• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

WALIMATUL ARUSY: TRADISI ISLAM JAWA

WALIMATUL ARUSY: TRADISI ISLAM JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tradisi walimattul arusy atau resepsi pernikahan tentu bukan hanya tradisi Jawa tetapi tradisi di banyak negara. Misalnya Malaysia. Tradisi walimatul arusy telah menjadi bagian dari budaya Islam. Tentu saja tatacara dan prosesnya bisa berbeda-beda antara satu negara dengan negara lain atau dari satu suku bangsa dengan suku bangsa yang lain. Tradisi walimatul arusy merupakan tradisi yang sudah berakar pada masyarakat Nusantara. Ada yang dilakukan dengan cara sederhana dan ada yang dilakukan dengan mewah. Acara walimatul arusy yang mewah misalnya dilakukan di Hotel bintang lima dan dihadiri oleh pejabat tinggi negara, bahkan presiden.

Di antara acara walimatul arusy yang heboh adalah acara pernikahan Raffi Ahmad dengan Nagita Slavina, yang ditayangkan oleh Televisi swasta Indonesia sampai berhari-hari. Juga pernikahan Lesti Kejora dengan Rizki Bilar yang ditayangkan berhari-hari oleh televisi swasta di Indonesia.  Mereka adalah para pesohor yang sangat terkenal di Indonesia. Raffi Ahmad dan keluarganya adalah pemilik viewer dan follower yang mencapai puluhan juta orang. Apapun cerita Raffi Ahmad maka sontak akan membeludak viewernya. Kekayaannya kebanyakan diperoleh dari dunia media sosial. Lesti juga idola Indonesia dalam tarikan suara. Lagu-lagu melayu yang dibawakannya menjadi hit karena suaranya memang merdu sekali. Tidak kalah merdu dengan suara Umi Kultsum dari Mesir, yang konon katanya perang di Timur Tengah bisa berhenti kala mendengar suaranya. Dan yang terakhir adalah pernikahan putra Presiden Jokowi, Kaesang Pengarep dengan Irina Sudibyo yang juga disiarkan oleh televisi di Indonesia. Walimahan ini juga luar biasa karena dihadiri tidak hanya para petinggi di Indonesia tetapi juga petinggi negara-negara sahabat.

Yang saya tulis ini bukanlah cerita tentang pernikahan yang mewah,  yang membuat dahi berkernyit. Sebuah pernikahan di pedesaan di Desa Pandantoyo, Kertosono,  Nganjuk. Tepatnya pernikahan Mohammad Hasan Zamzami dengan Dewi Nur Annisa Aliyan. Dua sejoli yang merupakan orang yang hafal Alqur’an. Keduanya,  hafidz dan hafidzah. Acara ini diselenggarakan oleh KH. Turmudzi, orang tua Zamzami dan M. Nurkayun, orang tua Alin. Acara ini dihadiri oleh kyai, yang akan mendoakan kedua mempelai, yaitu KH. Syamsun Ni’am, Kyai Syakir, dan lain-lain. Ada lima kyai yang mendoakan mempelai berdua. Hadir masyarakat di sekitar dan juga dari Surabaya: Pak Rusmin, Pak Budi, Pak Hardi, Pak Mulyanta, Pak Suryanto, Pak Yudi, Pak Abdullah dan Pak Sahid. Acara diselenggarakan pada Sabtu, 14/01/2023.

Sebagai acara walimatul arusy di pedesaan, maka acara diselenggarakan dengan memanfaatkan pekarangan rumah dan sedikit menggunakan badan jalan, tetapi tidak mengganggu lalu lintas. Dengan tenda dan kuade (pade-pade) yang sederhana, maka para tamu dan undangan menempati tempat duduk yang disediakan. Benar-benar acara pedesaan sebagaimana acara serupa di pedesaan lainnya. Saya tentu sering menghadiri acara semacam ini di pedesaan, sehingga hafal betul mengenai proses dan jalannya acara bahkan tempat yang disediakan. Beberapa saat yang lalu, saya juga hadir pada acaranya Ust. Khobirul Amru, staf khusus pada Nur Syam Centre (NSC) yang menyelenggarakan walimahan dan nuansanya juga sama. Tenda di depan rumah, alunan lagu-lagu kasidah dan para tamu duduk di bawah tenda. Tidak lupa juga makanan, jajanan dan minuman serta oleh-oleh yang memang disediakan kepada para tetamunya.

