• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

EMPAN PAPAN: MEMAHAMI POSISI DIRI DALAM DUNIA SOSIAL ORANG JAWA

EMPAN PAPAN: MEMAHAMI POSISI DIRI DALAM DUNIA SOSIAL ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

 

Pepatah Jawa itu luar biasa banyaknya. Hanya saja kita tidak bisa memahami semuanya. Hal itu terkait dengan semakin rendahnya pemahaman kita tentang budaya dan filsafat Jawa. Kita rasanya semakin tidak Njawani. Kita semakin merasa bukan sebagai orang yang memahami Jawa secara seutuhnya. Menjadi orang Jawa itu hanya seperti kulit yang tipis di luarnya saja, sehingga yang tampak hanya lahiriyahnya sebagai orang Jawa, tetapi paham, sikap dan prilakunya sudah bukan lagi orang Jawa.

Pengaruh globalisasi memang luar biasa. Semenjak semua negara terbuka untuk menjadi global market, maka semuanya menjadi berubah. Kita tentu bukanlah orang yang anti perubahan. Perubahan adalah inti kehidupan. Siapa yang tidak mau berubah akan ketinggalan zaman. Begitulah ajaran di dalam kehidupan kita. Semuanya berubah, termasuk juga gaya hidup, perilaku, dan tindakan sehari-hari.

Jika orang yang usianya di atas 60 tahun, maka perilaku kejawaannya masih terlihat. Cara berkomunikasi, gaya bahasa, dan tindakannya masih bercorak sesuai dengan pemahaman, sikap dan perilaku orang Jawa. Orang Jawa yang lahir tahun 60-an ke bawah rasanya masih ngugemi sikap hidup sebagai orang Jawa. Tetapi bagi yang lahir tahun 80-an ke atas rasanya sudah tidak lagi atau sekurang-kurangnya rendah kejawaannya. Sementara itu generasi yang lahir tahun 60-80-an itu berada di dalam masa transisi antara sikap hidup sebagai orang Jawa dan perubahan social ke arah global.

Sebagai akibat global market, misalnya dalam konteks makanan, maka generasi milenial sudah jarang mereka itu memakan makanan seperti soto, rawon, gudeg, tengkleng, rujak dan jenis-jenis makanan Jawa lainnya, akan tetapi mereka lebih familiar dengan Kentucky Fried Chicken (KFC), McDonald (McD), AW, dan jenis-jenis makanan berbau barat lainnya. Makanan cepat saji ini berseirama dengan generasi milenial yang ingin serba instan dan cepat. Akibat globalisasi dalam berbagai segmen kehidupan, maka orang Jawa menjadi kehilangan kejawaannya. Life style dan kehidupannya dipengaruhi oleh factor luar tersebut.

Orang Jawa memahami bahwa setiap perilaku itu memiliki kaitan dengan derajad atau status social dan peranan yang dimainkannya. Orang Jawa sangat menghargai atas prestasi yang cocok dengan derajadnya. Orang Jawa sangat menghargai atas perilaku orang kaya yang tidak sombong, perilaku pejabat yang tidak sombong. Orang hebat yang tetap menghargai kesantunan. Dan orang istimewa yang tetap mengedepankan kesopanan.

Di antara filsafat hidup orang Jawa yang juga sangat menonjol adalah  empan papan. Secara harfiyah artinya adalah memahami di mana kita berada. Tetapi jangan salah bahwa jika kita berada di kalangan orang bejat juga menjadi bejat. Sebab di dalam empan papan tidak seperti itu yang dimaksudkan. Empan papan  itu menempatkan diri dalam relasi social yang sesuai dengan pangkat dan derajad kita, sesuai dengan prestasi, kapasitas dan moralitas kita. Orang Jawa tidak suka atas prilaku yang “semau gue” atau tidak menghargai lingkungannya. Dipastikan bahwa lingkungan social tersebut adalah lingkungan yang baik, yang bermoral dan relevan dengan ajaran agama yang dianutnya.

