• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

OJO MUNG LAMIS: PRINSIP MENGEDEPANKAN  PERKATAAN YANG BENAR

OJO MUNG LAMIS: PRINSIP MENGEDEPANKAN  PERKATAAN YANG BENAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tidak ada manusia yang tidak memiliki relasi dengan manusia lain. Manusia memang hidup dalam dunia sosial yang terdiri dari banyak orang dalam berbagai penggolongan sosialnya. Ada penggolongan sosial berbasis suku, misalnya etnis Jawa, Madura, Batak, Sunda dan sebagainya. Ada juga penggolongan sosial berbasis pada politik, seperti keterlibatan seseorang dalam politik, misalnya orang PKB, orang PPP, orang Golkar, orang Demokrat, orang PDIP dan sebagainya. Ada juga penggolongan agama, misalnya orang Islam, orang Kristen, orang Katolik, orang Hindu, orang Buddha, orang Konghucu, orang kebatinan dan sebagainya. Dan ada juga penggolongan berbasis ekonomi, misalnya  petani, pengusaha, pedagang, wong gede, wong cilik dan sebagainya.

Di dalam pergaulan tersebut, biasanya seseorang akan menggunakan pengetahuan budayanya untuk menjadi pattern for behaviour di dalam relasi sosialnya. Orang Jawa akan menggunakan pengetahuan budayanya sebagai orang Jawa untuk berkomunikasi dengan lainnya. Demikian pula orang Madura, orang Betawi, orang Banjar dan sebagainya. Sementara itu lawan relasinya juga akan menggunakan pengetahuan budayanya. Lalu apakah tidak terjadi benturan di antara pengetahuan budaya pada masing-masing. Jawabannya tidak sebab di dalam kebudayaan tersebut ada pola umum yang bisa dipahami maknanya oleh orang lain yang berbeda budaya. Pedomannya adalah pola umum kebudayaan, yang hal tersebut dimiliki oleh semua pelaku kebudayaan.

Bangsa Indonesia tentu beruntung karena memiliki common platform yang berupa Bahasa Indonesia, sehingga antara satu suku dengan lainnya bisa berkomunikasi. Keuntungan menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di dalam pergaulan antar suku tentu merupakan hal yang perlu diapresiasi. Andaikan yang dijadikan bahasa resmi di dalam pergaulan itu bahasa Jawa karena mayoritas, tentu suku lain akan merasa menjadi warga negara kelas dua. Sebagai contoh di Afghanistan  ada sebanyak tujuh suku bangsa, akan tetapi yang dijadikan bahasa resmi negara adalah Bahasa Fasthun, sehingga suku bangsa lainnya merasa tidak memilikinya.

Di dalam kehidupan sosial, maka manusia menggunakan bahasa sebagai cara untuk menyampaikan gagasan, ide atau pikiran. Komunikasi tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan lisan atau tulisan. Jika tulisan menghasilkan feedback, sedangkan di dalam pernyataan lisan akan menghasilkan respon. Feedback itu terkait dengan kesan tidak langsung yang diakibatkan oleh bacaan atas tulisan, sedangkan respon adalah kesan langsung yang diterima oleh lawan pembicaraan. Makanya, ada orang yang langsung menanggapi atas pembicaraan orang dan ada yang tidak langsung karena membaca dari tulisan. Dalam konteks tersebut, maka ada orang yang berbicara dengan seganap perasaan dan hatinya dan ada yang berbicara hanya sekedar basa-basi.

Di dalam berkomunikasi maka sesungguhnya terdapat suatu etika agar orang bicara dengan kejujuran atau antara apa yang diucapkan di bibir dengan hati nurani harus memiliki kesamaan. Di tengah kenyataan sosial yang semakin kompleks, maka ada banyak orang yang berkata dengan kepura-puraan. Hanya di bibir saja. Apa yang dikatakan hanya untuk pemanis relasi sosial. Orang berkata tidak dengan hati nuraninya. Di dalam Bahasa Jawa dikenal konsep inggih-inggih boten kepanggih atau “iya-iya tetapi tidak menjadi kenyataan”. Atau di dalam Bahasa Inggris disebut  lip sing atau nyanyian bibir. Orang yang semacam ini di dalam filsafat Jawa diajari dengan konsep ojo mung lamis. Yang artinya kurang lebih adalah jangan hanya di bibir, jangan hanya berbicara yang baik-baik saja atau berbicara yang manis-manis saja.

