• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SELAMATKANLAH IMAN KAMI: RENUNGAN RAMADLAN (23)

SELAMATKANLAH IMAN KAMI: RENUNGAN RAMADLAN (23)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kita ini sungguh berhutang budi kepada para ulama di masa lalu yang sudah menyusun doa untuk kemudahan bagi umat Islam. Meskipun terkadang kita tidak tahu artinya, akan tetapi dengan membaca doa tersebut rasanya kita sudah mantap berdoa kepada Allah SWT. Sungguh kita sudah merasa yakin akan makna doa yang sudah dirumuskan oleh para ulama. Kita juga akan semakin yakin berdoa jika kita tahu makna doa yang dibuat oleh para ulama.

Inilah inti ceramah saya pada jamaah Tarawih di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, pada malam 23 atau tepatnya Hari Kamis, 13 April 2023. Acara shalat jamaah tarawih ini diikuti oleh warga Perumahan Lotus Regency dan juga warga Sakura Regency. Ketepatan dua perumahan ini berdampingan. Sungguh merupakan kebahagiaan bahwa saya bisa terlibat di dalam upaya untuk memberikan pemahaman tentang Islam yang ramah kepada para jamaah di perumahan dimaksud. Di tengah ceramah-ceramah agama yang bernuansa “kekerasan simbolik” yang didengungkan di media sosial atau di rumah-rumah ibadah, kita masih tetap konsisten untuk menyebarkan Islam yang ramah, yang sesuai dengan para ulama ahlu sunnah wal jamaah.

Salah satu rumusan doa yang pernah dibuat oleh para ulama kita adalah doa yang selalu dibaca oleh para imam shalat tarawih dan witir. Biasanya doa ini dibaca oleh Imam shalat ba’da shalat witir, yang dua kali salam. Setelah itu kemudian dikumandangkan doa yang popular di waktu bulan Ramadlan. Doa tersebut ingin saya kupas satu saja yang merupakan permulaan doa ialah: Allahumma inna nas’aluka imanan Daiman. Selain itu juga misalnya ada lanjutannya: “wa nas’aluka qalban khasyi’an, wa nas’aluka ilman nafi’an, wa nas’aluka yaqinan shadiqan, wa nas’aluka amalan shalihan, wa  nas’aluka dinan qayyiman  dan seterusnya. Yang artinya: Ya Allah kami memohon kepada-Mu iman yang ajeg”, kami memohon kepada-Mu hati yang khusyu”, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, kami memohon kepada-Mu keyakinan yang benar, kami memohon kepada-Mu amal yang shalih, kami memohon kepada-Mu agama yang benar”.

Doa yang luar biasa bagi umat Islam. Semua tercakup di dalam doa tersebut. Sungguh inilah kebahagiaan kita karena doa tersebut sudah dirumuskan oleh para ulama kita di masa lalu dan kita tinggal menggunakannya. Doa ini bukan dirumuskan asal jadi tetapi merupakan rumusan yang berasal dari Alqur’an dan Alhadits yang disarikan sedemikian rupa.

Pada artikel ini saya hanya akan membahas satu ungkapan doa saja. yaitu memohon kepada Allah iman yang ajeg. Nabi Muhammad SAW melalui para ulama telah mengajarka agar kita memohon kepada Allah agar iman kita kepada Allah itu menjadi iman yang ajeg atau berkelanjutan. Stable and continue. Jangan menjadi iman yang tiba-tiba raib dari dalam diri kita. Secara empiris bahwa banyak orang yang imannya kepada Allah itu berubah. Tidak hanya berkurang tetapi berubah. Ada banyak orang yang konversi beragama karena hilangnya iman kepada Allah tersebut. Ada yang menjadi Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan bahkan Konghucu. Ada orang awam dan ada juga yang tokoh. Siapa yang mengira adiknya Buya HAMKA menjadi pendeta di dalam agama Kristen, siapa yang mengira Sukmawati berpindah ke agama Hindu, dan siapa yang menyangka Ibrahim Saifuddin yang tokoh Islam tiba-tiba berubah keyakinan agamanya. Saya tidak ingin menjelaskan factor-faktor yang menyebabkannya. Biarlah hal tersebut menjadi privasinya.