Salah seorang penyair Indonesia, Zawawi Imron, penyair “Celurit Emas” sering kali mengungkapkan bahwa “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Jadi jangan kita itu berada di suatu tempat atau wilayah tetapi tidak menggunakan norma dan moralitas yang relevan dengan tempat kita berada. Hargai moralitas dan norma yang dijadikan pedoman agar kita bisa melakukan yang terbaik untuk diri kita. Kita hidup di Indonesia dengan ajaran moralitas dan norma yang berasal dari ajaran agama, akan tetapi kita menggunakan etika dan norma yang berkembang di Eropa. Tidak bisa dengan dalih kebebasan, lalu kita melakukan segala sesuatu dengan permisif. Serba boleh. Jadikan ukuran untuk performance kita itu atas dasar nilai, norma dan moralitas yang bersumber dari relasi antara ajaran agama dan lokalitas yang berkembang. Yang agak politis, misalnya kita menjadi orang Indonesia, tetapi tidak mengakui common platform bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Kita hidup di Indonesia tetapi menginginkan system khilafah sebagai bentuk negara. Yang seperti ini namanya tidak empan papan.

Kita sebagai warga negara Indonesia tetapi cara kita berperilaku seperti orang barat yang permisif, yang serba boleh. Bahkan juga berpakaian yang tidak menggambarkan tata cara berpakaian orang Indonesia yang mengagungkan kesopanan. Melakukan sesuatu tindakan sebagaimana basis moralitas di mana kita hidup merupakan bagian tidak terpisahkan dalam prinsip orang Jawa.  Sesungguhnya, kita merupakan bagian dari lingkungan social di mana kita hidup. Tetapi juga jangan diartikan bahwa kala kita berada di negara dengan tindakan permissiveness kita juga harus melakukannya seperti itu.

Di dalam Islam terdapat ajaran uzlah atau menyendiri dalam lingkungan social yang permisif. Jika mayoritas orang melakukan perbuatan permisif, maka janganlah kita karena tuntutan lingkungan social lalu kita juga melakukannya. Jadi harus tetap diperhatikan bahwa tetap ada ajaran moral yang normative dan aplikatif yang tetap harus dipegang sebagai basis moralitas di dalam kehidupan.

Jadi, empan papan tidak berarti menoleransi atas tindakan yang keliru hanya karena relasi dan lingkungan social seperti itu.  Di dalam kondisi seperti ini, maka konsistensi menjaga moralitas tetap menjadi acuan. Empan papan tetap berada di dalam koridor menjaga yang baik dan menghindari yang jelek atau tetapi berada di dalam bingkai amar ma’ruf nahi mungkar.

Wallahu a’lam bi al shawab.

EMBAN CINDHE EMBAN SILADAN: KESETARAAN DALAM TRADISI JAWA (2)

EMBAN CINDHE EMBAN SILADAN: KESETARAAN DALAM TRADISI JAWA (2)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Orang Jawa sering kali dianggap memiliki prinsip hidup yang tidak sesuai dengan perubahan zaman dan menghambat kemajuan. Pandangan seperti ini merupakan stereotip atas beberapa ungkapan di dalam Bahasa Jawa yang dimaknai keliru atau tidak tepat. Orang terkadang hanya melihat bunyi teks tetapi tidak memahami makna substantifnya dan juga konteksnya. Padahal dengan sedikit pemahaman saja tentang tradisi Jawa tersebut, maka kita akan tahu maknanya dan apa yang sesungguhnya menjadi maknanya.

Jika kita telusuri betapa bagusnya ungkapan emban cindhe emban siladan. Prinsip di dalam kehidupan orang Jawa yang mengajarkan kesetaraan, kesamaan, kesederajadan  di dalam kehidupan. Alangkah indahnya, seandainya orang yang memahami tradisi Jawa ini memahami relasinya dengan orang lain, kelompok lain dan juga masyarakat secara umum dengan menggunakan prinsip ini. Sayangnya bahwa di dalam kehidupan di dunia banyak orang yang lebih mementingkan  sifat ananiyah atau keakuan atau keegoisan, sehingga susah memberikan akses pada orang lain untuk memperoleh kehidupan  yang lebih baik.