Seirama dengan perubahan sosial yang cepat, maka banyak sikap dan tindakan yang ambivalen atau sikap ganda. Hal ini tentu terkait dengan semakin kompleksnya relasi sosial, sehingga menyebabkan orang bisa bermuka dua atau bermuka banyak. Bisa dinyatakan di dalam Bahasa pewayangan sebagai Dasamuka atau orang yang memiliki sepuluh wajah. Jadi,  kala bertemu dengan Si Fulan akan bercerita begini dan kepada Si Dadap akan bercerita begitu dan kepada Si Waru bercerita lain lagi.

Ojo mung lamis merupakan filsafat hidup orang Jawa agar di dalam relasi sosial kita menyatakan atau bertindak apa adanya. Jangan dibuat-buat, jangan direkayasa. Berkata apa adanya. Jangan di depan orang menyatakan ini, tetapi di belakang menyatakan itu. Hidup agar berterus terang, apa adanya. Kalau suka katakan suka,  kalau tidak suka katakan tidak suka. Jangan hanya karena ingin menyenangkan orang tertentu kita harus menyatakan yang tidak sesuai dengan hati.    Nabi Muhammad SAW menyatakan: “quill l haqqa wa law kana murran”, yang artinya: “berkatalah yang benar walaupun hal itu pahit”. Ungkapan ini menggambarkan agar kita tetap menyatakan apa adanya meskipun itu pahit untuk dinyatakan dan pahit untuk didengarkan.

Bahkan yang lebih berat lagi adalah konsep munafik atau orang yang berpura-pura percaya kepada kebaikan, moral dan agama padahal sebenarnya tidak. Dia menyatakan iman kepada Allah, dia menyatakan amalan ibadah, dia menyatakan mentaati moralitas agama padahal di dalam kenyatannya sama sekali tidak. Jadi ada perbedaan antara apa yang diucapkan dan apa yang menjadi kenyataannya. Di depan orang menyatakan mempercayai kebaikan tetapi di dalam realitas kehidupannya ternyata tidak.

Di dalam kehidupan ini kita tidak boleh lamis, ojo mung lamis, tetapi kita harus menyatakan yang sesungguhnya. Suatu kesamaan antara apa yang dinyatakan dan apa yang dilakukan. Janganlah menjadi orang yang hanya mengedepankan kebaikan di muka sedangkan kelakuannya berbeda. Yang lamis  saja diharapkan tidak  dilakukan, apa lagi kalau kita sampai mendustakan kebenaran yang sesungguhnya sudah diketahui.

Wallahu a’lam bi al shawab.                            

 

 

 

 

MENYAMBUT NISFU SYA’BAN: NGAJI DAN MAKAN BARENG

MENYAMBUT NISFU SYA’BAN: NGAJI DAN MAKAN BARENG

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Doa kita akhir-akhir ini adalah Allahumma bariklana di Rajab wa Sya’ban wa balighna Ramadlan. Yang artinya: “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan usia kami pada bulan Ramadlan”. Sebuah doa dan kepasrahan untuk meminta kepada Allah agar kehidupan kita  di bulan Rajab dan Sya’ban itu diberkahi Allah SWT dan kemudian dipanjangkan usia kita untuk hidup pada bulan Ramadlan.

Di dalam kenyataannya, ada orang yang tidak diberi peluang oleh Allah SWT karena keburu dipanggil menghadap-Nya menjelang bulan Ramadlan. Ada yang tiba-tiba sakit dan kemudian meninggal. Maka doa kita adalah agar kita dipanjangkan usia,  sehingga bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadlan, bahkan Ramadlan yang akan datang. Melalui panjangnya usia, maka kita masih diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi waktu yang sudah dijanjikan oleh Allah, yang tidak bisa dimajukan atau dimundurkan, yaitu datangnya  Malaikat Izrail, Sang Pencabut nyawa.

