• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ANTARA KEUTAMAAN TAKUT DAN RINDU (54)

ANTARA KEUTAMAAN TAKUT DAN RINDU (54)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Keutamaan takut dan Rindu”. Suatu bab yang memberikan inspirasi bagi umat Islam untuk memiliki perasaan yang mendalam tentang siksa Allah yang maha dahsyat dan keutamaan rindu kepada Allah agar siksa tidak terjadi. Takut tetapi rindu merupakan dua kosa kata yang sesungguhnya agak kontradiktif secara empiris, akan tetapi menjadi masuk akal atau rasionable di kala disandingkan dalam perspektif agama.

Secara empiris, takut itu dapat menyebabkan orang lari dari subyek yang ditakuti. Akan tetapi di dalam hal yang bercorak metaempiris, maka yang terjadi justru sebaliknya, yaitu orang takut tetapi justru mendekat. Yang ditakuti adalah siksa Allah SWT dan kemudian menimbulkan sikap untuk mendekat agar siksa tersebut tidak dikenakan kepadanya.

Allah SWT memiliki sifat adil. Artinya tidak akan mengenakan hukuman kepada orang yang tidak pantas untuk dihukum. Allah SWT sesuai dengan janjinya juga tidak akan memberikan pahala kepada orang yang tidak pantas pahala tersebut untuk dirinya. Allah dipastikan akan berbuat seadil-adilnya. Allah akan memberikan catatan kebaikan meskipun sebesar biji zarrah dan Allah juga akan mencatat atas kejelekan seseorang meskipun sebiji zarrah. Berimbang. Sama halnya dengan Allah tidak akan mengurangi atau menambahkan atas ganjaran atas prilaku hambanya.

Namun demikian, Allah memiliki sifat yang Rahman dan Rahim, sebagai sifat dasar yang melazimi semua sifat-sifatnya. Islam memberikan perhatian yang luar biasa besar atas Rahman dan Rahim Allah. Bahkan orang yang dosanya sebesar bumipun akan diampuninya jika yang bersangkutan memohon ampunan kepada Allah. Oleh sebab itu, orang dimintakan untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. Fastabiqul Khairat.

Di dalam penjelasannya, Syekh Imam An Nawawi menggunakan beberapa hadits. Di antaranya, Hadits yang diriwayatkan oleh Anas, bercerita: “sesungguhnya  Rasulullah SAW pernah memberikan khutbah yang belum pernah aku dengar sebelumnya sama sekali, yakni beliau bersabda: ‘seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis’. Maka sahabat Beliau menutup wajah mereka sambil terisak-isak”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits lain sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah, bahwa  Rasululllah bersabda: “tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah sehingga air susu masuk kembali ke dalam payudara. Dan debu bekas perjuangan di jalan Allah itu tidak akan pernah dapat berkumpul dengan asap neraka jahanam”. Hadits Riwayat Imam Tirmidzi.

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Rabb kita tabarakallahu wa ta’ala turun ke langit, Dia berfirman: “siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri, siapa yang meminta ampunan kepada-Ku,  maka akan Aku ampuni. Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dari penjelasan atas Teks Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat dijelaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama,  Allah SWT itu ditakuti bukan karena Allah SWT suka menakut-nakuti hambanya, akan tetapi Allah SWT memberikan peringatan kepada manusia untuk berbuat baik. Alam disusun dengan keteraturan, sehingga semua patuh kepada perintah Allah SWT untuk berjalan dan beredar sesuai dengan garis edarnya. Tidak ada yang menyimpang dari garis edarnya. Jika terjadi seperti itu, maka dunia akan kiamat. Sebuah pemikiran empiris-eskatologis, bahwa alam akan berakhir atau kiamat. Entropi atau ketidakteraturan itu juga semata-mata karena perintah Allah SWT. Allah akan merefresh atas tata surya yang diciptakannya untuk menjadi baru, atau disebut sebagai alam akherat.

Sesungguhnya Allah telah memberikan peringatan kepada manusia untuk beramal kebaikan. Dilarangnya manusia untuk melakukan kejahatan. Maka barang siapa yang melakukan kebaikan tentu dipastikan akan diberi ganjaran atau reward, dan siapa yang melakukan kejahatan juga akan diberikan punishment atau siksa. Manusia sudah diberikan petunjuk melalui Nabi dan Rasul beserta Kitab Suci yang seharusnya diyakini kebenarannya. Jika manusia meyakini kebenarannya, maka manusia telah memiliki kemampuan untuk menyaring mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang berada di Jalan-Nya dan mana yang di luar jalan-Nya.

