• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENJAGA AGAMA ALLAH: RENUNGAN RAMADLAN (12)

MENJAGA AGAMA ALLAH: RENUNGAN RAMADLAN (12)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya sungguh mengapresiasi takmir Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya,  atas inovasi barunya, yaitu menghadirkan penceramah perempuan dalam acara taushiyah Ramadlan, malam ke 13 pada Bulan Ramadlan 1444 Hijriyah. Selama ini yang mesti memberikan ceramah agama menjelang Shalat Tarawih selalu lelaki, bahkan rasanya di seluruh masjid di Jawa Timur, baik masjid perkotaan maupun pedesaan.

Kali ini yang memberi ceramah agama adalah mahasiswi Program Pascasarjana Ilmu Tafsir dan Hadits, UIN Sunan Ampel Surabaya, Ustadzah Luluk Ita Nur Rasidah, SAg. Bagi Masjid Al Ihsan, memberikan peluang perempuan untuk ceramah pada acara tarawih berjamaah juga yang pertama. Tetapi alhamdulillah bahwa sambutan peserta shalat tarawih juga sangat memadai terbukti dengan beberapa celetukan, misalnya “wah kurang panjang ceramahnya”. Artinya, bahwa jamaah menikmatinya.

Ceramah Ustadzah Luluk memang memberikan penjelasan yang runtut. Dimulai dengan membacakan Surat Muhammad ayat 7, yang berbunyi: “Ya ayyuhal ladzina amanu in tansharullaha  yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum”. Yang artinya: “Wahai orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Dari ayat ini kemudian mengalir ceramah Ustadzah Luluk dalam beberapa pokok pikiran.

Pertama, menolong (agama) Allah artinya adalah kita melaksanakan semua perintah Allah dengan  mematuhi perintahnya. Menolong Allah itu tidak dimaksudkan bahwa Allah perlu ditolong, akan tetapi  menolong agama Allah itu maksudnya adalah dengan mengamalkan semua ajaran agama. Jika kita melaksanakan agama Allah itu artinya kita menolong agama Allah. Kita  harus mencintai Allah dan kemudian juga mencintai Nabi Muhammad SAW. “alangkah senangnya jika dicintai Allah dan dicintai Nabi Muhammad SAW”. Salah satu cara agar dicintai Rasulullah adalah dengan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan agar kita dicintai Allah,  maka kita harus melaksanakan semua ajaran Allah yang diwajibkan termasuk melaksanakan puasa pada hari ini.

Kedua, di dalam bulan puasa ini kita dapat melaksanakan amalan yang wajib maupun yang sunnah. Kita bisa tadarrus Al Qur’an, bisa shalat tarawih, bisa membaca dzikir dan bisa mengeluarkan shadaqah. Semua ini kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita semua. Oleh karena itu kita harus bersyukur atas nikmat Allah karena kita dapat  menolong agama Allah dengan cara menjalankan ajaran-ajaran Allah SWT. Kita bisa tarawih pada malam hari ini. Silahkan mau tarawih delapan rakaat atau 20 rakaat silahkan. Yang penting kita menjalankan qiyamul lail. Karena melaksanakan qiyamul lail termasuk sunnahnya Rasulullah. Di dalam hadits dinyatakan: “man qama ramadlona imanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqaddama min dzanbih”. Barang siapa yang menjalankan ibadah malam, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kita.

Ketiga, perlu memperbanyak amalan ibadah. Jamaah Masjid Al Ihsan ini, maju atau mundur. Kalau maju berarti semakin berkurang, tetapi kalau mundur berarti makin banyak. Tapi rasanya semakin maju. Tetapi yang jelas kita harus bersyukur sebab kita ini bisa tergolong orang yang masih menjalankan ibadah,  baik yang wajib maupun yang sunnah. Hanya dengan menjalankan amalan-amalan ibadah saja maka kita dapat menolong agama Allah swt.

