• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SURGA YANG DIRINDUKAN SEMUA AGAMA

SURGA YANG DIRINDUKAN SEMUA AGAMA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada sebuah pertanyaan menarik dalam pengajian hari Selasanan di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency  Ketintang Surabaya. Pengajian dilaksanakan pada 2 Agustus 2022 ba’da Shubuh. Pertanyaan tersebut adala: “apakah ada keselamatan lain, selain keselamatan yang diberikan oleh Allah SWT melalui ajaran Islam”. Pertanyaan ini tentu mengharuskan kita untuk menelaah dalil teologis untuk menjawabnya, selain juga membandingkan beberapa pemahaman tentang dalil keselamatan di surga atau ketidakselamatan di neraka.

Semua agama memang memiliki doktrin keselamatan. Semua dalil keselamatan tersebut diklaim berasal dari ajaran agama atau teks suci agama-agama. Islam menjanjikan bagi orang yang taat dalam beragama akan memperoleh balasan surganya Allah SWT.  Dalil di dalam Alqur’an (Surat Al Fajr: 27-30),  menyatakan: “ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyah, fadhulii fi ‘ibadi wadhuli jannati”. Yang artinya kurang lebih: “wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi-Nya  dan masuklah ke dalam surgaku”. Jadi jelas secara teologis bahwa orang yang bisa masuk surga adalah orang yang jiwanya tenang. Ayat ini memberikan gambaran bahwa hanya orang yang hatinya tenang atau jiwa muthmainnah saja yang bisa masuk surga.

Di dalam suatu peristiwa, Nabi Muhammad SAW sangat sedih, karena pamandanya, Abu Thalib,  wafat. Padahal pamandanya merupakan  pembesar Qurays yang sangat disegani, dan Beliau wafat pada tahun bersamaan dengan wafatnya Sayyidah Khadijah al Bathul, sehingga tahun tersebut disebut sebagai “amul huzni” atau tahun kesedihan. Nabi Muhammad SAW sungguh-sungguh sudah meminta kepada Pamandanya, Abu Thalib, agar bersyahadat: “bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah”, tetapi hingga menghembuskan nafas terakhirnya, Abu Thalib, tidak melakukannya. Rupanya, sebagai pemegang kekuasaan atas Bani Qurays, maka Abu Thalib ingin mempertahankan keyakinan umatnya. Di tengah kesedihan, karena pamandanya tidak mengikuti keinginannya, maka Allah SWT menyatakan dalam Alqur’an (surat AlQashash (56):  “innaka la tahdi man ahbabta, walakinnallaha yahdi man yasa”. Yang artinya kurang lebih: “sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, akan tetapi Allah  memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya”.

Pemahaman atas ayat ini menggambarkan bahwa untuk memperoleh petunjuk Allah, maka itu adalah haknya Allah. Dari gambaran ini diketahui bahwa jalan keselamatan di akhirat adalah adanya pengakuan tentang keesaan Allah dan pengutusan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Tanpa pintu masuk ini, maka tiada jalan keselamatan. Dengan kata lain, bahwa selain umat Islam yang telah mengucapkan syahadat (kesaksian) dengan ucapan, hati dan pikiran, maka yang bersangkutan tidak memiliki hak keselamatan di dalam pandangan Allah SWT.

Dalil teologis berbeda dengan dalil rasional. Secara rasional, sebagaimana pertanyaan Ahmad Wahib dalam bukunya “Catatan Harian Ahmad Wahib”, dinyatakan secara sarkastis: “apakah Tuhan tega memasukkan para Romo yang sangat baik ini ke dalam neraka”. Dalam pengalamannya dengan para Romo di Yogyakarta, bahwa perilakunya sungguh mengedepankan humanisme atau rasa kemanusiaan yang sangat tinggi. Jika berbicara sangat santun dan tidak pernah menyakiti hati orang, maka secara logis Tuhan tidak akan memasukkanya di dalam neraka atau memperoleh siksaan.

