• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGHARAP RAHMAT ALLAH (51)

MENGHARAP RAHMAT ALLAH (51)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan yang sangat gamblang tentang bagaimana manusia harus berharap atas Rahmat Allah SWT. Pada bab ini, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Mengharapkan” atau “Roja” di dalam Bahasa Arab. Pada bab sebelumnya Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang Khouf atau takut. Biasanya dua bab ini disatukan di dalam ungkapan khouf dan raja’. Ketakutan dan pengharapan.

Setiap manusia tentu memiliki keinginan untuk mendapatkan kebaikan di dalam kehidupannya. Akan tetapi karena factor-faktor tertentu, terkadang harapan akan kebaikan tersebut tergerus atau terpendam oleh hasrat badani yang menggelegak. Nafsul Mutmainnah dikalahkan oleh nafsu hayawaniyah. Dan memang pertarungan di dalam kehidupan sebenarnya adalah pertarungan antara nafsu kebinatangan dan nafsu kemalaikatan. Makanya dikenal ada orang yang dekat dengan nafsu hayawan dan ada yang dekat kepada nafsu malaikat. Kal hayawan atau kal malaikat.

Allah memang memberikan nafsu-nafsu tersebut dalam kerangka untuk memberikan pelajaran kepada manusia. Para Nabi dan Rasul sesungguhnya diturunkan untuk kepentingan tersebut. Makanya, meskipun ada ajaran Nabi dan Rasul tetap saja ada manusia yang melakukan kebaikan dan ada manusia yang melakukan kejahatan. Bahkan di kala Harut dan Marut, dua malaikat, yang diturunkan ke bumi dan diberi nafsu oleh Allah, maka keduanya melakukan pelanggaran berat. Mulai dari minum khomar sampai membunuh orang.

Al Qur’an menjelaskan di dalam Surat Az Zumar: 53, bahwa: “katakanlah, Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Di dalam surat lain, As Saba’: 17, bahwa: “…dan kami tidak menjatuhkan adzab (orang yang demikian itu) melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”.  Lalu di dalam Surat Thoha: 48, dinyatakan: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling”.

Hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Dzar bahwa Nabi bersabda: “Allah SWT berfirman di dalam hadits Qudsi: “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipatnya, atau Aku tambahkan. Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan, maka balasannya adalah keburukan yang semisal itu Aku ampuni dosanya. Barang siapa yang mendekat padaku setangkal, maka Aku mendekat padanya sehasta, barang siapa yang mendekat kepadaku sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Barang siapa yang datang kepadaku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil. Barang siapa yang menemui Aku dengan membawa kesalahan hampir sepenuh bumi, asalkan ia tidak menyekutukan sesuatu dengan-Ku tentu Aku akan menemuinya dengan pengampunan sebanyak kesalahan yang dilakukan olehnya”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berkata Rasulullah SAW bahwa: “Ketika Allah menciptakan semua makhluk, maka dia menulis di dalam kitab, dan di dalam kitab itu ada di sisinya di  atas Arasy yang isinya, ‘sesungguhnya rahmatku mengalahkan murka-Ku”.  Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dengan demikian, pernyataan atau sabda Nabi Muhammad SAW memberikan Gambaran tentang bagaimana sesungguhnya Allah SWT memberikan ampunannya kepada hambanya dengan Rahmat-Nya. Allah SWT adalah Tuhan yang ampunannya jauh lebih besar dibandingkan dengan besarnya dosa yang dilakukan oleh manusia. Tetapi ada satu hal yang mendasar bahwa selama yang bersangkutan tidak menyekutukan-Nya.

Dari upaya untuk mencoba memahami atas teks Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW maka dapat digarisbawahi tiga hal, yaitu:

Pertama, di dalam sejarah agama-agama, Allah SWT telah menggambarkan tentang beberapa umat di masa lalu yang dikenai adzab Allah. Yang mula pertama adalah umat Nabi Nuh AS, yang diadzab Allah SWT dengan banjir besar yang mengenai seluruh dunia, dan menenggelamkan seluruh orang kafir dan orang yang berperilaku keburukan. Hanya orang yang patuh kepada perintah Allah SWT melalui Nabi Nuh AS dan mengarungi banjir bersama Nabi Nuh AS di dalam kapalnya, maka mereka selamat. Sepertinya Tuhan mereset kehidupan dan hanya menyisakan orang-orang  yang baik. Semua yang jelek dihapuskan. Lalu adzab kepada umat atau kaum Ad pada zaman Nabi Hud. Mereka ditimpa angin puting beliung yang sangat panas, dan hanya yang patuh kepada Allah yang selamat bersama Nabi Hud. Lalu ada kaum Tsamud, umat Nabi Luth, yang juga ditimpakan kepadanya adzab Tuhan sehingga yang ingkar kepada Allah menjadi punah. Jadi, Allah tidak menghabiskan semua umat tetapi memberikan peluang untuk yang berbuat baik untuk melanjutkan estafeta kehidupan.

Kedua,  Allah SWT itu Maha Rahman dan Rahim. Rahman itu dikaitkan dengan kasih sayang Allah SWT yang diberikan kepada semua makhluk di dunia, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Semua mendapatkan rahmannya Allah SWT. Tetapi Rahim itu hal yang khusus, artinya diberikan lebih khusus kepada umat Islam atau orang yang tidak menyekutukan Tuhan. Di dalam kehidupan umat manusia, maka Rahmat Allah SWT  itu akan diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang tidak menyekutukan Tuhan atau orang yang beriman kepada-Nya. Tetapi juga orang yang beramal shalih. Kabar gembira dari Allah SWT sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Muhammad SAW memberikan indikasi bahwa Allah SWT itu sedemikian besarnya Rahmat Allah kepada manusia, asal tidak berlaku syirik. Bahkan Allah itu selalu lebih besar kasih sayangnya. Jika ada orang yang kesalahannya sangat besarpun Allah SWT masih memberikan peluang untuk mengampuni dosanya, selama yang bersangkutan memohon ampunan dengan sungguh-sungguh dari Allah.

Ketiga, Ada beberapa cerita menarik, bagaimana Rahmat Allah itu datang kepada seorang hamba. Misalnya cerita tentang seorang pelacur yang dijanjikan masuk surga hanya karena menolong anjing yang kehausan. Pelacur itu dengan terompahnya mengambil air di sumur dan meminumkannya ke anjing itu dan dijanjikan akan masuk surga. Penjelasan matematisnya adalah di kala menolong anjing tersebut hati pelacur itu dalam nuansa keikhlasan yang tidak terhingga atau secara matematis angka 0, sehingga bisa bertemu dengan dzat Allah yang tidak terhingga, angka 0. Ketemunya dua ketidakterhinggaan tersebut, maka memberikan peluang Rahmat Allah datang kepadanya.

Imam Ghazali bermimpi tentang yang menyebabkan masuk surga, ternyata bukan ibadah-ibadahnya, meskipun ini sangat penting, akan tetapi adalah keikhlasannya di kala membiarkan seekor lalat meminum tinta yang dipakai menulis kitabnya. Di sinilah rahmat Allah berlaku dalam trilogy relasi: menolong (binatang atau manusia), keikhlasan dan rahmat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..