Saya  memberikan komentar sedikit di dalam tulisan ini terkait dengan konsep menolong agama Allah. Melalui ayat ini, maka bisa memberikan kesan bahwa Allah itu perlu ditolong atau Allah itu perlu dibela. Ayat ini berdasarkan atas teksnya memberikan kesan bahwa Allah itu memerlukan pertolongan manusia. Manusia bisa memberikan pertolongan kepada Allah SWT. Lalu ada pemahaman tentang pertolongan macam apa yang harus dilakukan, misalnya adalah memberantas kemaksiatan atau  melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Itulah sebabnya Front Pembela Islam (FPI) di masa lalu melakukan sweeping atas warung-warung terutama saat puasa di siang hari dengan dalih melakukan nahi mungkar. Bahkan juga melakukan sweeping ke tempat-tempat diskotik dan sebagainya. Tindakan seperti ini disebut sebagai membela Allah atau membela agama Allah.

Pemikiran dan prilaku ini menghasilkan anti tesis, bahwa Allah tidak perlu dibela atau ditolong. Yang justru perlu ditolong adalah manusia. Manusialah yang memerlukan pertolongan, sedangkan Tuhan sebagai Dzat yang Maha Kuasa tentu tidak memerlukan bantuan siapapun. Menolong Allah atau membela Allah seharusnya dilakukan dengan membela manusia. Mengentas manusia dari kemiskinan, menghilangkan ketidakadilan, menolong manusia dari keterbelakangan dan seterusnya.

Kala masyarakat Indonesia masih miskin, maka yang diperlukan adalah bagaimana mengentas kemiskinan dan memberikan jalan untuk mencapai kesejahteraan. Jika masih terdapat ketidakadilan, maka seharusnya yang dilakukan adalah memberikan peluang agar keadilan bisa dicapai. Misalnya upaya untuk mengurangi kesenjangan ekonomi sehingga akan terdapat peluang pemerataan. Memang tidak mudah melakukannya akan tetapi tentu harus ada upaya untuk melakukannya.

Upaya melakukan sweeping terhadap warung-warung memang bagian dari upaya untuk menegakkan syariat puasa di siang hari. Akan tetapi tentu juga harus dipikirkan tentang bagaimana kehidupan ekonominya. Harus juga dipahami sebagai negara dengan pluralitas agama tentu juga ada sebagian kecil yang tidak melakukan puasa. Bagi kita yang terpenting supaya tetap menjaga agar tetap terdapat kesopanan dalam menghadapi bulan puasa.

Dengan demikian amar makruf memang diwajibkan oleh Islam, akan tetapi penerapannya tentu sangat kontekstual sesuai dengan lokus di mana Islam itu dijadikan sebagai agama dan pedoman untuk bertingkah laku.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PUASA ITU RASIONAL: RENUNGAN RAMADLAN (11)

PUASA ITU RASIONAL: RENUNGAN RAMADLAN (11)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Selama ini kita memaknai puasa tentu hanya dari ajaran Islam yang berupa kewajiban saja. Kita tidak pernah berpikir, apakah puasa itu masuk akal atau tidak.  Bisa dinalar atau tidak. Bisa dikaji atau tidak, dan seterusnya. Yang penting perintah untuk menjalankan puasa adalah perintah yang mewajibkan kita untuk melakukannya, dan yang penting kita harus berpuasa sesuai dengan ajaran agama, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya mata hari.

Kita tidak pernah bertanya tentang apakah ada rahasia Allah SWT atas mengapa manusia dimintanya untuk berpuasa. Saya kira kebanyakan umat Islam juga sama seperti saya dalam melakukan puasa. Kita Imani dan kita lakukan. Bahkan sebagaimana yang sering saya ungkapkan bahwa di dalam mengimani ajaran agama prototipenya adalah Sayydinna Abu Bakar Ash Shiddiq. Orang yang mengimani ajaran agama tanpa berkata tidak, dhahiran wa bathinan.

