• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMBUDAYAKAN NGAJI ALQUR’AN BA’DA SHUBUH

MEMBUDAYAKAN NGAJI ALQUR’AN BA’DA SHUBUH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu yang membuat saya bahagia adalah kegiatan  mentradisikan ngaji ba’da shalat shubuh yang dilakukan di masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency. Ngaji Alqur’an,  khususnya shalat Al Waqi’ah tersebut sudah berjalan selama kurang lebih dua tahun, dan meskipun kita sedang berada di era Pandemi Covid-19 di masa lalu, kegiatan ini sama sekali tidak terpengaruh. Setiap pagi kita melantunkan bacaan Alqur’an dimaksud yang dipimpin oleh imam shalat, Ust. Zamzami al Hafidz dan Ust Firdaus Al Hafidz. Siapa yang menjadi imam pada shalat subuh, maka dialah yang akan memimpin bacaan Surat Al Waqi’ah.

Sekian bulan yang lalu juga dilakukan acara ngaji tafsir Surat Al Waqi’ah yang diasuh oleh Ust. Khobir salah seorang crew nursyamcentre.com yang aktif menulis tentang ilmu tafsir. Ust. Khobir adalah dosen pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Ustadz Khobir juga seorang khafidz yang sekaligus mendalami ilmu tafsir. Di dalam buku yang diedit oleh Dr. Chabib Musthafa dan Mevy Nurhalizah, “Menggelorakan Moderasi Beragama Untuk Indonesia hebat” tercantum tulisan-tulisan Ust. Khobir yang menjadi basis bagi pemahaman atas Islam wasathiyah.

Tentu tidak usah dibicarakan kenapa surat Al Waqi’ah yang dibaca dan bukan gonta-ganti surat di dalam Alqur’an. Tentu ada alasannya di antaranya adalah adanya semacam keyakinan berbasis pernyataan Nabi Muhammad SAW bahwa membaca Surat Al Waqi’ah bisa membuat rezeki pembacanya lebih lancar dan mudah didapatkan. Meskipun pernyataan ini dianggap oleh beberapa ahli hadits sebagai pernyataan yang dhaif atau hadits dhaif, akan tetapi tetap ada sejumlah keyakinan bahwa membaca Surat Al Waqi’ah yang merupakan salah satu surat di dalam Alqur’an pastilah merupakan kebaikan. Jika pun rezekinya tidak sebagaimana yang diharapkan tetapi dipastikan akan mendapatkan pahala karena membaca Alqur’an. Jadi, saya kita tidak perlu diperdebatkan tentang bacaan Alqur’an ini. Kita membaca surat Al Waqi’ah dan yang lain silahkan membaca surat yang lain.

Bahkan berkat membaca surat Al Waqi’ah tiap pagi itu akhirnya juga ada di antara jamaah masjid yang bisa hafal surat Al Waqi’ah. Tentu betapa bahagianya karena dengan mentradisikan membaca surat Al Waqi’ah secara berjamaah setiap hari maka tanpa disadari akhirnya kita hafal surat dimaksud. Membaca secara istiqamah atas surat dalam Alqur’an ternyata bisa membantu kita untuk bisa hafal atas surat Alqur’an dimaksud. Tanpa kegiatan membaca Surat Alwaqiah secara berjamaah setiap pagi nyaris tidak mungkin kita hafal. Apalagi pada usia yang tidak lagi bisa disebut muda.

Kita sungguh bersyukur bahwa pada usia yang tidak lagi muda kita bisa mendawamkan ngaji bareng. Kala kita sedang dalam puncak karir dan sangat sibuk, terkadang membaca Alqur’an adalah kelangkaan. Kita semua sibuk dengan urusan duniawi. Kita terus mengejar kepentingan duniawi. Kita terus bekerja dan bekerja seakan-akan kita akan terus hidup selamanya, sehingga urusan mati besuk nyaris tidak terpikirkan. Kita bisa beraktivitas dari satu daerah ke daerah lain, dari satu acara ke acara lain. Nyaris hidup ini dijejali dengan aktivitas dan aktivitas lainnya.

