• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TEGO LARANE GAK TEGO PATINE: FILSAFAT KASIH SAYANG ORANG JAWA

TEGO LARANE GAK TEGO PATINE: FILSAFAT KASIH SAYANG PADA ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Orang Jawa dikenal memiliki filsafat hidup yang unik. Filsafat dalam kehidupan tersebut diwujudkan di dalam paugeran atau pedoman kehidupan yang diajarkan dari mulut ke mulut.  Melalui pengajaran yang bersifat oral tersebut, maka  akan  bisa menyebabkan  paugeran ke depan  menjadi hilang di tengah perubahan social, terutama dari intervensi budaya luar, salah satunya adalah budaya Barat.

Orang Jawa memiliki ekspressi yang unik di dalam kehidupan, khususnya terkait dengan kasih sayang kepada keluarga khususnya anak, cucu dan kerabat dekat atau orang yang hidup di dalam keluarga. Orang Barat dikenal ekspresif dalam relasi suami istri, tetapi tidak demikian terhadap orang tua atau anak. Terhadap orang tua, misalnya corak hubungannya lebih longgar, jika orang tua sudah tidak lagi bisa melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, kala anak-anaknya sudah dewasa dan berumah tangga, maka orang tua akan dititipkan di panti jompo. Rumah jompo menjadi peristirahatan di kala sudah tua. Anak-anaknya tidak mau ribet dengan urusan menidurkan, membangunkan, memandikan, memberi makan dan mengatur kehidupan orang tua. Anak-anak akan lebih terfokus pada pekerjaan atau urusan rumah tangganya sendiri. Meskipun kala masih kanak-kanak mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dari orang tuanya, akan tetapi di kala mereka sudah memiliki tanggung jawab sendiri dalam keluarga,  maka orang tua harus ikhlas berada dan hidup di panti jompo.

Hal ini sangat berbeda dengan filsafat hidup orang Jawa. Orang Jawa itu memiliki kasih sayang yang tidak terbatas baik kepada anak maupun orang tua bahkan kepada cucu. Di kalangan orang Jawa, menyayangi cucu itu luar biasa besarnya. Bahkan dikatakan melebihi kasih sayang kepada anak. Jika cucunya dimarahi orang tuanya, maka kakek atau eyangnya yang akan membelanya. Banyak kakek atau nenek yang menyatakan seperti itu. Demikiajn pula  kasih sayang kepada orang tua juga tidak ada batasnya. Jika ada anak yang menitipkan orang tua kepada panti jompo, maka dianggapnya hal itu  sebagai perbuatan durhaka. Yakni orang yang tidak membalas budi baik orang tuanya, yang melahirkan, merawat dan membesarkannya. Bagi orang Jawa mengurus anak adalah tugas dan kewajiban utama. Tugas nomor satu di dalam kehidupan.

Itulah sebabnya, di dalam ungkapan Jawa dikenal konsep  tego larane ora tego patine. Ungkapan ini memberikan gambaran bahwa bagi orang Jawa, maka anak, orang tua, cucu dan keluarga dekat itu merupakan orang yang ditegakan kala sakit tetapi tidak ditegakan kematiannya. Ungkapan ini bukan merupakan perilaku pembiaran atas keluarga yang sakit, akan tetapi untuk menggambarkan atas ketidaktegaan atas ketiadaan seorang keluarga yang  meninggal. Sakit itu masih bisa dirawat dan  diobati artinya masih ada peluang untuk hidup, akan tetapi kematian dipastikan tidak ditegakan, karena kehilangan akan orang yang dicintainya. Jadi orang Jawa itu sangat merasakan kehilangan atas keluarganya yang wafat dan diungkapkan dengan ora tego patine.

Orang Jawa akan menolak sebagaimana gambaran di dalam tayangan yakni orang tua yang dirawat oleh robot, yang sudah diinstal dengan tata cara merawat orang tua. Artificial intelligent tersebut sudah dilengkapi dengan tata cara membangunkan dan menidurkan, memandikan dan berpakaian, makan dan minum, membersihkan kala kencing dan buang air besar dan seluruh tata cara kehidupan. Pada suatu ketika, orang tua itu meninggal. Robot menjadi bingung karena robot itu tidak diinstal untuk memahami kematian. Orang  tua itu dibangunkan, ditepuk-tepuk dan diingatkan untuk bangun, tetapi diam saja. Jadi robot tidak paham tentang mati yang memang belum diinstalkan kepadanya.

