• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

RAWE-RAWE RANTAS MALANG MALANG PUTUNG: TRADISI HEROIK ORANG JAWA

RAWE-RAWE RANTAS MALANG MALANG PUTUNG: TRADISI HEROIK ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Orang Jawa memiliki banyak ungkapan yang menggambarkan tentang semangat dan kerja keras untuk kehidupan. banyak unen-unen orang Jawa yang disalahpahami, misalnya nggremet-nggremet angger slamet dan alon-alon waton kelakon, yang dianggap sebagai penghambat kemajuan. Dianggap sebagai budaya tidak efektif dan tidak efisien. Bahkan yang lebih parah dianggap sebagai anti kemajuan. Sungguh salah orang memahami budaya Jawa seperti itu. Dua tradisi tersebut bukanlah anti perubahan  atau anti kemajuan, tetapi sebenarnya adalah budaya hati-hati, agar proses dan hasilnya benar.

Tradisi Jawa sesungguhnya anti grusa-grusu atau anti ketergesa-gesaan. Budaya Jawa itu anti mental menerabas. Mental menerabas sebenarnya diakibatkan oleh keinginan memperoleh sesuatu dengan cepat. Mental ini yang menyebabkan orang ingin sukses secara cepat atau menjadi kaya secara cepat dan akhirnya melupakan bahwa produk yang diperoleh secara cepat dengan cara yang tidak etis, juga akan menghasilkan ketidakselamatan. Ada ungkapan di dalam Bahasa Inggris, easy come easy go. Yang datang cepat juga akan pergi dengan cepat. Betapa banyak orang yang menghasilkan kekayaan melimpah dengan cepat tetapi berakhir dengan kehidupan yang nista karena dipenjara.

Kembali kepada tema kita sekarang, maka bagi Orang Jawa terdapat ungkapan yang luar biasa, yaitu: “rawe-rawe rantas malang-malang putung”. Arti harafiyahnya adalah tumbuhan yang mengganggu tanaman harus disingkirkan dan yang menghalagi agar dipotong. Arti secara istilahnya adalah jika ada yang menghalangi atas maksud dan tujuan yang sudah dicanangkan agar dapat disingkirkan atau dipatahkan. Inilah prinsip yang menunjukkan kekuatan jiwa dalam upaya mencapai tujuan.

Prinsip dalam tradisi Jawa ini bukanlah sikap permisif, yang terkait dengan tujuan menghalalkan segala cara. Tetapi harus tetap berada di dalam prinsip mencapai tujuan yang baik dengan cara yang baik. Orang Jawa secara etika tidak diperkenankan untuk mencapai tujuan dengan cara yang tidak etis. Misalnya ingin menjadi kaya dengan cara korupsi, menjadi tinggi jabatannya dengan kolusi, dan menjadikan diri dan kerabatnya dalam keberhasilan dengan nepotisme.

Islam sesungguhnya mengajarkan satu prinsip “Jihad” tidak dalam konteks “perang” di dalam negara yang damai, akan tetapi di dalam konteks “berusaha secara sungguh-sungguh”. Jika seorang pelajar maka dia harus belajar keras, jika mahasiswa harus berusaha keras agar sukses, jika pekerja juga harus bekerja keras agar berhasil, jika pegawai negeri juga harus bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, jika pengusaha juga harus bekerja optimal agar sukses usahanya. Di dalam pepatah berbahasa Arab dinyatakan “man jadda wajadda”, siapa yang berusaha secara sungguh-sungguh maka pastilah berhasil. Peribahasa di dalam Bahasa Indonesia dinyatakan “belajar pangkal pandai”, “hemat pangkal kaya”. Artinya agar bisa pandai maka harus belajar sungguh-sungguh dan jika ingin kaya maka jangan boros dan harus berhemat. Semuanya tidak terkait dengan mental menerabas, misalnya tanpa belajar ingin dapat nilai bagus, maka terpaksa nyontek, tanpa kerja keras ingin kaya, maka korupsi.

