• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SEDEKAH UNTUK BAPAK: TRADISI ISLAM JAWA YANG UNIK

SEDEKAH UNTUK BAPAK: TRADISI ISLAM JAWA YANG UNIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Menjelang akhir tahun 2022, saya menyegerakan pulang ke Tuban tentu dengan maksud dan tujuan yang jelas. Saya pulang hari Selasa sore, 27 Desember 2022 setelah mengikuti acara Computer Assesment Test (CAT) dalam bidang profesionalitas kerja dan moderasi beragama. Saya pulang bersama keluarga, termasuk tiga bocah kecil (bocil): Si Vica, Arfa dan Echa. Sudah lama saya tidak pulang ke rumah Tuban untuk waktu yang lama. Tuntutan pekerjaan menyebabkan waktu yang sangat terbatas untuk bercengkerama di pedesaan.

Pada hari Rabo, 28 Desember 2022, sebenarnya masih ada dua acara di kantor, yaitu: mengajar pada program doctor Ekonomi Syariah dan menguji disertasi tahap tertutup untuk Chihwanul Kirom, akan tetapi karena ada acara penting di rumah Keluarga di Tuban, yaitu Khoul Bapak, maka saya harus pulang, maka acara tersebut dilakukan secara daring atau online. Tidak bisa diwakilkan kehadiran saya. Maklum sebagai anak tunggal, maka saya harus nyekar di kubur Bapak dan seluruh keluarga besar saya di Tuban, dan kemudian juga memimpin tahlilan. Sesuatu yang tidak bisa saya wakilkan.

Ada sejumlah nama yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari acara khoul ini. Yaitu dapat dirunut dari Eyang canggah saya: Mbah Mohammad Salim dan Mbah Tarmi, Buyut Wagiman dan Buyut Sadirah, Mbah Ismail dan Mbah Sarijah, Bapak Sabar dan keluarga lainnya, yaitu Emak Hj. Muthmainnah, Bapak Amir, Bapak Ridlwan, Mbah Ngateman dan Mbok Fatah, serta Mbah Buyut Biah dan Mbah Hj. Rohmah.

Khoul ini tentu sangat sederhana. Tidak sebagaimana kyai-kyai besar yang memiliki pesantren atau Lembaga Pendidikan Islam. Khoul ini dilakukan hanya dengan sejumlah jamaah tahlil perempuan di desa Semampir Sembungrejo saja. Meskipun jumlah oleh-oleh atau “berkatan” untuk pelaku tahlilan cukup banyak, akan tetapi kebanyakan di antar dari rumah ke rumah. Para tetangga, para kerabat dan orang-orang yang dianggap tokoh agama pun mendapatkan jatah “berkat” yang sudah disiapkan.

Khoul para Kyai yang memiliki atau mendirikan pesantren biasanya dijadikan sebagai momentum untuk memanggil kembali kharisma yang dimiliki oleh kyai dalam peran pendidikan pesantren. Jika kharisma kyai-kyai keturunannya atau dzurriyahnya tidak sebesar atau tidak sekuat kharisma kyai pendahulunya, maka khoul dapat dijadikan sebagai instrument untuk membangun kembali kekuatan kharisma sebelumnya terutama untuk kepentingan pendidikan pesantren.

Khoul Bapak saya tentu jauh dari hiruk pikuk kepentingan seperti itu. Khoul ini diberlakukan hanya sebagai penanda atas kasih sayang anak dan keluarga atas roh almarhum.  Kita meyakini bahwa yang diharapkan oleh almarhum hanya doa, bacaan tahlil, bacaan surat Yasin dan sedekah yang pahalanya diwashilahkan kepadanya. Kita meyakini bahwa bacaan-bacaan yang ditujukan kepada almarhum melalui washilah Kanjeng Nabi Muhammad SAW tentu akan bisa disampaikan kepada yang bersangkutan. Ini persoalan keyakinan seseorang atau sekelompok orang yang memiliki pemahaman tentang ajaran Islam seperti itu. Tentu tdak layak dipersoalkan jika ada tafsir agama yang tidak sependapat dengan hal ini.

