• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ILMU GAIB DALAM TRADISI  JAWA

ILMU GAIB DALAM TRADISI  JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagaimana biasanya, setiap hari Selasa pagi ba’da Shubuh di Masjid Al Ihsan diselenggarakan acara ceramah yang diisi secara bergantian. Tidak ada jadwal yang khusus, artinya bisa diisi oleh siapa saja yang perlu bercerita tentang pengalamannya. Dr. Sahid, biasanya memberikan ceramah tentang aspek-aspek psikhologi dalam ibadah, misalnya mengajarkan tentang focus dalam shalat atau di dalam literatur Islam disebut sebagai khusyu’ dan lain-lain, sedangkan saya materi ceramah umum yang terkait dengan aspek agama dan masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat Islam.

Selasa, 11 Oktober 2022, saya menguraikan tentang ilmu gaib dalam masyarakat kita dan bagaimana pandangan para ahli dalam bidang antropologi tentang ilmu gaib dimaksud. saya kemudian membagi ceramah ini dalam tiga bagian, yaitu: Pertama, pandangan tentang adanya ilmu umum. Ilmu umum  di dalam dunia ilmu pengetahuan  mencakup tentang ilmu alam, seperti sain dan teknologi. Sains meliputi ilmu Kesehatan, ilmu kedokteran, ilmu bumi, ilmu fisika, biologi, matematika dan sebagainya. Kemudian teknologi mencakup misalnya Teknik sipil, Teknik lingkungan, rekayasa genetic dan sebagainya. Sedangkan di sisi lain juga terdapat ilmu sosial, misalnya sosiologi, antropologi, ilmu politik, ilmu hukum, dan sebagainya, kemudian ilmu humaniora, misalnya sejarah, filsafat, sastra, Bahasa dan sebagainya. Semua ini dapat dikategorikan sebagai ilmu umum.

Kedua, terdapat pandangan mengenai ilmu agama, yaitu ilmu yang mengkaji tentang tafsir agama. Jadi bukan ilmu yang akan memverifikasi atau memfalsifikasi wahyu Tuhan baik di dalam Alqur’an atau sabda Nabi, ketetapan Nabi atau perilaku Nabi akan tetapi mengkaji tafsir para ahli tentang Alqur’an, tentang sunnah Nabi dan pemikiran-pemikiran para sahabat, tabi’in dan tabiit tabi’in bahkan para ulama lainnya. Jadi tidak mungkin kita sebagai umat Islam akan menyalahkan (memfalsifikasi) atau merevisi atau mengurangi dan menambah tentang wahyu Tuhan (memverifikasi). Jadi ilmu agama itu mengkaji pandangan para ahli dalam bidangnya untuk direvisi atau ditambah dan dikurangi. Sebagai tafsir atau paham tentu sah-sah saja untuk dilakukan hal itu. Imam Syaf’I sebagai ulama pemuka madzhab Syafi’iyah saja juga melakukan hal yang sama. Ada fiqih berbasis qaul Qadim (pendapatnya yang lama waktu di Basrah) dan kemudian ada qaul jadid (pendapatnya yang baru waktu di Mesir). Sekali lagi ilmu agama bukan mengkaji wahyu Allah untuk direvisi atau disalahkan, tetapi mengkaji tafsir ahli tentang wahyu Tuhan. Hal ini saya tekankan sebab masih banyak orang yang meragukan keberadaan ilmu agama, karena agama itu wahyu sehingga tidak bisa dikaji dengan perangkat ilmu yang positivistic, misalnya dengan pengamatan (observasi) dan pemikiran manusia (rasionalitas). Misalnya kita mengkaji tafsir Al Azhar karya HAMKA merupakan bagian dari ilmu Tafsir. Buya HAMKA menafsirkan atau menganalisis Alqur’an dan kita kemudian mengkaji karya Buya HAMKA. Tafsir Al-Azhar adalah ilmu tafsir karena pandangan Buya HAMKA tentang arti dan makna ayat dalam pandangan Beliau yang bisa saja berbeda dengan pandangan para ahli lain dalam menafsirkannya. Tetapi di dalam menafsirkan Alqur’an harus berpedoman kepada pendapat para sahabat, tabi’in dan tabiit-tabi’in yang pandangannya sudah memperoleh pengabsahan dari para ulama lain, meskipun juga ada yang tidak mengabsahkannya. Jadi bisa saja ada orang yang mengkaji pemikiran Tafsirnya Nashiruddin Al Bani, dan kemudian tidak sependapat dengannya dan ada yang sependapat dengannya. Maka tidak ada kemutlakan tafsir atau pandangan ulama tentang agama. Sebagai orang awam, kita bisa mengambil yang cocok asalkan ada runtutan atau garis lurus yang membenarkan amalan yang dilakukan dan kemudian kita mengikutinya. Kita tidak menjadi pengikut buta, tetapi selalu ada yang mengajarkan kepada kita tentang amalan agama. Dan ini sah-sah saja. jika seperti ini maka tidak ada yang bisa saling mencela pemahaman dan pengamalan agama bagi kita masing-masing.