Secara rasional, pernyataan ini sepertinya mengandung kebenaran karena terkait dengan “keadilan” Tuhan. Bahwa Tuhan menjadi tidak adil jika orang baik lalu justru dihukum. Penjelasan ini dipengaruhi oleh teologi Mu’tazilah yang memberikan “kebebasan” akal untuk bisa menjadi “pembenar” atas ayat-ayat Tuhan. Sama halnya dengan pemikiran bahwa orang  Islam yang berdosa besar, maka yang bersangkutan akan ditempatkan di Manzilah baina manzilatain, sebagai satu tempat di antara dua tempat, bukan surga dan bukan neraka. Dengan kata lain, bahwa pemikiran humanisme berpengaruh atas pemikiran peluang masuk surga bagi mereka yang non muslim.  Secara proposisional, bahwa peluang masuk surga bisa ditentukan oleh seberapa kebaikan seseorang apapun agamanya.  Dalil rasional sangat bertentangan dengan dalil teologis yang mensyaratkan bahwa untuk masuk surga harus orang Islam. Keyakinan seperti ini yang dijadikan sebagai dasar pemahaman di dalam aliran ahlu sunnah wal jamaah.

Mungkin juga ada dalil “persahabatan”. Dalil ini yang digunakan oleh penganut paham equity pluralism atau pluralisme negative atau pluralisme yang berpandangan bahwa semua agama sama. Semua agama benar. Padahal di dalam keyakinan agama sesuai dengan masing-masing keyakinan akan kebenaran kitab sucinya, maka mestinya “semua agama itu benar bagi penganutnya”. Dalam dalil “persahabatan” maka semua pemeluk agama berpeluang  masuk surga sesuai dengan apa yang dilakukannya. Pandangan ini tentu berlawanan dengan doktrin keselamatan masing-masing agama. Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha dan Konghucu tentu memiliki doktrinnya sendiri bahwa hanya agamanya yang benar dan hanya pemeluk agamanya yang akan memasuki Jannah, nirwana  atau surga.  Dalil inilah yang selama ini menjadi pegangan dasar umat beragama.

Jadi mengenai masuk surga, sebaiknya kita tetap harus meyakini sebagaimana ajaran agama dengan tetap berpikir bahwa masuk surga atau neraka adalah hak prerogative Tuhan. Manusia  tentu tidak tahu bagaimana akhirnya, kecuali nanti  akan merasakannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

RELAKSASI SPIRITUAL MELALUI ZIARAH MAKAM SUNAN AMPEL

RELAKSASI SPIRITUAL MELALUI ZIARAH MAKAM SUNAN AMPEL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Manusia memang memiliki kebutuhan khusus yang tidak dimiliki oleh binatang apapun di dunia, yaitu kebutuhan spiritual. Melalui pemenuhan kebutuhan spiritual, maka manusia bisa bercengkerama dengan yang diyakini sebagai Tuhan, Yang Sacral, Yang Maha Tahu dan Yang Maha Kuasa. Tuhan memang memiliki kekuatan dan pengetahuan atau omnipotent dan omniscience. Suatu kekuatan dan pengetahuan yang tidak dimiliki makhluknya termasuk manusia, apalagi binatang lainnya.

Kebutuhan khusus  yang mengantarkan manusia untuk melakukan ritual-ritual dengan berbagai varian. Bahkan untuk mengorbankan dirinya sendiri. Keinginan untuk mati syahid di era modern  ternyata  bisa mengantarkan manusia untuk menjadi martir atau menjadi pengantin bom bunuh diri. Jihad  dimaknai sebagai membela ajaran agama yang diyakini sebagai satu-satunya kebenaran, sehingga membuat nyalinya berlipat-lipat untuk mati dalam ritual bunuh diri. Orang juga rela untuk mengorbankan perempuan dalam persembahan bagi Dewa Sungai Nil di masa sebelum Islam datang ke Mesir. Orang juga rela untuk menerjang dentuman senjata karena membela agamanya. Semua  menggambarkan bahwa kematian, pengorbanan dan pemujaan yang dipedomani oleh agama bisa menjadi ritual dalam hasrat reilgius .