Tetapi juga banyak tokoh-tokoh ilmuwan yang kemudian menjadi muslim. Di antara professor yang melakukan kajian ilmiah dan kemudian masuk Islam adalah  Fildema O’Leary (peneliti saraf otak manusia), William Brown (peneliti suara halus tumbuh-tumbuhan), Leopold Werner Von Ehrenfels (peneliti hubungan wudhu dengan saraf-saraf sensitive), Keith Moore (peneliti proses penciptaan manusia di dalam Rahim),  Masaru Emoto (peneliti sifat air dengan kata-kata bijak), Maurice Buchaille (peneliti jasad Firaun yang tenggelam di laut), John Dean (ahli kesehatan dan nutrisi), Carner NASA (peneliti fenomena lailatul qadar), dan Jacques Yves Casteau (peneliti ar tawar di laut). Di antara ahli penelitian ini, maka ada yang ahli astronomi, biologi, oceanografi, saraf, dan ahli molekul air.

Kita tentu bersyukur karena bisa menjadi umat Islam berdasarkan factor keturunan. Orang tua kita muslim, maka kita menjadi muslim. Tetapi ada yang karena hidayah Allah. Di antara para peneliti ini menjadi umat Islam karena hidayah Allah. Ada di antara yang ahli ilmu keislaman tetapi tidak mendapatkan hidayah Allah, sehingga tidak bisa mencicipi keindahan Islam.

Kita memang menjadi Islam tanpa pergulatan untuk menemukannya. Oleh karena itu kita harus tetap berdoa agar iman kita ini menjadi iman yang langgeng, dan iman ini terus bercokol dan menghunjam di dalam kalbu kita sepanjang hidup dan akhirnya wafat dalam khusnul khatimah.

Harus disadari bahwa iman itu ada kalanya meningkat dan ada kalanya menurun. Jika seandainya menurun agar jangan sampai turun drastic di titik nol dan kemudian karena godaan setan lalu iman itu kabur dari dalam diri kita.

Yang diharapkan dengan doa di atas adalah agar iman kita itu terus menetap dan berkecenderungan meningkat. Dan bulan puasa adalah bulan di mana peningkatan iman itu harus diupayakan.

Wallahu a’lam bi alshawab.

 

PUASA SEBAGAI INSTRUMEN KASIH SAYANG: RENUNGAN RAMADLAN (22)

PUASA SEBAGAI INSTRUMEN KASIH SAYANG: RENUNGAN RAMADLAN (22)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu kelebihan ajaran Islam dalam relasi antar manusia adalah ajaran tentang kasih sayang. Ajaran kasih sayang tersebut bersumber dari konsep Rahman dan Rahim yang merupakan sifat dasar Allah SWT sebagai dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan di dalam setiap tindakan kebaikan, maka dipedomani agar seseorang membaca basmalah atau kalimat “bismillahir rahmanir Rahim”, yang artinya “dengan Asma Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”.

Jika orang mau bekerja diutamakan agar membaca basmalah agar pekerjaannya tersebut bernilai religious atau bernilai keagamaan. Jika orang mau bepergian, juga diutamakan membaca doa yang diawali dengan basmalah. Jika orang mau makan dan minum juga diutamakan agar membaca basmalah. Jika orang akan berjuang menyebarkan ajaran Islam, maka diutamakan untuk membaca basmalah. Semua didesain agar setiap langkah apapun yang dilakukan oleh manusia tidak terlepas dari bacaan kalam mulia, basmalah.