Sebagai orang yang berkembang dengan memanjakan rasio, maka seringkali kita bertanya-tanya tentang ajaran agama, tentu ajaran agama yang tidak bercorak kegaiban. Sebab yang bertipe kegaiban tentu kita harus percaya saja tanpa pertanyaan, misalnya kegaiban Allah SWT, keberadaan Malaikat, akherat, alam kubur, surga dan neraka, dan keberadaan makhluk Allah yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa. Kita harus percaya, dhahiran wa bathinan.

Tetapi tentang kegaiban itu ada yang mutlak tidak bisa dipikir dan dilihat, baik secara dhahiriyah atau bathiniyah, misalnya Allah SWT itu mutlak tidak bisa dinalar karena ketidakmungkinan untuk dilihat, alam akherat, surga dan neraka dan beberapa hal lainnya.  Tetapi malaikat bisa dilihat kehadirannya pada zaman Nabi Muhammad SAW oleh para sahabat Nabi. Misalnya kala Jibril mengajari Nabi Muhammad SAW tentang rukun iman, rukun Islam dan ihsan, di mana Malaikat Jibril menyerupai orang yang sempurna fisiknya.

Termasuk yang bisa dilihat adalah alam Jin, yang untuk sementara orang kebanyakan tidak akan melihatnya, akan tetapi ada orang-orang khusus yang bisa melihatnya dan bahkan bergaul dengannya. Tentu ada syarat-syarat yang tidak lazim yang harus dilakukan agar bisa memasuki alam kegaiban ini. Ada banyak cerita orang yang dikaruniai untuk masuk dalam alam kegaiban karena usaha atau riyadhah yang dilakukannya. Jika gelombangnya sudah sama, maka dipastikan akan didapati kemampuan untuk merasakan kehadirannya atau kita hadir kepadanya.

Manusia diberikan kemampuan akal  atau rational intelligent. Sebuah kemampuan untuk melakukan berbagai aktivitas yang terkait dengan hal-hal yang fisikal atau jasadiyah. Manusia bisa mengkaji tentang hal-hal yang masuk akal. Artinya, bahwa akal manusia bisa  menemukan kebenaran, yang bagi Sebagian orang lain tidak bisa ditemukannya. Manusia diberi kemampuan untuk menemukan teknologi untuk bisa menyibak hal fisikal yang tidak bisa disibak dengan akal pada umumnya. Misalnya teknologi yang sederhana untuk mengecek gula darah, tekanan darah tinggi, kolesterol dan asam urat, dan sebagainya. Melalui teknologi ini, maka kita bisa mengetahui berapa kadar gula kita setelah memakan makanan yang manis-manis. Berapa tensi darah kita setelah kita memakan yang penuh dengan nasi dan lauk pauknya, berapa kadar kolesterol kita setelah makan lemak yang banyak.  Jadi melalui kemampuan akal, manusia akhirnya dapat mengetahui hal-hal yang tidak bisa diketahui dengan akal umum saja. Diperlukan seperangkat teknologi untuk memahaminya.

Bagaimana dengan puasa? Adakah aspek atau dimensi rasionalitas di dalamnya. Selama ini kita berpuasa hanya sesuai dengan ketentuan. Dewasa, berakal, sehat fisik dan rohani, maka kita dapat  melakukan puasa. Akan tetapi ternyata ada dimensi kesehatan yang sungguh rasional dari orang yang melakukan puasa. Puasa itu dapat menjadi instrument untuk membuat manusia menjadi sehat. Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa puasa dapat dijadikan sebagai sarana untuk sehat. Melalui puasa, maka ada sel-sel mati yang menumpuk dalam tubuh lalu dimakan di kala tubuh kita tidak terdapat asupan makanan. Jika di tubuh kita ada banyak lemak yang menggumpal, maka dengan puasa  akan bisa dijadikan sebagai asupan makanan kala lapar. Makanya puasa dapat mengeliminasi kolesterol, asam aurat, diabetes dan juga tmenormalkan tensi darah. Bahkan dianjurkan dalam sepekan bisa melakukan puasa dua kali. Agar bisa menjaga keseimbangan tubuh.