Ketiga, ilmu gaib. Bagi kaum positivistic tentu tidak meyakini keberadaan ilmu gaib. Tetapi kaum agamawan dan ahli-ahli ilmu antropologi, sosiologi dan yang senafas, tentu akan meyakini bahwa ada dunia gaib dan berbeda dengan dunia manusia ini. Mungkin bisa dinyatakan metafisika atau dunia yang ada dibalik yang fisik atau bendawi.  Alqur’an juga membenarkan bahwa memang terdapat dunia gaib yang bisa dipercayai oleh manusia. Di dalam Surat Al Baqarah ayat 3 dinyatakan: “dan orang-orang yang beriman dengan kegaiban, dan mendirikan shalat dan juga mendarmabaktikan penghasilannya untuk infaq”. Beriman kepada kegaiban itu bisa diartikan meyakini terhadap hal-hal yang sekarang masih tidak berwujud, tetapi suatu Ketika bisa menjadi wujud. Misalnya Surga, neraka, Jin atau makhluk halus lainnya.

Para ahli antropologi sudah lama mengkaji tentang hal-hal yang gaib, misalnya magi. Sejenis kekuatan gaib yang bisa menggerakkan atas benda-benda yang sesungguhnya tidak bisa bergerak sendiri. Kebenaran seperti mengakui adanya keyakinan-keyakinan tersebut disebut sebagai empiric-transendental atau kebenaran nyata berbasis pada hal-hal yang transenden atau berbasis keyakinan bahwa hal tersebut ada dan nyata.

Di tanah Jawa,  dunia mistis, magi, dunia metafisik sudah lama menjadi keyakinan. Selama ini kita hanya tahu dari film, misalnya film Walisongo, yang menggambarkan bagaimana Kanjeng Sunan Kalijaga bertapa Mbathang atau bertapa di air selama 41 hari atau puasa tanpa tidur selama 36 hari, atau puasa pendhem selama 41 hari dan sebagainya. Lalu santet, teluh, dan sihir juga ada. Bahkan terkadang orang bisa melihat benda seperti jarum yang berjalan di sore hari atau api yang berjalan-jalan di dalam ruangan.  Adakah ini kenyataan? Ternyata ada di dalam tradisi Jawa. Orang Jawa sungguh memiliki kemampuan adikodrati yang seperti ini. Ada orang yang bisa mendirikan keris tanpa warongko atau keris telanjang bisa berdiri (tanpa rekayasa), ada orang yang mampu puasa tanpa tidur selama 36 hari dan pada hari ke sebelas sudah terbuka semua hijab kehidupan itu. Isi dunia menjadi telanjang, semua makhluk Tuhan diperlihatkan atau memperlihatkan diri. Ada orang yang bisa puasa mbathang selama 41 hari. Yang ingin dicapai adalah “kesempurnaan” dalam memandang dunia sehingga dunia tanpa tabir dan semuanya bisa diperoleh melalui riyadhoh atau pelatihan fisik dan jiwa seperti ini.

