• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PERILAKU PEMBULIAN DAN KERUGIAN DI AKHERAT

PERILAKU PEMBULIAN DAN KERUGIAN DI AKHERAT

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagai manusia yang memang memiliki  peluang untuk melakukan  kekhilafan atau kesalahan, maka terkadang kita melakukan amalan atau perbuatan yang tidak relevan dengan pesan agama, khususnya bagaimana memperlakukan manusia lainnya dalam konteks pernyataan yang bertentangan dengan qaulan kariman atau qaulan layyinan. Berkata yang mengandung kemuliaan dan lemah lembut.

Manusia memang diberi potensi untuk melakukan kesalahan dan lupa atau di dalam bahasa agama disebut sebagai mahalul qatha’ wan nisyan. Makanya, juga jangan heran jika kemudian terdapat manusia yang lupa atau lalai dan melakukan kesalahan sebab memang hal ini merupakan potensi yang terdapat di dalam diri manusia. Patut diingat bahwa yang tidak melakukan kesalahan atau dosa adalah Nabiyullah Muhammad SAW yang disebut di dalam bahasa agama sebagai manusia yang ma’shum.

Hanya saja yang perlu dilakukan adalah bagaimana agar jangan kesalahan melulu yang dilakukan akan tetapi perilaku yang baik yang harus lebih banyak. Manusia juga diberi potensi untuk melakukan kebaikan karena ajaran agama yang menuntunnya dalam melakukan kebaikan dimaksud. Bukankah setiap ajaran agama mengajarkan kebaikan bagi manusia. Agama sesungguhnya memberikan pedoman tentang keteraturan social dan tidak mengajarkan konflik social.

Tetapi secara empiris bahwa terdapat banyak konflik social yang bernuansa agama. Kita  tahu bahwa agama itu di dalam banyak hal dilibatkan dalam konflik social untuk memperkuat identitas mereka yang terlibat konflik. Kasus politik yang kemudian menjadi konflik bernuansa agama, atau konflik social lalu bernuansa agama. Beberapa kasus konflik social di Indonesia memberikan penjelasan seperti itu.

Di Indonesia banyak dijumpai penyiaran agama atau dakwah yang kontennya bukan untuk memberikan pemahaman tentang Islam yang rahmatan lil alamin akan tetapi justru mencaci maki, membuli dan membunuh karakter orang, komunitas atau organisasi keagamaan. Dakwah yang seperti ini justru dijadikan sebagai lahan subur oleh media social untuk memperkuat atau mengembangkannya. Akibatnya masyarakat menjadi tersegmentasi di dalam pemahaman agama sebagaimana yang mereka  dengarkan dari konten Youtube. Betapa mudahnya kita mengakses narasi-narasi yang bertentangan dan bahkan serangan dan pembalasan. Attacking yang dilakukan memang menohok jantung pemahaman beragama kelompok lain,  sehingga juga akan menimbulkan tindakan responsive yang seimbang. Ada sekelompok umat Islam yang syahwat penguasaannya sangat kuat bahkan terkadang kelewatan dalam melakukan dakwahnya dengan diksi-diksi bullying  sehingga membuat kubu lawan juga bereaksi yang sepadan.

Sesungguhnya Islam mengajarkan tentang konsep muflis, yaitu ajaran agama yang terkait dengan orang yang amal shalihnya banyak bahkan luar biasa, akan tetapi menjadi merugi karena ada ungkapan atau tindakan yang membuat orang lain sakit hati, terdzolimi dan dilecehkan bahkan mendapatkan kekerasan fisik. Semakin banyak orang yang diperlakukan  seperti ini, maka akan semakin banyak pahalanya yang tergerus. Dan bahkan pahalanya habis sementara itu yang menuntut untuk memperoleh keadilan atas dirinya masih banyak. Makanya, bisa jadi  pahalanya habis dan akibatnya dia akan menanggung dosa orang lain, karena pahalanya sudah tidak bisa dijadikan pengganti atas kealpaannya tersebut.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dinyatakan: “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit)? Para sahabat menjawab: ‘muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta’.Tetapi Nabi SAW berkata: ‘muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan salah (menuduh) orang lain, makan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika  telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka”.

