• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PERBEDAAN HARI RAYA BUKAN MASALAH BESAR: RENUNGAN RAMADLAN (28)

PERBEDAAN HARI RAYA BUKAN MASALAH BESAR: RENUNGAN RAMADLAN (28)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kemarin,  pada waktu mengawali puasa kita bisa bersama-sama, kenapa untuk mengakhiri puasa kita berbeda. Ada yang hari Jum’at sudah hari raya dan ada yang hari Sabtu baru hari raya. Sebenarnya apa yang terjadi? Ungkapan ini yang saya jadikan sebagai permulaan dalam ceramah saya pada jamaah shalat tarawih pada hari Rabu, 19 April 2023 atau bertepatan dengan tanggal 28 Ramadlan 1444 H di Mushalla Raudlatul Jannah Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban.

Sebagai umat Islam Indonesia memang beragama kita unik. Saya nyatakan unik sebab di negara-negara lain tidak terdapat perbedaan dalam menetapkan awal Ramadlan, akhir Ramadlan, dan awal Dzulhijjah. Di negara lain, seperti Arab Saudi, UEA, Malaysia, Brunei Darusalam, Mesir, dan lain-lain yang menentukan terhadap kapan hari raya adalah pemerintah. Sedangkan di Indonesia, Ormas bisa menentukan kapan hari raya dilaksanakan.

Perbedaan ini akan terus berlangsung selamanya sampai misalnya Organisasi Konferensi Islam (OKI), misalnya bisa menentukan penanggalan Islam yang berlaku di seluruh dunia. Umat Kristiani bisa melakukannya dengan penetapan tahun Masihiyah yang dikenal sebagai penanggalan Masehi.

Perbedaan tersebut terjadi karena perbedaan dalam  metode yang digunakan dalam menentukan tanggal awal bulan dan akhir bulan. NU menggunakan metode Rukyatul Hilal dengan berbasis pada imkanur rukyat, sedangkan Muhammad munggunakan metode hisab berbasis pada wujudul hilal. Apakah keduanya ada yang benar dan ada yang salah, atau keduanya benar atau keduanya salah. Jawabannya tentu terdapat pada otoritas ahli tafsir ajaran agama. Jika di Muhammadiyah adalah Majelis Tarjih dan Tim Hisab, sedangkan di NU adalah Tim Hisab dan Rukyatul Hilal yang memiliki otoritas di dalam menentukan kapan awal bulan dan akhir bulan.

Ketepatan bahwa untuk tahun 2023 M atau 1444 H, maka peluang untuk berbeda itu sangat besar disebabkan oleh ketinggian hilal pada akhir Ramadlan. Berdasarkan perhitungan atau hisab, maka ketinggian hilal hanya 0,1 derajad sehingga tidak memungkinkan dapat dirukyat atau diobservasi  dengan menggunakan teknologi rukyat yang paling modern sekalipun. Sementara itu kalangan Muhammadiyah berkeyakinan bahwa hilal sudah wujud, meskipun tinggi baru 0,1 derajat. Yang penting hilal sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian rendah sekalipun. Sekali lagi yang penting sudah wujud.

Jika karena factor cuaca sehingga hilal sama sekali tidak bisa dikonfirmasi dengan menggunakan metode rukyat, maka jika berdasarkan hisab sudah mencapai dua derajad, maka dipastikan hilal sudah bisa diobservasi. Bulan sudah wujud karena sudah bisa dinalar dengan konsep memungkinkan untuk dilihat atau imkanur ru’yat. NU bersama Menteri-Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) bahkan menaikkan imkanur rukyat  tersebut pada hitungan tiga derajat.

Dengan demikian, sampai kapanpun pasti bisa terjadi perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan metoda untuk menentukannya. Saya sampaikan sampai kapanpun karena yang satu menetapkan dengan menggunakan wujudul hilal dengan patokan 0,01 derajad diyakini atau  dianggap hilal sudah tampak secara akali atau rasio, sedangkan yang satunya berpendapat bahwa hilal hanya mungkin tampak pada 2 derajad atau lebih.

Inilah keunikan masyarakat di Indonesia. Sampai urusan menentukan hari raya saja bisa berbeda-beda. Suatu hal yang tidak dijumpai di negara lainnya, keunikan ini saya kira harus tetap dihormati sebagai konsekuensi Indonesia merupakan negara dengan keterbukaan yang sangat tinggi. Makanya, Indonesia tidak cocok menjadi negara agama, sebab nanti akan ada yang dipaksakan harus sesuai dengan apa kemauan negara. Tentu  repot jadinya.

