam yang mendalam. Shalat diwajibkan di dalam Alqur’an dan tata cara Shalat secara mendalam diungkapkan oleh hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Dalam perintah makan, Alqur’an memberikan gambaran yang umum saja, dan hadits Nabi SAW yang menjelaskan secara mendasar.
Nabi SAW mengajarkan kepada kita agar jangan melakukan sesuatu berlebihan, termasuk di dalam makan dan minum. Jika kita berada di dalam makan secara bersamaan atau prasmanan, maka janganlah kita menguasai makanan tersebut. Pertimbangkan kawan lainnya. Hadits Nabi SAW di sini menjelaskan perihal tersebut.
Hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Jabalah bin Suhaim berkata: “kami terkena tahun paceklik. Bersama Ibnu Az Zubair, kemudian kami diberi rezeki kurma. Saat itu Abdullah bin Umar RA., melewati kami yang sedang makan, kemudian ia berkata: “janganlah kamu mengumpulkannya (makan dua atau lebih sekaligus), karena Nabi SAW melarang mengumpulkan makanan (di mulut). Kemudian ia berkata: “kecuali orang tersebut meminta izin kepada saudaranya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.
Dari penjelasan sosiologis dan hadits Nabi SAW, maka dapat dijelaskan dalam tiga hal, yaitu:
Pertama, makan itu mengandung dua dimensi, yaitu dimensi fisik dan dimensi batin atau dimensi pemenuhan biologis dan pemenuhan kebutuhan spiritual. Dimensi fisik, bahwa tubuh kita itu membutuhkan asupan gizi untuk kekuatan dan kesehatan tubuh. Tubuh yang sehat itu disebabkan oleh makanan dan minuman yang sehat. Standarnya adalah separoh berisi karbohidrat dan protein dan separohnya lagi buah-buahan dan sayuran. Sementara itu mineral sebanyak dua liter atau delapan gelas.
Makan juga ada dimensi kebatinannya atau spiritualitasnya. Hal itu dilihat dari tata cara makan yang harus melibatkan dimensi religius, yaitu memulai dengan bacan basmalah dan mengakhiri dengan hamdalah. Jika di dalam makan itu dimulai dengan basmalah atau dengan menyebut Asma Allah, maka berarti ada sebanyak 99 nama yang kita sebut dan diringkas dengan membaca nama Allah saja. Bismillahir Rahmanir Rahim. Jadi dengan membaca basmalah dalam memulai makan, maka di situ terdapat perlunya dimensi spiritualitas.
Kedua, Islam mengajarkan agar dalam makan bersama, kita dilarang untuk mendominasi dalam makan. Islam bahkan mengajarkan larangan untuk mengambil dua kurma sekaligus, lalu dimakan. Islam mengajarkan makan dengan makanan satu-satu dan bukan banyak sekaligus. Janganlah mengambil dua kurma atau lebih lalu dikunyah di dalam mulut. Meskipun “hanya” makan, akan tetapi Islam benar-benar mengajarkan tentang kebersamaan dan kebaikan. Jangan ada di antara kita yang mendominasi di dalam memakan makanan yang ada di depan kita. Perhatikan orang lain, sebagai bagian dari kepedulian kita atas orang lain.
Ketiga, kita itu hidup di era modern yang banyak dipengaruhi oleh tradisi barat. Di dalam tradisi makan dikenal ada tradisi standing party, yang tradisi makannya dengan berdiri. Tradisi ini tidak sesuai dengan Islam, sebab Islam mengajarkan agar makan atau minum dengan duduk. Lalu juga tradisi makan dengan tangan kiri. Semua ini merupakan tradisi yang menghinggapi mindset orang modern. Dan sebagai umat Islam, tentu tradisi Islam dalam makan merupakan kewajiban kita untuk melakukannya. Jangan sampai karena atas nama modernitas lalu kita melupakan atau menghilangkan tradisi Islam yang sesuai dengan tindakan Nabi Muhammad SAW.
Wallahu a’lam bi al shawab.
