• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KESEHATAN JIWA BETAPA PENTINGNYA: RENUNGAN RAMADLAN (18)

KESEHATAN JIWA BETAPA PENTINGNYA: RENUNGAN RAMADLAN (18)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Menjadi orang sehat lahir dan batin atau menjadi sehat fisik dan jiwa atau sehat wal afiat adalah karunia yang sangat luar biasa bagi umat manusia, tidak perduli apa etnisnya, suku bangsanya, agamanya dan golongan sosialnya. Semua orang memang membutuhkan sehat agar hidup menjadi bermakna. Tanpa kesehatan lahir dan batin, maka hidup hanyalah sekedar hidup, hidup yang tidak membawa kepada kebahagiaan. Sama sekali.

Manusia memiliki kebutuhan, baik kebutuhan fisik atau kebutuhan biologis, kebutuhan sosial dan kebutuhan integrative. Semua kebutuhan ini harus dipenuhi secara seimbang. Ada hukum keseimbangan yang mendasari semuanya. Tetapi di dalam realitasnya, ada orang yang melebihkan kebutuhan biologis, misalnya dengan menumpuk harta dengan cara apapun. Hidup untuk memenuhi insting kebinatangan, yang hanya memenuhi kebutuhan biologisnya. Banyak manusia yang terjerembab pada area ini, sehingga kebutuhan integrative yang di dalamnya terdapat kebutuhan spiritual, lalu tidak terurus apalagi terpenuhi. Tipe manusia seperti ini yang banyak jumlahnya.

Seirama dengan semakin menguatnya sikap hidup hedonis dan materialistis, maka manusia banyak yang memiliki moral hazard, permissiveness dan serba boleh. Apapun dilakukan asal tujuan hidupnya tercapai. Di dalam politik disebut sebagai prilaku Machiavellis atau tujuan menghalalkan segala cara. Untuk mencapai tujuan, apapun bisa dilakukan. Pokoknya tujuan tercapai. Makanya kemudian menghasilkan manusia yang tidak memiliki moralitas berbasis ajaran agama.

Puasa diturunkan oleh Allah SWT agar manusia bisa mengekang hawa nafsu yang serakah, ingin menang sendiri, menganggap diri paling hebat, merasa paling bermanfaat, merasa bahwa dirinya tidak memiliki lawan dan sebagainya. Puasa  disyariatkan dalam rangka untuk mengeliminir atas kecenderungan nafsu yang salah arah. Mengedapkan nafsu amarah dan nafsu lawwamah, sebaliknya meminggirkan nafsu muthmainnah.

Lalu apa kaitan antara puasa dan kesehatan jiwa? Kesehatan fisik dan kesehatan jiwa merupakan dua komponen yang tidak bisa dipisahkan. Qalbun salim fi jismin salim. Hati atau jiwa yang sehat terletak di dalam badan yang sehat. Ini pasti. Ini dalil. Artinya tidak ada orang yang bisa membantah atas maqalah ini. Jadi artinya bahwa ada tubuh yang sehat dan ada hati yang sehat. Jika keduanya sehat maka bahagialah kita sebagai manusia. Orang yang badannya sehat pastilah happy. Tetapi orang yang tubuhnya sehat belum tentu jiwanya sehat. Misalnya orang gila. Di dalam banyak hal tubuhnya sehat meskipun yang dimakan itu belum tentu makanan yang sehat. Yang diminum juga belum tentu minuman sehat.

Salah satu keuntungan kita adalah memiliki badan yang sehat dan jiwa yang sehat. Keduanya fixed untuk hidup sebagai manusia yang normal. Hidup normal sesuai dengan usia kita. Janganlah orang tua mengukur kesehatan fisik, terutama, dengan yang masih muda. Ibaratnya mesin, maka orang tua itu pastilah banyak orderdil di dalam tubuhnya yang sudah karatan, ada yang aus, ada yang perlu direparasi dan seterusnya. Yang bermasalah misalnya jantung, paru-paru, gula darah, kolesterol, asam urat, pencernaan, dan sebagainya. Berkurangnya fungsi masing-masing tentu dipengaruhi oleh factor usia. Semakin tua maka semakin banyak organ tubuh yang mengalami penurunan fungsi.

Termasuk juga kemampuan otak manusia. Jika usia menua, maka kemampuan berpikir juga berkurang. Contoh sederhana, tulisan tangan akan menjadi  semakin jelek dan sulit terbaca. Jika mengetik di laptop atau lainnya maka  kemampuan tangan tidak seimbang dengan kapasitas otak, sehingga banyak kesalahan di dalam tulisan. Jadi memang terdapat penurunan fungsi fisik di kala usia semakin merambat tua.