Yang penting adalah meskipun berbeda jangan dijadikan sebagai alasan untuk saling menyalahkan. Masyarakat Indonesia sudah lama memiliki pengalaman berbeda dalam kemesraan. Meskipun antara  Muhammadiyah dan NU berbeda dalam banyak hal, bahkan sampai persoalan ibadah, akan tetapi keduanya masih bisa tersenyum bersama, tertawa dan bercanda bersama, bahkan perbedaan menjadi bahan gurauan di antara orang NU dan Muhammadiyah.

Masyarakat Indonesia adalah pengamal yang paling hebat tentang Sabda Nabi Muhammad SAW: ikhtilafu ummati rahmah. Perbedaan di antara umatku adalah rahmat. Maka yang paling penting kita harus tetap rukun dan harmonis. Jangan  saling mencibir, jangan saling membully, jangan saling membunuh karakter, jangan saling menyalahkan dan sebagainya. Mari kita jadikan perbedaan untuk merajut kebersamaan.

Hanya dengan cara seperti ini, maka ukhuwah Islamiyah akan terjadi dengan baik. Bukankah ukhuwah Islamiyah itu dapat terajut bukan karena kesamaan semata akan tetapi juga melalui perbedaan. Yang bisa disamakan harus bisa sama, tetapi yang harus berbeda juga harus dibedakan. Yang penting jangan mencari-cari perbedaan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

KEINDAHAN SILATURRAHMI: RENUNGAN RAMADLAN (27)

KEINDAHAN SILATURRAHMI: RENUNGAN RAMADLAN (27)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Masjid atau mushalla sebenarnya bisa menjadi medan silaturrahmai yang efektif, terutama di tengah kesibukan masing-masing anggota masyarakat. Seirama dengan semakin sibuknya masyarakat dalam melakukan pekerjaan, maka semakin sedikit waktu  untuk bersilaturahmi dalam bentuk anjang sana dari rumah ke rumah. Makanya, peluang untuk silaturrahmi  melalui saling kunjung rumah semakin sedikit.

Di masa lalu, kala masih hidup di pedesaan, saya kira ada banyak waktu yang tersisa untuk bisa saling menyapa dalam waktu yang cukup. Di masa lalu, orang bisa bertemu di mana saja. Bisa di jalan, di gardu, di warung kopi, di mushalla, di masjid dan lainnya. Orang kebanyakan jalan kaki dari dan ke tempat tertentu, tetapi sekarang agak berbeda karena sangat sedikit  orang yang berjalan kaki.

Orang  desa sekarang sudah berubah. Kehidupan paguyuban di masa sekarang  sudah tidak lagi sekental di masa lalu. Sudah sangat berubah.  Akibat pergaulan dengan budaya perkotaan, maka banyak terjadi perubahan social di pedesaan. Apalagi dengan jarak desa kota yang sudah tidak lagi terjeda oleh realitas kewilayahan. Dengan semakin mudahnya akses ke kota, misalnya melalui transformasi sepeda motor dan mobil, maka jarak desa kota sudah tereliminir sedemikian rupa.

Sungguh dewasa ini sudah tidak lagi terdapat Batasan rigid tentang desa dan kota. Hal ini difasilitasi oleh kepemilikan Hand Phone di tengah-tengah kehidupan masyarakat.  Di  Indonesia, penduduk yang memilimi Hand phone jumlahnya mencapai angka 67 persen pada tahun 2022, dengan kepemilikan HP tertinggi di tiga provnsi, yaitu Kalimantan Timur 82,37 persen, DKI 82,27 persen, dan Kepri 79,88 persen, Kalimantan Utara 78,62 persen, Riau 73,47 persen. (databoks, 08/03/23).

Kala terjadi Covid-19, maka berkembang konsep silaturrahmi virtual, yakni melakukan silaturrahmi melalui media komunikasi whatApps baik melalui video call maupun panggilan. Hal ini dilakukan sebab tidak memungkinkan menyelenggarakan acara silaturrahmi secara face to face relationship. Wabah Covid-19 yang sedemikian deras menular menyebabkan kehadiran kebijakan pemerintah untuk melarang pulang kampung atau kunjungan rumah. Semua aktivitas pertemuan dilarang, bahkan termasuk shalat jamaah di masjid atau mushalla. Sungguh-sungguh aktivitas untuk saling bertemu dilarang dikhawatirkan terjadi penularan massif terhadap orang lain.