Di dalam acara ini, saya tiba-tiba diminta untuk memberikan ceramah atau mauidzah hasanah. Tentu kaget juga. Di Jombang dan sekitarnya tentu ada banyak kyai atau ulama panggung yang ceramahnya sangat bagus. Tentu saja kewajiban ini saya terima dengan senang hati. Saya sampaikan di dalam ceramah tersebut: pertama,  sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah SWT atas kenikmatan yang diberikan kepada kita. Kita bisa hadir di acara walimahan ini semata-mata karena rahmat kesehatan yang diberikan Allah swt. Kita semua bersyukur kepada kepada Allah swt karena telah melihat pelaksanaan acara pernikahan berjalan dengan sempurna, acara walimahan di penganten putri juga berjalan lancar dan hari ini kita melihat acara walimahan yang dihadiri banyak orang dengan lancar. Semua ini tentu menggambarkan atas ridla Allah swt kepada acara yang baik ini. Hadirin, di sekitar jombang dan kertosono sekarang sedang musim duren. Agar bisa dimakan isinya, maka duren itu harus dipecah yang di dalam Bahasa Jawa disebut mecah duren.  Saya yakin bahwa Mas Zamzam sudah mecah duren.

Kedua,  kita semua hadir di tempat ini untuk memberikan restu kepada pengantin berdua. Kita merestui bahwa Ananda berdua sudah merupakan pasangan suami istri. Kita meyakini bahwa dengan kerelaan kita semua, terutama kerelaan bapak dan ibu masing-masing pengantin, maka jalan hidup kedua mempelai akan menuai kebahagiaan. Mas Zamzam jangan takut, bahwa sampeyan berdua sudah melakukan syariatnya Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah. Annikahu min sunnati faman lam ya’mal min sunnati falaisa minni. nikah itu sunnahnya Rasulullah, maka siapa yang melakukannya pasti akan mendapatkan keridlaan Allah swt dan memperoleh kebaikan dari Rasulullah SAW.

Ketiga, Ananda berdua itu orang yang hafal Al Qur’an dan sarjana. Saya berkeyakinan bahwa badannya berisi al AQur’an, batinnya berisi Al Qur’an, pikirannya berisi Al qur’an, perasaannya berisi Al qur’an. Maka yang menjadi basis kehidupannya adalah Alqur’an. Spiritualitasnya adalah Al qur’an. Lalu dipadukan dengan sebagai sarjana maka pikirannya dipastikan rasional sebagai gambaran orang yang bisa memecahkan masalah dengan pikiran yang lurus dan benar. Jadi menurut saya dua orang ini adalah contoh yang baik dalam menghidupkan bacaan Alqur’an. Tidak hanya belajar Alqur’an tetapi juga mengajarkan Alqur’an. Mereka adalah sebaik-baik umat Islam.

Saya sungguh meyakini bahwa Ananda berdua akan dapat mencapai kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Kehidupan yang tenang dan tenteram atau bahagia, yang didasari oleh cinta dan kasih sayang. Semua di antara kita semua mendoakan semoga Ananda berdua dapat mencapai kehidupan rumah tangga seperti itu. Sakinah, mawaddah wa rahmah itu satu kesatuan tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Melalui doa para kyai pagi hari ini,  semoga menjadi penanda atas kebaikan yang nanti akan dirasakan oleh Ananda berdua.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENJALIN TEMU KANGEN: REUNIAN KOMUNITAS RONGGOLAWE TUBAN

MENJALIN TEMU KANGEN: REUNIAN KOMUNITAS RONGGOLAWE TUBAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Artikel ini merupakan refleksi atas acara reunian yang diselenggarakan oleh Komunitas Ronggolawe atau Paguyuban Ronggolawe yang terdiri dari individu-individu yang lahir di Tuban dan kemudian menetap di luar Tuban, baik di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang, Pasuruan dan tempat lain di Jawa Timur termasuk di Jakarta dan kota-kota lainnya. Acara ini diselenggarakan di tempat rekreasi Banyulangse, Merakurak Tuban. Acara dilakukan pada hari Ahad, 08/01/23.