Tetapi juga terdapat ritual-ritual untuk kesejahteraan,  kebahagiaan atau ketenangan jiwa.  Shalat, dzikir, puasa, haji dan sebagainya merupakan cara manusia “bercengkerama” dengan Tuhannya melalui upayanya untuk mendekati Tuhan atau taqarrub ilallah. Pasca melakukan ritual kemudian seseorang merasa ada kebahagiaan yang menyelimuti dirinya. Tuhan memang memberikan cara bagi manusia untuk memenuhi gelegak keinginan spiritual melalui ajaran agamanya. Misalnya orang memasuki ajaran-ajaran tasawuf untuk masuk ke dalam kedalaman beragama. Tasawuf diyakini sebagai corak beragama yang esoteris, beragama yang mengedepankan “rasa” bukan “pikiran”.

Di antara yang bisa menjadi sarana untuk memenuhi gelegak spiritualitas adalah berziarah atau mengunjungi makam para auliya. Meskipun beberapa ahli menyatakan bahwa semakin secular dan modern sebuah masyarakat, maka akan kehilangan relasinya dengan dimensi ketuhanannya, akan tetapi hipotesis ini tak sepenuhnya benar. Pada masyarakat yang semakin modern maka juga semakin banyak yang tetap menjalankan agama yang diyakini kebenarannya. Misalnya fenomena tasawuf perkotaan atau urban sufism, atau kecenderungan masyarakat untuk mengunjungi makam-makam auliya. Misalnya kunjungan ke Makam Kanjeng Sunan Ampel, Makam Syekh Ibrahim Asmaraqandi, Makam Sunan Bonang, Makam Sunan Kalijaga, Makam Sunan Kudus, Makam Sunan Muria, Makam Sunan Drajad dan sebagainya. Tidak hanya masyarakat pedesaan yang melakukannya tetapi juga masyarakat perkotaan. Ada tema-tema kunjungan, misalnya kunjungan Wali Songo, Wali Tujuh, Wali Lima, Wali Jawa Timur dan sebagainya. Bahkan ada juga kaum akademisi yang terlibat di dalam acara-acara ziarah. Mereka rela untuk berhari-hari berziarah dari satu makam wali ke makam wali lainnya.

Pada Selasa malam, 02/08/2022, ba’da shalat Magrib, kami secara sengaja berziarah ke makam Kanjeng Eyang Sunan Ampel. Beberapa orang crew nursyamcentre.com menyertai kunjungan ke makam Eyang Sunan Ampel tersebut. Ada Gus Khobir, Gus Miftah, Gus Chabib, Gus  Yusrol, dan Gus Iyan. Di dalam hal ilmu keagamaan, maka yang menjadi imamnya adalah Gus Khobir karena dia adalah hafidz Alqur’an. Meskipun saya yang paling senior usianya, akan tetapi dalam kealiman keagamaan tentu Gus Khobir yang terbaik. Saya tentu tidak bisa menggambarkan perasan dan batin keagamaan pada masing-masing peziarah, biarlah hal tersebut menjadi kekayaan batinnya, tetapi yang jelas bahwa pengalaman keberagamaan tentu bercorak sangat individual, sehingga tidak bisa dialami dalam kesamaan dengan lainnya. Pengalaman beragama sangat bercorak individual. Saya kira sudah dijelaskan dengan sangat memadai oleh para ahli psikhologi, misalnya William James dalam karyanya “The Varieties of Religious Experience”.

Saya juga memahami mengapa makam para wali itu dikunjungi oleh kaum santri. Pengunjung makam tersebut terdiri dari lelaki dan perempuan, bahkan cenderung satu keluarga. Tidak jarang dijumpai anak-anak yang terlibat di dalam upacara ziarah. Di antara tujuan atau in order to motive dalam kunjungan makam wali adalah untuk mengaitkan gelegak spiritualnya atau keinginan untuk merajut kehidupan spiritualnya dengan para wali yang diyakini merupakan orang yang menjadi pilihan Allah untuk menyebarkan ajaran agamanya di masa lalu. Para wali adalah penyebar Islam  dan diyakini memiliki kharisma dan kekuatan spiritual yang sangat tinggi.