Untunglah di saat yang tepat kita memiliki kegiatan yang bisa menyeimbangkan antara yang duniawi dan yang ukhrawi. Bekerja yes, ngaji juga yes. Inilah hukum keseimbangan. Jadi jangan hanya mengedepankan bekerja dan jangan hanya mengedepankan yang lainnya. Antara ngaji dan bekerja adalah dua entitas yang berbeda tetapi bisa bertemu dalam kehidupan manusia. Rasanya berbahagialah dengan kemampuan untuk menyatukan dua aktivitas di dalam kehidupan dimaksud.

Dan yang juga penting bahwa dengan ngaji berjamaah tersebut juga tanpa didesain akhirnya bisa memperbaiki bacaan Alquran. Dengan terus menerus dibaca dalam tartil yang jelas, dalam makharijul khuruf yang baik dan dalam tajwid yang baik, maka secara tidak langsung juga terjadi proses pentradisian membaca Alqur’an yang benar. Sekarang jika saya dengarkan para jamaah membaca surat Al Waqi’ah maka dapat dipastikan bahwa bacaannya semakin baik dan semakin benar.

Kiranya tradisi membaca Alqur’an pada waktu ba’da shubuh harus dikembangkan agar menjadi tradisi. Kita semua meyakini bahwa membaca Alqur’an yang benar, maka dipastikan akan mendapatkan pahala. Dan yang paling menggembirakan bahwa Alqur’an diberi otoritas oleh Allah SWT untuk menjadi penyelamat yang di dalam tradisi Islam disebut sebagai syafaat. Alqur’an itu “syafi’an li ashhabihi”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

TAHLILAN ALA KAMPUNG

TAHLILAN ALA KAMPUNG

Prof. Dr.  Nur Syam, MSi

Sungguh di antara kita bisa saja kurang percaya, bahwa tradisi tahlil di pedesaan itu masih sedemikian kuat. Tradisi Islam Nusantara ini masih terus berlangsung hingga sekarang dengan tradisi yang sambung menyambung terus tidak tergerus oleh badai pemahaman agama yang baru, yang di dalam realitasnya mengusung anti Tahlilan, anti Yasinan,  dan anti dzibaan dan sebagainya.

Saya menghadiri acara tahlilan yang diselenggarakan oleh keluarga saya di Dusun Jetak, Desa Kutogirang,  Ngoro,  Mojokerto pada Selasa, 23/08/2022, ba’da shalat Isya’. Acara ini dilakukan terkait dengan wafatnya Hj. Sriyani atau Mak Ni, begitu kami memanggilnya. Saya datang agak terlambat, sebab ba’da magrib baru berangkat dari Surabaya. Untunglah tidak macet, sehingga dalam waktu yang tepat kami masih bisa mengikuti acara tahlilan.

Realitas tahlilan itu di luar pemikiran saya. Ternyata jumlah jamaah tahlil ini luar biasa banyak. Kurang lebih 200 orang. Factor keluarga yang wafat tentu menjadi penentu atas sedikit banyaknya para anggota jamaah tahlil yang hadir. Putra Mak Ni yang pertama, Pak Tamun (alm)  pernah menjabat kepala desa di Kutogirang. Putra Pak Tamun yang pertama, Cak Mukhtar,  adalah seorang guru SDN dan mantan kepala sekolah di Kecamatan Ngoro. Selain itu ikatan kekerabatan di dusun Jetak dengan almarhumah juga sangat banyak. Jadi ada beberapa factor yang menentukan terhadap kehadiran dalam acara keluarga, seperti acara tahlilan dan yasinan.