Yang juga menjadi menarik, bahwa prinsip tersebut memiliki kecocokan dengan ajaran agama. Saya merasa bahwa semua agama mengajarkan tentang kesetaraan. Tidak ada suatu agama yang tidak mengajarkan kesetaraan, kesamaan, kesederajadan dan keadilan. Empat  hal ini merupakan prinsip umum yang berlaku mendasar bagi semua agama. Islam tentu juga mengajarkan tentang  hal ini. Semua manusia memiliki kesamaan dalam prinsip mendasar kehidupan, hanya saja akan menjadi berbeda di dalam proses kehidupan dan hasil kehidupan. Misalnya, orang bisa memiliki jenis pekerjaan yang sama tetapi bisa berbeda di dalam proses dan produknya.  Tentu saja ada banyak factor yang mempengaruhi atas proses dan produk kehidupan.

Islam sangat menghargai harkat dan martabat manusia. Islam menempatkan manusia dalam ciptaan terbaik. Islam mengajarkan akan harkat dan martabat manusia itu ditinggikan dan melarang manusia untuk menghina manusia lainnya. Orang yang menghina manusia “seperti” halnya menghina  Tuhan. Nabiyullah Muhammad SAW begitu menghargai umat manusia tanpa membedakan apa agamanya. Suatu Ketika ada seseorang yang meninggal dan kala di bawa ke kuburan, maka melewati Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad SAW berdiri dan menghormatinya. Seorang  sahabat memberitahu bahwa yang meninggal itu adalah orang Yahudi, maka Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa yang meninggal tersebut adalah manusia. Artinya, Nabi Muhammad SAW tetap menghargainya meskipun yang bersangkutan tidak sama keyakinannya.

Dengan demikian, Islam sesungguhnya memiliki konsep dan pengamalan beragama yang sangat menghargai umat manusia. Tidak ada perbedaan antara satu dengan lainnya. Bahkan tidak dibedakan berdasar atas agamanya. Saya teringat pada ungkapan Gus Dur, Beliau menyatakan: “jika kita berbuat baik, maka orang tidak akan bertanya apa agama kita”. Sebuah ungkapan yang memberikan panduan, bahwa berbuat baik itu harus dilakukan oleh siapapun tanpa harus dibebani dengan agama apa yang dipeluknya.

Islam tidak membedakan lelaki dan perempuan dalam konstruksi sosial. Lelaki dan perempuan sama-sama diberi peluang berada di ruang public yang relevan dengan kapasitas dan kemampuannya. Jika masih ada yang manyatakan bahwa perempuan hanya boleh di ruang domestic, maka hal tersebut tentu bisa dipengaruhi oleh pemahaman, lingkungan dan budaya masyarakatnya. Jika di Afghanistan, perempuan bahkan tidak boleh sekolah, maka hal ini bukanlah ajaran Islam tetapi merupakan budaya masyarakat Afghanistan yang memang menjadikan perempuan sebagai manusia kelas dua. Manusia yang hanya menjadi pelengkap kehidupan.

Islam menempatkan perempuan sebagai manusia utama. Perempuan ditempatkan di dalam maqam yang tinggi. Bahkan surga itu berada di telapak kakinya. Kebaikan Tindakan manusia kepada Ibunya akan menjadi factor penting untuk menjadi keluarga surgawi. Di dalam Islam terdapat sebuah cerita tentang keutamaan seorang anak karena menghormati dan berperilaku baik kepada ibunya. Demi memperoleh keridlaan Ibunya, maka ada seorang pemuda yang dengan rela menggendong ibunya sambil berjalan kaki dari Madinah ke Mekkah untuk menghajikannya. Disadari benar bahwa keridlaan ibunya adalah keridlaan Allah SWT.

Suatu Ketika, Khalifah Umar bin Khattab datang ke Mesir, dan Beliau menjumpai ada seorang pemuda Nasrani yang dipukul perutnya oleh putra gubernur Mesir. Ammar memukul pemuda Koptik karena kemarahannya. Dia marah karena kalah dalam lomba pacuan kuda. Maka kala Umar mengetahui hal ini, maka umar menyatakan: “Hai Amar sejak kapan  engkau memperbudak manusia, padahal dia dilahirkan dari rahim ibunya dalam keadaan merdeka”. Setiap anak dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan suci. Tidak ada perbedaan agama, status sosial dan strata sosial orang tuanya. Anak yang dilahirkan oleh Abu Jahal dan istrinya juga dilahirkan dalam keadaan suci. Anak itu akan menjadi apa tergantung pada factor luar, misalnya orang tuanya.