Orang yang datang berziarah ke Makam Kanjeng Eyang Sunan Ampel adalah mereka yang merasakan betapa pentingnya peran para auliya itu dalam sejarah pengembangan Islam di Nusantara. Sunan Ampel adalah seorang wali yang lahir di Champa dan kemudian menjadi penyebar Islam di Nusantara. Tidak hanya di Surabaya tetapi di seluruh Jawa, dan wilayah Indonesia bagian Timur. Masyarakat Islam sangat berhutang budi atas peran Sunan Ampel dalam menjadikan masyarakat Nusantara menjadi masyarakat Islam. Masyarakat Nusantara yang semula menjadi pemeluk ajaran Hindu dan Buddha serta keyakinan lokal lainnya lalu menjadi pemeluk Islam setelah mendapatkan cahaya dakwah para wali.

Bisa  dibayangkan betapa susahnya untuk menjadikan masyarakat Nusantara sebagai masyarakat Islam. Mereka telah memeluk agama yang diyakini benar dengan kekuasaan raja dan para pemuka agama yang tangguh, tetapi akhirnya bisa diubah keyakinannya tersebut untuk menjadi beragama Islam. Jika para wali itu bukan orang yang memiliki kharisma dan kekuatan spiritual maka dipastikan tidak akan bisa menjadikan masyarakat Hindu dan Buddha  menjadi masyarakat Islam.

Mempelajari atas peran social religious para wali itu, maka masyarakat Indonesia kemudian berziarah ke makamnya bukan untuk meminta pertolongan, akan tetapi menjadikannya sebagai washilah kepada Allah SWT. Diyakini bahwa sebagai orang yang terpilih pasti orang yang terdekat dengan Allah. Maka dengan kedekatannya kepada Allah,  maka para wali dapat dijadikan sebagai perantara agar doa lebih mudah terkabul. Tentu juga harus diyakini bahwa doa kita bisa saja terkabul tanpa perantara wali, tetapi juga dapat diyakini bahwa dengan berwashilah kepada wali maka doa itu akan lebih cepat terkabul. Dunia  keyakinan tentu  tidak bisa diverfikasi dengan pendekatan rasional semata.

Saya dan kawan-kawan tentu membaca surat Yasin, tahlil dan doa. Doa kita juga sebagaimana doa yang kita baca dalam keseharian. Tetapi yang membedakan adalah “rasa” yang lebih mendalam, karena kita berdoa dalam maqam yang diyakini sebagai tempat yang mengandung aura spiritual. Dan tentu cara ini ditempuh untuk melampiaskan kepenatan pikiran dan perasaan yang dijejali dengan urusan duniawi dan sekali waktu kita refreshing dengan menziarahi makam suci karena memang disucikan oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

SHALAT IDUL ADHA 1434 HIJRIYAH: BISA SABTU BISA AHAD

SHALAT IDUL ADHA 1434 HIJRIYAH: BISA SABTU BISA AHAD

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Seharusnya saya ke Tuban, karena beberapa bulan yang lalu saya diminta khutbah di Masjid Fajrul Iman Desa Sembungrejo, Merakurak. Masjid di desa saya atau tempat kelahiran saya. Saya diminta untuk menjadi khotib  shalat Idul Adha. Tetapi akhirnya tidak jadi. Saya tetap di Surabaya, dan kali ini memang harus menjadi jamaah di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Yang menjadi khotib adalah Drs. Suherman, pensiunan PNS UIN Sunan Ampel, dengan Imam Shalat Ahmad Firdaus, Al Hafidz.

Sebagaimana biasa, sebelum shalat Idul Adha dimulai,  maka dilantunkan takbir: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah  wallahu akbar. Allahu Akbar wa lillahil hamdu”. Yang artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allahu Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allahu Maha Besar dan segala puji bagi Allah”.  Tanpa terasa, kala Moh. Zamzami, Al Hafidz memimpin bacaan takbir, maka meleleh air mata. Air mata bening yang meleleh di pipi. Pandangan terasa mengawang menuju ke Baitullah, ke Masjid al Haram, terbayang orang melakukan thawaf, syai dan melakukan serangkaian doa di maqam-maqam mustajabah. “Ya Allah ada kerinduan untuk melihat dan berdekatan dengan Rumah-MU, dengan Ka’bah-MU, berdoa kepada-MU di tempat yang paling Engkau ridlai. Ya Allah aku rindu untuk mengusapkan tanganku di rumah-MU”.