Sebagai tuan rumah, maka ada tiga hal yang saya sampaikan kepada para jamaah tahlil, yaitu: pertama, ucapan terima kasih yang sangat besar atas kehadiran para anggota jamaah tahlil, yang menyempatkan hadir dan sudi membaca tahlil untuk almarhum Bapak. Saya berkeyakinan bahwa dengan keikhlasan Ibu-ibu jamaah tahlil, maka bacaan tersebut akan bisa diterima oleh Allah SWT dan melalui Kanjeng Nabi Muhammad saw, maka pahala atas bacaan tersebut akan sampai kepada Bapak saya. saya meyakini. Bahwa amal kebaikan yang berupa bacaan tahlil dan doa akan sampai kepada almarhum yang ditujunya.

Kedua, saya memohon maaf atas segala kekurangan di dalam penyambutan kepada Ibu-Ibu Jamaah tahlil. Saya yakin keluarga saya sudah menyiapkan yang terbaik, terutama “berkat” yang akan dibawa pulang. Tetapi tentu saja tidak bisa memuaskan semuanya. “Berkat” itu hanya berisi nasi, lauk pauk dan buah seadanya. Bisa dinyatakan sederhana. Keluarga kami hanya bisa menyediakan “berkat” yang sesuai dengan kemaslahatan bagi semuanya. Oleh karena itu jika ada yang hal yang tidak sesuai dengan harapan para Ibu jamaah tahlil, sungguh saya memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Ketiga, salah satu di antara dalil yang sudah sangat lazim didengar oleh Ibu-Ibu jamaah Tahlil adalah mengenai perlunya anak shaleh yang dapat mendoakan kepada orang tuanya dan bahkan kerabatnya. Hadits Nabi Muhammad SAW tersebut menyatakan bahwa: “Jika wafat anak-cucu Adam, maka akan terputus amalnya  kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan orang tuanya”.

Oleh karena itu, acara khoul ini mengandung dimensi sedekah anak untuk orang tuanya, doa anak pada orang tuanya, dan doa jamaah kaum muslimin kepada almarhum. Jadi sungguh merupakan amalan yang sangat luar biasa sebab memiliki dimensi yang luas dari sebuah acara khoul atas keluarga yang meninggal.

Tradisi ini sudah diwariskan oleh para ulama kita, khususnya ulama ahlu sunnah wal jamaah, yang telah mengajari kita untuk menjadi umat Islam yang penuh dengan saling tolong menolong, tidak hanya tolong menolong secara fisikal dan harta tetapi juga tolong menolong dalam doa kepada Allah swt.

Semoga Allah selalu membimbing kita semua untuk selalu berada di dalam koridor Islam yang memberikan kesejukan dan kasih saying, Islam yang memberikan pertolongan kepada sesama umat, dan juga menjadi orang Islam yang selalu berprinsip saling kasih sayang dan saling memberikan manfaat fid dini wa dunya wal akhirah.

Wallahu’ alm bi al shawab.

 

OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA: FILSAFAT HIDUP ORANG ISLAM JAWA (BAGIAN KEDUA)

OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA: FILSAFAT HIDUP ORANG ISLAM JAWA (BAGIAN KEDUA)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagai orang yang bukan ahli di dalam ilmu Bahasa, maka saya tentu tidak berkeinginan untuk mencari asal usul kata adigang, adigung lan adiguna. Saya juga tidak akan melacak semenjak kapan konsep orang Jawa ini menjadi unen-unen atau petuah dan pedoman di dalam kehidupan riil masyarakat. Tetapi yang jelas, ungkapan ini benar-benar memiliki makna yang agung dan penting dalam merenda kehidupan masyarakat Jawa yang kita cintai ini.

Dua konsep sebelumnya, adigang lan adigung sudah saya jelaskan berbasis pada beberapa prinsip di dalam agama Islam, yang memang kompatibel dengan filsafat Jawa ini, bahkan secara terus terang saya nyatakan bahwa ketiga konsep ini merupakan pedoman bagi masyarakat Islam Jawa. Saya menduga bahwa ungkapan ini berasal dari ajaran waliyullah di Jawa, di mana di banyak makam waliyullah terdapat pernyataan, misalnya: wenehono payung marang wong kang kepanasan, wenehono mangan marang wong kang kaluwen, lan wenehono busono marang wong kang kawudan. Jika dimaknai maka artinya adalah: “berikan pertolongan kepada orang yang memerlukan perlindungan, berikan makan bagi orang yang kelaparan, dan berikan pakaian bagi orang yang berketelanjangan”. Makna mendalam dari pedoman ini adalah berikan kepada orang lain yang memerlukan perlindungan bagi yang berkesengsaraan, berikan asupan berupa makanan fisik dan rohani bagi yang memerlukan dan berikan kepada orang yang terlupakan dengan dirinya akan pedoman agama yang benar.