Tanpa dirasakan ternyata kita sudah sampai pada pertengahan bulan Sya’ban yang dikenal sebagai  nisfu sya’ban. Dan sebagaimana biasanya, pada malam nisfu sya’ban, maka umat Islam Indonesia melakukan serangkaian kegiatan untuk menyambutnya. Tradisi seperti ini hanya khusus di Indonesia saja. Mungkin ada juga di negara lain, tetapi tidak seramai di Indonesia. Masyarakat Indonesia memang doyan upacara-upacara keagamaan. Misalnya upacara idul fithri dan keanekaragaman acara di seputarnya, yang sangat ramai di Indonesia. Padahal di Saudi Arabia tidak dijumpainya. Upacara atau hari raya idul fithri itu sedemikian gegap gempita dengan pulkam atau pulang kampung.

Pada tahun 2023 M atau 1444 H, maka Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya juga menyelenggarakan acara ˜nisfu sya’ban, yang diselenggarakan pada malam Rabo, 07/03/2023 ba’dan maghrib. Sebuah acara yang sangat sederhana. Sebab hanya diikuti oleh sejumlah orang dari warga perumahan. Bahkan tidak semuanya. Di antara yang hadir adalah Ketua Takmir, Pak Rusmin, Sekretaris Ta’mir Pak Budi, Bendahara Ta’mir, Pak Hardi, Firdus, Alif, Pak Suyuti Rasyad, dan lain-lain. Sementara juga hadir para Ibu-ibu perumahan Lotus, yaitu Bu Indah Nur, Bu Suyuti, Bu Rusmin, Bu Budi, Bu Ina, dan lain-lain.

Sebagai acara yang sederhana, maka Firdaus yang membuka acara ini, saya yang mengantarkan acara nisfu sya’ban, Alif yang memimpin bacaan Yasin, dan Pak Suyuti yang memimpin doa. Sebagai pengantar, saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, kita harus terus mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas kenikmatan bisa hidup sampai hari ini. Dan kita masih diizinkan hidup. Semoga kita bisa menikmati bulan Ramadlan hingga akhir dan bertemu dengan bulan Ramadlan berikutnya. Kita diizinkan sehat, kita diberikan kecukupan hidup, kita diberikan kehidupan yang layak dan kenikmatan lain yang tidak bisa dihitung. Bahkan kita tidak akan bisa menghitung atas nikmat Allah tersebut.

Kedua, pada malam hari ini, kita secara bersama-sama akan menyambut datangnya malam nisfu Sya’ban.  Suatu malam yang Allah SWT akan memberikan banyak pahala atas kebaikan yang kita lakukan. Allah menganjurkan agar kita melakukan amal kebaikan pada malam nisfu Sya’ban.  Makanya kita akan membaca surat Yasin, sebagaimana tradisi ulama. Tidak usah dipertanyakan kenapa surat Yasin. Silahkan bagi yang mau membaca surat-surat Al Qur’an lainnya silahkan, misalnya membaca Surat Arrahman, Al Waqiah, An Naba’ atau Al Ikhlas. Pokoknya membaca Al Qur’an. Kita juga akan membaca Shalawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, kita juga akan membaca kalimat tauhid. Yang penting pada malam ini kita baca kalimat-kalimat yang menjadi kesukaan Allah SWT, bacalah dalam  jumlahnya yang ganjil, bisa 3 atau 5 atau 33 dan sebagainya. Bagi yang membaca shalawat 100 kali maka malam ini menjadi 200 kali, yang membaca kalimat tauhid 33 kali,  tambah jumlahnya.  Selain itu juga sedekah. Ingat ash shadaqatu tadfa’u lil bala’.  Yang artinya: “sedekah itu menghindarkan dari marabahaya”. Bahkan  kita membuat orang lain tertawa saja sudah memperoleh pahala.  Idkholus surur. Dan membuat senyum pada orang lain itu adalah amalannya Rasulullah Muhammad SAW. Kita bikin tertawa pasangan hidup kita masing-masing juga sedekah. Agar keluarga kita senang dan bahagia.