Ungkapan rawe-rawe rantas malang-malang putung tersebut pernah menjadi ungkapan sakti pada waktu perang kemerdekaan. Kala peperangan melawan kaum penjajah, Belanda dan sekutunya berlangsung maka Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari mencetuskan gagasan untuk melakukan “Resolusi Jihad” pada 22 Oktober 1945 yang sangat terkenal di dalam sejarah perjuangan bangsa. Tanggal 10 November 1945 menjadi ajang pertempuran masyarakat Surabaya dengan Belanda dan sekutunya. Para santri, para prajurit dan masyarakat saling bahu membahu untuk mempertahankan kota Surabaya dari penguasaan penjajah. Para pejuang itu bisa membunuh Jenderal Mallaby pimpinan pasukan Sekutu dalam perang Surabaya. Bendera di atas Hotel Oranje, yang semula berwarna Biru, Merah dan putih atau warna bendera Belanda, maka yang warna biru disobek sehingga yang tertinggal warna adalah warna merah putih. Teriakan Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar  yang dikumandangkan Bung Tomo melalui RRI Surabaya begitu mempengaruhi atas mindset para pejuang.

Para pejuang di Surabaya itu hanya berbekal bambu runcing, sementara itu para penjajah menggunakan senapan atau bedil, akan tetapi dengan semangat jihad atau rawe-rawe rantas malang-malang putung, maka pasukan Balanda dan sekutu berhasil dipukul mundur. Begitulah heroiknya para mujahidin yang berperang pada 10 November 1945. Sejarah seperti ini harus menjadi common consciousness dari semua warga negara Indonesia.

Para generasi muda harus belajar sejarah, bahwa mempertahankan negeri ini sungguh-sungguh dengan jihad di jalan Allah dengan mengorbankan jiwa dan raga. Jihad bukan dalam bentuk melawan bangsa sendiri dan untuk mencapai keinginannya sendiri, tetapi jihad melawan musuh yang akan menjajah negeri ini. Pada era damai tentu tidak cocok menggunakan makna jihad dalam konteks perang, tetapi harus menggunakan konsep jihad dalam berjuang untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia sesuai dengan peran dan fungsi kita masing-masing.

Wallahu a’lam bi al shawab.

ALON-ALON WATON KELAKON: PRINSIP HIDUP ORANG JAWA

ALON-ALON WATON KELAKON: PRINSIP HIDUP ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di antara prinsip hidup Orang Jawa yang sangat mendasar selain gremet-gremet angger slamet juga alon-alon waton kelakon. Bagi orang yang pesimis, akan menyatakan bahwa kloplah sudah. Ada   ungkapan gremet-gremet angger slamet ditambah dengan alon-alon waton kelakon. Maka pastilah orang Jawa itu tidak efektif, efisien dan serba lambat dalam memahami, menyikapi dan melakukan tindakan di dalam kehidupan.

Ungkapan sebagai prinsip orang Jawa inilah  yang sering kali dijadikan sebagai instrument untuk beranggapan bahwa orang Jawa  itu pemalas. Makanya muncul gagasan orang Barat tentang pribumi malas. Yang kemudian dibantah oleh Naguib al Attas, bahwa pribumi malas merupakan mitos yang sengaja diciptakan oleh kaum penjajah agar terus bisa menjajah terhadap bangsa inlanders.

Alon-alon artinya adalah pelan-pelan. Pelan-pelan bukan berarti lambat atau malas. Alon-alon merupakan suatu cara yang ditempuh dalam melakukan suatu perilaku yang didasari oleh pemahaman, sikap dan tindakan yang penuh kehati-hatian dan tidak tergesa-gesa. Sikap ketergesa-gesaan diyakini tidak akan menghasilkan produk yang baik. Di dalam prinsip alon-alon waton kelakon tidak menafikan atas orang yang professional yang bisa bekerja cepat. Bagi mereka yang bisa bekerja cepat tentu merupakan orang yang telah memiliki sejumlah pengalaman terkait dengan pekerjaannya. Namun demikian, kecepatan bekerja secara professional juga tetap harus mengedepankan kehati-hatian. Hati-hati  merupakan fondasi dasar dari prinsip alon-alon waton kelakon.