Acara ini  menarik karena menjadi ajang untuk temu kangen. Lalu, mereka menunjukkan bakat masing-masing. Nyanyi. Ada yang menyanyikan  lagu-lagunya Koes Plus, Dangdut, dan juga lagu-lagu campursari yang dilantunkan secara bersama-sama. Bahkan ada yang menyanyi sesuai dengan sekolah dan angkatannya, misalnya SMA Angkatan 70-an, STM 1970-an dan seterusnya. Nyanyi-nyanyi ini menjadi ritual wajib dalam acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Ronggolawe.

Yang menarik bahwa hampir semua orang yang menjadi anggota komunitas Ronggolawe bisa menyanyi. Bahkan juga berjoget sesuai dengan irama lagunya. Saya juga didaulat untuk menyanyi pada acara ini. Dengan sangat terpaksa maka saya pun menyanyi lagu wajib yang sering kali saya lantunkan. Lagunya Rhoma Irama.  “Kegagalan Cinta”. Ternyata semua audience berjoget dengan lagu dangdut ini. Nyaris semuanya hafal syair lagu Bang Haji Rhoma Irama. Bang Haji rupanya popular di kalangan generasi “colonial” atau generasi “baby boomer”.

Ada sambutan dari Mas Sujarwoto, kawan lama yang menjadi panitia reunian ini. Beliau menetap di Tuban dan menjadi dosen pada salah satu universitas di sini. Lama sekali saya tidak bertemu dengan Mas Jarwoto. Tetapi sama sekali saya tidak lupa wajahnya. Beliau kelihatan masih muda. Diteruskan dengan sambutan Ketua Paguyuban Ronggolawe, Pak Soebijantoro, priyantun Tuban yang menetap di Surabaya. Pak Bijantoro juga “jago” menyanyi. Suaranya enak.

Saya juga diminta untuk memberikan sambutan untuk mewakili para anggota Paguyuban. Kemudian saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama,  bersyukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa karena kita bisa dipertemukan dalam acara reuni dari para lulusan SMA atau sederajat lintas sekolah. Ada yang dari SMA, STM dan juga PGA 6 tahun. Kita bersyukur karena masih dikaruniai kesehatan. Jika ada di antaranya yang punya gangguan kolesterol,  asam urat, atau diabet, semoga Allah SWT memberikan keringanan sakitnya atau bahkan menghilangkan sakitnya. Semua di antara kita berharap menjadi tua tetapi sehat, segar dan bugar. Menjadi tua  memang kepastian, tetapi menjadi sehat adalah doa dan harapan. Setiap orang akan mengalami masa kanak-kanak, dewasa dan tua. Ini hukum alam yang tidak bisa dihindari.

Kedua, kita selalu berdoa bahwa di masa sekarang ini, usia senior bukan tua, tetapi menjadi orang yang selalu berada di dalam pesan doa kita, yaitu: “Allahuma thawwil umurona, wa  nawwir qulubana, wa ahsin ajsadana, wa tsabbit imanana”, yang artinya: “Ya Allah panjangkan usia kami, dan cahayailah hati kami, dan jadikan kebaikan pada jasad kami dan tetapkan keimanan kami”. Kita semua ingin panjang usia tetapi panjang usia yang bermanfaat. Panjang usia yang berada dalam kebaikan, panjang usia yang di dalamnya ada cahaya kebaikan dan panjang usia yang selalu berada di dalam ketaqwaan dan keimanan kepada Allah swt. Usia panjang itu bisa menjadi saat yang tepat untuk meminta kepada Allah akan kebaikan bagi diri kita, tidak hanya kebaikan di dunia tetapi juga di akhirat. Dunia itu jembatan untuk menuju akhirat. Kebahagiaan yang benar adalah kebahagiaan tidak hanya di dunia tetapi juga kebahagiaan di akherat.