Para waliyullah memang dikenal sebagai keturunan Rasulullah yang memasuki dunia filsafat Jawa dengan tuntas. Meskipun para waliyullah tersebut berasal dari tanah Arab akan tetapi sama sekali tidak berkeinginan menjadikan orang Jawa sebagai orang Arab. Mereka justru berprinsip “Hangajawi” dan bukan “Hangarabi”. Jadilah orang Islam Jawa dan bukan orang Islam Arab. Begitulah kebajikan dan kebijakan para waliyullah dalam Islamisasi di Jawa bahkan di Nusantara.

Kedua, Ojo Adiguna, artinya adalah pemahaman, sikap dan tindakan yang berbasis pada pikiran bahwa dialah yang paling bermanfaat. Tidak ada orang lain yang melebihinya dalam kemanfaatan bagi orang lain. Tanpa perannya maka tidak akan terjadi semua yang ada. Hanya melalui perannya, maka segalanya bisa berhasil. Orang yang seperti ini mengabaikan peran sekecil apapun yang dilakukan orang lain. Ujung-ujungnya orang seperti ini ingin  dianggap sebagai seorang yang paling hebat, paling top markotob dan paling fungsional di dalam kehidupan. Di dalam dunia tarekat bisa disebut sebagai sifat ananiyah. Sifat keakuan atau sifat egoisme, yang bisa merusak relasi social di tengah kehidupan bermasyarakat.

Di dalam ajaran Islam digambarkan tentang bagaimana Iblis merasa lebih dibandingkan dengan manusia yang diciptakan Allah SWT. Ketika Iblis diminta oleh Allah SWT untuk bersujud kepada Adam AS., maka Iblis menolaknya, sebab dia merasa lebih ditinjau dari sisi penciptaan dan proses penciptaannya. Iblis menyatakan bahwa dia diciptakan dari api murni, sedangkan Adam AS diciptakan dari tanah. Jadi dia lebih hebat dan lebih manfaat dibandingkan dengan manusia. Cerita seperti ini dapat dibaca di dalam Alqur’an, surat Albaqarah, ayat 34. Sebagaimana ayat ini, maka tidak hanya Iblis yang diminta untuk bersujud kepada Adam AS, akan tetapi juga Malaikat. Iblis menolak kehendak Allah sehingga menjadi kafir dan Malaikat melaksanakan sujud kepada Adam AS dan menjadi hamba Allah yang taat.

Di dalam sejarah Nabi Muhammad SAW, maka juga kita dapati nama-nama misalnya Abu Jahal dan Abu Lahab. Dua orang dan banyak lainnya yang juga merasa lebih berfungsi atau berperan pada masyarakat atau Suku Quraisy. Bahkan begitu jahatnya kelakuan Abu Lahab, maka Namanya diabadikan di Alqur’an, surat Allahab, ayat 1-5. Abu Jahal dan Abu lahab serta lainnya sebenarnya dibebani oleh perannya di dalam sejarah m empertahankan keyakinan masa lalunya, yaitu mempertahankan ajaran agama yang sudah jauh melenceng dari tafsir agama yang benar. Agama Hanif, yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS, kemudian ditafsirkan dengan berbagai keyakinan local yang jauh melenceng dari agama yang benar. Nabi Ibrahim yang mengajarkan agama dengan system ketuhanan yang montheisme kemudian diubah atau ditafsirkan para ulama dan pemuka agamanya menjadi kepercayaan yang dilambangkan dengan patung-patung. Di sekitar Ka’bah didirikan patung-patung yang melambangkan Tuhannya. Jika pada masa Nabi Ibrahim dijadikanlah Ka’bah sebagai rumah Allah sebagai lambang monotheisme, maka diubah keyakinan tersebut.