Kedua, Allah SWT itu begitu menyayangi hambanya. Jika kita meminta apa saja maka Allah SWT akan mengabulkannya. Allah SWT meminta kita untuk berprasangka baik terhadap Allah SWT. Jangan berprasangka buruk terhadap Allah SWT. Tentu saja, ada doa yang segera dikabulkan, sebagaimana doa Nabi Muhammad SAW pada waktu Perang Badar. Doa itu langsung dikabulkan, akan tetapi juga ada doa yang ditunda sampai waktu tertentu. Tetapi sebenarnya ada persyaratan doa yang fundamental, yaitu: trilogy Sabar, Syukur dan Yakin. Jika kita berdoa maka agar kita selalu sabar. Terhadap apa saja kesabarannya. Kita bersyukur karena nikmat Allah dan yakin bahwa Allah itu baik, sehingga dipastikan mendengar doa manusia.

Ketiga, Rahmat Allah SWT itu dapat turun ke langit dan terus ke bumi bahkan setiap sepertiga malam. Artinya Rahmat yang berupa Cahaya Suci dari Alam Lahut akan dapat memasuki Alam Nasut akan tetapi melalui gelombang supra-elektromagnetik dan menjadi elektromagnetik. Di antara instrumennya adalah melalui Nabi Muhammad SAW. Gelombang supra-elektromagnetik tidak akan berubah menjadi gelombang elektromagnetik tanpa perantara, dan perantaranya adalah Rasulullah Muhammad SAW. Makanya, kita harus menjadikan di antaranya adalah shalawat agar perubahan gelombang tersebut akan lebih cepat. Subhanallah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PERASAAN TAKUT SIKSA DAN PENGHARAPAN RAHMAT (53)

PERASAAN TAKUT SIKSA DAN PENGHARAPAN RAHMAT (53)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam karya Syekh Imam An Nawawi, bab 53 diberi judul  “Menggabungkan  antara Takut dan Harap”, atau antara Khauf dan Raja’. Di dalam artikel ini secara sengaja saya beri tema yaitu: “Perasaan Takut Siksa dan Pengharapan Rahmat”. Khauf dan raja’ merupakan dua kata yang memang memiliki saling keterkaitan. Di antara keduanya merupakan suatu kesatuan yang saling memerlukan. Khouf menunjukkan atas pemahaman, sikap dan prilaku takut manusia yang berhubungan dengan Allah SWT. Khouf adalah perasaan yang mendalam untuk takut atas adzab Allah yang sangat dahsyat, yang digambarkan sebagai neraka dengan berbagai indikasinya. Allah SWT memberikan gambaran tentang neraka sebagai tempat yang berisi angin yang panas, air panas yang mendidih dan tidak ada sedikitpun hawa dingin dan tiada kemuliaan, sebagaimana dicantumkan di dalam Surat Al Waqiah: 42, yaitu: “fi samumiw wahamim, wa dzillim min yahmun, la baridiw wala karim”. Ketakutan tersebut tentu dapat dikaitkan dengan ayat tandzir atau ayat peringaan Allah seperti itu. Sementara raja’ adalah harapan bahwa Allah SWT tidak menghukumnya sebagaimana dicantumkan di dalam Alqur’an karena adanya pertaubatan yang dilakukan oleh manusia. Di dalam konteks relasi antara khauf dan raja’, maka basisnya adalah iman dan bingkainya adalah taubat. Dengan demikian, khauf dan raja’ akan terjadi atas orang yang memiliki iman dan melakukan pertaubatan kepada Allah SWT.

Sesungguhnya manusia memiliki potensi untuk bertaubat atas kekhilafan, kesalahan dan dosa. Manusia dibekali oleh Allah akan rasa takut dan kemudian diberikan hikmah untuk bertaubat kepada Allah SWT. Ibarat burung, maka khauf adalah sayang kiri dan raja’ adalah sayap kanan. Dengan dua sayap ini, maka burung bisa terbang. Sedangkan untuk terbang sendiri ada tujuan dan alat atau fisik yang memenuhi standar. Maka tujuannya adalah memperoleh ridhanya Allah, sementara itu hakikat fisiknya adalah iman dan taubat, sedangkan sayapnya adalah khauf dan raja’.