Ketiga, kita sudah sepatutnya bersyukur kepada Allah karena terlahir sebagai bangsa Indonesia. Sebagai orang Jawa Timur dan secara khusus sebagai orang Tuban. Kita hidup dalam alam yang seimbang. Tidak panas dan tidak dingin. Jika panas juga tidak terlalu panas dan jika dingin juga tidak terlalu dingin. Sedang-sedang saja. Orang Eropa sekarang sedang susah, karena ketiadaan pasokan gas untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Akibat perang di Rusia dan Ukraina, maka pasokan gas menjadi langka dan jika ada harganya mahal sekali. Biasanya dalam sebulan cukup dengan 10 Euro, maka pada masa sekarang menjadi 1000 euro  dalam sebulan. Mereka menjadi kedinginan karena tidak memiliki tungku pemanas ruangan. Tungku pemanas ruangan menjadi penting pada musim dingin kala suhu berada  di bawah 0 derajat.  Pemerintah di beberapa negara Eropa menyarankan kepada penduduk untuk memakai pakaian tebal. “jangan cengeng” katanya.

Gambaran seperti itu sangat jauh bagi masyarakat Indonesia. Meskipun tidak seluruh masyarakat Indonesia itu sejahtara karena keterbatasan pendapatan, akan tetapi tidak ada di antara kita yang kepanasan atau kedinginan. Semua ini adalah anugerah Tuhan Allah SWT kepada kita semua bangsa Indonesia. Pantaslah kalau kita bersyukur menjadi bangsa Indonesia, apalagi juga negeri ini aman dan damai.

Kita semua berdiri menyanyikan lagi kebangsaan “Indonesia Raya” dengan gegap gempita dan setelah selesai kemudian dengan tangan terkepal dan terangkat ke atas, kita bersama menyatakan “MERDEKA”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

GREMET-GREMET ANGGER SLAMET: ETIKA  HIDUP ORANG JAWA

GREMET-GREMET ANGGER SLAMET: ETIKA  HIDUP ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya tidak tahu kenapa akhir-akhir ini saya begitu tertarik dengan unen-unen Jawa yang adiluhung. Orang Jawa memang memiliki sikap hidup yang tentunya berbeda dengan suku bangsa lain, bahkan sesama orang Indonesia. Orang Jawa begitu menghargai terhadap pepatah atau pedoman di dalam budayanya, sehingga sering kita dengar ungkapan durung Jowo, artinya dianggap belum menjadi orang Jawa dengan etiket dan kehidupan sebagai orang Jawa. Sebaliknya, wis jawani artinya sudah menjadi orang Jawa karena etiket dan kehidupannya sudah sebagaimana orang Jawa.

Di antara etiket Jawa yang sering disalahpahami adalah konsep “gremet-gremet angger slamet”. Ungkapan ini sering dipahami secara keliru sebab dianggap sebagai penyebab atas kelambanan dalam pekerjaan, lambat dalam penyelesaian pekerjaan atau tidak efektif dan efisien dalam bekerja. Dianggap oleh sebagian orang bahwa unen-unen ini tidak cocok dengan budaya modern yang sering dikaitkan dengan kecepatan, ketrengginasan, dan serba cepat yang dihadapi oleh manusia modern. Dan yang lebih menyedihkan kala dianggapnya Orang Jawa itu anti modernitas dan cenderung kolot atau tradisional.

Salah satu yang harus dipahami oleh orang lain adalah filsafat hidup gremet-gremet angger slamet itu titik tekan atau fokusnya justru pada keselamatan. Gremet memang berarti pelan atau gremet-gremet berarti pelan-pelan. Tetapi fokusnya bukan pada pelan dalam bekerjanya akan tetapi bekerjalah dengan kehati-hatian dan penuh pertimbangan dan diyakini akan kebenaran pada proses dan produknya. Gremet-gremet itu bukan pada dimensi kecepatan atau kelambanan akan tetapi pada kehati-hatian. Atau yang lebih tepat adalah bekerja dengan ketepatan atau presisi dalam menerapkan metode kerja atau cara kerja. Orang bekerja tidak hanya menggunakan akal pikirannya akan tetapi juga hati nuraninya. Gremet-gremet  sekali lagi merupakan langkah ke depan dengan memperhatikan pikiran, perasaan dan tindakan yang tepat untuk menuju kepada keselamatan.