Namun seirama dengan kebijakan baru mengenai ketiadaan larangan pertemuan yang melibatkan orang dalam jumlah terbatas dan kebolehan untuk melakukan pulang kampung, maka sekrang bisa dilihat acara mudik yang sedemikian semarak. Jarak Jakarta-Surabaya, atau Jakarta-Banyuwangi  bukan menjadi halangan untuk mudik. Masyarakat menyambutnya dengan gegap gempita. Masyarakat bersuka cita dengan silaturrahmi yang bisa dilakukannya. Itulah  sebabnya jalan Jakarta ke Semarang atau Surabaya sudah mulai padat merayap pada Hari Raya minus 5 hari  tahun 2023.

Silaturahmi memang ajaran Islam. Tidak ada yang menyangsikan tentang ajaran silaturahmi itu. Bahkan dinyatakan siapa yang percaya pada Allah dan hari akhir, maka hendaknya melakukan silaturrahmi. Lebih lanjut juga didapati ajaran siapa yang ingin dilapangkan rizkinya maka hendaknya melakukan silaturrahmi dan siapa yang ingin panjang usianya maka hendaknya silaturrahmi.

Melalui ajaran Islam ini, maka dapat dipahami jika banyak orang yang melakukan silaturrahmi meskipun dengan cara dan varian yang semakin kompleks. Namun demikian berbagai cara silaturahmi itu  tidaklah mengurangi makna silaturahmi yang berupa substansi silaturrahmi, yaitu menyambung persaudaraan, persahabatan dan penghargaan atas keduanya.

Islam sangat menekankan tentang silaturahmi sebagai bagian di dalam relasi social. Untuk membangun silaturrahmi yang kuat, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: pertama,  bangun kesamaan pandangan tentang posisi diri kita masing-masing. Jangan sampai menganggap satu atas lainnya merasa lebih tinggi statusnya. Harus merasa bahwa antara satu dengan lainnya berada di dalam posisi sejajar. Jangan ada yang sopo siro sopo ingsun. Artinya bahwa yang satu merasa lebih  hebat, lebih kuat, lebih tinggi status sosialnya, merasa lebih kaya, merasa dirinya yang paling penting, dan sebagainya. Jika ada perasaan seperti ini, maka inilah awal dari keretakan atau disharmoni di dalam persahatan atau retaknya ikatan silaturrahmi.

Kedua, saling menjaga perasaan masing-masing. Jangan ada kata atau ungkapan yang membuat rasa tidak nyaman. Ungkapan yang sopan tentu menjadi ukuran yang tepat untuk membangun persahabatan. Boleh kita melakukan joke yang segar. Karena kita juga membutuhkan hiburan. Ada joke-joke yang menyegarkan dan menjadi bumbu pemanis di dalam relasi social. Yang penting jangan sampai joke-joke itu juga membuat perasaan tidak enak pada seoraang sahabat.

Ketiga, bangunlah kesepahaman tentang apa yang disukai dan apa yang tidak disukai. Seorang sahabat tentu sudah tahu apa yang diminati dan mana yang tidak diminati. Apa yang disukai dan apa yang tidak disukai. Apa yang menjadi favorit dan apa yang dibenci. Apa yang menarik minat kedua sahabat dan apa yang membuat tidak nyaman. Semua harus dipahami dengan baik, sehingga keduanya merasa menjadi satu kesatuan.

Keempat, jika kita sudah menyatu di dalam pandangan, pemikiran, sikap dan tindakan, maka ketemu saja sudah membuat kita tertawa, kita tersenyum. Belum ada kata-kata yang diungkapkan tetapi kita sudah bisa tertawa terbahak-bahak. Situasi ini yang harus terus diperhatikan dan dijalankan. Inilah yang bisa disebut sebagai soulmate atau closed friend, dan yang seperti ini tidak memandang jabatan, status social dan juga kekayaan. Semua cair dan semua oke.