Menilik atas konsep Islam seperti ini, maka sungguh ajaran tersebut kompatibel dengan prinsip dalam kehidupan orang Jawa. Islam itu tidak emban cindhe emban siladan. Jika di dalam tradisi Jawa terdapat ajaran kesetaraan, kesamaan,  kesederajatan dan keadilan, maka Islam juga mengajarkannya. Jadi bisa dipahami jika para waliyullah di masa lalu menyatakan agar kita menjadi orang Islam Jawa, sebab antara ajaran Islam dengan tradisi Jawa bukanlah berada di dalam posisi bertentangan tetapi saling mensupport.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

EMBAN CINDHE EMBAN SILADAN: KESETARAAN DALAM TRADISI JAWA (1)

EMBAN CINDHE EMBAN SILADAN: KESETARAAN DALAM TRADISI JAWA (1)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kesetaraan menjadi isu penting di dalam kehidupan masyarakat terkait dengan gerakan-gerakan kesadaran untuk memperoleh akses yang sama di dalam kehidupan. Tidak mesti kesamaan dalam konsepsi kaum komunis, akan tetapi kesadaran bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan yang sama, sehingga juga harus memperoleh akses yang sama di dalam kehidupan tersebut.

Gerakan kesetaraan, keadilan, dan kesamaan dalam hak dan kewajiban memperoleh momentum penting di tengah kesenjangan social yang semakin menguat dan akses kehidupan yang semakin tidak memberikan peluang bagi wong cilik untuk terlibat di dalam upaya perbaikan kehidupan. Joseph E. Stiglitz pernah mengingatkan akan bahayanya ketidakseimbangan dan social economy gap di tengah kehidupan social. Di dalam bukunya yang masyhur dan mengantarkannya untuk mendapatkan hadial Nobel, The Great Divided, telah diperingatkan bahwa dewasa ini terdapat group 1 persen yang menguasai kelompok 99 persen. Jika kesenjangan ini tidak dipikirkan dan dibuat kebijakan yang mendekatkan jarak keduanya, maka dunia di dalam bahaya. Begitulah pesan utamanya.

Kemudian juga tidak kalah menarik tentang gerakan perempuan yang juga menuntut kesamaan, kesetaraan dan keadilan bagi perempuan. Ada semacam anggapan bahwa terjadi gender oppression, gender disequality dan gender differentiation. Dugaan kaum perempuan bahwa kaum perempuan itu tertindas, tidak memiliki kesamaan dan terjadi perbedaan dalam banyak hal, bukan dalam kodratnya sebagai perempuan tetapi yang dikonstruksikan oleh kaum lelaki. Gerakan gender kemudian menjadi bersearah dengan gerakan perempuan untuk menuntut hak.

Sesungguhnya di dalam filsafat Jawa terdapat ungkapan emban Cindhe Emban Siladan, yang makna secara terminologisnya adalah yang satu digendong dengan kain bertatahkan emas permata dan yang lain digendong dengan  kain terbuat dari bambu atau kayu. Artinya bahwa ada yang diutamakan dan yang lain dipinggirkan. Ada yang diberikan akses yang luar biasa dan yang lain tidak memiliki akses sama sekali. Prinsipnya bahwa terdapat perbedaan perlakukan yang nyata atau perilaku actual yang membedakan antara satu dengan lainnya.

Memang konteks ungkapan ini pada urusan domestic, atau antar anak dan keluarga. Akan tetapi sesungguhnya bisa ditarik secara lebih luas untuk kelompok, masyarakat dan bahkan negara. Di dalam cerita pewayangan, misalnya bisa digambarkan peristiwa yang melibatkan relasi antar saudara antara Bambang Sumantri dengan Bambang Sukosrono. Bambang Sumantri itu ganteng, tampan dan berwibawa, sementara itu Bambang Sukosrono itu jelek, cebol dan tidak elok perawakannya. Maka Bambang Sumantri diterima menjadi prajuit bahkan kemudian diangkat menjadi panglima perang (patih)  di Kerajaan Magadha dengan rajanya Arjuna Sasrabahu. Sukosrono tidak diberikan akses untuk bertemu di ruang public, padahal yang memiliki kesaktian adalah adiknya ini, bukan Bambang Sumantri. Karena Sukrosrono nekad ingin terlibat di ruang public, maka ditakut-takuti dengan senjata terhunus, dan pusaka saktinya akhirnya terlepas dan menyebabkan Sukosrono meninggal dan barulah Bambang Sumantri tersadar bahwa tindakannya itu salah. Pada saat menghadapi sakaratul maut, Sukosrono mengatakan: “saya tidak akan menghadap kepada Tuhan kecuali bareng dengan kakak”. Akhirnya Bambang Sumantri meninggal di tangan Raja Dosomuko atas bantuan Sukosrono. Keduanya kemudian menghadap kepada Tuhan secara bersamaan.