Hadits Nabi Muhammad SAW ini memberikan pelajaran kepada kita semua, umat Islam, agar jangan melakukan beberapa hal, yaitu: 1) Mencaci maki orang lain dengan alasan apapun, termasuk alasan menjelaskan ajaran agama. Melakukan pembulian atas orang lain, membunuh karakter orang lain, dan sebagainya. 2) Memakan harta yang bukan haknya, seperti hak organisasi, hak anak yatim, hak orang lain yang kita tahu semua itu. 3) melakukan kekerasan fisik dan mental bahkan pembunuhan. Tindakan yang harus dihindari umat Islam. Membunuh satu orang tanpa dosa itu merupakan extra-ordinary crime. 4) memukul orang lain tanpa hak. Yaitu melakukan kekerasan fisik yang tidak seharusnya dilakukan terhadap orang tersebut.

Oleh karena itu perlu kita melakukan muhasabah (menghitung neraca amal) di dalam kehidupan. Apakah neraca amal kita merugi atau menguntungkan. Kita harus berhitung tentang neraca amal  agar  dapat memahami apakah  termasuk orang yang beruntung atau merugi. Sungguh kita ingin menjadi orang yang beruntung. Makanya kita harus terus beristighfar, sebagaimana Nabi Muhammad SAW.  Beliau itu sudah dijamin menjadi manusia yang ma’shum, tanpa dosa, dan pasti masuk surga, tetapi  Beliau mewajibkan dirinya untuk beristighfar 100 kali. “Untuk apa kata Aisyah RA: Nabi menjawab: agar aku menjadi hamba Allah yang bersyukur”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

TRILOGI KEHIDUPAN: IKHTIAR, BERDOA DAN TAWAKKAL

TRILOGI KEHIDUPAN: IKHTIAR, BERDOA DAN TAWAKKAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSI

Manusia sebenarnya memiliki dan diberi potensi oleh Allah SWT untuk melakukan usaha di dalam memenuhi hajad kehidupannya. Untuk memenuhi kebutuhan fisik atau biologis, kebutuhan social dan kebutuhan integratifnya. Manusia memiliki potensi dan memang diberikan oleh Allah kemampuan untuk mengakses berbagai macam usaha dalam kerangka memenuhi hajad hidupnya dimaksud.

Hajad kehidupan tersebut dapat dipenuhi dengan berbagai macam upaya, misalnya bekerja di sector wirausaha atau perusahaan, menjadi pegawai pemerintah, menjadi Angkatan bersenjata, menjadi pekerja film, pekerja dan pengusaha online, atau bahkan bekerja di sector jasa transportasi. Semua itu dilakukan di dalam kerangka untuk memenuhi kebutuhan. Kehidupan tersebut  semakin menekan dewasa ini, seirama dengan semakin menguatnya cenkeraman materialisme yang merebak di setiap sector kehidupan.

Ada beberapa jenis pekerjaan yang tetap diminati oleh masyarakat Indonesia, misalnya menjadi Aparat Sipil Negara (ASN). Jumlah pekerja di sector ini sebanyak 4.315.181 orang. Yang terdiri dari PNS sebanyak 3.956.018 orang dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sebanyak 359.163 orang.  Untuk membuktikan bahwa menjadi ASN tersebut masih tinggi bisa dilihat pada saat ada penerimaan atau rekruitmen ASN, maka peserta membeludak di tengah jumlah ASN yang sangat sedikit. Padahal menjadi ASN itu artinya memilih kehidupan yang sekedar cukup, karena menjadi ASN tidak menjanjikan kekayaan di tengah kehidupan yang semakin materialistic.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), maka sector pekerjaan yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian dengan prosentase sebesar  29,96 persen, sector perdagangan sebesar 19,03 persen. Angka ini terkait dengan jumlah pekerja usia produktif. Sedangkan dilihat dari bekerja di sector formal sebesar 40, 38 persen, dan bekerja di sector informal sebesar 59,62 persen berdasarkan atas data jumlah penduduk yang berusia produktif dan telah bekerja. Berdasarkan data stsititik juga diketahui bahwa sector pekerjaan kehutanan, perkebunan dan pertanian menyerap tenaga sebesar 38,78 juta atau setara dengan 29,59 persen. Jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 135.611.310 orang pada bulan Pebruari 2022, sementara yang menganggur sebanyak 9.102.950 orang.