Di masa lalu, saya sering menyalahkan kenapa orang berkali-kali pergi haji atau melakukan umrah. Khususnya umrah yang terkadang hampir setiap tahun. Dahulu saya bisa melakukan umrah setiap tahun, kala masih menjadi pejabat di Jakarta  karena harus menjemput jamaah haji kloter terakhir. Kerinduan untuk melakukan thawaf, sa’i dan beribadah di Masjidil Haram, berdoa dengan tengadah tangan ke hadirat-Nya. Rasa rindu ibadah di Makkah Al Mukarramah terpenuhi. Demikian pula ziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW juga bisa dilakukan. Berjejal-jejal untuk melafadzkan salam di dekat Makam Nabi Muhammad SAW juga terpuaskan. Gelegak kerinduan itu terbayar pada saatnya.

Sekarang tentu berbeda. Sebagai guru besar tentu tidak bisa melakukan hal yang seperti itu. Maka pantaslah jika di musim haji seperti ini teringat kembali rekaman peristiwa di masa lalu tersebut. Tetapi ada pelajaran yang saya kira pantas untuk dinyatakan, bahwa jika ada orang yang sering melakukan umrah, maka hal tersebut sekali lagi merupakan upaya untuk menyelesaikan rasa rindu yang bertalu-talu untuk merasa dan menghayati kebesaran Tuhan di dekat rumah-Nya yang agung. Ka’baitullah dan Masjid Al Haram.

Masyarakat Islam di Indonesia memang unik. Di semua negara kecuali Indonesia yang menentukan kapan hari raya idul Adha dan kapan memulai puasa dan shalat Idul Fithri adalah kewenangan pemerintah. Negara-negara di Asia Tenggara, seperti yang tergabung di dalam forum Menteri Agama Brunei Darus Salam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) telah bersepakat menggunakan konsep Imkanur ru’yah (peluang melihat hilal), dengan ketentuan jika tinggi hilal dua derajat, maka dipastikan bahwa mengawali puasa dan mengakhiri puasa dilakukan esok harinya, demikian pula untuk tanggal satu Dzulhijjah. Makanya tidak terdapat perbedaan penafsiran atas tanggal ritual tersebut.

Di Indonesia, bisa saja berbeda sebab organisasi keagamaan bisa memberikan penentuan kapan hari raya idul adha dan idul fitri termasuk tentunya mengawali puasa. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam besar di Indonesia berdasarkan metodologi Hisab dengan konsekuensi wujudul hilal, maka memiliki konsekuensi kapan ritual keagamaan tersebut dilaksanakan. Akhirnya, seperti hari raya Idul Adha tahun 1434 Hijriyah ini, maka Muhammadiyah menentukannya pada hari Sabtu 9 Juli 2022 dan pemerintah yang di dalamnya terdapat NU, MUI dan organisasi sosial keagamaan lainnya menentukan hari Ahad, sebab tidak ada satupun peru’yat di seluruh Indonesia yang melihat hilal, karena hilalnya masih sangat rendah. Berdasarkan perhitungan Lembaga Falakiyah PBNU tinggi hilal pada akhir bulan Dzulqa’dah    adalah 1,27 derajat. Sedangkan Muhammadiyah menyatakan ketinggian hilal 1,58 derajat. Bagi Muhammadiyah hilal sudah wujud.

Perbedaan ini sangat mendasar, sehingga tidak mungkin dikompromikan. Berapapun ketinggian hilal selama sudah di atas 0 derajat, maka Muhammadiyah menyatakan bahwa hilal sudah wujud, sehingga awal dan akhir bulan Ramadlan sudah dipastikan termasuk tanggal satu bulan berikutnya. Dan jika ini bulan Dzulhijjah, maka rentetan upacara keagamaan juga mengikutinya. Berbeda dengan NU yang mengunakan metode  ru’yatul hilal, maka selama belum mencapai dua  derajat, maka bulan belum berakhir dan awal bulan juga belum bisa ditetapkan, dan berimplikasi pada ritual keagamaan pada bulan tersebut.