Ketiga, saya mengucapkan terima kasih karena malam ini kita bisa  sedekah. Ada makanan gulai sapi, pisang goreng, roti, dan sebagainya. Alangkah enaknya selesai membaca Surat Yasin, shalawat dan istighfar lalu kita bisa makan Bersama. Inilah indahnya menjadi umat Islam. Dalam satu acara,  tidak hanya ada satu pahala tetapi banyak pahala. Ada pahala baca surat fatihah, ada pahala membaca surat Yasin, ada pahala membaca istighfar, kalimat tauhid, dan shalawat Nabi Muhammad SAW. Selain itu juga ada doa. Sungguh doa itu amalan yang penting. Bahkan ada yang menyatakan bahwa selain usaha dan tawakkal, maka ada doa yang menjadi kunci. Doa itu memegang kunci keberhasilan.

Saya sungguh mengucapkan terima kasih atas kesediaan ibu-ibu untuk membawa makanan di tempat ini. Hal ini merupakan sedekah yang nyata. Oleh karena itu kita berharap bahwa ada keikhlasan dalam membawa makanan sebagai sedekah bersama ini. Sebab keikhlasan memegang kunci penting dalam pemberian pahala oleh Allah SWT. Kita telah memberikan yang terbaik untuk kita. Dari kita untuk kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

ANAK POLAH BOPO KEPRADAH: RELASI TANGGUNGJAWAB DALAM TRADISI JAWA

ANAK POLAH BOPO KEPRADAH: RELASI TANGGUNGJAWAB DALAM TRADISI JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Keluarga memiliki banyak peran, dan salah satunya adalah peran tanggung jawab sosial di dalam keluarga. Seorang ayah dan ibu memiliki tanggungjawab yang sedemikian besar pada anak-anaknya dan keluarga yang berada di dalam rumah tangganya. Sedemikan besar  tanggung jawab tersebut, maka orang tua rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan anak-anaknya. Orang tua akan bersedian untuk memenuhi keinginan anak-anaknya. Apa saja akan dilakukan agar cita-cita anak-anaknya dapat terealisasikan.

Saya kira seluruh orang tua di dunia akan memiliki perlakuan yang hampir sama terhadap anak-anaknya. Memberi asupan makanan, memberikan kasih sayang, dan memberikan tanggung jawab atas apa yang diinginkan oleh anak-anaknya. Hanya pada kasus khusus saja jika ada orang yang menelantarkan anaknya, menitipkan anaknya ke panti asuhan atau bahkan berbuat kekerasan pada anaknya. Kehidupan sosial termasuk kehidupan keluarga memang kompleks dan terkadang juga ada yang berdeviasi atau menyimpang. Tetapi secara umum bahwa kasih sayang orang tua itu sungguh tidak terbatas. “Kasih sayang anak sepanjang galah, kasih sayang orang tua sepanjang jalan”

Tidak hanya manusia yang sedemikian besar tanggung jawabnya pada anaknya. Hewan juga memiliki kasih sayang yang luar biasa. Ada banyak tayangan di you tube yang bercerita bagaimana kasih sayang hewan atas anaknya. Bahkan rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan anaknya. Tayangan yang mengharukan bagaimana hewan memiliki rasa kasih sayang yang demikian hebat.

Di dalam cerita Alqur’an terdapat suatu cerita yang mungkin aneh di dalam benak kita, yaitu tentang pengorbanan Nabi Ismail untuk memenuhi perintah Tuhan. Kala Ismail sudah menginjak remaja, maka Allah perintahkan untuk mengorbankannya. Hal ini dilakukan semata-mata menguji kesetiaan dan kepatuhan Nabi Ibrahim atas perintah Allah. Ternyata Nabi Ibrahim sangat mematuhi perintah tersebut. Ismail pun memberikan dukungan atas pelaksanaan perintah dimaksud. Tapi ending cerita ini berakhir bahagia, sebab Nabi Ismail yang akan dikorbankan tersebut tiba-tiba berubah menjadi domba besar. Dari ajaran agama seperti ini, maka kemudian menghasilkan ritual korban yang jatuh pada hari raya Haji.