Firman Allah dalam Surat Al A’raf: 99, menyatakan: “Karena sebenarnya tidak ada yang merasa selamat dari rancangan buruk (balasan azhab) yang diatur oleh Allah itu melainkan orang-orang yang merugi. Di dalam Surat lain, Surat Al Infitar:  13-14, bahwa: “sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar di dalam surga yang penuh kenikmatan dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar dalam neraka”. Kemudian di dalam Surat Al Qari’ah: 6-9 dinyatakan: “maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada di dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan Adapun orang  yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah”.

Ada sejumlah hadits yang diungkapkan oleh Syekh Imam An Nawawi, misalnya hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “seandainya orang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorangpun yang berharap masuk nerakanya, andaikan orang kafir  mengetahui Rahmat yang ada di sisi Allah, pasti tidak akan ada seorangpun yang berputus asa dari surganya”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits lain juga menyatakan: “apabila jenazah telah diletakkan dan dipikul oleh orang banyak atau pria di pundak mereka, jika dia orang saleh, dia berkata: ‘segerakanlah aku, segerakanlah aku’. Namun jika dia bukan orang yang saleh, dia berkata: ‘duhai celakanya. kemanakah kalian akan membawanya’. Suaranya didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia. Andai manusia mendengarnya, pasti pingsan”. Hadits Riwayat Imam Bukhari. Hadist lain yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda: “surga itu lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya. Neraka juga seperti itu”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.

Dari uraian tentang teks Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW., maka dapat disimpulkan di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah SWT menegaskan bahwa surga dan neraka merupakan ciptaan Allah SWT yang  masuk di dalam dunia supra eskatologis. Dunia masa depan yang tidak terjadi di dunia ini, akan tetapi nanti setelah hari kiamat. Alam kubur, alam akherat, surga dan neraka adalah metaempiris pada zaman di kala manusia berada di alam empiris, dan semuanya itu termasuk metaempiris atau alam keyakinan tentang dunia lain, selain dunia ini.

Neraka yang digambarkan atau disimbolisasikan dengan tingkat panas yang berlipat-lipat di atas panas bumi, menggambarkan agar manusia memiliki dan mengedepankan perasaan takut atas siksaan Allah SWT. Melalui konsep khauf dan raja’, Allah mengajari manusia melalui Nabi Muhammad SAW agar manusia berada di dalam keseimbangan antara ketakutan dan harapan. Di tengah rasa takutnya tersebut, maka manusia diminta untuk berpengharapan agar mendapatkan pertolongan Allah.

Kedua, Allah SWT memiliki hak prerogative terkait dengan perilaku manusia, yaitu Rahmat. Sebagaimana diungkapkan oleh hadits sebagaimana diungkapkan oleh penulis kitab, bahwa orang yang berdosapun akan mendapatkan Rahmat Allah selama individu tersebut menyadari kekeliruannya dan melakukan pertobatan. Jadi, pertobatan merupakan jalan masuk atau entry point untuk meraih rahmatnya Allah SWT. Allah memiliki hak atas umatnya selama umatnya berada di dalam nuansa memasuki alam tak terhingga, sebagai pelacur yang menolong anjing dan pada waktu itu keikhlasan perempuan tersebut mencapai puncaknya atau memasuki angka tiada terbatas. Di sinilah Rahmat Allah itu turun. Jadi bukan sesuatu yang tiba-tiba tentu ada prasyaratnya untuk mendapatkan Rahmat dimaksud.

Ketiga,  kehidupan adalah sebagaimana bandul berayun. Bisa ke arah kanan dan bisa ke arah kiri. Jika bandul ke arah kanan, maka sebagai pertanda atas amalannya yang baik. Dan jika bandul ke arah kiri berarti menuju kepada amalan kejelekan. Inilah pertanda bahwa manusia akan menerima catatan dengan tangan kanan atau tangan kiri. Yang akan menerima catatan amalan dengan tangan kanan adalah orang yang mampu menyeimbangkan antara takut dan raja’ yang dibingkai dengan taubat dan bersubstansi dengan iman. Keempatnya merupakan system yang menjadi satu keesatuan dan tidak bisa dipisahkan.