Di antara pembeda antara umat Islam dan lainnya adalah pada dimensi keutamaan dalam melakukan segala sesuatu berbasis pada ucapan atau kalam mulia, basmalah. Dengan membaca basmalah, maka apa yang dilakukan manusia tersebut akan memiliki nilai ibadah kepada Allah SWT. Sebagaimana dipahami bahwa orang yang bekerja tentu memiliki tujuan atau purpose, memiliki hope atau harapan dan memiliki sahabat atau friendship. Jika semua itu didasarkan atas ucapan basmalah, maka tujuan, harapan dan persahabatan tersebut akan memiliki nilai religiositas. Tujuan dan harapan itu tidak hanya instrumental untuk memeroleh uang akan tetapi memperoleh keridlaan Allah.

Inti basmalah adalah asma Allah, dan inti asma Allah adalah al Rahman dan al Rahim. Sifat kasih sayang Tuhan kepada seluruh alam. Semua ciptaan Allah diberikannya peluang untuk hidup dengan segala keperluan hidup. Diturunkan hujan untuk bumi, misalnya, dan melalui hujan itu maka yang mati menjadi hidup. Air laut yang memuai karena panas matahari kemudian naik ke atas dan menjadi awan, dan dari awan kemudian menjadi hujan. Maka dengan berkah hujan maka seluruh alam menjadi hidup kembali. Tubuh manusia juga kebanyakan berisi air, kira-kira 70 persen. Makanya manusia bisa puasa selama 72 jam hanya dengan minum saja meskipun tidak makan apapun.

Di dalam Surat Fushilat, 39: “apabila turun hujan ke bumi, tanah menjadi subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang segar. Tuhan yang menyuburkan bumi yang gersang. Itulah Tuhan yang kelak akan  menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Sungguh Allah Maha Kuasa berbuat apa saja”. Turunnya air hujan ke bumi adalah wujud kasih sayang Tuhan kepada seluruh alam.

Semua mendapatkan kasih sayang Tuhan. Agamanya apapun tidak menjadi masalah. Apakah beragama Islam, Nasrani,  dan lainnya semua mendapatkan kasih sayang dari Allah. Bukan hanya yang beragama Islam saja yang mendapatkan kasih sayang di muka bumi dari Allah. Tetapi semua makhluk Tuhan di dunia mendapatkan kasih sayang Tuhan, al Rahman. Sedangkan al Rahim memang nanti akan didapatkan manusia di dalam alam akherat.

Puasa merupakan ajaran yang memberikan pedoman bagi  umat Islam untuk memiliki rasa kasih sayang. Disyariatkan melalui puasa agar manusia memiliki rasa simpati dan empati kepada manusia lainnya. Disyariatkan agar manusia mengeluarkan sebagian kecil hartanya untuk umat lainnya. Bahkan tidak perduli apa suku bangsa, ras, bahkan agamanya. Menyayangi manusia tidak harus memandang apa agamanya.

Sebagai contoh, ketika ada orang yang mengalami kecelakaan di jalan raya, maka tidak perlu kita tanya apa agamanya. Jangan sampai ada orang kecelakaan di jalan, lalu ditanya apa agamanya kemudian kita menolong atau tidak jadi menolongnya. Memberikan pertolongan dapat dilakukan kepada siapa saja, tanpa memandang apapun tentang yang bersangkutan. Kesiapan mental untuk menolong seperti ini yang hakikatnya ingin diajarkan Tuhan kepada manusia. Kasih sayang yang tulus atas nama kemanusiaan.

Islam memberikan konsep yang sangat indah tentang relasi sosial yang disebut sebagai ukhuwah insaniyah atau ukhuwah basyariah. Inti dari konsep basyariyah adalah  kasih sayang atau al Rahman. Konsep ini berasal dari sifat al Rahman Allah swt, sehingga di kala manusia telah ditiupkan roh oleh Allah, maka sesungguhnya manusia memiliki rasa kasih sayang kepada sesamanya.

Binatang saja diberi oleh Allah sifat kasih sayang. Misalnya induk binatang, maka dia akan memiliki sifat sayang kepada anak-anaknya dan bahkan dipertahankannya kala terdapat serangan dari binatang lainnya. Perhatikan di channel Youtube tentang bagaimana binatang bisa memberikan full kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Tidak hanya menyusuinya, akan tetapi juga bertahan atas serangan binatang lainnya.