Salah satu di antara filsafat hidup orang Jawa adalah anak polah bopo kepradah. Yang arti dalam Bahasa Indonesia adalah anak melakukan sesuatu orang tua yang harus bertanggung jawab. Orang tua tidak ikut melakukan perbuatannya akan tetapi orang tua yang harus mempertanggung jawabkan. Itulah hukum dunia. Anak adalah bagian tidak terpisahkan dari orang tuanya. Anak merupakan replica orang tuanya. Jika anak melakukan kebaikan, maka kebaikan itu merupakan replica orang tuanya, tetapi anak yang melakukan kejelekan belum tentu merupakan replica orang tuanya. Tetapi perbuatan baik dan buruk anak seringkali diasosiasikan dengan perilaku orang tua.

Ada anak yang melakukan kebaikan, maka dinyatakan orang: “anak siapa ya, begitu bagus amal perbuatannya”. Demikian pula jika ada anak yang melakukan kejahatan, maka orang lalu menyatakan: “pantes anaknya fulan, kelakuannya seperti itu”. Tetapi ada yang orang tuanya melakukan perbuatan sangat baik, tetapi anaknya justru berlaku sebaliknya. Jadi di dalam kehidupan ini ada bermacam-macam perilaku manusia yang bisa saja tidak tergantung kepada siapapun. Semua  tergantung pada pilihannya.

Putra Nabi Nuh, Kan’an, juga tidak mengindahkan ajakan orang tuanya untuk mengikutinya. Kala disampaikan bahwa akan ada banjir besar dan dimintanya untuk masuk ke dalam kapal Nabi Nuh, maka Kan’an justru menjawab bahwa dia akan naik gunung yang tinggi, dan akhirnya tenggelam. Jadi  merupakan gambaran bahwa anak seorang Nabi pun bisa saja tidak mengikuti dakwah orang tuanya.

Di dalam tradisi Jawa terdapat suatu filsafat kehidupan, yaitu anak polah bopo kepradah.  Jika anak melakukan suatu tindakan,  maka orang tuanya yang harus mempertanggung jawabkannya. Anak yang melakukan tindakan kejahatan dan orang tuanya yang harus mempertanggung jawabkan atas tindakan tersebut. Anaknya yang mencuri tetapi kala ditangkap polisi maka orang tuanya yang harus membebaskannya. Anaknya yang menjadi berandal tetapi bapaknya yang kena getahnya.

Tetapi di sisi lain, juga terdapat anak yang menjadi penghafal Alqur’an sementara itu orang tuanya bukanlah ahli agama. Orang tuanya bukan seorang ulama, kyai atau ahli agama yang hebat. Ternyata memang hidup ini ada kalanya antara apa yang dilakukan orang tuanya bisa saja berbeda dengan prilaku anak. Jadi yang terpenting bahwa apapun yang dilakukan anak tidak semata-mata menggambarkan siapa orang tuanya. Masih ada factor lain, misalnya factor lingkungan yang menyebabkan terjadinya perilaku seseorang.

Islam mengajarkan: “”kullu mauludin yuladi ‘alal fithrah. Fa in abawahu yuhawwidanihi, auw yunasshiranihi auw yumajjisanihi”. Yang artinya kurang lebih “setiap anak dilahirkan dalam keadaaan suci, maka orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”. Dari sini bisa diambil suatu kesimpulan bahwa orang tua termasuk lingkungan memang memiliki pengaruh atas perilaku anak, dan menjadi pantas jika kala anak melakukan suatu tindakan kemudian  orang tuanya ikut mempertanggung jawabkannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

NGUNDHUH WOHING PAKARTI: FILSAFAT AKIBAT TINDAKAN ORANG JAWA

NGUNDHUH WOHING PAKARTI: FILSAFAT AKIBAT TINDAKAN ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tidak ada fakta yang berdiri sendiri kecuali ada fakta penyebabnya. Demikianlah kehidupan manusia juga tidak ada suatu hal atau perilaku yang berdiri sendiri kecuali berkaitan dengan fakta-fakta lain yang mengitarinya. Demikianlah konsepsi ahli ilmu sosial di dalam melihat kehidupan manusia dengan keanekaragaman perilaku di dalamnya. Manusia juga dipastikan melakukan sesuatu yang  ada kaitannya dengan orang lain atau yang disebut sebagai medan interaksi sosial.