Prinsip hidup orang Jawa adalah rukun, harmoni dan slamet. Ujung akhir dari semua tindakan adalah keselamatan. Keselamatan di atas segala-galanya. Percuma saja kita berhasil tetapi jika ujung akhirnya tidak selamat. Dengan demikian, keselamatan merupakan kunci yang sangat menentukan di dalam kehidupan. Bahkan Islam mengajarkan bahwa keselamatan itu tidak hanya di dunia tetapi juga keselamatan di akherat. Kehidupan di dunia itu sangat sementara, sedangkan kehidupan di akherat itu kekal atau abadi. Banyak ayat di dalam Alqur’an yang menjelaskan tentang hal ini. Misalnya pernyataan “kehidupan di akherat itu lebih baik dari pada kehidupan di dunia”.

Dewasa ini kita sedang hidup di era yang disebut sebagai era “kecepatan”. Bahkan juga ada ungkapan “siapa yang cepat siapa yang dapat”. Artinya memang sedang terjadi proses untuk adu kecepatan agar tidak tertinggal. Namun demikian, di dalam tradisi Jawa dinyatakan cepat saja tidak cukup jika tidak berujung pada keselamatan. Inilah bedanya filsafat etika Barat dengan filsafat etika  Jawa. Di Barat berpikir yang penting produk dicapai, sedangkan di Jawa produk memang harus dicapai tetapi ujung akhirnya keselamatan jua yang menentukannya.

Pada era seperti itu, banyak orang yang berpikir “menerabas” atau mental menerabas. Secara sosiologis, dinyatakan bahwa orang selalu bertindak dengan mengambil jalan tercepat agar sampai kepada tujuan. Bahkan ada yang menyatakan tujuan menghalalkan segala cara. Sebagaimana pemikiran Machiavelli. Yang seperti ini sungguh bertentangan dengan prinsip filsafati etika orang Jawa. Baginya, bahwa tujuan dan cara merupakan dua hal yang tidak dipisahkan, dan kedua-duanya harus benar. Caranya harus benar dan produknya juga harus benar. Jika tujuannya benar tetapi diperoleh dengan cara yang tidak benar, maka dipastikan akan terdapat masalah kelak yang kita tidak tahu kapan terjadinya.

Terjadinya tindakan koruptif di Indonesia selama ini, karena orang ingin “berlebihan” dalam kekayaan atau jabatan atau kekuasaan dengan cara yang tidak elegan atau tidak benar. Bisa jadi orang menjadi kaya, berkuasa dan memiliki jabatan akan tetapi jika dilakukan dengan cara yang salah atau tindakan koruptif, maka dalam waktu tertentu akan diketahui, dan dipastikan tidak selamat. Jadi tanpa disadari telah banyak orang yang berpikir Machiavellianisme di dalam kehidupan, yaitu tujuan menghalalkan segala cara. Sayangnya, bahwa tindakan koruptif semakin menjadi-jadi di bumi pertiwi ini, sehingga juga semakin banyak yang merasa dirugikan karena tindakannya yang seperti itu. Kita tentu berharap bahwa tindakan koruptif bisa dihentikan melalui penyadaran bagi siapa saja.

Orang Jawa memang sudah banyak yang kehilangan “kejawaannya”. “wis dudu wong Jowo” atau “wis lali Jawane”. Sudah bukan lagi Orang Jawa atau sudah lupa Jawanya. Oleh karena itu akan menjadi sangat penting untuk kembali mengingat unen-unen Jawa yang sesungguhnya memiliki makna adiluhung untuk kehidupan kita.

Alon-alon waton kelakon bukan filsafat etika untuk menghadang kemajuan, bukan sarana untuk terus terbelakang, tetapi merupakan prinsip etika Jawa yang menginginkan bahwa semua terukur, teratur dan ternilai sehingga proses dan produk harus diletakkan di dalam konsep keselamatan yang merupakan tujuan manusia di dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

SOPO SIRO SOPO INGSUNG: ETIKA HIDUP ORANG JAWA

SOPO SIRO SOPO INGSUNG

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Artikel ini merupakan bahan ceramah saya pada Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Seperti biasanya, ceramah itu dilakukan pada hari Selasa, 03/01/2023, bada Subuh setelah acara dzikir dan doa selesai. Sebagaimana biasa acara ini dilakukan melalui ceramah dan tanya jawab tentang tema yang dibahas. Kali ini saya membahas tentang filsafat Islam Jawa dengan tema:  “sopo siro sopo ingsung”. Yang sesungguhnya di dalam Islam termasuk kajian etika atau moralitas atau akhlak tentang menjaga diri agar tidak sombong.

