• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SYAIR TOMBO ATI SEBAGAI EKSPRESI ISLAM JAWA

SYAIR TOMBO ATI SEBAGAI EKSPRESI ISLAM JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, Msi

Ekspresi Islam Jawa jangan dimaknai sebagai Islam yang tidak sesuai dengan Islam yang berdasar dari sumber aslinya. Yang saya maksud Islam Jawa sebenarnya adalah Islam di Jawa. Islam yang dianut dan dipeluk oleh orang Jawa. Islam yang bersumber dari Timur Tengah tetapi telah berkolaborasi atau berdialog dengan tradisi local, sehingga menjadi Islam dalam tradisi local. Ada ajarannya yang universal yang tidak akan berbeda dengan Islam di manapun, tetapi ada ekspresi yang bercorak lokalitas, seperti memahami Islam dalam Bahasa Jawa, seperti yang diajarkan para waliyullah dengan syair Tombo Ati.

Dalam suatu kesempatan ceramah bada shubuh, Selasa 25 Oktober 2022, saya menyampaikan tentang bagaimana ekspresi Islam pada masyarakat Jawa itu dalam syair yang biasanya dibacakan pada saat menjelang shalat Magrib antara adzan dan iqamah. Sekarang sudah jarang dilantunkan. Tetapi syair ini justru menjadi terkenal karena dipopulerkan oleh Opick dan Cak Nun. Jika Opick menggubah dalam Bahasa Indonesia, sedangkan Cak Nun tetap dalam Bahasa Jawa. Syair Tombo Ati memang merupakan cara orang Jawa mengekspresikan pemahaman beragama dalam Bahasa yang dipahami oleh masyarakat local. Syair ini bisa dinyatakan sebagai kearifan Jawa.

Saya tidak hafal persis syairnya, sampai kemudian Pak Suryanto mengungkapkannya. “Tombo Ati iku limo sakwernane. Moco Qur’an angen-angen sakmanane. Begitu dulu ingat saya dilantunkan  di pedesaan”. Kaping pindo, shalat wengi lakonono”, kaping telu kudu weteng ingkang luwe”. Setelah itu, Pak Mulyanta mengirimkan pesan lewat WAG “Ngaji Bahagia” tentang keseluruhan syair Tombo Ati tersebut. “Tombo Ati iku limo sakwernane. Moco Qur’an angen-angen sakmanane. Kaping pindho sholat wengi lakonono. Kaping telu wong kang soleh kumpulono, kaping papat kudu weteng ingkang luwe. Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe”.

Jika kita mencoba untuk memahami makna syair Tombo Ati, maka di dalamnya sarat dengan ajaran substansial di dalam Islam. Pada syair pertama, membaca Qur’an dan memahami maknanya. Jadi obat hati atau thibbul qulub itu yang pertama adalah membaca Alqur’an. Jika bisa sesuai dengan syair tersebut sambil mendalami maknanya. Misalnya,  seperti kita yang setiap pagi belajar dan membaca Alqur’an maka itu sudah sangat utama. Membaca Alqur’an adalah keutamaan di dalam Alqur’an. Ada dua makhluk Tuhan yang diberikan wewenang untuk menjadi pensyafaat bagi manusia, yaitu Nabiyullah Muhammad SAW dan Kitab Suci Alqur’an. Makanya yang berbahagia adalah orang yang bisa menjadi “sahabat” Nabi Muhammad SAW, yaitu sahabat di dalam melakukan ajaran Islam secara memadai. Siapapun yang mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan tuntutan Nabi Muhammad SAW, maka dia adalah sahabat Nabi dan baginya layak untuk memperoleh syafaat Nabi Muhammad SAW.

Kemudian yang diberi otoritas oleh Allah SWT lainnya adalah Kitab Suci Aqur’an. Siapa yang menjadi sahabatnya Alqur’an, maka dia akan memperoleh syafaatnya Alqur’an. Dan untuk menjadi sahabatnya Alqur’an maka seseorang harus membaca Alqur’an. Orang harus belajar Alqur’an dan jika bisa akan mengajarkan Alqur’an dimaksud. Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan: Khoirukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamahu”. Yang artinya kurang lebih: “sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Qur’an dan mengajarkannya”.