Merawat orang tua bukanlah barter atas kerja orang tua untuk merawatnya ketika kecil. Akan tetapi adalah tanggungjawab seorang anak kepada orang tuanya. Sebiah kesadaran dari dalam bahwa anak memiliki tanggungjawab untuk merawatnya. Tidak ada paksaan atas pekerjaan tersebut. Ungkapan anak durhaka tentu sangat menyakitkannya. Tentu saja ada juga yang menegakannya akan tetapi yang bertindak dengan sepenuh kesadaran untuk merawat orang tua tentu lebih banyak atau mayoritas.

Islam sangat menghargai atas kasih sayang. Bahkan dalam hal zakat, infaq atau shadaqah, maka diutamakan untuk keluarga terdekat atau dzawil qurba. Lebih baik memberikan sedekah kepada keluarga dekat dibandingkan dengan bersedekah kepada orang lain yang tidak jelas siapa orangnya. Jika kita memiliki uang yang cukup, maka zakat dan sedekah itu hendaknya diberikan kepada orang miskin, kaum fuqara’, ibn sabil misalnya orang yang belajar dan orang yang dalam perjuangan untuk kebaikan dan keluarga terdekat.

Islam sangat menganjurkan agar di dalam keluarga tetap dijaga untuk menjauhi neraka. Dinyatakan: “qu anfusakum wa ahlikum nara”.  Yang artinya: “Jagalah keluargamu dari api neraka”. Gambaran dari ayat ini, bahwa yang diutamakan oleh sebuah keluarga adalah menjaga agar semua keluarganya itu mengamalkan ajaran Islam secara kaffah dan menjauhi larangan Tuhan. Selama di dalam keluarga tersebut terdapat pengamalan ajaran Islam, maka kasih dan sayang akan tetap lestari.

Selain itu juga terdapat ajaran tentang bagaimana prilaku manusia yang satu atas lainnya, yang seharusnya berbasis kasih sayang.  Yang tua menyayangi yang muda dan sebaliknya. Hadits Nabi menyatakan: “laisa minna man lam yarham shaghirana  wa ya’rifu syarafa kabirana”.  Yang artinya: “tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak mengerti kemuliaan yang tua di antara kita”.

Kasih sayang adalah ajaran prinsip di dalam Islam. Islam itu mengedepankan keselamatan, maka tidak ada keselamatan tanpa adanya kasih sayang. Oleh karena itu kasih sayang orang tua kepada anak dan kasih sayang anak terhadap orang tua dapat dikaitkan dengan prinsip hidup orang Jawa tego larane ora tego patine.

Wallahu a’lam bi al shawab.

IRI DAN DENGKI ADALAH SIKAP NEGATIF

IRI DAN DENGKI ADALAH SIKAP NEGATIF

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Adakah iri dan dengki yang bernuansa positif? Rasanya tidak. Iri dan dengki adalah penyakit hati yang sulit disembuhkan apalagi jika iri dan dengki sudah menjadi tabiat yang berbasis pada bakat dari dalam diri seseorang. Jika iri dan dengki sudah menjadi tabiat atau sifat yang melazimi kehidupan seseorang, maka penyakit hati ini akan terus bercokol di dalam diri dan tidak mudah untuk dikendalikan.

Sahabat saya, Titik Suryani, anggota WAG Reuni PGA 1977 menanyakan kepada saya tentang bagaimana jika kita itu iri pada keberhasilan seseorang,  tetapi tidak berupaya untuk menjelekkannya atau menggunjingnya. Secara lengkap konten WAG tersebut sebagai berikut: “Prof, tolong jelaskan pada kami ya kalau salah.  Memang  iri dan dengki adalah penyakit hati, tetapi bukankah iri itu  memotivasi seseorang ya Prof. Maksudnya keberhasilan seseorang, tetangga punya mobil atau  tetangga membeli perabot-perabot rumah tangga lantas kita iri kepingin berhasil, pingin punya mobil atau punya perabot  seperti dia sebagaimana yang Prof contohkan di atas,  tetapi tidak sakit hati terhadap keberhasilan orang tersebut. Kita ingin punya mobil dan perabot rumah tangga seperti dia dengan memicu dan bagaimana usaha kita agar bisa seperti dia.  Lain  halnya dengan  dengki, kalau dengki kita tidak senang melihat keberhasilan orang lain dan bahkan kita berusaha untuk mencelakai  orang tersebut. Itu kesan saya terhadap iri dan dengki Prof. Tolong  luruskan asumsi saya ini Prof agar saya tidak salah membedakan antara keduanya,  iri dan dengki.  Dengan  penuh kerendahan hati  saya mohon berikan penjelasan ya Prof. Terima kasih sebelumnya. Oke. Salam sehat semua”.