Keinginan yang demikian kuat dari Abu Jahal dan Abu Lahab untuk mempertahankan kekuasaan dan berimplikasi pada fungsi yang berlebihan ini akhirnya mengantarkannya menjadi orang yang terus menerus memusuhi Nabi Muhammad SAW dan menjadikannya sebagai orang yang kafir, bahkan musyrik. Sampai meninggal, maka dua orang ini tetap di dalam keyakinannya pada agama pagan, yang tentu tidak mendapatkan pertolongan Allah SWT.

Adiguna tidak selayaknya menjadi sifat yang dimiliki oleh manusia. Bayangkan bahwa untuk minum air mineral saja berapa orang yang harus terlibat di dalamnya. Jika di dalam rumah terdapat Asisten  Rumah Tangga, maka dia terlibat di dalamnya. Jika air mineral itu harus dibeli di toko, maka ada orang yang harus melayani kita untuk memperoleh air. Jika air itu datang ke toko, maka ada sopir ada kenek, ada penjaga jalan tol dan sebagainya. Jika air mineral itu dibuat di pabrik, berapa tenaga kerja yang terlibat. Jadi ini memberikan gambaran bahwa tidak ada orang yang bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan dirinya sendiri. Selalu ada kehadiran orang lain.

Makanya setiap kesuksesan adalah keberhasilan bersama bukan hanya kesuksesan orang perorang. Saya sependapat dengan pernyataan: we are the team. Team is together every one achieve more. Ojo adigang, adigung lan adiguna.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA: FILSAFAT HIDUP ORANG ISLAM JAWA (BAGIAN SATU)

OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA: FILSAFAT HIDUP ORANG ISLAM JAWA (BAGIAN SATU)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Orang Jawa memiliki filsafat hidup yang sungguh adiluhung atau mulia dan bermanfaat. Filsafat hidup tersebut merupakan bagian dari etika di dalam kehidupan, terutama dalam relasinya dengan kehidupan social kemasyarakatan. Etika Jawa tersebut menggambarkan bagaimana seharusnya sikap hidup manusia Jawa dalam kaitannya dengan relasi social dan bahkan juga relasinya dengan Tuhan atau Gusti Kang Akarya Jagad atau Allah SWT dan juga dengan alam semesta.

Sebagaimana diketahui bahwa manusia memiliki tiga relasi dengan di luar dirinya, yaitu relasi dengan Tuhan Allah swt, relasi dengan sesama manusia dan relasi dengan alam. Di dalam Bahasa Agama disebut sebagai hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal alam. Relasi dengan Allah tidak ada maknanya jika relasi social kita jelek dengan sesama manusia. Relasi social kita juga tidak tepat jika relasi social tersebut tidak ditempatkan dalam relasinya dengan Allah swt, dan relasi dengan Allah SWT dan manusia juga tidak benar jika tidak ditempatkan dalam relasi dengan alam.

Agama  Islam mengajarkan agar kita menjalani kehidupan ini untuk memenuhi ajaran Baginda Nabi Muhammad saw: wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin. Yang artinya: “dan tidak aku turunkan engkau (Muhammad) kecuali untuk kerahmatan bagi seluruh alam”.

Pertama, Adigang adalah rasa, pikiran, dan tindakan yang mengagungkan kepada dirinya sendiri karena kekuatan yang dimiliknya. Orang yang adigang itu digambarkan bahwa dengan kekuatan yang dimilikinya maka dia akan dapat menguasai dunia. Orang yang adigang merasa pasti menang dalam berbagai pergulatan kehidupan di dunia. Pasti menang secara fisik dan pasti menang dalam hal lainnya.