Di masa lalu, saya pernah memiliki sahabat yang sungguh luar biasa, sebab kala datang ke ruang saya, maka yang diungkapkan pertama adalah: “Pak saya ingin tertawa”. Maka kami berdua lalu tertawa selepas-lepasnya. Hal ini tentu dipandu oleh adanya kesamaan di dalam memandang masalah-masalah yang kita hadapi. Melalui kebersamaan, maka semuanya bisa selesai. Dan inilah yang kemudian menjadikan relasi social itu sedemikian dekat dan bahkan saling memerlukan. Jika kita ketemu, maka belum bicara sudah tertawa dulu, dan ada saja hal-hal unik yang menjadikan kita tertawa.

Hidup ini sudah susah, tekanan kehidupan juga semakin kompleks. Kehidupan menjadi semakin rentan masalah. Maka kita harus menghadapi kehidupan ini dengan perasaan senang, happy dan nyaman. Dan itu tergantung pada adanya friendship.

Wallahu a’lam bi al shawab.

HATI YANG KHUSYUK IDAMAN UMAT ISLAM: RENUNGAN RAMADLAN (26)

HATI YANG KHUSYUK IDAMAN UMAT ISLAM: RENUNGAN RAMADLAN (26)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Khusyuk adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Sungguh. Saya termasuk orang yang sering membicarakan tentang khusyuk itu di dalam tulisan maupun ceramah saya, akan tetapi betapa susahnya untuk menjadikan khusyuk sebagai bagian tidak terpisahkan di dalam kehidupan.

Khusyuk, biasanya dikaitkan dengan shalat atau dikaitkan dengan ibadah lainnya, misalnya dzikir atau wirid atau bacan-bacaan kalimat thayibah lainnya. Sering kita dengar kata: “aku gak bisa khusyuk”, atau “aku gak bisa focus”. Kala shalat atau dzikir sering kali batin kita masih ke mana-mana, memikirkan banyak hal, dan juga masih focus pada urusan duniawi lainnya. Sungguh menjaga focus merupakan perbuatan yang tidak mudah dilakukan.

Sebagai manusia yang memang berada di dalam relasi social yang kompleks dengan berbagai masalah dan tantangan yang tidak sedikit tentu bisa berpengaruh terhadap konsentrasi kita di kala ibadah. Hal ini tentu sangat manusiawi. Hanya orang-orang khusus yang sudah selesai kehidupan duniawinya yang kiranya bisa melakukannya. Dan sebagai orang awam tentu masih bolong-bolong dalam menjaga kekhusyuan dimaksud.

Namun demikian, kita masih bisa bersyukur bahwa kita dikaruniai untuk tetap melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Kita  bisa shalat, puasa, zakat, dan bahkan melaksanakan ibadah haji. Kita masih bisa membaca istighfar, membaca kalimat tauhid, membaca puja dan puji kepada Allah dan segala hal yang tergolong kalimat thoyibah dan membaca shalawat kepada Baginda Rasulullah SAW. Bisa seperti itu saja “rasanya” sudah membuat hati kita bahagia. Bisa membuat kita berada di dalam jalan yang benar.

Kita sekarang sedang hidup di era supra modern, yang ditandai dengan instrument Hand Phone yang menyajikan berbagai ragam hiburan, yang baik atau buruk, yang bermanfaat atau tidak bermanfaat, yang mengajak kepada jalan kebaikan atau keburukan, dan yang membawa kita kepada kehidupan yang diridloi Allah atau tidak diridhoi-Nya. Semua tersaji dengan mudah untuk diakses. Belum lagi tantangan kehidupan material yang semakin menguat sebagai konsekuensi atas kehidupan modern yang serba materi atau finansial.

Di tengah-tengah kehidupan seperti ini, dan kita masih bisa mengingat Allah SWT, mengingat Rasulullah Muhammad SAW, dan masih bisa berbuat kebaikan itu rasanya sudah lebih dari cukup. Kita masih mendengarkan kata hati dibanding pengaruh eksternal, sehingga kita masih bisa berdzikir itu rasanya sudah sangat memadai. Sungguh saya meyakini bahwa Allah SWT sudah meridhoi yang kita lakukan dalam kebaikan dimaksud.

Menjelang hari raya seperti idul fitri, betapa banyak kebutuhan finansial. Meskipun tidak menjadi bagian ibadah, tetapi orang tetap perlu pakaian baru, perlu penampilan baru, gaya hidup baru, dan pulkam. Saya juga harus pulang kampung. Masih ada orang tua yang perlu didatangi dan dimintai maaf dan mohon didoakan. Dan juga tidak lupa, pasti membawa uang recehan baru sebagai pertanda tali asih dengan keluarga di daerah asal. Semuanya membutuhkan uang. Pada menjelang hari raya lalu terjadi banyak juga pencurian sepeda motor, bahkan mobil. Tentu dapat dikaitkan dengan datangnya hari raya. Ini efek negative hari raya. Untunglah kita tidak termasuk yang masuk dalam efek negative hari raya, dan insyaallah setiap tahun selalu masuk dalam efek positif hari raya.