Yasinan adalah pembacaan Alqur’an surat Yasin secara bersama dalam waktu bersamaan. Sedangkan tahlilan adalah bacaan kalimat Allah berulang kali secara bersamaan dan dalam waktu yang bersamaan pula. Di dalam tradisi ini, maka bacaan Surat Yasin dan bacaan tahlil itu ditujukan kepada khususnya Orang yang meninggal. Biasanya dilakukan selama tujuh hari berturut-turut, lalu setiap malam Jum’at atau Kamis malam, 40 hari, 100 hari dan sependak atau setahun. Tradisi ini merupakan ritual khas Islam Indonesia dan juga beberapa negara lain, misalnya Malaysia dan Thailand (khususnya Thailand Selatan). Tradisi ini sudah berjalan dalam kurun waktu sangat lama. Tidak diketahui kapan tepat waktunya, akan tetapi bisa dilacak dari proses Islamisasi awal di Indonesia. Tradisi ini bisa dibangsakan dengan para waliyullah atau para penyebar Islam di tanah Nusantara.

Masyarakat meyakini bahwa hadiah Surat Alfatihah, Surat Yasin dan bacaan Tahlil tersebut akan sampai kepada yang ditujunya. Agar sampai kepada yang dituju (roh si mayat), maka diberlakukan pembacaan washilah kepada Junjungan Nabi Muhammad SAW. Juga kepada beberapa waliyullah, misalnya Syekh Abdul Qadir Jailani Qaddasallahu sirrahu, dan wali lainnya seperti Kanjeng Sunan Ampel, dan keluarga ahli kubur lainnya. Dengan mendasarkan diri pada washilah kepada Nabi Muhammad SAW dan para waliyullah, maka diyakini bahwa bacaan Alqur’an, tahlil dan doa tersebut akan sampai kepada yang bersangkutan.

Memang tradisi ini tidak didapati pada masyarakat Arab terutama masa sekarang yang menggunakan paham keagamaan Islam madzhab Wahabi yang menganggap bahwa segala sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW itu tidak sah atau mengada-ada atau di dalam pandangan mereka disebut sebagai bidh’ah. Bagi mereka ini, bahwa hukum Islam dalam melakukan ritual hanya dua saja, boleh (wajib dan sunnah) dan tidak boleh (haram). Sementara itu, acara membaca Surat Yasin secara bersama-sama itu tidak terdapat di dalam tradisi kaum Wahabi. Demikian pula membaca tahlil secara bersama-sama juga tidak didapati di dalam tradisi mereka.

Tetapi bagi masyarakat Jawa atau Islam Nusantara, maka yang tidak dilakukan pada zaman Nabi Muhammad SAW atau secara spesifik tidak dilakukan di Arab Saudi bukan harus dihukumi tidak boleh. Di sini terdapat hukum mubah, makruh, sunnah dan wajib. Makanya, membaca tahlil dan membaca yasin itu  sunnah hukumnya, sedangkan membaca bersama adalah cara atau metode yang hukumnya tentu mubah atau kebolehan dan bukan makruh (tidak melakukan lebih baik) atau haram (dilarang).

Tetapi yang terpenting secara sosiologis, bahwa acara tahlilan atau yasinan adalah kegiatan sosial kemasyarakatan yang bernuansa keagamaan. Bisa dibayangkan sebanyak 200 orang membaca Surat Yasin dan Tahlil,  maka di sini terdapat keguyuban di antara warga masyarakat. Melalui kegiatan ini maka dapat diketahui tingkat keharmonisan dan kerukunan warga masyarakat sekitar orang yang berkesedihan karena ada kerabatnya yang meninggal.

Acara ini dipimpin oleh Mbah Modin, biasanya Kaur Kesra desa, yang merupakan tokoh agama di desanya. Pemimpin upacara ritual ini adalah Mbah Modin Sukadi, yang juga biasa menjadi khatib dalam shalat Jum’at di Masjid Desa Kutogirang. Pak Sukadi menyatakan bahwa dia hanya lulusan madrasah dan tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Hanya mondok dan memperdalam ilmu agama. Bacaan Qur’annya bagus, membaca tahlil fasih dan berdoa dengan khusyu’. Sebagian peserta tahlilan juga hafal surat Yasin dan bacaan tahlil.

Dia juga menyatakan bahwa tradisi ini merupakan warisan para leluhur yang mesti dipertahankan. Tradisi pedesaan yang sangat baik untuk membawa masyarakat desa agar rukun dan harmonis. Pak Sukadi juga tahu bahwa tradisi ini adalah tradisi NU yang menyejarah. Jadi meskipun sekarang sedang dihujat oleh kelompok Islam lain, tetapi masyarakat akan tetap memertahankan tradisi ini sampai kapanpun.