Kala saya membicarakan tentang kasih sayang kepada sesama umat manusia, saya menjadi teringat kata bijak yang disampaikan oleh Gus Dur, Presiden RI ke 4, bahwa: “jika kamu berbuat baik kepada orang lain, maka orang tidak akan mempertanyakan apa agamamu”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA SEBAGAI INSTRUMEN JIHAD AKBAR: RENUNGAN RAMADLAN (21)

PUASA SEBAGAI INSTRUMEN JIHAD AKBAR: RENUNGAN RAMADLAN (21)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Suatu hari Nabi Muhammad SAW pulang dari peperangan yang paling besar melawan Kaum Quraisy yang dikenal sebagai peperangan paling besar, perang Badar. Tetapi Nabi Muhammad SAW justru menyatakan bahwa kita pulang dari perang kecil menuju perang besar. Nabi Muhammad SAW menyatakan: raja’tu min jihadil ashghar ila jihadil akbar. Yang artinya saya pulang dari jihad kecil menuju jihad besar, lalu para Sahabat Nabi menanyakan: jihad apa itu ya Rasulullah, maka Nabi Muhammad SAW menyatakan: jihad melawan hawa nafsu.  jihadun nafs.

Perang fisik, satu melawan satu, sebagaimana perang di masa lalu, memang sudah tidak lagi didapatkan di dunia modern. Perang sekarang sudah menggunakan senjata mekanik, misalnya senjata laras panjang atau  rudal atau bahkan menggunakan virus mematikan. Jadi perang tidak sebagaimana di masa lalu yang terjadi antara pasukan perang kedua belah pihak, seperti pasukan Nabi Muhammad SAW melawan pasukan kaum Kafir Quraisy. Atau di dalam Baratayudha, kita bisa melihat bagaimana pasukan Pandawa dan pasukan Kurawa berperang satu melawan satu. Bahkan sekarang lebih canggih lagi yaitu perang dalam bentuk proxy war atau perang dalam bentuk pembunuhan karakter. Perang ini menggunakan media sosial sebagai instrumennya.

Perang yang lebih luas adalah perang melawan hawa nafsu. Nafsu itu memiliki cakupan yang luas. Misalnya nafsu untuk menguasai orang atau bahkan negara lain, nafsu untuk menihilkan orang atau masyarakat lain, nafsu untuk menguasai kekayaan dan harta orang lain, nafsu untuk memperoleh kekuasaan dan sebagainya. Nafsu angkara murka seperti itu sungguh berbahaya. Misalnya Hitler yang ingin menguasai seluruh dunia sehingga mengakibatkan Perang Dunia ketiga, dan berakibat jatuhnya bom di Nagasaki dan Hiroshima, dan melayangnya nyawa jutaan orang.

Bahkan juga munculnya keinginan untuk menciptakan robot-robot atau artificial intelligent yang bisa merusak manusia jika tidak dikendalikan. Misalnya penciptaan Hori, robot Wanita, yang bisa merusak tatanan perkawinan atau rumah tangga. Jadi akal manusia dan nafsunya harus dikendalikan agar segala bentuk inovasi tidak merusak kemanusiaan. Jangan sampai perilaku kaum Sodom di masa lalu yang diadzab Allah akan terulang karena akal manusia dengan nafsunya yang tidak terkendali.

Di sinilah letak urgensi puasa sebagai salah satu instrument bagi manusia untuk mencegah segala hawa nafsu yang akan merusak kemanusiaan. Manusia memiliki keinginan yang banyak macamnya. Kebanyakan adalah kemauan yang melanggar norma agama atau norma sosial. Manusia memang dibekali oleh Allah dengan bekal akal yang melebih semua ciptaan Tuhan di dunia ini. Kumpulan sel-sel yang menggumpal menjadi otak itu berkemampuan untuk membuat inovasi, baik yang menguntungkan manusia atau yang merugikan manusia.  Dan bahkan merusak kehidupan di dunia.