Al Qur’an memberikan contoh orang yang merasa paling kuat, misalnya Jalut, seorang raksana karena besar dan tinggi badannya. Atau disebut sebagai Gholiat. Kisah Jalut, Thalut dan Dawud telah diceritakan di dalam Alqur’an, Surat Al Baqarah ayat 246-251. Kisah Jalut berperang melawan Thalut akan tetapi yang melawan Jalut adalah Dawud yang kelak diangkat menjadi Nabi untuk Bani Israel. Dawud mengalahkan Jalut dengan ketapel yang memang dijadikan sebagai instrument untuk mengalahkan Jalut. Jalut sebagai manusia yang tinggi besar dengan kekuatan raksasa, namun akhirnya bisa dikalahkan oleh Dawud dengan senjata ketapel. Artinya, bahwa kekuatan yang dimiliki oleh seseorang belum tentu akan menjadi instrument untuk memenangkan apapun di dalam kehidupan. oleh karena itu, tidak selayaknya manusia merasa menjadi yang terkuat atau adigang.

Kedua, Adigung adalah perasaan, sikap dan tindakan yang menggambarkan seseorang yang memiliki kekuasaan yang tiada taranya. Kekuasaan dirasakan sebagai sesuatu yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk menguasai dunia dan isinya. Orang terkadang lupa bahwa kekuasaan itu sesuatu yang terbatas, sesuatu yang tidak abadi bahkan sesuatu yang hanya sementara. Yang abadi hanyalah Allah, huwal awwalu wal akhiru, yang paling awal yang tidak ada awalnya dan yang terakhir tiada akhirnya.

Di dalam kehidupan manusia selalu terdapat orang yang merasa bahwa dia bisa melakukan apa saja terkait dengan kekuasaannya. Makanya dikenal ada orang yang menggunakan kekuasaan dengan jalan otoriter. Biasanya, ditopang oleh seperangkat pendukung yang juga memiliki kesamaan visi dan misinya, serta program-programnya. Semuanya dilakukan untuk mendukung kekuasaan yang otoriter dimaksud.

Sebagai contoh adalah Fir’aun. Dikenal sebagai seorang raja yang sangat berkuasa bahkan karena kekuasaannya itu, dia berpikir dia adalah Tuhan. (Alqur’an, surat Al Qashshash, 38). Karena kekuasaan yang dimilikinya itu, maka Fir’aun bisa melakukan apa saja yang dianggapnya benar sesuai dengan pemahamannya. Dia dikelilingi oleh sejumlah ahli yang selalu menuruti apa kemauan sang raja. Makanya, siapa yang menghalanginya maka akan dienyahkannya, dan siapa yang bisa menuruti kemauannya maka dianggapnya sebagai orang yang berjasa baginya.

Tetapi kemudian di dalam Alqur’an dijelaskan, bahwa akibat kesombongannya untuk menguasai semuanya, maka Fir’aun juga menindas orang Yahudi untuk dijajahnya. Akibat perlakuan buruk atas diri orang Israel tersebut, maka di bawah pengarahan Nabi Musa AS., maka kaum Yahudi diminta untuk meninggalkan Mesir dan pergi ke Palestina. Tapi sayangnya untuk ke tanah Palestina harus melewati Laut Merah. Kaum Yahudi ini nyaris bisa disusul oleh Fir’aun dan bala tentaranya. Tetapi berkat mu’jizat Nabi Musa, maka laut Merah tersebut dapat dibelah menjadi daratan, sehingga kaum Yahudi bisa selamat. Sebaliknya, Fir’aun dan tentaranya tidak selamat karena laut Merah kembali seperti semula. Fir’aun yang gagah perkasa dan berkuasa tersebut akhirnya harus meninggal dan kemudian jasadnya terselamatkan dan menjadi bukti atas kebenaran Alqur’an. (Alqur’an, surat Albaqarah, ayat 50).

Ada banyak ibrah yang diberikan oleh Allah kepada manusia melalui kitab sucinya, bahwa tidak layak manusia itu memiliki sifat adigang dan adigung,  sebab manusia itu sungguh makhluk yang lemah. Hanya karena Allah memberikan kekuatan akal saja sehingga manusia melebihi makhluk lainnya.