Orang yang hatinya beriman, maka di dalam dirinya terdapat mekanisme untuk memohon ampunan, yang keduanya berkait kelindan dengan rasa takut dan pengharapan akan rahmatnya Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KEUTAMAAN BERHARAP RAHMAT ALLAH (52)

KEUTAMAAN BERHARAP RAHMAT ALLAH (52)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 52, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan dengan sangat gamblang tentang “Keutamaan Berharap”. Sedangkan di dalam tulisan ini saya tambahkan dengan judul “Keutamaan Berharap Rahmat Allah”. Tidak ada maksud lain kecuali menegaskan bahwa yang diharapkan oleh manusia adalah Rahmat Allah SWT.

Allah melalui Nabi Muhammad SAW memberikan wejangannya bahwa manusia sebaiknya memang berharap akan rahmatnya Allah SWT. Salah satu cara untuk mengharapkan rahmatnya Allah adalah melalui berdoa dan berbuat baik atau beramal shalih. Doa sedemikian sangat penting. Jangan pernah melupakan berdoa, sebab do’a adalah washilah agar apa yang menjadi keinginan kita dapat tercapai. Sudah sering diungkapkan oleh para ulama kita tentang trilogi: “berusaha, berdoa dan bertakwa” atau “bekerja, memohon dan pasrah”.

Doa adalah upaya untuk memahami bahwa usaha pisik saja tidak cukup. Secara empiris bisa dilihat ada seseorang yang sudah berusaha dengan menggunakan strategi yang teruji dengan sangat baik yang dipastikan tingkat kegagalannya itu nihil dan tingkat kesuksesannya itu 100 persen. Akan tetapi sering terjadi usaha yang luar bisa presisinya itu, ternyata gagal. Ada factor X.

Untuk meminimalisir factor X tersebut maka manusia disediakan ruang metafisik yaitu berdoa dan bertawakkal. Jika usaha adalah aktivitas fisik, maka doa dan tawakkal adalah memasuki alam metafisik. Sebuah area yang terkadang manusia tidak mampu memahaminya dengan akal atau rasionya. Di sinilah dunia keyakinan memainkan peranannya untuk manusia agar manusia sadar bahwa akal saja tidak cukup. Ada sebuah ungkapan bagus: “mengoptimal usaha, melangitkan doa”.

Manusia yang memiliki rasa keberagamaan, tentu akan dapat memahami bahwa dunia fisikal yang dapat dipahami dengan rasio itu sangat terbatas. Terikat dengan ruang dan waktu. Itulah sebabnya manusia harus menyadari kekuatan rasionya dalam menghadapi fenomena alam non fisikal yang ternyata memiliki dimensi yang sangat luas dan mendalam. Tetapi Allah sudah menyediakan kemampuan untuk kepentingan tersebut melalui kemampuan di luar penalaran, melalui dimensi batiniah yang bersentuhan dengan dunia metafisik yang secara apriori dinyatakan sebagai kebenaran. Doa dan tawakkal adalah medium untuk memasuki alam metafisik atau metaempiris. Serahkan usaha kita kepada Allah dengan sepenuh keyakinan.

Ayat Alqur’an yang dijadikan sebagai penjelasan atas tema ini adalah sebagaimana tercantum di dalam Surat Al Ghafir: 44-45, bahwa: “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hambanya. Maka Allah akan memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka”.

Kemudian  dipertegas dengan beberapa hadits, di antaranya adalah hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, sebagaimana Allah SWT berfirman: “Aku sesuai persangkaan hambaku kepada-Ku dan Aku selalu bersama hamba-hamba-Ku selama ia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah benar-benar  lebih gembira pada taubat seseorang hamba daripada salah seorang  di antara kalian yang menemukan bendanya yang hilang di padang yang luas. Barang siapa yang mendekat pada-Ku  sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya satu hasta, dan barangsiapa yang mendekat pada-Ku sehasta, maka aku mendekat kepadanya sedepa,  jikalau hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan berjalan, maka aku mendatanginya dengan bergegas-gegas”.  Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda pada tiga hari sebelum wafatnya, “janganlah seseorang dari kalian meninggal dunia, melainkan ia harus berbaik sangka kepada Allah SWT”. Hadit Riwayat Imam Muslim.