Shalat wengi lakonono atau shalat malam hendaknya dilakukan. Islam sangat menekankan tentang pentingnya shalat malam atau qiyamul lail. Tidak usah dipertanyakan dalilnya tentang shalat malam karena sudah sangat jelas. Jadi meskipun diungkapkan dalam ungkapan Jawa namun jelaslah bahwa syair tersebut berasal dari ajaran Islam yang sangat substansial. Mudah-mudahan kita bisa melakukan shalat malam meskipun termasuk aliran yang minimalis. Sekurang-kurangnya dua rakaat setiap malam. Yang penting jangan tidak pernah melakukan shalat malam. Bagi yang belum mari kita biasakan dan yang sudah mari kita tingkatkan kualitas shalatnya.

Ada banyak di antara kita yang bisa menyanyikannya sebagai tradisi dalam beragama, ada banyak di antara kita yang tidak menyanyikannya tetapi melakukan ritual tersebut, ada juga yang tidak hafal lagunya dan tidak melakukannya. Oleh karena itu marilah kita introspeksi diri untuk melakukannya, semoga kita bisa mendawamkannya.

Kaping tigo atau yang ketiga adalah wong kang sholeh kumpulono atau orang yang shaleh kita akrabi atau kita temani. Syair ini menegaskan agar kita berkumpul dengan orang-orang yang saleh atau orang yang beragamanya sangat bagus. Syair ini menggambarkan ajaran Islam yang sangat substansial, bahwa kita diingatkan agar bisa berkumpul dengan para ulama, para kyai dan orang yang memiliki religious yang baik. Seorang ulama ditandai dengan pemahaman dan pengamalan agamanya yang baik, yang menjadi teladan dan yang menampakkan tampilan perilaku yang islami. Tidak hanya tampilan luarnya atau outward looking saja yang bagus tetapi terlebih adalah sikap dan perilaku keberagamaannya. Islam kita ini mengajarkan bahwa kita akan mengikuti kepada siapa yang kita cintai. Anta ma’a man ahbabta. Jadi, ungkapan di dalam syair “wong kang soleh kumpulono” merupakan ungkapan yang sangat Islami, hanya saja diungkapkan di dalam Bahasa Jawa.

Makanya, marilah kita pahami bahwa para ulama masa lalu atau para waliyullah itu adalah keturunan Arab yang menjadi penyebar Islam di Nusantara, maka di dalam menyebarkan Islam di tlatah Jawa juga menggunakan Bahasa local dan ungkapan tradisi local atau local wisdom. Oleh karena itu janganlah kita mencela atas ungkapan Jawa atau nyanyian Jawa atau syair Jawa yang kita tidak memahami maknanya. Mari kita pahami agar kita semakin menjadi arif dan bijaksana di dalam memahami adanya perbedaan dan kesamaan, sehingga kita tidak terjatuh pada usaha untuk saling menyalahkan.

Marilah kita rajut ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan bahkan ukhuwah basyariyah kita sehingga kita akan menjadi bangsa yang kuat dan semakin sejahtera di masa yang akan datang.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MUHAMMAD RASULULLAH: MANUSIA TELADAN  SEPANJANG MASA

MUHAMMAD RASULULLAH: MANUSIA TELADAN  SEPANJANG MASA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya diundang oleh Takmir Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tanggal 13 Oktober 2022. Acara ini digelar bakda Isyak dan diakhiri dengan makan bareng. Makan prasmanan hasil urunan ibu-ibu perumahan. Tentu saja menunya bervariasi mulai dari botok sampai rawon, sate dan bakso. Sungguh kebersamaan yang mengasikkan. Acara dimulai dengan bacaan shalawat yang dipimpin oleh Ustadz Firdaus, imam tetap Masjid Al Ihsan.