Sesungguhnya, ada kaitan antara fisik dan jiwa karena keduanya bekerja secara sistemik. Jiwa yang sehat hanya akan terjadi karena fisik yang sehat. Dan jiwa yang sehat juga akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik. Makanya, kita harus berpikir positif atau positive thinking agar fisik kita tidak terpengaruh olehnya. Orang yang suka marah,  maka akan berpengaruh terhadap tekanan darah, tekanan gula darah dan juga fungsi-fungsi tubuh lainnya. Orang yang memiliki problem besar di dalam hidupnya dan tidak kunjung ada solusinya, maka juga akan berpengaruh terhadap kesehatan fisiknya.

Itulah sebabnya kita harus berpikir positif. Berpikir yang sehat. Dengan berpikir yang sehat, maka tubuh kita juga akan menjadi sehat. Dan di antara cara terpenting agar tubuh kita sehat adalah adalah dengan pikiran yang penuh dengan syukur atas kenikmatan Allah SWT. Bersyukur dengan ungkapan dan perbuatan. Dengan ungkapan, misalnya dengan menyatakan syukur alhamdulillah, lalu syukur dengan perbuatan adalah selalu beramal kebaikan. Bershadaqah, berinfaq, menyenangkan hati orang lain, jangan iri dan dengki, jangan hasud pada orang lain dan semua amalan yang akan menjadikan hati atau jiwa kita menjadi jiwa yang muthmainnah.

Orang kaya dan banyak hartanya belum tentu jiwanya tenang. Orang yang berkuasa juga belum tentu jiwanya tenang. Orang yang kekurangan juga bisa hidupnya tenang. Semuanya kembali kepada bagaimana kita mengolah batin, agar kita berada di dalam aura kehidupan yang bersyukur atas semua nikmat Allah, terutama nikmat bisa mengabdi dan beribadah kepada-Nya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

KALA SETAN DIBELENGGU: RENUNGAN RAMADLAN (17)

KALA SETAN DIBELENGGU: RENUNGAN RAMADLAN (17)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bermula dari Pak Mulyanta yang mengantarkan diskusi dalam acara Ngaji Bahagia di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Pada bulan Puasa ini memang Ngaji Bahagia tidak selalu Hari Selasa, akan tetapi terkadang dilaksanakan pada Hari Rabo. Ketepatan untuk Ngaji Bahagia kali ini dilaksanakan pada Hari Rabo, 22/03/2023. Sebagaimana biasa maka acara ini dihadiri oleh Ketua Ta’mir Masjid, Pak Rusmin, lalu juga  Pak Budi, Pak Hardi, Pak Sahid, Pak Suryanto, Pak Lukman, Cak Alif, Cak Daus dan lain-lain.

Pak Mulyanta, menyampaikan agar kita semua bersyukur ke hadirat Allah SWT karena berkah yang diberikan oleh Allah SWT. Kita bisa berpuasa dan semoga sampai akhir bulan tidak ada halangan bagi kita untuk terus berpuasa. Sungguh-sungguh kita ini berbahagia karena bisa melaksanakan kewajiban kita sebagai umat Islam. Semoga puasa yang kita lakukan ini menjadi bukti atas keimanan dan keislaman kita semua.

Berikutnya juga disampaikan bahwa puasa itu ibadah yang khusus, karena sudah diwajbikan kepada umat-umat sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW. Artinya bahwa umat-umat Nabi terdahulu juga sudah melaksanakan puasa. Hanya saja tatacara puasanya tentu berbeda dengan puasa yang kita lakukan. Dan dalam  hal yang perlu didiskusikan adalah bagaimana setan itu dibelenggu atau setan itu dikerangkeng. Bagaimana membelenggunya dan apakah benar setan itu dibelenggu pada bulan puasa. Jika memang benar dibelenggu tentu tidak ada orang yang melakukan kesalahan dan dosa. Padahal di bulan puasa ini masih banyak perilaku dosa yang dilakukan bahkan oleh orang Islam, orang yang mengaku sebagai orang Islam. Ini hal yang perlu mendapatkan pencerahan.