Puasa dapat dijadikan sebagai sarana untuk merekonstruksi kemauan manusia agar bersearah dengan kebaikan dan kemanfaatan bagi manusia. Inovasi di dalam bidang teknologi yang diharapkan adalah untuk menciptakan kesejahteraan manusia. Bukan sebaliknya. Peralatan rumah tangga yang dibuat melalui inovasi di bidang teknologi terapan seharusnya berguna untuk memudahkan manusia di dalam kehidupan. Pembangunan rumah dengan teknologi canggih juga untuk memudahkan manusia. Misalnya bisa mematikan lampu, atau bahkan mematikan kompor dari jarak jauh, dan sebagainya.

Puasa disyariatkan Tuhan agar manusia dapat mengekang jiwa amarah dan lawwamah untuk diarahkan kepada jiwa yang muthmainnah. Dari jiwa yang gersang ke jiwa yang sejuk berbasis moralitas agama. Dari jiwa yang garang ke jiwa yang lembut. Dari jiwa yang ingin menguasai ke jiwa yang melayani. Dari jiwa yang putus asa ke jiwa yang terus berusaha. Dari jiwa yang merusak ke jiwa yang membangun. Dari jiwa yang takabur ke jiwa yang tawadhu’. Dari jiwa yang mematikan kemanusiaan ke jiwa yang menghidupkan kemanusiaan. Dari jiwa yang syakwasangka ke jiwa yang berbaik sangka. Dari jiwa yang kotor ke jiwa yang bersih.

Puasa akan mengarahkan jiwa atau nafsu yang baik  atau jiwa yang baik. Puasa merupakan sekolah untuk memahami jiwa kita sendiri dan kemudian mengarahkannya kepada ijazah yang berupa jiwa yang muthmainnah. Selama satu bulan, fisik dan mental kita diasah atau dilatih untuk bersabar dan bersyukur, berusaha dan berdoa, tawakkal untuk  menerima ketentuan Allah SWT.

Puasa  berarti mengekang. Yang paling susah adalah mengekang hawa nafsu. Yakni nafsu destruktif. Jadi dengan melakukan puasa selama satu bulan yang penuh dengan keikhlasan dan ketaqwaan, maka nafsu destruktif akan menjadi nafsu konstruktif dan dosa kita akan diampuni oleh Allah SWT. Semoga pada sepuluh hari terakhir kita bisa menggapai itqun minan nar. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

DAHSYATNYA LAILATUL QADAR: RENUNGAN RAMADLAN (20)

DAHSYATNYA LAILATUL QADAR: RENUNGAN RAMADLAN (20)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di antara kelebihan Bulan Ramadlan bagi umat Islam adalah diturunkannya Aqur’an. Sebagaimana yang dipahami oleh ulama-ulama di Indonesia bahwa turunnya Alqur’an adalah pada  17 Ramadlan. Jadi, pada 2023, peringatan turunnya Alqur’an atau Nuzulul Qur’an pada  8 April 2023 yang lalu. Hal itu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadlan 1444 Hijriyah. Tetapi selain ada peristiwa turunnya Alqur’an juga terdapat malam yang sangat luar biasa dahsyatnya yang melebihi 1000 bulan  yang disebut sebagai Lailatul Qadar.

Demikian inti ceramah yang disampaikan oleh Ustadzah Luluk Ita Nur Rasidah, SAg.,  Mahasiswi Pascasarjana Prodi Tafsir dan Hadits UIN Sunan Ampel Surabaya. Ustadzah Luluk adalah mahasiswi UINSA yang beberapa kali menjadi juara dalam lomba syarhil Qur’an pada even MTQ Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Selain itu juga sering menjadi pembawa acara pada acara Wisuda pada UINSA.