Yang juga menarik adalah keenderungan baru dalam dunia pekerjaan, yaitu usaha online. Di tengah gelegak tehnologi informasi, maka yang kemudian ikut merebak sebagai lahan baru bekerja adalah pada sector digital ekonomi. Saya hanya akan sedikit membahas tentang berusaha pada sector pekerjaan online, yang sekarang sedang ngetren. Usaha-usaha yang bisa dikendalikan dari rumah ini ternyata menjadi lahan baru seirama dengan kecenderungan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup hanya dari gadget. Usaha ini juga dipermudah dalam kaitannya dengan usaha transportasi online, misalnya Gojek, Grab, NUJek dan sebagainya. Sector pekerjaan ini banyak diminati oleh generasi milenial, yang kemudian menghasilkan konsep generasi rebahan.

Data ini penting untuk menggambarkan bahwa bekerja merupakan sebuah keharusan bagi manusia untuk memenuhi hajad hidup dengan cara bervariasi. Memang ada orang yang sukses di dalam bekerja dan ada yang tidak berhasil. Ada bekerja dan menjadi kaya dan ada yang bekerja dan hanya berkecukupan saja. Jika hal ini dikaitkan dengan ajaran agama, maka di sana ada takdir yang terkait dengan kesuksesan atau kegagalan. Bahkan bahagia dan  tidak bahagia atau sa’idun wa sakiyyun itu sudah ada ketentuannya. Tetapi yang pasti bahwa keterlimpahan harta di dunia belum bisa menjamin keterlimpahan kebahagiaan di akherat kelak. Di dalam konsep Islam terkait dengan ketaqwaan. Inna akramakum ‘indallahi atqokum”.  Yang  artinya: “sesungguhnya yang lebih baik di hadapan Allah adalah yang paling taqwa di antara kamu”.

Meskipun ayat ini terkait dengan aspek kesukuan, kebangsaan dan ras akan tetapi tentu bisa dinisbahkan dengan kehidupan lainnya, misalnya status social, strata social, penggolongan social, dan sebagainya. Jadi apapun status sosialnya belum tentu menjamin termasuk orang yang beruntung kecuali yang bersangkutan memiliki ketaqwaan kepada Allah SWT. Yaitu orang yang beriman dan beramal shalih.

Itulah sebabnya maka doa yang sering kita baca adalah “Allahumma inna nas’aluka ilman nafi’a, wa rizqan thayyiba, wa ‘amalan mutaqabbala”. Yang artinya: Ya Allah sesungguhnya kami memohon ilmu yang bermanfaat, rizqi yang luas dan baik dan amal yang diterima” (HR. Ibnu Majah). Jadi Allah meminta kepada kita untuk berdoa kepada-Nya agar ilmu yang kita miliki menjadi ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat itu akan menjadi pendamping bagi kita sampai hari akhir. Tidak terputus meskipun kita sudah wafat. Lalu rizki yang baik, yang halal dan thayyiban, yang halal dan baik,  sehingga harta tersebut dapat menjadi pendamping kita sampai hari kiamat, kala harta itu juga sebagiannya disedekahkan atau diinfakkan. Lalu kita juga diminta untuk melakukan  amal yang baik yang diterima oleh Allah SWT. Doa dapat  menjadi salah satu instrument penting di dalam kehidupan manusia. Ada usaha atau ikhtiar dan ada doa yang mendampinginya.

Kemudian, kala usaha sudah dilakukan dengan kesungguhan, penuh perhitungan, dan penuh dengan pengukuran lalu juga sudah dilakukan doa sesuai dengan ajaran agama, maka kemudian hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Kita harus tawakkal. Sebaik apapun strategi bisnis, sebaik apapun penerapan strategi bisnis, sebaik apapun upaya untuk menggapai keberhasilan, maka masih ada satu variable penting yaitu takdir Allah akan kesuksesan atau kegagalan.

Hanya sayangnya bahwa takdir itu diketahui setelah semua usaha dilakukan. Dan begitulah memang hukumnya. Takdir pasti datang belakangan. Kita tidak memiliki kemampuan untuk merenda takdir. Kita hanya memiliki kekuasaan untuk berusaha, berdoa dan akhirnya menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Orang menyatakan sebagai guratan takdir atau garis tangan. Ada orang yang sukses karena garis tangan, dan ada orang yang gagal juga guratan takdir. Itulah sebabnya takdir menjadi misteri di dalam kehidupan manusia. Takdir adalah urusan azali.   Tugas  sebagai manusia adalah menjemput takdir yang baik, dan itu bisa tergantung pada ikhtiar dan doa. Bisa jadi karena usaha dan doa, maka takdir yang masih menggantung atau mu’allaq di antara ya atau tidak, kemudian  akan menjadi ya. Menjadi berhasil.