Secara tidak langsung, maka saya yang menjadi narasumber tentang ungkapan menarik dari Pak Mulyanta tersebut. Oleh karena itu lalu saya sampaikan beberapa hal mendasar mengenai pertanyaan-pertanyaan menarik dimaksud. Pertama, puasa merupakan ibadah yang secara umum dilakukan oleh umat manusia. Agama-agama, baik agama Samawi maupun agama ardhi, maka di dalamnya terdapat ajaran puasa. Jadi puasa bukan ajaran di dalam Islam saja tetapi ajaran agama-agama di seluruh dunia. Jadi berpuasa merupakan pola umum ajaran agama-agama di dunia. Hanya caranya yang berbeda. Ada yang hanya tidak memakan daging, ada yang puasa pada hari-hari tertentu dengan menghindari pantangan tertentu dan ada yang puasanya itu selama hidup dan hanya makan sekali dalam satu hari, dan sebagainya. Bahkan juga di dalam tradisi Jawa dikenal ada puasa-puasa yang  khas yang merupakan tradisi turun temurun dari leluhur masyarakat Jawa, misalnya puasa mutih, puasa ngebleng, puasa ngrowot, puasa pati geni, puasa mbatang dan sebagainya. Semua ini dilakukan dalam kerangka untuk terkabulnya keinginan kita sebagai manusia.

Islam sebaliknya mengajarkan tatacara puasa yang berbeda. Yaitu tidak makan,  minum dan perilaku seksualitas pada siang hari dan tidak berpuasa pada malam hari. Di dalam puasa maka kita diminta untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, misalnya menggunjing, melihat-lihat sesuatu yang membatalkan puasa dan mendengarkan hal-hal yang mengurangi keabsahan puasa. Jika kita ingin puasa dengan memperhatian mana yang dilarang dan mana yang harus ditinggalkan maka kita akan memperoleh pahala yang sangat besar dan bahkan dijanjikan akan diampuni dosa kita pada masa yang lalu. Ghufiro lahu ma qaddama min dzanbihi.

Kedua,  di dalam Islam, begitu pentingnya bulan Ramadlan, dan pentingnya umat Islam untuk menjalankan puasa, maka sampai Rasulullah SAW itu menyatakan bahwa pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Hadits ini menggambarkan betapa pentingnya puasa bagi umat Islam. Selain rewardnya yang hebat, bisa menghapus dosa, dilipatgandakan pahala, dan bahkan surga dibuka, neraka ditutup dan setan dibelenggu. Inilah berita gembira bagi orang yang melakukan puasa. Orang yang diberikan keutamaan karena menjalankan ibadah puasa. Bahkan Allah juga akan memberikan langsung pahala kepada orang yang melakukan ibadah puasa. Wa ana ijzi bihi. Luar biasa.

Ketiga, Sabda Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatlan oleh Bukhori dan Muslim, menyatakan Rasulullah SAW bersabda: “Apabila bulan Ramadlan datang, maka pintu-pintu surga akan dibukakan,  dan pintu-pintu neraka akan ditutup, serta setan-setan akan dibelenggu”. Apa kira-kira pemahaman kita tentang hadits yang diriwayatkan oleh dua ulama hadits terkenal ini. Menurut saya ada tiga hal yang bisa dijelaskan, yaitu:

1) jika melihat makna lafdzi atau makna teks yang terekspose, maka dipastikan bahwa surga dibuka, neraka di ditutup dan setan dibelenggu itu sesuatu yang bercorak fisikal transcendental atau imajinasi fisik yang tidak kasat mata. Jadi diimaginasikan bahwa surga dan neraka itu ada fisiknya, demikian pula setan itu juga ada jasadnya. Dalam pemahaman kaum jismiyah, maka semuanya ada bendanya, ada fisiknya. Bahkan misalnya kala Allah itu bersemayam di arasy, maka arasy itu adalah jisim atau benda fisik tetapi berbeda dengan benda fisik di dunia ini. Makanya kemudian juga  ada yang menyatakan bahwa Arasy itu adalah symbol atau lambang kekuasaan Allah. Atau Allah itu memiliki kekuasaan, yang tidak bisa digambarkan dalam pikiran manusia.

2) pemahaman lain menyatakan bahwa setan dibelenggu itu adalah makna simbolik, bukan makna realitas. Jadi artinya bahwa setan tidak mengganggu manusia karena manusia sedang melakukan puasa. Setan itu dilambangkan dengan nafsu. Jadi kala puasa maka nafsu kita seperti dibelenggu. Yang membelenggu adalah diri kita sendiri karena sedang melakukan puasa. Makanya kala diajak untuk melakukan suatu perbuatan yang bisa merusak puasa, maka kita harus menyatakan: inni shaimun. Saya sedang berpuasa.