Jika seperti ini, maka dunia kegaiban yang diceritakan di dalam Alqur’an merupakan kebenaran transcendental yang dapat diyakini kebenarannya. Perkara ada yang percaya atau tidak adalah pilihan. Tetapi saya yakin bahwa ilmu gaib itu ada di dalam kehidupan di alam maya ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

THE POWER OF SHALAWAT

THE POWER OF SHALAWAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam acara pengajian ba’da subuh yang diselenggarakan di Masjid al Ihsan Perumahan Lotus Regency, saya menyampaikan satu pesan khusus agar kita bisa mendawamkan bacaan shalawat, karena shalawat itu memiliki power yang luar biasa bagi umat Islam. Acara ceramah ba’da shubuh ini dilaksanakan setiap hari Selasa, dan tema ini bertepatan saya sampaikan pada hari Selasa, 13 September 2022.

Mengapa shalawat penting dan menjadi salah satu substansi di dalam ajaran Islam? Tentu tidak main-main jika kita melantunkan shalawat kepada nabi Muhammad SAW, sebab Allah dan malaikat saja menyampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam salah satu ayat Alqur’an,  Surat Al ahzab 56,  dinyatakan bahwa “sesungguhnya Allah dan Malaikatnya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.  Wahai  manusia yang beriman bershalawatlah kamu kepada Nabi Muhammad saw dan ucapkanlah salam  penghormatan kepada-Nya ”.

Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang utama. Manusia yang dikaruniai keutamaan, manusia yang dikaruniai keberkahan dan manusia yang dipenuhi dengan kerahmatan oleh Allah azza wa jalla. Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya makhluk di dunia yang memperoleh kesempatan untuk menghadap Allah SWT secara langsung dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Suatu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Islam, karena pada waktu Nabi Muhammad SAW ini menghadap Allah, maka di situlah Allah memerintahkan agar umat Islam menjalankan shalat wajib lima kali sehari. Shalat secara substansial merupakan bentuk relasi antara manusia dengan khaliknya, Allah SWT.

Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang dapat berhubungan secara tawajjuh kepada Allah SWT. Malaikat Jibril yang bisa dinyatakan sebagai humasnya Allah SWT, karena sebagai penyampai wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW ternyata tidak diberi kekuasaan untuk menghadap-Nya. Padahal dalam kehidupan di dunia, humas selalu dapat perintah langsung dari atasannya. Surat Al A’raf, 143, bercerita tentang Nabi Musa AS pernah juga diberi peluang untuk bertemu dengan Allah, sayangnya bahwa Gunung Thursina (Sinai) yang dijadikan sebagai tempat bertemu harus meletus karena tidak mampu untuk menjadi ajang pertemuan dan bahkan Nabi Musa AS juga pingsan. Tidak ada satupun kekuatan yang mampu menjadi “tempat” Allah termasuk tidak ada satupun manusia selain Nabi Muhammad yang diberi kekuatan dan kekuasaan oleh Allah yang bisa “bertemu” dengan Allah.

Shalawat adalah ajaran substansial yang bisa mempertemukan kita dengan Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT. Jika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka dipastikan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW akan menyambutnya. Jika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sekali, maka Allah SWT akan membalas dengan pahala sebanyak 10 kali. Bisa dibayangkan jika ada hamba Allah yang membaca 1000 kali dan ada yang 10.000 kali shalawat. Rasanya Allah dan Rasulullah Muhammad SAW akan sangat mencintainya. Subhanallah.

Ajaran agama itu penuh dengan harapan dan janji yang diberikan kepada manusia oleh Allah SWT. Allah SWT menjanjikan surga dan kebahagiaan maka dipastikan Allah SWT tidak akan mengingkari janji. Innallaha la yukhliful mi’ad. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janji. Agama juga penuh harapan. Agama menjanjikan kepada umatnya untuk berbuat kebaikan, amar ma’ruf nahi mungkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dipastikan bahwa orang yang mengajak tentu sudah melakukannya. Yang mengajak tentu sudah melakukan, sehingga bisa menjadi contoh atas orang yang diajaknya.

