LARANGAN MEMINTA UNTUK MENJADI PEMIMPIN (81)
LARANGAN MEMINTA UNTUK MENJADI PEMIMPIN (81)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Untuk menjadi pemimpin bukan hanya persoalan capaian atau achievement akan tetapi juga ada faktor takdir atau ketentuan Tuhan. Saya meyakini ini. Secara teoretik, maka ada beberapa teori yang menjelaskan tentang kepemimpinan, yaitu teori hereditas atau kepemimpinan berbasis keturunan. Lebih bercorak adanya faktor keluarga yang menjadi penyebab atas hadirnya seorang pemimpin. Seseorang memang memiliki basis kekerabatan untuk memimpin. Ada juga teori keturunan atau genealogi. Seseorang dapat menjadi pemimpin karena memiliki garis keturunan. Ada faktor gen di atasnya yang dapat menjadi pemimpin. Bukan bakat akan tetapi keturunan atau gen. Ada faktor lingkungan yang menyebabkannya. Ada proses pelatihan, pendidikan dan upaya yang dilakukan secara sadar oleh lingkungannya untuk menjadi pemimpin. Ada juga yang mixed antara bakat, keturunan dan pendidikan.
Dari manapun datangnya kepemimpinan tersebut, akan tetapi yang mendasar bahwa untuk menjadi pemimpin tidak bisa dengan cara meminta atau bahkan dengan cara memaksa untuk menjadi pemimpin. Sejarah Jawa penuh dengan intrik, kekerasan dan peperangan untuk melahirkan kepemimpinan. Sejarah Kerajaan Tumapel yang kemudian berubah menjadi Kerajaan Kadiri. Tunggul Ametung dibunuh oleh Kebo Ijo atas prakarsa Ken Arok. Istri Tunggul Ametung, Ken Dedes, kemudian dinikahi oleh Ken Arok dan melahirkan Tohjaya. Sementara itu Ken Dedes dalam perkawinannya dengan Tunggul Ametung melahirkan Anusapati. Mereka saling membunuh dalam keturunan berikutnya. Kepemimpinan yang lahir dari kekerasan demi kekerasan.
Tetapi sejarah seperti ini bukan hanya terjadi pada masyarakat Jawa, akan tetapi juga pada masa pasca Islam. Pada masa Khulafur Rasyidin juga terdapat pembunuhan atas khalifah Umar, Usman dan Ali. Yang lebih tragis adalah perubahan dari Khulafaur Rasyidin ke Kerajaan Muawiyah dan berlanjut ke Kerajaan Abasiyah. Perang silih berganti. Sejarah tidak semulus kulit Bidadari, akan tetapi banyak bercak darah yang tercecer. Demikianlah kepemimpinan penuh dengan intrik, kasak-kusuk, kekerasan dan perang untuk memeroleh kepemimpinan dan kekuasaan.
Syekh Imam An Nawawi di dalam Riyadhus Shalihin, Bab 91, menukil ayat Alqur’an dan hadits untuk menjelaskan tentang kepemimpinan. Alqur’an di dalam surat Al Qashsah: 83, menyatakan: “Negeri akhirat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyumbangkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Said Abdurahman bin Samurah berkata Rasulullah SAW bersabda kepadaku: “Wahai Abdurahman bin Samurah, jangalah engkau meminta kekuasaan, karena sesungguhnya jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong dalam menjalankannya. Namun jika kamu diberi kekuasaan karena memintanya engkau akan dibebani dalam menjalankan kekuasaan tersebut. Dan apabila engkau bersumpah dengan suatu sumpah, lalu engkau melihat ada perkara yang lebih baik dari sumpah itu, maka lakukanlah yang lebih baik tersebut dan bayarlah kifarat sumpahmu”.
Abu Dzar berkata: Rasulullah SAW bersabda: “wahai Abu Dzar sesungguhnya aku melihatmu adalah orang yang lemah dan aku sangat senang memberikanmu apa yang aku senangi untuk diriku sendiri, janganlah engkau menjadi pemimpin atas dua orang dan jagan pula engkau mengurusi harta anak yatim”. Ada juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., bahwa Rasulullah bersabda: “sesungguhnya kalian akan sangat menginginkan kepemimpinan, sedangkan kepemimpinan tersebut akan menjadi penyesalan pada hari kiamat”.
Dari penjelasan di atas, kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:
Pertama, kepemimpinan itu bukan sekedar upaya atau ikhtiar yang harus dilakukan oleh seseorang agar memperolehnya. Akan tetapi ada dimensi takdir atau qudrat Tuhan. Di kala manusia ditiup ruh oleh Malaikat atas perintah Tuhan, maka setelah itu diberikan takdir dan kehendak, ilmu, kehidupan, pendengaran, penglihatan dan kemampuan berpikir dan berkata. Tujuh aspek ini sudah ditentukan Tuhan termasuk dimensi kepemimpinan. Tuhan memberikan bakat, keturunan, faktor eksternal dan internal dan waktu untuk menjadi pemimpin. Jadi kepemimpinan bukan sekadar usaha tetapi juga ada faktor ketentuan Tuhan. Jadi takdir diberikan akan tetapi juga ada faktor usaha yang dilakukannya. Seseorang boleh menjemput takdir dengan berbagai usaha.
Kedua, kepemimpinan itu persoalan tanggungjawab bukan sekedar persoalan kekuasaan. Bahkan jika diprosentasekan, maka tanggungjawab itu menempati yang tertinggi sebesar 80 persen, dan kekuasaan dengan segala pernak-perniknya itu hanya 20 persen saja. Tanggungjawab atas jalannya roda organisasi atau institusi, tanggungjawab mengembangkan SDM, tanggungjawab mengembangkan kelembagaan, tanggungjawab keuangan melalui transparansi dan akuntabilitas, dan semua hal yang terkait dengan tanggungjawab institusional. Kekuasaan bahkan menjadi bagian dari tanggungjawab itu sendiri. Ada tanggungjawab untuk diri sendiri, ada tanggungjawab untuk masyarakat atau organisasi dan ada tanggungjawab untuk Tuhan.
Ketiga, Islam menganjurkan agar jangan meminta untuk menjadi pemimpin. Islam sangat menghargai prestasi, menghargai derajat orang yang berilmu, orang yang profesional dan orang yang menunjukkan itikad baik dan perilaku yang baik. Oleh karena itu, jika semua persyaratan untuk menjadi pemimpin itu sudah dipahami dan dilakukan, maka orang dipastikan akan mengapresiasinya atau menghargainya. Dan salah satu penghargaan adalah untuk dijadikan sebagai pemimpin.
Jabatan itu amanah, oleh karena itu jangan dimintanya. Di dalamnya ada tanggungjawab besar yang kelak akan dipertanggungjawabkannya di alam akherat.
Wallahu a’lam bi al shawab.