Dengan demikian, manusia tidak bisa melangkahi trilogy kehidupan, yaitu ikhtiar, doa dan tawakkal. Kepasrahan adalah akhir dari semua usaha dan doa yang kita panjatkan. Dan yang kita harapkan adalah agar takdir itu sesuai dengan usaha, dan doa yang kita terus lantunkan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MARI JAGA UKHUWAH ISLAMIYAH: RENUNGAN TENTANG INDONESIA

MARI JAGA UKHUWAH ISLAMIYAH: RENUNGAN TENTANG INDONESIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Yang lain dari aspek khutbah saya pada Masjid Nur Iman pada saat hari Raya Idul Fitri 1444 H atau 2023 M, adalah tentang menjaga ukhuwah Islamiyah. Tema ini tidak akan pernah basi meskipun sudah ditulis oleh ratusan ribu orang dan juga dibaca oleh jutaan orang, akan tetapi berwasiat untuk menjaga ukhuwah Islamiyah tetap menjadi tema yang penting di tengah semakin kuatnya media social sebagai area untuk mengembangkan konflik atau rivalitas sesama umat Islam atau organisasi Islam.

Janganlah dikira bahwa sesama umat Islam tidak terjadi rivalitas terkait dengan paham agama. Sekali lagi paham agama. Rivalitas itu bukan pada ajaran Islam yang prinsip karena semua menggunakan kitab suci yang sama, hanya cetakannya saja yang berbeda. Alqur’an dan hadits-hadits shohihnya juga dalam banyak hal sama, akan tetapi penafsirannya yang bisa saja berbeda, karena ulama yang menafsirkan berbeda. Tentang hadits, maka yang terkadang berbeda adalah status haditsnya. Ada yang menyatakan ini hadits shahih dan yang lain menyatakan hasan. Semua karena sudut pandang tentang perawinya, sanadnya atau matannya yang bisa saja berbeda. Tetapi teks Alqur’annya dipastikan tidak ada perbedaan antara satu dengan lainnya.

Alqur’an sebagai sumber akidah, syariah dan akhlak tidak ada perbedaan. Akan tetapi penafsiran atas teks-teks yang mutasyabihat bisa saja berbeda antara satu ulama dengan ulama lainnya. Jadi yang berbeda adalah penafsirannya. Tentang hadits sebagai sumber akidah, syariah dan akhlak  memang bisa saja terdapat perbedaan tetapi dalam furu’nya atau cabang-cabangnya. Yang inti tentu tidak berbeda. Yang umum dipastikan sama yang berbeda adalah kekhasannya.

Jika kemudian terjadi kontestasi atau rivalitas sesungguhnya berada di dalam level penafsiran yang dianggap benar mutlak. Padahal kemutlakan itu hanya pada teks sucinya saja, yaitu Alqur’an dan hadits-hadits yang shahih yang disepakati oleh jumhur ulama. Dalam hal shalat bisa saja ada perbedaan dalam bacaan doanya, yang spesifik, tetapi jumlah rakaat dan tata urutan shalat pastilah sama, yang  umum. Perbedaan bacaan tersebut karena sumber yang dijadikan rujukan yang berbeda. Misalnya ada hadits yang menyatakan bahwa bacaan iftitah dalam shalat itu berbunyi ini, sementara itu ada sumber lain yang menyatakan bacaan iftitah itu seperti itu. Ini saja. Tidak kurang tidak lebih.