Manusia sesungguhnya diberikan peluang yang sangat besar untuk bisa mengabdikan diri kepada Allah. Hanya saja karena factor-factor duniawi sehingga terpengaruh tidak melakukan  apa yang diperintahkan Allah. Itulah sebabnya bagi orang yang melakukan perintah Allah maka dipastikan akan mendapatkan pahala dan ganjaran yang besar adalah mendapatkan ridhonya untuk memasuki surga.

Membaca shalawat adalah bagian dari kehendak Allah, sehingga orang yang membaca shalawat juga dipastikan akan memperoleh ganjaran dari Allah. Tetapi jangan lupa bahwa kita harus menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantaranya atau washilahnya. Allah mengetahui tentang siapa kita, apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan dan kita lakukan, tetapi kita tidak mengetahui Allah karena Allah merupakan dzat yang rahasis atau sir. Itulah sebabnya kita seharusnya berwashilah kepada Nabi Muhammad SAW. Muhammad SAW memang washilah kita kepada Allah. Maka ketika kita berdoa, berdzikir, dan lainnya yang terkait dengan ritual keagamaan, maka keutamaannya adalah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantaranya.

Marilah kita ingat bahwa di antara Nabi dan Rasul yang diberi otoritas untuk memberi syafaat kepada manusia di hari mahsyar adalah Nabi Muhammad SAW. Maka berbahagialah orang yang bisa menjadikannya sebagai washilah kita untuk bertemu dengan Allah fi yaumil akhirah. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENJAGA BACAAN SHALAWAT

MENJAGA BACAAN SHALAWAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam acara pengajian ba’da subuh yang diselenggarakan di Masjid al Ihsan Perumahan Lotus Regency, saya menyampaikan satu pesan khusus agar kita bisa mendawamkan bacaan shalawat, karena shalawat itu memiliki power yang luar biasa bagi umat Islam. Acara ceramah ba’da shubuh ini dilaksanakan setiap hari Selasa, dan tema ini bertepatan saya sampaikan pada hari Selasa, 13 September 2022.

Mengapa shalawat penting dan menjadi salah satu substansi di dalam ajaran Islam? Tentu tidak main-main jika kita melantunkan shalawat kepada nabi Muhammad SAW, sebab Allah dan malaikat saja menyampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam salah satu ayat Alqur’an dinyatakan bahwa “sesungguhnya Allah dan Malaikatnya menyampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.  Wahai  manusia yang beriman bersahalawatlah kepada Nabi Muhammad saw dan agar mendapatkan keselamatan dan menyelamatkan”.

Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang utama. Manusia yang dikaruniai keutamaan, manusia yang dikaruniai keberkahan dan manusia yang dipenuhi dengan kerahmatan oleh Allah azza wa jalla. Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya makhluk di dunia yang memperoleh kesempatan untuk menghadap Allah SWT secara langsung dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Suatu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Islam, karena pada waktu Nabi Muhammad SAW ini menghadap Allah, maka di situlah Allah memerintahkan agar umat Islam menjalankan shalat wajib lima kali sehari. Shalat secara substansial merupakan bentuk relasi antara manusia dengan khaliknya, Allah SWT.

Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang dapat berhubungan secara tawajjuh kepada Allah SWT. Malaikat Jibril yang bisa dinyatakan sebagai humasnya Allah SWT, karena sebagai penyampai wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW ternyata tidak diberi kekuasaan untuk menghadap-Nya. Padahal dalam kehidupan di dunia, humas selalu dapat perintah langsung dari atasannya. Nabi Musa AS pernah juga diberi peluang untuk bertemu dengan Allah, sayangnya bahwa Gunung Thursina yang dijadikan sebagai tempat bertemu harus meletus karena tidak mampu untuk menjadi ajang pertemuan dan bahkan Nabi Musa AS juga pingsan. Tidak ada satupun kekuatan yang mampu menjadi “tempat” Allah termasuk tidak ada satupun manusia selain Nabi Muhammad yang diberi kekuatan dan kekuasaan oleh Allah yang bisa “bertemu” dengan Allah.