Saya ingin menyatakan bahwa iri dan dengki itu penyakit hati sehingga jika di dalam diri seseorang terdapat sifat ini, maka dipastikan akan terdapat ekspresi dari sifatnya itu, yaitu menjelekkan, mengunjingkan dan bahkan mendoakan kejelekan pada seseorang yang dianggapnya sukses di dalam kehidupan. Tidak ada ruang di dalam dirinya untuk tidak melakukan apa yang dirasakannya. Jadi bukan sebuah Tindakan yang berisi kebaikan karena sifat iri dan dengki tersebut. Iri merupakan sifat yang selalu melihat keberhasilan orang lain dan merasa bahwa orang tersebut lebih beruntung. Sementara dia tidak beruntung. Jika sifat iri itu dilestarikan, maka lama kelamaan akan menjadi dengki atau ketidaksukaan pada keberhasilan orang lain.

Adakah orang yang iri dan dengki lalu tidak mengekspresikan perasaannya di dalam tindakan yang buruk?. Jawabannya tidak ada. Iri dan dengki merupakan penyakit hati yang akan terus bercokol di dalam hati selama tidak ada upaya untuk menyadari bahwa iri dan dengki adalah sebuah penyakit. Yaitu penyakit hati. Jika seseorang senang melihat ada kebaikan dan kesuksesan pada seseorang maka hal tersebut tidak bisa dinyatakan sebagai iri apalagi dengki. Sebab iri dan dengki adalah sikap suka melihat kesuksesan orang dan kemudian berujung pada ketidaksukaan dan kebencian yang berlanjut pada ekspresinya yang bisa merugikan pada orang lain. Selalu melihat kebehasilan orang lain dapat menjadi pintu masuk tumbuhnya sifat dengki.

Kita terkadang harus mengapresiasi atas keberhasilan orang lain. Mungkin memuji dengan tujuan yang ikhlas bukan untuk basa-basi atau sekedar menyenangkan hati orang lain, apalagi bahwa dengan pujian tersebut diharapkan akan membawa imbal balik apa saja yang sesuai dengan tujuannya. Jika ada maksud yang tidak baik, maka sesungguhnya bukan apresiasi yang positif akan tetapi ekspresi yang negatif. Ekspresi apresiasi yang baik itu timbul dari keikhlasan dan bukan dari yang lain. Jadi memuji boleh dengan tanpa ada keinginan atau kepentingan pribadi.

Di dalam dunia pewayangan, maka ada seorang tokoh Namanya Sangkuni, Maha Patih Hastinapura. Dia selalu memuji Prabu Duryudono, keponakannya, dengan sanjungan yang berlebihan. Hal itu dilakukan sebab dia tahu bahwa keponakannya itu mabuk pujian. Dan jika dipuji maka segala hal yang diusulkan oleh Sang Maha Patih akan dikabulkan. Dan kemauan Sangkuni itulah yang kemudian menjadi kebijakan Negara Hastinapura. Perang Baratayudha adalah rekayasa Sang Maha Patih Sangkuni dan mendapatkan persetujuan Doryudona dan segenap pejabat Hastinapura.

Memang di dalam kehidupan ini ada orang yang sangat suka dipuji. Jika dipuji, maka hati dan perasaannya menjadi sangat gembira dan merasa hebat. Bahkan juga ada orang yang senang bercerita keberhasilannya di depan orang lain. Mungkin ini manusiawi sebab orang memang ingin diakui prestasinya. Tetapi jika perasaan ini berlebihan akan membawa kepada masalah tersendiri. Jadi, sudah seharusnya kita membatasi untuk memuji orang dan juga membatasi untuk mengungkap kesuksesan yang bisa dicapai. Seharusnya kita bersikap wajar dalam menghadapi relasi sosial kepada siapa saja agar tidak jatuh kepada sikap pujian yang berlebihan.