Marilah kita sadari bahwa kita ini sesungguhnya bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa. Sungguh tidak elok jika kita merasa kuat dan berkuasa sehingga kita bisa menggergaji dunia ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

JADIKAN KAMI HAMBAMU YANG SUKA BERSYUKUR

JADIKAN KAMI HAMBAMU YANG SUKA BERSYUKUR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sesungguhnya Allah, Tuhan yang Maha Kuasa, sudah memberikan kepada kita kenikmatan yang tiada taranya. Di antara nikmat yang besar terkait dengan fisik, misalnya adalah nikmat kesehatan. Melalui Kesehatan yang baik, maka kita bisa melaksanakan tugas kita sebagai khalifah fil ardh, untuk membangun peradaban dunia berbasis pada nilai moralitas keagamaan yang kita yakini kebenarannya. Tanpa kesehatan yang memadai, maka kita tidak akan bisa berbuat apa-apa di dalam kehidupan ini.

Coba jika dibayangkan, betapa besar nikmat Allah SWT dengan memberikan oksigen gratis kepada manusia seluruh dunia. Manusia di dunia yang jumlahnya kira-kira 6 (enam) milyar, semua mendapatkan oksigen yang sama dan cukup. Tidak ada yang kurang dan lebih. Semuanya mendapatkan porsi sebagaimana yang diperlukannya. Padahal harga oksigen itu mahal sekali. Apalagi jika terjadi kelangkaan oksigen seperti pada saat terjadinya Covid 19. Harga oksigen menjadi mahal dan tidak terkendali.

Tetapi Allah SWT memberikan oksigen gratis kepada 6 (enam) milyar penduduk dunia tanpa dipungut biaya sedikitpun. Pemberian oksigen gratis tersebut berlaku sepanjang usia manusia, dalam kisaran rata-rata 60-70 tahun. Oleh karena itu tidak pantas jika terdapat manusia yang tidak mensyukuri atas nikmat Allah yang sangat luar biasa kepada umat manusia tersebut. Namun demikian, kenyataannya banyak manusia yang tidak bersyukur kepada Allah bahkan kufur atas nikmat Allah dimaksud.

Rasul Allah adalah orang-orang yang pandai bersyukur, misalnya Nabi Ayyub alaihis salam disebut sebagai “abdan syakura”. Hamba Allah yang pandai bersyukur. Di saat senang, sedih dan sengsara maka tidak ada yang diucapkan dan dilakukannya kecuali bersyukur kepada Allah swt. Nabi Sulaiman alaihis salam, yang kaya raya dan sangat berkuasa juga selalu berdoa agar diberikan kekuatan untuk bersyukur. Dan tidak ada hentinya untuk bersyukur kepada Allah swt.

Nabi Muhammad SAW yang disebut sebagai hamba Allah yang “ma’shum” terlepas dari dosa pun masih terus bertasbih, beristighfar dan bersyukur kepada Allah SWT. Sayyidatina Aisyah pernah menceritakan bahwa Beliau tertidur dan sebelum tertidur beliau melihat Nabi Muhammad SAW melakukan shalat dan dzikir, saat bangun beliau masih melihat Nabi Muhammad SAW masih berdzikir, dan tertidur lagi dan ketika bangun didapati Nabi Muhammad SAW masih berdzikir kepada Allah, maka Aisyah kemudian bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: “untuk apa engkau melakukan ini semua ya Rasulullah. Padahal telah diampuni dosa-dosamu yang lampau dan masa datang?. Maka Nabi Muhammad SAW menjawab dengan ketawadhu’an: ‘afala takuna abdan syakura”. Yang artinya: “apakah tidak sepatutnya jika aku   menjadi hamba yang pandai bersyukur”. Nabi Muhammad  SAW yang sudah dijanjikan oleh Allah SWT menjadi orang yang tidak berdosa, yang ma’shum, ternyata masih melakukan shalat dan dzikir bahkan diceritakan kakinya sampai bengkak. Artinya, orang yang dipilih Allah SWT menjadi insan kamil atau manusia sempurna itu ternyata masih mengedepankan ibadah dan bersyukur kepada Allah SWT. Subhanallah.

Ada tiga hal yang menyebabkan kita memang seharusnya bersyukur kepada Allah SWT. Pertama, nikmat individual. Jika kita hitung, maka dipastikan kita tidak mampu menghitung betapa banyaknya nikmat Tuhan kepada kita secara individual. Nikmat biologis, nikmat prestasi, nikmat psikhologis dan sebagainya semuanya menjadi nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Nikmat makan dan minum, nikmat seksualitas, nikmat bisa bekerja dan mendapatkan rejeki, nikmat memperoleh jabatan, nikmat memperoleh kesehatan, nikmat mendapatkan kepuasan, nikmat atas rasa aman dan sebagainya yang kita rasakan secara individual.