Shalawat adalah ajaran substansial yang bisa mempertemukan kita dengan Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT. Jika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka dipastikan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW akan menyambutnya. Jika kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sekali, maka Allah SWT akan membalas dengan pahala sebanyak 10 kali. Bisa dibayangkan jika ada hamba Allah yang membaca 1000 kali dan ada yang 10.000 kali shalawat. Rasanya Allah dan Rasulullah Muhammad SAW akan sangat mencintainya. Subhanallah.

Ajaran agama itu penuh dengan harapan dan janji yang diberikan kepada manusia oleh Allah SWT. Allah SWT menjanjikan surga dan kebahagiaan maka dipastikan Allah SWT tidak akan mengingkari janji. Innallaha la yukhliful mi’ad. Sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janji. Agama juga penuh harapan. Agama menjanjikan kepada umatnya untuk berbuat kebaikan, amar ma’ruf nahi mungkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dipastikan bahwa orang yang mengajak tentu sudah melakukannya. Yang mengajak tentu sudah melakukan, sehingga bisa menjadi contoh atas orang yang diajaknya.

Manusia sesungguhnya diberikan peluang yang sangat besar untuk bisa mengabdikan diri kepada Allah. Hanya saja karena factor-factor duniawi sehingga terpengaruh tidak melakukan  apa yang diperintahkan Allah. Itulah sebabnya bagi orang yang melakukan perintah Allah maka dipastikan akan mendapatkan pahala dan ganjaran yang besar adalah mendapatkan ridhonya untuk memasuki surga.

Membaca shalawat adalah bagian dari kehendak Allah, sehingga orang yang membaca shalawat juga dipastikan akan memperoleh ganjaran dari Allah. Tetapi jangan lupa bahwa kita harus menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantaranya atau washilahnya. Allah mengetahui tentang siapa kita, apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan dan kita lakukan, tetapi kita tidak mengetahui Allah karena Allah merupakan dzat yang rahasis atau sir. Itulah sebabnya kita seharusnya berwashilah kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalam do’a kita pada waktu selesai mendengarkan adzan, maka kita disunnahkan berdoa, yang berbunyi: “Allahumma rabba hadzihi  da’watit tammah, wash-shalatil qaimah, atii Muhammadanil washilata wal fadhilah…”. “… datangkan Muhammad sebagai perantara dan keutamaan…”. Muhammad SAW memang washilah kita kepada Allah. Maka Ketika kita berdoa, berdzikir, dan lainnya yang terkait dengan ritual keagamaan, maka keutamaannya adalah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai perantaranya.

Marilah kita ingat bahwa di antara Nabi dan Rasul yang diberi otoritas untuk memberi syafaat kepada manusia di hari mahsyar adalah Nabi Muhammad SAW. Maka berbahagialah orang yang bisa menjadikannya sebagai washilah kita untuk bertemu dengan Allah fi yaumil akhirah. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MEMBUDAYAKAN NGAJI ALQUR’AN BA’DA SHUBUH

MEMBUDAYAKAN NGAJI ALQUR’AN BA’DA SHUBUH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu yang membuat saya bahagia adalah kegiatan  mentradisikan ngaji ba’da shalat shubuh yang dilakukan di masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency. Ngaji Alqur’an,  khususnya shalat Al Waqi’ah tersebut sudah berjalan selama kurang lebih dua tahun, dan meskipun kita sedang berada di era Pandemi Covid-19 di masa lalu, kegiatan ini sama sekali tidak terpengaruh. Setiap pagi kita melantunkan bacaan Alqur’an dimaksud yang dipimpin oleh imam shalat, Ust. Zamzami al Hafidz dan Ust Firdaus Al Hafidz. Siapa yang menjadi imam pada shalat subuh, maka dialah yang akan memimpin bacaan Surat Al Waqi’ah.