Perbedaan itu bukan sesuatu yang luar biasa. Biasa-biasa saja. Yang luar biasa jika ada orang yang memaksakan orang lain harus mengikuti atas tafsir para ulamanya. Misalnya ada yang hari raya idul fitri hari jumat, 21 April 2023 lalu memaksakan semuanya harus mengikutinya, atau hari raya jatuh pada hari Sabtu 22 April 2023 lalu semua dipaksa untuk sama. Atau semua orang Indonesia harus mengikuti ajaran Salafi Wahabi karena dinyatakan sebagai kebenaran mutlak. Yang seperti ini yang tidak cocok sebab perbedaan itu pasti ada dan semuanya memiliki dasar atau referensi yang bisa dipertanggungjawabkan oleh para ulamanya. Atau semua harus mengikuti ahlu sunnah wal jamaah atau harus mengikuti interpretasi Syi’ah karena ini adalah kebenaran satu-satunya. Inilah yang seharusnya dipahami bahwa perbedaan itu adalah rahmat Tuhan yang harus disyukuri dan jangan dijadikan sebagai medium untuk bertentangan bahkan konflik.

Sekarang kita sedang berada di area media social yang memiliki kebebasan tanpa batas. Tanpa batas usia, wilayah, dan waktu. Kapan saja orang bisa mengakses channel Youtube, Instagram, facebook, twitter dan sebagainya. Media social adalah pasar raya pendapat. Ada yang positif dan ada yang negative. Positif bagi persatuan dan kesatuan umat dan ada yang negative bagi persatuan umat. Ada informasi yang menyulut semangat harmoni dan kerukunan umat beragama dan ada yang menyebarkan informasi yang membuat disharmoni social.

Di dalam kenyataan seperti ini, maka umat Islam cerdas bermedia social: pertama, masyarakat Islam hendaknya mampu  memilih dan memilah. Memilih informasi yang baik dan benar dan menjauhi informasi yang merusak. Harus berprinsip menjaga ukhuwah Islamiyah jauh lebih penting dibandingkan mengedepankan kepentingan golongannya sendiri. Sesama umat Islam tidak pantas dan aib rasanya saling menyerang tentang kebenaran faham agama. Jangan menyakiti agar tidak tersakiti. Kecenderungan media social yang hanya ingin trending harus direduksi dengan melakukan upaya membuat pernyataan yang menyejukkan.

Kedua, hendaknya sesama umat Islam harus melakukan upaya untuk saling memahami, saling tolong menolong dan saling berbuat kebaikan. Jika sesama umat Islam saja saling berantem, pasti akan menimbulkan ketakutan bagi penganut agama lain. Alih-alih memperoleh simpati tetapi justru menghasilkan antipati. Islam itu rahmat bagi umat manusia dan bukan malapetaka atau mafsadat bagi umat manusia.

Ketiga, berkata dan berbuat yang baik. Mulutmu harimaumu. Ungkapan ini saya kira menjadi penting di tengah gempuran media social yang semakin dahsyat. Islam sudah mengajarkan fal yaqul khairan au li yashmut.  Berkatalah yang baik atau lebih baik diam. Jika terjadi pertarungan wacana di media social dengan melibatkan tafsir agama dan mengarah kepada penghinaan, pelecehan, penistanaan yang akan menimbulkan disharmoni social, maka lebih baik diam jika tidak mampu melakukan ishlah. Yang penting jangan kebablasan menyerang dan akhirnya menimbulkan juga kebablasan dalam merespon. Selalu saja ada asap ada api. Janganlah membuat api yang bisa merusak atas bangunan social yang sudah kita bina selama ini.

Keempat,  Islam begitu clear menjelaskan tentang prinsip komunikasi di dalamnya. Semuanya mengarah kepada bagaimana agar komunikasi dilakukan dengan tujuan kemuliaan, ketegasan, fairness, kesederajatan, kelemahlembutan, menyejukkan, dan  kebaikan. Prinsip inilah yang akan menyebabkan Islam menjadi mulia dan indah dihadapan umat lain, sehingga umat Islam akan disegani karena kebaikan perkataan dan perilaku umatnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

HADIAHI AHLI KUBUR DENGAN BACAAN QUR’AN DAN KALIMAH THAYYIBAH

HADIAHI AHLI KUBUR DENGAN BACAAN QUR’AN DAN KALIMAH THAYYIBAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya terus terang berkeyakinan bahwa bacaan doa, kalimah thayyibah dan Alqur’an kepada ahli kubur kita akan dapat diterima oleh ahli kubur yang dituju. Keyakinan ini tentu berdasar atas prinsip sebagaimana di dalam Hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa anak shaleh  yang mendoakan kepada orang tua yang sudah  wafat  akan menyebabkan ketidakterputusan amal ibadah. Waladun shalihun yad’u lahu. Inilah inti ceramah saya dalam acara ceramah agama ba’da shubuh di Mushalla Raudhotul Jannah Desa Sembungrejo, Merakurak Tuban. Ceramah tersebut saya sampaikan pada Ahad, 23 April 2023.