Oleh karena itu jika selama ini ada semacam ketakutan mengenai serangan kelompok Islam lain tentang tradisi NU ini, tetapi dengan mengamati atas terselenggaranya acara tahlilan di perkampungan, maka kita masih yakin bahwa  tradisi NU ini tidak akan tergoyahkan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

RENUNGAN WARGA TENTANG KEMERDEKAAN INDONESIA (2)

RENUNGAN WARGA TENTANG KEMERDEKAAN INDONESIA (2)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kemerdekaan bangsa bukan hanya milik segelintir orang tetapi milik bersama, seluruh masyarakat Indonesia. Kemerdekaan merupakan usaha bersama dari seluruh rakyat Indonesia yang memang sangat menderita di dalam sistem penjajahan Belanda maupun Jepang. Belanda menjajah Indonesia dalam kurun waktu yang sangat lama kira-kira 3,5 abad meskipun tidak semua wilayah Indonesia dijajah oleh Belanda, sedangkan Jepang menjajah Indonesia dalam waktu 3,5 tahun saja.

Itulah sebabnya dalam rangka memeringati kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus seluruh masyarakat Indonesia melakukan serangkaian kegiatan mulai dari acara tradisional, misalnya lomba balap karung, lomba memasukkan paku dalam botol, lomba memakai gapyak bareng-bareng, lomba membawa kelereng di atas sendok menggunakan mulut sampai lomba memanjat pinang atau jambeyan dan bahkan juga lomba baca Alqur’an, serta lomba volley dan basket. Itu pula yang dilakukan oleh warga RT Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, 17 Agustus 2022.

Pada malam hari, Rabo malam,  lalu diadakan renungan dan doa bersama seluruh warga RT Perumahan Lotus Regency. Hadir pada acara ini, Ketua RW, Ketua RT, Ketua Ta’mir masjid dan warga Perumahan Lotus Regency dan juga jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Saya ditunjuk untuk memberikan renungan dan juga memimpin doa bersama. Berikut ini adalah doa yang saya baca di dalam acara dimaksud:

Ya Allah Ya Tuhan kami, kami bersyukur atas kenikmatan yang Engkau berikan kepada kami. Kenikmatan kesehatan, kenikmatan kesejahteraan, dan kenikmatan kemerdekaan. Kami sangat bersyukur atas kenikmatan yang Engkau berikan ini. Tanpa kemerdekaan, maka bangsa ini akan tetap berada di dalam kehinaan dan tanpa kehormatan. Bahkan tanpa kesejahteraan dan kebahagiaan.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, Wahai Dzat Yang Maha Kasih dan Sayang. Kasihilah dan sayangilah bangsa Indonesia dengan kasih sayang yang menyelimuti kehidupan kami, janganlah cabut kasih sayang itu dari dada kami. Berikan kasih sayang-MU yang menyelimuti seluruh alam semesta. Melalui kasih sayang itu maka bangsa ini dapat merajut kerukunan, keharmonisan dan keselamatan. Melalui kasih sayang-Mu maka bangsa ini dapat bersatu dalam perbedaan dan berbeda dalam persatuan.

Ya Allah Ya Karim, muliakanlah bangsa kami, bangsa Indonesia. Muliakanlah bangsa ini sebagaimana Engkau telah menjadikan bangsa-bangsa mulia di masa lalu. Janganlah Engkau cabut kemuliaan itu dalam kehidupan bangsa kami. Muliakanlah bangsa ini dengan semakin menguatnya akhlakul karimah dan semakin menjauhi akhlak yang madzmumah. Ya Allah hanya Engkau yang bisa memberikan kemuliaan kepada bangsa kami  melalui  karunia kemerdekaan yang Engkau berikan.