Sekian bulan yang lalu juga dilakukan acara ngaji tafsir Surat Al Waqi’ah yang diasuh oleh Ust. Khobir salah seorang crew nursyamcentre.com yang aktif menulis tentang ilmu tafsir. Ust. Khobir adalah dosen pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Ustadz Khobir juga seorang khafidz yang sekaligus mendalami ilmu tafsir. Di dalam buku yang diedit oleh Dr. Chabib Musthafa dan Mevy Nurhalizah, “Menggelorakan Moderasi Beragama Untuk Indonesia hebat” tercantum tulisan-tulisan Ust. Khobir yang menjadi basis bagi pemahaman atas Islam wasathiyah.

Tentu tidak usah dibicarakan kenapa surat Al Waqi’ah yang dibaca dan bukan gonta-ganti surat di dalam Alqur’an. Tentu ada alasannya di antaranya adalah adanya semacam keyakinan berbasis pernyataan Nabi Muhammad SAW bahwa membaca Surat Al Waqi’ah bisa membuat rezeki pembacanya lebih lancar dan mudah didapatkan. Meskipun pernyataan ini dianggap oleh beberapa ahli hadits sebagai pernyataan yang dhaif atau hadits dhaif, akan tetapi tetap ada sejumlah keyakinan bahwa membaca Surat Al Waqi’ah yang merupakan salah satu surat di dalam Alqur’an pastilah merupakan kebaikan. Jika pun rezekinya tidak sebagaimana yang diharapkan tetapi dipastikan akan mendapatkan pahala karena membaca Alqur’an. Jadi, saya kita tidak perlu diperdebatkan tentang bacaan Alqur’an ini. Kita membaca surat Al Waqi’ah dan yang lain silahkan membaca surat yang lain.

Bahkan berkat membaca surat Al Waqi’ah tiap pagi itu akhirnya juga ada di antara jamaah masjid yang bisa hafal surat Al Waqi’ah. Tentu betapa bahagianya karena dengan mentradisikan membaca surat Al Waqi’ah secara berjamaah setiap hari maka tanpa disadari akhirnya kita hafal surat dimaksud. Membaca secara istiqamah atas surat dalam Alqur’an ternyata bisa membantu kita untuk bisa hafal atas surat Alqur’an dimaksud. Tanpa kegiatan membaca Surat Alwaqiah secara berjamaah setiap pagi nyaris tidak mungkin kita hafal. Apalagi pada usia yang tidak lagi bisa disebut muda.

Kita sungguh bersyukur bahwa pada usia yang tidak lagi muda kita bisa mendawamkan ngaji bareng. Kala kita sedang dalam puncak karir dan sangat sibuk, terkadang membaca Alqur’an adalah kelangkaan. Kita semua sibuk dengan urusan duniawi. Kita terus mengejar kepentingan duniawi. Kita terus bekerja dan bekerja seakan-akan kita akan terus hidup selamanya, sehingga urusan mati besuk nyaris tidak terpikirkan. Kita bisa beraktivitas dari satu daerah ke daerah lain, dari satu acara ke acara lain. Nyaris hidup ini dijejali dengan aktivitas dan aktivitas lainnya.

Untunglah di saat yang tepat kita memiliki kegiatan yang bisa menyeimbangkan antara yang duniawi dan yang ukhrawi. Bekerja yes, ngaji juga yes. Inilah hukum keseimbangan. Jadi jangan hanya mengedepankan bekerja dan jangan hanya mengedepankan yang lainnya. Antara ngaji dan bekerja adalah dua entitas yang berbeda tetapi bisa bertemu dalam kehidupan manusia. Rasanya berbahagialah dengan kemampuan untuk menyatukan dua aktivitas di dalam kehidupan dimaksud.