Termasuk tentang pelaksanaan shalat id tahun 2022. Ada yang hari Sabtu dan ada yang hari Ahad. Tetapi yang penting tetap dalam kedamaian dan tidak saling mencemooh.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

ZIARAH MAKAM SYEKH IBRAHIM ASMARAQANDI: ANTARA  RELIGIOSITAS DAN REKREASI

ZIARAH MAKAM SYEKH IBRAHIM ASMARAQANDI: ANTARA  RELIGIOSITAS DAN REKREASI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada sebuah ungkapan yang menarik, bahwa “dari pada bepergian  yang hanya ada hiburan saja, lebih baik bepergian yang ada nilai agamanya”. Ungkapan ini sering kita dengar, dan bahkan kita sendiri juga berpikir seperti itu. Inilah yang menjadi keyakinan masyarakat sehingga tempat-tempat ziarah menjadi ramai penuh sesak dengan para peziarah. Bahkan kepergian itu tidak hanya dilakukan sendirian, tetapi sekeluarga. Artinya mereka memang benar-benar menyiapkan biaya transportasi, konsumsi dan akomodasi untuk kepentingan ziarah waliyullah.

Ziarah yang dilakukan oleh umat Islam tidak hanya di makam para waliyullah, akan tetapi juga ziarah ke tanah suci. Seirama dengan daftar antrian pergi haji yang Panjang, antara 40 sampai 70 tahun, maka masyarakat menjadikan umrah sebagai alternatif untuk berziarah dan beribadah di tanah Suci, Makkah al Mukarramah dan Madinatun Nabawi. Makanya, jumlah peziarah ke Kota Suci semakin meningkat. Hanya karena Pandemi Covid 19, maka segala aktivitas untuk berziarah menjadi berhenti.

Ziarah sebenarnya tidak hanya untuk kepentingan rekreasi tetapi juga kepentingan dahaga spiritualitas. Dengan mendatangi makam para auliya, maka mereka merasakan ketersambungannya dengan para penyebar Islam, khususnya di Tanah Jawa. Mereka merasakan bisa mendatangi rumah terakhir para auliya. Mereka ingin menjadi bagian dari para ulama yang shalih di masa lalu. Bukankah para auliya adalah orang yang memiliki kedekatan dengan Nabi Muhammad SAW sebagai pewarisnya, dan kemudian juga menjadi washilah bagi hubungannya dengan Allah SWT. Mereka berkeyakinan bahwa amalan ziarah itu merupakan amalan yang dapat menghubungkan dunia yang profan (bersifat duniawi) dan dunia sacral (alam ukhrawi), dan melalui keterlibatannya di dalam ziarah maka mereka merasa memasuki dunia profan dan sacral sekaligus.

Berbagai pengalaman berziarah dirasakan ada perasaan damai dan tenang. Rasanya seperti bisa melakukan ritual yang penting. Mereka merasakan telah menjadi bagian dari dunia para wali yang diyakininya, bahwa para wali itu masih bisa memberikan bimbingan spiritual di dalam kehidupannya. Para wali adalah kekasih Allah karena kedekatannya dengan Allah, maka Allah juga memberikan otoritas kepadanya untuk bisa membimbing manusia untuk kembali ke jalan Allah swt. Keyakinan seperti ini yang akhirnya tidak melunturkan niat seseorang untuk menziarahi makan para Waliyullah.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat berziarah ke Makam Kanjeng Eyang Syekh Ibrahim Asmaraqandi. Seorang wali yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW, ayah Kanjeng Eyang Sunan Ampel dan bermakam di Desa Gesik Harjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Makam ini dibangun pada tahun 2000an, dan kemudian terus direnovasi bangunan-bangunan lamanya, sehingga sekarang kelihatan trendy dan modern. Meskipun arsitektur lamanya tetap  dipertahankan, tetapi juga dipadukan dengan arsitektur modern yang serasi. Misalnya, ukiran kayu di samping pintu utama, meskipun termasuk ukiran lama, tetapi dengan sentuhan modern maka jadilah pintu masuk ke ruang utama masjid terasa sangat indah. Saya melihat banyaknya perubahan dalam bangunan fisik di sekitar makam. Dibandingkan dengan tahun 2003 kala saya melakukan penelitian disertasi  tentang “Konstruksi Sosial Upacara Keagamaan pada Masyarakat Islam Pesisiran Palang Tuban” dan diterbitkan dengan judul “Islam Pesisir”. Saya  melihat luar biasa pesatnya pengembangan fisik di sekitar makam. Masjidnya makin dipercantik, gapura-gapura untuk masuk ke areal makam juga direnovasi dan juga terdapat tempat istirahat bagi jamaah peziarah makam.