Dunia filsafat Jawa atau katakanlah filsafat Jawa Islam memang memiliki kekhasannya sendiri terutama terkait dengan peribahasa, unen-unen, dan syair-syair Jawa dalam bentuk tembang, lagu dan lain-lain yang di dalam banyak hal terkait dengan rasa atau olah rasa. Orang Jawa memang dikenal sebagai manusia yang mengedepankan rasa baik dalam relasi antar manusia dan relasi dengan Tuhan atau Gusti Kang Akaryo Jagad. Di antara pandangan hidup tersebut tercakup dalam ungkapan: “sopo siro sopo ingsung”.

Di dalam ungkapan ini menggambarkan tentang sifat kesombongan yang seringkali dimiliki oleh manusia. Di dalam diri manusia itu terdapat dua sifat, yang selalu melazimi kehidupannya, yaitu sifat baik dan sifat jelek. Keduanya menyatu dan saling berebut untuk memenangkan di antara dua sifat manusia dimaksud. Adakalanya, sifat baik yang menang dan ada kalanya sifat yang jelek yang menang. Semuanya tergantung pada kesiapan manusia untuk menerima hidayah atau petunjuk dari Allah swt.

Di dalam ajaran Islam, ada beberapa factor yang mempengaruhi manusia untuk bersikap dan berperilaku sombong. Pertama, kelebihan ilmu pengetahuan. Kelebihan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang akan dapat mengantarkannya menjadi sombong dengan menyatakan bahwa dirinya saja yang hebat di dalam ilmu dimaksud. Orang lain tidak memiliki kemampuan dan kapasitas ilmu sebagaimana dirinya. Apakah dengan pernyataan seperti ini mengharuskan kita tidak memiliki kelebihan akan ilmu pengetahuan? Tentu tidak. Sebab yang dilarang adalah kelebihan ilmu yang dijadikan sebagai instrument untuk menyombongkan diri. Orang yang polyglot kemudian menyatakan bahwa dirinya paling hebat. Atau orang yang polymath maka kemudian juga menyombongkan diri bahwa dirinya yang paling hebat. Jadi yang dilarang bukan memiliki kelebihan ilmu pengetahuan tetapi menyombongkan kelebihannya itu.

Kedua, kelebihan harta juga dapat menjadi instrument untuk menyombongkan diri. Orang yang berharta tentu akan dapat mencapai apa yang diinginkan. Apa yang ingin diraih tentu dapat diraihnya. Berkat harta yang banyak maka seakan-akan dunia dapat dibelinya.  Masih ingat cerita tentang Qarun sebagaimana diceritakan di dalam Alqur’an. Qarun adalah tokoh kapitalis pertama di dunia. Karena dia mengakumulasi uangnya untuk menjadi modal dan asset, sehingga kekayaannya tidak terukur. Begitu kayanya dia itu, maka kunci yang dimiliki tidak dapat diangkut dalam satu gerobak. Mungkin kalau sekarang tidak bisa diangkut dengan satu truck. Tetapi kekayaannya itu ternyata tidak mampu menolongnya di kala Allah mengadzabnya dengan gempa bumi dan seluruh hartanya tertimbun dalam tanah.

Ketiga,  kekuasaan yang besar. Orang yang mempunyai kekuasaan yang besar juga berkecenderungan untuk menyombongkan diri. Fir’aun menjadi penguasa yang dholim karena kekuasaannya yang besar. Dia lupa bahwa dirinya hanyalah manusia biasa dan bukan siapa-siapa. Karena kekuasaannya itu, maka dia meminta rakyatnya untuk menyembahnya. Tetapi besarnya kekuasaan tersebut tidak mengantarkannya untuk selamat di kala air laut menenggalamkannya. Di saat dia mengejar Nabi Musa dan kaumnya untuk menyebarangi Laut Merah, maka pada saat air laut Kembali sebagaimana semula, maka diapun mati. Dan kematiannya itu menjadi bukti ilmiah, bahwa Fir’aun ini memang mati tenggelam di dalam laut. Hasil kajian atas dirinya, menyebabkan Dr. Maurice Buchaille akhirnya memeluk Islam.