Ungkapan ini sangat popular pada msyarakat Jawa terutama mereka yang lahir sebagai generasi baby boomer (lahir di bawah tahun 1960), hingga generasi X (lahir tahun 1960-1980). Namun bagi generasi yang lahir sebagai generasi Y (tahun 1980-2000) sudah kurang mengenal dengan prinsip-prinsip Jawa seperti ini. Generasi milenial yang lebih cenderung dengan media sosial sudah nyaris tidak kenal lagi dengan prinsip-prinsip kehidupan orang Jawa yang di masa lalu diagungkannya.

Di dalam Islam sebenarnya juga terdapat ajaran yang terkait dengan ketidaketisan untuk melakukan sesuatu secara tergesa-gesa. Rasulullah  SAW menyatakan bahwa “tergesa-tega itu berasal dari syaithan, kecuali lima hal, yaitu: menyegerakan  memberi makan bagi tamu jika menginap, mengurus jenazah, mengawinkan anak perempuan yang sudah baligh, menyegerakan membayar hutang yang akan jatuh tempo dan menyegerakan bertaubat. Hal ini terdapat di dalam Kitab Nashaihil Ibad.

Tindakan tergesa-gesa itu rawan masalah. Apalagi jika hal tersebut dilakukan oleh seorang pemimpin yang seharusnya mengedepankan kehati-hatian. Seorang pemimpin itu adalah orang yang akan memutuskan kebijakan. Makanya, jika di dalam membuat kebijakan lalu tidak didahului dengan pemikiran yang mendasar, maka akan didapatkan masalah pada kelak di kemudian hari.

Pengambilan keputusan yang dilakukan secara tergesa-gesa dipastikan dilakukan secara sepihak. Seharusnya seorang pemimpin akan membuat kebijakan yang didahului dengan serangkaian kajian yang mendasar dan juga mendengarkan banyak pihak, baik yang pro maupun kontra. Dengan cara seperti ini, maka seorang pemimpin akan dapat menyusun kebijakan yang relevan dengan tuntutan kebutuhan. Bisa membuat kebijakan mana yang urgen, dan important. Mana yang penting dan mendesak dan mana yang tidak penting dan tidak mendesak.

Kembali kepada ajaran jangan tergesa-gesa tersebut, maka di dalam Islam disyariatkan agar kita tidak melakukan Tindakan tergesa-gesa. Dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa tindakan tergesa-gesa itu merupakan pengaruh syaitan. Kita diperkenankan untuk bercepat-cepat dalam misalnya memberikan makanan atau suguhan bagi tamu. Ada nyanyian di dalam Bahasa Jawa: “e..dayohe teko, e..gelarno kloso, e..klasane bedah e..tambalen jadah. Jika ada tamu, maka agar segera diterima dengan menempatkannya pada tempat yang baik, jika tempatnya kurang bagus, maka sesegera mungkin diberikan makanan atau minuman. Jadah adalah sejenis makanan di dalam tradisi Jawa. Menambal tikar dengan jadah  adalah symbol segera memberikan makanan untuk menutup segala kekurangan.

Islam juga mengajarkan bahwa anak yang sudah berkemampuan secara fisik dan batin agar segera dinikahkan. Hadits Nabi Muhammad SAW menyatakan, yang artinya: “wahai para pemuda yang sudah memiliki kemampuan maka segeralah menikah”. Oleh karena itu segera menikah tentu baik saja selama sudah memenuhi dimensi kemampuan fisik dan batin dimaksud.

Islam juga mengajarkan agar menyegerakan memakamkan mayat. Oleh karena itu, di beberapa daerah di Jawa,  masyarakat segera menguburkan mayat meskipun meninggalnya pada malam hari. Mayat tidak disimpan untuk menunggu esok hari. Begitu meninggal maka begitu segera dimakamkan. Lalu berikutnya adalah membayar hutang. Bagi orang yang punya hutang, maka agar segera dibayarkan. Bahkan jika ada keluarga yang meninggal, maka selalu diumumkan ketika menjelang penguburan, bahwa jika si mayat punya hutang yang belum terbayarkan agar pihak penghutang segera memberitahukan kepada keluarga.

Yang tidak kalah penting dan bahkan sangat penting adalah menyegerakan bertaubat kepada Allah SWT. Islam menganjurkan agar manusia mempercepat pertaubatannya jika melakukan kekhilafan. Allah SWT menyatakan, yang artinya kurang lebih adalah “sesegeralah memohon ampunan kepada Tuhanmu dan memohonlah surganya yang luasnya seperti langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang beriman”. Oleh karena itu membaca dan menghayati istighfar merupakan perbuatan baik dan terpuji yang sangat disukai oleh Allah SWT.