3) hakikat setan adalah nafsu manusia, yaitu nafsu lawwamah dan nafsu amarah. Nafsu yang labil dan nafsu yang mendorong kepada kemaksiatan. Di dalam diri manusia terdapat nafsu kebinatangan  ialah nafsu yang memuja insting  misalnya keinginan untuk memenuhi kebutuhan biologis saja. Sedangkan nafsu amarah adalah nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Mengarah kepada sifat hayawaniyah. Dan juga terdapat potensi nafsu muthmainnah atau nafsu yang mendorong kepada kebaikan dan memuja kepada Tuhan.

Jika di dalam hadits Nabi Muhammad SAW itu dinyatakan setan dibelenggu, maka hakikatnya yang dibelenggu adalah nafsu amarah dan lawwamah. Secara simbolik, setan adalah nafsu yang mengajak kepada kejahatan, kejelekan dan keraguan. Puasa lalu dimaknai sebagai ritual untuk mengajak kepada kebaikan dan memuja Tuhan. Makanya, setelah puasa kita akan menjadi fitri artinya kita menuju kepada nafsu mutmainnah, yang jiwa kita berada di dalam dekapan Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

TUJUAN AKHIR IBADAH LA’ALLAKUM TUFLIHUN: RENUNGAN RAMADLAN (16)

TUJUAN AKHIR IBADAH LA’ALLAKUM TUFLIHUN: RENUNGAN RAMADLAN (16)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ibadah adalah upacara ritual yang dilakukan manusia di dalam kehidupan di dunia agar manusia memperoleh ridla Allah SWT dan berakhir dengan kebahagiaan. Jadi tujuan akhir dari semua ibadah yang kita lakukan, apapun bentuk dan jenisnya, maka yang diharapkan adalah kita bisa berbahagia, tidak hanya kebahagiaan di dunia tetapi juga kebahagiaan di akherat. Sa’idun fid daraini.

Inilah inti percakapan saya dalam ceramah Ramadlan, yang saya sampaikan pada jamaah Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, Ketintang Surabaya. 06/04/2023.  Ceramah Ramadlan  dilaksanakan selama sebulan penuh ini tentu menghadirkan banyak ustadz dengan berbagai latar belakang pendidikan. Bahkan banyak di antaranya yang hafal Alqur’an. Suatu bulan yang menggembirakan karena selain bisa beribadah lebih banyak juga dapat menimba ilmu pengetahuan keislaman dari narasumber yang mumpuni.

Ada tiga hal yang saya sampaikan kepada jamaah shalat tarawih, yaitu: pertama,  bersyukur kepada Allah SWT bahwa kita sehat luar dan dalam. Badan sehat dan hati juga sehat. Fit luar dan dalam. Inilah yang sesungguhnya diharapkan oleh manusia. Tidak ada satupun manusia yang tidak ingin hidup dengan kesehatan yang prima. Fisiknya sehat jiwanya juga sehat. Dan puasa menjanjikan kesehatan itu. Shumu tasihhu. Berpuasalah agar kamu semuanya sehat. Dan ini janjinya Allah. Ingat jika Allah sudah berjanji maka pasti akan ditepatinya. Innallaha la yukhliful mi’ad. Ilmu pengetahuan sudah membuktikan bahwa dengan puasa badan akan menjadi lebih sehat, karena dengan puasa, maka di kala perut kita kosong, maka yang akan dimakan akan lemak-lemak yang tersisa, sel-sel mati dan kemudian akan menumbuhkan sel baru, sel yang sehat. Bersyukurlah kepada Allah SWT.

Kedua, tujuan puasa adalah menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. La’allakum tattaqun.  Agar menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. Yaitu  manusia yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Manusia yang bertaqwa adalah manusia yang saleh ritual dan saleh sosial. Manusia yang relasi ke atas itu excellence dan ke samping dan bawah juga hebat. Manusia yang hanya saleh ritual saja belum cukup dan manusia yang saleh sosial saja juga tidak memadai. Maka harus seimbang yang vertical dan horizontal. Shalat kita diakhiri dengan mengucapkan salam dan ditujukan kepada orang di sekeliling kita, kiri dan kanan. Sebuah symbol bahwa shalat itu berurusan dengan Allah sebagai bentuk ritual vertical tetapi juga symbol kasih sayang kepada sesama manusia, memberi ucapan selamat.