Dan yang juga penting bahwa dengan ngaji berjamaah tersebut juga tanpa didesain akhirnya bisa memperbaiki bacaan Alquran. Dengan terus menerus dibaca dalam tartil yang jelas, dalam makharijul khuruf yang baik dan dalam tajwid yang baik, maka secara tidak langsung juga terjadi proses pentradisian membaca Alqur’an yang benar. Sekarang jika saya dengarkan para jamaah membaca surat Al Waqi’ah maka dapat dipastikan bahwa bacaannya semakin baik dan semakin benar.

Kiranya tradisi membaca Alqur’an pada waktu ba’da shubuh harus dikembangkan agar menjadi tradisi. Kita semua meyakini bahwa membaca Alqur’an yang benar, maka dipastikan akan mendapatkan pahala. Dan yang paling menggembirakan bahwa Alqur’an diberi otoritas oleh Allah SWT untuk menjadi penyelamat yang di dalam tradisi Islam disebut sebagai syafaat. Alqur’an itu “syafi’an li ashhabihi”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

TAHLILAN ALA KAMPUNG

TAHLILAN ALA KAMPUNG

Prof. Dr.  Nur Syam, MSi

Sungguh di antara kita bisa saja kurang percaya, bahwa tradisi tahlil di pedesaan itu masih sedemikian kuat. Tradisi Islam Nusantara ini masih terus berlangsung hingga sekarang dengan tradisi yang sambung menyambung terus tidak tergerus oleh badai pemahaman agama yang baru, yang di dalam realitasnya mengusung anti Tahlilan, anti Yasinan,  dan anti dzibaan dan sebagainya.

Saya menghadiri acara tahlilan yang diselenggarakan oleh keluarga saya di Dusun Jetak, Desa Kutogirang,  Ngoro,  Mojokerto pada Selasa, 23/08/2022, ba’da shalat Isya’. Acara ini dilakukan terkait dengan wafatnya Hj. Sriyani atau Mak Ni, begitu kami memanggilnya. Saya datang agak terlambat, sebab ba’da magrib baru berangkat dari Surabaya. Untunglah tidak macet, sehingga dalam waktu yang tepat kami masih bisa mengikuti acara tahlilan.

Realitas tahlilan itu di luar pemikiran saya. Ternyata jumlah jamaah tahlil ini luar biasa banyak. Kurang lebih 200 orang. Factor keluarga yang wafat tentu menjadi penentu atas sedikit banyaknya para anggota jamaah tahlil yang hadir. Putra Mak Ni yang pertama, Pak Tamun (alm)  pernah menjabat kepala desa di Kutogirang. Putra Pak Tamun yang pertama, Cak Mukhtar,  adalah seorang guru SDN dan mantan kepala sekolah di Kecamatan Ngoro. Selain itu ikatan kekerabatan di dusun Jetak dengan almarhumah juga sangat banyak. Jadi ada beberapa factor yang menentukan terhadap kehadiran dalam acara keluarga, seperti acara tahlilan dan yasinan.

Yasinan adalah pembacaan Alqur’an surat Yasin secara bersama dalam waktu bersamaan. Sedangkan tahlilan adalah bacaan kalimat Allah berulang kali secara bersamaan dan dalam waktu yang bersamaan pula. Di dalam tradisi ini, maka bacaan Surat Yasin dan bacaan tahlil itu ditujukan kepada khususnya Orang yang meninggal. Biasanya dilakukan selama tujuh hari berturut-turut, lalu setiap malam Jum’at atau Kamis malam, 40 hari, 100 hari dan sependak atau setahun. Tradisi ini merupakan ritual khas Islam Indonesia dan juga beberapa negara lain, misalnya Malaysia dan Thailand (khususnya Thailand Selatan). Tradisi ini sudah berjalan dalam kurun waktu sangat lama. Tidak diketahui kapan tepat waktunya, akan tetapi bisa dilacak dari proses Islamisasi awal di Indonesia. Tradisi ini bisa dibangsakan dengan para waliyullah atau para penyebar Islam di tanah Nusantara.