Sekarang banyak orang yang berpuasa selama 16 jam atau 20 jam dengan tujuan agar terjadi keseimbangan di dalam mekanisme tubuh kita. Dengan tidak makan selama 20 atau 16 jam dan hanya minum air putih saja, maka akan terjadi keseimbangan tubuh sehingga kadar gula darah akan bisa turun, demikian pula kolesterol dan asam urat. Dengan kadar gula darah yang rendah di bawah 100, maka tubuh akan menjadi lebih sehat. Memang menjadi kurus tetapi itu lebih baik. Ada jenis puasa ketto atau puasa ala MOBI atau miracle breath of Indonesia. Yang kedua lebih ketat tata caranya. Sebab hanya boleh makan protein dan benar-benar non karbohidrat.

Oleh karena itu, jika di masa lalu puasa hanya dipahami sebagai perintah wajib, maka sekarang ternyata dapat membawa pelakunya untuk sehat. Di dalam hal ini, maka Sabda Nabi Muhammad SAW, shumu tasihhu bukan kata tanpa makna, akan tetapi telah dibuktikan kebenarannya. puasa itu rasional.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

BERSHALAWATLAH MUMPUNG ADA WAKTU: RENUNGAN RAMADLAN (10)

 

BERSHALAWATLAH MUMPUNG ADA WAKTU: RENUNGAN RAMADLAN (10)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya kemarin bertemu dengan kawan lama dari BNI. Saya nyatakan lama karena pertemanan saya  pada tahun 2010-2011. Kala saya ke Jakarta, maka tidak lagi kontak. Jadi lamanya tidak bertemu itu sekitar 11 tahun. Kurang lebih. Tiba-tiba beberapa hari yang lalu dia WA saya yang isinya  bertanya tentang kesehatan dan ingin silaturahmi. Untungnya nomor HP masih tersimpan sehingga saya langsung tahu dari mana WA tersebut datang. Benar akhirnya, bertiga mereka bertemu dengan saya di Ruang Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel Surabaya. 31/03/2023.

Tentu saya langsung akrab karena di masa lalu,  relasi social saya dengan beberapa kawan di BNI tentu berlangsung sangat baik. Tidak ada yang khusus di dalam pertemuan ini. Memang hanya bersilaturahmi saja. Makanya, pembicaraan terkait dengan keluarga dan perkembangan pekerjaan di kantor masing-masing. Saya lalu ingat Pak Teddy, yang di masa lalu juga kawan BNI dan sekarang sedang berkarir di Jakarta. Saya kontak Beliau, dan seperti biasa dipastikan “cekakaan” atau tertawa lepas, sebagaimana waktu bertemu langsung atau copy darat. Dan pada saat telponan itu, di saat mau mengakhiri pembicaraan, maka tiba-tiba saya nyeletuk, “jangan lupa baca shalawat”. “Harus dibaca sungguhan ini, sebab shalawat itu yang menyambungkan kita dengan Rasulullah”. Setelah itu telepon saya tutup. Dan di luar perhitungan saya, kawan BNI itu menyatakan: “alhamdulillah Prof, sudah diingatkan untuk baca shalawat”. Lalu pembicaraan beralih tentang persoalan shalawat yang memang harus dibaca oleh umat Islam, kapan, di mana dan dengan cara apa. Bisa di rumah, bisa ditempat kerja dan bisa sendirian atau berjamaah. Yang penting baca shalawat.

Ada tiga catatan penting  untuk saya kemukakan di dalam artikel pendek ini, yaitu: pertama, dakwah yang artinya mengajak tidak harus dikemas dengan hingar bingar dan mewah. Akan tetapi dakwah atau mengajak orang bisa hanya dengan kalimat celetukan yang memberikan nuansa “mengingatkan”. Misalnya, “ayo baca shalawat sebanyak-banyaknya”. Dan hal ini bisa dilakukan dalam pertemuan informal bahkan sambil gurauan. Saya kira dakwah dengan cara tersebut  lebih mengena dibandingkan dengan dakwah yang bersifat hingar bingar dan penuh dengan asesori.