Ya Allah, Ya Qawi. Wahai Dzat yang Maha kuat. Kuatkanlah ikatan solidaritas dan harmoni bangsa kami. Tunjukkan kepada kami bahwa kekuatan bangsa Indonesia terletak pada adanya rasa ikatan solidaritas dan harmoni. Jauhkan kami dari keinginan untuk memecah belah bangsa kami. Kuatkan dan eratkan rasa kebangsaan kami, agar kami akan terus dapat bekerja untuk membela bangsa ini dan juga bekerja untuk kesejahteraan kami. Ya Allah Engkau Dzat yang Maha Kuat, dan kuatkan hati kami untuk bersama-sama dalam membangun bangsa kami.

Ya Allah, Ya  Lathif, Ya Allah lemah lembutkan hati kami, berikan kepada kami sikap dan perbuatan yang terus menjunjung tinggi kesopanan dalam tutur kata, sikap dan perbuatan. Ya Allah jangan Engkau berikan kepada kami, rasa permusuhan yang disebabkan oleh rasa iri, dengki, dan kemarahan. Sebagai bangsa yang merdeka, Ya Allah, kami ingin agar persatuan dan kesatuan bangsa ini terus terjaga dengan saling asah asih dan asuh, saling menghargai dan menghormati, dan jangan timpakan kepada kami hati yang sombong, merasa benar sendiri, saling membenci  dan saling mencaci. Ya Allah jadikan bangsa ini memiliki marwah dan harga diri dengan kelembutan tutur kata, sikap dan perbuatan.

Ya Allah, Ya Ghaffar, ampunilah kami, orang tua kami, tetangga kami, warga seluruh RT dan RW kami, ampunilah bangsa Indonesia, ampunilah para pemimpin bangsa kami. Tunjukkan kepada kami jalan terbaik dan jauhkan kami dari jalan yang jelek. Sadarkanlah kami semua agar terus beristighfar memohon ampun kepada-Mu Ya Allah. Kami menyadari bahwa kami adalah orang yang berada di dalam kekurangan, kesalahan dan kekhilafan. Oleh karena itu berikan ampunan-Mu ya Allah karena Engkau adalah Dzat yang memberikan ampunan.

Ya Allah,  Ya Mujibas Sailin, Wahai Allah Dzat yang mengabulkan doa. Kabulkanlah doa dan permohonan kami. Doa yang dilantunkan dengan kesungguhan dan permohonan yang mulia, serta dengan keikhlasan. Kami semua berharap bahwa kami akan terus menjaga pilar kebangsaan yang telah diwariskan oleh leluhur kami, para pendiri bangsa ini. Kuatkan mental kami  agar terus menjaga Pancasila sebagai Dasar Negara, UUD 1945, NKRI dan kebinekaan. Kami ini terdiri sangat beragam suku bangsa, bahasa dan budaya. Pertautkan hati kami agar bisa menjaga negara ini sesuai dengan petunjuk-Mu dan ajaran agama-Mu. Ya Allah kabulkan doa dan permohonan kami.

Rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar, wa adkhilnal jannata ma’al abrar ya Aziz ya Ghaffar Ya Rabbal alamin.  Walhamdu lillahi rabbil alamin. Alfatihah….

Wallahu a’lam bi al shawab.

RENUNGAN WARGA ATAS KEMERDEKAAN INDONESIA (1)

RENUNGAN WARGA ATAS KEMERDEKAAN INDONESIA (1)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Renungan hari kemerdekaan biasanya dilakukan malam menjelang tanggal 17 Agustus dalam kerangka menyongsong hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agutus setiap tahun. Renungan tersebut dilakukan oleh dunia birokrasi, lembaga keagamaan, sosial dan politik, serta masyarakat di hampir semua masyarakat Indonesia. Masyarakat benar-benar menyadari bahwa hari Kemerdekaan harus disambut dengan suka cita, sebagai perwujudan rasa syukur atas nikmat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Pantaslah di seluruh  wilayah Indonesia terdapat berbagai renungan atas Hari Kemerdekaan Indonesia dengan berbagai acara dan variasi pelaksanaannya.  Demikian pula yang terjadi di RT Lotus Regency Ketintang Surabaya. Hanya saja renungan tujuh belasan tidak dilakukan pada malam menjelang peringatan tujuh belasan, tetapi sehari setelah peringatan tujuh belasan, yaitu hari Rabu Malam, yang ditempatkan di depan Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, Ketintang Surabaya.