Dan juga didatangkan kawan-kawan mahasiswa UIN Sunan Ampel dengan acara terbangan. Jadi ingat di masa lalu waktu masih di pedesaan. Asyik juga membaca shalawat diiringi music terbangan. Mata terpejam membaca shalawat sambil diiringi music tradisional. Sama dengan acara ba’iat di dalam dunia tasawuf yang juga diiringi dengan ketukan-ketukan terbangan dalam bacaan tertentu. Tema dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW sebagaimana dibuat oleh Takmir masjid: “Mengenang Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai teladan kehidupan”. Saya menyampaikan beberapa hal terkait dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Pertama, saya mengapresiasi atas pelaksanaan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dengan tema yang menarik. Sebagaimana dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW adalah teladan kehidupan. Di  dalam Alqur’an disebutkan: “laqad kana lakum fi rasululillahi uswatun hasanah”. Yang  artinya: “sesungguh-sungguhnya bagi kamu di dalam diri Rasulullah adalah teladan yang baik”. Jadi kalau  kita meneladani Nabi Muhammad SAW tentu merupakan keharusan. Kita yakin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah, utusan Allah, kekasih Allah, manusia istimewa sepanjang sejarah kemanusiaan. Muhammad SAW adalah conton manusia yang luar biasa, yang menjadi satu-satunya manusia di muka bumi, di masa lalu dan masa yang akan datang, yang bisa bermuwajahah dengan Allah SWT. Malaikat Jibril yang menjadi humas Allah, sebagai penyampai wahyu Allah SWT tidak diberi potensi untuk bertemu Allah SWT, sedangkan Nabiyullah Muhammad SAW diberi kekuatan dan kesempatan untuk bertemu Allah SWT pada waktu menerima perintah menjalankan shalat lima waktu dalam sehari saat Nabi Muhammad SAW dimi’rajkan di hadapan Allah SWT.

Kedua, pada kesempatan ini saya menyampaikan salah satu mu’jizat Nabi Muhammad SAW yang akhirnya dibenarkan oleh ilmu pengetahuan. Di dalam karya Zakir Naik, The Miracles of Alqur’an & Alsunnah (Jakarta: Aqwam, 143-148) dinyatakan tentang  keajaiban Alqur’an dan juga Alsunnah. Pada suatu waktu, tahun 1978, Pidcock, orang Inggris, melihat acara di televisi yang kontennya mengenai Perjalanan manusia ke Bulan dan kajian-kajian yang dilakukan di antariksa. Terjadi perdebatan antara yang pro dan kontra. Yang pro menyatakan bahwa penelitian di luar angkasa tersebut dapat menghasilkan ilmu yang relevan dengan kehidupan manusia, misalnya pertanian, peternakan, Kesehatan dan sebagainya. Sedangkan yang kontra menyatakan bahwa uang sebesar 100 milyar dollar, itu sia-sia saja digunakan untuk kejian luar angkasa. Sebaiknya digunakan untuk mengentas kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat. Tetapi di akhir acara disebutkan bahwa berdasarkan kajian mendalam diketahui bahwa bulan itu pernah terbelah. Terdapat bekas-bekas patahan yang menunjukkan bulan pernah terbelah.

Maka, melompatlah Pidcock mendengar temuan ilmuwan luar angkasa tersebut. Dia kaget sebab dia pernah membaca di dalam Alqur’an bahwa bulan pernah terbelah pada zaman Nabi Muhammad SAW. Bulan terbelah tersebut didapati di dalam Surat Alqamar, ayat 1-5. Pada ayat 1  artinya: “Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah”. Pidcock menyatakan bahwa cerita bulan terbelah itu 14 abad yang lalu kebenarannya baru diketahui abad ke 20. Saat dia mendengar cerita itu, Pidcock menyatakan menjadi seorang muslim. Dia lantunkan syahadat sebagai pengakuan bahwa dirinya telah memeluk Islam. Dia berganti nama menjadi Dawud Musa Pidcock dan kemudian menjadi pimpinan Partai Liga Muslim di Inggris. Subhanallah. Ternyata bahwa mu’jizat Nabi Muhammad SAW 14 abad yang lalu ternyata dibenarkan oleh ilmu pengetahuan, oleh sains. Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW juga menceritakan yang sama tentang bulan pernah terbelah tersebut.