Seandainya kita melihat ada orang sukses, maka yang harus dilakukan adalah: pertama, mengkaji apa rahasia kesuksesannya. Kita pelajari untuk menjadi teladan di dalam kehidupan. jika usaha yang dilakukan sudah kita pahami dan kita melakukan yang sama tetapi tidak berhasil maka berarti masih ada variable lain yang belum kita pahami. Tetapi sekali lagi bukan iri dan dengki yang muncul tetapi belajar dari dirinya.

Kedua,  di dalam Islam terdapat trilogy kehidupan, yaitu: ikhtiyar, tawakkal dan doa. Usaha bisa dipelajari. Usaha bisa diduplikasi. Usaha bisa dilakukan. Usaha itu sesuatu yang kasat mata, yang terlihat. Tetapi tetap ada sesuatu yang berada dibalik usaha. Sesuatu yang menjadi ketentuan kesuksesan atau kegagalan. Di sinilah kita tawakkal atau pasrah kepada Allah SWT akan kegagalan atau kesuksesan. Jika gagal jangan putus asa. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Orang yang sukses bukanlah orang yang berhasil di dalam mencapai sesuatu tetapi orang yang bisa bangkit dari kegagalannya. Kemudian berdoa. Jangan pernah meremehkan doa. Ada pandangan bahwa 80 persen keberhasilan itu karena doa yang dilantunkan kepada Sang Pemilik Kesuksesan, Allah SWT. Ada banyak cerita sukses karena doa. Jangan pernah berhenti berdoa kepada Allah SWT.

Ketiga,  jangan merasa bahwa kesuksesan itu karena kemampuan kita, akan tetapi adalah pemberian Tuhan kepada kita. Saya merupakan salah seorang yang merasakan bahwa prestasi yang saya capai bukan karena kemampuan saya akan tetapi karena welas asih Gusti Allah. Pemberian Allah SWT. Sama sekali tidak karena kepandaian, kehebatan dan kekuatan yang saya miliki tetapi semata-mata rahmat Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

OJO IRI LAN DENGKI: FILSAFAT HIDUP ORANG JAWA TENTANG PENYAKIT HATI

OJO IRI LAN DENGKI: FILSAFAT HIDUP ORANG JAWA TENTANG PENYAKIT HATI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

 

Hidup itu tidak lama. Rata-rata usia orang adalah 70 tahun. Bisa ada yang lebih dalam beberapa kasus dan ada yang kurang juga dalam beberapa kasus. Orang akan merasa menjadi tua saat usianya sudah berada di atas 60 tahun. Ditandai dengan semakin melemahnya fisik, kurangnya ingatan dan juga semakin lemahnya pemikiran dan sebagainya.

Ada ujaran bahwa tua hanyalah usia, tetapi pemikiran dan gerak tidak boleh ikut menjadi tua. Saya menulis tentang “Menjadi Tua Sehat dan religious” (nursyamcentre.com), sebuah refleksi atas realitas yang menggambarkan tentang betapa seharusnya orang harus tetap optimis di tengah semakin tua usia. Banyak orang yang tidak hanya fisiknya yang renta tetapi juga pemikirannya. Kita harus berguru pada orang-orang yang terus beraktivitas, apakah menulis, apakah menjadi aktivis atau tetap menjaga kebugaran di saat usia merambat tua.

Islam mengajarkan agar kita berdoa kepada Allah SWT, Tuhan kita semua, agar kita diberi umur yang panjang, thawwil umurona, dan sehat fisik kita,  wa ahsin ajsadana, dan bercahaya kehidupan kita dengan kebaikan, wa nawwir qulubana, dan tetap dalam keimanan kepada Allah SWT, wa tsabbith imanana. Alangkah indahnya doa ini terutama bagi kita yang sudah berumur. Kita meminta usia yang panjang, tetapi tetap sehat dan berada di dalam keimanan kepada Allah SWT.

Di dalam usia yang tidak panjang tersebut, orang Jawa diajari agar jangan iri dan dengki atau ojo iri lang dengki. Keduanya adalah penyakit hati yang sangat berbahaya bagi kehidupan kita. Iri itu ada kaitannya dengan keinginan atau desire  yang tidak tercapai, sementara orang lain mendapatkannya. Bahkan sering diungkapkan “saya bekerja lebih keras, tetapi saya tidak mendapatkannya, sementara dia bekerja seadanya tetapi mendapatkannya”. Iri itu penyakit yang datang dari dalam diri manusia. Di  dalam teori social disebut sebagai in order to motive, atau motif dari dalam diri atau internal motive.