Saya sampaikan betapa pentingnya mengirim ahli kubur dengan bacaan Alqur’an, kalimah thayyibah atau doa-doa yang dikhususkan kepada ahli kubur tersebut. Bukan hanya tradisi ziarah kubur yang juga diperbolehkan oleh Nabi Muhammad SAW,  akan tetapi juga secara rutin membacakan bacaan khusus untuk ahli kubur. Islam mengajarkan agar kala berziarah ke makam kerabat, bisa ayah, ibu, saudara, atau kerabat lainnya, maka yang dilakukan adalah mendoakannya. Bukan meminta sesuatu kepada arwah orang yang sudah meninggal. Arwah itu sudah berada di alam kubur dan terus menunggu sampai yaumil qiyamah untuk melanjutkan perjalanan hidup baru di alam akherat.

Siapapun yang melakukan ziarah ke makam yang diharuskan untuk dilakukan harus tetap meminta kepada Allah SWT dengan washilah para kekasih Allah. Salah satunya adalah melalui Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai manusia agung yang diberikan otoritas oleh Allah SWT untuk memberikan syafaat fi yaumil makhsyar.  Makanya, jika berziarah kepada makam-makam auliya, maka juga harus memohon kepada Allah SWT dan menjadikannya sebagai washilah agar doa  bisa lebih cepat sampai kepada Allah SWT. Tidak kurang tidak lebih seperti itu.

Mari kita yakini bahwa doa, bacaan Alqur’an, tahlil, tahmid dan sebagainya dipastikan diterima oleh Allah SWT. Ada orang-orang khusus yang diberikan kemampuan oleh Allah yang dapat merasakan dengan ‘ainul basyirah untuk memahami hal-hal seperti itu. Kita sebagai orang awam hanya mendengar cerita karena  tidak memiliki maqam seperti itu. Kita  hanya meyakini saja bahwa doa, bacaan Alqur’an, bacaan tahlil dan sebagainya pasti diterima oleh Allah dan disampaikan kepada ahli kubur kita semua. Tahlil adalah bacaan la ilaha illallah, sedangkan tahlilan adalah tradisi masyarakat Islam Indonesia untuk membaca kalimat thayyibah dan lain-lain secara berjamaah.

Itulah sebabnya di dalam shalat maghrib atau shubuh kita upayakan agar bisa membaca shuratul fatihah yang kita tujukan kepada orang-orang  penting di dalam kehidupan ini. Tradisi yang perlu dilestarikan adalah membaca Fatihah sesudah dzikir berjamaah, seperti membaca istighfar, membaca Ayat Kursi, membaca subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu akbar masing-masing 33 kali dan ditutup dengan bacaan  la ilaha illallahu la syarrikalahu lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumitu wa ‘ala kulli syaiin qadir. La haula wa la quwwata illa billahil ‘alaiyyil ‘adzim. Bacaan itu menjadi genap 100 kali. 99 kali ditambah dengan kelanjutan bacaan dimaksud.

Di antara yang perlu ditradisikan adalah:

Ila hadrotin Nabiyyil Musthofa Muhammadin Sallallahu alaihi wa sallim, wa azwajihi, wa auladihi, wa dzurriyatihi, wa ashhabihi, syaiun lillah lahum Alfatihah…

Ila hadrati abaina wa ummahatina, wa jaddina, wajaddatina, wa masyaikhina, wa masyaikhi masyaikhina wa li jami’i ahlil kubur syaiun lillah lahum alfatihah…

Ila hadroti hajadina wa hajadikum. Allahumma taqabbal minna du’aana innaka antas samiun ‘alim wa tub ‘alaina innaka antat tawwabur rahim.  syaiun lillah lahum Alfatihah…

Coba kita perhatikan atas siapa-siapa yang kita kirimi bacaan shuratul fatihah. Sungguh luar biasa. Yang utama ditujukan kepada Nabiyullah Muhammad SAW sebagai pensyafaat umat Islam, kemudian istri-istri-Nya, putra-putri-Nya, dan para Sahabat-Nya. Makanya, melalui bacaan fatihah ini akan  ada ratusan orang yang terlibat di dalam bacaan dimaksud. Betapa bahagianya, mereka yang bisa dikirimi fatihah tersebut.