Di dalam konsepsi ahli ilmu sosial lainnya juga dinyatakan bahwa tidak ada suatu tindakan  yang tidak didasari oleh tujuan tertentu. Manusia melakukan tindakan rasional bertujuan atau ada tujuan dibalik seseorang melakukan sesuau atau individu di dalam melakukan tindakannya. Setiap tindakan yang ditujukan kepada orang lain disebut sebagai tindakan sosial atau social action. Jadi, tidak ada orang yang melakukan tindakan yang ditujukan kepada orang lain tanpa tujuan. Jika ada orang yang melakukan sesuatu tanpa didasari oleh tujuan melakukannya, maka tidak disebut sebagai tindakan sosial. Orang gila misalnya melakukan tindakan yang tidak bisa disebut sebagai Tindakan sosial karena tidak ditujukan tindakannya tersebut untuk orang lain.

Di dalam filsafat Jawa dikenal ada suatu konsep yang disebut sebagai ngundhuh wohing pakarti, yang di dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan mendapat akibat dari  perilakunya. Akibat tersebut bisa positif dan bisa juga negative tergantung dari apa yang dilakukannya. Jika yang dilakukannya baik, maka akan berakibat kebaikan dan jika yang dilakukan kejelekan akan berakibat pada kejelekan. Jadi akibat itu erat kaitannya dengan apa yang dilakukan oleh seorang individu.

Di dalam cerita pewayangan, misalnya di dalam cerita Ramayana atau Baratayudha, maka didapatkan gambaran bahwa para Kurawa itu kalah di dalam peperangan karena tindakan licik yang dilakukannya selama itu  terhadap para Pandawa. Misalnya di dalam episode Pandawa Main Dadu, misalnya kemenangan Kurawa adalah karena kelicikan Mahapatih Sangkuni, dan salah satu episode yang sangat bertolak belakang dengan moral dan perilaku seorang ksatria adalah di kala Dursasono menelanjangi Dewi Drupadi istri Yudistira. Tetapi karena pertolongan para Dewa, maka Dewi Drupadi tidak bisa ditelanjangi karena kain yang dipakai itu tidak ada ujungnya. Dari sini, Dewi Drupadi bersumpah atau supata bahwa dia akan meminum darah Dursasono, dan akhirnya itulah yang terjadi. Demikian pula di dalam cerita Ramayana, Dosomuka atau Rahwono  akhirnya juga harus menelan kekalahan di dalam peperangan melawan Romowijoyo. Indrajit yang memiliki kesaktian tiada tara juga bisa dikalahkan, demikian pula Dosomuko yang memiliki kesaktian tiada tara juga berhasil dikalahkan oleh Romowijoyo.

Di dalam tradisi Jawa itu semua menggambarkan yang disebut sebagai ngundhuh wohing pakarti. Menerima akibat dari perilakunya yang tidak baik. Pandangan hidup orang Jawa sangat dipengaruhi oleh kayakinannya bahwa perilaku baik akan menghasilkan kebaikan dan perilaku kejahatan akan menghasilkan kejahatan. Siapapun yang melakukan kebaikan maka dipastikan akan memperoleh ganjaran atau pahala yang berupa kebaikan, dan siapa yang melakukan kejahatan juga akan memperoleh akibat dari apa yang dilakukannya tersebut.

Di dalam kehidupan sehari-hari akan dengan sangat mudah untuk diketahui tentang hal tersebut. Misalnya jika kita adalah seorang pemimpin yang baik, maka akan dikenang kebaikan kita itu, tetapi jika kita bukan pemimpin yang baik juga akan dikenang oleh orang lain tentang kepemimpinan kita itu. Pemimpin yang baik adalah yang mengedepankan humanisme sebagai inti kepemimpinan. Di dalam Bahasa Jawa disebut sebagai Nguwongke uwong atau memanusiakan manusia. Sebuah ungkapan yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan. Harimau mati meningglkan belang, gajah mati meninggalkan daging dan manusia mati meninggalkan budi baik.