Prinsip di dalam Islam adalah membangun kesetaraan. Di dalam Islam yang membedakan antara satu manusia dengan lainnya adalah ketaqwaannya. Di dalam Alqur’an dinyatakan bahwa: “hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan kami jadikan kamu  berbangsa-bangsa dan bersuku-suku  supaya kamu saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa di antara kamu”. (QS: Alhujurat, 13).

Islam tidak membedakan antara lelaki dan perempuan kecuali dalam kodratnya. Misalnya perempuan hamil dan lelaki tidak. Perempuan menyusui dan lelaki tidak. Perempuan memiliki kandungan dan lelaki tidak. Jadi ada kesamaan dan ada perbedaan. Maka yang sama tentu harus disamakan dan yang berbeda tentu harus dibedakan. Islam tidak menghalangi perempuan untuk terlibat di ruang publik. Pada zaman Nabi Muhammad SAW ada perempuan yang terlibat di dalam peperangan. Misalnya Nusaibah binti Ka’ab Al Anshoriyah, seorang muslimah yang berperang melawan pasukan Quraisy.

Dalam keadaan yang paling genting, perang, Islam tidak melarang lelaki dan perempuan untuk bersama berjuang di jalan Allah. Dengan demikian tidak salah jika diambil kesimpulan bahwa perempuan tentu diperkenankan untuk berjuang di dalam sector kehidupan lainnya.

Mungkin di antara kita masih terjebak pada pemikiran tentang ketidaksamaan dalam pewarisan, misalnya konsep sakpikul  untuk lelaki, dan sakgendongan  untuk perempuan. Di dalam konteks penafsiran Islam, maka kemudian terdapat penafsiran baru yang tidak hanya terpateri para teksnya tetapi juga konteksnya. Maka, Prof. Dr. Munawir Syadzali, Menteri Agama, menggagas penafsiran baru yang lebih bernuansa kesetaraan dan kesamaan antara anak lelaki dan perempuan. Tidak hanya melihat perbedaan fisik lelaki dan perempuan, akan tetapi juga memperhitungkan akan kondisi yang terjadi di dalam keluarga. Prinsip yang dikembangkan adalah bagaimana di dalam keluarga tersebut terdapat keadilan di dalam mengelola dan mengatur harta untuk kepentingan bersama.

Jika kemudian ditarik pandangan komplementer antara ajaran Islam dengan filsafat hidup orang Jawa, maka sebenarnya tidak terjadi pertentangan. Antara Islam dan budaya Jawa itu merupakan dua entitas yang saling menyatu dalam substansinya, meskipun secara kebahasaan terdapat perbedaan. Memang, Islam dan filsafat Jawa merupakan satu kesatuan substansial dan fungsional. Bukan sesuatu yang berlawanan. Jadi tidak perlu orang Jawa Islam berkeinginan menjadi Islam Arab dalam segala hal. Tetaplah menjadi orang Jawa dengan Islam sebagai pedoman untuk melakukan tindakan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

RAWE-RAWE RANTAS MALANG MALANG PUTUNG: TRADISI HEROIK ORANG JAWA

RAWE-RAWE RANTAS MALANG MALANG PUTUNG: TRADISI HEROIK ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Orang Jawa memiliki banyak ungkapan yang menggambarkan tentang semangat dan kerja keras untuk kehidupan. banyak unen-unen orang Jawa yang disalahpahami, misalnya nggremet-nggremet angger slamet dan alon-alon waton kelakon, yang dianggap sebagai penghambat kemajuan. Dianggap sebagai budaya tidak efektif dan tidak efisien. Bahkan yang lebih parah dianggap sebagai anti kemajuan. Sungguh salah orang memahami budaya Jawa seperti itu. Dua tradisi tersebut bukanlah anti perubahan  atau anti kemajuan, tetapi sebenarnya adalah budaya hati-hati, agar proses dan hasilnya benar.