Sebagai konsekuensi atas upacara kemerdekaan bangsa, maka acara dimulai dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Lagu wajib yang harus dinyanyikan di dalam acara-acara resmi maupun non resmi dalam acara kenegaraan atau sosial kemasyarakatan. Semua bernyanyi,  semua berdiri dengan sikap dan tindakan yang menggambarkan bahwa kita semua adalah bangsa Indonesia. Dengan menyanyikan lagu kebangsaan terasa kita adalah warga negara Indonesia, yang siap untuk mempertahankan empat consensus kebangsaan, yaitu menegakkan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan.

Saya  ditunjuk untuk memberikan renungan dan sekaligus doa dalam acara renungan Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Maka ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu: pertama,  kita sebagai warga negara Indonesia harus bersyukur atas kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan ini bukan diberikan oleh siapapun, akan tetapi diupayakan oleh bangsa Indonesia. Ada negara yang memperoleh kemerdekaan melalui pemberian para penjajah, tetapi Indonesia tidak. Kemerdekaan adalah jerih payah bangsa dengan kucuran keringat, air mata dan darah. Ada sangat banyak orang Indonesia yang menjadi syuhadak dalam perang melawan pemerintah kolonial. Ada banyak orang yang kehilangan anggota keluarganya karena menjadi syahid dalam perang melawan penjajah. Dan jika akhirnya kita menang dan merdeka, maka hal ini harus disyukuri atas takdir Tuhan yang memberikan kekuatan kepada kita dalam memenangkan perlawanan baik secara fisik maupun diplomasi.

Kedua, para pendiri bangsa dan para pahlawan bangsa sudah mewakafkan kehidupannya untuk kemerdekaan Indonesia, oleh karena itu pantaslah kalau kita merasakan bahwa lewat upayanya negeri ini menjadi merdeka, dan kita merasakan betapa besar kenikmatan tersebut. Para founding fathers negeri ini telah menitipkan negeri ini kepada kita semua, dan telah memilih yang terbaik bagi bangsa ini. Warisan yang harus ditegakkan adalah dasar negara Pancasila. Para pendiri bangsa tidak mewariskan agama sebagai dasar negara. Mereka sungguh memahami betapa bangsa Indonesia ini plural dan multicultural.  Disadari bahwa  dengan  memilih agama tertentu untuk menjadi dasar negara, maka yang merasa bukan beragama tersebut, akan merasa bukan  sebagai bagian bangsa Indonesia. Dengan memilih Pancasila yang menjadi dasar negara maka semua masyarakat Indonesia yang berbeda agama akan tetap merasa menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pilihan cerdas para pendiri bangsa ini harus diapresiasi, harus dihormati dan harus ditindaklanjuti dengan kita sebagai warga negara tidak ingin memilih dasar negara dalam bentuk yang lain, sebab dengan mengganti Pancasila maka bubarlah negara ini, dan kita belum tahu apa dampak sosial politiknya di masa depan. Oleh karena itu, marilah kita semua memantapkan pikiran dan hati kita bahwa menjadikan Pancasila sebagai dasar negara adalah pilihan yang tepat bagi bangsa Indonesia.

Ketiga,  akhir-akhir ini kita merasakan bahwa kita sedang berada di dalam masyarakat yang kompleks dengan perangkat media sosial yang terus menggerus persatuan dan kesatuan bangsa. Ada banyak upaya yang dilakukan untuk menceraiberaikan kesatuan dan persatuan bangsa. Ada banyak ideologi yang dibawa untuk masuk ke Indonesia. Ada ideologi Komunisme, sosialisme, liberalisme, agamaisme dan sebagainya. Oleh karena itu harapan kita sebagai orang yang sudah merasakan betapa nyamannya kehidupan kita secara sosial politik dengan Pancasila sebagai dasar negara, maka sudah seharusnya jika kita mengajari generasi muda kita untuk terus belajar sejarah bangsa agar mereka memiliki bekal dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan cita rasa masyarakat Indonesia.