Ketiga, pada moment yang indah ini, marilah kita teladani Rasulullah dan para penerus  Nabi Muhammad SAW. Di antaranya adalah melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diingatkan oleh para khatib setiap Jum’at agar kita membaca shalawat. Allah dan para malaikat-Nya saja membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Maka kita semua umatnya tentu harus membacanya. Berapapun yang kita mampu. Agar diupayakan setiap hari membaca shalawat agar kita bisa mendapatkan syafa’at dari Junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW.

Untuk mengakhiri ceramah singkat di Masjid Al Ihsan, saya pun mendendangkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

“Shalatullah salamullah ‘ala thaha Rasululillah. Shalatullah salamullah ‘ala yasin habibillah. Mari kita jalankan shalat. Agar hidup kita selamat. Mari kita baca shalawat. Agar kita dapatkan syafaat”.

“Shalatullah salamullah ‘ala thaha Rasululillah. Shalatullah salamullah ‘ala yasin habibillah. Syafaat Nabi yang kita cintai. Pasti terjadi di hari nanti. Jika Islam kita patuhi. Agama Allah Yang Maha Suci”.

“Shalatullah salamullah ‘ala thaha Rasululillah. Shalatullah salamullah ‘ala yasin habibillah. Nabi Muhammad Allah kasihi. Manusia suci di dunia ini. Baca shalawat setiap hari. Surga Allah pasti menanti”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

 

 

ILMU GAIB DALAM TRADISI  JAWA

ILMU GAIB DALAM TRADISI  JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana biasanya, setiap hari Selasa pagi ba’da Shubuh di Masjid Al Ihsan diselenggarakan acara ceramah yang diisi secara bergantian. Tidak ada jadwal yang khusus, artinya bisa diisi oleh siapa saja yang perlu bercerita tentang pengalamannya. Dr. Sahid, biasanya memberikan ceramah tentang aspek-aspek psikhologi dalam ibadah, misalnya mengajarkan tentang focus dalam shalat atau di dalam literatur Islam disebut sebagai khusyu’ dan lain-lain, sedangkan saya materi ceramah umum yang terkait dengan aspek agama dan masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat Islam.

Selasa, 11 Oktober 2022, saya menguraikan tentang ilmu gaib dalam masyarakat kita dan bagaimana pandangan para ahli dalam bidang antropologi tentang ilmu gaib dimaksud. saya kemudian membagi ceramah ini dalam tiga bagian, yaitu: Pertama, pandangan tentang adanya ilmu umum. Ilmu umum  di dalam dunia ilmu pengetahuan  mencakup tentang ilmu alam, seperti sain dan teknologi. Sains meliputi ilmu Kesehatan, ilmu kedokteran, ilmu bumi, ilmu fisika, biologi, matematika dan sebagainya. Kemudian teknologi mencakup misalnya Teknik sipil, Teknik lingkungan, rekayasa genetic dan sebagainya. Sedangkan di sisi lain juga terdapat ilmu sosial, misalnya sosiologi, antropologi, ilmu politik, ilmu hukum, dan sebagainya, kemudian ilmu humaniora, misalnya sejarah, filsafat, sastra, Bahasa dan sebagainya. Semua ini dapat dikategorikan sebagai ilmu umum.