Jika kita suka menolong orang, maka kita juga akan ditolong orang. Jika kita suka memberikan sedekah kepada orang, maka Allah juga akan membalas perilaku kita. Bahkan terkadang balasan itu hanya berjarak dalam waktu yang dekat. Artinya Allah langsung memberikan pengalaman nyata bagi para pelaku kebaikan ini. Kata kawan saya, kalau kita itu nyahnyoh atau memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa perhitungan, maka Allah juga akan nyahnyoh kepada kita. Kebaikan kita kepada orang lain terkadang langsung dibalas oleh Allah melalui orang lain.

Di dalam Islam sungguh sangat banyak ayat yang menyebutkan tentang adanya balasan atas perilaku yang dilakukan oleh seseorang. Misalnya di dalam konsep surga dan neraka atau Jannah dan nar. Orang yang di dalam kehidupan di dunianya melakukan tindakan yang baik, maka akan memperoleh pahala yang berakibat akan masuk surga, dan bagi orang yang melakukan kejelekan maka akan memperoleh balasannya yang berupa masuk neraka. Dan di antara ukuran untuk menentukannya adalah kepatuhan kepada ajaran agama Islam sebagaimana disyariatkan oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW.

Di dalam Surat An Nahl, ayat 97 dinyatakan yang artinya: “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami berikan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Sebaliknya, bagi yang melakukan keburukan, maka Allah akan membalas keburukannya tersebut. Dinyatakan di dalam Surat Al Kahfi, ayat 106, yang artinya: “demikianlah balasan mereka itu neraka Jahanam, dIsebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok”.

Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa antara filsafat Jawa dengan ajaran Islam itu sesuatu yang saling menyatu. Tidak bisa dipisahkan, sebab di dalam ajaran Islam terdapat juga filsafat kehidupan Jawa dan sebaliknya. Tentu saja menyamakan keduanya bukan dalam konteks merendahkan salah satunya akan tetapi adalah koherensi yang bisa dipahami.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BECIK KETITIK OLO KETORO: FILSAFAT PEMBALASAN TINDAKAN ORANG JAWA

BECIK KETITIK OLO KETORO: FILSAFAT PEMBALASAN TINDAKAN ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sesungguhnya agama apapun mengajarkan agar orang berbuat kebaikan. Tidak ada agama yang mengajarkan penganutnya untuk melakukan kejahatan. Namun demikian, di dunia ini masih banyak orang beragama yang melakukan kerusakan di bumi, membangun kebencian dan merusak perdamaian. Semua hal ini difasilitasi oleh penafsiran agama yang bersesuaian dengan kepentingan dan egoisme social pada dirinya. Agama yang sebenarnya mengajarkan kedamaian lalu berubah menjadi konflik social berkelanjutan.

Islam adalah agama keselamatan. Di antara doktrin pentingnya adalah mengajarkan kerahmatan bagi seluruh alam. Manusia diajari agar menjaga rahmat Tuhan Yang Maha Esa di dalam perilakunya, tidak hanya kerahmatan bagi manusia tetapi kerahmatan bagi seluruh alam. Jagad cililk atau alam kemanusiaan atau mikro kosmos  dan jagad gedhe alam makro kosmos atau alam semesta. Islam mengajarkan bukan hanya rahmatan lil muslimin akan tetapi rahmatan lil ‘alamin.

Ada banyak filsafat hidup orang Jawa yang bisa dilacak di dalam ungkapan-ungkapan Jawa yang hingga sekarang masih dilestarikan. Meskipun, yang melestarikannya adalah para sesepuh yang usianya di atas 50 tahun. Generasi muda Jawa yang sudah terpengaruh oleh budaya perkotaan dan lebih khusus budaya barat jarang yang memahami ungkapan Jawa yang memiliki derajat keluhuran.  Banyak generasi muda Jawa yang sudah melupakan pitutur luhur bangsanya. Mungkin dunia pendidikan juga memiliki andil melupakan atas tradisi leluhur tersebut karena tergerus oleh program pendidikan yang barat minded. Bisa jadi semua yang datang dari Barat itu kebaikan, sehingga kebaikan di dalam tradisi Jawa dilupakannya.