Demikianlah ajaran Islam yang sangat mulya, dan hal ini relevan dengan prinsip-prinsip di dalam tradisi Jawa. Ajaran Islam dan prinsip Jawa  tersebut merupakan dua hal yang saling memberi dan menerima melalui dialog tradisi yang sangat unik dan menarik.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

WALIMATUL ARUSY: TRADISI ISLAM JAWA

WALIMATUL ARUSY: TRADISI ISLAM JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tradisi walimattul arusy atau resepsi pernikahan tentu bukan hanya tradisi Jawa tetapi tradisi di banyak negara. Misalnya Malaysia. Tradisi walimatul arusy telah menjadi bagian dari budaya Islam. Tentu saja tatacara dan prosesnya bisa berbeda-beda antara satu negara dengan negara lain atau dari satu suku bangsa dengan suku bangsa yang lain. Tradisi walimatul arusy merupakan tradisi yang sudah berakar pada masyarakat Nusantara. Ada yang dilakukan dengan cara sederhana dan ada yang dilakukan dengan mewah. Acara walimatul arusy yang mewah misalnya dilakukan di Hotel bintang lima dan dihadiri oleh pejabat tinggi negara, bahkan presiden.

Di antara acara walimatul arusy yang heboh adalah acara pernikahan Raffi Ahmad dengan Nagita Slavina, yang ditayangkan oleh Televisi swasta Indonesia sampai berhari-hari. Juga pernikahan Lesti Kejora dengan Rizki Bilar yang ditayangkan berhari-hari oleh televisi swasta di Indonesia.  Mereka adalah para pesohor yang sangat terkenal di Indonesia. Raffi Ahmad dan keluarganya adalah pemilik viewer dan follower yang mencapai puluhan juta orang. Apapun cerita Raffi Ahmad maka sontak akan membeludak viewernya. Kekayaannya kebanyakan diperoleh dari dunia media sosial. Lesti juga idola Indonesia dalam tarikan suara. Lagu-lagu melayu yang dibawakannya menjadi hit karena suaranya memang merdu sekali. Tidak kalah merdu dengan suara Umi Kultsum dari Mesir, yang konon katanya perang di Timur Tengah bisa berhenti kala mendengar suaranya. Dan yang terakhir adalah pernikahan putra Presiden Jokowi, Kaesang Pengarep dengan Irina Sudibyo yang juga disiarkan oleh televisi di Indonesia. Walimahan ini juga luar biasa karena dihadiri tidak hanya para petinggi di Indonesia tetapi juga petinggi negara-negara sahabat.

Yang saya tulis ini bukanlah cerita tentang pernikahan yang mewah,  yang membuat dahi berkernyit. Sebuah pernikahan di pedesaan di Desa Pandantoyo, Kertosono,  Nganjuk. Tepatnya pernikahan Mohammad Hasan Zamzami dengan Dewi Nur Annisa Aliyan. Dua sejoli yang merupakan orang yang hafal Alqur’an. Keduanya,  hafidz dan hafidzah. Acara ini diselenggarakan oleh KH. Turmudzi, orang tua Zamzami dan M. Nurkayun, orang tua Alin. Acara ini dihadiri oleh kyai, yang akan mendoakan kedua mempelai, yaitu KH. Syamsun Ni’am, Kyai Syakir, dan lain-lain. Ada lima kyai yang mendoakan mempelai berdua. Hadir masyarakat di sekitar dan juga dari Surabaya: Pak Rusmin, Pak Budi, Pak Hardi, Pak Mulyanta, Pak Suryanto, Pak Yudi, Pak Abdullah dan Pak Sahid. Acara diselenggarakan pada Sabtu, 14/01/2023.