Dari penjelasan ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, maka kiranya dapat dipahami tentang bagaimana Allah SWT mengutamakan orang yang selalu berharap kebaikan dan Rahmat Allah SWT. Ada tiga hal yang dapat digarisbawahi, yaitu:

Pertama, Allah SWT sedemikian mengutamakan orang yang selalu melakukan amalan yang baik berbasis pada keimanannya. Allah itu Dzat yang Maha Baik, pastilah akan sangat menyukai kebaikan. Tidaklah mungkin Allah itu baik lalu menyukai ketidakbaikan. Akal apapun tidak akan menerimanya. Meskipun di dunia itu bisa terjadi kebaikan dibalas dengan kejelekan. Ari susu dibalas air tuba. Tetapi itu hanya hukum manusia. Tidak berlaku bagi Yang Maha Baik, Maha Adil dan Maha Bijaksana lalu berbuat seenaknya atau yang bertentangan sifat-sifat kebaikan yang melekat kepada-Nya.

Bagi Allah SWT kebaikan adalah segalanya. Dari sisi teks,  semua menggambarkan yang demikan. Dari penggunaan akal budi, maka juga akan membenarkan atas hal tersebut. Artinya bahwa Allah SWT akan membalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas kejelekan dengan kejelekan yang sama. Bahkan Allah SWT memberikan peluang bagi yang melakukan kejelekan untuk menyadari kesalahannya dan bertaubat kepadanya. Berdasarkan kebenaran metafisik, maka ini merupakan hukum yang berbasis pada keseimbangan.

Kedua, doa adalah harapan. Makanya kita harus selalu berdoa sebagai manifestasi atas keinginan yang kita mohonkan. Doa adalah washilah kita dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Doa dapat dilantunkan langsung kepada Allah dan bisa juga dilantunkan didasari atas washilah kepada Nabi Muhammad SAW. Washilah terbaik di dalam kerangka memohon kepada Allah SWT adalah melalui Nabi Muhammad SAW. Allah itu Dzat yang Maha Gaib, dan manusia adalah sebongkah materi, sehingga untuk menyambungkan antara yang fisikal dengan yang nonfisikal bukanlah perkara gampang. Maka ada medium yang baik. Nabi Muhammad SAW adalah manusia terpilih yang diberi kewenangan oleh Allah untuk menjadi perantara kebaikan manusia dengan Tuhan. Melalui manusia yang menjadi reresentasi sifat kasih sayang, dan seluruh sifat kebaikan Allah SWT, maka peluang doa untuk dikabulkan oleh Allah itu lebih besar.

Ketiga, digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa Allah SWT itu sedemikian gembira melihat hambanya yang berbaik sangka kepada-Nya. Allah itu sedemikian senang jika melihat hambanya yang bertaubat kepada-Nya. Selain Nabi Muhammad SAW dan Nabi atau Rasul pilihan,  yang tidak melakukan dosa, maka manusia itu tempatnya kekhilafan dan kesalahan, maka sudah sangat pantas jika kita memohon ampunan kepada Allah. Jika kita rela  dengan memohon ampunan Allah, maka Allah gembira atas kesadaran dan perilaku kita untuk memohon ampunan. Allah SWT sangat dekat bahkan digambarkan jika kita berjalan mendekat kepada Allah, maka Allah akan lari untuk mendekati kita. Ungkapan simbolik Nabi Muhammad SAW yang memiliki makna luar biasa. Jadi, tidak  ada salahnya jika kita mendekat kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENGHARAP RAHMAT ALLAH (51)

MENGHARAP RAHMAT ALLAH (51)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan yang sangat gamblang tentang bagaimana manusia harus berharap atas Rahmat Allah SWT. Pada bab ini, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Mengharapkan” atau “Roja” di dalam Bahasa Arab. Pada bab sebelumnya Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang Khouf atau takut. Biasanya dua bab ini disatukan di dalam ungkapan khouf dan raja’. Ketakutan dan pengharapan.

Setiap manusia tentu memiliki keinginan untuk mendapatkan kebaikan di dalam kehidupannya. Akan tetapi karena factor-faktor tertentu, terkadang harapan akan kebaikan tersebut tergerus atau terpendam oleh hasrat badani yang menggelegak. Nafsul Mutmainnah dikalahkan oleh nafsu hayawaniyah. Dan memang pertarungan di dalam kehidupan sebenarnya adalah pertarungan antara nafsu kebinatangan dan nafsu kemalaikatan. Makanya dikenal ada orang yang dekat dengan nafsu hayawan dan ada yang dekat kepada nafsu malaikat. Kal hayawan atau kal malaikat.