Tradisi Jawa sesungguhnya anti grusa-grusu atau anti ketergesa-gesaan. Budaya Jawa itu anti mental menerabas. Mental menerabas sebenarnya diakibatkan oleh keinginan memperoleh sesuatu dengan cepat. Mental ini yang menyebabkan orang ingin sukses secara cepat atau menjadi kaya secara cepat dan akhirnya melupakan bahwa produk yang diperoleh secara cepat dengan cara yang tidak etis, juga akan menghasilkan ketidakselamatan. Ada ungkapan di dalam Bahasa Inggris, easy come easy go. Yang datang cepat juga akan pergi dengan cepat. Betapa banyak orang yang menghasilkan kekayaan melimpah dengan cepat tetapi berakhir dengan kehidupan yang nista karena dipenjara.

Kembali kepada tema kita sekarang, maka bagi Orang Jawa terdapat ungkapan yang luar biasa, yaitu: “rawe-rawe rantas malang-malang putung”. Arti harafiyahnya adalah tumbuhan yang mengganggu tanaman harus disingkirkan dan yang menghalagi agar dipotong. Arti secara istilahnya adalah jika ada yang menghalangi atas maksud dan tujuan yang sudah dicanangkan agar dapat disingkirkan atau dipatahkan. Inilah prinsip yang menunjukkan kekuatan jiwa dalam upaya mencapai tujuan.

Prinsip dalam tradisi Jawa ini bukanlah sikap permisif, yang terkait dengan tujuan menghalalkan segala cara. Tetapi harus tetap berada di dalam prinsip mencapai tujuan yang baik dengan cara yang baik. Orang Jawa secara etika tidak diperkenankan untuk mencapai tujuan dengan cara yang tidak etis. Misalnya ingin menjadi kaya dengan cara korupsi, menjadi tinggi jabatannya dengan kolusi, dan menjadikan diri dan kerabatnya dalam keberhasilan dengan nepotisme.

Islam sesungguhnya mengajarkan satu prinsip “Jihad” tidak dalam konteks “perang” di dalam negara yang damai, akan tetapi di dalam konteks “berusaha secara sungguh-sungguh”. Jika seorang pelajar maka dia harus belajar keras, jika mahasiswa harus berusaha keras agar sukses, jika pekerja juga harus bekerja keras agar berhasil, jika pegawai negeri juga harus bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, jika pengusaha juga harus bekerja optimal agar sukses usahanya. Di dalam pepatah berbahasa Arab dinyatakan “man jadda wajadda”, siapa yang berusaha secara sungguh-sungguh maka pastilah berhasil. Peribahasa di dalam Bahasa Indonesia dinyatakan “belajar pangkal pandai”, “hemat pangkal kaya”. Artinya agar bisa pandai maka harus belajar sungguh-sungguh dan jika ingin kaya maka jangan boros dan harus berhemat. Semuanya tidak terkait dengan mental menerabas, misalnya tanpa belajar ingin dapat nilai bagus, maka terpaksa nyontek, tanpa kerja keras ingin kaya, maka korupsi.

Ungkapan rawe-rawe rantas malang-malang putung tersebut pernah menjadi ungkapan sakti pada waktu perang kemerdekaan. Kala peperangan melawan kaum penjajah, Belanda dan sekutunya berlangsung maka Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari mencetuskan gagasan untuk melakukan “Resolusi Jihad” pada 22 Oktober 1945 yang sangat terkenal di dalam sejarah perjuangan bangsa. Tanggal 10 November 1945 menjadi ajang pertempuran masyarakat Surabaya dengan Belanda dan sekutunya. Para santri, para prajurit dan masyarakat saling bahu membahu untuk mempertahankan kota Surabaya dari penguasaan penjajah. Para pejuang itu bisa membunuh Jenderal Mallaby pimpinan pasukan Sekutu dalam perang Surabaya. Bendera di atas Hotel Oranje, yang semula berwarna Biru, Merah dan putih atau warna bendera Belanda, maka yang warna biru disobek sehingga yang tertinggal warna adalah warna merah putih. Teriakan Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar  yang dikumandangkan Bung Tomo melalui RRI Surabaya begitu mempengaruhi atas mindset para pejuang.