Saya berziarah ditemani oleh Dr. Chabib Musthofa dosen Fisip UIN Sunan Ampel Surabaya, 03/07/2022. Saya mengamati peziarah yang membludak. Hampir seluruh pendopo di makam Kanjeng Eyang Ibrahim Asmaraqandi penuh sesak. Melubernya para peziarah bisa juga disebabkan selama pandemic Covid 19 mereka tidak melakukan kunjungan ke makam para wali, sehingga kala kran untuk berziarah dibuka lebar, maka serentak masyarakat Islam melakukannya. Sungguh pemandangan yang menarik. Ada nuansa sakralitas di dalam lantunan tahlil, dzikir dan doa  oleh para peziarah. Ada yang berziarah secara kelompok dan ada yang individual. Semua menyatu dalam kalimat-kalimat suci yang diajarkan di dalam Islam melalui Nabi Muhammad SAW.

Tetapi di antara semua fenomena ini, ada satu rombongan peziarah yang rupanya berbeda dengan rombongan lain. Kala jamaah melantunkan tahlil dan dzikir yang dipimpin oleh imam tahlil dan dzikir, maka terdapat seseorang yang menggunakan Bahasa Jawa untuk melantunkan bacaan khusus. Saya kira hal ini merupakan bagian dari upacara slametan, di mana didapati acara ujub  atau ijab atau bacaan khusus pengantar upacara dalam Bahasa Jawa untuk mengantarkan apa sesungguhnya yang menjadi niat untuk ritual tersebut. Saya tidak bisa menyimak apa yang diucapkannya, meskipun jarak antara saya dengan pelaku ijab tersebut tidak jauh.

Sayangnya bahwa saya juga harus segera untuk meninggalkan makam Kanjeng Eyang Syekh Ibrahim Asmaraqandi, sebab ada wadhifah lain, yaitu ke rumah dosen FDK UINSA, Prihananto, yang selesai menikahkan putrinya. Bergegas saya harus ke Dusun Karangdowo, Desa Sandingrowo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Dan alhamdulillah semua lancar kecuali pulangnya terpaksa terkena macet 2,5 jam di sebelah barat Duduk Sampeyan karena perbaikan jalan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

MARI CERDAS MENGGUNAKAN HAND PHONE

MARI CERDAS MENGGUNAKAN HAND PHONE

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana biasanya jika saya pulang ke kampung di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo Kecamatan Merakurak, Tuban, maka  dipastikan sekali atau dua kali memberikan siraman rohani atau keagamaan kepada jamaah shalat Magrib atau Shubuh di Mushalla Raudlatul Jannah, yang bertepatan di depan rumah saya. Jamaahnya memang tidak banyak sebanyak 30 orang tetapi rutin, terutama untuk shalat maghrib, isya’ dan shubuh.

Saya memberikan ceramah pada hari Senin, 27 Juni 2022. Ketepatan saya harus pulang kampung karena Senin paginya harus memberikan ceramah dalam acara pelepasan siswa-siswi Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK) Al Hikmah di bawah Yayasan Qarya Jadida di desa tersebut. Disebabkan  telah merebaknya penggunaan Hand Phone (HP), maka secara sengaja saya sampaikan tentang bagaimana masyarakat harus berlaku di era media social.