Kedua, terdapat pandangan mengenai ilmu agama, yaitu ilmu yang mengkaji tentang tafsir agama. Jadi bukan ilmu yang akan memverifikasi atau memfalsifikasi wahyu Tuhan baik di dalam Alqur’an atau sabda Nabi, ketetapan Nabi atau perilaku Nabi akan tetapi mengkaji tafsir para ahli tentang Alqur’an, tentang sunnah Nabi dan pemikiran-pemikiran para sahabat, tabi’in dan tabiit tabi’in bahkan para ulama lainnya. Jadi tidak mungkin kita sebagai umat Islam akan menyalahkan (memfalsifikasi) atau merevisi atau mengurangi dan menambah tentang wahyu Tuhan (memverifikasi). Jadi ilmu agama itu mengkaji pandangan para ahli dalam bidangnya untuk direvisi atau ditambah dan dikurangi. Sebagai tafsir atau paham tentu sah-sah saja untuk dilakukan hal itu. Imam Syaf’I sebagai ulama pemuka madzhab Syafi’iyah saja juga melakukan hal yang sama. Ada fiqih berbasis qaul Qadim (pendapatnya yang lama waktu di Basrah) dan kemudian ada qaul jadid (pendapatnya yang baru waktu di Mesir). Sekali lagi ilmu agama bukan mengkaji wahyu Allah untuk direvisi atau disalahkan, tetapi mengkaji tafsir ahli tentang wahyu Tuhan. Hal ini saya tekankan sebab masih banyak orang yang meragukan keberadaan ilmu agama, karena agama itu wahyu sehingga tidak bisa dikaji dengan perangkat ilmu yang positivistic, misalnya dengan pengamatan (observasi) dan pemikiran manusia (rasionalitas). Misalnya kita mengkaji tafsir Al Azhar karya HAMKA merupakan bagian dari ilmu Tafsir. Buya HAMKA menafsirkan atau menganalisis Alqur’an dan kita kemudian mengkaji karya Buya HAMKA. Tafsir Al-Azhar adalah ilmu tafsir karena pandangan Buya HAMKA tentang arti dan makna ayat dalam pandangan Beliau yang bisa saja berbeda dengan pandangan para ahli lain dalam menafsirkannya. Tetapi di dalam menafsirkan Alqur’an harus berpedoman kepada pendapat para sahabat, tabi’in dan tabiit-tabi’in yang pandangannya sudah memperoleh pengabsahan dari para ulama lain, meskipun juga ada yang tidak mengabsahkannya. Jadi bisa saja ada orang yang mengkaji pemikiran Tafsirnya Nashiruddin Al Bani, dan kemudian tidak sependapat dengannya dan ada yang sependapat dengannya. Maka tidak ada kemutlakan tafsir atau pandangan ulama tentang agama. Sebagai orang awam, kita bisa mengambil yang cocok asalkan ada runtutan atau garis lurus yang membenarkan amalan yang dilakukan dan kemudian kita mengikutinya. Kita tidak menjadi pengikut buta, tetapi selalu ada yang mengajarkan kepada kita tentang amalan agama. Dan ini sah-sah saja. jika seperti ini maka tidak ada yang bisa saling mencela pemahaman dan pengamalan agama bagi kita masing-masing.

Ketiga, ilmu gaib. Bagi kaum positivistic tentu tidak meyakini keberadaan ilmu gaib. Tetapi kaum agamawan dan ahli-ahli ilmu antropologi, sosiologi dan yang senafas, tentu akan meyakini bahwa ada dunia gaib dan berbeda dengan dunia manusia ini. Mungkin bisa dinyatakan metafisika atau dunia yang ada dibalik yang fisik atau bendawi.  Alqur’an juga membenarkan bahwa memang terdapat dunia gaib yang bisa dipercayai oleh manusia. Di dalam Surat Al Baqarah ayat 3 dinyatakan: “dan orang-orang yang beriman dengan kegaiban, dan mendirikan shalat dan juga mendarmabaktikan penghasilannya untuk infaq”. Beriman kepada kegaiban itu bisa diartikan meyakini terhadap hal-hal yang sekarang masih tidak berwujud, tetapi suatu Ketika bisa menjadi wujud. Misalnya Surga, neraka, Jin atau makhluk halus lainnya.

Para ahli antropologi sudah lama mengkaji tentang hal-hal yang gaib, misalnya magi. Sejenis kekuatan gaib yang bisa menggerakkan atas benda-benda yang sesungguhnya tidak bisa bergerak sendiri. Kebenaran seperti mengakui adanya keyakinan-keyakinan tersebut disebut sebagai empiric-transendental atau kebenaran nyata berbasis pada hal-hal yang transenden atau berbasis keyakinan bahwa hal tersebut ada dan nyata.