Kita semua tetap ingin bersatu dalam kedamaian dan damai dalam persatuan. Dan hal ini akan bisa didapatkan jika semua berada di dalam satu barisan, Pancasila sebagai Dasar Negara, UUD 1945 sebagai landasan yuridis bangsa, NKRI sebagai bentuk final negara kita dan kebinekaan sebagai prinsip dalam relasi sosial politik kita.

Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke 77 dan semoga kita bisa mencapai negara dengan realitas sosial “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

KETUHANAN YESUS: AJARAN, POLITIK DAN KEKUASAAN

KETUHANAN YESUS: AJARAN, POLITIK DAN KEKUASAAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pengajian pada hari Selasanan ba’da Shubuh, tepatnya tanggal 09 Agustus 2022, saya membahas satu buku yang penting di dalam relasi agama-agama. Pengajian ini memang agak bercorak berbeda sebab terdapat dialog intensif dalam memahami tema yang dibahas, terkait dengan keyakinan kebenaran dalam agama Nasrani, pada akhir kekuasaan Romawi.

Saya membaca buku yang sangat fenomenal terkait dengan Ketuhanan Yesus, yang ditulis oleh Richard E. Rubenstein, dengan judul “When Jesus Become God: The Struggle to Define Christianity During The Last Days of Rome”, yang diterjemahkan di dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Kala Yesus Jadi Tuhan, Pergulatan Untuk Menegakkan Kekristenan pada Masa Akhir Romawi”, diterbitkan oleh PT Serambi Ilmu Semesta, tahun 2006.

Bagi orang yang terbiasa membaca karya sastra, buku ini tentu menarik sebab merupakan buku dalam “genre” novel sejarah, atau sosiologi sejarah. Tidak hanya sejarah tetapi memaparkan secara sosiologis peristiwa sejarah yang terjadi pada masa akhir Romawi dan pergulatan iman Katolik yang terdapat di dalamnya. Dan sebagaimana sejarah agama-agama, maka di dalamnya tidak  hanya dipaparkan tentang doktrin-doktrin agama, tetapi juga pergulatan ajaran atau doktrin agama dengan kehidupan manusia dan masyarakat.

Kala kita membaca mengenai pergulatan iman Kekristenan tersebut, maka dapat dijumpai tiga factor penting yang terkait dengan Kekristenan sebagai pedoman di dalam kehidupan masyarakat. Tiga factor tersebut adalah: pertama, factor politik. Tidak bisa diingkari bahwa dalam kehidupan manusia dan masyarakat selalu berada di dalam ranah kekuasaan politik. Begitu juga masa akhir Romawi, di mana terjadi persaingan antar dua atau lebih kekuasaan yang saling mengalahkan dan memenangkan. Dua di antara kelompok yang dominan adalah Nisea dan Arian. Tentu ada kelompok lain misalnya kaum Yahudi, bangsa Hun, bangsa Visigoth dan bangsa Persia. Antar kelompok tersebut sebagaimana kekuasaan politik tentu saling bermusuhan, berperang dan bahkan juga saling menihilkan.

Dua kekuatan dominan ini juga saling mengalahkan dan memenangkan. Sekali waktu Arian yang menang dan berkuasa, dan sekali waktu kelompok Nesian yang menang dan berkuasa. Pada saat mereka memenangkan pertarungan kekuasaan politik, maka di sanalah terjadi pengusiran atas kelompok yang kalah. Tidak hanya rajanya yang diusir atau melarikan diri, tetapi juga para pendeta atau pemimpin agamanya. Misalnya peristiwa di Antiokhia, di mana Melitius seorang pendeta pro Nesian mengusir pendeta Euzoius, seorang pendeta pro Arian, demikian sebaliknya.