Pertama, kita tentu bersyukur karena Allah SWT selalu memberkahi kita semua dengan berkah kesehatan, sehingga kita bisa shalat jamaah di mushalla ini. Ada banyak orang yang melakukan shalat tetapi dilakukan di rumah masing-masing. Jika  shalat jamaah maka mendapatkan pahala 27 derajat. Bersyukurlah kita mendapatkan pahala yang lebih banyak karena mendapatkan petunjuk untuk shalat jamaah. Di luar banyak orang yang mengaku Islam tetapi tidak menjalankan ibadah, khususnya shalat. Alangkah ruginya orang tersebut. Kelak di akhirat dipastikan bahwa orang itu ingin kembali hidup di dunia dan kemudian menjalankan syariat Islam. Kita bersyukur karena telah mendapatkan hidayah Allah untuk shalat bahkan dengan cara berjamaah.

Kedua, kita ini sedang hidup di era teknologi informasi atau media social. Dan kita semua sudah memanfaatkan HP sebagai media untuk saling menyambung satu dengan lainnya. Yang di dalam ilmu pengetahuan disebut sebagai “relasi social”. Kita semua sudah mengenal HP dan menggunakannya. Bahkan di saat kita menghadapi Pandemi Covid-19 yang lalu, maka pada hari raya kita  menggunakan HP sebagai cara untuk berhari raya atau mengganti pulang kampung, sebab secara fisik dibatasi untuk tidak mudik atau pulkam. HP sudah menjadi bagian dari hidup kita. Anak sekolah sudah tidak dapat dipisahkan dengan HP.

Di dalam HP kita ada banyak kebaikan dan juga ada banyak kejelekan. Kebaikannya, misalnya di dalam HP ada mengaji Alqur’an, ada ceramah agama, ada ungkapan-ungkapan yang berisi kebaikan. Tetapi di HP juga ada kejelekan, misalnya gambar-gambar yang tidak elok dipandang mata, ada ungkapan kebencian, ada perkataan yang merusak persaudaraan, bahkan juga ada ceramah agama yang isinya membuat saling bersitegang. Ada ungkapan saling menyalahkan pemahaman dan pengamalan beragama, misalnya ucapan “orang kafir, ahli bidh’ah, ahli khurafat” dan sebagainya. Semuanya tersaji dengan transparan, jelas dan bisa menggugah kemarahan, tetapi juga menggugah kesadaran.

Di HP kita ada konten you tube, yang isinya ceramah agama tetapi justru mengunggah masalah. Ada banyak ungkapan yang menyerang dan mempertahankan. Yang menyerang dilakukan oleh kaum Salafi Wahabi dan yang mempertahankan adalah kaum Islam Ahlu Sunnah wal jamaah. Kalau kita membaca atau mendengarkan pertarungan di media social, maka bisa dilihat dan didengarkan berbagai pertikaian yang secara sengaja diungkapkan. Misalnya ungkapan kaum Wahabi bahwa NU itu dhollah, Muhammadiyah itu dhollah, Islam Nusantara itu lebih kafir dari orang kafir, mencium Alqur’an itu bidh’ah, dan sebagainya. Lalu juga terdapat upaya untuk membalas atau mempertahankan yang dilakukan oleh kaum Ahli Sunnah wal jamaah, misalnya yang dilakukan oleh Gus Baha’, Gus Muwafiq, Gus Miftah, Kyai Marzuki Mustamar, Das’ad Latief, Ustadz Abdus Shomad dan sebagainya.

Ketiga,  kepada Bapak, Ibu dan para remaja agar hati-hati dalam menggunakan media social melalui HP. Agar dicermati apa yang disampaikan dan siapa yang menyampaikan. Jangan sembarangan untuk mengunggah atau mengeshare berita atau konten di HP. Semua ada “jejak digital”. Jadi kepada siapa kita  mengirimkan informasi dan dari mana informasi itu diperoleh akan dapat dicatat dengan jelas di dalam rekaman media social.

Jika di masa lalu ada ungkapan “mulutmu harimaumu”, maka sekarang “tanganmu harimaumu”. Maka Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “fal yaqul khoiron aw liyasmuth” atau “berkatalah dengan baik atau lebih baik diam”. Maka sekarang artinya tidak hanya mulut yang harus diam, tetapi juga tangan kita.

Di tengah suasana seperti ini, maka sebaiknya kita berbuat yang terbaik bagi kita, yaitu hati-hati di dalam bermedia social. Jika harus bermedia social, maka gunakan etika yang baik, agar kita tidak bermasalah dengan HP yang ada di tangan kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.