Di tanah Jawa,  dunia mistis, magi, dunia metafisik sudah lama menjadi keyakinan. Selama ini kita hanya tahu dari film, misalnya film Walisongo, yang menggambarkan bagaimana Kanjeng Sunan Kalijaga bertapa Mbathang atau bertapa di air selama 41 hari atau puasa tanpa tidur selama 36 hari, atau puasa pendhem selama 41 hari dan sebagainya. Lalu santet, teluh, dan sihir juga ada. Bahkan terkadang orang bisa melihat benda seperti jarum yang berjalan di sore hari atau api yang berjalan-jalan di dalam ruangan.  Adakah ini kenyataan? Ternyata ada di dalam tradisi Jawa. Orang Jawa sungguh memiliki kemampuan adikodrati yang seperti ini. Ada orang yang bisa mendirikan keris tanpa warongko atau keris telanjang bisa berdiri (tanpa rekayasa), ada orang yang mampu puasa tanpa tidur selama 36 hari dan pada hari ke sebelas sudah terbuka semua hijab kehidupan itu. Isi dunia menjadi telanjang, semua makhluk Tuhan diperlihatkan atau memperlihatkan diri. Ada orang yang bisa puasa mbathang selama 41 hari. Yang ingin dicapai adalah “kesempurnaan” dalam memandang dunia sehingga dunia tanpa tabir dan semuanya bisa diperoleh melalui riyadhoh atau pelatihan fisik dan jiwa seperti ini.

Jika seperti ini, maka dunia kegaiban yang diceritakan di dalam Alqur’an merupakan kebenaran transcendental yang dapat diyakini kebenarannya. Perkara ada yang percaya atau tidak adalah pilihan. Tetapi saya yakin bahwa ilmu gaib itu ada di dalam kehidupan di alam maya ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

THE POWER OF SHALAWAT

THE POWER OF SHALAWAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam acara pengajian ba’da subuh yang diselenggarakan di Masjid al Ihsan Perumahan Lotus Regency, saya menyampaikan satu pesan khusus agar kita bisa mendawamkan bacaan shalawat, karena shalawat itu memiliki power yang luar biasa bagi umat Islam. Acara ceramah ba’da shubuh ini dilaksanakan setiap hari Selasa, dan tema ini bertepatan saya sampaikan pada hari Selasa, 13 September 2022.

Mengapa shalawat penting dan menjadi salah satu substansi di dalam ajaran Islam? Tentu tidak main-main jika kita melantunkan shalawat kepada nabi Muhammad SAW, sebab Allah dan malaikat saja menyampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam salah satu ayat Alqur’an,  Surat Al ahzab 56,  dinyatakan bahwa “sesungguhnya Allah dan Malaikatnya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.  Wahai  manusia yang beriman bershalawatlah kamu kepada Nabi Muhammad saw dan ucapkanlah salam  penghormatan kepada-Nya ”.

Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang utama. Manusia yang dikaruniai keutamaan, manusia yang dikaruniai keberkahan dan manusia yang dipenuhi dengan kerahmatan oleh Allah azza wa jalla. Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya makhluk di dunia yang memperoleh kesempatan untuk menghadap Allah SWT secara langsung dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Suatu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Islam, karena pada waktu Nabi Muhammad SAW ini menghadap Allah, maka di situlah Allah memerintahkan agar umat Islam menjalankan shalat wajib lima kali sehari. Shalat secara substansial merupakan bentuk relasi antara manusia dengan khaliknya, Allah SWT.

Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang dapat berhubungan secara tawajjuh kepada Allah SWT. Malaikat Jibril yang bisa dinyatakan sebagai humasnya Allah SWT, karena sebagai penyampai wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW ternyata tidak diberi kekuasaan untuk menghadap-Nya. Padahal dalam kehidupan di dunia, humas selalu dapat perintah langsung dari atasannya. Surat Al A’raf, 143, bercerita tentang Nabi Musa AS pernah juga diberi peluang untuk bertemu dengan Allah, sayangnya bahwa Gunung Thursina (Sinai) yang dijadikan sebagai tempat bertemu harus meletus karena tidak mampu untuk menjadi ajang pertemuan dan bahkan Nabi Musa AS juga pingsan. Tidak ada satupun kekuatan yang mampu menjadi “tempat” Allah termasuk tidak ada satupun manusia selain Nabi Muhammad yang diberi kekuatan dan kekuasaan oleh Allah yang bisa “bertemu” dengan Allah.