Sebagai manusia tentunya kita memiliki banyak keinginan. Ingin sukses dalam bekerja, ingin kaya dengan harta, ingin jabatan yang tinggi, ingin sejahtera, dan ingin bahagia. Tidak semua keinginan itu tercapai. Bisa juga ada yang tercapai dan ada yang tidak. Yang tercapai membuat senang dan yang tidak tercapai membuat susah atau sedih bahkan juga putus asa. Jika seseorang memiliki sifat iri, maka yang diukur hanya satu kata “sukses”. Seseorang akan menjadi marah jika tujuannya tidak berhasil. Di dalam dirinya hanya ada kata berhasil, sehingga dia akan mencari-cari penyebab ketidakberhasilan tersebut dan kemudian menyalahkan yang lain bahkan  juga menyalahkan Tuhan, sebagai dzat yang tidak memihak kepadanya. Itulah sebabanya Islam mengajarkan agar kita tidak berputus asa atas rahmat Allah SWT.  Wa la taiasu min rauhilllah.

Kemudian dengki  ialah sifat yang dimiliki oleh seseorang untuk tidak suka atas orang lain karena keberhasilannya di dalam kehidupan. Jika ada orang yang berhasil maka dia akan tidak suka, melakukan gunjingan kepada yang lain, bahkan juga tidak jarang melakukan fitnah atas orang tersebut. Orang yang dengki akan merasa tidak senang dengan kebahagiaan dan kesenangan orang lain. Makanya dengki disebut dengan penyakit hati karena terkait dengan perasaan tidak senang atas kesuksesan atau kesenangan orang lain.

Ada tetangganya membeli mobil panas hatinya. Ada tetangganya yang membeli barang-barang rumah tangga panas hatinya dan ada tetangganya yang naik jabatan sakit hatinya dan sebagainya.

Orang yang seperti ini disebut ahli SMS atau Senang Melihat Orang Susah (SMS) atau Susah Melihat Orang Senang (SMS). Di dalam kehidupan ini tentu terdapat orang dengan tipe seperti ini. Ada yang memang tabiat atau bakatnya memang seperti itu dan ada yang karena factor luar. Keduanya memang tidak bisa dipisahkan. Satu dengan lainnya saling terkait secara sistemik. Tetapi orang yang memiliki bakat atau tabiat seperti itu akan lebih sulit untuk menghilangkan sifat buruk ini dibanding yang memang hanya karena factor luar saja.  Bagi orang yang memiliki bakat, maka akan kesulitan untuk menghentikan sifat ini, yang tentu berbeda dengan yang hanya karena factor eksternal.

Di dalam Islam sifat seperti itu disebut sebagai hasad atau bisa diterjemahkan sebagai iri dan dengki. Di dalam Islam disebutkan  sebagai  wa la tajassasu atau jangan mencari-cari kesalahan orang lain dan wa la tahasadu  atau jangan membenci orang yang memperoleh kesenangan. Kemudian  wa la tabaghadu  atau jangan membenci. Islam sedemikian rincinya memberikan gambaran tentang sifat manusia yang seharusnya tidak dilakukannya. Orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain bisa disebabkan karena kebencian dan ketidaksenangan. Demikian juga janganlah sesama umat Islam saling membenci dan menggunjing.

Di dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dinyatakan: “la tabaghadhu, wa la tahasadu, wa la tadabaru, wa kunu ‘ibadallahi ikhwana”, yang artinya: “janganlah kamu saling membenci, dan jangan saling iri hati, dan jangan saling menjauhi dan hendaknya menjadi hamba Allah yang saling bersaudara”. Betapa jelasnya hadits Nabi Muhammad SAW ini untuk dijadikan sebagai pedoman di dalam kehidupan.