Di dalam ceramahnya, ustadzah Luluk menjelaskan tentang hikmah diturunkannya  lailatul qadar. Ustadzah Luluk menukil Kitab tafsir dari ulama Indonesia.  Berdasarkan tafsir Al Misbah yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Quraisy Syihab, maka Lailatul Qadr tersebut memiliki rahasia dan keutamaan yang sangat dahsyat.

Pertama, adalah malam diturunkannya Alqur’an. Alqur’an al karim sesungguhnya diturunkan pada bulan Ramadlan sehingga disebut sebagai bulan yang sangat mulia. Alqur’an adalah kalam Tuhan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW dan kemudia dijadikan sebagai kitab suci bagi umat Islam. Kalam Tuhan di dalam Islam menjadi kitab suci Alqur’an dan di dalam agama Nasrani menjadi tubuh Yesus atau Isa al Masih. Kitab suci Alqur’an diyakini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW akan dapat menjadi penolong manusia besuk di padang mahsyar.

Kedua, adalah malam yang mulia, sebab amalan ibadah yang dilakukan pada malam itu akan memiliki nilai lebih dari 1000 bulan. Para ulama berbeda pendapat tentang kapan turunnya malam qadr. Ada yang menyatakan pada bulan Ramadlan, ada yang menyatakan 10 hari terakhir, ada yang menyatakan pada malam ganjil, ada yang menyatakan pada malam 27.

Di dalam Alqur’an dijelaskan sebagaimana  tercantum di dalam surat Al Qadr, yaitu: inna ‘anzalnahu fi lailatul qadr. Wa ma adraka ma lailatul qadr. Lailatul Qadri khoirum min alfi syahr. Tanazzalul malaikatu warrughufiha bi idzni rabbihim min kulli amr. Salamun hiya hattamath la’il fajr. Yang artinya: “sesungguhnya kami turunkan Alqur’an pada malam  qadr. Apakah lailatul qadr tersebut. Malam kemuliaan  itu lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Roh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah  (malam itu) sampai terbit fajar”.

Ketiga,  malam turunnya para malaikat untuk memberi ucapan selamat kepada para jamaah masjid, mushalla dan tempat ibadah umat Islam. Pada malam  qadar tersebut para malaikat diberi izin oleh Allah untuk datang ke bumi guna menyebarkan berkah yang diberikan oleh Allah. Para malikat tersebut menurunkan berkah dari Allah kepada umat Islam yang menjalankan perintah Allah, misalnya bertadarrus Alqur’an, membaca dzikir, melakukan qiyamul lail, dan melakukan amalan-amalan kebaikan.

Keempat, malam yang tenang. Di antara pertanda datangnya malam lailatul qadar adalah kala alam menjadi tenang. Alam berada di dalam kedamaian. Alam berada di dalam kesenyapan. Alam berada di dalam nuansa yang penuh dengan kebaikan. Suasana alam sangat berbeda dengan malam-malam lainnya yang bukan turunnya lailatul qadr. Bagi para alim yang telah memasuki kedekatan dengan Tuhan, maka akan bisa merasakan adanya perbedaan nuansa alam dimaksud.

Saya menambahkan sedikit analisis terkait dengan malam qadar. Setiap umat Islam yang telah menjalani ajaran Islam dengan baik, maka dipastikan memiliki potensi untuk memperoleh anugerah lailatulqadr. Namun secara tipologis akan dapat dikategorikan sebagai berikut: 1) para ahli tasawuf yang sudah memasuki dunia tajalli atau memasuki area ketuhanan atau kedekatannya dengan Allah itu sudah dalam kemenyatuan, maka memiliki potensi yang sangat besar. Kemenyatuan itu adalah bahasa simbolis bukan bahasa realitas. Artinya manusia yang berbadan fisik itu lalu masuk ke dalam Tuhan, tetapi melambangkan tentang kedekatan yang tidak terpisah jarak secara spiritual atau alam ruhaniyah.