Shalawat adalah ajaran substansial yang bisa mempertemukan kita dengan Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT. Jika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka dipastikan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW akan menyambutnya. Jika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sekali, maka Allah SWT akan membalas dengan pahala sebanyak 10 kali. Bisa dibayangkan jika ada hamba Allah yang membaca 1000 kali dan ada yang 10.000 kali shalawat. Rasanya Allah dan Rasulullah Muhammad SAW akan sangat mencintainya. Subhanallah.

Ajaran agama itu penuh dengan harapan dan janji yang diberikan kepada manusia oleh Allah SWT. Allah SWT menjanjikan surga dan kebahagiaan maka dipastikan Allah SWT tidak akan mengingkari janji. Innallaha la yukhliful mi’ad. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janji. Agama juga penuh harapan. Agama menjanjikan kepada umatnya untuk berbuat kebaikan, amar ma’ruf nahi mungkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dipastikan bahwa orang yang mengajak tentu sudah melakukannya. Yang mengajak tentu sudah melakukan, sehingga bisa menjadi contoh atas orang yang diajaknya.

Manusia sesungguhnya diberikan peluang yang sangat besar untuk bisa mengabdikan diri kepada Allah. Hanya saja karena factor-factor duniawi sehingga terpengaruh tidak melakukan  apa yang diperintahkan Allah. Itulah sebabnya bagi orang yang melakukan perintah Allah maka dipastikan akan mendapatkan pahala dan ganjaran yang besar adalah mendapatkan ridhonya untuk memasuki surga.

Membaca shalawat adalah bagian dari kehendak Allah, sehingga orang yang membaca shalawat juga dipastikan akan memperoleh ganjaran dari Allah. Tetapi jangan lupa bahwa kita harus menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantaranya atau washilahnya. Allah mengetahui tentang siapa kita, apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan dan kita lakukan, tetapi kita tidak mengetahui Allah karena Allah merupakan dzat yang rahasis atau sir. Itulah sebabnya kita seharusnya berwashilah kepada Nabi Muhammad SAW. Muhammad SAW memang washilah kita kepada Allah. Maka ketika kita berdoa, berdzikir, dan lainnya yang terkait dengan ritual keagamaan, maka keutamaannya adalah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantaranya.

Marilah kita ingat bahwa di antara Nabi dan Rasul yang diberi otoritas untuk memberi syafaat kepada manusia di hari mahsyar adalah Nabi Muhammad SAW. Maka berbahagialah orang yang bisa menjadikannya sebagai washilah kita untuk bertemu dengan Allah fi yaumil akhirah. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENJAGA BACAAN SHALAWAT

MENJAGA BACAAN SHALAWAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam acara pengajian ba’da subuh yang diselenggarakan di Masjid al Ihsan Perumahan Lotus Regency, saya menyampaikan satu pesan khusus agar kita bisa mendawamkan bacaan shalawat, karena shalawat itu memiliki power yang luar biasa bagi umat Islam. Acara ceramah ba’da shubuh ini dilaksanakan setiap hari Selasa, dan tema ini bertepatan saya sampaikan pada hari Selasa, 13 September 2022.

Mengapa shalawat penting dan menjadi salah satu substansi di dalam ajaran Islam? Tentu tidak main-main jika kita melantunkan shalawat kepada nabi Muhammad SAW, sebab Allah dan malaikat saja menyampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam salah satu ayat Alqur’an dinyatakan bahwa “sesungguhnya Allah dan Malaikatnya menyampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.  Wahai  manusia yang beriman bersahalawatlah kepada Nabi Muhammad saw dan agar mendapatkan keselamatan dan menyelamatkan”.

Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang utama. Manusia yang dikaruniai keutamaan, manusia yang dikaruniai keberkahan dan manusia yang dipenuhi dengan kerahmatan oleh Allah azza wa jalla. Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya makhluk di dunia yang memperoleh kesempatan untuk menghadap Allah SWT secara langsung dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Suatu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Islam, karena pada waktu Nabi Muhammad SAW ini menghadap Allah, maka di situlah Allah memerintahkan agar umat Islam menjalankan shalat wajib lima kali sehari. Shalat secara substansial merupakan bentuk relasi antara manusia dengan khaliknya, Allah SWT.

Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang dapat berhubungan secara tawajjuh kepada Allah SWT. Malaikat Jibril yang bisa dinyatakan sebagai humasnya Allah SWT, karena sebagai penyampai wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW ternyata tidak diberi kekuasaan untuk menghadap-Nya. Padahal dalam kehidupan di dunia, humas selalu dapat perintah langsung dari atasannya. Nabi Musa AS pernah juga diberi peluang untuk bertemu dengan Allah, sayangnya bahwa Gunung Thursina yang dijadikan sebagai tempat bertemu harus meletus karena tidak mampu untuk menjadi ajang pertemuan dan bahkan Nabi Musa AS juga pingsan. Tidak ada satupun kekuatan yang mampu menjadi “tempat” Allah termasuk tidak ada satupun manusia selain Nabi Muhammad yang diberi kekuatan dan kekuasaan oleh Allah yang bisa “bertemu” dengan Allah.

Shalawat adalah ajaran substansial yang bisa mempertemukan kita dengan Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT. Jika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka dipastikan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW akan menyambutnya. Jika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sekali, maka Allah SWT akan membalas dengan pahala sebanyak 10 kali. Bisa dibayangkan jika ada hamba Allah yang membaca 1000 kali dan ada yang 10.000 kali shalawat. Rasanya Allah dan Rasulullah Muhammad SAW akan sangat mencintainya. Subhanallah.

Ajaran agama itu penuh dengan harapan dan janji yang diberikan kepada manusia oleh Allah SWT. Allah SWT menjanjikan surga dan kebahagiaan maka dipastikan Allah SWT tidak akan mengingkari janji. Innallaha la yukhliful mi’ad. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janji. Agama juga penuh harapan. Agama menjanjikan kepada umatnya untuk berbuat kebaikan, amar ma’ruf nahi mungkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dipastikan bahwa orang yang mengajak tentu sudah melakukannya. Yang mengajak tentu sudah melakukan, sehingga bisa menjadi contoh atas orang yang diajaknya.

Manusia sesungguhnya diberikan peluang yang sangat besar untuk bisa mengabdikan diri kepada Allah. Hanya saja karena factor-factor duniawi sehingga terpengaruh tidak melakukan  apa yang diperintahkan Allah. Itulah sebabnya bagi orang yang melakukan perintah Allah maka dipastikan akan mendapatkan pahala dan ganjaran yang besar adalah mendapatkan ridhonya untuk memasuki surga.

Membaca shalawat adalah bagian dari kehendak Allah, sehingga orang yang membaca shalawat juga dipastikan akan memperoleh ganjaran dari Allah. Tetapi jangan lupa bahwa kita harus menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantaranya atau washilahnya. Allah mengetahui tentang siapa kita, apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan dan kita lakukan, tetapi kita tidak mengetahui Allah karena Allah merupakan dzat yang rahasis atau sir. Itulah sebabnya kita seharusnya berwashilah kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam do’a kita pada waktu selesai mendengarkan adzan, maka kita disunnahkan berdoa, yang berbunyi: “Allahumma rabba hadzihi  da’watit tammah, wash-shalatil qaimah, atii Muhammadanil washilata wal fadhilah…”. “… datangkan Muhammad sebagai perantara dan keutamaan…”. Muhammad SAW memang washilah kita kepada Allah. Maka Ketika kita berdoa, berdzikir, dan lainnya yang terkait dengan ritual keagamaan, maka keutamaannya adalah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantaranya.

Marilah kita ingat bahwa di antara Nabi dan Rasul yang diberi otoritas untuk memberi syafaat kepada manusia di hari mahsyar adalah Nabi Muhammad SAW. Maka berbahagialah orang yang bisa menjadikannya sebagai washilah kita untuk bertemu dengan Allah fi yaumil akhirah. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.