Tantangan semacam inilah yang sering mengganggu kita di dalam beribadah. Shalat menjadi tidak khusyuk, doa tidak konsentrasi, wirid tidak focus. Semuanya menjadi hijab dan belenggu untuk berkonsentrasi dalam doa dan dzikir kita. Pada saat seperti inilah lalu, doa yang sering dibaca oleh Imam shalat Tarwaih dan Witir menjadi penting untuk diingat dan dilantunkan ulang. Allahumma inna nas aluka qalban khasyi’an. Ya Allah kami memohon kepada-Mu agar diberikan hati yang khusyuk.  Kita sungguh merasakan betapa perlunya sentuhan “tangan” Tuhan dalam kehidupan, termasuk dalam beribadah. Kita masih merasakan betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap diri kita. Saya tidak ingin menyatakan betapa besarnya pengaruh lingkungan, tetapi kenyataannya lingkungan memiliki pengaruh yang signifikan di dalam kehidupan kita. Dan kita merasakannya.

Pikiran terkadang lebih dominan dibandingkan dengan perasaan dan hati. Hati kita ingin focus atau khusyuk akan tetapi lintasan masalah di dalam pikiran kita masih dominan. Inilah sebabnya kenapa kita sulit untuk berkonsentrasi. Hati Nurani kita sesungguhnya ingin focus, akan tetapi deraan masalah lebih dominan. Sebagai orang awam dalam beragama, maka inilah tantangannya. Dan inilah yang sulit untuk dihilangkan.

Berbeda halnya dengan kaum alim billah atau ahli tasawuf, yang seluruh hidupnya sudah diwakafkan untuk Tuhan, maka seluruh struktur kehidupannya sudah merupakan substansi Tuhan. Bayangkan orang bisa seperti Rabiah al Adawiyah, bisa seperti Hasan Al Basri, bisa seperti Imam Syafii, bisa seperti Imam Maliki, bisa seperti Imam Hambali, bisa seperti Imam Hanafi, bisa seperti Imam Ghazali, Seperti Syekh Hasan Syadzili, bahkan bisa seperti Al Hallaj, seperti Syekh Abdul Jalil, bisa seperti Kanjeng Sunan Ampel, seperti Sunan Bonang, seperti Sunan Kalijaga, seperti Sunan Drajat, seperti Eyang  Sona, dan waliyullah lainnya. Mereka adalah orang yang sudah khatam kehidupan duniawinya, sehingga kehidupannya sudah di dalam bayang-bayang Tuhan. Manunggaling kawula lan Gusti. Sudah manunggal bukan dalam fisik tetapi batin dan perasaannya.

Di dunia ini ada banyak teladan yang sudah ditunjukkan oleh Allah, dan harapan kita tentu bisa menjadi barisan mereka-mereka yang sudah di dalam keridlaan Allah SWT. Ya Allah berikan kami hati yang khusyuk agar kami bisa mengikuti teladan-teladan-Mu, manusia yang telah memperoleh pencerahan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

JADIKANLAH  ILMU KAMI  BERMANFAAT: RENUNGAN RAMADLAN (25)

JADIKANLAH  ILMU KAMI  BERMANFAAT: RENUNGAN RAMADLAN (25)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam doa sering  dilantunkan: “Allahumma inna nas’aluka ilman nafi’an wa rizqan wasi’an”. Yang artinya: “Ya Allah sungguh-sungguh kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan rizki yang lapang”. Doa yang sangat lazim dibacakan terutama setelah shalat maktubah. Shalat wajib. Memiliki ilmu yang bermanfaat adalah kebahagiaan, sebab ilmu bermanfaatlah yang kelak akan memberikan jaminan kepada kita bahwa pahalanya akan mengikuti kepergian kita menuju alam barzakh dan juga alam akhirat.