Memang tetap kita butuhkan dakwah melalui media social atau dakwah melalui tulisan dan media cetak bahkan dakwah bil mal, akan tetapi yang jelas bahwa dakwah seperti ini harus dirancang agar dakwah itu memberikan rasa kenyamanan, kesejukan dan kedamaian. Jangan sampai dakwah justru melukai hati dan perasaan dan bahkan mengarahkan kepada disharmoni social. Ungkapan yang mengingatkan akan sebuah perbuatan baik seperti cerita saya di atas akan sangat manjur di dalam upaya untuk fastabiqul khairat dan fadha’ilul ‘amal.

Kedua, shalawat adalah instrument untuk membangun relasi spiritual manusia dengan Nabi Muhammad SAW. Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW memiliki posisi penting di dalam ajaran Islam. Tidak hanya sekedar penghormatan dan ketawadluan kepada Rasulullah SAW tetapi merupakan  salah satu inti dari konsep keselamatan di dalam agama Islam. Semua agama mengabarkan tentang konsep keselamatan. Jalan yang harus ditempuh agar selamat di dalam kehidupan baik di dunia maupun di akherat.

Shalawat merupakan  pintu utama untuk memperoleh keselamatan di dunia dan akherat. Hal ini disebabkan peran Nabi Muhammad SAW yang sedemikian sentral dalam menyelamatkan umat Islam. Nabi Muhammad SAW merupakan satu-satunya manusia yang diberikan otoritas oleh Allah untuk memberikan syafaat. Kedudukan Nabi Muhammad sangat tinggi menurut Allah SWT, sehingga Allah dan Malaikat-Nya juga membaca shalawat dan doa keselamatan kepada Nabi Muhammad SAW. Begitulah Allah SWT menempatkan Nabi Akhiriz zaman itu di dalam konteks kehidupan manusia. Jika Allah SWT dan para Malaikat saja bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka manusia yang menghormati dan mencintainya tentu harus juga melakukan hal yang sama yaitu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, mumpung masih ada waktu, maka sudah sepantasnya jika kita mendawamkan bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Jika tidak bisa yang panjang, yang sedang, jika yang sedangpun susah,  maka yang pendek. Jika bisa membaca Allahumma shalli ‘ala Sayiidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad. Jika  yang panjang ini susah, maka dapat membaca Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, jika kita tidak bisa membaca yang sedang, maka bisa membaca shallu ‘ala  Muhammad. Berapa jumlahnya sangat tergantung pada kemampuan, tetapi semakin banyak semakin baik. Bayangkan ada orang yang bisa membaca 1.000 kali shalawat, bahkan 10.000 kali shalawat dalam sehari. Dan kita bisa berapa?

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA MEMBANGUN KECERDASAN  SOSIAL: RENUNGAN RAMADLAN (9)

PUASA MEMBANGUN KECERDASAN  SOSIAL: RENUNGAN RAMADLAN (9)

Indonesia dikenal sebagai negara filantropi terbaik di dunia. Berdasarkan World Giving Index (WGI) 2021, Indonesia kembali menjadi negara paling dermawan di dunia. Berdasarkan data dari Charity Aid Foundation (CAF) 2021, maka Indonesia menempati peringkat teratas darI 140 negara yang dinilai. Indonesia menempati rangking teratas dalam dua indicator dari tiga indikator yang dikaji.

Berdasarkan data Gallup yang dijadikan sebagai basis data oleh WGI, maka dari 10 orang Indonesia, maka terdapat 8 orang Indonesia yang memberikan donasinya. Sementara itu kerelawanan  di Indonesia meningkat tiga kali lipat lebih besar dari rata-rata kerelawanan masyarakat dunia. Bahkan di era Pandemi Covid-19, Indonesia tetap dapat mempertahankan posisi atau peringkat satu di dunia. Prosentase yang didapatkan Indonesia adalah  menyumbang uang (84%), Kerelawanan (63%) dan menyumbang orang asing (58%), untuk menyumbang orang lain rata-rata global 62%. Indonesia telah lima kali berturut-turut menjadi yang terbaik dalam filantropi di dunia.