Kedua,  nikmat berkeluarga. Kita harus bersyukur kepada Allah SWT karena kita bisa berkeluarga. Memiliki istri atau suami, anak-anak, cucu-cucu atau dzurriyah, memiliki orang tua dan mertua yang baik. Melalui keluarga tersebut kita bisa berkasih sayang, bisa memiliki rasa saling memiliki, memiliki kegembiraan, memiliki rasa kepuasan, memiliki rasa tanggungjawab, memiliki penghasilan yang bermanfaat, memiliki tempat tinggal, memiliki rasa damai dan sebagainya. Kita harus bersyukur kepada Allah SWT karena kenikmatan demi kenikmatan yang kita dapatkan ini. Betapa lengkapnya kehidupan yang Allah SWT desain untuk kita. Sungguh Allah tidak pernah membuat kita hidup sia-sia tanpa makna.

Memang ada plus dan minusnya di dalam kehidupan berkeluarga, akan tetapi saya yakin bahwa plusnya atau kebaikannya akan lebih banyak dibanding minusnya atau kekurangannya. Yang penting kita harus memahami apa plus dan minusnya, sehingga kita akan bisa menempatkan diri dan keluarga dalam nuansa yang saling membahagiakan.

Ketiga, nikmat dalam kehidupan sosial. Sebagai anggota masyarakat kita mesti bersyukur. Kita hidup di Indonesia yang aman dan damai, tenteram dan nyaman. Apapun status sosial kita, tetapi yang pasti kita tidak hidup dalam peperangan atau konflik sosial. Kita hidup dalam masyarakat yang mengedepankan perdamaian dan persaudaraan. Kita hidup dalam sebuah negeri yang toto tentrem karto raharjo. Negeri yang aman dan tenteram, yang berkecukupan  dan berkesejahteraan. Memang masih ada yang belum bisa menikmati kesejahteraan sepatutnya, akan tetapi sesungguhnya prasyarat kesejahteraan itu sudah ada, yaitu kerukunan,  keharmonisan  dan keselamatan  di dalam kehidupan. Kita juga dapat beribadah dengan tenang. Kita dapat rekreasi dengan tenang. Kita dapat berkuliner dengan tenang. Kita bahkan dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa gangguan dari lingkungan kita.

Oleh  karena itu sudah pantas jika sebagai individu, anggota keluarga dan anggota masyarakat terus bersyukur kepada Allah SWT. Rasanya, nikmat Allah manalagi yang kita dustakan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

TAHLILAN: TRADISI ISLAM LOKAL YANG UNIK

TAHLILAN: TRADISI ISLAM LOKAL YANG UNIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Wafatnya Emak Hj. Mutmainnah  mengharuskan dilakukannya acara tahlilan dan yasinan selama tujuh hari berturut-turut. Menyelenggarakan acara tahlilan dan yasinan merupakan acara yang khas pada masyarakat pedesaan, terutama masyarakat NU atau Islam ala ahli sunnah wal jamaah.

Untuk acara yang satu ini tidak diperlukan undangan sebab telah menjadi tradisi turun temurun dari generasi ke generasi di seluruh Nusantara.  Kalau  terdapat seseorang yang meninggal, maka masyarakat akan berbondong-bondong menghadiri acara pemakaman maupun acara tahlilan dan yasinan. Selama mereka itu orang NU baik NU structural maupun kultural, maka dipastikan akan menghadiri acara tahlilan dan yasinan untuk keluarga yang terkena musibah kematian.

Sebagai bagian dari keluarga ini, maka saya jug mengharuskan diri  untuk terlibat di dalam acara dimaksud. Setiap  malam saya harus hadir pada acara special sebagai persembahan kepada almarhumah Emak Hj. Mutmainnah. Setiap hari harus pergi pulang Surabaya-Mojokerto, tepatnya di Desa Kutogirang Ngoro Mojokerto. Untungnya sudah terdapat jalan tol Surabaya Malang sehingga perjalanan dari desa tersebut ke Surabaya hanya memerlukan waktu 1 jam 15 menit. Meskipun demikian, badan terasa juga capek, sebab acara tahlilan yang diselenggarakan ba’da Isya tersebut membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Tentu saya tidak langsung bergegas pulang. Ngobrol dulu dengan sanak kerabat yang sengaja hadir untuk acara tahlilan dan yasinan. Makanya, jam 22.30 baru sampai rumah Surabaya.