Sebagai acara walimatul arusy di pedesaan, maka acara diselenggarakan dengan memanfaatkan pekarangan rumah dan sedikit menggunakan badan jalan, tetapi tidak mengganggu lalu lintas. Dengan tenda dan kuade (pade-pade) yang sederhana, maka para tamu dan undangan menempati tempat duduk yang disediakan. Benar-benar acara pedesaan sebagaimana acara serupa di pedesaan lainnya. Saya tentu sering menghadiri acara semacam ini di pedesaan, sehingga hafal betul mengenai proses dan jalannya acara bahkan tempat yang disediakan. Beberapa saat yang lalu, saya juga hadir pada acaranya Ust. Khobirul Amru, staf khusus pada Nur Syam Centre (NSC) yang menyelenggarakan walimahan dan nuansanya juga sama. Tenda di depan rumah, alunan lagu-lagu kasidah dan para tamu duduk di bawah tenda. Tidak lupa juga makanan, jajanan dan minuman serta oleh-oleh yang memang disediakan kepada para tetamunya.

Di dalam acara ini, saya tiba-tiba diminta untuk memberikan ceramah atau mauidzah hasanah. Tentu kaget juga. Di Jombang dan sekitarnya tentu ada banyak kyai atau ulama panggung yang ceramahnya sangat bagus. Tentu saja kewajiban ini saya terima dengan senang hati. Saya sampaikan di dalam ceramah tersebut: pertama,  sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah SWT atas kenikmatan yang diberikan kepada kita. Kita bisa hadir di acara walimahan ini semata-mata karena rahmat kesehatan yang diberikan Allah swt. Kita semua bersyukur kepada kepada Allah swt karena telah melihat pelaksanaan acara pernikahan berjalan dengan sempurna, acara walimahan di penganten putri juga berjalan lancar dan hari ini kita melihat acara walimahan yang dihadiri banyak orang dengan lancar. Semua ini tentu menggambarkan atas ridla Allah swt kepada acara yang baik ini. Hadirin, di sekitar jombang dan kertosono sekarang sedang musim duren. Agar bisa dimakan isinya, maka duren itu harus dipecah yang di dalam Bahasa Jawa disebut mecah duren.  Saya yakin bahwa Mas Zamzam sudah mecah duren.

Kedua,  kita semua hadir di tempat ini untuk memberikan restu kepada pengantin berdua. Kita merestui bahwa Ananda berdua sudah merupakan pasangan suami istri. Kita meyakini bahwa dengan kerelaan kita semua, terutama kerelaan bapak dan ibu masing-masing pengantin, maka jalan hidup kedua mempelai akan menuai kebahagiaan. Mas Zamzam jangan takut, bahwa sampeyan berdua sudah melakukan syariatnya Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah. Annikahu min sunnati faman lam ya’mal min sunnati falaisa minni. nikah itu sunnahnya Rasulullah, maka siapa yang melakukannya pasti akan mendapatkan keridlaan Allah swt dan memperoleh kebaikan dari Rasulullah SAW.

Ketiga, Ananda berdua itu orang yang hafal Al Qur’an dan sarjana. Saya berkeyakinan bahwa badannya berisi al AQur’an, batinnya berisi Al Qur’an, pikirannya berisi Al qur’an, perasaannya berisi Al qur’an. Maka yang menjadi basis kehidupannya adalah Alqur’an. Spiritualitasnya adalah Al qur’an. Lalu dipadukan dengan sebagai sarjana maka pikirannya dipastikan rasional sebagai gambaran orang yang bisa memecahkan masalah dengan pikiran yang lurus dan benar. Jadi menurut saya dua orang ini adalah contoh yang baik dalam menghidupkan bacaan Alqur’an. Tidak hanya belajar Alqur’an tetapi juga mengajarkan Alqur’an. Mereka adalah sebaik-baik umat Islam.

Saya sungguh meyakini bahwa Ananda berdua akan dapat mencapai kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Kehidupan yang tenang dan tenteram atau bahagia, yang didasari oleh cinta dan kasih sayang. Semua di antara kita semua mendoakan semoga Ananda berdua dapat mencapai kehidupan rumah tangga seperti itu. Sakinah, mawaddah wa rahmah itu satu kesatuan tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Melalui doa para kyai pagi hari ini,  semoga menjadi penanda atas kebaikan yang nanti akan dirasakan oleh Ananda berdua.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENJALIN TEMU KANGEN: REUNIAN KOMUNITAS RONGGOLAWE TUBAN

MENJALIN TEMU KANGEN: REUNIAN KOMUNITAS RONGGOLAWE TUBAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Artikel ini merupakan refleksi atas acara reunian yang diselenggarakan oleh Komunitas Ronggolawe atau Paguyuban Ronggolawe yang terdiri dari individu-individu yang lahir di Tuban dan kemudian menetap di luar Tuban, baik di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, Pasuruan dan tempat lain di Jawa Timur termasuk di Jakarta dan kota-kota lainnya. Acara ini diselenggarakan di tempat rekreasi Banyulangse, Merakurak Tuban. Acara dilakukan pada hari Ahad, 08/01/23.