Indonesia bisa menjadi negara filantropi terbaik, di antaranya adalah karena pengamalan ajaran agama. Ketua Badan Pelaksana Public Interest Research and Advokasi (PIRAC) menyatakan bahwa   ajaran keagamaan memiliki kontribusi dalam keberhasilan Indonesia sebagai negara filantropi terbaik di dunia. Dan di antara yang berperan penting adalah filantropi Islam dalam menggalang,  mengelola  dan mendayagunakan donasi keagamaan. Yang jelas bahwa Islam memberikan kontribusi dalam gerakan donasi nasional. (Bangkapos.com 25 Oktober 2022).

Sebagai umat Islam tentu kita bersyukur sebab umat Islam Indonesia memiliki kontribusi dalam percaturan Internasional, khusus dalam kegiatan donasi atau filantropi. Islam memang memiliki ajaran zakat, infaq, shadaqah dan juga wakaf yang menjadi instrument penting di dalam gerakan filantropi nasional. Melalui ajaran Islam ini, maka masyarakat Indonesia tidak ragu untuk berdonasi karena ada aspek pahala yang didapatkannya. Zakat merupakan salah satu prinsip di dalam ajaran Islam, selain syahadat, shalat, puasa dan haji. Zakat adalah rukun Islam yang harus ditegakkan. Ajaran Islam memiliki system yang saling menyatu. Antara syahadat, puasa, zakat, shalat dan haji merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Keterkaitan tersebut misalnya dalam puasa. Seseorang tidak cukup hanya puasa lalu semua amalan ibadahnya diterima Allah tetapi ternyata harus dikaitkan dengan zakat, khususnya zakat fitrah. Seseorang yang puasa dan tidak membayar zakat fitrah, maka pahalanya akan menggantung di antara langit dan bumi. Shalat yang seringkali dikaitkan dengan ibadah personal meskipun dilakukan secara berjamaah, akan tetapi harus memiliki relevansi dengan zakat, infaq dan shadaqah. Orang belum dianggap Islam yang sempurna jika tidak membayar zakat sebagai pensucian atas hartanya. Untuk menyucikan harta maka pirantinya adalah zakat. Orang harus melakukan hablum minallah, akan tetapi tidak boleh melupakan hablum minan nas, dan bahkan hablum minal alam.

Allah SWT memberikan kebutuhan social, selain kebutuhan biologis dan kebutuhan integrative. Kebutuhan social merupakan kebutuhan manusia sebagai makhluk social. Yaitu makhluk yang tidak bisa hidup sendiri di dalam kehidupan di dunia. Manusia  tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Kebutuhan makan saja harus melibatkan orang lain. Ada penyedia beras, ada penyedia teknologi memasak, misalnya alat-alat memasak, ada produsen bahan baku masak misalnya bumbu dengan berbagai variannya, dan lainnya. Manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya seorang diri. Hanya di dalam cerita saja ada manusia yang benar-benar self help, karena meniru perilaku binatang. Hewan bahkan lebih hebat dibanding manusia dalam pemenuhan kebutuhan biologisnya. Singa, harimau, serigala, dan lain-lain memang bisa  mencari makan sendiri karena insting yang diberikan Allah dalam pemenuhan kebutuhan biologisnya. Tetapi manusia tidak mampu melakukannya.

Allah SWT memberikan pembelajaran kepada manusia agar di dalam relasi social, manusia dapat melakukannya dengan menggunakan social intelligent atau kecerdasan social. Manusia tidak hanya diberikan oleh Allah dengan kecerdasan akal dan kecerdasan emosional tetapi diberikan kecerdasan social, yaitu kecerdasan untuk berempati kepada orang lain. Jangan hanya antipati tetapi juga simpati. Dari gabungan di antara antipati dan simpati tersebut, maka akan terdapat jalan tengah yaitu manusia akan merasa sebagaimana pengalaman orang lain. Jika ada orang yang sakit, maka akan terasa badan kita juga sakit kalau kita ditimpa penyakit. Jika ada orang yang sakit hati karena ada perkataan yang menyakitkan, maka kita juga akan berada di dalam posisi yang sama. Akan sakit hati jika disakiti. Jika miskin itu menyedihkan, maka seharusnya kita juga akan merasakan hal yang sama kala kita  miskin. Makanya kita harus berempati kepada orang yang miskin. Makanya, kita harus merasakan berada di dalam posisi orang lain.

