• August 2026
    M T W T F S S
    « Jul    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

JAMUAN MAKAN DAN KEHADIRAN ORANG YANG TAK DIUNDANG (103)

JAMUAN MAKAN DAN KEHADIRAN ORANG YANG TAK DIUNDANG (103)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillah al Rahman al Rahim.

Pasti banyak yang mengalami fenomena “tamu tidak diundang”. Di dalam jamuan makan atau di dalam resepsi pernikahan atau peristiwa lain yang serupa ternyata ada orang yang tidak diudang tetapi datang di dalam acara. Bukan hal yang aneh. Bisa saja terjadi. Namanya juga kehidupan yang mesti ada warna-warninya. Cuma yang problematik, jika persiapan untuk jamuan tersebut agak minimalis atau jumlahnya benar-benar dihitung sesuai dengan jumlah yang diundang. Tetapi terkadang ada keberkahan yang tidak diperkirakan.

Keberkahan itulah yang juga terkadang terjadi di dalam acara yang kita desain.

Para Nabi memiliki kisah tentang jamuan makan. Misalnya Nabi Ibrahim AS yang menjamu makanan dengan kualitas terbaik. Nabi Ibrahim AS adalah Nabi yang memberi contoh untuk menjamu tamu. Jadi, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW memberikan contoh tentang menjamu tamu, maka Nabi Ibrahim AS sudah melakukannya. Setelah Nabi Ibrahim AS menjawab tamunya dengan ucapan salam, maka Nabi Ibrahim AS tidak bertanya apakah tamu itu perlu dihidangkan makanan atau tidak, akan tetapi Nabi Ibrahim AS langsung memberikan makanan sebagai penghormatan atas tamunya. Disuguhkan oleh Nabi Ibrahim AS, seekor anak sapi yang sudah pantas untuk disembelih dan dagingnya dibakar untuk disajikan kepada tamunya. Yang disuguhkan adalah makanan yang istimewa, bukan sembarangan dan bahkan dihidangkannya sendiri. Nabi Ibrahim AS merupakan contoh seorang Nabi yang sangat menghormati atas tamunya.

Nabi Muhammad SAW sebagai pelanjut Agama Nabi Ibrahim yang hanif atau lurus, tentu juga sering memberikan jamuan makan. Suatu peristiwa yang menarik adalah di kala Perang Khandaq atau Perang Parit. Diceritakan bahwa umat Islam begitu semangat dalam menggali parit, sehingga melupakan makanan, akan tetapi lama kelamaan tentu badannya menjadi lemah. Rasul juga mengalami hal yang sama. Kelaparan. Makanya di perut Nabi Muhammad SAW diganjal dengan tiga batu untuk menahan lapar. Maka salah seorang sahabatnya, Jabir bin Abdullah, melihat hal tersebut. Maka Jabir meminta pamit kepada Rasulullah untuk pulang. Di rumah ternyata juga tidak tersedia makanan yang berlebih. Hanya ada anak kambing yang  kurus, dan beberapa gandum yang dapat dipakai untuk membuat roti. Tentu saja tidak cukup jika akan dipakai untuk menjamu makan seluruh umat Islam yang bekerja membuat parit. Rasulullah memerintahkan agar jangan membuka makanan itu sampai Rasulullah datang ke rumahnya. Makanan itu sedemikian berkah, sebab dapat dipakai untuk makan 1000 orang Muslim yang menggali parit. Inilah berkah Rasulullah SAW yang nyata dirasakan oleh umat Islam.

Keberkahan tentu tidak hanya dari Rasulullah SAW.,  akan tetapi bisa juga untuk umat Islam, tetapi dengan catatan keikhlasan yang tinggi. Bagi orang yang ikhlas menjamu tamu dengan kerelaan yang tinggi dan permohonan yang sangat mendalam agar makanan yang disajikan itu cukup, maka Allah akan dapat mengabulkannya. Sering kali kita dengar ungkapan yang menyatakan bahwa makanannya berkah. Cukup untuk semua tamu dan bahkan berlebih.

Syekh Imam An Nawawi dalam Kitab Riyadhus Shalihin menukil hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud al Badri berkata bahwa: “Ada seorang sahabat mengundang Nabi SAW makan yang telah dibuatnya untuk beliau yang cukup untuk lima orang. Lalu ada seorang yang ikut dengan mereka. Ketika sampai di pintu, Nabi SAW bersabda: “orang ini ingin ikut dengan kami. Jika engkau menghendaki, engkau bisa mengizinkannya. Dan jika tidak ingin, ia bisa kembali pulang. Ia berkata; “tentu, aku mengizinkannya wahai Rasulullah”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih.

Dari penjelasan Hadits Nabi SAW dan sedikit gambaran sosiologis, kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:

Pertama, Nabi Muhammad SAW adalah teladan kehidupan. Tidak hanya dari kasih sayangnya kepada umat manusia, akan tetapi juga Nabi Muhammad SAW merupakan teladan dalam makan dan minum. Misalnya Nabi SAW tidak pernah mencela makanan. Kalau suka dimakan kalau tidak suka tidak dimakan. Nabi SAW sedemikian menghargai makanan sebab makanan dan minuman adalah rezeki Allah SWT untuk manusia. Manusia memiliki ketahanan fisik, karena bisa makan dan minum yang memenuhi standart kesehatan. Bukan banyak atau sedikitnya, akan tetapi yang halalan thayyiban. Makanan dan minuman yang halal dan menyehatkan. Ada di antara kita yang sudah bisa meneladani perilaku ini dan ada juga yang belum bisa meneladaninya. Di antara orang yang sudah meneladani dalam hal ini adalah Gus Dur. Beliau termasuk orang yang tidak pernah mencela makanan.

Kedua, kita boleh menyelenggarakan jamuan makan, bagi yang diundang, maka menjadi kewajiban untuk mendatanginya. Ada yang disunnahkan mendatanginya. Yang jelas jika kita berasa di dalam waktu yang memungkinkan, maka rasanya mendatangi acara jamuan makan merupakan hal yang sangat utama. Nabi SAW pernah diundang makan pada waktu terjadi perang Khandaq, Nabi SAW juga pernah hadir dalam jamuan makan yang disediakan oleh sahabatnya. Perilaku ini meneladani atas tindakan Nabi Ibrahim AS yang selalu memberikan makan bagi para tetamunya. Semua dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk berbuat baik kepada sesama manusia.

Ketiga, di dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi SAW pernah mendatangi undangan jamuan makan yang diikuti oleh orang yang tidak diundang. Nabi SAW menanyakan kepada shahibul hajad apakah orang yang datang bersama Rasulullah SAW itu diperkenankan atau tidak. Jika tidak diperkenankan karena keterbatasan hidangan, maka orang itu bisa diminta pulang. Jika diperkenankan maka orang itu akan ikut makan bersamanya. Sahabat Nabi SAW memperkenankan untuk makan bersama. Dan yang pasti di dalam acara jamuan makan tersebut akan terdapat keberkahan. Kita tentu bisa mencontohnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..