Saya tentu sangat mengapresiasi atas kehadiran jamaah tahlil  dan yasin untuk menghadiahkan bacaan tahlil dan yasin untuk almarhumah. Setiap malam tidak kurang dari 150 orang yang hadir. Mereka datang dari beberapa daerah. Ada yang datang dari Jombang, ada yang datang dari kecamatan lain di Mojokerto serta masyarakat sekitar.  Masyarakat memiliki kesadaran untuk saling membantu keluarga yang berkesedihan. Hadiah bacaan tahlil dan yasin merupakan hadiah spiritual yang luar biasa.

Selain acara tahlil dan yasin juga banyak kerabat yang takziyah di rumah duka. Kerabat dari Tuban juga datang. Bahkan dua kali menyelenggarakan acara tahlilan. Mereka datang menjelang malam ketiga wafatnya almarhumah. Mereka meminta saya untuk memimpin tahlil. Jika dihitung maka malam ketiga tersebut terdapat tiga kali tahilian dan satu kali yasinan. Realitas ini memberikan gambaran betapa para pelaku takziyah itu ingin memberikan hadiah terbaik bagi almarhumah. Petakziyah juga datang dari Surabaya. Kolega saya dari Surabaya juga mengkhususkan diri untuk datang ke rumah duka. Semua petakziyah yang datang tentu tidak hanya datang secara fisikal tetapi juga spiritual. Mereka melakukan doa agar almarhumah mendapat tempat yang layak di sisi-Nya atau memperoleh akhir yang baik atau khusnul khatimah.

Inilah kekhususan Islam Indonesia. Islam dalam tradisi local atau disebut juga sebagai tradisi Islam local. Islam yang terkonstruksi secara akulturatif dengan budaya local Indonesia, sehingga membentuk Islam dalam coraknya yang khas, yaitu Islam Nusantara. Islam yang berada di dalam area Nusantara dengan tradisi dan pemahaman versi masyarakat Nusantara. Islam di Indonesia yang dikonsepsikan sebagai Islam Nusantara merupakan produksi pengetahuan dari para ulama Nusantara dan secara formal bisa berbeda dengan Islam di Arab Saudi, misalnya. Jika Islam di Arab Saudi merupakan produk penafsiran ulama Arab Saudi dengan berbagai konteks sosial politik dan religiousnya, maka Islam Nusantara juga merupakan  produk penafsiran ulama Nusantara dengan ciri khasnya yang kental kenusantaraannya.

Ekspressi keberagamaan berupa tahlilan atau membaca kalimat tauhid dengan berbagai asesorinya, atau bacaan surat Yasin juga dengan berbagai asesorinya dan bacaan dzibaan, barzanjenan dan lainnya adalah produk pemahaman agama yang juga dapat dilacak basis teksnya di dalam berbagai teks-teks klasik yang telah ditulis oleh para ulama pada generasi masa silam.

Yang sering kita dengar misalnya kala membaca yasin dan tahlil dianggap bidh’ah oleh sekelompok da’i salafi wahabi, maka yang sering dikemukakan oleh kalangan NU adalah membaca yasin itu sunnah sama halnya dengan membaca tahlil juga sunnah. Adapun dibaca sendirian atau secara bersama tentu tidak ada larangan yang pasti. Hukum Islam itu tidak hanya halal dan haram tetapi juga ada makruh, sunnah dan mubah. Dengan demikian menghukumi acara tahlilah dan yasinan sebagai haram karena dianggap bidh’ah tentu tidak pada tempatnya.

Berbasis pada pemahaman seperti itu, maka keberadaannya tentu tidak diragukan. Makanya, saya tetap memprediksi bahwa upacara keagamaan yang berupa tahlilan dan yasinan akan tetap menjadi amalan keagamaan yang tetap lestari di masa depan.

Wallahu a’lam bi al shawab.