Acara ini  menarik karena menjadi ajang untuk temu kangen. Lalu, mereka menunjukkan bakat masing-masing. Nyanyi. Ada yang menyanyikan  lagu-lagunya Koes Plus, Dangdut, dan juga lagu-lagu campursari yang dilantunkan secara bersama-sama. Bahkan ada yang menyanyi sesuai dengan sekolah dan angkatannya, misalnya SMA Angkatan 70-an, STM 1970-an dan seterusnya. Nyanyi-nyanyi ini menjadi ritual wajib dalam acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Ronggolawe.

Yang menarik bahwa hampir semua orang yang menjadi anggota komunitas Ronggolawe bisa menyanyi. Bahkan juga berjoget sesuai dengan irama lagunya. Saya juga didaulat untuk menyanyi pada acara ini. Dengan sangat terpaksa maka saya pun menyanyi lagu wajib yang sering kali saya lantunkan. Lagunya Rhoma Irama.  “Kegagalan Cinta”. Ternyata semua audience berjoget dengan lagu dangdut ini. Nyaris semuanya hafal syair lagu Bang Haji Rhoma Irama. Bang Haji rupanya popular di kalangan generasi “colonial” atau generasi “baby boomer”.

Ada sambutan dari Mas Sujarwoto, kawan lama yang menjadi panitia reunian ini. Beliau menetap di Tuban dan menjadi dosen pada salah satu universitas di sini. Lama sekali saya tidak bertemu dengan Mas Jarwoto. Tetapi sama sekali saya tidak lupa wajahnya. Beliau kelihatan masih muda. Diteruskan dengan sambutan Ketua Paguyuban Ronggolawe, Pak Soebijantoro, priyantun Tuban yang menetap di Surabaya. Pak Bijantoro juga “jago” menyanyi. Suaranya enak.

Saya juga diminta untuk memberikan sambutan untuk mewakili para anggota Paguyuban. Kemudian saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama,  bersyukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa karena kita bisa dipertemukan dalam acara reuni dari para lulusan SMA atau sederajat lintas sekolah. Ada yang dari SMA, STM dan juga PGA 6 tahun. Kita bersyukur karena masih dikaruniai kesehatan. Jika ada di antaranya yang punya gangguan kolesterol,  asam urat, atau diabet, semoga Allah SWT memberikan keringanan sakitnya atau bahkan menghilangkan sakitnya. Semua di antara kita berharap menjadi tua tetapi sehat, segar dan bugar. Menjadi tua  memang kepastian, tetapi menjadi sehat adalah doa dan harapan. Setiap orang akan mengalami masa kanak-kanak, dewasa dan tua. Ini hukum alam yang tidak bisa dihindari.

Kedua, kita selalu berdoa bahwa di masa sekarang ini, usia senior bukan tua, tetapi menjadi orang yang selalu berada di dalam pesan doa kita, yaitu: “Allahuma thawwil umurona, wa  nawwir qulubana, wa ahsin ajsadana, wa tsabbit imanana”, yang artinya: “Ya Allah panjangkan usia kami, dan cahayailah hati kami, dan jadikan kebaikan pada jasad kami dan tetapkan keimanan kami”. Kita semua ingin panjang usia tetapi panjang usia yang bermanfaat. Panjang usia yang berada dalam kebaikan, panjang usia yang di dalamnya ada cahaya kebaikan dan panjang usia yang selalu berada di dalam ketaqwaan dan keimanan kepada Allah swt. Usia panjang itu bisa menjadi saat yang tepat untuk meminta kepada Allah akan kebaikan bagi diri kita, tidak hanya kebaikan di dunia tetapi juga di akhirat. Dunia itu jembatan untuk menuju akhirat. Kebahagiaan yang benar adalah kebahagiaan tidak hanya di dunia tetapi juga kebahagiaan di akherat.