Kedua, Faktor kepemimpinan. Sebagaimana negara yang menerapkan agama sebagai dasar negara  atau relasi antara agama dan negara bercorak integrated, maka agamalah yang menjadi dasar untuk menentukan bagaimana seharusnya negara diatur. Hukum-hukum agama yang dijadikan sebagai dasar aturan bernegara. Maka jika yang memenangkan peperangan atau pengambilalihan kekuasaan adalah kelompok Nisean, maka seluruh kepemimpinan negara mulai dari raja, Menteri, pendeta, dan birokrasi semua terdiri dari orang Nisea. Sebaliknya, jika yang mengambil alih kerajaan itu kelompok Arian, maka seluruh kepemimpinan negara diisi oleh orang Arian. Mulai dari raja, Menteri, pendeta dan kaum birokratnya juga berasal dari kelompok Arian.

Ketiga, factor tafsir agama. Ajaran agama memang berisi teks-teks yang dihasilkan dari wahyu Tuhan atau apa yang dinyatakan dan dilakukan oleh Rasul yang terlibat langsung di dalam agama tersebut pada waktu agama itu dihadirkan lalu disebarkan. Artinya bahwa semua agama dipastikan mengalami penafsiran demi penafsiran yang dilakukan oleh para ulamanya atau ahli agama. Yang bisa dan memiliki otoritas untuk penafsirkan ajaran agama adalah para ahlinya. Di era Romawi akhir, maka para ahli agama Katolik saling berebut sebagai penafsir agama. Jika yang berkuasa kelompok Arian, maka tafsir agama dipegangnya, dan jika yang berkuasa kelompok Nesian maka  tafsir agama juga dipegangnya. Jadi dalam suatu kesempatan, maka para ahli agama yang berkuasalah yang menafsirkan ajaran agamanya.  Sampai suatu ketika terjadilah Konsili Konstantinopel yang diinisiasikan oleh Theodosius pada tahun 381, dan  dikumpulkan 150 orang pemimpin Gereja Timur untuk melakukan Konsili, yang kemudian dikenal sebagai Konsili Konstantinopel. Konsili itu dilakukan oleh para ahli agama dari kelompok Nisean. Sebagaimana diketahui, bahwa para penafsir agama dalam kelompok penguasa akan selalu menganggap  kelompok lainnya adalah para pelaku bid’ah. Jadi ketika  para pemimpin dan ulama-ulamanya  berasal dari Nisea, maka kelompok Arian dianggap para pelaku bid’ah dan sebaliknya.

Dari Konsili Konstantinopel inilah kemudian dihasilkan sebuah persaksian atau pengakuan, di dalam buku ini disebut sebagai syahadat dalam Bahasa Nisean, untuk meneguhkan Yesus sebagai Tuhan. Di buku ini diungkapkan sebagai berikut:

“Putra tunggal Allah, yang diperanakkan dari Bapa, sebelum segala abad, terang dari terang, Allah benar dan Allah benar, diperanakkan dan bukan diciptakan, hommooses dengan Bapa, yang melaluinya segala sesuatu diciptakan”. (h. 462-463).

Sebagai agama Semitis, yang hadir melalui Nabi Ibrahim Alaihis Salam, maka Yahudi, Nasrani dan Islam merupakan agama yang berasal dari nenek moyang yang sama. Makanya di sana-sini juga ada persamaannya dan juga  ada perbedaannya. Perbedaan tersebut tentu berbasis pada penafsiran para ahli agamanya, yang bisa saja karena terkait dengan konteks sosial politik, kepemimpinan dan sejarah agama-agama tersebut.

Tetapi yang jelas bahwa setiap penganut agama akan menyatakan bahwa agamanya yang benar dan yang lain salah. Inilah yang disebut sebagai truth claim atau klaim kebenaran. Jika seperti ini, maka kita tidak harus heran jika ada orang yang menyatakan bahwa hanya agamanya yang benar. Proposisi yang pernah saya sampaikan bahwa: “semua agama benar bagi penganutnya”.

Demikianlah, di dalam proses pemantapan iman Kekristenan  pada akhir pemerintahan Romawi di sekitar tahun 380-an, maka terdapat proses yang harus dilalui dan di sinilah peran kekuasaan politik, kepemimpinan dan tafsir agama memainkan sejumlah penetapan atas ajaran agama.

Wallahu a’lam bi al shawab.