Islam merupakan agama yang memiliki kepedulian yang sedemikian besar terhadap umat manusia. Bahkan pada saat Nabi menjelang wafat, maka yang diucapkannya adalah ummati, ummati, ummati. Beliau tidak gembira kala dinyatakan bahwa langit sudah terbuka dan seluruh malaikat  disiapkan untuk menjemput rohnya, tetapi yang dipikirkan adalah bagaimana nasib umatnya. Melalui kebijakan Allah SWT, maka surga akan diisi dulu dengan umat Muhammad SAW dan kala umat Muhammad yang beriman dan berislam dengan baik sudah masuk semua, barulah umat Nabi-Nabi lain diperkenankan masuk ke dalam surganya Allah SWT. Begitulah kasih sayang Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.

La’allakum tattaqun adalah tujuan instrumental atau tujuan antara. Yaitu yang mengantarai antara perbuatan manusia dengan keridlaan dan kebahagiaan hakiki manusia, khususnya kebahagiaan di alam akhirat. Jadi manusia yang bertaqwa maka dijanjikan Allah untuk menjadi warga surga, sebuah tempat yang dijanjikan oleh Allah SWT. Di dalam Surat Al Buruj, difirmankan: “Innal ladzina amanu wa ‘amilush shalihati lahum jannatun tajri min tahtihal anharu, dzalikal fauzul kabir ”. Yang artinya: “sesungguhnya orang yang beriman dan melakukan amal kebaikan, baginya surga yang  terdapat sungai yang airnya  mengalir di bawahnya, dan mereka memperoleh kemenangan yang agung”.

Ketiga, tujuan seluruh ibadah kita adalah agar kita bahagia. La’allakum tuflihun. Dan endless bliss adalah surga sebagaimana dijanjikan oleh Allah SWT.  Bagi orang yang beriman kepada Allah SWT dan mengamalkan amalan yang baik di dalam kehidupan, maka Allah menjanjikan akan memasukkan ke dalam barisan ahli surga, yang penuh dengan kenikmatan yang luar biasa dibandingkan dengan kenikmatan duniawi.

Insyaallah kita hari ini telah menjadi orang yang baik. Kita sudah berpuasa 15 hari. Sudah masuk dalam 10 hari di tengah-tangah puasa, yakni orang yang akan memperoleh maghfiroh Allah, ampunan agung dari Allah SWT. Kita sudah melampaui 10 hari awal puasa, artinya kita sudah memperoleh rahmat Allah SWT. Rahmat atau Rahman dan Rahim Tuhan adalah sifat asasi Allah. Sifat kasih sayang Allah kepada hambanya. Allah yang memberikan kita hidup dan memberi kita kehidupan. kita akan masuk ke 10 hari terakhir atau disebut sebagai itqun minan nar atau terbebas dari api neraka. Awwaluhu rahmah wa ausatuhu maghfirah wa akhakhiruhu itqun minan nar. Subhanallah.

Dengan demikian inti dari puasa dan amalan baik lainnya itu akan bisa membawa kita kepada kebahagiaan. Semua amalan kebaikan yang kita lakukan akan menghasilkan ketaqwaan, dan ketaqwaan akan menghasilkan kebahagiaan. Kita berharap the endless bliss.

Wallahu a’lam bi al shawab.

AHLI KUBUR JUGA BERHARAP BULAN PUASA: RENUNGAN RAMADLAN (15)

AHLI KUBUR JUGA BERHARAP BULAN PUASA: RENUNGAN RAMADLAN (15)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam pikiran kita, bahwa puasa itu hanya diharapkan oleh orang yang masih hidup karena bisa menjalankan puasa sebagai bulan yang utama yang di dalamnya banyak sekali keutamaan-keutamaan. Di antara keutamaan itu adalah Allah SWT akan melipatgandakan pahala bagi orang yang melakukan ibadah pada Bulan Ramadlan. Itulah sebabnya pada bulan puasa itu banyak orang yang tadarrus Qur’an, shalat malam, dan juga melakukan dzikir kepada Allah SWT.

Namun di dalam benak saya bahwa yang merasakan kesenangan akan datangnya bulan Ramadlan juga para leluhur kita yang sudah mendahului kita. Bahkan bisa diilustrasikan bahwa mereka mengharap bulan puasa karena banyaknya kiriman doa dan bacaan Alqur’an yang dilantunkan oleh umat Islam, khususnya yang ditujukan kepada para ahli kubur. Bisa dibayangkan bahwa banyak sekali orang yang sengaja mengirimkan bacaan dzikir dan bacaan Alqur’an kepada ahli kuburnya.

Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW sudah memberikan panduan bahwa semua hal duniawi yang dimiliki oleh orang akan ditinggal di dunia kala meninggal. Kekayaan yang berupa rumah, uang, harta benda dan sebagainya akan ditinggalkan di dunia dan tidak ada yang dibawa. Semua ditinggal karena memang tidak bisa dibawanya. Bukankah di dalam Islam diajarkan bahwa yang dibawa berupa benda fisikal hanyalah kain kafan saja. Selebihnya  tidak ada.

Islam memberikan panduan bahwa yang akan mengikutinya adalah tiga hal saja, yaitu: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan orang tuanya. Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW dinyatakan: “idza matabnu Adama inqata’a amaluhu illa min tsalatsin, shaqatin jariyatin aw ilmin yuntafa’u bihi aw waladin shalihin yad’u lahu”. Yang artinya: “Jika mati anak cucu Adam maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal, yaitu shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakan orang tuanya”.

Coba kita perhatikan hadits Nabi Muhammad SAW yang secara tegas menggambarkan tentang shadaqah yang akan dibawanya ke alam barzah dan terus ke alam akhirat, ilmu yang bermanfaat juga akan dibawanya ke alam barzakh sampai di alam akherat, lalu anak shaleh yang terus mendoakan keluarganya atau lebih khusus orang tuanya. Selain ini tidak ada manfaatnya. Hilang tak berbekas. Jadi hanya orang yang bersedekah, berilmu yang bermanfaat dan memiliki anak shaleh saja yang akan beruntung. Yang berbahagia di alam kubur dan alam akherat adalah jika memiliki tiga hal ini. Bisa salah satu tentu saja. tidak harus ketiga-tiganya. Orang bahagia di alam kubur dan alam akherat adalah orang yang memiliki amal sebagaimana di atas. Punya shadaqah jariyah, punya ilmu yang manfaat dan punya anak saleh. Dan sebaliknya orang yang tidak bahagia jika tidak memiliki salah satu dari ketiganya.

Lalu apa hubungan antara para leluhur kita yang sudah wafat dengan datangnya bulan puasa? Saya akan menggunakan pengalaman empiris transendental  untuk menjelaskan atas masalah kegaiban yang berwujud dunia alam barzakh. Bukan maksud saya untuk menjelaskan alam barzakh secara empiris, tetapi menggambarkan bahwa para penghuni alam barzakh itu adalah orang yang berbahagia karena anak cucunya melantunkan bacaan Alqur’an yang ditujukan kepadanya, membaca dzikir dan berdoa untuknya.

Bulan puasa adalah bulan membaca Alqur’an. Betapa banyaknya orang yang membaca Alqur’an dalam bentuk tadarrus. Bisa one day one juz, bisa juga one day two juzs dan sebagainya. Yang jelas mereka mengaji Alqur’an. Setiap membaca Alqur’an ditujukan  kepada Nabi Muhammad SAW, dan para leluhur yang sudah meninggal. Jadi pada bulan puasa, maka para ruh leluhur itu seperti mendapatkan kiriman pahala bertubi-tubi, sehingga merasakan kenikmatan pahala dari anak cucunya. Umat Islam itu bukan orang yang egois. Hanya ingin menikmati pahala dengan amalnya sendiri, akan tetapi orang Islam juga memikirkan keluarganya termasuk yang sudah meninggal. Bukan kebutuhan fisik akan tetapi kebutuhan khusus, yaitu kebutuhan pahala dari anak cucunya yang shaleh dan shalihah.

Tentu saja kita tidak tahu apakah ada bulan demi bulan di dalam kehidupan di alam kubur, sebagaimana yang terjadi di alam dunia atau apakah roh di alam kubur itu merasakan atau tidak merasakan akan kehadiran bulan puasa, akan tetapi kita yakini bahwa roh tentu merasakan dengan kekhususannya tentang hadirnya pahala yang kita kirimkan. Anak cucu yang sholeh atau shalihah berkirim fatihah kepada mereka dan mereka merasakan kehadiran pahala dimaksud.