Jika kita menilik atas ajaran Islam dan juga paugeran di dalam tradisi Jawa ini maka menjadi bukti bahwa antara Islam dan tradisi Jawa merupakan dua hal yang saling terkait, artinya tidak ada pertentangan satu dengan lainnya. Ya Islam, ya Jawa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

ANDHAP ASOR: MENJAGA KESOPANAN DALAM TRADISI JAWA

ANDHAP ASOR: MENJAGA KESOPANAN DALAM TRADISI JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religious. Labelisasi ini bukan sesuatu yang berlebihan, sebab bagi masyarakat Jawa,  agama adalah pedoman yang sangat mulya semenjak dahulu kala. Agama bagi masyarakat Jawa merupakan pedoman bertingkah laku, dan hal ini sudah berlangsung semenjak dahulu kala. Sebelum Islam datang ke Indonesia,  masyarakat Jawa sudah menjadikan  agama Buddha dan Hindu serta ajaran-ajaran lainnya misalnya ajaran Kapitayan, sebagai modal relasi kepada Tuhan dan juga sesama manusia.

Semua agama di dunia mengajarkan kebaikan untuk kehidupan. pesan-pesan agama mengandung ajaran moral yang adiluhung bagi kehidupan manusia. Semua agama mengajarkan agar membangun relasi dengan Tuhan secara memadai dan juga relasi social yang memadai. Jika kemudian terdapat kekerasan yang dikaitkan dengan agama tertentu, maka sebenarnya merupakan penafsiran manusia atas ajaran agamanya, dan bukan substansi ajaran agama tersebut. Makanya, di dunia ini juga terdapat “perang” yang bernuansa agama, artinya agama dijadikan sebagai penguat atas  konflik social yang dilakukan oleh dua atau lebih kelompok.

Orang Jawa mengajarkan prinsip filsafat kehidupan yang disebut sebagai andap asor. Atau prinsip tradisi yang bersubstansi pemahaman, sikap dan Tindakan yang bercorak sopan santun. Prinsip ini bertali temali dengan substansi ajaran tentang bagaimana seharusnya perilaku orang Jawa atas orang lain. Prinsip ini mengajarkan tentang ojo adigang adigung adiguna, ojo gumedhe, ojo dumeh dan sebagainya. Ajaran-ajaran ini mengunggah prinsip hidup yang menempatkan diri di dalam dunia social yang wajar dan bermartabat.

Andhap asor, secara kebahasaan berarti rendah hati dan sopan santun. Ungkapan Jawa ini juga dikaitkan dengan istilah seperti lembah manah lan andap asor. Yang artinya adalah rendah hati dan sopan santun.

Sopan santun merupakan ajaran yang sangat baik. Sopan santun sesungguhnya akan memberikan gambaran tentang bagaimana tingkat kesopanan kita di dalam relasi social. Melalui sikap dan Tindakan yang menggambarkan kesopanan, maka orang lain dapat menilai siapa sesungguhnya kita itu. Orang Jawa memiliki sejumlah indicator untuk mengetahui bagaimana sikap dan Tindakan orang lain. Contoh sederhana, misalnya  dari cara berjalan, cara duduk, cara berbicara, gerak  gesturnya dan cara memasuki ruang yang sudah ada orang di dalamnya. Semua ini sering dijadikan sebagai indicator tingkat kesopanan kita.

Orang Jawa misalnya jika duduk di bawah atau lantai tanah, maka duduknya mestilah bersila, bisa jadi ini berasal dari kata susila atau kepatutan. Jika melewati tempat orang duduk atau berdiri, maka akan menjulurkan tangannya ke bawah dengan punggung membungkuk dan biasanya diikuti dengan pernyataan “nuwun sewu” atau  atau mohon ijin. Ini merupakan perilaku orang Jawa yang selalu mengedepankan kerendahan pikiran dan hati. Makanya, di dalam makam-makam keramat, seperti para wali, maka pintu masuk ke dalam area makam itu pintunya rendah, sebagai perlambang agar orang merunduk atau menunduk sebagai bagian dari tatakrama atas orang yang dituakan atau para kekasih Allah. Semua melambangkan agar manusia memiliki tatakrama dalam relasinya dengan orang yang lebih tinggi derajad taqwanya kepada Allah swt.

Islam mengajarkan tentang ajaran tawadhu’ atau rendah hati bukan rendah diri. Orang yang rendah hati tidak menganggap bahwa dirinya yang paling hebat, paling kuat, paling berkuasa dan seterusnya. Akan tetapi dia tetap berada di dalam konteks kemanusiaan yang serba dhaif atau lemah tetapi bukan tidak berdaya. Lemah karena sesungguhnya kekuatan yang paling tinggi adalah milik Allah semata. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah swt.