Ungkapan sopo siro sopo ingsung, biasanya dikaitkan dengan ungkapan ojo adigang, adigung, adiguno sopo siro sopo ingsung. Orang yang memiliki sikap adigang atau merasa kuat sendiri juga akan menyatakan siapa kamu, dan siapa saya. orang yang memiliki sikap adigung atau memiliki kekuasaan penuh juga cenderung menyatakan siapa kamu siapa saya, dan orang yang bersikap adiguno atau merasa yang paling bermanfaat juga akan menyatakan siapa kamu siapa saya.

Cerita ini akan menjadi lengkap dengan sejarah kesombongan iblis, di kala oleh Allah swt memintanya  untuk bersujud kepada Adam as. Sebagaimana di dalam surat Al Baqarah, ayat  34:  “waidz qulna lil malaikatis judu li Adama fasajadu illa Iblis. Aba wastakbara wa kana minal kafirin”.  Yang artinya: “dan ingatlah kala Aku (Allah)  meminta kepada Malaikat untuk bersujud kepada Adam, maka sujudlah kepadanya kecuali Iblis. Iblis menolaknya dan jadilah Iblis sebagai hamba yang ingkar (durhaka) kepada Allah”.

Kesombongan dari asal usul penciptaan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan Iblis dari api, maka menyebabkan Iblis durhaka kepada Allah dengan jalan tidak mau mengikuti perintah Allah. Dari kata abaa ini kemudian di dalam Islam Jawa dikenal istilah abangan, atau orang yang mengaku  Islam tetapi tidak menjalankan perintah Allah. Na’udzu billahi min dzalik.

Wallahu a’lam bi al shawab.

ROH: MISTERI KEHIDUPAN

ROH: MISTERI KEHIDUPAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Artikel ini merupakan bahan ceramah saya pada jamaah Mushalla Raudhatul Jannah Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak Tuban. Ceramah ini dilaksanakan pada hari Kamis, 29 Desember 2022 ba’da Maghrib. Acara jamaah shalat maghrib ini diikuti oleh 30 orang lelaki dan perempuan. Ceramah diselenggarakan dengan menggunakan Bahasa Jawa sebab kebanyakan jamaah adalah orang-orang dewasa yang kebiasaan sehari-harinya  menggunakan Bahasa Jawa.

Islam mengajarkan bahwa ada yang bercorak materiil dan ada yang bercorak spiritual. Ada yang bercorak fisikal dan ada yang bercorak non-fisikal. Ada yang dhohir dan ada yang bathin. Ada yang jasmani dan ada yang rohani, serta ada yang hadir dalam fisik dan ada yang batin yang tidak nampak. Hukum berpasangan ini terus menyelimuti kehidupan manusia sepanjang sejarah kemanusiaan.

Allah SWT di dalam Alqur’an memberikan penjelasan tentang keberadaan hal-hal yang gaib. Di dalam surat Albaqarah dijelaskan tentang keberadaan alam gaib dan manusia memang harus mempercayainya. Ayat tersebut berbunyi: “alif lam mim, dzalikal kitabu la raiba fihi hudan lil muttaqin. Alladzina yu’minuna bil ghaibi wa yuqimunash shalata wa mimma razaqnahum yunfikun”. Yang artinya: “alif lam mim, inilah kitab yang tidak diragukan kebenarannya bagi orang mu’min. orang-orang yang mempercayai alam gaib dan mendirikan shalat dan menafkahkan rezekinya”.

Memang alam gaib merupakan bagian dari iman, misalnya keyakinan kepada keberadaan Allah, iman kepada  malaikat, iman takdir Allah, dan iman kepada kiamat atau hari akhir. Semua ini merupakan hal-hal gaib yang harus diyakini keberadaan dan kejadiannya. Kita hanya wajib percaya  secara keyakinan tetapi sungguh tidak mengetahui bagaimana wujud dan bentuknya. Sebagai umat Islam sekali lagi kita harus meyakininya. Jika kita meyakininya maka kita termasuk orang yang ingkar atas keimanan di dalam Islam.