Masyarakat meyakini bahwa hadiah Surat Alfatihah, Surat Yasin dan bacaan Tahlil tersebut akan sampai kepada yang ditujunya. Agar sampai kepada yang dituju (roh si mayat), maka diberlakukan pembacaan washilah kepada Junjungan Nabi Muhammad SAW. Juga kepada beberapa waliyullah, misalnya Syekh Abdul Qadir Jailani Qaddasallahu sirrahu, dan wali lainnya seperti Kanjeng Sunan Ampel, dan keluarga ahli kubur lainnya. Dengan mendasarkan diri pada washilah kepada Nabi Muhammad SAW dan para waliyullah, maka diyakini bahwa bacaan Alqur’an, tahlil dan doa tersebut akan sampai kepada yang bersangkutan.

Memang tradisi ini tidak didapati pada masyarakat Arab terutama masa sekarang yang menggunakan paham keagamaan Islam madzhab Wahabi yang menganggap bahwa segala sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW itu tidak sah atau mengada-ada atau di dalam pandangan mereka disebut sebagai bidh’ah. Bagi mereka ini, bahwa hukum Islam dalam melakukan ritual hanya dua saja, boleh (wajib dan sunnah) dan tidak boleh (haram). Sementara itu, acara membaca Surat Yasin secara bersama-sama itu tidak terdapat di dalam tradisi kaum Wahabi. Demikian pula membaca tahlil secara bersama-sama juga tidak didapati di dalam tradisi mereka.

Tetapi bagi masyarakat Jawa atau Islam Nusantara, maka yang tidak dilakukan pada zaman Nabi Muhammad SAW atau secara spesifik tidak dilakukan di Arab Saudi bukan harus dihukumi tidak boleh. Di sini terdapat hukum mubah, makruh, sunnah dan wajib. Makanya, membaca tahlil dan membaca yasin itu  sunnah hukumnya, sedangkan membaca bersama adalah cara atau metode yang hukumnya tentu mubah atau kebolehan dan bukan makruh (tidak melakukan lebih baik) atau haram (dilarang).

Tetapi yang terpenting secara sosiologis, bahwa acara tahlilan atau yasinan adalah kegiatan sosial kemasyarakatan yang bernuansa keagamaan. Bisa dibayangkan sebanyak 200 orang membaca Surat Yasin dan Tahlil,  maka di sini terdapat keguyuban di antara warga masyarakat. Melalui kegiatan ini maka dapat diketahui tingkat keharmonisan dan kerukunan warga masyarakat sekitar orang yang berkesedihan karena ada kerabatnya yang meninggal.

Acara ini dipimpin oleh Mbah Modin, biasanya Kaur Kesra desa, yang merupakan tokoh agama di desanya. Pemimpin upacara ritual ini adalah Mbah Modin Sukadi, yang juga biasa menjadi khatib dalam shalat Jum’at di Masjid Desa Kutogirang. Pak Sukadi menyatakan bahwa dia hanya lulusan madrasah dan tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Hanya mondok dan memperdalam ilmu agama. Bacaan Qur’annya bagus, membaca tahlil fasih dan berdoa dengan khusyu’. Sebagian peserta tahlilan juga hafal surat Yasin dan bacaan tahlil.

Dia juga menyatakan bahwa tradisi ini merupakan warisan para leluhur yang mesti dipertahankan. Tradisi pedesaan yang sangat baik untuk membawa masyarakat desa agar rukun dan harmonis. Pak Sukadi juga tahu bahwa tradisi ini adalah tradisi NU yang menyejarah. Jadi meskipun sekarang sedang dihujat oleh kelompok Islam lain, tetapi masyarakat akan tetap memertahankan tradisi ini sampai kapanpun.

Oleh karena itu jika selama ini ada semacam ketakutan mengenai serangan kelompok Islam lain tentang tradisi NU ini, tetapi dengan mengamati atas terselenggaranya acara tahlilan di perkampungan, maka kita masih yakin bahwa  tradisi NU ini tidak akan tergoyahkan.

Wallahu a’lam bi al shawab.