Allah memang memberikan nafsu-nafsu tersebut dalam kerangka untuk memberikan pelajaran kepada manusia. Para Nabi dan Rasul sesungguhnya diturunkan untuk kepentingan tersebut. Makanya, meskipun ada ajaran Nabi dan Rasul tetap saja ada manusia yang melakukan kebaikan dan ada manusia yang melakukan kejahatan. Bahkan di kala Harut dan Marut, dua malaikat, yang diturunkan ke bumi dan diberi nafsu oleh Allah, maka keduanya melakukan pelanggaran berat. Mulai dari minum khomar sampai membunuh orang.

Al Qur’an menjelaskan di dalam Surat Az Zumar: 53, bahwa: “katakanlah, Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Di dalam surat lain, As Saba’: 17, bahwa: “…dan kami tidak menjatuhkan adzab (orang yang demikian itu) melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”.  Lalu di dalam Surat Thoha: 48, dinyatakan: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling”.

Hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Dzar bahwa Nabi bersabda: “Allah SWT berfirman di dalam hadits Qudsi: “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipatnya, atau Aku tambahkan. Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan, maka balasannya adalah keburukan yang semisal itu Aku ampuni dosanya. Barang siapa yang mendekat padaku setangkal, maka Aku mendekat padanya sehasta, barang siapa yang mendekat kepadaku sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Barang siapa yang datang kepadaku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil. Barang siapa yang menemui Aku dengan membawa kesalahan hampir sepenuh bumi, asalkan ia tidak menyekutukan sesuatu dengan-Ku tentu Aku akan menemuinya dengan pengampunan sebanyak kesalahan yang dilakukan olehnya”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berkata Rasulullah SAW bahwa: “Ketika Allah menciptakan semua makhluk, maka dia menulis di dalam kitab, dan di dalam kitab itu ada di sisinya di  atas Arasy yang isinya, ‘sesungguhnya rahmatku mengalahkan murka-Ku”.  Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dengan demikian, pernyataan atau sabda Nabi Muhammad SAW memberikan Gambaran tentang bagaimana sesungguhnya Allah SWT memberikan ampunannya kepada hambanya dengan Rahmat-Nya. Allah SWT adalah Tuhan yang ampunannya jauh lebih besar dibandingkan dengan besarnya dosa yang dilakukan oleh manusia. Tetapi ada satu hal yang mendasar bahwa selama yang bersangkutan tidak menyekutukan-Nya.

Dari upaya untuk mencoba memahami atas teks Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW maka dapat digarisbawahi tiga hal, yaitu:

Pertama, di dalam sejarah agama-agama, Allah SWT telah menggambarkan tentang beberapa umat di masa lalu yang dikenai adzab Allah. Yang mula pertama adalah umat Nabi Nuh AS, yang diadzab Allah SWT dengan banjir besar yang mengenai seluruh dunia, dan menenggelamkan seluruh orang kafir dan orang yang berperilaku keburukan. Hanya orang yang patuh kepada perintah Allah SWT melalui Nabi Nuh AS dan mengarungi banjir bersama Nabi Nuh AS di dalam kapalnya, maka mereka selamat. Sepertinya Tuhan mereset kehidupan dan hanya menyisakan orang-orang  yang baik. Semua yang jelek dihapuskan. Lalu adzab kepada umat atau kaum Ad pada zaman Nabi Hud. Mereka ditimpa angin puting beliung yang sangat panas, dan hanya yang patuh kepada Allah yang selamat bersama Nabi Hud. Lalu ada kaum Tsamud, umat Nabi Luth, yang juga ditimpakan kepadanya adzab Tuhan sehingga yang ingkar kepada Allah menjadi punah. Jadi, Allah tidak menghabiskan semua umat tetapi memberikan peluang untuk yang berbuat baik untuk melanjutkan estafeta kehidupan.

Kedua,  Allah SWT itu Maha Rahman dan Rahim. Rahman itu dikaitkan dengan kasih sayang Allah SWT yang diberikan kepada semua makhluk di dunia, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Semua mendapatkan rahmannya Allah SWT. Tetapi Rahim itu hal yang khusus, artinya diberikan lebih khusus kepada umat Islam atau orang yang tidak menyekutukan Tuhan. Di dalam kehidupan umat manusia, maka Rahmat Allah SWT  itu akan diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang tidak menyekutukan Tuhan atau orang yang beriman kepada-Nya. Tetapi juga orang yang beramal shalih. Kabar gembira dari Allah SWT sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Muhammad SAW memberikan indikasi bahwa Allah SWT itu sedemikian besarnya Rahmat Allah kepada manusia, asal tidak berlaku syirik. Bahkan Allah itu selalu lebih besar kasih sayangnya. Jika ada orang yang kesalahannya sangat besarpun Allah SWT masih memberikan peluang untuk mengampuni dosanya, selama yang bersangkutan memohon ampunan dengan sungguh-sungguh dari Allah.