Ketiga, kita sudah sepatutnya bersyukur kepada Allah karena terlahir sebagai bangsa Indonesia. Sebagai orang Jawa Timur dan secara khusus sebagai orang Tuban. Kita hidup dalam alam yang seimbang. Tidak panas dan tidak dingin. Jika panas juga tidak terlalu panas dan jika dingin juga tidak terlalu dingin. Sedang-sedang saja. Orang Eropa sekarang sedang susah, karena ketiadaan pasokan gas untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Akibat perang di Rusia dan Ukraina, maka pasokan gas menjadi langka dan jika ada harganya mahal sekali. Biasanya dalam sebulan cukup dengan 10 Euro, maka pada masa sekarang menjadi 1000 euro  dalam sebulan. Mereka menjadi kedinginan karena tidak memiliki tungku pemanas ruangan. Tungku pemanas ruangan menjadi penting pada musim dingin kala suhu berada  di bawah 0 derajat.  Pemerintah di beberapa negara Eropa menyarankan kepada penduduk untuk memakai pakaian tebal. “jangan cengeng” katanya.

Gambaran seperti itu sangat jauh bagi masyarakat Indonesia. Meskipun tidak seluruh masyarakat Indonesia itu sejahtara karena keterbatasan pendapatan, akan tetapi tidak ada di antara kita yang kepanasan atau kedinginan. Semua ini adalah anugerah Tuhan Allah SWT kepada kita semua bangsa Indonesia. Pantaslah kalau kita bersyukur menjadi bangsa Indonesia, apalagi juga negeri ini aman dan damai.

Kita semua berdiri menyanyikan lagi kebangsaan “Indonesia Raya” dengan gegap gempita dan setelah selesai kemudian dengan tangan terkepal dan terangkat ke atas, kita bersama menyatakan “MERDEKA”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

GREMET-GREMET ANGGER SLAMET: ETIKA  HIDUP ORANG JAWA

GREMET-GREMET ANGGER SLAMET: ETIKA  HIDUP ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya tidak tahu kenapa akhir-akhir ini saya begitu tertarik dengan unen-unen Jawa yang adiluhung. Orang Jawa memang memiliki sikap hidup yang tentunya berbeda dengan suku bangsa lain, bahkan sesama orang Indonesia. Orang Jawa begitu menghargai terhadap pepatah atau pedoman di dalam budayanya, sehingga sering kita dengar ungkapan durung Jowo, artinya dianggap belum menjadi orang Jawa dengan etiket dan kehidupan sebagai orang Jawa. Sebaliknya, wis jawani artinya sudah menjadi orang Jawa karena etiket dan kehidupannya sudah sebagaimana orang Jawa.

Di antara etiket Jawa yang sering disalahpahami adalah konsep “gremet-gremet angger slamet”. Ungkapan ini sering dipahami secara keliru sebab dianggap sebagai penyebab atas kelambanan dalam pekerjaan, lambat dalam penyelesaian pekerjaan atau tidak efektif dan efisien dalam bekerja. Dianggap oleh sebagian orang bahwa unen-unen ini tidak cocok dengan budaya modern yang sering dikaitkan dengan kecepatan, ketrengginasan, dan serba cepat yang dihadapi oleh manusia modern. Dan yang lebih menyedihkan kala dianggapnya Orang Jawa itu anti modernitas dan cenderung kolot atau tradisional.

Salah satu yang harus dipahami oleh orang lain adalah filsafat hidup gremet-gremet angger slamet itu titik tekan atau fokusnya justru pada keselamatan. Gremet memang berarti pelan atau gremet-gremet berarti pelan-pelan. Tetapi fokusnya bukan pada pelan dalam bekerjanya akan tetapi bekerjalah dengan kehati-hatian dan penuh pertimbangan dan diyakini akan kebenaran pada proses dan produknya. Gremet-gremet itu bukan pada dimensi kecepatan atau kelambanan akan tetapi pada kehati-hatian. Atau yang lebih tepat adalah bekerja dengan ketepatan atau presisi dalam menerapkan metode kerja atau cara kerja. Orang bekerja tidak hanya menggunakan akal pikirannya akan tetapi juga hati nuraninya. Gremet-gremet  sekali lagi merupakan langkah ke depan dengan memperhatikan pikiran, perasaan dan tindakan yang tepat untuk menuju kepada keselamatan.