Di dalam syarah shahih Muslim (Imam An Nawawi)  dinyatakan bahwa “sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu, sehingga seseorang merasa bangga lagi sombong terhadap orang lain dan juga tidak berlaku aniaya kepada orang lain”. Hadits ini memberikan gambaran bahwa orang Islam  itu seharusnya rendah hati dan tidak melakukan kesombongan terhadap orang lain. Orang Islam mesti harus sadar bahwa dirinya  tidaklah memiliki apa-apa jika Allah mencabut kekuatan fisik dan akalnya , bahkan ilmu dari dirinya.

Orang yang tawadhu’ tidak pernah menyombongkan diri, tidak pernah menganggap dirinya paling hebat dan tidak beranggapan bahwa dia tahu segalanya. Sebagai manusia pengetahuan kita sangat terbatas. Bahkan kita tidak tahu ada apa dibalik dinding sebelah kita duduk. Hanya orang khusus yang diberikan pengetahuan oleh Allah SWT karena kedekatannya atau taqarrubnya. Para waliyullah atau para ulama atau kyai yang memiliki kedekatan khusus kepada Allah SWT melalui riyadhohnya saja yang berpeluang diberikan pengetahuan lebih di atas manusia lainnya.  Di dalam dunia empiris kita mengetahui ada orang-orang yang mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh manusia lain. Mereka merupakan golongan orang yang weruh sakdurunge winarah atau mengetahui sesuatu tanpa dipelajari atau diberitahukan sebelumnya.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya jika orang-orang yang awam seperti kita ini tetap berada di dalam konteks kehidupan yang menjaga kesopanan dalam relasi dengan dunia social kita yang kompleks. Sesungguhnya manusia itu berharga jika menghargai orang lain, dan manusia tidak berharga jika selalu memandang rendah orang lain.

Ajaran kesopanan di dalam filsafat Jawa ini sungguh memiliki rujuan teks yang sangat kuat di dalam ajaran Islam, sehingga pantaslah jika kita tidak mempertentangkan Islam dan Jawa, karena keduanya sudah menyatu di dalam filsafat dan tradisi Islam Jawa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MIKUL DUWUR MENDHEM JERO: TINDAKAN ORANG JAWA  PADA HIRARKHI USIA

MIKUL DUWUR MENDHEM JERO: TINDAKAN ORANG JAWA  PADA HIRARKHI USIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Relasi  sosial orang Jawa sesungguhnya berpusat pada keluarga. Fungsi keluarga di dalam tradisi Jawa sangatlah mendasar. Keluarga berdasarkan kajian Hildred Geertz memiliki aneka macam fungsi. Ada sekurang-kurangnya delapan fungsi, yaitu fungsi pendidikan. Keluarga memiliki fungsi utama untuk melakukan pendidikan bagi anak-anak dan keluarga lainnya. Dari keluargalah pertama-tama seorang anak akan mengenal dunia Pendidikan, terutama adalah pendidikan moral yang berupa sopan santun di dalam relasi sosial. Lalu, fungsi sosialisasi, yaitu fungsi keluarga untuk mengenalkan atas pentingnya relasi sosial, baik di dalam maupun di luar keluarga.

Tidak kalah penting juga fungsi ekonomi, artinya bahwa keluarga adalah tempat untuk menyemai ekonomi agar kehidupan menjadi lebih sejahtera. Di dalam keluargalah kehidupan ekonomi akan terajut,  baik di dalam memanfaatkan pendapatan maupun untuk pengeluaran atau belanja rumah tangga. Kemudian fungsi ketahanan keluarga. Rumah merupakan tempat yang paling aman bagi keluarga dalam mengarungi kehidupan. Jika ada masalah, maka keluargalah yang akan melakukan penyelesaian secara optimal. Selanjutnya adalah fungsi rekreasi. Keluarga adalah tempat rekreatif yang paling menyenangkan. Baik bagi orang tua maupun anak-anak.  Maka  tempat rekreasi yang utama adalah keluarga. Berikutnya adalah fungsi agama. Keluarga adalah tempat menyemaikan pengetahuan, sikap dan pengamalan beragama. Keluarga  yang religiositasnya sangat baik, maka kehidupan agama di dalam keluarga juga akan sangat baik. Tidak kalah menarik adalah fungsi persahabatan. Meskipun di Jawa terdapat hirarkhi di dalam keluarga tetapi yang  penting bahwa keluarga merupakan tempat yang nyaman untuk persahabatan. Sikap yang muda terhadap yang tua adalah penghormatan dan sikap yang tua pada yang muda bukanlah dominasi.