Nabi Muhammad SAW sebagai manusia sempurna juga menyatakan tidak tahu tentang roh. Ketika ditanya oleh sahabat Nabi tentang roh, Nabi menyatakan bahwa roh adalah urusan Tuhan dan kita diberi ilmu pengetahuan tetapi sangat sedikit. Gambaran dari Nabi Muhammad saw ini merupakan suatu jawaban yang sangat jelas bahwa roh itu hanya Allah yang tahu, dan manusia tidak akan mengetahui bagaimana dzat dan sifatnya. Hanya Allah azza wa jalla saja yang mengetahuinya.

Manusia dengan kemampuan teknologi di bidang Kesehatan telah mengetahui banyak tentang dzat, sifat dan cara kerja masing-masing anggota tubuh. Misalnya dengan teknologi Kesehatan, maka manusia bisa melakukan kajian secara mendalam tentang jantung, paru-paru, empedu, pancreas, hati, otak, dan seluruh anggota tubuh lainnya. Teknologi Kesehatan telah mencapai derajat tertinggi dalam inovasinya untuk memahami seluk beluk Kesehatan manusia. Bahkan seorang dokter ahli berdasarkan kepakarannya dapat mencandra berapa lama manusia akan dapat bertahan hidup.

Tetapi sesungguhnya kecanggihan teknologi Kesehatan tidak bisa mendeteksi bagaimana roh tersebut, baik dzat, sifat dan cara kerjanya di dalam tubuh. Yang bisa diprediksi oleh dokter adalah melihat gejala-gejala fisikal, misalnya tingkat kerusakan tubuh akibat sakit atau lainnya dan kemudian memprediksi bagaimana peluang yang bersangkutan untuk tetap hidup. Misalnya orang yang terkena penyakit komplikasi maka peluang untuk hidup tentu menjadi lebih kecil. Namun demikian, segalanya masih sangat tergantung bagaimana Allah menentukan atas takdirnya.

Ada orang yang terkena kanker stadium empat, tetapi dengan terus melafalkan ayat Alqur’an selama sakit itu, maka Allah memberikan kesembuhan. Ada orang yang bersedekah dengan ukuran yang melebihi standart sedekah, lalu Allah mengangkat penyakitnya. Jadi, sesungguhnya takdir Allah lah yang menentukan tentang hidup dan matinya seseorang. Dokter atau  orang yang melakukan pengobatan hanyalah washilah yang mengantarai manusia di antara takdirnya.

Roh itu memiliki keabadian tingkat dua setelah keabadian Allah SWT. Allah itu abadi tanpa awal dan tanpa akhir. Huwal awwalu wal akhiru, Allah adalah Tuhan  yang awal tiada awalnya dan  yang akhir tiada akhirnya. Sedangkan roh itu ada awalnya karena roh adalah ciptaan Allah, dan roh juga berpeluang ada akhirnya karena roh adalah ciptaan Allah. Manusia tidak tahu kapan roh itu diciptakan dan kapan roh akan berakhir. Tetapi di dalam Islam diyakini bahwa ada alam roh, ada alam dunia, ada alam kubur dan ada alam akhirat. Roh itu tetap hidup di masing-masing alam sesuai dengan ketentuan Allah. Kita diberi ilmu yang sangat sedikit sehingga tidak mengetahui seluk beluk roh dimaksud.

Makanya saya membagi manusia dalam tiga unsur, yaitu unsur jasad yang berasal dari tanah dan akan Kembali ke tanah, unsur Roh atau unsur ketuhanan di dalam disi manusia. Artinya bukan tuhan berada di dalam diri manusia, akan tetapi roh itu adalah dzat yang ditiupkan Allah ke dalam diri manusia sehingga manusia bisa hidup, dan unsur jiwa yaitu sesuatu yang mengantarai antara jasad dan roh. Jiwa itu memihak kepada salah satu di antara keduanya. Bisa jadi lebih condong ke hewan atau kal hayawan atau condong ke roh atau kal malaikah.

Semoga para jamaah semua dapat mengikatkan diri di dalam kecondongan kepada kebaikan dan menghindari kecondongan kepada kejelakan.

Wallahu a’lam bi al shawab.