Di dalam buku saya, “Islam Pesisir” (2005) terdapat sebuah monolog yang disampaikan oleh Kyai Ghafur, bahwa: “Wak Man membuat sumur. Kala Wak Man meninggal maka setiap hari mendapatkan kiriman pahala  enam karung, karena sumurnya ditimba oleh enam orang. suatu ketika kiriman pahalanya berhenti. Kemudian Wak Man bertanya kepada Malaikat: ‘Kat kenapa kiriman pahala saya berhenti’. Malaikat menjawab: ‘karena sumurmu ditutup oleh Min ponakanmu’. Marahlah Wak Man sehingga mengeluarkan ion merah dan mengenai tubuhnya Min. Maka Min sakit dan tidak bisa disembuhkan. Dia datang kepada Kyai, lalu disarankan agar Man membuat sumur baru yang pahalanya dihadiahkan kepada Wak Man. Kiriman pahala kembali datang, dan Min sehat, bahkan akhirnya punya anak lagi”.

Itulah sebabnya para sahabat Nabi Muhammad SAW membuat sumur, karena pahalanya besar. Sahabat Ali membuat sumur, yang sekarang disebut “birr Ali”, sesungguhnya adalah Bi’ru Ali, bahkan kemudian dijadikan sebagai miqat makani bagi para jamaah haji  yang datang dari Madinah. Subhanallah. Makanya pada bulan puasa, rasanya tidak salah jika kita membaca banyak amalan yang bisa menghibur leluhur kita. Dan  insyaallah apa yang kita baca berupa kalimat tauhid, hamdalah, ayat-ayat Alqur’an dan bacaan-bacaan doa itu akan bisa membahagiakan leluhur kita. Allahumma Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PUASA DENGAN FULL CINTA: RENUNGAN RAMADLAN (14)

PUASA DENGAN FULL CINTA: RENUNGAN RAMADLAN (14)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Manusia diberikan oleh Allah perasaan cinta. Tidak hanya cinta kepada lawan jenis, cinta kepada manusia tetapi juga cinta kepada Allah SWT. Manusia dengan perasaannya dikaruniai perasaan saling menyayangi dan mencintai, sehingga kehidupan akan dapat menjadi aman, damai dan bahagia.

Ungkapan ini disampaikan oleh Dr. Sahid, penceramah pada acara tarawih berjamaah di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency E8 Ketintang Surabaya. Ceramah yang dilaksanakan bada shalat Isya’ tersebut diikuti oleh sejumlah jamaah Masjid Al Ihsan, lelaki dan perempuan. Yang menjadi imam masjid adalah  Ustadz Alif, Al Hafidz. Setiap malam selama bulan Ramadlan dilakukan ceramah 10-15 menit dari orang yang memiliki seperangkat pengetahuan tentang ibadah puasa dalam kaitannya dengan kehidupan manusia. Tema yang dibawakan oleh Cak Sahid adalah puasa dengan penuh cinta kepada Allah SWT.

Cak Sahid menyampaikan tiga hal di dalam ceramahnya, yaitu: pertama,  kita harus selalu mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT karena dikaruniai kesehatan fisik dan rohani untuk beribadah, khususnya ibadah puasa. Tanpa berkah kesehatan, maka kita pasti tidak bisa melaksanakan puasa dengan sebaik-baiknya.  Yang paling luar biasa besarnya berkah Allah SWT adalah berkah kita masih menjadi umat Islam. Di luar sana banyak orang yang tidak mendapatkan hidayah, akan tetapi kita terus mendapatkan hidayah sehingga kita dapat  terus menjalankan ibadah Allah SWT. Alhamdulillah.

Kedua, cinta kepada Allah SWT. Allah itu mencintai hambanya, makanya Allah memberikan berbagai instrument agar manusia mendapatkan cinta Allah SWT. Betapa Allah itu maha Rahman dan Rahim. Karena sifat utamanya seperti itu, maka Allah menurunkan sifat saling menyayangi. Salah satu  cara untuk menyayangi Allah adalah hablum minallah atau menyambung tali hubungan dengan Allah. Medianya adalah dengan menjalankan perintah Allah SWT. Orang yang menjalankan perintah Allah hakikatnya adalah orang yang mencintai Allah. Semakin banyak ibadah kepada Allah SWT akan semakin mencintai Allah dan sebaliknya semakin tidak ibadah akan semakin tidak mencintai Allah.