Ketiga, Ada beberapa cerita menarik, bagaimana Rahmat Allah itu datang kepada seorang hamba. Misalnya cerita tentang seorang pelacur yang dijanjikan masuk surga hanya karena menolong anjing yang kehausan. Pelacur itu dengan terompahnya mengambil air di sumur dan meminumkannya ke anjing itu dan dijanjikan akan masuk surga. Penjelasan matematisnya adalah di kala menolong anjing tersebut hati pelacur itu dalam nuansa keikhlasan yang tidak terhingga atau secara matematis angka 0, sehingga bisa bertemu dengan dzat Allah yang tidak terhingga, angka 0. Ketemunya dua ketidakterhinggaan tersebut, maka memberikan peluang Rahmat Allah datang kepadanya.

Imam Ghazali bermimpi tentang yang menyebabkan masuk surga, ternyata bukan ibadah-ibadahnya, meskipun ini sangat penting, akan tetapi adalah keikhlasannya di kala membiarkan seekor lalat meminum tinta yang dipakai menulis kitabnya. Di sinilah rahmat Allah berlaku dalam trilogy relasi: menolong (binatang atau manusia), keikhlasan dan rahmat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

TAKUT SIKSA ALLAH (50)

TAKUT SIKSA ALLAH (50)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitabnya “Ryadhus Shalihin” pada bab 50 menjelaskan tentang “Takut”. Dan kemudian saya tambahkan sebagai penegasan yaitu “Takut  Siksa Allah”. Bab ini merupakan sebuah penjelasan yang sangat komprehensif berbasis Teks Alqur’an maupun Hadits Nabi Muhammad SAW. Takut sebagaimana yang biasa diungkapkan oleh Khatib pada setiap hari Jum’at merupakan takut yang berbeda dengan takut kepada lainnya. Para khatib menjelaskan tentang taqwa itu identic dengan takut di dalam bahasa Indonesia. Hanya saja takut kepada Allah itu tidak berarti melarikan diri dari-Nya, akan tetapi justru mendekat kepada-Nya dengan cara menjauhi larangannya dan melakukan amalan-amalan yang diwajibkan dan disunnahkannya.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar manusia merasa dan mengamalkan kepatuhan kepada Allah SWT. Kepatuhan yang didasari oleh penghambaan kepada-Nya. Bukan kepatuhan yang hanya di lesan atau di luar, akan tetapi kepatuhan yang berbasis pada kesadaran batin untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah SWT menekankan agar manusia beriman kepada Allah dan menjalankan amalan shalihan. Tidak cukup dengan iman tetapi juga menjalankan amalan yang baik terhadap Allah dan terhadap sesama manusia bahkan berbuat baik kepada alam sebagai ciptaan Allah.

Semenjak Nabi Adam AS, maka perintah Allah SWT adalah menjalankan kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Jadilah seperti Habil dan jangan menjadi Qabil. Habil yang patuh pada Allah dan Qabil yang membangkang pada Allah. Sebuah realitas simbolik-empiris untuk menggambarkan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan berbuat baik dan berbuat jahat, yaitu melakukan amalan sebagaimana perintah Allah dan menjauhi perbuatan mungkar. Hingga Nabi Muhammad SAW, maka perintah itu sangat jelas, hanya saja terkadang manusia mengingkari perintah kebaikan dan jatuh pada tindakan melawan kebaikan. Di sinilah makna takut akan siksaan Tuhan, Allah Rabbul ‘alamin.

Di dalam Alqur’an Surat Al Baqarah: 40, dijelasakan: “…dan hanya kepadakulah  kamu harus takut (tunduk). Kemudian di ayat lain Surat Al Buruj: 12, dijelaskan: “Sesungguhnya adzab Rabbmu berar-benar keras”.

Alqur’an menyatakan di dalam Surat Al Haj: 2, dinyatakan bahwa: “hai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu, sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya”.