Pantaslah berbahagia orang yang memilki ilmu pengetahuan meskipun tidak banyak dan kemudian menyampaikan ilmunya kepada hamba Allah lainnya. Yang menjadi ukuran bukan banyak sedikitnya ilmu,  akan tetapi kemanfaatannya bagi umat manusia lainnya. Di dalam Islam dinyatakan bahwa ballighu ‘anni walaw ayatan, sampaikan dariku walaupun  satu ayat. Sabda Nabi Muhammad SAW ini memberikan gambaran bahwa menjadi pendakwah itu tidak harus dengan ungkapan yang panjang dan bertele-tele. Akan tetapi bisa dengan hanya satu ayat tetapi bisa dipahami dan bisa mengubah pengetahuan dan kehidupan orang lain.

Ilmu itu memiliki dua sifat yang terkait dengannya. Ada ilmu yang akhirnya mengarahkan  jalan kepada Tuhan. Dan ada ilmu yang justru menjauhkan manusia dari Tuhan. Jika menilik asal usulnya bahwa setiap ilmu mestinya datang dari Allah, sebab yang memberikan kemampuan otak dengan berbagai sopistikasi saraf-sarafnya  kepada manusia adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi ketika seseorang memiliki ilmu pengetahuan seharusnya mendekatkan jarak dirinya dengan kebenaran Tuhan. Bahkan orang sekaliber Albert Einstein pun menyatakan bahwa Science without religion is lame and religion without science is blind atau sains tanpa agama adalah lumpuh dan agama tanpa sains adalah  buta. Dengan demikian,   relasi agama dan ilmu merupakan dua entitas yang bisa saling mendukung atau mensupport.

Sebagai contoh lebih lanjut, ada orang yang belajar ilmu melalui penelitian tentang fenomena alam dan berakhir dengan beriman kepada Allah swt. Ilmu bisa menjadi washilah perubahan paham, sikap dan keyakinannya kepada Allah SWT. Di dalam tulisan sebelumnya (Renungan Ramadlan 23) saya jelaskan sebanyak 10 professor dalam berbagai disiplin keilmuan yang akhirnya memeluk Islam dan membenarkan ajaran Islam setelah melakukan penelitian secara mendalam terhadap fenomena alam. Ada yang mengkaji air mineral, saraf otak, oceanology, biologi dan sebagainya.

Akan tetapi juga ada yang mempelajari Islam secara tuntas, akan tetapi tidak menghasilkan keimanan pada yang bersangkutan. Para orientalis  adalah contoh orang yang belajar Islam secara tuntas, akan tetapi tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT, bahkan menjelekkan Islam. Dengan demikian, untuk menjadi muslim atau mempercayai keberadaan Allah SWT dengan berbagai konsekuensi ibadah di dalamnya ternyata memerlukan hidayah Allah SWT. Ada yang tidak memperoleh hidayah dan ada yang memperoleh hidayah.

Islam sebenarnya sangat menghormati terhadap ilmu. Misalnya hadits Nabi Muhammad SAW: “uthlubul ‘ilma walaw bish shin”, yang artinya: “carilah ilmu meskipun di negeri China”. Saat Nabi Muhammad SAW berada di Makkah dan Madinah, yang konon masyarakatnya disebut jahiliyah, maka China sudah berkembang pemikiran filosofis yang hebat. China telah menjadi pusat peradaban di wilayah Timur. China dengan kekaisarannya, lebih maju dibandingkan dengan masyarakat Arab. Termasuk juga ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya, Nabi Muhammad SAW mengamanatkan umat Islam untuk belajar di China.

Spirit ajaran Islam untuk mengejar ilmu pengetahuan inilah yang kemudian menyebabkan perkembangan ilmu pengetahuan yang luar biasa. Di Masa kekhalifahan Abbasiyah, maka akademi-akademi hikmah, ilmu social, humaniora bahkan sains dan  teknologi  sudah berkembang sangat luar biasa. Melalui dukungan kebijakan kerajaan, maka para ilmuwan Islam bekerja secara optimal. Dan hasilnya memang luar biasa. Berbagai jenis ilmu pengetahuan berkembang sedemikian hebat, misalnya: bidang ilmu astronomi, ilmu filsafat, ilmu kesehaan dan kedokteran, biologi, kimia, matematika, geologi serta teknologi dan sains. Kala Islam mengalami kemunduran dalam pengembangan ilmu pengetahuan, maka Barat melalui masa renaisans akhirnya menggantikan peran pengembangan ilmu dan akhirnya barat menguasai ilmu hingga sekarang.