Lalu,  orang tua kita, kakek nenek kita,  buyut dan canggah kita merupakan orang yang sangat menginginkan doa dari  anak dan keturunannya. Bahkan juga kaum muslim yang seiman dan seagama juga berharap atas doa dari sesama umat Islam. Betapa bahagianya orang yang dikirimi fatihah oleh anak keturunannya. Doa itu begitu penting bagi ahli kubur yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa dan hanya menunggu dan menunggu kapan hari kiyamat akan datang dan nasibnya akan ditentukan oleh amal perbuatannya.

Kemudian juga bacaan fatihah untuk hajad kita masing-masing. Melalui doa: “ya Allah kabulkanlah doa kami, sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dan Engkau adalah Dzat yang Maha Pengampun dan Penyayang”. Melalui doa ini,  kita berharap agar doa tersebut  dikabulkan oleh Allah SWT.

Oleh karena itu,  menjadi umat Islam itu sungguh merupakan kebahagiaan, sebab kala kita hidup kita dapat  mendoakan atas para leluhur kita, dan di kala kita sudah wafat maka doa akan datang dari keturunan kita. Bahkan doa dari umat Islam lainnya.

Di sinilah makna penting meninggalkan keturunan yang shalih dan shalihah, sehingga kelak kita akan dapat memperoleh pahala tiada henti karena doa yang dilantunkan oleh anak cucu atau keturunan kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PERSAUDARAAN KEBANGSAAN: RENUNGAN TENTANG INDONESIA

PERSAUDARAAN KEBANGSAAN: RENUNGAN TENTANG INDONESIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di antara materi khutbah idul Fitri yang saya sampaikan pada Masjid Nur Iman, Desa Sembungrejo, Merakurak,  Tuban pada  Sabtu 1 Syawwal 1444 H atau 22 April 2023 adalah tentang bagaimana memperkuat persaudaraan kebangsaaan atau ukhuwah wathaniyah.  Artikel ini membahas lebih mendalam tentang materi khutbah dimaksud dengan harapan agar dapat dipahami lebih mendasar. Tentu saja pembahasan ini dikaitkan dengan puasa yang baru saja kita selesaikan.

Adakah relasi antara puasa dengan semangat kebangsaan? Adakah relasi antara puasa dengan wawasan kebangsaan? Artikel ini mencoba untuk membahas tentang puasa di dalam kaitannya dengan mempertahankan kebangsaan dan negara di tengah semakin menguatnya upaya sebagian kecil masyarakat Indonesia yang berkeinginan mendirikan khilafah Islamiyah. Keinginan seperti ini masih sangat kuat di kalangan kelompok Islamis yang masih bermimpi menjadikan khilafah sebagai satu-satunya solusi bangsa.

Basis untuk menentukan Pancasila, NKRI dan UUD 1945 serta Kebinekaan bukanlah berangkat dari ranah kosong. Akumulasi pemikiran ini tentu berbasis pada realitas social bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural dan multicultural, sehingga diperlukan common platform yang bisa menyatukan yang terserak dan mengikat keragaman. Pancasila sebagai dasar negara sungguh merupakan pilihan cerdas dari para pendiri bangsa agar Indonesia yang berneka ragam dalam ras, suku bangsa, bahasa dan agama tersebut bisa merasakan dan memainkan perannya pada bangsa dan negara.

Pengalaman di dalam Sidang Konstituante pada tahun 1955 sampai 1959 pada saat akan menentukan dasar negara tentu bisa menjadi gambaran betapa rumitnya kala masing-masing partai politik hasil Pemilu 1955 ingin memaksakan kehendaknya. Masyumi dan sebagian NU berkeinginan menjadikan Islam sebagai dasar negara, sementara itu PKI menginginkan komunisme sebagai dasar negara dan PNI menginginkan dasar negara Pancasila. Selama 3,5 tahun masa sidang Konstituante ternyata tidak menghasilkan kemajuan yang berarti. Mereka hanya berdebat tentang dasar negara dan tidak membicarakan bagaimana Indonesia ke depan dalam pembangunan. Akhirnya Presiden Soekarno melakukan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945. Akhirnya Indonesia kembali kepada UUD 1945 dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Selesai.