Islam mengajarkan agar kita saling menolong. Boleh kita berkompetisi tetapi kompetisi dalam bingkai saling menolong. Islam mengajarkan: ta’awanu alal birri wat taqwa wala ta’awanu alal itsmi wal ‘udwan. Yang artinya: “saling tolong menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan taqwa dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan kejelekan”. Jadi fondasi  di dalam relasi social adalah saling menolong.

Manusia dikaruniai kecerdasan social. Oleh karena itu, maka manusia harus merasakan apa yang dirasakan orang lain. Jika kita kaya maka ingat pada yang miskin, jika kita sehat ingat yang sakit dan jika kita sejahtera ingat yang sengsara. Tidak hanya sadar dalam pikiran tetapi juga mengimplementasi dalam tindakan. Dari empati dan simpati menjadi tindakan memperhatikan dan menolong. Dari kesadaran akan penderitaan orang lain lalu menolong, dan dari kesusahan yang dirasakan orang lain kemudian menolong.

Inilah inti ajaran Islam untuk puasa, yaitu kesadaran untuk menolong manusia yang lain dalam koridor kasih sayang, dan saling kepedulian. Caring  the others. Jika puasa bisa seperti ini, maka puasa akan menjadi modal social untuk membangun masyarakat religious berbasis pada ajaran Islam tentang kasih sayang.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

BERDOALAH UNTUK  AMPUNAN ALLAH: RENUNGAN RAMADLAN (8)

BERDOALAH UNTUK  AMPUNAN ALLAH: RENUNGAN RAMADLAN (8)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya akan melanjutkan ceramah yang sudah disampaikan oleh Gus Khobir al hafidz beberapa saat yang lalu tentang apa persyaratan agar kita menjadi  itqun minan nar atau tubuh kita tidak tersentuh oleh api neraka. Ada lima hal yang perlu diketahui, yaitu bersyahadat, beristighafar, bermohon ridlo,  memperoleh  surganya Allah dan dijauhkan dari api neraka.

Kalimat ini yang saya sampaikan dalam ceramah menjelang shalat Tarawih di  Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency E 8 Ketintang Surabaya. Shalat jamaah Isya’ dan tarawih ini diikuti oleh sejumlah lelaki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa. Mereka adalah jamaah tetap Masjid Al Ihsan dan orang-orang yang memakmurkan Masjid Al Ihsan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti acara-acara yang dilakukan di Masjid Al Ihsan.

Di dalam kesempatan ini, saya sampaikan tiga hal yaitu: pertama, bersyukur kepada Allah atas nikmat kesehatan lahir dan batin, sebab tanpa keduanya tentu kita tidak bisa hadir dalam acara ritual shalat berjamaah dan mendengarkan ceramah agama seperti malam ini. Suatu kenikmatan yang besar adalah kita dikaruniai kesehatan. Semoga kita terus sehat sampai akhir Ramadlan dan bertemu dengan Ramadlan tahun depan.

Kedua,  betapa pentingnya syahadat. Kalimat syahadat adalah kalimat pengakuan dan persaksian bagi seorang muslim bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Asyhadu anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Kita dinyatakan sebagai orang muslim karena kita bersaksi bahwa tidak ada Tuhan atau illah selain Allah SWT  dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya,  sebagai nabi dan rasul terakhir. la nabiyya ba’dahu.  Kata kunci menjadi orang Islam adalah dengan pengakuan ini. Dhahir dan bathin kita meyakinya. Tashdiqu bil lisan wa tashdiqu bil qalbi.  Ucapan yang keluar dari lesan kita meyakini Allah adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah dan hati kita juga meyakininya seperti itu. Jangan sampai lisan  kita menyatakan percaya tetapi batin kita mengingkarinya. Nu’udzu billahi min dzalik. Jauhkan kami ya Allah dari hal-hal tersebut.