Prinsip hidup orang Jawa adalah rukun, harmoni dan slamet. Ujung akhir dari semua tindakan adalah keselamatan. Keselamatan di atas segala-galanya. Percuma saja kita berhasil tetapi jika ujung akhirnya tidak selamat. Dengan demikian, keselamatan merupakan kunci yang sangat menentukan di dalam kehidupan. Bahkan Islam mengajarkan bahwa keselamatan itu tidak hanya di dunia tetapi juga keselamatan di akherat. Kehidupan di dunia itu sangat sementara, sedangkan kehidupan di akherat itu kekal atau abadi. Banyak ayat di dalam Alqur’an yang menjelaskan tentang hal ini. Misalnya pernyataan “kehidupan di akherat itu lebih baik dari pada kehidupan di dunia”.

Dewasa ini kita sedang hidup di era yang disebut sebagai era “kecepatan”. Bahkan juga ada ungkapan “siapa yang cepat siapa yang dapat”. Artinya memang sedang terjadi proses untuk adu kecepatan agar tidak tertinggal. Namun demikian, di dalam tradisi Jawa dinyatakan cepat saja tidak cukup jika tidak berujung pada keselamatan. Inilah bedanya filsafat etika Barat dengan filsafat etika  Jawa. Di Barat berpikir yang penting produk dicapai, sedangkan di Jawa produk memang harus dicapai tetapi ujung akhirnya keselamatan jua yang menentukannya.

Pada era seperti itu, banyak orang yang berpikir “menerabas” atau mental menerabas. Secara sosiologis, dinyatakan bahwa orang selalu bertindak dengan mengambil jalan tercepat agar sampai kepada tujuan. Bahkan ada yang menyatakan tujuan menghalalkan segala cara. Sebagaimana pemikiran Machiavelli. Yang seperti ini sungguh bertentangan dengan prinsip filsafati etika orang Jawa. Baginya, bahwa tujuan dan cara merupakan dua hal yang tidak dipisahkan, dan kedua-duanya harus benar. Caranya harus benar dan produknya juga harus benar. Jika tujuannya benar tetapi diperoleh dengan cara yang tidak benar, maka dipastikan akan terdapat masalah kelak yang kita tidak tahu kapan terjadinya.

Terjadinya tindakan koruptif di Indonesia selama ini, karena orang ingin “berlebihan” dalam kekayaan atau jabatan atau kekuasaan dengan cara yang tidak elegan atau tidak benar. Bisa jadi orang menjadi kaya, berkuasa dan memiliki jabatan akan tetapi jika dilakukan dengan cara yang salah atau tindakan koruptif, maka dalam waktu tertentu akan diketahui, dan dipastikan tidak selamat. Jadi tanpa disadari telah banyak orang yang berpikir Machiavellianisme di dalam kehidupan, yaitu tujuan menghalalkan segala cara. Sayangnya, bahwa tindakan koruptif semakin menjadi-jadi di bumi pertiwi ini, sehingga juga semakin banyak yang merasa dirugikan karena tindakannya yang seperti itu. Kita tentu berharap bahwa tindakan koruptif bisa dihentikan melalui penyadaran bagi siapa saja.

Orang Jawa memang sudah banyak yang kehilangan “kejawaannya”. “wis dudu wong Jowo” atau “wis lali Jawane”. Sudah bukan lagi Orang Jawa atau sudah lupa Jawanya. Oleh karena itu akan menjadi sangat penting untuk kembali mengingat unen-unen Jawa yang sesungguhnya memiliki makna adiluhung untuk kehidupan kita.

Alon-alon waton kelakon bukan filsafat etika untuk menghadang kemajuan, bukan sarana untuk terus terbelakang, tetapi merupakan prinsip etika Jawa yang menginginkan bahwa semua terukur, teratur dan ternilai sehingga proses dan produk harus diletakkan di dalam konsep keselamatan yang merupakan tujuan manusia di dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bi al shawab.