2) para alim atau ahli ilmu, misalnya ahli fiqih, ahli hadits, ahli  tafsir juga potensial untuk mendapatkan rahmat Allah yang berupa berkah lailatul qadr. Dan ke 3) adalah orang awam juga potensial untuk mendapatkan malam qadar. Hanya saja bahwa upaya untuk memperoleh malam qadar, bagi ketiganya memang berbeda.

Adakah malam qadar itu? Jawabannya berasal dari Parker Carner, ilmuwan NASA,  menyatakan bahwa NASA menyembunyikan fakta tentang lailatul qadar. Malam  Qadar atau disebut baljah di mana suhu di bumi sedang dan tidak ada meteor jatuh ke bumi, lalu pada  pagi harinya matahari terbit tanpa radiasi. Setiap hari terdapat sebanyak 10 bintang dan 20 ribu meteor yang jatuh ke bumi dan pada malam qadar itu tidak ada satupun bintang dan meteor yang jatuh. NASA sudah menemukan fakta ini sesuai dengan pernyataan  Dr. Abdul Basyid As Saeed bahwa lailatul qadar merupakan fenomena yang nyata.  Dari temuan NASA ini, akhirnya Parker Carner masuk Islam.

Kebenaran Islam sudah dibuktikan tidak hanya dengan akal transcendental tetapi juga dengan akal ilmiah. Jika sudah seperti ini, lalu apakah ada yang menyangsikan kebenaran Islam. Saya kira memang hanya hidayah Allah saja yang memastikannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

HAKIKAT BERSYUKUR: RENUNGAN RAMADLAN (19)

HAKIKAT BERSYUKUR: RENUNGAN RAMADLAN (19)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagai makhluk ciptaan Allah yang terbaik, fi ahsani taqwim, maka manusia memiliki kelebihan dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia bisa berpikir, merasa dan memiliki rasa kasih sayang, dan perasaan ketuhanan. Manusia memang diciptakan sebagai sebaik-baik ciptaan, bahkan lebih baik dari makhluk Tuhan yang gaib sekalipun. Hanya saja di dalam perjalanan kehidupan ada yang bisa dikategorikan kal hayawan atau seperti binatang dan kal malaikah atau seperti malaikat.

Salah satu kelebihan manusia adalah diberi potensi untuk bersyukur kepada Allah SWT. Sebagaimana yang sering saya tulis, bahwa bersyukur itu dapat dilakukan dengan ucapan misalnya alhamdulillahi rabbil alamin dan juga melalui perbuatan baik yang ditujukan kepada Allah, kepada manusia dan juga bahkan kepada makhluk hidup lainnya. Menjalankan amalan kebaikan merupakan salah satu cara kita bersyukur kepada Allah. Kala diberi kekayaan  yang cukup, maka kita berdekah, berinfaq,  dan berzakat. Kala  diberi kekuasaan kita sedekah dengan kekuasaan, dan sebagainya.

Menurut Gus Khobirul Amru, Al Hafidz, yang mengutip ulama-ulama Islam,  di dalam salah satu ceramah Tarawih di Masjid Al Ihsan, Ahad/09/04/2023, dinyatakan bahwa ada dua pemahaman tentang syukur, yaitu: syukur dalam makna bahwa Allah melanggengkan kenikmatan yang diberikan kepada kita, dan syukur bermakna bahwa kenikmatan  itu ditambah-tambah oleh Allah SWT. Jadi hakikat syukur adalah untuk  kelanggengan kenikmatan dan bertambahnya kenikmatan. Keberkahan yang berlipat-lipat. Pertambahan berkah adalah inti dari nikmat Allah SWT.

Ada nikmat yang hanya sebentar dirasakan dan setelah itu selesai. Tetapi ada juga nikmat yang terus dirasakan dan bahkan bertambah-tambah kenikmatan tersebut. Itulah sebabnya manusia harus bersyukur kepada Allah agar kenikmatan tersebut terus bertambah dan bukan sebaliknya. Kelanggengan dan pertambahan kenikmatan tersebut akan diberikan Allah jika kita bersyukur kepada Allah. Lain syakartum la azidannakum wa lain kafartum inna adzabi lasyadid. Kurang lebih artinya adalah jika kamu bersyukur kepada Allah, maka Allah akan menambah kenikmatannya dan jika kamu ingkar maka Allah akan memberikan adzab yang pedih.