Salah satu di antara yang menarik di dalam ajaran Islam adalah konsep ukhuwah kebangsaan. Melalui ukhuwah kebangsaan ini, maka Islam sesungguhnya memberikan perekat agar sebagai umat Islam tidak boleh egois agar semua masyarakat didasarkan atas Islam. Islam memberikan peluang bagi pemeluk agama lain untuk ikut terlibat di dalam Bina Bangsa. Tidak boleh menjadikan pemeluk agama lain menjadi warga negara kelas dua. Prinsip Islam adalah prinsip kesamaan dan keadilan. Dengan prinsip sebagai warga negara yang memiliki kedudukan yang sama, maka hal ini merupakan prinsip Islam yang paling esensial. Islam tidak menentukan secara mendasar tentang bentuk negara. Itulah sebabnya di negara-negara Islam di Timur Tengah juga memiliki varian bentuk negaranya. Di Arab Saudi bentuk negaranya adalah mamlakah, di Mesir adalah jumhuriyyah, di Uni Emirat Arab adalah dinastiyah parlementariyah , dan di Malaysia adalah  mamlakah parlementariyah. Indonesia adalah jumhuriyah demokratiyah. Pilihan ini merupakan pilihan yang tepat dalam kerangka untuk memberi peluang secara lebih besar pada semua anak bangsa untuk berpartisipasi di dalam bernegara dan berbangsa.

Di dalam system pemerintahan, Indonesia memilih relasi antara negara dan agama atau politik dan agama adalah dalam corak symbiosis mutualisme. Jadi agama membutuhkan negara sebagai tempat untuk mengembangkan kehidupan bersama dalam beragama, dan negara membutuhkan agama sebagai basis moralitas dalam berbangsa dan bernegara. Melalui relasi agama dan negara seperti ini, maka Indonesia menganut corak agama public dan bukan agama privat. Sebagai agama public, maka negara terlibat di dalam mengatur relasi antar dan interen umat beragama. Negara tidak mencampuri urusan ajaran agama.

Sebagai konsekuensi agama public, maka akan menghasilkan keterlibatan masyarakat di dalam memberikan partisipasinya untuk mempertahankan negara, baik dari tantangan eksternal dan internal. Jika ada serangan dari dalam atau dari luar, maka masyarakat pastilah terlibat di dalamnya. Sebagai contoh bagaimana Kyai Hasyim Asy’ari membangun kesadaran warga masyarakat untuk melakukan Resolusi Jihad. Melalui Resolusi Jihad  ini, maka bangsa Indonesia ikut serta terlibat di dalam mempertahankan negara Indonesia atas serangan Belanda dan sekutunya. Dan terbukti seruan jihad ini berhasil menggerakkan masyarakat untuk berjuang, dan hasilnya adalah Perang Surabaya, 10 November 1945.

Dengan alasan ini, bahwa setiap umat Islam selayaknya terlibat di dalam mempertahankan negara dan menyejahterakan masyarakat secara bersama-sama, maka puasa bisa menjadi momentum untuk menata hati agar tetap mencintai negeri ini. Negeri ini adalah hasil kerja bersama para founding fathers negeri dalam berbagai latar belakangnya masing-masing. Di sinilah arti pentingnya ungkapan hubbul wathon minal iman, mencintai negara adalah sebagian iman. Ungkapan atau maqalah ini begitu pentingnya untuk membangun kesadaran berbangsa dan bernegara dengan menegaskan Pancasila dan NKRI sebagai dasar dan bentuk negara di tengah keinginan  untuk bereksperimen tentang bentuk negara.

Jadi,  pada waktu bulan puasa  sudah seharusnya warga negara Indonesia yang beragama Islam memperjuangkan Pancasila di dalam berbangsa dan bernegara. Dengan mengamalkan Pancasila yang baik dan benar, maka hakikatnya sudah mengamalkan ajaran agama yang baik dan dengan mengamalkan ajaran agama yang baik dan benar, maka hakikatnya sudah mengamalkan Pancasila.

Mengamalkan ajaran agama yang wasthiyah atau moderat artinya sudah memastikan bahwa corak beragamanya adalah mencintai negaranya, tidak anti pemerintah yang sah, memberikan toleransi terhadap orang dan kelompok lain dan tidak anti atas budaya bangsanya yang beraneka ragam.

Wallahu a’lam bi al shawab.