Sudah banyak di antara generasi muda sekarang yang tidak lagi bisa berbicara dalam Bahasa Jawa atau kromo inggil. Bahasa Jawa ngoko masih bisa tetapi ketika harus menggunakan Bahasa Jawa halus, maka semua sudah keteteran. Hal ini juga terdapat pengaruh pendidikan yang sudah tidak lagi menjadikan tradisi Jawa sebagai mata pelajaran yang wajib dilakukan. Sementara di rumah juga sudah tidak lagi menjadikan tradisi Jawa dan Bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi antar yang tua dan muda.

Padahal sangat banyak tradisi dan filsafat Jawa yang adiluhung, misalnya  becik ketitik olo ketoro.  Yang arti dalam Bahasa Indonesia adalah kebaikan akan didapatkan balasannya, dan kejelekan juga akan diketahui akhirnya. Orang Jawa berpandangan bahwa kebaikan itu meskipun disembunyikan pada suatu ketika akan didapatkan balasan atas kebaikan tersebut, demikian pula kejahatan atau kejelekan juga suatu ketika akan diketahui juga. Orang tidak boleh takut untuk melakukan kebaikan, sebab kebaikan tersebut ditekan seperti apapun juga akan terdapat balasan yang sesuai dengan kebaikannya. Orang Jawa harus takut dengan kejelekan atau keburukan, sebab keburukan tersebut juga lama kelamaan akan diketahui juga. Seperti menyimpan bangkai, maka suatu ketika akan berbau juga. Becik ketitik olo ketoro adalah cara orang Jawa untuk mendidik generasi muda agar selalu berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan.

Dalam kasus yang akhir-akhir ini terjadi, misalnya Kasus Sambo dalam pembunuhan Brigadir Joshua. Meskipun kasus ini ditutupi sekuat-kuatnya, akan tetapi lama-kelamaan ketahuan juga. Pada  suatu saat yang sudah dipastikan, maka kejahatan yang direncanakan dengan rapi seperti apapun, ternyata juga terendus dan dapat dibuktikan kejahatannya. Di dalam Bahasa Jawa terdapat suatu konsep titi mangsane atau waktu yang telah ditentukan, maka semua akan terbuka dan semua akan diketahui, bahwa kebaikan adalah kebaikan dan kejahatan adalah kejahatan.

Islam sebagai agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan tentang mana kebaikan dan mana kejahatan. Bahkan kita dianjurkan untuk berdoa dengan doa yang berbunyi: “Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqna tiba’ah, wa arinal bathila bathila war zuqnaj tinabah. Yang artinya: “Ya Allah tunjukkan kepada kami yang benar adalah kebenaran dan berikan kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkan yang jelek adalah kejelekan dan berikan kami kekuatan untuk menghindarinya”.

Di dalam surat Al Zalzalah, ayat terakhir (7 dan 8)  juga dinyatakan: Famay ya’mal mitsqala dzarratin khoiroy yaroh wamay ya’mal mistqala dzarratin syarray yaroh”. Yang artinya: “Sesiapapun  yang melakukan kebaikan sebesar biji dzarrah pun diketahui, dan sesiapapun yang melakukan kejelekan sebesar biji dzarrah pun diketahui”.  Ayat ini memberikan gambaran bahwa kebaikan atau kejelekan akan diketahui pada akhirnya. Tidak ada perbuatan yang terlepas dari radar Allah SWT kala manusia hidup di dunia.

Dengan demikian bisa dinyatakan bahwa antara ajaran Islam dan pemikiran dalam  tradisi Jawa merupakan dua entitas yang berada di dalam satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Ya Islam,  Ya Jawa dalam satu kesatuan.

Wallahu a’lam bi al shawab.