Sebagai umat Muhammad SAW, maka setiap hari kita mesti membaca syahadat. Di dalam shalat maka sekali shalat kita akan membaca syahadat 2 kali. Jadi sehari semalam ada sebanyak 10 kali kita membaca syahadat. Jika kita shalat rawatib dan shalat sunnah lainnya, maka setiap hari kita akan membaca banyak persaksian tentang keesaan Allah, pernyataan bahwa satu-satu yang dapat disembah adalah Allah SWT. Subhanallah betapa kita menjadi orang yang beruntung karena telah menjadi umat Islam dan menyadari akan betapa pentingnya shalat sebab di dalamnya terdapat pengakuan lahir dan batin, pikiran dan perasaan bahwa kita hanyalah makhluk dan kewajiban makhluk adalah mempersaksikan akan keagungan, kebesaran dan kemulyaan Allah SWT sebagai Tuhan Rabbul izzati.

Kala hidup di dunia, sebagai alam ngelakoni janji, maka kita sesungguhnya diminta oleh Allah untuk beribadah. Kita diingatkan agar kita menepati janji kita kepada Allah pada masa alam roh, bahwa kita sudah menyatakan alastu birabbikum qalu bala syahidna, yang artinya: “apakah aku ini Tuhanmu, maka mereka menyatakan ya kami menyaksikannya”. Oleh karena itu berbahagialah orang yang di masa lalu, di alam roh,  sudah berjanji kepada Allah dan di alam melaksanakan janji, alam dunia,   bisa menepati janji. Alhamdulillan wa syukrillah.

Ketiga, kita sudah diajari oleh ulama kita sebuah doa yang merupakan ekspresi atas lima hal di atas. Doa itu adalah “asyhadu anla ilaha illahllah, astagfirullah. Nas aluka ridhaka wal Jannah, wa naudzubika min sakhawatika wan nar. Allahumma innaka ‘afuwwun karim tuhibbul afwa fa’fuanna ya karim”.  Yang artinya: “kami bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah. Ya Allah ampuni dosa, kekhilafan dan kesalahan kami, kami  meminta ridla-Mu Ya Allah, kami meminta surga-Mu Ya Allah, dan jauhkan kami dari api neraka. Ya Allah Engkau adalah pemberi ampunan, wahai Yang Maha Mulya, Yang Maha Agung. Engkau Ya Allah menyukai orang yang memohon ampunan, wahai Yang Maha Mulya dan Agung”.

Sebuah doa yang indah. Sebuah doa yang jika direnungkan mengandung permohonan, mengandung sanjungan dan menunjukkan betapa manusia membutuhkan Allah SWT. Kitalah yang membutuhkan Allah dan bukan sebaliknya. Tetapi Allah mengajari kita agar kita selamat. Slamet ing donyo lan slamet ing akherat. Di dalam Islam disebut sebagai sa’idun fid daraini. Di dalam doa,  bukan hanya di perkataan kita melantunkanya, akan tetapi juga batin kita bersepakat dan mengiyakannya. Perpaduan antara kalimat dalam ungkapan dhahir  wa ungkapan di dalam qalbi sangat menentukan atas keberterimaan doa  kita oleh Allah SWT.

Tetapi sebagai umat Islam apapun kita sudah beruntung. Mungkin doa kita baru sampai pada tahapan  kalam fi dhahiriyah belum kalam fi bathiniyah akan tetapi Allah itu Maha Rahman dan Rahim, maka kita meyakini bahwa pada akhirnya Allah akan memberikan rahmatnya kepada kita agar kita dapat memasuki surga yang dijanjikannya. Ya Allah tetap turunkan rahmat-Mu di tengah ibadah kami yang belum kaffah  agar kami bisa menjadi penghuni surga-Mu.

Wallahu a’lam bi al shawab.