Seterusnya adalah fungsi pemecahan masalah. Secara spesifik keluarga merupakan tempat yang paling nyaman untuk menyelesaikan berbagai persoalan di dalam relasi sosial. Makanya, relasi sosial yang kuat di dalam keluarga akan dapat menjadi jaminan akan kuatnya ikatan di dalam keluarga dimaksud. Dan yang terakhir adalah pengembangan SDM untuk kemandirian. Seseorang akan menjadi mandiri jika di dalam keluarga diajarkan kemandirian dan tanggung jawab.

Berbasis pada gambaran fungsi rumah tangga atau keluarga dimaksud, maka orang Jawa memiliki ungkapan yang sangat masyhur, yaitu mikul duwur mendhem jero. Suatu pengetahuan, sikap dan tindakan orang Jawa yang selalu berkeinginan untuk memulyakan yang lebih tua dan bahkan rela berkorban demi yang lebih tua dalam kebaikan. Sekali lagi bahwa yang menjadi ukuran pengorbanan adalah kebaikan dan bukan sebaliknya yaitu keburukan.

Meskipun konteks mikul duwun mendhem jero tersebut dalam lingkup mikro atau keluarga, akan tetapi sesungguhnya bisa diberlakukan untuk yang makro, misalnya masyarakat dan bahkan negara atau pemerintahan. Seorang anak harus memuliakan dan menghormati orang tuanya, kapan dan di mana saja. Seorang staf harus melakukan tupoksinya sebagai pertanggungjawaban pekerjaannya dan juga menghormati atasannya. Atasannya juga harus berlaku baik bagi bawahannya dan tidak menganggap bahwa stafnya adalah pekerjanya. Yang harus diutamakan adalah charisma institusi dan bukan charisma individunya.

Tidak hanya seperti itu, akan tetapi juga menjaga martabat orang tua, pemimpinnya dan para pemimpin sebelumnya. Jika terdapat kebaikan, maka harus dilestarikan dan jika ada yang jelek maka harus dipendam dalam-dalam. Seorang pemimpin yang baik bukan untuk mencari-cari kelemahan pemimpin sebelumnya dan mengungkapkannya di ruang public.

Di dalam ajaran Islam terdapat prinsip sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW, bahwa orang yang muda agar menghormat yang lebih tua dan yang tua menyayangi yang muda. Dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai berikut: “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak mengerti kemuliaan yang tua di antara kita”. (Hadits diriwayatkan Ammar ibn Syuaib). Islam sebagai ajaran yang menjadi pedoman di dalam kehidupan memberikan norma agar sesama manusia saling menyayangi. Ada tiga konsep penting di dalam relasi sosial, yaitu ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama umat Islam. Tidak seharusnya antar sesama umat Islam saling menjelekkan dan menghina atas pemahaman dan prilaku agamanya. Kecuali mereka yang melakukan penistaan atas ajaran agama. Lalu, persaudaraan sesama  umat manusia meskipun berbeda agama. Seharusnya di antara umat yang berbeda agama juga tidak saling menghina dan melecehkan. Jangan sampai perbedaan agama menjadi penyebab konflik antara satu dengan lainnya. Kemudian persaudaraan sesama warga bangsa. Sesama umat manusia di dalam suatu wilayah negara, maka harus mendahulukan kepentingan bangsa dan negara dibandingkan dengan kepentingan diri sendiri.

Bahkan Islam juga mengajarkan agar kita menyembunyikan aib sesama manusia. Jika kita tahu ada sesama manusia yang memiliki aib maka dilarang kita untuk menyebarkan aib tersebut bagi orang lain. Tidak seharusnya kita menyebarkan aib orang di ruang public sehingga orang lain menjadi menderita karenanya. Islam bahkan mengajarkan berdoa di dalam waktu duduk di antara dua sujud dalam shalat, agar Allah SWT menyembunyikan aib kita. Wajburni. Begitu bunyi doa kita.

Mikul duwur mendhem jero merupakan prinsip hidup orang Jawa yang memiliki kecocokan dengan prinsip di dalam ajaran Islam dalam relasinya dengan kehidupan kebersamaan. Oleh karena itu, tidak selayaknya dipertentangkan antara ajaran Islam dengan ajaran Jawa dalam merenda kehidupan di dunia.

Wallahu a’lam bi al shawab.