Ada beberapa hadits yang dinukil, antara lain adalah hadits yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud bahwa: “Rasulullah SAW bersabda sesungguhnya masing-nasing kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari berupa air mani, kemudian merupakan gumpalan darah dalam 40 hari kemudian segumpal daging selama 40 hari. Lalu diutuslah malaikat dan ia meniupkan roh kepada dirinya serta diperintah pula mencatat empat kalimat, yaitu mencatat tentang rezeki, ajal, amal perbuatan dan  tentang celaka dan bahagianya” Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Juga terdapat hadits yang diceritakan oleh Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah bersabda: “di antara para ahli neraka itu ada yang dijilat oleh api neraka sampai kepada kedua tumitnya. Di antara mereka ada yang dijilat api neraka sampai kedua lututnya. Ada yang sampai ke ikat pinggangnya dan ada pula yang sampai tulang lehernya”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Berdasarkan atas ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka kiranya dapat dipahami tiga hal yang sangat mendasar, yaitu:

Pertama,  Allah SWT menjelaskan bahwa ada Jannah atau surga dan ada neraka atau Nar. Surga itu peristiwa atau fenomena metaempirik yang diyakini bahwa akan terdapat realitasnya di masa depan. Neraka juga fenomena metaempirik yang diyakini bahwa akan terdapat realitasnya di masa depan. Surga adalah tempat kebahagiaan bagi orang yang beriman dan beramal saleh, sedangkan neraka adalah tempat kesengsaraan bagi orang yang ingkar akan kebenaran Allah dan melakukan kejahatan pada waktu hidupnya di dunia.

Di dalam tradisi Islam Jawa, bahwa kehidupan di dunia adalah berada di dalam alam ngelakoni janji atau alam dunia untuk melaksanakan janji kepada Allah. Di kala berada di dalam roh, maka semua manusia berjanji meyakini keberadaan Tuhan dan akan melakukan perintah Tuhan. Makanya kala di dunia, manusia harus melakukan kebaikan sebagai manifestasi akan pelaksanaan janji kepada Allah tersebut. Ada empat alam, yaitu alam roh, alam dunia, alam barzah dan alam akherat.

Kedua, ketakutan akan siksa Allah itu bukan atas fenomena duniawi yang empiris, akan tetapi ketakutan akan fenomena ukhrawi yang metaempiris. Implikasi dari keimanan kepada Allah akan dikaitkan dengan berbagai fenomena yang menyertainya. Makanya, di dalam teks suci digambarkan bahwa manusia agar takut kepada Allah sebab siksaan atas pengingkaran kepada-Nya dapat digambarkan secara metaempiric yang berupa panas yang sangat membara, bisa jadi melebihi 4000 derajat. Di dalam lapisan bumi terdapat panas api dengan 4000 derajat. Secara empiris, geologis, hal tersebut sangat nyata. Neraka itu suatu fenomena metaempiris yang harus diyakini akan terjadi di dalam rangkaian kehidupan manusia di masa depan.

Ketiga, gambaran di dalam teks suci bahwa kepatuhan hanya kepada Allah SWT. Tidak kepada lainnya. Implementasi kepatuhan kepada Allah adalah dengan mengamalkan ajaran agama sebagai diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tidak ada dualisme kepatuhan, sebab antara perintah Allah dan perintah Nabi Muhammad SAW adalah satu kesatuan. Patuh kepada Allah hakikatnya adalah patuh kepada Nabi Muhammad SAW. Semua ajaran Nabi Muhammad SAW adalah representasi dari perintah Allah SWT. Allah SWT yang sirrur asror atau kegaiban dari kegaiban tidak langsung bisa dipahami oleh manusia, maka Allah mengutus manusia yang memiliki kesamaan fisikal dan hasrat. Fisik dan hasrat  yang berbasis wahyu Allah SWT sehingga tidak  terdapat sedikitpun kesalahan di dalam ajarannya.

Di dalam konteks ajaran Islam dikenal istilah khouf dan raja’ atau rasa dan batin yang takut kepada Allah tetapi berbarengan dengan keinginan yang sangat mendalam untuk bermesraan dengan Allah. Oleh karena itu jangan hanya takut kepada Allah SWT dengan melakukan ajaran Islam, akan tetapi juga berpengharapan agar mendapatkan ridhanya Allah. Dua konsep ini saya kira sangat penting di dalam kehidupan kita. Jangan lupa berusaha dan berdoa.

Wallahu a’lam bi al shawab.