Ajaran Islam yang terkandung di dalam Alqur’an dan Alhadits ternyata merupakan sumber ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, banyak kasus orang nonmuslim yang kemudian masuk Islam karena mengaitkan temuan penelitiannya dengan teks-teks Alqur’an atau Alhadits. Jadi, ilmu pengetahuan bisa menjadi washilah seseorang untuk menjadi muslim. Dan mereka yang masuk Islam ternyata  tidaklah orang-orang yang sembarangan.  Mereka adalah orang yang mengkaji ilmu pengetahuan dan berakhir pada konversi agama.

Kita bersyukur, bahwa di seluruh dunia sedang terjadi trend islamisasi. Di negeri-negari Barat yang selama ini dikenal dengan konsep Islamopobia, ternyata sekarang Islam bukan lagi menjadi momok bagi masyarakat barat. Masjid-masjid  di Inggris dan juga Skotlandia, dan negara-negara Eropa lainnya juga semakin ramai. Tidak hanya kaum imigran yang  berada di dalamnya tetapi juga masyarakat local. Dan salah satu di antara yang menjadikannya adalah kehebatan ilmu pengetahuan di dalam Islam. Di dalam menghadapi masyarakat modern dan rasional, maka yang harus hebat adalah kemampuan ilmiah dari para penyebar Islam selain kebaikan dan keteladanan para pemeluk Islam. Selain itu juga Islam yang disebarkan dengan perdamaian.

Oleh karena itu di masa puasa ini sudah sepantasnya jika berdoa kepada Allah SWT agar kita dapat  terus menjaga ilmu pengetahuan yang merupakan karunia ilahi. Kita terus berharap agar semakin banyak ahli ilmu yang terkait di dalam proyek dakwah.  Islam yang selama ini dianggap sebagai agama yang terbelakang itu dapat dieliminasi dengan perilaku umat Islam dalam ilmu pengetahuan. Ya Allah berikan kepada kami ilmu yang bermanfaat.

Wallahu a’lam bi al shawabp

 

 

JAGALAH KEYAKINAN KAMI: RENUNGAN RAMADLAN (24)

JAGALAH KEYAKINAN KAMI: RENUNGAN RAMADLAN (24)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Membaca judul artikel ini, sepertinya saya menyuruh Allah untuk menjaga iman saya. Sungguh tidak dimaksudkan untuk menyuruh Allah SWT agar Allah menjaga iman kami. Tetapi yang sesungguhnya yang saya maksud adalah permohonan kepada Allah SWT agar iman kami dalam kebenaran. Di dalam artikel ini saya akan membahas tentang doa nas’aluka yaqinan shadiqan, Ya Allah berikan kepada kami keyakinan yang benar.

Mengapa harus iman atau keyakinan yang benar? Islam mengajarkan tentang iman yang disebut sebagai arkanul iman. Yaitu iman kepada Allah, iman kepada Malaikat Allah, iman kepada Rasulullah, iman kepada Kitab Allah, iman kepada hari akhir dan iman kepada takdir Allah. Alqur’an dan Alhadits sangat jelas tentang arkanul iman tersebut. Tidak ada pertentangan tentang arkanul Iman di kalangan ulama-ulama ahli sunnah wal jamaah, hanya di kalangan kaum Syi’ah yang sedikit berbeda. Perbedaan ini tidak urgen untuk dibahas, sebab hakikat iman adalah kepercayaan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang diyakini merupakan pencipta langit,  bumi dan semua hal yang ada di alam raya.

Di dalam ilmu kalam memang terdapat varian pemikiran tentang Tuhan. Sekali lagi pemikiran dan bukan doktrin. Jika pemikiran, maka pasti ada varian karena berada di dalam ruang tafsir dan bisa berbeda. Pasti. Tidak ada tafsir yang berlaku mutlak. Semua nisbi yang bisa juga salah dan juga bisa benar secara konseptual. Oleh karena itu, kita  tidak usah risau jika kita tidak dapat mengakses langsung kepada Alqur’an dan Alhadits, karena ketidakmampuan kita dalam menafsirkan Alqur’an. Terkait dengan hukum-hukum ibadah kita ikuti saja pedoman dalam bentuk fiqih ibadah yang sudah dihasilkan oleh ulama-ulama terdahulu sambil menyadari  bahwa ada orang lain yang cara ibadahnya tidak sama dengan kita. Janganlah kita berselisih karena factor tafsir agama.