Para pejuang di Surabaya itu hanya berbekal bambu runcing, sementara itu para penjajah menggunakan senapan atau bedil, akan tetapi dengan semangat jihad atau rawe-rawe rantas malang-malang putung, maka pasukan Balanda dan sekutu berhasil dipukul mundur. Begitulah heroiknya para mujahidin yang berperang pada 10 November 1945. Sejarah seperti ini harus menjadi common consciousness dari semua warga negara Indonesia.

Para generasi muda harus belajar sejarah, bahwa mempertahankan negeri ini sungguh-sungguh dengan jihad di jalan Allah dengan mengorbankan jiwa dan raga. Jihad bukan dalam bentuk melawan bangsa sendiri dan untuk mencapai keinginannya sendiri, tetapi jihad melawan musuh yang akan menjajah negeri ini. Pada era damai tentu tidak cocok menggunakan makna jihad dalam konteks perang, tetapi harus menggunakan konsep jihad dalam berjuang untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia sesuai dengan peran dan fungsi kita masing-masing.

Wallahu a’lam bi al shawab.

ALON-ALON WATON KELAKON: PRINSIP HIDUP ORANG JAWA

ALON-ALON WATON KELAKON: PRINSIP HIDUP ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di antara prinsip hidup Orang Jawa yang sangat mendasar selain gremet-gremet angger slamet juga alon-alon waton kelakon. Bagi orang yang pesimis, akan menyatakan bahwa kloplah sudah. Ada   ungkapan gremet-gremet angger slamet ditambah dengan alon-alon waton kelakon. Maka pastilah orang Jawa itu tidak efektif, efisien dan serba lambat dalam memahami, menyikapi dan melakukan tindakan di dalam kehidupan.

Ungkapan sebagai prinsip orang Jawa inilah  yang sering kali dijadikan sebagai instrument untuk beranggapan bahwa orang Jawa  itu pemalas. Makanya muncul gagasan orang Barat tentang pribumi malas. Yang kemudian dibantah oleh Naguib al Attas, bahwa pribumi malas merupakan mitos yang sengaja diciptakan oleh kaum penjajah agar terus bisa menjajah terhadap bangsa inlanders.

Alon-alon artinya adalah pelan-pelan. Pelan-pelan bukan berarti lambat atau malas. Alon-alon merupakan suatu cara yang ditempuh dalam melakukan suatu perilaku yang didasari oleh pemahaman, sikap dan tindakan yang penuh kehati-hatian dan tidak tergesa-gesa. Sikap ketergesa-gesaan diyakini tidak akan menghasilkan produk yang baik. Di dalam prinsip alon-alon waton kelakon tidak menafikan atas orang yang professional yang bisa bekerja cepat. Bagi mereka yang bisa bekerja cepat tentu merupakan orang yang telah memiliki sejumlah pengalaman terkait dengan pekerjaannya. Namun demikian, kecepatan bekerja secara professional juga tetap harus mengedepankan kehati-hatian. Hati-hati  merupakan fondasi dasar dari prinsip alon-alon waton kelakon.

Ungkapan ini sangat popular pada msyarakat Jawa terutama mereka yang lahir sebagai generasi baby boomer (lahir di bawah tahun 1960), hingga generasi X (lahir tahun 1960-1980). Namun bagi generasi yang lahir sebagai generasi Y (tahun 1980-2000) sudah kurang mengenal dengan prinsip-prinsip Jawa seperti ini. Generasi milenial yang lebih cenderung dengan media sosial sudah nyaris tidak kenal lagi dengan prinsip-prinsip kehidupan orang Jawa yang di masa lalu diagungkannya.

