KEUTAMAAN BERHARAP RAHMAT ALLAH (52)
KEUTAMAAN BERHARAP RAHMAT ALLAH (52)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Pada Bab 52, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan dengan sangat gamblang tentang “Keutamaan Berharap”. Sedangkan di dalam tulisan ini saya tambahkan dengan judul “Keutamaan Berharap Rahmat Allah”. Tidak ada maksud lain kecuali menegaskan bahwa yang diharapkan oleh manusia adalah Rahmat Allah SWT.
Allah melalui Nabi Muhammad SAW memberikan wejangannya bahwa manusia sebaiknya memang berharap akan rahmatnya Allah SWT. Salah satu cara untuk mengharapkan rahmatnya Allah adalah melalui berdoa dan berbuat baik atau beramal shalih. Doa sedemikian sangat penting. Jangan pernah melupakan berdoa, sebab do’a adalah washilah agar apa yang menjadi keinginan kita dapat tercapai. Sudah sering diungkapkan oleh para ulama kita tentang trilogi: “berusaha, berdoa dan bertakwa” atau “bekerja, memohon dan pasrah”.
Doa adalah upaya untuk memahami bahwa usaha pisik saja tidak cukup. Secara empiris bisa dilihat ada seseorang yang sudah berusaha dengan menggunakan strategi yang teruji dengan sangat baik yang dipastikan tingkat kegagalannya itu nihil dan tingkat kesuksesannya itu 100 persen. Akan tetapi sering terjadi usaha yang luar bisa presisinya itu, ternyata gagal. Ada factor X.
Untuk meminimalisir factor X tersebut maka manusia disediakan ruang metafisik yaitu berdoa dan bertawakkal. Jika usaha adalah aktivitas fisik, maka doa dan tawakkal adalah memasuki alam metafisik. Sebuah area yang terkadang manusia tidak mampu memahaminya dengan akal atau rasionya. Di sinilah dunia keyakinan memainkan peranannya untuk manusia agar manusia sadar bahwa akal saja tidak cukup. Ada sebuah ungkapan bagus: “mengoptimal usaha, melangitkan doa”.
Manusia yang memiliki rasa keberagamaan, tentu akan dapat memahami bahwa dunia fisikal yang dapat dipahami dengan rasio itu sangat terbatas. Terikat dengan ruang dan waktu. Itulah sebabnya manusia harus menyadari kekuatan rasionya dalam menghadapi fenomena alam non fisikal yang ternyata memiliki dimensi yang sangat luas dan mendalam. Tetapi Allah sudah menyediakan kemampuan untuk kepentingan tersebut melalui kemampuan di luar penalaran, melalui dimensi batiniah yang bersentuhan dengan dunia metafisik yang secara apriori dinyatakan sebagai kebenaran. Doa dan tawakkal adalah medium untuk memasuki alam metafisik atau metaempiris. Serahkan usaha kita kepada Allah dengan sepenuh keyakinan.
Ayat Alqur’an yang dijadikan sebagai penjelasan atas tema ini adalah sebagaimana tercantum di dalam Surat Al Ghafir: 44-45, bahwa: “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hambanya. Maka Allah akan memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka”.
Kemudian dipertegas dengan beberapa hadits, di antaranya adalah hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, sebagaimana Allah SWT berfirman: “Aku sesuai persangkaan hambaku kepada-Ku dan Aku selalu bersama hamba-hamba-Ku selama ia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah benar-benar lebih gembira pada taubat seseorang hamba daripada salah seorang di antara kalian yang menemukan bendanya yang hilang di padang yang luas. Barang siapa yang mendekat pada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya satu hasta, dan barangsiapa yang mendekat pada-Ku sehasta, maka aku mendekat kepadanya sedepa, jikalau hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan berjalan, maka aku mendatanginya dengan bergegas-gegas”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.
Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda pada tiga hari sebelum wafatnya, “janganlah seseorang dari kalian meninggal dunia, melainkan ia harus berbaik sangka kepada Allah SWT”. Hadit Riwayat Imam Muslim.
Dari penjelasan ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, maka kiranya dapat dipahami tentang bagaimana Allah SWT mengutamakan orang yang selalu berharap kebaikan dan Rahmat Allah SWT. Ada tiga hal yang dapat digarisbawahi, yaitu:
Pertama, Allah SWT sedemikian mengutamakan orang yang selalu melakukan amalan yang baik berbasis pada keimanannya. Allah itu Dzat yang Maha Baik, pastilah akan sangat menyukai kebaikan. Tidaklah mungkin Allah itu baik lalu menyukai ketidakbaikan. Akal apapun tidak akan menerimanya. Meskipun di dunia itu bisa terjadi kebaikan dibalas dengan kejelekan. Ari susu dibalas air tuba. Tetapi itu hanya hukum manusia. Tidak berlaku bagi Yang Maha Baik, Maha Adil dan Maha Bijaksana lalu berbuat seenaknya atau yang bertentangan sifat-sifat kebaikan yang melekat kepada-Nya.
Bagi Allah SWT kebaikan adalah segalanya. Dari sisi teks, semua menggambarkan yang demikan. Dari penggunaan akal budi, maka juga akan membenarkan atas hal tersebut. Artinya bahwa Allah SWT akan membalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas kejelekan dengan kejelekan yang sama. Bahkan Allah SWT memberikan peluang bagi yang melakukan kejelekan untuk menyadari kesalahannya dan bertaubat kepadanya. Berdasarkan kebenaran metafisik, maka ini merupakan hukum yang berbasis pada keseimbangan.
Kedua, doa adalah harapan. Makanya kita harus selalu berdoa sebagai manifestasi atas keinginan yang kita mohonkan. Doa adalah washilah kita dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Doa dapat dilantunkan langsung kepada Allah dan bisa juga dilantunkan didasari atas washilah kepada Nabi Muhammad SAW. Washilah terbaik di dalam kerangka memohon kepada Allah SWT adalah melalui Nabi Muhammad SAW. Allah itu Dzat yang Maha Gaib, dan manusia adalah sebongkah materi, sehingga untuk menyambungkan antara yang fisikal dengan yang nonfisikal bukanlah perkara gampang. Maka ada medium yang baik. Nabi Muhammad SAW adalah manusia terpilih yang diberi kewenangan oleh Allah untuk menjadi perantara kebaikan manusia dengan Tuhan. Melalui manusia yang menjadi reresentasi sifat kasih sayang, dan seluruh sifat kebaikan Allah SWT, maka peluang doa untuk dikabulkan oleh Allah itu lebih besar.
Ketiga, digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa Allah SWT itu sedemikian gembira melihat hambanya yang berbaik sangka kepada-Nya. Allah itu sedemikian senang jika melihat hambanya yang bertaubat kepada-Nya. Selain Nabi Muhammad SAW dan Nabi atau Rasul pilihan, yang tidak melakukan dosa, maka manusia itu tempatnya kekhilafan dan kesalahan, maka sudah sangat pantas jika kita memohon ampunan kepada Allah. Jika kita rela dengan memohon ampunan Allah, maka Allah gembira atas kesadaran dan perilaku kita untuk memohon ampunan. Allah SWT sangat dekat bahkan digambarkan jika kita berjalan mendekat kepada Allah, maka Allah akan lari untuk mendekati kita. Ungkapan simbolik Nabi Muhammad SAW yang memiliki makna luar biasa. Jadi, tidak ada salahnya jika kita mendekat kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bi al shawab.