Yang penting bahwa kita telah menjadi orang Islam dengan segala atribut yang dilekatkan oleh orang lain tentang kita atau identitas yang melekat pada keislaman kita. Kebahagiaan sebagai umat Islam adalah kala kita dapat  menjalankan ajaran Islam secara memadai. Bisa menjadi Islam kaffah dalam konteks mengamalkan ajaran agama yang benar sesuai dengan tafsir para ulamanya. Kita tidak bisa mengamalkan Islam  langsung dari  Alqur’an dan Alhadits sebab menggunakan Bahasa Arab. Sedangkan kita minus Bahasa Arab. Itulah sebabnya kita harus mengikuti apa yang ditafsirkan oleh para ulama.

Pada Bulan Ramadlan, kita harus introspeksi diri atau ihtisaban tentang kesucian iman kita kepada Allah SWT. Artinya tidak terdapat unsur yang menyebabkan kemusyrikan. Yang menyebabkan iman kita ternoda. Apakah di dalam batin kita masih ada keraguan tentang Allah karena Allah yang sangat sir atau rahasia?. Allah yang tidak terjangkau. Allah yang misterius. Allah yang telah dicari orang selama 4000 tahun sebelum masehi. Apakah di dalam batin kita masih meyakini bahwa ada ilah lain yang harus dimulyakan?. Apakah kita masih meyakni bahwa ada kekuatan gaib lain yang menggerakkan dunia ini selain Allah?. Jika pemikiran dan hati kita masih seperti ini,  maka kita belum membebaskan pikiran dan hati kita untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya ilah di dalam kehidupan kita.

Lalu kalau kita shalat itu menghadap Ka’bah, apakah kita menyembah ka’bah. Tentu bukan. Sebab ka’bah itu lambang atau symbol tentang kesatuan Islam, yang dijadikan sebagai pusat peribadatan. Ka’bah itu pusat peribadatan. Jadi sama sekali tidak dimaksudkan kita menyembahnya. Allah yang ada dibalik penciptaan Ka’bah itulah yang disembah. Jadi ka’bah, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Muhammad SAW adalah washilah Allah untuk manusia dalam mewujudkan relasi fisikal  sebagai lambang spiritual Islam dengan spiritualitas manusia.

Pembahasan yang seperti ini memang rumit, karena kita harus memperoleh penjelasan tentang hakikat Allah dan representasi-representasinya atau washilah-washilahnya. Itulah sebabnya ada yang menafsirkan bahwa kala manusia shalat, maka pikiran dihadapkan pada ka’bah sebagai symbol representasi ritual di dunia dan hati kita konsentrasi padanya. Focus pikiran dan hati ke ka’bah, dan merasa bahwa kita sedang berjalan di atas jembatan Shiratal Mustaqim, sementara itu di bawah kanan terdapat surga atau kenikmatan dan di bawah kiri terdapat neraka sebagai lambang kesengsaraan. Dengan cara seperti ini, maka kita akan bisa terfokus dalam beribadah kepada Allah. Kita jangkau lambang fisikal dalam beribadah, sebab kita tidak mampu menjangkau Allah yang sangat misterius. Inilah cara beribadah kaum awam seperti kita. Tentu berbeda dengan ahli spiritual atau kaum arif billah  yang sudah memasuki maqam  ilahiyah, sehingga sudah tersibak hijab antara diri dengan Allah. Kita tidak mampu menuliskannya atau menggambarkannya.

Puasa merupakan instrument untuk memurnikan keyakinan kita kepada Allah dengan melakukan amalan-amalan yang sesuai dengan amalan ramadlan. Puasa merupakan saat yang tepat untuk menjadikan ka’bah sebagai pusat ritual, saat yang tepat kita menjadikan Alqur’an sebagai washilah kita menuju Allah, dan menjadikan Nabi Muhammad SAW kekasih Allah sebagai washilah untuk mencapai keridlaan Allah. Jika kita ridla atas bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, maka Allah juga akan meridlai kita.

Di dalam bacaan doa iftitah di dalam shalat selalu kita baca: “la syarikalahu wa bidzalika umirtu wa ana awwalul  muslimin”, yang artinya kurang lebih: “tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan demikian itulah aku diperintahkan, dan aku adalah orang pertama yang berserah diri”. Marilah kita memohon kepada Allah agar keyakinan kita diselamatkannya, keyakinan kita dijaganya, dan akhirnya kita memperoleh derajat muttaqin dan akan berakhir kepada kebahagiaan. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.