Di dalam Islam sebenarnya juga terdapat ajaran yang terkait dengan ketidaketisan untuk melakukan sesuatu secara tergesa-gesa. Rasulullah  SAW menyatakan bahwa “tergesa-tega itu berasal dari syaithan, kecuali lima hal, yaitu: menyegerakan  memberi makan bagi tamu jika menginap, mengurus jenazah, mengawinkan anak perempuan yang sudah baligh, menyegerakan membayar hutang yang akan jatuh tempo dan menyegerakan bertaubat. Hal ini terdapat di dalam Kitab Nashaihil Ibad.

Tindakan tergesa-gesa itu rawan masalah. Apalagi jika hal tersebut dilakukan oleh seorang pemimpin yang seharusnya mengedepankan kehati-hatian. Seorang pemimpin itu adalah orang yang akan memutuskan kebijakan. Makanya, jika di dalam membuat kebijakan lalu tidak didahului dengan pemikiran yang mendasar, maka akan didapatkan masalah pada kelak di kemudian hari.

Pengambilan keputusan yang dilakukan secara tergesa-gesa dipastikan dilakukan secara sepihak. Seharusnya seorang pemimpin akan membuat kebijakan yang didahului dengan serangkaian kajian yang mendasar dan juga mendengarkan banyak pihak, baik yang pro maupun kontra. Dengan cara seperti ini, maka seorang pemimpin akan dapat menyusun kebijakan yang relevan dengan tuntutan kebutuhan. Bisa membuat kebijakan mana yang urgen, dan important. Mana yang penting dan mendesak dan mana yang tidak penting dan tidak mendesak.

Kembali kepada ajaran jangan tergesa-gesa tersebut, maka di dalam Islam disyariatkan agar kita tidak melakukan Tindakan tergesa-gesa. Dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa tindakan tergesa-gesa itu merupakan pengaruh syaitan. Kita diperkenankan untuk bercepat-cepat dalam misalnya memberikan makanan atau suguhan bagi tamu. Ada nyanyian di dalam Bahasa Jawa: “e..dayohe teko, e..gelarno kloso, e..klasane bedah e..tambalen jadah. Jika ada tamu, maka agar segera diterima dengan menempatkannya pada tempat yang baik, jika tempatnya kurang bagus, maka sesegera mungkin diberikan makanan atau minuman. Jadah adalah sejenis makanan di dalam tradisi Jawa. Menambal tikar dengan jadah  adalah symbol segera memberikan makanan untuk menutup segala kekurangan.

Islam juga mengajarkan bahwa anak yang sudah berkemampuan secara fisik dan batin agar segera dinikahkan. Hadits Nabi Muhammad SAW menyatakan, yang artinya: “wahai para pemuda yang sudah memiliki kemampuan maka segeralah menikah”. Oleh karena itu segera menikah tentu baik saja selama sudah memenuhi dimensi kemampuan fisik dan batin dimaksud.

Islam juga mengajarkan agar menyegerakan memakamkan mayat. Oleh karena itu, di beberapa daerah di Jawa,  masyarakat segera menguburkan mayat meskipun meninggalnya pada malam hari. Mayat tidak disimpan untuk menunggu esok hari. Begitu meninggal maka begitu segera dimakamkan. Lalu berikutnya adalah membayar hutang. Bagi orang yang punya hutang, maka agar segera dibayarkan. Bahkan jika ada keluarga yang meninggal, maka selalu diumumkan ketika menjelang penguburan, bahwa jika si mayat punya hutang yang belum terbayarkan agar pihak penghutang segera memberitahukan kepada keluarga.

Yang tidak kalah penting dan bahkan sangat penting adalah menyegerakan bertaubat kepada Allah SWT. Islam menganjurkan agar manusia mempercepat pertaubatannya jika melakukan kekhilafan. Allah SWT menyatakan, yang artinya kurang lebih adalah “sesegeralah memohon ampunan kepada Tuhanmu dan memohonlah surganya yang luasnya seperti langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang beriman”. Oleh karena itu membaca dan menghayati istighfar merupakan perbuatan baik dan terpuji yang sangat disukai oleh Allah SWT.

Demikianlah ajaran Islam yang sangat mulya, dan hal ini relevan dengan prinsip-prinsip di dalam tradisi Jawa. Ajaran Islam dan prinsip Jawa  tersebut merupakan dua hal yang saling memberi dan menerima melalui dialog tradisi yang sangat unik dan menarik.

Wallahu a’lam bi al shawab.