Cinta itu bisa datang secara perlahan dan bisa datang sekaligus. Ada orang yang memperoleh hidayah langsung cinta kepada Allah tetapi ada orang yang sudah sering mendengar Namanya, sudah sering mendengar kebaikannya, tetapi datangnya cinta itu lambat. Tetapi yang jelas cinta kepada Tuhan itu harus diupayakan agar bisa mencintai-Nya dan ada yang berkat kekuasaan Allah SWT, maka cinta itu cepat berkembang dan membesar. Cinta dalam pola yang kedua itu hanya dapat diperoleh oleh orang khusus, yang memang dipilih ooeh Allah SWT. Namun kita sebagai orang awam pasti harus melakukan ibadah dengan cara yang benar agar bisa mencintai dan dicintai oleh Allah SWT.

Ketiga, mengasihi sesama manusia dan alam seluruhnya. Allah mengajarkan agar manusia tidak hanya membangun hubungan baik dengan Tuhan,  akan tetapi juga   membangun relasi yang baik dengan sesama manusia bahkan dengan alam seluruhnya. Allah mengajarkan agar kita menjaga relasi dengan sesama manusia dengan sebaik-baiknya. Hablum minallah wa hablum minal alam. Seluruh makhluk di dunia ini bertasbih atau memuji Allah SWT. Binatang dan tumbuh-tumbuhan juga memuji kepada Allah. Hanya saja kita tidak tahu bahasanya. Ada sebuah ilustrasi di dalam Kitab Nashaihul Ibad, diceritakan tentang Imam Ghazali. Ada seseorang yang mimpi bahwa Imam Ghazali itu berada di surga. Lalu ditanya, apakah Engkau masuk surga  karena amal ibadahmu kepada Allah. Ternyata dijawab bahwa saya masuk surga bukan karena amal ibadah saya, bukan karena saya menulis kitab yang banyak, tetapi karena saya menolong lalat. Kala saya menulis, maka ada lalat yang meminum tinta saya. Lalu saya biarkan sampai hausnya hilang. Kemudian lalat itu terbang. Saya menolong dengan ikhlas.  Itulah  yang mengantarkan saya masuk surga. Oleh karena itu, marilah kita berserah diri kepada Allah dengan penuh kecintaan agar kita akan mendapatkan kecintaan Allah SWT.

Di dalam tulisan ini, saya memberikan catatan tambahan, bahwa puasa itu sesungguhnya merupakan lambang cinta manusia kepada Allah SWT dan sekaligus juga lambang cinta Allah kepada manusia. Kepada manusia sebagai ciptaannya, Allah SWT itu betapa sayangnya. Diberikan kepada manusia berbagai instrumen agar manusia dapat melakukan kebaikan yang merupakan keinginan Allah SWT. Allah SWT tidak ingin hambanya itu menjadi hamba setan, akan tetapi manusia harus tetap menjadi hamba Allah SWT. Di dalam Alqur’an dinyatakan: “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun”.  Yang artinya: “tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”. Jadi manusia dan jin itu diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya.

Oleh Allah,  manusia dikaruniai emosional intelligent atau perasaan yang terkait dengan kasih sayang, rasa iba, rasa cinta, rasa memiliki kesenangan dan kesedihan dan rasa kemanusiaan yang mendalam. Melalui inteligensi emosional ini manusia dapat mengekspresikan kehidupan kasih sayangnya kepada sesama manusia dan juga kepada alam semesta. Bahkan ada manusia yang menyayangi binatang, menyayangi tanaman dan sebagainya.

Mencintai Allah SWT sesungguhnya merupakan cinta abadi. Cinta yang sebenarnya dihembuskan oleh Allah tatkala manusia  masih dalam kandungan.  Tetapi karena factor lingkungan sehingga cinta tersebut terkadang hadir dan terkadang tidak. Ada yang hadir terus dan ada yang hadir sementara. Itulah sebabnya ada manusia yang kemudian konversi ke agama lain.

Kecintaan Allah kepada manusia itu diberikan melalui instrument yang dipandu oleh teks-teks suci yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Di antara ekspressi cinta itu diwujudkan misalnya dalam ungkapan “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami memohon”. Alangkah indahnya kalimat ini. Selain itu juga puasa. Melalui puasa manusia diajari pelipatgandaan pahala. Bahkan dinyatakan: ash shaumu li wa ana ajzi bihi. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala kepada yang melakukannya.

Subhanallah, hakikat puasa adalah ekspresi kecintaan kita kepada Allah SWT dan manifestasi cinta Allah SWT kepada kita. Berbahagialah orang yang bisa melakukannya dengan sepenuh cinta.

Wallahu a’lam bi al shawab.