Sungguh nikmat Allah itu sangat besar bagi kehidupan manusia. Bahkan seandainya kita menghitungnya pasti tidak akan mampu  menghitungnya. wain ta’uddu ni’matallahi la tuhsuha (An Nahl, 18),  yang artinya dan  jika kamu  akan menghitung nikmat Allah pasti kamu  tidak akan mampu menghitungnya. Begitu Allah menjelaskannya. Begitu banyaknya nikmat Allah kepada manusia yang dirahmatinya. Hanya saja terkadang kita lupa untuk bersyukur atas semua kenikmatan Allah dimaksud.

Betapa banyak nikmat Allah atas kesehatan. Berapa banyak oksigen yang bisa dihirup dengan leluasa setiap jam, setiap hari dan setiap tahun. Tanpa biaya alias gratis. Padahal harga oksigen itu mahal sekali. Jika kita menggunakan oksigen yang disediakan pabrik untuk urusan kesehatan betapa mahalnya agar oksigen dimaksud. Lalu, misalnya jantung sebagai pemompa darah ke otak. Betapa besar nikmat Allah selama ini terhadap fungsi jantung yang  secara natural kita terima. Jika jantung  terjadi masalah misalnya penyempitan pembuluh darahnya, maka misalnya harus dilakukan operasi by passed, tentu tetap mengandung resiko. Jika paru-paru yang bermasalah, maka tentu juga harus melalui proses operasi rumit. Jika kena diabetes lalu harus minum obat selama hidup dan injeksi insulin. Belum lagi penyakit kanker, hipertensi, hemodialisa, dan hepatitis. Tentu masih ada sejumlah penyakit lain yang akan menjadi beban bagi individu di dalam kehidupan.

Oleh karena itu, betapa mahalnya kesehatan. Bahkan mungkin tidak bisa dibayangkan. Di dalam realitas ini, maka Allah telah memberikan kepada kita kenikmatan yang luar biasa besarnya, yaitu nikmat kesehatan.

Belum lagi nikmat kepemilikan harta benda, kekayaan dan status sosial yang baik. Dengan harta dan kekayaan, dengan status sosial dan kedudukan maka kita akan memiliki banyak kenikmatan. Selain itu juga ada fungsi latent atau fungsi tambahan dari  seluruh fungsi manifest yang terkait dengan fungsi status dan fungsi sosial dimaksud. Misalnya setiap jabatan akan mengandung fungsi manifest sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, dan juga mengandung fungsi latent berupa kekuasaan yang lebih luas.

Bayangkan kenikmatan yang didapat dengan fungsi-fungsi ini, sehingga sudah sepatutnya orang yang berada di dalam jalur ini harus bersyukur kepada Allah SWT, agar kenikmatan itu akan dapat dirasakan secara terus menerus dan bahkan bertambah banyak dan bermanfaat. Makanya Allah menganjurkan agar kita bersyukur  atas kenikmatan yang kita dapatkan.

Islam mengajarkan agar selain menikmati pemberian Tuhan juga bersyukur atas kenikmatan tersebut. Islam selalu mengajarkan adanya ajaran keseimbangan. Menerima dan memberi. Terima dan kasih. Terima kasih maknanya kita menerima dan ngasih atas apa yang kita terima. Islam mengajarkan ajaran kasih dan sayang dalam bentuk zakat, infaq dan shadaqah serta wakaf yang bertujuan untuk kepentingan kesejahteraan sosial.

Dengan demikian, sesungguhnya Allah sudah memberikan petunjuk yang jelas agar kita bersyukur, dan siapa yang bisa bersyukur maka Allah akan melanggengkan kenikmatan yang kita terima dan bahkan memberikan lebih banyak lagi kenikmatan tersebut.

Wallahu a’lam bi al shawab.