ANTARA KEUTAMAAN TAKUT DAN RINDU (54)
ANTARA KEUTAMAAN TAKUT DAN RINDU (54)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Keutamaan takut dan Rindu”. Suatu bab yang memberikan inspirasi bagi umat Islam untuk memiliki perasaan yang mendalam tentang siksa Allah yang maha dahsyat dan keutamaan rindu kepada Allah agar siksa tidak terjadi. Takut tetapi rindu merupakan dua kosa kata yang sesungguhnya agak kontradiktif secara empiris, akan tetapi menjadi masuk akal atau rasionable di kala disandingkan dalam perspektif agama.
Secara empiris, takut itu dapat menyebabkan orang lari dari subyek yang ditakuti. Akan tetapi di dalam hal yang bercorak metaempiris, maka yang terjadi justru sebaliknya, yaitu orang takut tetapi justru mendekat. Yang ditakuti adalah siksa Allah SWT dan kemudian menimbulkan sikap untuk mendekat agar siksa tersebut tidak dikenakan kepadanya.
Allah SWT memiliki sifat adil. Artinya tidak akan mengenakan hukuman kepada orang yang tidak pantas untuk dihukum. Allah SWT sesuai dengan janjinya juga tidak akan memberikan pahala kepada orang yang tidak pantas pahala tersebut untuk dirinya. Allah dipastikan akan berbuat seadil-adilnya. Allah akan memberikan catatan kebaikan meskipun sebesar biji zarrah dan Allah juga akan mencatat atas kejelekan seseorang meskipun sebiji zarrah. Berimbang. Sama halnya dengan Allah tidak akan mengurangi atau menambahkan atas ganjaran atas prilaku hambanya.
Namun demikian, Allah memiliki sifat yang Rahman dan Rahim, sebagai sifat dasar yang melazimi semua sifat-sifatnya. Islam memberikan perhatian yang luar biasa besar atas Rahman dan Rahim Allah. Bahkan orang yang dosanya sebesar bumipun akan diampuninya jika yang bersangkutan memohon ampunan kepada Allah. Oleh sebab itu, orang dimintakan untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. Fastabiqul Khairat.
Di dalam penjelasannya, Syekh Imam An Nawawi menggunakan beberapa hadits. Di antaranya, Hadits yang diriwayatkan oleh Anas, bercerita: “sesungguhnya Rasulullah SAW pernah memberikan khutbah yang belum pernah aku dengar sebelumnya sama sekali, yakni beliau bersabda: ‘seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis’. Maka sahabat Beliau menutup wajah mereka sambil terisak-isak”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.
Hadits lain sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasululllah bersabda: “tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah sehingga air susu masuk kembali ke dalam payudara. Dan debu bekas perjuangan di jalan Allah itu tidak akan pernah dapat berkumpul dengan asap neraka jahanam”. Hadits Riwayat Imam Tirmidzi.
Hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Rabb kita tabarakallahu wa ta’ala turun ke langit, Dia berfirman: “siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri, siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni. Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Dari penjelasan atas Teks Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat dijelaskan atas tiga hal, yaitu:
Pertama, Allah SWT itu ditakuti bukan karena Allah SWT suka menakut-nakuti hambanya, akan tetapi Allah SWT memberikan peringatan kepada manusia untuk berbuat baik. Alam disusun dengan keteraturan, sehingga semua patuh kepada perintah Allah SWT untuk berjalan dan beredar sesuai dengan garis edarnya. Tidak ada yang menyimpang dari garis edarnya. Jika terjadi seperti itu, maka dunia akan kiamat. Sebuah pemikiran empiris-eskatologis, bahwa alam akan berakhir atau kiamat. Entropi atau ketidakteraturan itu juga semata-mata karena perintah Allah SWT. Allah akan merefresh atas tata surya yang diciptakannya untuk menjadi baru, atau disebut sebagai alam akherat.
Sesungguhnya Allah telah memberikan peringatan kepada manusia untuk beramal kebaikan. Dilarangnya manusia untuk melakukan kejahatan. Maka barang siapa yang melakukan kebaikan tentu dipastikan akan diberi ganjaran atau reward, dan siapa yang melakukan kejahatan juga akan diberikan punishment atau siksa. Manusia sudah diberikan petunjuk melalui Nabi dan Rasul beserta Kitab Suci yang seharusnya diyakini kebenarannya. Jika manusia meyakini kebenarannya, maka manusia telah memiliki kemampuan untuk menyaring mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang berada di Jalan-Nya dan mana yang di luar jalan-Nya.
Kedua, Allah SWT itu begitu menyayangi hambanya. Jika kita meminta apa saja maka Allah SWT akan mengabulkannya. Allah SWT meminta kita untuk berprasangka baik terhadap Allah SWT. Jangan berprasangka buruk terhadap Allah SWT. Tentu saja, ada doa yang segera dikabulkan, sebagaimana doa Nabi Muhammad SAW pada waktu Perang Badar. Doa itu langsung dikabulkan, akan tetapi juga ada doa yang ditunda sampai waktu tertentu. Tetapi sebenarnya ada persyaratan doa yang fundamental, yaitu: trilogy Sabar, Syukur dan Yakin. Jika kita berdoa maka agar kita selalu sabar. Terhadap apa saja kesabarannya. Kita bersyukur karena nikmat Allah dan yakin bahwa Allah itu baik, sehingga dipastikan mendengar doa manusia.
Ketiga, Rahmat Allah SWT itu dapat turun ke langit dan terus ke bumi bahkan setiap sepertiga malam. Artinya Rahmat yang berupa Cahaya Suci dari Alam Lahut akan dapat memasuki Alam Nasut akan tetapi melalui gelombang supra-elektromagnetik dan menjadi elektromagnetik. Di antara instrumennya adalah melalui Nabi Muhammad SAW. Gelombang supra-elektromagnetik tidak akan berubah menjadi gelombang elektromagnetik tanpa perantara, dan perantaranya adalah Rasulullah Muhammad SAW. Makanya, kita harus menjadikan di antaranya adalah shalawat agar perubahan gelombang tersebut akan lebih cepat. Subhanallah.
Wallahu a’lam bi al shawab.
